Tag: Elon Musk

  • Hadapi Kebijakan Proteksionisme Donald Trump, Luhut Minta Pemerintah Bermain Cantik – Page 3

    Hadapi Kebijakan Proteksionisme Donald Trump, Luhut Minta Pemerintah Bermain Cantik – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Dunia tengah was-was dengan berbagai kebijakan yang bakal dikeluarkan oleh Donald Trump usai dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pada Januari 2025. Begitu pula dengan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.

    Menurutnya, Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai kebijakan proteksionisme yang kemungkinan bakal diterapkan di periode kedua pemerintahan Trump akan membuat dolar AS menguat. Hal ini ditakutkan berimbas pada pelemahan rupiah.

    “Kita melihat lagi dampak masa jabatan Presiden Donald Trump kedua ini, perlambatan (ekonomi) dunia, PDB dunia akan lebih rendah, dan inflasi global lebih tinggi, karena kita takut dolar AS tambah kuat, akan kena ke rupiah kita,” kata Luhut dikutip dari Antara, Senin (2/12/2024). 

    Luhut mengatakan Indonesia perlu untuk “bermain cantik” dengan AS. Hal ini karena ia menilai Trump sebagai pemimpin yang pragmatis, yang mana akan selalu bertindak dengan reaksi keras apabila terdapat kebijakan yang menyangkut kepentingan dirinya.

    “Ini kan banyak dampak politik dari setiap kebijakan yang kita buat, karena Presiden Trump itu, saya paham mengenai dia, orang yang pragmatis. Dari cara yang menyangkut kepentingan dia, dia akan bereaksi dengan keras,” ujarnya.

    Kemudian dalam pidatonya, Luhut juga menyoroti adanya Kementerian Efisiensi AS atau Department of Government Efficiency (DOGE) yang nantinya bakal dinakhodai Elon Musk.

    Menurutnya, pembentukan kementerian itu kian mencerminkan tekad Trump yang akan memangkas hal-hal yang tidak perlu dari pemerintahannya. Perubahan ini juga harus terus diwaspadai Indonesia.

    “Saya lihat menteri efisiensinya dia, si Elon Musk yang saya kenal baik juga, itu pasti mereka akan melakukan itu, dan dia akan cut budget dia (AS) sampai 2 triliun dolar AS. Artinya apa? Akan banyak efisiensi,” terangnya.

     

  • Rencana Elon Musk Bikin Koloni di Mars Diprediksi Berujung Kematian

    Rencana Elon Musk Bikin Koloni di Mars Diprediksi Berujung Kematian

    Jakarta

    Elon Musk sudah lama berkoar-koar soal rencananya membangun koloni permanen di Planet Mars. Namun rencana ini diprediksi akan berakhir dengan bencana.

    CEO SpaceX itu ingin membangun pemukiman permanen di Mars yang akan dihuni satu juta orang pada tahun 2050 untuk melanjutkan peradaban manusia jika kondisi di Bumi semakin memburuk. Saat ini SpaceX terus menguji coba roket Starship yang nantinya akan membawa manusia ke Planet Merah.

    Menurut Kelly dan Zach Weinersmith, penulis buku ‘A City in Mars: Can We Settle Space, Should We Settle Space, and Have We Really Thought This Through’, Mars bukan planet yang tetap untuk dihuni manusia dalam jangka panjang.

    “Tidak mungkin kita bisa menampung hingga satu juta orang di Mars tanpa terjadi sesuatu yang sangat buruk, baik dalam hal ternyata kita tidak bisa punya bayi di sana, serta ibu dan bayi meninggal atau terkena kanker,” kata Kelly dalam wawancara dengan CNN, seperti dikutip dari Futurism, Senin (2/12/2024).

    “Jika Anda ingin melakukan ini, itu harus dalam bentuk kerja keras untuk membangun yang perlahan dari generasi ke generasi hingga ke titik di mana kita bisa mandiri di Mars,” sambungnya.

    Kelly, seorang pakar biologi dan asisten profesor di Rice University di Houston, Amerika Serikat, mengatakan reproduksi mungkin akan menjadi tantangan paling besar di Mars karena paparan radiasi yang sangat tinggi.

    Permukaan Mars juga memiliki gravitasi yang sangat rendah – hanya 38% dari gravitasi yang ada di permukaan Bumi – akan memiliki dampak signifikan terhadap kepadatan tulang manusia yang hidup lama di luar angkasa.

    “Anda bisa bayangkan betapa sulitnya, misalnya, saat persalinan dimulai dan Anda harus berharap pinggul Anda cukup kuat untuk melakukannya,” kata Kelly.

    “Kami terkejut dengan banyaknya masalah yang kami pikir dapat kami tangani. Tapi ternyata kami hanya memiliki sedikit data yang relevan tentang bagaimana orang dewasa akan menghadapinya, apalagi tentang bagaimana memiliki bayi (di luar angkasa),” sambungnya.

    Meski begitu, Kelly tetap menyambut positif upaya SpaceX dan NASA untuk mendaratkan manusia pertama di Mars. Menurutnya planet tetangga Bumi itu akan menjadi tempat yang cocok untuk melakukan banyak penelitian.

    “Mungkin di kehidupan kita, kita akan melihat orang mendarat di Mars, melakukan eksplorasi dan pulang (ke Bumi), itu bisa saja terjadi, tapi saya rasa kita tidak akan punya bayi di Mars,” pungkasnya.

    (vmp/fay)

  • Elon Musk Gugat OpenAI, Ada Masalah Apa?

    Elon Musk Gugat OpenAI, Ada Masalah Apa?

    Bisnis.com, JAKARTA – Pemilik Perusahaan kecerdasan buatan xAI dan SpaceX Elon Musk kembali menggugat OpenAI. Gugatan ini menyoroti niat perusahaan untuk beralih menjadi organisasi yang mencari laba.

    Melansir dari The Verge, Senin (2/12/2024) dalam pengajuan mosi yang diajukan Jumat malam, pengacara Musk meminta hakim untuk mengeluarkan putusan pendahuluan yang menghentikan peralihan bentuk perusahaan tersebut.

    Sebab, apa yang nantinya dilakukan OpenAI bakal melanggar undang-undang antimonopoli Amerika Serikat.

    Menurut pengacara Musk, jika OpenAI benar-benar menjadi perusahaan yang mencari laba, pihak Musk khawatir OpenAI akan kekurangan dana untuk membayar ganti rugi jika Musk memenangkan gugatan tersebut. 

    Tidak hanya itu, dalam gugatan ini juga menyoroti dugaan bahwa CEO OpenAI, Sam Altman terlibat dalam transaksi yang diduga untuk kepentingan pribadi, yang dapat merugikan keuangan perusahaan.

    Pengacara Musk juga menuduh bahwa OpenAI dan Microsoft bekerja sama untuk menekan pesaing mereka, termasuk dengan meminta investor untuk tidak mendanai proyek bersama mereka. Hal ini, menurut pengacara Musk, melanggar ketentuan Undang-Undang Sherman yang mengatur persaingan usaha. 

    Mereka mengeklaim bahwa setidaknya satu investor yang berkontribusi pada pendanaan untuk perusahaan Musk, xAI, telah menolak untuk berinvestasi setelah terjadinya kolaborasi antara OpenAI dan Microsoft.

    Selain itu, gugatan ini juga menyoroti dugaan bahwa OpenAI telah memperoleh informasi sensitif melalui hubungan dengan Microsoft, yang diduga melanggar ketentuan Undang-Undang Clayton yang mengatur praktik persaingan usaha dan konflik kepentingan. 

    Lebih lanjut, pengacara Musk mengklaim bahwa alasan Microsoft memperoleh kursi di dewan OpenAI adalah untuk mempengaruhi keputusan bisnis perusahaan dengan cara yang menguntungkan kedua belah pihak.

    Langkah hukum ini merupakan kelanjutan dari upaya Musk untuk menantang perubahan struktural yang sedang dijajaki oleh OpenAI, yang beberapa waktu lalu telah melibatkan regulator untuk merumuskan peraturan baru terkait transisi tersebut.

  • Elon Musk Minta Pengadilan Federal Larang OpenAI Cari Cuan

    Elon Musk Minta Pengadilan Federal Larang OpenAI Cari Cuan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Orang terkaya di dunia Elon Musk meminta pengadilan federal untuk menghentikan perusahaan kecerdasan buatan Amerika Serikat (AS) OpenAI untuk berubah menjadi bisnis yang sepenuhnya mencari keuntungan.

    Dilansir dari CNBC International, Elon Musk sendiri saat ini tengah mengembangkan perusahaan AI buatannya sendiri xAI.

    Pengacara yang mewakili Musk, Shivon Zilis, mengajukan putusan pendahuluan terhadap OpenAI. Putusan tersebut juga akan menghentikan OpenAI dari dugaan mengharuskan investornya untuk tidak mendanai pesaing, termasuk xAI dan lainnya.

    Pengajuan pengadilan terbaru menunjukkan eskalasi perseteruan hukum antara Musk, OpenAI, dan CEO-nya Sam Altman, serta pihak dan pendukung lain yang sebelumnya juga sudah terlibat, termasuk investor teknologi Reid Hoffman dan Microsoft.

    Musk awalnya menggugat OpenAI pada Maret 2024 di pengadilan negara bagian San Francisco, sebelum mencabut gugatan tersebut dan mengajukan kembali beberapa bulan kemudian di pengadilan federal.

    Pengacara Musk mengungkapkan dalam pengaduan mereka bahwa OpenAI telah melanggar undang-undang pemerasan federal, atau RICO.

    Pada pertengahan November, mereka menambah pengaduan dengan menyertakan tuduhan bahwa Microsoft dan OpenAI telah melanggar undang-undang antimonopoli. Alasanya karena OpenAI diduga meminta investor untuk tidak berinvestasi di perusahaan pesaing, termasuk perusahaan rintisan terbaru Musk, xAI.

    OpenAI telah muncul sebagai salah satu perusahaan rintisan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. ChatGPT pun semakin populer dan telah membantu mengantarkan antusiasme perusahaan besar terhadap AI.

    OpenAI awalnya memulai debutnya pada 2015 sebagai perusahaan nirlaba dan kemudian pada tahun 2019 diubah menjadi perusahaan dengan model laba terbatas, di mana nirlaba OpenAI menjadi entitas yang mengatur anak perusahaannya yang mencari laba.

    Perusahaan tersebut sedang dalam proses diubah menjadi perusahaan konvensional yang sepenuhnya mencari laba yang dapat membuatnya lebih menarik bagi investor. Rencana restrukturisasi tersebut juga akan memungkinkan OpenAI untuk mempertahankan status nirlaba sebagai entitas terpisah.

    (hsy/hsy)

  • Starlink Tutup, Dilarang Lanjutkan Bisnis di Negara Ini

    Starlink Tutup, Dilarang Lanjutkan Bisnis di Negara Ini

    Jakarta, CNBC Indonesia – Layanan internet berbasis satelit milik Elon Musk, Starlink, diminta berhenti beroperasi di Namibia. Perintah itu dikeluarkan Otoritas Regulator Komunikasi Namibia (CRAN) pada pekan ini.

    Alasannya, Starlink dikatakan telah beroperasi tanpa memegang lisensi resmi, dikutip dari Reuters, Jumat (29/11/2024).

    Starlink yang merupakan unit bisnis satelit di bawah SpaceX diketahui telah beroperasi di beberapa negara Afrika. Namun, ada banyak gejolak yang terjadi.

    Salah satunya, Starlink masih menghadapi tantangan regulator pemerintah setempat. Selain itu, ada perlawanan dari perusahaan telekomunikasi di beberapa negara Afrika, termasuk Namibia.

    Sebenarnya, Starlink telah memasukkan aplikasi untuk mendapatkan lisensi di Namibia. Kendati demikian, hingga kini regulator belum mengeluarkan lisensi resmi karena aplikasi Starlink masih dalam proses kajian.

    “Berdasarkan hasil investigasi, Starlink beroperasi di Namibia tanpa ada lisensi telekomunikasi,” tertera dalam keterangan resmi CRAN.

    “Pada 26 November 2024, otoritas setempat mengeluarkan perintah menutup operasi Starlink. Perusahaan diminta segera membubarkan operasinya di Namibia,” CRAN menjelaskan.

    SpaceX tak segera merespons permintaan komentar. Pemerintah Namibia juga mengimbau kepada masyarakat agar tak membeli alat dan paket layanan Starlink.

    Tim investigator telah menyita terminal ilegal yang dimiliki pengguna Starlink di Namibia. Sebelumnya, pada awal tahun ini Cameroon juga memerintahkan penyitaan terhadap peralatan Starlink tanpa lisensi.

    (fab/fab)

  • Australia Resmi Larang Anak di Bawah 16 Tahun Main Medsos

    Australia Resmi Larang Anak di Bawah 16 Tahun Main Medsos

    Jakarta

    Australia resmi mengesahkan undang-undang yang melarang remaja di bawah usia 16 tahun menggunakan media sosial. Undang-undang ini ditujukan untuk melindung kesehatan mental anak-anak di ruang online.

    Undang-undang ini disetujui oleh Senat Australia dengan perolehan suara 34 berbanding 19. Legislasi ini akan dikembalikan ke DPR Australia yang perlu menyetujui amandemen sebelum menjadi undang-undang.

    Setelah disetujui oleh DPR Australia, undang-undang ini akan berlaku dalam 12 bulan, yang memberikan waktu bagi perusahaan media sosial untuk memenuhi persyaratan. Pemerintah Australia akan melakukan uji coba pada Januari 2025 sebelum undang-undang ini resmi berlaku.

    Salah satu persyaratan yang harus dilakukan perusahaan media sosial adalah mengambil langkah-langkah yang wajar untuk mencegah anak-anak yang belum mencapai usia minimum memiliki akun.

    Anak-anak yang melanggar batasan ini tidak akan dijatuhi hukuman, begitu juga dengan orang tuanya. Perusahaan media sosial yang bertanggung jawab mencegah anak-anak bergabung ke platform-nya.

    “Kami ingin anak-anak Australia memiliki masa kecil, dan kami ingin orang tua tahu bahwa Pemerintah mendukung mereka,” kata Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dalam keterangan resminya pekan lalu, seperti dikutip dari The Verge, Jumat (29/11/2024).

    “Kami tahu sejumlah anak-anak akan menemukan jalan pintas, tapi kami mengirimkan pesan kepada perusahaan media sosial untuk memperbaiki tindakan mereka,” sambungnya.

    Undang-undang ini tidak menyebut nama media sosial tertentu, namun aturan ini diperkirakan akan berlaku untuk platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan Snapchat. Situs yang dipakai untuk edukasi, seperti YouTube, akan dikecualikan. Begitu juga aplikasi perpesanan seperti WhatsApp.

    Undang-undang ini tidak menyebutkan bagaimana perusahaan media sosial harus menegakkan batasan umur tersebut. Namun perusahaan yang gagal mengikuti aturan akan didenda hingga 50 juta dolar Australia atau sekitar Rp 515 miliar.

    Survei yang dilakukan YouGov menemukan 77% warga Australia mendukung undang-undang ini. Proposal serupa juga sedang dijajaki di Norwegia dan negara bagian Florida, Amerika Serikat.

    Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, mengkritik undang-undang ini dan menyebutnya tidak konsisten dan tidak efektif. Pemilik X Elon Musk juga menuding undang-undang ini merupakan “backdoor untuk mengontrol akses ke internet oleh seluruh warga Australia.”

    (vmp/fay)

  • Australia Resmi Larang Anak Pakai TikTok, X, Instagram, Cs

    Australia Resmi Larang Anak Pakai TikTok, X, Instagram, Cs

    Jakarta, CNBC Indonesia – Australia resmi melarang anak berusia di bawah 16 tahun menggunakan media sosial seperti TikTok, Instagram, X, dan Facebook. Parlemen Australia mengesahkan undang-undang larangan anak di media sosial pada Jumat (29/11/2024) waktu setempat.

    Reuters melaporkan bahwa UU tersebut memaksa perusahaan teknologi raksasa seperti Meta dan TikTok untuk mencegah anak berusia di bawah 16 tahun menggunakan platform media sosial milik mereka. Perusahaan-perusahaan tersebut terancam denda hingga US$ 32 juta (Rp 507 miliar) jika ditemukan pelanggaran.

    Metode pencegahan anak mengakses media sosial mulai diuji coba pada Januari 2025 dan larangan anak menggunakan media sosial berlaku efektif setahun setelahnya.

    Kebijakan Australia dan implementasinya diperhatikan oleh pemerintah di seluruh dunia yang juga ingin membatasi usia pengguna media sosial untuk melindungi anak dan remaja dari risiko gangguan kesehatan mental.

    Pemerintah lain, seperti Prancis, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat telah menerbitkan pembatasan usia pengguna media sosial dengan pengecualian izin orang tua. Aturan di Australia berbeda karena melarang total akses anak ke media sosial meskipun atas izin orang tua.

    Menurut survei yang dikutip Reuters, 77 persen penduduk Australia mendukung larangan anak mengakses di media sosial.

    Langkah Australia telah dikritik keras oleh Elon Musk, orang terkaya dunia yang merupakan pemilik dan CEO media sosial X. Musk dalam waktu dekat juga menjadi orang berpengaruh di pemerintah Amerika Serikat karena kedekatannya dengan presiden terpilih AS, Donald Trump.

    Menurut Musk, kebijakan Australia adalah “jalan belakang untuk mengendalikan akses internet seluruh penduduk Australia.”

    Australia punya rekam jejak sebagai pelopor aturan yang bertentangan dengan kepentingan bisnis perusahaan teknologi raksasa. Negara tetangga RI ini juga menjadi pemerintah pertama yang memaksa platform digital untuk membayar konten milik perusahaan berita. Pemerintah Australia juga punya rencana untuk mendenda perusahaan digital atas kejahatan penipuan yang dilakukan lewat platform milik mereka. 

    (dem/dem)

  • Elon Musk Panik Banyak Orang Tinggalkan X, Begini Reaksinya

    Elon Musk Panik Banyak Orang Tinggalkan X, Begini Reaksinya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pemilik X, Elon Musk, tampaknya mulai waswas dengan fenomnea pengguna ramai-ramai pindah ke aplikasi pesaing seperti BlueSky dan Threads.

    Musk langsung bereaksi dengan mengumumkan perombakan pada platform media sosial miliknya. Pengguna bisa menyembunyikan like, share, dan repost.

    Dikutip dari TheByte, Kamis (28/11/2024), langkah dadakan ini seperti ingin menghapus ‘dosa’ Musk dalam menjadikan X sebagai platform propaganda untuk memenangkan Donald Trump dalam Pilpres AS.

    “Anda kini bisa menyembunyikan tombol engagement dan jumlah orang yang berinteraksi pada unggahan dengan gestur geser (swipe),” kata developer X May Ly, melalui akun X personalnya.

    Musk sendiri mengatakan perubahan ini untuk membuat tampilan X lebih segar dan simpel.

    “Fitur ini membuat X lebih bersih dengan jumlah engagement yang dimatikan. Anda masih bisa melihat jumlah view jika menginginkannya,” Musk menuturkan.

    Alasan Musk tiba-tiba peduli dengnan tampilan platform yang lebih ‘bersih’ masih menjadi misteri. Sejak mencaplok Twitter dan mengubahnya menjadi X, Musk telah mencecoki X dengan banyak simbol, informasi tak penting, dan iklan yang dinilai disruptif.

    Namun, Musk sepertinya merasa perlu membuat gebrakan setelah BlueSky mendapat penambahan pengguna signifikan dari X. Menurut SimilarWeb, peningkatan pengguna BlueSky naik 300% di hari pemilu di AS.

    Sepanjang pekan lalu saja, jumlah pengguna aktif BlueSky sudah melonjak menjadi 3,5 juta. Banyak netizen yang mengaku meninggalkan X dan beralih ke platform lain karena cawe-cawe Musk dalam Pilpres AS via X.

    (fab/fab)

  • Elon Musk Mulai Tebar Teror ke Para PNS di Amerika

    Elon Musk Mulai Tebar Teror ke Para PNS di Amerika

    Washington

    Kehidupan para PNS pemerintahan federal Amerika Serikat tampaknya akan menjadi tidak tenang setelah Donald Trump menunjuk Elon Musk bersama politisi Partai Republik Vivek Ramaswamy, sebagai kepala Departement of Government Efficiency (DOGE). Tujuannya untuk memangkas pengeluaran pemerintah.

    Elon Musk dan Vivek Ramaswamy pun telah mengusulkan mengakhiri kerja jarak jauh bagi pegawai federal, menyebutnya hak istimewa yang tersisa dari pandemi. Keduanya mengemukakan gagasan itu dalam opini di Wall Street Journal. Malah menurut mereka, itu akan jadi cara mudah untuk mengecilkan jumlah tenaga kerja federal karena mungkin akan ada banyak yang resign.

    “Mewajibkan pegawai federal datang ke kantor lima hari seminggu akan mengakibatkan gelombang pemutusan hubungan kerja sukarela yang kami sambut baik. Jika pegawai federal tak ingin datang, pembayar pajak Amerika tidak boleh membayar mereka untuk hak istimewa era Covid untuk tinggal di rumah,” tulis mereka yang dikutip detikINET dari NBC.

    Memang para PNS federal itu sudah terbiasa kerja remote sehingga mungkin tak nyaman jika harus kembali ke kantor. Sekitar 1,1 juta pegawai sipil federal memenuhi syarat kerja jarak jauh. Pemerintahan Joe Biden memang memerintahkan untuk meningkatkan pekerjaan langsung di kantor tapi juga memberi beberapa fleksibilitas.

    Musk, CEO Tesla dan SpaceX, memang tidak pro pekerjaan jarak jauh, terutama sejak pandemi Covid-19 mereda. Musk mengumumkan kebijakan kembali ke kantor di Tesla dan SpaceX pada tahun 2022, memerintahkan karyawan untuk kembali bekerja minimal 40 jam per minggu di lokasi.

    Beberapa pekerja federal yang tergabung dalam serikat pekerja mengkritik Musk dan Ramaswamy, menyebut mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. “Jelas Musk dan Ramaswamy sama sekali tak paham bagaimana tenaga kerja federal dikelola atau dioperasikan,” kata Randy Erwin, presiden National Federation of Federal Employees.

    Dalam opini mereka, Musk dan Vivek juga menyarankan cara lain untuk memangkas pekerjaan federal termasuk pemberhentian besar-besaran para PNS dan relokasi lembaga federal keluar dari wilayah Washington.

    Elon Musk memang dikenal suka penghematan dan efisiensi, serta tak segan memecat pegawai perusahaannya. Setelah membeli Twitter yang sekarang bernama X di 2022, Musk langsung melakukan perubahan dramatis. Dalam hitungan minggu, ia memberhentikan banyak karyawan X, dari yang semula sekitar 8.000 jadi hanya 1.500 orang.

    Nah dengan sikap seperti itu, apakah Elon Musk nanti juga akan banyak memangkas PNS Amerika Serikat saat memimpin DOGE? Jikalaupun dilakukan, hal itu sangat sulit karena seperti di Indonesia, PNS di AS pun sukar diberhentikan, tidak seperti di perusahaan swasta.

    (fyk/rns)

  • xAI Luncurkan Grok Terbaru untuk Rebut Pasar OpenAI, Perang AI Memanas

    xAI Luncurkan Grok Terbaru untuk Rebut Pasar OpenAI, Perang AI Memanas

    Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence(AI) milik Elon Musk, xAI akan segera meluncurkan aplikasi mandiri untuk chatbot Grok. Digadang-gadang bakal ganggun pasar OpenAI milik Sam Altman.

    Melansir dari The Verge, Kamis (28/11/2024) aplikasi ini dirancang untuk bersaing langsung dengan ChatGPT milik OpenAI. 

    Rencananya, aplikasi baru dari xAI ini bakal diluncurkan pada Desember mendatangi dan menandai langkah signifikan Elon Musk untuk mengukir posisi baru di industri AI.

    Adapun, berdasarkan laporan dari The Wall Street Journal, xAI berencana mengembangkan aplikasi terpisah yang memungkinkan pengguna mengakses Grok secara langsung, tanpa melalui platform X.

    Saat ini, Grok hanya tersedia bagi pengguna X yang berlangganan layanan premium, membuatnya berbeda dari chatbot besar lainnya seperti ChatGPT, Gemini dari Google, dan Claude dari Anthropic.

    Sebab, chatbot tersebut diketahui sudah memiliki aplikasi dan produk gratis yang bisa diakses lebih luas oleh masyarakat tanpa perlu berlangganan.

    Selain berfokus pada Grok, xAI juga dilaporkan turut berperan dalam pengembangan fitur dukungan pelanggan untuk Starlink, layanan internet satelit dari SpaceX yang juga dimiliki oleh Musk. Namun, pihak xAI belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.

    Sebelumnya, memperkenalkan model multimodal generasi pertama perusahaan, yaitu Grok-1.5V atau Grok 1.5 Vision.

    xAI ditujukan untuk pengguna premium aplikasi X (dahulu bernama Twitter), menyaingi ChatGPT milik OpenAI.

    Hal itu terungkap saat xAI membagikan pratinjau Grok-1.5V pada 12 April 2024, dengan memperkenalkan versi model bahasa Grok yang dapat memproses visual. Model chatbot AI pertama milik Elon Musk ini memproses video dan teks.

    Ini artinya, kini Grok dapat memproses informasi visual seperti dokumen, foto, diagram, dan lainnya, serta menjadikan model tersebut kompetitif dengan platform multimoda lainnya.

    “Selain kemampuan teksnya yang kuat, Grok kini dapat memproses berbagai macam informasi visual, termasuk dokumen, diagram, bagan, tangkapan layar, dan foto. Grok-1.5V akan segera tersedia untuk penguji awal kami dan pengguna Grok yang sudah ada,” demikian yang dikutip dari laman resmi xAI, Minggu (14/4/2024).