Kasus Pelecehan Turis Singapura, Polrestabes Bandung Tangkap 3 Terduga Pelaku
Tim Redaksi
BANDUNG, KOMPAS.com
– Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes)
Bandung
menangkap tiga orang yang diduga sebagai pelaku pelecahan terhadap turis asal Singapura.
Para terduga pelaku yang merupakan warga Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, ini diketahui berinisial RF (17), RM (18) dan MCA (18).
Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Budi Sartono menjelaskan bahwa pihaknya mendapatkan laporan ini dari tim siber terkait adanya dugaan pelecehan terhadap turis asal Singapura yang terekam di media Youtube korban yang diunggah pada 2 Januari 2025. Pelecehan itu diduga terjadi di Jalan Braga pada 31 Desember 2024.
“Dari hasil tersebut, kami melihat memang sudah diposting oleh beberapa mediagram di Kota Bandung bahwa memang ada video di Jalan Braga. Ada gambaran seorang turis warga negara Singapura yang merasa diikuti oleh tiga orang remaja di Jalan Braga,” kata Budi di Mapolrestabes Bandung, Sabtu (4/1/2025) malam.
Dari hasil video yang tersebar di media sosial itu, kata Budi, para remaja tersebut ada yang diduga menyentuh bagian belakang tubuh turis asing tersebut. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Bandung langsung menelusuri dugaan tindakan tersebut dan meminta keterangan sejumlah saksi.
“Dan alhamdulillah tadi malam kami berhasil menangkap tiga terduga pelaku tersebut atas nama RF, atas nama RM dan atas nama MCA,” ucapnya.
Unit PPA tengah memeriksa ketiga terduga pelaku tersebut. Hasil keterangan sementara, ketiganya membenarkan bertemu korban di Jalan Braga.
“Kejadiannya bukan pada malam tahun baru, yaitu pada tanggal 29 Desember, berdasarkan pengakuan dari terduga pelaku,” ucap Budi.
Saat itu, terduga pelaku tengah menonton bareng (nobar) pertandingan Persib dengan Persis Solo di Braga Sky. Pada saat istirahat babak pertama, ketiganya keluar mencari makan.
“Pada saat mencari makan di Braga, bertemu dengan korban yang sedang melakukan vlog. Nah hasil pengakuan daripada terduga pelaku bahwa mereka sangat tertarik atau penasaran dengan orang yang melakukan vlog dengan bahasa Inggris sehingga mengikuti,” katanya.
Kata Budi, RF mengakui mengacungkan kedua jarinya di depan wajahnya dan mendahului korban.
“Pada saat mendahului berdasarkan keterangan terduga pelaku bahwa karena jalan sempit dan bilang punten tangannya menyentuh bagian belakang daripada orang, korban warga negara Singapura tersebut,” ujar Budi.
Sedangkan RM mengakui ada sentuhan namun mengenai tas dari korban. Sementara MCA mengaku tak melakuan apa pun.
“Atas nama MCA tidak melakukan apa-apa, tidak ada gerakan apa-apa, dan juga tidak melakukan apa-apa,” kata Budi.
Menurut Budi, terduga pelaku yang menyentuh bagian belakang korban ini masih berstatus pelajar.
“Ya, terduga pelaku masih di bawah umur, Pelajar ya, 17 (tahun),” ucapnya.
Saat ini, terduga pelaku masih diperiksa oleh Unit PPA Polrestabes Bandung.
Insiden dugaan pelecehan ini ramai di media sosial. Turis asal Singapura diduga menjadi korban pelecehan seksual di kawasan Jalan Braga, Kota Bandung, saat berlibur pada Selasa (31/12/2024) malam.
Insiden ini ramai jadi perbincangan di media sosial setelah korban dan suaminya mengunggah video pernyataan di akun Youtube mereka.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Tag: Budi Sartono
-
/data/photo/2025/01/04/67792bcdec862.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kasus Pelecehan Turis Singapura, Polrestabes Bandung Tangkap 3 Terduga Pelaku Bandung 4 Januari 2025
-

Polisi Tangkap 3 Pelajar yang Lecehkan Turis Singapura di Jalan Braga Bandung, Ini Motifnya – Halaman all
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG – Polisi menangkap pelaku pelecehan terhadap turis Singapura di Jalan Braga, Kota Bandung, Jawa Barat. Para pelaku ternyata masih pelajar.
Turis asal Singapura tersebut dilecehkan pada Selasa (31/12/2024) malam.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, mengatakan, total ada tiga orang yang ditangkap sesuai dengan video yang viral di media sosial.
Mereka berinisial RF, RM, dan MCA.
Menurut Budi, berdasarkan hasil pemeriksaan, hanya dua orang yang menyentuh korban.
“Berdasarkan keterangan RF bahwa jalan sempit, sehingga tangannya menyentuh bagian belakang korban warga Singapura. Sedangkan satu lagi atas nama RM, memang mengakui dan hanya menyentuh tas korban. MCA tidak melakukan apa-apa, tidak ada gerakan apa-apa,” ujar Budi, Sabtu (4/1/2025).
Alasan ketiganya melakukan aksi tidak terpuji terhadap warga Singapura itu karena penasaran melihat korban membuat video vlog menggunakan bahasa Inggris.
“Sehingga dari tiga orang itu, dua orang atas nama RF dan RM mengakui mengacungkan kedua jarinya di depan wajahnya,” katanya.
Budi menjelaskan, ketiga pelaku diamankan setelah anggota Satreskrim Polrestabes Bandung berkomunikasi dengan korban via email dan korban menyerahkan semuanya kepada aparat kepolisian.
“Mereka diamankan setelah tim melakukan penelusuran. Mereka masih di bawah umur, pelajar, anak berhadapan dengan hukum berusia 17 tahun. Semuanya warga Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung,” katanya.
Kronologis pelecehan
Berdasarkan keterangan dua turis yang merupakan suami istri itu, mereka melakukan pelecehan.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan, saat itu ketiga remaja berinisial RF, RM dan MCA tengah ikut nonton bareng pertandingan Persib Bandung di Braga Sky.
“Kejadiannya bukan pada malam tahun baru, tapi tanggal 29 Desember 2024, yaitu ketiga terduga pelaku lagi menonton Persib di Braga Sky. Pada saat istirahat babak pertama, ketiganya mencari makan. Saat mencari makan bertemu dengan korban yang sedang melakukan vlog,” ujar Budi, Sabtu (4/1/2025).Menurutnya, ketiga pelaku ini penasaran dengan orang yang melakukan vlog menggunakan bahasa Inggris.
Dua dari mereka yang berinisial RF dan RM mengakui mengacungkan kedua jarinya di depan wajahnya dan mendahului korban.
“Pada saat mendahului, berdasarkan keterangan pelaku, jalan sempit, tangannya menyentuh bagian belakang korban warga Singapura. Sedangkan satu lagi atas nama RM, memang mengakui dan hanya menyentuh tas dari korban. MCA tidak melakukan apa-apa, tidak ada gerakan apa-apa,” katanya.
Ketiga pelaku diamankan anggota Satreskrim Polrestabes Bandung setelah berkomunikasi dengan korban via email. Korban menyerahkan semuanya kepada aparat kepolisian.
“Mereka diamankan setelah tim melakukan penelusuran. Mereka masih di bawah umur, pelajar, anak berhadapan dengan hukum, berusia 17 tahun. Semuanya warga Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung,” katanya.
Sebelumnya, dugaan pelecehan oleh warga lokal terhadap turis asal Singapura viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi pada pasangan berinisial D dan J yang tengah berlibur di Kota Bandung.
“Kami sedang berjalan di Jalan Braga dan sekelompok anak laki-laki mengikuti kami selama 10 menit,” ujar D saat dikonfirmasi via pesan Instagram.
Lalu, tiba-tiba J mendapat sentuhan dari kelompok anak itu. Setelah itu, D mengatakan dirinya menoleh ke arah mereka, sehingga kelompok anak itu berlari cepat menuju sebuah toko.
“J dan saya kemudian berjalan di ruas yang lain karena kami merasa tidak aman. Mereka tidak berbicara dengan kami atau berinteraksi dengan kami setelah itu,” katanya. (*)
Penulis: Nazmi Abdurrahman
dan
Motif 3 Pelajar Cimaung Diduga Lecehkan Turis Singapura di Jalan Braga Bandung, Ngaku Penasaran
-

Jalan Asia Afrika Bandung Dipadati Warga Jelang Pergantian Tahun, Meski Tak Ada Pesta Kembang Api – Halaman all
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG – Kawasan Jalan Asia Afrika, Bandung dipadati ribuan warga jelang pergantian tahun, Selasa (31/12/2024).
Meski tidak ada acara khusus yang digelar di kawasan tersebut, mereka tampak antusias berjalan-jalan menikmati suasana di Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga.
Di beberapa sudut Asia Afrika dan Braga, terdapat sejumlah musisi jalanan yang menghibur wisatawan dengan live music.
Sementara kondisi lalu lintas di kawasan Asia Afrika dan Braga, kondisi lalu lintas mulai padat.
Sejumlah petugas gabungan dari TNI, Polri, dan Dinas Perhubungan disiagakan di sejumlah titik untuk mengatur arus lalu lintas.
Satlantas Polrestabes pun menyiapkan sejumlah rekayasa jika terjadi kemacetan.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, mengatakan, pada malam puncak perayaan tahun baru 2025, tidak akan melakukan penutupan jalan, termasuk flyover Mochtar Kusumaatmadja. Hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya kemacetan total.
“Jadi, kesepakatan hasil rapat gelar pengamanan malam tahun baru di Polrestabes tidak ada flyover yang ditutup. Saya tegaskan kembali, tidak ada flyover yang ditutup, berjalan seperti biasa asalkan tidak ada yang berhenti di sana dan kami sudah koordinasi dengan Pemkot Bandung,” ujar Budi.
Budi mengatakan, semua anggota Polrestabes Bandung akan disebar dan melakukan pengamanan. Hal itu guna mencegah terjadinya kemacetan parah hingga kendaraan tak dapat berjalan.
“Kita langsung sebar anggota di berbagai titik keramaian di Kota Bandung. Khususnya di Kota Bandung sendiri ada beberapa titik kemacetan tempat berkumpul masyarakat, yaitu di Asia-Afrika, di Pasopati, Gasibu, dan Dago, nah di situ anggota akan menyebar untuk mengatur lalu lintas sehingga tidak terjadi kemacetan. Jadi prinsip kami boleh terjadi kemacetan, tapi roda tetap berjalan,” katanya.
Sementara penerapan rekayasa lalu lintas, kata dia, dilakukan hanya saat apabila terjadi kepadatan kendaraan yang cukup parah. Salah satu rencana rekayasa yang akan dilakukan adalah pengalihan arus lalu lintas.
“Nanti untuk diskresi, rekayasa lalu lintas lihat situasional di tempat. Seperti sekarang kita jelaskan tidak ada penutupan fly over, tapi kita lihat situasional. Kalau terjadi penumpukan kita misal alihkan lewat bahwa tidak boleh naik dulu sampai dengan keadaan atau sudah selesai,” ucapnya.
-

8 Orang Tersangka Penyekapan di Bandung Diamankan!
JABAR EKSPRES – Sebanyak 8 orang tersangka berinisial Y, EP, DN, WG, B, AR, FF, dan ID berhasil diamankan oleh Polrestabes Bandung setelah melakukan penyekapan terhadap seorang pria bernama Abdul Ridwan.
Peristiwa ini terungkap berkat laporan penculikan yang diterima Polsek Cidadap pada Sabtu, 28 Desember 2024. Jajaran Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Bandung segera melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan para pelaku.
“Dari hasil penyelidikan, kami dapat mengamankan 8 orang tersangka,” kata Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, di Mapolrestabes Bandung, Selasa (31/12).
BACA JUGA: Truk Pengangkut Paket Hangus Terbakar di Gudang JNE Bandung
Budi menambahkan bahwa motif penyekapan ini bermula dari kekesalan para tersangka terhadap korban yang tidak segera mengembalikan sepeda motor milik salah satu tersangka.
“Motifnya adalah pelaku kesal karena motor yang dipinjam korban tidak dikembalikan. Korban meminjam motor dari tersangka AR, namun motor tersebut tidak dikembalikan. AR kemudian mengajak teman-temannya untuk mencari korban dan menanyakan keberadaan motor tersebut,” jelas Budi.
Setelah menemukan korban, Budi menjelaskan, para tersangka membawa korban untuk menanyakan keberadaan motor yang dipinjam. Ternyata, motor tersebut telah digadaikan oleh korban. Merasa kesal, para tersangka kemudian membawa korban dan menyekapnya di kawasan Maleber, Kota Bandung.
“Di sana, korban diikat dan dirantai pada velg motor dengan alasan bahwa ia tidak boleh pulang jika motor tidak dikembalikan. Selain itu, korban juga dipukul, dibakar dengan sebatang rokok, dan mengalami kekerasan lainnya,” tambah Budi.
Tindakan para tersangka ini, menurut Budi, tidak dibenarkan dan seharusnya masalah tersebut dilaporkan kepada pihak berwajib. Oleh karena itu, para tersangka kini terancam dijerat dengan berbagai pasal, antara lain tentang penculikan, penyekapan, dan penganiayaan.
“Ke-8 tersangka ini semuanya terlibat dalam penganiayaan terhadap korban. Kami akan memproses mereka sesuai hukum dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 328 tentang penculikan dengan ancaman hukuman 12 tahun penjara, Pasal 333 tentang penyekapan dengan ancaman hukuman maksimal 8 tahun, Pasal 170 tentang pengeroyokan dengan ancaman hukuman 5 tahun, dan Pasal 351 tentang penganiayaan dengan ancaman hukuman 2 tahun,” pungkas Budi.
-

Penyebab Tewasnya Mahasiswi UPI Bandung antara Terjatuh atau Menjatuhkan Diri, Tak ada Unsur Pidana – Halaman all
TRIBUNNEWS.COM – Kasus kematian tragis mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, berinisial AM (21), resmi dihentikan oleh pihak kepolisian.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, menyatakan penyelidikan tak menemukan unsur pidana dalam peristiwa yang terjadi di Gedung Gymnasium UPI pada Kamis (26/12/2024).
“Kesimpulan sementara, korban diduga terjatuh atau menjatuhkan diri. Tidak ada indikasi keterlibatan pihak lain,” ujar Budi, Jumat (27/12/2024).
Berdasarkan rekaman CCTV, korban meninggalkan kamar kosnya pada pukul 11.33 WIB dan tiba di Gedung Gymnasium pukul 11.39 WIB. Korban terlihat memasuki gedung seorang diri.
Pada pukul 12.28 WIB, korban naik ke lantai dua dan kemudian ditemukan tewas di lantai dasar.
“Jatuhnya korban terlihat di CCTV, tetapi aktivitas di lantai dua tidak terekam,” jelas Budi.
Pemeriksaan terhadap petugas keamanan kampus berinisial N mengungkap bahwa gedung dalam kondisi sepi saat kejadian.
Keluarga korban menolak proses autopsi sehingga dokter forensik hanya melakukan pemeriksaan luar terhadap jenazah.
Dokter forensik RS Bhayangkara Sartika Asih, Nurul Laidah, menyebutkan terdapat luka lebam, lecet, serta patah tulang pada tubuh korban, terutama di sisi kanan.
“Distribusi lukanya ada di sisi kanan, termasuk luka robek di tungkai bawah kanan dan patah tulang tertutup di tungkai atas serta bawah kanan,” paparnya.
Kepala Humas UPI, Prof. Suhendra, mengungkapkan korban dikenal sebagai mahasiswi berprestasi dengan IPK 3,9 dan tidak memiliki masalah akademik.
“UPI turut berduka cita atas berpulangnya AM, sosok yang baik dan berprestasi. Semoga mendiang mendapat tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar Suhendra.
Jenazah AM dimakamkan di Desa Cikalong, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, pada Jumat pagi. Kepala Desa Cikalong, Agun Gumilar, menyebut korban dikenal aktif di masyarakat sebagai duta agen Generasi Berencana (Genre).
“Almarhumah sosok yang mudah bergaul, aktif di organisasi, dan sangat dirindukan oleh warga,” tutupnya.
Sebagian artikel telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Kaki Ajeng Mahasiswi UPI yang Tewas di Gymnasium Patah, Hidung Keluarkan Banyak Darah
(Tribunnews.com/Mohay) (TribunJabar.id/Nandri Priatama) (Kompas.com/Agie Permadi)
-

Mahasiswi yang Tewas di Gymnasium UPI Bukan Dibunuh, Polisi: Diduga Terjatuh atau Jatuhkan Diri – Halaman all
TRIBUNNEWS.COM – AM (21), mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang ditemukan tewas di Gedung Gymnasium UPI, Kota Bandung, Jawa Barat pada Kamis (26/12/2024) bukanlah korban pembunuhan.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, menegaskan hal itu diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap saksi dan rekaman CCTV.
Menurut rekaman CCTV yang diperoleh, Budi menuturkan tergambar jelas detik-detik AM berkegiatan sebelum ditemukan tewas di Gedung Gymnasium UPI.
Budi mengatakan, AM awalnya terekam keluar dari sebuah gang Jalan Alfari, Sukasari pada Kamis siang sekira 11.33 WIB.
Lalu, enam menit kemudian, korban tampak memasuki Gedung Gymnasium UPI.
“Pada pukul 11.40 WIB, korban juga terlihat di CCTV dalam gedung Gymnasium Kampus UPI,” kata Budi, Sabtu (28/12/2024), dikutip dari Tribun Jabar.
AM, kata Budi, sendirian di gedung tersebut ketika merujuk pada rekaman CCTV yang diperoleh.
Selanjutnya, pada pukul 12.28 WIB, barulah AM terlihat terjatuh dari lantai dua gedung Gymnasium langsung ke lapangan basket.
Namun, Budi menuturkan, pihaknya tidak dapat melihat kegiatan yang dilakukan korban saat berada di lantai dua gedung tersebut.
“Jadi terlihat di CCTV-nya lagi jatuhnya seperti apa tergambar, tapi di lantai dua-nya tidak terlihat, tapi jatuhnya terlihat,” katanya.
Di sisi lain, sejumlah saksi telah diperiksa seperti mantan kekasih korban, AV; ibu kos korban, N; hingga saksi yang menemukan korban pertama kali saat tergeletak, MF dan DN.
Menurut AV, kata Budi, dia memang sempat bertemu korban dan terlibat cekcok sebelumnya.
Namun, setelah itu, AV langsung pulang ke kosnya setelah bertemu dengan AM di kos korban.
“Kemudian setelah itu dia (AV), tidak tahu lagi korban seperti apa. Nah, makanya itu kalau dilihat dari timeline nya, dari jam 11 yang bersangkutan keluar dari kos-kosan korban, jam 11.33 WIB korban keluar sendirian menuju kampus UPI Gymnasium tersebut sendirian,” katanya.
Sementara, menurut N, satpam kampus, pada saat kejadian, memang tidak ada orang lain selain AM yang berada di Gedung Gymnasium tersebut.
Dengan deretan hasil penyelidikan ini, maka polisi menyimpulkan tidak ada unsur pidana atas tewasnya AM.
Namun, Budi menuturkan belum bisa menyimpulkan secara pasti terkait penyebab tewasnya AM.
“Sehingga kami menyimpulkan bahwa korban pada saat jatuh di lapangan Gymnasium kampus tersebut sedang dalam keadaan sendirian tidak ada orang lain. Itu hasil pemeriksaannya kami. Dugaan sementara memang kalau tidak terjatuh, memang menjatuhkan diri sendiri,” ucapnya.
Ditemukan Luka Lebam hingga Patah Tulang
Sementara, menurut keterangan dari dokter spesialis forensik RS Bhayangkara Sartika Asih, Nurul Laidah Fathia, jasad korban mengalami beberapa luka seperti luka lebam, lecet, dan luka terbuka di tungkai bawah kanan.
Selain itu, adapula patah tulang di tungkai atas kanan.
“Kemudian ada juga patah tulang tertutup itu di tungkai atas kanan dan juga tungkai bawah kanan. Jadi, distribusi lukanya ada di sisi sebelah kanan,” katanya.
Fathia mengatakan hasil visum yang telah dilakukan sesuai dengan rekaman CCTV di mana AM terjatuh dengan posisi kepala bagian sebelah kanan terlebih dahulu.
“Artinya yang mengenai lantai pertama kali, kemudian untuk distribusi luka, di mana lukanya yang dominan adalah ditunggkai kemungkinan itu pola luka jatuh dari ketinggian,” ucapnya.
Kendati demikian, Fathia menegaskan pihaknya tidak bisa mengetahui penyebab pasti tewasnya AM.
Pasalnya, apa yang dilakukan dokter forensik hanyalah pemeriksaan luar terhadap jenazah dan tidak dilakukan autopsi.
Hal itu lantaran pihak keluarga korban menolak untuk melakukan autopsi.
“Karena kami tidak bisa melihat kondisi di dalam tubuh jenazah, karena tidak dilakukan autopsi, tidak bisa teraba dan tidak bisa juga terlihat,” katanya.
Awal Mula Penemuan
Masih dikutip dari Tribun Jabar, awal mula penemuan jasad AM ketika saksi berinisial MF Dan DN, hendak membuat video terkait basket di Gedung Gymnasium UPI pada Kamis sore sekira pukul 15.00 WIB.
Tak berselang lama, mereka naik ke lnatas atas dan langsung melihat AM yang dalam keadaan tertelungkup dengan kepala bercucuran darah dan kepala tertutup kerudung.
Lantas, temuan itu langsung dilaporkan saksi ke pengelola Gedung Gymnasium. Selanjutnya, pihak kampus langsugn melaporkan ke Polses Sukasari.
Sebagai informasi, AM dikenal sebagai mahasiswi berprestasi dan terdaftar di prodi Pendidikan Masyarakat Fakultas Pendidikan UPI angkatan tahun 2021.
Di sisi lain, pihak keluarga ang diwakili Kepala Desa Cikalong, Agun Gumilar mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya AM.
AM dikenal sebagai wanita yang sangat aktif di lingkungan RW maupun Desa Cikalong.
“Almarhum itu duta agen Genre (Generasi Berencana), cukup aktif di lingkungan khususnya di RW 03 dan Desa Cikalong,” kata Agun saat ditemui di Pemakaman.
AM juga dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dan juga aktif di sejumlah organisasi.
“Intinya orang easy going mudah bergaul. Tentunya kami sangat merasa kehilangan,” pungkasnya.
Jenazah AM pun telah dimakamkan di TPU dekat kediamannya di Jalan Raya Cikalong, Kampung Daya Mekar, Desa Cikalong, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Jumat (27/12/2024) kemarin.
Sebagian artikel telah tayang di Tribun Jabar dengan judul “Polisi Sebut Mahasiswi UPI Bandung yang Tewas di Gedung Gymnasium Bukan Korban Pembunuhan”
(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)(Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman/Muhamad Nandri Prilatama)
-

Masalah Asmara Diduga Jadi Penyebab Tewasnya Mahasiswi UPI
JABAR EKSPRES – Kepolisian Resort Besar (Polrestabes) Bandung telah mengungkapkan hasil penyelidikannya terkait tewasnya seorang mahasiswi berinisial AM (21) di Gedung Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Dr. Setiabudi, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, pada Kamis sore, 26 Desember 2024.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, menjelaskan bahwa korban diduga tewas akibat terjatuh dari ketinggian sekitar 6 meter dari lantai 2 Gedung Gymnasium UPI.
“Jatuhnya dari lantai 2 yang tingginya sekitar 6 meter. Kami belum bisa memastikan apakah korban sengaja menjatuhkan diri atau terjatuh karena tidak ada CCTV yang merekam kejadian secara langsung. CCTV hanya merekam saat korban sudah jatuh,” ungkap Budi di Mapolrestabes Bandung, Sabtu (28/12).
BACA JUGA: Ini Respons Warga Dago Elos atas Kematian Dodi Rustandi Muller
Budi menambahkan bahwa sebelum kejadian tersebut, korban sempat bertemu dengan mantan kekasihnya, berinisial AV. Berdasarkan keterangan AV, yang juga memberikan pengakuan kepada polisi, terjadi cekcok antara keduanya.
“Mantan pacarnya mengonfirmasi bahwa mereka bertemu sekitar pukul 11.00 WIB di kos korban pada hari Kamis (26/12). Dalam pertemuan tersebut, terjadi cekcok, dan setelah itu AV meninggalkan kos dan kembali ke kosnya sendiri. Sejak saat itu, dia tidak mengetahui lagi keberadaan korban,” ungkap Budi.
Kapolrestabes Bandung menduga, peristiwa tewasnya AM berkaitan dengan masalah asmara. Berdasarkan keterangan petugas keamanan kampus berinisial N, tidak ada orang lain yang memasuki Gedung Gymnasium UPI saat kejadian tersebut.
“Dari keterangan saksi lain, yaitu petugas keamanan, tidak ada orang lain yang memasuki gedung tersebut. Selain itu, hasil rekaman CCTV menunjukkan hanya ada korban di lokasi tersebut. Kami menduga ini ada masalah asmara, dan saat jatuh, korban berada sendirian di lapangan Gymnasium,” jelas Budi.
Sebelumnya, AM ditemukan meninggal dunia pada sekitar pukul 15.00 WIB dengan kondisi bersimbah darah di bagian kepala. Pihak Humas UPI, Suhendar, membenarkan bahwa mahasiswi tersebut ditemukan tewas setelah terjatuh dari lantai 2 Gedung Gymnasium UPI.
“Saya baru berkoordinasi dengan Tim UPT K3 UPI, dan Ka UPT K3 menyatakan benar ada seorang mahasiswi UPI yang terjatuh dari lantai 2 Gedung Gymnasium,” ujar Suhendar, Kamis (26/12).
-

Polisi Ungkap Detik-detik Mahasiswi UPI Bandung Tewas di Gedung Gymnasium, Bukan Korban Pembunuhan – Halaman all
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG – AM (21), mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang tewas di Gedung Gymnasium UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Jawa Barat bukan korban pembunuhan.
Kesimpulan tersebut diungkap setelah polisi melakukan pemeriksaan saksi dan rekaman CCTV di lokasi kejadian.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono mengatakan dari pemeriksaan saksi dan CCTV tergambar jelas urutan bagaimana AM ke luar dari kamar indekos hingga ditemukan tergeletak di Gymnasium dalam kondisi meninggal dunia.
Dari rekaman CCTV, kata dia, pada pukul 11.33 WIB korban terlihat keluar dari gang indekos di jalan Alfarizi, Sukasari.
Pukul 11.39 WIB, korban terlihat berjalan memasuki gedung Gymnasium kampus UPI.
“Pada pukul 11.40 WIB korban juga terlihat di CCTV berjalan di dalam gedung Gymnasium kampus UPI,” ujar Budi, Sabtu (28/12/2024).
Dalam rekaman CCTV, kata dia, terlihat korban hanya sendirian.
Pada pukul 12.28 WIB, terlihat di CCTV korban jatuh dari lantai dua gedung Gymnasium ke lapangan basket di Gymnasium tersebut.
“Jadi terlihat di CCTV-nya lagi jatuhnya seperti apa tergambar, tapi di lantai dua-nya tidak terlihat, tapi jatuhnya terlihat,” katanya.
Sejumlah saksi telah diperiksa, terhadap N keamanan di kampus tersebut, AV mantan kekasih korban, N ibu kos korban, SP ayah dari korban, dan MF serta DN saksi yang pertama kali menemukan korban di gedung Gymnasium UPI.
“Dari hasil pemeriksaan terhadap AV mantan pacarnya, memang benar pada pukul 11.00 WIB pada hari Kamis tersebut yang bersangkutan masih bertemu dengan korban di kos-kosan korban tersebut,” katanya.
Pada saat itu, kata dia, saksi menjelaskan bahwa sempat terjadi cekcok dengan korban.
Akhirnya, saksi AV meninggalkan kos-kosan korban pulang ke rumah kos-kosannya sendiri.
“Kemudian setelah itu dia (AV), tidak tahu lagi korban seperti apa. Nah, makanya itu kalau dilihat dari timeline nya, dari pukul 11.00 yang bersangkutan keluar dari kos-kosan korban, jam 11.33 WIB korban keluar sendirian menuju kampus UPI Gymnasium tersebut sendirian,” katanya.
Penyidik juga melaksanakan pemeriksaan terhadap N, keamanan dan menyatakan memang tidak ada orang lain di Gymnasium tersebut.
“Sehingga kami menyimpulkan bahwa korban pada saat jatuh di lapangan Gymnasium kampus tersebut sedang dalam keadaan sendirian tidak ada orang lain. Itu hasil pemeriksaannya kami. Dugaan sementara memang kalau tidak terjatuh, memang menjatuhkan diri sendiri,” ucapnya.
Budi menambahkan, korban tidak memiliki riwayat penyakit apapun dan aktif di kampus.
“Dan juga ikut organisasi juga satu grup dengan mantan kekasihnya,” ujar Budi.
Dalam kasus ini, kata dia, tidak ada tersangka dan proses hukumnya pun dihentikan.
“Ya, kalau memang tidak ada tindak pidana yang terjadi pada kasus ini, tidak ada proses lebih lanjut,” katanya.
Hasil Visum
Dokter spesialis forensik, Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Sartika Asih, Dr Nurul Laidah Fathia pun menguraikan hasil visum terhadap korban.
Dikatakan Nurul Laidah, jasad korban tiba di RS sekitar pukul 19.30 WIB dan baru dilakukan visum pada pukul 22.00 WIB.
“Menunggu surat permintaan dari penyidik, surat permintaan untuk dilakukan visum. Kebetulan keluarganya menolak untuk dilakukan otopsi, sehingga permintaan untuk visumnya adalah permintaan pemeriksaan luar jenazah,” ujar Nurul Laidah, Sabtu (28/12/2024).
Dari hasil pemeriksaan, kata dia, ditemukan ada beberapa luka di daerah wajah sebelah kanan, yakni luka lebam, lecet, luka robek atau luka terbuka di tungkai bawah kanan.
“Kemudian ada juga patah tulang tertutup itu di tungkai atas kanan dan juga tungkai bawah kanan. Jadi, distribusi lukanya ada di sisi sebelah kanan,” katanya.
Hasil visum itu, kata dia, menunjukkan kondisi korban terjatuh dengan posisi kepala bagian sebelah kanan, sesuai dengan rekaman CCTV.
“Berdasarkan luka yang kami temukan, distribusinya sisi sebelah kanan, berarti itulah yang mengenai pertama. Artinya yang mengenai lantai pertama kali, kemudian untuk distribusi luka, di mana lukanya yang dominan adalah ditunggkai kemungkinan itu pola luka jatuh dari ketinggian,” ucapnya.
Menurutnya, karena yang dilakukannya hanya pemeriksaan luar jenazah, sebab pasti meninggalnya korban tidak dapat ditentukan.
“Karena kami tidak bisa melihat kondisi di dalam tubuh jenazah, karena tidak dilakukan otopsi, tidak bisa teraba dan tidak bisa juga terlihat,” katanya.
Penyebab pasti meninggalnya AM, kata, hanya bisa dipastikan dengan melakukan autopsi.
Hanya saja itu tidak dilakukan karena keluarga menolak untuk dilakukan autopsi.
Jenazah korban pun sudah dimakamkan di pemakaman warga tak jauh dari rumah duka di Jalan Raya Cikalong, Kampung Daya Mekar, Desa Cikalong, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Puluhan warga maupun rekan mahasiswa mengikuti prosesi pemakaman AM .
Pemakaman berlangsung khidmat dan haru pada Jumat (27/12/2024) pagi.
Pihak keluarga yang diwakili Kepala Desa Cikalong, Agun Gumilar mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya AM.
AM dikenal sebagai wanita yang sangat aktif di lingkungan RW maupun Desa Cikalong.
“Almarhum itu duta agen Genre (Generasi Berencana), cukup aktif di lingkungan khususnya di RW 03 dan Desa Cikalong,” kata Agun saat ditemui di Pemakaman.
AM juga dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul dan juga aktif di sejumlah organisasi.
“Intinya orang easy going mudah bergaul. Tentunya kami sangat merasa kehilangan,” pungkasnya.
Seperti diketahui AM ditemukan meninggal dunia di Gymnasium UPI pada Kamis (26/12/2024).
(Tribunjabar.id/ Nazmi Abdurrahman)
-
/data/photo/2024/12/28/676fc621248b2.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Polisi Tak Temukan Tindak Pidana dalam Kasus Mahasiswi UPI Tewas Terjatuh di Gimnasium Bandung 28 Desember 2024
Polisi Tak Temukan Tindak Pidana dalam Kasus Mahasiswi UPI Tewas Terjatuh di Gimnasium
Tim Redaksi
BANDUNG,KOMPAS.com
– Polisi tak menemukan adanya tindak pidana dalam kasus tewasnya wanita berinisial AM (21) yang terjatuh di lantai dua Gimnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
“Tidak ada tindak pidana yang terjadi pada kasus ini, dan kasus ini tidak ada prosesnya, ditutup,” kata Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono, saat rilis di Mapolrestabes Bandung, Sabtu (28/12/2024).
Polisi tak bisa menyimpulkan penyebab kematian AM lantaran pihak keluarga tak mengizinkan proses otopsi terhadap jenazah AM.
“Karena dugaan sementara memang kalau tidak terjatuh, memang menjatuhkan diri sendiri,” ucap Budi.
Meski begitu, Budi juga menyebut bahwa penyidik telah mengecek sejumlah kamera pengawas atau closed circuit television (CCTV) yang ada sekitar kosan AM hingga Gimnasium.
Dari time line yang terlihat dari CCTV, sekitar pukul 11.33 WIB korban keluar dari gang kosannya, pukul 11.39 WIB korban berjalan memasuki gedung Gimnasium Kampus UPI, pukul 11.40 WIB – 11.41 WIB korban juga terlihat di CCTV berjalan di dalam gedung Gimnasium kampus UPI.
“Di sini terlihat sendirian, tidak ada yang lain. Kemudian pada pukul 12.28 WIB terlihat di CCTV korban jatuh dari lantai 2 gedung gimnasium ke lapangan basket di gimnasium tersebut,” ucap Budi.
Budi juga menyebut penyidik telah meminta keterangan terhadap sejumlah saksi mulai dari ibu kosan, keamanan kampus, teman terdekat hingga keluarga AM.
Hasilnya, setelah AM bertemu dengan teman dekatnya, AM memang sempat cekcok, kemudian pulang ke kosannya sendiri.
Sekitar pukul 11.33 WIB, AM keluar sendirian menuju gimnasium kampus.
Budi memastikan bahwa pada saat di gimnasium, AM dalam kondisi sendirian, hal ini diperkuat dengan keterangan keamanan kampus hingga pengecekan CCTV.
“Sehingga kita menyimpulkan bahwa korban pada saat jatuh di lapangan gymnasium Kampus tersebut sedang dalam keadaan sendirian tidak ada orang lain. Itu hasil pemeriksaannya kami,” kata Budi.
Namun, Budi tak mengetahui penyebab jatuhnya korban seperti apa, dari keterangan keluarga, AM juga tidak menderita penyakit secara fisik, dan masih aktif dalam organisasi bersama mantan pacarnya.
“Tapi saya bilang tadi memang kalau untuk sebabnya jatuhnya seperti apa, apakah menjatuhkan diri sendiri atau terjatuh, ini karena tidak ada CCTV yang melihat langsung, CCTV-nya melihat pada saat jatuhnya,” ucapnya.
Seperti diketahui, AM terjatuh dari lantai 2 yang diperkirakan setinggi 6 meter, jasad AM ditemukan dua mahasiswa yang hendak membuat konten sekitar pukul 15.05 WIB.
“Saksi mendatangi gymnasium tersebut melihat ada sesosok jenazah sudah tergeletak di gymnasium dan telah dilihat ternyata jenazah wanita,” kata Budi.
Temuan itu kemudian dilaporkan kepada pihak Polsek Sukasari dan Polrestabes Bandung. Tim Inafis lantas menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) dan penyidik meminta keterangan terhadap para saksi dan mengamankan sejumlah kamera pengawas.
Dokter spesialis forensik Rumah Sakit Bayangkara Sartika Asih Nurul Aida Fathya menambahkan bahwa jenazah AM dibawa ke RS sartika asih sekitar pukul 19.30 WIB, dan menunggu surat permintaan visum.
“Kebetulan keluarganya menolak untuk dilakukan otopsi, sehingga permintaan untuk visumnya adalah permintaan pemeriksaan luar jenazah,” ucapnya.
Hasil pemeriksaaan luar jenazah yang dilakukan pukul 22.00 WIB, pihaknya menemukan ada beberapa luka yakni memar didaerah wajah, luka lecet di wajah sisi kanan, luka robek atau luka terbuka ditungkai bawah kanan, serta patah tulang tertutup ditungkai atas kanan dan tungkai bawah kanan.
“Jadi distribusi lukanya ada di sisi sebelah kanan. Jadi mungkin sesuai dengan tadi yang ditunjukkan oleh Pak kapolres, kondisi korbannya terjatuhnya memang ke sisi kanan dari sisi CCTV tadi,” kata Nurul.
Dikatakan, lantaran pemeriksaan yang dilakukan hanya dibagian luar jenazah, maka pihaknya tak dapat menentukan sebab kematiannya.
“Karena ini hanya pemeriksaan luar jenazah, tentu sebab pasti mati tidak dapat ditentukan. Karena kami tidak bisa melihat kondisi di dalam tubuh jenazah,” ucapnya.
Berdasarkan luka luar jenazah AM, Nurul menemukan luka tersebut karena luka jatuh dari ketinggian.
“Berdasarkan luka yang kami temukan tentu distribusinya sisi sebelah kanan berarti itulah yang mengenai pertama artinya yang mengenai lantai pertama kali kemudian untuk distribusi luka dimana lukanya yang dominan adalah yang ditungkai,” ucapnya.
“Kemungkinan itu pola luka jatuh dari ketinggian tentu sesuai akan tetapi apakah itu bisa mematikan? Tentu bagian lain yang lebih vital yaitu daerah kepala dibandingkan dengan tungkai bawah atau tungkai atas. Tapi itu tidak bisa kita tentukan karena tidak dilakukan otopsi,” tambahnya.
Nurul juga menjelaskan perihal soal darah yang banyak dari hidung dan telinga. Ia menduga kemungkinan adanya patah tulang didaerah tengkorak.
“Akan tetapi tidak ditemukannya luka terbuka tentu itu baru prediksi. Karena tidak bisa teraba dan tidak bisa juga terlihat. Dan itu hanya bisa dipastikan dengan dilakukan otopsi. Yang di sini tidak kami lakukan karena keluarga menolak untuk dilakukan otopsi. Mungkin itu dari saya. Terima kasih,” terangnya.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4013681/original/040038300_1651631501-WhatsApp_Image_2022-05-03_at_2.04.45_PM.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
5 Objek Wisata Kota Bandung Ini Diprediksi Banjir Pengunjung pada Libur Nataru, Mana Saja?
Sementara itu, Polrestabes Bandung telah menggelar Rapat Koordinasi Lintas Sektoral (Rakor Linsek) Operasi Lilin Lodaya 2024 sebagai langkah persiapan pengamanan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025, Kamis 19 Desember 2024.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Budi Sartono menyampaikan, Operasi Lilin Lodaya tahun ini melibatkan 1.221 personel gabungan.
“Kami akan mendirikan 21 pos strategis, terdiri dari 15 pos pengamanan, 5 pos pelayanan, dan 1 pos terpadu. Fokus pengamanan meliputi gereja, tempat wisata, stasiun, hingga pusat perbelanjaan,” ujarnya dikutip lewat keterangan tertulis.
Ia mengatakan, di Kota Bandung terdapat 149 gereja, termasuk 16 gereja besar, yang menjadi prioritas pengamanan.
“Kami memastikan semua gereja, termasuk gereja kecil, mendapatkan pengamanan. Pada malam Natal, tidak boleh ada gereja yang tanpa penjagaan,” tegasnya.
Selain gereja, pengamanan akan dilakukan di lima lokasi wisata, empat stasiun kereta api, dan 13 pusat perbelanjaan.