Tag: Elon Musk

  • Mitratel (MTEL) Tak Takut Demam Starlink, Infrastruktur Saling Melengkapi

    Mitratel (MTEL) Tak Takut Demam Starlink, Infrastruktur Saling Melengkapi

    Bisnis.com, JAKARTA – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. atau Mitratel (MTEL) mengaku tak khawatir dengan demam satelit orbit rendah milik Elon Musk, Starlink, yang makin merajela. 

    Informasi yang beredar jumlah pengguna Starlink telah mencapai 80.000 pengguna, dengan 2.700 diantaranya digunakan oleh Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah. 

    Pengguna Starlink yang masih bahkan membuat SpaceX menutup penerimaan pelanggan baru dari Indonesia selama 10 hari akibat kehabisan kapasitas. 

    Menanggapi hal tersebut, Direktur Investasi/Corporate Secretary Mitratel Hendra Punama mengatakan, hadirnya layanan seperti Starlink dan berbagai teknologi satelit lainnya sebagai bagian dari dinamika ekosistem konektivitas yang terus berkembang.

    “Hal ini mencerminkan adanya kebutuhan akan solusi alternatif di wilayah yang belum terjangkau infrastruktur terrestrial,” kata Hendra kepada Bisnis, Selasa (29/7/2025).

    Hendra menekankan bahwa menara telekomunikasi dan jaringan fiber optik masih menjadi tulang punggung utama penyediaan layanan telekomunikasi. Terutama, di kawasan urban dan suburban yang memerlukan stabilitas, kapasitas besar, dan kepatuhan terhadap regulasi domestik.

    Namun, Hendra melihat masing-masing teknologi memiliki keunggulan dan keterbatasan, serta dapat saling melengkapi sesuai dengan use case-nya.

    Diketahui, Mitratel membukukan pendapatan Rp2,26 triliun, naik 1,42% secara tahunan pada kuartal I/2025.  Pendapatan sewa menara telekomunikasi menyumbang Rp2,10 triliun, tumbuh 1,26% YoY.

    Sementara itu mengenai teknologi Taara yang menggunakan pendekatan Free Space Optical Communication (FSOC), Mitratel terbuka untuk mengadopsi teknoligi tersebut. 

    Mitratel melihat Taara berpotensi menjawab kebutuhan konektivitas di wilayah yang memiliki kendala geografis, seperti sungai, lembah, atau hutan.

    Mitratel memandang teknologi ini sebagai peluang yang dapat dieksplorasi lebih lanjut, terutama jika dapat melengkapi solusi yang sudah ada saat ini. 

    “Kami terbuka terhadap pendekatan kolaboratif dan tetap konsisten pada peran kami sebagai penyedia infrastruktur pasif yang mendukung efisiensi operasional dan pertumbuhan layanan operator secara berkelanjutan,” kata Hendra.

    Ke depan, Mitratel akan terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang relevan dan menjaga fleksibilitas dalam mendukung kebutuhan industri telekomunikasi nasional.

  • NASA Krisis! Hampir 4.000 Karyawan Resign Gara-gara Trump

    NASA Krisis! Hampir 4.000 Karyawan Resign Gara-gara Trump

    Jakarta, CNBC Indonesia – NASA mengonfirmasi hampir 4.000 karyawannya memutuskan untuk mengundurkan diri. Alasannya karena kebijakan pemerintahan Donald Trump untuk melakukan pemangkasan biaya dan mengurangi jumlah pegawai federal.

    Program pengunduran diri ini dilakukan selama dua putaran. Sekitar 870 karyawan resign pada putaran pertama dan berikutnya sebanyak 3.000 karyawan menyusul membuat keputusan serupa.

    Dengan begitu, jumlah pegawai negeri sipil NASA menyusut hingga 14 ribu personel. Jumlah tersebut bukan hanya yang mengikuti program pengunduran diri saja, namun juga 500 karyawan yang mengalami PHK, dikutip dari CBS News, Selasa (29/7/2025).

    Terkait hal ini, juru bicara NASA Chery Warner mengatakan pihaknya akan tetap memprioritaskan keselamatan saat lembaga tersebut mengalami perampingan. Misi ke luar angkasa juga dipastikan tetap berjalan.

    “Keselamatan tetap jadi prioritas utama bagi lembaga kami seiring menyeimbangkan kebutuhan menjadi organisasi yang lebih ramping dan efisiensi, serta memastikan mampu mengejar Era Keemasan eksplorasi dan inovasi, termasuk ke Bulan dan Mars,” jelasnya.

    Program ini diperkenalkan pada awal pemerintahan Trump oleh Departemen Efisiensi Pemerintah Gedung Putih. Mei lalu, mereka mengusulkan akan memangkas dana lembaga antariksa tersebut sebanyak 25% dari US$24 miliar (Rp 393,7 triliun) menjadi US$18 miliar (Rp 295,3 triliun) selama tahun depan.

    Di saat bersamaan, NASA juga harus menghadapi masalah krisis kepemimpinan. Trump diketahui sempat mencalonkan astronaut swasta dan miliarder Jared Isaacman sebagai administrator NASA berikutnya pada Desember lalu.

    Namun pencalonan tersebut ditarik pada bulan Mei, tepat sebelum pemungutan suara. Hal ini terjadi saat hubungan Trump dan Elon Musk, mantan kepala DOGE, yang juga teman Isaacman memburuk. 

    Akhirnya bulan ini, Trump menunjuk Sean Duffy yang juga Menteri Perhubungan untuk memimpin NASA sementara.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Kisah Jerome Kerviel yang Dijuluki Orang Termiskin di Dunia

    Kisah Jerome Kerviel yang Dijuluki Orang Termiskin di Dunia

    Jakarta

    Kalau bicara soal orang terkaya di dunia, pasti dengan mudah kita teringat sosok bos SpaceX Elon Musk, founder Amazon Jeff Bezos, sampai bos Nvidia Jensen Huang. Tapi, ketika ditanya soal siapa sosok orang termiskin di dunia, mungkin tak banyak yang mengenal siapa ia.

    Melansir The Guardian, sosok yang dijuluki orang termiskin di dunia diraih oleh Jerome Kerviel. Di usia muda, ia terjerat hutang hingga USD 6,3 miliar.

    Ceritanya begini. Société Générale (SocGen) salah satu bank terbesar di Prancis geger ketika mengungkap adanya seorang pedagang saham yang melakukan transaksi fiktif dan masif. Société Générale menemukan akun curang dan aktivitas perdagangan pada 19 Januari 2008.

    Tiga hari kemudian, mereka berusaha untuk melepas semua posisi yang kalah. Pada saat perusahaan telah membereskan semua perdagangan yang merugikan, alangkah terkejutnya mereka lihat mendapati angka kerugian yang sangat besar.

    Pada Januari 2008, SocGen mengungkap bahwa pialang bursa asal Prancis itulah yang telah membobol bank sekitar Rp 67 triliun pada waktu itu. Laki-laki yang ketika itu baru berusia 31 tahun ini juga telah mengambil posisi tidak sah di bursa berjangka, menurut bank.

    Akhirnya, pada 2010, hakim yang menangani kasusnya memvonis dia sebagai pencipta sistem jaringan penipuan. Meski begitu, melalui pengacaranya, Kerviel menolak tuduhan tersebut malah bersikeras ia membawa keuntungan sebesar £ 1,4 miliar (kira-kira Rp 24 triliun lebih) untuk Société Générale.

    Namun, Kerviel tetap dinyatakan bersalah atas tuduhan pemalsuan, pelanggaran kepercayaan dan penggunaan komputer yang ilegal. Dalam proses hukum yang berlarut-larut, Jerome Kerviel dijatuhi hukuman penjara dan diwajibkan membayar hutan sebesar USD 6,3 miliar!

    Pertimbangannya, hakim menilai Kerviel secara pasti tahu apa yang dilakukannya itu telah melampaui izinnya sebagai pialang. Dia juga disebut secara sadar menyembunyikan posisi trading-nya.

    “Kerviel dengan sengaja melampaui izinnya sebagai pialang,” jelas hakim ketua, Dominique Pauthe seperti dikutip dari Reuters.

    Perdana Menteri Prancis saat itu, François Fillon, bahkan menaruh perhatian khusus pada kasus ini. Ketika ia berbicara di Forum Ekonomi Dunia, ia berusaha meyakinkan pasar untuk tidak panik terhadap masalah Société Générale.

    Bank of France sampai-sampai menyiapkan penyelidikan dan pemerintah Prancis mengikuti situasi tersebut dengan ‘perhatian yang sangat, sangat besar’, menurut pengakuan Fillon kepada wartawan.

    “Société Générale harus menangani kasus penipuan yang sangat besar. Ini adalah kasus yang serius tetapi pada saat yang sama tidak ada hubungannya dengan situasi di pasar keuangan,” ungkapnya.

    Kendati berhasil membobol dana sebegitu besar, ternyata Kerviel bukan sosok yang jenius. Kerviel yang pernah mengenyam pendidikan di University of Lyon II, Prancis berhasil lulus pada tahun 2000 hanya dengan nilai rata-rata. Ia digambarkan sebagai sosok yang pemalu. Tak ada yang istimewa dari diri Kerviel.

    (ask/ask)

  • Perusahaan Misterius yang Pesan Chip Samsung Rp 270 T Terungkap

    Perusahaan Misterius yang Pesan Chip Samsung Rp 270 T Terungkap

    Jakarta

    Samsung mendapat kontrak sangat besar untuk memproduksi chip, nilainya mencapai USD 16,5 miliar atau sekitar Rp 270 triliun. Namun kontrak tersebut tertera kalau nama perusahaan pemesan chip itu baru bisa diungkap pada tahun 2033, saat kontraknya berakhir.

    Namun kemudian CEO Tesla Elon Musk menyebut bahwa Tesla-lah yang memesan chip dari Samsung itu. Saham Samsung pun terus melesat hingga 6% sejak kabar kontrak dari Tesla ini tersebar.

    “Fab baru Samsung di Texas akan dikhususkan untuk memproduksi chip A16 untuk Tesla generasi selanjutnya. Pentingnya langkah strategis ini sulit untuk diungkapkan,” tulis Musk dalam postingannya di X.

    Jika yang dimaksud Musk adalah pabrik chip di Taylor, Texas, yang sempat mandek pengembangannya, maka kontrak dari Tesla ini benar-benar menjadi angin segar bagi Samsung.

    Pasalnya pabrik baru Samsung itu saat ini masih ditunda operasionalnya karena Samsung kesulitan mendapat klien kelas kakap.

    “Samsung setuju untuk membolehkan Tesla membantu dalam memaksimalkan efisiensi produksi. Ini adalah poin penting, karena saya sendiri akan turun tangan untuk mengakselerasi langkah pengembangannya. Dan fab ini memang lokasinya tak jauh dari rumah saya,” tulis Musk.

    Produksi chip A16 ini memang belum diungkap, namun sebelumnya Musk menyebut kalau chip A15 akan diproduksi mulai akhir 2026. Diasumsikan kalau setelah itu barulah chip A16 akan diproduksi.

    Samsung saat ini menjadi produsen untuk chip Tesla A14, yang menjadi otak untuk sistem Full Self-Driving yang dipakai di Tesla, sementara TSMC akan memproduksi chip A15 di Taiwan, dan kemudian diproduksi di Arizona.

    Samsung sendiri sedang berusaha menggenjot tingkat keberhasilan produksi chip 2nm terbarunya. Namun menurut analis BNK Lee Min-hee, kemungkinan kontrak baru ini tak akan melibatkan produksi chip dengan teknologi terbaru.

    Sebelumnya Samsung juga kehilangan salah satu klien chipnya, yaitu Google, yang memilih untuk memproduksi chip Tensor G5 di TSMC. Tensor G5 ini akan dipakai di jajaran pixel 10 yang dirilis pada Agustus 2025 mendatang.

    Berbeda dengan chip Tensor yang dipakai di jajaran Pixel generasi sebelumnya, Tensor G5 ini didesain dari nol oleh Google. Sementara chip Tensor yang sebelumnya berbasis dari chip Exynos besutan Samsung.

    (asj/asj)

  • Tesla Pakai Chip Samsung untuk Humanoid Optimus, Nilai Kontrak Rp269,6 Triliun

    Tesla Pakai Chip Samsung untuk Humanoid Optimus, Nilai Kontrak Rp269,6 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA — Tesla telah menandatangani kesepakatan senilai US$16,5 miliar atau sekitar Rp269,6 triliun (Kurs: Rp16.000) untuk mendapatkan chip dari Samsung Electronics.

    Langkah tersebut disebut-sebut akan memperkuat kontrak bisnis raksasa teknologi Korea Selatan tersebut, dan di sisi lain juga akan membantu Tesla menjual lebih banyak kendaraan listrik.

    CEO Tesla, Elon Musk mengatakan, pabrik chip baru Samsung di Texas akan memproduksi chip AI6 generasi berikutnya untuk Tesla. Nantinya, chip tersebut akan digunakan pada kendaraan self-driving dan robot humanoid Optimus, lebih tepatnya untuk menjalankan model AI dan membuat keputusan secara real-time.

    Dalam unggahan di akun X-nya, Elon Musk menyambut baik kerjasama Tesla-Samsung, karena selain membantu dalam hal produksi, letak pabrik Samsung yang dekat dari rumahnya akan memungkinkan dia langsung turun tangan dalam proses pengembangan.

    “Angka US$16,5 miliar hanya angka minimum, output sebenarnya kemungkinannya bisa berjumlah beberapa kali lebih tinggi,” Kata Musk dalam unggahan lainnya, dilansir Reuters (29/07/25).

    Namun, meski belum ada jadwal pasti yang ditetapkan untuk produksi chip AI6, pada akhir 2026, chip AI5 generasi berikutnya akan diproduksi, yang mengindikasikan bahwa AI6 akan menyusul setelahnya.

    Analis di SK Securities, Lee Dong-Ju memperkirakan produksi chip AI6 akan dilakukan pada 2027 atau 2028, tetapi tetap ada kemungkinan pengunduran, sebab Tesla memiliki sejarah gagal mencapai targetnya.

    Selain memproduksi chip memori, Samsung juga memproduksi chip logika yang dirancang oleh pelanggan melalui bisnis pengecorannya. Proyek tersebut dilakukan untuk memperluas jangkauan chip memori utamanya ke manufaktur chip kontrak.

    Kesepakatan dengan Tesla akan membantu mengurangi kerugian pada bisnis pengecoran Samsung, yang menurut analis Kiwoom Securities, Pak Yuak, berjumlah melebihi US$3,6 miliar atau Rp58,8 triliun (Kurs: Rp16.000) pada paruh pertama tahun ini.

    Dikutip dari Techcrunch, Tesla sendiri beralih dari platform Drive Nvidia ke chip kustomnya sendiri sejak 2019 yang bernama FSD Computer (FSDC) atau Hardware 3. 

    FSDC rancangan Samsung terdiri dari dua sistem duplikat yang berdampingan pada satu papan, untuk menciptakan redudansi yang dibutuhkan sistem mengemudi otomatis.

    Sejak saat itu, perhatian perusahaan terhadap chip khusus mereka semakin meluas seiring ambisi yang juga meningkat. Chip AI menjadi inti dari upaya Tesla beralih dari hanya produsen mobil menjadi perusahaan AI dan robotika. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun)

  • Video: Elon Musk Bocorkan Kerjasama Tesla-Samsung

    Video: Elon Musk Bocorkan Kerjasama Tesla-Samsung

    Jakarta, CNBC Indonesia – Samsung Electronics telah menandatangani kontrak senilai 16,5 Miliar USD, untuk memasok semi konduktor ke Tesla. Ini terungkap dari unggahan CEO Tesla Elon Musk di platform X.

    Selengkapnya dalam program Evening Up CNBC Indonesia, Senin (28/07/2025).

  • Keluar Daftar 10 Orang Terkaya, Bill Gates Jadi Pegawai Lagi

    Keluar Daftar 10 Orang Terkaya, Bill Gates Jadi Pegawai Lagi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pendiri Microsoft, Bill Gates, kini tak lagi berada di jajaran 10 besar orang terkaya dunia. Untuk pertama kalinya dalam hampir dua dekade, nama Gates tergeser dari daftar elite tersebut. Namun alih-alih sibuk mempertahankan hartanya, Gates justru terlihat sibuk bekerja di startup milik anaknya.

    Gates bekerja sebagai staf layanan pelanggan di startup milik putri bungsunya, Phoebe Gates. Startup bernama Phia itu adalah platform belanja berbasis kecerdasan buatan (AI), yang didirikan oleh Phoebe bersama teman sekamarnya di Stanford, Sophia Kianni, pada April lalu.

    Lewat unggahan di LinkedIn, Gates menulis, “Ketika putrimu bertanya apakah kamu bersedia bekerja sebagai staf layanan pelanggan di startup-nya, satu-satunya jawaban yang tepat adalah ya.”

    Pendiri Microsoft itu mengaku ingin benar-benar terlibat dalam proyek ini demi memahami bisnis dari akar rumputnya.

    Bill turut membagikan video berisi tanggapan pengguna aplikasi Phia. Dalam video itu, seorang pengguna menyampaikan pujian atas dampak positif aplikasi tersebut. Bill menimpali dengan, “Luar biasa.” Phoebe kemudian bercanda, “Maksudnya teknologinya, bukan kamu, Ayah.”

    Dalam penutup unggahan itu, keduanya mengajak pengguna untuk terus memberikan masukan. Bill menekankan bahwa produk terbaik akan semakin baik berkat tanggapan dari pengguna. Sementara Phoebe menegaskan bahwa setiap saran akan dibaca, bahkan yang paling nyeleneh sekalipun.

    Sebelum mendirikan Phia, Phoebe sempat mempertimbangkan untuk keluar dari Stanford demi fokus pada startup-nya. Namun, Bill menentang keputusan tersebut.

    Pada masa awal Phia, Phoebe juga sempat meminta nasihat dari ibunya, Melinda, tentang bagaimana menghadapi pertanyaan berulang soal rencana menjadi ibu. Jawaban Melinda saat itu singkat dan tegas “Bangkit atau keluar dari permainan.”

    Bill Gates kini berada di posisi 13 daftar orang terkaya dunia yang dirilis Forbes secara real-time. Harta Gates disebut kini “hanya” sekitar US$ 117,9 miliar (Rp 1.927 triliun), jauh di bawah harga orang terkaya dunia Elon Musk yang mencapai US$ 405,6 miliar (Rp 6.630 triliun). 

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Video: Pasok Chip AI, Samsung Teken Kontrak USD 16,5 M Dengan Tesla

    Video: Pasok Chip AI, Samsung Teken Kontrak USD 16,5 M Dengan Tesla

    Jakarta, CNBC Indonesia- Samsung Electronics telah menandatangani kontrak senilai USD 16,5 miliar untuk memasok semi konduktor ke Tesla. Ini terungkap dari unggahan CEO Tesla, Elon Musk, di platform X.

    Selengkapnya dalam program Power Lunch CNBC Indonesia (Senin, 28/07/2025) berikut ini.

  • Starlink Lewat! Internet Taara 100 Kali Lebih Cepat dari Satelit LEO Elon Musk

    Starlink Lewat! Internet Taara 100 Kali Lebih Cepat dari Satelit LEO Elon Musk

    Bisnis.com, JAKARTA— Internet memasuki babak baru dengan kehadiran Taara, solusi konektivitas berkecepatan tinggi yang mampu menyaingi layanan satelit seperti Starlink. 

    Melansir laman resmi Taara, Senin (28/7/2025) berbeda dengan Starlink yang mengandalkan jaringan satelit di orbit, 

    Taara memanfaatkan pancaran cahaya untuk mentransmisikan data dalam jumlah besar antara dua terminal ringkas. 

    Sistem dua cermin yang dipadukan dengan algoritma prediktif menjaga agar pancaran cahaya tetap sejajar dengan presisi tinggi.

    Taara Lightbridge diklaim mentransfer data secepat cahaya, menghadirkan komunikasi dua arah yang mulus untuk konektivitas berperforma tinggi dengan kecepatan 20 Gbps.Teknologi ini disebut mampu menjangkau jarak hingga 20 kilometer dengan aman, sambil menjaga koneksi tetap stabil dan andal.

    Dengan konsumsi daya setara lampu bohlam yakin 40 W, perangkat ini dapat dipasang hanya dalam hitungan jam tanpa perlu menggali tanah, mengurus lisensi spektrum, atau izin jalur. Taara disebut memberikan konektivitas dengan keandalan 99,99%. 

    Arsitektur hibrida dan pengaturan kecepatan adaptif memastikan koneksi tetap tangguh dalam berbagai kondisi cuaca baik hujan, cerah, maupun berkabut.

    Taara  dikembangkan di bawah pusat inovasi lab X Alphabet, Google. Proyek tersebut diluncurkan sekitar pertengahan Maret 2025. 

    Kala itu, CEO Taara, Mahesh Krishnaswamy, mengumumkan perusahaannya telah mendapatkan pendanaan dari Series X Capital untuk memperluas jangkauan dan pengembangan teknologi komunikasi optik nirkabel berbasis cahaya. Teknologi ini mampu menghadirkan konektivitas internet berkecepatan tinggi dan kapasitas besar melalui sinar cahaya bahkan hingga jarak 20 kilometer.

    “Taara lahir dari inspirasi proyek Loon, dan sejak awal, kami fokus untuk menguji langsung teknologi ini di lapangan bersama mitra global,” kata Krishnaswamy. 

    Krishnaswamy menekankan kebutuhan akan data semakin meningkat, namun pemasangan kabel fiber optik seringkali mahal, sulit, atau bahkan tidak mungkin dilakukan karena kondisi geografis. Di sinilah teknologi Taara hadir sebagai solusi. 

    Dengan sinar cahaya yang dipancarkan antar menara, sistem ini dapat menghadirkan kecepatan hingga 20 gigabit per detik tanpa perlu menggali tanah atau menarik kabel bawah laut. Unit perangkat mereka, yang dinamai Lightbridge, hanya membutuhkan beberapa jam untuk dipasang dan bisa menjangkau lokasi-lokasi yang sebelumnya sulit terhubung.

    Ilustrasi pemanfaatan Taara di berbagai infrastruktur telekomunikasi

    Meskipun teknologi Taara berbeda dari sistem satelit milik Starlink, Krishnaswamy percaya Taara bisa menjadi pesaing serius. 

    “Kami mampu memberikan bandwidth 10 hingga 100 kali lebih besar dibanding antena Starlink, dan biayanya jauh lebih murah,” katanya kepada Wired.

    Saat ini, Taara telah mengoperasikan ratusan unit di lebih dari 12 negara, bekerja sama dengan berbagai operator besar seperti Airtel, Liquid Intelligent Technologies, Liberty Networks, T-Mobile, dan Vodafone. Taara merupakan kelanjutan dari semangat inovatif Proyek Loon, yang dahulu menggunakan balon udara di stratosfer untuk menyebarkan internet ke daerah terpencil. 

    Meski Loon ditutup oleh Alphabet pada Januari 2021, teknologi lasernya kini menjadi inti dari sistem komunikasi optik milik Taara. Tak hanya Taara, warisan teknologi Loon juga diteruskan oleh Aalyria, perusahaan lain yang juga dipisahkan dari Alphabet pada 2022. 

    Aalyria berfokus pada pengelolaan jaringan mesh dari satelit dan wahana udara, untuk menciptakan sistem konektivitas yang mampu menjangkau daerah tanpa infrastruktur internet.

  • Internet Murah 100 Kali Lebih Cepat dari Starlink Bikin Heboh

    Internet Murah 100 Kali Lebih Cepat dari Starlink Bikin Heboh

    Jakarta, CNBC Indonesia – Internet berbasis satelit membawa perubahan besar di sektor telekomunikasi. Popularitasnya menjulang gara-gara layanan Starlink dari SpaceX, perusahaan milik Elon Musk.

    Internet berbasis satelit mampu menyalurkan akses internet ke area remot yang sulit dijangkau oleh infrastruktur darat. Namun, ternyata ada yang lebih canggih daripada internet berbasis satelit.

    Taara, startup spin-off dari Alphabet (Google), memperkenalkan internet berbasis laser yang mampu menghadirkan internet super cepat. Digadang-gadang, kecepatannya mampu mengalahkan jaringan berbasis satelit, maupun serat optik (optic-fiber).

    Berbeda dengan sistem serat optik tradisional yang memerlukan penggalian yang mahal dan memakan waktu untuk memasang kabel, pendekatan Taara mengandalkan teknologi yang disebut Lightbridges.

    Lebih Cepat dari Starlink, Lebih Murah dari Serat Optik

    Menurut Interesting Engineering, perangkat ini menggunakan berkas cahaya terfokus untuk mengirimkan data dengan kecepatan hingga 20 gigabit per detik (Gbps) dalam jarak 20 kilometer. Sistem ini dirancang untuk dipasang di atap atau tiang, dengan tetap menjaga garis pandang tanpa halangan, dikutip dari Indian Defence Review, Senin (28/7/2025).

    Salah satu klaim Taara yang paling disorot adalah sistemnya dapat menghadirkan kecepatan data 10 hingga 100 kali lebih cepat daripada Starlink. Hal ini akan menjadi terobosan baru, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil yang tertinggal dari infrastruktur broadband tradisional.

    Namun, ini bukan hanya soal kecepatan. Taara juga berjanji untuk melakukan semua ini dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada kabel serat optik, yang mahal dan rumit untuk dipasang.

    Sistem ini sangat cocok untuk lokasi-lokasi dengan geografis menantang. Misalnya lokasi yang melintasi sungai, lembah, atau di antara gedung-gedung tinggi, sehingga pemasangan kabel tidak praktis atau mustahil.

    Teknologi Taara telah diuji di wilayah seperti Kinshasa, Kongo; serta Nairobi, Kenya. Keduanya sudah lama mengalami tantangan dalam pembangunan infrastruktur pita lebar. Hasilnya memuaskan. Internet berkecepatan tinggi dan stabil mampu tersedia di saat solusi lain masih sulit menjangkau wilayah tersebut.

    Internet Berubah Total

    Ke depan, Taara berencana untuk mengekspansi teknologinya agar lebih mudah diakses. Pada 2026 mendatang, perusahaan berencana merilis versi miniatur sistem Lightbridge-nya, dalam bentuk chip seukuran ujung jari.

    Terobosan ini dapat membuat internet Taara ini makin mudah diterapkan, menghadirkan internet cepat ke tempat-tempat yang mungkin tidak membutuhkan sistem skala penuh. Chip ini akan beroperasi menggunakan bagian spektrum elektromagnetik yang terletak di antara inframerah dan cahaya tampak, tetap menawarkan kecepatan 20 Gbps pada jarak hingga 20 kilometer.

    Versi baru teknologi ini menandai lompatan besar dari sistem Taara saat ini, yang mengandalkan dudukan dan optik yang lebih besar. Dengan menciptakan solusi plug-and-play, Taara dapat membuka peluang bagi pengguna perumahan dan komersial, menghilangkan kebutuhan akan infrastruktur yang rumit dan menawarkan kemungkinan peluncuran internet yang cepat.

    Meskipun Starlink dan layanan internet satelit lainnya sering dianggap sebagai solusi untuk daerah terpencil, Taara justru sedang mengukir ceruk pasarnya sendiri.

    Alih-alih menyediakan jangkauan global, Taara berfokus pada solusi last-mile, yakni daerah yang membutuhkan internet berkecepatan tinggi tetapi infrastruktur tradisionalnya terlalu mahal atau sulit diimplementasikan. Sistem perusahaan ini ideal untuk komunitas kecil, tempat acara, dan kawasan industri.

    Mahesh Krishnaswamy, pendiri Taara, menyuarakan perlunya internet cepat dan terjangkau untuk menjangkau 3 miliar orang yang masih belum memiliki konektivitas yang andal.

    Dalam sebuah wawancara, ia menekankan bahwa sistem Taara dapat menawarkan kecepatan 10 hingga 100 kali lebih cepat daripada antena Starlink biasa dan dengan biaya yang jauh lebih murah. Bagi desa-desa terpencil dan kota-kota kecil, teknologi ini dapat menjadi jembatan yang akhirnya menghubungkan mereka dengan dunia digital.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]