Tag: Elon Musk

  • Elon Musk Kembangkan World Models AI untuk Kalahkan Meta-Google, Bajak Tim Nvidia

    Elon Musk Kembangkan World Models AI untuk Kalahkan Meta-Google, Bajak Tim Nvidia

    Bisnis.com, JAKARTA — Startup AI milik Elon Musk, xAI, sedang mengembangkan teknologi “world models” yang revolusioner, yakni sistem AI canggih yang mampu menavigasi dan merancang lingkungan fisik. Persaingan AI dengan Google dan Meta makin panas.

    Dilansir dari Economic Times, Senin (13/10/2025) Model ini akan membawa AI melampaui large language models (LLM) seperti Grok milik xAI atau ChatGPT, dengan fokus pada pemahaman dunia nyata melalui data video dan robotik.

    Untuk bersaing dengan raksasa seperti Meta dan Google, xAI merekrut pakar dari Nvidia pada musim panas lalu, termasuk Zeeshan Patel dan Ethan He, peneliti AI yang berpengalaman dalam world models.

    Nvidia sendiri telah menjadi pemimpin di bidang ini melalui platform Omniverse yang membangun simulasi realistis, dan pakar ini diharapkan membantu mesin AI lebih memahami interaksi fisik di dunia nyata.

    Laporan juga menyebutkan bahwa banyak kalangan industri teknologi menaruh harapan tinggi pada world models, karena potensinya membawa AI keluar dari ranah perangkat lunak ke produk fisik seperti robot humanoid.

    xAI juga sedang merekrut staf teknis untuk tim “omni” yang berfokus pada AI yang bisa memahami dan menghasilkan konten lintas format, termasuk foto, video, dan audio.

    Tidak hanya itu, Musk baru-baru ini mengulangi targetnya dari tahun lalu, menyatakan bahwa xAI akan merilis “game hebat yang dihasilkan AI sebelum akhir tahun depan”.

    Aplikasi awal world models kemungkinan di sektor gaming, di mana AI bisa secara otomatis menghasilkan lingkungan 3D interaktif, sebelum diterapkan pada sistem robotik.

    Berbeda dengan model generasi video saat ini seperti Sora dari OpenAI, yang hanya memprediksi pola dari data pelatihan, world models menawarkan lompatan signifikan dengan pemahaman kausal waktu nyata tentang fisika dan interaksi objek di berbagai lingkungan.

    Sementara itu, Nvidia memperkirakan potensi pasar teknologi ini bisa sebesar seluruh ekonomi global, meskipun tantangan seperti kebutuhan data dan daya komputasi yang besar masih menjadi hambatan menurut laporan India Times.

  • AI Rupanya Bisa Dilatih Jadi Mesin Pembunuh, Eks Bos Google Buka Suara

    AI Rupanya Bisa Dilatih Jadi Mesin Pembunuh, Eks Bos Google Buka Suara

    Jakarta, CNBC Indonesia – Mantan CEO Google Eric Schmidt mengungkapkan kekhawatirannya terhadap bahaya kecerdasan buatan (AI). Pasalnya, teknologi AI berpotensi menjadi alat mematikan yang dapat digunakan untuk membunuh manusia jika berada di tangan yang salah.

    Pernyataan tersebut disampaikan Eric Schmidt saat menghadiri Sifted Summit, sebuah konferensi teknologi yang digelar di London pada Rabu (9/10/2025) waktu setempat. Ia menanggapi pertanyaan mengenai kemungkinan AI menjadi ancaman yang lebih berbahaya dibandingkan senjata nuklir.

    Menurut dia, terdapat bukti bahwa model AI, baik yang bersifat terbuka maupun tertutup, bisa diretas untuk menghapus pembatas atau guardrails-nya.

    “Dalam proses pelatihannya, AI belajar banyak hal. Contoh buruknya adalah ketika mereka belajar bagaimana cara membunuh seseorang,” ujarnya. dikutip dari CNN, Minggu (12/10/2025).

    Ia mengungkapkan semua perusahaan besar saat ini telah mengambil langkah untuk mencegah model AI menjawab pertanyaan-pertanyaan berbahaya semacam itu.

    “Keputusan yang tepat. Semua melakukannya dengan baik, dan atas alasan yang tepat,” tambahnya.

    Meski demikian, ia memperingatkan bahwa ada kemungkinan model AI dapat direkayasa ulang (reverse-engineered), sehingga pembatas keamanan bisa dilewati. Schmidt mengungkap bahwa ada banyak contoh yang menunjukkan hal tersebut.

    Salah satunya adalah versi modifikasi ChatGPT, chatbot buatan OpenAI, yang muncul pada 2023 dan dikenal dengan nama DAN (Do Anything Now). Versi ini dibuat dengan metode jailbreak, yakni memodifikasi AI agar melanggar aturan keamanannya sendiri.

    Pada kasus DAN, pengguna bahkan sempat harus ‘mengancam’ chatbot dengan kematian agar ia mau menjawab perintah tertentu, termasuk yang melanggar etika atau berbahaya.

    Ia juga menyoroti absennya mekanisme pencegahan penyebaran AI berbahaya (non-proliferation regime) di industri teknologi saat ini. Menurut dia hal ini membuat AI berpotensi disalahgunakan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

    Sebelumnya, miliarder dan pemilik SpaceX Elon Musk juga pernah menyampaikan peringatan yang sama. Pada 2023, Musk menyebut bahwa risiko AI menyerupai skenario dalam film Terminator yang tak dapat diabaikan.

    “Risikonya bukan nol. Kemungkinan musnahnya umat manusia memang kecil, tapi tetap ada. Kita ingin peluang itu mendekati nol,” kata Musk saat itu.

    (pgr/pgr)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Elon Musk Akan Luncurkan Game Berbasis AI di Tahun GTA 6 Rilis

    Elon Musk Akan Luncurkan Game Berbasis AI di Tahun GTA 6 Rilis

    Jakarta

    Elon Musk berencana merilis sebuah game yang pembuatannya sepenuhnya mengandalkan kecanggihan Artificial Intelligence (AI). Dirinya bilang game yang dimaksud akan hadir tahun depan.

    Janji itu muncul sebagai tanggapan atas pengguna X/Twitter, yang memakai Grok (chatbot) untuk menghasilkan rekaman menyerupai gameplay game first person shooter (FPS). Video berdurasi enam detik yang diunggah akun bernama cb_doge tersebut, menampilkan adegan seorang prajurit yang sedang menembak sebuah tank di tengah peperangan.

    Bagi yang belum tau, cb_doge merupakan tokoh yang cukup terkenal di komunitas Dogecoin (mata uang kripto). Namun di sini banyak yang sudah curiga kalau orang di balik akun ini adalah Musk sendiri.

    “Studio game xAI akan merilis game hebat yang dihasilkan AI sebelum akhir tahun depan,” balas Musk pada postingan cb_doge, pantauan detikINET dari X, Jumat (10/10/2025).

    Game yang diklaim Musk akan menjadi hebat ini akan dikembangkan oleh perusahaan AI miliknya, xAI. Informasi ini sejalan dengan apa yang dilakukan Musk, yakni membuka lowongan pekerjaan untuk melatih dan meningkatkan kemampuan Grok pada sisi konsep game, mekanisme bermain, dan sejenisnya.

    Nama resmi posisi ini ialah Video Games Tutor. Musk menawarkan gaji yang sangat menggiurkan mulai dari USD 45 atau sekitar Rp 743 ribu hingga USD 100 atau Rp 1,6 juta perjam, lengkap dengan beragam tunjangan lain termasuk asuransi kesehatan.

    Hal menarik lain selain gaji adalah Video Games Tutor ini dibebaskan untuk bekerja di mana saja, padahal Musk dikenal benci dengan konsep kerja remote. Jadi orang yang diterima di posisi ini bisa melakukannya di Palo Alto, California, Amerika Serikat, atau bekerja secara remote sepenuhnya.

    Lalu terkait rencana Musk merilis game ini pada tahun 2026, itu berarti dirinya percaya diri bisa bersaing dengan GTA 6. Seperti diberitakan sebelumnya, seri terbaru dari Grand Theft Auto itu akan hadir pada 26 Mei 2026.

    Jadwal peluncuran GTA 6 tersebut berubah dari rencana awalnya, yang dijadwalkan pada 2 Mei 2025. Rockstar mengatakan alasannya berhubungan dengan kualitas dari game terbarunya.

    Mereka menyampaikan, setiap akan meluncurkan game baru, selalu ingin mencoba memberikan hasil yang melampaui ekspektasi penggemarnya. Hal ini pun berlaku terhadap GTA 6.

    “Kami harap Anda mengerti bahwa kami membutuhkan waktu tambahan ini untuk memberikan kualitas yang Anda harapkan dan pantas dapatkan,” ujar Rockstar dalam sebuah pertanyaan resminya (5/7).

    (hps/fay)

  • Satelit Elon Musk Mulai Rontok, Berjatuhan ke Bumi Ancam Manusia

    Satelit Elon Musk Mulai Rontok, Berjatuhan ke Bumi Ancam Manusia

    Jakarta, CNBC Indonesia – Ambisi Elon Musk untuk memenuhi orbit Bumi dengan konstelasi satelit Starlink menciptakan masalah baru. Satu demi satu, satelit Starlink keluar dari orbit dan jatuh ke Bumi.

    Ahli astrofisika dari Smithsonian, Jonathan McDowell, menyatakan bahwa setiap hari ada 1-2 satelit Starlink yang jatuh ke Bumi. Bahkan, jumlah satelit Starlink yang tiap hari jatuh ke Bumi akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah satelit yang diluncurkan ke orbit Bumi rendah (LEO).

    “Setelah semua konstelasi diluncurkan, kita memperkirakan ada 30.000 satelit LEO dan 20.000 satelit di ketinggian 1.000 kilometer milik China,” katanya kepada Earthsky.

    Berdasarkan perhitungan McDowell, siklus hidup tiap satelit adalah 5 tahun. Artinya, 5 satelit usang bakal jatuh ke Bumi tiap hari.

    SpaceX yang dipimpin oleh Musk telah meluncurkan ribuan satelit Starlink sejak 2019. Kini, 8.000 satelit Starlink beroperasi sebagai infrastruktur internet. Sepanjang 2025, SpaceX telah meluncurkan lebih dari 2.000 satelit.

    Pesaing utama SpaceX adalah Amazon lewat proyek Kuiper. Amazon, lewat perusahaan roket milik Jeff Bezos yang bernama Blue Origin, pada awal tahun ini telah meluncurkan 3.200 satelit.

    Elon Musk. (REUTERS/Gonzalo Fuentes/File Photo)

    Laporan badan pengelola penerbangan Amerika Serikat (FAA) pada 2023 merilis laporan berisi peringatan soal bahaya serpihan satelit yang jatuh ke Bumi. FAA memperkirakan 28.000 serpihan satelit bakal menembus atmosfer tiap tahun pada 2025.

    Saking banyaknya serpihan yang jatuh, potensi serpihan satelit mencederai hingga membunuh manusia di permukaan Bumi melonjak hingga 61 persen.

    Lonjakan jumlah satelit yang diluncurkan berarti orbit Bumi makin sesak dengan satelit dan “sampah” satelit. Satelit yang jatuh tidak hanya berbahaya jika tidak terbakar habis dan jatuh ke permukaan Bumi. Sisa pembakaran satelit di atmosfer juga memproduksi elemen logam yang bisa merusak lapisan ozon.

    “Ketidakpastian soal masalah ini cukup besar, ada kemungkinan seluruh atmosfer lapisan atas rusak,” kata McDowell.

    Selain itu, ada potensi bahaya yang lebih besar yaitu sindrom Kessler. Sindrom Kessler adalah reaksi berantai akibat orbit yang padat dengan satelit. Tabrakan beberapa satelit bisa berujung kepada tabrakan ke beberapa satelit lain dan seterusnya. Dampaknya adalah sampah di orbit yang bertumpuk dan berevolusi mengelilingi Bumi.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Mobil Elon Musk Nyelonong Lampu Merah, Pemerintah Turun Tangan

    Mobil Elon Musk Nyelonong Lampu Merah, Pemerintah Turun Tangan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Badan pengelola keselamatan jalan raya Amerika Serikat (NHTSA) mengumumkan penyelidikan atas 2,88 juta mobil Tesla terkait lebih dari 50 laporan kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas.

    Kecelakaan dan pelanggaran lalu lintas tersebut disebut berhubungan dengan fitur “tanpa sopir” Full Self-Driving (FSD) yang terpasang di Tesla.

    FSD adalah sistem mobil otonom yang membutuhkan pengawasan dan intervensi dari pengemudi jika dibutuhkan. NHTSA menyatakan FSD memicu perilaku kendaraan yang melanggar undang-undang keselamatan jalan raya.

    Mobil Tesla yang menggunakan FSD dilaporkan berulang kali melaju menerobos lampu merah dan melawan arah saat berganti jalur. Total laporan pelanggaran lalu lintas yang dilaporkan ke NHTSA mencapai 58 termasuk 14 tabrakan dan 23 korban luka.

    Reuters menyatakan sistem FSD Tesla kini sedang disorot, termasuk oleh anggota DPR AS. Penyelidikan dibuka beberapa pekan setelah NHTSA memiliki pemimpin baru.

    Penyelidikan NHTSA adalah langkah awal yang bisa berujung pada kebijakan recall semua kendaraan yang dipercaya menyimpan risiko keselamatan.

    NHTSA mengantongi enam laporan soal mobil Tesla yang dilengkapi oleh FSD “menedekati persimpangan saat lampu merah sudah menyala, terus melaju kemudian terlibat kecelakaan dengan kendaraan bermotor lainnya.”

    Selain itu, NHTSA menerima laporan dari seorang pengemudi yang menyatakan FSD “tidak mampu mengenali sinyal lampu lalu lintas. Hal ini menyebabkan mobil melaju menembus lampu merah dan berhenti di lampu hijau.”

    Pengemudi yang sama menyatakan, “Tesla tak mau memperbaiki ini, bahkan tidak mau tahu, meskipun mereka sudah melakukan test drive dengan saya dan melihat masalah ini dengan mata mereka sendiri.”

    NHTSA juga akan menyelidiki FSD ketika mobil mendekati persimpangan rel kereta api.

    Sistem FSD telah menjadi fokus penyelidikan NHTSA selama bertahun-tahun. Pada Oktober 2024, NHTSA memulai penyelidikan atas 2,4 juta mobil Tesla yang dilengkapi dengan FSD terkait empat peristiwa tabrakan. Kecelakaan itu disebut disebabkan oleh mobil yang tidak mampu “melihat” karena silay sinar matahari, kabut, atau debu.

    Tesla padahal menyatakan FSD, “akan menyopiri Anda nyaris ke semua tempat dengan pengawasan Anda, dengan intervensi minimum.”

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Video: Elon Musk Selesaikan Gugatan Pesangon Eks Bos Twitter Rp 2,1 T

    Video: Elon Musk Selesaikan Gugatan Pesangon Eks Bos Twitter Rp 2,1 T

    Video: Elon Musk Selesaikan Gugatan Pesangon Eks Bos Twitter Rp 2,1 T

  • Elon Musk Dapat Proyek Rp 11 Triliun dari Trump, Sudah Baikan?

    Elon Musk Dapat Proyek Rp 11 Triliun dari Trump, Sudah Baikan?

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan proyek senilai US$714 juta (Rp 11 triliun) pada perusahaan milik Elon Musk, SpaceX. Pemberian kontrak kerja ini terjadi setelah hubungan Musk dan Presiden AS Donald Trump memanas beberapa waktu lalu.

    Tahun ini memang jadi waktu yang sulit bagi hubungan keduanya. Usai bahu membahu memenangkan Trump ke kursi presiden, keduanya terlihat saling sindir dan mengecam satu sama lain.

    Termasuk saat Musk mengecam RUU One Big Beautiful Bill. Pemotongan pajak dan peningkatan pengeluaran yang dilakukan pemerintah disebut Musk sebagai kekejian dan menjijikan serta menyalahkan rancangan aturan untuk defisit federal yang terus membengkak.

    Namun, nampaknya hubungan keduanya, setidaknya secara bisnis, sudah mulai membaik. SpaceX diketahui mendapatkan kontrak besar dari Pentagon terkait luar angkasa.

    Kontrak itu berada dalam Program Peluncuran Luar Angkasa Keamanan Nasional (NSSL). Dua misi tersisa diberikan kepada United Launch Alliance (ULA) senilai US$428 juta (Rp 7 triliun).

    Sebelumnya NSSL memilih SpaceX, ULA dan Blue Origin menjalankan 54 misi. Proyek senilai US$13,5 miliar (Rp 223,4 triliun) dijadwalkan pada 2027 hingga 2032, dikutip dari Times of India, Kamis (9/10/2025).

    Khusus untuk SpaceX, misinya berupa peluncuran satelit komunikasi, tiga muatan rahasia dan satu satelit pengintai. Semuanya diperkirakan akan meluncur 2027 mendatang.

    NSSL belum memberikan sertifikasi pada roket New Glenn milik Blue Origin. Ini membuat perusahaan milik Jeff Bezos belum diberikan tugas apapun dalam siklus sekarang.

    Blue Origin baru memiliki peluang pada tahun fiskal 2027. Namun kemungkinan bisa lebih cepat dari perkiraan.

    Hal ini karena misi NASA untuk ke Mars. Misi ini sebelumnya ditunda dari tahun lalu dan kemungkinan diluncurkan akhir bulan nanti.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Hoaks Ponsel Tesla Pi Phone yang Disebut Pesaing Berat iPhone Beredar di Facebook – Page 3

    Hoaks Ponsel Tesla Pi Phone yang Disebut Pesaing Berat iPhone Beredar di Facebook – Page 3

    Mengutip Cek Fakta Liputan6.com, hoaks terkait Tesla akan membuat smartphone untuk menyaingi iPhone sudah lama santer terdengar.

    Hal ini pun langsung dibantah Co-founder dan CEO Tesla, Elon Musk. Dalam podcast Joe Rogan Experience pada 5 November 2025, Musk menegaskan tidak akan memproduksi smartphone untuk saat ini.

    “Tidak, kami sedang tidak melakukan hal itu,” tutur Musk, dikutip dari podcast Joe Rogan Experience.

    Musk menjelaskan ketidakinginannya membuat smartphone bukan karena Tesla tidak mampu membuatnya. Dia bahkan menilai Tesla sangat mampu membuat smartphone dengan sistem operasi di luar Android maupun iOS.

    “Tentu kami bisa melakukannya seperti Anda tahu kami memiliki sistem operasi berbasis Linux. Dan saya meyakini Tesla berada dalam posisi yang lebih baik untuk membuat ponsel baru, itu bukan (berbasis) Android, iPhone atau mungkin perusahaan manapun di dunia. Tapi, itu bukan sesuatu yang ingin kami lakukan, kecuali ketika kami harus melakukannya,” Musk menjelaskan.

    Disinggung soal gambar kondisi apa yang akhir membuat Tesla harus membuat ponsel, Musk menyebut bahwa Tesla akan membuat ponsel jika Apple (iOS) atau Google (Android) mulai melakukan pembatasan yang tidak masuk akal.

    “Jika Apple dan Google (Android) mulai melakukan hal-hal yang sangat buruk, seperti sensor aplikasi atau menjadi penjaga garbang (pembatasan) kepada orang-orang dalam arti yang buruk, maka saya kira kami akan membuat smartphone,” Musk Memungkaskan.

  • 3 Tahun Dikejar, Elon Musk Akhirnya Bayar Pesangon Rp 2 Triliun

    3 Tahun Dikejar, Elon Musk Akhirnya Bayar Pesangon Rp 2 Triliun

    Jakarta, CNBC Indonesia – Elon Musk akhirnya bersedia membayar pesangon Parag Agrawal, eks CEO Twitter yang dipecat usai akuisisi perusahaan media sosial tersebut. Namun, nilai pesangon yang dibayar Musk dirahasiakan.

    Agrawal dan beberapa eks petinggi Twitter lainnya menggugat Musk dan Twitter, yang namanya diubah menjadi X Corp, karena Musk menolak membayar pesangon yang bernilai total US$ 128 juta (Rp 2,11 triliun).

    Kesepakatan antara Musk, X Corp, dan para eks bos Twitter diumumkan lewat arsip pengadilan federal San Francisco. Namun, pengadilan tidak memberikan detail kesepakatan termasuk nilai pesangon yang akhirnya dibayarkan.

    Pada Agustus, X juga telah menyepakati perjanjian damai atas gugatan dari sejumlah mantan karyawan Twitter yang terkena PHK massal. Mantan karyawan Twitter mengklaim pesangon mereka belum dibayar, dengan nilai total mencapai US$ 500 juta (Rp 8,26 triliun).

    Musk juga menghadapi sederet kasus hukum lainnya terkait akuisisi Twitter. Ia mencaplok Twitter pada 2022 dalam kesepakatan akuisisi senilai US$ 44 miliar, kemudian melakukan PHK besar-besaran.

    Mantan direksi Twitter yang menggugat Musk selain Agrawal adalah eks CFO Ned Segal, eks chief legal officer Vijaya Gadde, dan Sean Edgett, mantan pengacara Twitter. Mereka menuding Musk berbohong dengan menuduh mereka melakukan pelanggaran sebagai alasan menendang mereka dari Twitter.

    Di bawah Agrawal, Twitter sempat menggugat Musk yang membatalkan tawaran akuisisi Twitter.

    Musk kemudian menolak membayar pesangon yang ditawarkan kepada mereka jauh sebelum Twitter dicaplok Musk. Para penggugat menyatakan Musk berutang gaji setahun dan opsi kepemilikan saham bernilai ratusan ribu dolar AS.

    X dan Musk membantah tuduhan tersebut dan berkilah pemecatan dilakukan karena kinerja buruk Agrawal dan tim.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Elon Musk Bayar Rp2 Triliun kepada Ex Petinggi Twitter Imbas Pesangon Kurang

    Elon Musk Bayar Rp2 Triliun kepada Ex Petinggi Twitter Imbas Pesangon Kurang

    Bisnis.com, JAKARTA— Elon Musk berenaca menyelesaikan gugatan senilai US$128 juta atau sekitar Rp2,05 triliun, yang diajukan oleh empat mantan eksekutif Twitter. Elon memecat mereka setelah mengambil alih perusahaan itu pada 2022.

    Melansir laman TechCrunch pada Kamis (9/10/2025) empat mantan eksekutif tersebut adalah mantan CEO Parag Agrawal, mantan CFO Ned Segal, serta dua pejabat hukum senior Sean Edgett dan Vijaya Gadde. 

    Mereka dipecat segera setelah Musk resmi membeli Twitter yang kini bernama X dengan nilai akuisisi US$44 miliar atau sekitar Rp704 triliun.

    Keempatnya mengajukan gugatan karena tidak menerima pembayaran pesangon yang menjadi hak mereka. 

    Dalam gugatan tersebut, para mantan eksekutif menuduh Musk sengaja menahan pembayaran tersebut lantaran mereka berupaya menegakkan komitmen Musk untuk menyelesaikan kesepakatan akuisisi Twitter, saat miliarder itu sempat berusaha membatalkannya.

    Menariknya, gugatan itu juga mengutip biografi Elon Musk karya Walter Isaacson yang menyebut Musk pernah berkata akan memburu setiap orang di jajaran eksekutif Twitter hingga akhir hayat mereka.

    Dokumen pengadilan terbaru mengonfirmasi kedua pihak telah mencapai kesepakatan damai, meski rincian penyelesaian tersebut belum diungkapkan ke publik.

    Kasus ini bukan yang pertama terkait pesangon setelah akuisisi Twitter. Sebelumnya, Musk juga telah menyelesaikan gugatan class action yang diajukan oleh sekitar 6.000 mantan karyawan Twitter, yang mengklaim hanya menerima sebagian pesangon atau bahkan tidak menerima sama sekali.

    Orang Terkaya

    Elon Musk baru saja mencetak sejarah jadi orang terkaya dunia dan orang pertama dengan kekayaan mencapai US$500 miliar.

    Kekayaannya bahkan melebihi PDB di mayoritas negara di dunia.

    Visioner Tesla Inc. dan SpaceX ini resmi menjadi orang pertama yang kekayaan bersihnya melampaui US$500 miliar, angka yang begitu besar hingga melampaui PDB sekitar 83% negara di dunia. 

    Hanya sekitar 28-32 negara yang memiliki perekonomian lebih besar dari kekayaan Musk, jauh melampaui negara-negara raksasa dunia seperti Jepang, Jerman, dan India.

    Adapun saat ini kekayaan Musk meroket terutama ditopang oleh Tesla. Dengan kepemilikan sekitar 15,3% saham perusahaan, saham Tesla miliknya telah melonjak sebesar US$63,9 miliar hanya dalam waktu sebulan, berkat lonjakan saham sebesar 37,6% dari US$333,87 pada bulan Agustus menjadi US$459,46 hari ini. 

    Lonjakan tersebut saja telah menambah 12,8% total kekayaan bersihnya, sementara kepemilikan saham Tesla miliknya kini mewakili hampir 47% dari kekayaan Musk.

    Bandingkan kekayaan Musk dengan kekayaan negara-negara, dan skalanya sungguh mencengangkan. Menurut data IMF pada 2025, negara-negara seperti Bangladesh dengan PDB US$467 miliar, Denmark US$450 miliar, dan Malaysia US$445 miliar, semuanya memiliki perekonomian yang lebih kecil daripada kekayaan pribadi Musk.

    Bahkan beberapa negara maju, punya PDB yang hanya selisih sedikit dengan kekayaan Musk, dengan Norwegia US$504 miliar dan Singapura di US$565 miliar, hanya sedikit melampaui kekayaan bersihnya, yang menunjukkan konsentrasi kekayaan pada satu individu.

    Tonggak sejarah Musk senilai US$500 miliar bukan sekadar kemenangan pribadi, tapi merupakan ilustrasi yang mencolok tentang kekuatan disrupsi teknologi dan kendaraan listrik dalam menciptakan nilai yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Tesla tetap menjadi tulang punggung kekayaan tersebut, membuktikan bahwa bahkan di dunia dengan ekonomi triliunan dolar, seorang visioner yang didukung oleh perusahaan bermargin tinggi dapat melampaui seluruh negara.

    Bagi investor, ini adalah pengingat bahwa pergerakan saham Tesla bukan sekadar berita perusahaan, melainkan peristiwa ekonomi makro dalam skala kecil, yang membentuk peruntungan dalam skala besar yang bahkan tak terbayangkan oleh banyak orang.