Tag: Donald Trump

  • Perjalanan TikTok, dari Sempat Diblokir di Indonesia hingga Batal Tutup di AS

    Perjalanan TikTok, dari Sempat Diblokir di Indonesia hingga Batal Tutup di AS

    Bisnis.com, JAKARTA— TikTok melewati perjalanan panjang sejak diluncurkan, mulai dari sempat diblokir di Indonesia pada 2018 hingga terancam ditutup di Amerika Serikat (AS)

    Kini aplikasi tersebut batal dilarang di AS setelah pemerintah setempat mencapai kesepakatan dengan investor lokal yang akan mengambil alih kepemilikan.

    Melansir laman Reuters pada Rabu (17/9/2025) TikTok dikembangkan oleh ByteDance, perusahaan asal China yang didirikan Zhang Yiming pada 2012. Versi awalnya bernama Douyin, yang diluncurkan di pasar domestik pada 2016, sebelum hadir secara global setahun kemudian. 

    Pada 2018, ByteDance mengakuisisi aplikasi asal AS, Flipgram, serta aplikasi lip-sync populer Musical.ly. Integrasi dengan Musical.ly mendorong TikTok meluas ke pasar internasional, termasuk Indonesia. 

    Namun pada tahun yang sama, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sempat memblokir TikTok karena dianggap memuat konten pornografi, penistaan agama, serta konten negatif lainnya. 

    Larangan itu hanya bertahan sepekan, setelah TikTok berkomitmen menghapus konten bermasalah dan membuka kantor perwakilan di Jakarta.

    Popularitas TikTok kemudian terus meningkat. Pada 2019, unduhan globalnya sudah menembus 1 miliar kali dan setahun kemudian melonjak menjadi 2 miliar. Namun, seiring pertumbuhan tersebut, aplikasi ini mulai mendapat pengawasan ketat di sejumlah negara.

    India misalnya, melarang TikTok pada 2020 dengan alasan keamanan nasional setelah bentrokan di perbatasan dengan China.  Kemudian Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Donald Trump juga menaruh perhatian besar, dengan kekhawatiran data pengguna bisa diakses oleh pemerintah Beijing. 

    Pada Agustus 2020, Trump bahkan menandatangani perintah eksekutif yang melarang transaksi dengan ByteDance, sembari mendesak agar operasi TikTok di AS dialihkan ke pemilik lokal.

    Sejumlah perusahaan besar, termasuk Microsoft dan Oracle, sempat masuk dalam pembicaraan untuk membeli bisnis TikTok di AS. Meski negosiasi berlarut-larut, ByteDance berhasil mempertahankan operasional aplikasi tersebut, sambil menghadapi berbagai tuntutan hukum dan investigasi terkait perlindungan data anak-anak.

    Pada periode berikutnya, tekanan terhadap TikTok kian kuat. Pemerintahan Joe Biden pada 2024 menandatangani undang-undang yang mewajibkan ByteDance menjual aset TikTok di AS paling lambat Januari 2025, atau aplikasi itu akan dilarang dari toko aplikasi maupun layanan internet di Negeri Paman Sam. 

    TikTok sempat hilang dari App Store dan Google Play di AS pada Januari 2025, namun sehari kemudian kembali aktif setelah Trump yang terpilih kembali sebagai Presiden menyatakan akan memberi jalan keluar bagi aplikasi tersebut.

    Sejak itu, tenggat penjualan berulang kali diperpanjang hingga akhirnya pada pertengahan September 2025, pemerintah AS dan China mencapai kesepakatan awal dalam perundingan di Madrid. 

    Kedua negara sepakat untuk mengalihkan kepemilikan TikTok di AS ke investor lokal, yang akan diumumkan resmi setelah Trump dan Presiden China Xi Jinping berbicara langsung. 

    Trump kemudian menegaskan TikTok tidak akan ditutup di Amerika Serikat, dan tenggat penjualan diperpanjang hingga 16 Desember 2025. Memiliki sekitar 170 juta pengguna di AS, TikTok sejauh ini berhasil terhindar dari ancaman penutupan.

  • Trump Bilang AS Musnahkan 3 Kapal Narkoba dari Venezuela

    Trump Bilang AS Musnahkan 3 Kapal Narkoba dari Venezuela

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan negaranya telah “mengeliminasi” total tiga kapal dari Venezuela, yang diduga mengangkut narkoba. Hal ini disampaikan sehari setelah dia mengumumkan serangan mematikan kedua AS terhadap terduga pengedar narkoba di kawasan Karibia.

    “Kami sebenarnya telah mengeliminasi tiga kapal, bukan dua kapal, tetapi Anda melihat dua,” ungkap Trump saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih sebelum terbang ke Inggris, seperti dilansir AFP, Rabu (17/9/2025).

    Trump tidak menjelaskan lebih lanjut soal apa yang terjadi dengan kapal ketiga, atau apakah ada korban jiwa lainnya.

    Pada Senin (15/9) malam, Trump mengumumkan bahwa pasukan militer AS telah menyerang kapal kedua di perairan internasional, hingga menewaskan tiga orang yang dia sebut sebagai “narkoteroris”.

    Pemerintahan Trump menghadapi serangkaian pertanyaan mengenai dasar hukum untuk serangan semacam itu, sejak serangan pertama dilancarkan pada awal bulan ini, yang disebut telah menewaskan 11 orang yang diklaim sebagai anggota geng Venezuela, Tren de Aragua.

    Washington telah merilis video dari dua serangan yang diumumkan tersebut, dan mengklaim mereka memiliki bukti tak terbantahkan bahwa orang-orang yang tewas merupakan para pengedar yang berupaya menyelundupkan narkoba mematikan ke wilayah AS.

    Akan tetapi, otoritas AS belum memberikan bukti lebih lanjut untuk mendukung klaim tersebut. Diketahui bahwa perdagangan narkoba bukanlah pelanggaran hukum yang bisa dihukum mati, menurut aturan hukum yang berlaku di AS.

    Serangan-serangan AS itu dilancarkan saat ketegangan di kawasan Karibia semakin meningkat karena penambahan kekuatan Angkatan Laut AS secara besar-besaran yang memicu spekulasi bahwa Washington mungkin sedang mengupayakan pergantian rezim di Caracas.

    AS menuduh Presiden Venezuela Nicolas Maduro memimpin kartel perdagangan kokain, dan baru-baru ini menggandakan tawaran hadiah untuk penangkapan Maduro menjadi US$ 50 juta atau setara Rp 821 miliar.

    Sebagian besar komunitas internasional menolak terpilihnya kembali Maduro dalam pemilu Juli 2024 lalu, sedangkan kubu oposisi mengklaim adanya kecurangan yang meluas.

    Saat ditanya oleh wartawan soal pesan apa yang ingin dia sampaikan kepada Maduro, Trump mengatakan: “Hentikan pengiriman narkoba ke Amerika Serikat.”

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • China Kumpulkan Sekutunya, Bentuk Tatanan Global Saingi AS

    China Kumpulkan Sekutunya, Bentuk Tatanan Global Saingi AS

    Beijing

    Forum Xiangshan adalah pertemuan keamanan internasional tahunan pertama di Beijing, yang digelar sejak dimulainya masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Acara ini menjadi bagian dari rencana China untuk memperkuat proyeksi kekuatan barunya dalam “menegakkan tatanan internasional.”

    Forum yang digelar pada 17–19 September 2025 tersebut, secara luas dianggap sebagai respons China atas Dialog Shangri-La, sebuah forum keamanan tahunan bergengsi di Asia yang digelar di Singapura. Dialog Shangri-La biasanya dihadiri pejabat setingkat menteri dari negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya.

    “AS lebih suka Dialog Shangri-La. China lebih suka Forum Xiangshan,” kata Raymond Kuo, seorang pakar politik senior yang fokus dalam topik Asia Timur di lembaga penelitian RAND, AS. “Preferensi itu terlihat dari siapa yang mereka kirim.”

    Pada Forum Xiangshan tahun 2025 ini, Amerika Serikat hanya mengirim atase pertahanan dari kedutaannya di Beijing. Perwakilan ini merupakan tingkat delegasi yang lebih rendah dibanding tahun 2024, ketika pemerintahan Trump mengirim wakil asisten menteri pertahanan.

    Pada Juni 2025, Menteri Pertahanan China Dong Jun absen dari Dialog Shangri-La. Ini merupakan kali pertama sejak tahun 2019, pejabat pertahanan tertinggi Beijing tidak hadir di forum tersebut.

    Kepada DW, Raymond Kuo mengatakan bahwa China melakukan semacam “forum shopping”, berupaya menciptakan sistem terpisah dan mengajak negara lain untuk bergabung.

    Level pejabat yang dikirim AS dan China ke forum-forum tersebut, kata Raymond Kuo, menunjukkan seberapa penting negara-negara lain menilai forum itu, di tengah meningkatnya rivalitas dua ekonomi terbesar dunia ini.

    Niat China bentuk tatanan global alternatif

    Menurut kantor berita Xinhua, sekitar 1.800 perwakilan dari 100 negara, termasuk pejabat, militer, dan akademisi hadir dalam Forum Xiangshan 2025.

    Topik utama dalam agenda resmi mencakup soal “tata kelola keamanan global, kerja sama keamanan Asia-Pasifik, menjaga tatanan internasional pascaperang, dan pembangunan perdamaian regional.”

    Narasi tersebut sejalan dengan upaya Beijing untuk memperluas pengaruhnya lewat sejumlah ajang internasional belakangan ini, yang digelar di wilayah China, termasuk Konferensi Tingkat Tinggi Shanghai Cooperation Organization (KTT SCO) dan parade militer besar pada awal September 2025 ini.

    Di KTT SCO awal September 2025, Presiden Xi Jinping bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi, sebelum kemudian menjamu Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam parade militer. Tampilnya kerja sama keamanan antara China dan sekutu utamanya diperkirakan juga akan terlihat di Forum Xiangshan.

    “Xi Jinping akan menekankan persatuan dengan Rusia, Korea Utara, dan mungkin Iran untuk menyampaikan pesan bahwa ada kelompok yang mampu melawan pengaruh global AS,” kata Elizabeth Freund Larus, seorang peneliti senior di Pacific Council.

    Cari dukungan “Global South” dan contohkan India

    Narasi Beijing soal tatanan dunia baru utamanya ditujukan ke negara-negara Selatan, seperti Vietnam, Malaysia, Brasil, dan Nigeria. Negara-negara tersebut mengirim perwakilan pertahanan dengan jabatan lebih tinggi ke Forum Xiangshan.

    Raymond Kuo mengatakan Xi Jinping berusaha menampilkan citra China sebagai “mediator yang dapat dipercaya” untuk negara-negara Selatan dan menjadikan hubungannya dengan India sebagai contoh.

    Terlepas dari hubungan China dan India yang memburuk sejak bentrokan perbatasan mematikan pada 2020, pertemuan Modi dengan Xi Jinping di KTT SCO awal September 2025 ini bisa menguntungkan Beijing.

    “Pada titik tertentu, China sudah mengatakan: ‘Ya, kita mungkin punya perbedaan, bahkan konflik wilayah, tetapi kita tetap bisa menangani dan menyelesaikan isu keamanan regional lebih baik daripada Amerika Serikat’,” papar Raymon Kuo.

    Namun, meski menekankan multilateralisme, para pengamat menilai China masih lebih menyukai perjanjian bilateral dengan negara-negara Selatan. China, kata Raymond Kuo, mungkin akan meluncurkan inisiatif atau memberi rincian proposal dari KTT SCO, tetapi kesepakatan nyata tampaknya terbilang kecil.

    Rivalitas AS-China di Asia

    Forum Xiangshan juga memberi gambaran tentang cara AS dan China dalam menjalankan diplomasi militer di masa depan.

    Menurut Freund Larus, pilihan delegasi AS “menunjukkan bahwa diskusi sebenarnya terjadi lewat jalur belakang, bukan di depan kamera.”

    Menjelang Forum Xiangshan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara lewat telepon dengan Menteri Pertahanan China Dong Jun. Mereka menekankan pentingnya menjaga saluran komunikasi militer terbuka dan menegaskan kepentingan nasional masing-masing.

    Dalam percakapan itu, Dong Jun memperingatkan bahwa “upaya penahanan atau pencegahan terhadap China tidak akan berhasil”, serta menentang campur tangan AS di Laut China Selatan dan Taiwan, sebuah negara demokrasi yang punya pemerintahan sendiri tapi diklaim Beijing sebagai wilayahnya.

    Pete Hegseth menegaskan kalau AS “tidak mencari konflik dengan China”, tetapi menekankan bahwa negaranya memiliki “kepentingan strategis di Asia-Pasifik.”

    “Jika ada dialog bilateral dengan Beijing, Washington tidak merasa perlu masuk ke China untuk melakukannya,” kata Ying-Yu Lin, seorang profesor di Universitas Tamkang, Taiwan.

    Pada September 2025, kapal induk terbaru China, Fujian, terlihat melintas di Selat Taiwan menuju Laut China Selatan. Mobilisasi ini kemudian disebut Beijing sebagai “bagian dari latihan penelitian dan pelatihan.”

    Sementara itu, AS dan Jepang menggelar latihan militer bersama, termasuk pengerahan sistem rudal jarak menengah, Typhon, di Jepang. Kemudian, latihan militer ini dikritik China dan Rusia karena dianggap meningkatkan ketegangan militer di kawasan tersebut.

    Para pengamat memperkirakan Beijing akan terus menggunakan forum seperti ini untuk mempromosikan narasi perdamaian, mulai dari perang Ukraina hingga Laut China Selatan dan Taiwan.

    “Ini garis narasi yang sama yang terus digunakan pejabat China,” kata Larus. “Jangan berharap ada terobosan di sini.”

    Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh: Muhammad Hanafi

    Editor: Tezar Aditya

    (nvc/nvc)

  • Trump Mulai Kunjungan Bersejarah di Inggris, Akan Bertemu Raja Charles

    Trump Mulai Kunjungan Bersejarah di Inggris, Akan Bertemu Raja Charles

    London

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba di Inggris pada Selasa (16/9) untuk kunjungan kenegaraan yang bersejarah. Trump menjadi Presiden AS pertama yang diundang untuk dua kunjungan kenegaraan ke Inggris.

    Inggris memberikan sambutan karpet merah kerajaan untuk memikat sang Presiden AS tersebut.

    Trump, seperti dilansir AFP, Rabu (17/9/2025), menjadi Presiden AS yang pertama diundang untuk dua kunjungan kenegaraan, setelah sebelumnya dijamu oleh Ratu Elizabeth II pada akhir masa jabatan pertamanya tahun 2019 lalu — seiring upaya Inggris untuk menjaga hubungan istimewa tersebut tetap terjalin.

    “Banyak hal di sini yang menghangatkan hati saya. Ini tempat yang sangat istimewa,” kata Trump kepada wartawan setelah tiba di London bersama Ibu Negara AS Melania Trump, pada Selasa (16/9) waktu setempat.

    Raja Charles III akan menjamu Trump di Kastil Windsor untuk jamuan mewah dan perjalanan dengan kereta kuda pada Rabu (17/9) waktu setempat, sebelum sang Presiden AS ini bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Keir Starmer di kediamannya di area pedesaan Inggris pada Kamis (18/9) mendatang.

    Sebagai tanda kemegahan dalam sambutan Inggris untuk Trump, barisan kehormatan menyambut Trump dan istrinya saat mereka turun dari pesawat kepresidenan Air Force One di Bandara Stansted di dekat London.

    Trump kemudian mengungkapkan kekagumannya pada sang Raja Inggris.

    “Dia sudah sejak lama menjadi teman saya, dan semua orang menghormatinya, dan mereka mencintainya,” kata Trump saat tiba dengan helikopter di Winfield House, kediaman Duta Besar AS di London, yang menjadi tempatnya bermalam.

    “Besok akan menjadi hari yang sangat penting,” sebutnya.

    Kunjungan Trump ini sebagian besar akan digelar secara tertutup dengan pengamanan ketat.

    Di Kastil Windsor pada Rabu (16/9), Trump akan mendapatkan kesempatan naik kereta kuda seremonial dan menyaksikan pertunjukan udara oleh jet-jet tempur Inggris bersama AS, dalam apa yang disebut para pejabat sebagai pertunjukan militer terbesar untuk kunjungan kenegaraan yang pernah ada.

    Malam harinya, Raja Charles akan menjamu Trump dalam jamuan makan malam kenegaraan yang mewah, di mana keduanya akan menyampaikan pidato.

    Pertemuan dengan PM Starmer akan digelar pada Kamis (17/9) di kediamannya di area pinggiran Chequers, dengan pembicaraan kedua pemimpin akan berfokus pada isu perdagangan dan perang Ukraina juga perang Gaza.

    Kunjungan ini dijadwalkan bertepatan dengan pengumuman beberapa investasi di Inggris — yang terbaru adalah janji Microsoft untuk menggelontorkan dana sebesar US$ 30 miliar selama empat tahun.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Israel Lancarkan Serangan Darat-Udara ke Gaza, Ini Respons PBB

    Israel Lancarkan Serangan Darat-Udara ke Gaza, Ini Respons PBB

    Sekjen PBB Antonio Guterres menyebut penghancuran sistematis sedang berlangsung di Gaza pada Selasa (16/9). Ia mengatakan kondisi di Gaza saat ini sangat mengerikan. Diketahui, Israel tengah melancarkan serangan darat di Gaza hari ini.

    Guterres mengatakan serangan Israel tidak dapat ditoleransi secara moral, politik, dan hukum. Ia juga mengatakan siap bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump di PBB minggu depan

  • Menhan Israel Usai IDF Luncurkan Serangan Darat: Gaza Terbakar!

    Menhan Israel Usai IDF Luncurkan Serangan Darat: Gaza Terbakar!

    Jakarta

    Militer Israel melancarkan serangan darat ke wilayah Gaza. Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, mengatakan kondisi Gaza saat ini terbakar.

    “Gaza terbakar,” tulis Katz di X sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (17/9/2025).

    Seorang pejabat pasukan pertahanan Israel (IDF) mengatakan pasukan darat bergerak lebih jauh ke dalam kota utama. Jumlah tentara juga akan terus semakin meningkat dalam beberapa hari.

    IDF menyerang sejumlah infrastruktur di Gaza. Dia juga terus melancarkan serangan dengan harapan warganya yang kini menjadi sandera dibebaskan dan Hamas kalah.

    Dalam melancarkan serangan tersebut, pemerintah Israel menentang para pemimpin Eropa yang mengancam akan menjatuhkan sanksi dan bahkan memperingatkan beberapa komandan militer Israel sendiri yang menyatakan serangan itu bisa menjadi kesalahan yang besar.

    Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga menyatakan dia berpihak pada Israel. Trump bahkan mengatakan Hamas akan “bertanggung jawab” jika menggunakan sandera sebagai perisai manusia selama serangan tersebut.

    Sebelumnya diberitakan serangan Israel pada Selasa (16/9) menewaskan setidaknya 91 orang di Gaza. Otoritas kesehatan mengatakan salah satu bom Israel mengenai kendaraan yang membawa orang-orang yang hendak mengamankan diri.

    Kemudian ada 17 bangunan di Gaza hancur. Bangunan yang hancur itu termasuk Masjid Aybaki di lingkungan Tuffah yang menjadi sasaran pesawat tempur Israel.

    Selain bom yang menghujani Gaza, tentara Israel juga terus menghancurkan wilayah Gaza di utara, selatan, dan timur, dengan robot-robot bermuatan bahan peledak.

    (zap/yld)

  • Pembunuh Charlie Kirk Terancam Hukuman Mati

    Pembunuh Charlie Kirk Terancam Hukuman Mati

    Jakarta

    Pembunuh Charlie Kirk, Tyler Robinson, didakwa dengan tujuh dakwaan sekaligus. Jaksa mengatakan akan menuntut hukuman mati kepada Tyler.

    Dilansir Reuters, Rabu (17/9/2025), jaksa wilayah Utah, Jeffrey Gray, mengatakan pihaknya telah mengajukan tujuh dakwaan terhadap Robinson. Salah satu dakwaannya yakni pembunuhan berat, menghalangi keadilan karena menghilangkan barang bukti, hingga manipulasi saksi, karena Robinson meminta teman sekamarnya menghapus pesan teks terkait dirinya.

    Gray mengatakan ia telah membuat keputusan untuk menjatuhkan tuntutan hukuman mati. Diketahui, sejumlah politikus bahkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump juga menyerukan hukuman mati dalam kasus ini.

    Sidang perdana Robinson digelar pada Selasa (17/9) sore waktu setempat. Saat mengikuti sidang Robinson terlihat duduk tanpa ekspresi tetapi terlihat sedang mendengarkan pembacaan dakwaan secara seksama.

    Robinson hanya diam selama persidangan. Dia hanya satu kali mengeluarkan suara ketika diminta menyebut namanya.

    Pada sidang perdana, Robinson belum didampingi pengacara. Hakim Pengadilan Distrik Utah, Tony Graf, mengatakan dia akan menunjuk seorang pengacara untuk membela pelaku penembakan influencer konservatif Amerika Serikat (AS) itu sebelum sidang berikutnya yang dijadwalkan pada Senin (29/9) mendatang.

    Simak Video ‘Jaksa Akan Tuntut Hukuman Mati untuk Pembunuh Charlie Kirk’:

    (zap/yld)

  • Trump Perpanjang Tunda Blokir TikTok di AS hingga Pertengahan Desember

    Trump Perpanjang Tunda Blokir TikTok di AS hingga Pertengahan Desember

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang penundaan pemberlakuan larangan terhadap TikTok hingga 16 Desember. Hal itu menandai penundaan keempat dari undang-undang yang dirancang untuk memaksa penjualan aplikasi tersebut dari pemiliknya di China.

    Dilansir kantor berita AFP, Rabu (17/9/2025), pengumuman tersebut, yang dibuat melalui perintah eksekutif, terjadi meskipun Trump mengatakan kepada wartawan sebelumnya bahwa Amerika Serikat dan China telah mencapai kesepakatan mengenai struktur kepemilikan baru untuk bisnis AS dari aplikasi berbagi video yang sangat populer tersebut.

    Perpanjangan ini menyusul penundaan sebelumnya yang dikeluarkan pada bulan Januari, April, dan Juni saat pemerintah menavigasi implikasi hukum dan keamanan nasional yang rumit seputar operasi TikTok di Amerika Serikat.

    Penundaan terbaru ditetapkan berakhir pada hari Rabu, yang akan memungkinkan undang-undang AS yang ditandatangani pada tahun 2024 oleh Presiden saat itu Joe Biden untuk memaksa penutupan TikTok di Amerika Serikat karena kepemilikannya di Tiongkok.

    Undang-undang tersebut dirancang untuk mengatasi masalah keamanan nasional atas perusahaan induk TikTok di Tiongkok, ByteDance, dan potensi hubungannya dengan pemerintah Tiongkok.

    Namun Trump, yang kampanye pemilihannya tahun 2024 sangat bergantung pada media sosial dan mengatakan ia menyukai TikTok, menunda larangan tersebut.

    (whn/whn)

  • Panas! Trump Masukkan Sekutunya ke Daftar Negara Gagal Perangi Narkoba

    Panas! Trump Masukkan Sekutunya ke Daftar Negara Gagal Perangi Narkoba

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi memasukkan Kolombia ke dalam daftar negara yang gagal memenuhi kewajiban pemberantasan narkoba. Langkah ini untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun menempatkan sekutu utama Washington di Amerika Selatan dalam posisi diplomatik yang sulit.

    “Di bawah kepemimpinan Petro yang keliru, budidaya koka dan produksi kokain di Kolombia telah meningkat ke tingkat yang bersejarah,” tulis Departemen Luar Negeri AS dalam unggahan di X, seperti dikutip Newsweek, Rabu (17/9/2025).

    Washington menegaskan, meski Trump mengeluarkan keringanan agar kerja sama penting tetap berjalan, pemerintahan Gustavo Petro telah gagal menegakkan komitmen pengendalian narkoba.

    Sebaliknya, Petro menolak tudingan tersebut. Ia menuding otoritas AS menyebarkan informasi yang salah dengan menyalahkan pemerintahannya.

    “Budidaya koka telah berkembang pesat selama pemerintahan Duque, dan dengan fumigasi paksa. Kebijakan AS-lah yang telah gagal,” kata Petro dalam unggahan di X.

    Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mencatat, lahan koka di Kolombia naik 10% tahun lalu hingga mencapai luas terbesar dalam dua dekade. Petro menekankan bahwa akar persoalan ada pada permintaan kokain di Barat.

    “Untuk mengurangi budidaya daun koka, yang dibutuhkan bukan glifosat dari pesawat, melainkan penurunan permintaan kokain, terutama di AS dan Eropa,” ujarnya.

    Langkah Trump ini kian memperburuk hubungan dengan Bogotá, yang belakangan menolak sejumlah kebijakan antinarkoba AS. Pada Januari lalu, Petro sempat menolak pesawat militer AS yang membawa deportan Kolombia untuk mendarat, sebelum akhirnya mundur setelah Trump mengancam dengan tarif dan pembatasan visa.

    Washington terakhir kali menempatkan Kolombia dalam daftar “desertifikasi” pada 1997. Kebijakan tersebut kini kembali menuai kritik. Kantor Washington untuk Amerika Latin (WOLA) menyebut praktik itu sebagai “alat kebijakan luar negeri yang kuno, tumpul, dan kontraproduktif yang seharusnya tidak ada lagi.”

    (tfa/tfa)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Donald Trump dan Xi Jinping Tentukan Nasib China Minggu Ini

    Donald Trump dan Xi Jinping Tentukan Nasib China Minggu Ini

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan berbicara pada Jumat (19/9) untuk membahas kesepakatan terkait masa depan platform media sosial TikTok. Pertemuan ini menjadi penentu nasib aplikasi populer tersebut di pasar AS.

    Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua pihak sudah mencapai kesepakatan kerangka (framework deal).

    “Ini antara dua pihak swasta, tetapi syarat komersial sudah disepakati,” ujarnya dari pertemuan AS-China di Madrid, dikutip dari CNBC Internasional, Selasa (16/9/2025).

    Bessent mengungkap, kesepakatan tersebut berpotensi mengalihkan kepemilikan TikTok ke entitas yang dikendalikan AS.

    Kepala negosiator perdagangan China, Li Chenggang, juga mengonfirmasi adanya kesepakatan dan menegaskan AS sebaiknya tidak terus menekan perusahaan China.

    TikTok, yang dimiliki ByteDance, menghadapi tenggat waktu 17 September untuk melepas bisnisnya di AS atau berisiko ditutup. Meski demikian, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyebut tenggat waktu itu kemungkinan diperpanjang singkat untuk memfinalisasi kesepakatan, namun tidak akan ada perpanjangan berulang.

    Sebelumnya, Kongres AS melarang operator toko aplikasi seperti Apple dan Google mendistribusikan TikTok karena dianggap sebagai “aplikasi yang dikendalikan musuh asing.”

    Namun, Trump menunda penutupan aplikasi itu pada Januari dengan menandatangani perintah eksekutif yang memberi ByteDance tambahan waktu 75 hari untuk mencapai kesepakatan. Perpanjangan berikutnya datang melalui perintah eksekutif pada April dan Juni.

    Beberapa nama besar dikaitkan dengan rencana akuisisi TikTok di AS, seperti Chairman Oracle Larry Ellison, CEO Tesla Elon Musk, hingga startup AI Perplexity. Trump sendiri menyebut ada “orang-orang sangat kaya” yang siap membeli aplikasi tersebut.

    Trump sebelumnya menyatakan TikTok merupakan ancaman bagi keamanan nasional. Namun, Gedung Putih malah membuka akun TikTok resmi pada Agustus lalu.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]