Tag: Donald Trump

  • Trump Akui Tak Kesampingkan Perang dengan Venezuela

    Trump Akui Tak Kesampingkan Perang dengan Venezuela

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membiarkan kemungkinan tetap terbuka untuk perang melawan Venezuela. Trump mengatakan bahwa Washington tidak mengesampingkan kemungkinan tindakan militer terhadap Caracas.

    Ketegangan antara Trump dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro mencapai titik kritis beberapa waktu terakhir, terutama setelah Presiden AS itu membahas soal kehadiran angkatan laut besar-besaran yang mengepung Caracas dan memerintahkan blokade total terhadap kapal tanker minyak di negara tersebut.

    Saat ditanya dalam wawancara dengan media terkemuka AS, NBC News, soal potensi terjadinya perang dengan Venezuela, seperti dilansir AFP dan Anadolu Agency, Sabtu (20/12/2025), Trump mengatakan: “Saya tidak mengesampingkannya, tidak.”

    Trump menolak untuk mengatakan secara jelas apakah dirinya ingin menggulingkan Maduro, meskipun dalam wawancara sebelumnya dia menyebut kekuasaan Presiden Venezuela itu tinggal “menghitung hari”.

    “Dia (Maduro-red) mengetahui persis apa yang saya inginkan,” ucap Trump, sembari mengisyaratkan penyitaan tambahan terhadap kapal tanker minyak.

    “Dia mengetahui lebih baik daripada siapa pun,” sebutnya.

    Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio juga menolak untuk menjawab secara eksplisit ketika ditanya wartawan soal apakah AS bermaksud menggulingkan rezim Maduro.

    “Jelas bahwa status quo saat ini dengan rezim Venezuela tidak dapat ditoleransi oleh Amerika Serikat,” ucapnya. “Jadi iya, tujuan kami adalah untuk mengubah dinamika itu, dan itulah mengapa presiden melakukan apa yang dia lakukan,” kata Rubio merujuk pada Trump.

    Trump, awal pekan ini, menyatakan bahwa Venezuela “sepenuhnya dikelilingi oleh armada terbesar yang pernah dikumpulkan dalam sejarah Amerika Selatan”. Dia bersumpah bahwa AS akan menghentikan pengiriman minyak Venezuela, yang dia gambarkan sebagai penegakan sanksi yang diberlakukan secara sepihak oleh Washington.

    Rubio menambahkan: “Tidak ada yang akan menghalangi kemampuan kami untuk menegakkan hukum AS dalam hal sanksi.”

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Pemerintahan Trump Mulai Rilis Dokumen Epstein ke Publik

    Pemerintahan Trump Mulai Rilis Dokumen Epstein ke Publik

    Washington DC

    Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mulai merilis sejumlah besar dokumen yang ditunggu-tunggu sejak lama dari penyelidikan kasus Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual yang meninggal di dalam penjara. Kasus Epstein tergolong sangat sensitif secara politik karena menyeret nama-nama besar.

    Dokumen-dokumen kasus Epstein, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025), dirilis ke publik mulai Jumat (19/12) waktu setempat, dengan banyak berkas yang disensor oleh Departemen Kehakiman AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

    Di antara materi yang diungkap ke publik itu terdapat beberapa foto yang menunjukkan mantan Presiden Bill Clinton dan tokoh-tokoh terkenal lainnya, termasuk vokalis Rolling Stones Mick Jagger, sedang bersama Epstein.

    Namun penyensoran sebagian besar dokumen — dikombinasikan dengan kontrol ketat oleh para pejabat pemerintahan Trump — telah memicu keraguan apakah pengungkapan ini akhirnya akan meredam teori konspirasi yang telah lama beredar mengenai upaya menutup-nutupi kasus tingkat tinggi.

    Kendati demikian, dokumen-dokumen itu diharapkan dapat mengungkap hubungan dekat antara Epstein, yang dulunya seorang pemodal terkemuka AS, dengan orang-orang kaya, terkenal, dan berpengaruh, termasuk Trump.

    Dokumen yang dirilis oleh Departemen Kehakiman AS pada Jumat (19/12) waktu setempat mencakup tujuh halaman yang mencantumkan 254 tukang pijak wanita — setiap nama disensor dengan garis hitam tebal dan diberi penjelasan bahwa “disunting untuk melindungi informasi korban potensial”.

    Beberapa dokumen lainnya berisi puluhan foto yang disensor, yang menunjukkan sosok telanjang atau berpakaian minim. Foto-foto lainnya menunjukkan Epstein dan para rekannya, wajah mereka diburamkan, dengan menenteng senjata api.

    Sejumlah foto yang belum pernah dilihat sebelumnya termasuk satu foto yang menunjukkan Bill Clinton, yang tampak lebih mudah, sedang bersandar di bak mandi air panas, dengan sebagian foto disensor dengan kotak persegi panjang hitam yang mencolok.

    Dalam satu foto lainnya, Bill Clinton terlihat sedang berenang bersama seorang wanita berambut gelap, yang tampaknya adalah Ghislaine Maxwell, mantan kekasih Epstein yang juga kaki tangannya.

    Maxwell, yang berusia 63 tahun, menjadi satu-satunya orang yang dihukum terkait kasus Epstein. Dia kini sedang menjalani masa hukuman 20 tahun penjara atas tuduhan merekrut gadis-gadis di bawah umur untuk Epstein, yang meninggal di sel tahanan New York pada tahun 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks.

    Gedung Putih langsung memanfaatkan kemunculan foto Bill Clinton tersebut. “Sick Willy! @BillClinton sedang bersantai, tanpa beban sedikit pun. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi…” tulis Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, dalam postingan media sosial X.

    “Astaga!” imbuh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam komentar terpisah.

    Trump, yang dulunya teman dekat Epstein, awalnya berjuang selama berbulan-bulan untuk mencegah dirilisnya dokumen kasus Epstein, yang kematiannya di penjara dinyatakan sebagai bunuh diri.

    Namun pada akhirnya, Trump menyerah pada tekanan parlemen AS, termasuk dari Partai Republik yang menaungi dirinya, dan pada bulan lalu menandatangani undang-undang yang mewajibkan publikasi dokumen Epstein tersebut.

    Hari Jumat (19/12) waktu setempat merupakan batas waktu yang ditetapkan oleh Kongres AS untuk dirilisnya dokumen Epstein. Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche mengatakan bahwa ratusan ribu dokumen dirilis pada Jumat (19/12) dan lebih banyak lagi akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang.

    Dia menambahkan bahwa jaksa memiliki keleluasaan untuk menahan materi terkait penyelidikan aktif dan dokumen-dokumen yang dirilis akan disunting untuk melindungi identitas ratusan korban Epstein. Dia juga mengatakan “tidak ada dakwaan baru” yang akan diajukan.

    Sementara itu, bagi publik dan para korban, dirilisnya dokumen Epstein ini menandai peluang paling jelas untuk saat ini dalam mengungkap skandal tersebut. Dokumen yang diungkap ini dapat memperjelas bagaimana Epstein beroperasi, siapa yang membantunya, dan mengapa jaksa menunda selama bertahun-tahun sebelum menjeratkan dakwaan pidana terhadapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Euro Digital Jadi Senjata Uni Eropa Kurangi Dominasi Sistem Pembayaran AS

    Euro Digital Jadi Senjata Uni Eropa Kurangi Dominasi Sistem Pembayaran AS

    Bisnis.com, JAKARTA — Negara-negara  Uni Eropa resmi menyatukan sikap soal euro digital sebagai upaya menjaga kedaulatan moneter dan mengurangi ketergantungan pada sistem pembayaran Amerika Serikat.

    Melansir Bloomberg pada Sabtu (20/12/2025), Menteri Ekonomi Denmark Stephanie Lose mengatakan, euro digital merupakan langkah penting menuju sistem pembayaran Eropa yang lebih kuat dan kompetitif, serta dapat berkontribusi pada otonomi strategis dan keamanan ekonomi Eropa.

    “Hal ini juga sekaligus memperkuat peran internasional euro,” ujarnya dalam pernyataan yang dirilis Dewan Uni Eropa pada Jumat (19/12/2025) waktu setempat.

    Sebagai informasi, Denmark saat ini tengah memegang presidensi bergilir Dewan Uni Eropa.

    Mandat negosiasi Dewan UE menegaskan bahwa baik moda fungsi daring maupun luring diperlukan dan bersifat esensial, sehingga keduanya harus tersedia sejak penerbitan pertama euro digital. 

    Sikap tersebut sejalan dengan pandangan Bank Sentral Eropa (ECB), namun bertentangan dengan usulan Fernando Navarrete, salah satu anggota parlemen UE yang menjadi tokoh utama dalam pembahasan euro digital.

    ECB pertama kali meluncurkan inisiatif euro digital pada 2021, tetapi hingga kini masih menunggu kerangka hukum yang diperlukan. Komisi Eropa telah mengajukan proposal pada 2023, tetapi negara-negara anggota membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk mencapai kesepakatan mengenai pendekatan bersama. 

    Tahap berikutnya, Parlemen Eropa perlu merampungkan posisinya sebelum perundingan antara para legislator dan Dewan UE dapat dimulai.

    Apabila pemerintah nasional dan Parlemen Eropa berhasil mencapai kesepakatan tahun depan, ECB diperkirakan dapat memulai fase uji coba pada 2027, dengan peluncuran penuh yang ditargetkan pada 2029. 

    Para pembuat kebijakan semakin khawatir terhadap ketergantungan berlebihan pada perusahaan AS seperti Visa, Mastercard, dan PayPal dalam sistem pembayaran. Selain itu, muncul pula kekhawatiran bahwa stablecoin yang dipromosikan Presiden AS Donald Trump dapat memperoleh pijakan di Eropa.

    Pada Oktober lalu, Navarrete yang merupakan anggota Partai Rakyat Eropa (European People’s Party) berhaluan tengah-kanan, menerbitkan laporan yang mengusulkan euro digital hanya tersedia dalam versi daring apabila sektor swasta tidak mampu menghadirkan solusi pembayaran sendiri. 

    ECB menolak gagasan tersebut dengan menegaskan bahwa kedua versi—daring dan luring—dibutuhkan untuk memaksimalkan manfaat uang digital tersebut.

    Untuk menghindari risiko terhadap stabilitas keuangan, pemerintah negara-negara UE menekankan pentingnya pembatasan jumlah kepemilikan euro digital oleh nasabah. 

    Para menteri keuangan kawasan euro sebelumnya telah mencapai kesepakatan mengenai mekanisme penetapan batas tersebut awal tahun ini, yang mengedepankan kerja sama erat antara ECB dan Dewan UE.

    Pernyataan Dewan UE yang dirilis pada Jumat juga mengatur kerangka kompensasi bagi penyedia layanan pembayaran. Selama masa transisi minimal lima tahun, biaya interchange dan biaya layanan pedagang akan dibatasi pada tingkat yang setara dengan biaya metode pembayaran yang sebanding. 

    Setelah masa transisi berakhir, batas biaya akan ditetapkan berdasarkan biaya aktual yang terkait dengan euro digital.

  • Trump Peringatkan Hal Ini Usai AS Gempur ISIS di Suriah

    Trump Peringatkan Hal Ini Usai AS Gempur ISIS di Suriah

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan militer Washington telah melancarkan “pembalasan yang sangat serius” terhadap kelompok radikal Islamic State (ISIS) di Suriah, setelah serangan yang menewaskan tiga warga AS.

    Trump memperingatkan bahwa siapa pun yang menyerang atau mengancam AS, akan dihantam lebih keras.

    “Dengan ini saya mengumumkan bahwa Amerika Serikat melancarkan pembalasan yang sangat serius, seperti yang telah saya janjikan, terhadap para teroris pembunuh yang bertanggung jawab,” kata Trump dalam postingan Truth Social, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025).

    “Kita menyerang dengan sangat kuat terhadap benteng-benteng ISIS di Suriah, tempat yang berlumuran darah dan memiliki banyak masalah, tetapi memiliki masa depan yang cerah jika ISIS dapat diberantas,” sebutnya.

    Trump, dalam pernyataannya, juga menyebut pemerintah Suriah “sepenuhnya mendukung hal ini”.

    Lebih lanjut, Trump melontarkan peringatan terbaru bagi siapa pun, terutama para teroris, yang menyerang atau mengancam AS.

    “Semua teroris yang cukup jahat untuk menyerang warga Amerika dengan ini diperingatkan — ANDA AKAN DIHANTAM LEBIH KERAS DARIPADA YANG PERNAH ANDA ALAMI SEBELUMNYA JIKA ANDA, DENGAN CARA APA PUN, MENYERANG ATAU MENGANCAM AMERIKA SERIKAT,” tegasnya.

    Serangan balasan terhadap ISIS sebelumnya diumumkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengatakan bahwa AS telah “menyerang lebih dari 70 target di berbagai lokasi di wilayah Suriah bagian tengah dengan jet tempur, helikopter serbu, dan artileri”.

    “Operasi tersebut menggunakan lebih dari 100 amunisi presisi yang menargetkan infrastruktur dan situs-situs senjata ISIS yang diketahui,” kata CENTCOM dalam pernyataannya.

    CENTCOM menyebut serangan itu sebagai respons atas serangan yang didalangi seorang pria bersenjata dari ISIS, yang menewaskan dua tentara AS dan satu warga sipil AS dalam serangan pada 13 Desember lalu di area Palmyra, Suriah.

    Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Suriah, meskipun tidak secara langsung mengomentari serangan AS pada Jumat (19/12), mengatakan dalam sebuah postingan via media sosial X bahwa negaranya berkomitmen untuk memerangi ISIS.

    Ditegaskan juga oleh Kementerian Luar Negeri Suriah bahwa pihaknya “memastikan kelompok tersebut tidak memiliki tempat perlindungan yang aman di wilayah Suriah, dan akan terus mengintensifkan operasi militer terhadapnya di mana pun kelompok tersebut menimbulkan ancaman”.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Trump Peringatkan Hal Ini Usai AS Gempur ISIS di Suriah

    Trump Peringatkan Hal Ini Usai AS Gempur ISIS di Suriah

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan militer Washington telah melancarkan “pembalasan yang sangat serius” terhadap kelompok radikal Islamic State (ISIS) di Suriah, setelah serangan yang menewaskan tiga warga AS.

    Trump memperingatkan bahwa siapa pun yang menyerang atau mengancam AS, akan dihantam lebih keras.

    “Dengan ini saya mengumumkan bahwa Amerika Serikat melancarkan pembalasan yang sangat serius, seperti yang telah saya janjikan, terhadap para teroris pembunuh yang bertanggung jawab,” kata Trump dalam postingan Truth Social, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025).

    “Kita menyerang dengan sangat kuat terhadap benteng-benteng ISIS di Suriah, tempat yang berlumuran darah dan memiliki banyak masalah, tetapi memiliki masa depan yang cerah jika ISIS dapat diberantas,” sebutnya.

    Trump, dalam pernyataannya, juga menyebut pemerintah Suriah “sepenuhnya mendukung hal ini”.

    Lebih lanjut, Trump melontarkan peringatan terbaru bagi siapa pun, terutama para teroris, yang menyerang atau mengancam AS.

    “Semua teroris yang cukup jahat untuk menyerang warga Amerika dengan ini diperingatkan — ANDA AKAN DIHANTAM LEBIH KERAS DARIPADA YANG PERNAH ANDA ALAMI SEBELUMNYA JIKA ANDA, DENGAN CARA APA PUN, MENYERANG ATAU MENGANCAM AMERIKA SERIKAT,” tegasnya.

    Serangan balasan terhadap ISIS sebelumnya diumumkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengatakan bahwa AS telah “menyerang lebih dari 70 target di berbagai lokasi di wilayah Suriah bagian tengah dengan jet tempur, helikopter serbu, dan artileri”.

    “Operasi tersebut menggunakan lebih dari 100 amunisi presisi yang menargetkan infrastruktur dan situs-situs senjata ISIS yang diketahui,” kata CENTCOM dalam pernyataannya.

    CENTCOM menyebut serangan itu sebagai respons atas serangan yang didalangi seorang pria bersenjata dari ISIS, yang menewaskan dua tentara AS dan satu warga sipil AS dalam serangan pada 13 Desember lalu di area Palmyra, Suriah.

    Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Suriah, meskipun tidak secara langsung mengomentari serangan AS pada Jumat (19/12), mengatakan dalam sebuah postingan via media sosial X bahwa negaranya berkomitmen untuk memerangi ISIS.

    Ditegaskan juga oleh Kementerian Luar Negeri Suriah bahwa pihaknya “memastikan kelompok tersebut tidak memiliki tempat perlindungan yang aman di wilayah Suriah, dan akan terus mengintensifkan operasi militer terhadapnya di mana pun kelompok tersebut menimbulkan ancaman”.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Kenapa AS Ingin Gulingkan Rezim Nicolas Maduro di Venezuela?

    Kenapa AS Ingin Gulingkan Rezim Nicolas Maduro di Venezuela?

    Washington DC

    Apakah Amerika Serikat (AS) sedang berusaha menyingkirkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro? Jika mengacu kepada wawancara terbaru yang diterbitkan di majalah politik Vanity Fair, jawabannya adalah ya.

    Wawancara tersebut menjadi sorotan pekan ini, di mana kepala staf Presiden AS Donald Trump, Susie Wiles, mengatakan bahwa bosnya “akan terus menenggelamkan kapal-kapal sampai Maduro mengalah”, ungkapnya.

    Penenggelaman itu merujuk pada operasi maritim berskala besar oleh AS untuk menghancurkan kapal-kapal narkoba Venezuela yang konon menyelusup di Karibia.

    Awalnya, Trump menegaskan bahwa fokus kampanye militer di Karibia adalah menghentikan arus narkoba. Ia sejak lama berusaha menutup jalur penyelundup narkoba ke AS, dan pekan ini mendeklarasikan fentanyl, obat penahan sakit yang bikin kecanduan, sebagai “senjata pemusnah massal.”

    Selain itu, sempat muncul spekulasi bahwa narkoba adalah kedok untuk mengintimidasi Venezuela agar menyerahkan konsesi minyak dan logam tanah jarang kepada AS. Trump kini telah memerintahkan blokade terhadap kapal tanker minyak yang disanksi.

    Namun wawancara Wiles mengubah asumsi, atau setidaknya mengurangi spekulasi mengenai tujuan operasi militer AS. Presiden Maduro, yang memimpin Venezuela sejak 2013, menjadi target kampanye Trump.

    “Saya rasa itu bukan tujuan pada Januari tahun ini ketika pemerintahan kedua Trump mulai bekerja,” kata Paul Hare, diplomat Inggris yang sudah pensiun dan mantan Duta Besar, sekarang menjabat sebagai direktur sementara Pusat Studi Amerika Latin di Universitas Boston.

    Selera untuk perubahan?

    Menjatuhkan Maduro bukan perkara mudah, tetapi mungkin lebih mudah bagi pemerintahan Trump dibandingkan konflik di Ukraina atau Gaza.

    Hal ini juga sejalan dengan strategi keamanan nasional pemerintahan Trump kedua, yang menekankan kembali pengaruh AS di Belahan Bumi barat, wilayah yang mencakup seluruh benua Amerika dan barat Eropa.

    Jesus Renzullo, analis politik Amerika Latin di German Institute for Global and Area Studies, mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Trump, Marco Rubio, seorang pembela kebijakan luar negeri yang keras dan lawan kuat rezim Maduro, mungkin melihat peluang untuk menekan Kuba juga.

    Kuba adalah kediktatoran yang secara militer dan ekonomi lebih lemah dan sangat bergantung pada Venezuela untuk pasokan energi.

    “Venezuela adalah satu-satunya kartu liar yang masih bisa diandalkan Kuba yang dekat dengan wilayah mereka, dekat di kawasan ini,” kata Renzullo. “Kuba akan sangat terdampak dan menderita secara ekonomi.”

    Renzullo berpandangan bahwa AS perlu meningkatkan tekanannya terhadap Venezuela secara drastis untuk memaksa perubahan kepemimpinan, sebelum pihak lain mempertimbangkan pemerintahan beralih perhatian ke tempat lain.

    “Fakta bahwa mereka sedang diblokade saja tidak cukup. Caracas sudah pernah mengalami sanksi yang jauh lebih besar selama ‘tekanan maksimum’ pada 2019, dan mereka masih bertahan,” kata Renzullo.

    Hare sendiri tidak melihat adanya upaya besar-besaran AS untuk campur tangan di Amerika Latin selain rezim Maduro.

    “Maduro memang tidak sah, tapi saya pikir ini lebih dianggap sebagai kasus khusus, dan saya rasa tidak akan diikuti dengan agresi ke negara lain,” kata Hare.

    “Saya pikir mereka [pemerintahan Trump] memang benar-benar khawatir dengan ketidaklegalan kehadiran Maduro.”

    Memperhatikan warisan dan menarik pemilih

    Meski rencana pergantian rezim telah terbuka berkat wawancara Wiles di Vanity Fair, motivasinya mungkin tidak sesederhana itu.

    Pemerintahan Trump, khususnya melalui Rubio, telah mendukung oposisi Venezuela, yang dipimpin oleh pemenang Hadiah Nobel Perdamaian baru-baru ini, Maria Corina Machado.

    Machado juga vokal mendukung intervensi Trump di Karibia.

    Namun bagi Trump, rencananya mungkin kurang tentang memasang demokrasi di Venezuela, seperti yang dilakukan presiden AS sebelumnya, melainkan lebih pada kepuasan pribadi menyingkirkan rival politik.

    “Ini bukan soal minyak,” kata Jim Marckwardt, pensiunan letnan kolonel Angkatan Darat AS, kini fakultas co-lead untuk Studi Amerika di Johns Hopkins School of Advanced International Studies.

    “Dan hal lainnya bukan soal demokrasi, setidaknya khusus dalam kasus pemerintahan Trump.”

    Ini mungkin mengejutkan, mengingat Trump pernah mengakui pemimpin oposisi pro-demokrasi Juan Guaido sebagai pemimpin Venezuela pada 2019.

    Namun Maduro tetap berkuasa dan kembali berhasil menghalangi upaya memaksa dirinya keluar dari jabatan, bahkan setelah pemilu Venezuela 2024, yang secara independen diamati dimenangkan oleh pihak oposisi.

    Sebaliknya, Marckwardt mengatakan Trump ingin membangun warisan politiknya.

    “2019 adalah saat krisis Venezuela meledak dengan Juan Guaido, dan itu tidak terselesaikan saat itu. Biden belum menyelesaikannya, dan ada banyak bukti bahwa Trump peduli dengan warisannya,” kata Marckwardt.

    “Dia sudah mencoba menyelesaikan masalah Gaza… dia cukup keras bekerja untuk proses perdamaian antara Ukraina dan Rusia, dan satu yang lebih dekat di hemisfer ini adalah Venezuela, dan saya kira secara arguable lebih mudah untuk diselesaikan.”

    Trump juga melihat popularitasnya menurun dalam jajak pendapat sejak terpilih kembali, termasuk di kalangan diaspora Amerika Latin yang membantu mengantarkannya kembali ke Gedung Putih, dan yang merupakan blok pemilih signifikan di basis kekuatan Trump di Florida.

    “Ini cara mudah untuk menarik diaspora tersebut, yang memiliki konsentrasi besar kekuatan voting di Florida, jadi sebagian juga untuk menyenangkan pemilih itu.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
    Diadaptasi oleh Rahka Susanto
    Editor: Rizki Nugraha

    (nvc/nvc)

  • TikTok Akhirnya Lepas Saham ke AS, Gandeng Oracle Bikin Perusahaan Gabungan

    TikTok Akhirnya Lepas Saham ke AS, Gandeng Oracle Bikin Perusahaan Gabungan

    Bisnis.com, JAKARTA — TikTok akhirnya menyepakati pengalihan sebagian besar operasional bisnisnya di Amerika Serikat (AS) kepada kelompok investor AS. 

    Kesepakatan ini sekaligus menandai babak akhir dari tekanan bertahun-tahun yang telah dilakukan oleh pemerintah AS untuk memaksa platform tersebut melakukan divestasi.

    Melansir dari TechCrunch Jumat (19/12/2025) berdasarkan memo internal dari CEO ByteDance Shou Chew, kemitraan baru ini akan berwujud sebuah entitas gabungan yang diberi nama TikTok USDS Joint Venture LLC. 

    Melalui struktur ini, kendali besar atas bisnis TikTok di Amerika Serikat akan berpindah tangan ke konsorsium investor yang dipimpin oleh raksasa teknologi Oracle, perusahaan ekuitas swasta Silverlake, dan MGX, firma investasi asal Abu Dhabi yang berfokus pada pengembangan kecerdasan artifisial (KA).

    Dalam rincian pembagian saham yang diungkapkan, kelompok investor tersebut akan menguasai kepemilikan sebesar 45% dari operasional AS. 

    Sementara itu, ByteDance sebagai induk perusahaan TikTok saat ini, hanya akan mempertahankan porsi minoritas, yakni 20%. Perjanjian ini dijadwalkan mencapai penyelesaian akhir pada 22 Januari 2026.

    Entitas baru TikTok USDS Joint Venture LLC nantinya akan memegang tanggung jawab penuh terhadap aspek-aspek krusial platform, mulai dari perlindungan data pengguna, keamanan algoritma, moderasi konten, hingga jaminan kualitas perangkat lunak.

    Guna memastikan standar keamanan terpenuhi, perusahaan telah menetapkan mekanisme pengawasan ketat.

    “Seorang mitra keamanan terpercaya akan bertanggung jawab untuk mengaudit dan memvalidasi kepatuhan terhadap National Security Terms yang telah disepakati, dan Oracle akan menjadi mitra keamanan tepercaya tersebut setelah transaksi selesai,” tulis dokumen tersebut sebagaimana dikutip.

    Keterlibatan Oracle, Silverlake, dan MGX sebagai investor utama sebenarnya selaras dengan laporan berita yang beredar sebelumnya. Hingga memo ini bocor ke publik, ByteDance cenderung merahasiakan detail negosiasi dan hanya menegaskan komitmennya untuk mematuhi hukum di Amerika Serikat demi menjaga ketersediaan aplikasi bagi para penggunanya.

    Kesepakatan ini sebenarnya telah mencerminkan poin-poin dalam perintah eksekutif yang sempat ditandatangani oleh Presiden Donald Trump pada September lalu. 

    Perintah tersebut memang mengarahkan penjualan operasional TikTok di AS kepada grup investor AS guna memitigasi risiko keamanan yang timbul dari keterkaitan dengan entitas asing.

    Pemerintah AS sejak lama mengincar pemisahan operasional TikTok dari ByteDance. Kekhawatiran utama terletak pada potensi akses data warga Amerika oleh pihak luar yang dianggap dapat mengancam stabilitas nasional. 

    Dengan terbentuknya joint venture ini, TikTok tampaknya telah menemukan “jalan tengah” yang memungkinkan mereka tetap beroperasi di pasar terbesarnya tersebut tanpa harus kehilangan eksistensi sepenuhnya. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Trump Tiba-tiba Setop Program Lotre Green Card, Ada Apa?

    Trump Tiba-tiba Setop Program Lotre Green Card, Ada Apa?

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba menangguhkan atau menghentikan sementara program lotre green card. Program yang dibuat oleh Kongres AS ini, memberikan puluhan ribu green card setiap tahunnya melalui undian bagi warga negara asing.

    Green card merupakan dokumen resmi pemerintah AS yang memberikan status “penduduk tetap” kepada warga negara asing, dan bisa menjadi jalur menuju kewarganegaraan AS setelah beberapa tahun bagi para pemegangnya.

    Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Kristi Noem, seperti dilansir Associated Press, Jumat (19/12/2025), mengumumkan kebijakan terbaru Trump itu dalam sebuah postingan via media sosial X pada Kamis (18/12) waktu setempat.

    Dalam postingannya, Noem mengatakan bahwa atas arahan Trump, dirinya memerintahkan agar Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS menghentikan sementara program lotre green card.

    Dia menyinggung tersangka penembakan di Brown University yang menewaskan dua mahasiswa dan penembakan fatal seorang profesor fisika dari Massachusetts Institute of Technology, yang disebutnya datang ke AS melalui program tersebut.

    “Individu keji ini seharusnya tidak pernah diizinkan masuk ke negara kita,” kata Noem dalam pernyataannya, merujuk pada tersangka penembakan tersebut.

    Otoritas setempat mengatakan bahwa tersangka yang diidentifikasi sebagai Claudio Neves Valente, merupakan seorang warga negara Portugal yang berusia 48 tahun dan pernah menjadi mahasiswa di Brown University.

    Kepala Kepolisian Providence, Oscar Perez, mengonfirmasi bahwa Valente ditemukan tewas bunuh diri pada Kamis (18/12) malam, di dalam sebuah unit penyimpanan di area New Hampshire, bersama dengan dua senjata api. Dia diyakini bertindak sendirian dalam dua penembakan tersebut.

    Menurut surat pernyataan dari detektif Kepolisian Providence, Valente kuliah di Brown University dengan visa pelajar mulai tahun 2000 lalu. Pada tahun 2017, dia mendapatkan visa imigran keberagaman dan beberapa bulan kemudian, dia memperoleh status “penduduk tetap” yang sah.

    Program visa keberagaman memberikan hingga 50.000 green card setiap tahun melalui lotre atau undian, bagi warga negara asing dari negara-negara yang kurang terwakili di AS, banyak di antaranya dari Afrika. Program ini dibuat oleh Kongres AS, sehingga kebijakan baru Trump ini hampir pasti menghadapi gugatan hukum.

    Hampir 20 juta orang mendaftar program lotre green card untuk tahun 2025, dengan lebih dari 131.000 orang terpilih. Setelah memenangkan undian dalam program itu, para pemenang harus menjalani pemeriksaan untuk mendapatkan izin masuk ke AS. Warga negara Portugal, asal Valente, hanya memenangkan 38 slot dalam program tersebut.

    Para pemenang undian diundang untuk mengajukan permohonan green card, di mana mereka akan diwawancarai di konsulat dan tunduk pada persyaratan serta pemeriksaan yang sama seperti pendaftar green card lainnya.

    Tonton juga video “Trump Resmi Longgarkan Peraturan Ganja Demi Medis”

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Trump Tetapkan Fentanil Senjata Pemusnah Massal, Kenapa Begitu Mematikan?

    Trump Tetapkan Fentanil Senjata Pemusnah Massal, Kenapa Begitu Mematikan?

    Jakarta

    Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan sebuah dekret yang mengklasifikasikan fentanil sebagai “senjata pemusnah massal” — sebuah istilah politik yang sangat radikal untuk suatu zat yang telah secara diam-diam membunuh manusia dalam jumlah besar selama puluhan tahun.”Obat ini bahkan lebih parah dari efek ledakan bom,” ujar Trump. Ia mengklaim bahwa sedikitnya 200.000 hingga 300.000 orang per tahun meninggal dunia akibat penggunaan fentanil.

    Angka sebenarnya, sebagaimana dicatat oleh otoritas kesehatan masyarakat AS, yaitu Centers for Disease Control and Prevention (CDC), memang mengkhawatirkan, tetapi jauh lebih rendah dari klaim tersebut. CDC melaporkan bahwa lebih dari 76.000 orang meninggal akibat overdosis fentanil pada tahun 2023. Namun pada tahun 2024, jumlah tersebut turun menjadi 48.422 kematian. Di Eropa, jumlah kematian akibat fentanil tetap berada di kisaran ratusan orang.

    Apa yang membuat obat ini—yang sebenarnya dirancang untuk meredakan rasa sakit yang ekstrem – menjadi begitu berbahaya? Dan apakah benar fentanil dapat digambarkan sebagai sebuah senjata pemusnah massal?

    Makna resmi dari kategorisasi baru ini

    Pengkategorian ulang yang dilakukan oleh Trump berarti bahwa fentanil tidak lagi hanya diatur oleh undang-undang kesehatan dan pidana. Kini, fentanil juga dianggap sebagai isu keamanan nasional. Badan intelijen dan militer, secara prinsip, dapat terlibat lebih jauh—misalnya dalam memerangi kartel narkoba, atau jika seseorang dicurigai merencanakan penggunaan fentanil dalam suatu serangan.

    Dalam studinya pada tahun 2019 berjudul “Fentanyl as a Chemical Weapon” (Fentanil sebagai Senjata Kimia), Center for the Study of Weapons of Mass Destruction (CSWMD) menyimpulkan bahwa tidak tampak adanya “dasar atau kebutuhan apa pun untuk secara resmi menetapkan senyawa fentanil sebagai senjata pemusnah massal, setidaknya bagi Departemen Pertahanan AS.”

    CSWMD berada di bawah Institute for National Strategic Studies, sebuah departemen dari National Defense University (NDU) di Washington, D.C., yang didanai oleh Departemen Pertahanan AS.

    Namun demikian, penulis laporan tersebut, John P. Caves, juga memperingatkan bahwa “setidaknya terdapat risiko bahwa senyawa fentanil dapat digunakan sebagai senjata kimia.” Ia merekomendasikan agar penggunaan agen berbentuk aerosol yang mempengaruhi sistem saraf—seperti fentanil—dalam penegakan hukum harus dilarang secara tegas, karena hal itu “tidak sejalan dengan Konvensi Senjata Kimia.” Ia juga menulis bahwa Departemen Pertahanan seharusnya “terus meningkatkan pemahamannya mengenai senyawa fentanil sebagai potensi senjata kimia.”

    Keputusan Trump dinilai sebagai ‘manuver politik’

    National Public Radio (NPR) berbicara dengan banyak pakar kesehatan masyarakat dan penanggulangan kecanduan, yang menekankan bahwa secara teknis sangat sulit untuk menggunakan fentanil layaknya senjata pemusnah massal konvensional dalam suatu serangan teroris. Mereka mengatakan bahwa sebagian besar kematian akibat fentanil terjadi pada pengguna narkoba jalanan yang telah dicampur atau dipalsukan, bukan akibat sebuah serangan yang disengaja.

    Para ahli di bidang ini menyatakan bahwa pengkategorian baru tersebut tidak akan mengurangi ketersediaan fentanil di jalanan maupun jumlah kematian akibat overdosis. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai bentuk militerisasi lebih lanjut dari “perang melawan narkoba.” Sementara itu, upaya pencegahan, pengobatan, dan kebijakan sosial tetap kekurangan dana dan masih menerima perhatian yang jauh dari memadai.

    Langkah ini juga membuat kerja sama internasional menjadi lebih sulit—khususnya dengan Cina, terkait dengan zat-zat prekursor—karena menimbulkan kesan bahwa Beijing secara tidak langsung dituduh mendukung produksi “senjata pemusnah massal.”

    Orang-orang dalam komunitas keamanan yang mendukung langkah ini, serta organisasi korban seperti Families Against Fentanyl, berpendapat bahwa jumlah kematian dan kerusakan ekonomi yang ditimbulkan setara dengan sebuah “senjata pemusnah massal dalam gerak lambat”, sehingga negara dinilai sah mengerahkan seluruh instrumennya, mulai dari intelijen dan militer hingga tekanan internasional.

    Fentanil: Asal-usul, penggunaan medis, dan risikonya

    Fentanil adalah opioid sintetis. Ia merupakan obat pereda nyeri yang sangat kuat, yang terutama digunakan dalam anestesi dan dalam perawatan akhir hayat bagi pasien kanker stadium terminal.

    Kekuatan fentanil jauh melebihi opioid klasik seperti morfin atau oksikodon. Bahkan dalam jumlah yang sangat kecil, fentanil sudah cukup untuk menghambat rasa sakit yang parah. Fentanil awalnya dikembangkan sebagai anestesi yang sangat efektif dan mudah dikendalikan. Dalam dunia medis, obat ini dianggap penting, tapi dengan dosis dan cara pemberian yang diawasi secara ketat.

    Cara kerja fentanil — hanya beberapa miligram bisa mematikan

    Fentanil bekerja dengan mengikat reseptor opioid di sistem saraf pusat, menekan sensasi nyeri, dan sering kali memicu perasaan euforia serta relaksasi yang kuat. Justru kombinasi inilah yang membuatnya menarik sebagai narkoba rekreasional sekaligus sangat berbahaya. Hanya beberapa miligram dapat menurunkan dorongan pernapasan sedemikian rupa sehingga seseorang hanya bernapas sangat dangkal atau bahkan berhenti bernapas sama sekali.

    Akibatnya adalah kekurangan oksigen, kehilangan kesadaran, koma, dan dalam skenario terburuk, henti napas, yang dapat menyebabkan kematian dengan sangat cepat. Fentanil juga sangat adiktif, dan tingkat toleransi pada pecandu meningkat dengan cepat, sehingga mereka terdorong untuk menaikkan dosis. Jarak antara dosis yang menimbulkan efek “high” dan dosis yang mematikan sangat tipis.

    Tablet, plester, dan campuran yang mematikan

    Di rumah sakit, fentanil biasanya diberikan melalui suntikan intravena atau dalam bentuk plester yang menyalurkan obat melalui kulit secara perlahan dan terus-menerus. Di pasar gelap, fentanil umumnya tersedia dalam bentuk bubuk atau pil hasil produksi ilegal. Semakin sering pula ditemukan dalam bentuk yang dapat diisap atau dihirup.

    Masalahnya adalah produsen ilegal tidak menakar dosis secara akurat. Mereka juga mencampur fentanil dengan obat lain, seperti kokain atau heroin, sehingga konsumen tidak pernah tahu seberapa kuat produk yang mereka gunakan.

    Fentanil sebanyak dua miligram saja sudah dapat mematikan. Cukup dengan satu plester yang tercampur buruk atau satu tarikan terlalu banyak. Bahkan plester fentanil bekas masih dapat mengandung cukup zat aktif untuk membahayakan nyawa seseorang jika disalahgunakan.

    Rantai pasokan global: Cina, Amerika Latin, dan Amerika Serikat

    Fentanil adalah zat sepenuhnya sintetis yang dibuat di laboratorium kimia. Ia sudah beredar sebagai narkoba ilegal sejak tahun 1970-an, dan produksi yang tidak terkendali meningkat pesat sejak tahun 1980-an.

    Saat ini, prekursor dan komponen kimia dari Cina merupakan bagian penting dari rantai pasokan ilegal. Bahan-bahan tersebut diproses menjadi bubuk dan pil fentanil, terutama di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Dari sana, narkoba ini diselundupkan ke Eropa dan terutama ke Amerika Serikat.

    Pada tahun 2022, Drug Enforcement Administration (DEA) AS menyita lebih dari 50,6 juta pil palsu yang mengandung fentanil, serta sekitar 4,5 ton bubuk fentanil. DEA memperkirakan bahwa jumlah ini setara dengan lebih dari 379 juta dosis yang berpotensi mematikan. Menurut Anne Milgram, kepala DEA saat itu, jumlah tersebut “cukup … untuk membunuh setiap warga Amerika.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman.

    Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

    Editor: Yuniman Farid

    Tonton juga video “Trump Resmi Longgarkan Peraturan Ganja Demi Medis”

    (ita/ita)

  • Trump Tetapkan Fentanil Senjata Pemusnah Massal, Kenapa Begitu Mematikan?

    Trump Tetapkan Fentanil Senjata Pemusnah Massal, Kenapa Begitu Mematikan?

    Jakarta

    Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan sebuah dekret yang mengklasifikasikan fentanil sebagai “senjata pemusnah massal” — sebuah istilah politik yang sangat radikal untuk suatu zat yang telah secara diam-diam membunuh manusia dalam jumlah besar selama puluhan tahun.”Obat ini bahkan lebih parah dari efek ledakan bom,” ujar Trump. Ia mengklaim bahwa sedikitnya 200.000 hingga 300.000 orang per tahun meninggal dunia akibat penggunaan fentanil.

    Angka sebenarnya, sebagaimana dicatat oleh otoritas kesehatan masyarakat AS, yaitu Centers for Disease Control and Prevention (CDC), memang mengkhawatirkan, tetapi jauh lebih rendah dari klaim tersebut. CDC melaporkan bahwa lebih dari 76.000 orang meninggal akibat overdosis fentanil pada tahun 2023. Namun pada tahun 2024, jumlah tersebut turun menjadi 48.422 kematian. Di Eropa, jumlah kematian akibat fentanil tetap berada di kisaran ratusan orang.

    Apa yang membuat obat ini—yang sebenarnya dirancang untuk meredakan rasa sakit yang ekstrem – menjadi begitu berbahaya? Dan apakah benar fentanil dapat digambarkan sebagai sebuah senjata pemusnah massal?

    Makna resmi dari kategorisasi baru ini

    Pengkategorian ulang yang dilakukan oleh Trump berarti bahwa fentanil tidak lagi hanya diatur oleh undang-undang kesehatan dan pidana. Kini, fentanil juga dianggap sebagai isu keamanan nasional. Badan intelijen dan militer, secara prinsip, dapat terlibat lebih jauh—misalnya dalam memerangi kartel narkoba, atau jika seseorang dicurigai merencanakan penggunaan fentanil dalam suatu serangan.

    Dalam studinya pada tahun 2019 berjudul “Fentanyl as a Chemical Weapon” (Fentanil sebagai Senjata Kimia), Center for the Study of Weapons of Mass Destruction (CSWMD) menyimpulkan bahwa tidak tampak adanya “dasar atau kebutuhan apa pun untuk secara resmi menetapkan senyawa fentanil sebagai senjata pemusnah massal, setidaknya bagi Departemen Pertahanan AS.”

    CSWMD berada di bawah Institute for National Strategic Studies, sebuah departemen dari National Defense University (NDU) di Washington, D.C., yang didanai oleh Departemen Pertahanan AS.

    Namun demikian, penulis laporan tersebut, John P. Caves, juga memperingatkan bahwa “setidaknya terdapat risiko bahwa senyawa fentanil dapat digunakan sebagai senjata kimia.” Ia merekomendasikan agar penggunaan agen berbentuk aerosol yang mempengaruhi sistem saraf—seperti fentanil—dalam penegakan hukum harus dilarang secara tegas, karena hal itu “tidak sejalan dengan Konvensi Senjata Kimia.” Ia juga menulis bahwa Departemen Pertahanan seharusnya “terus meningkatkan pemahamannya mengenai senyawa fentanil sebagai potensi senjata kimia.”

    Keputusan Trump dinilai sebagai ‘manuver politik’

    National Public Radio (NPR) berbicara dengan banyak pakar kesehatan masyarakat dan penanggulangan kecanduan, yang menekankan bahwa secara teknis sangat sulit untuk menggunakan fentanil layaknya senjata pemusnah massal konvensional dalam suatu serangan teroris. Mereka mengatakan bahwa sebagian besar kematian akibat fentanil terjadi pada pengguna narkoba jalanan yang telah dicampur atau dipalsukan, bukan akibat sebuah serangan yang disengaja.

    Para ahli di bidang ini menyatakan bahwa pengkategorian baru tersebut tidak akan mengurangi ketersediaan fentanil di jalanan maupun jumlah kematian akibat overdosis. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai bentuk militerisasi lebih lanjut dari “perang melawan narkoba.” Sementara itu, upaya pencegahan, pengobatan, dan kebijakan sosial tetap kekurangan dana dan masih menerima perhatian yang jauh dari memadai.

    Langkah ini juga membuat kerja sama internasional menjadi lebih sulit—khususnya dengan Cina, terkait dengan zat-zat prekursor—karena menimbulkan kesan bahwa Beijing secara tidak langsung dituduh mendukung produksi “senjata pemusnah massal.”

    Orang-orang dalam komunitas keamanan yang mendukung langkah ini, serta organisasi korban seperti Families Against Fentanyl, berpendapat bahwa jumlah kematian dan kerusakan ekonomi yang ditimbulkan setara dengan sebuah “senjata pemusnah massal dalam gerak lambat”, sehingga negara dinilai sah mengerahkan seluruh instrumennya, mulai dari intelijen dan militer hingga tekanan internasional.

    Fentanil: Asal-usul, penggunaan medis, dan risikonya

    Fentanil adalah opioid sintetis. Ia merupakan obat pereda nyeri yang sangat kuat, yang terutama digunakan dalam anestesi dan dalam perawatan akhir hayat bagi pasien kanker stadium terminal.

    Kekuatan fentanil jauh melebihi opioid klasik seperti morfin atau oksikodon. Bahkan dalam jumlah yang sangat kecil, fentanil sudah cukup untuk menghambat rasa sakit yang parah. Fentanil awalnya dikembangkan sebagai anestesi yang sangat efektif dan mudah dikendalikan. Dalam dunia medis, obat ini dianggap penting, tapi dengan dosis dan cara pemberian yang diawasi secara ketat.

    Cara kerja fentanil — hanya beberapa miligram bisa mematikan

    Fentanil bekerja dengan mengikat reseptor opioid di sistem saraf pusat, menekan sensasi nyeri, dan sering kali memicu perasaan euforia serta relaksasi yang kuat. Justru kombinasi inilah yang membuatnya menarik sebagai narkoba rekreasional sekaligus sangat berbahaya. Hanya beberapa miligram dapat menurunkan dorongan pernapasan sedemikian rupa sehingga seseorang hanya bernapas sangat dangkal atau bahkan berhenti bernapas sama sekali.

    Akibatnya adalah kekurangan oksigen, kehilangan kesadaran, koma, dan dalam skenario terburuk, henti napas, yang dapat menyebabkan kematian dengan sangat cepat. Fentanil juga sangat adiktif, dan tingkat toleransi pada pecandu meningkat dengan cepat, sehingga mereka terdorong untuk menaikkan dosis. Jarak antara dosis yang menimbulkan efek “high” dan dosis yang mematikan sangat tipis.

    Tablet, plester, dan campuran yang mematikan

    Di rumah sakit, fentanil biasanya diberikan melalui suntikan intravena atau dalam bentuk plester yang menyalurkan obat melalui kulit secara perlahan dan terus-menerus. Di pasar gelap, fentanil umumnya tersedia dalam bentuk bubuk atau pil hasil produksi ilegal. Semakin sering pula ditemukan dalam bentuk yang dapat diisap atau dihirup.

    Masalahnya adalah produsen ilegal tidak menakar dosis secara akurat. Mereka juga mencampur fentanil dengan obat lain, seperti kokain atau heroin, sehingga konsumen tidak pernah tahu seberapa kuat produk yang mereka gunakan.

    Fentanil sebanyak dua miligram saja sudah dapat mematikan. Cukup dengan satu plester yang tercampur buruk atau satu tarikan terlalu banyak. Bahkan plester fentanil bekas masih dapat mengandung cukup zat aktif untuk membahayakan nyawa seseorang jika disalahgunakan.

    Rantai pasokan global: Cina, Amerika Latin, dan Amerika Serikat

    Fentanil adalah zat sepenuhnya sintetis yang dibuat di laboratorium kimia. Ia sudah beredar sebagai narkoba ilegal sejak tahun 1970-an, dan produksi yang tidak terkendali meningkat pesat sejak tahun 1980-an.

    Saat ini, prekursor dan komponen kimia dari Cina merupakan bagian penting dari rantai pasokan ilegal. Bahan-bahan tersebut diproses menjadi bubuk dan pil fentanil, terutama di Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Dari sana, narkoba ini diselundupkan ke Eropa dan terutama ke Amerika Serikat.

    Pada tahun 2022, Drug Enforcement Administration (DEA) AS menyita lebih dari 50,6 juta pil palsu yang mengandung fentanil, serta sekitar 4,5 ton bubuk fentanil. DEA memperkirakan bahwa jumlah ini setara dengan lebih dari 379 juta dosis yang berpotensi mematikan. Menurut Anne Milgram, kepala DEA saat itu, jumlah tersebut “cukup … untuk membunuh setiap warga Amerika.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman.

    Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih

    Editor: Yuniman Farid

    Tonton juga video “Trump Resmi Longgarkan Peraturan Ganja Demi Medis”

    (ita/ita)