Tag: Donald Trump

  • 7
                    
                        Manuver AS ke Venezuela dan Pelajaran Penting bagi Indonesia
                        Nasional

    7 Manuver AS ke Venezuela dan Pelajaran Penting bagi Indonesia Nasional

    Manuver AS ke Venezuela dan Pelajaran Penting bagi Indonesia
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Puncak seteru Amerika Serikat vs Venezuela terjadi pada Sabtu (3/1/2026). Caracas, ibu kota Venezuela, diserang oleh militer Amerika Serikat.
    Serangan itu tak hanya membuat pertahanan Venezuela kalang kabut, tetapi orang nomor satu di negara itu juga kena seret.
    Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diborgol, matanya ditutup, kemudian diterbangkan entah ke mana.
    Konflik yang berujung pada tindakan penangkapan Presiden Venezuela ini bukanlah konflik baru, melainkan seteru yang memuncak setelah puluhan tahun berlalu.
    Seteru Amerika Serikat vs Venezuela ini diketahui bermula pada sumber daya.
    Negara Amerika Latin itu menjadi pemasok utama bahan bakar fosil ke negeri Paman Sam.
    Setelah Hugo Chavez terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998, mereka menolak membeo pada Amerika Serikat.
    Ketegangan pun terjadi, Chavez dengan agenda politik Bolivarian menanamkan realisme untuk seluruh kebijakannya.
    Kepentingan dan kedaulatan nasional adalah yang utama.
    Ekonomi yang selama ini disetir Amerika Serikat perlahan lepas, dan mulai membangun propaganda bahwa Amerika Serikat adalah negara tengil yang suka ikut campur urusan dalam negeri orang lain.
    Di ranah kebijakan luar negeri, Chavez memperkuat hubungan dengan Kuba dan juga memperdalam kedekatan dengan negara-negara yang sering diposisikan sebagai rival AS, seperti Rusia dan Iran.
    Pada 2002, Chavez sempat dikudeta, namun kudeta tersebut gagal dan berakhir pada takhta yang tetap dipegang teguh oleh Chavez.
    Saat itu Chavez meyakini upaya kudeta tersebut didalangi oleh Amerika Serikat dan semakin memperbesar ketegangan yang ada di kawasan Karibia.
    Saling usir duta besar kedua negara terjadi.
    Pada 2008, Dubes AS untuk Venezuela Patrick Duddy diusir oleh Chavez karena dugaan keterlibatan Washington pada kondusivitas politik kawasan Amerika Latin.
    Reuters juga mencatat serangkaian insiden “balas-membalas” yang membuat relasi kedua negara sulit stabil dalam jangka panjang, bahkan ketika ada upaya meredakan ketegangan pada periode tertentu.
    Pasca-meninggalnya Chavez, ketegangan antara AS dan Venezuela tidak mereda.
    Pemimpin anyar terpilih, Nicolas Maduro memimpin, ketegangan masih tetap tinggi.
    Amerika Serikat memberikan tuduhan serius kepada Venezuela atas kejahatan narkotika.
    Negara itu disebut sebagai sarang narkoterorisme.
    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kemudian memberikan pernyataan bahwa Venezuela sengaja membanjiri AS dengan narkoba.
    Meskipun dibantah berulang kali oleh pemerintah Venezuela, Donald Trump tak bergeming.
    Ia minta pasukan elitnya angkat senjata, meluncurkan serangan ke tengah kota, dan menangkap pemimpin negara yang sah di Venezuela.
    Serangkaian operasi ini dikenal sebagai Operation Southern Spear yang dimulai dengan serangan terhadap kapal motor di perairan Karibia, dan berkembang menuju pusat kota Caracas.
    Pengamat Hubungan Internasional Central China Normal University (CCNU), Ahmad Syaifuddin Zuhri, mengatakan, peristiwa Amerika Serikat main hantam negara orang bukan kali pertama terjadi.
    Pasca-perang dingin, Amerika Serikat pernah melakukan hal yang sama pada Irak.
    “Kasus Venezuela ini menjadi suatu anomali pasca-perang dingin, ada beberapa contoh seperti ini yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Pertama pada 2003, ketika invasi ke Irak untuk menggulingkan Saddam Hussein dengan dalih ada senjata pemusnah massal,” kata Zuhri kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2026).
    Kemudian cawe-cawe Amerika Serikat bersama tentara NATO ke Libya pada 2011 dari rezim Muammar Gaddafi selama perang saudara di negara tersebut.
    Tetapi Amerika Serikat tidak sendiri, ada juga negara dengan kekuatan tempur besar seperti Rusia yang juga melakukan hal yang sama.
    Rusia hendak mencaplok wilayah kedaulatan Ukraina sehingga konflik terjadi hingga saat ini.
    Zuhri mengatakan, peristiwa ini menjadi penanda
    hukum internasional
    impoten saat menghadapi negara-negara dengan kekuatan tempur yang besar.
    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi tak berdaya, hukum yang telah disepakati ditinggal begitu saja.
    Dalam konteks ini, Zuhri menegaskan Indonesia tak boleh lagi bergantung pada PBB untuk urusan diplomasi, wabil khusus pertahanan dalam tatanan geopolitik global.
    “Tetapi Indonesia juga perkuat posisinya di internal bagaimana penguatan kekuatan militer menjadi sangat perlu, melihat dari saat ini banyak pelajaran bagaimana negara-negara kuat mengintervensi negara lemah, dan negara lemah tidak mempunyai kapasitas kekuatan militer, ini menjadi salah satu dilema keamanan,” katanya.
    Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan, setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa diambil pemerintah Indonesia dalam peristiwa ini.
    Pertama, Amerika Serikat tak bisa lagi dipercaya sebagai penentu kebenaran di dunia hukum internasional.
    Karena penyerangan Amerika Serikat terhadap Venezuela terang-terangan melanggar hukum internasional.
    “Jangan pernah jadikan AS sebagai penentu siapa yang benar dan yang salah, mereka pun bisa melanggar hukum, termasuk hukum internasional,” kata Hikmahanto kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2026).
    Dalam peristiwa ini, Hikmahanto juga mengingatkan kepada pemerintah Indonesia untuk menyeleksi pejabat yang menempati posisi strategis geopolitik.
    Dia mengingatkan, pejabat harus benar-benar bisa berjuang dan menjaga kepercayaan negara, bukan menjadi pemberi informasi kepada musuh, seperti yang terjadi dalam sergapan Amerika Serikat ke Venezuela.
    “Pejabat harus paham isu-isu geopolitik, sehingga bisa memprediksi setiap perubahan, itu pelajarannya,” tuturnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Elon Musk Tawarkan Layanan Starlink Gratis saat Hubungan AS dan Venezuela Memanas

    Elon Musk Tawarkan Layanan Starlink Gratis saat Hubungan AS dan Venezuela Memanas

    Bisnis.com, JAKARTA — Layanan internet satelit yang dioperasikan oleh SpaceX, Starlink, memberikan layanan internet gratis kepada masyarakat Venezuela setelah insiden penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

    Satelit internet yang dimiliki oleh Elon Musk ini membuat pengumuman bahwa mereka bersedia memfasilitasi layanan internet gratis bagi pelanggan aktif maupun pelanggan tidak aktif di negara Venezuela.

    “Starlink menyediakan layanan broadband gratis bagi masyarakat Venezuela,” dikutip dari pernyataan resmi Starlink Selasa (06/01/2026).

    Perusahaan itu juga membuka peluang bagi pelanggan yang berhenti berlangganan dan sedang terkena jeda untuk mendapatkan kredit secara gratis. Namun, pelanggan wajib masih memiliki perangkat keras dari Starlink.

    Masyarakat Venezuela yang tidak memiliki perangkat keras, tidak akan mendapatkan keuntungan ini. Starlink juga menyebutkan bahwa mereka akan memberikan layanan internet gratis ini hingga tanggal 3 Februari 2026.

    Sebagai informasi, Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap Venezuela dengan menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya pada 3 Januari lalu.

    Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa penangkapan itu merupakan indikasi dari keterlibatan Maduro terhadap perdagangan narkoba dan terorisme narkoba dan juga meledakkan puluhan perahu kecil.

    Di sisi lain, Venezuela bukanlah daerah konflik pertama yang menerima dukungan Starlink. Sebelumnya, Starlink memang sudah gencar memberikan layanan internet gratis pada daerah yang sedang terkena konflik. Pada 2022 lalu, Starlink memberikan layanan internet secara gratis pada Ukraina setelah diserang oleh Rusia.

    Daerah konflik Gaza juga pernah terkena kebijakan ini saat pemadaman telekomunikasi yang terjadi pada 2023. Saat itu, Starlink digratiskan dan Musk mengatakan akan mendukung akses internet bagi organisasi bantuan internasional yang diakui secara internasional di Gaza.

    Starlink juga membantu pengguna dalam menghindari sensor pemerintah negara-negara otoriter. Di negara Iran, banyak warga telah memakai Starlink guna menghindari pembatasan internet walaupun belum mendapatkan persetujuan resmi.

    Pemerintahan Maduro sering memakai taktik pemadaman internet saat terjadi ketidakstabilan politik di negara itu. Ketersediaan Starlink memungkinkan aktor non-pemerintah untuk menyediakan akses internet di daerah-daerah di mana kontrol pemerintah paling ketat.

    Strategis GeoMacro Global di BCA Research Marko Papic menjelaskan bahwa Starlink mewakili model baru di mana perusahaan swasta memastikan akses internet di negara-negara otoriter.

    Untuk saat ini Starlink masih memantau perkembangan kondisi dan persyaratan regulasi. “Meskipun kami belum memiliki jadwal untuk ketersediaan pembelian lokal, jika dan ketika ada pembaruan, informasi tersebut akan dikomunikasikan langsung melalui saluran resmi Starlink dan diperbarui di halaman ini,” dikutip dari laman resmi. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Mau Dicaplok Trump, Greenland Ternyata Punya Harta Karun Incaran Dunia

    Mau Dicaplok Trump, Greenland Ternyata Punya Harta Karun Incaran Dunia

    Jakarta

    Usai menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membidik Greenland, sebuah wilayah otonomi di bawah kekuasaan Denmark.

    Ketertarikan Trump melebarkan wilayah AS ke Greenland sudah sejak tahun lalu lalu. Trump menegaskan lokasi Greenland strategis dan memiliki kekayaan sumber daya mineralnya.

    Mengutip Reuters, Senin (6/1/2026), survei pada 2023 menunjukkan bahwa 25 dari 34 mineral yang didata Uni Eropa ditemukan di Greenland.

    Berikut rincian mineral utama Greenland, berdasarkan data Otoritas Sumber Daya Mineral Greenland:

    LOGAM TANAH JARANG (RARE EARTHS)

    Berdasarkan data Otoritas Sumber Daya Greenland, terdapat tiga endapan logam tanah jarang terbesar Greenland berada di Provinsi Gardar bagian selatan.

    Perusahaan yang berupaya mengembangkan tambang logam tanah jarang antara lain Critical Metals Corp yang mengakuisisi endapan Tanbreez; Energy Transition Minerals, dengan proyek Kuannersuit yang terhambat sengketa hukum; serta Neo Performance Materials.

    Unsur tanah jarang sangat penting untuk magnet permanen yang digunakan pada kendaraan listrik (EV) dan turbin angin.

    GRAFIT

    Selain logam tanah jarang, terdapat juga mineral berupa grafit yang banyak tersebar di Greenland. Adapun grafit alami sebagian besar digunakan dalam baterai kendaraan listrik dan industri baja.

    TEMBAGA
    Otoritas Sumber Daya Mineral Greenlad juga menyebutkan terdapat endapan tembaga yang tersebar di di timur laut dan timur tengah.

    Adalun perusahaan yang terdaftar di London, 80 Mile tengah berupaya mengembangkan endapan Disko Nuussuaq, yang mengandung tembaga, nikel, platinum, dan kobalt.

    NIKEL

    Nikel ternyata juga banyak ditemukan di Greenland. Perusahaan tambang besar Anglo American telah memperoleh izin eksplorasi selama lima tahun di Greenland bagian barat pada pertengahan 2019 dan telah mencari endapan nikel, di antara mineral lainnya.

    SENG (ZINC)
    Seng terutama ditemukan di wilayah utara, dalam formasi geologi yang membentang lebih dari 2.500 km.
    Sejumlah perusahaan telah berupaya mengembangkan proyek seng dan timbal Citronen Fjord, yang disebut-sebut sebagai salah satu sumber daya seng terbesar di dunia yang belum dikembangkan.

    EMAS
    Mineral emas ini berada di sekitar Fjord Sermiligaarsuk di bagian selatan Greenland.

    INTAN

    Endapan bijih besi terdapat di beberapa lokasi utama, yakni di Isua (barat daya Greenland bagian selatan), Itilliarsuk (Greenland bagian barat tengah), serta di wilayah barat laut Greenland sepanjang pesisir Lauge Koch.

    TITANIUM-VANADIUM
    Endapan titanium dan vanadium yang telah teridentifikasi berada di wilayah barat daya, timur, dan selatan Greenland.

    Titanium banyak dimanfaatkan untuk keperluan komersial, medis, dan industri. Sementara itu, vanadium terutama digunakan dalam pembuatan paduan baja khusus. Senyawa vanadium yang paling penting secara industri, yaitu vanadium pentoksida, digunakan sebagai katalis dalam proses produksi asam sulfat.

    TUNGSTEN

    Tungsten digunakan dalam berbagai aplikasi industri dan sebagian besar ditemukan di wilayah timur tengah serta timur laut Greenland. Beberapa endapan lainnya juga telah dinilai berada di wilayah selatan dan barat.

    URANIUM

    Pada 2021, Partai Inuit Ataqatigiit yang berhaluan kiri memberlakukan larangan penambangan uranium. Kebijakan ini secara efektif menghentikan pengembangan proyek logam tanah jarang Kuannersuit, karena uranium merupakan produk sampingan dari proyek tersebut.

    (hrp/hns)

  • Demo di Kedubes AS, Buruh Desak Pemerintah Tegas Respons Penangkapan Presiden Venezuela
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        6 Januari 2026

    Demo di Kedubes AS, Buruh Desak Pemerintah Tegas Respons Penangkapan Presiden Venezuela Megapolitan 6 Januari 2026

    Demo di Kedubes AS, Buruh Desak Pemerintah Tegas Respons Penangkapan Presiden Venezuela
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Sejumlah massa dari gabungan organisasi buruh, organisasi perempuan, mahasiswa dan pelajar menggelar demo bertajuk solidaritas untuk Venezuela di depan Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2025) sore.
    Salah atau orasi yang disampaikan massa aksi adalah mendesak pemerintah Indonesia bersikap tegas merespons tindakan AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
    “Mendesak kepada pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas. Menolak agresi militer yang dilakukan oleh AS terhadap Venezuela,” ujar salah satu koordinator demon, Sunarno, di lokasi unjuk rasa, Selasa.
    “AS bukan polisi dunia yang bisa menghakimi melakukan invasi, melakukan agresi sewenang-wenang terhadap negara lain. Yang khususnya adalah Venezuela,” tegasnya.
    Sunarno, yang juga mewakili serikat
    buruh
    , menilai tindakan Amerika Serikat tersebut telah melanggar hukum internasional.
    Menurut dia, Indonesia sebagai negara berkembang perlu mewaspadai perkembangan geopolitik global saat ini.
    Ia mengingatkan, bukan tidak mungkin negara-negara berkembang lainnya dapat mengalami nasib serupa dengan Venezuela pada kemudian hari.
    “Kami dari gerakan buruh bersama rakyat mengecam keras, mengutuk keras tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela,” kata Sunarno.
    “Ini kita tidak bisa biarkan, karena jika saat ini yang menjadi sasaran Venezuela, bisa jadi besok adalah Colombia, atau lainnya,” lanjutnya.
    Unjuk rasa di depan Kantor Kedutaan Besar AS itu dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Hingga pukul 16.30 WIB, unjuk rasa masih berlangsung.
    Menurut Sunarno, aksi ini rencananya akan diakhiri pukul 17.00 WIB.
    Sementara itu, situasi arus lalu lintas di depan Jalan Medan Merdeka Selatan masih terpantau lancar hingga pukul 16.30 WIB.
    Kendaraan yang melaju di Jalan Medan Merdeka Selatan dari arah Tugu Tani tidak mengalami kemacetan meski ada aksi unjuk rasa.
    Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, pasukannya telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam serangan militer besar-besaran yang dilancarkan ke Caracas, Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.
    “Amerika Serikat berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar dari negara itu,” ujar Trump melalui platform Truth Social, dilansir Sabtu (3/1/2026).
    Pemerintah Venezuela mengatakan langkah tersebut sebagai bentuk agresi militer yang sangat serius dari Amerika Serikat.
    Serangan itu dipandang sebagai puncak dari tekanan militer dan ekonomi yang selama ini dilancarkan Presiden Donald Trump terhadap Venezuela, negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada ekspor minyak.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • AS Terapkan Pajak Side-by-Side, Apa Dampaknya ke RI?

    AS Terapkan Pajak Side-by-Side, Apa Dampaknya ke RI?

    Bisnis.com, JAKARTA — Penerapan skema perpajakan side-by-side oleh Amerika Serikat yang menggantikan Global Minimum Tax (GMT) dinilai tidak akan menganggu skema perpajakan global maupun menggerus potensi penerimaan negara Indonesia.

    Kepala Riset Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar menjelaskan bahwa mekanisme Qualified Domestic Minimum Top-up Tax (QDMTT) yang telah diadopsi Indonesia tetap berlaku efektif, meski AS mendapatkan pengecualian dari pajak minimum global/Pilar Dua OECD.

    Skema perpajakan side-by-side, sambungnya, memang tidak lagi mematuhi mekanisme Income Inclusion Rules (IIR) dan Undertaxed Payment Rule (UTPR) dalam pajak minimum global. Hanya saja, skema side-by-side tetap sejalan dengan mekanisme QDMTT.

    “Pemerintah Indonesia masih bisa mengenakan pajak tambahan jika perusahaan asal AS memiliki tarif efektif kurang dari 15% [lewat mekanisme QDMTT]. Jadi, kita tidak perlu takut akan kebocoran basis pajak, hal itu tidak terjadi,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).

    Fajry menjelaskan bahwa skema side-by-side justru membuktikan komitmen AS untuk menjaga eksistensi pajak minimum global. Instrumen ini dinilai tetap ampuh mencegah praktik penghindaran pajak ke yurisdiksi bertarif rendah serta menahan laju penurunan tarif pajak penghasilan korporasi (PPh Badan) atau race to the bottom seperti tujuan skema pajak global OECD.

    Oleh sebab itu, dia melihat pengecualian perusahaan multinasional asal AS tidak akan mengubah Negeri Paman Sam menjadi surga pajak (tax haven). Pasalnya, meski tidak tunduk pada IIR ataupun UTPR, korporasi AS tetap terikat aturan domestik yang ketat.

    Fajry menjelaskan mekanisme Global Intangible Low-Taxed Income (GILTI) yang kini bertransformasi menjadi Non-Continental Taxable Income (NCTI) dalam rancangan undang-undang One Big Beautiful Bill (OBBA).

    “Sebaliknya, tarif efektif dari NCTI jauh lebih besar dibandingkan tarif efektif dari GMT,” tambahnya.

    Dari sisi geopolitik, Fajry menganalisis manuver Kementerian Keuangan AS ini sebagai upaya penyelarasan insentif fiskal, khususnya terkait riset dan pengembangan (R&D). Langkah ini dinilai wajar mengingat AS tengah berkompetisi ketat dengan China dalam supremasi teknologi, seperti artificial intelligence atau akal imitasi (AI).

    Langkah serupa, menurutnya, juga terlihat pada kebijakan insentif fiskal era pemerintahan Joe Biden lewat Inflation Reduction Act (IRA) maupun CHIPS Act.

    Bagi Indonesia, dia menilai perkembangan ini tidak mengganggu peta jalan implementasi pajak internasional yang telah disusun.

    “Kita masih on-track dengan timeline [peta jalan] yang sudah ada. Sampai sekarang saya belum melihat ancaman besar dari hal tersebut bagi Pemerintah Indonesia,” tutup Fajry.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menegaskan bahwa kesepakatan pajak minimum global atau Pilar Dua OECD/G20 tidak akan berlaku bagi perusahaan multinasional asal Negeri Paman Sam usai mencapai kesepakatan multilateral.

    Bessent menyatakan langkah ini merupakan tindak lanjut dari Perintah Eksekutif Hari Pertama (Day One Executive Orders) Presiden AS Donald Trump yang secara tegas menganulir kesepakatan Pilar Dua OECD/G20 yang sebelumnya diajukan oleh pemerintahan presiden sebelumnya, Joe Biden. Menurutnya, proposal era Biden tersebut tidak lagi memiliki kekuatan hukum bagi AS.

    “Hari ini, Pemerintahan [Trump] memenuhi janji tersebut. Melalui koordinasi erat dengan Kongres, Kementerian Keuangan bekerja untuk mencapai kesepakatan dengan lebih dari 145 negara dalam OECD/G20 Inclusive Framework,” ungkap Bessent dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (6/1/2026).

    Bessent menjelaskan bahwa dalam kesepakatan tersebut, perusahaan yang berkantor pusat di AS akan tetap tunduk hanya pada pajak minimum global AS, sekaligus mendapatkan pengecualian dari ketentuan Pillar Dua OECD/G20.

    Kesepakatan yang bertajuk “side-by-side agreement” ini dinilai mengakui kedaulatan pajak AS atas operasi perusahaan AS di seluruh dunia, sekaligus menghormati kedaulatan pajak negara lain atas aktivitas bisnis di dalam batas wilayah mereka masing-masing.

    Lebih lanjut, Bessent menyoroti bahwa kesepakatan ini penting untuk melindungi nilai kredit penelitian dan pengembangan (R&D) AS serta insentif investasi lainnya yang telah disetujui Kongres. Perkembangan tersebut dinilai krusial untuk mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri, sejalan dengan visi AS untuk memimpin inovasi dan kemajuan teknologi.

    “Kesepakatan ini merupakan kemenangan bersejarah dalam menjaga kedaulatan AS dan melindungi pekerja serta bisnis Amerika dari jangkauan ekstrateritorial yang berlebihan,” katanya.

    Ke depan, Kementerian Keuangan AS berkomitmen untuk terus menjalin komunikasi dengan negara-negara asing guna memastikan implementasi penuh dari kesepakatan ini. Selain itu, sambung Bessent, AS akan berupaya membangun stabilitas pajak internasional serta bergerak menuju dialog konstruktif terkait perpajakan ekonomi digital.

  • Pemimpin Greenland Tegaskan Tidak Ada Lagi Fantasi Tentang Aneksasi

    Pemimpin Greenland Tegaskan Tidak Ada Lagi Fantasi Tentang Aneksasi

    JAKARTA – Pemimpin Greenland menegaskan “sudah cukup” dan tidak ada lagi fantasi mengenai aneksasi, sementara sekutu Denmark kembali menegas dukungan bahwa masa depan pulau di Arktik itu harus ditentukan rakyatnya.

    Ini disampaikankan seiring dengan pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai penguasaan Greenland.

    “Ancaman, tekanan, dan pembicaraan tentang aneksasi tidak memiliki tempat di antara teman” kata Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen di Facebook, seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (5/1).

    “Cukup sudah. Tidak ada lagi fantasi tentang aneksasi,” tegasnya.

    Diberitakan sebelumnya, Amerika Serikat perlu mengendalikan Greenland yang dimiliki Denmark “untuk pertahanan,” kata Presiden Donald Trump kepada The Atlantic dalam sebuah wawancara.

    “Tetapi kita memang membutuhkan Greenland, tentu saja. Kita membutuhkannya untuk pertahanan,” jelasnya, dikutip dari TASS.

    Itu disampaikan Pemimpin Gedung Putih setelah pasukan khusus AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam serangan yang mengejutkan.

    Operasi AS tersebut kembali memicu kekhawatiran di Denmark, Greenland, wilayah otonom Denmark, mungkin menghadapi skenario serupa.

    Ia telah berulang kali mengatakan ingin mengambil alih Greenland, ambisi yang pertama kali diungkapkan pada tahun 2019 selama masa kepresidenan pertamanya.

    Berbicara kepada wartawan di atas Air Force One pada Senin pagi, Presiden Trump mengatakan ia akan membahas kembali topik tersebut dalam beberapa minggu.

    Diketahui, Presiden Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland pada 21 Desember.

    Letaknya yang strategis di antara Eropa dan Amerika Utara menjadikan Greenland lokasi penting dalam sistem pertahanan rudal balistik AS.

    Sumber daya mineral pulau yang signifikan juga sejalan dengan ambisi Washington untuk mengurangi ketergantungan pada ekspor Tiongkok.

    Dukungan untuk Denmark dan Greenland datang dengan cepat dari para pemimpin Nordik dan Baltik setelah pernyataan terbaru Presiden Trump.

    Presiden Finlandia Alexander Stubb dalam unggahannya di X menuliskan, “Tidak ada yang berhak memutuskan untuk Greenland dan Denmark selain Greenland dan Denmark sendiri.”

    Prancis juga menyatakan solidaritas, dengan mengatakan Greenland adalah milik rakyat Greenland. Presiden Emmanuel Macron mengatakan Juni lalu selama kunjungan ke ibu kota Greenland, Nuuk, pulau itu terancam oleh “ambisi predator.”

    Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengatakan pada Hari Minggu, komentar AS tentang perlunya mengambil alih Greenland “sama sekali tidak masuk akal.”

  • Video Pimpinan Demokrat AS Kritik Penangkapan Maduro: Trump Sibuk Perang!

    Video Pimpinan Demokrat AS Kritik Penangkapan Maduro: Trump Sibuk Perang!

    Video Pimpinan Demokrat AS Kritik Penangkapan Maduro: Trump Sibuk Perang!

    0 Views |

    Selasa, 06 Jan 2026 11:42 WIB

    Pemimpin Minoritas DPR Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Hakeem Jeffries, mengecam pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilainya kembali menciptakan kekacauan, krisis, dan korupsi di awal tahun 2026.

    Jeffries menyoroti operasi Amerika Serikat di Venezuela yang ia sebut sebagai aksi militer tanpa izin Kongres, bukan penegakan hukum seperti yang diklaim Gedung Putih. Menurutnya, pemerintahan Trump telah membohongi publik dan justru sibuk memulai perang.

    Muhammad Abdurrosyid – 20DETIK

  • Saya akan Angkat Senjata Jika Amerika Menyerang

    Saya akan Angkat Senjata Jika Amerika Menyerang

    GELORA.CO –  Presiden AS Donald Trump dan Presiden Kolombia Gustavo Petro kembali terlibat perang kata-kata. Gustavo Petro tegaskan akan mengangkat senjata jika AS melakukan invasi. 

    Dalam pernyataannya Petro yang juga mantan gerilyawan sayap kiri pada tahun 1990-an, menolak tuduhan Trump bahwa ia adalah bandar narkoba.

    “Saya bukan anak haram dan saya bukan pengedar narkoba.Trump berbicara tanpa pengetahuan. Berhenti memfitnah saya,” tulisnya dalam sebuah unggahan di X.

    “Jika mereka [AS] mengebom, para petani akan menjadi ribuan gerilyawan di pegunungan. Dan jika mereka menahan presiden yang dicintai dan dihormati oleh sebagian besar rakyat, mereka akan melepaskan ‘jaguar’ rakyat,” kata Petro memperingatkan.

    Petro menghabiskan sebagian masa mudanya sebagai anggota kelompok gerilya sayap kiri M-19. Meski ada spekulasi ia tidak pernah berpartisipasi dalam pertempuran.

    Setelah demobilisasi, ia berpartisipasi dalam penyusunan konstitusi baru pada tahun 1991 dan kemudian menjadi anggota parlemen yang dihormati. Ia pernah menjabat sebagai walikota ibu kota Kolombia sebelum terpilih sebagai presiden.

    “Saya bersumpah untuk tidak menyentuh senjata lagi… tetapi untuk tanah air, saya akan mengangkat senjata lagi,” katanya.

    Menteri Pertahanan Kolombia, Pedro Sánchez, mengumumkan pada Sabtu bahwa pengawalan presiden telah diperkuat.

    AS mencabut visa Petro pada  September setelah ia menyerukan kepada tentara Amerika untuk tidak mematuhi perintah ilegal apa pun. Pada bulan Oktober, AS menjatuhkan sanksi keuangan kepada Petro dan keluarganya. istri dan beberapa kolaborator dekatnya.

    Pada saat yang sama ketika AS meningkatkan kehadiran militernya di Karibia dan membom kapal-kapal yang diduga membawa narkoba untuk menekan Maduro di Venezuela. Pasukan AS juga melakukan serangan terhadap kapal-kapal di wilayah Pasifik timur di sebelah barat pantai Kolombia.

    Peringatan Trump

    Berbicara kepada wartawan di Air Force One pada Ad, presiden AS mengancam aksi militer serupa terhadap Kolombia seperti halnya yang telah dilakukan di Venezuela. Trump mengatakan negara Amerika Selatan itu ‘sangat sakit’ dan dijalankan oleh ‘orang sakit’ yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat.

    “Dia memiliki pabrik kokain dan tidak akan melakukannya dalam waktu lama,” tambah Trump.

    Meskipun Kolombia adalah produsen kokain terbesar di dunia, tidak ada bukti bahwa Presiden Gustavo Petro, yang terpilih pada tahun 2022, terlibat dalam bisnis tersebut.

    Negara ini telah lama menjadi mitra dekat AS dalam memerangi perdagangan narkoba dan menikmati dukungan bipartisan di Washington, tetapi hubungan telah memburuk secara dramatis sejak Trump menjabat.

    Perdagangan narkoba di Kolombia sebagian besar dikendalikan oleh kelompok-kelompok bersenjata ilegal seperti Klan Teluk, Tentara Pembebasan Nasional (ELN), dan faksi-faksi pembangkang dari kelompok gerilya Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), yang sebagian besar anggotanya telah demobilisasi setelah kesepakatan damai tahun 2016.

    Ketika ditanya apakah intervensi militer serupa dengan Venezuela akan dilakukan terhadap Kolombia, Trump menjawab: “Kedengarannya bagus bagi saya.”

  • Netanyahu Tak Akan Biarkan Iran Pulihkan Program Rudal-Nuklir

    Netanyahu Tak Akan Biarkan Iran Pulihkan Program Rudal-Nuklir

    Tel Aviv

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan tidak akan membiarkan musuh bebuyutannya, Iran, memulihkan program rudal balistik. Perang yang berkecamuk antara Israel dan Iran tahun lalu telah memicu kerusakan pada fasilitas nuklir dan militer negara Syiah tersebut.

    Penegasan Netanyahu itu, seperti dilansir AFP, Selasa (6/1/2026), disampaikan beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan ancaman serupa terhadap Teheran.

    “Kita tidak akan mengizinkan Iran untuk memulihkan industri rudal balistik, dan tentu saja, kami tidak akan mengizinkannya untuk memperbarui program nuklir yang telah kami rusak secara signifikan,” tegas Netanyahu saat berbicara kepada para anggota parlemen Israel pada Senin (5/1) waktu setempat.

    “Jika kita diserang, konsekuensinya bagi Iran akan sangat berat,” ujarnya.

    Ancaman Netanyahu tersebut disampaikan beberapa hari setelah Trump mengancam untuk “memusnahkan” program nuklir dan rudal balistik Iran, setelah kedua pemimpin melakukan pertemuan terbaru di Washington DC pekan lalu.

    Para pejabat Israel dan media-media lokal negara Yahudi itu telah menyatakan kekhawatiran dalam beberapa bulan terakhir, soal Iran sedang membangun kembali persenjataan rudal balistiknya yang mengalami kerusakan dalam perang selama 12 hari dengan Israel pada Juni tahun lalu.

    Trump, dalam pernyataannya, menyebut Iran “mungkin berperilaku buruk” dan sedang mempertimbangkan situs nuklir baru untuk menggantikan situs lama yang menjadi target serangan AS yang bergabung bersama Israel dalam perang tahun lalu.

    Trump juga menyebut Teheran sedang memulihkan persediaan rudalnya.

    “Saya berharap mereka tidak mencoba membangun kembali, karena jika mereka melakukannya, kita tidak akan memiliki pilihan selain segera memusnahkan pembangunan tersebut,” tegas Trump, sembari menambahkan bahwa respons AS “mungkin lebih dahsyat daripada sebelumnya”.

    Namun demikian, Trump juga mengatakan dirinya mempercayai Iran masih tertarik pada kesepakatan dengan AS tentang program nuklir dan rudalnya. Teheran telah membantah tuduhan yang menyebut pihaknya sedang mengupayakan senjata nuklir.

    Sementara itu, Netanyahu mengatakan bahwa unjuk rasa yang sedang marak di Iran, untuk memprotes kesulitan ekonomi, telah “meluas secara signifikan”. Dia juga menegaskan bahwa Israel berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Iran selama unjuk rasa berlangsung.

    “Kami berdiri dalam solidaritas dengan perjuangan rakyat Iran dan dengan aspirasi mereka untuk kebebasan, kemerdekaan, dan keadilan,” ucapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Sejumlah Negara Eropa Mengecam UU Israel yang Memblokir Air dan Listrik ke Fasilitas UNRWA

    Sejumlah Negara Eropa Mengecam UU Israel yang Memblokir Air dan Listrik ke Fasilitas UNRWA

    JAKARTA – Tujuh negara Eropa pada Hari Senin mengecam undang-undang Israel yang mencakup langkah-langkah untuk memutus pasokan air, listrik, dan komunikasi ke fasilitas yang dikelola oleh badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA).

    “Tindakan tersebut merusak mandat PBB, melanggar hukum internasional, dan bertentangan dengan temuan Mahkamah Internasional, serta menimbulkan konsekuensi kemanusiaan yang serius bagi penduduk sipil Palestina dan para pengungsi,” kata pernyataan bersama Islandia, Irlandia, Luksemburg, Malta, Norwegia, Slovenia dan Spanyol, melansir Anadolu (5/1).

    Pernyataan tersebut menyerukan kepada Israel untuk memastikan bahwa LSM internasional yang telah mapan “terus diizinkan untuk beroperasi di Gaza dan bahwa setiap pencabutan izin dihentikan.”

    Pernyataan itu mencatat kerja PBB, khususnya UNRWA, bersama dengan organisasi kemanusiaan dan LSM lainnya, “sangat penting” untuk menghadapi situasi kemanusiaan yang mengerikan di Gaza.

    “Kami menggarisbawahi kewajiban untuk memastikan akses kemanusiaan yang penuh, aman, dan tanpa hambatan serta untuk memungkinkan kelanjutan fungsi operasi kemanusiaan PBB dan para mitranya, sesuai dengan Hukum Humaniter Internasional (IHL) dan kewajiban hukum internasional yang relevan,” demikian pernyataan tersebut.

    Pernyataan itu menambahkan: “Penghormatan terhadap hak istimewa dan kekebalan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan terhadap hukum humaniter internasional sangat penting.”

    Pekan lalu, Parlemen Israel menyetujui amandemen Undang-Undang untuk Menghentikan Operasi UNRWA, yang memblokir penyediaan listrik dan air ke fasilitas UNRWA.

    Pada 29 September 2025, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana 20 poin untuk mengakhiri perang di Gaza, termasuk gencatan senjata, pembebasan tawanan Israel, pelucutan senjata Hamas, penarikan Israel dari wilayah tersebut, pembentukan pemerintahan teknokrat dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional.

    Fase pertama perjanjian tersebut mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, tetapi Israel terus melanggar beberapa ketentuannya dan telah menunda peralihan ke fase selanjutnya, fase kedua.

    Sejak perjanjian gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, tentara Israel telah melakukan ratusan pelanggaran, menewaskan 420 warga Palestina dan melukai 1.184 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan.

    Gencatan senjata menghentikan perang Israel selama dua tahun yang telah menewaskan hampir 71.400 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, melukai lebih dari 171.200 lainnya, dan meninggalkan wilayah tersebut dalam reruntuhan.