Tag: Elon Musk

  • Elon Musk Buka-bukaan Kritik Trump, Begini Pengakuan Lengkapnya

    Elon Musk Buka-bukaan Kritik Trump, Begini Pengakuan Lengkapnya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Elon Musk resmi mundur dari pemerintahan Trump untuk fokus kembali ke perusahaan-perusahaannya (Tesla, SpaceX, X, dkk) yang terguncang karena ‘ditelantarkan’ sang miliarder selama beberapa bulan.

    Beberapa saat setelah mundur, Musk menggelar wawancara khusus dengan CBS Sunday Morning. Dalam kesempatan itu, Musk sempat ditanya soal keputusan pemerintahan Trump untuk melarang mahasiswa asing kuliah di Universitas Harvard.

    Musk tampak enggan membahas soal pemerintahan Trump. Spesifik untuk pertanyaan tersebut, Musk sejatinya memiliki kedekatan emosional. Pasalnya, ia dulu kuliah di universitas di AS sebagai mahasiswa asing, sebelum menanjak menjadi orang terkaya di dunia.

    “Saya rasa kita sebaiknya fokus ke subjek seperti pesawat luar angkasa, ketimbang membahas kebijakan presiden,” kata Musk saat ditanya pendapat terkait kebijakan pelarangan mahasiswa asing.

    Selanjutnya, Musk lumayan terbuka membahas soal reputasinya yang hancur lebur saat mengepalai Lembaga Efisiensi Pemerintah AS (DOGE) di bawah kepemimpinan Trump. Ia mengakui bisnisnya mengalami guncangan, terutama di sektor mobil listrik (Tesla).

    “Ini sedikit tidak adil. DOGE disalahkan untuk semua hal. Jika ada pemangkasan, semuanya menyalahkan DOGE,” kata Musk.

    Selanjutnya, Musk tampak lebih buka-bukaan mengungkapkan kritiknya terhadap pemerintahan Trump. Ia mengakui ada beberapa kebijakan pemerintah yang tak sesuai dengan nilai-nilai yang ia pegang.

    “Ada beberapa hal yang saya tidak setujui. Namun, sulit untuk saya membahasnya saat wawancara, karena ini akan memicu perselisihan,” kata Musk, dikutip dari Futurism, Selasa (3/6/2025).

    “Saya terjebak dalam dilema. Di satu sisi, saya tidak mau berbicara melawan pemerintah. Namun, saya juga tak mau menjadi orang yang bertanggung jawab atas semua hal yang dilakukan pemerintah,” Musk menambahkan.

    Musk juga menyoroti rancangan undang-undang belanja baru Trump yang akan menambahkan utang nasional sebesar US$3,8 triliun dalam dekade berikutnya. Padahal, menurutnya esensi dari DOGE adalah memangkas belanja federal sebesar US$1 triliun.

    Di bawah kepemimpinan Musk, jumlah pemangkasan anggaran yang dilakukan bahkan tidak mendekati angka tersebut.

    “Saya kecewa dengan anggaran pengeluaran yang sangat besar. Sejujurnya, ini akan meningkatkan defisit anggaran, bukan malam mengurangi beban anggaran. Ini merusak pekerjaan yang dilakukan tim DOGE,” kata Musk.

    (fab/fab)

  • Elon Musk Dituduh Pakai Narkoba Kelas Berat, Begini Klarifikasinya

    Elon Musk Dituduh Pakai Narkoba Kelas Berat, Begini Klarifikasinya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Elon Musk dilaporkan mengonsumsi narkoba dalam jumlah di atas wajar. Hal ini pertama kali diungkap The New York Times, berdasarkan informasi dari beberapa sumber dalam.

    Miliarder berusia 53 tahun tersebut dikatakan mengonsumsi ketamin dengan dosis berlebihan, bahkan sampai memengaruhi kandung kemihnya.

    Sebagai informasi, ketamin merupakan obat bius yang membuat pasien tidur sebelum menjalankan operasi. Namun, ketamin kerap disalahgunakan sebagai obat-obatan terlarang dengan tujuan non-medis.

    Lembaga Pangan dan Obat-obatan AS (FDA) hanya mengizinkan penggunaan ketamin dalam prosedur bius medis.

    Tak cuma ketamin, Musk juga diduga menggunakan ekstasi dan jamur psikedelik. Dalam laporan The New York Times, Musk disebut membawa kotak obat-obatan yang menyimpan 20 pil saat bepergian.

    Di dalamnya terdapat beberapa narkoba, termasuk stimulan Adderall, dikutip dari Yahoo Entertainment, Selasa (3/6/2025), berdasarkan laporan The New York Times.

    US Weekly telah menghubungi pengacara dan perwakilan Musk untuk memberikan komentar terkait laporan yang menghebohkan tersebut. Namun, Musk menanggapi tudingan tersebut melalui akun X personalnya.

    “Saya tidak mengonsumsi narkoba. The New York Times berbohong,” tulisnya.

    Tidak jelas kapan Musk diduga mengonsumsi obat-obatan tersebut dan apakah itu bertepatan dengan masa kerjanya di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebagai kepala Lembaga Efisiensi Pemerintah (DOGE).

    Pada Maret 2024 lalu, Musk bersikeras bahwa ia tidak menyalahgunakan obat-obatan. Ia menekankan bahwa resep ketaminnya untuk “keadaan kimia negatif”.

    “Jika menggunakan terlalu banyak ketamin, Anda tak bisa bekerja. Sementara saya memiliki banyak pekerjaan,” kata Musk kepada jurnalis Don Lemon kala itu.

    Musk menambahkan waktu kerja normalnya tembus 16 jam per hari. Ia juga mengatakan jarang mengambil waktu istirahat saat akhir pekan, sebab harus mengurusi banyak perusahaan sekaligus.

    Laporan terbaru dari The New York Times muncul setelah Musk mengumumkan berhenti menjabat sebagai pegawai khusus di pemerintahan Trump pada 28 Mei 2025 silam.

    “Berkaitan dengan berakhirnya masa jabatan saya sebagai Pegawai Spesial Pemerintah, saya ingin menyampaikan terima kasih terhadap Presiden Donald Trump untuk kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengurangi pemborosan anggaran,” tulis Musk di akun X personalnya pada pekan lalu.

    “Misi DOGE akan memperkuat pemerintah dari aktu ke waktu,” ia menambahkan.

    Foto: REUTERS/Nathan Howard
    Elon Musk muncul dengan mata memar saat menghadiri konferensi pers bersama Presiden AS Donald Trump di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, Jumat (30/5) lalu. (REUTERS/Nathan Howard)

    Di hari terakhir jabatannya, Musk dan Trump menggelar konferensi pers di Gedung Putih. Penampilan Musk menjadi sorotan, pasalnya matanya terlihat lebam dan kelakuannya disebut aneh. Hal ini membuat spekulasi soal penggunaan narkoba makin kencang.

    Sebelumnya, Musk mengatakan kemundurannya dari pemerintahan Donald Trump dilakukan agar lebih fokus mengurus bisnisnya yang anjlok pasca menjadi kepala DOGE.

    Selain kesibukan mengurusi perusahaan-perusahaannya (Tesla, SpaceX, X, Neuralink, dkk), Musk juga menjalankan tanggung jawab sebagai ayah belasan anak dari beberapa perempuan.

    Bulan lalu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Musk menawarkan uang tutup mulut sebesar US$15 juta (Rp244 miliar) dan uang bulanan (Rp1,6 miliar) kepada influencer konservatif Ashley St. Clair. Uang tutup mulut itu agar sang influencer merahasiakan keberadaan anak mereka.

    Pada Februari 2025, Sr. Clair yang berusia 26 tahun mengklaim di X bahwa ia baru saja melahirkan anak ke-13 Musk 5 bulan sebelumnya. Ia mengaku merahasiakan keberadaan anak tersebut untuk melindungi privasi dan keamanan sang anak. Musk tak merespons klaim tersebut.

    (fab/fab)

  • Tingkah Aneh dan Mata Lebam, Elon Musk Dicurigai Kena Narkoba

    Tingkah Aneh dan Mata Lebam, Elon Musk Dicurigai Kena Narkoba

    Jakarta

    The New York Times belum lama ini menerbitkan laporan yang mengklaim Elon Musk mengonsumsi obat-obatan terlarang. Musk membantah laporan tersebut dan menuduh The New York Times berbohong.

    Bantahan itu dimulai dengan gurauan setelah akun Whole Mars Catalog mencuit di X, “Mengingat rekam jejak Elon Musk, obat apa pun yang ia konsumsi seharusnya dimasukkan ke dalam air minum.”

    Musk membalas cuitan tersebut dengan emoji tertawa sambil menangis dan “100”, sebelum mengeluarkan bantahannya dan menuduh The New York Times berbohong.

    “Saya TIDAK mengonsumsi narkoba. The New York Times berbohong,” tulis Musk dalam postingannya di X, seperti dikutip dari Variety, Selasa (3/6/2025).

    “Saya mencoba ketamin yang diresepkan beberapa tahun yang lalu dan mengungkapnya di X, jadi ini bukan berita baru. (Obat) itu membantu untuk keluar dari kondisi mental yang, tapi saya tidak mengonsumsinya lagi sejak saat itu,” sambungnya.

    Laporan The New York Times tersebut dirilis bersamaan dengan hari terakhir Musk di Department of Government Efficiency (DOGE) pekan lalu. Musk dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar konferensi pers di Gedung Putih, di mana penampilan Musk menjadi sorotan karena matanya terlihat lebam dan perilakunya terlihat aneh, yang membuat spekulasi tentang konsumsi narkoba menguat.

    Laporan tersebut mengklaim Musk mengonsumsi obat-obatan terlarang seperti ketamin dalam jumlah yang sangat banyak sampai mempengaruhi kandung kemihnya. Ketamin adalah obat bius kuat yang biasanya dipakai untuk menenangkan hewan seperti kuda.

    Selain ketamin, Musk juga diklaim mengonsumsi ekstasi dan jamur ajaib. Orang terkaya di dunia itu juga selalu bepergian membawa kotak berisi obat-obatan yang salah satunya diberi label Adderall, salah satu merek obat stimulan.

    The New York Times juga mengklaim Musk menerima pemberitahuan dari jauh-jauh hari sebelum melakukan tes narkoba yang diwajibkan untuk mendapatkan izin keamanan sebagai kontraktor pemerintah.

    Ini bukan pertama kalinya Musk dilaporkan mengonsumsi narkoba. Tahun lalu, The Wall Street Journal melaporkan bos Tesla dan SpaceX itu mengonsumsi kokain, LSD, dan jamur ajaib di pesta, dan kebiasaan itu membuat perilakunya jadi tidak menentu.

    (vmp/vmp)

  • Neuralink Kantongi Pendanaan Rp10,5 Triliun di Tengah Uji Klinis Implan Otak

    Neuralink Kantongi Pendanaan Rp10,5 Triliun di Tengah Uji Klinis Implan Otak

    Bisnis.com, JAKARTA— Perusahaan teknologi otak milik Elon Musk, Neuralink, mengumumkan telah mengumpulkan dana sebesar US$650 juta (sekitar Rp10,5 triliun) dalam putaran pendanaan terbarunya. 

    Pendanaan ini datang saat perusahaan tengah menjalankan uji klinis untuk alat implan otak inovatif mereka.

    “Pendanaan ini membantu kami membawa teknologi kami ke lebih banyak orang, mengembalikan kemandirian bagi mereka yang memiliki kebutuhan medis yang belum terpenuhi dan mendorong batasan dari apa yang mungkin dilakukan dengan antarmuka otak,” kata Neuralink dalam pernyataan resminya dikutip dari laman Reuters pada Senin (2/6/2025).

    Neuralink telah memulai uji klinis pada implan otaknya di tiga negara. Alat ini dilengkapi chip yang mampu memproses sinyal saraf dan mengirimkannya ke perangkat seperti komputer atau ponsel.

    Saat ini, lima pasien dengan kelumpuhan berat dilaporkan sudah menggunakan teknologi ini untuk mengendalikan perangkat digital dan fisik hanya dengan pikiran mereka.

    Perusahaan juga mengungkapkan bahwa pada bulan lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memberikan status “breakthrough device” atau terobosan untuk perangkat pemulih kemampuan bicara milik Neuralink. 

    Status serupa juga diberikan tahun lalu untuk perangkat pemulih penglihatan mereka.

    Status “breakthrough device” dari FDA diberikan untuk perangkat medis inovatif yang dianggap memiliki potensi besar dan dipercepat proses pengembangannya agar lebih cepat sampai ke tangan pasien dan penyedia layanan kesehatan.

    Sementara itu, Elon Musk menyatakan pekan lalu bahwa dirinya mundur dari jabatannya sebagai penasihat khusus Presiden AS Donald Trump untuk kembali fokus mengelola perusahaannya yakni Tesla, SpaceX, xAI, Neuralink, dan platform media sosial X.

    Dalam laporan media pada hari yang sama, Morgan Stanley dikabarkan sedang mengatur paket utang senilai US$5 miliar untuk xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Musk, yang menargetkan valuasi sebesar US$113 miliar lewat penjualan saham senilai US$300 juta.

    Neuralink menyebutkan bahwa pendanaan terbarunya melibatkan investor papan atas seperti ARK Invest, DFJ Growth, Founders Fund, G42, Human Capital, Lightspeed, QIA, Sequoia Capital, Thrive Capital, Valor Equity Partners, dan Vy Capital.

    Sebelumnya, Semafor melaporkan bahwa startup ini telah meraih US$600 juta dalam kesepakatan yang menilai perusahaan di angka US$9 miliar sebelum tambahan pendanaan terbaru diumumkan.

  • Satu Kota Digusur, Warga Jadi Gelandangan Gara-gara Elon Musk

    Satu Kota Digusur, Warga Jadi Gelandangan Gara-gara Elon Musk

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pada awal Mei 2025, markas besar SpaceX milik Elon Musk resmi menjadi kota sendiri yang dinamai Starbase. Lokasinya di ujung selatan negara bagian Texas, dekat dengan perbatasan Meksiko.

    Pembentukan kota mandiri tersebut berdampak negatif bagi masyarakat lokal. Pasalnya, Starbase dilaporkan berencana ‘menggusur’ penduduk setempat dari rumah mereka.

    Dilaporkan dari CNBC International, Senin (2/6/2025), Starbase memberikan notifikasi ke beberapa penghuni kota bahwa mereka kemungkinan akan kehilangan hak untuk menggunakan properti mereka seperti saat ini.

    Starbase dikatakan sedang mempertimbangkan peraturan zonasi dan peta kota yang baru. Pemberitahuan yang dikirimkan kepada pemilik properti di “Distrik Penggunaan Campuran” hanya akan memungkinkan “penggunaan perumahan, kantor, ritel, dan layanan skala kecil.”

    Starbase berencana menggelar audiensi publik pada 23 Juni 2025 mendatang terkait rencana zonasi dan pembuatan peta baru. Notifikasi itu diteken oleh Kent Myers, pejabat kota untuk Starbase yang baru saja ditunjuk.

    Perwakilan Starbase dan SpaceX tidak segera merespons permintaan komentar.

    Starbase, yang merupakan “perusahaan kota tipe-C”, secara resmi dibentuk awal bulan ini setelah kontraktor kedirgantaraan dan pertahanan milik Musk menang dalam pemilihan lokal. Perusahaan ini kini dikelola oleh pejabat yang merupakan karyawan dan mantan karyawan SpaceX.

    Hingga awal tahun ini, populasi Starbase tercatat sebanyak 500 orang. Sekitar 260 orang di antaranya merupakan pegawai SpaceX, menurut laporan Texas Tribune. Penghuni lainnya mayoritas merupakan kerabat pegawai SpaceX.

    Starbase telah menggelar pertemuan komisi kota pada pekan lalu, 2 hari setelah SpaceX meluncurkan uji coba penerbangan roket Starship. Uji coba tersebut gagal dan menandai kegagalan 3 kali berturut-turut.

    Sistem Starship dikembangkan untuk mengirim manusia dan peralatan yang diperlukan dari Bumi ke Bulan. Musk menargetkan roket itu suatu hari nanti bisa menjadi alat untuk ‘menjajah’ Mars.

    SpaceX diketahui telah mengamankan kontrak dengan pemerintah sebesar US$20 miliar sejak 2008 silam. SpaceX juga dikatakan akan mengambil pembiayaan negara senilai beberapa miliar dolar setiap tahunnya hingga beberapa tahun mendatang.

    Menetapkan Starbase sebagai kota mandiri membantu SpaceX dalam mengantongi izin yang lebih gampang dalam membangun fasilitas yang dibutuhkan perusahaan.

    Kota tersebut saat ini masih berupaya memenangkan kemampuan untuk menutup jalan utama dan pantai untuk meluncurkan aktivitas yang dibutuhkan SpaceX.

    (fab/fab)

  • Bapak Elon Musk Ungkap Alasan Anaknya Resign Karena Tak Becus

    Bapak Elon Musk Ungkap Alasan Anaknya Resign Karena Tak Becus

    Jakarta, CNBC Indonesia – Elon Musk pekan lalu mengumumkan mundur dari pemerintahan Presiden Donald Trump dan fokus mengelola bisnisnya. Errol Musk, ayah orang terkaya di dunia tersebut, menyatakan bahwa anaknya memang tak becus jadi politisi.

    Dalam wawancara dengan stasiun TV Inggris, Sky News, Errol buka suara soal aksi Elon di DOGE, departemen efisiensi pemerintah yang dibentuk oleh Trump untuk Elon.

    “Dia tidak bisa bercakap-cakap. Dia tak becus sebagai politisi,” katanya seperti dikutip dari media sosial Sky News.

    Errol menyatakan Elon tak punya keahlian berbicara atau “gift of gab.” Dia mengklaim sudah memperingatkan Elon soal rencananya masuk ke dalam politik.

    Politik, menurutnya, adalah “kolam renang manusia” yang tak berdasar sehingga tak ada orang yang bisa tetap “mengambang”, termasuk Winston Churcill dan Donald Trump.

    Hubungan Errol dan Elon dikabarkan sudah lama renggang. Pemicunya adalah Elon mengetahui bahwa Errol punya anak dari saudara tirinya. Namun, Errol bersikeras hubungan dia dengan Elon masih baik.

    Dalam wawancara dengan Sky News, Errol Musk juga memperdebatkan soal “genosida warga kulit putih” di Afrika Selatan, kampung halaman Elon Musk.

    Errol menyatakan dirinya merasa bahwa Afrika Selatan dikelola dengan jauh lebih baik pada masa apartheid. Ia juga tidak mau mengakui bahwa video penyerangan atas warga kulit putih yang dipamerkan Trump bukan direkam di Afrika Selatan, tetapi di Kongo.

    Foto: REUTERS/Nathan Howard
    Elon Musk muncul dengan mata memar saat menghadiri konferensi pers bersama Presiden AS Donald Trump di Ruang Oval di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, Jumat (30/5) lalu. (REUTERS/Nathan Howard)

    Genosida kulit putih

    Isu genosida kulit putih disebarkan oleh Musk lewat media sosial X miliknya. Trump kemudian merespon dengan menerima pengungsi kulit putih dari Afsel.

    Bahkann chatbot buatan startup xAI milik Elon Musk, Grok, bikin geger usai menyinggung isu kontroversial “white genocide” di Afrika Selatan.

    Topik itu padahal tidak berkaitan dengan pertanyaan pengguna. Mengutip CNBC Internasional, beberapa pengguna X menemukan Grok membahas genosida terhadap kulit putih ketika menjawab pertanyaan acak.

    Saat ditanya langsung, Grok bahkan mengaku “diinstruksikan” untuk membahas topik tersebut, dan menyebut kemungkinan pengaruh Elon Musk.

    Keesokan harinya, respons Grok berubah dan menyatakan tidak pernah diprogram untuk mendukung teori konspirasi atau ideologi berbahaya.

    “Tidak, saya tidak diprogram untuk memberikan jawaban apa pun yang mempromosikan atau mendukung ideologi berbahaya, termasuk apa pun yang terkait dengan ‘genosida kulit putih’ atau konspirasi serupa,” jawab chatbot ketika dianya oleh CNBC Internasional.

    “Tujuan saya adalah untuk memberikan jawaban yang faktual, membantu, dan aman berdasarkan alasan dan bukti. Jika Anda telah melihat klaim atau hasil tertentu yang membuat Anda khawatir, saya dapat menganalisis atau mengklarifikasi lebih lanjut, beri tahu saya!” kata chatbot tersebut.

    Elon Musk sendiri dikenal vokal soal isu petani kulit putih di Afrika Selatan, bahkan sempat menuding pemerintah setempat rasis karena tidak mengizinkan layanan Starlink miliknya beroperasi.

    CEO OpenAI Sam Altman turut menyindir insiden ini di platform X, menyebut Grok sebagai AI yang maksimal mengikuti instruksi.

    “Ada banyak cara yang bisa terjadi. Saya yakin xAI akan segera memberikan penjelasan yang lengkap dan transparan,” tulis Altman dalam sebuah posting di X.

    (dem/dem)

  • Data Center AI Bakal Lebih Boros Listrik dari Tambang Bitcoin

    Data Center AI Bakal Lebih Boros Listrik dari Tambang Bitcoin

    Jakarta

    Terus meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan membuat konsumsi listrik untuk data center AI bakal menyalip konsumsi listrik dari tambang Bitcoin.

    Menurut Alex de Vries-Gao, kandidat PhD dari Vrije Universiteit Amsterdam, Institute for Enviromental Studies, konsumsi listrik data center AI secara keseluruhan akan lebih besar dibanding konsumsi listrik tambang Bitcoin pada akhir 2025.

    Dalam jurnalnya yang dipublikasikan di Joule, De Vries-Gao mengumpulkan data dari berbagai spesifikasi perangkat yang ada di publik, perkiraan analis, dan temuan korporat, untuk memperkirakan konsumsi energi dari perangkat AI.

    Ia hanya bisa memperkirakan konsumsi listrik ini karena kebanyakan perusahaan teknologi besar tidak mengungkap konsumsi listrik dari data center AI miliknya. Jadi De Vries-Gao menggunakan metode triangulasi, dengan meneliti rantai pasokan untuk chip AI dan kapasitas produksi dari perusahaan seperti TSMC.

    Pada 2026 mendatang, menurutnya hampir setengah konsumsi listrik data center akan dikuasai oleh AI, atau meningkat 20% dibanding konsumsi listrik data center AI saat ini, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (2/6/2025).

    Dalam riset de Vries-Gao itu diungkap kalau setiap chip AI Nvidia H100 — chip yang populer untuk data center AI — mengkonsumsi daya sebesar 700 watt saat menjalankan model AI yang rumit. Angka itu kemudian dikali jutaan unit dari chip H100 yang ada di pasaran, dan hasilnya menjadi sangat luar biasa besar.

    De Vries-Gao memperkirakan kalau hardware yang diproduksi pada 2023-2024 saja bisa mengkonsumsi daya sebesar 5,3 hingga 9,4 gigawatt, setara dengan konsumsi listrik Irlandia secara keseluruhan.

    Tak cuma itu, teknologi packaging CoWoS milik TSMC, yang membuat prosesor serta memori super kencang bisa terintegrasi dalam satu unit sistem AI, produksinya meningkat lebih dari dua kali lipat antara 2023-2024. Dan, pasokan itu masih belum bisa mencukupi permintaan dari Nvidia dan AMD.

    TSMC berencana meningkatkan kapasitas CoWoS ini pada 2025. Jika tren ini terus terjadi, de Vries-Gao memperkirakan konsumsi listrik sistem AI akan mencapai 23 gigawatt pada akhir 2025, setara dengan konsumsi listrik rata-rata di Inggris, dan lebih besar dari kebutuhan listrik tambang Bitcoin secara global.

    Bahkan International Energy Agency memperingatkan kalau pertumbuhan konsumsi listrik ini akan meningkatkan konsumsi listrik data center hingga dua kali lipat dalam rentang waktu dua tahun.

    Tonton juga “Sejauh Mana Ambisi Elon Musk untuk Pengembangan Superkomputer AI?” di sini:

    (asj/asj)

  • RI Diserbu Starlink-Kuiper, Pengusaha Satelit Minta Tambah Aturan

    RI Diserbu Starlink-Kuiper, Pengusaha Satelit Minta Tambah Aturan

    Jakarta

    Indonesia akan kehadiran lagi pemain satelit orbit rendah bumi (Low Earth Orbit/LEO) Amazon Kuiper yang diperkirakan beroperasi akhir tahun 2025. Para pengusaha satelit lokal pun memberikan responnya.

    Asosiasi Satelit Seluruh Indonesia (ASSI) mengungkapkan pada dasarnya perlakuan pemerintah terhadap satelit asing untuk yang berjenis LEO maupun Geostationary Earth Orbit (GEO) tidak ada yang berbeda persyaratannya.

    “Diberikan fasilitas namanya landing right, di mana landing right ini syaratnya dua, yaitu closer coordination dengan operator dalam negeri, paling nggak filing frekuensi dan lainnya harus selesai koordinasi dengan operator dalam negeri. Kedua, resiprokal. Jadi, intinya kalau dia berjualan di Indonesia, maka kita bisa berjualan di mana mereka meluncurkannya ya,” ujar Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatiputro di Jakarta, Senin (2/6/2025).

    Terkait maraknya pemain satelit LEO yang masuk ke Indonesia, mulai dari Starlink, OneWeb, hingga nanti terbaru Kuiper, ASSI memandang bahwa diperlukan regulasi tambahan agar industri satelit dalam negeri. Hal ini juga untuk meminimalisir terjadinya ketimpangan dengan pemain satelit asing.

    “Sehingga mungkin kita ke depan perlu menambahkan tambahan item (aturan) untuk bisa kerja sama ya, bukan mempersulit tapi prinsipnya adalah gimana caranya kita punya kesempatan yang sama,” jelasnya.

    “Karena seperti kita tahu di LEO itu, kalau kita mau meluncurkan LEO, sesama pemain LEO itu kan koordinasinya first come, first serve juga. Nah, sehingga kalau dari luar duluan filing-filing dan Indonesia belum filing itu nanti kita nggak bisa filing lagi, nggak ada tempatnya lagi, nggak ada frekuensinya yang bisa dipakai karena kita tahu frekuensi adalah terbatas,” sambungnya.

    Terkait usulan pengusaha satelit dalam negeri tersebut, ASSI mengungkapkan telah berkomunikasi dengan pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

    Diberitakan sebelumnya, setelah sempat tertunda, satelit Kuiper milik Amazon, berhasil meluncur dari stasiun luar angkasa Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, pada 28 April 2025 waktu setempat. Kuiper akan menjadi penantang kuat Starlink kepunyaan Elon Musk.

    Roket United Launch Alliance (ULA) Atlas V yang mengangkut 27 satelit Kuiper dinyatakan tidak ada kendala berarti saat menembus orbit rendah Bumi (low earth orbit/LEO).

    Dikutip dari Space, ini merupakan peluncuran pertama dari lebih dari 80 peluncuran yang direncanakan untuk membangun megakonstelasi Kuiper dengan beroperasi lebih dari 3.200 satelit ini nantinya.

    Amazon menargetkan Kuiper dapat menyediakan akses internet ke pelanggan pada akhir tahun 2025 ini. Indonesia adalah salah satu target pasar mereka, di mana beberapa waktu lalu perwakilan perusahaan telah menjajaki kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam menghadirkan sinyal internet di pelosok Indonesia.

    Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan bahwa pemerintah tidak memberikan pembatasan adanya pemain satelit lokal maupun internasional.

    “Jadi, kalau Kuiper kemarin sudah datang (perwakilannya) memperkenalkan dan izinnya juga belum keluar. Namun demikian, mereka kita hargai karena memang dari awal itu memberitahu rencana-rencana investasi di Indonesia,” ujar Meutya di Jakarta, Jumat (22/3) silam.

    (agt/fay)

  • Elon Musk Dituduh Pakai Narkoba Kelas Berat, Begini Klarifikasinya

    Elon Musk Comeback, Tesla Langsung Keluar dari Dasar Jurang

    Jakarta, CNBC Indonesia – Saham Tesla melonjak lebih dari 22% sepanjang Mei 2025, yang menandai kebangkitan besar meski perusahaan masih menghadapi tekanan akibat penurunan penjualan di pasar utama seperti China dan Eropa.

    Kembalinya fokus Elon Musk ke bisnis menjadi pemicu utama lonjakan tersebut, setelah sang CEO mengumumkan akan mengurangi aktivitas politiknya di era pemerintahan Trump.

    Mengutip CNBC Internasional, kinerja saham Tesla selama 2025 masih belum pulih sepenuhnya, turun sekitar 14% year-to-date, namun pemulihan tajam pada Mei menjadi angin segar bagi para investor.

    Tesla berhasil mencatatkan kinerja lebih baik dibanding Apple yang anjlok 19% sejak awal tahun, dan menjadikannya yang terburuk di antara saham teknologi raksasa.

    Terbangnya saham Tesla terjadi bersamaan dengan pengumuman mantan Presiden AS, Donald Trump, yang mengakhiri penugasan Musk sebagai “pegawai pemerintah khusus” di Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE).

    “Ini adalah hari terakhirnya, tapi sejatinya tidak, karena Elon akan selalu bersama kami,” kata Trump di platform Truth Social, dikutip Senin (2/6/2025).

    “Elon luar biasa!” imbuh Trump.

    Musk menyampaikan bahwa ia akan kembali fokus pada Tesla dan perusahaannya, termasuk SpaceX, xAI, dan platform X.

    Meski akan tetap menjadi penasihat Trump, Musk mengatakan hanya akan menyisihkan sehari atau dua hari dalam seminggu untuk urusan pemerintahan hingga akhir masa jabatan.

    “Saya berharap untuk tetap menjadi teman dan penasihat, dan tentu saja, jika ada sesuatu yang presiden ingin saya lakukan, saya siap melayani presiden,” kata CEO Tesla itu dalam sebuah acara pers di Oval Office.

    Bloomberg melaporkan Tesla akan meluncurkan layanan robotaxi di Austin, Texas, pada 12 Juni 2025, menggunakan armada Model Y dengan teknologi Full Self Driving terbaru. Jika terlaksana, ini akan menjadi tonggak penting setelah bertahun-tahun janji Musk tentang kendaraan tanpa sopir.

    Selain itu, Tesla diuntungkan dari posisinya yang kuat secara domestik. Dengan dua pabrik besar di AS, Fremont dan Austin, Tesla lebih siap menghadapi dampak tarif perdagangan dibanding pesaingnya. Proporsi komponen buatan Amerika yang tinggi juga menjadi keunggulan dalam iklim geopolitik yang menantang.

    Namun, tekanan terhadap manajemen tetap ada. Sejumlah pemimpin dana pensiun AS menuntut dewan direksi Tesla agar mengendalikan waktu kerja Musk, bahkan meminta kewajiban minimum 40 jam per minggu untuk menyelamatkan Tesla dari apa yang mereka sebut sebagai krisis.

    (fab/fab)

  • Elon Musk Keluar dari Rezim Trump, Masalah Tesla Masih di Depan Mata

    Elon Musk Keluar dari Rezim Trump, Masalah Tesla Masih di Depan Mata

    Jakarta

    Elon Musk keluar dari posisinya sebagai DOGE (Department of Government Efficiency). Meski sudah resmi mundur, masalah Tesla yang perlu diselesaikan sudah menunggu Elon Musk di depan mata.

    Elon Musk melalui platform X nya turut mengucapkan terima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas kepercayaan yang telah diberikan.

    “Karena masa tugas saya sebagai Pegawai Pemerintah Khusus akan segera berakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden @realDonaldTrump atas kesempatan untuk mengurangi pemborosan pengeluaran,” ujar Musk via @elonmusk.

    Meski Musk sudah mundur, adanya Gerakan Tesla Takedown belum pudar, mereka mengatakan “pertarungan masih jauh dari selesai” karena Musk masih memiliki akses langsung ke Presiden.

    Perlu diketahui “Tesla Takedown” mengacu pada gerakan protes akar rumput yang muncul pada awal tahun 2025. Gerakan ini menargetkan Tesla, Inc. dan CEO-nya, Elon Musk. Gerakan ini melibatkan demonstrasi damai di toko-toko Tesla, mendesak masyarakat untuk melepaskan diri dari Tesla dengan menjual kendaraan dan saham mereka di Tesla. Tujuannya adalah untuk memberikan dampak ekonomi kepada Musk dan menantang pengaruh politiknya melalui cara-cara tanpa kekerasan.

    Asosiasi Produsen Mobil Eropa baru-baru ini merilis data untuk bulan April dan itu menunjukkan pendaftaran Tesla turun 52,6% yang mengejutkan bulan lalu. Perusahaan juga turun 46,1% selama empat bulan pertama tahun ini.

    Itu adalah angka yang mengkhawatirkan dan mereka datang pada saat kendaraan listrik semakin populer.

    “Dalam empat bulan pertama tahun 2025, penjualan mobil baterai-listrik baru tumbuh sebesar 26,4%, menjadi 558.262 unit, menangkap 15,3% dari total pangsa pasar UE,” seperti yang dicatat oleh EAMA.

    masalah Tesla tidak terbatas pada Eropa karena merek tersebut juga mengalami penurunan yang signifikan di tempat lain. Menurut Business Insider penjualan Tesla di provinsi Quebec Kanada anjlok 85% pada kuartal pertama karena pelanggan hanya membeli 524 kendaraan. Model 3 terpukul sangat buruk karena penjualan sedan entry-level turun sebesar 94%.

    (riar/lua)