Tag: Donald Trump

  • Trump Pertimbangkan Opsi Caplok Greenland, Termasuk Pakai Kekuatan Militer AS

    Trump Pertimbangkan Opsi Caplok Greenland, Termasuk Pakai Kekuatan Militer AS

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut serius mempertimbangkan sejumlah ide untuk mengakuisisi Greenland. Salah satunya yakni penggunaan kekuatan militer.

    Dilansir AFP, Rabu (7/1/2026), pertimbangan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pers Karoline Leavitt. Ia awalnya menjelaskan langkah akuisisi Greenland menjadi prioritas untuk keamanan nasional Amerika Serikat.

    “Presiden Trump telah menyatakan dengan jelas bahwa mengakuisisi Greenland adalah prioritas keamanan nasional Amerika Serikat, dan sangat penting untuk mencegah musuh kita di wilayah Arktik,” kata Sekretaris Pers Karoline Leavitt dalam sebuah pernyataan kepada AFP.

    Ia pun menyebut Trump dan timnya masih terus membahas opsi terbaik untuk mencapai tujuan itu. Menurutnya, salah satu opsi yakni dengan kekuatan militer.

    “Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk mengejar tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi panglima tertinggi,” ucap dia.

    Denmark Wanti-wanti AS

    Perdana Menteri (PM) Denmark Mette Frederiksen mengecam keras wacana pencaplokan Greenland oleh Amerika Serikat (AS). Dia mengingatkan bahwa pengambilalihan Greenland oleh AS berarti berakhirnya aliansi militer NATO.
    Komentarnya muncul sebagai tanggapan atas pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang kembali menyerukan agar pulau Arktik yang strategis dan kaya mineral itu, berada di bawah kendali AS. Seruan itu disampaikan oleh Trump usai serangan AS ke Venezuela akhir pekan lalu.

    Frederiksen dan PM Greenland, Jens Frederik Nielsen, mengecam komentar Trump tersebut dan memperingatkan akan adanya konsekuensi parah. Banyak pemimpin Eropa menyatakan solidaritas dengan mereka.

    “Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berakhir,” kata Frederiksen kepada stasiun televisi Denmark TV2 pada hari Senin (5/1) waktu setempat. “Artinya, itu termasuk NATO kita dan dengan demikian keamanan yang telah diberikan sejak akhir Perang Dunia Kedua,” cetus pemimpin Denmark itu, dilansir kantor berita Associated Press, Selasa (6/1).

    Trump telah berulang kali menyerukan yurisdiksi AS atas Greenland selama masa transisi kepresidenannya dan bulan-bulan awal masa jabatan keduanya. Trump bahkan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.

    (maa/maa)

  • Greenland Akan Tetap di Bawah Kedaulatan Denmark!

    Greenland Akan Tetap di Bawah Kedaulatan Denmark!

    Jakarta

    Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak percaya Amerika Serikat (AS) akan mencaplok wilayah Greenland. Ia meyakini AS tidak akan melanggar kedaulatan Denmark yang ada di wilayah Greenland.

    “Saya tidak dapat membayangkan skenario di mana Amerika Serikat akan berada dalam posisi untuk melanggar kedaulatan Denmark,” kata Macron kepada France 2, dilansir AFP, Rabu (7/1/2026).

    Macron memastikan Greenland tetap akan berada di bawa kedaulatan Denmark. Ia menyampaikan itu di sela-sela pertemuan puncak sekutu Ukraina.

    “Greenland adalah wilayah di bawah kedaulatan Denmark, dan akan tetap demikian,” tegas Macron.

    Trump Pastikan AS Kuasai Greenland

    Saat berpidato di hadapan Kongres Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump sekali lagi menjelaskan ambisinya untuk membawa Grinlandia atau Greenland di bawah kendali Amerika.

    Namun, Perdana Menteri Grinlandia Mute Egede memastikan bahwa tidak ada kemungkinan pencaplokan atau aneksasi.

    (maa/maa)

  • Jejak Orang Dalam pada Transisi Venezuela

    Jejak Orang Dalam pada Transisi Venezuela

    GELORA.CO – Keputusan yang berujung pada kejatuhan Presiden Venezuela Nicolas Maduro ternyata tidak sepenuhnya lahir dari tekanan eksternal, terutama Amerika Serikat.

    Di baliknya, terselip manuver senyap dari lingkaran elite Caracas sendiri yang secara diam-diam mulai merancang masa depan Venezuela tanpa kehadiran Maduro.

    Informasi itu mengemuka seiring laporan mengenai pertemuan tertutup sejumlah pejabat tinggi Venezuela di Doha, Qatar.

    Pertemuan tersebut disebut membahas skenario pemerintahan pasca-Maduro dan berlangsung tanpa melibatkan sang presiden.

    Nama Wakil Presiden Delcy Rodriguez justru mencuat sebagai figur sentral yang memimpin dialog, didampingi saudaranya, Jorge Rodriguez.

    Rapat di Doha tersebut digambarkan sebagai forum informal namun strategis, yang mempertemukan elite politik Venezuela dengan mediator asing.

    Seorang anggota senior keluarga kerajaan Uni Emirat Arab disebut berperan sebagai penghubung antara rezim Caracas dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap Venezuela.

    Laporan media AS, Miami Herald, menyebut Delcy Rodriguez secara langsung menjalin komunikasi dengan pihak Amerika. Dalam sejumlah percakapan, ia dipandang sebagai figur yang “lebih dapat diterima” untuk memimpin Venezuela dibandingkan Maduro.

    Penilaian ini membuka ruang spekulasi bahwa proses transisi kekuasaan telah dirancang dari dalam rezim, bukan semata-mata dipaksakan oleh kekuatan luar.

    Sejak Oktober lalu, berbagai informasi yang beredar menggambarkan sebuah skenario pergantian kepemimpinan yang tetap mempertahankan struktur kekuasaan lama.

    Skema itu kerap disebut sebagai “Madurismo tanpa Maduro”, yakni upaya menjaga kesinambungan rezim dengan mengganti figur puncak kekuasaan agar transisi berlangsung relatif terkendali, tanpa gejolak besar atau pembongkaran sistem negara secara menyeluruh.

    Sinyal keterlibatan Amerika Serikat menguat ketika pada Sabtu (3/1/2026), Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Washington akan “mengelola” Venezuela melalui pemerintahan transisi yang dipimpin Delcy Rodriguez.

    Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump juga menyinggung rencana masuknya perusahaan minyak Amerika ke Venezuela.

    “Dia pada dasarnya bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali besar,” ujar Trump, merujuk pada Delcy Rodriguez tokoh yang sebelumnya pernah dikenai sanksi AS atas perannya dalam melemahkan demokrasi Venezuela.

    Tuduhan bahwa kejatuhan Maduro merupakan hasil pengkhianatan dari lingkaran internal semakin menguat setelah pernyataan mantan Wakil Presiden Kolombia, Francisco Santos Calderon.

    Pada Minggu (4/1/2026), Santos menyebut penyingkiran Maduro sebagai operasi internal yang melibatkan Delcy Rodriguez.

    Ia mengaku “sangat yakin” bahwa Maduro dibiarkan ditangkap oleh AS tanpa perlawanan berarti.

    “Mereka tidak menyingkirkannya, mereka menyerahkannya,” kata Santos.

     “Saya benar-benar yakin Delcy Rodriguez menyerahkannya. Semua informasi yang kami miliki, jika dirangkai, menunjukkan ini adalah operasi di mana mereka menyerahkannya,” ujarnya menegaskan.

    Menurut Santos, Trump telah secara jelas menunjuk Delcy Rodriguez sebagai figur kunci pemerintahan transisi.

    Meski demikian, ia menilai Rodriguez tetap akan berupaya menjaga jarak tertentu demi memperoleh ruang kemandirian politik di tengah bayang-bayang kepentingan Amerika Serikat.

    Jika benar demikian, kejatuhan Maduro menandai babak baru politik Venezuela: bukan sekadar tumbangnya seorang presiden, melainkan pergeseran kekuasaan yang lahir dari kompromi elite, negosiasi tertutup, dan kepentingan geopolitik global yang saling berkelindan.

  • Trump Pertimbangkan Opsi Caplok Greenland, Termasuk Pakai Kekuatan Militer AS

    Trump Rayakan Penangkapan Maduro, Kerahkan Pasukan-152 Pesawat ke Venezuela

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merayakan operasi penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Trump mengatakan operasi itu berjalan sangat taktis.

    Pujian itu disampaikan Trump dalam pertemuan Partai Republik di Washington hari ini waktu setempat. Trump mengatakan banyak pasukan Amerika dikerahkan ke Venezuela dalam operasi penangkapan yang dilakukan pada Sabtu (3/1).

    “Kami mengerahkan banyak pasukan di lapangan, tetapi itu luar biasa. Secara taktis, itu brilian,” kata Trump dilansir CNN International, Selasa (6/1/2026).

    Dilansir Al Jazeera, Trump menyebut ada ratusan pesawat militer Amerika yang diterjunkan saat operasi penangkapan Maduro berlangsung.

    “Itu sangat kompleks – 152 pesawat. Banyak sekali yang berbicara tentang pasukan darat. Kami memiliki banyak pasukan darat, tetapi itu luar biasa,” katanya.

    Trump juga membanggakan tidak ada pasukan Amerika yang terbunuh dalam operasi itu. Di lain sisi, ia menyebut banyak pihak dari kubu Maduro yang tewas.

    “Bayangkan, tidak ada yang terbunuh. Dan di sisi lain, banyak orang terbunuh – sayangnya, saya mengatakan itu,” ujar Trump.

    Dia menambahkan, pihak Amerika memutus aliran listrik di seluruh Venezuela sebelum operasi penangkapan Maduro dimulai.

    “Di Caracas, tidak ada listrik. Satu-satunya orang yang memiliki penerangan adalah orang-orang yang menggunakan lilin, yang semuanya mati,” katanya. “Jadi kami sedikit mengejutkan mereka.

    (ygs/maa)

  • Kemarahan Rakyat Imbas Anjloknya Ekonomi Belum Usai, Iran Terus Diguncang Demo

    Kemarahan Rakyat Imbas Anjloknya Ekonomi Belum Usai, Iran Terus Diguncang Demo

    Jakarta

    Protes anti-pemerintah kini meluas di Iran sepekan terakhir. Protes besar-besaran di Iran dipicu meningkatnya kekhawatiran akibat krisis ekonomi berkepanjangan di negara kaya minyak itu.

    Mengutip CNBC, 29 orang telah tewas dan lebih dari 1.200 orang ditangkap hingga Selasa (6/1/2026). Kerusuhan ini kemudian dikaitkan oleh kemungkinan adanya intervensi Amerika Serikat (AS).

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan membela demonstran jika mereka diserang aparat keamanan Iran. Trump juga memperingatkan, AS siaga untuk bertindak jika Pemerintah Iran menggunakan kekerasan terhadap demonstrasi damai.

    Pernyataan itu menjadi penanda penting setelah militer AS resmi menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dan membawanya ke New York. Dalam pernyataannya, Trump mengingatkan otoritas Iran untuk tidak menggunakan kekerasan dan memakan lebih banyak korban.

    “Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” kata Trump dikutip dari CNBC, Selasa (6/1/2026).

    Ke depan, otoritas Iran kemungkinan akan lebih berhati-hati mengambil tindakan terhadap demonstran menyusul ancaman Trump. Terlebih AS sempat membom fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu.

    “Kami melihat peningkatan risiko tindakan AS terhadap Iran pada awal tahun 2026 jika protes meningkat,” kata analis Fitch Solutions.

    Dengan kondisi ketidakpastian, pejabat Iran menilai negaranya bisa saja menjadi korban kebijakan agresif luar negeri Trump. Sementara saat ini, diketahui Iran berada dalam krisis ekonomi sejak Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran.

    Langkah ini dilakukan Trump menyusul perjanjian yang membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Ekonomi Iran juga terguncang akibat sanksi setelah perang 12 hari dengan Israel.

    Kemudian mata uang resmi Iran, Rial, anjlok ke titik terendah sepanjang sama pada bulan Desember, yakni sekitar 1,45 juta rial per dolar AS pada akhir tahun 2025. Sementara inflasi Iran mencapai 42,5% pada periode yang sama.

    Seorang investor dan ahli strategi veteran Quantum Strategy, David Roche, menyebut krisis ekonomi berkepanjangan Iran menimbulkan risiko yang lebih besar bagi rezim tersebut daripada prospek intervensi AS.

    “Iran tidak akan jatuh karena intervensi Amerika Serikat,” kata Roach.

    Sebaliknya, ia mengatakan protes berkelanjutan yang dikombinasikan dengan memburuknya kondisi ekonomi domestik akan menimbulkan risiko yang lebih besar terhadap invasi AS. Ia menambahkan, rezim tersebut mungkin akan bertahan melewati gelombang protes kali ini, tetapi mereka tidak memiliki alat apa pun untuk mengatasi masalah ekonomi.

    (ahi/hns)

  • 7
                    
                        Manuver AS ke Venezuela dan Pelajaran Penting bagi Indonesia
                        Nasional

    7 Manuver AS ke Venezuela dan Pelajaran Penting bagi Indonesia Nasional

    Manuver AS ke Venezuela dan Pelajaran Penting bagi Indonesia
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Puncak seteru Amerika Serikat vs Venezuela terjadi pada Sabtu (3/1/2026). Caracas, ibu kota Venezuela, diserang oleh militer Amerika Serikat.
    Serangan itu tak hanya membuat pertahanan Venezuela kalang kabut, tetapi orang nomor satu di negara itu juga kena seret.
    Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diborgol, matanya ditutup, kemudian diterbangkan entah ke mana.
    Konflik yang berujung pada tindakan penangkapan Presiden Venezuela ini bukanlah konflik baru, melainkan seteru yang memuncak setelah puluhan tahun berlalu.
    Seteru Amerika Serikat vs Venezuela ini diketahui bermula pada sumber daya.
    Negara Amerika Latin itu menjadi pemasok utama bahan bakar fosil ke negeri Paman Sam.
    Setelah Hugo Chavez terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998, mereka menolak membeo pada Amerika Serikat.
    Ketegangan pun terjadi, Chavez dengan agenda politik Bolivarian menanamkan realisme untuk seluruh kebijakannya.
    Kepentingan dan kedaulatan nasional adalah yang utama.
    Ekonomi yang selama ini disetir Amerika Serikat perlahan lepas, dan mulai membangun propaganda bahwa Amerika Serikat adalah negara tengil yang suka ikut campur urusan dalam negeri orang lain.
    Di ranah kebijakan luar negeri, Chavez memperkuat hubungan dengan Kuba dan juga memperdalam kedekatan dengan negara-negara yang sering diposisikan sebagai rival AS, seperti Rusia dan Iran.
    Pada 2002, Chavez sempat dikudeta, namun kudeta tersebut gagal dan berakhir pada takhta yang tetap dipegang teguh oleh Chavez.
    Saat itu Chavez meyakini upaya kudeta tersebut didalangi oleh Amerika Serikat dan semakin memperbesar ketegangan yang ada di kawasan Karibia.
    Saling usir duta besar kedua negara terjadi.
    Pada 2008, Dubes AS untuk Venezuela Patrick Duddy diusir oleh Chavez karena dugaan keterlibatan Washington pada kondusivitas politik kawasan Amerika Latin.
    Reuters juga mencatat serangkaian insiden “balas-membalas” yang membuat relasi kedua negara sulit stabil dalam jangka panjang, bahkan ketika ada upaya meredakan ketegangan pada periode tertentu.
    Pasca-meninggalnya Chavez, ketegangan antara AS dan Venezuela tidak mereda.
    Pemimpin anyar terpilih, Nicolas Maduro memimpin, ketegangan masih tetap tinggi.
    Amerika Serikat memberikan tuduhan serius kepada Venezuela atas kejahatan narkotika.
    Negara itu disebut sebagai sarang narkoterorisme.
    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kemudian memberikan pernyataan bahwa Venezuela sengaja membanjiri AS dengan narkoba.
    Meskipun dibantah berulang kali oleh pemerintah Venezuela, Donald Trump tak bergeming.
    Ia minta pasukan elitnya angkat senjata, meluncurkan serangan ke tengah kota, dan menangkap pemimpin negara yang sah di Venezuela.
    Serangkaian operasi ini dikenal sebagai Operation Southern Spear yang dimulai dengan serangan terhadap kapal motor di perairan Karibia, dan berkembang menuju pusat kota Caracas.
    Pengamat Hubungan Internasional Central China Normal University (CCNU), Ahmad Syaifuddin Zuhri, mengatakan, peristiwa Amerika Serikat main hantam negara orang bukan kali pertama terjadi.
    Pasca-perang dingin, Amerika Serikat pernah melakukan hal yang sama pada Irak.
    “Kasus Venezuela ini menjadi suatu anomali pasca-perang dingin, ada beberapa contoh seperti ini yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Pertama pada 2003, ketika invasi ke Irak untuk menggulingkan Saddam Hussein dengan dalih ada senjata pemusnah massal,” kata Zuhri kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2026).
    Kemudian cawe-cawe Amerika Serikat bersama tentara NATO ke Libya pada 2011 dari rezim Muammar Gaddafi selama perang saudara di negara tersebut.
    Tetapi Amerika Serikat tidak sendiri, ada juga negara dengan kekuatan tempur besar seperti Rusia yang juga melakukan hal yang sama.
    Rusia hendak mencaplok wilayah kedaulatan Ukraina sehingga konflik terjadi hingga saat ini.
    Zuhri mengatakan, peristiwa ini menjadi penanda
    hukum internasional
    impoten saat menghadapi negara-negara dengan kekuatan tempur yang besar.
    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi tak berdaya, hukum yang telah disepakati ditinggal begitu saja.
    Dalam konteks ini, Zuhri menegaskan Indonesia tak boleh lagi bergantung pada PBB untuk urusan diplomasi, wabil khusus pertahanan dalam tatanan geopolitik global.
    “Tetapi Indonesia juga perkuat posisinya di internal bagaimana penguatan kekuatan militer menjadi sangat perlu, melihat dari saat ini banyak pelajaran bagaimana negara-negara kuat mengintervensi negara lemah, dan negara lemah tidak mempunyai kapasitas kekuatan militer, ini menjadi salah satu dilema keamanan,” katanya.
    Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan, setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa diambil pemerintah Indonesia dalam peristiwa ini.
    Pertama, Amerika Serikat tak bisa lagi dipercaya sebagai penentu kebenaran di dunia hukum internasional.
    Karena penyerangan Amerika Serikat terhadap Venezuela terang-terangan melanggar hukum internasional.
    “Jangan pernah jadikan AS sebagai penentu siapa yang benar dan yang salah, mereka pun bisa melanggar hukum, termasuk hukum internasional,” kata Hikmahanto kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2026).
    Dalam peristiwa ini, Hikmahanto juga mengingatkan kepada pemerintah Indonesia untuk menyeleksi pejabat yang menempati posisi strategis geopolitik.
    Dia mengingatkan, pejabat harus benar-benar bisa berjuang dan menjaga kepercayaan negara, bukan menjadi pemberi informasi kepada musuh, seperti yang terjadi dalam sergapan Amerika Serikat ke Venezuela.
    “Pejabat harus paham isu-isu geopolitik, sehingga bisa memprediksi setiap perubahan, itu pelajarannya,” tuturnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Elon Musk Tawarkan Layanan Starlink Gratis saat Hubungan AS dan Venezuela Memanas

    Elon Musk Tawarkan Layanan Starlink Gratis saat Hubungan AS dan Venezuela Memanas

    Bisnis.com, JAKARTA — Layanan internet satelit yang dioperasikan oleh SpaceX, Starlink, memberikan layanan internet gratis kepada masyarakat Venezuela setelah insiden penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

    Satelit internet yang dimiliki oleh Elon Musk ini membuat pengumuman bahwa mereka bersedia memfasilitasi layanan internet gratis bagi pelanggan aktif maupun pelanggan tidak aktif di negara Venezuela.

    “Starlink menyediakan layanan broadband gratis bagi masyarakat Venezuela,” dikutip dari pernyataan resmi Starlink Selasa (06/01/2026).

    Perusahaan itu juga membuka peluang bagi pelanggan yang berhenti berlangganan dan sedang terkena jeda untuk mendapatkan kredit secara gratis. Namun, pelanggan wajib masih memiliki perangkat keras dari Starlink.

    Masyarakat Venezuela yang tidak memiliki perangkat keras, tidak akan mendapatkan keuntungan ini. Starlink juga menyebutkan bahwa mereka akan memberikan layanan internet gratis ini hingga tanggal 3 Februari 2026.

    Sebagai informasi, Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap Venezuela dengan menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya pada 3 Januari lalu.

    Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa penangkapan itu merupakan indikasi dari keterlibatan Maduro terhadap perdagangan narkoba dan terorisme narkoba dan juga meledakkan puluhan perahu kecil.

    Di sisi lain, Venezuela bukanlah daerah konflik pertama yang menerima dukungan Starlink. Sebelumnya, Starlink memang sudah gencar memberikan layanan internet gratis pada daerah yang sedang terkena konflik. Pada 2022 lalu, Starlink memberikan layanan internet secara gratis pada Ukraina setelah diserang oleh Rusia.

    Daerah konflik Gaza juga pernah terkena kebijakan ini saat pemadaman telekomunikasi yang terjadi pada 2023. Saat itu, Starlink digratiskan dan Musk mengatakan akan mendukung akses internet bagi organisasi bantuan internasional yang diakui secara internasional di Gaza.

    Starlink juga membantu pengguna dalam menghindari sensor pemerintah negara-negara otoriter. Di negara Iran, banyak warga telah memakai Starlink guna menghindari pembatasan internet walaupun belum mendapatkan persetujuan resmi.

    Pemerintahan Maduro sering memakai taktik pemadaman internet saat terjadi ketidakstabilan politik di negara itu. Ketersediaan Starlink memungkinkan aktor non-pemerintah untuk menyediakan akses internet di daerah-daerah di mana kontrol pemerintah paling ketat.

    Strategis GeoMacro Global di BCA Research Marko Papic menjelaskan bahwa Starlink mewakili model baru di mana perusahaan swasta memastikan akses internet di negara-negara otoriter.

    Untuk saat ini Starlink masih memantau perkembangan kondisi dan persyaratan regulasi. “Meskipun kami belum memiliki jadwal untuk ketersediaan pembelian lokal, jika dan ketika ada pembaruan, informasi tersebut akan dikomunikasikan langsung melalui saluran resmi Starlink dan diperbarui di halaman ini,” dikutip dari laman resmi. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Mau Dicaplok Trump, Greenland Ternyata Punya Harta Karun Incaran Dunia

    Mau Dicaplok Trump, Greenland Ternyata Punya Harta Karun Incaran Dunia

    Jakarta

    Usai menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membidik Greenland, sebuah wilayah otonomi di bawah kekuasaan Denmark.

    Ketertarikan Trump melebarkan wilayah AS ke Greenland sudah sejak tahun lalu lalu. Trump menegaskan lokasi Greenland strategis dan memiliki kekayaan sumber daya mineralnya.

    Mengutip Reuters, Senin (6/1/2026), survei pada 2023 menunjukkan bahwa 25 dari 34 mineral yang didata Uni Eropa ditemukan di Greenland.

    Berikut rincian mineral utama Greenland, berdasarkan data Otoritas Sumber Daya Mineral Greenland:

    LOGAM TANAH JARANG (RARE EARTHS)

    Berdasarkan data Otoritas Sumber Daya Greenland, terdapat tiga endapan logam tanah jarang terbesar Greenland berada di Provinsi Gardar bagian selatan.

    Perusahaan yang berupaya mengembangkan tambang logam tanah jarang antara lain Critical Metals Corp yang mengakuisisi endapan Tanbreez; Energy Transition Minerals, dengan proyek Kuannersuit yang terhambat sengketa hukum; serta Neo Performance Materials.

    Unsur tanah jarang sangat penting untuk magnet permanen yang digunakan pada kendaraan listrik (EV) dan turbin angin.

    GRAFIT

    Selain logam tanah jarang, terdapat juga mineral berupa grafit yang banyak tersebar di Greenland. Adapun grafit alami sebagian besar digunakan dalam baterai kendaraan listrik dan industri baja.

    TEMBAGA
    Otoritas Sumber Daya Mineral Greenlad juga menyebutkan terdapat endapan tembaga yang tersebar di di timur laut dan timur tengah.

    Adalun perusahaan yang terdaftar di London, 80 Mile tengah berupaya mengembangkan endapan Disko Nuussuaq, yang mengandung tembaga, nikel, platinum, dan kobalt.

    NIKEL

    Nikel ternyata juga banyak ditemukan di Greenland. Perusahaan tambang besar Anglo American telah memperoleh izin eksplorasi selama lima tahun di Greenland bagian barat pada pertengahan 2019 dan telah mencari endapan nikel, di antara mineral lainnya.

    SENG (ZINC)
    Seng terutama ditemukan di wilayah utara, dalam formasi geologi yang membentang lebih dari 2.500 km.
    Sejumlah perusahaan telah berupaya mengembangkan proyek seng dan timbal Citronen Fjord, yang disebut-sebut sebagai salah satu sumber daya seng terbesar di dunia yang belum dikembangkan.

    EMAS
    Mineral emas ini berada di sekitar Fjord Sermiligaarsuk di bagian selatan Greenland.

    INTAN

    Endapan bijih besi terdapat di beberapa lokasi utama, yakni di Isua (barat daya Greenland bagian selatan), Itilliarsuk (Greenland bagian barat tengah), serta di wilayah barat laut Greenland sepanjang pesisir Lauge Koch.

    TITANIUM-VANADIUM
    Endapan titanium dan vanadium yang telah teridentifikasi berada di wilayah barat daya, timur, dan selatan Greenland.

    Titanium banyak dimanfaatkan untuk keperluan komersial, medis, dan industri. Sementara itu, vanadium terutama digunakan dalam pembuatan paduan baja khusus. Senyawa vanadium yang paling penting secara industri, yaitu vanadium pentoksida, digunakan sebagai katalis dalam proses produksi asam sulfat.

    TUNGSTEN

    Tungsten digunakan dalam berbagai aplikasi industri dan sebagian besar ditemukan di wilayah timur tengah serta timur laut Greenland. Beberapa endapan lainnya juga telah dinilai berada di wilayah selatan dan barat.

    URANIUM

    Pada 2021, Partai Inuit Ataqatigiit yang berhaluan kiri memberlakukan larangan penambangan uranium. Kebijakan ini secara efektif menghentikan pengembangan proyek logam tanah jarang Kuannersuit, karena uranium merupakan produk sampingan dari proyek tersebut.

    (hrp/hns)

  • Demo di Kedubes AS, Buruh Desak Pemerintah Tegas Respons Penangkapan Presiden Venezuela
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        6 Januari 2026

    Demo di Kedubes AS, Buruh Desak Pemerintah Tegas Respons Penangkapan Presiden Venezuela Megapolitan 6 Januari 2026

    Demo di Kedubes AS, Buruh Desak Pemerintah Tegas Respons Penangkapan Presiden Venezuela
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Sejumlah massa dari gabungan organisasi buruh, organisasi perempuan, mahasiswa dan pelajar menggelar demo bertajuk solidaritas untuk Venezuela di depan Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2025) sore.
    Salah atau orasi yang disampaikan massa aksi adalah mendesak pemerintah Indonesia bersikap tegas merespons tindakan AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
    “Mendesak kepada pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas. Menolak agresi militer yang dilakukan oleh AS terhadap Venezuela,” ujar salah satu koordinator demon, Sunarno, di lokasi unjuk rasa, Selasa.
    “AS bukan polisi dunia yang bisa menghakimi melakukan invasi, melakukan agresi sewenang-wenang terhadap negara lain. Yang khususnya adalah Venezuela,” tegasnya.
    Sunarno, yang juga mewakili serikat
    buruh
    , menilai tindakan Amerika Serikat tersebut telah melanggar hukum internasional.
    Menurut dia, Indonesia sebagai negara berkembang perlu mewaspadai perkembangan geopolitik global saat ini.
    Ia mengingatkan, bukan tidak mungkin negara-negara berkembang lainnya dapat mengalami nasib serupa dengan Venezuela pada kemudian hari.
    “Kami dari gerakan buruh bersama rakyat mengecam keras, mengutuk keras tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela,” kata Sunarno.
    “Ini kita tidak bisa biarkan, karena jika saat ini yang menjadi sasaran Venezuela, bisa jadi besok adalah Colombia, atau lainnya,” lanjutnya.
    Unjuk rasa di depan Kantor Kedutaan Besar AS itu dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Hingga pukul 16.30 WIB, unjuk rasa masih berlangsung.
    Menurut Sunarno, aksi ini rencananya akan diakhiri pukul 17.00 WIB.
    Sementara itu, situasi arus lalu lintas di depan Jalan Medan Merdeka Selatan masih terpantau lancar hingga pukul 16.30 WIB.
    Kendaraan yang melaju di Jalan Medan Merdeka Selatan dari arah Tugu Tani tidak mengalami kemacetan meski ada aksi unjuk rasa.
    Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan, pasukannya telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam serangan militer besar-besaran yang dilancarkan ke Caracas, Sabtu (3/1/2026) dini hari waktu setempat.
    “Amerika Serikat berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar dari negara itu,” ujar Trump melalui platform Truth Social, dilansir Sabtu (3/1/2026).
    Pemerintah Venezuela mengatakan langkah tersebut sebagai bentuk agresi militer yang sangat serius dari Amerika Serikat.
    Serangan itu dipandang sebagai puncak dari tekanan militer dan ekonomi yang selama ini dilancarkan Presiden Donald Trump terhadap Venezuela, negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada ekspor minyak.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • AS Terapkan Pajak Side-by-Side, Apa Dampaknya ke RI?

    AS Terapkan Pajak Side-by-Side, Apa Dampaknya ke RI?

    Bisnis.com, JAKARTA — Penerapan skema perpajakan side-by-side oleh Amerika Serikat yang menggantikan Global Minimum Tax (GMT) dinilai tidak akan menganggu skema perpajakan global maupun menggerus potensi penerimaan negara Indonesia.

    Kepala Riset Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar menjelaskan bahwa mekanisme Qualified Domestic Minimum Top-up Tax (QDMTT) yang telah diadopsi Indonesia tetap berlaku efektif, meski AS mendapatkan pengecualian dari pajak minimum global/Pilar Dua OECD.

    Skema perpajakan side-by-side, sambungnya, memang tidak lagi mematuhi mekanisme Income Inclusion Rules (IIR) dan Undertaxed Payment Rule (UTPR) dalam pajak minimum global. Hanya saja, skema side-by-side tetap sejalan dengan mekanisme QDMTT.

    “Pemerintah Indonesia masih bisa mengenakan pajak tambahan jika perusahaan asal AS memiliki tarif efektif kurang dari 15% [lewat mekanisme QDMTT]. Jadi, kita tidak perlu takut akan kebocoran basis pajak, hal itu tidak terjadi,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).

    Fajry menjelaskan bahwa skema side-by-side justru membuktikan komitmen AS untuk menjaga eksistensi pajak minimum global. Instrumen ini dinilai tetap ampuh mencegah praktik penghindaran pajak ke yurisdiksi bertarif rendah serta menahan laju penurunan tarif pajak penghasilan korporasi (PPh Badan) atau race to the bottom seperti tujuan skema pajak global OECD.

    Oleh sebab itu, dia melihat pengecualian perusahaan multinasional asal AS tidak akan mengubah Negeri Paman Sam menjadi surga pajak (tax haven). Pasalnya, meski tidak tunduk pada IIR ataupun UTPR, korporasi AS tetap terikat aturan domestik yang ketat.

    Fajry menjelaskan mekanisme Global Intangible Low-Taxed Income (GILTI) yang kini bertransformasi menjadi Non-Continental Taxable Income (NCTI) dalam rancangan undang-undang One Big Beautiful Bill (OBBA).

    “Sebaliknya, tarif efektif dari NCTI jauh lebih besar dibandingkan tarif efektif dari GMT,” tambahnya.

    Dari sisi geopolitik, Fajry menganalisis manuver Kementerian Keuangan AS ini sebagai upaya penyelarasan insentif fiskal, khususnya terkait riset dan pengembangan (R&D). Langkah ini dinilai wajar mengingat AS tengah berkompetisi ketat dengan China dalam supremasi teknologi, seperti artificial intelligence atau akal imitasi (AI).

    Langkah serupa, menurutnya, juga terlihat pada kebijakan insentif fiskal era pemerintahan Joe Biden lewat Inflation Reduction Act (IRA) maupun CHIPS Act.

    Bagi Indonesia, dia menilai perkembangan ini tidak mengganggu peta jalan implementasi pajak internasional yang telah disusun.

    “Kita masih on-track dengan timeline [peta jalan] yang sudah ada. Sampai sekarang saya belum melihat ancaman besar dari hal tersebut bagi Pemerintah Indonesia,” tutup Fajry.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menegaskan bahwa kesepakatan pajak minimum global atau Pilar Dua OECD/G20 tidak akan berlaku bagi perusahaan multinasional asal Negeri Paman Sam usai mencapai kesepakatan multilateral.

    Bessent menyatakan langkah ini merupakan tindak lanjut dari Perintah Eksekutif Hari Pertama (Day One Executive Orders) Presiden AS Donald Trump yang secara tegas menganulir kesepakatan Pilar Dua OECD/G20 yang sebelumnya diajukan oleh pemerintahan presiden sebelumnya, Joe Biden. Menurutnya, proposal era Biden tersebut tidak lagi memiliki kekuatan hukum bagi AS.

    “Hari ini, Pemerintahan [Trump] memenuhi janji tersebut. Melalui koordinasi erat dengan Kongres, Kementerian Keuangan bekerja untuk mencapai kesepakatan dengan lebih dari 145 negara dalam OECD/G20 Inclusive Framework,” ungkap Bessent dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (6/1/2026).

    Bessent menjelaskan bahwa dalam kesepakatan tersebut, perusahaan yang berkantor pusat di AS akan tetap tunduk hanya pada pajak minimum global AS, sekaligus mendapatkan pengecualian dari ketentuan Pillar Dua OECD/G20.

    Kesepakatan yang bertajuk “side-by-side agreement” ini dinilai mengakui kedaulatan pajak AS atas operasi perusahaan AS di seluruh dunia, sekaligus menghormati kedaulatan pajak negara lain atas aktivitas bisnis di dalam batas wilayah mereka masing-masing.

    Lebih lanjut, Bessent menyoroti bahwa kesepakatan ini penting untuk melindungi nilai kredit penelitian dan pengembangan (R&D) AS serta insentif investasi lainnya yang telah disetujui Kongres. Perkembangan tersebut dinilai krusial untuk mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri, sejalan dengan visi AS untuk memimpin inovasi dan kemajuan teknologi.

    “Kesepakatan ini merupakan kemenangan bersejarah dalam menjaga kedaulatan AS dan melindungi pekerja serta bisnis Amerika dari jangkauan ekstrateritorial yang berlebihan,” katanya.

    Ke depan, Kementerian Keuangan AS berkomitmen untuk terus menjalin komunikasi dengan negara-negara asing guna memastikan implementasi penuh dari kesepakatan ini. Selain itu, sambung Bessent, AS akan berupaya membangun stabilitas pajak internasional serta bergerak menuju dialog konstruktif terkait perpajakan ekonomi digital.