Tag: Elon Musk

  • Antara Elon Musk, China, dan Ambisi Persaingan Robotik Dunia

    Antara Elon Musk, China, dan Ambisi Persaingan Robotik Dunia

    Jakarta

    Membuat robot humanoid bakal jadi proyek besar bagi miliarder Elon Musk. Robot bakal diposisikan sebagai inti dari valuasi Tesla, yang menurutnya bisa mencapai puluhan triliun dolar. Hanya saja sampai sekarang, Tesla belum menjual robot humanoid andalannya yang bernama Optimus secara bebas.

    Hanya saja, besar kemungkinan sejumlah perusahaan China akan mendahului Tesla dan mulai meningkatkan produksi robot pada tahun 2026. Beberapa tahun ke belakang, Beijing menempatkan teknologi ini sebagai pusat rencana strategisnya.

    “China saat ini memimpin Amerika Serikat dalam komersialisasi awal robot humanoid,” kata Andreas Brauchle, Mitra di Perusahaan Konsultan Horváth dilansir dari CNBC, Rabu (31/12/2025).

    “Meskipun kedua negara diperkirakan akan membangun pasar yang sama besarnya dari waktu ke waktu, Tiongkok berkembang lebih cepat dalam fase awal ini,” lanjutnya.

    Robot humanoid dirancang untuk berbentuk dan bergerak seperti manusia. Algoritma kecerdasan buatan mendukung kemampuan mereka bersama dengan perangkat keras kompleks seperti semikonduktor. Robot ini dapat digunakan di berbagai lingkungan, mulai dari pabrik, perhotelan, dan bahkan di rumah.

    Dalam beberapa tahun terakhir, China telah menjadikan robotika sebagai fokus utama strategi teknologinya, dengan meluncurkan rencana untuk menciptakan rantai pasokan dan produksi massal mesin-mesin tersebut.

    Presiden China Xi Jinping dan para pemimpin tertinggi negara itu, yang dikenal sebagai Komite Sentral, bertemu pada bulan Oktober dan merilis proposal untuk rencana lima tahun ke 15. Ini adalah sebuah dokumen yang menjabarkan beberapa area fokus utama bagi Beijing dalam beberapa tahun mendatang.

    Bagi China, robot humanoid mewakili peluang untuk mengatasi tantangan tenaga kerja di ekonomi terbesar kedua di dunia serta memajukan upaya Beijing untuk supremasi teknologi.

    “Dorongan China ke dalam pengembangan robotika humanoid didorong oleh kombinasi dari mengatasi tekanan demografis, mendorong cakrawala pertumbuhan ekonomi berikutnya, dan memperkuat perannya dalam persaingan global,” kata Karel Eloot, mitra senior di McKinsey & Company.

    Angka kelahiran di China menurun dan populasi menua, yang menyebabkan berkurangnya jumlah orang dalam angkatan kerja dan meningkatnya biaya tenaga kerja. Robot dipandang sebagai cara untuk mengatasi hal ini.

    Tonton juga Video: Keren! China Gelar Kompetisi Pertarungan Robot Ala Film Real Steel

    (kil/kil)

  • Robot Anjing Berwajah Elon Musk

    Robot Anjing Berwajah Elon Musk

    Bisnis.com, JAKARTA — Seniman digital ternama Mike Winkelmann atau Beeple membuat karya yang menampilkan robot anjing berwajah pemimpin raksasa teknologi dunia, yakni Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan Jeff Bezos.

    Dia mencatatkan kesuksesan komersial dalam gelaran Art Basel Miami Beach (ABMB) edisi ke-23 tahun ini. Karya terbarunya yang bertajuk “Regular Animals” (2025) dilaporkan ludes terjual pada hari pembukaan pameran.

    Melansir dari The Art Newspaper Kamis (25/12/2025), setiap unit robot dalam instalasi tersebut dibanderol seharga US$100.000 atau sekitar Rp1,6 miliar.

    Instalasi ini menampilkan sekumpulan robot berkaki empat yang mengenakan topeng hiper-realistis wajah tokoh teknologi dunia seperti CEO Tesla Elon Musk, Pendiri Amazon Jeff Bezos, dan CEO Meta Mark Zuckerberg. Selain tokoh teknologi, Beeple juga menyertakan wajah seniman legendaris seperti Pablo Picasso, Andy Warhol, serta wajah dirinya sendiri.

    Secara teknis, robot-robot ini dirancang untuk melakukan aksi “poop mode”, di mana mereka mencetak gambar yang diambil kamera depan layaknya sedang buang air besar.

    Beeple menjelaskan bahwa karya ini merupakan kritik terhadap dominasi algoritma teknologi yang kini menggantikan peran seniman dalam membentuk perspektif visual manusia.

    “Dulu kita melihat dunia yang diinterpretasikan melalui mata para seniman, tetapi sekarang Mark Zuckerberg dan Elon, khususnya, mengendalikan sebagian besar cara kita melihat dunia,” kata Beeple dikutip dari Page Six.

    Dia menilai, para miliarder tersebut memiliki kendali penuh atas algoritma kuat yang menentukan apa yang dilihat oleh publik setiap harinya.

    Setiap robot menghasilkan output visual berbeda. Robot berwajah Zuckerberg mencetak gambar estetika Metaverse, sementara robot Musk menghasilkan gambar bernuansa robotik hitam-putih.

    Adapun robot berwajah Jeff Bezos tidak mencetak gambar sama sekali, namun tetap dihadirkan karena dianggap memiliki pengaruh besar dalam membentuk pandangan dunia.

    Karya kontroversial itu ditempatkan di sektor Zero10, sebuah area baru di Miami Beach Convention Center yang didedikasikan khusus untuk instalasi berbasis teknologi dan digital.

    Sebagai informasi, Beeple merupakan seniman yang sebelumnya memecahkan rekor penjualan NFT senilai US$69 juta di rumah lelang Christie’s pada 2021.

    Direktur pameran Bridget Finn menilai kehadiran karya berbasis teknologi ini memicu rasa penasaran yang kuat di kalangan pengunjung dan kolektor.

    “Seringkali, rasa ingin tahu sama kuatnya, jika tidak lebih kuat, daripada pengetahuan. Ini adalah titik masuk untuk percakapan lebih lanjut,” ujar Finn dikutip dari Artsy. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Elon Musk Bagi-bagi Router Starlink Gratis untuk Pengguna, Ini Syaratnya!

    Elon Musk Bagi-bagi Router Starlink Gratis untuk Pengguna, Ini Syaratnya!

    Bisnis.com, JAKARTA – Elon Musk akan membagikan router Starlink gratis terhadap sejumlah pelanggan yang memenuhi syarat.

    Pemberian Starlink gratis untuk pelanggan ini dilakukan sesuai dengan rencana SpaceX untuk menghentikan pembaruan software pada router Starlink generasi pertama, yang dikenal dengan kode UTR-201.

    Router Starlink gratis ini diberikan khusus kepada pelanggan yang sudah bergabung sejak masa awal peluncuran layanan internet tersebut pada 2020.

    Para pelanggan yang memenuhi syarat akan mendapatkan pengganti router lama tanpa biaya tambahan.

    Adapun router Starlink Gen 1 akan segera punah dan akan beralih model ke piringan datar. Pengguna pun diminta untuk segera mengganti router mereka.

    Meskipun masih bisa digunakan untuk beberapa saat, namun Elon Musk memperingatkan bahwa router tersebut berpotensi mengalami penurunan kompatibilitas.

    Router Gen 1 ini juga akan segera berhenti menerima pembaruan perangkat lunak dalam waktu dekat, sehingga kurang dapat diandalkan dalam segi kinerja dan keamanan.

    Oleh sebab itu sebagai bentuk apresiasi, Starlink akan membagikan router mini gratis untuk pengguna.

    “Sebagai bentuk rasa terima kasih kepada pelanggan, kami menawarkan Router Mini gratis, dengan jaringan dual-band router Wi-Fi 6. Router Gen 1 milik anda masih bisa digunakan, namun tanpa pembaruan yang kami belum bisa jamin performa dan peningkatannya,” tulis surat resmi Starlink kepada para pelanggannya.

    Starlink pun secara resmi telah memberikan penawaran khusus ini bagi pelanggan terpilih. Router gratis dapat diklaim setelah mendapatkan email resmi dari Starlink.

  • Kekayaan Elon Musk Tembus Rp12.000 triliun Berkat SpaceX, xAI, dan Tesla

    Kekayaan Elon Musk Tembus Rp12.000 triliun Berkat SpaceX, xAI, dan Tesla

    Bisnis.com, JAKARTA — Pendiri SpaceX dan CEO Tesla taipan Elon Musk resmi menjadi individu pertama dalam sejarah yang mencatatkan kekayaan bersih melampaui angka Rp12.000 triliun. Elon menggenggam 7 perusahaan yang mengantarkannya sebagai orang dengan harta melimpah.

    Berdasarkan data real-time billionaire ranking Forbes, kekayaan Musk kini menyentuh US$749 miliar atau sekitar Rp12.538 triliun. Loncatan kekayaan ini terjadi setelah Mahkamah Agung Delaware memutuskan untuk mengaktifkan kembali paket kompensasi Tesla milik Musk senilai US$56 miliar.

    Keputusan pengadilan yang diumumkan pada Jumat (19/12/2025) waktu Amerika Serikat tersebut mengembalikan hak opsi saham Tesla senilai US$139 miliar. Sebelumnya, paket kompensasi tahun 2018 ini sempat dibatalkan oleh pengadilan pada tahun lalu.

    Sebagai informasi, hak opsi saham merupakan hak yang diberikan kepada seseorang untuk membeli atau menjual saham pada harga tertentu dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

    Pada awal bulan ini, kekayaan Musk sempat menyentuh level US$600 miliar atau Rp10.044 triliun seiring dengan laporan rencana melantainya SpaceX di bursa saham.

    Selain itu, nilai saham Tesla juga mengalami tren penguatan. Hal ini terjadi setelah dewan direksi menyetujui paket kompensasi bersejarah senilai US$1 triliun atau Rp16.740 bagi Musk pada awal November lalu.

    Paket kompensasi senilai US$1 triliun yang disetujui tersebut diprediksi dapat membawa Musk menjadi triliuner pertama di dunia. Rencana jangka panjang 10 tahun ini terbagi dalam 12 tingkatan yang akan terbuka saat target tertentu tercapai.

    Secara fundamental, kekayaan Musk bersumber dari tujuh perusahaan yang didirikannya, termasuk Tesla, SpaceX, dan xAI. Saat ini, Musk memegang sekitar 12% saham di Tesla, perusahaan yang telah dipimpinnya sebagai CEO sejak 2008.

    SpaceX juga kini memiliki valuasi sebesar US$800 miliar berdasarkan penawaran tender privat pada Desember 2025. Musk diperkirakan menguasai 42% saham di perusahaan roket tersebut.

    Di sektor kecerdasan artifisial dan media sosial, Musk melakukan merger antara Twitter (X) dan xAI pada Maret lalu. Langkah ini membentuk entitas gabungan dengan valuasi sekitar US$125 miliar.

    Musk juga memiliki kepemilikan di perusahaan rintisan infrastruktur The Boring Company dan perusahaan implan otak Neuralink. Secara kumulatif, kedua startup tersebut telah mengamankan pendanaan sekitar US$2 miliar dari investor privat.

    Dengan total kekayaan tersebut, Musk kini melampaui gabungan kekayaan tiga miliarder teknologi di bawahnya. Ketiganya adalah Larry Page (US$252,6 miliar), Larry Ellison (US$242,7 miliar), dan Jeff Bezos (US$239,4 miliar). Data Forbes menunjukkan bahwa selisih kekayaan Musk dengan Larry Page sendiri kini mencapai hampir US$500 miliar. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Harta Elon Musk Tembus Rp 12.433 T, Salip Pendiri Google

    Harta Elon Musk Tembus Rp 12.433 T, Salip Pendiri Google

    Jakarta

    Harta kekayaan Elon Musk naik drastis menjadi US$ 749 miliar atau setara Rp 12.433 triliun (Kurs Rp 16.600) menurut indeks miliarder Forbes. Naiknya kekayaan Elon terjadi setelah Mahkamah Agung Delaware mengembalikan opsi saham Tesla senilai US$ 139 miliar yang dibatalkan tahun lalu, menurut indeks miliarder Forbes.

    Kekayaan Elon Musk pun kini telah melebihi kekayaan dari pendiri Google, Larry Page yang berada di posisi orang terkaya kedua dunia dengan harta mencapai US$ 500 miliar berdasarkan daftar miliarder Forbes.

    Mengutip Reuters, Minggu (21/12/2025) pada tahun 2018, paket gaji Elon yang pernah bernilai US$ 56 miliar, dikembalikan oleh Mahkamah Agung Delaware pada hari Jumat, dua tahun setelah pengadilan tingkat rendah membatalkan kesepakatan kompensasi tersebut.

    Mahkamah Agung menyatakan bahwa putusan tahun 2024 yang membatalkan paket gaji tersebut tidak tepat dan tidak adil bagi Elon.

    Dengan begitu, saat ini Elon Musk menjadi orang pertama yang melampaui kekayaan bersih US$ 600 miliar. Hal ini menyusul laporan perusahaan rintisan kedirgantaraan miliknya, SpaceX, kemungkinan akan melakukan penawaran saham perdana (IPO).

    Pada bulan November, para pemegang saham Tesla secara terpisah menyetujui rencana pembayaran sebesar US$ 1 triliun untuk Musk, paket pembayaran perusahaan terbesar dalam sejarah, karena para investor mendukung visinya untuk mengubah produsen kendaraan listrik tersebut menjadi raksasa AI dan robotika.

    (kil/kil)

  • Salju Selimuti Arab Saudi, Suhu Turun di Bawah Nol

    Salju Selimuti Arab Saudi, Suhu Turun di Bawah Nol

    Riyadh

    Salju menyelimuti beberapa wilayah Arab Saudi pada Rabu (17/12) dan Kamis (18/12) waktu setempat. Hamparan salju tipis mengubah area-area pegunungan yang dikelilingi gurun berubah menjadi negeri ajaib musim dingin saat cuaca dingin menyelimuti negara tersebut.

    Kemunculan salju, seperti dilansir Arab News, Jumat (19/12/2025), melanda sebagian wilayah utara Saudi pada Rabu (17/12) waktu setempat, dengan cuaca dingin dan hujan lebat mengguyur beberapa kota dan wilayah lainnya.

    Trojena, destinasi pegunungan untuk mendaki dan bermain ski yang terletak di Jebel Al-Lawz, Provinsi Tabuk, yang ada di ketinggian 2.600 meter, tertutup hamparan salju dan dilanda hujan ringan.

    Rekaman video yang ditayangkan media terkemuka Qatar, Al Jazeera, pada 17 Desember menunjukkan area pegunungan di Tabuk, Saudi, diselimuti hamparan salju tipis.

    “Salju menyelimuti wilayah utara Arab Saudi di tengah penurunan suhu yang drastis,” tulis Al Jazeera dalam keterangan video tersebut.

    Video lainnya yang direkam di area kota Hail, Saudi bagian barat laut, menunjukkan hujan salju turun di wilayah tersebut.

    Laporan Arab News menyebut bahwa sebagian wilayah Hail dilanda hujan salju pada Rabu (17/12) malam. Hujan ringan hingga sedang dilaporkan mengguyur seluruh wilayah Hail.

    Pusat Meteorologi Nasional Saudi memperkirakan akan ada lebih banyak salju di area-area sebelah utara ibu kota Riyadh.

    Dilaporkan Pusat Meteorologi Nasional, seperti dilansir Saudi Press Agency (SPA), bahwa area Provinsi Al-Majmaah dan Al-Ghat, sebelah utara Riyadh, dilanda hujan salju pada Kamis (18/12) pagi waktu setempat, yang menyebabkan penumpukan salju di dataran tinggi dan di area-area terbuka.

    Juru bicara Pusat Meteorologi Nasional, Hussein Al-Qahtani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang melanda area sebelah utara Riyadh merupakan akibat dari massa udara dingin yang bergerak ke area tersebut, disertai awan pembawa hujan.

    Hal tersebut, kata Al-Qahtani, menyebabkan suhu turun di bawah nol derajat Celsius di beberapa lokasi, yang menciptakan kondisi untuk terjadinya hujan salju pada dini hari. Dia memperkirakan bahwa suhu akan tetap rendah selama beberapa jam ke depan, dengan kemungkinan terjadinya embun beku di beberapa area di wilayah utara dan tengah Saudi.

    Al-Qahtani mengimbau warga untuk berhati-hati, terutama saat berkendara di jalanan terbuka, karena potensi terbentuknya es.

    Terlepas dari imbauan itu, banyak orang berkumpul untuk menyaksikan hujan salju di Al-Mahmaah dan Al-Ghat.

    “Ini belum pernah terjadi sebelumnya, jadi kami sangat senang melihatnya. Saya dan teman-teman saya akan mengalami keajaiban musim dingin ini yang akan menjadi pengalaman luar biasa,” ucap seorang warga Riyadh, Thamr Alotaibi, kepada Arab News.

    Lihat juga Video ‘Elon Musk-Jensen Huang akan Bangun Pusat Data AI di Arab Saudi’:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Starlink Elon Musk Jatuh ke Bumi Akibat Anomali Orbit, NASA Turun Tangan

    Starlink Elon Musk Jatuh ke Bumi Akibat Anomali Orbit, NASA Turun Tangan

    Bisnis.com, Jakarta — Salah satu satelit internet Starlink milik SpaceX mengalami masalah serius saat berada di orbit Bumi pada Rabu, 17 Desember. Akibat masalah ini, satelit tersebut kehilangan kendali, berputar-putar, dan kini sedang jatuh menuju Bumi.

    Kecelakaan ini menyebabkan hilangnya komunikasi dengan pesawat ruang angkasa Starlink, yang mengorbit pada ketinggian 418 kilometer.

    SpaceX menjelaskan bahwa terjadi anomali (gangguan teknis tak terduga) yang membuat kontak dengan satelit terputus. Selain itu, sebagian kecil bagian satelit juga terlepas dan menjadi puing-puing kecil di luar angkasa.

    Dilansir dari Space.com, Jumat (19/12/2025), perwakilan Starlink, perusahaan yang dimiliki SpaceX, mengatakan, “Anomali tersebut menyebabkan kebocoran tangki propulsi, penurunan cepat pada sumbu semi-mayor sekitar 4 km, dan pelepasan sejumlah kecil objek berkecepatan relatif rendah yang dapat dilacak.”

    Masalah ini diduga terjadi karena kebocoran atau kerusakan pada tangki bahan bakar satelit, yang membuat orbit satelit menurun dengan cepat sehingga satelit tidak bisa lagi bertahan di posisinya.

    Saat ini, SpaceX bekerja sama dengan NASA dan Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat untuk memantau puing-puing tersebut. Meski begitu, SpaceX menegaskan bahwa tidak ada bahaya besar yang perlu dikhawatirkan.

    “Satelit tersebut sebagian besar masih utuh, berputar-putar, dan akan memasuki kembali atmosfer Bumi serta hancur sepenuhnya dalam beberapa minggu.”

    SpaceX juga menyatakan bahwa para insinyurnya sedang menyelidiki penyebab utama masalah ini dan akan memperbarui sistem perangkat lunak satelit agar kejadian serupa tidak terulang.

    “Kami menanggapi kejadian ini dengan serius. Para insinyur kami sedang bekerja cepat untuk menemukan akar penyebab dan mengurangi sumber anomali tersebut, dan saat ini sedang dalam proses menerapkan perangkat lunak ke wahana kami yang meningkatkan perlindungan terhadap jenis kejadian ini.”

    Saat ini, Starlink merupakan jaringan satelit terbesar di dunia, dengan hampir 9.300 satelit aktif, atau sekitar 65% dari seluruh satelit aktif di orbit Bumi. Jumlah ini terus bertambah, SpaceX telah meluncurkan 122 misi Starlink tahun ini saja, mengirimkan lebih dari 3.000 satelit ke orbit Bumi rendah.

    Satelit Starlink dirancang untuk beroperasi sekitar lima tahun. Sebelum masa pakainya habis, SpaceX sengaja menurunkan orbit satelit agar tidak rusak dan menjadi sampah antariksa.

    SpaceX juga menerapkan sistem penghindaran tabrakan otomatis. Dalam enam bulan pertama 2025, satelit Starlink tercatat melakukan sekitar 145.000 manuver penghindaran, atau rata-rata empat kali per satelit setiap bulan.

    Meski demikian, tidak semua operator satelit di luar angkasa memiliki tingkat tanggung jawab yang sama. (Nur Amalina)

  • Trump Prioritaskan Misi ke Bulan, Bukan Mars

    Trump Prioritaskan Misi ke Bulan, Bukan Mars

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkonfirmasi bahwa ia ingin mengirim astronot kembali ke Bulan sesegera mungkin. Dia menunda misi ke Mars di masa mendatang.

    Dalam perintah eksekutif tentang kebijakan ruang angkasanya, Trump mengatakan ia ingin membawa warga Amerika ke Bulan pada tahun 2028, di bawah program Artemis NASA yang diluncurkan selama masa jabatan pertamanya di Gedung Putih.

    Pendaratan di Bulan tersebut akan “menegaskan kepemimpinan Amerika di ruang angkasa, meletakkan dasar bagi pembangunan ekonomi di Bulan, mempersiapkan perjalanan ke Mars, dan menginspirasi generasi penjelajah Amerika berikutnya,” demikian bunyi perintah eksekutif Trump, dilansir kantor berita AFP, Jumat (19/12/2025).

    Perintah itu juga menyatakan bahwa badan antariksa AS, NASA berencana untuk membangun “elemen awal pos terdepan permanen di Bulan pada tahun 2030” dan mengkonfirmasi rencana untuk mengerahkan reaktor nuklir “di Bulan dan di orbit.”

    Saat ini, Amerika Serikat dijadwalkan untuk kembali ke permukaan Bulan pada pertengahan tahun 2027 dalam misi Artemis 3, tetapi jadwal tersebut telah berulang kali ditunda.

    Para ahli industri mengatakan itu kemungkinan akan ditunda lagi karena wahana pendarat bulan yang sedang dikembangkan di SpaceX milik Elon Musk belum siap.

    Perintah eksekutif Trump memberikan tekanan yang lebih besar pada NASA dan sektor antariksa swasta untuk mencapai tujuan pemerintah tersebut.

    Amerika Serikat ingin mendahului China, yang juga bermaksud mengirim awak ke Bulan pada tahun 2030 dan mendirikan pangkalan di sana.

    Memprioritaskan misi ke Bulan ini merupakan perubahan kebijakan dari apa yang dikatakan Trump awal tahun ini.

    Sebelumnya, ketika ia kembali menjabat presiden pada bulan Januari lalu, Trump mengatakan ia ingin menancapkan bendera Amerika di Mars sebelum akhir masa jabatannya selama empat tahun, tanpa menyebutkan rencana apa pun untuk Bulan.

    Tonton juga video “Trump Mau Serang Venezuela: Semoga Kongres Tak Bocor Kayak Saringan”

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Trump Prioritaskan Misi ke Bulan, Bukan Mars

    Trump Prioritaskan Misi ke Bulan, Bukan Mars

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkonfirmasi bahwa ia ingin mengirim astronot kembali ke Bulan sesegera mungkin. Dia menunda misi ke Mars di masa mendatang.

    Dalam perintah eksekutif tentang kebijakan ruang angkasanya, Trump mengatakan ia ingin membawa warga Amerika ke Bulan pada tahun 2028, di bawah program Artemis NASA yang diluncurkan selama masa jabatan pertamanya di Gedung Putih.

    Pendaratan di Bulan tersebut akan “menegaskan kepemimpinan Amerika di ruang angkasa, meletakkan dasar bagi pembangunan ekonomi di Bulan, mempersiapkan perjalanan ke Mars, dan menginspirasi generasi penjelajah Amerika berikutnya,” demikian bunyi perintah eksekutif Trump, dilansir kantor berita AFP, Jumat (19/12/2025).

    Perintah itu juga menyatakan bahwa badan antariksa AS, NASA berencana untuk membangun “elemen awal pos terdepan permanen di Bulan pada tahun 2030” dan mengkonfirmasi rencana untuk mengerahkan reaktor nuklir “di Bulan dan di orbit.”

    Saat ini, Amerika Serikat dijadwalkan untuk kembali ke permukaan Bulan pada pertengahan tahun 2027 dalam misi Artemis 3, tetapi jadwal tersebut telah berulang kali ditunda.

    Para ahli industri mengatakan itu kemungkinan akan ditunda lagi karena wahana pendarat bulan yang sedang dikembangkan di SpaceX milik Elon Musk belum siap.

    Perintah eksekutif Trump memberikan tekanan yang lebih besar pada NASA dan sektor antariksa swasta untuk mencapai tujuan pemerintah tersebut.

    Amerika Serikat ingin mendahului China, yang juga bermaksud mengirim awak ke Bulan pada tahun 2030 dan mendirikan pangkalan di sana.

    Memprioritaskan misi ke Bulan ini merupakan perubahan kebijakan dari apa yang dikatakan Trump awal tahun ini.

    Sebelumnya, ketika ia kembali menjabat presiden pada bulan Januari lalu, Trump mengatakan ia ingin menancapkan bendera Amerika di Mars sebelum akhir masa jabatannya selama empat tahun, tanpa menyebutkan rencana apa pun untuk Bulan.

    Tonton juga video “Trump Mau Serang Venezuela: Semoga Kongres Tak Bocor Kayak Saringan”

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Ketegangan Dagang Memanas, AS Ancam Balas Pajak Digital Uni Eropa

    Ketegangan Dagang Memanas, AS Ancam Balas Pajak Digital Uni Eropa

    Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan membalas kebijakan pajak digital Uni Eropa terhadap perusahaan teknologi Negeri Paman Sam. 

    Sejumlah perusahaan besar Eropa, seperti Accenture Plc, Siemens AG, dan Spotify Technology SA, disebut berpotensi menjadi sasaran pembatasan atau pungutan baru dari Washington.

    Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau United States Trade Representative (USTR) melalui unggahan di media sosial menilai Uni Eropa dan negara-negara anggotanya terus menerapkan kebijakan diskriminatif yang membatasi dan melemahkan daya saing penyedia jasa asal AS. 

    “Jika hal ini berlanjut, Amerika Serikat tidak memiliki pilihan selain menggunakan seluruh instrumen yang tersedia untuk melawan kebijakan yang tidak masuk akal ini,” tulis USTR, dilansir dari Bloomberg pada Rabu (17/12/2025).

    USTR menegaskan hukum AS memungkinkan penerapan biaya atau pembatasan terhadap layanan asing apabila langkah balasan dianggap perlu, termasuk melalui instrumen perdagangan.

    Pemerintah AS juga tengah menyiapkan penyelidikan berdasarkan Section 301 dari Trade Act 1974, yang membuka jalan bagi pemberlakuan sanksi dagang seperti tarif. Informasi tersebut disampaikan oleh sumber yang mengetahui proses internal dan meminta identitasnya dirahasiakan.

    Selain Accenture, Siemens, dan Spotify, USTR juga menyoroti sejumlah perusahaan Eropa lainnya, seperti DHL Group, SAP SE, Amadeus IT Group SA, Capgemini SE, Publicis Groupe, dan Mistral AI. Perusahaan-perusahaan tersebut dinilai telah menikmati akses luas ke pasar AS selama bertahun-tahun.

    Perselisihan ini berakar pada regulasi perdagangan digital, seiring dengan upaya Uni Eropa memperketat aturan dan memungut pajak terhadap raksasa teknologi AS seperti Google milik Alphabet Inc., Meta Platforms Inc., dan Amazon.com Inc.

    Para pengkritik kebijakan pajak digital UE menilai langkah tersebut menghambat inovasi teknologi secara global serta bertujuan meningkatkan penerimaan fiskal secara tidak adil.

    Ancaman balasan dari Washington berpotensi meningkatkan ketegangan hubungan AS–UE, terutama di tengah mandeknya perundingan damai terkait perang di Ukraina.

    Ketegangan ini juga mengikuti kritik keras Trump terhadap UE. Dalam wawancara dengan Politico pekan lalu, Trump menyebut UE sebagai kelompok negara yang rapuh dengan para pemimpin yang lemah.

    Trump sebelumnya telah memberlakukan tarif impor secara luas, termasuk bea masuk 15% terhadap banyak produk asal UE, untuk melawan pungutan dan hambatan dagang yang menurutnya merugikan produk AS.

    Pejabat pemerintahan Trump menuduh UE melanggar komitmen dalam perjanjian dagang dengan AS, khususnya terkait janji untuk mengatasi hambatan perdagangan digital yang tidak beralasan.

    Strategi keamanan nasional AS terbaru yang dirilis bulan ini juga dinilai berisiko memperburuk hubungan transatlantik karena mengkritik kebijakan imigrasi dan isu budaya Eropa, serta mempertanyakan kelayakan negara-negara Eropa sebagai sekutu NATO di masa depan.

    Trump secara konsisten mengecam pajak digital sebagai hambatan dagang non-tarif yang merugikan perusahaan AS, dan mengancam akan mengenakan tarif substansial terhadap negara-negara yang menerapkannya. Beberapa negara telah melunak, termasuk Kanada yang pada Juni lalu membatalkan rencana pungutan pajak digital hanya beberapa jam sebelum diberlakukan.

    Meski demikian, UE tetap melanjutkan penegakan regulasi digitalnya. Baru-baru ini, otoritas UE menjatuhkan denda senilai ratusan juta dolar AS kepada Apple Inc., Meta, serta platform media sosial X milik Elon Musk.

    Uni Eropa membela kebijakannya. Kepala Perdagangan UE Maros Sefcovic mengatakan bahwa blok tersebut akan melindungi kedaulatan teknologinya. Dia juga menyebut terus menjalin komunikasi intensif dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick.

    Namun, USTR menilai UE mengabaikan keberatan AS. Menurut USTR, UE terus menerapkan gugatan hukum, pajak, denda, dan arahan yang bersifat diskriminatif terhadap penyedia jasa AS, meski perusahaan-perusahaan tersebut menyediakan layanan gratis bagi warga UE, mendukung jutaan lapangan kerja, dan mencatat investasi langsung lebih dari US$100 miliar di Eropa.

    Pajak layanan digital yang dikenakan sejumlah negara Eropa terhadap perusahaan AS telah lama menjadi sumber perpecahan dalam hubungan dagang. Kongres AS bahkan sempat mempertimbangkan pajak balasan dalam undang-undang pemotongan pajak era Trump untuk menargetkan negara-negara yang dianggap diskriminatif.

    Menteri Keuangan AS Scott Bessent kemudian mendorong penghapusan ketentuan tersebut setelah tercapai kesepakatan di tingkat G7 untuk mengecualikan perusahaan AS dari pajak minimum global. Kesepakatan itu juga mencakup komitmen dialog konstruktif mengenai perpajakan ekonomi digital dan kedaulatan pajak masing-masing negara.

    Sengketa pajak digital kini membayangi perundingan dagang AS-Uni Eropa yang sedang berlangsung, di mana UE mengupayakan pengecualian tarif tambahan dengan imbalan penghapusan bea masuk atas produk industri AS serta penerapan tarif 15% terhadap hampir seluruh ekspor UE ke AS.

    AS dan Uni Eropa juga dikabarkan hampir merampungkan kesepakatan mengenai perlakuan khusus bagi perusahaan AS dalam kerangka pajak minimum global, yang menjadi salah satu area kerja sama kedua mitra dagang tersebut.

    USTR menegaskan risiko penerapan biaya dan pembatasan baru juga berlaku bagi negara-negara lain yang meniru strategi Uni Eropa, sebuah sinyal peringatan bagi Australia, Inggris, dan negara lain yang tengah mempertimbangkan kebijakan serupa.