Tag: Elon Musk

  • Elon Musk Tolak Bayar Rp 970 Miliar Sekarang Ditagih Rp 3,9 Triliun

    Elon Musk Tolak Bayar Rp 970 Miliar Sekarang Ditagih Rp 3,9 Triliun

    Jakarta, CNBC Indonesia – Tesla harus membayar US$243 juta (Rp 3,9 triliun) atas kasus kecelakaan maut terkait fitur Autopilot Tesla pada 2019. Sebelumnya, raksasa mobil listrik milik Elon Musk pernah menolak membayar uang penyelesaian sebesar US$60 juta (Rp 970 miliar).

    pengacara penggugat mengungkapkan adanya proposal penyelesaian yang jadi bagian dari biaya hukum Tesla. Mereka mengklaim memiliki hak atas biaya hukum pada 30 Mei saat penyelesaian diusulkan, berdasarkan hukum yang berada di Florida, dikutip dari Reuters, Selasa (26/8/2025).

    Pengadilan itu terkait kecelakaan yang melibatkan unit Tesla Model S pada April 2019. Mobil itu memiliki software bantuan pengemudi Autopilot.

    Saat itu mobil menabrak Chevrolet Tahoe milik para korban yang sedang parkir. Dua orang menjadi korban karena kasus tersebut, yakni Naibel Benavides Leon yang tewas dan pasanya Dillon Angulo mengalami luka berat.

    Para ahli waris dari para korban mendapatkan kompensasi dari juri sebesar US$129 juta. Mereka juga mendapatkan ganti rugi punitif US$200 juta.

    Tesla sendiri disebut memiliki tanggung jawab 33% untuk ganti rugi. Besarannya mencapai US$42,6 juta dan seluruh uang ganti rugi punitif.

    Sisa tanggung jawab berada di tangan pengemudi. Namun dalam kasus ini dia bukan terdakwa.

    Tesla membela diri dan mengatakan tidak melakukan kesalahan apapun. Perusahaan juga akan mengajukan banding dengan putusan terbaru.

    “Putusan hanya menghambat keselamatan otomotif dan membahayakan upaya Tesla dan seluruh industri mengembangkan dan penerapan teknologi untuk menyelamatkan nyawa,” jelas pihak Tesla.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Pengganti Starlink Sudah Lebih Canggih, Elon Musk Minggir

    Pengganti Starlink Sudah Lebih Canggih, Elon Musk Minggir

    Jakarta, CNBC Indonesia – Starlink punya penantang baru yang lebih canggih. Berasal dari Swedia, sistem komunikasi itu jauh lebih ringkas dan bisa dibawa ke mana-mana.

    Startup TERASi meluncurkan sistem RU1. Sistem radio gelombang itu diklaim sebagai yang terkecil dan teringan di dunia.

    “RU1 digunakan dalam hitungan menit untuk menjaga unit tetap terhubung pada lingkungan yang cepat berubah,” kata CEO dan salah satu pendiri TERASi, James Campion dikutip dari The Next Web, Jumat (22/8/2025).

    Perangkatnya berbentuk kotak kecil yang bisa dipasang dimanapun. Misalnya dengan menggunakan tripod atau drone.

    The Next Web menuliskan RU1 dapat terhubung dengan jaringan mesh yang menyediakan bandwidth untuk aplikasi penting seperti video drone langsung, pengendali otonom dan fusi data sensor.

    Perangkat RU1 memiliki antena yang terfokus pada pancaran sinar seperti laser yang sempit. Jadi dipastikan sulit diganggu dan dicegat pihak lain.

    Sementara kecepatan datanya diklaim mencapai 10 Gbps, 50 kali dari Starlink. Bahkan menjanjikan versi terbarunya bisa memiliki kecepatan 20 Gbps.

    Selain itu juga memiliki latensi di bawah 5 milidetik. Campion mengatakan ini krusial untuk penggunaan deteksi drone.

    Perusahaan juga menyediakan keamanan yang tidak dimiliki Starlink. Pengguna dipastikan memiliki kendali penuh dan orang lain tidak bisa mengontrol jaringan.

    “RU1 memberi pengguna kendali atas komunikasi dengan menciptakan jaringan aman berkecepatan tinggi yang dimiliki dan kelola sendiri, tanpa dimasuki penyedia pihak ketiga seperti Starlink yang bisa dimatikan atau batasi dari jarak jauh, seperti pada insiden di Ukraina tahun 2022,” jelasnya.

    Pada 2022, beberapa waktu setelah pasokan tersedia di Ukraina, Elon Musk yang juga CEO SpaceX menghentikan cakupan Starlink di negara tersebut. Ini terjadi saat serangan balasan di Kherson, membuat gangguan pada drone pengintai, artileri bertarget, dan koordinasi pasukan.

    Tak lama setelah kejadian itu, Musk menolak permintaan mengaktifkan Starlink dekat Krimea. Dia juga diduga diminta Vladimir Putin membatasi jangkauan di Taiwan.

    Layanan TERASi tak hanya bisa digunakan untuk militer. Dapat digunakan pula untuk penanggulangan bencana, karena dapat memulihkan tautan gigabit untuk petugas tanggap darurat tanpa menunggu jaringan dari satelit atau perbaikan jaringan serat optik.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Elon Musk Bentuk Perusahaan Perangkat Lunak Macrohard, Siap Saingi Microsoft – Page 3

    Elon Musk Bentuk Perusahaan Perangkat Lunak Macrohard, Siap Saingi Microsoft – Page 3

    Pemilihan nama “Macrohard” menjadi sebuah pernyataan perang yang secara langsung, karena sudah jelas nama ini merupakan bentuk sindiran dan tantangan terbuka ditujukan langsung kepada Microsoft.

    Elon Musk juga mengklaim bahwa perusahaannya bisa menyimulasikan Microsoft, alasannya karena mereka dianggap tidak memproduksi perangkat keras fisik secara mandiri.

    Pernyataan tersebut tentu saja mengabaikan fakta penting, karena pada dasarnya, Microsoft memiliki lini produk perangkat keras yang sangat sukses seperti konsol game Xbox dan perangkat Surface.

    Retorika kompetitif ini menunjukkan bahwa Musk tidak berniat menjalin kolaborasi, sebaliknya ia memposisikan xAI sebagai alternatif utama dari ekosistem AI yang ada, menambahkan preferensi untuk pengguna.

    Microsoft sendiri merupakan investor terbesar di OpenAI, menjadikannya pemimpin dominan di dalam aliansi ini. Selain itu, ia juga menguasai sebagian besar pasar kecerdasan buatan generatif saat ini.

    Oleh karena itu, langkah Musk dapat dilihat sebagai upaya untuk mendobrak dominasi tersebut. Dari apa yang terlihat, seperitnya ia ingin menciptakan  kekuatan baru dalam lanskap teknologi AI global.

  • Elon Musk Mengamuk, Blak-blakan Tunjuk Apple dan OpenAI

    Elon Musk Mengamuk, Blak-blakan Tunjuk Apple dan OpenAI

    Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) milik Elon Musk, xAI, menggugat Apple dan OpenAI pada Senin (25/8). Dalam gugatan tersebut, Apple dan OpenAI dituduh melakukan skema antipersaingan untuk menghambat rival di industri AI.

    Dalam dokumen gugatan yang diajukan bersama platform media sosial X, Musk menyebut Apple dan OpenAI telah berkolusi untuk mempertahankan monopoli di pasar smartphone dan AI generatif. Startup xAI sendiri mengakuisisi X pada Maret lalu lewat transaksi berbasis saham.

    Gugatan itu menuding Apple menurunkan peringkat aplikasi super dan pesaing chatbot AI generatif, termasuk Grok milik xAI, di App Store. Sebaliknya, Apple justru memberi keuntungan bagi OpenAI dengan mengintegrasikan ChatGPT ke dalam produk-produknya.

    “Dalam upaya putus asa melindungi monopoli smartphone-nya, Apple telah bergabung dengan perusahaan yang paling diuntungkan dari upaya menekan persaingan dan inovasi AI: OpenAI, monopolis di pasar chatbot AI generatif,” tulis gugatan yang didaftarkan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara Texas, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (26/8/2025).

    Juru bicara OpenAI menanggapi bahwa gugatan ini sejalan dengan “pola pelecehan” yang terus dilakukan Musk. Sementara itu, Apple belum memberikan komentar.

    Musk meluncurkan xAI pada 2023 untuk menyaingi OpenAI dan pemain besar lainnya di sektor chatbot. Awal bulan ini, ia juga sempat mengancam menggugat Apple atas “pelanggaran antitrust yang jelas” karena dianggap menghalangi perusahaan AI lain selain OpenAI untuk menempati posisi teratas di App Store.

    Menanggapi ancaman itu, CEO OpenAI Sam Altman mengatakan klaim Musk sangat luar biasa, mengingat ada tuduhan bahwa Musk justru memanipulasi X untuk kepentingan dirinya sendiri dan perusahaannya, sekaligus merugikan pesaing.

    Sebelumnya, Apple menegaskan App Store dirancang agar adil dan bebas dari bias serta menampilkan ribuan aplikasi dengan berbagai indikator. Tahun lalu, Apple menggandeng OpenAI untuk mengintegrasikan ChatGPT ke dalam iPhone, iPad, serta Mac.

    Namun, sejumlah pengguna melalui fitur Community Notes di X menyebut bahwa aplikasi chatbot pesaing seperti DeepSeek dan Perplexity tetap mampu menduduki peringkat pertama di App Store setelah kemitraan Apple-OpenAI diumumkan.

    Gugatan ini menjadi babak terbaru dalam perseteruan panjang Musk dengan Altman. Musk yang ikut mendirikan OpenAI pada 2015 keluar pada 2018 akibat perbedaan visi. Tahun lalu, ia juga menggugat OpenAI dan Altman atas tuduhan melanggar kontrak karena lebih mementingkan kepentingan komersial dibanding misi awal mengembangkan AI untuk “kepentingan umat manusia secara luas.”

    Sebagai balasan, OpenAI menuding Musk dan xAI melakukan pelecehan melalui litigasi, serangan di media sosial, serta tawaran palsu untuk membeli OpenAI senilai US$97,4 miliar yang disebut bertujuan merusak hubungan bisnis perusahaan.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Elon Musk Gugat Apple dan Pembuat ChatGPT, Ada Apa?

    Elon Musk Gugat Apple dan Pembuat ChatGPT, Ada Apa?

    Jakarta

    Dua perusahaan milik Elon Musk menggugat Apple dan OpenAI atas tuduhan skema anti-persaingan untuk menciptakan monopoli dan mencegah kompetisi di industri kecerdasan buatan.

    Gugatan tersebut dilayangkan oleh startup AI xAI dan perusahaan media sosial X, dua-duanya milik Musk, yang menuding Apple dan OpenAI telah berkomplot untuk mempertahankan monopoli di pasar ponsel dan AI generatif.

    Dalam gugatan yang diajukan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Utara Texas, perusahaan Musk menuduh Apple mengabaikan ‘super apps’ dan aplikasi chatbot AI kompetitor seperti Grok milik xAI di daftar aplikasi populer App Store.

    Tidak hanya itu, perusahaan Musk juga mengklaim Apple lebih mengutamakan OpenAI dengan mengintegrasikan ChatGPT ke produk Apple. Mereka berargumen pengguna iPhone tidak punya alasan untuk download aplikasi AI pihak ketiga karena Apple memaksa pengguna untuk memakai ChatGPT sebagai aplikasi chatbot default.

    “Dalam upaya putus asa untuk melindungi monopoli ponselnya, Apple telah berkolaborasi dengan perusahaan yang akan paling diuntungkan dengan menghambat persaingan dan inovasi dalam AI: OpenAI, perusahaan monopoli di pasar chatbot AI generatif,” tulis gugatan Musk, seperti dikutip dari CNBC, Selasa (26/8/2025).

    Beberapa waktu yang lalu, Musk mengancam akan mengambil tindakan hukum terhadap Apple karena produsen iPhone itu dituduh memanipulasi peringkat App Store untuk mengutamakan ChatGPT, dan menyulitkan aplikasi lain untuk mendapatkan peringkat satu.

    Gugatan tersebut menambahkan meskipun aplikasi X dan Grok mendapatkan peringkat tinggi, kedua aplikasi itu tidak muncul di bagian ‘Must Have Apps’ di App Store, di mana ChatGPT diduga sebagai satu-satunya chatbot AI yang ada di bagian tersebut pada 24 Agustus 2025.

    Namun, sejumlah pengguna X membalas postingan Musk dengan mengatakan aplikasi chatbot kompetitor seperti DeepSeek dan Perplexity pernah menjadi aplikasi nomor satu di App Store setelah Apple dan OpenAI mengumumkan kemitraan mereka.

    “Gugatan terbaru ini konsisten dengan pola pelecehan yang terus dilakukan oleh Tuan Musk,” kata juru bicara OpenAI Kayla Wood. Apple belum mengomentari gugatan Musk, namun sebelumnya mereka mengklaim App Store dirancang agar adil dan bebas dari bias, dan mereka menampilkan ribuan aplikasi menggunakan berbagai sinyal.

    (vmp/vmp)

  • Bukan Tesla, Sumber Duit Elon Musk di Ujung Tanduk

    Bukan Tesla, Sumber Duit Elon Musk di Ujung Tanduk

    Jakarta, CNBC Indonesia – SpaceX batal melakukan peluncuran misi kesepuluh Starship dari Texas pada Minggu (25/8/2025) waktu setempat akibat masalah teknis di sistem darat.

    Roket Super Heavy setinggi 70,7 meter dan tahap atas Starship setinggi 52 meter sejatinya dijadwalkan lepas landas pukul 19.35 waktu setempat. Namun sekitar 30 menit sebelum peluncuran, SpaceX melalui X mengumumkan pembatalan tersebut, demikian dikutip dari Reuters, Senin (25/8/2025).

    Perusahaan milik Elon Musk itu tidak menyebutkan kapan jadwal uji coba berikutnya akan dilakukan. Dari pengalaman sebelumnya, penundaan biasanya berlangsung hanya beberapa hari.

    Starship merupakan roket generasi baru yang menjadi kunci ambisi Musk menuju Mars sekaligus proyek penting bagi NASA. Lembaga antariksa AS itu berharap dapat menggunakan Starship untuk misi pendaratan awak ke bulan pertama sejak era Apollo pada 2027.

    Namun, pengembangan Starship masih menghadapi sejumlah hambatan. Tahun ini, uji coba Starship mengalami dua kegagalan di tahap awal penerbangan, satu kegagalan di luar angkasa pada penerbangan kesembilan, serta insiden ledakan di landasan uji pada Juni lalu.

    Starship menjadi kunci ambisi Elon Musk untuk kolonisasi Mars sekaligus andalan NASA dalam misi mengembalikan astronot Amerika ke Bulan dengan versi modifikasi.

    Namun, sejumlah analis menilai tekanan terhadap proyek ini makin besar setelah serangkaian uji coba yang berakhir gagal.

    Sebelum peluncuran yang dibatalkan, Dallas Kasaboski, analis ruang angkasa dari Analysys Mason, menyebut reputasi SpaceX mulai tergerus.

    “Ada banyak tekanan pada misi ini. Sejauh ini, keberhasilan belum melampaui kegagalan,” ujarnya.

    Komentar lebih tajam datang dari Will Lockett, mantan insinyur yang kini menjadi komentator. Ia menilai kegagalan Starship mengirimkan muatan ke orbit menunjukkan konsep roket ini memiliki cacat fundamental.

    Meski begitu, Musk tetap mempertaruhkan masa depan SpaceX pada Starship. Ia berencana menghentikan penggunaan roket generasi lama dan sepenuhnya beralih ke sistem baru tersebut.

    Namun, sekalipun uji coba kesepuluh nantinya berhasil, sejumlah rintangan teknis besar masih menanti, mulai dari memastikan sistem dapat digunakan kembali secara penuh dan cepat dengan biaya rendah, hingga membuktikan kemampuannya mengisi ulang propelan super-dingin di orbit, yang menjadi syarat penting untuk misi ke ruang angkasa jauh.

    Meski demikian, SpaceX terus melaju dengan meningkatkan frekuensi peluncuran, walaupun menuai kritik dari kelompok lingkungan terkait dampak ekologis.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Elon Musk Gugat Apple dan OpenAI, Tuding Hambat Persaingan Chatbot AI

    Elon Musk Gugat Apple dan OpenAI, Tuding Hambat Persaingan Chatbot AI

    Bisnis.com, JAKARTA – Elon Musk menggugat Apple Inc. dan OpenAI dengan tuduhan memberikan perlakuan tidak adil kepada perusahaan kecerdasan buatan (AI) tersebut di perangkat iPhone serta menghambat persaingan bagi pengembang chatbot lainnya.

    Perusahaan milik Musk, X dan xAI, menuntut ganti rugi miliaran dolar dalam gugatan yang diajukan pada Senin (25/8/2025) waktu setempat di pengadilan federal Fort Worth, Texas. 

    Melansir Bloomberg pada Selasa (26/8/2025), gugatan itu menuding keputusan Apple mengintegrasikan OpenAI ke dalam sistem operasi iPhone menghambat persaingan dan inovasi industri AI serta merugikan konsumen karena terbatasnya pilihan.

    Dalam gugatannya, tim hukum Musk menyatakan bahwa kesepakatan eksklusif Apple dan OpenAI menjadikan ChatGPT satu-satunya chatbot AI generatif yang terintegrasi di iPhone serta mengunci pasar untuk mempertahankan monopoli dan mencegah inovator seperti X dan xAI bersaing.

    “Perilaku Apple menghambat pertumbuhan AI dan super apps dengan cara membiarkan OpenAI mempertahankan monopoli serta menekan inovasi dan investasi di chatbot AI generatif yang berpotensi berkembang menjadi super apps pengganti fungsi iPhone,” demikian isi gugatan Musk.

    Selain ganti rugi finansial, gugatan Musk juga meminta pengadilan memerintahkan Apple dan OpenAI menghentikan apa yang disebut sebagai kesepakatan ilegal.

    Musk, pendiri xAI Holdings yang menaungi tim Grok AI dan platform media sosial X, menuduh Apple membuat aplikasi selain ChatGPT mustahil menembus peringkat teratas App Store, yang selama ini menjadi sorotan global bagi pengembang aplikasi.

    Kasus ini diperkirakan akan menjadi pertarungan hukum besar antara orang terkaya di dunia dan salah satu perusahaan dengan valuasi tertinggi di pasar global.

    Apple dan OpenAI — yang aplikasi ChatGPT-nya menjadi aplikasi iPhone gratis paling banyak diunduh di AS — diketahui menjalin kemitraan AI dalam seri iPhone terbaru. Musk memiliki perseteruan panjang dengan CEO OpenAI Sam Altman sejak keduanya berpisah setelah mendirikan OpenAI bersama sekitar satu dekade lalu.

    “Pengajuan gugatan terbaru ini sejalan dengan pola pelecehan yang terus dilakukan Musk,” kata juru bicara OpenAI dalam pernyataan resminya. 

    Adapun, hingga saat ini Apple belum memberikan komentar terkait gugatan Musk tersebut.

    Apple sebelumnya juga kerap berhadapan dengan regulator di berbagai negara terkait tuduhan bahwa App Store mematikan persaingan aplikasi di ponsel pintar. Produsen iPhone itu juga terlibat sengketa hukum selama lima tahun dengan Epic Games, pembuat gim Fortnite, terkait dominasi App Store.

    Beberapa tuduhan Musk meniru argumen gugatan Departemen Kehakiman AS terhadap Apple. Pada Maret 2023, pemerintah AS menggugat Apple di pengadilan federal New Jersey dengan tuduhan memonopoli pasar ponsel pintar dengan cara memblokir akses pesaing terhadap perangkat keras dan fitur perangkat lunaknya.

    Menurut gugatan pemerintah, Apple menggunakan kontrol distribusi aplikasi untuk menghambat inovasi yang bisa mempermudah konsumen berpindah ponsel, termasuk dengan memblokir “super apps.” Musk juga menuding Apple melakukan praktik serupa yang menghambat pertumbuhan aplikasi serba ada seperti X.

    Apple sendiri pada tahun lalu mengumumkan kerja sama dengan OpenAI untuk mengintegrasikan ChatGPT ke dalam Apple Intelligence di iPhone. Dalam kesaksiannya pada Mei lalu, Eddy Cue, Wakil Presiden Senior Apple untuk Layanan, menyebut kesepakatan itu tidak eksklusif dan Apple bisa mengintegrasikan aplikasi AI lain bila menginginkannya.

    Gugatan Musk ini muncul setelah pada 11 Agustus dia melontarkan kritik di media sosial, mempertanyakan apakah Apple bermain politik dengan tidak menyoroti produk-produknya. 

    Apple menegaskan App Store dirancang adil dan bebas bias. Altman merespons unggahan Musk dengan menyindir cara Musk mengelola X, yang dinilainya digunakan untuk kepentingan pribadi.

  • SpaceX Tunda Uji Terbang Ke-10 Starship karena Masalah Sistem

    SpaceX Tunda Uji Terbang Ke-10 Starship karena Masalah Sistem

    JAKARTA – Uji terbang Starship yang kesepuluh seharusnya digelar pada Senin, 25 Agustus di pagi hari. Namun, peluncuran ini terpaksa ditunda karena adanya masalah yang dihadapi SpaceX.

    Melalui akun resminya di X, sebelumnya dikenal sebagai Twitter, SpaceX mengatakan bahwa mereka harus menunda peluncuran Starship. Penundaan ini pun diumumkan sekitar beberapa menit sebelum peluncuran dilakukan.

    “Berhenti dari penerbangan kesepuluh Starship hari ini untuk memberikan waktu untuk memecahkan masalah dengan sistem darat,” kata SpaceX pada hari peluncuran, tepatnya sekitar pukul 06.13 WIB.

    Pengumuman ini pun disampaikan setelah SpaceX mempersiapkan liputan langsung peluncurannya. Bahkan, perusahaan milik Elon Musk itu telah memuat propelan tahap atas dari roket berukuran raksasa tersebut.

    Roket Starship dan booster Super Heavy sudah berada di landasan peluncuran di fasilitas Starbase, Texas Selatan. Menurut hasil pantauan Space, penundaan terjadi sekitar 17 menit sebelum roket lepas landas.

    Penundaan jadwal peluncuran merupakan hal yang biasa terjadi, baik karena masalah di landasan peluncuran ataupun karena cuaca antariksa yang tidak begitu baik. Jika roket tetap diluncurkan, hal ini akan menimbulkan bahaya.

    Roket bisa saja meledak saat diluncurkan atau saat masih berada di landasan peluncuran. Masalah ini perlu dihindari untuk memastikan keselamatan para pekerja dan lingkungan di sekitarnya.

    SpaceX kini menargetkan peluncuran pada hari berikutnya, yakni pada Selasa, 26 Agustus pada waktu yang sama. Starship dan pendorong Super Heavy akan lepas landas pada pukul 06.30 WIB.

    Tujuan dari uji terbang kesepuluh ini mirip dengan misi penerbangan sebelumnya. Rencananya, booster Super Heavy akan mendarat di Teluk Meksiko sekitar 6,5 menit setelah lepas landas. Sementara itu, bagian atas roket Starship akan mendarat secara terkendali di Samudra Hindia.

    Ada beberapa tujuan tambahan yang sangat penting dalam misi ini. Starship juga akan melepaskan delapan versi tiruan satelit internet Starlink selama perjalanannya. Selain itu, roket akan melakukan uji penyalaan kembali mesin di luar angkasa.

  • Elon Musk Sudah 8 Tahun Tak Digaji, Adiknya Tagih Marah-Marah

    Elon Musk Sudah 8 Tahun Tak Digaji, Adiknya Tagih Marah-Marah

    Jakarta, CNBC Indonesia – Adik Elon Musk, Kimbal membela kakaknya soal paket upah CEO. Meski mengembalikan keputusan kepada pemegang saham Tesla, dia mengatakan Elon pantas menerima upah fantastis.

    Sebagai CEO, Elon tidak mendapatkan gaji atau bonus tunai, tetapi diberikan ‘penghargaan kinerja’ yang berupa opsi saham. Ini diberikan berdasarkan pencapaian raksasa mobil listrik pada periode tertentu.

    “Saya rasa kakak saya pantas dibayar,” kata Kimbal dikutip dari CNBC Internasional, Senin (25/8/2025).

    “Dia tidak menerima gaji sama sekali selama enam hingga delapan tahun terakhir. Saya rasa itu tidak tepat. Biarkan pemegang saham Tesla yang memutuskan, namun saya yakin itu perlu. Dia harus dibayar,” dia menambahkan.

    Pada awal bulan ini, Tesla telah memberikan paket bayaran interim sebanyak 96 lembar saham atau sekitar US$29 miliar (Rp 471,4 triliun). Anggota komitme Robyn Denholm dan Kathleen Wilson-Thompson mengatakan rencana pembayaran telah disetujui pihak “komite khusus.” Elon dan Kimbal, yang memiliki hak suara, tidak menggunakan hak suaranya dalam voting tersebut.

    Pengadilan Delaware pernah memerintahkan Tesla mencabut paket upah Elon pada Desember. Saat itu dia mendapatkan US$56 miliar (Rp 910,4 triliun) dari 2018, yang disebut terbesar dalam sejarah AS.

    Minggu ini, kelompok investasi yang bekerja dengan dana pensiun, SOC Investment Group mengirimkan surat pada Nasdaq. Mereka meminta dewan direksi seharusnya meminta persetujuan pemegang saham untuk paket baru CEO.

    Elon sendiri pernah meminta gaji dan kendali lebih besar pada Tesla bulan Januari tahun lalu. Kemampuannya saat itu kurang berpengaruh untuk perusahaan.

    “Saya merasa tak nyaman mengembangkan Tesla jadi pemimpin untuk AI dan robotika tanpa punya kendali suara sekitar 25%. Cukup berpengaruh tapi tak terlalu berpengaruh membuat saya tidak bisa digulingkan. Kecuali masalahnya itu, saya lebih senang mengembangkan produk di luar Tesla,” jelasnya.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • TikTok PHK Ratusan Karyawan Moderasi Konten, Bakal Digantikan AI

    TikTok PHK Ratusan Karyawan Moderasi Konten, Bakal Digantikan AI

    Bisnis.com, JAKARTA— TikTok dilaporkan kembali memangkas ratusan karyawan di tim moderasi konten seiring dengan pergeseran perusahaan ke teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

    Melansir laman PC Mag pada Senin (25/8/205) langkah tersebut mengikuti tren sejumlah raksasa media sosial lain, seperti Meta yang mengurangi jumlah karyawan moderasi konten dan menggantinya dengan sistem moderasi berbasis komunitas.

    Tak hanya itu, X milik Elon Musk juga kini hanya memiliki tim moderasi konten jauh lebih kecil dibandingkan era Twitter. Menurut laporan The Wall Street Journal, kebijakan TikTok kali ini terutama berdampak pada anggota tim moderasi konten berjumlah 2.500 orang yang berbasis di Inggris. 

    Namun, sejumlah karyawan moderasi konten dari Asia Selatan dan Asia Tenggara juga diperkirakan ikut terkena dampak, meskipun jumlah pastinya belum diungkapkan. TikTok mengklaim lebih dari 85% konten yang dihapus karena melanggar pedoman komunitas sudah diidentifikasi dan diturunkan oleh AI. 

    Ini bukan kali pertama ByteDance, induk usaha TikTok, memangkas tim moderasinya demi otomatisasi. Pada akhir 2024, perusahaan mem-PHK sekitar 500 karyawan di Malaysia. Sementara pada Juli lalu, serikat pekerja ver.di menyebut sekitar 150 pegawai di kantor TikTok Berlin, Jerman juga akan digantikan AI.

    Belum jelas alasan TikTok memilih saat ini untuk mengurangi tim moderasi konten di Inggris. Namun, keputusan itu muncul tepat setelah Online Safety Act mulai berlaku bulan lalu. 

    Regulasi tersebut mengatur platform daring yang beroperasi di Inggris dapat dikenakan denda hingga 10% dari omzet global, atau sebesar £18 juta (sekitar Rp294,3 miliar). 

    Di sisi lain, Financial Times (FT) mencatat PHK dilakukan hanya sepekan sebelum para pegawai di London menggelar pemungutan suara terkait rencana pembentukan serikat pekerja, yang menurut sumber internal perusahaan kerap mendapat penolakan dari manajemen.

    Juru bicara resmi TikTok kepada FT, mengatakan pihaknya melanjutkan reorganisasi yang telah dimulai sejak tahun lalu untuk memperkuat model operasional global Trust and Safety. 

    “Termasuk dengan memusatkan operasi di lebih sedikit lokasi agar lebih efektif dan cepat, sambil memanfaatkan kemajuan teknologi,” katanya. 

    Namun, John Chadfield, pengurus nasional di Communication Workers Union, menilai langkah TikTok menunjukkan perusahaan sebenarnya ingin menghapus peran moderator manusia.

    “Mereka ingin semuanya ditangani AI. AI membuat mereka terlihat pintar dan mutakhir, tapi kenyataannya mereka hanya ingin mengalihkan pekerjaan itu ke luar negeri,” katanya.