Tag: Bill Clinton

  • Trump Sebut ‘Bantuan Sedang dalam Perjalanan’ ke Warga Iran

    Trump Sebut ‘Bantuan Sedang dalam Perjalanan’ ke Warga Iran

    Anda sedang membaca laporan Dunia Hari Ini dari sejumlah negara selama 24 jam terakhir.

    Pembuka edisi Rabu, 14 Januari 2026 kami hadirkan dari Iran dan Amerika Serikat.

    Desakan Trump terhadap Iran

    Donald Trump mendesak warga Iran untuk terus berdemonstrasi, dengan mengatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” di tengah protes yang semakin mematikan di seluruh Iran.

    Trump menggunakan platform media sosialnya, Truth Social, untuk mendorong mereka yang berada di jalanan Iran yang berdemonstrasi menentang pemerintah Islam yang berkuasa di negara itu.

    “Para Patriot Iran, TERUS BERDEMONSTRASI — KUASAI LEMBAGA-LEMBAGA ANDA!!! Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar mahal,” tulisnya.

    “Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan tanpa akal sehat terhadap para demonstran BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN.”

    Seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters sekitar 2.000 orang telah tewas sejauh ini, angka yang jauh lebih tinggi daripada perhitungan sebelumnya sekitar 600 orang, sementara para aktivis mengatakan jumlah orang yang tewas lebih dari 2.500 orang.

    Tuntutan hukuman mati mantan presiden Korea Selatan

    Jaksa penuntut umum menuntut hukuman mati bagi mantan presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol atas tuduhan pemberontakan setelah pemberlakuan darurat militer singkat pada tahun 2024.

    Setelah dicopot dari jabatannya pada April lalu, Yoon menjalani delapan persidangan atas berbagai tuduhan kriminal terkait kegagalan darurat militer dan skandal lainnya.

    Tuduhan bahwa ia memimpin pemberontakan adalah yang paling besar.

    Tim penasihat independen Cho Eun-suk meminta Pengadilan Distrik Pusat Seoul untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Yoon.

    “Yoon… mengklaim telah memberlakukan darurat militer untuk melindungi demokrasi liberal, tetapi darurat militer yang tidak konstitusional dan ilegal tersebut merusak fungsi Majelis Nasional dan Komisi Pemilihan Umum… sebenarnya menghancurkan tatanan konstitusional demokrasi liberal,” kata jaksa dalam argumen penutupnya.

    Bill dan Hillary Clinton tolak panggilan pengadilan

    Mantan Presiden AS Bill Clinton dan mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton mengatakan akan menolak untuk memenuhi panggilan pengadilan yang dikeluarkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS untuk bersaksi dalam penyelidikan Jeffrey Epstein.

    Dalam sebuah pernyataan yang diposting di X, Clinton mengatakan panggilan pengadilan tersebut “tidak sah secara hukum.”

    [EL TWEET: Hillary]

    Mereka juga menuduh ketua Komite Pengawasan DPR, Perwakilan Partai Republik James Comer, mengawasi proses yang “secara harfiah dirancang untuk mengakibatkan pemenjaraan kami.”

    Sementara itu Comer membantah dengan mengatakan “tidak ada yang menuduh keluarga Clinton melakukan kesalahan. Kami hanya memiliki beberapa pertanyaan.”

    Acara dibatalkan usai konflik dengan penulis Palestina-Australia

    Acara Writers’ Week tahun di Adelaide, Australia Selatan telah dibatalkan terkait keputusan panitia membatalkan hadirnya penulis Palestina-Australia, Randa Abdel-Fattah.

    Dewan Festival Adelaide juga telah meminta maaf kepada Abdel-Fattah “atas bagaimana keputusan tersebut dipresentasikan.”

    “Ini adalah kejadian yang sangat disesalkan,” kata dewan tersebut dalam sebuah pernyataan pada Selasa sore.

    “Kami juga meminta maaf kepada Dr Randa Abdel-Fattah atas bagaimana keputusan ini dipresentasikan dan menegaskan kembali bahwa ini bukan tentang identitas atau perbedaan pendapat, melainkan pergeseran cepat yang berkelanjutan dalam wacana nasional seputar luasnya kebebasan berekspresi di negara kita setelah serangan teror terburuk dalam sejarah Australia.”

    Di Instagram, Abdel-Fattah menyebut bahwa “penyesalan dewan direksi adalah terkait cara penyampaian pesan pembatalan saya, bukan atas keputusan mereka.”

  • Apa dan Siapa yang Ada dalam Dokumen Epstein?

    Apa dan Siapa yang Ada dalam Dokumen Epstein?

    Jakarta

    Departemen Kehakiman Amerika Serikat telah merilis kumpulan dokumen gelombang pertama terkait mendiang Jeffrey Epstein.

    Menyusul undang-undang baru dari Kongres yang mewajibkan semua dokumen dirilis secara utuh pada Jumat (19/12), dokumen-dokumen yang meliputi foto, video, dan dokumen penyelidikan, sangat dinantikan

    Namun, Departemen Kehakiman AS (DOJ) menyatakan tidak dapat merilis semua dokumen itu sesuai batas waktu. Bahkan banyak juga detil dalam ribuan berkas tersebut yang telah disunting ulang.

    Hal ini membuat politisi Partai Demokrat dan sejumlah politisi dari Partai Republik menuding DOJ melanggar kewajiban hukum.

    Getty ImagesJeffrey Epstein dan Donald Trump berfoto bersama di kediaman Trump, Mar-a-Lago estate, di Florida, AS. Foto ini diabadikan pada 1997 lalu.

    Pada Sabtu (20/12), setidaknya 13 berkas dihapus dari situs DOJ. Wakil Jaksa Agung, Todd Blanche, berkata keputusan itu diambil untuk melindungi privasi korban.

    Sejumlah nama politisi dan pesohor masuk dalam kumpulan berkas pertama ini.

    Mereka mencakup mantan Presiden AS, Bill Clinton; adik Raja Charles, Andrew Mountbatten-Windsor; serta musisi Mick Jagger dan Michael Jackson.

    Kendati demikian, penyebutan nama-nama di dalam berkas investigasi tidak serta merta mengidentifikasikan adanya pelanggaran hukum.

    Sebagian dari nama yang disebut dan telah diidentifikasi dalam berkas atau dalam rilis sebelumnya terkait Epstein telah membantah keterlibatan atas pelanggaran hukum

    Bill Clinton di kolam renang dan bak mandi air panas

    Beberapa foto yang telah dirilis menampilkan mantan Presiden AS, Bill Clinton.

    Salah satu foto memperlihatkannya tengah berenang di kolam renang. Foto lain memperlihatkannya berbaring telentang dengan tangan di belakang kepalanya di suatu tempat yang sepertinya merupakan kolam mandi air panas.

    Beberapa kali, Clinton berfoto bersama Epstein para periode 1990-an dan awal 2000-an. Itu terjadi sebelum pengusaha ini tertangkap karena perbuatan tercelanya. Nama Clinton juga tidak pernah disebut atau dituduh turut serta oleh para korban pelecehan Epstein.

    Clinton bahkan pernah menyatakan tidak mengetahui tindakan kekerasan seksual yang dilakukan Epstein.

    US Department of Justice

    Juru bicara Clinton, Angel Urea, menduga Departemen Kehakiman melindungi “seseorang atau sesuatu” setelah berkas-berkas tersebut dirilis.

    “Kami tidak tahu siapa yang ingin dilindungi, apa, atau kenapa. Tapi yang kami tahu: Kami tidak membutuhkan perlindungan semacam itu,” tulis Urea di media sosial pada Senin.

    Baca juga:

    Juru bicara Clinton itu meminta agar berkas-berkas yang masih tersisa untuk segera dibuka ke publik.

    “Penolakan untuk tidak segera membuka berkas lainnya justru mengonfirmasi kecurigaan luas bahwa tindakan Departemen Kehakiman bukan tentang transparansi, tetapi tentang tuduhan tidak langsung.”

    Urea menambahkan, “Ini menyiratkan pelanggaran hukum terhadap individu yang telah berulang kali dibebaskan”.

    US Department of Justice US Department of Justice

    Pekan lalu, Urea mengungkap bahwa foto-foto yang baru dirilis sudah berusia puluhan tahun.

    “Mereka bisa merilis sebanyak mungkin foto buram berusia lebih dari 20 tahun, tetapi ini bukan tentang Bill Clinton. Tidak pernah, dan tidak akan pernah,” tulisnya di media sosial.

    “Ada dua jenis orang di sini. Kelompok pertama tidak tahu apa-apa dan memutuskan hubungan dengan Epstein sebelum kejahatannya terungkap. Kelompok kedua terus menjalin hubungan dengannya setelah itu.

    “Semua orang, terutama Maga, mengharapkan jawaban, bukan kambing hitam.”

    Epstein dituduh mengenalkan Trump dengan remaja perempuan berusia 14 tahun

    Presiden AS, Donald Trump, juga disebutkan dalam serangkaian berkas yang dirilis Departemen Kehakiman.

    Dokumen pengadilan mengungkapkan bahwa Epstein diduga memperkenalkan remaja perempuan berusia 14 tahun kepada Trump di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida.

    Mengacu pada dokumen tersebut, dalam pertemuan yang diduga terjadi pada 1990-an, Epstein sempat menyodok Trump dengan siku dan “bertanya dengan nada bercanda” terkait remaja tersebut, “ini yang bagus, kan?”

    Masih berasal dari dokumen pengadilan tentang gugatan terhadap harta warisan Epstein dan Ghislaine Maxwell pada 2020, Trump menanggapi pertanyaan Epstein tersebut dengan tersenyum dan mengangguk setuju.

    Baca juga:

    Dalam dokumen itu, disebutkan “keduanya tertawa” dan remaja tersebut merasa tidak nyaman. Meski “pada saat itu, dia terlalu muda untuk memahami mengapa”.

    Korban bersaksi dirinya dirawat untuk dilecehkan dan menjadi obyek kekerasan selama bertahun-tahun oleh Epstein. Namun dalam berkas pengadilan itu, dia tidak mengajukan tuduhan terhadap Trump.

    Menanggapi permintaan komentar tentang dokumen pengadilan itu, juru bicara Gedung Putih, Abigail Jackson berkata pemerintahan Trump merupakan pemerintahan yang “paling transparan dalam sejarah”.

    “Dengan merilis ribuan halaman dokumen, kooperatif pada permintaan panggilan pengadilan Komite Pengawasan DPR. Bahkan Presiden Trump baru-baru ini menyerukan penyelidikan lebih lanjut terhadap teman-teman Epstein dari Partai Demokrat, maka pemerintahan Trump telah melakukan lebih banyak untuk korban daripada yang Demokrat pernah lakukan,” tambahnya.

    Insiden tersebut hanya salah satu dari kejadian yang menyebut nama Trump dalam ribuan berkas yang dirilis pada Jumat (19/12). Beberapa foto juga memperlihatkan Trump, meski keterlibatannya masih dipertanyakan.

    Adapun salah satu foto Trump masuk dalam lusinan gambar yang dihapus dari berkas pada Sabtu (20/12). Belakangan, foto tersebut dimasukkan kembali, seperti yang ditemukan oleh BBC Verify.

    Di tengah hiruk pikuk itu, Trump War Room, akun X resmi untuk operasi politik presiden, malah mengunggah foto-foto Clinton setelah Departemen Kehakiman merilis dokumen Epstein.

    Juru bicara pers Trump kemudian mengunggah ulang gambar Clinton dengan dibubuhi penjelasan, “Oh my!”

    Akan tetapi, masih ada berkas yang belum dirilis hingga saat ini.

    Wakil Jaksa Agung, Todd Blanche, berkata “beberapa ratus ribu” halaman dokumen masih dalam proses tinjauan dan belum dipublikasikan.

    Sebelumnya, Presiden AS mengungkapkan dia adalah teman Epstein selama bertahun-tahun, tapi mereka tak lagi berhubungan sekitar tahun 2004, bertahun-tahun sebelum Epstein pertama kali ditangkap.

    Trump secara konsisten membantah adanya pelanggaran terkait Epstein.

    Andrew dan foto terbaring di pangkuan

    US Department of Justice

    Dalam berkas yang dirilis, juga terdapat foto yang menunjukkan Andrew Mountbatten-Windsor terbaring di atas lima orang perempuan yang wajahnya telah disamarkan.

    Ghislaine Maxwell, rekan kejahatan Epstein yang telah divonis bersalah, terlihat berdiri di belakang mereka dalam foto tersebut.

    Baca juga:

    Bertahun-tahun, Andrew telah menghadapi pemeriksaan terkait persahabatannya dengan Epstein, yang tidak terlihat dalam foto tersebut.

    Dia berulang kali membantah adanya pelanggaran dan keterkaitan dengan Epstein.

    Ia juga mengatakan tidak “melihat, menyaksikan, atau mencurigai perilaku semacam itu yang kemudian menyebabkan penangkapan dan vonisnya”.

    Michael Jackson, Diana Ross, Chris Tucker, dan Mick Jagger

    US Department of JusticeEpstein berpose dengan Michael Jackson

    Selain para politisi, sejumlah selebritas ikut muncul dalam dokumen yang dirilis baru-baru ini. Epstein memang tersohor dengan jejaringnya di berbagai bidang, khususnya pada dunia hiburan, politik, dan bisnis.

    Beberapa foto yang dirilis oleh Departemen Kehakiman memperlihatkan Epstein bersama selebriti seperti Michael Jackson, Mick Jagger, dan Diana Ross.

    Foto-foto itu tidak menyertakan kapan, di mana, atau dalam konteks apa diambilnya. Atas dasar itu pula, tidak jelas apakah Epstein memiliki keterkaitan dengan para figur publik tersebut atau hanya bertemu secara kebetulan dalam acara-acara tertentu.

    Dalam salah satu foto yang baru dirilis, Epstein berfoto bersama Michael Jackson.

    Bintang pop tersebut mengenakan setelan jas, sementara Epstein terlihat mengenakan hoodie beritsleting.

    US Department of JusticeLegenda dari Rolling Stones Mick Jagger berpose dengan Clinton

    Sementara itu, ada foto lain yang juga memperlihatkan Jackson, Clinton, dan penyanyi Diana Ross berpose bersama di area kecil. Ada beberapa wajah lain, tapi telah disamarkan dari foto itu.

    Foto lain di antara ribuan berkas juga menunjukkan legenda Rolling Stones, Mick Jagger, berpose bersama Clinton dan seorang perempuan yang wajahnya juga disamarkan. Mereka semua mengenakan pakaian koktail.

    Ada pula, aktor Chris Tucker yang berpose dan duduk di samping Clinton di meja makan. Foto lain menunjukkan Tucker di landasan pesawat bersama Ghislaine Maxwell, rekan Epstein yang telah dihukum.

    BBC telah menghubungi Jagger, Tucker, dan Ross untuk komentar. Clinton sebelumnya membantah mengetahui tindak kejahatan seksual Epstein, dan menyebut foto-foto tersebut sudah berusia puluhan tahun.

    “Ini bukan tentang Bill Clinton. Tidak pernah, dan tidak akan pernah,” kata juru bicara tersebut.

    US Department of Justice Michael Jackson dan Diana Ross berfoto dengan Clinton US Department of JusticeAktor Chris Tucker berpose dengan rekan Epstein yang telah dinyatakan bersalah, Ghislaine Maxwell

    Maxwell di Downing Street

    Foto lain yang termasuk dalam rilis dokumen kemarin menunjukkan Ghislaine Maxwell berpose di depan 10 Downing Street.

    Maxwell hanya sendirian dalam foto tersebut. Tidak ada penjelasan detil mengenai waktu pengambilan foto atau atas dasar apa Maxwell berfoto di depan rumah dan kantor Perdana Menteri UK tersebut.

    BBC pun tidak dapat memastikan siapa perdana menteri pada saat foto tersebut diambil, atau dalam kapasitas apa Maxwell mengunjungi Downing Street.

    US Department of JusticeTidak ada informasi yang diberikan tentang kapan foto tersebut diambil atau mengapa Maxwell berada di Downing Street.

    Epstein ancam bakar rumah yang melaporkannya

    Dalam berkas-berkas tersebut, disebutkan juga salah satu orang pertama yang melaporkan Epstein yakni Maria Farmer. Ia merupakan seniman yang bekerja untuk Epstein.

    Pada 1996, Farmer melapor ke FBI bahwa Epstein telah mencuri foto-foto pribadinya yang memuat saudara perempuannya yang berusia 12 dan 16 tahun.

    Dalam pengaduannya, ia meyakini Epstein menjual foto-foto tersebut kepada pembeli potensial. Farmer kemudian menerima ancaman rumahnya akan dibakar jika ia buka mulut mengenai hal ini.

    Nama Maria Farmer sebenarnya disamarkan dalam berkas-berkas tersebut, namun dia mengonfirmasi bahwa laporan tersebut miliknya.

    Dalam laporan, juga tercantum bahwa Epstein diduga meminta Farmer untuk mengambil foto sejumlah remaja perempuan di kolam renang.

    “Epstein kini mengancam [disamarkan] bahwa jika dia (Farmer)memberitahu siapa pun tentang foto-foto tersebut, maka rumahnya akan dibakar,” bunyi laporan tersebut.

    Farmer kini merasa terbebaskan setelah hampir 30 tahun.

    “Saya merasa terbebaskan,” katanya.

    Ratusan ribu berkas lagi yang belum dirilis

    Lebih dari 550 halaman dari berkas yang dirilis pada Jumat lalu, sepenuhnya telah disunting. Hal ini termasuk pernyataan polisi, laporan penyelidikan, dan foto-foto.

    Menurut CBS, mitra BBC di Amerika Serikat, terdapat dokumen terkait penyelidikan juri besar di mana 100 halaman sepenuhnya dihitamkan.

    Pejabat, sebagaimana diatur dalam undang-undang, diizinkan untuk menyunting materi untuk melindungi identitas korban atau hal-hal yang terkait dengan penyelidikan kriminal yang sedang berlangsung, tetapi mereka diwajibkan oleh undang-undang untuk menjelaskan penyuntingan tersebut.

    Namun hingga saat ini tak ada penjelasan mengenai tujuan penyuntingan itu secara detil.

    Ketika ditanya mengenai alasan perilisan berkas tidak akan sesuai batas waktu, Blance menjawab: “Sangat sederhana dan jelas. Undang-undang juga mewajibkan kami untuk melindungi korban.”

    US Department of Justice Lebih dari 100 halaman dalam satu berkas PDF telah dihitamkan US Department of Justice Beberapa berkas telah disunting sebagian, misalnya untuk menyembunyikan data pribadi seperti alamat, hal ini dapat diduga US Department of JusticeDalam hal ini, tidak ada informasi yang disembunyikan, bahkan alamat Epstein telah disertakan.

    Menurut Departemen Kehakiman, ribuan halaman yang dirilis pada Jumat ini hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan.

    Blanche berkata akan merilis “beberapa ratus ribu halaman” pada Jumat ini dan memperkirakan “beberapa ratus ribu halaman lagi” akan dirilis dalam beberapa minggu ke depan.

    Ia mengatakan kepada Fox & Friends bahwa pihaknya sedang melakukan verifikasi ketat terhadap setiap halaman materi untuk memastikan “setiap korban, baik nama, identitas, bahkan kisah mereka sejauh yang perlu dilindungi, sepenuhnya dilindungi”.

    Untuk itu, proses ini disebutnya membutuhkan waktu. Mengenai berkas yang dihapus dari situs Departemen Kehakiman pada Sabtu lalu, Blanche menyampaikan pada BBC News, “Hal itu karena seorang hakim di New York memerintahkan kami untuk mendengarkan hak-hak korban atau kelompok hak korban.”

    Hingga kini, jadwal rilis materi tambahan yang lain masih belum jelas. Anggota parlemen dari kedua belah pihak, Demokrat maupun Republik, merasa frustrasi.

    Anggota Kongres Ro Khanna dari Demokrat, telah mengancam akan mengambil tindakan terhadap anggota Departemen Kehakiman, termasuk pemakzulan atau kemungkinan penuntutan atas penundaan tersebut.

    Khanna bersama Anggota Kongres dari Partai Republik, Thomas Massie, memaksa pemungutan suara atas RUU Transparansi Dokumen Epstein.

    “Pembuangan dokumen DOJ yang berjumlah ratusan ribu halaman tidak mematuhi hukum,” kata Massie di media sosial.

    (haf/haf)

  • Pemerintahan Trump Mulai Rilis Dokumen Epstein ke Publik

    Pemerintahan Trump Mulai Rilis Dokumen Epstein ke Publik

    Washington DC

    Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) mulai merilis sejumlah besar dokumen yang ditunggu-tunggu sejak lama dari penyelidikan kasus Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual yang meninggal di dalam penjara. Kasus Epstein tergolong sangat sensitif secara politik karena menyeret nama-nama besar.

    Dokumen-dokumen kasus Epstein, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/12/2025), dirilis ke publik mulai Jumat (19/12) waktu setempat, dengan banyak berkas yang disensor oleh Departemen Kehakiman AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

    Di antara materi yang diungkap ke publik itu terdapat beberapa foto yang menunjukkan mantan Presiden Bill Clinton dan tokoh-tokoh terkenal lainnya, termasuk vokalis Rolling Stones Mick Jagger, sedang bersama Epstein.

    Namun penyensoran sebagian besar dokumen — dikombinasikan dengan kontrol ketat oleh para pejabat pemerintahan Trump — telah memicu keraguan apakah pengungkapan ini akhirnya akan meredam teori konspirasi yang telah lama beredar mengenai upaya menutup-nutupi kasus tingkat tinggi.

    Kendati demikian, dokumen-dokumen itu diharapkan dapat mengungkap hubungan dekat antara Epstein, yang dulunya seorang pemodal terkemuka AS, dengan orang-orang kaya, terkenal, dan berpengaruh, termasuk Trump.

    Dokumen yang dirilis oleh Departemen Kehakiman AS pada Jumat (19/12) waktu setempat mencakup tujuh halaman yang mencantumkan 254 tukang pijak wanita — setiap nama disensor dengan garis hitam tebal dan diberi penjelasan bahwa “disunting untuk melindungi informasi korban potensial”.

    Beberapa dokumen lainnya berisi puluhan foto yang disensor, yang menunjukkan sosok telanjang atau berpakaian minim. Foto-foto lainnya menunjukkan Epstein dan para rekannya, wajah mereka diburamkan, dengan menenteng senjata api.

    Sejumlah foto yang belum pernah dilihat sebelumnya termasuk satu foto yang menunjukkan Bill Clinton, yang tampak lebih mudah, sedang bersandar di bak mandi air panas, dengan sebagian foto disensor dengan kotak persegi panjang hitam yang mencolok.

    Dalam satu foto lainnya, Bill Clinton terlihat sedang berenang bersama seorang wanita berambut gelap, yang tampaknya adalah Ghislaine Maxwell, mantan kekasih Epstein yang juga kaki tangannya.

    Maxwell, yang berusia 63 tahun, menjadi satu-satunya orang yang dihukum terkait kasus Epstein. Dia kini sedang menjalani masa hukuman 20 tahun penjara atas tuduhan merekrut gadis-gadis di bawah umur untuk Epstein, yang meninggal di sel tahanan New York pada tahun 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks.

    Gedung Putih langsung memanfaatkan kemunculan foto Bill Clinton tersebut. “Sick Willy! @BillClinton sedang bersantai, tanpa beban sedikit pun. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi…” tulis Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, dalam postingan media sosial X.

    “Astaga!” imbuh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam komentar terpisah.

    Trump, yang dulunya teman dekat Epstein, awalnya berjuang selama berbulan-bulan untuk mencegah dirilisnya dokumen kasus Epstein, yang kematiannya di penjara dinyatakan sebagai bunuh diri.

    Namun pada akhirnya, Trump menyerah pada tekanan parlemen AS, termasuk dari Partai Republik yang menaungi dirinya, dan pada bulan lalu menandatangani undang-undang yang mewajibkan publikasi dokumen Epstein tersebut.

    Hari Jumat (19/12) waktu setempat merupakan batas waktu yang ditetapkan oleh Kongres AS untuk dirilisnya dokumen Epstein. Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche mengatakan bahwa ratusan ribu dokumen dirilis pada Jumat (19/12) dan lebih banyak lagi akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang.

    Dia menambahkan bahwa jaksa memiliki keleluasaan untuk menahan materi terkait penyelidikan aktif dan dokumen-dokumen yang dirilis akan disunting untuk melindungi identitas ratusan korban Epstein. Dia juga mengatakan “tidak ada dakwaan baru” yang akan diajukan.

    Sementara itu, bagi publik dan para korban, dirilisnya dokumen Epstein ini menandai peluang paling jelas untuk saat ini dalam mengungkap skandal tersebut. Dokumen yang diungkap ini dapat memperjelas bagaimana Epstein beroperasi, siapa yang membantunya, dan mengapa jaksa menunda selama bertahun-tahun sebelum menjeratkan dakwaan pidana terhadapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Mengenal Epstein Files, Skandal Seks yang Buat Trump Terancam

    Mengenal Epstein Files, Skandal Seks yang Buat Trump Terancam

    Jakarta, CNBC Indonesia – Skandal Jeffrey Epstein kembali mengguncang politik Amerika Serikat. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS baru saja memerintahkan pembukaan “Epstein Files”, berkas yang selama bertahun-tahun disegel dan disebut-sebut berpotensi menyeret tokoh bisnis hingga politisi ternama, termasuk mantan Presiden Donald Trump.

    DPR AS pada Selasa menyetujui Undang-Undang Transparansi Arsip Epstein yang mewajibkan pemerintah merilis seluruh dokumen penyelidikan terkait Jeffrey Epstein dalam 30 hari. Langkah ini membuka jalan bagi publik untuk melihat tumpukan bukti yang selama ini disimpan rapat oleh Departemen Kehakiman (DOJ) dan FBI.

    “Ini adalah kemenangan transparansi publik. Tidak ada lagi ruang bagi spekulasi tanpa bukti,” ujar seorang anggota DPR yang mendukung RUU tersebut, seperti dikutip AFP, Rabu (19/11/2025).

    Apa Itu Epstein Files?

    Epstein Files merujuk pada bukti yang dikumpulkan aparat sepanjang penyelidikan kejahatan seksual Epstein, mulai dari kasus Florida tahun 2008 hingga dakwaan di New York sebelum ia ditemukan tewas di penjara pada 2019. Hanya sebagian kecil dokumen yang pernah dipublikasikan.

    Keluarga Epstein sempat merilis sejumlah email dalam beberapa hari terakhir, namun inti berkas pemerintah tetap tersegel. RUU terbaru menuntut pembebasan “semua catatan, dokumen, komunikasi, dan materi investigasi yang tidak diklasifikasikan” terkait Epstein dan kaki tangannya, Ghislaine Maxwell, yang kini menjalani hukuman 20 tahun karena merekrut gadis di bawah umur.

    FBI & DOJ Bantah Ada Pemerasan Elite

    Pada Juli lalu, FBI dan DOJ memicu kontroversi lewat memo yang menyatakan tak ada rencana merilis dokumen tambahan. Mereka menegaskan tidak ada bukti bahwa Epstein memeras tokoh-tokoh elite atau memiliki “daftar klien”.

    “Kami tidak menemukan bukti kredibel yang dapat mengarah pada penyelidikan pihak ketiga yang tidak didakwa,” tulis memo itu. Aparat bahkan menyebut Epstein “menyakiti lebih dari seribu korban”, namun tidak menemukan dasar hukum untuk menjerat nama lain.

    Penyisiran digital dan fisik terhadap properti Epstein, termasuk pulau pribadinya di Karibia, menghasilkan lebih dari 300 gigabyte data dan bukti fisik.

    Mengapa Trump Bisa Terancam?

    Trump sebenarnya dapat merilis berkas ini kapan saja selama menjabat sebagai presiden. Namun ia justru membatalkan niat tersebut setelah masuk Gedung Putih pada 2017. Baru pekan ini ia mendukung rencana pembukaan berkas, setelah jelas bahwa Kongres akan memaksakannya.

    Sebelumnya, Trump memerintahkan Jaksa Agung Pam Bondi membuka penyelidikan terkait hubungan Epstein dengan tokoh-tokoh Partai Demokrat, termasuk Bill Clinton. Kedua mantan presiden tersebut pernah dekat dengan Epstein, meski tidak pernah dituduh melakukan kejahatan.

    Seorang analis politik mengatakan kepada media AS, “Sikap Trump yang berubah-ubah soal Epstein Files menimbulkan pertanyaan besar. Apakah ada sesuatu di dalam dokumen itu yang berpotensi merugikannya?”

    RUU yang disahkan DPR memungkinkan penahanan dokumen tertentu bila dinilai dapat mengganggu penyelidikan federal yang masih berjalan, membuka kemungkinan bahwa sebagian berkas akan tetap disunting.

    Namun, dengan semakin dekatnya perilisan, tekanan politik untuk mengungkap semua detail skandal Epstein kini makin besar. Publik menunggu apakah nama-nama besar, termasuk Trump, akan benar-benar muncul dalam dokumen yang selama ini jadi misteri.

    (tfa/șef)

    [Gambas:Video CNBC]

    Next Article

    Trump Makin Terseret Skandal Seks Jeffrey Epstein, Ini Temuan Barunya

  • Tok! Pengadilan AS Larang Trump PHK Massal PNS

    Tok! Pengadilan AS Larang Trump PHK Massal PNS

    Jakarta, CNBC Indonesia – Upaya pemerintahan Presiden Donald Trump untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap ribuan pegawai federal selama penutupan sebagian pemerintahan (shutdown) AS diblokir oleh seorang hakim federal di California pada Rabu (15/10/2025).

    Hakim Distrik AS Susan Illston mengeluarkan perintah yang memerintahkan administrasi Trump menghentikan rencana PHK di lebih dari 30 lembaga federal. Keputusan ini datang setelah dua serikat pekerja mengajukan gugatan, mengklaim bahwa pemotongan pekerjaan tersebut ilegal.

    Dalam putusannya, Hakim Illston, yang ditunjuk oleh mantan Presiden dari Partai Demokrat Bill Clinton, mengabulkan permintaan serikat pekerja untuk memblokir PHK sambil mempertimbangkan klaim ilegalitas tersebut.

    Hakim Illston juga mengkritik serangkaian pernyataan publik dari Trump dan Direktur Kantor Manajemen dan Anggaran Russell Vought yang menurutnya menunjukkan motivasi politik yang eksplisit untuk PHK tersebut, seperti komentar Trump yang mengatakan pemotongan akan menargetkan “lembaga Demokrat”  Illston secara tegas menyatakan bahwa tindakan tersebut melanggar hukum.

    “Anda tidak dapat melakukan itu di negara hukum. Dan kami memiliki hukum di sini, dan hal-hal yang diartikulasikan di sini tidak sesuai dengan hukum,” kata Illston.

    Hakim Illston juga mendesak administrasi Trump untuk memberikan rincian tentang PHK yang “aktual atau akan segera terjadi” paling lambat Jumat (17/10/2025) dan menguraikan langkah-langkah yang akan diambil untuk mematuhi keputusannya.

    Pada sidang tersebut, pengacara Departemen Kehakiman AS (DOJ) berpendapat bahwa serikat pekerja harus membawa klaim mereka ke dewan tenaga kerja federal sebelum mengajukan gugatan di pengadilan. Namun, Illston tidak setuju dan menegur DOJ karena menolak mengambil sikap atas klaim hukum serikat pekerja.

    “Kapak jatuh di kepala para pegawai di seluruh negeri, dan Anda bahkan tidak siap untuk membahas apakah itu legal,” ujar Illston dengan nada keras.

    Perintah hakim tersebut memberikan penangguhan sementara bagi para pekerja federal yang telah menghadapi dorongan selama hampir setahun dari pemerintahan Trump untuk memangkas barisan mereka.

    Sebelum keputusan ini, Gedung Putih pekan lalu telah menyatakan bahwa mereka telah memulai PHK substansial di seluruh pemerintahan. Sekitar 4.100 pekerja di delapan lembaga telah diberitahu bahwa mereka akan di-PHK. Sebelumnya, Vought mengatakan bahwa lebih dari 10.000 pekerja federal dapat kehilangan pekerjaan karena shutdown yang kini memasuki hari ke-15.

    Taktik Politik di Balik Shutdown

    Serikat pekerja, termasuk American Federation of Government Employees, mengeklaim bahwa PHK bukanlah layanan penting yang dapat dilakukan selama jeda pendanaan pemerintah, dan shutdown tidak membenarkan pemotongan pekerjaan massal karena sebagian besar pekerja federal telah dirumahkan tanpa bayaran.

    Sementara itu, Partai Republik yang dipimpin Trump memegang mayoritas di kedua majelis Kongres tetapi membutuhkan setidaknya tujuh suara Demokrat di Senat untuk meloloskan RUU pendanaan. Partai Demokrat menolak untuk menyerah pada taktik tekanan Trump dan menuntut perpanjangan subsidi asuransi kesehatan. Upaya baru untuk meloloskan RUU belanja juga gagal pada hari Rabu.

    Di tengah kebuntuan, Trump juga memperpanjang pembekuan yang ada untuk perekrutan pekerja federal baru, dengan pengecualian untuk personel militer dan orang-orang yang ditunjuk untuk peran politik.

    Kepala Democracy Forward, Skye Perryman, sebuah kelompok hukum yang mewakili serikat pekerja, mengatakan keputusan Illston memperjelas bahwa penargetan presiden terhadap pekerja federal adalah melanggar hukum.

    “Pegawai negeri sipil kami melakukan pekerjaan rakyat, dan mempermainkan mata pencaharian mereka adalah hal yang kejam dan melanggar hukum serta ancaman bagi semua orang di negara kami,” kata Perryman.

    (tps/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Pesan Prabowo ke Pemuda yang Ingin Jadi Pemimpin: Pahami Ekonomi!

    Pesan Prabowo ke Pemuda yang Ingin Jadi Pemimpin: Pahami Ekonomi!

    Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya pemahaman ekonomi bagi generasi muda Indonesia yang bercita-cita menjadi pemimpin politik.

    Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat berdialog dengan Ketua dan Pemimpin Redaksi Forbes Media, Steve Forbes, dalam acara “Pertemuan Pikiran” yang merupakan bagian dari Forbes Global CEO Conference bertajuk “The World Pivot” di St. Regis Jakarta, Rabu (15/10/2025) malam.

    Menurutnya, keberhasilan kebijakan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh teknokrasi, melainkan kemauan politik dan pemahaman ekonomi para pemimpin bangsa.

    Dia menilai sering kali ada keterputusan antara pelaku ekonomi dan pemimpin politik di Indonesia.

    “Kadang ada semacam keterputusan antara pelaku ekonomi dan pemimpin politik. Banyak pemimpin politik, saya rasa, tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah mereka. Mereka mungkin takut pada angka, atau takut dengan dunia bisnis,” ucapnya.

    Prabowo menegaskan bahwa pemahaman ekonomi merupakan syarat penting bagi generasi muda yang ingin berkiprah dalam politik dan kepemimpinan nasional.

    Dia bahkan mengutip slogan kampanye Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pada 1992 sebagai pengingat sederhana tetapi tajam.

    “Saya ingat, dalam kampanye Clinton, ada tulisan di ruang kampanyenya: ‘It’s the economy, stupid.’ Saya tidak tahu bagaimana menerjemahkannya ke Bahasa Indonesia, tapi intinya, semuanya soal ekonomi,” kata Prabowo sambil tertawa.

    Prabowo melanjutkan dengan pesan reflektif kepada para pemimpin muda agar tidak mudah terintimidasi oleh para pakar atau ekonom tanpa pemahaman yang kuat.

    “Kalau kamu tidak memahami ekonomi, kamu bisa dibohongi oleh ekonom. Jadi jangan pernah takut pada para ahli, tapi pahami esensinya,” tandas Prabowo.

    Dalam percakapan itu, Prabowo menyinggung upaya pemerintahannya untuk memperbaiki sistem perpajakan, menyiapkan insentif pajak (tax cuts), serta membentuk dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) kedua bernama Danantara yang mengelola aset awal senilai US$ 1 triliun.

    Danantara mencakup sektor strategis seperti perbankan, energi melalui Pertamina, serta sekitar seribu badan usaha milik negara (BUMN) yang tengah dirasionalisasi.

    Langkah ini, kata Prabowo, akan membebaskan modal dan meningkatkan efisiensi karena selama ini ribuan BUMN hanya mencatatkan pengembalian aset sekitar 1%.

    “Kita perlu merasionalisasi, dari sekitar seribu BUMN mungkin menjadi angka yang lebih efisien. Dan semuanya harus dijalankan dengan standar bisnis internasional,” ucap Prabowo.

  • Apakah Pengakuan dari Banyak Negara Berpengaruh Bagi Palestina?

    Apakah Pengakuan dari Banyak Negara Berpengaruh Bagi Palestina?

    Jakarta

    Prancis menjadi negara terkini yang secara resmi mengakui negara Palestina.

    Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan, “Waktunya untuk perdamaian telah tiba” dan “tidak ada yang membenarkan perang yang sedang berlangsung di Gaza”.

    Prancis dan Arab Saudi menjadi tuan rumah pertemuan puncak satu hari di Majelis Umum PBB yang berfokus pada rencana solusi dua negara untuk konflik tersebut. Negara-negara G7, Jerman, Italia, dan AS, tidak hadir.

    Macron mengonfirmasi bahwa Belgia, Luksemburg, Malta, Andorra, dan San Marino juga akan mengakui negara Palestina, setelah UK, Kanada, Australia, dan Portugal mengumumkan pengakuan tersebut pada Minggu (21/09).

    Macron mengatakan kepada konferensi tersebut bahwa waktunya telah tiba untuk menghentikan perang dan membebaskan sisa sandera Israel yang ditawan oleh Hamas.

    Ia memperingatkan tentang “bahaya perang tanpa akhir” seraya menegaskan “kebenaran harus selalu menang atas kekuatan”.

    Menurutnya, komunitas internasional telah gagal membangun perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah sehingga “kita harus melakukan segala daya upaya untuk menjaga kemungkinan solusi dua negara” yang akan mempertemukan “Israel dan Palestina dalam damai dan aman”.

    Ia mengatakan Prancis hanya akan membuka kedutaan untuk negara Palestina ketika semua sandera yang ditahan Hamas dibebaskan dan gencatan senjata telah disepakati.

    Menjelang pengumuman Macron, bendera Palestina dan Israel dipajang di Menara Eiffel pada Minggu (21/09) malam.

    Sejumlah balai kota di Prancis juga mengibarkan bendera Palestina pada Senin (22/09), meski pemerintah Prancis mengimbau kepada para wali kota untuk menjaga netralitas.

    AFP via Getty ImagesBendera Palestina dipajang di bagian depan Balai Kota Paris, Prancis, Senin (22/09).

    Pengakuan negara Palestina oleh Prancis, Kerajaan Bersatu (UK), Kanada, dan Australia, merupakan momen penting.

    “Palestina tidak pernah sekuat ini di seluruh dunia dibanding sekarang,” kata Xavier Abu Eid, mantan pejabat Palestina.

    “Dunia kini bergerak untuk Palestina.”

    Diplomat Palestina, Huzam Zomlot, pada awal bulan ini menyatakan pengakuan tersebut menjadi momen krusial.

    “Apa yang akan dilihat di New York, mungkin adalah upaya terakhir untuk mengimplementasikan solusi dua-negara. Jangan sampai itu gagal” kata Zomlot memperingatkan.

    “Itu berarti Israel hidup berdampingan dengan negara Palestina yang layak. Saat ini, keduanya tidak terwujud,” ujar Zomlot yang merupakan Kepala Misi Palestina untuk UK.

    Persoalannya kini: Apakah pengakuan simbolis dari banyak negara ini berpengaruh? Kemudian, siapa kelak pemimpinnya ketika negara ini kembali berdiri?

    Akankah cukup pengakuan simbolis?

    Saat ini, Palestina menghadapi berbagai krisis, salah satunya terkait kepemimpinan. Mahmoud Abbas kini berusia hampir 90 tahun.

    Sementara Marwan Baghouti yang diprediksi berpotensi menjadi pemimpin, kini tengah dipenjara.

    Hamas yang “dihancurkan” dan wilayah Tepi Barat yang mulai “terpecah” juga menambah genting krisis kepemimpinan di Palestina.

    Akan tetapi, pengakuan internasional yang berdatangan tetap berarti.

    “Itu bisa sangat berharga. Meski tergantung juga mengapa negara-negara ini melakukannya dan apa sebenarnya niat mereka,” kata pengacara Palestina, Diana Buttu.

    Seorang pejabat pemerintah UK, yang tidak ingin disebutkan namanya, berkata pengakuan simbolis saja tidak cukup.

    “Pertanyaannya adalah apakah kita bisa mendapatkan kemajuan menuju sesuatu yang bermakna sehingga Majelis Umum PBB tidak hanya menjadi pesta pengakuan,” ujarnya.

    Deklarasi New York yang diumumkan akhir Juli 2025 berisi penegasan terhadap solusi dua negara dengan sejumlah syarat seperti:

    Pengakuan kenegaraan Palestina dengan dukungan bagi Otoritas Palestina (PA)Membuka akses bantuan kemanusiaan, rekonstruksi dan pemulihan di Gaza dan Tepi BaratPenyatuan Gaza dan Tepi BaratNormalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab.

    Deklarasi ini disebut mengikat para penandatangan, termasuk UK, untuk mengambil “langkah-langkah konkret, terikat waktu, dan tidak dapat dibatalkan untuk penyelesaian damai masalah Palestina.”

    AFP via Getty ImagesMarwan Barghouti muncul sebagai pemimpin populer selama pemberontakan Palestina kedua.

    Persoalannya, syarat yang harus segera dipenuhi pascapengakuan ini kemungkinan berhadapan dengan hambatan yang sangat besar, kata pejabat di London.

    Apalagi hingga saat ini, AS memiliki hak veto di PBB terkait pengakuan negara Palestina dan pernah berulangkali menggunakannya.

    Pada Agustus, AS juga mengambil langkah tidak biasa dengan mencabut atau menolak visa bagi puluhan pejabat Palestina, yang kemungkinan melanggar aturan PBB sendiri.

    Abbas, bahkan, hanya bisa memberikan pernyataan melalui video pada sidang umum PBB.

    Selain itu, Trump tampaknya masih terpaku pada versi “Rencana Riviera” yang memuat tujuan AS mengambil “posisi kepemilikan jangka panjang” atas Gaza.

    Namun, jika pengakuan simbolis ini berdampak, bagaimana kelanjutannya?

    Apa saja syarat negara dan bagaimana realitanya?

    Konvensi Montevideo 1933 menetapkan empat kriteria untuk sebuah negara. Berikut kriterianya:

    Populasi permanen: Palestina bisa memenuhi kriteria ini, meskipun perang di Gaza membuat kondisi penduduknya sangat berisiko.Kapasitas untuk menjalin hubungan internasional: Dr. Zomlot adalah bukti dari kemampuan ini.Wilayah yang ditentukan: Inilah poin yang belum terpenuhi. Tanpa kesepakatan perbatasan yang pasti dan tanpa proses perdamaian yang nyata, sulit untuk mengetahui dengan jelas wilayah Palestina.Pemerintahan yang berfungsi: Ini merupakan tantangan besar bagi Palestina.

    Mengenai wilayah, ada tiga bagian area yang didambakan warga Palestina sebagai suatu negara, yaitu: Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan Jalur Gaza.

    Sayangnya, ketiga wilayah ini diduduki oleh Israel sejak Perang Enam Hari 1967.

    BBC

    Sekilas melihat peta, terlihat awal masalahnya. Tepi Barat dan Jalur Gaza telah terpisah secara geografis oleh Israel selama tiga perempat abad atau tepatnya sejak kemerdekaan Israel pada tahun 1948.

    Memasuki 1967 dengan serangan yang dilancarkan Israel, perluasan permukiman telah menggerogoti Tepi Barat hingga memecahnya menjadi entitas politik dan ekonomi.

    Baca juga:

    Situasi ini terus berlanjut. Kehadiran militer Israel dan permukiman Yahudi membuat Otoritas Palestina (PA), yang dibentuk setelah Kesepakatan Damai Oslo pada 1990-an, hanya menguasai sekitar 40% wilayah.

    Sementara itu, Yerusalem Timur, yang dianggap Palestina sebagai ibu kota mereka, kini dikelilingi permukiman Yahudi yang secara bertahap memutus kota tersebut dari Tepi Barat.

    Nasib Gaza, tentu saja, jauh lebih buruk. Setelah hampir dua tahun perang yang dipicu oleh serangan Hamas pada Oktober 2023, sebagian besar wilayahnya telah hancur.

    Selain wilayah yang sudah tercerai berai dan porak poranda, Palestina harus berhadapan dengan persoalan kepemimpinan.

    ‘Kami butuh kepemimpinan baru’

    Untuk menjawab problem kepemimpinan baru ini, perlu dirunut lagi sejarah yang melingkupi Palestina.

    Pada 1994, kesepakatan antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mengarah pada pembentukan Otoritas Nasional Palestina (PA).

    Otoritas ini memiliki kendali sipil parsial atas warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

    Namun, sejak konflik berdarah pada 2007 antara Hamas dan faksi utama PLO, Fatah, warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat diperintah oleh dua pemerintahan yang bersaing.

    Hamas di Gaza dan Otoritas Palestina di Tepi Barat, yang diakui secara internasional, dengan presidennya Mahmoud Abbas.

    Bloomberg via Getty ImagesAbbas hampir menginjak usia ke-90

    Perpecahan politik ini terus berlangsung selama 18 tahun, ditambah 77 tahun pemisahan geografis, membuat Tepi Barat dan Jalur Gaza semakin terpisah.

    Politik Palestina kian mengkristal dan membuat sebagian besar warga Palestina sinis terhadap pemimpin mereka. Bahkan mereka sulit percaya akan adanya rekonsiliasi internal, apalagi menjadi sebuah negara yang utuh.

    Adapun pemilihan presiden dan parlemen terakhir diadakan pada 2006. Dengan kata lain, tidak ada warga Palestina di bawah usia 36 tahun yang pernah memberikan suara di Tepi Barat atau Gaza.

    “Sangat tidak masuk akal bahwa kami tidak mengadakan pemilihan selama ini,” kata pengacara Palestina Diana Buttu.

    “Kami butuh kepemimpinan baru.”

    Di tengah serangan bertubi-tubi di Gaza sejak Oktober 2023, masalah ini menjadi semakin mendesak.

    Di hadapan kematian puluhan ribu warganya, Otoritas Palestina yang dipimpin Abbas, yang bermarkas di Tepi Barat, hanya seolah menjadi penonton yang tak berdaya.

    MAHMUD HAMS/AFP via Getty ImagesLebih dari 60.000 orang telah tewas di Gaza sejak Oktober 2023, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas.

    Siapakah sosok pemimpin Palestina di masa depan?

    Mundur beberapa dekade silam, Ketua Otoritas Nasional Palestina, Yasser Arafat, kembali dari pengasingan bertahun-tahun. Para politisi Palestina lokal pun mulai merasa terpinggirkan.

    “Orang dalam” mulai merasa kesal dengan gaya kepemimpinan yang dominan dari “orang luar” Arafat. Isu korupsi di lingkaran Arafat juga berdampak pada reputasi Otoritas Palestina.

    Di sisi lain, Otoritas Palestina juga seperti tidak mampu menghentikan kolonisasi bertahap Israel di Tepi Barat. Dengan demikian, janji kemerdekaan dan kedaulatan pun urung ditepati.

    Padahal pada September 1993, terjadi jabat tangan bersejarah Arafat dengan mantan Perdana Menteri Israel, Yizhak Rabin, di halaman Gedung Putih yang melambungkan harapan merdeka dan berhentinya penjajahan di tanah Palestina.

    REUTERS/Gary HershornJabat tangan bersejarah Arafat dengan Yizhak Rabin di halaman Gedung Putih, bersama Presiden AS Bill Clinton.

    Memasuki tahun-tahun selanjutnya, politik di Palestina kian tidak kondusif karena inisiatif perdamaian yang gagal, perluasan terus-menerus pemukiman Yahudi, kekerasan oleh ekstremis dari kedua belah pihak, pergeseran politik Israel ke kanan, dan perpecahan kekerasan pada 2007 antara Hamas dan Fatah.

    “Dalam keadaan normal, tokoh-tokoh baru dan generasi baru seharusnya muncul,” kata sejarawan Palestina Yezid Sayigh.

    “Namun hal itu tidak mungkin terjadi. Penduduk Palestina di wilayah yang diduduki sudah terpecah belah secara besar-besaran ke dalam ruang-ruang kecil yang terpisah, dan hal itu membuat hampir tidak mungkin bagi tokoh-tokoh baru untuk muncul dan bersatu.”

    Baca juga:

    Kendati demikian, nama Marwan Barghouti muncul kemudian. Lahir dan dibesarkan di Tepi Barat, ia aktif di Fatah sejak usia 15 tahun.

    Barghouti muncul sebagai pemimpin populer selama pemberontakan Palestina kedua, sebelum ditangkap dan didakwa merencanakan serangan yang menewaskan lima warga Israel.

    Ia selalu membantah tuduhan itu, meski tetap dipenjara di Israel sejak 2002.

    Namun, ketika warga Palestina membicarakan calon pemimpin masa depan, mereka berakhir membicarakan seorang pria yang telah dipenjara selama hampir seperempat abad itu.

    Getty ImagesRumor tentang korupsi di lingkaran Arafat tidak banyak membantu meningkatkan reputasi Otoritas Palestina.

    Jajak pendapat terbaru oleh Pusat Penelitian Kebijakan dan Survei Palestina yang berbasis di Tepi Barat menemukan bahwa 50% warga Palestina akan memilih Barghouti sebagai presiden, jauh mengungguli Mahmoud Abbas, yang telah menjabat sejak 2005.

    Meskipun Barghouti adalah anggota senior Fatah, faksi yang berkonflik dengan Hamas, namanya disebut-sebut sebagai salah satu tahanan politik yang ingin dibebaskan Hamas sebagai imbalan bagi sandera Israel di Gaza. Namun, Israel tidak menunjukkan indikasi akan membebaskannya.

    AFP via Getty ImagesSebuah jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa Barghouti adalah pilihan utama rakyat Palestina untuk pemimpin, jauh di depan Mahmoud Abbas.

    Pada pertengahan Agustus, sebuah video beredar, memperlihatkan Barghouti yang berusia 66 tahun dalam kondisi kurus dan lemah diejek oleh Menteri Keamanan Israel, Itamar Ben Gvir.

    Ini adalah kali pertama Barghouti terlihat secara publik dalam beberapa tahun terakhir.

    Netanyahu dan kemerdekaan negara Palestina

    Bahkan sebelum Serangan ke Gaza, penolakan Benjamin Netanyahu terhadap kemerdekaan Palestina sudah jelas.

    Pada Februari 2024, ia mengatakan, “Semua orang tahu bahwa saya adalah orang yang selama puluhan tahun menghalangi pembentukan negara Palestina yang akan mengancam keberadaan kita.”

    Meskipun ada seruan internasional agar Otoritas Palestina (PA) mengambil alih kendali Gaza, Netanyahu bersikeras bahwa PA tidak akan memiliki peran dalam pemerintahan Gaza di masa depan, karena Abbas disebutnya tidak mengutuk serangan Hamas pada 7 Oktober.

    Baca juga:

    Pada Agustus, Israel memberikan persetujuan akhir untuk proyek pemukiman yang secara efektif akan memisahkan Yerusalem Timur dari Tepi Barat.

    Rencana untuk 3.400 unit perumahan disetujui yang kemudian memantik pernyataan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich bahwa rencana ini akan mengubur gagasan negara Palestina “karena tidak ada yang perlu diakui dan tidak ada yang akan mengakui”.

    Reuters”Hari setelah perang di Gaza, baik Hamas maupun Otoritas Palestina tidak akan ada di sana,” kata Netanyahu pada pertengahan Februari.

    “Ini bukanlah keadaan baru. Itu telah terjadi selama bertahun-tahun,” kata sejarawan Palestina Yezid Sayigh.

    “Bahkan saat bisa membawa malaikat Mikail ke bumi dan menjadikannya kepala Otoritas Palestina sekali pun, tetap tidak akan membuat perbedaan. Karena kondisi saat ini membuat kesuksesan apa pun menjadi mustahil,” ujar Sayigh.

    Satu hal yang pasti: jika negara Palestina benar-benar terbentuk, Hamas tidak akan memimpinnya.

    Ini berdasarkan pada Deklarasi New York pada Juli lalu yang disponsori oleh Prancis dan Arab Saudi.

    Di situ, ada pernyataan bahwa “Hamas harus mengakhiri kekuasaannya di Gaza dan menyerahkan senjatanya kepada otoritas Palestina.”

    Atas pernyataan itu, Deklarasi New York ini didukung oleh semua negara Arab dan kemudian diadopsi oleh 142 anggota Majelis Umum PBB.

    Adapun Hamas, mereka menyatakan siap menyerahkan kekuasaan di Gaza kepada administrasi teknokrat yang independen.

    Bagaimana masa depan harapan Palestina?

    Masa depan jangka panjang Gaza mungkin terletak di antara Deklarasi New York, rencana Trump, dan rencana rekonstruksi Arab.

    Dalam rencana tersebut tidak menyebutkan Otoritas Palestina, hanya merujuk pada “pemerintahan mandiri Palestina yang direformasi”, atau hubungan masa depan antara Gaza dan Tepi Barat.

    Baca juga:

    Semua rencana, dengan cara yang sangat berbeda, berharap dapat menyelamatkan sesuatu dari bencana yang menimpa Gaza dalam dua tahun terakhir.

    Apapun yang muncul, hal itu harus menjawab pertanyaan tentang bagaimana Palestina dan kepemimpinannya akan terlihat.

    Namun, bagi Palestina seperti Diana Buttu, ada masalah yang jauh lebih mendesak.

    Dia ingin komunitas internasional mencegah lebih banyak pembunuhan rakyat Palestina.

    “Dan melakukan sesuatu untuk menghentikannya.”

    Getty ImagesTrump dan Starmer memiliki pandangan yang berbeda mengenai masalah tersebut.

    Lihat Video ‘Bendera Palestina Dikibarkan di London setelah Pengakuan Inggris’:

    (ita/ita)

  • Terkuak! Presiden AS Ucap Janji ke Putin Rusia Bisa Jadi Anggota NATO

    Terkuak! Presiden AS Ucap Janji ke Putin Rusia Bisa Jadi Anggota NATO

    Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat (AS) pernah menjanjikan keanggotaan aliansi pertahanan NATO kepada Rusia. Hal ini terungkap dari sebuah dokumen lembaga penelitian independen di Universitas George Washington, Arsip Keamanan Nasional, yang dirilis Kamis (21/8/2025).

    Dalam dokumen itu, Mantan Presiden AS Bill Clinton berjanji kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan antara kedua pemimpin di Kremlin, 4 Juni 2000, bahwa ia akan mempertimbangkan keanggotaan Rusia di NATO. Clinton juga mengeklaim bahwa perluasan blok militer tersebut tidak akan mengancam Moskow.

    “Sejak awal proses perluasan NATO, saya tahu bahwa hal itu dapat menjadi masalah bagi Rusia. Saya peka terhadap hal ini, dan saya ingin dipahami bahwa perluasan NATO tidak mengancam Rusia dengan cara apapun,” kata Clinton.

    Ia menambahkan bahwa ia memahami bahwa pertimbangan domestik di Rusia menghalangi hal ini, tetapi seiring waktu, negara tersebut harus menjadi bagian dari setiap organisasi yang menyatukan dunia yang beradab. Menurut dokumen tersebut, Putin mengatakan ia “mendukung” gagasan tersebut.

    Tahun lalu, dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Amerika Tucker Carlson, Putin mengatakan ia telah membahas hal tersebut dengan Clinton.

    “Meskipun Clinton awalnya setuju, ia kemudian menolak gagasan tersebut setelah berbicara dengan timnya. Seandainya Clinton setuju, hal itu akan mengarah pada periode baru pemulihan hubungan antara Moskow dan blok militer,” tambah Putin.

    NATO telah berkembang enam kali lipat sejak percakapan kedua pemimpin pada tahun 2000, dengan penambahan 12 negara lagi selama periode tersebut. Dalam wawancara dengan Carlson, Putin mengatakan ada kekhawatiran besar dari Moskow melihat hal ini.

    “Setelah gelombang demi gelombang ekspansi… kami terus-menerus diberi tahu: ‘Anda tidak perlu takut akan hal ini, ini tidak mengancam Anda’,” ungkap Putin. “Namun mereka mengabaikan kekhawatiran kami begitu saja, menolak untuk mengakui atau bahkan mempertimbangkan posisi kami.”

    “Kami lebih tahu daripada siapapun apa yang mengancam kami dan apa yang tidak,” katanya.

    Moskow telah menyebut ambisi Ukriana untuk bergabung dengan NATO sebagai salah satu penyebab utama konflik saat ini antara dua tetangga mantan Uni Soviet itu. Kremlin menyatakan perang ini dipandangnya sebagai perang proksi yang diatur oleh blok militer tersebut melawan Rusia.

    (tps/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Taktik Elon Musk Lawan Trump: Bikin Partai Politik

    Taktik Elon Musk Lawan Trump: Bikin Partai Politik

    Jakarta

    Elon Musk tiba-tiba membuat gebrakan baru untuk melawan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Orang terkaya di dunia itu meluncurkan partai politik tandingan Trump.

    Dilansir kantor berita AFP, Senin (7/7/2025), Elon Musk meluncurkan partai politik baru di AS. Dia membentuk partai itu untuk melawan apa yang dianggapnya ‘sistem satu partai’ di AS.

    Musk merupakan donor politik terbesar Trump dalam Pilpres AS 2024. Dia kemudian berselisih dengan Trump setelah memimpin upaya Partai Republik untuk memangkas pengeluaran dan memotong pekerjaan federal sebagai kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE).

    Musk berselisih dengan Trump mengenai rencana pengeluaran domestik besar-besaran. Dia mengatakan hal itu akan meledakkan utang AS dan berjanji untuk melakukan segala daya untuk menggagalkan rencana itu.

    Sekarang, dia mengklaim telah menciptakan apa yang disebut Partai Amerika. Dia menuding politik AS yang selama ini didominasi Partai Demokrat dan Partai Republik bukan demokrasi.

    “Jika menyangkut kebangkrutan negara kita dengan pemborosan & korupsi, kita hidup dalam sistem satu partai, bukan demokrasi,” bos Space X dan Tesla itu memposting di X, platform media sosial miliknya.

    “Hari ini, Partai Amerika dibentuk untuk mengembalikan kebebasan Anda,” sambungnya.

    Musk mengutip jajak pendapat, yang diunggahnya sendiri pada Hari Kemerdekaan AS, di mana dia menanyakan apakah responden ‘menginginkan kemerdekaan dari sistem dua partai (ada yang mengatakan satu partai)’ yang telah mendominasi politik AS selama sekitar dua abad. Survei ya-atau-tidak itu memperoleh lebih dari 1,2 juta tanggapan.

    “Dengan faktor 2 banding 1, Anda menginginkan partai politik baru dan Anda akan mendapatkannya!” ia memposting pada hari Sabtu.

    Elon Musk Bikin Parpol Baru

    Foto: Elon Musk dan Donald Trump (REUTERS/Nathan Howard).

    Musk membagikan meme yang menggambarkan ular berkepala dua dan judul ‘Akhiri Satu Partai’. Meski demikian, tidak jelas seberapa besar dampak partai baru tersebut terhadap pemilihan paruh waktu AS di tahun 2026 atau terhadap pemilihan presiden 2 tahun setelah itu.

    Perseteruan Trump-Musk kembali memanas secara dramatis akhir bulan lalu saat Trump mendorong Partai Republik di Kongres untuk memaksakan agenda domestiknya yang besar dalam bentuk RUU One Big Beautiful. Musk menentang keras undang-undang tersebut dan dengan kejam menyerang pendukungnya dari Partai Republik karena mendukung apa yang dianggapnya perbudakan utang.

    Dia kemudian berjanji untuk meluncurkan partai politik baru untuk menantang anggota parlemen yang berkampanye untuk mengurangi pengeluaran federal tetapi malah memilih RUU tersebut. RUU diprediksi para ahli akan menambah defisit AS sebesar USD 3,4 triliun selama satu dekade.

    “Mereka akan kalah dalam pemilihan pendahuluan tahun depan jika itu adalah hal terakhir yang saya lakukan di Bumi ini,” kata Musk awal minggu ini.

    Setelah Musk mengkritik keras RUU pengeluaran unggulan, yang akhirnya disahkan Kongres dan ditandatangani menjadi undang-undang, Trump mengancam akan mendeportasi taipan teknologi tersebut dan mencabut dana federal dari bisnisnya.

    “Kita harus melihatnya,” kata presiden kepada wartawan ketika ditanya apakah dia akan mempertimbangkan untuk mendeportasi Musk, yang lahir di Afrika Selatan dan telah memegang kewarganegaraan AS sejak 2002.

    Setelah mengunggah jajak pendapat, Musk memaparkan kemungkinan rencana pertempuran politik untuk merebut kursi DPR dan Senat yang rentan dan menjadi ‘suara penentu’ pada undang-undang utama.

    “Salah satu cara untuk melaksanakannya adalah dengan berfokus pada hanya 2 atau 3 kursi Senat dan 8 hingga 10 distrik DPR,” ujar Musk.

    Sebagai informasi, 435 kursi DPR AS diperebutkan setiap 2 tahun, sementara sekitar sepertiga dari 100 anggota Senat, yang menjabat selama enam tahun, dipilih setiap dua tahun.

    Beberapa pengamat dengan cepat menunjukkan bagaimana kampanye pihak ketiga secara historis telah memecah suara, seperti yang dilakukan oleh pencalonan presiden independen pengusaha Ross Perot pada tahun 1992 ketika hal itu membantu menghancurkan upaya pemilihan kembali George HW Bush yang mengakibatkan kemenangan Demokrat Bill Clinton.

    Lihat juga Video Trump Skeptis dengan Rencana Elon: Partai Ketiga Tak Pernah Berhasil

    Halaman 2 dari 2

    (whn/whn)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Trump Kecam Elon Musk Bikin Partai Politik Baru: Konyol!

    Trump Kecam Elon Musk Bikin Partai Politik Baru: Konyol!

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengecam partai politik baru yang diluncurkan orang terkaya di dunia, Elon Musk. Trump menyebut langkah Elon Musk itu konyol.

    “Menurut saya, mendirikan partai ketiga itu konyol,” kata Trump dilansir kantor berita AFP, Senin (7/7/2025).

    Trump mengatakan mendirikan partai ketiga di AS itu tidak masuk akal. Dia menyebut hanya ada dua partai politik yang dominan di AS yakni Republik dan Demokrat.

    “Sistemnya selalu dua partai, dan menurut saya mendirikan partai ketiga hanya akan menambah kebingungan,” ujarnya.

    Seperti diketahui, Elon Musk meluncurkan partai politik baru di AS. Dia membentuk partai itu untuk melawan apa yang dianggapnya ‘sistem satu partai’ di AS.

    Musk merupakan donor politik terbesar Trump dalam Pilpres AS 2024. Dia kemudian berselisih dengan Trump setelah memimpin upaya Partai Republik untuk memangkas pengeluaran dan memotong pekerjaan federal sebagai kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE).

    Musk berselisih dengan Trump mengenai rencana pengeluaran domestik besar-besaran. Dia mengatakan hal itu akan meledakkan utang AS dan berjanji untuk melakukan segala daya untuk menggagalkan rencana itu.

    “Jika menyangkut kebangkrutan negara kita dengan pemborosan & korupsi, kita hidup dalam sistem satu partai, bukan demokrasi,” bos Space X dan Tesla itu memposting di X, platform media sosial miliknya.

    “Hari ini, Partai Amerika dibentuk untuk mengembalikan kebebasan Anda,” sambungnya.

    Musk mengutip jajak pendapat, yang diunggahnya sendiri pada Hari Kemerdekaan AS, di mana dia menanyakan apakah responden ‘menginginkan kemerdekaan dari sistem dua partai (ada yang mengatakan satu partai)’ yang telah mendominasi politik AS selama sekitar dua abad. Survei ya-atau-tidak itu memperoleh lebih dari 1,2 juta tanggapan.

    “Dengan faktor 2 banding 1, Anda menginginkan partai politik baru dan Anda akan mendapatkannya!” ia memposting pada hari Sabtu.

    Musk membagikan meme yang menggambarkan ular berkepala dua dan judul ‘Akhiri Satu Partai’. Meski demikian, tidak jelas seberapa besar dampak partai baru tersebut terhadap pemilihan paruh waktu AS di tahun 2026 atau terhadap pemilihan presiden 2 tahun setelah itu.

    Perseteruan Trump-Musk kembali memanas secara dramatis akhir bulan lalu saat Trump mendorong Partai Republik di Kongres untuk memaksakan agenda domestiknya yang besar dalam bentuk RUU One Big Beautiful. Musk menentang keras undang-undang tersebut dan dengan kejam menyerang pendukungnya dari Partai Republik karena mendukung apa yang dianggapnya perbudakan utang.

    Dia kemudian berjanji untuk meluncurkan partai politik baru untuk menantang anggota parlemen yang berkampanye untuk mengurangi pengeluaran federal tetapi malah memilih RUU tersebut. RUU diprediksi para ahli akan menambah defisit AS sebesar USD 3,4 triliun selama satu dekade.

    “Mereka akan kalah dalam pemilihan pendahuluan tahun depan jika itu adalah hal terakhir yang saya lakukan di Bumi ini,” kata Musk awal minggu ini.

    Setelah Musk mengkritik keras RUU pengeluaran unggulan, yang akhirnya disahkan Kongres dan ditandatangani menjadi undang-undang, Trump mengancam akan mendeportasi taipan teknologi tersebut dan mencabut dana federal dari bisnisnya.

    “Kita harus melihatnya,” kata presiden kepada wartawan ketika ditanya apakah dia akan mempertimbangkan untuk mendeportasi Musk, yang lahir di Afrika Selatan dan telah memegang kewarganegaraan AS sejak 2002.

    Setelah mengunggah jajak pendapat, Musk memaparkan kemungkinan rencana pertempuran politik untuk merebut kursi DPR dan Senat yang rentan dan menjadi ‘suara penentu’ pada undang-undang utama.

    “Salah satu cara untuk melaksanakannya adalah dengan berfokus pada hanya 2 atau 3 kursi Senat dan 8 hingga 10 distrik DPR,” ujar Musk.

    Sebagai informasi, 435 kursi DPR AS diperebutkan setiap 2 tahun, sementara sekitar sepertiga dari 100 anggota Senat, yang menjabat selama enam tahun, dipilih setiap dua tahun.

    Beberapa pengamat dengan cepat menunjukkan bagaimana kampanye pihak ketiga secara historis telah memecah suara, seperti yang dilakukan oleh pencalonan presiden independen pengusaha Ross Perot pada tahun 1992 ketika hal itu membantu menghancurkan upaya pemilihan kembali George HW Bush yang mengakibatkan kemenangan Demokrat Bill Clinton.

    (whn/whn)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini