Tag: Donald Trump

  • Warga Gaza Rayakan Kesepakatan Damai Hamas-Israel: Allahu Akbar!

    Warga Gaza Rayakan Kesepakatan Damai Hamas-Israel: Allahu Akbar!

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan Hamas dan Israel telah menyepakati proposal perdamaian di Gaza. Warga Gaza merayakan kesepakatan damai itu.

    Dilansir BBC, Kamis (9/10/2025), berdasarkan video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga Palestina di Gaza merayakan berita gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera.

    Dalam rekaman yang diunggah di Instagram oleh jurnalis Palestina Saeed Mohamed menunjukkan kerumunan besar pria dan wanita menari mengikuti musik. Mereka juga terlihat bersiul, bertepuk tangan, dan meneriakkan “Allahu Akbar” di luar rumah sakit al-Aqsa, di pusat kota Deir al-Balah.

    Video lain oleh jurnalis Mohammed al-Haddad menunjukkan sekelompok kecil pemuda menari di jalan di tempat lain di Gaza.

    Sebelumnya, Donald Trump mengumumkan Israel dan Hamas telah menyepakati proposal perdamaian tahap pertama di Gaza. Kedua pihak telah menandatangani perjanjian perdamaian di Gaza tahap satu.

    “Saya sangat bangga mengumumkan bahwa Israel dan Hamas telah menandatangani Tahap pertama Rencana Perdamaian kami,” kata Trump di jejaring sosial Truth Social miliknya dilansir AFP, Kamis (9/10).

    Hamas juga mengatakan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan yang mengakhiri perang di Gaza dalam negosiasi tidak langsung dengan Israel di Mesir. Hamas siap melakukan pertukaran tahanan dengan Israel.

    Kelompok militan Palestina tersebut mengatakan “telah mencapai kesepakatan yang mengakhiri perang di Gaza, penarikan pendudukan, masuknya bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tahanan”.

    Hamas juga mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memaksa Israel sepenuhnya mengimplementasikan perjanjian tersebut dan “tidak membiarkannya mengelak atau menunda-nunda implementasi dari apa yang telah disepakati”.

    (lir/yld)

  • Kita Telah Mencapai Kesepakatan Akhiri Perang di Gaza

    Kita Telah Mencapai Kesepakatan Akhiri Perang di Gaza

    Jakarta

    Hamas mengumumkan bahwa mereka telah mencapai kesepakatan yang mengakhiri perang di Gaza dalam negosiasi tidak langsung dengan Israel di Mesir. Hamas siap melakukan pertukaran tahanan dengan Israel.

    Dilansir AFP, Kamis (9/10/2025), kelompok militan Palestina tersebut mengatakan “telah mencapai kesepakatan yang mengakhiri perang di Gaza, penarikan pendudukan, masuknya bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tahanan”.

    Hamas juga mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memaksa Israel sepenuhnya mengimplementasikan perjanjian tersebut dan “tidak membiarkannya mengelak atau menunda-nunda implementasi dari apa yang telah disepakati”.

    Hamas mengatakan sandera dan tahanan Palestina akan dipertukarkan dalam waktu 72 jam setelah kesepakatan diimplementasikan. Hamas menyebut warga Israel yang disandera akan ditukar dengan hampir 2.000 tahanan Palestina.

    Sebelumnya, Donald Trump mengumumkan Israel dan Hamas telah menyepakati proposal perdamaian di Gaza. Kedua pihak telah menandatangani perjanjian perdamaian di Gaza tahap satu.

    Trump mengatakan kesepakatan tahap satu itu menandakan semua sandera akan dibebaskan. Dia juga menyebut pasukan Israel akan ditarik dari Gaza ke wilayah yang telah disepakati.

    (lir/lir)

  • Harapan Perdamaian Gaza, Ternyata Ini yang Diminta Hamas ke Israel

    Harapan Perdamaian Gaza, Ternyata Ini yang Diminta Hamas ke Israel

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pembicaraan tidak langsung mengenai kesepakatan damai antara Israel dan Hamas di Mesir kembali menemui titik krusial. Kelompok militan Palestina, Hamas, menuntut jaminan tegas bahwa Israel akan mengakhiri perang di Gaza secara total dan menarik seluruh pasukannya dari wilayah tersebut sebagai syarat utama untuk mencapai kesepakatan.

    Tuntutan ini muncul di tengah kelanjutan serangan militer Israel di Jalur Gaza, bahkan saat perundingan yang dimediasi oleh Amerika Serikat dan Qatar, mencapai hari kedua di Sharm el-Sheikh, Mesir, pada Selasa (7/10/2025).

    Seorang pejabat senior Hamas mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kelompok itu berencana melepaskan tawanan secara bertahap. Namun, pembebasan tawanan terakhir harus berbarengan dengan penarikan final militer Israel dari Gaza. Juru runding utama Hamas, Khalil al-Hayya, mengungkapkan ketidakpercayaan kelompoknya terhadap Israel.

    “Kami tidak mempercayai pendudukan [Israel], bahkan sedetik pun,” kata Al-Hayya, menegaskan bahwa Hamas menginginkan “jaminan nyata” bahwa perang akan berakhir dan tidak akan dimulai kembali, menuduh Israel telah melanggar dua gencatan senjata sebelumnya.

    Syarat ini merespons rancangan rencana 20 poin yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang salah satu permintaannya adalah perlucutan senjata faksi Palestina. Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya secara tegas menolak untuk menyerahkan senjata mereka.

    Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merilis pernyataan yang menandai dua tahun sejak dimulainya konflik, menyebut periode tersebut sebagai “perang demi keberadaan dan masa depan kita.”

    Tanpa merujuk langsung pada perundingan gencatan senjata, Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan “terus bertindak untuk mencapai semua tujuan perang: pemulangan semua sandera, penghapusan kekuasaan Hamas, dan memastikan bahwa Gaza tidak lagi menimbulkan ancaman bagi Israel.”

    Meski pembicaraan damai terus berjalan, serangan Israel di Gaza tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Dikutip dari kantor berita Palestina Wafa, pada hari Selasa, drone dan jet tempur Israel menyerang wilayah Sabra dan Tal al-Hawa di Kota Gaza, serta kamp Shati di dekatnya. Sedikitnya 10 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan pada hari itu.

    Menurut pemantau konflik yang berbasis di AS, ACLED, Gaza telah mengalami lebih dari 11.110 serangan udara dan drone, serta sedikitnya 6.250 serangan artileri dan penembakan selama dua tahun perang. Jumlah korban tewas warga Gaza telah mencapai lebih dari 66.600 jiwa.

    Sementara itu, meskipun masih terdapat tanda-tanda perbedaan pendapat, perundingan tersebut tampaknya menjadi tanda kemajuan paling menjanjikan dalam upaya mengakhiri perang, dengan Israel dan Hamas sama-sama mendukung banyak bagian dari rencana Trump.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, mengatakan para mediator, Qatar, Mesir, dan Turki, tetap fleksibel dan mengembangkan gagasan seiring berjalannya perundingan gencatan senjata.

    “Kami tidak berpegang pada prasangka dalam negosiasi. Kami mengembangkan formulasi ini selama perundingan itu sendiri, yang sedang berlangsung saat ini,” ujarnya.

    Al Ansari mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, akan bergabung dengan mediator lain, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner dari AS, pada hari Rabu di Mesir.

    “Partisipasi perdana menteri Qatar tersebut menegaskan tekad para mediator untuk mencapai kesepakatan yang mengakhiri perang,” tambah Al Ansari.

    (tps/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Erdogan Bilang Trump Minta Turki Bujuk Hamas Soal Perdamaian Gaza

    Erdogan Bilang Trump Minta Turki Bujuk Hamas Soal Perdamaian Gaza

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Turki untuk “membujuk” kelompok Hamas agar menerima rencananya untuk mengakhiri perang Gaza. Demikian disampaikan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam transkrip yang dibagikan oleh kantornya pada hari Rabu (8/10/2025).

    Dilansir kantor berita AFP, Rabu (8/10/2025), pernyataan tersebut muncul seiring para negosiator dari Israel dan Hamas dijadwalkan untuk mengadakan hari ketiga negosiasi tidak langsung di kota resor Sharm El-Sheikh, Mesir, yang bertujuan untuk menghentikan perang Gaza, bersama para pejabat senior dari Qatar, Turki, dan AS.

    “Baik selama kunjungan kami ke Amerika Serikat maupun dalam panggilan telepon terakhir kami, kami menjelaskan kepada Trump bagaimana solusi dapat dicapai di Palestina. Beliau secara khusus meminta kami untuk bertemu dengan Hamas dan membujuk mereka,” ujar Erdogan kepada para wartawan Turki pada Selasa (7/10) malam waktu setempat di dalam pesawat yang membawanya kembali dari Azerbaijan.

    Sebagai pendukung vokal perjuangan Palestina, pemimpin Turki tersebut, yang memiliki hubungan dekat dengan Hamas, sering menuduh Israel melakukan “genosida” di Gaza. Tuduhan ini berulang kali dibantah oleh Israel.

    Negosiasi tidak langsung ini didasarkan pada rencana 20 poin yang diusulkan Trump bulan lalu, dengan delegasi Turki yang dipimpin oleh kepala intelijen Ibrahim Kalin akan bergabung dalam perundingan pada hari Rabu ini.

    “Hamas menanggapi dengan memberi tahu kami bahwa mereka siap untuk perdamaian dan negosiasi. Dengan kata lain, mereka tidak mengambil sikap yang berlawanan. Saya menganggap ini sebagai langkah yang sangat berharga. Hamas berada di depan Israel,” tambah Erdogan.

    “Rekan-rekan kami saat ini berada di Sharm El-Sheikh,” ujarnya pada Selasa malam waktu setempat.

    “Kami selalu berkomunikasi dengan Hamas selama proses ini. Kami masih berkomunikasi hingga saat ini,” imbuh Erdogan.

    “Kami sedang menjelaskan jalan yang paling masuk akal dan apa yang perlu dilakukan agar Palestina dapat bergerak maju dengan percaya diri di masa depan,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Penerbangan Kacau Terdampak Shutdown Pemerintah AS

    Penerbangan Kacau Terdampak Shutdown Pemerintah AS

    Jakarta

    Penutupan (shutdown) pemerintah Amerika Serikat (AS) turut berdampak ke bidang penerbangan. Federal Aviation Administration (FAA) mengonfirmasi banyaknya keterlambatan keberangkatan akibat kekurangan staf. Salah satu yang terdampak adalah Bandara Internasional O’Hare Chicago pada Selasa (7/10) malam.

    Fasilitas pendekatan dan keberangkatan untuk Houston, Newark, dan Las Vegas semuanya tidak memiliki cukup petugas pengontrol yang bekerja maksimal, setidaknya selama separuh Selasa (7/10) malam. Dampak ini juga menimpa fasilitas penerbangan yang menangani pesawat di wilayah Boston, Atlanta, Philadelphia, dan Dallas.

    Kekurangan Staf

    Bandara Internasional O’Hare Chicago diperkirakan kekurangan separuh petugas pengendali lalu lintas udara di menara pengawas selama sembilan jam pada Selasa (7/10) malam. Bandara ini merupakan salah satu bandara tersibuk di negara ini, dengan lebih dari 1.000 penerbangan per hari. Pada Selasa (7/10) malam, penundaan penerbangan menuju O’Hare rata-rata mencapai 41 menit.

    Di Nashville, fasilitas yang memandu pesawat masuk dan keluar bandara, terpaksa ditutup selama lima jam. Penerbangan menuju bandara harus menghubungi pusat kendali lalu lintas udara regional di Memphis untuk memasuki wilayah udara. Penundaan di darat untuk penerbangan menuju Nashville diperkirakan berlangsung rata-rata dua jam.

    Masalah serupa terjadi sebelumnya pada Senin (6/10) di Bandara Internasional Hollywood Burbank di California, dengan seluruh menara pengatur lalu lintas udara terpaksa ditutup. Media lokal ABC7 melaporkan bahwa menara di Burbank memang tidak memiliki staf, dan tugas pengawasan sementara dialihkan ke tim di San Diego yang berkomunikasi langsung dengan pilot.

    Pihak bandara memastikan bahwa operasi tetap berjalan. “Kami menyarankan penumpang untuk menghubungi maskapai mereka terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi terbaru terkait kemungkinan penundaan atau pembatalan penerbangan,” ujar juru bicara bandara seperti dikutip dari CNN.

    Kondisi ini terjadi di masa shutdown pemerintah AS memasuki pekan kedua. Kebuntuan politik antara Partai Republik pimpinan Donald Trump dan Partai Demokrat terkait pendanaan berbagai program federal menyebabkan sebagian besar pegawai pemerintah dirumahkan tanpa gaji.

    Meski demikian, beberapa pekerja yang dianggap penting, termasuk pengatur lalu lintas udara, tetap diwajibkan bekerja, namun tanpa kompensasi. Para analis memperingatkan bahwa sistem ini bisa runtuh kapan saja jika para pekerja mulai absen karena frustrasi tidak digaji.

    National Air Traffic Controllers Association (NATCA) mengatakan dampak dari sejumlah kecil pengendali yang tidak masuk kerja menunjukkan betapa parahnya dampak kekurangan staf dan rapuhnya sistem kendali lalu lintas udara.

    “Kami memiliki staf yang sangat terbatas dengan peralatan yang tidak dapat diandalkan, dan kami menangani masalah-masalah ini, dan itu merupakan bagian dari ketahanan dan redundansi yang kami advokasi, tentang perlunya hal itu dalam sistem,” kata Nick Daniels, Presiden NATCA.

    “Kami dapat bekerja sama dengan FAA untuk mengatasi masalah-masalah tersebut ketika muncul, menyusun rencana, dan pada akhirnya memastikan keselamatan masyarakat pengguna penerbangan. Skenario seperti ini bukanlah hal baru, ini adalah kenyataan yang dihadapi oleh para pengatur lalu lintas udara setiap hari,” sebutnya.

    NATCA, yang mewakili hampir 20.000 petugas pengendali, teknisi, dan profesional penerbangan lainnya, melarang mereka menelepon dengan alasan sakit untuk memprotes penutupan.

    “Kita juga harus menyadari bahwa dalam iklim politik saat ini, pegawai federal berada di bawah pengawasan yang lebih ketat. Kami tidak dapat cukup menekankan bahwa sangat penting untuk menghindari tindakan apa pun yang dapat berdampak buruk pada Anda, Serikat Pekerja kami, atau profesi kami,” tulis NATCA.

    Sementara itu, pengamat transportasi Mary Schiavo berpendapat, “Yang terjadi adalah orang-orang menjadi cemas, orang-orang menjadi gugup, dan terkadang ada penyalahgunaan cuti sakit.”

    (rns/rns)

  • Pembebasan Sandera di Gaza Bisa Menjadi Akhir Perang

    Pembebasan Sandera di Gaza Bisa Menjadi Akhir Perang

    JAKARTA – Pembebasan sandera di Jalur Gaza bisa menjadi akhir dari perang, kata pejabat Qatar, namun mengatakan terlalu dini untuk menilai berhasil tidaknya perundingan Hamas dan Israel.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al-Ansari mengatakan, “jika Hamas menyerahkan sandera, itu bisa menjadi akhir perang,” dalam komentarnya kepada wartawan di Doha, melansir The Times of Israel 7 Oktober.

    Lebih jauh Majed Al-Ansari juga mengatakan, Israel seharusnya sudah menghentikan operasi di Gaza, sejalan dengan rencana perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

    “Kami menunggu hasil negosiasi dalam beberapa hari mendatang mengenai gencatan senjata. Pertanyaan ini harus ditujukan terlebih dahulu kepada pemerintah pendudukan Israel. Seharusnya gencatan senjata benar jika pernyataan yang dibuat oleh perdana menteri di sana mengenai kepatuhan terhadap rencana Trump benar,” urainya.

    Ia menerangkan, ada banyak detail yang harus diselesaikan mengenai rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump untuk Jalur Gaza, di tengah negosiasi di Mesir, dan masih terlalu dini untuk bersikap pesimis atau optimis, atau bahkan membahas alternatif terhadap proposal Presiden Trump.

    Ditambahkannya, juga masih terlalu dini untuk membahas masa depan kantor politik Hamas di Qatar.

    Diketahui, hari ini genap dua tahun konflik terbaru di Gaza pecah, saat kelompok militan Palestina yang dipimpin Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 251 lainnya disandera menurut perhitungan Israel, dikutip dari Reuters.

    Itu dibalas Israel dengan melakukan serangan udara, blokade, hingga operasi militer ke wilayah Jalur Gaza. Sumber medis di Gaza mengonfirmasi hingga kemarin jumlah korban tewas Palestina akibat agresi dan genosida Israel sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 67.160 orang, sementara korban luka-luka mencapai 169.679 orang, dikutip dari WAFA.

    Upaya untuk mengakhiri perang dan bencana kemanusiaan di Gaza terus dilakukan. Terbaru, Presiden Trump meluncurkan proposal perdamaian pekan lalu. Kemarin, Hamas, Israel, serta mediator AS, Qatar dan Mesir melanjutkan perundingan damai tidak langsung di Mesir dan dilanjutkan hari ini.

  • Trump Optimistis AS-Kanada Bisa Capai Kesepakatan Dagang

    Trump Optimistis AS-Kanada Bisa Capai Kesepakatan Dagang

    Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump optimistis pihaknya dan Kanada pada akhirnya dapat mencapai kesepakatan dagang, meski masih enggan memberikan kejelasan soal waktu dan bentuk finalisasi perjanjian tersebut.

    Pernyataan itu disampaikan Trump saat bertemu dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney di Gedung Putih pada Selasa (7/10/2025) waktu setempat. Dalam pertemuan tersebut, Trump menggambarkan hubungan dagang kedua negara berada dalam konflik alami karena sama-sama bersaing di sektor manufaktur.

    “Dia ingin membuat mobil, kami juga ingin membuat mobil, dan kami bersaing. Keunggulan kami adalah memiliki pasar yang sangat besar,” ujar Trump dikutip dari Bloomberg, Rabu (8/10/2025).

    Namun, Trump menambahkan pembicaraan dagang sudah menunjukkan kemajuan. 

    “Kami sedang mencari formula dan saya pikir kami akan sampai di sana,” katanya.

    Pertemuan tersebut menjadi kunjungan kedua Carney ke Gedung Putih sejak terpilih sebagai perdana menteri pada April 2025. Relasi dagang senilai US$900 miliar menjadi agenda utama, terlebih Trump justru menaikkan tarif impor sejak Carney berjanji menegosiasikan kesepakatan dagang dan keamanan baru dengan AS.

    Carney menegaskan Kanada adalah investor asing terbesar di AS dan memperkirakan nilai investasinya bisa bertambah hingga US$1 triliun dalam lima tahun ke depan jika kesepakatan baru tercapai. 

    “Ada area di mana kita bersaing, dan justru di situlah kita harus menemukan kesepakatan yang bisa berjalan. Namun lebih banyak area di mana kita lebih kuat bila bersama, dan itulah fokus kami,” ujarnya.

    Meski Trump memuji Carney sebagai pemimpin kelas dunia dan menekankan adanya cinta besar antara AS dan Kanada, presiden AS beserta pejabatnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengalah dalam sektor-sektor kunci, seperti baja, aluminium, otomotif, dan kayu.

    Sejak menjabat, Trump menaikkan tarif untuk barang yang tidak sesuai dengan perjanjian dagang Amerika Utara atau USMCA dari 25% menjadi 35%. Perang dagang ini telah menyebabkan kehilangan lapangan kerja dan mengurangi investasi bisnis, mendorong ekonomi Kanada berkontraksi pada kuartal II/2025.

    Carney sempat melunak dengan menghapus sebagian besar tarif balasan Kanada pada Agustus, dan kini hanya memberlakukan tarif untuk produk yang juga dikenai bea masuk oleh AS, termasuk baja dan aluminium.

    Meski demikian, Trump tetap menegaskan sikap kerasnya menjelang tinjauan ulang USMCA pada 2026. 

    “Kami akan punya tarif,” katanya, sembari mengeluhkan kebijakan manajemen pasokan susu Kanada yang membatasi ekspor AS.

    Trump menambahkan bahwa AS, Kanada, dan Meksiko bisa saja meninjau ulang perjanjian trilateral, atau bahkan membuat perjanjian terpisah. Menurutnya, yang terpenting adalah kesepakatan yang paling menguntungkan bagi AS.

    Sementara itu, Carney telah melakukan perjalanan ke Meksiko bulan lalu dan berjanji memperkuat kerja sama dengan Presiden Claudia Sheinbaum, terutama terkait rantai pasok Amerika Utara dan mineral strategis Kanada untuk menghadapi dominasi China.

  • Netanyahu Tak Tunjukkan Niat Setop Serangan Usai 2 Tahun Perang di Gaza

    Netanyahu Tak Tunjukkan Niat Setop Serangan Usai 2 Tahun Perang di Gaza

    Jakarta

    Perang di Gaza, Palestina, telah berlangsung selama 2 tahun. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya akan terus bertindak dengan alasan menghapuskan kekuatan Hamas dan memulangkan sandera.

    “Kita berada di hari-hari yang menentukan. Kita akan terus bertindak untuk mencapai semua tujuan perang, memulangkan semua korban penculikan, menghapuskan kekuasaan Hamas, dan memastikan bahwa Gaza tidak akan pernah lagi menjadi ancaman bagi Israel,” ujarnya dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantornya, dilansir AFP, Rabu (8/10/2025).

    Ucapan Netanyahu soal ‘penghapusan kekuasaan Hamas’ tampaknya menandai pergeseran dari penghancuran gerakan Islamis Palestina. Ucapan itu juga muncul di tengah perundingan damai yang digelar secara tidak langsung antara pemerintah Israel dan Hamas telah dimulai di Mesir sejak Senin. Negosiasi tersebut dilakukan dalam upaya untuk mengakhiri perang Gaza.

    Israel telah melakukan serangan di Gaza, Palestina, sejak 7 Oktober 2023. Searngan itu diklaim sebagai balasan terhadap serangan Hamas ke wilayah negara Yahudi itu yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan ratusan orang disandera.

    Serangan Israel ke Gaza telah menewaskan lebih dari 67 ribu warga Palestina. Korban tewas mayoritas merupakan anak-anak dan perempuan. Jumlah korban tewas diperkirakan lebih besar karena masih banyak yang tertimbun reruntuhan.

    Serangan Israel juga melukai ratusan ribu warga Gaza. Perang juga telah menyebabkan jutaan warga Gaza menjadi pengungsi dan terancam kelaparan.

    Trump Percaya Diri Tercapainya Kesepakatan Damai

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa ada peluang nyata tercapainya kesepakatan damai Gaza, Palestina. Negosiator Hamas dan Israel mengadakan perundingan tidak langsung pada peringatan dua tahun serangan 7 Oktober.

    “Kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan di Timur Tengah yang akan membawa perdamaian ke Timur Tengah,” ujar Trump kepada para wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, bersama Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dilansir AFP, Rabu (8/10/2025).

    Trump mengatakan bahwa negosiator AS terlibat dalam perundingan yang saat ini berlangsung di Mesir. Gedung Putih mengatakan bahwa utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, akan berperan.

    “Ada peluang nyata bahwa kita bisa melakukan sesuatu,” kata Trump.

    (yld/haf)

  • Abaikan Seruan Trump, Serangan Israel ke Gaza Tewaskan 118 Orang dalam 4 Hari

    Abaikan Seruan Trump, Serangan Israel ke Gaza Tewaskan 118 Orang dalam 4 Hari

    Jakarta

    Pemerintah Gaza mengatakan pasukan Israel telah meluncurkan 230 serangan udara di Gaza sejak Sabtu (4/10). Serangan itu menewaskan 118 orang.

    “Pendudukan Israel melanjutkan agresi brutalnya terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza, mengabaikan seruan gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, dan tanggapan positif yang ditawarkan terhadap proposal tersebut,” ujar pernyataan pemerintah Gaza sebagaimana dilansir Aljazeera, Rabu (8/10/2025).

    Adapun korban tewas termasuk perempuan dan anak-anak. Sebanyak 72 orang tewas dalam kondisi terkepung di kota Gaza.

    Korban Tewas dalam 2 Tahun

    Aljazeera melaporkan dalam dua tahun, 1.048 warga Palestina, termasuk 212 anak-anak, telah tewas di wilayah Tepi Barat. Lebih dari 10.151 orang terluka.

    Sebanyak 19.000 warga Palestina telah ditahan, dengan 11.040 orang di antaranya ditahan hingga 1 Oktober. Dari mereka yang ditahan, 3.577 orang ditahan tanpa dakwaan.

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diketahui mendesak Israel untuk “segera menghentikan pengeboman Gaza” pada Sabtu pagi. Trump juga mengatakan bahwa Hamas “siap untuk perdamaian abadi” setelah kelompok Palestina tersebut menanggapi proposalnya untuk mengakhiri perang.

    Sebelumnya, Hamas mengatakan bahwa mereka ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Gaza berdasarkan rencana Trump, tetapi masih memiliki serangkaian tuntutan. Pejabat senior Hamas, Fawzi Barhoum, memaparkan keinginan Hamas.

    “Delegasi gerakan (Hamas) yang berpartisipasi dalam negosiasi saat ini di Mesir sedang berupaya mengatasi semua hambatan untuk mencapai kesepakatan yang memenuhi aspirasi rakyat kami di Gaza,” kata Barhoum dalam sebuah pernyataan yang disiarkan televisi.

    Dia mengatakan kesepakatan harus memastikan berakhirnya perang dan penarikan penuh Israel dari Jalur Gaza–syarat-syarat yang tidak pernah diterima Israel. Israel, di sisi lain, menginginkan Hamas melucuti senjatanya, sesuatu yang ditolak kelompok itu.

    “Hamas menginginkan gencatan senjata permanen dan komprehensif, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, dan segera dimulainya proses rekonstruksi komprehensif di bawah pengawasan “badan teknokratis nasional” Palestina, ujarnya.

    (zap/yld)

  • Perundingan Gaza, Hamas Tuntut Pembebasan Pemimpin Fatah Marwan Barghouti

    Perundingan Gaza, Hamas Tuntut Pembebasan Pemimpin Fatah Marwan Barghouti

    Jakarta

    Hamas menuntut pembebasan narapidana Palestina terkemuka, Marwan Barghouti, dari penjara Israel. Tuntutan sebagai bagian dari negosiasi pertukaran sandera-tahanan yang sedang berlangsung.

    Dilansir AFP, Rabu (8/10/2025), media pemerintah Mesir, Al-Qahera News, yang dekat dengan dinas intelijen Mesir, mengatakan perundingan telah dimulai di kota resor Sharm El-Sheikh, Mesir, mengenai daftar narapidana Palestina yang akan dibebaskan oleh Israel berdasarkan potensi kesepakatan gencatan senjata.

    Barghouti, seorang anggota terkemuka partai Fatah Palestina dan dipenjara sejak 2002, termasuk di antara beberapa tahanan terkemuka yang sedang diupayakan pembebasannya oleh Hamas. Nama-nama lain yang disebutkan termasuk Ahmad Saadat, Hassan Salameh, dan Abbas Al-Sayed.

    Perundingan tidak langsung telah dimulai sejak Senin (6/18) di Sharm El-Sheikh sebagai bagian dari rencana 20 poin yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengamankan gencatan senjata di Gaza.

    Rencana tersebut mencakup pembebasan sandera yang ditawan oleh Hamas dan militan Palestina lainnya dalam serangan 7 Oktober 2023 yang memicu perang Gaza.

    Sebagai imbalan atas para sandera tersebut, Israel diperkirakan akan membebaskan 250 tahanan Palestina dengan hukuman seumur hidup dan lebih dari 1.700 tahanan dari Gaza yang ditawan selama perang.

    Rencana tersebut juga mencakup penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Jalur Gaza dan pelucutan senjata Hamas.

    Pada Minggu (5/8), Hamas menyatakan siap mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di wilayah Palestina dan segera melakukan pertukaran sandera dan tahanan dengan Israel.

    Halaman 2 dari 2

    (rfs/rfs)