Tag: Elon Musk

  • Tiongkok Klaim Trump Terlalu Intervensi ByteDance usai Minta 50 Persen Saham Diserahkan ke AS – Halaman all

    Tiongkok Klaim Trump Terlalu Intervensi ByteDance usai Minta 50 Persen Saham Diserahkan ke AS – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda larangan terhadap TikTok memberikan kabar baik bagi lebih dari 170 juta pengguna aplikasi ini di Amerika Serikat.

    Akan tetapi, langkah Trump justru mendapatkan respons yang kurang positif dari Tiongkok, tempat di mana perusahaan induk TikTok, ByteDance, berlokasi.

    Trump mengusulkan agar TikTok tidak ditutup di AS, ByteDance harus menyerahkan 50 persen sahamnya kepada perusahaan AS.

    Selain itu, Trump menekankan bahwa tarif pada barang-barang Tiongkok di AS mungkin akan bergantung pada persetujuan Beijing terhadap kesepakatan potensial terkait TikTok.

    Kementerian Luar Negeri Tiongkok segera merespons hal ini.

    Beijing menegaskan bahwa “operasi dan akuisisi perusahaan” harus diputuskan oleh perusahaan tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku di Tiongkok.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Guo Jiakun, menyatakan pada Selasa (21/1/2025) AS seharusnya menciptakan “lingkungan bisnis yang terbuka, adil, jujur, dan tidak diskriminatif” bagi perusahaan-perusahaan dari seluruh dunia.

    Perintah Eksekutif Trump

    Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang menunda pelaksanaan larangan hukum terhadap TikTok selama 75 hari.

    Perintah Eksekutif Trump ditanda tangani beberapa jam setelah pelantikannya pada Senin (20/1/2025).

    Langkah ini memberikan TikTok kesempatan untuk kembali online setelah sempat terhenti lebih dari 12 jam pada akhir pekan sebelumnya.

    Trump membuka peluang bagi perusahaan AS membeli 50 persen saham TikTok dan menjalankannya sebagai usaha patungan dengan ByteDance.

    Meskipun hal ini bisa meredakan ketegangan terkait masalah keamanan nasional, belum jelas apakah anggota parlemen AS atau TikTok akan menerima pengaturan ini.

    Dalam sebuah pernyataan di Ruang Oval, Trump menyebutkan bahwa jika kesepakatan dengan TikTok tidak tercapai, tarif hingga 100 persen bisa dikenakan pada barang-barang Tiongkok.

    “Kami akan mengenakan tarif pada Tiongkok jika mereka tidak menyetujui kesepakatan ini,” katanya.

    Reaksi Keras dari Tiongkok

    Usulan Trump tentang pengalihan 50 persen saham TikTok mendapat reaksi keras di Tiongkok.

    Di platform Weibo, banyak pengguna yang mengecam langkah ini sebagai bentuk “perampokan”.

    Salah satu komentar populer bahkan menyarankan, “Apple dan Tesla juga harus menyerahkan 50 persen saham mereka kepada perusahaan Tiongkok.”

    Beberapa pengguna juga mengkritik konsep kesepakatan ini.

    Sejumlah reaksi merujuk pada perusahaan-perusahaan teknologi besar lainnya seperti Nvidia, dan menilai pengaturan tersebut tidak adil.

    “China tidak akan membiarkan ByteDance bertekuk lutut,” tulis satu komentar.

    Komentar itu tampaknya menegaskan bahwa meskipun TikTok mengalihkan sebagian sahamnya, hal ini tetap dianggap merugikan pihak Tiongkok.

    TikTok, yang tidak beroperasi di Tiongkok, memiliki aplikasi saudara bernama Douyin yang sangat populer di negara tersebut.

    Media nasional Tiongkok, seperti Global Times, mengkritik campur tangan politik AS terhadap TikTok.

    Mereka menyatakan bahwa tindakan ini lebih merugikan masyarakat Amerika daripada Tiongkok.

    Mereka berpendapat bahwa banyak orang di AS yang bergantung pada TikTok untuk mencari nafkah.

    Pertemuan Xi Jinping dan Trump: Perdagangan dan TikTok

    Meski masa depan TikTok masih penuh ketidakpastian, baik AS maupun Tiongkok menunjukkan niat untuk berdialog.

    Dalam panggilan telepon dengan Trump pada Jumat (17/1/2025), Presiden Tiongkok Xi Jinping menekankan pentingnya “titik awal baru” dalam hubungan AS-Tiongkok.

    Xi bahkan mengutus Wakil Presiden Han Zheng untuk hadir di pelantikan Trump, menunjukkan tingkat diplomasi tinggi dari Beijing.

    Tantangan Hukum dari Tiongkok

    Beijing sebelumnya menyatakan bahwa mereka memiliki hak hukum untuk memblokir setiap transaksi yang melibatkan TikTok, mengingat penjualan atau divestasi ini dapat melibatkan “ekspor teknologi”, yang mengacu pada algoritma yang menjadi kunci sukses TikTok.

    Sementara itu, CEO Tesla, Elon Musk, yang merupakan sekutu Trump, turut memberikan komentar mengenai masa depan TikTok.

    Musk, yang menentang pelarangan TikTok, menyarankan agar kebijakan tersebut perlu diubah untuk menghindari ketidakseimbangan antara platform AS dan Tiongkok.

    Musk juga mengisyaratkan kemungkinan penjualan sebagian aplikasi TikTok kepada perusahaan seperti X milik Musk, yang tidak tersedia di Tiongkok karena pembatasan ketat dari pemerintah Beijing.

    “Saya telah lama menentang pelarangan TikTok, karena bertentangan dengan kebebasan berbicara,” tulis Musk.

    “Namun, ketidakseimbangan antara TikTok di AS dan X di Tiongkok perlu diubah.”

    Dengan situasi yang terus berkembang ini, masa depan TikTok dan hubungan antara AS dan Tiongkok masih penuh ketidakpastian.

    (Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

  • Manusia Rp 2.000 Triliun Tak Hadiri Pelantikan Trump, Ini Sebabnya

    Manusia Rp 2.000 Triliun Tak Hadiri Pelantikan Trump, Ini Sebabnya

    Jakarta

    Deretan nama besar di jagat teknologi menghadiri pelantikan Presiden AS Donald Trump, termasuk Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg, Sam Altman, Sundar Pichai, sampai Tim Cook. Namun ada satu nama terkenal yang tidak hadir, yaitu bos raksasa chip Nvidia, Jensen Huang.

    Jensen Huang yang lahir di Taiwan dan sekarang berkewarganegaraan Amerika Serikat, belakangan melambung namanya karena sukses membuat Nvidia menjadi perusahaan chip AI yang laris manis. Dia pun masuk daftar jajaran manusia terkaya di dunia, di mana menurut Forbes hartanya ditaksir sekitar USD 123 miliar atau di kisaran Rp 2.000 triliun.

    Lantas apa alasan Jensen Huang tidak ikut hadir dalam pelantikan Trump, sementara para koleganya sesama orang terkaya berbondong datang? Rupanya ia sedang berada di Taiwan dan kemudian China untuk merayakan Imlek bersama para karyawan Nvidia dan juga melakukan kesibukan lainnya di tanah asalnya.

    “Pesta akhir tahun sangat penting bagi kami karena para pegawai bekerja sangat keras dan ini merupakan kesempatan bagi saya untuk berterima kasih pada semuanya,” kata Huang yang dikutip detikINET dari Insider, Rabu (22/1/2025).

    Huang juga mengaku belum sempat berbicara dengan Donald Trump, namun berencana untuk segera mengucapkan selamat pada pemerintahan AS yang baru. Menurut media lokal, di Taiwan Huang menghadiri pesta akhir tahun di markas Nvidia dan Wistron, salah satu perusahaan pemasok.

    Huang juga bertemu dengan beberapa pemimpin perusahaan teknologi terkemuka Taiwan, termasuk Chairman TSMC CC Wei dan Chairman Foxconn, Young Liu. Taiwan memang berperan sangat penting dalam pembuatan dan rantai suplai komponen teknologi dunia.

    Ia juga terpantau mengunjungi pasar malam di Taipei, pergi ke salon langgannya, dan juga mengunjungi rumah pendiri TSMC, Morris Chang. Setelahnya, dia mengunjungi China, tampaknya untuk merayakan Imlek seperti yang dilakukannya tahun silam.

    (fyk/fyk)

  • Meleng Dikit, Amerika Sudah Kalah Jauh dari China

    Meleng Dikit, Amerika Sudah Kalah Jauh dari China

    Jakarta, CNBC Indonesia – Persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan China berlangsung sengit. China terus-terusan berupaya menerobos batasan untuk menghadirkan inovasi-inovasi yang relevan.

    Salah satu hal yang dimenangkan China dibandingkan AS adalah kemampuan menciptakan superapp WeChat yang dikembangkan Tencent.

    CNBC International melaporkan studi yang menunjukkan rata-rata warga AS memiliki 46 aplikasi di HP mereka setiap bulannya untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

    Warga China tak perlu menghadapi keribetan serupa, sebab superapp seperti WeChat bisa mengakomodir berbagai fungsi hanya lewat satu aplikasi. Mulai dari belanja, bersosialisasi dengan teman, memesan makanan, hingga konsultasi dokter online.

    “Kita semua lelah dengan puluhan aplikasi di HP. Ketertarikan superapp adalah berbagai fungsi dari semua aplikasi-aplikasi bisa diakses di satu tempat tanpa ada hambatan,” kata Arjun Kharpal, reporter teknologi senior di CNBC International, dikutip Rabu (22/1/2025).

    WeChat merupakan salah satu superapp China yang paling terkenal. Didirikan pada 2011, WeChat mula-mula hanya berperan sebagai aplikasi pesan singkat yang kini sudah memiliki 1,3 miliar pengguna aktif bulanan.

    Superapp berkembang pesat di Asia, namun belum terlalu populer di pasar Barat, termasuk AS. Ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya.

    “Iklim regulasi di AS saat ini tentu saja tidak kondusif untuk memungkinkan berkembangnya superapp,” kata Dan Prud’homme, asisten profesor di Fakultas Bisnis Universitas Internasional Florida.

    “Masih terdapat perlindungan yang sangat kuat terhadap hal-hal seperti pinjaman peer-to-peer, privasi data, antimonopoli, dan sebagainya yang tidak memungkinkan aplikasi di AS untuk berkembang seperti WeChat,” ia menambahkan.

    Namun, AS agaknya mulai mengejar ketertinggalan terhadap China. Setidaknya, mulai ada wacana untuk mengarah ke pengembangan superapp.

    Elon Musk pernah menyebut ingin menyulap X menjadi superapp seperti WeChat. Namun, hingga kini X masih berperan sebagai aplikasi mikroblog semata. X mengumbar rencana untuk mendukung transaksi kripto pada 2025 ini, namun belum ada update terbaru terkait fitur tersebut.

    Selain itu, Uber juga pada akhir 2024 lalu dilaporkan akan mendukung kemampuan pemesanan hotel dan tiket dengan akuisisi Expedia. Namun, hingga kini belum diumumkan pula kelanjutan rencana tersebut.

    (fab/fab)

  • Tesla Jadi Mobil Murahan, Pemilik Avanza Lebih Mahal

    Tesla Jadi Mobil Murahan, Pemilik Avanza Lebih Mahal

    Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai merek (brand value) Tesla merosot 26% di 2024, menandai penurunan dua tahun berturut-turut. Ada beberapa faktor penyebabnya, termasuk model-model yang sudah lawas dan sikap ‘antagonis’ CEO Elon musk, menurut firma riset dan konsultan Brand Finance.

    Saat ini, brand value Tesla diestimasikan ‘hanya’ berkisar US$43 miliar (Rp696 triliun) atau turun dari US$58,3 miliar (Rp946 triliun) pada awal 2024 dan US$66,2 miliar di awal 2023, menurut laporan Brand Finance.

    Toyota yang merupakan produsen ‘mobil sejuta umat’ Avanza memiliki brand value tertinggi di sektor otomotif senilai US$64,6 miliar (Rp1.049 triliun). Selanjutnya Mercedes berada di posisi kedua dengan brand value US$53 miliar (Rp860 triliun).

    Brand Finance yang berbasis di London melakukan survei konsumen yang komprehensif dan menganalisis keuangan ribuan perusahaan. Firma itu melihat pendapatan, perjanjian lisensi, margin, dan indikator lainnya, untuk memperkirakan nilai moneter dari sebuah merek.

    Sebagai bagian dari pemeringkatan perusahaan tahun ini, Brand Finance menganalisis jawaban dari sekitar 175.000 responden survei di seluruh dunia, termasuk sekitar 16.000 orang yang memiliki pandangan yang sama tentang Tesla.

    Hasilnya menunjukkan cara konsumen memandang Tesla sangat berbeda dengan penilaian Wall Street.

    Harga saham Tesla melonjak 63% tahun lalu, mencapai rekor tertinggi pada bulan Desember, setelah investor mengambil alih saham tersebut menyusul kemenangan pemilu Donald Trump pada bulan sebelumnya.

    Musk menyumbangkan US$277 juta (Rp4,4 triliun) untuk membantu mendorong Trump dan kandidat Partai Republik lainnya menuju kemenangan, dan siap untuk menggunakan pengaruhnya dalam pemerintahan demi keuntungan perusahaannya.

    Terkait dengan masyarakat luas, CEO Brand Finance David Haigh mengatakan bahwa retorika politik dan kepribadian publik Musk memiliki kelemahan.

    “Ada orang yang menganggap dia luar biasa, tapi banyak juga yang tidak,” kata Haigh.

    “Jika Anda membeli kendaraan listrik, kepribadian CEO kemungkinan besar akan memengaruhi keputusan untuk membeli salah satu mobil perusahaannya atau tidak. Namun, itu hanya salah satu dari banyak faktor,” ia menuturkan.

    Pada ukuran-ukuran utama seperti “pertimbangan”, “reputasi”, dan “rekomendasi”, skor Tesla menurun secara keseluruhan di pasar-pasar utama tempat Tesla mengoperasikan pabrik dan menjual mobilnya, yaitu AS, Eropa, dan Asia, menurut temuan Brand Finance.

    Skor “pertimbangan” memperlihatkan apakah masyarakat mau membeli produk dari sebuah brand. Skor “reputasi” menunjukkan setinggi apa responden memiliki pandangan terhadap sebuah brand secara rata-rata dengan skala 1-10. Sementara skor “rekomendasi” menunjukkan apakah seseorang akan memberikan pendapat positif terhadap suatu brand ke orang lain.

    Skor Tesla anjlok drastis di Eropa, dari 21% menjadi 16% secara rata-rata dari 2024 ke 2025. Kompetitor seperti Mercedez dan BYD mengalahkan Tesla, terutama untuk skor “pertimbangan” dan “rekomendasi” di luar pasar AS.

    Tesla mempertahankan skor loyalti sebesar 90% di AS. Artinya, konsumen yang memilki mobil Tesla kemungkinan besar akan mempertahankan unitnya hingga 12 bulan ke depan. Namun, skor “rekomendasi” Tesla di AS juga memburuk dari 8,2 dari 10 menjadi 4,3 dari 10.

    Haigh mengatakan penurunan skor brand value Tesla menjadi tanda petaka bagi perusahaan. Sebab, ada risiko Tesla tak bisa menjual banyak produk mobilnya seperti dulu, serta mematok harga setinggi dulu.

    Tanda-tanda petaka ini sudah mulai terlihat. Sepanjang 2024, penjualan Tesla merosot sekitar 1% menjadi 1,79 juta unit. Padahal, permintaan mobil listrik secara global naik signifikan. Di AS, pangsa pasar Tesla di industri mobil listrik menurun menjadi 49% dari 55% pada tahun sebelumnya, menurut Cox Automotive.

    Skor indeks kekuatan brand Tesla juga anjlok menurut laporan Brand Finance. Dari yang sebelumnya di atas 80 menjadi di bawah 65. Skor ini mengindikasikan sekuat apa posisi sebuah brand dibandingkan brand pesaing.

    “Kecuali Tesla dapat menghasilkan berbagai macam produk baru yang benar-benar menarik konsumen, dan kecuali mereka dapat mengurangi beberapa antagonisme yang disebabkan oleh pemimpin mereka, Tesla akan dianggap telah melewati puncaknya dan akan mulai terpuruk,” Haigh menjelaskan.

    (fab/fab)

  • X Sarang Judi Online, Elon Musk Diminta Tunjuk Perwakilan di RI

    X Sarang Judi Online, Elon Musk Diminta Tunjuk Perwakilan di RI

    Jakarta, CNBC Indonesia – Media sosial X menjadi ‘sarang’ konten judi online di Indonesia. Hal ini diungkapkan Dirjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, dalam RDP Panja Judi Online dengan Komisi I DPR RI, Rabu (22/1/2025).

    “Terlihat aplikasi X menjadi aplikasi yang paling banyak terpapar oleh konten judi online. Ada 1,4 juta…selama periode 2016 hingga 21 Januari 2025,” jelasnya.

    Beberapa platform lain yang juga marak menyebarkan konten judi online adalah Meta sebanyak 735 ribu, file sharing 168 ribu, TikTok 12 ribu, dan Telegram 7.800-an.

    Sabar mengatakan terus melakukan komunikasi dengan pihak X terkait hal ini. Namun, komunikasinya dilakukan dengan kantor yang berada di Singapura, karena media sosial milik Elon Musk itu tidak memiliki kantor di tanah air.

    “Yang PIC-nya di Indonesia enggak ada ya. Selama ini sih dengan ini sih ada PIC-nya yang di Singapura,” ucapnya.

    “Sambil kita minta untuk bisa sedapat mungkin ada PIC-nya di sini,” Sabar melanjutkan.

    Saat masih bernama Twitter, X sebenarnya memiliki kantor perwakilan di Indonesia. Namun hampir 3 tahun terakhir, atau saat Musk mengakuisisi perusahaan, tidak ada kantor resmi di tanah air.

    Masalah ini juga sempat disinggung Budi Arie Setiadi saat masih menjadi Menteri Kominfo. Saat itu, dia mengatakan pihaknya berkomunikasi dengan X namun belum ada hasilnya.

    Menurutnya tidak adil untuk platform lain yang beroperasi di Indonesia dan juga memiliki perwakilan di sini. “Khusus X ini Pak Dirjen lagi mengkaji secara komprehensif langkah-langkah yang strategis untuk X,” ujar Budi kala itu.

    (fab/fab)

  • TikTok Luntang-lantung, Ini Alasan Google-Apple Tetap Blokir

    TikTok Luntang-lantung, Ini Alasan Google-Apple Tetap Blokir

    Jakarta, CNBC Indonesia – TikTok sempat lumpuh total di Amerika Serikat (AS) selama 12 jam pada Sabtu (19/1) waktu setempat. Namun, Presiden AS Donald Trump langsung mengeluarkan perintah eksekutif untuk memulihkan TikTok hingga 75 hari ke depan, sembari bernegosiasi agar aplikasi asal China itu bisa seterusnya beroperasi di AS.

    Meski layanan TikTok sudah pulih, namun aplikasi itu tetap belum tersedia di toko aplikasi Apple App Store dan Google Play Store di AS. Hal ini membuat pengguna resah, sebab banyak yang telanjur menghapus TikTok di HP mereka ketika pertama kali diumumkan tutup.

    Alhasil, mereka tak bisa men-download kembali aplikasi TikTok ke HP. Hal ini membuat beberapa oknum mencari peluang penghasilan dengan menjual perangkat yang sudah di-download TikTok. Perangkat itu dijual di e-commerce eBay dengan harga hingga US$50.000.

    Dikutip dari Reuters, Rabu (22/1/2025), ketiadaan TikTok di Google Play Store dan Apple App Store kemungkinan disebabkan ketidakjelasan nasib TikTok di AS.

    Apple dan Google sepertinya masih ingin menunggu kepastian bahwa TikTok akan seterusnya beroperasi, sebelum benar-benar menyediakan aplikasi tersebut untuk di-download.

    Saat ini, hanya pengguna yang sudah memiliki aplikasi TikTok di HP mereka sebelum pengumuman tutup yang masih bisa mengakses TikTok di AS.

    “Saya berharap TikTOk kembali ke toko aplikasi secepatnya. Saya tak mau pakai VPN atau hal-hal lainnya,” kata Lauren Nader, seorang pengguna TikTok.

    “Saya mengecek [toko aplikasi] setiap hari,” kata kreator konten travelling, Lauren Scott.

    Ia saat ini berada di Brasil. Di grup Facebook, ia melihat ada rumor bahwa warga AS yang berada di luar negeri bisa mengakses TikTok jika mereka menghapus lalu men-download kembali. Namun, ternyata hal itu tak benar, menurut Scott.

    Negosiasi Trump dan TikTok

    Trump memberi rekomendasi agar kepemilikan TikTok di AS diberikan 50% ke investor AS. Ia mengungkapkan dukungannya jika miliarder Elon Musk mau mencaplok sebagian saham aplikasi tersebut agar bisa beroperasi seterusnya di AS.

    Miliarder lainnya Frank McCourt melalui konsorsium Project Liberty secara formal telah menawarkan untuk membeli TikTok senilai US$20 miliar tanpa algoritmanya.

    Pebisnis Kevin O’Leary juga bergabung di dalam konsorsium tersebut pada bulan ini. Dalam interview bersama CNBC International, O’Leary mengatakan ketertarikannya ikut dalam kesepakatan TikTok, namun belum memungkinkan menurut hukum yang berlaku saat ini.

    “Kesepakatan 50/50 [yang diajukan Trump], sangat menarik. Saya antusias untuk bekerja sama dengan Trump, begitu juga pembeli potensial lainnya. Masalahnya, ide ini tidak konsisten dengan ketetapan Mahkamah Agung,” kata dia.

    Sementara itu, Kementerian Luar Negeri China mengatakan kesepakatan soal TikTok harus dilakukan secara independen oleh perusahaan, tanpa intervensi dari pihak lain.

    Nasib TikTok yang masih luntang-lantung membuat beberapa pengguna lelah, bahkan ingin meninggalkan TikTok sepenuhnya. Salah satunya Nicole Norman.

    “Saya tak ingin terus-terusan jadi ‘taruhan’ di drama ini. Mungkin ini tidak membuat perubahan ke TikTok, tetapi berdampak pada saya. Saya tidak akan kembali ke TikTok,” kata dia.

    (fab/fab)

  • Presiden Trump Beri Sinyal ke Elon Musk dan Larry Ellison Segera Akuisisi Tiktok – Halaman all

    Presiden Trump Beri Sinyal ke Elon Musk dan Larry Ellison Segera Akuisisi Tiktok – Halaman all

     

    Laporan Wartawan Tribunnews.com  Namira Yunia

     

    TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan lampu hijau kepada para miliarder AS termasuk diantaranya CEO Tesla Elon Musk dan CEO Oracle Corp., Larry Ellison untuk mengakuisisi bisnis aplikasi TikTok di AS.

    Sinyal itu diungkap Trump setelah TikTok diblokir sementara selama 14 jam oleh pemerintah AS karena tersandung aturan undang-undang Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Application Act” yang ditandatangani Joe Biden.

    Biden mencurigai aplikasi besutan ByteDance ini  telah memanen data seperti lokasi, perangkat yang digunakan, dan aplikasi apa saja yang ada di dalam HP pengguna.

    Dengan memanfaatkan data tersebut, AS khawatir warga negaranya dapat dikontrol oleh pemerintah China. Lantaran pemerintah negeri tirai bambu ini kerap memanfaatkan algoritma di media sosial, untuk membawa pengaruh ke pengguna.

    Buntut masalah tersebut Presiden Joe Biden menandatangani undang-undang pada April yang mengharuskan ByteDance menjual TikTok kepada pemilik non-China paling lambat 19 Januari kemarin.

    Hingga batas waktu yang telah ditentukan ByteDance tak kunjung menyetujui aturan tersebut, alasan itu yang membuat aplikasi TikTok diblokir, hingga  170 juta pengguna TikTok di AS tak dapat mengakses aplikasi bergulir itu.

    Demi menyelamatkan masa depan TikTok di pasar AS Presiden terpilih AS, Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahannya akan menyelamat TikTok agar bisa kembali diakses oleh ratusan juga masyarakat AS.

    “Sejujurnya, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus menyelamatkannya,” kata Trump dalam rapat umum pada Minggu menjelang pelantikannya.

    Namun sebagai gantinya Trump menginginkan TikTok menjual saham aplikasi media sosialnya sebanyak 50 persen kepada investor Amerika Serikat melalui joint venture dalam kurun waktu 75 hari.

    Untuk mempercepat proses akuisisi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa ia mempertimbangkan kemungkinan CEO Tesla Elon Musk atau pendiri Oracle Larry Ellison untuk membeli bisnis TikTok di AS.

    TikTok sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait akuisisi ini.

    Dalam jumpa pers investasi kecerdasan buatan (AI) yang dihadiri Ellison, CEO Softbank Masayoshi Son, dan CEO OpenAI Sam Altman, Trump dan Larry memberikan respon positif setelah ditanya oleh seorang reporter apakah ia terbuka soal wacana Musk membeli TikTok.

    “Saya akan terbuka jika ia ingin membelinya, ya,” kata Trump, seperti dikutip dari Bussines Standard.

    “Saya juga ingin Larry membelinya,” sambungnya.

    Youtuber AS Tertarik Akuisisi TikTok

    Selain miliarder TikTok, bintang YouTube yang memiliki nama asli Jimmy Donaldson yang tergabung menjadi bagian kelompok investor Amerika mengungkap ketertarikannya untuk mengakuisisi TikTok.

    Langkah serupa juga diikuti MrBeast, pembuat konten dengan jumlah pengikut terbanyak dan penghasilan tertinggi di internet turut  bergabung dalam upaya baru untuk membeli TikTok.

    Terbaru, Tinsley, yang juga pendiri Employer.com, telah mengajukan tawaran tunai bersama Donaldson dan sejumlah “investor institusional serta individu dengan kekayaan tinggi untuk bergabung dalam join venture mengakuisisi TikTok.

    Bahkan miliarder Frank McCourt, mantan pemilik Los Angeles Dodgers, dan investor “Shark Tank” Kevin O’Leary ikut mengajukan tawaran resmi untuk membeli TikTok awal bulan ini. Disusul Amazon.com Inc dan Oracle Corp, yang juga dikabarkan bakal menjadi calon pembeli TikTok.

  • Elon Musk Diduga Salam Nazi Bikin Heboh Jerman

    Elon Musk Diduga Salam Nazi Bikin Heboh Jerman

    Washington

    Saat merayakan pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat, Elon Musk diduga melakukan salam Nazi dengan mengangkat tangan kanannya. Hal ini menimbulkan kehebohan, termasuk di Jerman, tempat ideologi Nazi pernah berkembang pesat di era Adolf Hitler tapi kini dilarang.

    Kecaman antara lain datang dari Michel Friedman, mantan ketua Central Council of Jews. Menurutnya, nakhoda SpaceX dan Tesla itu dengan jelas menunjukkan salam ‘Heil Hitler’. “Saya pikir, melakukan hal tabu itu sudah mencapai titik yang mengancam dunia bebas,” katanya.

    Kecaman juga datang dari pihak lain di Jerman, terlebih Elon Musk juga mendukung partai Alternative fur Deutshcland (AfD) yang diduga neo Nazi. Elon Musk sendiri menanggapi biasa kritikan yang datang kepadanya.

    “Sejujurnya, mereka perlu trik kotor yang lebih baik. Serangan bahwa semua adalah Hitler sangat melelahkan,” tulisnya di X.

    Dikutip detikINET dari Guardian, Rabu (22/1/2025) Kai Uwe Herbst yang adalah seorang hakim di Berlin, menilai salam ala Nazi yang disengaja bisa menjadi bukti kriminal di bawah hukum Jerman. Namun perlu juga untuk membuktikan bahwa ada niat jahat dan individu itu tahu bahwa yang dilakukannya salam Nazi.

    Di pihak lain, organisasi Anti Defamation League di Amerika Serikat menilai apa yang dilakukan Musk bukan salam Nazi. “Dia bertingkah canggung dalam momen antusiasme,” kata mereka.

    Adapun Miriam Hollstein dari majalah Stern di Jerman menulis bahwa salam Musk itu tidak seharusnya banyak disorot. “Sorry, itu bukan salam Hitler dan tidak ditujukan seperti itu. Hentikan omong kosong ini. Ada cukup banyak hal yang bisa dikritik soal Musk,” cetusnya.

    (fyk/fay)

  • Ke Bulan atau Mars? NASA Menanti Keputusan Donald Trump

    Ke Bulan atau Mars? NASA Menanti Keputusan Donald Trump

    Jakarta

    Saat pemerintahan baru Amerika Serikat (AS) yang dipimpin Donald Trump mengambil alih kendali Gedung Putih, muncul spekulasi yang menggebu-gebu tentang bagaimana kebijakannya akan membentuk kembali arah dan prioritas NASA, serta sektor antariksa yang lebih luas.

    Perubahan yang cepat dan mendalam dapat memengaruhi sejumlah bidang antariksa, seperti masa depan program eksplorasi Bulan Artemis, roket mana yang disukai atau dibatalkan, tingkat pendanaan untuk ilmu Bumi dan iklim, serta operasi NASA itu sendiri.

    Pertempuran akan terjadi selama beberapa bulan dan tahun mendatang untuk memutuskan arah dan tingkat sejumlah program dan badan AS, dengan desakan dan tarik-menarik antara faksi-faksi yang menyerukan pemotongan anggaran atau peningkatan pengeluaran di bidang-bidang utama. Berikut adalah beberapa masalah besar dan faktor-faktor yang dapat menentukan nasib mereka.

    Bulan atau Mars

    Dikutip dari Space.com, salah satu masalah besar dengan implikasi yang berpotensi berdampak besar pada arah NASA, hubungan AS dengan mitra antariksa internasionalnya dan geopolitik, adalah masa depan program Artemis.

    Artemis, yang didirikan oleh pemerintahan Trump pertama (periode 2017-2021) dengan tujuan mengembalikan manusia ke Bulan, dan dilanjutkan oleh pemerintahan Biden (2021-2025), mengalami penundaan beberapa tahun dari jadwal, dengan pengawasan ketat seputar penundaan dan masalah teknis.

    Elon Musk, kepala SpaceX yang merupakan miliarder, bagian yang sangat aktif dari kampanye pemilihan Trump, dan salah satu pemimpin Department of Government Efficiency, menyatakan di platform media sosial X pada 3 Januari bahwa manusia akan menuju Mars.

    “Kita akan langsung menuju Mars. Bulan adalah pengalih perhatian,” tulisnya.

    Namun, terlepas dari semua pengaruh Musk yang tampak, mungkin tidak mudah untuk mengubah dan mendefinisikan ulang arah NASA, dengan Kongres AS memiliki pengaruh besar dalam setiap perkembangan.

    “Pemerintahan Trump yang baru mungkin mencoba untuk melewatkan program ke Bulan dan langsung menuju Mars, tetapi saya perkirakan mereka akan menghadapi reaksi keras yang sama dari Kongres seperti yang dialami Obama ketika ia mengusulkan hal itu pada 2010,” kata Marcia Smith, yang memiliki pengalaman kebijakan luar angkasa selama 40 tahun dan merupakan pendiri dan editor SpacePolicyOnline.

    “Kongres menginginkan program Bulan-ke-Mars, bukan salah satu atau yang lain,” tandasnya.

    (rns/rns)

  • CEO TikTok Sudah Hadir di Pelantikan Trump, Nasibnya Masih Kelabu

    CEO TikTok Sudah Hadir di Pelantikan Trump, Nasibnya Masih Kelabu

    Jakarta

    CEO TikTok Shou Zi Chew sudah hadir di pelantikan Presiden AS Donald Trump. Namun posisi tawar TikTok masih belum kuat benar.

    Chew hadir dalam pemberkatan di gereja untuk Trump, menjelang upacara sumpah jabatan. Trump kemudian mengatakan akan mempertahankan TikTok dan menandatangani perintah eksekutif agar memberikan waktu untuk TikTok mendapatkan pembelinya yang disyaratkan aturan baru di Amerika Serikat.

    Apakah itu janji manis belaka dari Trump, waktu akan membuktikan. Namun Trump memuji TikTok membantunya meraih pemilih muda saat Pilpres AS 2024.

    Dilansir dari The Straits Times, Rabu (22/1/2025) Trump mendorong Amerika dan ByteDance sebagai induk TikTok membentuk joint venture. Kepemilikan pihak Amerika harus mencapai 50% dalam joint venture tersebut.

    “Saya mau AS punya posisi kepemilikan 50% dalam joint venture. Dengan demikian kita selamatkan TikTok, dijaga baik dan dibolehkan untuk bisa digunakan,” kata Trump.

    Kehadiran Chew dalam pelantikan Trump dinilai sebagai tanda bahwa TikTok dan ByteDance masih melihat peluang aplikasi ini dibebaskan dari pelarangan. Hubungan Chew dan Trump akan menjadi kunci.

    Setelah sempat hilang sejenak di Amerika, TikTok kembali bisa diakses di Negeri Paman Sam pada 19 Januari 2025 untuk 75 hari ke depan. Chew sampai berterima kasih kepada Trump.

    “Terima kasih untuk kesabaran dan dukungannya. Atas usaha President Trump, TikTok kembali di Amerika,” kata TikTok dalam notifikasinya.

    Diketahui, Chew juga pada Desember 2024 sudah datang ke rumah Trump di Mar-a-Lago, Florida. Publik tampaknya masih harus menunggu proses negosiasi apa yang akan terjadi antara pemerintah AS dan TikTok.

    Terakhir, Trump mengatakan dirinya mempertimbangkan kemungkinan CEO Tesla Elon Musk atau pendiri Oracle Larry Ellison untuk membeli bisnis TikTok di Amerika.

    (fay/fyk)