Tag: Donald Trump

  • Mensesneg Ungkap Misi Lawatan Prabowo 16 Hari ke Luar Negeri

    Mensesneg Ungkap Misi Lawatan Prabowo 16 Hari ke Luar Negeri

    Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Praseto Hadi mengamini bahwa terdapat misi khusus yang diemban oleh Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungannya ke luar negeri selama 16 hari ke depan.

    Prasetyo mengatakan bahwa tak hanya menghormati undangan-undangan dari negara-negara sahabat, tetapi pemerintah merasa setiap agenda sangat penting untuk dihadiri dalam kapasitas sebagai Presiden Indonesia yang baru saja dilantik untuk menjaga hubungan dengan setiap Negara.

    Hal ini disampaikannya usai mengantarkan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan lawatan ke lima Negara, yaitu China, Peru, Amerika Serikat, Brasil, dan Inggris di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (8/11/2024).

    “Targetnya ya kami mau menjaga hubungan baik dengan negara-negara sahabat,” ucapnya kepada wartawan

    Meski begitu, dia mengatakan bahwa selain menjaga hubungan, kerja sama dengan antarnegara juga menjadi tujuan dari Presiden Ke-8 RI itu bertolak ke berbagai Negara.

    Harapannya, dengan mendorong sejumlah kerjasama yang menguntungkan untuk Indonesia, maka akan ada manfaat yang bisa diraih oleh masyarakat.

    Sejumlah kerja sama yang dimaksud, kata Prasetyo, mulai dari bidang perdagangan, bidang energi, energi hijau, kelautan, hingga kerjasama antarnegara kawasan Asia Tenggara, dan perdagangan.

    Meski begitu, Prasetyo belum dapat menginformasikan terkait dengan potensi penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) dalam setiap pertemuan dengan tokoh Negara sahabat.

    “Belum, belum. Nanti kami lihat kalau memang di sana memungkinkan sudah terjadi kesepakatan-kesepakatan tentu akan dilanjutkan,” pungkas Prasetyo.

    Untuk diketahui, dalam lawatan Prabowo, terdapat tiga kunjungan kehormatan, yaitu ke China, ke Amerika Serikat, dan ke Inggris. Selain itu, akan ada dua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang akan dihadiri Prabowo, yakni APEC di Peru dan G20 di Brasil.

    Khusus kunjungan di AS, Presiden Prabowo Subianto juga memiliki peluang besar untuk bertemu pemenang Pemilihan Presiden AS 2024 yaitu Donald Trump.

  • Bos Houthi Bilang Trump Akan Gagal Akhiri Konflik Israel-Palestina

    Bos Houthi Bilang Trump Akan Gagal Akhiri Konflik Israel-Palestina

    Jakarta

    Pemimpin kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengkritik Donald Trump karena mendukung Israel. Abdul Malik al-Huthi mengatakan presiden terpilih AS itu akan gagal mengakhiri konflik Timur Tengah dalam masa jabatan keduanya.

    Pemimpin Houthi yang didukung Iran itu, mengatakan bahwa serangkaian kesepakatan normalisasi antara negara-negara Arab dan Israel yang dimediasi oleh pemerintahan Trump selama masa jabatan pertamanya, tidak membantu mengakhiri konflik Israel-Palestina.

    “Trump gagal dalam proyek… ‘kesepakatan abad ini’ terlepas dari semua kesombongan, keangkuhan, kecerobohan, dan tiraninya, dan dia akan gagal juga kali ini,” kata Huthi dalam pidato mingguannya, dilansir kantor berita AFP, Jumat (8/11/2024).

    Trump yang merupakan kandidat Republik, mengalahkan Wakil Presiden Kamala Harris dari partai Demokrat dalam pemilu pada hari Selasa lalu. Trump akan mulai menjabat pada bulan Januari mendatang, kembali ke Ruang Oval, Gedung Putih setelah empat tahun.

    Kemenangannya terjadi saat Timur Tengah sedang bergejolak setelah pecahnya perang di Gaza pada bulan Oktober 2023. Perang itu dipicu oleh serangan besar-besaran kelompok militan Palestina yang didukung Iran, Hamas, terhadap Israel.

    Kelompok Houthi, yang menguasai ibu kota Yaman, Sanaa sejak 2014, telah menyerang kapal-kapal dagang di Laut Merah dan Teluk Aden sebagai bentuk solidaritas dengan Hamas.

    Presiden AS Joe Biden yang akan lengser telah memastikan bahwa Washington tetap menjadi pendukung militer terpenting Israel selama perang di Gaza, yang telah meluas hingga melibatkan Hizbullah yang bermarkas di Lebanon dan Iran sendiri.

    (ita/ita)

  • Top 3 Tekno: Alasan Samsung Galaxy Ring Lebih Mahal dari Galaxy Watch Terpopuler – Page 3

    Top 3 Tekno: Alasan Samsung Galaxy Ring Lebih Mahal dari Galaxy Watch Terpopuler – Page 3

    Donald Trump resmi terpilih kembali sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47, bersama JD Vance sebagai Wakil Presiden, setelah mengalahkkan Kamala Harris.

    Kemenangan Donald Trump di Pilpres 2024 ini langsung menarik perhatian banyak pihak, terutama para pemimpin di industri tekknologi mulai dari Elon Musk hingga Tim Cook.

    Hampir dalam waktu bersamaan, mereka pun langsung mengunggah ucapan selamat dan dukungan mengalir kepada Trump di lini masa media sosial X–dulunya bernama Twitter.

    Beberapa di antaranya mendukung penuh, sementara lainnya berharap dapat menjalin hubungan lebih harmonis dengan presiden AS kerap berseberangan pandangan dengan mereka.

    Elon Musk, pemilik X, SpaceX, Tesla, dan Neuralink adalah salah satu pendukung vokal Trump. Elon Musk sampai menyumbangkan USD 75 juta kepada America PAC, sebuah komite pro-Trump.

    Sebelum pemilihan, Trump juga berjanji akan menunjuk Elon Musk sebagai kepala komisi efisiensi pemerintahan jika dirinya terpilih kembali.

    CEO Apple, Tim Cook, pun mengucapkan selamat melalui akun pribadinya di X. “Kami berharap dapat terlibat dengan Anda dan pemerintahan Anda untuk membantu memastikan Amerika Serikat terus memimpin dan didorong oleh kecerdikan, inovasi, dan kreativitas,” tulis Cook.

    Baca selengkapnya di sini 

     

  • Siapa Wapres AS Terpilih Pendamping Trump? Ini Sosok JD Vance

    Siapa Wapres AS Terpilih Pendamping Trump? Ini Sosok JD Vance

    Jakarta

    Pemilihan umum presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) telah selesai digelar. Donald Trump dinyatakan menang sebagai presiden AS terpilih setelah meraup 277 suara elektoral. Nantinya Trump akan dilantik bersama pasangannya, JD Vance sebagai wakil presiden (wapres) AS terpilih.

    Seperti diketahui, Donald Trump mengumumkan Senator JD Vance sebagai pasangannya dalam Pilpres AS 2024 pada Selasa (16/7/2024) lalu di hari pertama konvensi Partai Republik. Selama ini, Vance diketahui merupakan salah satu pendukung paling setia Trump di Kongres.

    Lantas seperti apa sosok JD Vance, pendamping Donald Trump yang menjadi wakil presiden AS terpilih kali ini?

    Mengutip dari Senate.gov, James David Vance atau dikenal sebagai JD Vance adalah Senator Amerika Serikat untuk negara bagian Ohio. Ia terpilih menjadi anggota Senat AS pada tahun 2022 dan dilantik pada tanggal 3 Januari 2023. Lahir dengan nama James Donald Bowman pada tanggal 2 Agustus 1984 (saat ini umurnya 40 tahun).

    JD lahir dan dibesarkan di Middletown, Ohio, sebuah kota manufaktur Amerika yang pernah berkembang pesat di mana penduduk Ohio dapat hidup dengan puas, kehidupan kelas menengah dengan pendapatan tunggal. Seiring berjalannya waktu, banyak dari pekerjaan yang baik itu menghilang, dan keluarga JD mengalami dampaknya bersama dengan banyak orang lain.

    Vance pernah mengabdi kepada negara Amerika dengan turut dalam Perang Irak. Ia kemudian bekerja sebagai juru tulis hakim federal setelah lulus dari lulus dari Universitas Negeri Ohio dan Sekolah Hukum Yale. Beralih dari dunia hukum ke dunia investasi teknologi, JD Vance kemudian bergabung dengan Mithril Capital milik Peter Thiel pada tahun 2017.

    Profil JD Vance (Foto: Senate.gov)

    Nama Vance awalnya dikenal lewat memoarnya yang terbit pada tahun 2016, “Hillbilly Elegy,” sebuah kisah laris tentang keluarganya di Appalachian dan kehidupan sederhana di Rust Belt, yang menyuarakan rasa benci kaum pekerja di pedesaan Amerika yang tertinggal.

    Saat itu, memoarnya sudah menyentuh hati rakyat kelas pekerja Amerika yang tengah bergulat dengan stagnasi ekonomi, kecanduan narkoba, dan keterasingan budaya. Buku itu dibuat menjadi film nominasi Oscar yang dibintangi Glenn Close dan Amy Adams, dan Vance memanfaatkan kisah pribadinya untuk menjadi komentator yang dicari.

    JD Vance mendukung gerakan America First yang antiimigrasi dan menganut isolasionisme. Vance lebih condong ke kanan dalam banyak isu termasuk aborsi, di mana ia mendukung seruan untuk legislasi federal.

    Vance dulu sempat vokal mengkritik keras Trump. Lalu pada 2022, Vance masuk kongres atas bantuan Trump. Keadaan berbalik drastis. Vance kini menjadi senator dan pendukung vokal Trump.

    (wia/imk)

  • Presiden Prabowo Subianto Kunjungan ke Sejumlah Negara

    Presiden Prabowo Subianto Kunjungan ke Sejumlah Negara

    Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Prabowo Subianto melakukan serangkaian kunjungan kenegaraan ke beberapa negara, yakni ke Tiongkok, Amerika Serikat, Peru, Brasil, dan Inggris. Prabowo berangkat dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Jumat (8/11/2024) sekitar pukul 10.25 WIB menggunakan Pesawat Republik Indonesia berwarna putih dengan garis merah.

    Dalam kunjungannya, Presiden Prabowo dijadwalkan menghadiri undangan kehormatan untuk bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden AS Joe Biden, dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Selain itu, ia juga akan menghadiri KTT APEC di Peru dan KTT G-20 di Brasil.

    Di Amerika Serikat, Prabowo juga mempertimbangkan kemungkinan bertemu dengan Donald Trump.

    Kunjungan ini merupakan lawatan resmi pertama Prabowo sebagai presiden Indonesia. Ia membawa kepentingan nasional dalam perjalanan ini dan mengutamakan agenda-agenda strategis bagi Indonesia.

    Pada pengantar sidang kabinet paripurna beberapa waktu lalu di Jakarta, Prabowo menyampaikan bahwa kunjungan luar negeri ini tak bisa dihindari karena memiliki nilai strategis yang penting, khususnya terkait ekonomi.

    “Hal-hal seperti kunjungan luar negeri ini tak bisa dihindari karena semua punya nilai strategis, juga berkaitan dengan keadaan ekonomi kita,” ujar Prabowo pada sidang kabinet di kantor Presiden, Jakarta, Rabu (6/11/2024).

    Presiden juga menekankan pentingnya kehadiran Indonesia dalam forum-forum internasional untuk menggali potensi serta menyelesaikan isu-isu krusial dengan negara-negara mitra, yang merupakan blok-blok ekonomi penting bagi perekonomian Indonesia.

    Keberangkatan Presiden turut diantar oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.

  • Melihat Keuntungan Elon Musk yang Sukses Bawa Donald Trump Menang Pemilu AS

    Melihat Keuntungan Elon Musk yang Sukses Bawa Donald Trump Menang Pemilu AS

    Jakarta, Beritasatu.com – Calon presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump keluar sebagai pemenang pada Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2024. Salah satu pendukung dan donatur Trump, yakni miliarder Elon Musk. Namun, apa yang didapat Elon Musk setelah Trump bakal kembali ke Gedung Putih?

    Melansir CNBC International, Jumat (8/11/2024), Elon Musk disebut telah mendapatkan keuntungan dari melonjaknya saham Tesla hingga 15% pada Rabu (6/11/2024), setelah kemenangan Trump. Pada saat Trump merayakan kemenangannya, Musk ikut hadir dan mengucapkan selamat ke Trump.

    Trump mengucapkan terima kasih ke orang terkaya di dunia itu karena telah menghabiskan waktu selama 2 minggu untuk berkampanye di Pennsylvania.

    “Seorang bintang telah lahir, Elon,” ucap Trum ke CEO Tesla tersebut.

    Musk disebut mengeluarkan dana sebesar US$ 130 juta atau Rp 2 triliun untuk mendukung Trump di Pemilu AS 2024. Ia juga tampil secara full time memberikan dukungan ke Trmp dan juga mendanai kampanye di negara bagian yang menjadi wilayah penentu kemenangan.

    Pada akhirnya, investasi Musk pada Trump telah membuahkan hasil, meskipun presiden AS ke 47 itu baru akan menjabat pada 20 Januari 2025 mendatang.

    Diketahui, saham Tesla melonjak 15% dan menambah sekitar US$ 15 miliar terhadap kekayaan bersih Musk. Produsen kendaraan listrik itu menghadapi hambatan di pasar global dari pesaing yang berbasis di Tiongkok, penurunan penjualan di Eropa, dan kritik konsumen terhadap pandangan politik Musk.

    Namun, dengan Musk memberikan dukungan Trump dan menjadi presiden terpilih, maka pemimpin AS ke depan itu berjanji untuk memangkas jenis regulasi yang dibenci Musk.

    Pada pidato kemenangannya, Trump juga memuji SpaceX milik Musk dan berterima kasih kepada orang kaya di dunia itu karena telah mengirimkan terminal WiFi Starlink ke wilayah AS yang dilanda Badai.

    Kemenangan Trump membawa angin segar bagi bisnis Musk ke depannya dan akan membuahkan hasil yang baik.

  • Susie Wiles Akan Jadi Wanita Pertama yang Jabat Kepala Staf Gedung Putih

    Susie Wiles Akan Jadi Wanita Pertama yang Jabat Kepala Staf Gedung Putih

    Florida

    Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan Susie Wiles, salah satu manajer kampanyenya, akan menjadi Kepala Staf Gedung Putih dalam pemerintahan barunya. Salah satu orang kepercayaan yang membantu Trump memenangkan pilpres AS itu dipercaya memegang posisi puncak di Gedung Putih.

    Penunjukan ini, seperti dilansir AFP, Jumat (8/11/2024), merupakan yang pertama dari apa yang diperkirakan akan menjadi rentetan pengumuman, yang disampaikan Trump menjelang kembalinya mantan presiden itu ke Gedung Putih.

    Wiles akan menjadi wanita pertama yang menjabat sebagai Kepala Staf Gedung Putih.

    “Susie Wiles baru saja membantu saya mencapai salah satu kemenangan politik terbesar dalam sejarah Amerika, dan merupakan bagian integral dari kesuksesan kampanye saya pada tahun 2016 dan tahun 2020,” ucap Trump dalam pernyataannya pada Kamis (7/11) waktu setempat.

    “Susie itu tangguh, cerdas, inovatif, dan dikagumi serta dihormati secara universal. Saya tidak memiliki keraguan bahwa dia akan membuat negara kita bangga,” sebutnya.

    Sejak mengalahkan capres Partai Demokrat, Wakil Presiden Kamala Haris, dalam pilpres 5 November kemarin, Trump yang dinaungi Partai Republik ini mengasingkan diri di klub Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida.

    Menurut empat sumber yang dikutip AFP, dia sedang mempertimbangkan sejumlah besar tokoh untuk menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan barunya nanti. Banyak dari tokoh yang dipertimbangkan Trump merupakan wajah-wajah yang sudah dikenal dari masa kepresidenannya tahun 2017-2021 lalu.

  • Membaca Kemenangan Donald Trump

    Membaca Kemenangan Donald Trump

    Jakarta

    Kemenangan Donald Trump dalam Pemilu AS 2024 bukan hanya sebuah kejutan politik, tetapi juga cerminan dari krisis mendalam yang melanda masyarakat Amerika. Sebagai sosok yang dianggap kontroversial, Trump berhasil membalikkan keadaan dan merebut kembali Gedung Putih setelah kekalahan pada 2020. Ini bukan sekadar kemenangan individu, tetapi manifestasi dari kegagalan Demokrat dalam memahami dinamika politik, ekonomi, dan sosial yang tengah bergolak.

    Trump tidak hanya mampu mengonsolidasikan basis tradisionalnya, tetapi juga memperluas daya tariknya ke kelompok pemilih baru yang sebelumnya enggan mendukungnya. Ekonomi adalah senjata utama Trump dalam kampanye ini. Di tengah inflasi yang melambung tinggi, banyak warga Amerika merasa kehidupan mereka semakin sulit. Harga kebutuhan pokok naik, sementara daya beli stagnan. Data menunjukkan bahwa 45% pemilih merasa kondisi ekonomi mereka memburuk dalam empat tahun terakhir, angka tertinggi dalam sejarah survei pemilu AS.

    Trump, dengan gaya retorikanya yang khas, menawarkan solusi yang dianggap lebih langsung dan konkret. Ia berjanji memotong pajak, melindungi industri domestik dengan tarif tinggi, dan mengurangi regulasi yang dianggap memberatkan bisnis. Janji-janji ini mungkin tampak sederhana, bahkan populis, tetapi efektif dalam menggerakkan emosi pemilih yang frustrasi.

    Bagi banyak orang, janji tersebut memberikan harapan bahwa ekonomi akan kembali stabil, bahwa pekerjaan akan lebih banyak tersedia, dan bahwa kehidupan mereka akan membaik dalam waktu dekat. Meskipun para ekonom memperingatkan risiko inflasi jangka panjang akibat kebijakan proteksionisme, kekhawatiran tersebut tampaknya tidak cukup untuk membendung gelombang dukungan kepada Trump.

    Namun, keberhasilan Trump tidak hanya bertumpu pada isu ekonomi. Ia juga memanfaatkan isu imigrasi sebagai senjata ampuh untuk memperkuat dukungannya. Selama pemerintahan Biden-Harris, jumlah imigran ilegal yang masuk ke AS mencapai rekor tertinggi, hampir 250.000 orang per bulan pada akhir 2023. Meskipun pemerintahan Demokrat akhirnya mengambil langkah-langkah untuk memperketat kebijakan perbatasan, bagi banyak pemilih, langkah itu dianggap terlambat.

    Trump, sebaliknya, sejak awal menegaskan bahwa dia akan mengembalikan kebijakan imigrasi keras, termasuk membangun kembali tembok perbatasan yang dihentikan. Narasi ini sangat efektif di negara-negara bagian seperti Georgia dan North Carolina, di mana sentimen anti-imigrasi tinggi. Di North Carolina, misalnya, sebagian besar pemilih menganggap kebijakan imigrasi Biden gagal melindungi keamanan dan stabilitas masyarakat lokal.

    Pergeseran Pemilih

    Salah satu aspek paling menarik dari kemenangan Trump adalah pergeseran signifikan dalam demografi pemilih. Di luar dugaan, ia meraih dukungan besar dari kelompok pemilih minoritas, terutama Hispanik dan kulit hitam. Di Nevada, Trump berhasil mendapatkan 47% suara Hispanik, angka tertinggi untuk kandidat Republik dalam dua dekade terakhir. Bahkan di antara pria Hispanik, Trump unggul 10 poin atas Harris.

    Ini bukan sekadar soal strategi kampanye yang kurang efektif, tetapi juga cerminan dari rasa apatis di kalangan pemilih Demokrat. Mereka yang sebelumnya bersemangat mendukung Biden tampaknya kehilangan keyakinan bahwa Demokrat mampu mengatasi tantangan ekonomi dan sosial yang ada.

    Kegagalan terbesar Demokrat mungkin terletak pada ketidakmampuan mereka untuk memobilisasi pemilih muda. Kelompok ini, yang sering menjadi motor perubahan dalam pemilu, justru lebih banyak berpaling. Pada Pemilu 2020, Biden menang besar di kalangan pemilih pertama kali dengan margin 32 poin. Namun, dalam pemilu kali ini, Harris kalah di kelompok yang sama dengan margin 9 poin. Ini menunjukkan bahwa isu-isu progresif seperti perubahan iklim, keadilan sosial, dan hak asasi manusia, meskipun penting, tidak cukup untuk menggerakkan generasi muda dalam jumlah besar.

    Kemenangan Trump juga memberikan dampak besar dalam konteks geopolitik. Retorikanya tentang “perdamaian melalui kekuatan” dan janji untuk mengurangi keterlibatan AS dalam konflik luar negeri telah menarik perhatian dunia. Beberapa pemimpin global, seperti Volodymyr Zelenskyy dari Ukraina dan Benjamin Netanyahu dari Israel, menyambut baik kembalinya Trump.

    Namun, pendekatan proteksionis Trump, termasuk janji untuk memberlakukan tarif tinggi pada barang-barang impor, berpotensi memicu ketegangan baru dalam hubungan perdagangan internasional. Kebijakan ini, meskipun dirancang untuk melindungi industri dalam negeri, dapat memicu perang dagang yang merugikan ekonomi global.

    Lebih jauh lagi, kemenangan ini memperdalam polarisasi politik di AS. Dengan kendali atas Gedung Putih dan Senat, Trump memiliki kekuatan penuh untuk mendorong agenda konservatifnya tanpa banyak hambatan. Ini termasuk membatalkan kebijakan progresif yang diterapkan selama pemerintahan Biden-Harris, mulai dari reformasi sistem kesehatan hingga regulasi lingkungan. Langkah-langkah ini hampir pasti akan memicu reaksi keras dari Partai Demokrat dan kelompok progresif, memperdalam jurang perpecahan politik yang sudah ada.

    Bagi Demokrat, kekalahan ini harus menjadi momen refleksi yang mendalam. Mereka harus segera merumuskan ulang strategi politik yang mampu merangkul semua lapisan masyarakat. Ketidakmampuan mereka untuk merespons kebutuhan konkret dari berbagai kelompok pemilih, terutama mereka yang merasa terpinggirkan secara ekonomi dan sosial, menjadi kelemahan utama yang harus segera diperbaiki. Jika tidak, mereka akan terus kehilangan pijakan dalam kompetisi politik yang semakin keras dan tidak kenal ampun.

    Kemenangan Trump menunjukkan bahwa, meskipun penuh kontroversi, ia tetap mampu memanfaatkan ketidakpuasan publik untuk mengukuhkan dirinya sebagai salah satu tokoh politik paling berpengaruh di era modern. Amerika kini berada di persimpangan jalan, menghadapi pilihan besar antara jalan proteksionisme dan unilateralisme atau keterbukaan dan multilateralisme. Pilihan ini tidak hanya akan menentukan masa depan Amerika, tetapi juga arah dunia dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

    Mengubah Perdagangan Global

    Kemenangan Donald Trump membawa tantangan dan peluang bagi Indonesia. Trump yang dikenal dengan kebijakan proteksionis akan mengubah dinamika perdagangan global. Salah satu prioritas Indonesia adalah memperkuat diplomasi ekonomi. AS merupakan salah satu pasar utama bagi ekspor produk Indonesia, terutama tekstil, elektronik, dan produk hasil bumi. Untuk mempertahankan akses ke pasar ini, pemerintah harus memperkuat lobi dagang dan melakukan negosiasi ulang untuk sektor-sektor strategis.

    Selain itu, diversifikasi pasar ekspor menjadi lebih mendesak. Ketergantungan pada AS sebagai mitra dagang dapat menjadi risiko besar. Indonesia harus mempercepat perundingan dagang dengan Uni Eropa, Jepang, dan India melalui perjanjian seperti CEPA. Diversifikasi ini penting untuk mengurangi eksposur terhadap kebijakan proteksionis Trump dan memastikan daya tahan ekonomi di tengah perubahan global.

    Potensi peningkatan suku bunga AS juga harus diantisipasi. Jika The Federal Reserve menaikkan suku bunga akibat kebijakan fiskal ekspansif Trump, ini dapat menarik arus modal keluar dari Indonesia, melemahkan rupiah, dan meningkatkan biaya utang luar negeri. Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas moneter dengan kebijakan suku bunga yang adaptif, sementara Kementerian Keuangan harus mengurangi eksposur utang luar negeri dan fokus pada pembiayaan domestik.

    Dalam geopolitik, Indonesia harus memperkuat peran di ASEAN. Dengan kebijakan luar negeri Trump yang cenderung unilateralis, Indonesia memiliki peluang untuk memimpin inisiatif regional yang menjaga stabilitas kawasan. Diplomasi maritim dan kerja sama pertahanan harus ditingkatkan untuk memastikan Asia Tenggara tetap damai dan stabil tanpa terlalu bergantung pada kekuatan eksternal seperti AS atau Tiongkok.

    Indonesia juga dapat menarik investasi dari perusahaan yang ingin keluar dari Tiongkok akibat ketegangan perdagangan dengan AS. Untuk itu, pemerintah perlu mempercepat reformasi struktural dalam bidang investasi, memastikan proses perizinan lebih sederhana, infrastruktur yang lebih baik, dan iklim bisnis yang kompetitif.

    Pada tingkat domestik, pemerintah harus menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. Ketegangan global dapat mempengaruhi harga barang impor, yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Program perlindungan sosial seperti subsidi pangan dan bantuan langsung tunai harus tetap menjadi prioritas. Selain itu, kampanye edukasi untuk memperkuat pasar domestik dan diversifikasi ekonomi perlu digencarkan.

    Indonesia tidak bisa bersikap pasif di tengah dinamika global ini. Langkah konkret dan terukur harus segera diambil untuk melindungi kepentingan nasional dan memanfaatkan peluang dari perubahan kebijakan AS di bawah Trump. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat tidak hanya bertahan tetapi juga memperkuat posisinya di kancah global.

    Virdika Rizky Utama Direktur Eksekutif PARA Syndicate, dosen Hubungan Internasional President University

    (mmu/mmu)

  • The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Ini Alasannya

    The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Ini Alasannya

    Jakarta

    Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) resmi memangkas suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 4,50-4,75%. Penurunan suku bunga disepakati dengan suara bulat pada Federal Open Market Committee (FOMC) salah satunya mempertimbangkan angka pengangguran yang naik di AS.

    Dikutip dari CNBC, Jumat (8/11/2024), pemangkasan ini kali kedua yang dilakukan The Fed dalam dua pertemuan FOMC secara beruntun. Sebelumnya, pada September lalu The Fed memangkas suku bunga 50 bps. Dengan demikian, secara akumulasi suku bunga The Fed sudah dipangkas 75 bps.

    Setelah pertemuan tersebut, saham ditutup positif, Nasdaq menguat 1,5%. Baik Nasdaq maupun S&P 500 ditutup pada rekor tertinggi. Sementara imbal hasil Treasury anjlok setelah melonjak pada hari sebelumnya.

    Pernyataan usai pertemuan mencerminkan beberapa perubahan dalam cara Fed memandang ekonomi, salah satunya yakni cara menilai upaya untuk menurunkan inflasi sambil mendukung pasar tenaga kerja. The Fed melihat dukungan terhadap lapangan kerja menjadi prioritas yang sama pentingnya dengan menahan inflasi.

    “Komite menilai bahwa risiko untuk mencapai sasaran ketenagakerjaan dan inflasi secara kasar seimbang,” kata The Fed dalam dokumen.

    Inflasi AS kembali ke target bank sentral sebesar 2%, sementara pasar tenaga kerja telah menunjukkan beberapa indikasi pelemahan. Gubernur The Fed Jerome Powell telah berbicara tentang penataan ulang kebijakan ke arah yang tidak seketat sebelumnya saat berfokus pada penjinakan inflasi.

    “Kalibrasi ulang lebih lanjut dari sikap kebijakan kami akan membantu mempertahankan kekuatan ekonomi dan pasar tenaga kerja, dan akan terus memungkinkan kemajuan lebih lanjut pada inflasi saat kami bergerak menuju sikap yang lebih netral,” kata Powell pada konferensi pers usai pertemuan.

    Berlanjut ke halaman berikutnya.

    Secara umum, pasar tenaga kerja masih bertahan dengan baik. Namun, lapangan kerja nonpertanian meningkat hanya 12.000 pada Oktober, di bawah estimasi 100.000. Akan tetapi pelemahan tersebut disebabkan oleh badai di Tenggara dan aksi mogok buruh.

    Di sisi lain, keputusan pemangkasan suku bunga ini terjadi di tengah perubahan latar belakang politik. Donald Trump memperoleh kemenangan dalam pemilihan presiden (pilpres) AS pada hari Selasa.

    Para ekonom sebagian besar memperkirakan, kebijakan-kebijakannya menimbulkan tantangan bagi inflasi, salah satunya yakni pengenaan tarif hukuman dan deportasi massal bagi imigran tidak berdokumen.

    Trump juga telah menjadi kritikus keras Powell dan rekan-rekannya selama masa jabatan pertamanya. Para bankir sentral dengan tekun menghindari komentar tentang masalah politik, tetapi dinamika Trump dapat menjadi beban bagi arah kebijakan ke depan.

    Akselerasi aktivitas ekonomi di bawah Trump dapat membuat The Fed memangkas suku bunga lebih sedikit, tergantung inflasi. Meski begitu, Powell mengatakan pemerintahan baru tidak akan secara langsung memengaruhi kebijakan moneter.

    “Dalam waktu dekat, pemilihan umum tidak akan mempengaruhi keputusan kebijakan kami,” kata Powell.

    Selain itu, Powell juga mengatakan, dia tidak akan mengundurkan diri bahkan jika presiden terpilih meminta pengunduran dirinya. Powell akan menjabat hingga 2026.

    Lihat juga video: IHSG Stagnan Menunggu Kabar The Fed

  • Jerome Powell Tegaskan Tidak Akan Mundur dari The Fed Jika Diminta Trump

    Jerome Powell Tegaskan Tidak Akan Mundur dari The Fed Jika Diminta Trump

    Jakarta

    Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell menegaskan tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya jika diminta oleh Presiden terpilih Donald Trump.

    Hal ini disampaikan Powell dalam konferensi pers usai The Fed mengumumkan pemangkasan suku bunga. Ia ditanya terkait kesediaannya untuk mengundurkan diri dari kepemimpinan bank sentral jika diminta Trump.

    Merespons pertanyaan tersebut, Powell menjawab dengan tegas bahwa dirinya tidak akan mundur. Ia juga bilang kalau memecatnya atau petinggi The Fed lainnya sebelum masa jabatan berakhir tidak diizinkan secara hukum.

    “Tidak diizinkan menurut hukum,” ujar Powell, dikutip dari Reuters, Jumat (8/11/2024),

    Pada kesempatan itu, ia menepis banyak pertanyaan tentang langkah-langkah kebijakan yang dapat dilakukan Trump sebagai presiden terhadap pengambilan keputusan bank sentral.

    “Dalam jangka pendek, pemilihan umum tidak akan berdampak pada keputusan kebijakan kami,” ujarnya.

    Konferensi pers tersebut diadakan usai Powell mengumumkan langkah pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi antara 4,5-4,75%. Keputusan ini menyusul langkah pemangkasan 50 basis poin pada September lalu.

    Sebelumnya pada Kamis, seorang penasihat Trump mengatakan presiden terpilih akan mempertahankan Powell hingga akhir masa jabatan kepemimpinannya, yang akan berakhir pada Mei 2026. Masa jabatan Powell sebagai gubernur telah diperpanjang hingga akhir Januari 2028.

    CNN juga melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan mantan Gubernur Fed, Kevin Warsh, yang sekarang menjadi kritikus bank sentral, dan mantan kepala ekonom pemerintahannya Kevin Hassett sebagai calon pengganti Powell.

    Dalam sejarahnya, Trump menunjuk Powell sebagai Gubernur The Fed pada awal 2018 untuk menggantikan Janet Yellen, yang kemudian menjadi Menteri Keuangan Presiden Joe Biden. Biden mengangkat kembali Powell untuk masa jabatannya saat ini.

    Hubungan antara Trump dan Powell memburuk, dengan Trump sering menyerang Fed dan pimpinannya selama masa jabatan pertamanya atas kebijakan bank sentral. Serangan ini muncul setelah puluhan tahun presiden menghindari kritik langsung terhadap bank sentral.

    Di sisi lain, setiap upaya untuk menyingkirkan pemimpin Fed kemungkinan besar berdampak negatif terhadap pasar keuangan hingga memicu kekhawatiran peningkatan harga.

    Pada saat yang sama, kebijakan Trump yakni kenaikan tarif perdagangan serta deportasi besar-besaran terhadap imigran ilegal kemungkinan mengerek inflasi yang telah berhasil diredam oleh bank sentral.

    Lihat juga video: Akankah Elon Musk Masuk Kabinet Donald Trump?

    (shc/ara)