Tag: Donald Trump

  • Ngototnya Trump Ingin Ambil Alih Venezuela

    Ngototnya Trump Ingin Ambil Alih Venezuela

    Washington

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikeras ingin mengendalikan Venezuela. Hal ini ia utarakan usai AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam gempuran mematikan pada Sabtu (3/1) waktu setempat.

    Dengan langkahnya menggempur Venezuela dan menangkap Maduro menuai kritikan, seperti dilansir AFP, Senin (5/1/2026), Trump kini menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendalam atas pernyataannya yang berulang kali menegaskan bahwa AS sekarang menguasai Venezuela.

    Pernyataan itu disampaikan Trump setelah operasi militer AS yang berujung penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, di ibu kota Cacaras pada Sabtu (3/1) dini hari. Maduro dijadwalkan hadir dalam persidangan di New York pada Senin (5/1) waktu setempat untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba federal.

    Pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, pada saat yang sama mengatakan dirinya siap bekerja sama dengan pemerintahan Trump. Dia juga meminta AS untuk menjalin hubungan yang seimbang dan saling menghormati.

    “Kita berurusan dengan orang-orang yang baru saja dilantik. Jangan tanya saya siapa yang bertanggung jawab karena saya akan memberikan Anda jawabannya dan itu akan sangat kontroversial,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1).

    Trump ditanya oleh wartawan soal apakah dirinya telah berbicara dengan Rodriguez. Trump sebelumnya mengancam bahwa Rodriguez, yang kini menjadi pemimpin sementara Venezuela, akan membayar “harga yang mahal” jika dia tidak bekerja sama dengan AS.

    Saat ditanya lebih lanjut soal maksud pernyataannya, Trump berkata: “Itu berarti kita yang bertanggung jawab.”

    Gambar yang diunggah di akun Truth Social milik Presiden AS Donald Trump pada 3 Januari 2026, menunjukkan apa yang menurut Presiden Trump adalah Presiden Venezuela Nicolas Maduro di atas kapal USS Iwo Jima setelah militer AS menangkapnya pada 3 Januari 2026. Foto: (AFP/HANDOUT)

    Pemerintahan Trump menyatakan kesediaan untuk bekerja sama dengan sisa pemerintahan Maduro, selama tujuan-tujuan Washington, khususnya membuka akses investasi AS ke cadangan minyak mentah Venezuela yang sangat besar, terpenuhi.

    Ketika ditanya kembali oleh wartawan soal apakah operasi militer AS di Venezuela berkaitan dengan minyak atau perubahan rezim, Trump menjawab: “Ini tentang perdamaian di Bumi.”

    Lebih lanjut, Trump mengatakan bahwa pemilu di Venezuela harus menunggu.

    “Kita akan mengendalikannya, memperbaikinya, kita akan menggelar pemilu pada waktu yang tepat, tetapi hal utama yang harus diperbaiki adalah itu merupakan negara yang hancur,” cetusnya.

    Ancaman Trump

    Trump mengancam akan ada serangan kedua ke Venezuela. Hal itu terjadi jika Venezuela “jika mereka tidak berperilaku baik”.

    “Kita siap melakukan serangan kedua,” kata Trump kepada wartawan.

    Ketika seorang wartawan bertanya apakah operasi militer lainnya terhadap Venezuela kini telah dikesampingkan, Trump menimpali: “Tidak, tidak demikian. Jika mereka tidak berperilaku baik, kita akan melancarkan serangan kedua.”

    Maduro saat ini berada di pusat penahanan di New York, AS, menunggu persidangan pada Senin (5/1) waktu setempat atas tuduhan perdagangan narkoba yang menjerat dirinya.

    Penangkapan Maduro memicu ketidakpastian mendalam tentang apa yang akan terjadi selanjutnya bagi negara Amerika Selatan yang kaya minyak tersebut.

    Halaman 2 dari 3

    (isa/isa)

  • Trump Minum Aspirin Dosis Tinggi Buat Jaga Jantungnya, Kardiolog Bilang Gini

    Trump Minum Aspirin Dosis Tinggi Buat Jaga Jantungnya, Kardiolog Bilang Gini

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu diskusi medis setelah mengungkapkan bahwa dirinya mengonsumsi aspirin harian dengan dosis empat kali lipat lebih tinggi dari yang direkomendasikan dokter.

    Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, pria berusia 79 tahun tersebut mengaku telah menjalani rutinitas ini selama 25 tahun.

    “Mereka bilang aspirin baik untuk mengencerkan darah. Saya tidak ingin darah kental mengalir di jantung saya,” ujar Trump.

    Ia rutin mengonsumsi satu tablet aspirin dewasa dosis 325 mg, padahal dokter umumnya menyarankan dosis rendah sebesar 81 mg untuk pencegahan penyakit jantung.

    Dr Eleanor Levin, ahli kardiologi pencegahan dari Stanford Medicine, menjelaskan bahwa tidak ada manfaat tambahan dari mengonsumsi dosis 325 mg dibandingkan 81 mg untuk tujuan pencegahan.

    “Dosis yang lebih tinggi itu sebenarnya tidak perlu,” kata dia kepada USA Today.

    Aspirin juga dapat menyebabkan pendarahan yang kurang parah, seperti memar dan luka kecil. Trump pernah mengalami keduanya dan dokternya mengaitkan gejala tersebut dengan penggunaan aspirinnya, menurut memo Gedung Putih dari bulan Juli.

    Levin mengatakan efek samping ini umum terjadi dan tidak mengkhawatirkan.

    “Meskipun aspirin relatif lebih aman dibanding pengencer darah lainnya, pasien yang mengonsumsi obat ini, bahkan dalam dosis rendah, tetap berada pada risiko perdarahan di perut dan otak,” tambah Dr Levin.

    Penggunaan aspirin yang tidak lazim oleh Trump kemungkinan tidak mengancam jiwa, meskipun ia mengatakan tidak merekomendasikan pasiennya untuk mengonsumsi aspirin dosis tinggi jika tidak diperlukan.

    Ia menambahkan bahwa dosis di atas 2.400 miligram, dosis yang secara historis digunakan untuk mengobati radang sendi, harus dianggap sebagai aspirin dosis tinggi, dan bahkan jumlah yang lebih tinggi pun membawa risiko keamanan yang serius.

    “Saya yakin dokternya mengatakan hal yang sama kepadanya,” tandas Dr Levin.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • PM Greenland Geram Atas Ancaman Trump: Cukup Sudah!

    PM Greenland Geram Atas Ancaman Trump: Cukup Sudah!

    Jakarta

    Seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Greenland menjadi bagian dari Amerika Serikat menuai kecaman internasional. Perdana Menteri (PM) wilayah otonom yang berada di bawah kedaulatan Denmark itu, pun menyerukan ke Trump: “Cukup sudah.”

    Intervensi militer Washington di Venezuela telah menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap Greenland, yang berulang kali dikatakan Trump ingin dianeksasi, mengingat lokasinya yang strategis di Arktik.

    Saat berada di atas pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan ke Washington, Trump mengulangi niatnya tersebut.

    “Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya,” katanya menanggapi pertanyaan seorang reporter, dilansir kantor berita AFP, Senin (5/1/2026).

    Perdana Menteri (PM) Greenland Jens-Frederik Nielsen kemudian mengeluarkan peringatan yang jelas: “Cukup sudah.”

    “Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi,” tulis Jens-Frederik Nielsen di Facebook.

    “Kami terbuka untuk dialog. Kami terbuka untuk diskusi. Tetapi ini harus terjadi melalui saluran yang tepat dan dengan menghormati hukum internasional,” imbuhnya.

    Sementara itu, menyatakan “solidaritas” dengan Denmark pada hari Senin (5/1), juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis, Pascal Confavreux, mengatakan kepada saluran televisi TF1, bahwa “perbatasan tidak dapat diubah dengan paksa”.

    Trump telah mengguncang para pemimpin Eropa dengan menyerang Venezuela menangkap presidennya, Nicolas Maduro, yang sekarang ditahan di New York, AS.

    Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat sekarang akan “mengelola” Venezuela tanpa batas waktu dan memanfaatkan cadangan minyaknya yang besar.

    Ditanya dalam wawancara telepon dengan The Atlantic tentang implikasi operasi militer Venezuela terhadap Greenland yang kaya mineral, Trump mengatakan itu terserah orang lain untuk memutuskan.

    “Mereka harus melihatnya sendiri. Saya benar-benar tidak tahu,” kata Trump seperti dikutip The Atlantic.

    Dia menambahkan: “Tetapi kita memang membutuhkan Greenland, tentu saja. Kita membutuhkannya untuk pertahanan.”

    Bulan lalu, Trump mengklaim kapal-kapal Rusia dan China “bertebaran di seluruh” pantai wilayah tersebut.

    Kementerian Luar Negeri China membalas pada hari Senin (5/1) dengan mendesak “AS untuk berhenti menggunakan apa yang disebut ancaman China sebagai alasan untuk mencari keuntungan pribadi.”

    Lihat juga Video: Trump Ingin Kuasai Greenland Demi Keamanan, Singgung Rusia-China

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Trump Tak Percaya Klaim Rusia soal Ukraina Serang Kediaman Putin

    Trump Tak Percaya Klaim Rusia soal Ukraina Serang Kediaman Putin

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang sempat marah, kini tidak mempercayai jika Ukraina mengerahkan drone untuk menyerang kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin, seperti yang diklaim oleh Kremlin.

    “Saya tidak percaya serangan itu terjadi,” kata Trump dalam pernyataan terbaru, seperti dilansir AFP, Senin (5/1/2026).

    Dia menanggapi pertanyaan soal serangan tersebut saat melakukan sesi tanya-jawab dengan wartawan di dalam pesawat kepresidenan AS Air Force One pada Minggu (4/1) waktu setempat.

    Serangan drone Ukraina itu sebelumnya disebut terjadi antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari. Rusia pada saat itu menuduh Ukraina mengerahkan “91 drone jarak jauh” dalam serangan terhadap salah satu kediaman Putin yang ada di area Novgorod.

    Pekan lalu, Kementerian Pertahanan Rusia merilis sebuah video yang menunjukkan sebuah drone ditembak jatuh, yang menurut Moskow, diluncurkan oleh Ukraina ke kediaman Putin tersebut. Kremlin mengatakan properti itu tidak mengalami kerusakan, dan Putin sedang berada di tempat lain ketika serangan terjadi.

    Trump, dalam pernyataannya, menekankan bahwa “tidak ada yang tahu pada saat itu” apakah tuduhan yang disampaikan Rusia itu benar.

    Tuduhan tersebut muncul pada saat yang genting, ketika upaya diplomasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang yang berkecamuk selama hampir empat tahun terakhir itu semakin intensif. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky baru-baru ini terbang ke Florida, AS, untuk bertemu langsung dengan Trump.

    Para pejabat Rusia mengkritik Ukraina, yang disebut tidak tulus dalam upaya diplomatiknya. Sedangkan Kyiv dan sekutu-sekutu Eropa membantah serangan yang dituduhkan Kremlin itu telah terjadi.

    Trump, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa “sesuatu” terjadi di dekat kediaman Putin, namun setelah meninjau bukti, para pejabat AS tidak meyakini bahwa kediaman pemimpin Kremlin itu menjadi target serangan Ukraina.

    Saat berbicara kepada kediamannya di Mar-a-Lago di Florida pada akhir Desember lalu, Trump mengatakan dirinya diberitahu secara langsung oleh Putin soal upaya Ukraina menyerang kediaman pemimpin Kremlin itu. Trump pada saat itu mengaku “sangat marah” atas upaya Kyiv untuk menyerang kediaman Putin.

    “Ini adalah periode waktu yang sensitif. Ini bukan waktu yang tepat. Bersikap ofensif itu satu hal, karena mereka memang ofensif. Menyerang rumahnya adalah hal lainnya. Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal semacam itu,” tegas Trump pada saat itu.

    Zelensky sejak awal membantah tuduhan Rusia itu, yang disebutnya sebagai kebohongan dan “rekayasa sepenuhnya” yang dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang dicetuskan AS.

    Lihat juga Video: Rumah Putin Diserang Puluhan Drone, Trump Sangat Marah

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Airlangga sebut eskalasi AS-Venezuela belum pengaruhi harga minyak

    Airlangga sebut eskalasi AS-Venezuela belum pengaruhi harga minyak

    Jakarta (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekon) Airlangga Hartarto menyatakan hingga saat ini eskalasi politik antara Amerika Serikat dan Venezuela belum berdampak terhadap harga minyak impor Indonesia.

    Sebelum melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, Ia menyebut pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Venezuela.

    Menurutnya, sebagai salah satu sumber minyak dunia, Venezuela sedikit banyak akan mempengaruhi pergerakan harga minyak global.

    “Harga minyak kita monitor, kalau satu-dua hari ini pun tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi,” ujar Airlangga.

    Airlangga menyebut saat ini harga minyak dunia masih relatif rendah atau sekitar 63 dolar AS per barel.

    Dengan adanya eskalasi politik antara kedua negara, maka diprediksi harga minyak dunia akan melambung.

    Namun demikian, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan selalu memonitor dan berkoordinasi terhadap perubahan harga, serta mempersiapkan langkah antisipasi.

    Diketahui, ekspor minyak Venezuela lumpuh di tengah operasi militer AS di negara tersebut, menurut laporan Reuters mengutip empat sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya.

    Ekspor minyak Venezuela, yang anjlok hingga jumlah minimum di tengah blokade Presiden AS Donald Trump terhadap semua kapal tanker yang dikenai sanksi, kini lumpuh karena para kapten pelabuhan belum menerima permintaan izin keberangkatan bagi kapal-kapal bermuatan, menurut beberapa sumber tersebut kepada kantor berita itu.

    Sejumlah kapal pengangkut minyak mentah di Venezuela, yang dijadwalkan akan dikirim ke Amerika Serikat dan Asia, belum berlayar, menurut laporan kantor berita tersebut, mengutip data dari layanan pelacakan kapal TankerTrackers.

    PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) menegaskan bahwa aset minyak milik mereka di Venezuela tidak terdampak menyusul serangan Amerika Serikat ke negara tersebut.

    PIEP menguasai 71,09 persen saham perusahaan minyak dan gas asal Prancis, Maurel & Prom (M&P), yang memiliki aset di Venezuela.

    “Sehubungan dengan perkembangan situasi terkini, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela,” kata Manager Relations PIEP Dhaneswari Retnowardhani dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

    Sebagai langkah antisipasi, Dhaneswari menyatakan PIEP terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas.

    Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
    Editor: Biqwanto Situmorang
    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Potret Ekonomi Gaza dari Tukang Reparasi Uang Rusak

    Potret Ekonomi Gaza dari Tukang Reparasi Uang Rusak

    Jakarta

    Di tengah keramaian pasar Kota Gaza, seorang tukang reparasi uang dengan saksama memeriksa selembar uang kertas 100 shekel (Rp513.000) yang sudah usang dan berwarna kuning. Ia meluruskannya dan memperindah warnanya yang pudar dengan goresan pensil secara hati-hati.

    Baraa Abu al-Aoun seharusnya kuliah di universitas, tetapi ia sekarang mencari nafkah mereparasi uang rusak di lapak yang ia dirikan di pinggir jalan.

    Memperbaiki uang kertas adalah bisnis baru yang berkembang pesat di Gaza.

    Sejak serangan mematikan pada 2023, Israel menghentikan transfer uang kertas dan kebutuhan pokok lainnya ke Gaza.

    Sebagian besar bank hancur akibat gempuran Israel. Banyak pula bank dijarah. Meskipun beberapa cabang bank telah dibuka kembali sejak gencatan senjata beberapa waktu lalu, masih belum ada ATM yang berfungsi.

    Meski demikian, orang-orang masih memerlukan uang tunai untuk membeli makanan dan kebutuhan pokok.

    Hal itu memaksa mereka menggunakan jasa pedagang uang informal yang mengubah transfer digital menjadi uang tunai dengan imbalan besar. Hal ini memicu peningkatan penggunaan dompet elektronik dan aplikasi transfer uang.

    Di situlah Baraa Abu al-Aoun berperan.

    “Alat saya sederhana: penggaris, pensil, pensil warna, dan lem,” katanya.

    “Gencatan senjata tidak mengubah situasi keuangan. Yang saya lakukan sekarang adalah melayani orang dan membantu mereka.”

    Keruntuhan ekonomi Gaza selama dua tahun digempur intensif berdampak sangat dahsyat. Bahkan, sebuah laporan baru PBB menyebut seluruh penduduk Gaza yang berjumlah lebih dari dua juta jiwa telah terjerumus ke dalam kemiskinan.

    Menurut Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), empat dari lima orang di Gaza kini menganggur. Mereka yang masih memiliki pendapatan atau tabungan pun kesulitan mengakses uang tunai.

    “Ini murni penderitaan dan tidak ada yang lain,” kata Numan Rayhan, yang mengungsi ke Kota Gaza dari Jabalia di Gaza utara dengan sedikit barang bawaan.

    “Kekurangan pendapatan, kekurangan uang, tidak ada aliran uang tunai dari bank.”

    Pada awal serangan, Israel menargetkan bank-bank, yang menurut pejabat Israel terkait dengan Hamas.

    Israel mengklaim brankas bank-bank tersebut dijarah oleh geng-geng Palestina bersenjata, beberapa di antaranya dituduh sebagai Hamas. Otoritas Moneter Palestina (PMA) sebelumnya mengatakan, uang tunai senilai sekitar US$180 juta (Rp3 triliun) telah dicuri.

    Cogat, badan pertahanan Israel yang mengontrol penyeberangan perbatasan Gaza, mengonfirmasi, sesuai dengan perintah politik “dan karena ketergantungan Hamas pada uang tunai untuk mempertahankan aktivitas militernya”, Israel tidak mengizinkan uang tunai masuk ke Gaza.

    Banyak bank di Jalur Gaza rusak akibat gempuran Israel. (Anadolu via Getty Images)

    Sedikitnya uang tunai yang beredar “menyebabkan masalah bagi penjual dan pembeli”, kata Zakaria Ajour, seorang pedagang di pasar lain di Kota Gaza.

    Orang-orang tidak mau lagi menerima uang kertas yang usang dan rapuh dengan nilai nominalnya, “jika ada goresan kecil atau potongan selotip pada uang kertas tersebut.”

    “Beberapa pelanggan datang kepada saya hanya karena mereka menginginkan uang receh untuk transportasi, tetapi saya tidak punya uang receh,” lanjut Ajour.

    “Koin sepuluh shekel hampir tidak ditemukan. Kalaupun ditemukan, nilainya hampir tidak ada karena inflasi akibat krisis uang tunai,” sambungnya.

    Sekarang, ada antrean panjang di luar Bank Palestina di Kota Gaza, salah satu dari sembilan cabang dari lima bank yang telah dibuka kembali.

    Nasabah hanya dapat mengaktifkan kembali rekening yang dibekukan, membuka rekening baru, atau masuk ke aplikasi perbankan.

    Asmaa al-Ladaa ingin membuka rekening agar dia dapat menerima uang langsung dari kerabatnya yang tinggal di luar Gaza.

    “Hanya ada kekacauan dan keramaian,” katanya.

    “Kami bangun pukul 06.00 dan meninggalkan anak-anak kami di tenda. Kami meninggalkan segalanya hanya untuk datang ke bank.”

    Warga Palestina memperbaiki uang kertas yang rusak di Kota Gaza, 17 Juni 2025. (NurPhoto via Getty Images)

    Di Kota Khan Younis di bagian Selatan Jalur Gaza, bangunan-bangunan bank terlalu rusak untuk dibuka kembali.

    Abu Khalil baru saja kembali dari perjalanan ke Gaza tengah. Setelah menghabiskan hampir seharian untuk mengantre, ia tidak berhasil masuk ke bank. Dia putus asa membayangkan harus kembali lagi.

    Dia masih menerima gaji bulanan sekitar 2.000 shekel (Rp10,2 juta) dari Otoritas Palestina. Tetapi, hampir setengah dari pendapatannya habis untuk biaya yang dibayarkan kepada pedagang atau penukar uang.

    “Saya harus membayar biaya tersebut. Tidak ada alternatif lain,” keluhnya.

    Selama gempuran Israel, banyak pengusaha kecil yang sebelumnya menawarkan layanan transfer dan pertukaran uang, mulai mengenakan komisi tinggi kepada pelanggan guna mengubah transfer elektronik menjadi uang tunai. Kadang-kadang mencapai 50%, meskipun baru-baru ini turun.

    Seorang pedagang uang, yang ingin tetap anonim, memberi tahu kami bahwa kekuatan pasar menentukan tarif komisi.

    “Pekerjaan kami terkait langsung dengan aktivitas pasar dan masuknya barang dan bantuan,” katanya.

    “Ketika ada arus masuk barang, dan aktivitas jual beli yang tinggi, komisi turun secara signifikan, terkadang hingga serendah 20%. Tetapi ketika perbatasan ditutup, tarifnya naik.”

    Anadolu via Getty ImagesUang kertas yang rusak diperbaiki di Kota Gaza, 2 Juni 2025.

    Transfer elektronik melalui aplikasi perbankanyang dikenakan biaya kecil oleh pemilik toko dan kiosmenjadi solusi bagi warga Gaza untuk melakukan pembelian, bahkan barang-barang kecil.

    Otoritas Moneter Palestina, yang bertindak sebagai regulator keuangan, telah meluncurkan sistem pembayaran yang memungkinkan transaksi instan antar rekening bank lokal.

    Bagi mereka yang tidak memiliki rekening, Bank Palestina menawarkan dompet elektronik dan mengatakan, sekarang ada lebih dari 500.000 pengguna di Gaza.

    Transaksi ini dapat dilakukan tanpa koneksi internet atau aplikasi, menggunakan layanan SMS di ponsel apa pun.

    Dompet elektronik digunakan mengirimkan bantuan keuangan langsung kepada keluarga yang membutuhkan, oleh lembaga kemanusiaan termasuk UNICEF dan Program Pangan Dunia.

    Sejak awal tahun lalu, UNICEF mengatakan mampu melakukan transfer tunai kepada sekitar satu juta orangsetengahnya adalah anak-anak. Mereka memprioritaskan kelompok rentan, termasuk anak-anak yang diamputasi dan yatim piatu, serta ibu hamil atau menyusui.

    “Pada dasarnya, warga dapat pergi ke toko kelontong, dan ponsel digunakan sebagai kartu pembayaran, warga dapat membeli dengan itu,” jelas Jonathan Crickx dari UNICEF.

    “Bagaimana uang itu sebenarnya dibelanjakan bisa dilacak. Dari apa yang kami amati, 99% dari semua penerima manfaat membelanjakannya untuk makanan dan air. Kemudian untuk barang-barang kebersihan, seperti sabun. Terakhir untuk listrik melalui generator.”

    Crickx mengatakan, ia secara pribadi telah menyaksikan sejumlah keluarga harus membeli 2 kg tomat seharga sekitar Rp1,3 juta, dan 5 kg bawang seharga Rp1,1 juta.

    Anadolu via Getty ImagesUang kertas yang rusak diperbaiki di Kota Gaza, 2 Juni 2025.

    Hanan Abu Jahel, yang mengungsi dari Kota Gaza dan tinggal di sebuah kamp di al-Zawaideh di Gaza tengah bersama keluarga besarnya, baru-baru ini menerima 1.200 shekel (Rp6,2 juta) dari UNICEF. Dia menggunakannya untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, lentil, dan pasta.

    Namun dia berkata: “Anak-anak saya membutuhkan sayuran, buah-buahan, daging, dan telur. Putra bungsu saya sangat menginginkan telur, tetapi saya tidak bisa mendapatkannya karena harganya masih sangat tinggi dan saya harus memenuhi kebutuhan 12 orang.”

    Rencana perdamaian 20 poin Presiden AS Donald Trump menjanjikan “rencana pembangunan ekonomi untuk membangun kembali dan menghidupkan kembali Gaza”, dengan mengumpulkan “panel ahli yang telah membantu melahirkan beberapa kota ajaib modern yang berkembang pesat di Timur Tengah”.

    Rencana tersebut membayangkan investasi baru dan “ide-ide pembangunan yang menarik” yang dapat “menciptakan lapangan kerja, peluang, dan harapan untuk masa depan Gaza”.

    Namun, tidak ada rincian tentang bagaimana untuk mulai menghasilkan pertumbuhan dan stabilitas, ketika badan perdagangan PBB memperingatkan, kawasan tersebut sedang mengalami krisis ekonomi terparah yang pernah tercatat.

    BBCBaraa Abu al-Aoun memperbaiki uang kertas yang rusak di Kota Gaza.

    Kembali di Kota Gaza, Baraa Abu al-Aoun mengangkat uang kertas yang sedang ia perbaiki ke arah cahaya matahari.

    Banyak pelanggannya menunggu, tertarik oleh papan namanya yang menjanjikan perbaikan uang “dengan profesionalisme tinggi dan tanpa selotip”.

    Saat Baraa terus bekerja, ia merindukan kembalinya kehidupan normal dengan prospek pekerjaan yang lebih menguntungkan.

    “Saya hanya ingin serangan ini berakhir sepenuhnya,” katanya.

    “Harapan saya adalah akhirnya merasakan kelegaan, sehingga saya dapat belajar dan bekerja dengan gelar sarjana.”

    “Di Gaza, kami hanya bertahan hidup. Kami bukan manusia lagi.”

    (ita/ita)

  • Gimana Nasib Minyak Venezuela Setelah AS Singkirkan Maduro?

    Gimana Nasib Minyak Venezuela Setelah AS Singkirkan Maduro?

    Jakarta

    Serangan Amerika Serikat (AS) ke Caracas dan penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro membuat negara Amerika Selatan itu berada dalam situasi penuh kebingungan dan ketidakpastian.

    Presiden AS Donald Trump, sesaat setelah operasi tersebut, menyatakan bahwa AS akan “mengelola” Venezuela. Pernyataan itu tampaknya ingin memberitahukan tentang bagaimana Washington akan menangani komoditas utama negara itu, yakni minyak.

    “Kami akan mengirim perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, untuk masuk ke sana, menginvestasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, terutama infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara tersebut,” kata Trump.

    Seberapa penting minyak bagi Venezuela?

    Perekonomian Venezuela yang rapuh sangat bergantung pada sektor minyak. Pemerintahan Maduro hampir sepenuhnya mengandalkan hidrokarbon sebagai sumber pendapatan negara.

    Minyak mentah dan produk turunannya, termasuk petrokimia, menyumbang sekitar 90 persen dari total pendapatan ekspor Venezuela. Sektor ini membantu pemerintah yang terisolasi dan terkena sanksi berat tetap bertahan meski negara itu dilanda krisis ekonomi parah.

    Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel, bahkan melampaui Arab Saudi. Namun, kontribusinya terhadap produksi minyak global kini kurang dari 1 persen. Angka ini merosot tajam dibandingkan dekade 1960-an, ketika Venezuela menyumbang lebih dari 10 persen produksi minyak dunia. Produksi minyak mentah Venezuela telah anjlok lebih dari 70 persen sejak akhir 1990-an, dan negara ini kini berada di peringkat ke-21 produsen minyak dunia.

    Kemerosotan ini berakar pada kebijakan pemerintahan mantan Presiden Hugo Chavez. Revolusi sosialis yang ia jalankan pada 1990-an dan 2000-an memicu korupsi besar-besaran di perusahaan minyak negara PDVSA, serta mendorong hengkangnya investasi asing akibat campur tangan pemerintah dalam sektor energi.

    PDVSA saat ini mampu menstabilkan produksi di kisaran satu juta barel per hari. Hal ini sebagian dimungkinkan oleh lisensi AS yang mengizinkan sejumlah mitra asing terbatas beroperasi di Venezuela dan mengekspor minyak.

    Sejauh mana keterlibatan perusahaan minyak AS di Venezuela?

    Sepanjang abad ke-20, AS merupakan mitra utama sektor minyak Venezuela, dengan perusahaan-perusahaan besar AS menanamkan investasi besar di negara itu.

    Namun, hampir semua perusahaan tersebut hengkang setelah revolusi Chavez, kecuali Chevron.

    Meski terkena dampak sanksi, Chevron memperoleh lisensi khusus dari pemerintahan Joe Biden pada 2022 untuk kembali mengekspor minyak Venezuela dengan syarat ketat. Langkah ini bertujuan meredakan tekanan pasar minyak global setelah invasi Rusia ke Ukraina.

    Pada Oktober tahun ini, pemerintahan Trump memberikan kembali izin kepada Chevron untuk memproduksi minyak di Venezuela, dengan alasan perusahaan AS tersebut merupakan mitra penting bagi Caracas.

    Chevron menjadi pihak yang paling berpotensi diuntungkan jika Trump membuka kembali pintu investasi AS di Venezuela. Saat ini, Chevron mempekerjakan sekitar 3.000 orang di negara tersebut. Dalam pernyataannya, Chevron menyebut akan beroperasi “dengan mematuhi sepenuhnya seluruh hukum dan peraturan yang berlaku”, tetapi tidak mengomentari kemungkinan ekspansi bisnis.

    Trump juga menyatakan perusahaan-perusahaan minyak besar AS akan kembali ke Venezuela, termasuk ExxonMobil dan ConocoPhillips.

    ExxonMobil, perusahaan minyak terbesar AS, asetnya disita oleh pemerintahan Chavez pada 2007. Proyek-proyek ConocoPhillips di Hamaca, Petrozuata, dan Corocoro juga mengalami nasib serupa. Kedua perusahaan memenangkan kompensasi bernilai miliaran dolar dalam arbitrase internasional, tetapi hingga kini Venezuela belum membayarnya. Inilah yang menjadi dasar klaim Trump tentang “minyak yang dicuri”.

    “Kami membangun industri minyak Venezuela dengan bakat, dorongan, dan keahlian Amerika, lalu rezim sosialis mencurinya dari kami pada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Mereka mencurinya dengan kekerasan,” kata Trump.

    “Ini merupakan salah satu pencurian properti Amerika terbesar dalam sejarah negara kami,” tambahnya.

    ConocoPhillips menyatakan sedang “memantau perkembangan di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap pasokan dan stabilitas energi global”. Perusahaan itu menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk berspekulasi mengenai aktivitas bisnis atau investasi di masa depan.

    Apakah AS benar-benar membutuhkan minyak Venezuela?

    AS saat ini merupakan produsen minyak terbesar di dunia. Sekilas, hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa Trump begitu berambisi terhadap minyak Venezuela.

    Kuncinya terletak pada jenis minyak. Produksi utama AS adalah minyak mentah ringan, bukan minyak berat yang lebih kental. Padahal, banyak kilang minyak AS, terutama di wilayah Teluk Meksiko, dirancang untuk mengolah minyak berat menjadi bensin, diesel, dan produk penting lainnya.

    Meski menjadi produsen besar, AS tetap mengimpor minyak berat dari negara seperti Kanada dan Meksiko untuk memasok kilang-kilang tersebut. Akibatnya, sebagian besar minyak mentah ringan yang diproduksi di AS justru diekspor.

    “Menggunakan jenis minyak mentah yang tepat membuat kilang kami lebih efisien, menekan biaya, dan menjaga ketahanan energi,” kata Asosiasi Produsen Bahan Bakar dan Petrokimia Amerika Serikat (AFPM). “Mengubah kilang agar hanya memproses minyak mentah AS akan menelan biaya miliaran dolar, berisiko tinggi, dan membutuhkan waktu puluhan tahun.”

    Meski produksi Venezuela merosot tajam, cadangan minyaknya mencakup cadangan minyak berat terbesar di dunia, jenis yang dibutuhkan kilang-kilang AS. Selama beberapa dekade, minyak berat Venezuela menjadi pasokan utama bagi kilang AS.

    Hal inilah yang membuat akses kembali ke minyak Venezuela sangat menarik bagi perusahaan-perusahaan AS.

    Mungkinkah janji minyak Trump di Venezuela terwujud?

    Masih ada pertanyaan hukum dan logistik besar terkait apakah minyak akan kembali mengalir dari Venezuela.

    Bentuk pemerintahan yang akan terbentuk di Venezuela setelah ketiadaan Maduro masih belum jelas. Selain itu, sejauh mana pemerintahan baru akan mempermudah upaya AS memengaruhi sektor minyak negara tersebut juga masih belum diketahui.

    Kondisi infrastruktur minyak Venezuela juga menjadi tanda tanya. Menurut mantan Menteri Energi AS pada pemerintahan pertama Trump, Dan Brouillette, laporan awal yang menunjukkan fasilitas minyak Venezuela masih utuh tidak serta-merta menjamin cadangan besar itu bisa segera dimanfaatkan.

    “Kendala utama bukan pada geologi, melainkan tata kelola, sanksi, akses modal, dan pelaksanaan,” tulis Brouillette di LinkedIn. “Jika perubahan politik membawa stabilitas cepat dan otoritas yang kredibel atas PDVSA, potensi tambahannya bersifat bertahap, bukan lonjakan mendadak.”

    Meski beberapa perusahaan asing tetap bertahan di Venezuela, sanksi membuat fasilitas minyak negara itu kekurangan investasi untuk pembaruan. Besarnya kebutuhan investasi baru kemungkinan baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan.

    Faktor lain adalah permintaan global terhadap minyak. Harga minyak telah turun sepanjang tahun lalu dan diperkirakan akan terus melemah pada 2026 akibat kelebihan pasokan. Jika janji Trump soal Venezuela terwujud, pasokan minyak tambahan akan masuk ke pasar global yang sudah jenuh.

    Bagaimana dengan Cina?

    Selama dua dekade terakhir, Cina menjadi mitra politik dan ekonomi penting bagi Venezuela.

    Di sektor minyak, perusahaan Cina National Petroleum Corporation (CNPC) memiliki usaha patungan dengan PDVSA. Sebagian besar minyak Venezuela dikirim ke Cina. Namun, Beijing tidak secara signifikan memperluas operasinya di Venezuela meski AS sebelumnya menarik diri.

    Cina mengecam keras penyingkiran Maduro oleh AS dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Venezuela.

    Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

    Editor: Prihardani Purba

    (ita/ita)

  • Trump Ancam Serang Venezuela Lagi Jika Tak Berperilaku Baik!

    Trump Ancam Serang Venezuela Lagi Jika Tak Berperilaku Baik!

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan ada serangan kedua terhadap Venezuela, jika anggota pemerintahan yang tersisa di negara itu tidak bekerja sama dengan upaya Washington untuk “memperbaiki” negara tersebut.

    Ancaman ini, dilansir Reuters dan Hindustan Times, Senin (5/1/2026), disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1) waktu setempat, setelah AS melancarkan rentetan serangan militer terhadap Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat.

    Di tengah ketidakpastian tentang masa depan politik Venezuela setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap dan ditahan di AS, Trump mengancam akan ada serangan kedua terhadap negara tersebut “jika mereka tidak berperilaku baik”.

    “Kita siap melakukan serangan kedua,” kata Trump kepada wartawan.

    Ketika seorang wartawan bertanya apakah operasi militer lainnya terhadap Venezuela kini telah dikesampingkan, Trump menimpali: “Tidak, tidak demikian. Jika mereka tidak berperilaku baik, kita akan melancarkan serangan kedua.”

    Maduro saat ini berada di pusat penahanan di New York, AS, menunggu persidangan pada Senin (5/1) waktu setempat atas tuduhan perdagangan narkoba yang menjerat dirinya.

    Penangkapan Maduro memicu ketidakpastian mendalam tentang apa yang akan terjadi selanjutnya bagi negara Amerika Selatan yang kaya minyak tersebut.

    Trump mengatakan pemerintahannya akan bekerja sama dengan anggota rezim Maduro yang tersisa untuk menindak perdagangan narkoba dan mereformasi industri minyak Venezuela, daripada mendorong pemilu segara untuk membentuk pemerintahan baru.

    Dikatakan oleh Trump, dalam tanya-jawab terbaru dengan media, bahwa fokusnya lebih tertuju pada “memperbaiki” Venezuela. Pernyataan ini senada dengan komentar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menyebut pemilu Venezuela akan “terlalu dini” saat ini.

    “Yang menjadi fokus kita saat ini adalah semua masalah yang kita hadapi ketika Maduro berkuasa. Kita masih memiliki masalah-masalah tersebut, yang perlu ditangani. “Kita akan memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk mengatasi tantangan dan persoalan tersebut,” katanya seperti dikutip AFP.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Dituduh Trump sebagai Pengedar Narkoba, Presiden Kolombia Meradang!

    Dituduh Trump sebagai Pengedar Narkoba, Presiden Kolombia Meradang!

    Jakarta

    Presiden Kolombia Gustavo Petro menolak keras ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang juga menuduhnya sebagai pengedar narkoba.

    Sebelumnya, pasukan AS menyerang Caracas, ibu kota Venezuela pada dini hari Sabtu (3/1) waktu setempat lalu, membombardir target-target militer selama serangan mendadak untuk menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dari kekuasaan.

    Berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada hari Minggu (4/1) waktu setempat, Trump membuat ancaman serupa tentang tindakan militer terhadap Kolombia. Trump mengatakan bahwa negara Amerika Selatan itu “juga sangat sakit” dan “dijalankan oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat.”

    “Dia memiliki pabrik kokain dan tidak akan melakukannya lagi dalam waktu sangat lama,” tambah Trump, dilansir kantor berita AFP, Senin (5/1/2026).

    Ketika ditanya apakah intervensi militer serupa dengan Venezuela akan dilakukan terhadap Kolombia, pemimpin Partai Republik itu berkata: “Kedengarannya bagus bagi saya.”

    “Anda tahu mengapa, karena mereka membunuh banyak orang,” klaim Trump tanpa bukti.

    Petro menolak tuduhan tersebut dengan mengatakan “namanya tidak muncul dalam catatan pengadilan.”

    “Berhenti memfitnah saya, Tuan Trump,” tulis Petro di platform media sosial X.

    “Bukan seperti itu cara Anda mengancam seorang presiden Amerika Latin yang muncul dari perjuangan bersenjata dan kemudian dari perjuangan rakyat Kolombia untuk perdamaian,” ujarnya.

    Petro telah mengkritik keras aksi militer pemerintahan Trump di kawasan itu dan menuduh Washington menculik Maduro “tanpa dasar hukum.”

    Dalam unggahan selanjutnya di X pada hari Minggu, Petro menambahkan, “teman tidak boleh mengebom.”

    Kementerian Luar Negeri Kolombia menyebut ancaman presiden AS itu sebagai “campur tangan yang tidak dapat diterima” dan menuntut “penghormatan.”

    Kolombia dan Amerika Serikat adalah sekutu militer dan ekonomi utama di kawasan itu, tetapi hubungan mereka telah tegang belakangan ini.

    Sejak awal masa jabatan kedua Trump, kedua pemimpin tersebut kerap berselisih mengenai isu-isu seperti tarif dan kebijakan migrasi.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Ekonom: Krisis di Venezuela belum dorong kenaikan harga minyak dunia

    Ekonom: Krisis di Venezuela belum dorong kenaikan harga minyak dunia

    Jakarta (ANTARA) – Ekonom yang juga Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai gejolak politik di Venezuela belum berdampak signifikan terhadap pergerakan harga minyak dunia.

    Bhima, saat dihubungi dari Jakarta, Senin, menuturkan hingga awal 2026, harga minyak mentah masih berada di level rendah dengan koreksi mencapai 22 persen dalam satu tahun terakhir, tanpa tanda-tanda rebound.

    Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, Bhima menyebut kondisi geopolitik yang biasanya memicu lonjakan harga komoditas energi kali ini belum tercermin di pasar global.

    Menurut Bhima, gejolak geopolitik biasanya tercermin dari peralihan minat investor ke dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

    “Indeks dolar AS terhadap mata uang lain masih fluktuatif di level 98. Belum terlihat kepanikan investor global karena kejadian di Venezuela,” ujar Bhima.

    Lebih lanjut, Bhima menilai imbas terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia juga relatif kecil.

    Krisis di Venezuela, menurutnya, belum memicu bonanza atau lonjakan harga komoditas global, sehingga Indonesia tidak bisa mengandalkan tambahan penerimaan dari ekspor minyak, gas, batu bara, dan nikel hingga akhir 2026.

    Krisis politik Venezuela semakin memanas setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap instalasi sipil dan militer pada Sabtu (3/2) dini hari menimbulkan ledakan besar di sejumlah negara bagian.

    Pemerintah Venezuela kemudian menetapkan keadaan darurat nasional.

    Presiden AS Donald Trump membenarkan pihaknya melakukan serangan dan menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, yang langsung dibawa ke AS.

    Trump menyatakan pemerintahannya akan sementara memimpin Venezuela hingga transisi kekuasaan berlangsung. Ia juga mengumumkan rencana investasi miliaran dolar oleh perusahaan minyak AS untuk memulihkan produksi minyak di negara Amerika Selatan tersebut.

    Sementara itu, Pemerintah Indonesia menyerukan agar semua pihak mengedepankan dialog, menahan diri, serta mematuhi hukum internasional.

    Pewarta: Shofi Ayudiana
    Editor: Biqwanto Situmorang
    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.