Tag: Donald Trump

  • Paus Leo XIV Serukan Gencatan Senjata Global Saat Natal

    Paus Leo XIV Serukan Gencatan Senjata Global Saat Natal

    Roma

    Paus Leo XIV menyerukan gencatan senjata global pada Hari Natal 2025. Dia menyatakan kesedihan mendalam karena tampaknya Rusia menolak permintaan untuk itu.

    “Saya memperbarui permintaan saya kepada semua orang yang berkehendak baik untuk menghormati hari perdamaian, setidaknya pada hari raya kelahiran Juru Selamat kita,” kata Leo kepada wartawan di kediamannya di Castel Gandolfo dekat Roma seperti dilansir AFP, Rabu (24/12/2025).

    Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022 dan telah berulang kali menolak seruan untuk gencatan senjata. Rusia kerap berdalih hal itu hanya akan memberikan keuntungan militer kepada Ukraina.

    “Di antara hal-hal yang menyebabkan saya sangat sedih adalah kenyataan bahwa Rusia tampaknya telah menolak permintaan untuk gencatan senjata,” kata Paus.

    Merujuk pada konflik secara umum, Leo berharap mereka akan mendengarkan dan akan ada 24 jam perdamaian di seluruh dunia. Ukraina pada hari Selasa menarik pasukan dari sebuah kota di timur negara itu setelah pertempuran sengit dengan pasukan Rusia.

    Sementara, serangan tanpa henti oleh Moskow menewaskan tiga warga sipil dan memutus aliran listrik ke ribuan orang di tengah suhu musim dingin yang membekukan. Tidak ada tanda-tanda terobosan yang segera terjadi setelah para negosiator utama dari Rusia dan Ukraina berada di Miami akhir pekan lalu untuk pertemuan terpisah dengan para pejabat AS yang berupaya mengakhiri pertempuran itu.

    Dia juga mengatakan mencari perdamaian di Ukraina tanpa keterlibatan diplomatik Eropa adalah ‘tidak realistis’ dan memperingatkan bahwa rencana perdamaian yang diusulkan Presiden AS Donald Trump berisiko menyebabkan ‘perubahan besar’ dalam aliansi transatlantik.

    (haf/dhn)

  • Rusia dan China Kompak Sentil Aksi ‘Koboi’ AS ke Venezuela

    Rusia dan China Kompak Sentil Aksi ‘Koboi’ AS ke Venezuela

    New York

    Rusia dan China mengkritik Amerika Serikat (AS) atas tekanan militer dan ekonominya terhadap Venezuela. Rusia dan China mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa tindakan AS adalah ‘perilaku koboi’ dan ‘intimidasi’.

    Dilansir AFP, Rabu (24/12/2025), Venezuela, yang meminta pertemuan darurat dewan dengan dukungan Moskow dan Beijing, menuduh Washington melakukan ‘pemerasan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah kita’.

    Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militer besar di Karibia dan baru-baru ini mencegat kapal tanker minyak sebagai bagian dari blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal Venezuela yang dianggapnya berada di bawah sanksi. Pada pertemuan hari Selasa (23/12), Duta Besar AS Mike Waltz mengatakan negaranya akan melakukan segala daya untuk melindungi perbatasan dan rakyat AS.

    Presiden AS Donald Trump menuduh Venezuela menggunakan minyak, sumber daya utama negara Amerika Selatan itu, untuk membiayai ‘narkoterorisme, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan’. Venezuela telah membantah keras keterlibatannya dalam perdagangan narkoba dan menegaskan Washington berupaya menggulingkan presidennya, Nicolas Maduro, untuk merebut cadangan minyak Venezuela yang merupakan terbesar di dunia.

    “Tindakan pihak AS bertentangan dengan semua norma utama hukum internasional,” kata duta besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, sambil menyebut blokade AS sebagai ‘tindakan agresi’.

    “Tanggung jawab Washington juga terlihat jelas atas konsekuensi bencana yang terus-menerus dari perilaku seperti koboi tersebut,” katanya kepada dewan.

    “China menentang semua tindakan unilateralisme dan intimidasi dan mendukung semua negara dalam membela kedaulatan dan martabat nasional mereka,” kata perwakilan China, Sun Lei.

    Duta Besar Venezuela Samuel Moncada mengatakan AS melakukan pemerasan. Dia mengatakan AS telah menuntut rakyat Venezuela untuk menyerahkan kekayaannya.

    “Kita berada di hadapan kekuatan yang bertindak di luar hukum internasional, menuntut agar warga Venezuela meninggalkan negara kita dan menyerahkannya. Ini adalah pemerasan terbesar yang pernah ada dalam sejarah kita,” ujarnya.

    Dubes AS Waltz kemudian mengulangi tuduhan Trump terhadap pemimpin Venezuela. Dia mengatakan Nicolas Maduro merupakan buronan yang dicari oleh AS dan kepala organisasi teroris asing ‘Cartel de los Soles’.

    Para ahli mengatakan tidak ada bukti keberadaan kelompok terorganisir dengan hierarki yang jelas yang menggunakan nama tersebut. Pemerintah AS telah menawarkan hadiah USD 50 juta untuk informasi apa pun yang mengarah pada penangkapan Maduro, sekutu setia pemimpin Rusia Vladimir Putin.

    Sejak September, pasukan AS telah melancarkan puluhan serangan udara terhadap kapal-kapal yang menurut Washington, tanpa menunjukkan bukti, mengangkut narkoba. Lebih dari 100 orang telah tewas.

    Halaman 2 dari 2

    (haf/haf)

  • Ambisi Trump Ambil Alih Greenland

    Ambisi Trump Ambil Alih Greenland

    Jakarta

    Ambisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menguasai Greenland tak surut. Keamanan nasional menjadi alasan Trump tetap kukuh menguasai wilayah semi-otonom yang berada di bawah Denmark itu.

    Pernyataan Trump yang ingin mencaplok Greenland sebenarnya sudah disampaikan sejak tahun lalu. Trump, yang saat itu masih menjadi presiden terpilih, mengatakan Greenland sangat penting bagi AS.

    Dilansir CNN, NBC News dan Reuters, Trump mengatakan AS membutuhkan kepemilikan dan kontrol terhadap Greenland demi urusan keamanan.

    “Demi tujuan Keamanan Nasional dan Kebebasan di seluruh Dunia, Amerika Serikat merasa bahwa kepemilikan dan kendali atas Greenland merupakan kebutuhan mutlak,” tulis Trump di Truth Social.

    Trump juga menegaskan kembali keinginannya untuk menguasai Greenland saat wawancara dengan NBC pada Minggu (30/3).

    “Kami akan mendapatkan Greenland. Ya, 100 persen”, kata Trump dalam wawancara dengan NBC News.

    Ketegangan antara Amerika Serikat, Denmark, dan Greenland, semakin meningkat dengan adanya kunjungan Wakil Presiden JD Vance ke pangkalan militer AS di pulau Arktik yang luas itu. Vance juga dikritik usai mengatakan Denmark ‘tidak melakukan pekerjaan yang baik untuk rakyat Greenland’.

    Perdana Menteri baru Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menanggapi rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menguasai Greenland. Nielsen menegaskan Greenland tidak akan pernah menjadi milik Amerika.

    “Presiden Trump mengatakan Amerika Serikat ‘akan mendapatkan Greenland.’ Biar saya tegaskan: Amerika Serikat tidak akan mendapatkan Greenland,” kata Nielsen dilansir AFP, Senin (31/3/2025).

    Hal itu disampaikan Nielsen dalam unggahan di Facebook miliknya pada Minggu (30/3) waktu setempat. Dia menegaskan masa depan Greenland ada di tangan masyarakatnya sendiri.

    “Kami tidak menjadi milik orang lain. Kami memutuskan masa depan kami sendiri,” katanya.

    Trump Ngotot Ingin Kuasai Greenland

    Keinginan Trump untuk mengontrol Greenland karena urusan keamanan nasional tak berubah. Hal ini kembali disampaikannya setelah penunjukan utusan khusus AS untuk Greenland memicu ketegangan baru dengan pemerintah Denmark.

    Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari, Trump berulang kali mengatakan bahwa Amerika Serikat “membutuhkan” wilayah otonom yang kaya sumber daya tersebut untuk alasan keamanan. Dia bahkan menolak untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk menguasainya.

    Pada hari Minggu, Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland, yang memicu kemarahan dari Denmark, yang kemudian memanggil duta besar AS.

    “Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Bukan untuk mineral,” kata Trump dalam konferensi pers di Palm Beach, Florida, AS pada hari Senin (22/12) waktu setempat.

    “Jika Anda melihat Greenland, Anda melihat ke atas dan ke bawah pantai, Anda akan melihat kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana,” ujarnya, dilansir kantor berita AFP, Selasa (23/12/2025).

    “Kita membutuhkannya untuk keamanan nasional. Kita harus memilikinya,” kata presiden, seraya menambahkan bahwa Landry “ingin memimpin serangan.”

    Setelah pengangkatannya, Landry langsung berjanji untuk menjadikan wilayah Denmark tersebut ‘bagian dari AS’.

    Sebelumnya, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan dalam pernyataan bersama bahwa Greenland adalah milik rakyat Greenland.

    “Anda tidak dapat mencaplok negara lain,” kata mereka. “Kami mengharapkan penghormatan terhadap integritas teritorial bersama kami.”

    Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan dia sangat marah atas langkah tersebut dan memperingatkan Washington untuk menghormati kedaulatan Denmark.

    Lokke Rasmussen sebelumnya mengatakan kepada televisi TV2, bahwa pengangkatan Landry tersebut “sama sekali tidak dapat diterima”. Duta Besar AS telah dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Denmark untuk memberikan penjelasan.

    “Kami memanggil duta besar Amerika ke kementerian luar negeri hari ini untuk sebuah pertemuan, bersama dengan perwakilan Greenland, di mana kami dengan sangat jelas menarik garis merah dan juga meminta penjelasan,” kata Lokke Rasmussen dalam sebuah wawancara.

    Halaman 2 dari 2

    (knv/knv)

  • Airlangga Ungkap Hasil Negosiasi RI–AS, Sawit hingga Kopi Berpeluang Bebas Tarif

    Airlangga Ungkap Hasil Negosiasi RI–AS, Sawit hingga Kopi Berpeluang Bebas Tarif

    Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan hasil pertemuannya dengan Ambassador Jamieson Greer dari United States Trade Representative (USTR) di Washington DC terkait percepatan penyelesaian Agreements on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat.

    Airlangga menyampaikan pertemuan yang berlangsung pada 22 Desember 2025 tersebut dilakukan untuk melaksanakan penugasan Presiden guna mendorong percepatan penyelesaian dokumen ART RI–AS.

    “Hari ini saya telah melaksanakan pertemuan dengan Ambassador Jamieson Greer dari United States of Trade Representative di kantor USTR, Washington D.C. Pertemuan ini secara khusus dilakukan untuk melaksanakan penugasan dari Bapak Presiden, agar segera mendorong percepatan penyelesaian dokumen ART antara Indonesia dengan AS,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, Selasa (23/12/2025).

    Menurut Airlangga, pertemuan berlangsung konstruktif dengan pembahasan mencakup isu-isu utama hingga teknis. Kedua pihak, kata dia, mengapresiasi kemajuan perundingan yang telah menyepakati isu-isu krusial dalam teks perjanjian.

    “Pertemuan berjalan dengan sangat baik. Semua isu-isu utama dan isu teknis dibicarakan pada pertemuan kali ini. Kata kuncinya adalah balance (menjaga kepentingan kedua pihak),” jelasnya.

    Airlangga menegaskan seluruh isu substansi yang diatur dalam dokumen ART telah disepakati kedua belah pihak. Adapun isu teknis selanjutnya akan disempurnakan melalui proses legal drafting.

    “Seluruh isu substansi yang diatur dalam dokumen ART, sudah dapat disepakati kedua pihak, baik isu-isu utama maupun isu teknis yang akan disesuaikan bahasanya dalam legal-drafting dan proses teknis selanjutnya,” katanya.

    Setelah kesepakatan substansi tercapai, Tim Teknis Indonesia dan Amerika Serikat dijadwalkan melanjutkan pertemuan pada minggu kedua Januari 2026 untuk melakukan legal scrubbing dan clean up dokumen yang ditargetkan rampung dalam satu pekan.

    Airlangga menyebut, apabila seluruh proses teknis berjalan sesuai rencana, penandatanganan ART diharapkan dapat dilakukan sebelum akhir Januari 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di White House, Washington DC.

    “Diharapkan sebelum akhir bulan Januari 2026, Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Trump akan menandatangani secara resmi Dokumen ART di White House, Washington DC,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Airlangga mengungkapkan capaian konkret dari perundingan tersebut, yakni penurunan tarif resiprokal bagi Indonesia dari sebelumnya 32% menjadi 19%. Selain itu, Indonesia juga berpeluang memperoleh pengecualian tarif untuk sejumlah produk ekspor unggulan.

    “Melalui perundingan ini, Indonesia telah berhasil mendapatkan penurunan tarif resiprokal dari 32% menjadi 19%, dan Indonesia juga akan mendapatkan pengecualian tarif untuk produk-produk unggulan ekspor Indonesia seperti minyak kelapa sawit, kopi, kokoa dan lainnya,” tutur Airlangga.

    Dia menilai capaian tersebut menjadi kabar positif, khususnya bagi industri nasional yang terdampak kebijakan tarif Amerika Serikat sejak April lalu. Pemerintah, kata Airlangga, akan terus mengupayakan agar produk ekspor unggulan memperoleh penurunan maupun pengecualian tarif.

    Sejalan dengan Joint Statement 22 Juli 2025, Indonesia juga telah menyampaikan komitmen kepada AS untuk membuka akses pasar dan mengatasi hambatan non-tarif. Komitmen tersebut didorong melalui deregulasi serta pembentukan Satgas Debottlenecking untuk menyelesaikan hambatan usaha di dalam negeri.

    “Kita harapkan, proses teknis selanjutnya akan dapat diselesaikan sesuai dengan target waktu, sehingga sebelum akhir Januari 2026 telah siap dilakukan penandatanganan oleh Bapak Presiden dan Presiden Trump,” pungkas Airlangga.

    Donald Trump

    Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan penandatanganan Agreements on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat dapat dilakukan pada Januari 2026. Penandatanganan tersebut direncanakan dilakukan langsung oleh kedua kepala negara.

    Airlangga mengungkapkan sebagian tim negosiator Indonesia telah berada di Amerika Serikat untuk bertemu dengan USTR dan sejumlah pejabat tinggi AS guna memfinalisasi kesepakatan yang telah dibahas sebelumnya.

    “Peluangnya besar dan saya sudah atur, kapan presiden pergi ke sana,” ujar Airlangga kepada Bisnis, Rabu (17/12/2025).

    Awalnya, penandatanganan ART ditargetkan berlangsung bertepatan dengan pertemuan ASEAN di Malaysia. Namun, rencana tersebut urung dilakukan karena dinilai kurang tepat dari sisi momentum.

    Salah satu agenda utama dalam perundingan ini adalah upaya memperoleh pengecualian tarif bagi minyak kelapa sawit Indonesia. Sejumlah komoditas pertanian seperti kakao telah lebih dulu masuk dalam daftar pengecualian tarif resiprokal AS sebagaimana tercantum dalam Executive Orders pemerintah AS.

    Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menjelaskan minyak kelapa sawit masih tercantum dalam Annex III Potential Tariff Adjustments for Aligned Partners dan baru akan dikecualikan dari tarif resiprokal setelah Indonesia dan AS menyelesaikan perjanjian dagang tersebut.

  • PM Nielsen Respons Trump Mau Kuasai Greenland: Ini Negara Kami!

    PM Nielsen Respons Trump Mau Kuasai Greenland: Ini Negara Kami!

    Greenland

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan keinginannya menguasai Greenland demi keamanan nasional. Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen buka suara.

    “Greenland adalah negara kami. Keputusan kami dibuat di sini,” kata Jens-Frederik Nielsen dalam sebuah unggahan Facebook seperti dilansir AFP, Selasa (23/12/2025).

    Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari, Trump berulang kali mengatakan Amerika Serikat membutuhkan wilayah otonom yang kaya sumber daya tersebut. Pada hari Minggu (21/12), Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland. Hal ini memicu kemarahan dari Denmark.

    “Kita membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Bukan untuk mineral,” kata Trump dalam konferensi pers di Palm Beach, Florida, pada hari Senin (22/12).

    “Kita harus memilikinya,” kata Trump seraya menambahkan bahwa ia ingin Landry “memimpin upaya tersebut”. Setelah penunjukannya, Landry segera berjanji untuk menjadikan wilayah Denmark tersebut “bagian dari AS”.

    Dalam unggahannya, Nielsen mengaku sedih setelah mendengar keinginan Trump untuk mengambil alih Greenland. “Kata-kata seperti itu mereduksi negara kita menjadi masalah keamanan dan kekuasaan. Bukan seperti itu cara kita memandang diri kita sendiri, dan bukan seperti itu kita di Greenland dapat atau seharusnya digambarkan,” kata Nielsen.

    Di unggahan yang sama, Nielsen berterima kasih kepada rakyat Greenland karena menghadapi situasi tersebut dengan tenang dan bermartabat. Ia turut berterima kasih dari para pemimpin pemerintah lainnya.

    “Dukungan ini menegaskan bahwa kita tidak sendirian di sini,” katanya.

    Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan bahwa ia “sangat marah” atas tindakan Trump tersebut. Ia memperingatkan Washington untuk menghormati kedaulatan Denmark.

    Uni Eropa juga menawarkan “solidaritas penuh” kepada Denmark.

    “Greenland milik rakyatnya,” kata Presiden Prancis Emmanuel Macron lewat akun X-nya.

    “Saya menambahkan suara saya kepada suara orang-orang Eropa untuk menyatakan solidaritas penuh kami,” tulisnya.

    Lihat Video ‘Trump Ingin Kuasai Greenland Demi Keamanan, Singgung Rusia-China’:

    Halaman 2 dari 3

    (isa/jbr)

  • Trump Tak akan Kembalikan Minyak dan Tanker Sitaan dari Venezuela

    Trump Tak akan Kembalikan Minyak dan Tanker Sitaan dari Venezuela

    Liputan6.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menegaskan bahwa Pemerintah AS akan mempertahankan minyak mentah dan kapal tanker yang disita di perairan dekat Venezuela.

    “Kita akan mempertahankannya,” kata Trump, dikutip dari CNBC, Selasa (23/12/2025).

    Pernyataan tersebut menandai eskalasi terbaru kebijakan keras Washington terhadap pemerintahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sekaligus berpotensi berdampak pada dinamika pasar energi global.

    Trump menyebut, minyak mentah hasil sitaan tersebut tidak akan dikembalikan. Menurutnya, Pemerintah AS masih mempertimbangkan berbagai opsi pemanfaatan minyak tersebut, mulai dari menjualnya ke pasar, menyimpannya sebagai aset strategis, hingga memasukkannya ke dalam cadangan minyak strategis.

    Selain minyak mentah, Trump juga memastikan kapal-kapal tanker yang disita akan tetap berada di bawah kendali AS.

    “Mungkin kita akan menjualnya, mungkin kita akan menyimpannya, mungkin kita akan menggunakannya dalam cadangan strategis,” tutur Trump tentang minyak yang disita. “Kita juga akan menyimpan kapal-kapalnya,” tambah Trump.

     

  • Balasan Menohok Maduro saat Trump Tebar Ancaman

    Balasan Menohok Maduro saat Trump Tebar Ancaman

    Caracas

    Presiden Venezuela Nicolas Maduro memberikan balasan menohok kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancamnya. Maduro meminta Trump fokus mengurus AS.

    Hal itu disampaikan Maduro setelah Trump memerintahkan pasukan angkatan laut AS memblokade kekayaan minyak Venezuela. Dalam pidatonya yang disiarkan televisi publik, Maduro mengatakan Trump harusnya lebih fokus mengurusi persoalan domestik AS daripada terus-menerus mengancam Caracas.

    “Presiden Trump akan lebih baik berada di negaranya dan di dunia. Dia akan lebih baik di negaranya sendiri dalam menangani masalah ekonomi dan sosial, dan dia akan lebih baik di dunia jika dia mengurusi urusan negaranya sendiri,” ujar Maduro dilansir AFP, Selasa (23/12/2025).

    Saling serang antara Maduro dan Trump ini semakin memperburuk hubungan kedua negara tersebut. Pada Senin (22/12), Trump mengatakan akan ‘bijaksana’ bagi Presiden Venezuela Nicolas Maduro untuk mundur.

    “Itu terserah dia, apa yang ingin dia lakukan. Saya pikir akan bijaksana baginya untuk melakukan itu,” kata Trump ditanya apakah ancaman Washington dirancang untuk memaksa Maduro meninggalkan jabatannya setelah 12 tahun.

    “Jika dia ingin melakukan sesuatu, jika dia bersikap keras, itu akan menjadi terakhir kalinya dia bisa bersikap keras,” sambung Trump.

    Sejak September, pasukan AS telah melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang diklaim Washington sebagai kapal penyelundup narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur. Serangan itu menyebabkan lebih dari 100 orang tewas.

    Beberapa korban disebut sebagai nelayan. Namun, AS bersikeras aksi mereka di laut dekat Venezuela itu merupakan upaya memberantas narkoba.

    Pada 16 Desember, Trump telah mengumumkan blokade terhadap ‘kapal-kapal minyak yang dikenai sanksi’ yang berlayar dari dan ke Venezuela. Trump mengklaim Caracas di bawah kepemimpinan Maduro telah menggunakan uang minyak untuk membiayai ‘terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan’.

    Dia juga menuduh Venezuela mengambil ‘semua minyak kami’. Pernyataan itu tampaknya merujuk pada nasionalisasi sektor perminyakan Venezuela.

    Trump mengatakan ‘kami menginginkannya kembali’. Pemerintah Venezuela pun berang.

    Venezuela menuduh Washington berupaya melakukan perubahan rezim. Caracas juga menuduh Washington melakukan ‘pembajakan internasional’.

    Halaman 2 dari 2

    (haf/haf)

  • Bos The Fed Jerome Powell Bakal Diganti, Siapa Kandidat Terkuat?

    Bos The Fed Jerome Powell Bakal Diganti, Siapa Kandidat Terkuat?

    Liputan6.com, Jakarta – Pencarian ketua baru Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve ((The Fed) memasuki fase penting. Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan segera menunjuk sosok pengganti Jerome Powell, yang masa jabatannya sebagai Ketua The Fed akan berakhir pada Mei 2026.

    Tugas pemimpin baru bank sentral AS ini dipastikan tidak mudah. The Fed tengah menghadapi tekanan politik yang kuat, perbedaan pandangan internal soal arah kebijakan suku bunga tersebut.

    Dikutip dari BBC, Selasa (23/12/2025), Trump secara terbuka menginginkan penurunan suku bunga demi mendorong pertumbuhan ekonomi. Tekanan ini memunculkan kekhawatiran bahwa ketua The Fed berikutnya akan sulit menjaga jarak dari kepentingan politik.

    Setelah ditunjuk, kandidat pilihan Trump masih harus mendapatkan persetujuan Senat AS.

    Lantas, Siapa Kandidat Terkuat?

    Nama Kevin Hassett disebut-sebut sebagai kandidat terkuat. Ekonom konservatif berusia 63 tahun ini dikenal sebagai penasihat ekonomi utama Trump dan saat ini memimpin Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih.Hassett pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Ekonomi pada periode pertama kepemimpinan Trump.

    Kedekatannya dengan presiden membuat pasar memandangnya sebagai pilihan paling mungkin, meski peluangnya sempat melemah sejak Desember lalu.Namun, loyalitas Hassett terhadap Trump justru menjadi sorotan. Sejumlah analis mempertanyakan kemampuannya menjaga The Fed, terutama karena ia kerap membela kebijakan ekonomi Trump dan meremehkan data yang menunjukkan pelemahan ekonomi AS.

    Ekonom Deutsche Bank menilai Hassett akan menghadapi tantangan besar untuk meyakinkan pembuat kebijakan lain agar mengabaikan risiko inflasi dan memangkas suku bunga secara agresif.Menanggapi keraguan tersebut, Hassett menegaskan independensi The Fed tetap penting. Ia menyatakan penurunan suku bunga harus didasarkan pada konsensus dan data ekonomi yang kuat.

     

  • Lebih Besar dan Kuat 100 Kali Lipat

    Lebih Besar dan Kuat 100 Kali Lipat

    JAKARTA – Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana membangun kapal perang besar baru untuk Angkatan Laut AS. Kapal perang bagian dari visi Trump untuk apa yang disebutnya menciptakan “Armada Emas.”

    “Kapal-kapal ini akan menjadi yang tercepat, terbesar, dan jauh lebih kuat, 100 kali lipat, daripada kapal perang mana pun yang pernah dibangun,” klaim Trump selama pengumuman di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida, Selasa 23 Desember, dikutip dari AP.

    Menurut Trump, alutsista tersebut akan lebih panjang dan lebih besar daripada kapal perang AS kelas Iowa era Perang Dunia II.

    Rencananya, kata dia, kapal perang itu akan dipersenjatai dengan rudal hipersonik, meriam rel, dan laser berkekuatan tinggi — semua teknologi yang masih dikembangkan oleh Angkatan Laut AS.

    Kurang lebih sebulan lalu, Angkatan Laut AS menunda rencana untuk membangun kapal perang kecil baru dengan alasan semakin membengkaknya biaya pembangunan.

    Angkatan Laut AS kemudian memutuskan untuk menggunakan versi modifikasi dari kapal patroli Penjaga Pantai AS yang diproduksi baru-baru ini.

    Angkatan Laut AS juga gagal membangun kapal-kapal rancangan baru lainnya, seperti kapal induk kelas Ford dan kapal selam kelas Columbia, tepat waktu dan sesuai anggaran.

    Secara historis, istilah kapal perang mengacu pada jenis kapal yang sangat spesifik, yakni kapal besar berlapis baja tebal yang dipersenjatai dengan meriam besar yang dirancang untuk membombardir kapal lain atau target di darat.

    Jenis kapal ini mencapai puncak kejayaannya selama Perang Dunia II, dan kapal perang AS terbesar, kelas Iowa, memiliki bobot sekitar 60.000 ton.

  • Trump Umumkan Kapal Perang ‘Kelas Trump’ Bagian dari ‘Armada Emas’

    Trump Umumkan Kapal Perang ‘Kelas Trump’ Bagian dari ‘Armada Emas’

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana ambisius Angkatan Laut Amerika Serikat untuk membangun kategori baru kapal perang yang dia sebut sebagai “kapal tempur”. Kapal ini diklaim akan bertindak sebagai tulang punggung kekuatan maritim AS di masa depan, dan mengemban nama “Golden Fleet” atau armada emas.

    Dalam pengumuman di resor Mar-a-Lago, Florida itu, Trump menyebut kapal “kelas Trump” akan menjadi “yang tercepat, terbesar, dan seratus kali lebih kuat dibandingkan kapal tempur mana pun yang pernah dibangun.” Kapal pertama dalam armada baru ini direncanakan bernama USS Defiant.

    Trump mengatakan USS Defiant berdesain lebih panjang dan lebih besar dari kapal tempur kelas Iowa era Perang Dunia II. Persenjataannya disebut mencakup rudal hipersonik, rudal jelajah nuklir, meriam rel (railgun), serta senjata laser berdaya tinggi – teknologi yang sebagian besar belum teruji dan masih dalam tahap pengembangan di Angkatan Laut AS.

    Pengumuman ini muncul hanya sebulan setelah Angkatan Laut membatalkan sebuah proyek pengembangan kapal frigat berpemandu rudal, akibat keterlambatan dan pembengkakan biaya produksi. Padahal kapal kelas Constellation itu awalnya direncanakan sebagai platform terjangkau untuk mengimbangi jumlah kapal Cina yang terus membengkak.

    Sebagai gantinya, militer AS mengumumkan desain baru kapal kombatan berbobot ringan yang dimodifikasi dari kapal patroli penjaga pantai. Sejumlah proyek utama lain, seperti kapal induk kelas Ford dan kapal selam kelas Columbia, juga mengalami masalah serupa: terlambat dan melampaui anggaran.

    Kebuntuan inovasi

    Di sisi lain, teknologi yang dijanjikan Trump belum sepenuhnya terbukti. Angkatan Laut AS, misalnya, menghabiskan ratusan juta dolar selama lebih dari 15 tahun untuk mengembangkan railgun, sebelum akhirnya menghentikan proyek tersebut di tengah jalan pada 2021. Teknologi laser memang mulai dipasang di beberapa kapal, namun penggunaannya masih terbatas. Sistem laser untuk melumpuhkan sensor drone baru terpasang di delapan kapal perusak, itupun setelah melalui delapan tahun masa pengembangan.

    Pengembangan dan penempatan rudal jelajah nuklir di atas kapal laut juga berpotensi melanggar perjanjian nonproliferasi yang telah ditandatangani Amerika Serikat bersama Rusia.

    Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Associated Press bahwa tahap perancangan kapal sudah dimulai, dengan konstruksi direncanakan pada awal 2030-an.

    Kapal tempur terbesar AS, kelas Iowa, berbobot sekitar 60 ribu ton. Meski dimodernisasi pada 1980-an dengan rudal jelajah dan radar modern, seluruh kapal kelas ini dipensiunkan pada dekade 1990-an.

    Menurut situs resmi “Golden Fleet” yang baru diluncurkan, kapal tempur berpemandu rudal ini akan berukuran mendekati kelas Iowa, namun hanya berbobot sekitar 35 ribu ton dan diawaki 650 – 850 pelaut. Senjata utamanya adalah rudal, bukan meriam besar.

    Binar imperial

    Trump dikenal vokal dalam menyuarakan arah pengembangan armada laut. Pada masa jabatan pertamanya, dia sempat mendorong kembalinya ketapel bertenaga uap di kapal induk, menggantikan sistem elektromagnetik modern — gagasan yang akhirnya ditolak Angkatan Laut. Dia juga kerap mengkritik tampilan kapal perusak dan kondisi kapal yang berkarat.

    Phelan mengungkapkan kepada Senat bahwa Trump sering mengirim pesan larut malam, mempertanyakan kapal yang berkarat atau mangkrak di galangan. Pada kunjungan ke galangan kapal proyek fregat kelas Constellation yang kini dibatalkan, Trump bahkan mengklaim mengubah desain kapal tersebut.

    “Saya melihatnya dan bilang, ‘Ini kapal yang jelek, mari kita buat indah,’” kata Trump kala itu.

    Trump menegaskan akan kembali terlibat langsung dalam desain kapal baru ini. “Angkatan Laut AS akan memimpin desain kapal-kapal ini bersama saya, karena saya orang yang sangat estetis,” ujarnya.

    Phelan mengatakan USS Defiant diharapkan “membangkitkan rasa kagum dan penghormatan terhadap bendera Amerika setiap kali berlabuh di pelabuhan asing.”

    Editor: Yuniman Farid

    (ita/ita)