Tag: Dian Siswarini

  • CEO XL Axiata Dian Siswarini Mundur, Ini Alasannya

    CEO XL Axiata Dian Siswarini Mundur, Ini Alasannya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Direktur & CEO PT XL Axiata Tbk. (EXCL), Dian Siswarini, mengundurkan diri dari jabatannya pada Rabu, 3 Desember 2024.

    Kabar ini diketahui dari keterbukaan Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam uraian Informasi atau Fakta Material Pada 3 Desember 2024, Perseroan telah menerima surat pengunduran diri Dian Siswarini selaku Presiden Direktur Perseroan yang akan berlaku efektif sejak diperoleh persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan terdekat.

    Adapun alasan pengunduran diri beliau adalah karena alasan pribadi. Selanjutnya permohonan pengunduran diri tersebut akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan terdekat sesuai dengan anggaran dasar Perseroan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    Dian Siswarini menjabat sebagai Presiden Direktur sekaligus CEO XL Axiata sejak 2015 lalu setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa 1 April 2015.

    Dian memulai karier di industri telekomunikasi sejak 1991 pada bidang teknis. Ia bergabung dengan XL pada 1996. Di tahun 2007 Dian dipercaya sebagai Direktur Jaringan lalu tahun 2011 menjabat sebagai Direktur Layanan Digital hingga Juni 2013.

    Pengunduran diri Dian terjadi pada saat induk usaha EXCL, Axiata Group, dikabarkan tengah membicarakan merger antara XL dan PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) milik Sinar Mas. 

    (dem/dem)

  • ARPU dan Pelanggan XL Axiata Naik pada Kuartal III/2024

    ARPU dan Pelanggan XL Axiata Naik pada Kuartal III/2024

    Bisnis.com, JAKARTA – PT XL Axiata Tbk (EXCL) mengalami kenaikan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) selama sembilan bulan pertama 2024.

    Dalam paparan kinerjanya, XL berhasil mendapatkan ARPU blended sebesar Rp43.00 pada sembilan bulan pertama 2024. Angka ini naik Rp2.000 dibandingkan dengan sembilan bulan pertama 2023 yang hanya menembus angka Rp41.000.

    Adapun, ARPU Rp43 .000 pada sembilan bulan pertama 2024 merupakan campuran dari pengguna prabayar dan pascabayar. Dalam laporan tersebut, pelanggan prabayar XL menyumbang Rp42.000 dan pelanggan pascabayar menyumbang Rp88.000.

    “Peningkatan blended ARPU ini tentunya searah dengan fokus perusahaan untuk meraih dan mempertahankan pelanggan yang produktif,” tulis laporan tersebut.

    Selain ARPU, sampai bulan September 2024 XL berhasil meningkatkan jumlah pelanggannya. Tercatat, sampai bulan September 2024 pelanggan XL sudah mencapai 58,6 juta yang terakumulasi dari pelanggan prabayar sebanyak 56,9 juta pelanggan dan pascabayar sebanyak 1,7 juta orang

    Angka ini tumbuh 1,1 juta pelanggan atau naik 2% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari sebelumnya hanya 57,5 juta pelanggan. 

    Lebih lanjut, aplikasi MyXL dan AXISNet terus menunjukkan efektivitasnya. Kedua aplikasi telah memberikan hasil yang sangat kuat hingga sembilan bulan pertama 2024. 

    Tercatat lebih dari 32 juta pelanggan yang aktif menggunakan MyXL dan AXISNet, dengan pertumbuhan Monthly Active User (MAU) telah mencapai 113% sejak Desember 2021.

    Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan bahwa sepanjang sembilan bulan terutama di kuartal ketiga 2024, situasi dan kondisi industri telekomunikasi nasional sangat menantang, di mana kompetisi berlangsung ketat, di tengah daya beli masyarakat yang terus melemah. 

    Namun, XL kata Dian mampu meraih kinerja yang cukup baik, dengan tetap mampu mencetak tingkat profitabilitas yang tumbuh positif. 

    Tantangan ke depan tentunya tidak akan lebih ringan, terutama kondisi ekonomi Indonesia yang masih akan terpengaruh oleh kondisi geopolitik dunia, serta tingkat daya beli masyarakat yang masih lemah. 

    “Kami akan terus bekerja keras untuk tetap menjaga pertumbuhan kinerja di periode yang akan datang, dan kami yakin akan mampu melakukannya,” kata Dian dalam keteranganya, Kamis (7/11/2024).

  • BTS XL Axiata Bertambah 6.869 Unit Kuartal III/2024, Industri Telko Menantang

    BTS XL Axiata Bertambah 6.869 Unit Kuartal III/2024, Industri Telko Menantang

    Bisnis.com, JAKARTA –  PT XL Axiata Tbk (EXCL) menambah jumlah stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) hingga 6.869 unit pada kuartal III/2024 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. 

    Hingga kuartal III/2024, XL memiliki 165.094 Base Transceiver Station (BTS), jumlah ini naik 4% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari sebelumnya hanya 158.225 BTS

    Jumlah BTS tersebut terakumulasi dari 110.280 BTS 4G, 374 BTS 3G, dan 54.440 BTS 2G. Adapun BTS 4G milik XL pada kuartal III/2024 meningkat 6,6% yoy dibanding periode sebelumnya sebanyak 103,225 BTS 4G.

    Tak hanya BTS 4G, BTS 2G milik XL juga mengalami peningkatan pada kuartal III/2024. Kuartal ini BTS 2G XL terdapat sebanyak 54.440, unit ini naik 787 unit dibanding kuartal yang sama tahun sebelumnya yang terdapat sebanyak 53.653.

    Akan tetapi, penurunan terjadi pada BTS 3G milik XL. Tercatat pada kuartal III/2024 BTS 3G milik XL hanya terdata sebanyak 374 unit, angka ini anjlok 970 unit dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1.164 unit.

    Selain itu keterhubungan dengan jaringan fiber optik (fiberized) milik XL naik menjadi 63% di kuartal III/2024. Angka ini naik 2% secara tahunan atau yoy dari tahun sebelumnya yang berada diangka 61%.

    Adapun, fibertasi BTS dilakukan pihak XL untuk meningkatkan kualitas jaringan data dan sebagai persiapan implementasi 5G di masa mendatang.

    Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan bahwa sepanjang sembilan bulan terutama di kuartal ketiga 2024, situasi dan kondisi industri telekomunikasi nasional sangat menantang, di mana kompetisi berlangsung ketat, di tengah daya beli masyarakat yang terus melemah. 

    Namun, kata Dian, XL mampu meraih kinerja yang cukup baik, dengan tetap mampu mencetak tingkat profitabilitas yang tumbuh positif. 

    Tantangan ke depan tentunya tidak akan lebih ringan, terutama kondisi ekonomi Indonesia yang masih akan terpengaruh oleh kondisi geopolitik dunia, serta tingkat daya beli masyarakat yang masih lemah. 

    “Kami akan terus bekerja keras untuk tetap menjaga pertumbuhan kinerja di periode yang akan datang, dan kami yakin akan mampu melakukannya,” kata Dian dikutip, Kamis (7/11/2024).

  • Prabowo Mau Internet Cepat, Lawannya RT/RW Net

    Prabowo Mau Internet Cepat, Lawannya RT/RW Net

    Jakarta

    Presiden Prabowo Subianto mengamanatkan internet cepat kepada Kementerian Komdigi. Namun kata XL Axiata, tantangannya ada di RT/RW Net.

    Rencana Prabowo untuk mengekspansi jaringan internet dengan kecepatan tinggi ke seluruh negeri, didukung oleh XL Axiata. Menurut mereka, internet cepat punya multiple efek yang besar untuk ekonomi digital.

    “Kalau pemerintah mempunyai fokus ke sana, itu menurut kami sangat baik dan perlu di-support. Tapi untuk semua pelaku, tata kelola bisnis harus dijaga supaya semua pemainnya itu bisa sehat dan bisa mendukung internet di seluruh negeri dengan kecepatan tinggi 100 Mbps,” kata Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini dalam XL Axiata Get Along with Media di Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (23/10/2024) malam

    Masalahnya menurut XL Axiata, ada tantangan dari ISP ilegal alias RT/RW Net yang menjadi hambatan untuk mengembangkan internet cepat di Indonesia. Hal ini pun merugikan operator telko.

    Chief Corporate Affairs XL Axiata, Marwan O Baasir mengatakan pihaknya bersama Open Signal sedang melakukan pengukuran. Menurutnya, RT/RW Net yang merupakan praktek ilegal konsumen menjual internet ke konsumen lain menyebabkan terjadinya downgrade kecepatan internet di Indonesia.

    “Kami meyakini ini adalah drag down dari speed yang terjadi di RT/RW Net,” kata Marwan.

    Chief Corporate Affairs XL Axiata, Marwan O Baasir Foto: Fitraya Ramadhanny/detikcom

    Marwan mengatakan total penyelenggara ISP tumbuh 1.500 dan yang sudah beroperasi ada 1.200 dalam setahun terakhir. Namun di berbagai daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur terjadi situasi dimana konsumen membeli internet dari provider, lantas dijual ke konsumen lain.

    “Ini yang menjadi tantangan kita sehingga speed yang diukur Komdigi harapannya 100 Mbps tapi pada kenyataannya masih di 32 Mbps,” ujarnya.

    Marwan mencontohkan di Banyuwangi, penetrasi fixed broadband yang berlisensi hanya 3-4%, sisanya dikuasai RT/RW Net. Hal ini menjadi suara keprihatinan XL Axiata. Ada 2,6 juta rumah yang memakai RT/RW Net.

    “Harga nggak bisa membohongi kualitas. Harga yang dijual 5 Mbps, 10 Mbps, 15 Mbps. Bagaimana kita mau menaikkan speed nasional? Tantangan ini yang kita hadapi sehingga keamanan data pun sulit kita kontrol,” kata Marwan.

    XL Axiata pun mengusulkan 3 langkah aksi untuk mengatasi RT/RW Net. Pertama, ada penindakan hukum kepada pelaku RT/RW Net dan perlindungan kepada penyelenggara yang sah. Kedua, mesti ada peningkatan pemahaman kepada masyarakat soal bahayanya RT/RW Net karena ilegal. Langkah aksi ketiga adalah sosialisasi dan tarif batas bawah perlu ditetapkan untuk mencegah perang harga.

    “Sosialisasi juga penting, bahwa reseller itu hanyalah dengan penyelenggara langsung. ISP perlu moratorium supaya nggak banyak lagi. Yang sudah ada dipindahkan kepada penyelenggara yang sah,” kata Marwan.

    (fay/fyk)

  • XL Axiata-Smartfren Mau Merger, Hak Karyawan Jadi Perhatian

    XL Axiata-Smartfren Mau Merger, Hak Karyawan Jadi Perhatian

    Sleman

    Rencana merger XL Axiata-Smartfren segera memasuki babak akhir. Hak-hak karyawan akan diperhatikan sesuai regulasi.

    Aspek karyawan tentu menjadi hal yang menjadi perhatian dalam setiap proses merger dua perusahaan. Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan untuk menjaga proses merger ini nanti berjalan dengan lancar, tentunya akan melibatkan dan mendengarkan aspirasi stakeholder internal dan eksternal.

    “Perlunya pemenuhan hak-hak karyawan sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku,” jelas Dian di sela XL Axiata Get Along with Media di Sleman, DI Yogyakarta, Rabu (24/10/2024) malam.

    Sebelumnya, Dian mengatakan setelah due diligence, proses merger bisa maju ke tahap selanjutnya. Kedua pihak ingin merger bisa segera terlaksana. Bola selanjutnya di tangan pemerintah.

    “Bahwa memang target penyelesaiannya akhir tahun ini ya. Tapi kembali lagi bahwa closing dari merger ini sangat ditentukan oleh approval dari 2 institusi yang paling mempengaruhi dari Kementerian Komdigi dan dari OJK,” kata Dian.

    XL Axiata juga memahami situasi terkini yaitu pemerintahan baru, kabinet baru dan menteri komunikasi yang baru. Mereka memantau perkembangan yang baru dan berharap Menkomdigi Meutya Hafid bisa segera memberikan persetujuan.

    “Kita harapkan nanti dengan menteri yang baru juga bisa men-support untuk merger ini dan memberikan tentu saja approval sesuai dengan yang kita harapkan,” ujarnya.

    (fay/fyk)

  • XL Axiata Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris, Ini Daftarnya

    XL Axiata Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris, Ini Daftarnya

    Jakarta

    Operator seluler XL Axiata telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan 2024. Hasilnya, ada perubahan susunan direksi dan dewan komisaris hingga mengumumkan bagi dividen Rp 635,5 miliar.

    “Tahun ini, Rapat kembali menyetujui penggunaan 50% dari keuntungan setelah penyesuaian, untuk dibagikan sebagai dividen kepada para pemegang saham,” ujar Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (3/5/2025).

    Bagi dividen tersebut sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham kepada perusahaan. Total dividen ini kurang lebih sebesar Rp 635,5 miliar yang setara dengan Rp 48,6 per lembar saham.

    Sisa dari keuntungan lainnya akan kami pergunakan sebagai Alokasi Cadangan Umum sebesar Rp 100 juta dan selebihnya dicatat dalam Saldo Laba Ditahan untuk mendukung pengembangan usaha perseroan.

    Dian menambahkan, dalam salah satu agenda, RUPS Tahunan itu menyetujui perubahan susunan dan pengangkatan kembali Direksi dan Dewan Komisaris XL Axiata.

    Perubahan ini terkait berakhirnya masa jabatan Yasmin Stamboel Wirjawan dan Muliadi Rahardja sebagai Komisaris Independen. Sebagai gantinya mengangkat Yasmin Aladad Khan dan Didi Syafruddin Yahya sebagai Komisaris Independen.

    Selain itu, Rapat juga menyetujui pengangkatan Nik Rizal Kamil Nik Ibrahim Kamil sebagai anggota Komisaris untuk periode 2024-2029 terhitung sejak ditutupnya Rapat ini sampai dengan berakhirnya periode jabatan anggota Dewan Komisaris baru pada penutupan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tahun 2029.

    Berikut susunan Direksi dan Komisaris XL Axiata terbaru

    Dewan Direksi

    Presiden Direktur : Dian Siswarini
    Direktur : Yessie Dianty Yosetya
    Direktur : Feiruz Ikhwan
    Direktur : David Arcelus Oses
    Direktur : Abhijit Jayant Navalekar
    Direktur : I Gede Darmayusa
    Direktur : Rico Usthavia Frans

    Dewan Komisaris

    Presiden Komisaris : Dr. Muhamad Chatib Basri
    Komisaris : Vivek Sood
    Komisaris : Dr. Hans Wijayasuriya
    Komisaris : Nik Rizal Kamil Nik Ibrahim Kamil
    Komisaris Independen : Julianto Sidarto
    Komisaris Independen : Yasmin Aladad Khan
    Komisaris Independen : Didi Syafruddin Yahya

    (agt/fay)

  • Di Tengah Isu Merger, XL Raup Pendapatan Rp 8,4 Triliun di Q1 2024

    Di Tengah Isu Merger, XL Raup Pendapatan Rp 8,4 Triliun di Q1 2024

    Jakarta

    XL Axiata meraup total pendapatan sebesar Rp 8,44 triliun pada kuartal pertama 2024. Pendapatan perusahaan tersebut naik 12% dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

    Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan, kinerja perusahaan di kuartal pertama ini meraih pendapatan data yang positif dibandingkan kuartal sebelumnya (Q4 2023) setelah di beberapa tahun terakhir kuartal pertama biasanya datar saja.

    “Pertumbuhan pendapatan data di kuartal ini tidak terlepas dari keberhasilan kami mempertahankan harga layanan di tengah semaraknya momentum Pemilihan Umum serta Ramadan sehingga bisa meningkatkan trafik data,” ujar Dian dalam pernyataan tertulisnya, Senin (29/4/2024).

    Dengan total jumlah pelanggan berkualitas yang meningkat dari Q4 2023, yaitu 57,6 juta, XL Axiata berhasil mendorong penggunaan layanan sehingga trafik juga meningkat sebesar 3,2% dibandingkan Q4 2023 serta 18% dibandingkan Q1 2023, sehingga pada akhirnya turut mendorong kenaikan blended ARPU (average revenue per user) menjadi Rp 44 ribu.

    “Angka tersebut merupakan ARPU tertinggi yang pernah dicapai XL Axiata hingga saat ini,” ucap Dian.

    Selain itu, performa oke XL Axiata ini pula berkat mengoptimalkan penggunaan biaya operasional (opex), termasuk menekan beban biaya-biaya operasional menjadi lebih rendah.

    Disebutkan bahwa total biaya operasional berkurang hingga 8% dibandingkan Q4 2023. Penurunan biaya operasional yang signifikan ada pada beban penjualan dan pemasaran (sales and marketing) dan biaya infrastruktur.

    Terkait layanan konvergensi, XL Axiata menjalankan proses Transformasi Struktural, termasuk rencana pengalihan sekitar 750 ribu pelanggan Link Net ke XL Axiata sebagai ServeCo. Ke depannya, hal ini akan membuka peluang untuk meningkatkan cross selling sehingga dapat memperbesar dan mempercepat layanan Fixed Mobile Convergence (FMC).

    Dari sisi infrastruktur, XL Axiata masih membangun jaringan di sepanjang tiga bulan pertama 2024. Karena itu, jumlah BTS meningkat 9,6% YoY menjadi total 163.106 unit, termasuk 107.906 unit BTS 4G, dengan tingkat keterhubungan dengan jaringan fiber optik mencapai 62% (fiberized).

    XL Axiata berkomitmen melakukan upaya peningkatan kualitas jaringan sebagai penopang utama upaya meningkatan pengalaman pelanggan. Komitmen XL Axiata memperkuat jaringan tercermin dari pengalokasian belanja modal (Capex) sebesar Rp 8 triliun di tahun ini.

    Operator seluler ini juga melanjutkan inisiatif investasi pengembangan jaringan secara cermat untuk dapat mendorong peningkatan kualitas layanan yang lebih baik dan meningkatkan penggunaan jaringan yang masih bertumbuh.

    (agt/fay)

  • Ini Dia Biang Kerok 5G Jalan di Tempat di Indonesia

    Ini Dia Biang Kerok 5G Jalan di Tempat di Indonesia

    Jakarta

    Operator seluler XL Axiata mengungkapkan perkembangan jaringan 5G yang seakan jalan di tempat di Indonesia. Pertama kali, jaringan tersebut hadir dan komersialkan sejak Mei 2021.

    Sebagai informasi, XL Axiata adalah salah satu operator seluler yang sudah mengantongi restu dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk mengkomersialisasi layanan 5G ke pelanggan. Hanya saja, XL Axiata sampai saat ini belum menghadirkan paket khusus internet 5G.

    Keterbatasan spektrum menjadi kendalanya. Presiden Direktur dan CEO XL Axiata Dian Siswarini menuturkan bahwa saat ini spektrum frekuensi yang dipakai untuk kebutuhan layanan 4G, sedangkan layanan 5G memerlukan lebar pita yang lebar.

    “Untuk 5G bandwidth yang diperlukan 50 MHz,” ungkap Dian di XL Axiata Tower, Jakarta, Kamis (25/4/2024).

    Kendati begitu, anak usaha Axiata ini tetap mempersiapkan infrastruktur yang memadai, seperti memanfaatkan teknologi Dynamic Spectrum Sharing (DSS), penambahan kapasitas paling optimum dari permintaan.

    “ULO itu kita sudah dari dua tahun lalu, kita punya ULO 5G. 5G masif karena handset yang masuk belum ada 5%. Tidak ada push untuk ganti handset,” ujar Direktur & Chief Technology Officer XL Axiata I Gede Darmayusa

    Dalam waktu dekat ini, Kominfo akan melepas dua band, yaitu 700 MHz dan 26 GHz. Menkominfo mengatakan persiapan lelang frekuensi tersebut seiring akan diberikan insentif oleh pemerintah kepada industri.

    Sebagai informasi, dari 112 MHz di pita frekuensi 700 MHz, 2 x 45 MHz atau 90 MHz dialokasikan untuk layanan telekomunikasi. Sedangkan, pita frekuensi 26 GHz yang rencana akan dilelang oleh Kominfo ini memiliki lebar pita 2,7 GHz.

    Terkait insentif yang tengah digodok oleh Kominfo, XL Axiata mengungkapkan pentingnya kebijakan pemerintah tersebut bagi masa depan industri telekomunikasi.

    Chief Corporate Affairs XL Axiata Marwan O Baasir mengatakan saat ini biaya regulasi industri telekomunikasi rata-rata sekitar 13% sampai 24%, dimana itu sudah dinilai tinggi.

    “Kalau 700 MHZ dengan 26 GHz itu akan dilakukan bersamaan. Berdasarkan best pratice ekosistem 26 GHz, skala bisnisnya masih rendah, semoga bisa dikasih lima tahun gratis dulu baru dilihat skala ekonomisnya bagaimana,” jelasnya.

    (agt/fay)