Tag: Elon Musk

  • Tantangan Tesla dalam Membidik Pasar Mobil Listrik India

    Tantangan Tesla dalam Membidik Pasar Mobil Listrik India

    Jakarta

    Produsen kendaraan listrik asal Amerika Serikat, Tesla, minggu lalu mulai melakukan perekrutan pekerjanya di India, setelah sebelumnya mengiklankan lowongan pekerjaan besar-besaran pada situs websitenya. Ini termasuk posisi manajer toko hingga teknisi servis di ibukota, New Delhi, dan kota pusat ekonomi India, Mumbai.

    Pengumuman perekrutan ini muncul setelah CEO-nya, Elon Musk, mengadakan pertemuan empat mata dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di Washington 13 Februari 2025.

    Selama beberapa tahun, Tesla mempertimbangkan untuk meluaskan bisnisnya di negara dengan populasi terpadat di dunia ini. Sebelumnya Tesla diberitakan banyak media sedang bergiat mencari lokasi pabrik dan ruang pamer baru.

    Pasar mobil listrik India masih tergolong kecil – kesempatan baik bagi Tesla untuk berkembang sembari bersaing dengan mobil listrik asal Cina dan juga menghadapi penurunan penjualan mobil listrik tahunan, untuk pertama kalinya.

    Pasar utama nan menjanjikan

    India memiliki pasar otomotif terbesar ketiga di dunia berdasarkan volume. Pemerintahan Modi memiliki rencana besar dimana mobil listrik dapat menyumbang hingga 30% penjualan mobil baru di negara ini di tahun 2030.

    India juga dapat berfungsi sebagai pusat ekspor mobil di kawasan.

    “Namun, tantangan yang signifikan masih ada,” kata Shubham Mishra, pendiri dan CEO Battery Ok Technologies, perusahaan dengan spesialisasi diagnostik lanjutan baterai mobil listrik.

    “Harga Tesla saat ini – mulai sekitar 40.000 Dollar AS ( 38.171 euro) untuk Model 3 – harga yang jauh melebihi ambang batas keterjangkauan harga beli mobil di India. 80% mobil yang dijual di India berharga di bawah 15.000 Dollar,” jelas Mishra kepada DW.

    “Mengembangkan model dengan biaya yang kompetitif, dengan harga jual di bawah $30.000, sangatlah penting, dengan tetap menjaga kualitas baterai yang dapat bertahan menghadapi iklim ekstrem India, termasuk suhu yang melebihi 40 derajat Celcius,” tambahnya.

    Mishra juga mengatakan, pesaing lokal yang telah mengakar seperti Tata Motors – menguasai 70% pasar mobil listrik di India – merupakan ancaman yang besar, sementara kondisi jalan yang menantang di negara ini menuntut peningkatan daya tahan kendaraan.

    Insentif dan tantangan bagi para pembuat kendaraan listrik

    India telah lama menerapkan pajak impor yang tinggi untuk kendaraan listrik, sehingga mencegah Tesla memasuki pasar India, tanpa adanya manufaktur lokal.

    Namun, tahun lalu, India meluncurkan sebuah program untuk mempromosikan pembuatan kendaraan listrik di negaranya. Kebijakan ini memangkas bea impor mobil listrik untuk produsen mobil global yang berkomitmen untuk menginvestasikan 500 juta dolar AS dan memulai produksi lokal dalam waktu tiga tahun.

    Langkah ini dipandang sebagai insentif bagi Tesla untuk mendirikan pabrik lokalnya di India.

    Namun, kebijakan ini berlaku untuk semua produsen mobil listrik. Produsen mobil Vietnam, VinFast, telah mengumumkan rencana tahun ini untuk mengalokasikan investasi hingga 2 miliar Dollar AS untuk membangun pabrik kendaraan listriknya di India.

    Dengan rencana ambisius ini, infrastruktur pengisian daya kendaraaan listrik di negara ini masih menjadi terkendala.

    Jaringan pengisian daya kendaraan listrik di India telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, meningkat dari 1.800 stasiun pengisian daya publik pada awal 2022 menjadi lebih dari 16.000 di pertengahan 2024.

    Namun peningkatan tersebut masih jauh dari mobilitas kendaraan listrik yang kian masif. Selain itu, instalasi pengisi daya serta peningkatan jaringannya masih tergolong mahal, sehingga sulit membuat perluasan jaringan pengisian.

    “Ini adalah masalah besar dan signifikan untuk segmen kendaraan listrik. Tesla telah mengidentifikasi masalah ini dan berharap dapat mengatasinya dengan membangun fondasi untuk jaringan pengisian daya super mereka,” kata Shrijay Sheth, pendiri Legalwiz.in, startup teknologi hukum terkemuka kepada DW.

    “Diharapkan masuknya Tesla ke India dapat menjadi katalisator yang memberi energi dan dorongan yang dibutuhkan pada sektor ini,” tambahnya.

    Situasi yang saling menguntungkan?

    Dilip Chenoy, mantan direktur jenderal Society of Indian Automobile Manufacturers, memiliki pandangan yang sama, dengan mengatakan bahwa masuknya Tesla dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di India dengan teknologi mutakhir, meningkatkan pilihan bagi konsumen dan juga mendorong persaingan.

    “Meskipun masih ada tantangan dalam menentukan harga kendaraan yang kompetitif untuk konsumen India, hal positif lainnya adalah Tesla memenuhi persyaratan lokalisasi, dan akan merilis infrastruktur pengisian daya,” kata Chenoy kepada DW.

    “Ini adalah win-win solution bagi Tesla dan India. Bagi Tesla, ini menyediakan pasar yang berkembang dan lokasi produksi baru yang tidak terlalu dibatasi oleh tarif. Bagi India, hal ini membawa Foreign Direct Investment (Investasi asing langsung – FDI), akses teknologi, dan ekosistem kendaraan listrik yang lebih kuat, yang juga menawarkan lebih banyak pilihan kepada konsumen,” tegasnya.

    Artikel diadaptasi dari DW Bahasa Inggris

    Lihat juga Video: Tesla Hadirkan Robotaxi Cybercab, Pengguna Bisa Tidur dan Sampai Tujuan

    (ita/ita)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Starlink Mesin Cuan RT/RW Net Ilegal, Siapa Bertanggung Jawab?

    Starlink Mesin Cuan RT/RW Net Ilegal, Siapa Bertanggung Jawab?

    Bisnis.com, JAKARTA — Penyimpangan penggunaan layanan internet satelit orbit rendah Starlink oleh RT/RW Net ilegal dinilai perlu ditertibkan guna menjaga ekosistem telekomunikasi Indonesia. Keterlibatan sejumlah pihak dibutuhkan. 

    Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan langkah pertama yang perlu diambil dalam penertiban tersebut adalah mendorong reseler internet di lingkungan RT/RW yang tak berizin itu, untuk mendaftar dan mengurus izin di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sehingga mereka dapat menjual kembali layanan internet secara ilegal. 

    Langkah selanjutnya, reseler RT/RW Net perlu mengantongi izin dari Starlink atau dari ISP untuk menjual kembali layanan Starlink kepada masyarakat. Tanpa izin, maka praktik jual kembali layanan Starlink adalah ilegal.

    “Kalau misalnya, siapapun, termasuk ISP atau RT RW NET, kalau misalnya dia tidak berizin ini ada ketentuan pidana,” kata Heru kepada Bisnis, Rabu (26/2/2025). 

    Dia menambahkan bahwa penertiban RT/RW net ilegal menjadi tugas bersama, mulai dari penyedia jasa internet, hingga pemerintah untuk mendorong mereka agar mereka semua berizin. 

    Sementara itu mengenai penerapan sistem pemakaian batas wajar atau fair usage policy (FUP) untuk menekan pengguna internet ilegal di Starlink, menurut Heru tidak terlalu dibutuhkan. Pasalnya, Starlink merupakan layanan internet berbasis satelit yang memiliki kapasitas terbatas. 

    Jika teknologi tersebut digunakan oleh banyak orang secara bersamaan dalam, maka dengan sendirinya kualitas yang diberikan akan berkurang. 

    “Katakanlah dia berlangganan 100 Mbps, tetapi kemudian digunakan oleh banyak pengguna, 10 pengguna, ternyata cuma 10 Mbps. Jadi bisa dikatakan tidak ada hubungannya juga antara Fair Usage Policy dengan tumbuh suburnya RT/RW Net.

    Starlink Perbesar

    Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Yosef M. Edward mengatakan seharusnya Starlink memiliki perangkat untuk membaca trafik yang mencurigakan dan mengambil tindakan atas anomali trafik  tersebut.

    Starlink dapat, kata Ian, juga dapat menerapkan FUP. Namun cara itu akan membuat Starlink kalah dengan ISP lain, yang menawarkan paket unlimited. 

    “Memang harus dilihat apakah terjadi pembiaran karena trafik masih rendah ataupun khawatir pengguna berpindah ke ISP lain. Kalau terjadi pembiaran, tentu dalam hal ini ISP ikut serta bersalah. Maka itu bagian pengendalian harus secara aktif diberikan laporan ataupun berapa laporan tersebut yang ditindaklanjuti,” kata Ian. 

    Sebelumnya, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyesali ketidakmampuan layanan satelit orbit rendah milik Elon Musk, Starlink, yang tidak mampu mengontrol penggunaan secara bersamaan di masyarakat Indonesia berdampak pada lahirnya praktik jual kembali jasa internet secara ilegal atau RT/RW Net Ilegal. 

    Satelit khusus internet milik Elon Musk tersebut lalai dalam mengontrol penggunaan bersama. Di sisi lain, mereka juga tidak menerapkan batas pemakaian wajar (fair usage policy/FUP). 

    Diketahui FUP merupakan sistem yang mengatur penggunaan internet di pelanggan. Artinya, jika operator menerapkan FUP katakanlah 2.000 GB, setelah pemakaian di atas 2.000 GB maka kecepatan internet yang dirasakan pengguna berkurang. 

    Sekjen Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Zulfadly Syam mengatakan Starlink turut mendorong penetrasi internet di Indonesia. Sayangnya, Starlink belum berhasil dalam mengontrol penggunaan secara berbagi atau sharing, yang kemudian dikomersialisasi oleh penyelenggara internet ilegal (RT/RW net ilegal).  

    “Jadi mereka masih melakukan sharing terhadap satu koneksinya, satu equipment kemudian dibagi dengan beberapa, tetapi dikomersialisasikan. Kalau tidak dikomersialisasikan sebenarnya tidak menjadi satu hal yang masalah, bahkan itu membantu benar-benar membuka mata masyarakat-masyarakat di daerah-daerah tertinggal,” kata Zulfadly  

  • Elon Musk Ajak Ribut Astronaut, Keluar Kata Idiot dan Terbelakang

    Elon Musk Ajak Ribut Astronaut, Keluar Kata Idiot dan Terbelakang

    Jakarta, CNBC Indonesia – Elon Musk perang kata-kata di media sosial melawan sejumlah astronaut. Seorang astronaut sampai disebut “terbelakang” oleh pendiri dan CEO badan luar angkasa SpaceX tersebut.

    Adu mulut di media sosial milik Musk, X, berawal dari wawancara yang diberikan Musk soal dua astronaut yang “terdampar” di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), yaitu Sunita “Suni” Williams and Barry “Butch” Wilmore. Suni dan Butch sudah berada di ISS sejak 5 Juni 2024 padahal mereka dijadwalkan hanya 2 pekan di orbit.

    Musk dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kedua astronaut tersebut ditinggalkan di luar angkasa oleh pemerintahan Joe Biden.

    “Kami mempercepat kembalinya mereka, yang tertunda terlalu lama. Mereka ditinggalkan di atas sana untuk alasan politik, ini tidak baik,” kata Musk di Fox News.

    Andreas Mogensen, astronaut badan antariksa Eropa dan mantan komandan di ISS, menanggapi komentar Musk dengan ketus di media sosial X.

    “Bohong, dari orang yang selalu rewel mengeluh soal kejujuran media,” tulis Mongensen di media sosial X.

    Musk kemudian menganggapi balasan Mogensen dengan bahasa yang kasar.

    “Anda orang terbelakang. SpaceX seharusnya sudah membawa mereka pulang berbulan-bulan lalu. Saya menawarkannya langsung ke pemerintah Biden dan mereka menolak. Ditunda untuk alasan politik. Idiot,” kata Musk lewat akun X miliknya.

    Penundaan kepulangan astronaut sudah sering terjadi. NASA menghentikan misi penerbangan antariksa selama 2 tahun setelah pesawat ulang alik Columbia meledak pada 2003. Astronaut di ISS kemudian harus mengandalkan pesawat milik Rusia, Soyuz, dan harus tinggal di ISS selama beberapa bulan.

    Pada September 2023, astronaut Frank Rubio menjadi astronaut NASA pertama yang harus tinggal selama 1 tahun di orbit. Ia bersama kosmonaut Sergey Prokopyev dan Dmitry Patelin terjebak di ISS karena pesawat mereka rusak terkena meteor.

    IFS Science menyatakan penundaan kepulangan astronaut kerap terjadi. Alasannya, stasiun luar angkasa harus memiliki penghuni dalam jumlah tertentu. Suni dan Butch juga telah menyatakan bahwa mereka setuju untuk tinggal lebih lama di ISS.

    “Kondisi kami sangat baik. Kami punya makanan, pakaian. Kami punya tim yang luar biasa di sini,” kata Suni dalam wawancara dengan CNN pada Jumat, 13 Februari 2025.

    [Gambas:Twitter]

    (dem/dem)

  • Ukraina Siaga Jika Internet Starlink Dimatikan AS

    Ukraina Siaga Jika Internet Starlink Dimatikan AS

    Kyiv

    Di saat layanan telekomunikasi banyak yang hancur, internet Starlink dari SpaceX bisa dikatakan sebagai juru selamat bagi Ukraina dalam perangnya melawan Rusia. Seiring kabar berhembus bahwa Amerika Serikat mengancam akan memutus Starlink, Ukraina pun siaga.

    Seperti diberitakan, menurut sumber Reuters, Keith Kellog selaku utusan khusus AS untuk Ukraina, mengemukakan potensi mematikan Starlink jika kedua negara tidak mencapai kesepakatan atas mineral penting.

    Meski sudah dibantah oleh Elon Musk, Ukraina tampaknya tidak mau terlena. Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov, membenarkan bahwa pihaknya secara aktif mencari alternatif satelit telekomunikasi yang lain untuk antisipasi Starlink diputus.

    “Kami sudah bekerja dalam hal ini. Ada alternatif (Starlink). Ada solusi,” katanya tanpa menjelaskan lebih lanjut, seperti dikutip detikINET dari News Central seperti dilansir Selasa (25/2/2025).

    Adapun Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan AS belum memberi indikasi tentang kemungkinan penutupan terminal Starlink di Ukraina. Namun, ia mengakui Ukraina harus siap menghadapi kemungkinan seperti itu.

    “Tidak ada tanda-tanda (tentang pemutusan Starlink). Kami telah melihatnya di media. Kami memang perlu bersiap, ya. Lembaga terkait sedang menangani ini,” ujarnya. Dia menekankan pemutusan sambungan Starlink di Ukraina adalah salah, karena pembayaran untuk layanan dilakukan tiap bulan.

    “Kami membayarnya, ini bukan bantuan gratis. Kami bersyukur atas teknologi ini, tapi kami membayarnya. Jadi kami akan berasumsi tak ada risiko seperti itu untuk saat ini, dan ini benar-benar hanya isu di media,” jelasnya.

    Sumber Reuters mengatakan bahwa kehilangan Starlink, yang memastikan ada konektivitas untuk garis depan dan infrastruktur penting, akan menjadi pukulan telak bagi tentara Ukraina.

    Starlink memungkinkan komunikasi lancar antara komandan dan pasukan di lapangan. Militer Kyiv memakai internet Starlink secara kreatif di medan perang, seperti menggunakannya untuk mengendalikan perangkat pengintaian udara dan untuk mengerahkan drone serang.

    (fyk/fay)

  • Pengganti Starlink Buatan China Makin Ramai, Elon Musk Bye!

    Pengganti Starlink Buatan China Makin Ramai, Elon Musk Bye!

    Jakarta, CNBC Indonesia – Ruang angkasa yang selama ini dikuasai Starlink milik Elon Musk akan makin ramai. Starlink kedatangan penantang baru yang siap bersaing untuk mendominasi internet satelit berkecepatan tinggi.

    Saingan tersebut tak lain adalah SpaceSail yang didukung pemerintah China. Pada November lalu, SpaceSail yang berbasis di Shanghai telah menandatangani perjanjian untuk masuk ke Brasil.

    SpaceSail juga mengumumkan sedang dalam pembicaraan dengan lebih dari 30 negara. Saat ini, perusahaan sudah mulai beroperasi di Kazakhstan, menurut keterangan kedutaan besar Kazakhstan di Beijing, demikian dikutip dari laporan Reuters, Selasa (25/2/2025).

    Sejak 2020, Starlink telah meluncurkan banyak satelit ke orbit rendah Bumi (LEO) dengan ketinggian kurang dari 2.000 km. Jumlahnya lebih banyak daripada gabungan semua pesaingnya.

    Satelit yang beroperasi di ketinggian rendah ini mentransmisikan data dengan sangat efisien, menyediakan internet berkecepatan tinggi untuk masyarakat terpencil, kapal pelaut, dan militer yang sedang berperang.

    Keunggulan Musk di ruang angkasa dipandang sebagai ancaman oleh Beijing, yang berinvestasi besar-besaran pada para pesaingnya dan mendanai penelitian militer untuk membuat alat yang dapat melacak konstelasi satelit.

    SpaceSail menolak berkomentar ketika ditanya mengenai rencana ekspansinya.

    Sebuah surat kabar yang dikendalikan oleh regulator telekomunikasi China, memuji SpaceSail sebagai perusahaan yang mampu melampaui batas-batas negara, menembus kedaulatan dan tanpa syarat mencakup seluruh dunia, dengan kemampuan strategis yang harus dikuasai negaranya.

    Kuiper, Telesat, Starlink, dan kementerian komunikasi Brasil tidak menanggapi permintaan komentar.

    Secara internasional, hanya sedikit saingan Musk yang memiliki ambisi yang sama dengan SpaceSail.

    SpaceSail telah mengumumkan rencana untuk mengerahkan 648 satelit LEO tahun ini dan sebanyak 15.000 2030 mendatang.

    Sementara, Starlink saat ini memiliki sekitar 7.000 satelit, dan telah menetapkan target untuk mengoperasikan 42.000 satelit pada akhir dekade ini.

    (fab/fab)

  • Starlink Dicabut, Negara Ini Bisa Tamat

    Starlink Dicabut, Negara Ini Bisa Tamat

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengancam akan mencabut akses internet Starlink di Ukraina. Hal ini menyusul penolakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy atas proposal awal Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang meminta akses mineral penting negara tersebut.

    Hal ini menambah ketegangan antara AS di bawah kepemimpinan Donald Trump dengan Ukraina yang selama ini ‘dibantu’ dalam perang melawan Rusia.

    Menurut sumber dalam yang dilaporkan Reuters, akses Ukraina ke Starlink milik SpaceX diangkad dalam diskusi antara pejabat AS dan Ukraina.

    Sebagai informasi, Starlink selama ini menyediakan konektivitas internet penting bagi Ukraina dan militernya dalam masa perang.

    Salah satu sumber menyebut isu soal potensi pencabutan Starlink di Ukraina diangkat kembali pada Kamis (19/2) waktu setempat, dalam pertemuan antara utusan khusus AS untuk Ukraina Keith Kellogg dengan Zelenskiy.

    Selama pertemuan tersebut, Ukraina diberitahu bahwa layanan Starlink akan segera ditutup jika tidak mencapai kesepakatan terkait mineral penting. Hal itu diungkapkan oleh sumber tersebut, yang meminta anonimitas untuk membahas negosiasi tertutup.

    “Ukraina berjalan dengan Starlink. Mereka menganggapnya sebagai Bintang Utara mereka,” kata sumber tersebut, dikutip dari CNBC International, Selasa (25/2/2025).

    “Kehilangan Starlink akan menjadi pukulan telak [untuk Ukraina],” ia menambahkan.

    Akar Ketegangan AS dan Ukraina

    Zelenskiy telah menolak tuntutan dari pemerintahan Presiden Donald Trump sebesar US$500 miliar dalam bentuk kekayaan mineral dari Ukraina untuk membayar kembali Washington atas bantuan masa perang, dengan mengatakan AS tidak menawarkan jaminan keamanan khusus.

    Pada pekan lalu, Zelenskiy mengatakan tim AS dan Ukraina sedang mengerjakan sebuah kesepakatan dan Trump mengatakan ia berharap kesepakatan akan segera ditandatangani.

    Sejak Februari 2022 lalu, Starlink menjadi elemen vital yang menopang telekomunikasi di Ukraina setelah dihancurkan Rusia. Elon Musk dipuji sebagai pahlawan Ukraina karena mau menyediakan Starlink di negara konflik tersebut.

    Meski demikian, Musk pernah membatasi akses Starlink di Ukraina setelah mengkritisi penanganan perang Kyiv.

    Melinda Haring, seorang peneliti senior di Atlantic Council, mengatakan Starlink sangat penting bagi pengoperasian pesawat nirawak Ukraina, pilar utama strategi militernya.

    “Kehilangan Starlink akan mengubah permainan,” kata Haring, seraya mencatat bahwa Ukraina kini memiliki paritas 1:1 dengan Rusia dalam hal penggunaan pesawat nirawak dan peluru artileri.

    Ukraina memiliki berbagai macam kemampuan pesawat nirawak, mulai dari pesawat nirawak laut dan pesawat nirawak pengintai hingga kendaraan udara tak berawak jarak jauh.

    Kedutaan Besar Ukraina di Washington, Gedung Putih, dan Departemen Pertahanan AS tidak segera menanggapi permintaan komentar.

    SpaceX, yang mengoperasikan Starlink, juga tidak segera menanggapi permintaan komentar.

    Musim gugur lalu, Ukraina melontarkan gagasan untuk membuka mineral pentingnya untuk investasi oleh sekutu. Gagasa itu adalah bagian dari “rencana kemenangan” Ukraina untuk memaksa Moskow berunding.

    Trump telah menerima gagasan tersebut, dengan mengatakan bahwa ia ingin Ukraina memasok tanah jarang dan mineral lain kepada AS sebagai imbalan atas dukungan finansial negara Paman Sam terhadap upaya perang Kyiv.

    Zelenskiy menolak proposal terperinci AS minggu lalu yang akan membuat Washington dan perusahaan-perusahaan AS menerima 50% dari mineral penting Ukraina, yang meliputi grafit, uranium, titanium, dan litium, komponen utama dalam baterai mobil listrik.

    Sejak saat itu, keretakan muncul antara AS dan Ukraina. Trump mengecam Zelenskiy sebagai “seorang diktator” setelah Zelenskiy mengatakan Trump terjebak dalam gelembung disinformasi Rusia.

    (fab/fab)

  • Kirim Email Ancaman ke Jutaan PNS Amerika, Elon Musk Dikecam

    Kirim Email Ancaman ke Jutaan PNS Amerika, Elon Musk Dikecam

    Washington

    Para PNS di Amerika Serikat sedang heboh gara-gara ultimatum Elon Musk. Orang terkaya dunia yang sekarang memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah itu meminta para PNS membalas email dengan menyebutkan prestasi mereka atau kalau tidak, mereka akan dipecat.

    Akan tetapi office of personnel management (OPM) yang mengurus SDM pegawai pemerintah tampaknya memberontak. Mereka mengumumkan email itu tidak wajib dibalas dan tidak akan ada pemecatan.

    Email itu dikirim pada jutaan PNS di Amerika Serikat. Oleh Elon Musk, mereka diminta menulis daftar prestasi mereka. Presiden Donald Trump sendiri mendukung tindakan itu.

    “Dengan pertanyaan beritahu kami apa yang kalian lakukan minggu ini, yang dia lakukan adalah bertanya apa mereka benar-benar bekerja? Mereka (DOGE) coba mencari tahu siapa yang bekerja untuk pemerintah, apakah kita membayar orang yang tidak bekerja, dan ke mana uang itu pergi,” kata Trump.

    Musk mengirim email ke lebih dari 2 juta PNS AS dengan deadline hanya 48 jam untuk merinci pencapaian mereka dalam seminggu terakhir dalam lima poin penting. Dalam sebuah posting di X, Musk mengindikasikan bahwa “kegagalan untuk menanggapi akan dianggap sebagai pengunduran diri”.

    Ultimatum itu dengan cepat menuai perlawanan, khususnya di kantor-kantor pemerintah yang menangani penegakan hukum dan keamanan. Direktur baru FBI Kash Patel, meminta agen menunda balasan, sementara di Departemen Keamanan Dalam Negeri, karyawan diberitahu untuk saat ini belum perlu membalas email itu.

    Semua karyawan di Departemen Pertahanan juga diperintahkan untuk tidak menanggapi. Sedangkan karyawan di departemen federal lainnya diminta untuk menunggu perintah lebih lanjut atau mengabaikan perintah Musk.

    Namun ada juga yang mematuhinya. PNS di Departemen Kesehatan diminta untuk mematuhi email tersebut. Demikian pula pimpinan Departemen Transportasi memerintahkan semua karyawannya untuk menanggapi email Musk sesuai tenggat waktu.

    Aksi Elon Musk itu dinilai mengganggu dan memicu ketegangan yang tidak perlu. “Permintaan ini dan kebingungan yang ditimbulkannya, tidak pantas dan mengganggu fungsi dasar pemerintah,” cetus Everett Kelley, presiden American Federation of Government Employees (AFGE).

    (fyk/fyk)

  • SpaceSail China Ganggu Dominasi Starlink, Musk Dapat Lawan

    SpaceSail China Ganggu Dominasi Starlink, Musk Dapat Lawan

    Bisnis.com, JAKARTA — Jaringan komunikasi satelit milik Elon Musk, Starlink menghadapi tantangan baru untuk mendominasi internet satelit berkecepatan tinggi. 

    Saingan tersebut datang dari negeri China yaitu SpaceSail yang didukung oleh pemerintah China, serta Amazon.com yang dipimpin Jeff Bezos dengan layanan Project Kuiper-nya.

    Melansir dari Reuters, Selasa (25/2/2025) SpaceSail, sebuah perusahaan asal Shanghai, pada bulan November menandatangani perjanjian untuk memasuki pasar Brasil dan kini sedang dalam pembicaraan dengan lebih dari 30 negara. 

    Dua bulan setelah itu, perusahaan ini mulai beroperasi di Kazakhstan, sebagaimana dilaporkan oleh kedutaan Kazakhstan di Beijing.

    Sementara itu, Brasil juga sedang menjajaki kerjasama dengan Project Kuiper dan Telesat dari Kanada, menurut seorang pejabat Brasil yang terlibat dalam negosiasi tersebut. Pembicaraan ini pertama kali dilaporkan oleh media, menandakan semakin ketatnya persaingan di sektor internet satelit.

    Starlink, yang telah meluncurkan lebih banyak satelit ke orbit Bumi rendah (LEO) sejak 2020 dibandingkan seluruh pesaingnya, terus menjadi pemimpin dalam menyediakan internet berkecepatan tinggi untuk wilayah terpencil, kapal laut, dan militer. 

    Satelit yang berada di ketinggian rendah ini memungkinkan pengiriman data yang efisien, menjadikannya solusi penting bagi banyak sektor.

    Namun, keunggulan Musk di luar angkasa mulai dipandang sebagai ancaman oleh pemerintah China, yang telah meningkatkan investasi dalam proyek-proyek satelit dan melakukan penelitian militer untuk melacak konstelasi satelit di orbit rendah. 

    SpaceSail, yang dikendalikan oleh pemerintah kota Shanghai, berencana untuk meluncurkan 648 satelit LEO pada tahun ini, dengan target mencapai 15.000 satelit pada 2030. Saat ini, Starlink memiliki sekitar 7.000 satelit dan berencana menambah jumlahnya hingga 42.000 satelit pada akhir dekade ini.

    Peluncuran SpaceSail akan mencakup konstelasi satelit Qianfan, yang menjadi langkah pertama China memasuki pasar internet satelit global. Selain itu, tiga konstelasi satelit lainnya sedang dalam tahap pengembangan dengan rencana untuk meluncurkan hingga 43.000 satelit dalam beberapa dekade mendatang.

    Ilustrasi peluncuran satelitPerbesar

    “Tujuan akhir adalah menempati sebanyak mungkin slot orbit,” kata Chaitanya Giri, pakar teknologi antariksa di Observer Research Foundation India.

    Namun, kebijakan ini memicu kekhawatiran di Barat. Mereka khawatir, China bisa memperluas jangkauan kontrolnya atas internet global, serta memanfaatkan teknologi satelit untuk tujuan pengawasan dan pengendalian informasi.

    Badan penelitian Amerika Serikat menyarankan Washington untuk memperkuat kerjasama dengan negara-negara Global Selatan guna mengimbangi ambisi Tiongkok dalam dunia digital. Rencana China ini dianggap sebagai bagian dari inisiatif yang bertujuan memperluas pengaruh geopolitik Beijing.

    Di sisi lain, Kementerian perdagangan dan regulator telekomunikasi Tiongkok tidak menanggapi permintaan komentar. 

    Kementerian luar negeri Tiongkok mengatakan dalam menanggapi pertanyaan Reuters bahwa meskipun tidak mengetahui secara spesifik seputar SpaceSail dan satelit LEO China yang berekspansi ke luar negeri, Beijing mengupayakan kerja sama luar angkasa dengan negara lain demi kepentingan rakyat mereka.

    SpaceSail mengatakan pihaknya bertujuan untuk menyediakan internet yang andal bagi lebih banyak pengguna, khususnya mereka yang berada di daerah terpencil dan selama pemulihan dari keadaan darurat dan bencana alam

  • Starlink Tanpa Pemakaian Batas Wajar (FUP), RT/RW Net Ilegal Semringah

    Starlink Tanpa Pemakaian Batas Wajar (FUP), RT/RW Net Ilegal Semringah

    Bisnis.com, JAKARTA — Praktik jual kembali layanan internet secara ilegal atau biasa disebut RT/RW Net ilegal disebut makin marak terjadi imbas kehadiran layanan satelit orbit rendah (LEO) Starlink.

    Satelit khusus internet milik Elon Musk tersebut lalai dalam mengontrol penggunaan bersama. Di sisi lain, mereka juga tidak menerapkan batas pemakaian wajar (fair usage policy/FUP). 

    Diketahui FUP merupakan sistem yang mengatur penggunaan internet di pelanggan. Artinya, jika operator menerapkan FUP katakanlah 2.000 GB, setelah pemakaian di atas 2.000 GB maka kecepatan internet yang dirasakan pengguna berkurang. 

    Praktik FUP ini diterapkan oleh perusahaan telekomunikasi internet rumah seperti IndiHome (Telkom) dan Biznet. Langkah tersebut diklaim ampuh dalam menekan angka RT/RW Net ilegal karena mereka kesulitan saat akan menjual kembali layanan internet tersebut. 

    “Untuk yang RT/RW net sendiri setelah dilakukannya FUP itu cukup signifikan sekali berkurang, jadi memang penggunaannya itu sudah tidak ada lagi, boleh dibilang sudah cukup terbatas dengan adanya FUP ini,” kata Senior Manager Marketing Biznet Adrianto Sulistyo, dikutip Selasa (25/2/2025)

    Adapun Starlink, yang saat ini memasarkan internet seharga Rp750.000 dengan kecepatan diklaim di atas 100 Mbps, hingga saat ini masih menerapkan sistem pemakaian unlimited, yang berarti pengguna akan merasakan kecepatan internet yang sama tanpa batas kuota.

    RT/RW Net ilegal marak menggunakan layanan Starlink terlebih dengan kelonggaran pengawasan yang diterapkan Starlink dan tanpa FUP.

    Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyesali ketidakmampuan layanan satelit orbit rendah milik Elon Musk, Starlink, yang tidak mampu mengontrol penggunaan secara bersamaan di masyarakat Indonesia, yang kemudian berdampak pada lahirnya praktik jual kembali jasa internet secara ilegal atau RT/RW Net Ilegal. 

    Sekjen Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) Zulfadly Syam mengatakan Starlink turut mendorong penetrasi internet di Indonesia. Sayangnya, Starlink belum berhasil dalam mengontrol penggunaan secara berbagi atau sharing, yang kemudian dikomersialisasi oleh penyelenggara internet ilegal (RT/RW net ilegal).  

    “Jadi mereka masih melakukan sharing terhadap satu koneksinya, satu equipment kemudian dibagi dengan beberapa, tetapi dikomersialisasikan. Kalau tidak dikomersialisasikan sebenarnya tidak menjadi satu hal yang masalah, bahkan itu membantu benar-benar membuka mata masyarakat-masyarakat di daerah-daerah tertinggal,” kata Zulfadly kepada Bisnis, dikutip Senin (24/2/2025). 

    APJII mengaku hingga saat ini belum pernah diperlihatkan bagaimana cara Elon Musk mengatur layanan internetnya agar tidak disharing. Pun dengan cara Starlink memblokir penyalahgunaan jual kembali internet Starlink tanpa izin. APJII juga mengkhawatirkan mengenai model terbaru Starlink, yang ke depan memungkinkan internet langsung disuntikan dari satelit ke smartphone tanpa perantara. Terobosan tersebut menurutnya akan berdampak pada keberlanjutan  ekosistem internet Indonesia.  

    “Ini menurut kami akan merusak seluruh ekosistem yang ada, seluruh ekosistem internet yang ada gitu,” kata Zulfadly. 

  • Roket Picu Kebakaran, Kesalahan 2024 Terulang

    Roket Picu Kebakaran, Kesalahan 2024 Terulang

    Bisnis.com, JAKARTA — Roket Starship milik SpaceX mengalami penghancuran diri (self-destruct) selama uji terbang ketiganya pada Senin (24/2), setelah kebocoran propelan (roket pendorong) memicu kebakaran internal dan kegagalan sistem komunikasi.

    Insiden ini terjadi 12 menit setelah peluncuran dari Boca Chica, Texas, saat roket mencapai ketinggian 130 km.  

    Techcrunch melaporkan, Selasa (25/2/2025), peluncuran awalnya berjalan normal dengan mesin Raptor beroperasi penuh. Namun beberapa saat kemudian, sensor mendeteksi kebocoran metana cair di bagian tangki propelan tahap atas (Super Heavy). Kebocoran tersebut terus membesar dan tak terkendali.   

    Kebocoran memicu kebakaran yang merusak kabel komunikasi, mengakibatkan blackout data telemetri. Tidak lama berselang, sistem keamanan otomatis mengaktifkan mekanisme penghancuran diri untuk mencegah risiko jatuh di wilayah berpenduduk.  

    CEO Elon Musk mengatakan akan menyelidiki penyebab kebakaran tersebut lebih detail. Elon segera meluncurkan tim ke lapangan. 

    “Tim sedang menyelidiki akar masalah. Kebocoran mungkin terkait vibrasi berlebihan selama fase pemisahan tahap. Kami akan memperbaiki desain sebelum uji keempat,” kata Elon Musk. 

    Masalah tangki bocor adalah masalah klasik yang belum terselesaikan oleh Elon Musk. Pada 2024, Starship gagal meluncur karena masalah yang sama. 

    Starship juga belum memiliki sistem pemadam kebakaran yang mumpuni, yang membuat api menyebar cepat karena kurangnya sistem pendingin darurat di kompartemen mesin.  

    Adapun dampak dari peristiwa ini adalah potensi mundurnya jadwal misi berawak NASA Artemis IV  yang awalnya ditargetkan pada 2026. 

    Selain itu, SpaceX juga berpeluang menunda uji pendaratan di Bulan (Moon Landing Demo) hingga kuartal III/2025. Saham SpaceX turun 4,2% dalam perdagangan pasca-pengumuman.  

    Sementara itu regulator (FAA) membuka penyelidikan menyeluruh dan akan menunda izin peluncuran berikutnya hingga SpaceX membuktikan perbaikan  

    “Kami prioritaskan keselamatan publik. Setiap perubahan desain wajib melalui sertifikasi ulang,” tegas juru bicara FAA.  

    Insiden 2024

    Diketahui, pada Maret 2024 Starship gagal saat memasuki kembali atmosfer Bumi di atas Samudra Hindia. Starlink meledak akibat material heat shield di bagian bawah Starship tidak mampu menahan suhu >1.400°C selama re-entry.

    Selain itu, kebocoran pendingin di sirip kontrol (flaps) juga menyebabkan kehilangan kendali aerodinamis yang membuat Starship tak terkendali. 

    Kemudian pada Januari 2025,  Starship meledak 8,5 menit setelah peluncuran dari Texas. Puing jatuh di Kepulauan Turks dan Caicos, memaksa FAA mengalihkan rute penerbangan sipil.

    Penyebab kebakaran adalah kebocoran propelan dan metana di area attic (ruang antara tangki bahan bakar dan heat shield) memicu kebakaran.
    Setelah itu api merusak kabel fiber optik, menyebabkan kehilangan kontak dengan stasiun darat.