Tag: Donald Trump

  • Kebijakan Baru Trump, Pangkas Rekomendasi Vaksin Anak dari 17 Jadi 11

    Kebijakan Baru Trump, Pangkas Rekomendasi Vaksin Anak dari 17 Jadi 11

    Jakarta

    Pemerintahan Donald Trump secara resmi merombak total kebijakan jadwal vaksinasi anak di Amerika Serikat. Kebijakan ini dipelopori oleh Menteri Kesehatan Robert F Kennedy Jr. (RFK Jr.) sebagai bagian dari gerakan Make America Healthy Again (MAHA).

    Dalam pernyataan resminya, Presiden Trump menyebut langkah ini sebagai bentuk reformasi yang logis.

    “Banyak warga Amerika, terutama para ibu pendukung gerakan MAHA, telah lama menantikan reformasi yang mengedepankan akal sehat ini,” ujar Trump dikutip dari BBC.

    Robert Kennedy yang selama ini dikenal kritis terhadap kebijakan vaksin, menyatakan bahwa perombakan ini bertujuan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap kesehatan publik.

    “Kami menyelaraskan jadwal vaksinasi anak di AS dengan konsensus internasional, sekaligus memperkuat transparansi,” ucap RFK.

    Pembagian Kategori Vaksin Baru

    Berdasarkan aturan terbaru CDC, jadwal vaksinasi kini dibagi menjadi tiga kategori besar:

    Vaksin Rekomendasi Utama (Wajib/Rutin): Melindungi dari 11 penyakit, termasuk Campak (Measles), Gondongan (Mumps), Rubella, Polio, Pertusis, Tetanus, Difteri, Hib, Pneumokokus, HPV, dan Cacar Air (Varisela).

    Vaksin Berbasis Faktor Risiko: Diberikan tergantung pada kondisi kesehatan anak, mencakup vaksin RSV, Hepatitis A, Hepatitis B, Dengue, dan Meningitis.

    Vaksin Keputusan Orang Tua dan Dokter: Untuk vaksin COVID-19, Influenza, dan Rotavirus, pemerintah kini menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada orang tua dan tenaga medis.

    Departemen Kesehatan AS menyatakan perubahan ini didasarkan pada perbandingan dengan 20 negara maju lainnya. Pemerintah menilai AS selama ini merupakan “anomali global” karena memiliki jumlah dosis dan jenis penyakit yang diwajibkan terlalu banyak.

    Baac juga

    Dikritik Ahli

    AS kini menjadikan Denmark sebagai model, yang hanya merekomendasikan perlindungan terhadap 10 jenis penyakit.

    Namun, langkah ini dikritik keras oleh para ahli medis. Dr. Andrew D Racine, Presiden American Academy of Pediatrics, menyebut perbandingan tersebut tidak relevan. Ia memperingatkan bahwa keputusan ini justru akan menciptakan kekacauan dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.

    “Amerika Serikat bukanlah Denmark. Populasi, infrastruktur kesehatan, dan risiko penyakit kita sangat berbeda jauh,” tegas Dr Racine.

    Halaman 2 dari 3

    (elk/elk)

  • AS Tarik Diri dari 66 Organisasi Internasional, Indonesia Khawatir

    AS Tarik Diri dari 66 Organisasi Internasional, Indonesia Khawatir

    GELORA.CO – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI akhirnya buka suara menanggapi manuver ekstrem Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Keputusan Washington menarik diri secara massal dari 66 organisasi internasional memicu kekhawatiran mendalam akan runtuhnya tatanan kerja sama global.

    Jakarta menilai, langkah ‘cuci tangan’ AS ini bukan sekadar kebijakan domestik biasa, melainkan ancaman serius yang dapat melumpuhkan sistem multilateralisme yang selama ini menjadi fondasi perdamaian dan stabilitas dunia.

    Ancaman Bagi Kerja Sama Internasional

    Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menegaskan bahwa Indonesia sangat prihatin melihat prospek kerja sama internasional yang kian tertekan. Menurutnya, tantangan dunia saat ini justru membutuhkan kolaborasi, bukan isolasi.

    “Kita khawatir dengan prospek makin tertekannya multilateralisme dan tantangan dunia yang berdasarkan kerja sama internasional ini,” ujar Yvonne dengan nada serius usai taklimat media di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

    Indonesia, lanjut Yvonne, tetap pada posisi tegak: mendorong seluruh negara untuk menghormati prinsip kesetaraan dan inklusivitas. Jakarta meyakini tantangan global hanya bisa dijawab jika negara-negara tetap duduk bersama di meja perundingan.

    Alasan Trump: ‘Agenda Globalis’ Bebani Pembayar Pajak

    Langkah radikal ini diambil setelah Trump menandatangani ‘Memorandum Kepresidenan’ pada Rabu (7/1/2026). Gedung Putih secara terang-terangan menuding 66 organisasi tersebut —yang terdiri dari 31 entitas PBB dan 35 organisasi non-PBB—telah mengkhianati kepentingan nasional Amerika.

    Gedung Putih berdalih bahwa selama ini uang pembayar pajak Amerika hanya dihabiskan untuk memajukan agenda kelompok ‘globalis’ yang sering kali justru berseberangan dengan nilai-nilai nasional AS. Organisasi-organisasi ini juga dituding hanya menghamburkan dana publik tanpa memberikan dampak nyata bagi keamanan dan ekonomi Paman Sam.

    Eksodus Massal: Dari Iklim hingga Kesehatan

    Daftar organisasi yang ditinggalkan Washington pun tidak main-main. Di sektor lingkungan, AS keluar dari UNFCCC, yang merupakan motor penggerak Perjanjian Paris. Di sektor kesehatan dan sosial, dukungan terhadap WHO dan UNFPA resmi dicabut.

    Bahkan, badan-badan prestisius seperti UNESCO, Dewan HAM PBB, hingga UNRWA tidak luput dari pembersihan gaya Trump. Di luar PBB, AS juga menarik diri dari berbagai aliansi keamanan, perdagangan, hingga kelompok riset ilmiah dan budaya seperti Organisasi Kayu Tropis Internasional.

    Eksodus besar-besaran ini diprediksi akan menciptakan lubang pendanaan yang sangat besar, mengingat AS selama ini merupakan donor utama di hampir seluruh lembaga tersebut. Dunia kini menanti, apakah multilateralisme mampu bertahan tanpa sokongan dari sang adidaya.

  • Macron Sentil Trump Buntut Penangkapan Maduro, Sebut AS Khianati Sekutu

    Macron Sentil Trump Buntut Penangkapan Maduro, Sebut AS Khianati Sekutu

    Jakarta

    Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut Amerika Serikat telah melanggar aturan internasional dan berpaling dari beberapa sekutunya. Hal itu buntut penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dan rencana Donald Trump menguasai Greenland.

    Dilansir kantor berita AFP, Kamis (8/1/2026), hal itu disampaikan Macron dalam pidato tahunannya di hadapan para duta besar Prancis di Istana Elysee. Macron juga menyinggung fungsi lembaga multilateral buntut aksi Trump tersebut.

    “Amerika Serikat adalah kekuatan yang mapan, tetapi secara bertahap berpaling dari beberapa sekutunya dan melepaskan diri dari aturan-aturan internasional yang masih dipromosikannya baru-baru ini,” kata Macron kepada para duta besar di Istana Elysee.

    “Lembaga-lembaga multilateral semakin tidak berfungsi secara efektif,” tambah Macron.

    Macron berbicara setelah pasukan khusus AS menculik Maduro dan istrinya dari Venezuela pada hari Sabtu dalam sebuah serangan kilat dan membawa mereka ke New York. Hal ini juga memicu kecaman bahwa Amerika Serikat telah merongrong hukum internasional.

    “Kita hidup di dunia dengan kekuatan-kekuatan besar dengan godaan nyata untuk memecah belah dunia,” kata Macron

    Trump telah berulang kali menolak untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk merebut pulau Arktik yang memicu kemarahan dari pemegang kendali kekuasaan Denmark dan sekutu Eropa lainnya. Denmark sendiri telah memperingatkan bahwa setiap serangan akan menjadi akhir dari aliansi NATO.

    (wnv/eva)

  • Tegang! Rusia Kerahkan Kapal Perang seusai AS Sita Kapal Tanker Minyak Terafiliasi Moskow

    Tegang! Rusia Kerahkan Kapal Perang seusai AS Sita Kapal Tanker Minyak Terafiliasi Moskow

    GELORA.CO – Amerika Serikat (AS) menyita sebuah kapal tanker minyak terkait Rusia di perairan Atlantik Utara.

    Merespons tindakan AS, Rusia dilaporkan mengerahkan kapal perangnya.

    AS disebut telah menyita kapal tanker Rusia Bella 1 yang kini dikenal sebagai Marinera karena melanggar sanksi Washington.

    Penyitaan tersebut sebagai dukungan atas Proklamasi Presiden Donald Trump untuk menargetkan kapal-kapal yang dikenai sanksi yang mengancam keamanan dan stabilitas Belahan Barat.

    Kapal tersebut berhasil diambil alih setelah lebih dari dua minggu dilakukan pengejaran dari lepas pantai Venezuela hingga ke Atlantik Utara.

    Penyitaan tersebut dinilai dapat memperburuk ketegangan antara dua negara nuklir tersebut.

    Rusia dilaporkan mengerahkan kapal perang untuk melindungi kapal tanker minyak tersebut.

    Moskow menuduh AS dan NATO melakukan pengawasan yang jelas tidak proporsional terhadap kapal tersebut.

    Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan bahwa kapal tersebut berlayar di perairan internasional di bawah bendera Rusia.

    Mereka juga mengklaim jika kapal ini beroperasi sepenuhnya sesuai dengan hukum maritim internasional.

    Oleh karena itu, Rusia berharap, negara-negara Barat bisa menjunjung tinggi prinsip tersebut dalam praktiknya. 

  • Agen Imigrasi Tembak Mati Wanita AS hingga Picu Demo, Apa yang Diketahui?

    Agen Imigrasi Tembak Mati Wanita AS hingga Picu Demo, Apa yang Diketahui?

    Minneapolis

    Seorang perempuan di kota Minneapolis ditembak mati oleh petugas imigrasi AS, Rabu (07/01). Kejadian ini tak jauh dari lokasi kematian laki-laki bernama George Floyd pada 2020 di tangan empat polisi pada tahun 2020.

    Penembakan ini dikecam berbagai kalangan, termasuk Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, yang menuntut agar aparat imigrasi federal (biasa disebut agen ICE) segera meninggalkan kota itu.

    Korban penembakan telah diidentifikasi keluarganya. Dia adalah Renee Nicole Good, warga negara AS berusia 37 tahun. Pemerintah kota Minneapolis menyebut Renee ditembak saat sedang dalam perjalanan untuk merawat sejumlah tetangganya.

    Penembakan ini terjadi tak lama setelah Presiden AS, Donald Trump, memulai apa yang dia sebut sebagai “operasi penegakan hukum imigrasi besar-besaran” di Minneapolis. Trump mengirim lebih dari 2.000 agen ICE ke kota itu.

    Para petugas imigrasi inilah yang diminta Wali Kota Jacob Frey untuk segera pergi dari Minneapolis. “Pergi dari Minneapolis!” kata Jacob saat konferensi pers. “Kami tidak menginginkan kalian di sini.”

    Potret anggota FBI di lokasi penembakan di Minneapolis, Rabu (07/01). (Getty Images)

    Hal yang sama dikatakan Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang mengklaim penembakan terjadi ketika seorang “perusuh yang melakukan kekerasan” diduga mencoba menabrak seorang petugas imigrasi.

    Kristi Noem, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, menyebut petugas tersebut “menembak untuk membela diri”.

    Di tengah kecaman, Noem menyebut para petugas imigrasi akan terus melanjutkan operasi mereka mencari imigran di Minneapolis.

    Bagaimana kronologi penembakan ini?

    Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O’Hara, menyatakan perempuan bernama Renee Nicole Good tewas dengan luka tembak di kepala. Setelah ditembak, mobil yang dikendarai Renee menabrak kendaraan lainnya.

    O’Hara berkata, personal kepolisiannya dikontak untuk segera tiba di lokasi penembakan. Sejumlah polisi, kata dia, lalu melakukan prosedur pertolongan darurat sebelum melarikan Renee ke Hennepin County Medical Center.

    Di rumah sakit inilah Renee dinyatakan meninggal dunia.

    Agen Patroli Perbatasan AS menahan seseorang di dekat Sekolah Menengah Atas Roosevelt saat jam pulang sekolah, tak lama setelah kejadian penembakan di Minneapolis, Rabu (07/01). (AFP via Getty Images)

    Menurut penelusuran polisi, mobil yang dikendarai Renee menutup akses lalu lintas antara dua jalan di Portland Avenue.

    “Seorang petugas penegak hukum federal mendekatinya dengan berjalan kaki, dan kendaraan itu mulai melaju,” kata O’Hara.

    “Setidaknya dua tembakan lalu dilepaskan,” katanya, menambahkan bahwa mobil itu kemudian menabrak pinggir jalan.

    BBC Verify memantau media sosial dan melihat sejumlah video yang menunjukkan penembakan tersebut.

    Sebuah lubang bekas peluru terlihat di kaca depan kendaraan yang ada dalam lokasi penembakan oleh petugas imigrasi AS, Rabu (07/01), di Minneapolis, Minnesota. (Getty Images)

    Kami telah memverifikasi tiga video insiden tersebut, semuanya direkam dari Portland Avenue. Kami memastikan bahwa tiga video itu direkam di lokasi yang sama dengan lokasi penembakan.

    Salah satu video yang telah kami verifikasi menunjukkan seorang petugas imigrasi AS di depan sebuah mobil, beberapa saat sebelum mereka melepaskan tembakan.

    Kami mengkonfirmasi bahwa video-video tersebut pertama kali muncul secara online hari ini.

    Dalam rekaman tersebut, sebuah mobil berwarna merah marun bergerak saat tiga tembakan terdengar.

    Beberapa detik kemudian, mobil tersebut menabrak dua mobil yang diparkir.

    Agen ICE berdiri di lokasi penembakan di Minneapolis, Rabu (07/01). (Anadolu via Getty Images)

    Pada video lainnya, terlihat puluhan petugas dari berbagai lembaga penegak hukum berkerumun di jalan perumahan yang tertutup salju.

    Penegak hukum memasang pita kuning penanda TKP di jalan tersebut, yang dipenuhi rumah-rumah.

    Puluhan warga dan penonton berkerumun di dekat pita polisi, beberapa berteriak kepada petugas penegak hukum.

    Video lain dari media berita lokal menunjukkan barisan polisi mengelilingi sebuah SUV berwarna merah marun, dengan pintunya sedikit terbuka.

    Kendaraan tersebut tampaknya menabrak kendaraan putih di dekat tumpukan salju di sisi jalan. Barang-barang tergantung di pintu yang sedikit terbuka.

    Bagian belakang kendaraan putih tersebut hancur, dengan spatbornya terlepas.

    Siapa korban sebenarnya?

    Dewan Kota Minneapolis mengonfirmasi identitas perempuan yang tewas sebagai Renee Nicole Good.

    “Renee adalah warga kota kami yang sedang merawat tetangganya pagi ini dan nyawanya diambil di tangan pemerintah federal,” begitu bunyi pernyataan dewan kota.

    “Siapa pun yang membunuh seseorang di kota kami pantas ditangkap, diselidiki, dan dituntut hingga batas maksimal hukum,” tulis mereka.

    Adu klaim pejabat AS

    Di tengah kecaman dari pejabat kota Minneapolis, seorang juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri menyebut Renee adalah “salah satu perusuh yang melakukan kekerasan dengan mempersenjatai kendaraannya”.

    Lembaga ini menuding Renee berusaha menabrak petugas imigrasi.

    Oleh karena itulah, klaim lembaga ini, seorang agen ICE “melepaskan tembakan untuk membela diri”.

    Warga berdemonstrasi menentang otoritas imigrasi federal AS di Minneapolis, Rabu (07/01). (AFP via Getty Images)

    Namun Wali Kota Minneapolis Jaboc Frey menuduh pihak federal berusaha memutarbalikkan fakta.

    Jaboc membantah pernyataan sejumlah pejabat federal, termasuk klaim petugas imigrasi yang membela diri. Jacob berkata, dia telah melihat sendiri video kejadian itu.

    “Ini adalah tindakan seorang agen yang secara sembrono menggunakan kekuasaan yang mengakibatkan seseorang meninggal,” katanya.

    Peristiwa ini dikecam berbagai kalangan. Tina Smith, senator dari Minneapolis dari Partai Demokrat, meminta agen ICE untuk meninggalkan negara bagian itu “demi keselamatan semua orang”.

    “Semoga Minneapolis tetap aman,” ujarnya.

    Sementara itu, warga Minneapolis saat ini juga turun ke jalanan untuk berdemonstrasi mengutuk penembakan ini.

    “Saya merasakan kemarahan Anda. Saya juga marah,” kata Gubernur Negara Bagian Minnesota, Tim Walz.

    Walz meminta seluruh komunitas di AS untuk bersolidaritas kepada warga Minnesota.

    Sebuah titik peringatan yang didirikan warga Minneapolis untuk korban penembakan Renee Nicole Good. (Bloomberg via Getty Images)

    Mengapa agen ICE berada di Minneapolis?

    Trump mengerahkan tambahan 2.000 agen federal ke wilayah Minneapolis dalam beberapa pekan terakhir.

    Pengerahan agen ICE yang dimulai awal tahun ini merupakan salah satu pengerahan personel Departemen Keamanan Dalam Negeri terbesar di sebuah kota di AS dalam beberapa tahun terakhir.

    Sejak akhir 2025, imigrasi AS mengincar orang-orang di Minneapolis yang telah menerima perintah deportasi, termasuk anggota komunitas Somalia di kota tersebut.

    Komunitas Somalia itu sering diolok oleh Presiden AS Donald Trump dengan istilah “sampah”.

    “Saya tidak menginginkan mereka di negara kita. Jujur saja,” kata presiden. “Negara mereka tidak baik karena suatu alasan. Negara mereka bau.”

    Trump kemudian mempertegas pernyataannya setelah sebuah video YouTube oleh seorang kreator konten konservatif menuduh pusat penitipan anak yang dikelola warga Somalia melakukan penipuan.

    “Usir mereka dari sini,” tulis Trump di Truth Social pada bulan Desember. Ia juga menahan dana penitipan anak federal untuk negara bagian Minnesota sebagai tanggapan.

    Pemerintahan Trump juga telah mengirim agen ICE ke kota-kota lain, semuanya sebagai bagian dari penindakan luas terhadap apa yang mereka sebut sebagai imigrasi ilegal di AS.

    Lihat juga Video: Penembakan Massal di Gereja Salt Lake City AS, 2 Orang Tewas

    (nvc/nvc)

  • Agen Imigrasi Federal Tembak Mati Wanita AS

    Agen Imigrasi Federal Tembak Mati Wanita AS

    Minneapolis

    Agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada Rabu (07/01) menembak mati seorang perempuan yang disebut mencoba menabrakkan kendaraannya ke arah petugas ICE, menurut keterangan otoritas Amerika Serikat (AS).

    Dalam unggahan di X, Department of Homeland Security (DHS) atau Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan bahwa para agen ICE sedang melakukan penggerebekan di Minneapolis ketika “kerusuhan mulai menghalangi” pergerakan para agen.

    “Salah satu perusuh yang bertindak brutal menjadikan kendaraannya sebagai senjata, mencoba melindas aparat penegak hukum kami dengan tujuan membunuh mereka, sebuah tindakan terorisme domestik,” kata DHS.

    Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, dengan tegas menolak klaim pemerintah federal bahwa para agen ICE bertindak untuk membela diri.

    Frey mengatakan ia telah melihat video kejadian tersebut, di mana sebuah SUV Honda tampak menghalangi kendaraan tanpa tanda yang digunakan oleh aparat penegak hukum.

    “Mereka sudah mencoba memutarbalikkan ini sebagai tindakan pembelaan diri,” ujar Frey. “Setelah saya sendiri melihat videonya, saya ingin mengatakan langsung kepada semua orang, itu omong kosong.”

    Sementara itu, Gubernur Minnesota Tim Walz meminta publik agar tidak mempercayai “mesin propaganda” DHS terkait respons lembaga itu atas penembakan mematikan tersebut.

    Namun, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa penembakan fatal tersebut tampaknya merupakan tindakan membela diri. Ia juga menuduh korban telah dengan kejam menabrak agen ICE.

    “Perempuan yang mengemudikan mobil itu bertindak sangat tidak tertib, menghalangi dan melawan, lalu dengan keras, sengaja, dan kejam menabrak Petugas ICE, yang tampaknya menembaknya untuk membela diri,” tulis Trump di Truth Social.

    Terjadi di tengah aksi protes

    Dalam rekaman video yang belum diverifikasi dan beredar di media sosial, terlihat para agen ICE mendekati kendaraan tersebut dan mencoba membuka pintunya. Saat perempuan berusia 37 tahun itu berusaha melarikan diri dengan mengemudi, seorang agen melepaskan tembakan sebanyak tiga kali, sebelum mobil itu akhirnya menabrak sesuatu di dekat lokasi.

    Peristiwa ini terjadi saat berlangsungnya aksi protes terhadap penggerebekan ICE di bagian selatan kota terbesar di Minnesota, menurut media lokal.

    Frey mengatakan, “kami telah mengkhawatirkan momen ini sejak awal kehadiran ICE di Minneapolis.”

    Wali Kota Minneapolis itu juga menyerukan agar otoritas imigrasi “angkat kaki dari kota ini,” dan menuduh para agen ICE menyebabkan kekacauan dan ketidakpercayaan.

    Kawasan Twin Cities, yaitu Minneapolis dan St. Paul, diliputi suasana mencekam sejak Departemen Keamanan Dalam Negeri pada Selasa (06/01) mengumumkan rencana operasi dengan mengerahkan 2.000 agen dan petugas federal ke wilayah Minneapolis sebagai bagian dari pengetatan kebijakan imigrasi.

    Pada akhir bulan lalu, seorang influencer sayap kanan mengunggah video yang mengklaim bahwa sebuah pusat penitipan anak di Minneapolis yang dikelola warga Somalia telah melakukan penipuan lebih dari US$100 juta (sekitar Rp1,7 triliun).

    Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem dan Direktur FBI Kash Patel kemudian mengumumkan peningkatan operasi di kota tersebut melalui media sosial. Patel menyatakan bahwa operasi itu sebagian akan menargetkan “skema penipuan berskala besar.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Hani Anggraini

    Editor: Melisa Ester Lolindu

    Lihat Video: Petugas Imigrasi AS Tembak Mati Wanita 37 Tahun Berujung Demo Warga

    (nvc/nvc)

  • Australia Bersiap Hadapi Kebakaran Hutan yang Mengerikan

    Australia Bersiap Hadapi Kebakaran Hutan yang Mengerikan

    Berikut sejumlah informasi pilihan dari sejumlah negara yang berlangsung selama 24 terakhir yang telah kami rangkum untuk Anda.

    Berita dari Australia menjadi pembuka Dunia Hari Ini edisi Kamis, 8 Januari 2026.

    Kebakaran hutan diperkirakan terjadi besok

    Gelombang panas yang melanda benua Australia sudah memasuki hari kedua, dengan suhu tinggi diperkirakan akan kembali terjadi di Victoria, Australia Selatan, dan New South Wales.

    Pihak berwenang pemadam kebakaran tetap siaga tinggi karena dikhawatirkan banyak rumah-rumah yang hancur akibat kebakaran yang tak terkendali di Victoria tengah.

    Kepala Petugas CFA, Jason Heffernan, memberikan informasi terbaru tentang cuaca yang diperkirakan akan terjadi di Victoria besok.

    “Suhu akan berada di kisaran 40 derajat Celcius, terutama di bagian utara negara bagian,” kata Jason, yang juga memperingatkan angin akan menyebabkan kebakaran hutan yang “sangat mengerikan”.

    Kepala Pemadam Kebakaran FFMVic Chris Hardman mengatakan warga tidak aman untuk berada di daerah semak belukar dengan hutan dan rumput yang akan mudah terbakar, dan sangat kecil kemungkinan petugas pemadam kebakaran dapat mengendalikan api.

    AS menghadang lebih banyak kapal tanker

    Militer Amerika Serikat sudah menyita kapal tanker minyak berbendera Rusia di Samudra Atlantik Utara, yang mencoba menghindari blokade AS selama berminggu-minggu.

    Ini adalah salah satu dari dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela, yang dicegat oleh Amerika Serikat dalam beberapa jam, karena pemerintahan presiden Trump berjanji untuk mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak negara itu secara ketat tanpa batas waktu.

    Inggris memberikan “dukungan” dalam penyitaan kapal tanker tersebut, termasuk pesawat pengintai dan kapal.

    Rusia dilaporkan mengirimkan kapal selam dan kapal angkatan laut lainnya ke lokasi kejadian, menyatakan kapal tanker itu adalah “kapal kami”.

    Rusia juga menuntut pembebasan warga negaranya, yang menurut mereka berada di atas kapal, tetapi Amerika Serikat mengatakan mereka dapat dibawa ke Amerika dan diadili.

    Agen ICE tembak mati seorang perempuan

    Di tengah menegakkan hukum imigrasi yang ketat, seorang agen imigrasi AS menembak dan membunuh seorang perempuan berusia 37 tahun di dalam mobilnya di Minneapolis.

    Rabu kemarin, Renee Nicole Good ditembak di kepala di depan anggota keluarganya dalam operasi nasional di bawah kebijakan Presiden Donald Trump terhadap imigran.

    Para pejabat federal mengatakan penembakan dilakukan sebagai tindakan otoritas yang membela diri, tetapi Walikota Minneapolis Jacob Frey mengatakannya sebagai “narasi sampah” pemerintah.

    “Mereka sudah mencoba memutarbalikkan fakta bahwa ini adalah tindakan membela diri,” kata Jacob dalam konferensi pers.

    “Setelah melihat videonya sendiri, saya ingin mengatakan langsung kepada semua orang, itu omong kosong.”

    Israel akan mulai bangun permukiman di Tepi Barat

    Israel dilaporkan sudah melewati rintangan terakhir sebelum memulai pembangunan proyek pemukiman kontroversial di dekat Yerusalem, yang secara efektif akan membelah Tepi Barat menjadi dua, menurut tender pemerintah.

    Organisasi anti-permukiman ‘Peace Now’ pertama kali melaporkan tender tersebut , yang mencari penawaran dari pengembang untuk membuka jalan untuk memulai pembangunan proyek E1.

    Yoni Mizrahi, yang menjalankan divisi pengawasan pemukiman dari kelompok tersebut, mengatakan pekerjaan awal dapat dimulai dalam bulan ini.

    Pengembangan pemukiman di E1, sebidang tanah terbuka di sebelah timur Yerusalem, telah dipertimbangkan selama lebih dari dua dekade, tetapi dibekukan karena tekanan AS selama pemerintahan sebelumnya.

    Komunitas internasional secara mayoritas menganggap pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat sebagai tindakan ilegal dan penghalang perdamaian.

    Lihat juga Video: Raja Juli Pamer Angka Kebakaran Hutan Turun di ISF 2025

  • Maduro Didampingi Pengacara Kawakan AS yang ‘Selamatkan’ Pendiri Wikileaks

    Maduro Didampingi Pengacara Kawakan AS yang ‘Selamatkan’ Pendiri Wikileaks

    Washington DC

    Ketika Nicolas Maduro diseret pemerintah AS ke pengadilan di New York, Senin (05/01), Presiden Venezuela itu bukanlah satu-satunya figur yang menarik perhatian media.

    Di sampingnya ada orang yang akan memimpin pembelaannya seorang pengacara Amerika yang dikenal karena memenangkan kasus-kasus luar biasa dan kompleks, seperti yang tengah dihadapi Maduro.

    Pengacara itu bernama Barry Pollack. Dia adalah pengacara pribadi Maduro.

    Pollack akan mendampingi Maduro menghadapi tuduhan memperdagangkan narkotik, mengimpor kokain, dan kepemilikan senapan mesin dan alat peledak.

    Dalam sidang perdana itu, Maduro menyatakan dirinya tidak bersalah atas semua tuduhan. Maduro bilang telah diculik pemerintah AS dan menegaskan bahwa dia tetap berstatus Presiden Venezuela.

    Pollack kini berusia 61 tahun. Dia merupakan pimpinan di firma hukum Wall Street Harris St. Laurent & Wechsler, yang kantornya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari gedung pengadilan tempat Maduro diadili.

    Pollack juga berstatus sebagai profesor ilmu hukum di Universitas Georgetown.

    Ilustrasi Pollack di ruang sidang New York bersama Maduro (Reuters)

    ‘Teliti dan bijaksana’

    Menurut website firma hukum Harris St. Laurent & Wechsler, Pollack secara luas diakui sebagai salah satu pengacara litigasi paling terkemuka di negara AS.

    Pollack juga disebut sebagai mantan Presiden Asosiasi Pengacara Pembela Kriminal Nasional.

    Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, Pollack dikenal karena menangani “persidangan dan investigasi yang sensitif dan seringkali berprofil tinggi.”

    Di antara kasus-kasus penting yang dia tangani, Pollack berhasil membebaskan Julian Assange, jurnalis dan aktivis asal Australia yang mendirikan WikiLeaks, pada tahun 2024.

    Situs Chambers USA, yang menyusun peringkat firma hukum dan pengacara terbaik di AS, menggambarkan Pollack sebagai “pengacara yang teliti dan bijaksana”.

    Lembaga ini menyebut Pollack “hidup dan bernapas dalam persidangannya” dan “memiliki cara alami untuk tampil di hadapan juri.”

    Dalam wawancara dengan Law Dragon, April 2025,, sebuah media massa yang didedikasikan untuk para profesional hukum, dan dikutip oleh surat kabar Inggris The Guardian, Pollack menyebut beberapa refleksi tentang pekerjaannya.

    “Biasanya, ketika saya bertemu dengan klien, mereka sedang menghadapi krisis terburuk dalam hidup mereka,” kata Pollack.

    “Membimbing mereka melalui proses itu sangatlah memuaskan. Sulit membayangkan melakukan sesuatu yang memiliki dampak lebih besar pada kehidupan orang yang Anda bantu.”

    Pollack juga menyebutkan kekuatan yang dimilikinya.

    “Saya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan juri,” katanya.

    “Dalam arti tertentu, saya adalah seorang penerjemah. Saya mengambil banyak informasi yang sangat teknis dari industri yang mungkin tidak dikenal oleh juri dan mengkomunikasikannya dengan cara yang mudah dipahami.”

    Pollack bersama Julian Assange, pada hari pembebasan jurnalis asal Australia tersebut pada 2024 (Getty Images)

    Kasus-kasus penting

    Pollack menegosiasikan kesepakatan pembelaan dalam kasus Jullian Assange, yang dia sebut akhirnya membebaskan jurnalis tersebut.

    Assange menghadapi dakwaan berdasarkan Undang-Undang Spionase AS karena mengungkap secara besar-besaran dokumen rahasia AS ke situs WikiLeaks. Assange membeberkan kabel diplomatik dan laporan tindakan militer di Irak dan Afghanistan.

    Setelah berbulan-bulan negosiasi, Assange mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi untuk memperoleh dan mengungkapkan informasi pertahanan rahasia.

    Sebagai imbalannya, Assange dijatuhi hukuman penjara di Inggris, meski AS berupaya keras mengekstradisinya.

    Assange menghabiskan lima tahun di penjara keamanan maksimum Belmarsh di London dan tujuh tahun melarikan diri dari penegak hukum Inggris dan AS di kedutaan Ekuador di Inggris.

    Dalam kasus ini, kesepakatan yang tidak biasa yang dicapai oleh Pollack pada tahun 2024.

    Kesepakatan itu memungkinkan Assange untuk meninggalkan penjara di Inggris, serta bisa memberikan kesaksian di wilayah AS di Kepulauan Mariana Utara sebelum kembali ke negara asalnya, Australia.

    Di antara kasus-kasus penting lainnya, Pollack juga membebaskan mantan eksekutif Enron Corp., Michael Krautz, dari tuduhan penipuan kriminal.

    Kasus Krautz ini hanyalah satu dari dua kasus yang berakhir dengan putusan bebas dalam rentetan skandal kebangkrutan Enron.

    Pollack juga berhasil membebaskan orang-orang yang telah dipenjara secara tidak adil, seperti Martin Tankleff, yang menghabiskan 17 tahun di penjara setelah dituduh secara tidak adil membunuh orang tuanya saat masih remaja.

    Pollack dipotret di London selama sidang kasus Assange (Getty Images)

    “Penangkapan Maduro jelas ilegal”

    Selama di persidangan Maduro, Pollack menyatakan akan mengantisipasi pertarungan hukum yang panjang tentang apa yang disebutnya sebagai “penculikan Maduro oleh militer AS”.

    Artinya, Pollack akan berkeras dengan argumentasi bahwa operasi AS di Venezuela ilegal, seperti yang dilaporkan Reuters.

    Alonso Gurmendi, seorang ahli hukum internasional dan profesor di London School of Economics di London, mengatakan bahwa berdasarkan hukum internasional, operasi untuk menangkap Maduro “secara jelas, mutlak, dan tak terbantahkan ilegal dan tidak sah.”

    Hukum internasional melarang penggunaan kekuatan lintas batas antarnegara kecuali dalam tiga situasi, kata Gurmendi.

    “Skenario pertama, Dewan Keamanan PBB memberi Anda izin, tapi itu tidak terjadi dalam kasus Maduro. Skenario kedua, negara lain menyerang Anda terlebih dahulu dan Anda membela diri. Itu juga tidak terjadi karena Venezuela tidak menyerang AS berdasarkan interpretasi terluas dari pembelaan diri. Tidak ada serangan bersenjata oleh Venezuela terhadap Amerika Serikat.

    “Skenario ketiga, persetujuan Negara. Artinya, Venezuela harus memberi tahu AS bahwa ‘Anda dapat masuk dan menangkap Maduro,’ sesuatu yang juga tidak terjadi,” ujar Gurmendi.

    “Tidak satu pun dari tiga izin tersebut ada, oleh karena itu operasi tersebut merupakan tindakan ilegal menurut hukum internasional, merupakan tindakan agresi, dan sebagai tindakan agresi, melanggar hak-hak fundamental orang-orang yang terlibat, dalam hal ini Maduro,” ujar Gurmendi.

    Potret Maduro dan istrinya saat tiba di AS usai ditangkap militer AS (Getty Images)

    Profesor William Shabas mengatakan, “pertanyaan tentang ilegalitas penculikan Maduro adalah argumen yang sangat sah.”

    Shabas mencontohkan salah satu kasus yang paling terkenal yakni pada tahun 1960, Adolf Eichmann diculik di Argentina, lantas dibawa ke Israel. Pengadilan Israel menerima dalil penangkapan terhadap mata-mata Mossad itu, tapi pengadilan di Inggris tak sependapat.

    “Dari perspektif hak asasi manusia fundamental, ini adalah argumen yang sangat bagus, tetapi mungkin tidak akan terlalu berhasil di pengadilan AS,” ujarnya.

    Pada sisi lain, Gurmendi menyebut penangkapan dengan cara yang bertentangan dengan hukum tidak membatalkan proses hukum di Amerika Serikat. Hal ini tidak berlaku di banyak negara Amerika Latin.

    “Menurut pola pikir Amerika Latin, itu tidak masuk akal karena penangkapan ilegal berarti Anda merusak yurisdiksi pengadilan dan juga hukum internasional karena perlu perjanjian ekstradisi untuk itu,” ujarnya.

    “Hukum internasional tidak dimulai dari premis bahwa Anda dapat memasuki suatu negara dan melakukan apa pun yang Anda inginkan,” tuturnya.

    Menurut Gurmendi, argumentasi ini menunjukkan sesuatu yang mendasar yang harus dipertimbangkan pengadilan AS.

    “Meskipun Konstitusi Amerika Serikat menyatakan bahwa perjanjian internasional (dan hukum federal) adalah hukum tertinggi di negara itu, dalam tradisi konstitusional Amerika, hukum domestik lebih diutamakan daripada hukum internasional.”

    “Ketika kita berbicara tentang legalitas operasi tersebut, orang-orang di AS akan bertanya apakah presiden memiliki kekuasaan berdasarkan Konstitusi untuk melakukan ini dan membahas, misalnya, apakah Trump membutuhkan otorisasi dari Kongres atau tidak.”

    Potret Demonstrasi di Caracas setelah penangkapan Maduro (Getty Images)

    Argumen kekebalan hukum bagi kepala negara

    Pembelaan lain yang mungkin diajukan untuk Maduro adalah bahwa, sebagai kepala negara, dia menikmati kekebalan hukum.

    “Saya pikir ini adalah argumen dengan potensi yang jauh lebih besar, karena ini sangat jelas dalam hukum internasional,” kata Shabas.

    “Ada putusan dari Mahkamah Internasional yang menetapkan bahwa kepala negara, negara bagian, atau pemerintah menikmati kekebalan hukum di hadapan pengadilan negara lain.”

    Ada preseden di mana pemerintah AS menangkap pemimpin sebuah negara di Amerika Latin, yaitu Jenderal Panama Manuel Noriega, pada Januari 1990.

    Dalam memerintahkan penangkapan Noriega, Gedung Putih mengandalkan pendapat hukum tahun 1989 oleh Wakil Jaksa Agung saat itu, Bill Barr, yang dikeluarkan enam bulan sebelum invasi AS ke Panama.

    Barr kala itu berpendapat, larangan penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional, yang diabadikan dalam Piagam PBB, tidak bisa mencegah AS untuk melakukan penangkapan di luar negeri demi menegakkan hukum domestik.

    Noriega adalah pemimpin de facto Panama pada saat itu dan tidak pernah memegang jabatan presiden secara resmi. Negara itu saat itu berada dalam kekacauan akibat protes dan upaya pemberontakan militer.

    Kasus Noriega “adalah satu-satunya preseden yang menurut saya dapat dijadikan acuan oleh pihak penuntut,” menurut Shabas.

    “Tetapi saya pikir ada beberapa perbedaan penting antara kasus itu dan situasi Maduro. Dan karena itu, saya pikir Maduro memiliki argumen yang jauh lebih kuat dalam hal itu.”

    Amerika Serikat menangkap pemimpin de facto Panama, Jenderal Manuel Noriega, pada tahun 1990 (Getty Images)

    Beberapa pakar hukum berpendapat, jaksa AS kemungkinan akan berargumen bahwa mereka tidak mengakui Maduro sebagai kepala negara yang sah.

    Sebagai konteks, AS mendeklarasikan pemimpin oposisi Juan Guaid sebagai presiden sementara pada tahun 2019.

    Namun menurut Shabas, “intinya adalah Amerika Serikat mengakui Venezuela. Dan pertanyaannya kemudian sederhana: siapa kepala negara di Venezuela? Dan jika bukan Maduro, mengapa dia diculik? Jelas, dia adalah kepala negara dalam arti objektif, bahkan jika mereka keberatan, jika mereka tidak menyukainya, jika mereka mengklaim dia merebut kekuasaan secara tidak sah.”

    “Lagipula, Donald Trump mengatakan bahwa Joe Biden adalah kepala negara yang tidak sah selama empat tahun karena dia mengklaim telah memenangkan pemilihan. Jadi ini tidak mengubah apa pun dari perspektif hukum internasional,” ujarnya.

    Menurut Gurmendi, kegagalan pemerintah AS untuk mengakui Maduro “tidak berarti bahwa ia tidak memiliki kendali efektif atas negara tersebut dan oleh karena itu, berdasarkan hukum internasional, ia adalah orang yang harus dilindungi oleh kekebalan hukum.”

    Gurmendi bilang, fakta bahwa argumen kekebalan hukum tidak berhasil dalam kasus Noriega sekali lagi menunjukkan bahwa “kita berada dalam realitas di mana terdapat dua sistem normatif yang saling bertentangan, hukum nasional Amerika Serikat dan hukum internasional.”

    “Di Amerika Latin, misalnya, ada banyak negara yang mengatakan bahwa ketika terjadi konflik antara hukum internasional dan hukum domestik, hukum internasional yang berlaku.

    “Itulah yang terjadi di Peru dan beberapa negara lain di kawasan ini, tetapi tidak demikian halnya di Amerika Serikat,” kata Gurmendi.

    (nvc/nvc)

  • Venezuela Tangkap 2 Petani yang Rayakan Penggulingan Maduro

    Venezuela Tangkap 2 Petani yang Rayakan Penggulingan Maduro

    Caracas

    Otoritas Venezuela menangkap dua petani, yang bersaudara dan berusia 60-an tahun, karena kedapatan merayakan penggulingan Presiden Nicolas Maduro oleh penyerbuan militer Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu. Kedua petani itu melakukan perayaan dalam keadaan mabuk dan melepaskan tembakan ke udara.

    Penangkapan kedua petani Venezuela itu, seperti dilansir AFP, Kamis (8/1/2026), diungkapkan oleh seorang pengacara bernama Gonzalo Himiob dari kelompok hak asasi manusia (HAM) setempat, Foro Penal, yang biasa membela tahanan politik di negara tersebut.

    Kedua petani yang ditangkap itu berasal dari Rio Negro, yang ada di negara bagian Merida, Venezuela bagian barat.

    Dituturkan Himiob kepada AFP bahwa keduanya melakukan perayaan dengan melepaskan “beberapa tembakan ke udara” dan mengejek tetangga-tetangga mereka yang merupakan loyalis pemerintahan Maduro, yang kemudian melaporkan mereka ke otoritas berwenang.

    Himiob menggambarkan kedua petani yang berusia 64 tahun dan 65 tahun itu sebagai “petani sederhana”.

    “Mereka mabuk dan keluar dari rumah mereka untuk merayakan penangkapan Maduro,” ucapnya.

    “Mereka melepaskan beberapa tembakan ke udara dengan senjata api yang biasa disimpan di lahan pertanian dan properti pedesaan, mengejek tetangga-tetangga mereka yang merupakan pendukung pemerintah,” sebut Himiob dalam pernyataannya.

    Penangkapan dua petani itu dilakukan di bawah keadaan darurat yang sedang berlangsung di Venezuela, yang memberlakukan hukuman bagi siapa pun yang mendukung operasi militer AS untuk menggulingkan dan menangkap Maduro pada 3 Januari lalu.

    “Kami menunggu untuk melihat apakah mereka akan dibawa ke pengadilan,” kata Himiob dalam pernyataannya.

    Penangkapan kedua petani itu menjadi yang pertama di bawah pemerintahan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, yang telah dijanjikan oleh Presiden AS Donald Trump untuk bekerja sama selama dia mematuhi tuntutan Washington.

    Sejak Maduro ditangkap dan diterbangkan ke New York, AS, untuk diadili atas tuduhan narkoterorisme, telah terjadi unjuk rasa hampir setiap hari untuk mendukungnya di Venezuela. Namun sejauh ini tidak ada aksi yang digelar kubu oposisi, yang diabaikan dengan adanya kesepakatan antara Trump dan Rodriguez.

    Meskipun banyak orang di Venezuela yang senang Maduro telah pergi, mereka takut untuk mengekspresikan diri sejak ribuan orang ditangkap dalam unjuk rasa yang digelar kubu oposisi pada tahun 2024 lalu, setelah pemimpin otoriter itu mengklaim kemenangan dalam pemilu yang seharusnya dimenangkan oposisi.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Publik AS Marah Agen Imigrasi Tewaskan Wanita di Minneapolis, Trump Membela

    Publik AS Marah Agen Imigrasi Tewaskan Wanita di Minneapolis, Trump Membela

    Minneapolis

    Tindakan seorang agen imigrasi Amerika Serikat (AS) menembak mati seorang wanita, berkewarganegaraan AS, di jalanan kota Minneapolis, Minnesota, memicu kemarahan publik, yang menggelar unjuk rasa besar-besaran. Presiden Donald Trump membela tindakan agen imigrasi itu sebagai tembakan “membela diri”.

    Gedung Putih mengklaim wanita tersebut, yang diidentifikasi media lokal sebagai Renee Nicole Good (37), sebagai “teroris domestik” yang berusaha membunuh agen imigrasi AS yang sedang menjalankan operasinya. Klaim ini ditolak mentah-mentah oleh para pemimpin lokal di Minnesota.

    Good, yang bukan target operasi agen imigrasi AS, seperti dilansir AFP, Kamis (8/1/2026), ditembak dari jarak dekat saat dia tampak berusaha melarikan diri dari sejumlah agen imigrasi AS yang mengerumuni mobilnya dalam insiden pada Rabu (7/1). Para agen imigrasi AS menyebut mobil yang dikendarai Good menghalangi jalan mereka.

    Rekaman video insiden tersebut menunjukkan seorang agen Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) melepaskan tiga tembakan ke arah kendaraan SUV merek Honda, yang kemudian melaju tak terkendali dan menabrak sejumlah kendaraan lainnya yang terparkir.

    Video itu juga menunjukkan para saksi mata yang terkejut melihat insiden itu, mencaci-maki para agen imigrasi federal AS yang ada di lokasi. Tubuh Good yang berlumuran darah, menurut rekaman video itu, terlihat terkulai di dalam kendaraan yang ringsek.

    Pemerintahan Trump dengan cepat mengklaim bahwa Good berupaya membunuh para agen imigrasi federal. Menteri Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), Kristi Noem, mengatakan bahwa “setiap kehilangan nyawa adalah tragedi”, namun dia juga menyebut insiden itu sebagai “terorisme domestik”.

    Diklaim oleh Noem bahwa Good “telah menguntit dan menghalangi pekerjaan (ICE) sepanjang hari”. “Dia kemudian mempersenjatai kendaraannya,” sebutnya.

    Pernyataan DHS, yang mengelola ICE, mengklaim Good berusaha menabrak para agen imigrasi yang kemudian melepaskan “tembakan defensif”.

    Warga Minneapolis memasang poster bertuliskan kecaman untuk ICE setelah salah satu agen mereka menembak mati seorang wanita yang dituduh berupaya menabrak para agen imigrasi AS Foto: Getty Images via AFP/SCOTT OLSON

    Klaim-klaim tersebut dikecam oleh Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, sebagai “omong kosong”. Dia mendesak para agen ICE untuk segera meninggalkan Minneapolis.

    Ribuan demonstran turun ke jalanan kota Minneapolis di tengah cuaca dingin setelah penembakan mematikan itu terjadi. Sambil memegang poster bertuliskan “ICE keluar dari MPLS” — menggunakan singkatan nama kota Minneapolis, para demonstran memprotes tindakan agen imigrasi federal yang dinilai berlebihan.

    Kecaman juga datang dari Gubernur Minnesota, Tim Walz, yang menyebut respons pemerintah federal AS terhadap insiden itu sebagai “propaganda”. Waltz bersumpah negara bagian yang dipimpinnya akan “memastikan adanya investigasi yang menyeluruh, adil, dan cepat”.

    “Saya sudah melihat videonya. Jangan percaya mesin propaganda ini. Otoritas negara bagian akan memastikan adanya investigasi yang menyeluruh, adil, dan cepat untuk memastikan akuntabilitas dan keadilan,” ucapnya dalam pernyataan via media sosial.

    Trump Membela Agen Imigrasi AS

    Trump, dalam pernyataan via Truth Social, menanggapi situasi di Minneapolis yang menuai kecaman dan memicu unjuk rasa besar-besaran. Trump menyebut insiden itu “mengerikan untuk ditonton” dan menuduh korban yang ditembak mati telah “secara kejam menabrak” agen ICE.

    Dia juga menyebut tembakan dilepaskan oleh agen ICE untuk “membela diri”.

    “Saya baru saja melihat cuplikan kejadian yang terjadi di Minneapolis, Minnesota. Sungguh mengerikan untuk ditonton. Wanita yang berteriak itu jelas seorang provokator profesional, dan wanita yang mengendarai mobil itu sangat tidak tertib, menghalangi dan melawan, yang kemudian dengan kasar, secara sengaja, dan secara kejam menabrak petugas ICE, yang tampaknya menembaknya untuk membela diri,” sebut Trump dalam pernyataannya.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)