Setengah Abad Berdagang, Fauzy Tetap Bertahan di Pasar Loak Jalan Surabaya yang Sepi
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Setiap pagi, Fauzy (77) tiba lebih awal dibandingkan pedagang lain di Pasar Loak Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.
Sekitar pukul 08.00–09.00 WIB, pintu besi kios bernomor 199 miliknya sudah ia buka. Dengan gerakan pelan, ia menyingkirkan debu tipis dari etalase kayu tua yang menyimpan barang-
barang antik
, saksi bisu perjalanan hidupnya selama lebih dari setengah abad.
Fauzy bukan sekadar
pedagang barang antik
. Ia adalah bagian dari sejarah Jalan Surabaya itu sendiri.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jalan Surabaya pada 1974, ia menyaksikan pasar loak tersebut tumbuh dari deretan lapak berantakan menjadi ruko-ruko tertata yang kini dikenal sebagai salah satu ikon wisata barang antik di Jakarta.
“Kalau dibandingkan pasar loak lain, ini memang lebih tertata karena bentuknya ruko. Tapi dulu belum seperti sekarang, masih gerobok-gerobak,” lanjut dia.
Fauzy masih ingat betul bagaimana awal pasar ini berdiri. Saat itu, hanya segelintir orang yang berani membuka lapak.
“Awalnya yang berani itu orang-orang tua. Paling cuma tiga atau empat orang di ujung sana. Belum pakai pintu toko,” ujar dia mengenang.
Perlahan, jumlah pedagang bertambah. Pemerintah kemudian menata kawasan tersebut menjadi ruko permanen.
Kini, terdapat sekitar 202 kios yang seluruhnya berizin resmi dan berada di bawah naungan organisasi pedagang. Pasar ini pun telah bertahan hampir 50 tahun.
Bagi Fauzy, Jalan Surabaya bukan sekadar tempat mencari nafkah. Ia adalah rumah kedua, bahkan mungkin rumah utama dalam perjalanan hidupnya sebagai perantau dari Bukittinggi, Sumatera Barat.
“Saya orang Bukittinggi. Desa saya sekitar lima kilometer dari Jam Gadang,” kata Fauzy.
Sebelum menetap di Jakarta, Fauzy sempat merantau ke Jambi. Ia datang ke Jalan Surabaya tanpa bekal pengetahuan tentang barang antik.
“Awalnya saya enggak tahu apa-apa soal barang antik. Dulu malah dagang sayur, karena desa saya desa sayur. Semua dipelajari sambil jalan,” tutur dia.
Sejak awal, Fauzy tidak pernah mengoleksi barang untuk kepentingan pribadi. Baginya, barang antik adalah komoditas dagang.
“Sistemnya jual-beli. Barang biasanya datang dari rumah-rumah orang yang mau pindahan atau yang sudah bosan,” ujar dia.
Ketika masa awal berdagang adalah cerita perjuangan, maka tahun-tahun setelahnya adalah masa keemasan.
Fauzy mengenang periode akhir 1970-an hingga tahun-tahun berikutnya sebagai puncak keramaian Jalan Surabaya.
“Dulu, sekitar tahun 1979-an, pasar ini ramai sekali,” kata dia.
Namun, kondisi itu perlahan berubah. Dalam lima tahun terakhir, sepi menjadi kata yang paling sering diucapkan para pedagang.
“Sekarang ini pasar sangat sepi. Ini yang paling parah,” ujar Fauzy.
Fauzy menyebut pembeli datang tak menentu, bahkan tidak ada penglaris berhari-hari.
“Jika pun ada transaksi, nilainya kecil. Kadang cuma Rp 100.000 sampai Rp 200.000,” lanjut Fauzy.
Sementara itu, biaya tetap harus dibayar. Fauzy masih mengeluarkan iuran harian dan bulanan untuk keamanan dan organisasi.
“Sekarang jangankan buat belanja dapur, buat kebutuhan pribadi saja sudah enggak cukup,” ujar dia pelan.
Kini, Fauzy hidup dengan bantuan anak-anaknya. Dari empat anak, hanya anak pertama yang meneruskan usaha di kios sebelah.
“Awalnya juga enggak ada minat sama sekali. Tapi akhirnya jalan juga,” kata dia.
Bagi Fauzy, semua yang terjadi adalah bagian dari perubahan zaman. Ia menyadari pasar tak lagi seramai dulu. Namun, meninggalkan Jalan Surabaya bukan pilihan.
“Sekarang saya cuma menunggu toko ini terisi penuh, supaya bisa makan sendiri saja,” katanya.
Bukan untuk mengejar keuntungan besar, melainkan untuk bertahan. Di tengah Jakarta yang terus bergerak cepat, Fauzy memilih berjalan pelan.
Setengah abad telah ia habiskan di Jalan Surabaya. Dan selama masih mampu, ia akan tetap duduk di balik etalase kayu tua itu, menjaga sisa-sisa masa lalu yang masih bernapas di tengah kota.
“Ini sudah jadi sejarah hidup saya. Puluhan tahun saya di sini, dan insyaallah tetap di sini selama masih mampu,” tutur dia.
Sepinya Jalan Surabaya tak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga tampak jelas bagi pengunjung.
Rizky (22), mahasiswa, datang ke pasar ini hanya untuk melihat-lihat. Ia mengetahui keberadaan Pasar Loak Jalan Surabaya dari media sosial.
“Barangnya menarik dan unik,” kata Rizky.
“Tapi untuk beli masih mikir-mikir karena harganya enggak murah buat mahasiswa,” lanjutnya.
Bagi Rizky, pasar ini lebih menyerupai tempat wisata alternatif.
“Lebih ke jalan-jalan, foto-foto, lihat barang antik. Kayak nostalgia,” ujar Rizky.
Hal serupa disampaikan Nabila (21), mahasiswa desain. Ia tertarik pada estetika barang-barang yang dipajang.
“Banyak yang estetik. Tapi jujur, saya enggak ngerti mana yang antik beneran,” kata Nabila.
Nabila datang tanpa niat belanja, hanya untuk bersantai dan melihat-lihat.
“Datang cuma keliling, ngobrol, terus pulang. Kalau ada informasi tentang barangnya mungkin bakal lebih tertarik beli,” ujar Nabila.
Fahri (24), pekerja swasta, juga baru pertama kali masuk meski sering melintas di Jalan Surabaya.
“Suasananya tenang, tapi sepi juga. Banyak kios tutup,” kata Fahri.
Ia mengaku belum berani membeli karena takut kemahalan. Fahri datang hanya untuk mengisi waktu luang.
“Lebih ke nostalgia. Lihat-lihat barang lama,” ujarnya singkat.
Kompas.com
menelusuri kawasan Pasar Loak Jalan Surabaya dari ujung ke ujung, sejauh sekitar 450 meter.
Di balik pintu-pintu itu, barang antik dipajang memenuhi ruang sempit. Patung kayu etnik, porselen bermotif klasik, hingga lampu gantung kristal tersusun rapi.
Di beberapa kios, radio tabung, mesin tik, pemutar kaset pita, hingga proyektor film lawas berjajar berdebu.
Deretan kaset pita dari berbagai era musik tersusun rapi, bersanding dengan alat elektronik kuno yang kini jarang digunakan.
Di kios lain, topeng ukiran kayu, alat musik tradisional, hingga kain tenun digantung di depan toko, menciptakan kesan galeri seni terbuka.
Meski dikenal sebagai pasar loak, penataan kawasan ini relatif rapi dibanding pasar loak lain di Jakarta.
Trotoar lebar memungkinkan pengunjung berjalan nyaman. Beberapa kios menjual koper dan tas jinjing, ciri khas Jalan Surabaya sejak lama.
Namun, di balik kerapian itu, suasana sunyi terasa kuat. Banyak kios tutup, sebagian hanya dijaga satu orang.
Percakapan antarpedagang terdengar pelan, sesekali diselingi canda untuk mengusir jenuh.
Ridhamal Barkah, kolektor barang antik, menilai Jalan Surabaya memiliki keunggulan dari sisi lokasi dan kenyamanan.
“Strategis banget, jalurnya eksklusif,” kata Ridhamal saat dihubungi
Kompas.com
.
Namun, dari sisi harga, ia menilai pasar ini kurang ramah bagi kolektor lokal.
“Target pasarnya memang mancanegara. Harganya sudah enggak masuk,” ujar dia.
Ridhamal juga menyoroti soal kurasi barang yang dijual di sana.
“Banyak barang repro, bukan original,” kata dia.
Meski demikian, ia mengakui kenyamanan berbelanja di Jalan Surabaya sulit ditandingi pasar loak lain.
Menurut dia, pasar loak ideal adalah yang memungkinkan pedagang dan kolektor mendapatkan harga lebih variatif.
“Kalau pasar loak, pedagang masih bisa muter barang,” ujarnya.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.