Tag: Elon Musk

  • Upaya Evakuasi Puing Starship Terhambat, SpaceX Minta Bantuan Pemerintah Meksiko

    Upaya Evakuasi Puing Starship Terhambat, SpaceX Minta Bantuan Pemerintah Meksiko

    JAKARTA – Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, mengungkapkan bahwa upaya mereka untuk mengevakuasi puing-puing roket Starship yang meledak pekan lalu mengalami hambatan. Dalam pernyataannya pada Kamis 26 Juni, SpaceX menyebut keterlibatan pihak tak berwenang serta lokasi puing yang berada di wilayah Meksiko sebagai tantangan utama dalam proses evakuasi.

    Ledakan dramatis roket Starship terjadi saat uji coba di Texas dan menyebabkan serpihan beterbangan ke berbagai arah. Beberapa puing bahkan dilaporkan jatuh dan sebagian tenggelam di Sungai Rio Grande, dekat wilayah Matamoros, Meksiko.

    “Puing-puing akibat anomali tersebut merupakan milik sah SpaceX dan kami tengah berupaya untuk memulihkannya. Namun, upaya ini terhambat karena adanya pihak yang masuk tanpa izin ke properti pribadi,” tulis SpaceX melalui media sosial X.

    SpaceX menyatakan telah meminta bantuan dari pemerintah lokal dan federal Meksiko, serta menawarkan sumber daya dan dukungan untuk proses pembersihan lokasi.

    Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menyampaikan pada hari Rabu bahwa pemerintahannya tengah menyelidiki dampak keamanan dan lingkungan dari peluncuran roket SpaceX, khususnya terhadap negara bagian Tamaulipas yang berbatasan langsung dengan Texas.

    “Kami sedang melakukan tinjauan umum untuk mengetahui pelanggaran hukum internasional yang terjadi. Dari situ, kami akan memulai proses hukum, karena memang telah terjadi pencemaran,” ujar Sheinbaum dalam konferensi pers pagi.

    Ledakan roket Starship bukan yang pertama terjadi tahun ini. Pada Maret 2025, salah satu roket meledak di luar angkasa beberapa menit setelah peluncuran dari Texas, menyebabkan Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat menghentikan lalu lintas udara di sebagian wilayah Florida. Sementara pada Januari, insiden serupa menyebabkan puing-puing jatuh di wilayah Karibia dan bahkan merusak sebuah mobil di Kepulauan Turks dan Caicos.

    Ledakan beruntun ini menjadi tantangan serius bagi program ambisius SpaceX dalam mengembangkan Starship sebagai wahana pengangkut manusia ke Mars.

  • Upaya Evakuasi Puing Starship Terhambat, SpaceX Minta Bantuan Pemerintah Meksiko

    Upaya Evakuasi Puing Starship Terhambat, SpaceX Minta Bantuan Pemerintah Meksiko

    JAKARTA – Perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX, mengungkapkan bahwa upaya mereka untuk mengevakuasi puing-puing roket Starship yang meledak pekan lalu mengalami hambatan. Dalam pernyataannya pada Kamis 26 Juni, SpaceX menyebut keterlibatan pihak tak berwenang serta lokasi puing yang berada di wilayah Meksiko sebagai tantangan utama dalam proses evakuasi.

    Ledakan dramatis roket Starship terjadi saat uji coba di Texas dan menyebabkan serpihan beterbangan ke berbagai arah. Beberapa puing bahkan dilaporkan jatuh dan sebagian tenggelam di Sungai Rio Grande, dekat wilayah Matamoros, Meksiko.

    “Puing-puing akibat anomali tersebut merupakan milik sah SpaceX dan kami tengah berupaya untuk memulihkannya. Namun, upaya ini terhambat karena adanya pihak yang masuk tanpa izin ke properti pribadi,” tulis SpaceX melalui media sosial X.

    SpaceX menyatakan telah meminta bantuan dari pemerintah lokal dan federal Meksiko, serta menawarkan sumber daya dan dukungan untuk proses pembersihan lokasi.

    Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menyampaikan pada hari Rabu bahwa pemerintahannya tengah menyelidiki dampak keamanan dan lingkungan dari peluncuran roket SpaceX, khususnya terhadap negara bagian Tamaulipas yang berbatasan langsung dengan Texas.

    “Kami sedang melakukan tinjauan umum untuk mengetahui pelanggaran hukum internasional yang terjadi. Dari situ, kami akan memulai proses hukum, karena memang telah terjadi pencemaran,” ujar Sheinbaum dalam konferensi pers pagi.

    Ledakan roket Starship bukan yang pertama terjadi tahun ini. Pada Maret 2025, salah satu roket meledak di luar angkasa beberapa menit setelah peluncuran dari Texas, menyebabkan Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat menghentikan lalu lintas udara di sebagian wilayah Florida. Sementara pada Januari, insiden serupa menyebabkan puing-puing jatuh di wilayah Karibia dan bahkan merusak sebuah mobil di Kepulauan Turks dan Caicos.

    Ledakan beruntun ini menjadi tantangan serius bagi program ambisius SpaceX dalam mengembangkan Starship sebagai wahana pengangkut manusia ke Mars.

  • Lagi, Elon Musk Ditinggalkan Orang Kepercayaannya di Tesla

    Lagi, Elon Musk Ditinggalkan Orang Kepercayaannya di Tesla

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pejabat eksekutif Tesla dan orang kepercayaan lama Elon Musk, Omead Afshar, dikabarkan meninggalkan raksasa kendaraan Listrik (EV) Amerika Serikat (AS) tersebut.

    Kabar ini diungkapkan oleh tiga sumber Reuters. Ini menjadi kepergian senior lainnya dari Tesla, di tengah perusahaan sedang menghadapi tantangan perlambatan permintaan global.

    Afshar adalah bagian dari kantor CEO dan sejak tahun lalu telah mengawasi penjualan dan manufaktur di Eropa dan Amerika Utara. Setelah bergabung dengan Tesla pada tahun 2017, ia dengan cepat menjadi salah satu orang terpercaya Musk, memainkan peran sentral dalam proyek-proyek besar seperti Texas Gigafactory.

    Sumber Reuters, yang menolak disebutkan namanya, tidak memiliki info detail tentang keadaan pengunduran diri Afshar atau alasan di baliknya. Afshar terpantau masih mengunggah tentang Tesla di X awal minggu ini, dan profilnya di X dan LinkedIn masih menunjukkan jabatannya di Tesla pada hari Rabu.

    Kabar pengunduran diri tersebut terjadi di tengah merosotnya permintaan di Eropa dan Amerika Utara untuk jajaran kendaraan Tesla yang menua. Sementara para pesaingnya telah menawarkan alternatif yang lebih terjangkau.

    Dua orang yang mengetahui operasi Tesla mengatakan Afshar termasuk di antara para eksekutif yang mengambil peran yang lebih besar tahun ini, di saat Musk berfokus pada pemerintah AS.

    Seperti diketahui, Musk sempat memimpin upaya pemangkasan biaya pemerintah Presiden Donald Trump tahun ini. Banyak investor serta analis khawatir hal itu mengalihkan perhatian Musk dari Tesla dan mengasingkan beberapa calon pembeli.

    Mantan manajer penjualan Tesla tingkat menengah Matthew LaBrot, yang baru-baru ini dipecat karena kritik publik terhadap Musk, mengatakan Afshar adalah “karakter pendukung” yang terkait erat dengan Musk hingga ia naik ke posisi kepala penjualan dan manufaktur di Amerika Utara dan Eropa.

    LaBrot mengatakan ada tekanan signifikan secara internal untuk mengatasi penurunan penjualan, yang khususnya parah di Eropa.

    Sebelumnya, Direktur SDM Tesla bagian Amerika Utara Jenna Ferrua dikabarkan juga telah keluar dari perusahaan. Dua dari tiga sumber yang mengonfirmasi kepergian Afshar kepada Reuters juga mengatakan Ferrua telah pergi.

    Salah satu sumber mengatakan Afshar dan Ferrua adalah rekan dekat, jadi tidak mengherankan jika keduanya pergi pada waktu yang hampir bersamaan. Sumber lain mengatakan Ferrua telah menjabat sebagai penasehat SDM langsung untuk Afshar.

    Kepergian tersebut merupakan puncak dari serangkaian kepergian eksekutif selama 14 bulan terakhir, yang didorong oleh restrukturisasi di seluruh perusahaan saat Tesla memangkas ribuan pekerjaan dan mengalihkan fokusnya ke teknologi self-driving bertenaga AI dan robotika.

    Kepergian tersebut mencakup para pemimpin dalam bidang robot, baterai, dan kebijakan publik.

    Kepala tim robot humanoid Optimus Tesla, Milan Kovac, telah mengumumkan bahwa ia akan undur diri ini, dan eksekutif baterai papan atas Vineet Mehta melakukannya pada bulan Mei lalu.

    Kepala teknisi baterai Drew Baglino, Rebecca Tinucci, yang memimpin divisi supercharging, dan kepala kebijakan publik global Rohan Patel kan mengundurkan diri pada musim semi 2024.

    Musk mengakhiri tugasnya di Washington pada akhir Mei, meyakinkan beberapa investor yang khawatir tentang retaknya Tesla. Namun, saham Tesla tetap turun sekitar 19% sepanjang tahun, setelah kenaikan awal karena optimisme bahwa kemenangan Trump akan membuka jalan bagi regulasi robotaxi.

    Pada hari Minggu, Tesla meluncurkan taksi tanpa pengemudi di Austin, Texas. Beberapa analis telah memperingatkan bahwa rencana perusahaan untuk berekspansi ke kota-kota lain akhir tahun ini dapat menghadapi rintangan, karena kekhawatiran tentang keselamatan dan teknologi.

    Pada hari Senin, Afshar memposting di X bahwa debut robotaxi Austin adalah “hari yang benar-benar bersejarah bagi Tesla,” dan menambahkan: “Terima kasih, Elon, karena telah mendorong kami semua!”

    Di masa lalu, Afshar memposting tentang menghabiskan liburan dan larut malam bersama Musk, khususnya ketika Tesla meningkatkan produksi sedan Model 3 untuk pasar massal pada tahun 2018. Ia merenungkan dalam posting bulan Maret tentang “hidup di pabrik saat ini, benar-benar 24/7.”

    (wia)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Tarif Menggunakan Robotaxi Tesla Milik Elon Musk

    Tarif Menggunakan Robotaxi Tesla Milik Elon Musk

    Bisnis.com, JAKARTA – Kekayaan bersih Elon Musk melonjak sebesar US$19 miliar atau setara dengan Rp310 triliun pada Senin (23/6/2025), dan menjadi “Top Gainer” dalam sehari.

    Mengutip Indeks Miliarder Bloomberg, lonjakan kekayaan ini terjadi seiring dengan peluncuran Robotaxi oleh Tesla, perusahaan mobil listrik miliknya, di Austin.

    Tesla secara resmi meluncurkan layanan taksi tanpa pengemudi pada Minggu (22/6) kepada sekelompok pengguna tertentu di kota asalnya, dengan biaya tetap sebesar US$4,20 per perjalanan.

    Untuk mendukung memperkenalkan layanan komersil ini, Tesla pun mengundang sejumlah influencer untuk melakukan uji coba.

    Mereka diminta untuk mengunggah video menggunakan Robotaxi, yang mana di dalamnya memperlihatkan layanan pesanan, penjemputan dan pengantaran.

    “Jika Tesla sukses di Austin, itu baru akhir dari tahap awal, bukan awal dari akhir,” kata Profesor teknik komputer dari Carnegie Mellon University, Philip Koopman, dikutip dari Reuters.

    Namun dalam peluncuran Robotaxi ini, perjalanan masih didampingi oleh karyawan Tesla demi keselamatan penumpang.

    Banyak analis percaya bahwa nilai saham Tesla yang sangat tinggi saat ini sebagian besar bertumpu pada kemampuan mereka menghadirkan robotaxi serta robot humanoid di masa depan.

    Sahamnya melonjak hingga 11% dalam perdagangan hari Senin sebelum ditutup naik 8% pada US$348,68, memangkas kerugian tahun berjalannya menjadi hanya di bawah 7%.

    Reli satu hari itu menghasilkan keuntungan sebesar US$19 miliar, atau sekitar Rp310 triliun bagi Musk, yang sekarang memiliki kekayaan sebesar US$385 miliar alias sekitar Rp6.282 triliun di Bloomberg Billionaires Index.

    Hal ini semakin memperkuat posisinya di puncak daftar orang terkaya di dunia meskipun telah mengalami kerugian sebesar US$47,5 miliar sejak awal 2025.

    Namun, para analis tetap berhati-hati dan memperingatkan bahwa meskipun visi robotaxi Tesla menarik, keberhasilannya bergantung pada mengatasi rintangan utama dalam hal keselamatan, infrastruktur operasional, keterbatasan sensor, dan penerapan di dunia nyata, yang semuanya masih belum terbukti.

  • Kerja Keras Elon Musk Selama 10 Tahun Sia-sia, Malah Bawa Musibah

    Kerja Keras Elon Musk Selama 10 Tahun Sia-sia, Malah Bawa Musibah

    Jakarta, CNBC Indonesia – Kerja keras Elon Musk selama satu dekade untuk menghadirkan mobil tanpa sopir (automatic vehicle/AV) kini menuai kecaman. Layanan taksi otomatis (robotaxi) Tesla yang baru diluncurkan di Austin, Texas, memicu penyelidikan dari otoritas keselamatan transportasi AS.

    Dalam sejumlah video yang viral di media sosial, robotaxi Tesla terekam melaju melawan arus dan mengerem mendadak di tengah lalu lintas tanpa alasan yang jelas. Mobil tanpa sopir itu juga bereaksi aneh terhadap kendaraan polisi yang sedang parkir.

    Akibat insiden ini, National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) langsung menghubungi Tesla untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut. Investigasi terhadap sistem pengemudian otomatis Tesla, termasuk versi Beta FSD yang sempat menyebabkan kecelakaan fatal, juga masih terus berlangsung.

    Mengutip laporan CNBC Internasional, Rabu (25/6/2025), robotaxi Tesla yang digunakan adalah SUV Model Y, dengan perangkat lunak pengemudian otomatis terbaru bernama FSD Unsupervised.

    Meskipun tanpa sopir, layanan ini tetap diawasi oleh petugas manusia yang duduk di kursi depan penumpang. Operasionalnya terbatas hanya siang hari dan cuaca cerah.

    Peluncuran uji coba skala kecil ini hanya untuk pengguna undangan, sebagian besar dari mereka adalah penggemar berat Elon Musk, promotor saham Tesla, dan influencer pro-Tesla. Saham Tesla sempat naik 8% karena kabar ini, namun pencapaian itu dinilai jauh dari ekspektasi.

    Pasalnya, sejak 2015, Musk sudah berkali-kali menjanjikan kehadiran kendaraan otonom penuh. Mulai dari janji autonomi penuh dalam 3 tahun hingga janji 1 juta robotaksi yang bisa bekerja menghasilkan uang untuk pemiliknya pada 2020, namun semuanya tidak pernah terealisasi.

    Sementara Tesla masih bergelut dengan insiden keselamatan, pesaing seperti Waymo milik Google justru sudah melayani lebih dari 10 juta perjalanan berbayar. Di China, Baidu dengan Apollo Go, serta WeRide dan Pony.ai, juga sudah jauh melangkah dalam komersialisasi taksi tanpa sopir.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • China Saingi Elon Musk, Ciptakan Teknologi Berkekuatan 5x Lebih Cepat dari Starlink

    China Saingi Elon Musk, Ciptakan Teknologi Berkekuatan 5x Lebih Cepat dari Starlink

    Bisnis.com, JAKARTA — Layanan internet Starlink milik Elon Musk bakal dibayangi terobosan teknologi baru yang dikembangkan oleh ilmuwan di China. Mereka berhasil membuat internet dengan media ‘laser’ yang diklaim mampu mencapai kecepatan internet lima kali lebih cepat dari Starlink.

    Ilmuwan dari Chinese academy of Sciences, Liu Chao, dan seorang profesor dari Peking University of Posts and Telecommunications, Wu Jian, menjadi aktor dibalik pengembangan tersebut.

    Dilansir dari techradar.com, dua ilmuwan ini mengembangkan metode baru untuk mengatasi turbulensi atmosfer, menggabungkan dua teknologi yang sudah mapan sebelumnya, yang nantinya digunakan untuk menghasilkan transmisi data yang sangat cepat.

    Tim ilmuwan ini menguji teori yang sudah mereka buat di observatorium Lijiang, China barat daya. Teleskop 1,8 meter digunakan untuk berfokus pada satelit tanpa nama yang mengorbit pada jarak 36.705 kilometer dari permukaan bumi.

    Teleskop itu dilengkapi dengan susunan yang terdiri dari 357 cermin mikro yang dapat dikontrol secara individual. Cermin mikro inilah yang menjadi pengaplikasian dua teknologi.

    Adaptive Optics (AO) dan Mode-Diversity Reception (MDR) menjadi dua teknologi yang digabungkan dalam pengembangan ini. Teknik AO digunakan untuk mempertajam cahaya yang terdistorsi, sementara itu, MDR untuk menangkap sinyal yang tersebar. 

    Selain AO dan MDR, algoritma “path-picking” turut berperan dalam menyukseskan pengembangan. Algoritma ini menganalisis kekuatan dan kualitas sinyal dari delapan saluran mode, untuk kemudian mengidentifikasi tiga sinyal terkuat di antara delapan sinyal tersebut.

    Bila dibandingkan dengan Starlink, maka dapat ditemukan adanya dua perbedaan utama dalam terobosan tersebut. Pertama, Starlink saat ini hanya menawarkan 25 hingga 200 Mbps pada paket standar, sementara itu, penemuan dua ilmuwan China mampu mencapai kecepatan transmisi data sebesar 1Gbps.

    Kedua, kekuatan sinyal dan kesalahan yang lebih sedikit dalam transmisi data meskipun jaraknya jauh dari satelit. Ini menjadi hal penting bagi pengguna yang ingin melakukan streaming video atau mengirim file besar. 

    Apabila nantinya teknologi tersebut benar-benar digunakan, akan menimbulkan dampak yang besar, kita sangat mungkin nantinya dapat menggunakan internet bahkan di daerah terpencil sekalipun.

    Lebih dari itu, metode komunikasi laser yang dipakai juga mampu mengembangkan navigasi satelit, bahkan dapat melancarkan misi luar angkasa. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Elon Musk Turun Gunung, Tesla Langsung Keluar dari Dasar Jurang

    Elon Musk Turun Gunung, Tesla Langsung Keluar dari Dasar Jurang

    Jakarta, CNBC Indonesia – Saham Tesla (TSLA) melonjak tajam lebih dari 9% pada Senin (24/6) waktu setempat. Kenaikan ini terjadi setelah CEO Elon Musk resmi meluncurkan uji coba layanan taksi otomatis tanpa pengemudi (robotaxi) di Austin, Texas.

    Langkah ini menjadi sinyal kebangkitan Tesla yang sebelumnya tertekan gara-gara aksi boikot di mana-mana yang berdampak pada penjualan yang lesu. Di saat bersamaan, persaingan dengan pabrikan China seperti BYD dan Xpeng juga kian menggerus dominasi Tesla di industri mobil listrik. 

    Aksi boikot itu dipicu oleh sikap politik Musk dan porsinya sebagai Kepala Lembaga Efisiensi Pemerintah (DOGE). Investor Tesla juga menyorot kesibukan Musk di pemerintahan Trump yang membuat prioritasnya ke Tesla berkurang. 

    Setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak, Musk akhirnya memutuskan mundur dari pemerintahan Trump untuk fokus ke kerajaan bisnisnya, termasuk Tesla.

    Musk langsung membuat gebrakan saat kembali aktif di Tesla. Proyek robotaxi yang sudah diumbar selama 1 dekade akhirnya makin dekat jadi kenyataan.

    Pada Minggu (22/6), Tesla melakukan uji coba berskala kecil untuk robotaxi di Austin. Tarif layanan ditetapkan sebesar US$4,20 (Rp60 ribuan) untuk zona tertentu. Meski cakupannya masih terbatas dan pengemudi cadangan tetap ada sebagai pengawas, ini jadi momen bersejarah bagi perusahaan.

    Elon Musk memang sudah sejak lama memposisikan teknologi otonom sebagai masa depan Tesla, menggeser ambisi awal untuk mendominasi pasar mobil listrik massal.

    Uji coba ini dinilai menjadi kunci bagi Tesla untuk membuktikan nilai teknologinya di tengah ketidakpastian industri otomotif global.

    “Pengalamannya sangat nyaman dan aman,” ujar Dan Ives, analis dari Wedbush yang menjajal langsung robotaxi tersebut, dikutip dari Reuters, Selasa (24/6/2025).

    Ia menceritakan saat kendaraan dengan tenang menavigasi jalan sempit di bukit, di tengah mobil-mobil yang parkir dan lalu lintas dari arah berlawanan.

    Meski demikian, perjalanan Tesla menuju peluncuran penuh robotaxi masih panjang. Para analis menyebut, Tesla dan kompetitornya seperti Waymo masih menghadapi tantangan serius, mulai dari regulasi hingga teknologi. Sistem Tesla yang mengandalkan kamera dan AI tanpa sensor cadangan seperti lidar dinilai rentan terhadap kondisi cuaca ekstrem.

    Tesla juga harus menyesuaikan diri dengan hukum baru di Texas yang mulai berlaku 1 September. Aturan ini mengharuskan izin khusus bagi kendaraan tanpa pengemudi, mempertegas kebutuhan akan peluncuran yang bertahap dan hati-hati.

    Meski sempat terpukul sentimen negatif akibat sikap politik Elon Musk yang kontroversial, termasuk dukungannya terhadap Donald Trump, nilai pasar Tesla kini bangkit.

    Jika reli saham ini bertahan, Tesla berpotensi menambah kapitalisasi pasar hampir US$100 miliar, mendekati kembali level US$1 triliun.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Starlink Minggir, Penggantinya Makin Ramai Mengudara

    Starlink Minggir, Penggantinya Makin Ramai Mengudara

    Jakarta, CNBC Indonesia – Amazon baru saja meluncurkan 27 satelit Kuiper ke orbit rendah (LEO) Bumi. Penerbangan ini kian meningkatkan persaingan dengan raksasa internet berbasis satelit lain, Starlink yang dimiliki SpaceX.

    Satelit tersebut dibawa Roket United Launch Alliance dari Stasiun Angkatan Luar Angkasa Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat (AS). Puluhan satelit lepas landas pukul 6:54 pagi ET pada hari Senin (23/6/2025).

    “Kami telah menghidupkan dan meluncurkan roket United Launch Alliance Atlas V yang membawa satelit untuk konstelasi Proyek Kuiper milik Amazon, menjadi babak baru pada konektivitas satelit orbit rendah Bumi,” kata ordnance engineer ULA, Ben Chilton, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (24/6/2025).

    CNBC Internasional mencatat misi tersebut sempat dijadwalkan sebanyak dua kali. Karena sempat terkendala cuaca dan masalah pada pendorong roket.

    Kini total satelit Kuiper sebanyak 54 satelit, termasuk 27 satelit yang diluncurkan April lalu. Amazon berencana menerbangkan hingga 3.236 satelit di orbit rendah Bumi.

    Setidaknya hingga Juli 2026, mereka harus meluncurkan setengah dari jumlah tersebut atau 1.618 satelit. Ini karena perusahaan harus memenuhi tenggat waktu yang ditentukan Komisi Komunikasi Federal AS.

    Lebih dari 80 peluncuran telah dipesan Amazon untuk menerbangkan satelitnya. Raksasa teknologi itu akan menggunakan beberapa penyedia transportasi ke luar angkasa, termasuk milik SpaceX.

    Jumlah yang direncanakan Amazon memang belum mendekati Starlink. Layanan milik pengusaha kaya Elon Musk itu telah memiliki sekitar 8.000 satelit di orbit.

    Starlink juga telah membuka layanannya di berbagai negara dunia. Termasuk di Indonesia pada Mei 2024 lalu.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • India Akhirnya Menyerah, Starlink Beroperasi dengan Harga Murah

    India Akhirnya Menyerah, Starlink Beroperasi dengan Harga Murah

    Bisnis.com, JAKARTA – Setelah menunggu selama kurang lebih 3 tahun, akhirnya Starlink, satelit orbit rendah milik Elon Musk, kini resmi mendapatkan lisensi untuk menawarkan layanan internet satelit di India.

    Produk internet tersebut mendapatkan izin operasi setelah menteri komunikasi India, Jyotiraditya Scindia mengadakan pertemuan dengan presiden & COO SpaceX, Gwynne Shotwell pada selasa (17/06/25) lalu.

    Pertemuan tersebut membahas peluang kolaborasi India dengan Starlink dalam hal komunikasi satelit untuk mendukung ambisi digital India.

    “Dengan revolusi digital India di bawah kepemimpinan PM Narendra Modi, teknologi satelit tidak hanya relevan, tetapi juga transformatif.” tulis Jyotiraditya dalam unggahannya di akun X pribadinya.

    Starlink merupakan proyek perusahaan SpaceX, sebuah perusahaan asal Amerika Serikat yang didirikan pengusaha miliarder, Elon Musk, dan bergerak di bidang kedirgantaraan dan transportasi antariksa.

    Layanan internet tersebut menyediakan internet pita lebar (broadband) yang cepat dan berlatensi rendah. Melalui jaringan satelit canggihnya, Starlink sering disebut sebagai “internet dari langit”.

    Internet starlink bekerja dengan cara yang berbeda dari sistem satelit tradisional. Bila satelit tradisional bergantung pada satelit geostasioner yang terletak jauh dari Bumi, Starlink beroperasi dengan menggunakan konstelasi satelit orbit Bumi rendah (LEO) terbesar di dunia, yang diposisikan sekitar 550 kilometer di atas permukaan planet.

    Starlink menjadi perusahaan internet ketiga setelah Eutelsat OneWeb dan Jio Satellite Communications yang memperoleh lisensi dari Departemen Telekomunikasi di India.

    Dilansir The Economic Times, Starlink nantinya akan menyediakan layanan internet mereka dengan harga kurang dari US$10 atau sekitar Rp164.000. Mereka juga berencana menawarkan uji coba gratis selama satu bulan, yang memungkinkan pelanggan menguji layanan tersebut sebelum melakukan pembayaran.

    Harga paket yang kurang dari US$ 10 tersebut tergolong jauh lebih murah dibanding harga yang ditawarkan di negara lain. Kemungkinan ini adalah sebuah strategi dari Starlink untuk mendapatkan keuntungan sebagai pelopor.

    Ambil contoh di Lagos, Nigeria, menurut situs webnya, paket residential Starlink dengan data tak terbatas dijual seharga US$35 atau sekitar Rp 574 ribu (kurs saat ini). Paket tersebut bahkan memerlukan investasi awal berupa hardware seharga US$371 (sekitar Rp 6,1 juta).

    Sementara itu, dikutip dari Financial Express, kecepatan internet Starlink akan berkisar antara 25 Mbps hingga 220 Mbps. dengan layanan internet yang berfungsi secara independen, Starlink dinilai ideal untuk menyediakan koneksi internet yang baik, bahkan di lokasi terpencil. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Elon Musk Bangun Pabrik Raksasa di China, AS Minggir Dulu

    Elon Musk Bangun Pabrik Raksasa di China, AS Minggir Dulu

    Jakarta, CNBC Indonesia – Tesla telah meneken kesepakatan untuk membangun fasilitas pembangkit listrik untuk baterai skala grid di China, di tengah ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing.

    Dalam unggahan di Weibo, Tesla mengatakan proyek ini akan jadi yang terbesar di China ketika sudah rampung.

    Sistem penyimpanan energi baterai berskala utilitas membantu jaringan listrik untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan. Sistem ini dibutuhkan untuk menjembatani ketidaksesuaian pasokan dan permintaan yang disebabkan sumber energi tidak menentu seperti tenaga surya dan angin.

    Media China Yicai pertama kali melaporkan bahwa kesepakatan bernilai 4 miliar yuan (Rp9,1 triliun) tersebut telah ditandatangani oleh Tesla, pemerintah daerah Shanghai, dan perusahaan pembiayaan China Kangfu International Leasing.

    Tesla mengatakan pabrik baterainya di Shanghai telah memproduksi lebih dari 100 Megapack di kuartal-I (Q1) 2025. 1 Megapack bisa menyediakan hingga 1 Megawatt energi dalam 4 jam.

    “Pembangkit listrik ini mrupakan ‘pengatur cerdas’ untuk listrik perkotaan, yang dapat menyesuaikan sumber daya jaringan secara fleksibel,” kata Tesla di Weibo, dikutip dari CNBC International, Senin (23/6/2025).

    “Hal ini akan secara efektif mengatasi tekanan pasokan listrik perkotaan dan memastikan permintaan listrik yang aman, stabil, dan efisien di kota tersebut. Setelah selesai, proyek ini diharapkan menjadi proyek penyimpanan energi sisi jaringan terbesar di China,” Tesla menambahkan.

    Menurut situs web perusahaan, setiap Megapack dijual seharga kurang dari US$1 juta (Rp16,5 triliun) di AS. Harga untuk China belum tersedia.

    Kesepakatan ini penting bagi Tesla, di tengah sengitnya persaingan dengan pemain mobil listrik lokal BYD, dan produsen baterai CATL, yang menawarkan produk yang serupa.

    Kedua perusahaan asal China tersebut telah membuat rencana yang matang dalam pengembangan dan manufaktur baterai. CATL merupakan pemasok baterai kawakan yang meraup 40% pangsa pasar global.

    CATL juga berencana untuk menyuplai sel dan pack baterai yang akan digunakan pada fasilitas Megapack Tesla, menurut sumber dalam Reuters.

    Kesepakatan Tesla dengan pemerintah China juga penting di tengah ketegangan geopolitik dengan AS, setelah Presiden AS Donald Trump melancarkan perang dagang dengan mengenakan tarif impor tinggi dari China.

    Permintaan instalasi baterai skala grid sangat pesat di China. Pada Mei 2024, Beijing menetapkan target untuk menambah hampir 5 Gigawatt suplai listrik berbasis baterai hingga akhir 2025. Target itu menghasilkan kapasitas total hingga 40 Gigawatt.

    Tesla selama ini diketahui telah mengekspor Megapack ke Eropa dan Asia lewat manufakturnya baterainya di Shanghai.

    Kapasitas sistem penyimpanan energi baterai global naik 42 Gigawatt pada tahun 2023, hampir dua kali lipat total peningkatan kapasitas yang diamati pada tahun sebelumnya, menurut Badan Energi Internasional.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]