Tag: Fadli Zon

  • Menteri Fadli Zon Canangkan 19 April sebagai Hari Keris Nasional

    Menteri Fadli Zon Canangkan 19 April sebagai Hari Keris Nasional

    Malang, Beritasatu.com – Menteri Kebudayaan (menbud) Fadli Zon secara resmi mencanangkan 19 April sebagai Hari Keris Nasional, sebagai bentuk komitmen dalam melestarikan warisan budaya Nusantara.

    Penetapan tanggal ini bertepatan dengan peresmian Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia, yang telah terakreditasi sebagai salah satu dari enam organisasi budaya di bawah naungan UNESCO.

     “Kami mencanangkan 19 April sebagai Hari Keris Nasional, sejalan dengan berdirinya sekretariat ini. Ini merupakan langkah konkret dalam pelestarian budaya,” kata Fadli Zon dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Samantha Krida, Universitas Brawijaya, Malang, Sabtu (19/4/2025) dikutip dari Antara.

    Fadli menyatakan Hari Keris Nasional diharapkan dapat menjadi momentum bagi generasi muda untuk lebih mengenal, memahami, dan mencintai keris sebagai bagian penting dari budaya Indonesia.

    “Pemahaman menjadi pintu awal dari partisipasi dalam pelestarian budaya. Kita memiliki kekayaan budaya luar biasa seperti keris, wayang, dan lainnya yang harus dijaga,” tambahnya.

    Ia juga mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, hingga komunitas budaya untuk menyukseskan gerakan pelestarian tersebut.

    “Penyebaran literasi budaya kini bisa dilakukan tidak hanya lewat buku, tetapi juga podcast, dokumenter, diskusi publik, dan pameran,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Fadli menyebut keris bukan hanya warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai simbol diplomasi internasional.

    “Pak Prabowo, baik saat menjabat menhan hingga menjadi presiden, sering menghadiahkan keris kepada para pemimpin negara sahabat. Ini menunjukkan keris bisa mewakili identitas dan kearifan bangsa Indonesia,” ungkap Fadli Zon mengenai penetapan Hari Keris Nasional.

  • Jalin Kerja Sama Budaya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Tegaskan Dukungan Indonesia untuk Palestina

    Jalin Kerja Sama Budaya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon Tegaskan Dukungan Indonesia untuk Palestina

    JAKARTA – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan komitmen Indonesia untuk terus mendukung Palestina, tidak hanya secara politik dan kemanusiaan, tetapi juga melalui kerja sama budaya yang berkelanjutan. Hal ini disampaikan saat menerima Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Dr. Zuhair Alshun, di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Rabu 16 April.

    Pertemuan ini menjadi simbol solidaritas Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina, khususnya di Gaza. “Yang terjadi di Palestina bukan hanya genosida terhadap rakyat, tetapi juga terhadap peradaban dan kebudayaan mereka,” ujar Fadli Zon dalam keterangan tertulis yang diterima Kamis, 17 April.

    Dalam kesempatan itu, Fadli menyampaikan duka cita mendalam atas hilangnya ribuan nyawa, termasuk para tokoh budaya Palestina. Data Institute for Palestine Studies mencatat, sedikitnya 195 situs budaya di Gaza hancur hingga awal 2025, termasuk Masjid Agung Omari, Gereja Santo Porphyrius, dan Museum Rashad al-Shawa.

    Fadli juga menyebut sejumlah tokoh budaya yang menjadi korban, di antaranya penyair Refaat Alareer, jurnalis Safa Joudeh, arsitek Khaled Sabawi, dan aktivis budaya Mona El-Farra. “Ini bukan sekadar krisis kemanusiaan, tapi juga serangan terhadap identitas budaya dan memori kolektif bangsa Palestina,” tegasnya.

    Sebagai bentuk nyata dukungan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengusulkan penguatan kerja sama budaya dengan Palestina. Program yang dirancang antara lain: pameran seni, pemutaran film, festival sastra, penerjemahan buku, dan diskusi publik bersama penulis Palestina.

    “Solidaritas kita tidak hanya simbolik. Ini adalah ekspresi nilai bersama dan rasa persaudaraan yang kokoh,” kata Fadli. Ia memastikan Kementerian Kebudayaan akan memperluas kerja sama diplomasi budaya dengan Kedutaan Palestina di Jakarta.

    “Kita ingin terus menghadirkan suara Palestina di ruang budaya Indonesia, dan bersama memperjuangkan perdamaian serta kemerdekaan yang adil dan abadi bagi Palestina,” tutupnya.

  • Buka Pameran Misykat, Fadli Zon Bahas Sejarah Islam di Indonesia

    Buka Pameran Misykat, Fadli Zon Bahas Sejarah Islam di Indonesia

    Jakarta

    Menteri Kebudayaan Fadli Zon resmi membuka Pameran ‘Misykat: Cahaya Peradaban Islam’ di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Kamis, (17/4/2025).

    Pameran ini menampilkan lebih dari 300 artefak bersejarah, termasuk manuskrip Al-Qur’an kuno, batu nisan berinskripsi Arab, temuan arkeologi dari Sumatera Barat, serta seni rupa Islam kontemporer.

    “Ini bukan sekadar pameran benda, tapi juga narasi peradaban dan rekaman harmoni antara Islam dan budaya lokal yang telah berlangsung selama berabad-abad,” Fadli dalam keterangan tertulis, Jumat (18/4/2025).

    Dalam sambutannya, Fadli juga menyampaikan penemuan arkeologis penting yang menandai masuknya Islam ke Indonesia sejak abad ke-7 Masehi, menjadikan Indonesia sebagai salah satu wilayah awal penerima ajaran Islam di Asia Tenggara.

    Adapun temuan ini memperkuat narasi sejarah bahwa kedatangan Islam ke Indonesia tidak hanya melalui dakwah, tetapi juga melalui perdagangan dan pertukaran budaya.

    “Temuan koin dari situs Bongal, di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara menunjukkan bahwa Islam sudah hadir di Nusantara sejak tahun 79 Hijriah atau abad ke-7 Masehi,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, penemuan arkeologis di situs Bongal menjadi salah satu sorotan utama pameran ini. Situs tersebut terletak di pantai barat Sumatera, sebuah kawasan yang dahulu menjadi pelabuhan penting dalam jalur perdagangan internasional.

    Selain koin Arab, ditemukan pula artefak dari Bizantium dan masa Kristen awal, menandakan kawasan tersebut telah terlibat dalam pertukaran lintas budaya sejak lama.

    Katalog ini diharapkan menjadi sumber rujukan penting untuk mendalami sejarah Islam di wilayah barat Nusantara, terutama dalam memahami bagaimana Islam berkembang secara damai dan mengakar dalam tradisi masyarakat lokal.

    “Ini adalah langkah penting dalam pelestarian warisan budaya Islam, sekaligus membuka ruang riset lebih luas bagi para akademisi dan arkeolog,” ucapnya.

    Sebagai bagian dari komitmen kebudayaan nasional, Fadli juga mengumumkan Indonesia akan menjadi tuan rumah Forum Kultural Dunia 2025 di Bali pada bulan September mendatang.

    “Forum ini akan menghadirkan pemimpin budaya dunia, akademisi, seniman, dan pengambil kebijakan untuk mendiskusikan masa depan diplomasi kebudayaan global,” paparnya.

    Forum tersebut akan mengusung tema ‘Kultur untuk Masa Depan’, mengangkat isu seperti kesehatan budaya, pelestarian warisan, dan inovasi dalam menghadapi tantangan global. Fadli berharap forum ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai epicentrum budaya dan peradaban di dunia.

    Lebih lanjut, Fadli menjelaskan Pameran Misykat menjadi tonggak penting dalam membangun kesadaran publik mengenai akar sejarah Islam di Indonesia. Lebih dari sekadar narasi masa lalu, pameran ini menampilkan wajah Islam yang penuh toleransi, dialog, dan harmoni budaya-sebuah wajah yang kini sangat relevan dalam konteks global.

    “Semoga pameran ini menjadi langkah besar untuk menegaskan peran Indonesia di panggung dunia sebagai pusat peradaban Islam yang damai, berilmu, dan berbudaya,” tutup Fadli.

    Sebagai informasi, dalam acara ini turut hadir Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha dan anggota DPR Denny ‘Cagur’.

    (akd/akd)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Menbud Fadli Zon Ungkap Bukti Baru Masuknya Islam Abad ke-7: Indonesia Jadi Titik Awal Peradaban Islam di Asia Tenggara – Page 3

    Menbud Fadli Zon Ungkap Bukti Baru Masuknya Islam Abad ke-7: Indonesia Jadi Titik Awal Peradaban Islam di Asia Tenggara – Page 3

    Dalam kesempatan yang sama, Fadli juga meluncurkan katalog dokumentasi terbaru mengenai naskah batu nisan Islam kuno di Aceh, mencakup 957 epigraf dari 380 situs makam. “Ini adalah langkah penting dalam pelestarian warisan budaya Islam, sekaligus membuka ruang riset lebih luas bagi para akademisi dan arkeolog,” ungkapnya.

    Katalog ini diharapkan menjadi sumber rujukan penting untuk mendalami sejarah Islam di wilayah barat Nusantara, terutama dalam memahami bagaimana Islam berkembang secara damai dan mengakar dalam tradisi masyarakat lokal.

    Sebagai bagian dari komitmen kebudayaan nasional, Fadli juga mengumumkan bahwa Indonesia akan menjadi tuan rumah Forum Kultural Dunia 2025 di Bali pada bulan September mendatang. “Forum ini akan menghadirkan pemimpin budaya dunia, akademisi, seniman, dan pengambil kebijakan untuk mendiskusikan masa depan diplomasi kebudayaan global,” katanya.

    Forum tersebut akan mengusung tema “Kultur untuk Masa Depan” mengangkat isu seperti kesehatan budaya, pelestarian warisan, dan inovasi dalam menghadapi tantangan global. Fadli berharap forum ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai epicentrum budaya dan peradaban di dunia.

    Pameran Misykat menjadi tonggak penting dalam membangun kesadaran publik mengenai akar sejarah Islam di Indonesia. Lebih dari sekadar narasi masa lalu, pameran ini menampilkan wajah Islam yang penuh toleransi, dialog, dan harmoni budaya—sebuah wajah yang kini sangat relevan dalam konteks global.

    “Semoga pameran ini menjadi langkah besar untuk menegaskan peran Indonesia di panggung dunia sebagai pusat peradaban Islam yang damai, berilmu, dan berbudaya,” tutup Fadli. Dalam acara ini tampak hadir Wakil Menteri Kebudayaam Giring Ganesha dan anggota DPR Denny “Cagur”.

     

  • Megawati hadiri teater seni musik Imam Al-Bukhari-Soekarno di GKJ

    Megawati hadiri teater seni musik Imam Al-Bukhari-Soekarno di GKJ

    Jakarta (ANTARA) – Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri menghadiri pertunjukan teater seni musik kerja sama antara Indonesia dan Uzbekistan di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, Selasa malam.

    Di mana, pertunjukan ini menyoroti sejarah Presiden Pertama RI Ir. Soekarno atau Bung Karno dengan Imam Bukhari seorang ahli hadis asal Uzbekistan di puncak Perang Dingin.

    Digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, pertunjukan teater seni musik turut dihadiri sejumlah menteri, anggota DPR RI hingga budayawan.

    Tampak hadir diantaranya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon; Gubernur Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno.

    Lalu, Ketua DPP PDIP sekaligus putra Megawati, M. Prananda Prabowo dan Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDIP Puan Maharani.

    Jajaran Ketua DPP PDIP yang terlihat hadir yakni Ganjar Pranowo, Deddy Sitorus, Djarot Saiful Hidayat, Bintang Puspayoga hingga Ronny Talapessy. Elite PDIP seperti Guntur Romli, Andika Perkasa hingga Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Bonnie Triyana.

    Adik kandung Megawati, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekanoputra juga terlihat hadir di lokasi.

    Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi, dan sejumlah budayawan tanah air seperti Butet Kartaredjasa, terlihat turut menyaksikan pertunjukan ini.

    Pertunjukan ini juga turut di hadiri oleh perwakilan Duta Besar Uzbekistan untuk Indonesia dan para seniman tanah air dan masyarakat.

    Ratusan penonton pun tampak antusias ingin menyaksikan pertunjukan tersebut.

    Sebelum dimulainya pertunjukan, Megawati menyempatkan berbincang ringan dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di ruang tunggu.

    Tak hanya itu, Megawati turut mengajak Duta Besar Uzbekistan untuk Indonesia, Oybek Eshono dan Wakil Gubernur Wilayah Samarkand, Rustam Kobilov untuk berbincang santai.

    Sekira pukul 20.15 WIB, Megawati bersama rombongan pun masuk ke dalam Gedung Kesenian Jakarta untuk menyaksikan pertunjukan teater seni musik tersebut.

    Pertunjukan teater ini dibuka dengan pertunjukan musik khas Uzbekistan dan penampilan 5 orang pemain teater yang memukau.

    Megawati tampak duduk dengan menantunya Nancy Prananda dan putranya M. Prananda Prabowo di ruang pertunjukan.

    Pewarta: Narda Margaretha Sinambela
    Editor: Edy M Yakub
    Copyright © ANTARA 2025

  • Sejarawan Dukung Pembuatan Film Kekaisaran Ottoman dan Kerajaan Aceh

    Sejarawan Dukung Pembuatan Film Kekaisaran Ottoman dan Kerajaan Aceh

    Banda Aceh, Beritasatu.com – Sejarawan Aceh Adli Abdullah mendukung penuh rencana Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang akan memproduksi film bertema hubungan bersejarah antara Kekaisaran Ottoman (Turki Utsmani) dan Kerajaan Aceh.

    Menurut Adli, rencana ini bukan hanya langkah cerdas dalam mengenalkan sejarah, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan budaya antara Indonesia dan Turki.

    “Melalui media film ini, hubungan budaya Indonesia-Turki bisa semakin kokoh, dan menjadi pengingat sejarah panjang persahabatan kedua bangsa,” kata Adli di Banda Aceh, Sabtu (12/4/2025), dilansir Antara.

    Terkait rencana Fadli Zon membuat film Ottoman dan Aceh, Adli menuturkan hubungan Aceh dan Turki telah terjalin sejak era Samudra Pasai pada abad ke-13, kemudian berlanjut ke masa Kesultanan Aceh. Hubungan ini semakin erat pascaperistiwa pendudukan Portugis di Melaka pada 1511, yaitu Turki Utsmani membantu Aceh dalam melawan penjajahan Eropa.

    “Bentuk kerja sama Aceh dan Turki sangat beragam, mulai dari pengiriman pasukan, peralatan perang, hingga pelatihan pembuatan meriam untuk memperkuat pertahanan Aceh,” jelasnya.

    Tak hanya itu, bukti sejarah hubungan erat kedua kerajaan bisa ditemukan lewat surat-surat diplomatik yang tersimpan di Arsip Nasional Turki di Istanbul, hingga makam Teungku di Bitay yang menjadi jejak nyata pengaruh Turki di Aceh.

    Sebelumnya, Fadli Zon telah menyampaikan niatnya untuk memproduksi film ini dalam pertemuannya dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki Mehmet Nuri Ersoy. Film ini diharapkan menjadi jembatan budaya dan edukasi bagi generasi muda tentang persahabatan dua kekuatan besar dunia Islam di masa lalu.

    “Dengan film ini, sejarah Nusantara bisa lebih hidup dan dipahami banyak kalangan, sekaligus memperluas kerja sama budaya seperti riset, seni, dan digital kreatif,” ujar Adli terkait rencana Fadli Zon membuat film Ottoman dan Aceh.

  • Jalin Diplomasi Budaya dengan Turki, Menbud Fadli Zon Sumbang Buku tentang Keris, Wayang, Kujang di Perpustakaan Presiden Turki

    Jalin Diplomasi Budaya dengan Turki, Menbud Fadli Zon Sumbang Buku tentang Keris, Wayang, Kujang di Perpustakaan Presiden Turki

    JAKARTA – Sebagai salah satu tindak lanjut penandatanganan MoU di bidang kebudayaan antara Indonesia dan Turki yang telah dilaksanakan kemarin Kamis (11/04) di hadapan Presiden Prabowo dan Presiden Erdogan di Istana Presiden Turki, hari ini Jumat (12/04), Menteri Kebudayaan Fadli Zon berkunjung ke Perpustakaan Kepresidenan Republik Turki yang merupakan perpustakaan nasional, terletak di area Istana Negara Turki, untuk bertemu dengan Kepala Departemen Bidang Perpustakaan Ayhan Tuglu. 

    Perpustakaan ini sangat menarik karena waktu buka sepanjang hari selama 24 jam dalam sepekan. Pengunjung juga diberikan fasilitas berupa kudapan seperti sup dan kopi sehingga menarik banyak masyarakat dan khususnya anak-anak muda untuk berkunjung ke perpustakaan ini. 

    “Saya rasa ini terobosan yang sangat menarik untuk membuat generasi muda semakin banyak berkunjung ke perpustakaan. Literasi tentang sejarah, budaya, dan peradaban suatu bangsa sangat penting untuk memperkuat nasionalisme dan cinta kepada tanah air,” ujar Menbud Fadli Zon dalam keterangannya, Sabtu, 12 April.

    Dalam kesempatan ini, Menbud Fadli juga mendapat kehormatan untuk menyerahkan kurang lebih 50 buku-buku yang ditulis oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon tentang budaya Indonesia antara lain Kujang, Pesona Wayang Indonesia, Pesona Keris, Keris Lombok, serta beberapa buku lain seperti Ekonomi Politik Pembangunan dan Pangan dan Pertanian di Era Neoliberal. 

    “Melalui buku-buku ini, saya berharap semakin banyak masyarakat Turki yg mengenai budaya, sejarah, dan identitas bangsa Indonesia sehingga dapat mempererat hubungan kedua negara yg telah terjalin bahkan sejak era Kekaisaran Ottoman dengan Kesultanan Aceh,” tambah Fadli Zon. 

    Selanjutnya, Kementerian Kebudayaan akan melakukan tindak lanjut dari MoU di bidang kebudayaan dengan pihak Turki melalui upaya dokumentasi tradisi lisan sebagai upaya melestarikan identitas dan kearifan lokal dari kedua negara, kolaborasi di bidang sastra dan penerjemahan karya-karya, dan preservasi manuskrip salah satunya melalui digitalisasi. 

    “Melalui kerja sama di bidang kebudayaan, saya optimis hubungan Indonesia dan Turki akan semakin erat, membawa manfaat bagi kedua negara, serta mempererat hubungan antarbangsa di tengah dunia multipolar yang membutuhkan solidaritas dan kerja sama untuk memperkuat jalinan persahabatan,” pungkasnya.

  • Prabowo ingin RI ikut serta bangun jet tempur generasi 5.0 Turki

    Prabowo ingin RI ikut serta bangun jet tempur generasi 5.0 Turki

    Presiden Prabowo Subianto (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan) usai menyaksikan penandatanganan memorandum dan kerjasama di Istana Kepresidenan Turki, Ankara, Turki, Kamis (10/4/2025). Pemerintah RI dan Pemerintah Republik Turki menyepakati tiga poin kerja sama dengan penandatanganan dokumen kerja sama oleh masing-masing pejabat tinggi sebagai bukti kemitraan solid antara dua negara itu. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

    Prabowo ingin RI ikut serta bangun jet tempur generasi 5.0 Turki
    Dalam Negeri   
    Editor: Calista Aziza   
    Jumat, 11 April 2025 – 07:10 WIB

    Elshinta.com – Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan keinginannya kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk mengikutsertakan industri pertahanan Indonesia dalam proyek pengembangan jet tempur generasi 5.0 Turki, “Kaan” yang saat ini dibangun oleh Turkish Aerospace Industries (TAI).

    Keinginan joint-development Kaan itu disampaikan oleh Presiden Prabowo saat menyampaikan pernyataan bersama (joint statement) dengan Presiden Erdogan selepas keduanya bertemu empat mata dan memimpin pertemuan bilateral antara Pemerintah RI dan Pemerintah Turki.

    “Indonesia berkeinginan untuk ikut serta dalam kerja sama pengembangan jet tempur generasi ke-5 Kaan, dan juga pembangunan, pengembangan kapal selam bersama industri Turki,” kata Presiden Prabowo di saat menyampaikan pernyataan bersama di Istana Kepresidenan Turki, Ankara, Kamis (10/4) waktu setempat.

    Presiden Prabowo juga menyebut Indonesia dan Turki juga sepakat untuk membentuk perusahaan patungan (joint-venture) antara perusahaan pertahanan Indonesia dan Turki.

    Walaupun demikian, Presiden tidak menyebutkan lebih lanjut perusahaan pertahanan apa saja yang diproyeksikan untuk joint-venture. Presiden juga tidak menyebutkan proyek pengembangan kapal selam apa yang dibidik oleh Pemerintah RI.

    Sementara itu, Kaan merupakan jet tempur generasi ke-5 yang saat ini dikembangkan oleh Turkish Aerospace Industries sejak 2010. Prototipe pertama jet tempur buatan dalam negeri (indigenous) Turki itu sukses menjalani uji terbang pertama dan keduanya pada 2024. Gelombang pertama produksi jet tempur Kaan direncanakan rampung pada 2028–2029 untuk Angkatan Udara Turki.

    Presiden Prabowo, saat menyampaikan pernyataan bersama, menegaskan dirinya dan Presiden Erdogan sepakat untuk memperluas akses pasar, dan menghapus hambatan-hambatan dagang antara dua negara. Prabowo dan Erdogan juga langsung menginstruksikan menteri masing-masing agar segera merampungkan negosiasi preferential trade agreement (PTA), yang merupakan langkah awal menuju perjanjian ekonomi komprehensif (CEPA) Indonesia-Turki.

    Presiden Prabowo dan Presiden Erdogan bertemu empat mata (tête-à-tête), kemudian keduanya memimpin pertemuan bilateral antara delegasi Pemerintah RI dan Pemerintah Turki. Hasil pertemuan itu yang kemudian disampaikan ke hadapan wartawan Istana Kepresidenan Turki dan beberapa wartawan Istana Kepresidenan Indonesia di Istana Kepresidenan Turki, Ankara.

    Presiden Prabowo menyambangi Istana Kepresidenan Turki dalam rangka kunjungan kenegaraan balasan, setelah Presiden Erdogan berkunjung ke Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 12 Februari 2025.

    Dalam rangkaian pertemuan itu, delegasi Pemerintah RI yang mendampingi Presiden Prabowo, terdiri atas Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi, dan Duta Besar RI untuk Turki Achmad Rizal Purnama.

    Presiden Erdogan juga didampingi oleh menteri-menterinya, salah satunya Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.

    Sumber : Antara

  • RI, Turki teken 3 MoU bidang kedaruratan, kebudayaan, dan komunikasi

    RI, Turki teken 3 MoU bidang kedaruratan, kebudayaan, dan komunikasi

    Jakarta/Ankara (ANTARA) – Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Turki meneken tiga nota kesepahaman (MoU) kerja sama bidang penanggulangan bencana dan kedaruratan, kemudian media, hubungan masyarakat, dan komunikasi, serta kerja sama bidang kebudayaan.

    Prosesi penandatanganan tiga MoU itu berlangsung di Istana Kepresidenan Turki, Ankara, Kamis (10/4) malam waktu setempat, disaksikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

    Kerja sama pertama yang diumumkan ialah MoU antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI dan Badan Penanggulangan Bencana dan Kedaulatan Kementerian Dalam Negeri Turki di bidang penanggulangan bencana dan kedaruratan. Delegasi dari Indonesia diwakili oleh Kepala BNPB RI Letjen TNI Suharyanto.

    Kemudian, kerja sama kedua yang diteken di hadapan Presiden Prabowo dan Presiden Erdogan ialah MoU tentang kerja sama bidang media, hubungan masyarakat, dan komunikasi, antara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) RI dan Direktorat Komunikasi Presiden Turki. Dari delegasi Indonesia, MoU itu diteken oleh Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi.

    Terakhir, MoU ketiga terkait kerja sama di bidang kebudayaan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Turki. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mewakili Pemerintah RI meneken MoU tersebut.

    Kegiatan itu merupakan rangkaian dari kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo ke Istana Kepresidenan Turki yang berlangsung sejak Kamis sore sampai dengan malam hari.

    Dalam rangkaian kunjungan, Presiden Prabowo dan Presiden Erdogan bertemu empat mata, kemudian keduanya memimpin pertemuan bilateral antara delegasi Pemerintah RI dan Pemerintah Turki.

    Dua pemimpin itu kemudian menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama (MoU) antara Pemerintah RI dan Pemerintah Turki, dan menyampaikan pernyataan bersama.

    Delegasi Pemerintah RI yang mendampingi Presiden Prabowo di Ankara, terdiri atas Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi, dan Duta Besar RI untuk Turki Achmad Rizal Purnama.

    Presiden Erdogan juga didampingi oleh menteri-menterinya, salah satunya Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.

    Pewarta: Genta Tenri Mawangi/Galih Pradipta
    Editor: Agus Setiawan
    Copyright © ANTARA 2025

  • Prabowo tegaskan RI, Turki satu suara soal Palestina, Ukraina, Suriah

    Prabowo tegaskan RI, Turki satu suara soal Palestina, Ukraina, Suriah

    “Kita terus bersama-sama akan mendukung kemerdekaan Palestina. Kami juga mendukung stabilitas di Suriah, dan perdamaian di Ukraina. Kedua belah pihak sepakat untuk terus saling membantu dalam memperjuangkan hal-hal ini,”

    Jakarta/Ankara (ANTARA) – Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Turki satu suara terhadap isu-isu seperti kemerdekaan Palestina, stabilitas di Suriah, dan perdamaian di Ukraina.

    Presiden Prabowo, saat menyampaikan pernyataan bersama (joint statement) dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, menyebut dua negara juga sepakat untuk saling membantu memperjuangkan sikap-sikap dua negara terhadap situasi di Palestina, Suriah, dan Ukraina.

    “Kita terus bersama-sama akan mendukung kemerdekaan Palestina. Kami juga mendukung stabilitas di Suriah, dan perdamaian di Ukraina. Kedua belah pihak sepakat untuk terus saling membantu dalam memperjuangkan hal-hal ini,” kata Presiden Prabowo saat menyampaikan pernyataan bersama di Istana Kepresidenan Turki, Ankara, Kamis (10/4) waktu setempat.

    Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo juga mengungkapkan isi pertemuannya dengan Presiden Erdogan, terutama saat mereka bertemu empat mata (tête-à-tête) di Istana Kepresidenan Turki.

    “Saya dan Presiden Erdogan tukar pandangan tentang isu-isu geopolitik. Kami sepakat bahwa Indonesia dan Turki harus ikut menjaga stabilitas dan perdamaian dunia,” kata Presiden Prabowo.

    Presiden Prabowo melanjutkan dirinya dan Presiden Erdogan menyadari Indonesia dan Turki merupakan negara-negara yang memimpin Global South, sehingga keduanya perlu bekerja sama menciptakan dunia yang lebih adil.

    “Sebagai pemimpin Global South, Indonesia dan Turki juga akan terus bekerja sama mendorong tata kelola dunia yang lebih adil, dan berpihak kepada semua negara,” kata Presiden Prabowo.

    Presiden Prabowo menyambangi Istana Kepresidenan Turki dalam rangka kunjungan kenegaraan balasan, setelah Presiden Erdogan berkunjung ke Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, 12 Februari 2025.

    Dalam rangkaian kunjungan, Presiden Prabowo dan Presiden Erdogan bertemu empat mata, kemudian keduanya memimpin pertemuan bilateral antara delegasi Pemerintah RI dan Pemerintah Turki.

    Dua pemimpin itu kemudian menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama (MoU) antara Pemerintah RI dan Pemerintah Turki, dan menyampaikan pernyataan bersama.

    Delegasi Pemerintah RI yang mendampingi Presiden Prabowo di Ankara, terdiri atas Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi, dan Duta Besar RI untuk Turki Achmad Rizal Purnama.

    Presiden Erdogan juga didampingi oleh menteri-menterinya, salah satunya Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.

    Pewarta: Genta Tenri Mawangi/Galih Pradipta
    Editor: Agus Setiawan
    Copyright © ANTARA 2025