Tag: Danny Buldansyah

  • Operator Internet Berdarah-darah, RI Diminta Belajar dari China-Arab

    Operator Internet Berdarah-darah, RI Diminta Belajar dari China-Arab

    Jakarta, CNBC Indonesia – Industri telekomunikasi di Indonesia disebut tengah menghadapi tantangan besar akibat regulasi yang belum berpihak dan dominasi platform digital global.

    Muhammad Danny Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), mengatakan soal minimnya perlindungan terhadap operator seluler di tengah menjamurnya layanan Over The Top (OTT) asing seperti Google dan WhatsApp.

    “Regulasi mengenai OTT ini sangat longgar. Kita boleh dibilang enggak punya, dan kita juga enggak punya power,” ujar Danny saat ditemui di Kantor IOH, Rabu (9/7/2025).

    Ia menyoroti ketimpangan kekuatan antara operator nasional dan raksasa digital global. Salah satu contoh yang disebutnya adalah kebijakan negara China dan negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dalam menghadapi dominasi layanan OTT asing.

    “Seberapa, seberapa keinginannya pemerintah berserta industri ini mendorong itu seberapa kuat, apakah kita sekuat China gitu ya? Yang bilang ‘oh Google saya nggak mau Google, nggak mau bayar, udah nggak usah disini,’” kata Danny.

    Atau di negara Timur Tengah, yang tidak membolehkan ada WhatsApp video call, hanya diperbolehkan WhatsApp saja.

    “Bahkan di Saudi juga sama. Tapi kalau kita roaming boleh, bisa. Tapi kalau pakai Wi-Fi di sana, internet di sana enggak bisa,” terangnya.

    Danny menilai, Indonesia memiliki banyak referensi model kebijakan digital dari negara lain yang bisa ditiru. Namun, kunci utamanya tetap berada di tangan pemerintah.

    “Contohnya banyak. Kita mau meniru yang mana gitu. Kita tinggal mau niru yang mana aja dan seberapa… Dan itu harus pemerintah, bukan kita,” kata dia.

    Persoalan publisher rights atau hak penerbit juga turut disinggung. Ia mencontohkan bagaimana media dan operator lokal tidak memiliki kekuatan untuk menegosiasikan pembagian keuntungan yang adil dari konten yang dikonsumsi masyarakat melalui platform global.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Indosat Punya CCTV Proaktif Rekam hingga Analisis Data, Diklaim Aman

    Indosat Punya CCTV Proaktif Rekam hingga Analisis Data, Diklaim Aman

    Jakarta

    Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) punya andalan baru dalam memperkuat layanan di sektor enterprise dengan Vision AI, solusi pengawasan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Bagaimana soal keamanan datanya?

    Director & Chief Business Officer IOH, Muhammad Danny Buldansyah, mengatakan bahwa Vision AI memungkinkan kamera pengawas dapat mengenai pola, menganalisis situasi secara real-time, hingga memberikan peringatan dini atas potensi risiko maupun peluang.

    Hal menarik dari Vision AI ini, kata Danny, Vision AI akan menggeserkan dari sistem pengawasan pasif menjadi pendekatan yang lebih aktif, cerdas, dan kontekstual. Kendati begitu, Indosat menjamin terkait perlindungan privasi dari pengguna.

    “Jangan-jangan data saya dikirim ke luar nih. Enggak, kita nggak pernah mengirim data kita yang spesifik itu ke luar. Tidak akan pernah,” tegas Danny di Jakarta, Rabu (9/7/2025).

    Dalam menghadirkan Vision AI, Indosat menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan teknologi global, seperti Google sebagai mitra komputasi awan, kemudian untuk GPU bekerjasama dengan anak perusahaan, yaitu Lintasarta.

    “Walaupun mitra kita global, kita punya mekanisme bahwa data ini nggak akan terkirim ke luar,” ungkap Danny.

    Vision AI diklaim sebagai solusi yang cocok untuk sektor perusahaan yang membutuhkan pengawasan secara intens. Misalnya, area kerja tambang yang dikenal akan peraturan ketatnya akan membantu perusahaan untuk memberikan peringatan jika ada pekerja yang melepas helm, vest, ataupun merokok di tempat kerja.

    “Jika tidak tidak memakai helm dikhawatirkan akan terjadi kecelakaan kerja yang membuat operasional bisnis jadi berhenti total, sehingga perusahaan menjadi tidak produktif,” kata Danny.

    Vision AI hadir dalam format modular dan fleksibel untuk menjawab beragam kebutuhan bisnis. Solusi ini tersedia dalam bentuk AI Box, kamera yang sudah siap AI, sensor 3D stereo, serta platform pelatihan AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri tertentu.

    Adapun, fleksibilitas ini memudahkan integrasi baik dengan sistem CCTV yang sudah ada maupun yang baru, sehingga dapat digunakan oleh perusahaan dari berbagai skala, mulai dari UMKM hingga korporasi besar. Terkait harga layanannya, Indosat menyebutkan Vision AI hadir dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan pengguna dengan harga mulai Rp 30 jutaan.

    (agt/fay)

  • Vision AI Indosat (ISAT) Sasar Korporasi hingga UMKM, Harga Mulai Rp30 Juta-an

    Vision AI Indosat (ISAT) Sasar Korporasi hingga UMKM, Harga Mulai Rp30 Juta-an

    Bisnis.com, JAKARTA – PT Indosat Tbk. menargetkan dapat menjual 1.000 unit pertama CCTV Vision AI pada tahun ini. Perusahaan berkodesaham ISAT itu mengincar berbagai sektor mulai korporasi besar hingga UMKM. 

    Vision AI menghadirkan sistem kamera pengawas yang mampu merekam, menganalisa situasi secara real-time, mengenali pola-pola tertentu, serta memberikan peringatan dini atas potensi risiko maupun peluang yang muncul.

    Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, M. Danny Buldansyah, mengatakan kehadiran Vision AI mencerminkan pergeseran paradigma dari sistem pengawasan pasif menuju pendekatan yang lebih aktif, cerdas, dan kontekstual.

    Sistem ini bisa membaca perilaku sekitarnya dan memberikan respons alarm jika terjadi anomali. Sebagai contoh, Vision AI berbunyi ketika ada pekerja di pertambangan yang tidak menggunakan alat lengkap, atau gerak-gerik mencurigakan orang yang berjalan di depan rumah.

    “AI bukan lagi masa depan. AI adalah masa kini, dan Vision AI membuktikan bahwa teknologi bisa digunakan untuk menciptakan sistem pengawasan yang lebih responsif, efisien, dan tetap mengedepankan perlindungan privasi,” kata Danny di Jakarta, Rabu (9/7/2025).

    Danny menambahkan untuk sektor pertambangan, Vision AI dapat mendeteksi kandungan mineral di dalam tanah. Vision AI yang merupakan hasil kerja sama dari berbagai raksasa teknologi global, menganalisa data tanah dan dikomparasikan dengan tanah di wilayah lain, sehingga muncul VLM yang bermanfaat. VLM atau Vision Language Model adalah model kecerdasan buatan (AI) yang dapat memproses dan memahami data teks dan visual (gambar dan video) secara bersamaan. 

    Pertambangan menjadi salah satu sektor yang disasar solusi terbaru Indosat, mengingat pasar dan permintaan besar di sektor ini. Selain pertambangan, ada juga sektor logistik dan perkebunan.

    “Ketiga sektor disasar karena secara permintaan besar,” kata Danny. 

    Harga

    Solusi ini tersedia dalam bentuk AI Box, kamera yang sudah siap AI, sensor 3D stereo, serta platform pelatihan AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri tertentu.

    Fleksibilitas ini bertujuan memudahkan integrasi baik dengan sistem CCTV yang sudah ada maupun yang baru, sehingga dapat digunakan oleh perusahaan dari berbagai skala, mulai dari UMKM hingga korporasi besar.

    Secara operasional, Vision AI dapat bekerja di berbagai skenario di lapangan. Mulai dari pemantauan otomatis di zona berbahaya, penghitungan dan analisis lalu lintas untuk kepentingan publik, pengawasan keamanan area publik secara proaktif, hingga pemahaman perilaku konsumen di sektor ritel dan layanan publik.

    Mengenai harga, setiap paket memiliki tarif yang berbeda. Namun untuk paket terendah dibandrol dengan kisaran Rp30 juta per unit, di mana pengguna telah mendapat pemasangan, perawatan, fitur-fitur AI unggulan dan lain sebagainya. 

    Dengan dukungan sovereign cloud, pusat data lokal, dan ekosistem co-creation bersama para mitra teknologi, Vision AI digadang-gadang menjadi bagian dari strategi holistik Indosat Business dalam memperkuat transformasi digital yang inklusif, aman, dan sesuai dengan regulasi nasional.

    “Inisiatif ini juga mendukung upaya pemerintah dalam membangun ekosistem AI yang mandiri dan berdaya saing global, sekaligus menjawab kebutuhan industri yang kian mendesak terhadap solusi pengawasan berbasis data yang lebih canggih,” kata Danny.

    Danny juga memastikan bahwa akurasi data yang disampaikan oleh solusi Vision AI telah teruji. Dengan sistem yang ada di dalamnya, akurasi akan makin kuat dan dipastikan perangkat tidak berhalusinasi. 

  • Indosat Rilis Solusi Pengawasan Berbasis AI, Ini Kecanggihannya

    Indosat Rilis Solusi Pengawasan Berbasis AI, Ini Kecanggihannya

    Jakarta

    Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business, memperkenalkan Vision AI, sebuah solusi pengawasan berbasis kecerdasan artifisial (AI). Layanan kamera real-time AI ini bahkan merupakan produk pertama yang dirilis industri telekomunikasi.

    Vision AI dirancang untuk mentransformasi industri dalam menjaga keamanan, meningkatkan efisiensi operasional, serta mengoptimalkan pengambilan keputusan berbasis data.

    Peluncuran Vision AI menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indosat sebagai mitra transformasi digital bagi berbagai sektor industri di Indonesia. Dengan teknologi AI dan deep learning, Vision AI menghadirkan sistem kamera pengawas yang tidak hanya merekam, tetapi mampu menganalisis situasi secara real-time, mengenali pola-pola tertentu, serta memberikan peringatan dini atas potensi risiko maupun peluang yang muncul.

    Hal itu memungkinkan pelaku usaha untuk merespons kondisi lapangan secara cepat, tepat, dan berbasis data, sembari tetap menjaga aspek privasi dan keamanan data pengguna.

    Muhammad Danny Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, menegaskan bahwa kehadiran Vision AI mencerminkan pergeseran paradigma dari sistem pengawasan pasif menuju pendekatan yang lebih aktif, cerdas, dan kontekstual.

    “AI bukan lagi masa depan. AI adalah masa kini, dan Vision AI membuktikan bahwa teknologi bisa digunakan untuk menciptakan sistem pengawasan yang lebih responsif, efisien, dan tetap mengedepankan perlindungan privasi,” ungkap Danny di Jakarta, Rabu (9/7/2025).

    Vision AI hadir dalam format modular dan fleksibel untuk menjawab beragam kebutuhan bisnis. Solusi ini tersedia dalam bentuk AI Box, kamera yang sudah siap AI, sensor 3D stereo, serta platform pelatihan AI yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri tertentu.

    Adapun, fleksibilitas ini memudahkan integrasi baik dengan sistem CCTV yang sudah ada maupun yang baru, sehingga dapat digunakan oleh perusahaan dari berbagai skala, mulai dari UMKM hingga korporasi besar.

    Vision AI dapat beroperasi dengan berbagai skenario di lapangan, mulai dari pemantauan otomatis di zona berbahaya, penghitungan dan analisis lalu lintas untuk kepentingan publik, pengawasan keamanan area publik secara proaktif, hingga pemahaman perilaku konsumen di sektor ritel dan layanan publik.

    “Semua proses analisis dilakukan secara lokal dan real-time, memanfaatkan kekuatan infrastruktur AI yang aman dan berdaulat,” kata Danny.

    Dengan dukungan sovereign cloud, pusat data lokal, dan ekosistem co-creation bersama para mitra teknologi, Vision AI menjadi bagian dari strategi holistik Indosat Business dalam memperkuat transformasi digital yang inklusif, aman, dan sesuai dengan regulasi nasional.

    Inisiatif ini juga mendukung upaya pemerintah dalam membangun ekosistem AI yang mandiri dan berdaya saing global, sekaligus menjawab kebutuhan industri yang kian mendesak terhadap solusi pengawasan berbasis data yang lebih canggih.

    “Kenapa Vision AI menjadi sangat penting? karena kita tahu bahwa semakin kompleksnya, besarnya kebutuhan baik itu keamanan, management, traffic, cloud, control bagaimana aset-aset kita untuk jadi keselamatan, kesehatan, dan lain-lain itu Vision AI menjadi penting,” pungkasnya.

    (agt/fay)

  • Indosat Ekspansi Bisnis Pertahanan, Pastikan Data Pengguna Aman

    Indosat Ekspansi Bisnis Pertahanan, Pastikan Data Pengguna Aman

    Jakarta, CNBC Indonesia – Indosat memastikan menjaga data pengguna terkait usaha baru terkait pertahanan dan keamanan. Usaha tersebut masuk dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) yang diumumkan Indosat lewat keterbukaan informasi.

    Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Danny Buldansyah mengatakan pihaknya memastikan melaksanakan amana aturan terkait proteksi data.

    “Semua delivered harus sesuai dengan personal data protection,” kata Danny, Rabu (28/5/2025).

    Dia mengatakan Indosat sudah memiliki kemampuan di bidang keamanan. Salah satunya terkait mining dan beberapa gedung yang memang menggunakan kemampuan tersebut.

    Hal itulah yang mendasari Indosat menambahkan kemampuan keamanan dalam usaha barunya. Karena kemampuan layanan tersebut bisa menambah nilai perusahaan.

    “Oleh karena itu menambah KBLI. Mempunyai kemampuan deliver service menambah nilai perusahaan dalam surveillance terutama keselamatan kerja dan environment,” kata Danny.

    Dalam keterbukaan informasi, keputusan tersebut masuk dalam rencana perseroan untuk mengubah kegiatan usaha. Indosat menjelaskan memiliki 8 usaha baru yang mencakup dalam KBLI. Berikut daftarnya:

    1. Kegiatan Telekomunikasi Khusus untuk Keperluan Pertahanan dan Keamanan;

    2. Periklanan;

    3. Penelitian Pasar;

    4. Jasa Jual Kembali Jasa Telekomunikasi;

    5. Layanan Konten SMS Premium;

    6. Aktivitas Pemrograman Berbasis Kecerdasan Artifisial;

    7. Kegiatan Konsultasi dan Desain Internet of Things (IoT); dan

    8. Penyelenggara Penunjang Sistem Pembayaran

    (fab/fab)

  • Indosat Eksplorasi Pasar Pertambangan Lewat AI Day for Mining, Pacu Segmen B2B

    Indosat Eksplorasi Pasar Pertambangan Lewat AI Day for Mining, Pacu Segmen B2B

    Bisnis.com, JAKARTA — PT Indosat Tbk. (ISAT) berencana mengeksplorasi pasar pertambangan dengan memperkenalkan serangkaian kasus pemanfaatan teknologi AI, 5G, Internet of Things (IoT), dan otomatisasi pada acara AI Day for Mining. 

    Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison Muhammad Danny Buldansyah mengatakan AI Day for Mining Industry merupakan kelanjutan dari Indonesia AI Day. 

    Acara  yang digelar pada Kamis (24/4/2025) itu akan melibatkan 500 peserta yang berkecimpung di sektor pertambangan.

    Diketahui, pertambangan merupakan salah satu sektor potensial. Berdasarkan catatan Indosat, 33,3% pasar korporasi ICT pada 2025 disumbangkan dari sektor pertambangan. Adapun total pasar ICT pada tahun in diperkirakan mencapai Rp4,2 triliun. 

    “Jadi nanti ada juga Indonesia AI Day untuk education, waktu dekat ini setelah mining itu adalah di education,” kata Danny di kantornya, Rabu (23/4/2025).

    Indosat, kata Danny berambisi menjadi perusahaan telekomunikasi pertama di Indonesia yang sepenuhnya berbasis AI yaitu AI Native Techco dan AI Nation Shaper.

    Adapun, untuk merealisasikan tujuan tersebut Indosat tidak berjalan sendirian. Indosat menggandeng berbagai mitra strategis seperti Lintasarta, Huawei, dan Accenture.

    “Tentunya ini di support juga oleh pemerintahan baik Komdigi sebagai pembina telekomunikasi dan juga di support oleh Kadin maupun Kementerian ESDM,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Danny menuturkan saat ini industri di Tanah Air memiliki banyak tantangan. Seperti keterbatasan tenaga kerja, masalah keselamatan, hingga isu keberlanjutan.

    Tantangan tersebut, kata Danny, dapat teratasi dengan bantuan AI dan teknologi yang meningkatkan efisiensi proses bisnis, mitigasi risiko, hingga optimasi hasil produksi.

    Maka dari itu, Indosat menawarkan ekosistem teknologi terintegrasi mulai dari pengumpulan data melalui kamera dan drone, pengelolaan kendaraan (fleet management).

    Selain itu, Indosat juga menawarkan sensor pintar, wearable devices untuk keselamatan kerja (seperti helm pintar dan gelang), hingga penyimpanan data dan keamanan siber pada sektor pertambangan.

    “Nah ini dengan teknologi ini bisa menolong banyak hal gitu untuk menjadikan lebih efisiensi,” ujar Danny.

    Adapun, Indosat bakal menggelar Indonesia AI Day for Mining Industry 2025, pada Kamis (24/4/2025) di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta. 

    Adanya Indonesia AI Day for Mining Industry 2025 sebagi wadah untuk mewujudkan kolaborasi antara pemangku kepentingan, mulai dari pelaku industri pertambangan, penyedia teknologi, hingga pemerintah, perlu diperkuat guna mempercepat adopsi solusi digital. 

    Dalam ekosistem ini, Indosat hadir sebagai penggerak yang menyediakan solusi digital berbasis AI dan platform konektivitas, menuju industri pertambangan yang lebih cerdas dan berkelanjutan.

    “Jadi kedepannya mudah-mudahan kita semakin maju, semakin safe dan semakin dilihat sebagai negara yang berkontribusi terhadap pertumbuhan masyarakat di Indonesia ini dari mining industry,” tutur Danny.

  • Pemerintah Siapkan Internet Murah 100 Mbps Hanya Rp 100 Ribu

    Pemerintah Siapkan Internet Murah 100 Mbps Hanya Rp 100 Ribu

    Jakarta, CNBC Indonesia – Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah diketahui menyiapkan cara membuat harga internet lebih murah. Yakni dengan kecepatan 100 Mbps yang dibanderol antara Rp 100-150 ribu.

    Harga itu jauh lebih murah dibandingkan yang ditawarkan sekarang misalnya 30 Mbps bisa mencapai Rp 250 ribuan.

    “Nah kita memastikan, mengupayakan, fixed broadband tersedia lebih murah kepada masyarakat,” kata Koordinator Kebijakan Penyelenggaraan Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Benny Elian, dalam acara diskusi Morning Tech ‘Lelang Frekuensi untuk Siapa?’ beberapa waktu lalu.

    Untuk mewujudkannya, mereka menyiapkan frekuensi baru 1,4 Ghz untuk Broadband Wireless Access atau BWA. Benny mengatakan penyediaannya itu sebagai cara peningkatan penetrasi fixed broadband bukan hanya fiber optic.

    Dengan begitu bisa memenuhi kualitas layanan fixed broadband dengan baik dan terjangkau. Termasuk menyasar masyarakat dengan ekonomi yang terbatas.

    Frekuensi 1,4 Ghz itu akan diperuntukkan untuk penyelenggara Fixed Broadband. Contohnya seperti modem atau router, yang tidak memiliki nomor HP seperti layanan seluler.

    Kemungkinan pemerintah akan menggelar seleksi untuk jaringan 1,4 Ghz. Setidaknya 7 dari 10 penyelenggaraan jaringan menyatakan minatnya untuk jaringan tersebut.

    Benny tak menjelaskan siapa saja penyelenggara tersebut. Namun hanya mengatakan terdiri dari perusahaan layanan seluler dan fiber optic.

    Rencananya lelang akan diselenggarakan Semester I tahun 2025. Berikutnya akan menyusul seleksi untuk penyelenggaraan jaringan 700 Mhz, 26 Ghz, dan 2,6 Ghz.

    “Untuk tujuh itu, saya tidak ingat jelas, tapi cuma yang pasti beberapa seluler ada dan sisanya itu penyelenggara FO itu yang saya hafal,” tuturnya.

    Kabel FO sampai kecamatan

    Sebelumnya, Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Komdigi Denny Setiawan menyatakan lelang frekuensi 1,4 GHz untuk meningkatkan kecepatan internet RI.

    “Konsepnya adalah belajar dari pengalaman lalu, adalah kita ingin fiberized tower [menara yang dilengkapi kabel fiber optik]. Tower itu harus fiberized,” jelasnya dalam acara Tech and Telco Summit 2024, Jumat (21/2/2025).

    Dia menjelaskan dalam implementasi layanan BWA yang terdahulu, pemerintah tidak mewajibkan penyelenggara membangun kabel fiber optik. Kini, perusahaan yang mau menyediakan layanan BWA harus memiliki infrastruktur kabel fiber optik.

    Kemudian, Komdigi juga mewajibkan frekuensi digunakan bersama-sama dalam konsep open access. Konsep tersebut juga berlaku untuk infrastruktur kabel fiber optik.

    Model ini, menurut Denny, memastikan pembangunan infrastruktur internet dengan kapasitas sebesar-besarnya sebagai “pembuka jalan.”

    “Jadi, ini adalah, kalau istilah kemacetan itu voorijder [mobil polisi pengawal di jalan raya]. Setelah ini sudah dapat, sampai dalam kecamatan. Nah itu pun teman-teman mobile juga bisa memanfaatkan. Jadi, tadi 5G enggak rasa 2G lagi,” katanya.

    Lelang frekuensi sekaligus

    Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Danny Buldansyah mengatakan lelang frekuensi dengan jumlah yang kecil tidak akan bisa menurunkan harga. Pemberian spektrum jadi hal paling signifikan menurunkan regulatory cost yang harus dikeluarkan oleh operator.

    “Biar enggak tinggi ya makanya bagaimana cara pemberian spektrum. Itu penting karena kalau dibikin lelang terus kecil-kecil menurut saya enggak bisa menurunkan harga frekuensi,” kata dia ditemui Kamis malam (14/3/2025).

    Menurutnya, pemerintah harus punya roadmap terkait frekuensi. Termasuk mengusulkan untuk lelang bisa dilakukan bersamaan.

    Saat ditanya apakah akan memberatkan operator, itu tidak akan terjadi jika harganya murah. Berbeda dengan sekarang saat satu frekuensi dimiliki oleh beberapa operator sekaligus.

    “Akhirnya 700 Mhz nanti ada tiga operator kecil-kecil dapatkan. Kalau dilelang sekaligus ada yang mau ngambil 700 Mhz, tapi enggak ngambil di 2600,” jelasnya.

    Lelang bersamaan juga bisa membuat penggunaannya menjadi lebih optimal. Perusahaan telekomunikasi dapat membuat strategi yang lebih enak ke depannya, ucap Danny.

    “Kalau saya bangun 700 lagi harus bangun lagi 2600 harus bangun lagi 3500, mahal. Perlu waktu juga,” kata Danny.

    Pemerintah juga telah membuat aturan biaya awal hanya dibayarkan hingga dua kali. Sebelumnya upfront fee itu harus dibayarkan dua kali saat awal.

    Namun menurut Danny, hal itu belum mendukung industri. Karena penurunannya belum terlalu signifikan.

    “Menurut saya belum signifikan, kalau angkanya masih sama. Belum mendukung,” ucap Danny.

    (dem/dem)

  • Beban Bisnis Internet Makin Berat, Insentif Komdigi Tak Jelas Kabarnya

    Beban Bisnis Internet Makin Berat, Insentif Komdigi Tak Jelas Kabarnya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Sejak beberapa waktu lalu terdengar wacana pemberian insentif kepada para operator telekomunikasi. Sayang belum ada progress untuk rencana tersebut.

    “Enggak ada progress ya sayangnya itu ya. Kalau itu dilakukan menurut saya akan membantu banyak,” kata Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo, Danny Buldansyah ditemui Kamis malam (14/3/2025).

    Dia mengatakan usulan dari industri operator telekomunikasi terkait insentif sudah lama disuarakan. Namun memang tidak ada kemajuan soal usulan tersebut.

    Padahal insentif tersebut akan sangat positif bagi industri. Mengingat biaya yang dikeluarkan para operator sangat banyak.

    “Inisiatif memberikan insentif buat perusahaan telekomunikasi tentang PNBP itu yang digulirkan tahun lalu, menurut saya harus diteruskan lagi,” ucapnya.

    Danny menjelaskan beberapa cost yang harus dikeluarkan cukup banyak. Dari regulatory fee, USO, pajak, sejumlah izin dan operational cost.

    “Kita kan bangun kabel juga. Kalau bangun kabel itu kan banyak banget izinnya. Retribusi daerah dan lain-lain gitu. Selama ini masih ada yang seperti itu sekarang,” jelas Danny.

    Pemerintah diketahui ingin membuat internet murah seharga Rp 100-150 ribu untuk kecepatan 100 Mbps. Dia mengatakan objektifnya sudah bagus, tinggal bagaimana cara melakukannya agar hal tersebut bisa terjadi.

    Dari industri sendiri, dia mengatakan bisa terjadi jika skala perusahaan yang melakukannya besar dan harga frekuensi bisa lebih murah hal itu bisa diwujudkan.

    “Supaya bagaimana penetrasi jaringan data itu ke masyarakat kan bisa lebih affordable,” tuturnya.

    Sebelumnya saat masih menjadi Kementerian Komunikasi dan Informatika, pihak kementerian pernah mengungkapkan adanya kajian soal mekanisme insentif untuk operator seluler. Terkait apakah harus ada kajian lain mengingat waktu yang sudah lama sejak kajian tersebut dilakukan, Danny mengatakan perlu menanyakan itu ke pihak pemerintah.

    “Barangkali yang mesti ditanyakan ke Komdigi, ke pemerintah. Kalau industri sangat mengharapkan itu,” jelasnya.

    (dem/dem)

  • Beban Bisnis Internet Makin Berat, Insentif Komdigi Tak Jelas Kabarnya

    Trafik Naik, Pengguna Indosat Makin Royal Belanja Pulsa

    Jakarta, CNBC Indonesia – PT Indosat Tbk. (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison mencatatkan kenaikan trafik sebesar 12,2% selama 2024, dari 14,417 PB tahun 2023 menjadi 16,170 PB tahun lalu.

    ARPU perusahaan juga naik. Tahun 2024 tercatat ARPU Indosat mencapai Rp 38 ribu.

    “Dan tidak lupa pula bahwa ternyata data traffic kita meningkat juga 12,2% yaitu jadi kebutuhan masyarakat akan data itu juga meningkat cukup signifikan di tahun 2024 ini,” kata Director & Chief Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), M. Danny Buldansyah, Senin (10/2/2025).

    “Nah, ini juga bisa kita lihat bahwa ARPU kita meningkat 6,6% dibandingkan tahun 2023 menjadi Rp38 ribu,” jelasnya

    Penurunan ARPU ini disertai oleh penurunan jumlah pengguna sebanyak 4,1%. Tahun lalu, pengguna Indosat Ooredoo Hutchison tercatat 94,7 juta dari sebelumnya 98,8 juta.

    “Sedikit ada penurunan di mobile customer sekitar 4,1 juta turun tapi bukan karena bukan karena suatu hal yang perlu dikhawatirkan ini adalah karena customer-customer kita yang mempunyai value yang terbaik adalah yang yang kita ada di jaringan maupun service-nya Indosat,” kata Danny.

    Danny juga mengungkapkan BTS milik Indosat bertambah 20 ribu BTS. Ini terbagi atas 17 ribu BTS untuk 4G dan 3.500 BTS pada 2G.

    Indosat juga terus memperluas jaringan baik jaringan 4G dan 5G. Danny mengatakan ini menjadi program untuk ekspansi ke sejumlah daerah di tanah air.

    Dalam kesempatan itu, aplikasi Indosat juga mengalami lonjakan pengguna. Dalam setahun periode 2023-2024 kenaikan terjadi sebanyak 21,2%.

    “Kemudian juga bisa dilihat bahwa ada aplikasi monthly avtive user kita, active user kita yang juga meningkat sangat signifikan dari tahun 2023 ke 2024 meningkat 21,2%,” jelasnya.

    Artificial Intelligence juga masih menjadi salah satu inisiatif Indosat. Yakni dengan melakukan mendefinisikan ulang para konsumen.

    (dem/dem)

  • Indosat Incar Pelanggan Berkualitas, ARPU Naik Total Pelanggan Capai 94,7 Juta

    Indosat Incar Pelanggan Berkualitas, ARPU Naik Total Pelanggan Capai 94,7 Juta

    Bisnis.com, JAKARTA — PT Indosat Tbk. mengejar pertumbuhan berkelanjutan dengan menyasar pelanggan berkualitas sepanjang 2024. Perusahaan telekomunikasi berkode saham ISAT itu tercatat melayani 94,7 juta pada 2024.

    Sejalan dengan upaya tersebut, rerata pendapatan per pelanggan (ARPU) yang dibukukan Indosat tercatat sebesar Rp38.000 atau tumbuh 6,6% dibandingkan dengan 2023 yang sebesar Rp35.600. 

    “Kita lihat bahwa ARPU kita meningkat 6,6% dibandingkan tahun 2023 menjadi Rp38.000,” kata Director & Chief Business Officer Muhammad Danny Buldansyah dalam konferensi virtual, Senin (10/2/2025). 

    Danny menambah pertumbuhan berkualitas juga tercermin dari pengguna aktif aplikasi Indosat yang meningkat 21,1% secara tahunan pada 2024. Selain itu, lalu lintas data Indosat juga naik 12,2% year on year/YoY. 

    “Jadi kebutuhan masyarakat akan data itu juga meningkat cukup signifikan pada 2024 ini,” kata Danny. 

    Diketahui, Indosat mencetak laba bersih Rp4,91 triliun sepanjang tahun 2024.  Jumlah laba bersih Indosat sepanjang 2024 tercatat naik 8,97% menjadi Rp4,91 triliun dibandingkan tahun 2023 yang sebesar Rp4,5 triliun. 

    Dalam info memonya, manajemen ISAT menjelaskan profitabilitas ini menegaskan kesehatan keuangan ISAT yang solid dan kapasitasnya untuk menghasilkan pengembalian yang substansial bagi pemangku kepentingan.

    Peningkatan laba bersih ini salah satunya didorong dari peningkatan pendapatan ISAT sepanjang 2024 sebesar 9,09%. Pendapatan ISAT naik dari Rp51,2 triliun pada 2023 menjadi Rp55,88 triliun pada 2024. 

    Pendapatan ini didorong oleh pendapatan seluler sebesar Rp47,03 triliun, pendapatan MIDI sebesar Rp7,98 triliun, dan pendapatan telekomunikasi tetap senilai Rp864,3 miliar. 

    Adapun jumlah beban ISAT sepanjang tahun 2024 adalah sebesar Rp45,04 triliun, naik 8,97% dari tahun 2023 yang sebesar Rp40,8 triliun.

    Sepanjang 2024, Manajemen ISAT menuturkan basis pelanggan perusahaan turun sebesar 4,1 juta mencapai 94,7 juta pada tahun 2024 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2023 sebesar 98,8 juta. Penurunan ini disebabkan oleh konsolidasi SIM di pasar.

    Sementara itu, ARPU untuk pelanggan seluler meningkat menjadi Rp38.000 pada tahun 2024, atau naik 6,6% menjadi Rp2.400 lebih tinggi daripada pada tahun 2023.

    Hingga akhir 2024, ISAT mencatatkan jumlah aset sebesar Rp114,38 triliun, turun tipis dibandingkan tahun 2023 yang sebesar Rp114,72 triliun.

    Sementara itu, liabilitas ISAT turun menjadi Rp77,73 triliun pada 2024, dari sebelumnya sebesar Rp81,01 triliun pada 2023. Adapun ekuitas ISAT meningkat menjadi Rp36,6 triliun sepanjang 2024, dari Rp33,7 triliun sepanjang 2023.