Tag: Darmawan Prasodjo

  • PLN pastikan penyediaan listrik 15 ribu unit huntara di lokasi bencana

    PLN pastikan penyediaan listrik 15 ribu unit huntara di lokasi bencana

    Makassar (ANTARA) – PT PLN (Persero) memastikan siap mendukung penuh pembangunan hunian sementara (huntara) sebanyak 15 ribu unit bagi masyarakat terdampak bencana longsor dan banjir Sumatera melalui penyediaan listrik yang aman dan andal untuk seluruh unit hunian.

    Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo melalui keterangannya di Makassar, Sabtu menegaskan kesiapan PLN dalam melaksanakan arahan Pemerintah melalui Danantara Indonesia untuk memastikan kesiapan infrastruktur kelistrikan huntara.

    “Setiap unit hunian yang telah selesai dibangun, kami pastikan listriknya juga sudah tersedia dan dapat langsung menyala, sehingga masyarakat bisa segera menempati tempat tinggalnya dengan aman dan nyaman,” kata Darmawan.

    Huntara dibangun sesuai standar kelayakan hunian darurat, tidak hanya fokus terhadap konstruksi bangunan saja, melainkan juga kebutuhan dasar seperti listrik.

    Ketersediaan listrik juga menjadi prioritas Pemerintah melalui Danantara Indonesia dalam membangun huntara, selain akses air bersih, sanitasi memadai, serta dukungan layanan kesehatan di lokasi.

    Saat ini, PLN telah menyiapkan infrastruktur kelistrikan di kawasan Huntara Aceh Tamiang, seperti pembangunan trafo, jaringan listrik, dan kWh meter seluruh hunian yang telah terbangun. Bahkan jaringan listrik telah tersambung sepenuhnya dan cukup untuk melayani kebutuhan listrik hunian maupun fasilitas umum.

    Langkah ini merupakan bentuk komitmen kehadiran negara dalam mempercepat pemulihan pascabencana melalui penyediaan prasarana dasar bagi masyarakat terdampak banjir bandang dan longsor di wilayah tersebut.

    Rencananya, sebanyak 600 unit huntara akan diserahkan kepada Pemda setempat pada 8 Januari 2026, untuk selanjutnya diberikan kepada warga terdampak bencana.

    Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria didampingi Darmawan turun langsung mengawal proges pembangunan Huntara Aceh Tamiang dan infrastruktur kelistrikannya.

    Darmawan menegaskan, kehadiran listrik yang andal di huntara merupakan salah satu kebutuhan dasar yang wajib tersedia untuk menunjang aktivitas masyarakat sehari-hari.

    “Kami memahami bahwa saudara-saudara kita yang terdampak banjir bandang dan longsor telah kehilangan banyak hal, bukan hanya rumah, namun juga rasa aman dan kenyamanan. Karena itu, PLN berupaya menghadirkan listrik yang prima di kawasan huntara,” urainya.

    Pewarta: Nur Suhra Wardyah
    Editor: Evi Ratnawati
    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Bos PLN Akui Dampak Banjir Aceh-Sumbar Lebih Besar dari Tsunami 2004

    Bos PLN Akui Dampak Banjir Aceh-Sumbar Lebih Besar dari Tsunami 2004

    Liputan6.com, Jakarta – Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo mengakui kerusakan jaringan listrik di bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat lebih besar dibanding tsunami Aceh 2004 lalu.

    Dia mencatat, kerusakan jaringan listrik pada bencana saat ini mencapai 442 titik di tiga provinsi. Sedangkan, pada tsunami 2004 lalu, hanya terjadi di 8 titik.

    “Pada saat tsunami 2004, kerusakan sistem kelistrikan ada di 8 titik, sedangkan bencana kali ini di Aceh ada 442 titik. Jadi skalanya sangat berbeda, kali ini sangat masif,” kata Darmo, sapaan akrabnya dalam Rapat Satgas Pemulihan Pasca Bencana, mengutip tayangan YouTube DPR, Selasa (30/12/2025).

    Dia mengatakan, pemulihan jaringan listrik masih menghadapi tantangan, terutama pada akses untuk membawa material peebaikannya. Beberapa daerah sudah mulai bisa dilewati, sehingga bisa dilakukan perbaikan dengan cepat.

    “Sedangkan daerah-daerah yang masih terisolasi pemulihannya agak sedikit sedikit lebih lambat dan sedikit terkendala,” ucap dia.

    PLN mengirim material ke beberapa daerah menggunakan pesawat atau jalur udara ketika aksea terputus. Selain itu, beberapa titik sudah dikirim melalui jalur darat.

     

  • Lebih Parah dari Tsunami 2004

    Lebih Parah dari Tsunami 2004

    Liputan6.com, Jakarta – Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menilai skala kerusakan sistem kelistrikan akibat banjir bandang dan tanah longsor di Aceh disebut sebagai yang paling masif sepanjang sejarah penanganan bencana. Ia menyebut dampaknya bahkan melampaui bencana tsunami yang pernah melanda wilayah tersebut dua dekade lalu.

    Menurut Darmawan, perbandingan dengan tsunami Aceh 2004 menunjukkan perbedaan mencolok. Jika saat tsunami kerusakan kelistrikan terkonsentrasi di delapan titik, bencana kali ini justru menyebar luas dan memukul hampir seluruh kawasan terdampak di Aceh.

    “Untuk bencana kali ini dibanding dengan tsunami 2004 itu sangat berbeda. Pada saat tsunami 2004,” kata Darmawan dalam Rakor Satgas Pemulihan Pasca Bencanan dengan K/L daerah terdampak, Selasa (30/12/2025).

    PLN mencatat dari hasil pendataan sementara, tercatat sedikitnya 442 titik kelistrikan mengalami kerusakan akibat terjangan bencana banjir dan longsor.

    “Kerusakan sistem kelistrikan ada di delapan titik, sedangkan bencana kali ini di Aceh ada 442 titik,” ujarnya.

    Desa Hilang hingga Listrik Ikut Terputus

    Menurut Darmawan, masifnya kerusakan jaringan listrik tidak terlepas dari besarnya dampak bencana terhadap permukiman warga. Sejumlah desa dilaporkan hilang tersapu banjir bandang dan longsor, sehingga struktur pemerintahan desa pun ikut lumpuh di banyak wilayah.

    Secara keseluruhan, bencana ini mengakibatkan 22 desa hilang yang tersebar di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Dari ketiga wilayah tersebut, Aceh menjadi daerah dengan tingkat kerusakan paling parah, baik dari sisi infrastruktur maupun pelayanan dasar.

    Kondisi ini membuat proses pemulihan tidak bisa dilakukan secara seragam. Wilayah yang masih memiliki akses jalan relatif terbuka dapat segera ditangani, sementara daerah yang terisolasi menghadapi tantangan berlapis, mulai dari pengiriman material hingga mobilisasi personel teknis.

    “Pemulihan sistem kelistrikan itu berhubungan dengan akses evakuasi material. Daerah-daerah yang aksesnya masih terbuka pemulihannya bisa berjalan cepat, sedangkan daerah yang masih terisolasi pemulihannya agak sedikit lebih lambat dan sedikit terkendala,” ujarnya.

     

  • Kerusakan Listrik Banjir Aceh Lebih Parah dari Tsunami 2004

    Kerusakan Listrik Banjir Aceh Lebih Parah dari Tsunami 2004

    Jakarta

    Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan dampak kerusakan sistem kelistrikan akibat banjir dan longsor di Provinsi Aceh kali ini jauh lebih besar bencana tsunami 2004. Kondisi ini terlihat dari jumlah titik kerusakan yang ada.

    “Untuk bencana kali ini dibanding dengan tsunami 2004 itu sangat berbeda. Pada saat tsunami 2004, kerusakan sistem kelistrikan ada di delapan titik, sedangkan bencana kali ini di Aceh ada 442 titik,” kata Darmawan dalam Rakor Satgas Pemulihan Bencana DPR, disiarkan virtual, Selasa (30/12/2025).

    Lebih lanjut, Darmawan melaporkan proses pemulihan sistem kelistrikan 15 dari 23 Kabupaten dan Kota di Provinsi Aceh sudah mencapai 100% dan 8 Kabupaten sisanya masih dalam proses perbaikan. Menurutnya kecepatan proses pemulihan kelistrikan pasca bencana ini sangat erat berhubungan dengan akses evakuasi material di lokasi.

    Sebab untuk daerah-daerah yang aksesnya sudah terbuka, proses pemulihan sistem kelistrikan dapat berjalan dengan cepat. Sedangkan daerah-daerah yang masih terisolasi, proses pemulihannya mau tak mau menjadi lebih lambat.

    “Tiga daerah dengan pemulihannya yang masih paling rendah adalah satu Aceh Tengah, ini adalah 70,8% desa sudah menyala, sisanya masih padam. Kemudian kedua adalah Bener Meriah, yaitu 83,6% desa dari 194 desa, masih ada 38 desa yang padam. Kemudian Gayo Lues dari 95 desa, 41 desa masih padam, 69,9% desa sudah menyala,” paparnya.

    Darmawan turut memaparkan untuk proses evakuasi material kelistrikan di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah masih menggunakan udara. Sementara untuk proses evakuasi materian dan pemulihan di Kabupaten Gayo Lues sudah bisa dilakukan melalui jalur darat.

    “Gayo Luwes ini ada berita yang cukup mengembirakan, jalur dari Langsa, Kutacane sampai ke Blangkejeren sudah mulai terbuka sehingga 210 tiang listrik kami sedang dalam perjalanan,” jelasnya.

    “Sedangkan untuk Aceh Tengah dengan Bener Meriah, evakuasi 510 tiang listrik kami masih menggunakan Hercules dan juga udara, sehingga dalam hal ini masih sekitar 70-80% yang sudah menyala, sisanya dalam proses menunggu juga evakuasi material kami menggunakan akses udara,” sambung Darmawan.

    Di luar itu, ia mengatakan ada juga wilayah di Provinsi Aceh yang proses pemulihan sistem kelistrikannya bisa dilakukan dengan cepat. Namun kerusakan sistem kelistrikan di rumah pelanggan sekitar wilayah itu malah sangat berat.

    Sebagai contoh ada Kabupaten Aceh Utara di mana dari 850 desa, hanya 2 desa yang padam. Namun kerusakan kelistrikan di rumah pelanggan PLN yang ada lebih dari 80 ribu rumah.

    “Jadi untuk Kabupaten Aceh Utara pemulihan sistem listrikannya sudah sangat tinggi, tetapi dampak kerusakan dengan rumah pelanggannya sangat tinggi sekali dan ini terbesar di seluruh Aceh,” paparnya.

    Begitu juga dengan kondisi Kabupaten Aceh Tamiang, di mana dari 209 desa hanya 7 desa yang masih padam dan sisanya sudah menyala. Namun jumlah rumah pelanggan PLN yang terdampak lebih dari 38 ribu rumah.

    “Kemudian juga di Biren, itu desa menyala sudah dari 609 desa, 607 desa sudah menyala yang padam hanya 2 desa tetapi jumlah rumah terdampaknya lebih dari 31 ribu rumah. Kemudian dari Aceh Timur, ini dari 513 desa, 491 desa sudah menyala atau 95%, desa yang padam 22 desa, jumlah rumah terdampak lebih dari 11 ribu rumah,” terangnya lagi.

    Pada akhirnya meski jalur evakuasi materian kelistrikan di sejumlah wilayah sudah terbuka dan dapat diakses PLN, namun kondisi ini tak serta merta langsung membuat listrik di desa-desa terdampak dapat langsung dinyalakan.

    “Jadi banyak sekali daerah kabupaten yang Aceh Utara, Aceh Damiang, Biren, Aceh Timur, yang pemulihan listriknya berjalan dengan sangat cepat tetapi rumah pelanggan dari PLN itu banyak sekali terjadi kerusakan dan masih tertimbun lumpur sehingga penyalaan dari rumah ke rumah masih membutuhkan waktu lagi,” ucap Darmawan.

    Tonton juga video “Purbaya Tanya Utang Jembatan Aceh Jaminan Apa? Maruli: Ya Tentara Pak”

    (igo/fdl)

  • Mudik Pakai Mobil Listrik Makin Digemari, Ini Buktinya

    Mudik Pakai Mobil Listrik Makin Digemari, Ini Buktinya

    Jakarta

    Makin banyak pemudik yang melakukan perjalanan dengan mobil listrik. Hal ini tercermin dari data pengisian di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) selama periode masa siaga Natal dan Tahun Baru 2026.

    PT PLN (Persero) melaporkan adanya lonjakan pengisian daya kendaraan listrik selama periode siaga Nataru 2026, yang dimulai sejak 15 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.

    “Hingga hari ke-13 masa siaga Nataru 2025/2026 (27/12); pengisian daya kendaraan listrik sudah melampaui total realisasi sepanjang periode Nataru tahun lalu,” ujar Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam keterangannya dikutip Senin (29/12/2025).

    Berdasarkan catatan PLN, jumlah pengisian daya kendaraan listrik selama masa siaga Nataru 2025/2026 mencapai 137.250 kali, atau hampir tiga kali lipat dibandingkan total pengisian daya sepanjang Nataru 2024/2025 yang tercatat 48.254 kali. Periode ini dihitung hingga 27 Desember 2025 pukul 24.00 WIB.

    Selain frekuensi pengisian, peningkatan juga tercermin pada konsumsi energi listrik. Hingga hari ke-13 masa siaga Nataru 2025/2026, energi listrik yang tersalurkan untuk pengisian EV mencapai 3.288.045 kilowatt hour (kWh), atau sekitar 2,8 kali lipat dibandingkan total energi sepanjang Nataru 2024/2025 sebesar 1.174.350 kWh.

    “Dari sisi energi, lonjakannya juga terlihat jelas. Hingga hari ke-13 masa siaga, listrik yang tersalurkan untuk pengisian daya EV sudah mencapai lebih dari 3,28 juta kWh,” kata Darmawan.

    PLN sejak awal masa siaga Nataru sudah menyiagakan 4.516 unit SPKLU yang tersebar di 2.935 lokasi di seluruh Indonesia. Hal ini mencakup penambahan SPKLU di jalur mudik utama Sumatra-Jawa-Bali dengan total 1.515 unit SPKLU atau meningkat tiga kali lipat dibandingkan Nataru tahun lalu.

    “Sejak awal masa siaga, kami juga menyebar 15 unit SPKLU mobile untuk kebutuhan darurat dan lebih dari 5.000 petugas SPKLU yang bersiaga 24 jam selama masa siaga Nataru, agar layanan pengisian daya selalu memadai di tengah meningkatnya mobilitas EV,” pungkas Darmawan.

    Seiring peningkatan tren kepercayaan masyarakat terhadap perjalanan jarak jauh menggunakan EV, PLN memproyeksikan jumlah pemudik yang menggunakan EV roda empat pada periode Nataru tahun ini meningkat signifikan. Jika pada Nataru 2024/2025 tercatat sekitar 12.183 kendaraan listrik, pada Nataru 2025/2026 jumlahnya diproyeksikan meningkat sekitar 2,2 kali lipat menjadi sekitar 26.000 kendaraan.

    Kenaikan pemudik pakai mobil listrik juga sejalan dengan penjualan mobil listrik di RI.

    Data wholesales (distribusi pabrik ke dealer) menunjukkan sebanyak 82.525 unit mobil listrik terjual sepanjang Januari-November 2025 dari total penjualan 710.084 unit. Artinya pangsa pasar mobil listrik sepanjang tahun ini sudah 11,62 persen.

    Jika dilirik secara year on year, penjualan mobil listrik dengan periode yang sama itu naik 113 persen dibanding tahun lalu yang mencapai angka 38.677 unit.

    (riar/dry)

  • ​PLN Kerahkan Relawan Pegawai Dampingi Warga Aceh Korban Bencana Pulihkan Trauma

    ​PLN Kerahkan Relawan Pegawai Dampingi Warga Aceh Korban Bencana Pulihkan Trauma

    Aceh: PT PLN (Persero) hadir mendampingi warga terdampak bencana di Aceh melalui Employee Volunteering Program yang difokuskan pada pemulihan psikososial atau trauma healing. 

    Melalui keterlibatan langsung para pegawai sebagai relawan, PLN berupaya membantu memulihkan kondisi mental dan semangat warga, khususnya anak-anak, agar dapat kembali beraktivitas normal secara bertahap pascabencana yang terjadi November lalu.

    Sebanyak 30 relawan PLN turun langsung mendampingi warga sejak 18 Desember 2025 di enam titik wilayah, mulai dari Kuala Simpang (Aceh Tamiang), Idi Rayeuk (Aceh Timur), Takengon (Aceh Tengah), Simpang Tiga (Bener Meriah), Blangkejeren (Gayo Lues), hingga Nagan Raya.

    Muhamad Putera Pradana (12), warga Kampung Dalam, Kabupaten Aceh Tamiang, yang sempat mengungsi selama delapan hari di atas mushola akibat banjir, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran PLN Volunteer Community. Kehadiran para relawan tak hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan keceriaan dan semangat baru bagi Putera serta teman-temannya di tengah situasi bencana yang mereka alami.

    “Hari ini saya bergembira berkumpul dengan teman-teman di musala, karena ada PLN Peduli Aceh Tamiang dan saya dikasih hadiah dari PLN. Terima kasih ya, PLN,” kata Muhamad Putera.

    Ernawati, Sekretaris Desa Babasuah sekaligus Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kota Tengah juga menyampaikan apresiasi atas program Employee Volunteering inisiasi PLN. Menurutnya, program pendampingan ini telah membantu memulihkan semangat para warga terdampak, khususnya anak-anak hingga akhirnya mereka mulai tersenyum kembali.

    “Terima kasih kepada para Bapak dan Ibu (relawan) yang sudah menemani anak-anak kami. Alhamdulillah, anak-anak kami tambah semangat dan aktif lagi dengan adanya kegiatan ini (Employee Volunteering). Kami mohon kepada Bapak dan Ibu supaya lanjut kegiatan ini ke depan, membantu kami guru-guru di sini,” ucap Ernawati.
     

    Sementara itu, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa kehadiran PLN di Aceh merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk selalu berdiri bersama masyarakat, terutama di masa-masa sulit.

    Menurutnya, tugas PLN bukan hanya memulihkan kembali kelistrikan Aceh yang sempat terdampak, namun juga mendorong pemulihan aktivitas masyarakat melalui berbagai program bantuan.

    “Kami ingin hadir bukan hanya sebagai penyedia energi listrik, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Aceh yang ikut merasakan duka mereka. Melalui para relawan, kami ingin menyalurkan energi kebahagiaan dan harapan agar warga, terutama anak-anak, tidak merasa sendirian menghadapi masa sulit ini,” ungkap Darmawan.

    Darmawan menjelaskan, fokus utama kegiatan tersebut adalah pemulihan psikososial atau trauma healing anak-anak melalui interaksi langsung dengan warga, permainan sederhana, serta berbagai aktivitas ringan yang bersifat edukatif.

    “Anak-anak adalah masa depan. Trauma yang mereka alami harus segera kita hapus dengan kasih sayang dan interaksi yang tulus. Kami ingin memastikan bahwa meski sedang di pengungsian, mereka tetap bisa bermimpi dan tersenyum kembali,” tambahnya.

    Direktur Legal dan Manajemen Human Capital, Yusuf Didi Setiarto menyampaikan bahwa selain memberikan dukungan moril, para relawan PLN bersama warga bahu-membahu melakukan bakti lingkungan dengan membersihkan fasilitas umum, fasilitas kesehatan, dan rumah ibadah agar kehidupan sosial dan spiritual warga segera pulih. Tak hanya itu, dirinya melanjutkan, PLN juga menyalurkan kebutuhan dasar seperti bahan pokok, pakaian layak pakai, dan kebutuhan lainnya bagi para warga terdampak.

    “Kegiatan ini menjangkau sekitar 900 penerima manfaat, terdiri dari anak-anak dan warga di lokasi pengungsian pada enam wilayah tersebut”, tutur Yusuf Didi.

    Ia menekankan bahwa program Employee Volunteering  merupakan bagian dari transformasi budaya kerja di PLN, di mana setiap pegawai didorong untuk memiliki jiwa kepedulian sosial yang tinggi.

    “Bagi kami di PLN, keberhasilan sesungguhnya bukan hanya saat listrik menyala di rumah-rumah warga, tetapi saat kita bisa tumbuh dan kuat bersama masyarakat dalam situasi apapun. Aceh adalah bagian dari kita, dan kami akan terus mendampingi hingga proses pemulihan ini tuntas,” pungkas Yusuf Didi.

    Aceh: PT PLN (Persero) hadir mendampingi warga terdampak bencana di Aceh melalui Employee Volunteering Program yang difokuskan pada pemulihan psikososial atau trauma healing. 
     
    Melalui keterlibatan langsung para pegawai sebagai relawan, PLN berupaya membantu memulihkan kondisi mental dan semangat warga, khususnya anak-anak, agar dapat kembali beraktivitas normal secara bertahap pascabencana yang terjadi November lalu.
     
    Sebanyak 30 relawan PLN turun langsung mendampingi warga sejak 18 Desember 2025 di enam titik wilayah, mulai dari Kuala Simpang (Aceh Tamiang), Idi Rayeuk (Aceh Timur), Takengon (Aceh Tengah), Simpang Tiga (Bener Meriah), Blangkejeren (Gayo Lues), hingga Nagan Raya.

    Muhamad Putera Pradana (12), warga Kampung Dalam, Kabupaten Aceh Tamiang, yang sempat mengungsi selama delapan hari di atas mushola akibat banjir, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran PLN Volunteer Community. Kehadiran para relawan tak hanya membawa bantuan, tetapi juga menghadirkan keceriaan dan semangat baru bagi Putera serta teman-temannya di tengah situasi bencana yang mereka alami.
     
    “Hari ini saya bergembira berkumpul dengan teman-teman di musala, karena ada PLN Peduli Aceh Tamiang dan saya dikasih hadiah dari PLN. Terima kasih ya, PLN,” kata Muhamad Putera.
     
    Ernawati, Sekretaris Desa Babasuah sekaligus Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kota Tengah juga menyampaikan apresiasi atas program Employee Volunteering inisiasi PLN. Menurutnya, program pendampingan ini telah membantu memulihkan semangat para warga terdampak, khususnya anak-anak hingga akhirnya mereka mulai tersenyum kembali.
     
    “Terima kasih kepada para Bapak dan Ibu (relawan) yang sudah menemani anak-anak kami. Alhamdulillah, anak-anak kami tambah semangat dan aktif lagi dengan adanya kegiatan ini (Employee Volunteering). Kami mohon kepada Bapak dan Ibu supaya lanjut kegiatan ini ke depan, membantu kami guru-guru di sini,” ucap Ernawati.
     

     
    Sementara itu, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa kehadiran PLN di Aceh merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk selalu berdiri bersama masyarakat, terutama di masa-masa sulit.
     
    Menurutnya, tugas PLN bukan hanya memulihkan kembali kelistrikan Aceh yang sempat terdampak, namun juga mendorong pemulihan aktivitas masyarakat melalui berbagai program bantuan.
     
    “Kami ingin hadir bukan hanya sebagai penyedia energi listrik, tetapi sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Aceh yang ikut merasakan duka mereka. Melalui para relawan, kami ingin menyalurkan energi kebahagiaan dan harapan agar warga, terutama anak-anak, tidak merasa sendirian menghadapi masa sulit ini,” ungkap Darmawan.
     
    Darmawan menjelaskan, fokus utama kegiatan tersebut adalah pemulihan psikososial atau trauma healing anak-anak melalui interaksi langsung dengan warga, permainan sederhana, serta berbagai aktivitas ringan yang bersifat edukatif.
     
    “Anak-anak adalah masa depan. Trauma yang mereka alami harus segera kita hapus dengan kasih sayang dan interaksi yang tulus. Kami ingin memastikan bahwa meski sedang di pengungsian, mereka tetap bisa bermimpi dan tersenyum kembali,” tambahnya.
     
    Direktur Legal dan Manajemen Human Capital, Yusuf Didi Setiarto menyampaikan bahwa selain memberikan dukungan moril, para relawan PLN bersama warga bahu-membahu melakukan bakti lingkungan dengan membersihkan fasilitas umum, fasilitas kesehatan, dan rumah ibadah agar kehidupan sosial dan spiritual warga segera pulih. Tak hanya itu, dirinya melanjutkan, PLN juga menyalurkan kebutuhan dasar seperti bahan pokok, pakaian layak pakai, dan kebutuhan lainnya bagi para warga terdampak.
     
    “Kegiatan ini menjangkau sekitar 900 penerima manfaat, terdiri dari anak-anak dan warga di lokasi pengungsian pada enam wilayah tersebut”, tutur Yusuf Didi.
     
    Ia menekankan bahwa program Employee Volunteering  merupakan bagian dari transformasi budaya kerja di PLN, di mana setiap pegawai didorong untuk memiliki jiwa kepedulian sosial yang tinggi.
     
    “Bagi kami di PLN, keberhasilan sesungguhnya bukan hanya saat listrik menyala di rumah-rumah warga, tetapi saat kita bisa tumbuh dan kuat bersama masyarakat dalam situasi apapun. Aceh adalah bagian dari kita, dan kami akan terus mendampingi hingga proses pemulihan ini tuntas,” pungkas Yusuf Didi.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (RUL)

  • PLN Pastikan 184 Desa di Aceh Tengah Sudah Teraliri Listrik

    PLN Pastikan 184 Desa di Aceh Tengah Sudah Teraliri Listrik

    PLN Pastikan 184 Desa di Aceh Tengah Sudah Teraliri Listrik
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Sebanyak 184 desa di wilayah Aceh Tengah sudah teraliri listrik setelah diterjang banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025.
    Pemulihan itu seiring dengan upaya PT PLN (Persero) menormalkan 323 gardu distribusi listrik secara bertahap untuk masyarakat terdampak.
    Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan, pihaknya memprioritaskan pemulihan sistem kelistrikan demi mendukung aktivitas masyarakat di masa pemulihan bencana.
    “Kami memahami tingginya urgensi listrik bagi masyarakat Takengon dalam masa pemulihan pascabencana. Bersama Pemda, TNI, Polri, dan masyarakat, kami terus berkoordinasi di lapangan untuk membuka akses jalan untuk mobilisasi material yang masih terbatas,” ujar Darmawan dalam keterangan Tim Media Presiden, Sabtu (27/12/2025).
    Sebelumnya, PLN juga telah mengirimkan genset darurat melalui jalur udara untuk RSUD Takengon guna memastikan layanan kesehatan tetap berjalan meski akses darat sempat terputus total.
    Di sisi lain, PLN masih berupaya memulihkan sejumlah gardu.
    General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, menjelaskan, timnya masih berjuang menormalkan 139 gardu distribusi tambahan yang masih terdampak, di antaranya di Takengon.
    Meskipun sebagian besar wilayah mulai menyala, proses pemulihan sepenuhnya masih terkendala oleh rusaknya infrastruktur jalan dan kondisi cuaca yang tidak menentu.
    “Kami terus mengupayakan perbaikan gardu-gardu distribusi tersebut, termasuk jaringan distribusi dan sarana pendukung lain yang membutuhkan penanganan lanjutan. Petugas kami di lapangan bekerja menyesuaikan kondisi infrastruktur dan medan, dengan tetap mengutamakan keselamatan serta keandalan pasokan listrik,” jelas Eddi.
    Sebelumnya diberitakan, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diterjang
    banjir bandang dan tanah longsor
    .
    Sebagian desa hilang tersapu derasnya air bah.
    Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB melaporkan
    korban meninggal dunia
    akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bertambah menjadi 1.137 orang pada Jumat (26/12/2025).
    Jumlah korban meninggal bertambah usai ditemukannya dua jenazah pada Jumat di Aceh dan Sumatera Barat.
    Rinciannya, sebanyak 504 korban meninggal dunia di Aceh, 371 di Sumatera Utara, dan 262 di Sumatera Barat.
    “Kemarin 1.135 korban meninggal dunia, kemudian ada penambahan di Aceh dan Sumatera Barat, sehingga total korban meninggal dunia, per hari ini, Jumat, 26 Desember 2025, menjadi 1.137 jiwa,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers secara daring, Jumat.
    Ia juga mengungkapkan jumlah pengungsi akibat bencana Sumatera mengalami penurunan, dibanding pada Kamis (25/12/2025).
    Jumlah pengungsi, baik di Aceh, Sumatera Utara, maupun Sumatera Barat per Jumat sebanyak 457.255 orang.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 184 Desa Kembali Berlistrik, PLN Masih Kejar Perbaikan Jaringan di Aceh Tengah

    184 Desa Kembali Berlistrik, PLN Masih Kejar Perbaikan Jaringan di Aceh Tengah

    Bisnis.com, JAKARTA — PT PLN (Persero) mengungkapkan tantangan pemulihan jaringan distribusi listrik di wilayah Aceh Tengah, khususnya Kota Takengon, pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur ketenagalistrikan.

    Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, proses pemulihan masih menghadapi tantangan berupa akses jalan darat yang terbatas dan kondisi cuaca. Hal ini menjadi kendala utama mempercepat mobilisasi peralatan dan material ke sejumlah lokasi terdampak.

    Kendati demikian, PLN secara bertahap berhasil menormalkan sebanyak 323 gardu distribusi dan kembali menyalurkan listrik ke 184 desa di Kabupaten Aceh Tengah.

    Upaya pemulihan terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medan dan aspek keselamatan kerja petugas di lapangan serta masyarakat sekitar.

    Darmawan menyebut, pihaknya terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda), TNI, Polri, serta masyarakat setempat untuk membuka akses menuju wilayah-wilayah yang masih terisolasi agar perbaikan sistem kelistrikan dapat segera dilakukan.

    “Kami memahami tingginya urgensi listrik bagi masyarakat Takengon dalam masa pemulihan pascabencana. Bersama Pemda, TNI, Polri, dan masyarakat, kami terus berkoordinasi di lapangan untuk membuka akses jalan untuk mobilisasi material yang masih terbatas,” ujar Darmawan melalui keterangan resmi, Jumat (26/12/2025) malam.

    Sebagai langkah darurat untuk menjaga layanan vital tetap berjalan, PLN sebelumnya juga bekerja sama dengan TNI mengirimkan genset ke RSUD Takengon melalui jalur udara, guna memastikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap berlangsung.

    Darmawan menambahkan, begitu akses jalan aman untuk dilalui armada pengangkut material, personel PLN akan segera melakukan percepatan perbaikan dan pendirian kembali jaringan distribusi yang terdampak.

    “Begitu akses darat aman untuk melakukan pengangkutan material, PLN akan langsung bergerak cepat melanjutkan pemulihan jaringan agar listrik dapat segera dinikmati kembali oleh masyarakat,” kata Darmawan.

    Sementara itu General PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh Eddi Saputra menegaskan, pihaknya terus mengupayakan penormalan sebanyak 139 gardu distribusi yang masih terdampak di Kabupaten Aceh Tengah.

    “Kami terus mengupayakan perbaikan gardu-gardu distribusi tersebut, termasuk jaringan distribusi dan sarana pendukung lain yang membutuhkan penanganan lanjutan,” jelas Eddi.

    Dia mengatakan bahwa seluruh proses pemulihan dilakukan secara bertahap dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja dan keandalan sistem.

    “Petugas kami di lapangan bekerja menyesuaikan kondisi infrastruktur dan medan, dengan tetap mengutamakan keselamatan serta keandalan pasokan listrik,” tuturnya.

  • Antisipasi Cuaca Ekstrem, PLN Siagakan 69 Ribu Personel Sambut Nataru 2025/2026

    Antisipasi Cuaca Ekstrem, PLN Siagakan 69 Ribu Personel Sambut Nataru 2025/2026

    Liputan6.com, Jakarta – PT PLN (Persero) menyiagakan 69.000 personel di seluruh Indonesia selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) untuk menjaga keandalan pasokan listrik. Langkah ini diperkuat dengan pemanfaatan sistem digital terintegrasi untuk memantau dan mengantisipasi potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah sepanjang periode Nataru.

    Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo memimpin langsung Commander Call secara daring bersama seluruh unit PLN se-Indonesia, subholding, dan anak perusahaan di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) 500 kilovolt (kV) Pedan, Klaten, Jawa Tengah, pada Kamis, 25 Desember 2025.

    “Hari ini kami melaksanakan apel siaga kelistrikan nasional, dan salah satu titik yang kami tinjau langsung adalah GITET 500 kV Pedan. Lokasi ini sangat strategis karena menjadi penghubung sistem kelistrikan Jawa–Madura–Bali,” ujar Darmawan, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (26/12/2025).

    Ia menegaskan, seluruh personel PLN bersiaga 24 nonstop memberikan perhatian penuh terhadap suplai listrik di tengah kondisi cuaca ekstrem, terutama saat periode Nataru. Langkah ini sejalan dengan arahan Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar layanan kelistrikan tetap optimal di berbagai wilayah Indonesia.

    Para personel yang bersiaga juga dilengkapi dengan 1.917 unit genset, 737 unit Uninterruptible Power Supply (UPS), 1.338 Unit Gardu Bergerak (UGB), 434 unit truk crane, 4.720 unit mobil operasional, serta 4.412 unit sepeda motor operasional.

    “Seluruh unit PLN telah melaporkan bahwa semua lokasi prioritas terjaga dengan optimal tanpa adanya gangguan kelistrikan, sehingga aktivitas ibadah, layanan publik, dan mobilitas masyarakat selama periode Nataru dapat berlangsung aman dan lancar,” kata Darmawan.

     

     

  • PLN: Jalur Kedua Transmisi Arun-Bireuen Mulai Beroperasi, Perkuat Listrik Aceh

    PLN: Jalur Kedua Transmisi Arun-Bireuen Mulai Beroperasi, Perkuat Listrik Aceh

    Bisnis.com, JAKARTA — PT PLN (Persero) berhasil mengoperasikan jalur kedua transmisi Arun–Bireuen dan akan melengkapi jalur utama yang telah beroperasi sebelumnya. Dengan begitu sistem kelistrikan di Aceh diklaim dapat lebih andal. 

    Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menegaskan jalur alternatif tersebut merupakan bagian dari upaya PLN memperkuat sistem kelistrikan Aceh pascabencana banjir dan longsor.

    Pihaknya berkomitmen memperkuat keandalan pasokan serta cadangan listrik di Aceh guna menjaga layanan kelistrikan yang berkelanjutan.

    “Arahan Pemerintah sangat jelas, kami harus menghadirkan sistem kelistrikan yang lebih andal guna mendukung pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana di Aceh,” ujar Darmawan dalam keterangan resmi, Kamis (25/12/2025). 

    Adapun, operasional jalur kedua Arun–Bireuen ini melengkapi jaringan transmisi utama Arun–Bireuen dan Langsa–Pangkalan Brandan, sehingga pasokan listrik ke wilayah Aceh dapat lebih optimal.

    “Dengan sistem yang saling terhubung ini, apabila terjadi gangguan pada salah satu jalur, pasokan listrik tetap dapat dialihkan melalui jalur lainnya, sehingga risiko padam dapat ditekan,” tuturnya. 

    Ke depannya, proses penormalan dan penguatan sistem kelistrikan di Aceh masih terus dilakukan secara bertahap dan terukur.

    “Seluruh pekerjaan dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, mengutamakan keselamatan petugas dan juga masyarakat,” tutur Darmawan.

    Dengan kolaborasi dan dukungan berbagai pihak, PLN meyakini keandalan pasokan listrik di Aceh akan terus meningkat, sehingga mampu mendukung aktivitas masyarakat sekaligus mendorong pemulihan perekonomian daerah.

    Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah mengapresiasi upaya PLN yang terus meningkatkan keandalan pasokan listrik Aceh di tengah tantangan geografis dan akses medan yang masih terbatas.

    “Atas nama Pemerintah, kami mengucapkan terima kasih atas usaha PLN yang terus memastikan pemulihan kelistrikan di Aceh berjalan dengan baik. Ini sangat penting untuk mendukung aktivitas masyarakat dan pemulihan ekonomi daerah,” pungkasnya.