Tag: Elon Musk

  • Wahana Starship Hilang Saat SpaceX Gelar Uji Terbang Ketujuh

    Wahana Starship Hilang Saat SpaceX Gelar Uji Terbang Ketujuh

    JAKARTA – SpaceX menggelar uji terbang Starship ketujuh pada Jumat, 17 Januari di Boca Chica, Texas. Pendorong Starship berhasil ditangkap Mechazilla, tetapi perusahaan antariksa itu kehilangan wahana Starship. 

    Peluncuran Starship awalnya berjalan dengan lancar sekitar pukul 05.38 WIB. Hampir sembilan menit setelah peluncuran, masalah pada Starship baru terdeteksi. Wahana ini sepertinya mengalami anomali karena pihak SpaceX mengaku kehilangan kontak. 

    Keenam mesin raptor Starship sempat menyala saat memasuki tahapan pembakaran pendakian. Namun, saat Starship memasuki tahap akhir dari pembakaran tersebut, mesin pada telemitri mati dan SpaceX kehilangan kontak. Belum diketahui mengapa masalah ini bisa terjadi. 

    Mechazilla has caught the Super Heavy booster! pic.twitter.com/aq91TloYzY

    — SpaceX (@SpaceX) January 16, 2025

    Satu jam setelah peluncuran, SpaceX menjelaskan bahwa mereka akan mencari tahu penyebab dari gagalnya proses pembakaran hingga mereka kehilangan Starship. Selama masalahnya ditinjau, SpaceX mungkin akan dipantau oleh Badan Penerbangan Federal (FAA).

    “Starship mengalami pembongkaran cepat yang tidak terjadwal selama pembakaran saat naik. Tim akan terus meninjau data dari uji terbang hari ini untuk lebih memahami akar permasalahannya,” kata SpaceX melalui akun X, sebelumnya Twitter, resminya. 

    Meski tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, peluncuran kali ini tidak sepenuhnya gagal. Pasalnya, SpaceX berhasil menangkap booster Super Heavy menggunakan Mechazilla, menara berupa robot raksasa yang dirancang untuk menangkap wahana antariksa. 

    Jika dilihat dari video yang SpaceX bagikan, Super Heavy berhasil turun ke lengan Mechazilla sehingga booster tersebut bisa ditangkap. Dengan berhasilnya proses penangkapan booster ini, SpaceX berkata bahwa, “Penerbangan hari ini akan membantu kita meningkatkan keandalan Starship.” 

    Setelah peluncuran selesai, SpaceX langsung meninjau data dan mencari akar masalah. Perusahaan milik Elon Musk itu menjanjikan investigasi secara menyeluruh. SpaceX juga berniat menjalin koordinasi yang baik dengan FAA dalam menerapkan tindakan korektif.

  • Trump Dilantik Minggu Depan, Deretan Bos Raksasa Teknologi Bakal Hadir

    Trump Dilantik Minggu Depan, Deretan Bos Raksasa Teknologi Bakal Hadir

    Daftar Isi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Kurang dari satu minggu lagi, pelantikan presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan digelar.

    Upacara Pelantikan Presiden AS ke-60 Donald Trump akan berlangsung di Gedung Kongres AS (US Capitol) pada hari Senin, 20 Januari 2025. Upacara ini dijadwalkan pada pukul 12 siang waktu setempat.

    Sejumlah tokoh teknologi dijadwalkan hadir pada pelantikan Trump. Sejauh ini ada beberapa nama yang disebut akan hadir, termasuk Elon Musk, Jeff Bezos, dan Mark Zuckerberg.

    Berikut daftar tamu bos teknologi di pelantikan Trump pekan depan.

    Elon Musk

    Elon Musk dijadwalkan akan hadir dan diperkirakan duduk di dekat Trump saat pelantikan, karena hubungannya yang dekat dengan Trump.

    Musk telah diberikan posisi di pemerintahan Trump, yakni Departemen Efisiensi Pemerintah, atau DOGE, sebuah badan non-pemerintah yang akan memberikan rekomendasi kepada Trump dan Kongres untuk memangkas pengeluaran federal.

    Ia diperkirakan akan memimpin komite tersebut bersama rekan miliarder Vivek Ramaswamy, yang kabarnya mengejar kursi di Senat.

    Musk dilaporkan akan memiliki ruang kantor sendiri di Gedung Kantor Eksekutif Eisenhower, yang bersebelahan dengan Gedung Putih. Ini memungkinkannya untuk terus memiliki akses ke Trump.

    Musk telah menyewa sebuah pondok di klub Mar-a-Lago milik Trump dalam beberapa minggu terakhir sehingga ia dapat memberikan saran kepada presiden yang akan datang di “Gedung Putih Musim Dingin” dan menyiarkan secara langsung saat ia bermain video game.

    Dia juga bergabung dengan Trump dalam sejumlah pertemuan dengan para pemimpin dunia dan sesama pemimpin teknologi, termasuk Jeff Bezos.

    Jeff Bezos

    Pendiri Amazon dan pemilik Blue Origin, Jeff Bezos, juga akan bergabung dengan Musk dalam pelantikan Trump.

    Amazon adalah salah satu perusahaan publik besar pertama yang diketahui menyumbang untuk pelantikan Trump. Amazon menyumbangkan US$1 juta dan merencanakan sumbangan terpisah sebesar US$1 juta dalam bentuk barang dengan menyiarkan acara tersebut di Amazon Video.

    Bezos seolah berusaha untuk menebus kesalahannya dengan presiden terpilih, yang sering berselisih dengan dia selama masa jabatan pertamanya terkait kontrak yang menguntungkan yang dikenal sebagai JEDI, yang pada awalnya diberikan kepada Microsoft.

    Pada Oktober, ia membatalkan rencana The Washington Post miliknya untuk mendukung saingan Trump dari Partai Demokrat.

    Bulan lalu, Bezos bertemu dengan Trump untuk makan malam di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida, bersama dengan Musk.

    “SEMUA ORANG INGIN MENJADI TEMAN SAYA!!!” Trump menulis di Truth Social keesokan paginya.

    Mark Zuckerberg

    Mark Zuckerberg dilaporkan akan bergabung dengan Bezos dan Musk pada pelantikan karena ia terus mendekatkan diri dengan pemerintahan berikutnya.

    Selain menyumbang untuk dana peresmian, Meta telah menambahkan Dana White, CEO Ultimate Fighting Championship (EDR) dan sekutu Trump, ke dalam jajaran direksinya. Meta juga menghapus fitur cek fakta di platform media sosialnya untuk mendukung pemerintahan Trump.

    Kebijakan moderasi juga telah dibatalkan, dalam sebuah langkah yang dipuji oleh kaum konservatif tetapi dikritik oleh kelompok-kelompok yang khawatir bahwa hal tersebut akan memungkinkan antisemitisme, retorika anti-LGBTQ+, dan disinformasi menyebar.

    Sundar Pichai

    CEO Google Sundar Pichai diperkirakan akan bergabung dengan iring-iringan para pemimpin teknologi yang akan menghadiri pelantikan Trump, lapor Business Insider, mengutip seseorang yang mengetahui rencananya.

    Berita ini muncul tidak lama setelah perusahaannya menyumbang US$1 juta untuk dana pelantikan dan mengatakan bahwa mereka akan menyiarkan langsung acara tersebut di YouTube dengan tautan langsung yang ditampilkan di beranda platform berbagi video tersebut.

    Pichai juga mengungkapkan kegembiraannya untuk mengerjakan “Proyek Manhattan” untuk kecerdasan buatan (AI) menjelang pertemuan dengan Trump pada bulan Desember.

    Dalam acara DealBook Summit di The New York Times bulan lalu, Pichai mengatakan bahwa ia berharap Trump dapat membantu membangun infrastruktur untuk kecerdasan buatan.

    Hal ini kemungkinan akan membuat Google, dan perusahaan-perusahaan AI lainnya, bekerja sama dengan David Sacks, pemodal ventura yang dijuluki Trump sebagai “crypto and AI czar,” dan Mantan eksekutif Microsoft Sriram Krishnan, yang akan menjadi penasihat senior Trump di bidang AI.

    Shou Zi Chew

    The New York Times melaporkan bahwa CEO TikTok Shou Zi Chew akan menghadiri pelantikan Trump pada hari Senin. Pelantikan Trump ini bertepatan sehari setelah TikTok kemungkinan besar akan dilarang di Amerika Serikat.

    Chew diundang untuk duduk di posisi kehormatan di podium, di mana para tamu penting termasuk Zuckerberg, Bezos, dan Musk juga akan duduk.

    Ini adalah sebuah langkah yang menyoroti tidak hanya perubahan pandangan Trump terhadap TikTok, tetapi juga rencananya untuk menyelamatkan aplikasi ini agar tidak tendang dari negara tersebut.

    Perusahaan China ByteDance, yang telah menyatakan keengganannya untuk menjual TikTok, diberi waktu hingga 19 Januari untuk menemukan pembeli atau menghadapi larangan, yang akan membuat aplikasi ini tidak dapat diunduh di AS dan memblokir penyedia layanan internet AS.

    Mahkamah Agung saat ini sedang memperdebatkan apakah akan memblokir larangan tersebut.

    Trump telah meminta Mahkamah Agung untuk menunda penerapan larangan tersebut hingga ia mulai menjabat sehingga ia dapat memeriksa kasus ini dengan saksama.

    Pada Desember, Trump mengatakan bahwa dirinya memiliki “tempat yang hangat” di hatinya untuk TikTok, yang ia puji karena telah memberikan dukungan dari para pemilih yang lebih muda. Dia juga bertemu dengan Chew bulan lalu di klub Mar-a-Lago miliknya.

    Tim Cook

    CEO Apple Tim Cook berencana untuk menghadiri pelantikan Trump. Menurut Axios, ia menyumbangkan sekitar US$1 juta kepada komite pelantikan Trump tahun 2025.

    Cook adalah salah satu dari sedikit CEO teknologi yang belum pernah berselisih dengan Trump. Selama masa pemerintahan Trump yang pertama, Cook sering menelepon presiden saat itu, duduk di Dewan Penasihat Kebijakan Tenaga Kerja, dan menjamu Trump di kampus Apple di Austin, Texas.

    Pada t2019, setelah Cook berhasil meyakinkan Trump agar Apple mendapat pengecualian dari serangkaian tarif yang memengaruhi impor Tiongkok, Cook menghadiahkan salah satu Mac Pro pertama yang dibuat di fasilitas barunya di AS kepada presiden saat itu.

    Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg News pada bulan Juni, Trump mengatakan bahwa ia menganggap Cook sebagai “pebisnis yang sangat baik.”

    “Saya percaya bahwa jika Tim Cook tidak menjalankan Apple, jika Steve Jobs yang menjalankannya, Apple tidak akan sesukses sekarang,” ujar Trump dalam sebuah episode PBD Podcast Oktober lalu.

    “Saya berpikir demikian karena saya pikir Tim Cook telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan saya tidak meremehkan Steve Jobs, tapi itu tidak akan sama.”

    (fab/fab)

  • Bak Hujan Meteor! Potret Roket SpaceX Andalan Elon Musk Meledak

    Bak Hujan Meteor! Potret Roket SpaceX Andalan Elon Musk Meledak

    Pada Kamis (16/1) waktu setempat, pengendali misi SpaceX kehilangan kontak dengan roket Starship, yang membawa muatan uji coba pertama untuk simulasi peluncuran satelit, sekitar delapan menit setelah diluncurkan dari fasilitas roket Texas pukul 17.38 waktu setempat. Misi SpaceX itu tidak membawa awak. (AP Photo/Eric Gay)

  • Menilik 5 Startup Milik Elon Musk

    Menilik 5 Startup Milik Elon Musk

    3. Open Al

    OpenAI merupakan sebuah laboratorium penelitian swasta yang berdiri pada tahun 2015 di San Francisco, didirikan oleh sekelompok visioner termasuk Elon Musk dan Sam Altman. Dengan fokus utama pada pengembangan kecerdasan buatan (AI) untuk kepentingan manusia, OpenAI memiliki misi untuk menciptakan kecerdasan umum buatan (AGI) yang tidak hanya canggih, tetapi juga aman dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Dalam perjalanannya, OpenAI telah menghasilkan berbagai produk dan layanan inovatif yang mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Salah satu produk unggulan mereka adalah ChatGPT, sebuah alat yang membantu manusia menyelesaikan berbagai pertanyaan umum.

    Selain itu, mereka juga mengembangkan penerjemah kode yang mampu menginterpretasi dan membuat kode program, serta berbagai alat dan teknologi canggih untuk analisis data yang memungkinkan pengumpulan, analisis, dan interpretasi data secara cepat dan akurat. Yang membedakan OpenAI dari laboratorium penelitian lainnya adalah komitmen mereka terhadap transparansi dan kolaborasi.

    Mereka menganut prinsip keterbukaan di mana hasil penelitian dan paten yang mereka hasilkan dapat diakses oleh publik, kecuali dalam kasus-kasus khusus yang berpotensi membahayakan keselamatan. Lebih dari itu, OpenAI secara aktif menjalin kolaborasi dengan berbagai organisasi dan individu peneliti, menciptakan ekosistem penelitian yang terbuka dan produktif dalam pengembangan kecerdasan buatan.

    4. Space X

    SpaceX, yang didirikan oleh Elon Musk pada tahun 2002, telah menjadi pionir dalam industri antariksa swasta Amerika Serikat. Bermarkas di Hawthorne, California, perusahaan ini telah mencatatkan berbagai prestasi revolusioner yang mengubah lanskap eksplorasi ruang angkasa.

    Dalam perjalanannya, SpaceX telah mencapai sejumlah tonggak sejarah. Pada tahun 2015, mereka berhasil melakukan terobosan dengan mendaratkan roket secara vertikal, sebuah pencapaian yang sebelumnya dianggap mustahil.

    Prestasi ini dilanjutkan dengan keberhasilan membawa astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada tahun 2020. SpaceX juga dikenal sebagai pelopor dalam pengembangan roket pendorong yang dapat digunakan kembali, dan kini telah berkembang menjadi operator konstelasi satelit komersial terbesar di dunia.

    Portfolio produk SpaceX mencerminkan komitmen mereka terhadap inovasi dalam teknologi antariksa. Mereka telah mengembangkan serangkaian roket canggih, termasuk Falcon 1, Falcon 9, Falcon Heavy, dan yang terbaru, Starship. Kapsul Dragon mereka telah terbukti handal dalam mengangkut kargo ke orbit bumi rendah.

    Dalam bidang komunikasi, SpaceX telah meluncurkan Starlink, layanan internet satelit yang revolusioner, serta Starshield, sistem satelit untuk keperluan keamanan. Untuk mendukung operasinya yang masif, SpaceX mengoperasikan beberapa pusat peluncuran strategis di berbagai lokasi di Amerika Serikat, termasuk Kennedy Space Center di Florida, Starbase di Texas, dan fasilitas di Vandenberg, California.

     

  • Pesawat Elon Musk Hancur di Luar Angkasa, Puing Bertebaran di Amerika

    Pesawat Elon Musk Hancur di Luar Angkasa, Puing Bertebaran di Amerika

    Jakarta, CNBC Indonesia – Badan pengelola penerbangan Amerika Serikat (FAA) harus mengalihkan jalur penerbangan pesawat terbang untuk menghindari puing pesawat luar angkasa SpaceX yang meledak dalam uji coba.

    Menurut TechCrunch, sejumlah penerbangan terlihat mengambil lintasan menunggu atau mengubah jalur di wilayah dekat Puerto Rico beberapa saat setelah pesawat luar angkasa raksasa buatan SpaceX, Starship meledak.

    Peristiwa tersebut menyebabkan gangguan di beberapa bandar. Di Miami International Airport, pengelola mengumumkan peringatan keterlambatan 30 menit karena “anomali peluncuran roket.” Fort Lauderdale-Hollywood International Airport di Florida juga merilis pengumuman serupa.

    SpaceX meluncurkan Starship pada Kamis (16/1/2025) waktu setempat di fasilitas peluncuran Boca Chica, Texas. Peluncuran itu adalah uji coba ke-7 sistem peluncuran SpaceX. Roket raksasa yang membawa Starship ke luar angkasa berhasil “ditangkap” oleh menara peluncuran, keberhasilan yang kedua.

    Dalam uji coba ke-7, SpaceX menguji peralatan baru dan upgrade di Starship.

    Sepekan sebelumnya, puing wahana luar angkasa buatan SpaceX sempat mengganggu penerbangan. Maskapai Qantas mengeluhkan keterlambatan penerbangan akibat reruntuhan roket SpaceX. 

    Video puing Startship yang hancur di luar angkasa viral di media sosial. CEO SpaceX merespons video yang beredar di X, mengatakan, “sukes tak tidak pasti, tapi dijamin menghibur.”

    [Gambas:Twitter]

    (dem/dem)

  • Presiden Joe Biden Serahkan Nasib TikTok di AS ke Donald Trump – Page 3

    Presiden Joe Biden Serahkan Nasib TikTok di AS ke Donald Trump – Page 3

    Sementara itu, TikTok terancam dilarang di AS dalam beberapa hari ke depan, yakni pada 19 Januari 2025.

    Agar bisa tetap beroperasi di Amerika Serikat, layanan TikTok di negara itu harus dimiliki oleh entitas bisnis di AS.

    Kabar terbaru, Tiongkok berencana menjual cabang TikTok di AS kepada Elon Musk agar TikTok bisa tetap beroperasi di negara itu. Klaim ini pun menarik perhatian, namun TikTok angkat bicara tentang situasi ini.

    Mengutip Gizchina, Rabu (15/1/2025), TikTok membantah klaim tersebut.

    Kepada BBC, seorang juru bicara TikTok menyebut, “Ini adalah skenario yang sepenuhnya dibuat-buat, kami tidak bisa mengomentari situasi seperti itu.”

    Sebelumnya, otoritas Tiongkok mungkin menjual bisnis TikTok di AS, jika Mahkamah Agung AS tetap melarang bisnis TikTok di negara tersebut. Elon Musk disebut-sebut bisa menjadi pembeli potensial TikTok.

  • Beri Pesan Perpisahan sebelum Trump Menjabat, Biden: Ada Orang Ultra Kaya yang Ancam Demokrasi AS – Halaman all

    Beri Pesan Perpisahan sebelum Trump Menjabat, Biden: Ada Orang Ultra Kaya yang Ancam Demokrasi AS – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Pernyataan kontroversial dibagikan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dalam pidato perpisahannya pada hari Rabu (15/1/2025).

    Di dalam pidatonya sebelum digantikan Donald Trump pada Senin, 20 Januari 2025 mendatang, Biden memberikan peringatan keras agar warga AS mewaspadai munculnya “oligarki” dari orang-orang kaya ekstrem yang mulai mengakar di AS.

    Biden juga memperingatkan potensi terjadinya “kompleks industri-teknologi” yang melanggar hak-hak rakyat Amerika dan masa depan demokrasi di periode pemerintahan AS yang akan datang..

    “Hari ini, sebuah oligarki sedang terbentuk di Amerika, yang terdiri dari kekayaan ekstrem, kekuasaan, dan pengaruh yang benar-benar mengancam seluruh demokrasi kita, hak dasar kita, dan kebebasan, serta kesempatan yang adil bagi setiap orang untuk maju,” kata Biden dalam pidatonya dari Ruang Oval Gedung Putih,

    “Konsentrasi kekuasaan ini berbahaya karena hanya segelintir orang kaya yang memilikinya dan ini akan berakibat buruk jika penyalahgunaan kekuasaan ini dibiarkan tanpa pengawasan.” lanjut Biden seperti yang dikutip dari ABC News.

    Biden kemudian mengutip peringatan Presiden Dwight Eisenhower tentang munculnya kompleks industri-militer ketika ia meninggalkan jabatannya pada tahun 1961

    “Saya juga sangat khawatir tentang potensi munculnya kompleks industri-teknologi yang bisa menimbulkan bahaya nyata bagi negara kita.” lanjut Biden

    Biden menggunakan pidato selama 15 menit itu untuk menawarkan model transfer kekuasaan yang damai tanpa menyebut Trump sama sekali dalam pidatonya.

    Peringatan ini sepertinya digunakan Biden untuk menyindir sejumlah individu terkaya di dunia dan tokoh-tokoh besar industri teknologi yang baru-baru ini menyatakan dukungannya kepada Trump

    Satu di antaranya yang menjadi sorotan adalah sosok manusia terkaya di dunia yakni Elon Musk yang menghabiskan lebih dari $100 juta untuk membantu Trump terpilih.

    Tak hanya Musk , pidato tersebut juga dinilai banyak pengamat sebagai sindiran kepada Mark Zuckerberg dari Meta dan Jeff Bezos dari Amazon yang mulai banting setir mendukung Donald Trump setelah ia memastikan diri menang di Pilpres AS.

    Langkah pendekatan tersebut begitu terlihat saat keduanya tiba-tiba melakukan kunjungan ke kediaman Trump di Mar-A-Lago dan menyumbangkan dana fantastis untuk komite pelantikan capres dari Partai Republik tersebut.

    Biden dan Trump Rebutan Klaim soal Gencatan Israel-Hamas

    Sebelum menyampaikan pidato perpisahannya, Biden sempat bertemu dengan sejumlah wartawan untuk membahas kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Palestina.

    Ketika seorang jurnalis bertanya siapa yang dianggap bertanggung jawab atas gencatan senjata dan mengajukan pertanyaan, Biden dengan nada terkejut menjawab, “Apakah itu lelucon?”

    “Rencana ini dikembangkan dan dinegosiasikan oleh tim saya. Sebagian besar akan dilaksanakan oleh pemerintahan yang akan datang. Itulah sebabnya saya meminta tim saya untuk terus memberi informasi kepada pemerintahan yang baru,” kata Biden yang dikutip dari APNews.

    Tak ingin kalah dengan Joe Biden, Presiden terpilih AS ke-47, Donald Trump, dalam unggahan di media sosialnya mengklaim bahwa negosiasi kesepakatan senjata di Gaza merupakan terobosan terbarunya.

    Trump mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengutus utusannya, Steve Witkoff, untuk bergabung dalam negosiasi di Timur Tengah.

    Witkoff berada di sana selama 96 jam terakhir pembicaraan menjelang kesepakatan.

    “Perjanjian gencatan senjata ini hanya dapat terjadi sebagai hasil dari Kemenangan Bersejarah kita di bulan November, karena perjanjian ini memberi isyarat kepada seluruh dunia bahwa pemerintahan saya akan berupaya menciptakan perdamaian dan merundingkan kesepakatan untuk menjamin keselamatan semua warga Amerika, serta sekutu-sekutu Amerika,” katanya.

    Aksi saling klaim antara Biden dan Trump diduga dilakukan untuk menjadikan kesepakatan gencatan senjata Gaza sebagai warisan kepresidenan mereka.

    Selama beberapa bulan terakhir, pemerintah Biden telah melakukan berbagai upaya untuk menangani perdamaian melalui perundingan yang hampir berhasil, namun akhirnya gagal.

    Sementara itu, Trump mendapatkan sorotan baru-baru ini setelah memberikan peringatan bahwa “ada harga yang harus dibayar” jika gencatan senjata tidak tercapai sebelum pelantikannya pada 20 Januari 2025.

    (Tribunnews.com/Bobby)

  • Tanda Kehancuran Elon Musk Dimulai, Ini Penyebabnya

    Tanda Kehancuran Elon Musk Dimulai, Ini Penyebabnya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Luar Negeri dan Pertahanan Jerman menyatakan akan mengambil tindakan keras kepada platform X milik Elon Musk. Mereka menyebut perkembangan di platform media sosial yang dulu bernama Twitter itu makin tak karuan.

    Musk dituduh mencampuri urusan politik Eropa, dengan intervensinya sejak September 2024, termasuk seruan agar Perdana Menteri Inggris Keir Starmer diganti.

    Musk juga melabeli Kanselir Jerman Olaf Scholz sebagai “orang bodoh yang tidak kompeten” dan mendesak pemungutan suara alternatif untuk Jerman yang beraliran sayap kanan.

    Orang terkaya di dunia itu telah menyiratkan kritiknya soal imigrasi, yang ia yakini mengancam masa depan negara-negara Eropa.

    “Kami makin tidak senang dengan perkembangan di sana,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Jerman, dikutip dari Reuters, Kamis (16/1/2025).

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri mengatakan bahwa mereka terus memantau platform X dan perdebatan di sekitarnya. Pemerintah Jerman juga memutuskan untuk mengintensifkan kehadiran mereka di platform BlueSky, platform media sosial yang terdesentralisasi dan terbuka. Platform ini dirancang untuk menjadi alternatif Twitter yang lebih sehat dan aman.

    Bluesky kabarnya mendapat penambahan jutaan pengguna baru yang memilih meninggalkan X.

    Secara spesifik, Bluesky berhasil meraup 2,5 juta pengguna baru dalam sepekan. Saat ini, total penggunanya tercatat mencapai 16 juta.

    Bluesky merupakan salah satu dari beberapa aplikasi pesaing X yang menawarkan alternatif platform mikroblog pasca Musk mencaplok Twitter dan mengubah namanya. Bluesky terhitung masih baru, didirikan pada 2021 silam.

    Elon Musk Berulah, X Ditinggal

    Bersamaan dengan itu, kabar soal X yang makin ditinggalkan kini sedang ramai beredar. Aplikasi penggantinya juga sudah banyak yang bermunculan.

    Salah satunya, media sosial Mastodon yang makin banyak digunakan usai netizen mencari pengganti aplikasi alternatif selain X.

    Perusahaan mengatakan bahwa unduhan aplikasi resminya naik 47% di iOS. Sementara di Android naik 17%. Dengan demikian total pendaftaran bulanan naik sekitar 27% menjadi 90.000.

    Pesaing yang open-source ini tidak seperti X yang tersentralisasi, Mastodon terdiri dari ribuan jaringan sosial yang berbeda, terintegrasi ke dalam web yang disebutnya “fediverse.”

    “Kami mungkin belum menjadi yang terbesar dalam hal jumlah, tetapi Mastodon (dan fediverse) telah membuktikan dirinya sebagai platform komunikasi yang efektif dan andal selama 8 tahun terakhir dan tidak bergantung pada modal ventura untuk bertahan,” kata Pendiri Mastodon Eugen Rochko, dikutip dari PCMag.

    Beberapa waktu yang lalu, sejumlah pengguna X menutup akun mereka setelah Hari Pemilihan Umum di AS.

    Analis lalu lintas internet Similarweb mengatakan 115.000 pengunjung web berbasis AS menonaktifkan akun X mereka pada 6 November. Ini merupakan angka penurunan terbesar dalam satu hari sejak Elon Musk mengambil alih platform tersebut pada Oktober 2022.

    Musk telah menjadi pendukung vokal Presiden terpilih Donald Trump, dan mengizinkan pemulihan akun tokoh sayap kanan yang kontroversial.

    Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) berdampak pada media sosial X milik Elon Musk.

    X diketahui menjadi salah satu alat yang digunakan Musk untuk menyebar kampanye demi memenangkan Donald Trump.

    (fab/fab)

  • TikTok Diblokir Mulai 19 Januari 2025, Pengguna AS Beralih

    TikTok Diblokir Mulai 19 Januari 2025, Pengguna AS Beralih

    Jakarta, FORTUNE – TikTok berencana menutup total operasinya di Amerika Serikat (AS) pada Minggu, (19/1). Tanggal tersebut merupakan tenggat waktu yang diminta oleh pemerintah AS kepada platform milik ByteDance itu untuk menjual operasionalnya atau menghadapi pelarangan penggunaannya.

    Dilansir Reuters pada Kamis (16/1), TikTok saat ini telah digunakan oleh 170 juta orang AS. Dengan begitu, para penggunanya terancam kehilangan aksesnya akhir pekan ini atau saat UU federal tentang larangan tersebut berlaku. Namun, bisa batal jika ada penangguhan hukuman pada menit-menit terakhir. Warganet AS pun mulai beralih ke media sosial lain yang mirip TikTok, yaitu REDnote.

    The Washington Post melaporkan bahwa Presiden terpilih AS Donald Trump, yang masa jabatannya dimulai sehari seusai pemblokiran TikTok, tengah mempertimbangkan untuk mengeluarkan perintah eksekutif guna menangguhkan penegakan penutupan selama 60-90 hari. Namun, laporan itu tak menyebutkan bagaimana Trump dapat melakukan hal tersebut secara hukum.

    TikTok ajukan kasus ke Mahkamah Agung AS

    Ruang Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat (AS). (Dok. MA AS)

    Mengutip New York Times, Kamis (16/1), TikTok telah mengajukan kasusnya ke Mahkamah Agung (MA) AS pada Jumat (10/1). Hal ini dilakukan untuk menantang UU federal yang berupaya melarang Tiktok di AS. UU tersebut adalah “Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act” atau Perlindungan Warga dan Aplikasi yang Dikendalikan Pesaing Asing.

    UU federal ini berawal dari kekhawatiran bahwa pemerintah Cina bisa memanipulasi konten dan memperoleh akses ke data sensitif pengguna lewat aplikasi TikTok. Kongres pun akhirnya meloloskan UU yang bakal melarang TikTok di AS, kecuali jika ByteDance menjualnya kepada pembeli yang disetujui pemerintah AS.

    Sementara itu, pengguna yang telah mengunduh TikTok masih dapat menggunakan aplikasi tersebut, kecuali UU tersebut turut melarang perusahaan AS menyediakan layanan untuk memungkinkan distribusi, pemeliharaan, atau pembaruan.

    Menurut Reuters, Kamis (16/1), tim transisi Trump belum memberikan komentar soal pelarangan TikTok di AS. Namun, Trump mengatakan bahwa dia harus mempunyai waktu setelah menjabat untuk mengejar “resolusi politik” atas masalah ini.

    “TikTok sendiri adalah platform yang luar biasa,” kata Penasihat Keamanan Nasional Trump, Mike Waltz kepada Fox News pada Rabu (15/1).

    CEO TikTok diundang pelantikan Trump

    Shou Zi Chew, CEO TikTok (forbes.com)

    Di samping itu, The New York Times melaporkan secara terpisah bahwa Chief Executive Officer (CEO) TikTok, Shou Zi Chew telah menerima undangan untuk menghadiri pelantikan Trump dan duduk dalam “posisi terhormat”.

    Pejabat Gedung Putih juga mengatakan kepada Reuters pada Rabu (15/1) bahwa Presiden AS ke-46 Joe Biden tak memiliki rencana untuk melakukan intervensi terhadap pemblokiran TikTok di hari-hari terakhir masa jabatannya.

    Pejabat Gedung Putih itu pun menambahkan, Biden secara hukum tidak dapat mengintervensi jika tak ada rencana yang kredibel dari ByteDance untuk mendivestasi TikTok. Namun, NBC melaporkan bahwa pemerintahan Biden sudah mempertimbangkan opsi untuk menjaga TikTok tetap tersedia bagi penggunanya setelah hari Minggu (19/1).

    Hal itu dalam upaya menunda keputusan tersebut kepada Trump yang bakal dilantik tepat pada esok harinya, yakni Senin (20/1).

    “Warga Amerika seharusnya tidak berharap TikTok tiba-tiba dilarang pada hari Minggu,” tutur seorang pejabat pemerintah kepada jaringan penyiaran tersebut.

    Sebelumnya, pada Rabu (15/1), Senator AS Ed Markey telah meminta persetujuan untuk memperpanjang batas waktu bagi ByteDance guna mendivestasi TikTok selama 270 hari. Namun, Senator Partai Republik Tom Cotton memblokir proposal tersebut.

    Menurut sumber anonim yang tak mau disebutkan namanya, jika hal itu dilarang, TikTok berencana akan mengarahkan pengguna yang mencoba membuka aplikasinya ke situs web berisi informasi tentang UU federal larangan TikTok.

    “Kita menjadi gelap. Pada dasarnya, platform ini ditutup,” tutur pengacara TikTok, Noel Francisco kepada MA AS pekan lalu.

    Pengguna TikTok luapkan kekecewaan di X

    ilustrasi fitur di twitter blue (unsplash.com/Benjamin Dada)

    Jika benar-benar diblokir, TikTok akan memberikan opsi bagi penggunanya untuk mengunduh semua data akun milik mereka. Di platform milik Elon Musk, X, para pengguna TikTok di AS juga mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap potensi larangan terhadap aplikasi tersebut.

    Netizen AS juga menyatakan kebahagiaan mereka atas adanya laporan bahwa Trump tengah mempertimbangkan cara untuk menghindari larangan TikTok. Di sisi lain, Mahkamah Agung AS kini sedang memutuskan apakah akan menegakkan, membatalkan, atau menghentikan UU tersebut agar pengadilan memiliki lebih banyak waktu untuk mengambil keputusan.

    Dalam pengajuan pengadilan bulan lalu, pihak TikTok menerangkan bahwa dengan melarang TikTok di AS, maka bisa membuatnya tak tersedia bagi pengguna di negara lain. Alasannya ratusan penyedia layanan di AS juga membantu dalam membuat platform tersebut bisa diakses di seluruh dunia.

    Untuk diketahui, ByteDance dimiliki oleh investor institusi seperti BlackRock dan General Atlantic. Sementara itu, pendiri dan karyawannya masing-masing memiliki 20 persen. Perusahaan asal Cina itu saat ini mempunyai lebih dari 7 ribu karyawan di AS

  • Donald Trump Bentuk Lembaga Pendapatan Eksternal Jelang Dilantik, Apa Tugasnya? – Page 3

    Donald Trump Bentuk Lembaga Pendapatan Eksternal Jelang Dilantik, Apa Tugasnya? – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta Menjelang pelantikan pada 20 Januari mendatang, presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan rencana untuk membentuk badan baru untuk mengumpulkan tarif dan pendapatan eksternal dari negara-negara asing.

    “Kami akan mulai menagih mereka yang menghasilkan uang dari kami dengan Perdagangan, dan mereka akan mulai membayar,” ungkap Trump dalam unggahannya di situs media sosial miliknya Truth Social, dikutip dari Associated Press, Kamis (16/1/2025).

    Ia membandingkan rencana pembentukannya dengan Internal Revenue Service, yang merupakan pemungut pajak domestik AS.

    Pembentukan badan pendapatan eksternal pemerintahan Trump, yang dinamai External Revenue Service kini memerlukan keputusan Kongres, dan Partai Republik memegang mayoritas di DPR dan Senat.

    Bentuk DOGE

    Sebelumnya, Trump telah menunjuk dua tokoh bisnis untuk memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah AS atau dikenal sebagai DOGE.

    DOGE merupakan satuan tugas nonpemerintah untuk menemukan cara memecat pegawai federal, memangkas program, dan memangkas peraturan federal, yang semuanya merupakan bagian dari apa yang disebutnya sebagai agenda “Selamatkan Amerika” untuk masa jabatan kedua di Gedung Putih.

    Miliarder Elon Musk dan sesama pengusaha Vivek Ramaswamy memimpin upaya ambisius DOGE untuk mengurangi ukuran dan cakupan pemerintah federal.

    Seperti diketahui, tarif impor hingga 25% untuk semua barang dari Kanada dan Meksiko, serta 60% untuk barang dari Tiongkok telah menjadi tolok ukur agenda ekonomi Trump saat ia memasuki masa jabatan keduanya.