Tag: Hassan Nasrallah

  • Ternyata, Pager yang Meledak Massal Sempat Diperiksa Hizbullah

    Ternyata, Pager yang Meledak Massal Sempat Diperiksa Hizbullah

    Beirut

    Informasi terbaru menyebut kelompok Hizbullah telah melakukan pemeriksaan keamanan terhadap perangkat pager atau penyeranta merek Gold Apollo yang meledak massal di Lebanon pada Selasa (17/9). Beberapa pager bahkan baru dibagikan kepada anggota Hizbullah hanya beberapa jam sebelum meledak.

    Dituturkan dua sumber keamanan yang memahami hal tersebut, seperti dilansir Reuters, Sabtu (21/9/2024), bahwa Hizbullah meyakini perangkat komunikasi itu aman sebelum membagikannya kepada para anggotanya di berbagai wilayah Lebanon.

    Salah satu sumber mengatakan bahwa salah satu anggota Hizbullah baru menerima pager pada Senin (16/9) waktu setempat, yang kemudian meledak keesokan harinya ketika perangkat itu masih berada di dalam kotaknya.

    Menurut sumber lainnya, sebuah pager lainnya yang diserahkan kepada seorang anggota senior Hizbullah beberapa hari sebelum insiden, meledak dan melukai seorang bawahannya.

    Dalam serangan yang tampaknya terkoordinasi, perangkat komunikasi merek Gold Apollo itu meledak secara serentak pada Selasa (17/9) waktu setempat di seluruh area yang menjadi markas Hizbullah di pinggiran selatan Beirut dan Lembah Bekaa bagian timur.

    Pada Rabu (18/9) waktu setempat, ratusan walkie-talkie yang digunakan anggota-anggota Hizbullah juga meledak. Kedua serangan beruntun itu menewaskan total sedikitnya 37 orang, termasuk dua anak-anak, dan melukai nyaris 3.000 orang lainnya.

    Pemerintah Lebanon dan kelompok Hizbullah menuduh Israel sebagai dalang di balik ledakan massal tersebut. Tel Aviv hingga kini belum memberikan komentar langsung atas insiden di Lebanon tersebut.

    Namun sumber keamanan Barat mengatakan kepada Reuters pekan ini bahwa unit intelijen rahasia militer, Unit 8200, terlibat dalam perencanaan serangan itu.

    Dituturkan seorang sumber Lebanon yang memahami komponen perangkat itu bahwa baterai walkie-talkie yang digunakan Hizbullah telah dicampur dengan senyawa yang sangat mudah meledak yang disebut PETN.

    Sedangkan bahan peledak seberat tiga gram yang ditanam di dalam pager, menurut laporan Reuters, tidak terdeteksi selama berbulan-bulan oleh Hizbullah.

    Menurut salah satu sumber keamanan itu, sangat sulit untuk mendeteksi bahan peledak “dengan perangkat atau pemindai apa pun”. Sumber itu tidak merinci jenis pemindai apa yang digunakan Hizbullah untuk memeriksa pager-pager yang digunakan anggotanya tersebut.

    Hizbullah menggunakan pager, yang merupakan perangkat komunikasi berteknologi rendah ini, untuk menghindari pelacakan atau penyadapan Israel.

    Hizbullah Rutin Periksa Keamanan Pager yang Tiba di Lebanon

    Kelompok Hizbullah, menurut dua sumber lainnya yang berbicara kepada Reuters, langsung memeriksa pager-pager yang tiba di wilayah Lebanon, mulai tahun 2022, termasuk dengan melakukan perjalanan melalui bandara-bandara untuk memastikan perangkat itu tidak akan mengaktifkan alarm.

    Secara total, Reuters berbicara dengan enam sumber yang mengetahui rincian perangkat komunikasi yang meledak di Lebanon tersebut.

    Menurut para sumber keamanan itu, bukannya karena mencurigai pager-pager tertentu, Hizbullah melakukan pemeriksaan sebagai bagian dari “sweeping” rutin terhadap peralatannya, termasuk perangkat komunikasi, untuk mencari tahu apakah peralatan itu dipasangi peledak atau mekanisme pengintaian atau tidak.

    Ledakan massal, dan pendistribusian perangkat komunikasi itu meskipun telah dilakukan pemeriksaan rutin untuk pelanggaran keamanan, telah merusak reputasi Hizbullah sebagai payung pasukan aliansi “Poros Perlawanan” yang pro-Iran dan anti-Israel di kawasan Timur Tengah.

    Dalam pidatonya pada Kamis (19/9), pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah menyebut serangan itu menjadi “pukulan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah” kelompoknya.

    Kantor media Hizbullah dan militer Israel belum memberikan komentar atas laporan Reuters ini.

    Gold Apollo yang berbasis di Taiwan menegaskan tidak memproduksi pager yang meledak di Lebanon. Pemerintah Taipei mempertegas bahwa komponen di dalam pager itu tidak dibuat di wilayah Taiwan.

    Gold Apollo menyebut perusahaan Hungaria, BAC, sebagai produsen pager itu. Namun otoritas Budapest menyebut BAC hanyalah perantara perdagangan dan tidak memiliki lokasi produksi atau operasional di Hungaria.

    Total ada 5.000 unit pager yang dikirimkan ke Lebanon pada awal tahun ini. Namun sejauh ini, tidak diketahui secara jelas di mana sebenarnya pager itu diproduksi atau pada tahap apa pager itu disabotase.

    Hizbullah, menurut tiga sumber yang dikutip Reuters, sedang menyelidiki di mana, kapan dan bagaimana perangkat komunikasi itu dicampur bahan peledak.

    Hizbullah Pernah Gagalkan Operasi Intelijen Israel Sebelumnya

    Salah satu sumber keamanan yang dikutip Reuters menambahkan bahwa Hizbullah pernah menggagalkan operasi intelijen Israel sebelumnya, yang menargetkan perangkat yang diimpor dari luar negeri oleh kelompok tersebut, mulai dari telepon rumah pribadi hingga unit ventilasi di kantor Hizbullah.

    Itu juga mencakup dugaan pelanggaran keamanan pada tahun lalu. Namun kali ini, Hizbullah tidak menyadari perangkat komunikasi mereka, yang digunakan untuk menghindari pelacakan dan penyadapan Israel, justru menjadi senjata yang mematikan.

    “Ada beberapa masalah elektronik yang bisa kami temukan — tapi bukan pager-nya. Mereka menipu kami, angkat topi untuk musuh,” ucap salah satu sumber yang dikutip Reuters tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • 5 Fakta Militer Israel dan Hizbullah Saling Serang

    5 Fakta Militer Israel dan Hizbullah Saling Serang

    Jakarta

    Perang antara militer Israel dan Hizbullah terus berkecamuk. Puncaknya terjadi imbas insiden ledakan sejumlah walkie-talkie dan pager yang digunakan oleh kelompok bersenjata Hizbullah di Lebanon. Hizbullah menyalahkan Israel atas serangan itu.

    Ledakan bom walkie-talkie dan pager sendiri terjadi pada Selasa (17/9) dan Rabu (18/9) lalu dan menewaskan puluhan orang dan ribuan orang terluka. Kemudian, militer Israel pun meluncurkan serangan terbaru ke Lebanon pada Jumat (20/9).

    Israel Luncurkan Serangan Udara ke Lebanon

    Dalam perkembangan terakhir, seperti dilansir BBC, Israel meluncurkan serangan udara terbaru di Lebanon bagian selatan, yang videonya beredar di media sosial. Israel mengatakan ini sebagai tanggapan atas aksi Hizbollah selama ‘puluhan tahun’.

    Dalam sebuah pernyataan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa mereka sedang berupaya untuk “mendegradasi” “kemampuan dan infrastruktur teroris Hezbollah”. Kendati demikian, Israel tidak memerinci jelas mengenai target serangan kali ini.

    Serangan Balasan Hizbullah ke Militer Israel

    Serangan udara Israel menghantam wilayah pinggiran Beirut, ibu kota Lebanon, pada Jumat (20/9) waktu setempat. Dilansir Al Jazeera, Kantor berita nasional Lebanon NNA mengatakan Hizbullah juga menembakkan sedikitnya 140 roket ke Israel setelah Lebanon selatan menjadi sasaran serangan Israel.

    Seperti dilansir AFP Jumat (20/9), Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, menegaskan tekad kelompoknya untuk terus bertempur melawan Israel setelah rentetan ledakan mengguncang Lebanon. Nasrallah menyatakan tekad Hizbullah melanjutkan perjuangan melawan Tel Aviv hingga gencatan senjata terwujud di Jalur Gaza.

    Korban: 5 Anak Tewas dan 59 Orang Terluka

    Serangan pada Jumat (20/9) itu mengakibatkan belasan orang tewas dan puluhan terluka. Seperti dilansir AFP dan Reuters, Sabtu (21/9), sedikitnya 14 orang, termasuk seorang komandan top Hizbullah dan pejabat senior kelompok itu, tewas dalam gempuran di Beirut.

    Diperkirakan oleh otoritas Beirut bahwa jumlah korban tewas masih mungkin bertambah, karena tim penyelamat masih terus menyisir lokasi serangan.

    Komandan Top Hizbullah Tewas dalam Serangan

    Militer Israel dan sumber keamanan Lebanon, seperti dilansir Reuters dan AFP, Sabtu (21/9), mengatakan komandan top Hizbullah bernama Ibrahim Aqil tewas bersama beberapa anggota senior dari unit elite Hizbullah, Radwan, dalam serangan pada Jumat (20/9).

    Disebutkan militer Israel dalam pernyataannya bahwa pasukannya melancarkan “serangan yang ditargetkan” terhadap Aqil, yang diklaimnya juga menewaskan 10 komandan senior Radwan lainnya.

    Dalam pernyataannya, Hizbullah menyebut Aqil terbunuh di area Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, dalam apa yang disebut sebagai “pembunuhan yang berbahaya oleh Israel”.

    Ledakan Sejumlah Walkie-Talkie dan Pager

    Serangan udara Israel ini menjadi pukulan terbaru untuk Hizbullah setelah rentetan ledakan perangkat komunikasi mengguncang Lebanon selama dua hari berturut-turut pada Selasa (17/9) dan Rabu (18/9). Dalam insiden itu, pager atau penyeranta dan walkie-talkie yang digunakan anggota Hizbullah meledak massal.

    Total 37 orang tewas dan nyaris 3.000 orang lainnya mengalami luka-luka. Israel diduga kuat sebagai dalang utama di balik rentetan ledakan perangkat komunikasi tersebut, meskipun negara tersebut belum berkomentar apa pun.

    (wia/jbr)

  • Tewas Digempur Israel, Komandan Hizbullah Ibrahim Aqil Diburu AS Sejak Lama

    Tewas Digempur Israel, Komandan Hizbullah Ibrahim Aqil Diburu AS Sejak Lama

    Beirut

    Ibrahim Aqil, komandan top Hizbullah yang tewas dalam serangan udara Israel di pinggiran Beirut, Lebanon, sudah sejak lama diburu oleh Amerika Serikat (AS) terkait dua serangan bom di Kedutaan Besar AS dan barak Marinir AS tiga dekade lalu. Kepala Aqil bahkan dihargai US$ 7 juta (Rp 106 miliar) oleh Washington.

    Lebih dari 300 orang tewas dalam dua serangan bom truk di Beirut tahun 1983 silam. Demikian seperti dilansir Reuters, Sabtu (21/9/2024).

    Militer Israel mengklaim Aqil tewas dalam serangannya, bersama 10 komandan senior Hizbullah lainnya. Sumber yang dekat dengan Hizbullah menyebut Aqil sedang menghadiri “rapat dengan para komandan” senior Hizbullah ketika dia terbunuh.

    Hizbullah mengonfirmasi pada Jumat (20/9) tengah malam bahwa Aqil tewas dalam serangan Israel, dan memujinya sebagai “salah satu pemimpin besar mereka”.

    Aqil menjabat sebagai komandan unit elite Radwan, dan merupakan anggota badan militer tertinggi Hizbullah, Dewan Jihad. Dia menjadi anggota kedua Dewan Jihad yang terbunuh dalam serangan Israel, setelah Fuad Shukr yang tewas dalam serangan Tel Aviv pada Juli lalu.

    Selama ini, Aqil kerap menggunakan nama samaran Tahsin dan Abdelqader. Sama seperti Shukr, Aqil juga merupakan anggota veteran Hizbullah, yang didirikan oleh Garda Revolusi Iran pada awal tahun 1980-an untuk melawan pasukan Israel yang saat itu menginvasi dan menduduki Lebanon.

    Lahir di sebuah desa di area Lembah Bekaa sekitar tahun 1960, menurut sumber keamanan setempat, Aqil bergabung dengan gerakan politik besar Syiah Lebanon lainnya, Amal, sebelum beralih ke Hizbullah sebagai anggota pendiri kelompok tersebut.

    AS menuduh Aqil berperan dalam serangan bom truk di Kedutaan Amerika di Beirut pada April 1983 silam, yang menewaskan sedikitnya 63 orang, dan pengeboman di sebuah barak Marinir AS enam bulan kemudian yang menewaskan 241 orang, yang semuanya tentara AS.

    Lihat Video: Israel-Lebanon Saling Serang, Ada Korban Tewas!

    Washington kemudian menuduh Aqil mengarahkan penculikan sandera warga AS dan Jerman di Lebanon pada akhir tahun 1980-an dan terlibat dalam pengeboman di Paris tahun 1986 silam.

    AS memasukkan nama Aqil ke dalam daftar Teroris Global yang Ditetapkan Secara Khusus (Specially Designated Global Terrorist) tahun 2019 lalu, dan menetapkan imbalan US$ 7 juta untuk penangkapannya.

    Mengacu pada pengeboman barak Marinir AS dan serangan lainnya terhadap kepentingan Barat di Lebanon tahun 1980-an, pemimpin Hizbullah Sayyed Hassan Nasrallah pernah mengatakan dalam wawancara tahun 2022 bahwa serangan itu dilakukan oleh kelompok kecil yang tidak terkait dengan Hizbullah.

    Namun diketahui bahwa kelompok Aqil turut membantu dalam mengubah Hizbullah dari milisi bayangan menjadi organisasi militer dan politik paling berpengaruh di Lebanon, yang mendorong Israel keluar dari pendudukannya atas wilayah selatan Lebanon tahun 2000 dan berperang melawannya tahun 2006.

    Ketika Shukr tewas pada Juli lalu, hal itu dipandang sebagai pukulan terberat terhadap struktur komando Hizbullah sejak pembunuhan Imam Mughniyeh, yang dikenang oleh Hizbullah sebagai komandan legendaris, tahun 2008 lalu.

    Kematian Aqil yang harga buronannya ditetapkan lebih tinggi oleh AS dibanding Shukr, kemungkinan akan memberikan pukulan serupa kepada Hizbullah.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Lebih Mengerikan daripada Serangan Udara

    Lebih Mengerikan daripada Serangan Udara

    Beirut

    Pemimpin Hezbollah, Hassan Nasrallah, mengatakan serangan bom yang menggunakan ribuan pager dan radio walkie-talkie “melewati semua garis merah”. Dia menuduh Israel berada di balik rangkaian peristiwa yang menurutnya merupakan deklarasi perang.

    Seorang WNI di Lebanon mengatakan serangan terbaru yang menyasar perangkat komunikasi nirkabel ini lebih mengerikan dibandingkan serangan udara. Pihak KBRI mendorong evakuasi ratusan WNI yang masih berada di negara itu.

    Dalam pidato yang sangat dinanti-nantikan, Hassan Nasrallah mengakui Hezbollah telah menderita “pukulan yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Tapi ia bersumpah akan terus bertempur dan memberikan “hukuman yang adil”.

    “Musuh telah melewati semua aturan, hukum, dan garis merah. Mereka sama sekali tidak peduli dengan apa pun, tidak secara moral, tidak secara manusiawi, tidak secara hukum,” kata Nasrallah.

    “Ini adalah pembantaian, agresi besar terhadap Lebanon, rakyatnya, perlawanannya, kedaulatannya, dan keamanannya. Ini dapat disebut kejahatan perang atau deklarasi perang – apa pun sebutannya, itu pantas dan sesuai dengan deskripsinya. Ini adalah niat musuh,” tambahnya.

    Pemimpin Hezbollah tersebut berkeras bahwa rantai komando dan kemampuan kelompoknya untuk berkomunikasi tetap utuh.

    Nada bicara Nasrallah menantang dan ia bersumpah akan memberikan hukuman yang berat. Namun, sekali lagi, ia menyatakan bahwa Hezbollah tidak tertarik menambah eskalasi konflik dengan Israel.

    Ledakan dilaporkan terjadi di Lebanon selatan, termasuk kota Sidon, serta pinggiran selatan Beirut, dan Lembah Bekaa (AFP)

    Jumlah korban tewas akibat ledakan perangkat komunikasi walkie-talkie bertambah menjadi 25 orang dari sebelumnya sebanyak 20, kata Menteri Kesehatan Firass Abiad.

    Selain korban tewas, setidaknya 608 orang telah terluka, tuturnya. Jumlah ini meningkat dari jumlah sebelumnya yaitu 450 orang.

    Total korban tewas dalam dua hari tersebut kini mencapai 37 orang, karena setidaknya 12 orang tewas akibat serangan pager pada Selasa (17/09).

    Sejumlah walkie-talkie yang digunakan oleh kelompok bersenjata Hezbollah meledak di pinggiran selatan ibu kota Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan.

    Ledakan sejumlah walkie-talkie terjadi selama pemakaman 12 orang pada insiden ledakan pager.

    Hezbollah menyalahkan Israel atas serangan itu. Israel belum berkomentar soal insiden ini.

    Serangan itu terjadi ketika Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengumumkan “fase baru dalam perang”. Pada waktu bersamaan, satu divisi tentara Israel dikerahkan kembali ke utara.

    Sekretaris Jenderal PBB, Antnio Guterres, memperingatkan “risiko serius eskalasi dramatis” dan meminta semua pihak “menahan diri secara maksimal”. “Jelas, logika di balik peledakan semua perangkat ini adalah sebagai serangan pendahuluan sebelum operasi militer besar-besaran,” ujarnya kepada wartawan.

    Israel: serangan terbaru respons atas aksi Hezbollah selama ‘puluhan tahun’

    Dalam perkembangan terakhir, Israel meluncurkan serangan udara terbaru di Lebanon bagian selatan yang videonya beredar di media sosial.

    Kata Israel, ini sebagai tanggapan atas aksi Hezbollah selama ‘puluhan tahun’.

    Dalam sebuah pernyataan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan bahwa mereka sedang berupaya untuk “mendegradasi” “kemampuan dan infrastruktur teroris Hezbollah”.

    “Selama beberapa dekade, Hezbollah telah mempersenjatai rumah-rumah warga sipil, menggali terowongan di bawahnya, dan menggunakan warga sipil sebagai tameng – yang telah mengubah Lebanon selatan menjadi zona perang,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

    Tujuannya, menurut pernyataan itu, adalah untuk “membawa keamanan ke Israel utara untuk memungkinkan kembalinya penduduk ke rumah mereka dan mencapai tujuan perang”.

    Potensi konflik besar-besaran

    Kekhawatiran terjadinya konflik besar-besaran sudah meningkat setelah 11 bulan pertempuran lintas batas yang dipicu oleh baku serang antara Israel dan Hamas di Gaza.

    Beberapa jam setelah ledakan pada Rabu (18/09), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji untuk memulangkan puluhan ribu orang yang mengungsi dari wilayah utara negara itu “dengan aman ke rumah mereka”.

    Sementara itu, Menteri Pertahanan Yoav Gallant mengatakan Israel “membuka babak baru dalam perang” dan bahwa “pusat gravitasi bergeser ke utara melalui pengalihan sumber daya dan pasukan”.

    Sebuah divisi tentara yang baru-baru ini terlibat di Gaza telah dikerahkan kembali ke utara, demikian dikonfirmasi militer Israel.

    Sejumlah ledakan terjadi ketika berlangsung pemakaman sekitar 12 orang korban ledakan pager termasuk anggota Hezbollah, Mohammed Ammar (Reuters)

    Hezbollah mengatakan bahwa mereka mendukung Hamas – yang juga didukung oleh Iran dan dilarang sebagai organisasi teroris oleh Israel dan banyak negara Barat. Hezbollah menegaskan hanya hanya akan menghentikan serangan lintas batas setelah pertempuran di Gaza berakhir.

    Indikasi tentang apa yang mungkin direncanakan kelompok itu selanjutnya dapat muncul pada hari Kamis (19/09), ketika pemimpinnya yang kuat, Hassan Nasrallah, akan memberikan pidato.

    Kantor media Hezbollah mengumumkan kematian 13 petempurnya, termasuk seorang anak laki-laki berusia 16 tahun, sejak gelombang kedua ledakan.

    Hezbollah mengatakan telah menargetkan pasukan Israel di dekat perbatasan dan di Dataran Tinggi Golan, dengan menembakkan roket ke posisi artileri Israel.

    Militer Israel mengatakan sekitar 30 roket melintas dari Lebanon pada Rabu (18/09). Roket-roket itu memicu kebakaran tetapi tidak menimbulkan korban luka.

    Militer Israel juga menyebut pesawat tempur telah menyerang anggota Hezbollah di Lebanon selatan.

    BBC

    WNI di Lebanon: ‘Sewaktu-waktu bisa saja kejadian lagi’

    Ilham Akbar baru hendak ke luar rumah ketika tiba-tiba dia mendengar suara ledakan yang cukup keras pada Selasa sore.

    “Suaranya itu seperti dekat. Enggak lama kemudian saya dengar suara ambulans datang. Kira-kira lokasi kejadian itu sekitar 500 meter dari rumah saya,” kata Ilham kepada BBC News Indonesia.

    Selama delapan tahun tinggal di Lebanon, Ilham mengaku mulai terbiasa dengan eskalasi situasi akibat serangan udara ke Kota Beirut.

    Namun, saat itu dia merasa ada yang berbeda.

    “Kami yang sudah biasa mengalami serangan udara itu sudah bisa membedakan, karena tidak ada getaran setelah ledakan,” tuturnya.

    Setengah jam kemudian, dia baru mulai memahami bahwa ledakan tersebut bersumber dari pager.

    Situasinya terasa kian mengkhawatirkan setelah terjadi gelombang ledakan kedua pada Rabu yang menewaskan lebih banyak korban.

    Sumber ledakannya pun bukan hanya pager, tapi juga walkie-talkie, alat pembaca sidik jari, dan lain-lain.

    Menurut Ilham, serangan semacam ini terasa lebih mengerikan dibanding ketika menghadapi serangan udara.

    “Kita enggak tahu pasti posisi orang yang punya walkie talkie atau pager dan sejenisnya, apakah ada di dekat kita atau enggak, dan sewaktu-waktu bisa saja kejadian lagi,” tutur Ilham.

    Untuk menghindari ancaman itu, dia memilih bertahan di rumah dan hanya ke luar untuk kebutuhan mendesak.

    Apalagi Ilham tinggal di kawasan Dahiyeh, yang dikenal sebagai benteng pertahanan Hezbollah di selatan Beirut. Banyak dari ledakan itu terjadi di kawasan ini.

    Menurut catatan KBRI Beirut, terdapat 147 WNI yang masih bertahan di Lebanon sampai saat ini. Itu tidak termasuk staf KBRI serta personel TNI yang bergabung dalam misi perdamaian UNIFIL.

    Sejauh ini, ada satu orang WNI yang terkena serpihan ledakan ketika sedang berada di tempat umum.

    Kepala Kantor KBRI Beirut, Yosi Aprizal mengatakan WNI itu mengalami luka ringan dan kini dalam kondisi baik.

    Namun dengan eskalasi situasi yang kembali meningkat pasca-ledakan perangkat komunikasi elektronik ini, Yosi mengatakan akan terus mendorong para WNI agar bersedia dievakuasi.

    Indonesia telah menetapkan status Siaga 1 untuk kawasan Lebanon sejak 4 Agustus 2024, setelah serangan udara Israel menewaskan petinggi Hezbollah.

    Sejak saat itu, sudah ada tiga gelombang WNI yang dievakuasi ke Indonesia. Gelombang evakuasi selanjutnya rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 27 atau 28 September.

    “Kami terus mendorong mereka untuk evakuasi, mumpung kondisi saat ini masih relatif mudah untuk evakuasi, moda transportasi udara masih tersedia,” kata Yosi.

    “Khawatirnya kalau kondisinya memburuk, evakuasi akan semakin sulit,” sambungnya.

    Sejauh ini, sudah ada beberapa WNI yang menyatakan tidak bersedia untuk dievakuasi. Ada pula yang merasa masih bisa bertahan karena dapat menolerir situasi keamanan di Lebanon.

    Yosi mengatakan pihaknya juga telah menyiapkan rencana darurat untuk mengevakuasi WNI melalui jalur udara, darat, dan laut jika sewaktu-waktu situasinya memburuk.

    Ilham adalah salah satu yang belum berencana meninggalkan Lebanon dalam waktu dekat karena harus menyelesaikan studi pasca-sarjana.

    “Kalau saya lihat, kondisi saat ini masih bisa ditolerir. Kalau sudah keluar dari Lebanon, akan sulit kembali ke sini kalau izin tinggal saya habis. Saya harus mengajukan visa lagi dan itu sulit,” kata Ilham.

    “Banyak dari kami belum menyelesaikan pendidikan kami masing-masing, jadi dilema.”

    Ilham hanya bisa berharap situasi di Lebanon tak memburuk, apalagi sampai berujung pada perang terbuka.

    “Kalau sampai situasinya memburuk, saya mungkin akan mengungsi ke safe house di KBRI,” kata dia.

    BBC

    Jaringan komunikasi Hezbollah disusupi Israel?

    Ledakan mematikan pada Rabu (18/09) merupakan penghinaan bagi Hezbollah mengingat seluruh jaringan komunikasinya kemungkinan telah disusupi Israel.

    Banyak warga Lebanon masih terkejut dan marah dengan gelombang pertama ledakan pada Selasa (16/09). Ketika itu ribuan pager meledak pada saat bersamaan, setelah orang-orang menerima pesan yang mereka yakini berasal dari Hezbollah

    Sumber-sumber AS dan Lebanon mengatakan kepada New York Times dan kantor berita Reuters bahwa Israel telah menanam sejumlah kecil bahan peledak di dalam pager yang meledak pada hari Selasa.

    Sebanyak 12 orang termasuk seorang gadis berusia delapan tahun dan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun tewas dan 2.800 lainnya terluka oleh ledakan tersebut, menurut menteri kesehatan Lebanon.

    Baca juga:

    Tim BBC sedang berada di pemakaman empat orang yang tewas di pinggiran selatan Beirut, Dahiyeh, pada Rabu (18/09) ketika mereka mendengar ledakan keras sekitar pukul 17:00 waktu setempat.

    Ledakan tersebut menimbulkan kekacauan dan kebingungan di antara para pelayat. Sesaat kemudian laporan mulai bermunculan tentang ledakan-ledakan yang terjadi di berbagai wilayah di Lebanon.

    Sebuah video media sosial yang belum dikonfirmasi memperlihatkan seorang pria jatuh ke tanah akibat ledakan kecil dalam acara pemakaman Hezbollah yang dihadiri oleh banyak orang.

    Palang Merah Lebanon mengatakan lebih dari 30 ambulans telah merespons ledakan-ledakan di pinggiran selatan ibu kota, di Lebanon selatan, dan Lembah Bekaa.

    Pager dan walkie-talkie yang meledak menyebabkan kerusakan di rumah-rumah dan melukai ribuan orang di seluruh Lebanon pada Selasa (17/09) dan Rabu (18/09) (Getty Images)

    Kementerian kesehatan mengatakan ledakan-ledakan mematikan itu “menargetkan walkie-talkie”.

    Seorang sumber yang dekat dengan Hezbollah juga mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa walkie-talkie yang digunakan oleh para anggotanya telah meledak.

    Seorang dokter mata di sebuah rumah sakit di Beirut mengatakan kepada BBC bahwa sedikitnya 60% dari para korban yang ia tangani telah kehilangan setidaknya satu mata. Sebagian besar korban juga kehilangan satu tangan.

    “Mungkin ini adalah hari terburuk dalam hidup saya sebagai seorang dokter. Saya yakin jumlah korban dan jenis kerusakan yang telah terjadi sangat besar,” kata Dr. Elias Warrak.

    “Sayangnya, kami tidak dapat menyelamatkan banyak mata, dan sayangnya kerusakannya tidak terbatas pada mata. Beberapa orang mengalami kerusakan di otak dan wajah.”

    Walkie-talkie jadi biang keladi

    Seorang pria di Lebanon memegang perangkat Icom yang sudah dilepaskan baterainya. Perangkat yang meledak di Lebanon tampaknya adalah Icom IC-V82 (Getty Images)

    Kantor berita milik pemerintah Lebanon (NNA) mengatakan seorang pria tewas ketika sebuah walkie-talkie meledak di dalam sebuah toko yang menjual perangkat seluler di Chaat, di Lembah Bekaa utara.

    Kantor berita tersebut mengidentifikasi perangkat itu sebagai radio VHF genggam ICOM-V82.

    NNA mengatakan ICOM-V82 lainnya meledak di sebuah rumah di pinggiran kota Baalbek. Rekaman video menunjukkan kerusakan akibat kebakaran pada sebuah meja dan dinding, serta serpihan alat komunikasi seperti walkie-talkie yang bertuliskan “ICOM”.

    Foto-foto di media sosial dari dua lokasi lain menunjukkan model serupa.

    ICOM adalah perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Osaka, Jepang.

    Namun, ICOM mengatakan bahwa pihaknya tidak memproduksi atau mengekspor IC-V82, maupun baterai yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya, selama 10 tahun.

    Perusahaan ini merupakan perusahaan Asia kedua yang terlibat dalam insiden pengeboman di Lebanon pekan ini. Sehari sebelumnya ribuan pager yang meledak tampaknya terkait dengan perusahaan Taiwan bernama Gold Apollo.

    Pendiri Gold Apollo, Hsu Ching-Kuang, dengan tegas membantah bahwa perusahaannya ada hubungannya dengan serangan tersebut. Dia mengeklaim telah memberikan lisensi merek dagangnya kepada sebuah perusahaan di Hungaria bernama BAC Consulting. Perusahaan ini tidak dapat dihubungi oleh BBC.

    Sebuah walkie talkie merek ICOM meledak dan hancur di sebuah rumah di pinggiran Baalbek, Lebanon (Getty Images)

    ICOM mengatakan kepada BBC bahwa mereka mengetahui adanya laporan bahwa perangkat radio walkie-talkie berlogo ICOM telah meledak di Lebanon. Perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki masalah itu.

    “IC-V82 adalah radio genggam yang diproduksi dan diekspor, termasuk ke Timur Tengah, dari tahun 2004 hingga Oktober 2014. Produk itu dihentikan produksinya sekitar 10 tahun lalu. Sejak itu, produk itu tidak pernah lagi dikirim dari perusahaan kami,” kata ICOM dalam sebuah pernyataan.

    “Produksi baterai yang diperlukan untuk mengoperasikan unit utama juga telah dihentikan dan segel hologram untuk membedakan produk palsu tidak dipasang. Jadi tidak mungkin untuk memastikan apakah produk itu dikirim dari perusahaan kami.”

    ICOM menambahkan bahwa semua radionya diproduksi di pabrik yang sama di Jepang. ICOM hanya menjual produk untuk pasar luar negeri melalui distributor resmi.

    Sebelumnya, seorang staf penjualan di anak perusahaan ICOM di AS mengatakan kepada kantor berita The Associated Press bahwa perangkat radio yang meledak di Lebanon tampaknya merupakan produk tiruan yang tidak dibuat oleh ICOM. Dia menambahkan bahwa mudah untuk menemukan versi palsu secara daring.

    Perangkat tersebut disukai oleh operator radio amatir untuk digunakan dalam komunikasi sosial atau darurat, termasuk oleh orang-orang yang melacak tornado atau badai, katanya.

    Kantor Icom di Jepang. Icom memproduksi walkie-talkie dan perangkat radio untuk khalayak yang bekerja di laut, dunia penerbangan, dan darat (Getty Images)

    Kantor berita Reuters mengutip sumber keamanan Lebanon yang mengatakan bahwa walkie-talkie tersebut dibeli Hezbollah lima bulan lalu pada periode yang sama dengan pembelian pager.

    Situs berita Axios mengutip dua sumber yang menyebut badan intelijen Israel telah memasang jebakan pada ribuan walkie-talkie sebelum mengirimkannya ke Hezbollah. Walkie-talkie adalah bagian dari sistem komunikasi darurat Hezbollah pada masa perang.

    (nvc/nvc)

  • Tekad Hizbullah Balas Israel Usai Ledakan Pager-Walkie Talkie

    Tekad Hizbullah Balas Israel Usai Ledakan Pager-Walkie Talkie

    Jakarta

    Rentetan ledakan mematikan mengguncang Lebanon melalui pager dan walkie-talkie. Hizbullah bertekad akan membalas perbuatan Israel itu.

    Seperti dilansir AFP Jumat (20/9/2024), Pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, menegaskan tekad kelompoknya untuk terus bertempur melawan Israel setelah rentetan ledakan mengguncang Lebanon. Nasrallah menyatakan tekad Hizbullah melanjutkan perjuangan melawan Tel Aviv hingga gencatan senjata terwujud di Jalur Gaza.

    Hizbullah dan militer Israel terlibat serangan lintas perbatasan yang terjadi hampir setiap hari sejak perang berkecamuk di Jalur Gaza. Hizbullah menyebut serangan-serangannya terhadap Israel sebagai bentuk dukungan untuk Palestina dan Hamas, sekutunya, yang berperang melawan Tel Aviv.

    Ketegangan antara kedua pihak semakin memuncak ketika rentetan ledakan perangkat komunikasi, seperti pager dan walkie-talkie, mengguncang Lebanon. Total sedikitnya 37 orang tewas dan nyaris 3.000 orang lainnya luka-luka akibat ledakan yang melanda selama dua hari berturut-turut.

    Perangkat-perangkat komunikasi yang meledak itu kebanyakan digunakan oleh para anggota Hizbullah yang ada di berbagai wilayah Lebanon.

    Nasrallah, dalam pidatonya pada Kamis (19/9) waktu setempat, mengakui Israel telah memberikan “pukulan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya” terhadap Hizbullah. Dia juga menyebut Tel Aviv telah melanggar semua garis merah atau red line dengan serangan tersebut.

    “Dengan operasi ini, musuh telah melanggar semua… garis merah,” sebutnya.

    Dia kemudian bersumpah untuk terus melanjutkan pertempuran melawan Israel meskipun telah terjadi “semua pertumpahan darah ini” — merujuk pada ledakan mematikan di Lebanon pada Selasa (17/9) dan Rabu (18/9).

    “Front Lebanon tidak akan berhenti sampai agresi di Gaza berhenti,” tegas Nasrallah dalam pidatonya.

    Ditegaskan oleh Nasrallah dalam pidatonya bahwa Israel akan menghadapi “pembalasan dendam dan hukuman yang adil, baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan” atas ledakan pager dan walkie-talkie yang mengguncang Lebanon.

    Dalam pidatonya, Nasrallah juga menyinggung soal janji-janji para pemimpin Israel untuk memulangkan ribuan warganya yang terpaksa mengungsi dari rumah mereka di wilayah Israel bagian utara, dekat perbatasan Lebanon, akibat pertempuran lintas perbatasan yang meningkat.

    “Anda tidak akan bisa memulangkan penduduk wilayah utara ke wilayah utara,” ucapnya memperingatkan Israel.

    “Tidak ada eskalasi militer, tidak ada pembunuhan, dan tidak ada perang habis-habisan yang bisa memulangkan para penduduk ke perbatasan,” tegas Nasrallah.

    Ditambahkan Nasrallah bahwa “satu-satunya cara” untuk memulangkan penduduk ke Israel bagian utara adalah dengan “menghentikan perang di Gaza”.

    Halaman 2 dari 2

    (whn/aik)

  • Pelayat Berebut Angkat Peti Mati Komandan Hizbullah yang Dibunuh Israel

    Pelayat Berebut Angkat Peti Mati Komandan Hizbullah yang Dibunuh Israel

    Beirut

    Pemakaman komandan kelompok Hizbullah, Fuad Shukr, digelar di Lebanon dengan dihadiri ratusan pelayat. Beberapa pelayat bahkan tampak berebut mengangkat peti jenazah Shukr.

    Seperti dilansir Associated Press dan BBC, Jumat (2/8/2024), kerumunan besar orang yang mengenakan pakaian serba hitam bergabung dalam pemakaman Shukr yang digelar di pinggiran selatan Beirut pada Kamis (1/8) waktu setempat.

    Para pelayat tampak membawa poster bergambar wajah mendiang Shukr, sembari mengibarkan bendera Hizbullah yang berwarna kuning-hijau. Ada juga pelayat yang meneriakkan sejumlah slogan kelompok yang didukung Iran tersebut, terkadang dengan kepalan tangan terangkat ke udara.

    Ketika peti jenazah Shukr dibawa ke lokasi seremoni pemakaman, beberapa pelayat bergerak mendekat untuk menyentuh atau ikut mengangkat peti jenazah tersebut.

    Ratusan pelayat kemudian menghadiri seremoni pemakaman Shkur yang digelar di sebuah auditorium di Beirut. Para pengawal memakai baret merah mengangkat peti jenazah Shukr yang diselimuti bendera Hizbullah, menyusuri lorong dengan diiringi band militer kelompok tersebut.

    Shukr menjadi komandan senior Hizbullah yang paling terkenal, sejauh ini, yang tewas dibunuh oleh Israel sejak konflik memanas beberapa bulan terakhir.

    Israel telah mengaku bertanggung jawab atas serangan udara yang menewaskan Shukr di Beirut pada Selasa (30/7) waktu setempat. Seorang penasihat militer Iran dan beberapa warga sipil tewas dalam serangan yang sama.

    Disebutkan oleh Tel Aviv bahwa Shukr merupakan dalang di balik serangan roket yang menewaskan 12 remaja dan anak-anak di sebuah lapangan sepakbola di area Dataran Tinggi Golan pada Sabtu (27/7) lalu.

    Seremoni pemakaman komandan Hizbullah, Fuad Shukr, yang tewas dibunuh Israel Foto: AP Photo/Hussein Malla

    Hizbullah telah membantah keterlibatan dalam serangan itu, meskipun pada awalnya kelompok itu mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Israel di area tersebut, yang memicu dugaan bahwa serangan itu tidak tepat sasaran.

    Sosok Shukr yang juga dikenal sebagai al-Hajj Mohsin, merupakan penasihat dekat pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah.

    Dalam pidatonya via video link saat seremoni pemakaman Shukr, Nasrallah memuji Shukr sebagai seorang komandan veteran dan kembali membantah bahwa Hizbullah mendalangi serangan mematikan di Golan.

    “Kita memiliki keberanian untuk bertanggung jawab atas tindakan yang kita lakukan, meskipun itu sebuah kesalahan. Jika kita melakukan kesalahan, kita akan mengakuinya dan meminta maaf. Musuh menjadikan dirinya sebagai hakim, juri, dan algojo tanpa bukti apa pun,” tegas Nasrallah.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Tunggu Pembalasan Kami yang Tak Terelakkan!

    Tunggu Pembalasan Kami yang Tak Terelakkan!

    Jakarta

    Pemimpin kelompok Hizbullah, Hassan Nasrallah punya pesan keras yang ditujukan pada Israel, usai kematian komandan militer tertingginya dalam serangan Israel di Beirut, ibu kota Lebanon.

    Dia mengatakan bahwa kematian komandan utama Hizbullah, Fuad Shukr dan kematian pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh telah “melewati” garis merah.

    “Musuh, dan mereka yang berada di belakang musuh, harus menunggu pembalasan kami yang tak terelakkan,” kata Nasrallah dalam pidato yang disiarkan di pemakaman komandan Fuad Shukr, dilansir Al Arabiya dan AFP, Jumat (2/8/2024).

    “Anda tidak tahu garis merah apa yang telah Anda lewati,” ujarnya mengacu ke Israel setelah serangan terpisah di Beirut dan Teheran, Iran menewaskan Fuad Shukr dan Ismail Haniyeh, menggambarkan pembunuhan yang terakhir sebagai “pembunuhan yang berbahaya.”

    Nasrallah memperingatkan kelompok itu akan memberikan “respons nyata, bukan simbolis”.

    Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Kamis (1/8), bahwa Israel siap untuk setiap “agresi” menyusul ancaman pembalasan atas pembunuhan Haniyeh dan Shukr.

    Pemerintah Israel hingga kini belum mengonfirmasi ataupun membantah keterlibatan dalam pembunuhan Haniyeh. Namun, Israel telah mengumumkan bahwa mereka telah “menghabisi” Shukr, menyebutnya sebagai “komandan militer paling senior” Hizbullah dan “tangan kanan” Nasrallah.

    Israel juga menyalahkan Shukr atas serangan roket akhir pekan di Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel, yang menewaskan 12 anak-anak dan remaja. Hal ini telah dibantah Hizbullah.

    “Kami, di semua lini pendukung, telah memasuki fase baru,” kata Nasrallah, merujuk pada Hizbullah dan kelompok-kelompok lain yang didukung Iran, yang telah menargetkan Israel sebagai dukungan terhadap Hamas yang tengah berperang melawan Israel di Jalur Gaza.

    “Pertempuran terbuka di semua lini,” ujarnya, seraya menambahkan: “Eskalasi kami akan bergantung pada perilaku dan reaksi musuh,” imbuhnya.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Hizbullah Akui Komandan Militernya Ada di Gedung yang Diserang Israel

    Hizbullah Akui Komandan Militernya Ada di Gedung yang Diserang Israel

    Jakarta

    Kelompok Hizbullah angkat bicara mengenai komandan militer seniornya, Fuad Shukr yang disebut Israel telah tewas dalam serangannya di Beirut, ibu kota Lebanon. Kelompok bersenjata di Lebanon itu mengakui bahwa Shukr memang berada di dalam gedung di pinggiran selatan Beirut yang diserang Israel, dan nasibnya masih belum diketahui.

    Militer Israel sebelumnya mengatakan bahwa serangannya pada hari Selasa (30/7) telah “melenyapkan” Shukr, seorang komandan tinggi Hizbullah yang dikatakan bertanggung jawab atas serangan roket akhir pekan lalu di Dataran Tinggi Golan, yang menewaskan 12 anak-anak dan remaja.

    Dilansir kantor berita AFP, Rabu (31/7/2024), Hizbullah mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “saudara komandan jihadis yang hebat, Fuad Shukr (Haji Mohsen) berada di gedung yang menjadi sasaran musuh Zionis”.

    “Tim penyelamat telah bekerja sejak insiden itu terjadi… untuk menyingkirkan puing-puing… dan kami masih menunggu hasil operasi ini terkait nasib komandan tinggi dan warga lainnya yang juga berada di gedung itu,” kata Hizbullah dalam pernyataannya.

    Dalam jumlah korban sementara, Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan tiga warga sipil — seorang wanita dan dua anak — tewas dalam serangan Israel itu.

    Militer Israel menyebut Shukr sebagai “komandan militer paling senior” Hizbullah dan “tangan kanan” pemimpin kelompok itu, Hassan Nasrallah.

    Pada tahun 2017, Departemen Keuangan Amerika Serikat menawarkan imbalan uang US$ 5 juta untuk informasi tentang Shukr, menggambarkannya sebagai “penasihat senior” bagi pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah.

    Departemen Keuangan AS mengatakan ia memiliki “peran utama” dalam pengeboman mematikan tahun 1983 di barak Korps Marinir AS di Beirut.

    Sebelumnya, Hizbullah telah membantah bertanggung jawab atas serangan roket hari Sabtu di kota Druze Arab, Majdal Shams, di Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel.

    Pada hari Senin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah untuk memberikan respons “keras” terhadap serangan yang menewaskan 12 anak-anak dan remaja itu.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Israel Tak Ingin Perang dengan Hizbullah, Tapi Siap untuk Skenario Apapun

    Israel Tak Ingin Perang dengan Hizbullah, Tapi Siap untuk Skenario Apapun

    Jakarta

    Konflik antara kelompok Hizbullah dan Israel kian memanas. Militer Israel mengatakan bahwa mereka ingin menghindari perang yang lebih luas dengan kelompok bersenjata Lebanon tersebut, tetapi pasukannya siap untuk “skenario apapun”.

    “Agresi dan serangan brutal Hizbullah yang sedang berlangsung menyeret rakyat Lebanon dan seluruh Timur Tengah ke dalam eskalasi yang lebih luas,” kata juru bicara militer Israel Laksamana Muda Daniel Hagari dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP, Rabu (31/7/2024).

    “Meskipun kami lebih suka menyelesaikan permusuhan tanpa perang yang lebih luas, IDF sepenuhnya siap untuk skenario apapun,” katanya, mengacu pada Pasukan Pertahanan Israel.

    Sebelumnya, militer Israel mengklaim bahwa jet-jet tempurnya “menghabisi” komandan militer Hizbullah, Fuad Shukr di wilayah Beirut, ibu kota Lebanon pada hari Selasa (30/7) waktu setempat. Israel menuduhnya bertanggung jawab atas serangan roket di Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi, yang menewaskan 12 anak-anak dan remaja.

    “Jet-jet tempur angkatan udara Israel menghabisi komandan militer paling senior organisasi Hizbullah dan kepala unit strategisnya, Fuad Shukr, di wilayah Beirut,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP, Rabu (31/7/2024).

    “Fuad Shukr adalah komandan yang bertanggung jawab atas pembantaian Majdal Shams, di mana 12 anak tewas setelah Hizbullah menembakkan roket Falaq-1 Iran langsung ke lapangan sepak bola di Israel utara pada Sabtu malam,” kata juru bicara militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari dalam pernyataan video terpisah.

    “Fuad Shukr adalah tangan kanan Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah dan penasihatnya dalam merencanakan dan mengarahkan serangan dan operasi.,” imbuhnya.

    Namun, seorang sumber yang dekat dengan Hizbullah, mengatakan Shukr adalah target serangan Israel tersebut, tetapi dia “selamat dari serangan Israel”. AFP tidak dapat segera mengonfirmasi laporan tersebut.

    Menurut militer Israel, sejak dimulainya perang Gaza, Shukr mengatur serangan-serangan Hizbullah terhadap Israel.

    Dia bertanggung jawab atas sebagian besar persenjataan Hizbullah yang paling canggih, termasuk rudal berpemandu presisi, rudal jelajah, rudal antikapal, roket jarak jauh, dan UAV, kata militer Israel.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Memanas! Serangan Israel di Lebanon Tewaskan Komandan Militer Hizbullah

    Memanas! Serangan Israel di Lebanon Tewaskan Komandan Militer Hizbullah

    Jakarta

    Makin panas! Militer Israel mengklaim bahwa jet-jet tempurnya “menghabisi” komandan militer Hizbullah, Fuad Shukr di wilayah Beirut, ibu kota Lebanon pada hari Selasa (30/7) waktu setempat. Israel menuduhnya bertanggung jawab atas serangan roket di Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi, yang menewaskan 12 anak-anak dan remaja.

    “Jet-jet tempur angkatan udara Israel menghabisi komandan militer paling senior organisasi Hizbullah dan kepala unit strategisnya, Fuad Shukr, di wilayah Beirut,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP, Rabu (31/7/2024).

    “Fuad Shukr adalah komandan yang bertanggung jawab atas pembantaian Majdal Shams, di mana 12 anak tewas setelah Hizbullah menembakkan roket Falaq-1 Iran langsung ke lapangan sepak bola di Israel utara pada Sabtu malam,” kata juru bicara militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari dalam pernyataan video terpisah.

    “Fuad Shukr adalah tangan kanan Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah dan penasihatnya dalam merencanakan dan mengarahkan serangan dan operasi.,” imbuhnya.

    Hagari mengatakan Shukr adalah “teroris senior yang tangannya berlumuran darah orang Israel dan banyak orang lainnya”.

    Seorang sumber yang dekat dengan Hizbullah, mengatakan Shukr adalah target serangan Israel tersebut, tetapi dia “selamat dari serangan Israel”. AFP tidak dapat segera mengonfirmasi laporan tersebut.

    Menurut militer Israel, sejak dimulainya perang Gaza, Shukr mengatur serangan-serangan Hizbullah terhadap Israel.

    Dia bertanggung jawab atas sebagian besar persenjataan Hizbullah yang paling canggih, termasuk rudal berpemandu presisi, rudal jelajah, rudal antikapal, roket jarak jauh, dan UAV, kata militer Israel.

    Militer Israel mengatakan bahwa pada tahun 1990-an, komandan Hizbullah tersebut “terlibat langsung” dalam penculikan jenazah tiga tentara Israel — Benyamin Avraham, Adi Avitan, dan Omar Sawaid.

    Ketiganya dibunuh oleh Hizbullah saat berpatroli di pagar keamanan yang berdekatan dengan Har Dov, kata militer.

    “Sejak saat itu, ia telah merencanakan dan mengatur banyak serangan teror terhadap warga sipil yang tidak bersalah,” imbuh militer Israel dalam pernyataannya.

    Hagari menegaskan bahwa meski Israel ingin mengakhiri permusuhan tanpa perang yang lebih luas dengan Hizbullah, pasukan Israel siap untuk “skenario apa pun.”

    “Agresi dan serangan brutal Hizbullah yang terus berlanjut menyeret rakyat Lebanon dan seluruh Timur Tengah ke dalam eskalasi yang lebih luas,” kata juru bicara militer Israel tersebut.

    “Sementara kami lebih suka menyelesaikan permusuhan tanpa perang yang lebih luas, IDF (pasukan Israel) sepenuhnya siap untuk skenario apa pun,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)