Tag: Fadli Zon

  • Fadli Zon Usulkan Perluasan Kegiatan Malam di Museum untuk Ciptakan Suasana Baru

    Fadli Zon Usulkan Perluasan Kegiatan Malam di Museum untuk Ciptakan Suasana Baru

    Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Kebudayaan Fadli Zon berharap agar kegiatan malam di museum semakin diperluas, serta dapat diselenggarakan di lebih banyak museum guna menarik perhatian pengunjung dari berbagai kalangan.

    “Saya rasa ini sudah mulai menjadi tren. ‘Night at the museum’ atau kegiatan museum di malam hari menurut saya adalah salah satu hal yang bisa kita kembangkan untuk membuat museum lebih hidup, karena suasana yang ditawarkan tentunya berbeda,” ujarnya di Jakarta dikutip dari Antara Jumat (27/12/2024).

    Dalam acara yang diadakan di Gedung A Kementerian Kebudayaan untuk memberikan jaminan sosial ketenagakerjaan kepada keluarga ahli waris maestro budaya, ia memberikan apresiasi kepada pengelola museum yang telah membuka museum hingga malam hari dan menyelenggarakan berbagai kegiatan malam.

    “Saya kira Museum Nasional kini juga sudah buka hingga malam. Jadi, bukan hanya sampai sore lagi,” tambah Fadli Zon. 

    Museum Bahari Jakarta juga berencana mengadakan acara pemutaran film maraton pada malam Tahun Baru 2025, memberikan kesempatan bagi warga untuk merayakan pergantian tahun bersama keluarga dan teman-teman.

    Fadli Zon menyampaikan, pembukaan museum hingga malam hari dan penyelenggaraan kegiatan malam di museum dapat menarik lebih banyak pengunjung. 

    Namun, Fadli Zon menegaskan pengelola museum perlu mempersiapkan dengan matang berbagai aspek teknis pelaksanaan kegiatan malam tersebut, termasuk memastikan pencahayaan yang tepat dan menciptakan suasana yang aman serta nyaman bagi para pengunjung.

  • Apresiasi Lukisan Yos Supratpro yang Dibredel, Cholil Nafis: Karya Seni Itu Cermin Realita Sosial

    Apresiasi Lukisan Yos Supratpro yang Dibredel, Cholil Nafis: Karya Seni Itu Cermin Realita Sosial

    FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Ketuq Majelis Ulama Indonesia, Cholil Nafis mengapresiasi lukisan Yos Supratpro. Setelah dibredel, menurutnya lukisan itu makin viral.

    “Lukisan itu idenya sudah sampai ke mana-mana meskipun tak sempat tayang dan terbeli,” kata Cholil dikutip dari unggahannya di X, Jumat (29/12/2024).

    Karena viralnya lukisan tersebut, ia menduga Yos lebih puas. Karena lebih viral.

    “Mungkin Pak Yos Suprapto lebih puas pesan lukisannya yang viral itu,” ucapnya.

    Di sisi lain, ia menyebut karya seni adalah cermin. Cholil khawatir Indonesia tanpa cermin jika karya seni dibredel.

    “Karya seni itu cermin dari realita sosial maka biarkan tumbuh secara alami. Jangan sampai hidup bangsa ini tanpa cermin,” ujarnya.

    Sebelumnya, pameran Yos yang sedianya digelar di Galeri Nasional batal. Belakangan, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, akhirnya angkat bicara.

    Dari 30 karya yang dipamerkan, lima di antaranya dinilai Fadly Zon vulgar dan berpotensi menyinggung pihak tertentu.

    “Bahkan agak vulgar. Misalnya, ada satu lukisan yang memperlihatkan orang telanjang, bersenggama, dan memakai topi yang memiliki ciri budaya tertentu,” ujar Fadli Zon, Jumat (20/12/2024).

    Ia menjelaskan bahwa topi tersebut menyerupai atribut budaya, seperti yang dikenakan raja Mataram atau Jawa. “Itu kan bisa menyinggung orang lain,” tambahnya.
    (Arya/Fajar)

  • Ratusan objek warisan budaya Indonesia dikembalikan dari Belanda

    Ratusan objek warisan budaya Indonesia dikembalikan dari Belanda

    Senin, 16 Desember 2024 20:11 WIB

    Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kanan) dan Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen (kiri) menunjukkan dokumen penandatanganan serah terima repatriasi objek warisan budaya Indonesia dari Belanda di Museum Nasional, Jakarta, Senin (16/12/2024). Pemerintah Indonesia menerima penyerahan koleksi benda-benda repatriasi dari Belanda dan hingga saat ini telah mencapai 828 objek dalam upaya melindungi hak warisan budaya nasional serta memperkuat kerja sama internasional. ANTARA FOTO/Fauzan/nym.

    Seorang konservator mengecek kondisi salah satu benda repatriasi usai acara penandatanganan serah terima repatriasi objek warisan budaya Indonesia dari Belanda di Museum Nasional, Jakarta, Senin (16/12/2024). Pemerintah Indonesia menerima penyerahan koleksi benda-benda repatriasi dari Belanda dan hingga saat ini telah mencapai 828 objek dalam upaya melindungi hak warisan budaya nasional serta memperkuat kerja sama internasional. ANTARA FOTO/Fauzan/nym.

    Seorang konservator mengecek kondisi salah satu benda repatriasi usai acara penandatanganan serah terima repatriasi objek warisan budaya Indonesia dari Belanda di Museum Nasional, Jakarta, Senin (16/12/2024). Pemerintah Indonesia menerima penyerahan koleksi benda-benda repatriasi dari Belanda dan hingga saat ini telah mencapai 828 objek dalam upaya melindungi hak warisan budaya nasional serta memperkuat kerja sama internasional. ANTARA FOTO/Fauzan/nym.

  • Menbud Fadli Zon Sebut Indonesia Bagian Penting Evolusi Manusia

    Menbud Fadli Zon Sebut Indonesia Bagian Penting Evolusi Manusia

    Jakarta

    Indonesia menegaskan perannya sebagai peradaban tertua dunia melalui pameran ‘Indonesia, The Oldest Civilization on Earth?’ di Museum Nasional. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut temuan ini sebagai bukti penting posisi Nusantara dalam evolusi manusia global.

    Fadli Zon menegaskan posisi Indonesia sebagai peradaban tertua di dunia dalam sambutannya pada pembukaan pameran yang memperingati 130 tahun penemuan Pithecanthropus erectus oleh Eugène Dubois di Bengawan Solo pada tahun 1894.

    Ia menyatakan penemuan ini merupakan pencapaian besar yang tidak hanya menegaskan posisi Indonesia dalam peta paleoantropologi dunia, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai episentrum penting dalam evolusi manusia.

    “Penemuan ini bukan sekadar peristiwa besar dalam sejarah ilmu pengetahuan, ini adalah pencapaian transformasional yang menegaskan peran Indonesia sebagai bagian penting dalam narasi besar evolusi manusia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/12/2024).

    Indonesia memiliki koleksi fosil manusia purba terbesar di Asia Tenggara, dengan 60% temuan Homo erectus dunia ditemukan di Pulau Jawa. Situs arkeologi seperti Sangiran, Trinil, dan Ngandong mengungkap fosil berusia lebih dari 1,5 juta tahun, menjadikan Indonesia pusat adaptasi dan inovasi manusia purba.

    Fadli menambahkan penemuan-penemuan ini menunjukkan bahwa Indonesia memegang peran penting dalam evolusi manusia. Menurutnya, kawasan Nusantara adalah salah satu pusat peradaban purba terkaya dan paling kompleks di dunia, yang sangat penting dalam memahami asal-usul umat manusia.

    Pameran ini menampilkan berbagai fosil dan artefak bersejarah, termasuk tengkorak Homoerectus S-17 yang paling lengkap di dunia dan pertama kali dipamerkan ke publik.

    Fosil fauna purba seperti Mastodon dan Stegodon juga memperkaya narasi ekosistem awal Nusantara, menggambarkan lingkungan dinamis dengan berbagai spesies yang hidup berdampingan, menciptakan salah satu habitat paling kompleks dalam sejarah bumi.

    “Fosil-fosil ini menunjukkan bahwa wilayah Nusantara adalah laboratorium alami, ruang hidup manusia purba untuk belajar bertahan hidup, beradaptasi, dan berinovasi,” ujar Fadli.

    Fadli menambahkan melalui pameran ini, Indonesia mengingatkan dunia bahwa bab pertama peradaban manusia tidak hanya dimulai di Afrika, tetapi juga menemukan kekuatan dan kompleksitasnya di Nusantara.

    Pengakuan ini menempatkan Indonesia di garis depan untuk mendefinisikan ulang cerita evolusi global.

    Kementerian Kebudayaan berkomitmen melindungi dan memanfaatkan warisan budaya sesuai Pasal 32 Ayat (1) UUD 1945 dan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Pameran ini merupakan bukti nyata upaya Indonesia memperkuat dan memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.

    Fadli Zon mengajak generasi muda Indonesia menjadikan warisan budaya sebagai inspirasi masa depan. Ia menegaskan dengan memahami warisan global, Indonesia dapat menjadi pusat pembelajaran dan kontribusi bagi peradaban dunia.

    Pameran ‘Indonesia, The Oldest Civilization on Earth?’ menghadirkan lebih dari 20 koleksi istimewa dari berbagai museum ternama, termasuk Museum Geologi Bandung, Museum Manusia Purba Sangiran, Museum Negeri Mpu Tantular, Fadli Zon Library, Museum Bumiayu Tonjong, dan Museum Semedo. Pameran ini terbuka untuk umum mulai 21 Desember 2024 di Museum Nasional Indonesia.

    (prf/ega)

  • Fadli Zon Tegaskan Indonesia sebagai Peradaban Tertua

    Fadli Zon Tegaskan Indonesia sebagai Peradaban Tertua

    Jakarta, 26 Desember 2024 – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu peradaban tertua di dunia. Ia juga mengingatkan pentingnya memperingati 130 tahun penemuan fosil Pithecanthropus erectus atau Manusia Purba Jawa oleh Eugène Dubois di tepi Bengawan Solo pada tahun 1894.

    Fadli Zon menyoroti bahwa penemuan tersebut bukan hanya pencapaian besar dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia dalam peta paleoantropologi dunia dan menempatkan Indonesia sebagai pusat penting dalam evolusi manusia.

    Oleh karena itu, untuk pertama kalinya Museum Nasional Indonesia menyelenggarakan pameran fosil manusia purba Pithecanthropus erectus yang diprakarsai oleh Kementerian Kebudayaan. Pameran ini mengusung tema “Indonesia, The Oldest Civilization on Earth? 130 Years After Pithecanthropus Erectus” atau “Indonesia: Peradaban Tertua di Dunia”.

    “Penemuan ini bukan sekadar peristiwa besar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Ini adalah pencapaian transformasional yang menegaskan peran Indonesia sebagai bagian penting dalam narasi besar evolusi manusia,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya yang diterima Beritasatu.com, Kamis (26/12/2024).

    Menurutnya, Indonesia dikenal sebagai tempat penemuan fosil manusia purba terbesar di Asia Tenggara. Sekitar 60% dari fosil Homo erectus yang ditemukan di dunia berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Situs arkeologi seperti Sangiran, Trinil, dan Ngandong mengungkapkan fosil yang diperkirakan berusia lebih dari 1,5 juta tahun, menjadikan Indonesia sebagai pusat penting dalam adaptasi dan inovasi manusia purba.

    “Temuan-temuan ini membuka pemahaman dunia tentang peran Indonesia yang sangat signifikan dalam evolusi manusia,” tambah Fadli.

    Ia menambahkan, Nusantara merupakan salah satu pusat peradaban purba yang terkaya dan paling kompleks di dunia yang memiliki peran vital dalam memahami asal-usul umat manusia. Warisan ini memberikan dasar bagi pemahaman sejarah dan peradaban manusia secara global.

    Pameran ini menampilkan berbagai fosil dan artefak bersejarah, termasuk tengkorak Homo erectus S-17, tengkorak paling lengkap di dunia yang dipamerkan untuk pertama kalinya kepada publik. Fosil-fosil lainnya, seperti Mastodon dan Stegodon juga memperkaya cerita tentang ekosistem awal Nusantara yang menggambarkan lingkungan dinamis tempat berbagai spesies hidup berdampingan, menciptakan salah satu habitat paling kompleks dalam sejarah bumi.

    Lebih lanjut,fosil-fosil ini menunjukkan bahwa wilayah Nusantara adalah laboratorium alami bagi manusia purba dalam belajar bertahan hidup, beradaptasi, dan berinovasi.

    “Pameran ini mengingatkan dunia bahwa bab pertama peradaban manusia tidak hanya dimulai di Afrika, tetapi juga memiliki kekuatan dan kompleksitas yang ditemukan di Nusantara,” tambahnya.

    Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk melindungi dan memanfaatkan warisan budaya bangsa. Sesuai dengan Pasal 32 ayat (1) UUD 1945 dan Undang-Undang No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, pameran ini menjadi wujud nyata upaya Indonesia untuk memperkuat dan memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.

    Pameran “Indonesia, The Oldest Civilization on Earth?” menampilkan lebih dari 20 koleksi istimewa dan koleksi asli dari berbagai museum ternama, seperti Museum Geologi Bandung, Museum Manusia Purba Sangiran, Museum Negeri Mpu Tantular, Fadli Zon Library, Museum Bumiayu Tonjong, dan Museum Semedo. Pameran ini dapat dikunjungi oleh masyarakat mulai 21 Desember 2024 di Museum Nasional Indonesia.

    “Dengan memahami bahwa warisan kita bersifat global, kita dapat menjadikan Indonesia sebagai pusat peradabat tertua jiuga menjadi pembelajaran dan kontribusi bagi peradaban dunia,” tegas Fadli Zon.

  • Fadli Zon Tegaskan Posisi RI sebagai Peradaban Tertua Dunia di Pameran 130 Tahun Pithecanthropus Erectus – Page 3

    Fadli Zon Tegaskan Posisi RI sebagai Peradaban Tertua Dunia di Pameran 130 Tahun Pithecanthropus Erectus – Page 3

    Pameran ini menghadirkan berbagai fosil dan artefak bernilai sejarah tinggi, termasuk masterpiece tengkorak Homo erectus S-17, tengkorak paling lengkap di dunia yang untuk pertama kalinya dipamerkan kepada publik.

    Temuan lainnya seperti fosil fauna purba Mastodon dan Stegodon juga memperkaya narasi ekosistem awal Nusantara, yang menggambarkan lingkungan dinamis di mana berbagai spesies hidup berdampingan, menciptakan salah satu habitat paling kompleks dalam sejarah bumi.

    Dalam narasi global tentang asal-usul manusia, teori “Out of Africa” telah lama menjadi dominan. Namun, penemuan dan sebaran fosil manusia purba di Indonesia memberikan gambaran yang melengkapi atau merevisi narasi tersebut.

    “Fosil-fosil ini menunjukkan bahwa wilayah Nusantara adalah laboratorium alami, ruang hidup manusia purba untuk belajar bertahan hidup, beradaptasi, dan berinovasi,” ujar Fadli Zon.

    “Melalui pameran ini, kita mengingatkan dunia bahwa bab pertama peradaban manusia tak hanya dimulai di Afrika, tetapi juga menemukan kekuatan dan kompleksitasnya di wilayah Nusantara,” lanjutnya.

    Pengakuan ini menempatkan Indonesia di garis depan untuk mendefinisikan ulang cerita evolusi global. 

  • Menteri Kebudayaan Tegaskan Peran Kementerian Sebagai Fasilitator Pembangunan Ekosistem Musik

    Menteri Kebudayaan Tegaskan Peran Kementerian Sebagai Fasilitator Pembangunan Ekosistem Musik

    Whisnu Mardiansyah • 25 Desember 2024 05:19

    Jakarta: Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Gerakan Estafet Kebudayaan (GEK) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Tribute Musisi/ Penyanyi Legendaris 1960-an: Menyulam Temu Rindu, Merajut Kenangan Lagu” yang dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.

    Dalam sambutannya, Menteri Fadli Zon menegaskan acara ini adalah bentuk penghormatan kepada para legenda musik Indonesia yang karya-karyanya telah menjadi bagian penting dari perjalanan budaya bangsa.

    Kegiatan ini merupakan wujud penghormatan kepada para legenda musik yang telah mewarnai perjalanan industri musik Indonesia maupun dunia. Era 1960-an adalah masa keemasan yang melahirkan karya-karya luar biasa, menjadi saksi lahirnya berbagai genre musik, dan menghadirkan musisi-musisi yang hingga kini terus menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

    “Para musisi legendaris tahun 1960-an yang sekarang mungkin sudah sangat senior, perlu kita apresiasi karena mereka ini adalah bintang-bintang di masa itu, yang menjadi bagian dari perjalanan banyak orang,” ungkap Menteri Fadli.

    Kegiatan ini menghadirkan sejumlah musisi legendaris Indonesia yang telah mengukir sejarah pada era 1960-an, di antaranya Titiek Sandhora & Muchsin Alatas, Ernie Djohan, dan Titik Hamzah.

    “Kita berharap ada semacam platform di Kementerian Kebudayaan supaya kita bisa mengapresiasi para musisi yang sudah berkarya sejak lama, berprestasi, bahkan membawa nama Indonesia di panggung dunia. Ini sangat penting sebagai bagian kekayaan nasional kita,” tambah Menteri Fadli.

    Sebagai bagian dari upaya melestarikan musik sebagai medium kebudayaan, Menteri Fadli Zon menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan dalam mendukung ekosistem musik di Indonesia.

    “Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian yang sekarang ini berdiri sendiri, tentu akan menjadi fasilitator bagi pembangunan ekosistem termasuk musik,” tegasnya.

    Menteri Fadli Zon juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan acara ini. Ia mengajak seluruh hadirin untuk menikmati setiap penampilan dengan semangat kebersamaan.

    “Mari kita nikmati ‘Tribute Musisi 1960-an’ dengan penuh semangat dan kebersamaan. Semoga acara ini menjadi momen yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi kita untuk terus menghargai karya seni dan budaya,” tutupnya.

    Jakarta: Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Gerakan Estafet Kebudayaan (GEK) menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Tribute Musisi/ Penyanyi Legendaris 1960-an: Menyulam Temu Rindu, Merajut Kenangan Lagu” yang dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.
     
    Dalam sambutannya, Menteri Fadli Zon menegaskan acara ini adalah bentuk penghormatan kepada para legenda musik Indonesia yang karya-karyanya telah menjadi bagian penting dari perjalanan budaya bangsa.
     
    Kegiatan ini merupakan wujud penghormatan kepada para legenda musik yang telah mewarnai perjalanan industri musik Indonesia maupun dunia. Era 1960-an adalah masa keemasan yang melahirkan karya-karya luar biasa, menjadi saksi lahirnya berbagai genre musik, dan menghadirkan musisi-musisi yang hingga kini terus menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.
    “Para musisi legendaris tahun 1960-an yang sekarang mungkin sudah sangat senior, perlu kita apresiasi karena mereka ini adalah bintang-bintang di masa itu, yang menjadi bagian dari perjalanan banyak orang,” ungkap Menteri Fadli.
     
    Kegiatan ini menghadirkan sejumlah musisi legendaris Indonesia yang telah mengukir sejarah pada era 1960-an, di antaranya Titiek Sandhora & Muchsin Alatas, Ernie Djohan, dan Titik Hamzah.
     
    “Kita berharap ada semacam platform di Kementerian Kebudayaan supaya kita bisa mengapresiasi para musisi yang sudah berkarya sejak lama, berprestasi, bahkan membawa nama Indonesia di panggung dunia. Ini sangat penting sebagai bagian kekayaan nasional kita,” tambah Menteri Fadli.
     
    Sebagai bagian dari upaya melestarikan musik sebagai medium kebudayaan, Menteri Fadli Zon menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan dalam mendukung ekosistem musik di Indonesia.
     
    “Kementerian Kebudayaan sebagai kementerian yang sekarang ini berdiri sendiri, tentu akan menjadi fasilitator bagi pembangunan ekosistem termasuk musik,” tegasnya.
     
    Menteri Fadli Zon juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan acara ini. Ia mengajak seluruh hadirin untuk menikmati setiap penampilan dengan semangat kebersamaan.
     
    “Mari kita nikmati ‘Tribute Musisi 1960-an’ dengan penuh semangat dan kebersamaan. Semoga acara ini menjadi momen yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi kita untuk terus menghargai karya seni dan budaya,” tutupnya.

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (WHS)

  • Menteri Kebudayaan Dorong Remake dan Sampling Lagu Lawas untuk Lestarikan Budaya Indonesia

    Menteri Kebudayaan Dorong Remake dan Sampling Lagu Lawas untuk Lestarikan Budaya Indonesia

    Jakarta, Beritasatu.com – Setelah menggelar konser yang menampilkan penyanyi legendaris dari dekade 1960-an dan 1970-an, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) mengajak generasi muda untuk ikut serta dalam melestarikan budaya musik Indonesia, khususnya melalui lagu lawas. Beberapa upaya yang dapat dilakukan meliputi remake lagu lama, cover lagu, duet dengan penyanyi asli, kolaborasi, atau sampling.

    “Mungkin lagu-lagu lama atau lawas yang tadi dinyanyikan bisa diaransemen ulang, dibuat dalam bentuk duet, atau kolaborasi. Seperti di negara-negara lain, juga bisa di-remake atau diperkenalkan kembali, dan itu bisa menjadi karya baru sebagai respons terhadap perjalanan musik Indonesia, sehingga jadi berkelanjutan,” ujar Fadli Zon, Menteri Kebudayaan, seusai acara di gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa (24/12/2024).

    Konser yang menampilkan sejumlah penyanyi legendaris dari dekade 1960-an dan 1970-an ini juga menjadi acara pembuka untuk menyambut tahun 2025, sekaligus menjadi pengingat nostalgia lagu lawas dan perjuangan para artis zaman dahulu. Beberapa artis legendaris yang tampil, antara lain Ernie Djohan, Titiek Sandhora, Muchsin Alatas, dan Titi Hamzah.

    Sebagai bagian dari upaya melestarikan seni dan budaya Indonesia, Fadli Zon turut mengajak generasi muda, terutama para artis yang masih aktif berkarya hingga saat ini, untuk mengangkat kembali lagu lawas. Dengan dukungan platform digital yang kini lebih mudah diakses, pengenalan budaya Indonesia ke masyarakat dunia menjadi semakin memungkinkan.

    “Sekarang banyak platform digital yang memudahkan kita, sementara di masa lalu, segala sesuatunya serba terbatas. Bahkan masyarakat Indonesia hanya bisa mendengarkan lagu-lagu lama dari radio atau piringan hitam. Kini, para artis legendaris tersebut masih hadir di tengah kita. Tentunya, kita harus mengapresiasi mereka, dan saya rasa penting bagi mereka untuk menyampaikan nilai-nilai perjuangan dan pengalaman masa lalu kepada generasi baru,” tambah Fadli Zon.

    Konser ini juga menunjukkan bahwa perjalanan para artis dalam mengembangkan musik Indonesia, khususnya melalui lagu lawas, bukanlah hal yang mudah.

    Namun, meski dengan segala tantangan, mereka berhasil memperkenalkan musik Indonesia di panggung internasional. Bahkan, beberapa dari mereka melakukan tur konser mengelilingi Eropa selama empat tahun.

    Sebagai penggemar sekaligus kolektor vinyl, Fadli Zon mengungkapkan bahwa Kemenbud tengah mengerjakan proyek pengarsipan vinyl yang nantinya akan menjadi semacam ensiklopedia musik Indonesia, termasuk karya-karya lagu lama.

    “Kami sedang membuat ensiklopedia kaset dan piringan hitam musik Indonesia, sehingga semua lagu lawas dan karya seniman serta musisi ini dapat terekam, ada datanya, dan ada databasenya. Karena jumlahnya sangat banyak, puluhan ribu, penting bagi kita untuk memastikan lagu-lagu dari para seniman dan budayawan ini tetap terjaga dalam satu record,” pungkasnya.

  • Sambut Tahun Baru 2025, Kementerian Kebudayaan Gelar Konser Penyanyi Legendaris

    Sambut Tahun Baru 2025, Kementerian Kebudayaan Gelar Konser Penyanyi Legendaris

    Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Kebudayaan menggelar konser spesial yang menampilkan sejumlah penyanyi legendaris dari dekade 1960-an dan 1970-an sebagai bagian dari upaya menyambut 2025 dan melestarikan budaya Indonesia.

    “Ini adalah bagian dari upaya kita untuk mengapresiasi langkah awal dalam melestarikan warisan budaya,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Selasa (24/12/2024) di gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta. 

    Konser yang diselenggarakan bersama Gerakan Estafet Kebudayaan Indonesia ini mengundang sejumlah artis legendari, seperti Ernie Djohan, Titiek Sandhora, Muchsin Alatas, dan Titik Hamzah.

    Pada konser penyanyi legendaris ini, mereka membawakan lagu-lagu yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah musik Indonesia pada era 60-an hingga 80-an.

    “Kami berharap lagu-lagu mereka dapat membangkitkan kembali memori masyarakat Indonesia,” tambah Fadli Zon.

    Lagu-lagu yang dibawakan tidak hanya mengiringi perjalanan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa lalu, tetapi juga turut memperkenalkan budaya Indonesia di panggung internasional.

    Selain memberikan nuansa nostalgia, konser ini juga diharapkan bisa mengingatkan kembali perjuangan para seniman dan budayawan yang berkarya di tengah keterbatasan ekonomi dan minimnya platform digital pada waktu itu.

    Ke depannya, Kementerian Kebudayaan berencana untuk lebih banyak berkolaborasi dengan artis, penyanyi, dan musisi yang masih aktif berkarya hingga saat ini.

    “Kami akan berkolaborasi dengan Gerakan Estafet Kebudayaan untuk memberikan kesempatan bagi generasi muda, serta mengapresiasi mereka melalui berbagai platform di masa depan,” ungkap Fadli Zon.

    Sebagai bagian dari kecintaannya terhadap budaya, Fadli Zon juga menunjukkan koleksi vinyl dan poster dari para artis legendaris tersebut di depan aula konser.

    Konser penyanyi legendaris ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha dan Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad.

  • Kemenbud Gelar Festival Noken, Ajak Masyarakat Partisipasi Lestarikan Budaya Papua – Page 3

    Kemenbud Gelar Festival Noken, Ajak Masyarakat Partisipasi Lestarikan Budaya Papua – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Festival Noken Tanah Papua yang digelar Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) di Sarinah Mal, Jakarta Pusat, berlangsung meriah. Kegiatan yang diselenggarakan sebagai bentuk pelestarian Noken itu turut melibatkan partisipasi masyarakat.

    Sebagai informasi, Festival Noken digelar selama 3 hari sejak 20 hingga 22 Desember 2024. Ada berbagai kegiatan dalam Festival Noken, mulai dari fashion show Noken, Pasar Seni serta pameran Noken, pertunjukan musik dan tari Papua, hingga workshop pembuatan Noken dan pemahatan patung khas Papua yang bisa diikuti masyarakat umum.

    Noken merupakan tas tradisional asli Papua yang terbuat dari serat kulit kayu, biasanya dari kayu pohon manduam, pohon nawa, atau anggrek hutan. Umumnya noken dibuat oleh wanita Papua.

    Penutupan Festival Noken hari ini, Minggu, 22 Desember 2024, dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni budaya di Anjungan Sarinah. Seperti penampilan Diva asal Papua, Nowela, band Kaka Black, Nayak Dancer, Black Selection Band, sampai penari dari Suku Kamoro.

    Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha yang hadir bahkan ikut naik ke atas panggung untuk bernyanyi dan berjoget bersama. Wamen Giring pun turut menyumbangkan suaranya dengan menyanyikan lagu ‘Papua Dalam Cinta’.

    “Kita berharap melalui kegiatan-kegiatan ini, kita menyemarakan budaya kita, sehingga bisa dirasakan juga oleh masyarakat, terutama di acara-acara publik seperti ini,” kata Fadli Zon.

    Penutupan Festival Noken juga disemarakkan dengan flashmob Noken yang digelar saat car free day (CFD) di depan Anjungan Sarinah, tepatnya Jl MH Thamrin. Berbagai komunitas Papua seperti dari Yayasan Maramowe dan Konopa (Komunitas Noken Papua) mengajak serta warga Jakarta yang sedang melakukan CFD untuk menari bersama.

    Tampak terlihat masyarakat mengikuti flashmob dengan semarak, termasuk para anak muda. Ada juga anak-anak kecil yang ikut berdendang ria mengikuti alunan musik khas Papua.

    Menurut Fadli Zon, Festival Noken memang digelar Kementerian Kebudayaan untuk memberi pesan kepada masyarakat untuk ikut menjaga dan melestarikan budaya, terutama bagi para generasi muda. Apalagi Noken sudah di-inskripsi oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) atau Intangible Cultural Heritage (ICH).

    “Justru harapannya dari generasi muda, generasi milenial, Gen Z, generasi Alpha, mereka mulai bisa mengapresiasi budaya-budaya Indonesia, karena budaya kita ini sangat kaya. Kalau bukan kita yang mengapresiasi, siapa lagi?” tuturnya.

    Penutupan Festival Noken digelar bersamaan dengan pawai budaya oleh Kementerian Kebudayaan untuk menyambut 3 WBTb Indonesia yang baru saja di-inskripsi oleh UNESCO awal Desember lalu yakni Kebaya, pertunjukan Reog Ponorogo dan alat musik tradisional Kolintang. Dengan demikian, Indonesia kini memiliki 16 WBTb yang sudah di-inskripsi oleh UNESCO.

    Dalam pawai budaya dari area Monas hingga Sarinah tersebut, Kementerian Kebudayaan melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti komunitas pecinta Kebaya, pegiat budaya Reog Ponorogo se-Jabodetabek, komunitas Kolintang, komunitas Pencak Silat, hingga anak-anak sekolah, termasuk anak TK dan SD.

    Kegiatan pawai kebaya dan kirab Reog Ponorogo tersebut bahkan mendapatkan Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk jumlah peserta kebaya terbanyak dalam pawai lintas generasi. Setidaknya, ada 2.000 peserta pawai kebaya dalam acara ini.

    “Ini sebuah prestasi kita juga, sekaligus tantangan untuk melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya ke depannya,” sebut Fadli.

     

    Sejumlah prajurit TNI mengajarkan para bocah Papua untuk menggosok gigi yang baik dan benar. Adalah Satgas Yonif Raider 321/GT/13/1 Kostrad Pos Yigi yang mengajarkan para bocah Papua tersebut.