Tag: Donald Trump

  • Kanselir Merz Optimis Tahun 2026 Jadi Tahun Kebangkitan Jerman

    Kanselir Merz Optimis Tahun 2026 Jadi Tahun Kebangkitan Jerman

    Berlin

    Kanselir Friedrich Merz menyinggung perang di Ukraina, peningkatan anggaran pertahanan, hubungan dengan AS, revolusi teknologi, stagnasi industri, lambannya reformasi, migrasi, dan lainnya dalam pidato Tahun Baru.

    Dalam pidato televisi pertamanya sebagai kanselir, Friedrich Merz mengawali dengan mengingat 23 Februari 2025, hari pemilu dini yang mengantarkannya menjadi Kanselir Jerman, menggantikan Olaf Scholz dan pemerintahan koalisi Sosial Demokrat.

    “Pada hari itu, Anda, warga negara, menentukan masa depan politik negeri kita. Pemerintah Federal baru dibentuk, yang bertekad mengarahkan Jerman ke jalur yang benar dengan determinasi dan arah yang jelas,” kata Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam kutipan pidato yang dilihat DW.

    Namun, dia juga mengakui bahwa tugas tersebut bukanlah “perkara mudah.”

    Merz menuturkan bahwa sepanjang 2025, Jerman dan dunia dihadapkan dengan serangkaian tantangan besar.

    “Sebuah perang mengerikan sedang berkecamuk di Eropa, mengancam langsung kebebasan dan keamanan kita. Ekonomi kita berada di bawah tekanan karena diperlukan adanya reformasi, tingginya biaya, serta konflik perdagangan global. Selain itu, teknologi baru sedang merevolusi dunia kerja dan cara kita hidup bersama,” ujar Merz.

    Dalam konteks tersebut, Merz menegaskan bahwa mandat utama pemerintahannya adalah “pembaruan landasan kebebasan, keamanan, dan kemakmuran kita.”

    Perang Ukraina dan ancaman bagi Eropa

    Ia menegaskan perang Ukraina bukanlah konflik jauh yang tak terkait dengan Jerman.

    “Pada akhirnya, kita semakin jelas melihat bahwa agresi Rusia dulu dan sekarang menjadi bagian dari rencana yang ditujukan terhadap seluruh Eropa,” jelasnya. “Jerman juga menghadapi sabotase, spionase, dan serangan siber setiap hari.”

    Kanselir dari Partai CDU ini kemudian menyinggung rencana pemerintahannya untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan dan menerapkan layanan militer sukarela bagi sebagian anak muda, termasuk reformasi konstitusional yang memungkinkan pinjaman lebih besar demi membiayai militer.

    Dinamika AS-Jerman

    Meskipun Merz tidak secara langsung mengaitkan gagasan tersebut dengan invasi Rusia ke Ukraina atau peningkatan pengeluaran pertahanan Jerman, tapi dia juga menyinggung soal perubahan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) ketika Donald Trump kembali menjabat.

    “Pada saat yang sama, kemitraan kita dengan Amerika Serikat, yang selama ini menjadi penjamin keamanan yang dapat kita diandalkan, sedang berubah,” ujar Merz. “Bagi kita orang Eropa, ini berarti kita harus mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan kita dengan lebih kuat secara mandiri.”

    Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

    Isu yang dihadapi Jerman dan Eropa

    Merz, yang memiliki latar belakang hukum korporasi di luar dunia politik, mengeluhkan hal yang disebutnya sebagai “kembalinya proteksionisme dalam ekonomi global.”

    “Ketergantungan strategis Jerman pada bahan baku semakin digunakan sebagai alat politik melawan kepentingan kita,” terangnya. Oleh karena itu, Jerman sebagai negara eksportir merasakan dampaknya secara khusus, yang mengisyaratkan masalah fiskal bagi industri besar seperti produsen mobil.

    Kanselir Merz juga mengatakan pemerintahnya berusaha memberikan keringanan di bidang perpajakan, harga energi, dan pengurangan birokrasi.

    Namun, Merz juga mengatakan bahwa “tumpukan reformasi domestik yang tertunda menghambat potensi perusahaan-perusahaan kita,” tepat pada saat kreativitas dan inovasi ekonomi diperlukan untuk menghadapi tekanan global.

    Dia memperingatkan bahwa semakin sulit bagi perusahaan-perusahaan Jerman untuk bersaing secara internasional dan kemudian menyiratkan bahwa sebagian kesalahan itu merupakan tanggung jawab Brussels, sebagai ibu kota de facto Uni Eropa.

    “Kami secara konsisten mengurangi birokrasi dan menempatkan promosi daya saing di urutan teratas agenda politik,” jelasnya mengenai upaya pemerintahannya dalam negosiasi di tingkat UE.

    Isu pensiun, demografi, migrasi

    Eks menteri keuangan Jerman ini juga menyinggung tentang populasi yang menua di negara tersebut, dengan mengatakan bahwa “generasi baby boomers kini akan memulai masa pensiun yang pantas mereka dapatkan.”

    Merz mengatakan bahwa pada tahun 2026, akan sangat penting “untuk menciptakan keseimbangan baru dalam sistem jaminan sosial Jerman,” dengan mempertimbangkan kepentingan semua generasi “secara adil.”

    Dalam pidato itu, Merz juga menyoroti isu migrasi, meski tidak secara eksplisit menyebut tantangan tersebut berasal dari partai sayap kanan AfD atau kelompok lainnya.

    Merz mengatakan pemerintahannya berupaya membuka jalur baru untuk migrasi legal, sambil menutup jalur ilegal dan tidak tertib.

    “Bagi kami, kemanusiaan dan ketertiban adalah dua sisi mata uang yang sama,” paparnya.

    2026 jadi awal yang baru

    Kemudian, Merz juga menyinggung kekecewaan publik terhadap konflik internal koalisi pemerintah dan kesulitan dalam menerapkan beberapa reformasi unggulan, seperti perubahan sistem kesejahteraan dan pensiun. Dia mengakui bahwa banyak orang merasa pencapaian pemerintah hingga saat ini “belum cukup.”

    “Kemudian, saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa Anda benar! Itu tidak cukup,” tegas Merz. Namun, dia berargumen bahwa pekerjaan telah dimulai dan yakin Jerman “akan menuai manfaat dari reformasi tersebut, meskipun membutuhkan waktu.”

    2026, menurut Merz, dapat menjadi “tahun awal yang baru,” jika Jerman dan Eropa “kembali terhubung dengan puluhan tahun perdamaian, kebebasan, dan kemakmuran.”

    Dia mengatakan bahwa berbagai perkembangan geopolitik, ekonomi, dan teknologi memang mewakili “perubahan zaman,” tetapi sambil menegaskan bahwa Jerman harus mengatasi tantangan tersebut dengan kekuatan sendiri.

    “Kita bukan korban keadaan eksternal. Kita tidak berada di bawah belas kasihan kekuatan besar. Tangan kita tidak terikat,” pungkas Merz.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi

    Editor: Tezar Aditya Rahman dan Hani Anggraini

    (nvc/nvc)

  • Refleksi 2025: Wajah Retak di Cermin Akhir Tahun
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Desember 2025

    Refleksi 2025: Wajah Retak di Cermin Akhir Tahun Nasional 31 Desember 2025

    Refleksi 2025: Wajah Retak di Cermin Akhir Tahun
    Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    MENJELANG
    denting lonceng pergantian tahun 2025, Indonesia seolah sedang berdiri di depan cermin besar yang permukaannya mulai memperlihakan goresan keretakan menyilang di beberapa lokasi.
    Yang tampak sekilas adalah bayangan bangsa yang terkesan ingin bergegas dan sangat berhasrat untuk mendapatkan panggung besar di aras global.
    Namun, sebenarnya napasnya tersengal ketika memasuki gang-gang sempit gelap, yang justru berada di negeri sendiri.
    Tahun pertama pemerintahan di bawah komando Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan kita drama kolosal baru, dari gertakan efisiensi yang membuat wajah fiskal daerah membiru karena pucat pasi, hingga kepulan gas air mata di bawah terik matahari akhir Agustus 2025 yang telah membakar kesadaran publik tentang berbagai keretakan yang ada di dalam
    kekuasaan
    .
    Sebagai bangsa, Indonesia hampir melewati 365 hari yang penuh dengan kontradiksi antara apa yang tampak di permukaan dan apa yang dirasakan di atas meja makan rakyat kebanyakan.
    Mari kita putar kembali ingatan ke awal tahun, saat aroma kekuasaan “anyar” masih terasa segar.
    Saat itu, kita menyaksikan fenomena unik yang saya sebut sebagai “kejutan dingin tapi menyakitkan” dari Jakarta.
    Kebijakan efisiensi radikal yang dicanangkan Jakarta seketika mengubah wajah birokrasi di daerah menjadi pucat pasi. Niatnya mulia, setidaknya di atas kertas, yakni membersihkan lemak-lemak anggaran yang selama ini menjadi bancakan birokrat lokal.
    Namun, ketika keran itu diputar terlalu kencang tanpa bantalan yang dipersiapkan terlebih dahulu, yang terjadi bukanlah penghematan produktif, melainkan kepanikan kolektif yang pada beberapa kasus justru melumpuhkan layanan publik di daerah.
    Pemerintah daerah, dari pesisir hingga pegunungan, mendadak ketar-ketir tersengal sengal kehilangan napas fiskal karena pemotongan drastis dana transfer ke daerah.
    Dampak lanjutannya sudah bisa ditebak. Ketika “jatah” dari pusat menipis, rakyatlah yang diminta menanggung beban dosanya.
    Di Kabupaten Pati dan beberapa daerah lainnya di Jawa Tengah serta luar Jawa, kenaikan pajak daerah menjadi pil pahit yang harus ditelan warga di tengah kondisi ekonomi yang belum benar-benar pulih pasca-pandemi.
    Pajak barang dan jasa tertentu, pajak hiburan, hingga pajak bumi dan bangunan melonjak tanpa kompromi.
    Negara seolah sedang berhemat di level atas demi citra fiskal yang sehat di mata investor. Namun di saat yang sama, kebijakan tersebut justru meminta rakyat di level paling bawah untuk merogoh kocek lebih dalam demi menutup lubang-lubang anggaran yang ada.
    Inilah paradoks efisiensi yang sebenarnya telah melukai rasa keadilan publik di semua daerah, kebijakan yang rapi di meja kantor kementerian di ibukota negara, tapi menyakitkan saat menyentuh kulit rakyat kecil.
    Ketegangan fiskal yang terpendam sejak awal tahun tersebut akhirnya menemukan muaranya pada Agustus 2025. Bulan yang seharusnya menjadi perayaan kemerdekaan, justru berubah menjadi panggung perlawanan.
    Sejarah mencatat bahwa kemarahan publik tidak pernah lahir dari ruang hampa, tapi akumulasi dari rasa ketidakadilan yang dipicu oleh kontrasnya kehidupan para elite dengan realitas kehidupan rakyat yang kian terjepit.
    Saat masyarakat masih berjuang dengan harga beras yang enggan turun dan tarif listrik yang kian mencekik, muncul kabar tentang kenaikan tunjangan perumahan anggota DPR yang angkanya melukai nalar sehat.
    Tentu bukan sekadar soal nilai nominal rupiah yang ditransfer ke rekening para wakil rakyat, tapi soal empati yang absen dari ruang-ruang kekuasaan.
    Demonstrasi besar-besaran pun pecah, bukan hanya di Jakarta, tapi menjalar seperti api yang tertiup angin ke kota-kota besar lainnya mulai Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Mataram hingga Makassar.
    Selama satu minggu penuh, denyut nadi ekonomi dan politik seolah berhenti berdetak. Jakarta lumpuh dalam balutan orasi, barikade, dan kepulan asap.
    Peristiwa tersebut adalah momen di mana rakyat, dari mahasiswa hingga pengemudi ojek daring, bersatu untuk mengingatkan penguasa bahwa mandat bukanlah cek kosong untuk berfoya-foya di atas kondisi kemiskinan dan penderitaan yang kian menganga.
    Ketimpangan ekonomi yang melebar bukan lagi sekadar angka statistik dalam laporan BPS yang biasanya memang sangat kaku, melainkan menjadi kemarahan nyata yang tumpah ke aspal jalanan.
    Saat itu, kita melihat bangsa yang katanya kaya sumber daya alam dan kaya secara nilai-nilai luhur ini justru sedang menggugat nurani pemimpinnya sendiri, dengan amarah menuntut agar kebijakan tidak hanya berpihak pada segelintir orang yang duduk di singgasana empuk, sementara mayoritas rakyat harus mengencangkan ikat pinggang hingga sesak napas karena tercekik secara multidimensi.
    Di tengah kemelut domestik yang membara tersebut, Presiden Prabowo seolah menemukan panggung yang lebih nyaman dan jauh dari aroma gas air mata, yakni kancah internasional.
    Kita menyaksikan seorang pemimpin yang fasih berbahasa asing, terkesan gagah, dan tampak sangat berwibawa di depan kamera para jurnalis global.
    Pidatonya di markas PBB pada September 2025 lalu memang memukau secara estetika dan retorika, penuh dengan diksi-diksi tentang perdamaian dunia dan peran penting Indonesia sebagai jembatan peradaban.
    Dari sana, lahirlah apa yang disebut sebagai Gaza Plan, inisiatif perdamaian yang di atas kertas tampak heroik dan visioner. Di panggung itu, Indonesia seolah ingin mengukuhkan diri sebagai juru selamat di kawasan Timur Tengah.
    Namun, bagi mata yang jeli dan kritis, rencana tersebut terasa seperti bangunan megah tanpa fondasi yang kokoh.
    Inti dari luka yang menganga di Timur Tengah, yakni kedaulatan penuh Palestina dalam skema solusi dua negara yang diakui secara internasional, tetap tak tersentuh secara substansial.
    Diplomasi Indonesia di tahun 2025 ini terasa seperti pertunjukan kembang api di malam hari, indah dipandang, meriah dalam sekejap, membuat orang berdecak kagum, tapi meninggalkan kegelapan dan residu asap yang bau segera setelah cahayanya padam.
    Negara ini terlihat sibuk dengan kosmetik diplomasi yang cantik di layar televisi, tapi gagal menyentuh jantung persoalan yang sesungguhnya.
    Bahkan ada kesan bahwa panggung internasional hanya digunakan sebagai pelarian dari kerumitan persoalan di dalam negeri yang tidak kunjung menemukan solusi konkret.
    Ironisnya, kegagahan di level global itu berbanding terbalik dengan pengaruh nyata Indonesia di halaman rumah sendiri, kawasan Asia Tenggara.
    Indonesia seolah kehilangan magisnya sebagai “pemimpin alami” persemakmuran negara-negara kawasan Asia Tenggara, ASEAN.
    Indonesia tampak absen, atau setidaknya sangat minim berperan, dalam mendinginkan bara konflik yang kembali memanas antara Thailand dan Kamboja terkait sengketa wilayah dan perbatasan.
    Padahal, stabilitas kawasan adalah marwah bagi kepemimpinan Indonesia sejak puluhan tahun lalu.
    Peran Indonesia sangat menonjol di era Orba sehingga Presiden kedua negeri ini, Soeharto, menjadi kebanggaan pemimpin di Burma (sekarang Myanmar), di Malaysia bahkan Singapura.
    Minimnya peran kepemimpinan ini secara otomatis berdampak memperlemah posisi tawar ASEAN sebagai organisasi regional di mata dunia.
    Memang, pada KTT ASEAN di Kuala Lumpur jelang akhir tahun 2025 ini, perjanjian damai antara Thailand dan Myanmar telah ditandatangani dengan disaksikan oleh Donald Trump, yang kembali memperlihatkan dominasi pengaruh luar negeri mondialnya juga di kawasan kita.
    Namun, kita semua mengetahui bahwa perjanjian perdamaian tersebut mendadak menjadi hambar kembali karena beberapa minggu kemudian, perang kembali pecah antara serdadu negeri Gajah Putih dan negeri The Land of Golden Pagodas.
    Diakui atau tidak, salah satu kerapuhan tersebut disebabkan oleh absennya “sentuhan tangan dingin” Jakarta sebagai kakak tertua di kawasan.
    Indonesia terlalu sibuk mengejar sorot lampu di panggung global yang lebih glamor, tapi lupa menyapu lantai kawasan di mana rumah kita berdiri yang mulai berdebu dan bahkan retak.
    Diplomasi yang terlalu berorientasi pada citra personal pemimpin seringkali melupakan kedalaman relasi geopolitik yang sifatnya organik dan berkelanjutan di tingkat regional.
    Dari sisi ekonomi, jika kita menilik angka-angka yang dirilis pemerintah di penghujung tahun, para teknokrat mungkin akan tersenyum bangga melihat pertumbuhan yang kembali ke jalur 5 persen.
    Secara makro, angka tersebut adalah prestasi. Namun, bagi saya sebagai seorang pengamat, angka tersebut hanyalah “fatamorgana statistik” yang berpotensi menyesatkan jika tidak dibedah lebih mendalam.
    Di lapangan, kehidupan masyarakat masih terasa mencekik dan sulit. Pertumbuhan tersebut masih belum menetes ke bawah, seolah tertahan di puncak-puncak gedung pencakar langit dan masuk ke kantong-kantong para pemilik modal besar. Dengan kata lain, ketimpangan masih berada pada titik yang mengkhawatirkan.
    Fakta sosiologisnya, pengangguran muda atau
    youth unemployment
    masih menjadi bom waktu yang terus berdetak di pusat-pusat kota hingga pelosok desa.
    Indonesia telah menciptakan generasi yang merasa asing di tanah airnya sendiri karena sulitnya mencari penghidupan layak, sementara syarat kerja kian tidak masuk akal dan upah riil terus tergerus inflasi.
    Kita melihat dengan jelas pertumbuhan ekonomi sekadar di atas kertas, tapi tidak melihat pemerataan “harga diri” tersebut melebar sampai ke meja makan rakyat.
    Kesenjangan ini jika dibiarkan akan menjadi bahan bakar bagi konflik sosial yang jauh lebih besar di masa depan.
    Ekonomi bukan hanya soal angka PDB, melainkan juga soal bagaimana seorang bapak bisa membelikan susu untuk anaknya tanpa harus meminjam pada platform kredit daring yang bunganya kian mencekik leher.
    Demikian pula fakta pasangan suami istri yang harus membawa serta seorang balita mereka bersepeda motor sebagai kurir jasa pengiriman paket demi sesuap nasi.
    Tak lupa, tahun 2025 pun ditutup dengan catatan kelam dan duka yang mendalam dari bumi Sumatera.
    Bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor yang datang bertubi-tubi menggulung merenggut ratusan nyawa sekali sapu dan menghancurkan harta benda dalam skala yang memilukan.
    Korban mutakhir yang mencapai lebih dari 1000-an orang meninggal, bukan sekadar deretan angka kematian, melainkan duka ribuan keluarga yang harus kehilangan masa depan.
    Saya meneteskan air mata menggotong korban banjir yang pascaseminggu musibah baru berhasil dievakuasi lalu dimobilisasi dari Aceh ke rumah sakit di Medan, tapi akhirnya meninggal sehari di rumah sakit.
    Banyak kisah pilu semacam itu. Bagaimana pun, kita sebagai bangsa yang arif dan punya akal sehat juga tidak boleh dengan naif menyalahkan langit, curah hujan ekstrem, atau takdir Tuhan atas apa yang terjadi.
    Bencana di Sumatera adalah “bencana buatan manusia” atau
    man-made disaster
    yang sangat nyata.
    Deforestasi yang masif di paru-paru Sumatera, demi pembukaan lahan perkebunan skala besar dan pertambangan, adalah penyebab utama dari tanah yang kehilangan daya cengkeram atas air hujan dan sungai yang kehilangan daya tampungnya.
    Hutan bukan sekadar kumpulan pohon yang bisa dikonversi menjadi dolar, tapi sistem penyangga kehidupan yang jika dirusak justru akan membalas dengan skala yang lebih masif dan mematikan.
    Pesan anti-deforestasi seharusnya bukan lagi sekadar slogan di atas materai atau janji manis dalam kampanye, melainkan harus menjadi ideologi pembangunan yang tidak boleh ditawar oleh kepentingan modal mana pun.
    Jika pemerintah terus abai dan menganggap hutan sebagai komoditas semata yang bisa dikapling-kapling sesuai kontribusi fiskalnya, maka bencana akan menjadi tamu rutin yang tak pernah bosan mengetuk pintu rumah kita dengan cara yang semakin keras dan kejam dari waktu ke waktu.
    Sebagai penutup dari refleksi panjang tahun 2025 ini, saya ingin menyampaikan bahwa kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada nurani terdalam kita masing-masing sebagai anak bangsa, ke mana sesungguhnya arah besar kapal besar bernama Indonesia ini hendak dibawa?
    Indonesia tentu tidak butuh pemimpin yang hanya piawai bersolek di depan cermin internasional demi mendapatkan tepuk tangan asing, sementara rakyatnya di dalam negeri sibuk memungut sisa-sisa harapan di tengah pajak yang mencekik dan alam yang kian murka.
    Tahun ini mengajarkan kita bahwa kekuasaan tanpa empati adalah kesia-siaan dengan banderol harga yang mahal di ujungnya.
    Ekonomi tanpa pemerataan hanyalah angka kosong yang melecehkan perut yang lapar.
    Di akhir tahun ini, biarlah retakan-retakan di cermin besar itu menjadi pengingat yang jelas bahwa kecantikan original bangsa tidak dilihat dari seberapa keras sorak-sorai di podium global dan pentas lokal, melainkan dari seberapa tenang seorang warga kebanyakan bisa tidur di malam hari tanpa rasa lapar dan cemas pada hari esok.
    Mari kita sambut tahun baru bukan dengan tumpukan janji-janji muluk baru untuk menutupi kegagalan dalam mewujudkan janji lama, melainkan dengan kerendahan hati untuk memperbaiki apa yang salah, apa yang telah rusak, lalu menjahit kembali robekan sosial yang ada, dan menjaga apa yang masih tersisa.
    Karena pada akhirnya, negara bukan dibangun dari beton dan pidato, melainkan dari rasa aman dan keadilan yang dirasakan oleh setiap jiwa yang tinggal di dalamnya. Semoga!
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Sempat Ambruk, Harga Emas Kembali Bangkit Jelang Pergantian Tahun 2026

    Sempat Ambruk, Harga Emas Kembali Bangkit Jelang Pergantian Tahun 2026

    FAJAR.CO.ID — Harga emas kembali bangkit jelang pergantian tahun 2026. Setelah sebelumnya sempat anjlok dalam sehari.

    Dilansir Trading Economics, harga emas naik di atas $4,350 per ons pada hari Selasa setelah turun lebih dari 4% dalam sesi sebelumnya karena mengambil keuntungan. 

    Penjualan besar-besaran pada hari Senin menandai penurunan intraday terbesar logam tersebut sejak Oktober dan hanya kali kedua tahun ini emas turun tajam dalam satu hari. 

    Namun, daya tarik tempat perlindungan emas tetap kuat di tengah ketidakpastian geopolitik yang persisten.

    Pembicaraan perdamaian antara Rusia dan Ukraina semakin diragukan setelah laporan menyarankan bahwa Presiden Putin memberitahu Presiden Trump bahwa Moskow akan meninjau kembali sikapnya dalam negosiasi menyusul serangan yang diduga dilakukan oleh Ukraina di kediaman Putin. 

    Secara terpisah, Trump memperingatkan akan serangan lebih lanjut ke Iran jika pembangunan nuklir terus berlanjut, sambil juga mengumumkan bahwa AS telah melakukan serangan terhadap fasilitas terkait narkoba di Venezuela. 

    Bullion tetap berada di jalur untuk kinerja tahunan terbaiknya sejak 1979, dengan reli juga didukung oleh pembelian bank sentral yang kuat, aliran ETF yang berkelanjutan, dan harapan akan pemotongan suku bunga AS yang lebih banyak. 

    Sehari sebelumnya, emas turun lebih dari 4% menjadi di bawah $4,350 per ons pada hari Senin ketika investor merealisasikan keuntungan setelah serangkaian rekor tertinggi, dengan kemajuan yang belum pasti dalam pembicaraan perdamaian AS Ukraina memberatkan permintaan tempat perlindungan meskipun ketidakpastian utama masih ada. Presiden Donald Trump sempat mengatakan bahwa negosiasi dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy telah membuat kemajuan signifikan, meskipun kesepakatan akhir masih bisa memakan waktu berminggu-minggu. 

  • Rumah Putin Diserang Puluhan Drone: Zelensky Bantah, Trump Marah

    Rumah Putin Diserang Puluhan Drone: Zelensky Bantah, Trump Marah

    Jakarta

    Salah satu rumah Presiden Rusia Vladimir Putin diserang puluhan drone. Rusia menuding serangan itu diinisiasi Ukraina, tapi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantahnya. Sementara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump marah atas upaya penyerangan tersebut.

    Dilansir dari AFP dan Reuters, Selasa (30/12/2025), Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyebut rentetan serangan drone Ukraina itu menghujani kediaman Putin di Novgorod, antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari waktu setempat.

    Lavrov menuduh Ukraina telah mengerahkan “91 kendaraan udara tanpa awak jarak jauh” ke salah satu kediaman Putin. Namun ia memastikan semua drone itu berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Rusia.

    Dia mengatakan tidak ada korban luka dan tidak ada kerusakan akibat serangan drone Ukraina, yang disebutnya sebagai “terorisme negara”.

    Lavrov menekankan bahwa serangan drone itu terjadi selama negosiasi membahas kemungkinan kesepakatan perdamaian untuk perang Ukraina. Dia mengatakan bahwa meskipun Rusia tidak meninggalkan negosiasi, posisi Moskow akan ditinjau ulang.

    “Mengingat kemerosotan total rezim kriminal Kyiv, yang telah beralih ke kebijakan terorisme negara, posisi negosiasi Rusia akan dipertimbangkan kembali,” kata Lavrov dalam pernyataannya, tanpa menjelaskan lebih lanjut atau memberikan bukti untuk penilaian Moskow tersebut.

    Bantahan Presiden Ukraina

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantah tuduhan Rusia. Zelensky menyebut tuduhan Rusia itu sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan AS.

    Zelensky juga mengatakan bahwa Moskow sedang mempersiapkan serangan terhadap gedung-gedung pemerintahan di Kyiv.

    Lavrov, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa target-target telah dipilih untuk serangan balasan oleh Angkatan Bersenjata Rusia. “Tindakan sembrono seperti itu tidak akan dibiarkan begitu saja,” tegasnya.

    Tidak diketahui secara jelas apakah Putin berada di kediamannya tersebut saat serangan drone terjadi.

    Trump Marah

    Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya diberitahu secara langsung oleh Presiden Putin soal upaya Ukraina menyerang kediaman pemimpin Kremlin itu. Trump mengaku “sangat marah” atas upaya Kyiv untuk menyerang kediaman Putin tersebut.

    Trump melontarkan kritikan terhadap Ukraina ketika ditanya oleh wartawan soal apakah dirinya khawatir tuduhan Moskow terhadap Kyiv tersebut dapat mempengaruhi upayanya menengahi perdamaian.

    “Saya tidak menyukainya. Ini tidak baik,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago di Florida.

    “Saya mengetahuinya dari Presiden Putin hari ini. Saya sangat marah karena itu,” ucapnya, setelah berbicara via telepon dengan Putin pada Senin (29/12).

    “Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat. Bersikap ofensif itu satu hal, karena mereka memang ofensif. Menyerang rumahnya adalah hal lainnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegas Trump dalam pernyataannya.

    Ketika ditanya lebih lanjut soal apakah ada bukti serangan Ukraina terhadap kediaman Putin itu, Trump berkata: “Kita akan mengetahuinya.”

    Tuduhan Rusia soal serangan drone Ukraina tersebut muncul pada momen penting dalam proses perdamaian. Kyiv mengatakan telah menyetujui 90 persen dari rencana perdamaian yang dirancang AS, termasuk masalah jaminan keamanan pasca-perang.

    Namun, masalah wilayah tetap belum terselesaikan, dan Rusia — yang semakin bergerak maju di medan pertempuran — telah berulang kali menolak rencana yang tidak memenuhi tuntutan maksimalisnya.

    Dalam percakapan telepon dengan Trump pada Senin (29/12), Putin mengatakan bahwa dirinya masih berkomitmen pada proses perdamaian, tetapi akan “merevisi” posisi negosiasi Rusia mengingat dugaan serangan drone tersebut.

    Halaman 2 dari 3

    (fas/lir)

  • China Gelar Latihan Perang di Sekitar Taiwan, Trump Bilang Gini

    China Gelar Latihan Perang di Sekitar Taiwan, Trump Bilang Gini

    Beijing

    China menggelar latihan perang di sekitar Taiwan selama dua hari terakhir, yang bertujuan menyimulasikan blokade pelabuhan di Taipei dan serangan terhadap target maritim. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan reaksi santai, dengan mengatakan dirinya tidak khawatir dengan latihan tersebut.

    Latihan perang selama dua hari ini, yang diberi kode “Misi Keadilan 2025”, dimulai pada Senin (29/12) kemarin dan dikecam oleh Taiwan sebagai “intimidasi militer”.

    China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya dan menolak untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan militer dalam merebut pulau yang memiliki pemerintahan demokratis tersebut.

    Dalam latihan hari kedua, seperti dilansir AFP, Selasa (30/12/2025), militer China meluncurkan serentetan rudal dan mengerahkan puluhan jet tempur serta kapal angkatan laut ke sekitar Taiwan.

    Sejumlah jurnalis AFP di Pingtan — pulau China yang terletak paling dekat dengan daratan utama Taiwan — melihat rentetan roket melesat ke udara pada Selasa (30/12) pagi, sekitar pukul 09.00 waktu setempat, meninggalkan jejak asap putih.

    Setidaknya 10 roket diluncurkan, berselang beberapa dekat satu sama lain, dengan masing-masing peluncuran roket mengirimkan suara dentuman yang menggema di seluruh Pingtan.

    Tak lama kemudian, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) — nama resmi militer China — merilis pernyataan mengumumkan aktivitas latihan militernya.

    “Pada pukul 09.00 waktu setempat, 30 Desember, pasukan darat Komando Teater Timur PLA melakukan latihan tembak langsung jarak jauh di perairan sebelah utara pulau Taiwan dan mencapai efek yang diinginkan,” demikian pernyataan PLA.

    China mengatakan pada Selasa (30/12) pagi bahwa mereka mengerahkan kapal-kapal penghancur, kapal fregat, jet tempur dan pesawat pengebom “untuk melakukan latihan mengenai identifikasi dan verifikasi, peringatan dan pengusiran, simulasi serangan, serangan terhadap target maritim, serta operasi antiudara dan antikapal selam”.

    Pernyataan dari Komando Teater Timur PLA menyebut latihan di perairan utara dan selatan Taiwan “menguji kemampuan koordinasi laut-udara dan blokade serta kontrol terpadu”.

    Trump Bilang Tak Khawatir dengan Latihan Perang China

    Trump, dalam tanggapannya, mengatakan dirinya tidak khawatir dengan latihan perang yang digelar China di sekitar Taiwan, yang melibatkan tembakan langsung. Trump seolah-olah menepis kemungkinan Presiden China Xi Jinping akan memerintahkan invasi terhadap Taipei.

    “Saya memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Xi. Dan dia belum memberitahu saya apa pun tentang hal itu. Saya tentu saja telah melihatnya,” ucapnya kepada wartawan ketika ditanya soal latihan militer China.

    “Saya tidak percaya dia akan melakukannya,” tegas Trump, merujuk pada invasi China ke Taiwan.

    Saat ditanya lebih lanjut soal apakah latihan perang China itu membuatnya khawatir, Trump menjawab: “Tidak, tidak ada yang membuat saya khawatir.”

    “Mereka telah melakukan latihan angkatan laut selama 20 tahun di area tersebut. Sekarang orang-orang menanggapinya sedikit berbeda,” sebutnya.

    Sementara itu, Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan pada Selasa (30/12) bahwa pihaknya tidak akan “meningkatkan konflik” atau memprovokasi perselisihan. Sehari sebelumnya, kantor kepresidenan Taiwan menuduh China menunjukkan “pengabaian terhadap norma internasional dan penggunaan intimidasi militer untuk mengancam negara-negara tetangga”.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Trump Marah Ukraina Coba Serang Kediaman Putin

    Trump Marah Ukraina Coba Serang Kediaman Putin

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya diberitahu secara langsung oleh Presiden Rusia Vladimir Putin soal upaya Ukraina menyerang kediaman pemimpin Kremlin itu. Trump mengaku “sangat marah” atas upaya Kyiv untuk menyerang kediaman Putin tersebut.

    Rusia menuduh Ukraina menyerang salah satu kediaman Putin di Rusia bagian utara. Menteri Luar Negeri (Menlu) Sergei Lavrov, yang biasanya tidak mengumumkan serangan drone, mengatakan bahwa Ukraina mengerahkan “91 drone jarak jauh” dalam serangan terhadap kediaman Putin di area Novgorod.

    Serangan drone itu disebut terjadi antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari waktu setempat. Lavrov menyebut semua drone berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan Rusia. Dia mengatakan tidak ada korban luka dan tidak ada kerusakan akibat serangan drone tersebut.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah membantah tuduhan Rusia itu, yang disebutnya sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan AS.

    Namun Trump, seperti dilansir AFP dan Reuters, Selasa (30/12/2025), melontarkan kritikan terhadap Ukraina ketika ditanya oleh wartawan soal apakah dirinya khawatir tuduhan Moskow terhadap Kyiv tersebut dapat mempengaruhi upayanya menengahi perdamaian.

    “Saya tidak menyukainya. Ini tidak baik,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago di Florida.

    “Saya mengetahuinya dari Presiden Putin hari ini. Saya sangat marah karena itu,” ucapnya, setelah berbicara via telepon dengan Putin pada Senin (29/12).

    “Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat. Bersikap ofensif itu satu hal, karena mereka memang ofensif. Menyerang rumahnya adalah hal lainnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegas Trump dalam pernyataannya.

    Ketika ditanya lebih lanjut soal apakah ada bukti serangan Ukraina terhadap kediaman Putin itu, Trump berkata: “Kita akan mengetahuinya.”

    Tuduhan Rusia soal serangan drone Ukraina tersebut muncul pada momen penting dalam proses perdamaian. Kyiv mengatakan telah menyetujui 90 persen dari rencana perdamaian yang dirancang AS, termasuk masalah jaminan keamanan pasca-perang.

    Namun, masalah wilayah tetap belum terselesaikan, dan Rusia — yang semakin bergerak maju di medan pertempuran — telah berulang kali menolak rencana yang tidak memenuhi tuntutan maksimalisnya.

    Dalam percakapan telepon dengan Trump pada Senin (29/12), Putin mengatakan bahwa dirinya masih berkomitmen pada proses perdamaian, tetapi akan “merevisi” posisi negosiasi Rusia mengingat dugaan serangan drone tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • AS Serang Dermaga Kapal Penyelundup Narkoba Asal Venezuela

    AS Serang Dermaga Kapal Penyelundup Narkoba Asal Venezuela

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa negaranya telah menyerang dan menghancurkan area dermaga yang menjadi tempat kapal-kapal, yang diduga menyelundupkan narkoba dari Venezuela, berlabuh.

    Serangan Washington ini berpotensi menjadi serangan darat pertama dalam operasi militer yang diklaim bertujuan memberantas perdagangan narkoba dari kawasan Amerika Latin.

    Pernyataan terbaru Trump ini muncul saat dia meningkatkan kampanye tekanan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang menuduh Presiden AS itu berupaya menggulingkan rezim pemerintahannya di Caracas.

    “Terjadi ledakan besar di area dermaga tempat mereka memuat kapal-kapal dengan narkoba,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di kediamannya di Mar-a-Lago di Florida, seperti dilansir AFP, Selasa (30/12/2025).

    “Jadi kita menyerang semua kapal-kapal dan sekarang kita menyerang area tersebut, area pelaksanaan, di situlah mereka melaksanakannya. Dan area tersebut sudah tidak ada lagi,” sebutnya.

    Trump tidak mengatakan lebih lanjut apakah itu merupakan operasi militer atau operasi badan intelijen pusat AS (CIA), juga di mana serangan itu dilancarkan. Dia hanya menyebut serangan itu terjadi di “sepanjang pantai”.

    Saat ditanya lebih lanjut soal apakah dirinya telah berbicara dengan Maduro baru-baru ini, setelah panggilan telepon sebelumnya pada November lalu, Trump mengatakan mereka telah berbicara “baru-baru ini”, namun dia juga menyebut “tidak banyak yang dihasilkan dari percakapan tersebut”.

    Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Venezuela mengenai serangan yang diumumkan Trump tersebut.

    Pengumuman Trump ini disampaikan setelah selama berminggu-minggu, dia mengancam serangan darat terhadap kartel-kartel narkoba di kawasan tersebut, yang disebutnya akan segera dimulai. Serangan yang diumumkan Trump ini menjadi contoh nyata pertama dari hal tersebut.

    Sejak September lalu, pasukan AS telah melancarkan banyak serangan di area Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur, yang diklaim oleh Washington menargetkan kapal-kapal penyelundup narkoba.

    Namun pemerintahan Trump belum memberikan bukti-bukti untuk menunjukkan bahwa kapal-kapal yang ditargetkan terlibat dalam perdagangan dan penyelundupan narkoba, sehingga memicu perdebatan tentang legalitas operasi tersebut.

    Para pakar hukum internasional dan kelompok hak asasi manusia (HAM) mengatakan serangan-serangan tersebut kemungkinan besar merupakan pembunuhan di luar hukum. Tuduhan itu dibantah oleh Washington.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Trump Ancam Serangan ke Iran Jika Terus Kembangkan Nuklir-Rudal

    Trump Ancam Serangan ke Iran Jika Terus Kembangkan Nuklir-Rudal

    Florida

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa negaranya dapat mendukung serangan besar lainnya, terutama oleh Israel, terhadap Iran jika negara itu terus melanjutkan pengembangan program rudal balistik atau senjata nuklirnya.

    Pernyataan bernada ancaman itu, seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Selasa (30/12/2025), disampaikan Trump setelah melakukan pertemuan tatap muka dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, pada Senin (29/12) waktu setempat.

    Komentar terbaru Trump ini mengisyaratkan bahwa Teheran mungkin sedang berupaya memulihkan program senjatanya setelah serangan besar-besaran Israel, yang didukung AS, pada Juni lalu.

    “Saya mendengar Iran berusaha membangun kembali, dan jika mereka melakukannya, kita harus menghancurkannya,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di Mar-a-Lago.

    “Kita akan melumpuhkan mereka,” tegasnya.

    Iran yang berperang selama 12 hari melawan Israel pada pertengahan Juni lalu, mengatakan pekan lalu bahwa mereka menggelar latihan rudal untuk kedua kalinya pada bulan ini. Netanyahu mengatakan pekan lalu bahwa Israel tidak mencari konfrontasi dengan Iran, tetapi menyadari laporan tersebut.

    Trump, dalam pernyataan kepada wartawan setelah pertemuan dengan Netanyahu, membahas soal upaya Iran membangun kembali persenjataan di lokasi-lokasi berbeda, setelah pengeboman Tel Aviv dan Washington pada Juni lalu memicu kerusakan pada fasilitas-fasilitas nuklir Teheran.

    “Saya telah membaca bahwa mereka sedang membangun persenjataan dan hal-hal lainnya, dan jika memang demikian, mereka tidak menggunakan situs-situs yang telah kita hancurkan, tetapi mungkin situs yang berbeda,” ucap Trump.

    “Kita mengetahui persis ke mana mereka bergerak, apa yang mereka lakukan, dan saya berharap mereka tidak melakukannya karena tidak ingin membuang bahan bakar untuk B-2,” kata Trump merujuk pada pesawat pengebom AS yang digunakan dalam serangan sebelumnya.

    Trump kemudian menambahkan bahwa dirinya tetap terbuka untuk menegosiasikan “kesepakatan”, yang disebutnya sebagai cara yang “jauh lebih cerdas”.

    Trump, yang membahas potensi kesepakatan nuklir dengan Iran dalam beberapa bulan terakhir, mengatakan bahwa pembicaraan dengan Netanyahu fokus membahas upaya mengatasi kekhawatiran Israel atas Iran dan Hizbullah, serta upaya memajukan kesepakatan perdamaian Gaza.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Trump Bilang Ukraina-Rusia ‘Lebih Dekat’ Menuju Perdamaian

    Trump Bilang Ukraina-Rusia ‘Lebih Dekat’ Menuju Perdamaian

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (28/12) menegaskan bahwa Ukraina dan Rusia kini berada “lebih dekat dari sebelumnya” untuk mencapai kesepakatan damai, saat ia menjamu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida.

    Namun, Trump mengakui bahwa proses negosiasi sangat kompleks dan masih berpeluang gagal. Kebuntuan perundingan dikhawatirkan dapat membuat perang berlarut-larut selama bertahun-tahun.

    Pernyataan itu disampaikan Trump setelah pertemuannya dengan Zelenskyy, yang berlangsung usai pembicaraan telepon selama dua setengah jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

    Trump menyebut percakapannya dengan Putin sebagai “sangat baik” dan mengatakan ia masih percaya bahwa pemimpin Rusia itu menginginkan perdamaian, meskipun Moskow kembali melancarkan serangan ke Kyiv saat Zelenskyy terbang ke Amerika Serikat.

    “Rusia ingin melihat Ukraina berhasil,” kata Trump dalam konferensi pers pada Minggu (18/12) sore setelah pertemuannya dengan Zelenskyy. Trump berulang kali memuji presiden Ukraina itu sebagai sosok yang “berani”.

    Zelenskyy, dalam kesempatan yang sama, menyampaikan apresiasi kepada Trump.

    “Ukraina siap untuk perdamaian,” katanya.

    Donbas dan jaminan keamanan jadi batu sandungan

    Keduanya menyebut masa depan wilayah Donbas di Ukraina timur sebagai titik paling sulit dalam perundingan.

    “Itu isu yang sangat sulit, tetapi saya pikir akan bisa diselesaikan,” kata Trump.

    Zelenskyy menegaskan bahwa posisi Ukraina berbeda secara mendasar dengan Rusia.

    “Sikap kami sangat jelas. Itulah mengapa Presiden Trump mengatakan ini adalah pertanyaan yang sangat sulit dan, tentu saja, kami memiliki posisi yang berbeda dengan Rusia mengenai hal itu,” ujar Zelenskyy.

    Trump tetap menyatakan keyakinannya bahwa Putin “sangat serius” ingin mengakhiri perang, meskipun Rusia terus menyerang target di Ukraina.

    “Saya percaya Ukraina juga telah melakukan beberapa serangan yang sangat kuat,” kata Trump.

    Namun, ia juga memperingatkan bahwa perundingan masih bisa runtuh.

    “Dalam beberapa minggu, kita akan tahu hasilnya, satu atau lain cara. Bisa saja ada satu isu besar yang tidak terpikirkan sebelumnya dan menghancurkan semuanya. Ini adalah negosiasi yang sangat sulit dan sangat rinci,” ujarnya.

    Serangan berlanjut di tengah negosiasi

    Di tengah intensifnya diplomasi, pertempuran di lapangan belum mereda. Saat Zelenskyy melakukan perjalanan ke Amerika Serikat untuk perundingan terbaru, Rusia kembali melancarkan serangan ke berbagai wilayah Ukraina.

    Trump mengakui kontradiksi tersebut, tetapi tetap menegaskan keyakinannya bahwa kedua pihak serius mencari jalan keluar.

    “Saya percaya Putin sangat serius untuk mengakhiri perang,” kata Trump, meski ia mengakui Rusia terus menyerang Ukraina. Ia juga menambahkan bahwa Ukraina pun “telah melakukan beberapa serangan yang sangat kuat.”

    Trump menilai dinamika ini mencerminkan kompleksitas perundingan, di mana tekanan militer kerap berjalan beriringan dengan upaya diplomasi. Ia kembali mengingatkan bahwa jika negosiasi gagal, konflik ini bisa berlangsung lama.

    “Ini bisa menjadi sesuatu yang berlangsung bertahun-tahun,” katanya.

    Trump, Putin, dan diplomasi intensif dengan Eropa

    Trump mengatakan ia akan kembali menelepon Putin setelah pertemuannya dengan Zelenskyy. Sebelumnya, penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov, menyebut panggilan Trump–Putin tersebut diinisiasi oleh pihak AS dan berlangsung “bersahabat, penuh niat baik, dan bernuansa bisnis”.

    Menurut Ushakov, Trump dan Putin sepakat untuk kembali berbicara “dalam waktu dekat” setelah pertemuan Trump dengan Zelenskyy. Namun, ia menegaskan bahwa dibutuhkan “keputusan politik yang berani dan bertanggung jawab dari Kyiv” terkait Donbas dan isu-isu lain agar tercapai “penghentian total permusuhan”.

    Setelah pertemuan di Florida, Trump dan Zelenskyy juga menghubungi sejumlah pemimpin Eropa, termasuk Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen serta para pemimpin Finlandia, Prancis, Jerman, Inggris, dan Polandia.

    Zelenskyy mengatakan Trump telah sepakat untuk kembali menjamu para pemimpin Eropa, kemungkinan di Gedung Putih, pada Januari mendatang. Trump menyebut pertemuan itu bisa berlangsung di Washington atau “di suatu tempat”.

    Trump menekankan bahwa para perunding telah membuat kemajuan signifikan. Zelenskyy sebelumnya mengatakan bahwa rancangan proposal perdamaian 20 poin yang dibahas para negosiator “sekitar 90% siap”, sejalan dengan optimisme pejabat AS ketika tim perunding utama Trump bertemu Zelenskyy di Berlin bulan ini.

    Dalam pembicaraan terbaru, AS setuju menawarkan jaminan keamanan tertentu bagi Ukraina yang mirip dengan perlindungan NATO. Proposal ini muncul ketika Zelenskyy menyatakan kesediaannya untuk melepaskan ambisi Ukraina bergabung dengan NATO, asalkan negaranya mendapatkan perlindungan setara NATO untuk mencegah serangan Rusia di masa depan.

    Tuntutan Putin dan risiko kebuntuan panjang

    Zelenskyy juga mengungkapkan bahwa pada Hari Natal ia berbicara dengan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Trump. Ia mengatakan pembicaraan itu mencakup “detail substantif tertentu”, tetapi memperingatkan bahwa “masih ada pekerjaan yang harus dilakukan pada isu-isu sensitif” dan bahwa “minggu-minggu ke depan juga bisa sangat intensif”.

    Putin secara terbuka menyatakan ingin semua wilayah di empat kawasan utama yang telah direbut pasukannya, serta Semenanjung Krimea yang dianeksasi secara ilegal pada 2014, diakui sebagai wilayah Rusia. Ia juga menuntut Ukraina menarik pasukan dari wilayah timur tertentu yang bahkan belum sepenuhnya dikuasai Rusia, tuntutan yang secara terbuka ditolak Kyiv.

    Kremlin juga mendesak Ukraina untuk meninggalkan ambisinya bergabung dengan NATO, serta memperingatkan bahwa pengerahan pasukan dari negara-negara NATO akan dianggap sebagai “target yang sah”. Putin juga menuntut pembatasan ukuran militer Ukraina dan pemberian status resmi bagi bahasa Rusia.

    Ushakov mengatakan kepada harian bisnis Kommersant bahwa polisi Rusia dan Garda Nasional akan tetap berada di sebagian wilayah Donetsk, salah satu dari dua wilayah utama Donbas bersama Luhansk, bahkan jika wilayah tersebut dijadikan zona demiliterisasi dalam rencana perdamaian.

    Ia juga memperingatkan bahwa upaya mencapai kompromi bisa memakan waktu lama. Menurutnya, proposal AS yang semula mempertimbangkan tuntutan Rusia telah “diperburuk” oleh perubahan yang diusulkan Ukraina dan sekutu Eropanya.

    Trump sendiri menunjukkan sikap yang relatif terbuka terhadap sebagian tuntutan Putin, dengan berargumen bahwa presiden Rusia dapat diyakinkan untuk mengakhiri perang jika Kyiv bersedia menyerahkan sebagian wilayah Donbas dan jika Barat menawarkan insentif ekonomi untuk menarik Rusia kembali ke sistem ekonomi global.

    Meski demikian, Trump menegaskan bahwa hasil akhir masih belum pasti, dan dunia akan segera mengetahui apakah momentum diplomasi ini benar-benar mampu mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.

    Editor: Rizki Nugraha

    (nvc/nvc)

  • Prabowo Gembar-gembor Sawit, Ekonom Ichsanuddin Noorsy: Elite Kita Ketinggalan Zaman dalam Berpikir

    Prabowo Gembar-gembor Sawit, Ekonom Ichsanuddin Noorsy: Elite Kita Ketinggalan Zaman dalam Berpikir

    FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Pengamat Ekonomi dan Politik Ichsanuddin Noorsy menyoal pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang sawit. Termasuk akan menanam sawit di Papua.

    Dia mengatakan, sikap tersebut karena komitmen pemerintah terkait target B40. Yakni jenis bahan bakar nabati atau campuran untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

    “Karena berkaitan target dengan B40, dalam rangka mengurangi emisi karbon,” kata Noorsy dikutip dari YouTube Kompas TV, Senin malam (29/12/2025).

    Dia membandingkan sikap pemerintah RI dengan Amerikat Serikat (AS). Karena di saat yang sama, AS mencari energi fosil.

    “Padahal di saat yang sama, kasus Donald Trump menghajar habis Venezuela, menghajar Amerika Selatan, pengejarannya cuma satu. Apa itu? Energi fosil,” terangnya.

    Dia lalu memberi gambaran, saat dirinya belajar ke Rusia terkait energi baru terbarukan. Ternyata, Indonesia kaya dengan sumber energi baru terbarukan.

    “Saya datang ke Rusia untuk belajar tentang bagaimana nuklir swasta. Itu kan renewable energy, sementara Indonesia kaya dengan renewable energy lain.,” imbuhnya.

    Noorsy kemudian memberi contoh.

    “Anda kaya dengan tenaga surya, Anda kaya dengan air, angin, Anda kaya dengan yang namanya sumber laut puter laut, kenapa Anda tidak gunakan habis. Anda kaya dengan sumber matahari,” jelasnya.

    Karenanya, Noorsy menanyakan mengapa pemerintah RI hanya fokus pada sawit. Padahal, menghindari energi fosil tidak harus pilihannya ke sawit.

    “Lalu kenapa Anda berpikir cuma sawit, dengan menyatakan penting untuk dibangun di Papua kan ini akhirnya soalnya paradigma yang ada tentang bagaimana menyemimbangkan antara posisi fosil dan energi baru terbarukan,” paparnya.