Tag: Benjamin Netanyahu

  • Diancam AS, Iran Ingatkan Tak Akan Tinggal Diam!

    Diancam AS, Iran Ingatkan Tak Akan Tinggal Diam!

    Jakarta

    Panglima militer Iran memperingatkan bahwa Iran tidak akan tinggal diam dan membiarkan dirinya diancam oleh kekuatan luar. Hal ini disampaikan pada hari Rabu (7/1/2026), setelah Amerika Serikat dan Israel mendukung aksi-aksi protes anti-pemerintah yang tengah terjadi di Iran.

    “Republik Islam Iran menganggap peningkatan retorika permusuhan terhadap bangsa Iran sebagai ancaman dan tidak akan mentolerir kelanjutannya tanpa memberikan respons,” kata Jenderal Amir Hatami, menurut kantor berita Iran, Fars, dilansir AFP, Rabu (7/1/2026).

    Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengancam akan campur tangan di Iran jika para demonstran terbunuh. Sementara Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah menyatakan dukungan untuk aksi-aksi protes tersebut.

    Dilaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat kekerasan yang menyertai gelombang protes di Iran pada Selasa (6/1) waktu setempat meningkat menjadi sedikitnya 35 orang. Data tersebut disampaikan oleh jejaring pegiat HAM Human Rights Activists News Agency (HRANA) di Amerika Serikat. Lembaga yang didirikan pelarian Iran itu juga melaporkan lebih dari 1.200 orang telah ditahan sejak demonstrasi berlangsung lebih dari sepekan.

    Menurut HRANA, dilansir media DW, korban tewas terdiri dari 29 pengunjuk rasa, empat anak-anak, serta dua anggota pasukan keamanan Iran. Aksi protes telah menjangkau lebih dari 250 kota, desa atau lokasi lain di 27 dari 31 provinsi di Iran. Informasi tersebut dihimpun dari jaringan aktivis di dalam negeri, yang dinilai akurat dalam melaporkan kerusuhan sebelumnya.

    Aparat keamanan dikabarkan menggunakan tindak kekerasan terutama terhadap demonstran di daerah pedesaan. Akibatnya, aksi protes kembali melanda kota-kota besar seperti Teheran, ibu kota Iran dan Mashhad.

    Sementara itu, kantor berita Iran Fars, yang dekat dengan Garda Revolusi, melaporkan sekitar 250 polisi dan 45 anggota pasukan sukarelawan Basij mengalami luka-luka selama aksi demonstrasi.

    Lihat juga Video Iran Naik Pitam, Kutuk Tindakan AS yang Tangkap Maduro

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Bus Tabrak Demonstran Anti-Wajib Militer Israel, 1 Orang Tewas-3 Luka

    Bus Tabrak Demonstran Anti-Wajib Militer Israel, 1 Orang Tewas-3 Luka

    Yerusalem

    Sedikitnya satu orang tewas di wilayah Yerusalem, setelah sebuah bus menabrak kerumunan demonstran yang memprotes undang-undang yang mewajibkan wajib militer bagi kalangan Yahudi ultra-Ortodoks ke dalam Angkatan Bersenjata Israel. Tiga orang lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

    Keterangan sejumlah petugas penyelamat dari layanan darurat Magen David Adom, seperti dilansir AFP, Rabu (7/1/2025), menyebutkan bahwa sebuah bus menabrak tiga pejalan kaki, kemudian melaju dan menabrak seorang remaja berusia 18 tahun yang terjebak di bawah kendaraan tersebut.

    “Paramedis menyatakan dia meninggal di lokasi kejadian,” kata Magen David Adom dalam pernyataannya.

    Insiden mematikan itu terjadi pada Selasa (6/1), ketika ribuan warga Yahudi dari kalangan ultra-Ortodoks turun ke jalan untuk memprotes undang-undang yang mewajibkan mereka bergabung dengan militer Israel, karena militer Tel Aviv kekurangan personel setelah dua tahun terlibat perang di berbagai front.

    Unjuk rasa besar-besaran untuk menentang undang-undang tersebut telah digelar secara rutin dalam beberapa bulan terakhir.

    Menurut keterangan Kepolisian Israel, unjuk rasa pada Selasa (6/1) menjadi ricuh setelah “sekelompok kecil perusuh mulai mengganggu ketertiban umum secara brutal, termasuk dengan memblokir jalur lalu lintas, merusak sejumlah bus, membakar tempat sampah, melemparkan benda dan telor ke para polisi dan Kepolisian Perbatasan, meneriakkan caci maki, dan menyerang para jurnalis yang bekerja di lokasi kejadian”.

    Disebutkan oleh pihak kepolisian bahwa bus tersebut “diblokir oleh para perusuh yang… mengalangi rutenya”.

    Sopir bus tersebut, yang identitasnya tidak diungkap ke publik, telah ditangkap. Ketika diinterogasi, sopir bus itu mengaku “diserang oleh para perusuh, setelah itu insiden yang sangat disayangkan tersebut terjadi”.

    Sejumlah sumber Kepolisian Israel, yang dikutip media lokal, menepis kekhawatiran bahwa insiden itu merupakan serangan teror.

    Undang-undang wajib militer yang diprotes oleh kalangan Yahudi ultra-Ortodoks itu memicu perpecahan dalam koalisi pemerintahan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu.

    Kubu oposisi dan beberapa mitra koalisi menekan Netanyahu untuk meningkatkan jumlah perekrutan militer, namun para pemimpin partai Yahudi ultra-Ortodoks — yang secara tradisional merupakan sekutu Netanyahu — menentang wajib militer bagi mahasiswa agama, yang menjadi konstituen terbesar mereka.

    Berdasarkan peraturan yang ditetapkan saat pembentukan Israel tahun 1948, para pemuda yang mendedikasikan diri untuk mempelajari teks-teks Yahudi diberikan pengecualian de-facto dari wajib militer.

    Namun belakangan pengecualian itu menuai sorotan dari publik Israel, terutama ketika puluhan ribu tentara wajib militer dan pasukan cadangan dimobilisasi di beberapa front, meskipun gencatan senjata yang rapuh mengakhiri pertempuran di Jalur Gaza.

    Meskipun kalangan ultra-Ortodoks hanya mencakup 14 persen dari populasi Yahudi di Israel, mempertahankan dukungan partai-partai tersebut menjadi kunci kelangsungan koalisi pemerintahan Netanyahu.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Negara Mana yang Mungkin Jadi Sasaran Trump Setelah Venezuela?

    Negara Mana yang Mungkin Jadi Sasaran Trump Setelah Venezuela?

    Jakarta

    Masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dibentuk oleh ambisi kebijakan luar negerinya.

    Ia telah menindaklanjuti ancamannya terhadap Venezuela dengan menangkap presiden dan istrinya di kediamannya yang dijaga ketat di Caracas dalam sebuah serangan dramatis.

    Saat menjelaskan operasi tersebut, Trump kembali menggunakan Doktrin Monroe tahun 1823 dan janji supremasi AS di belahan bumi barat dan menyebutnya kembali sebagai “Doktrin Donroe”.

    Berikut beberapa peringatan yang telah ia sampaikan terhadap negara-negara lain di Washington dalam beberapa hari terakhir.

    Greenland

    AS sudah memiliki pangkalan militer di Greenland, Pangkalan Luar Angkasa Pituffik, tetapi Trump menginginkan seluruh kawasan itu tersebut.

    “Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,” katanya kepada wartawan, seraya mengklaim bahwa wilayah tersebut “dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana.”

    Pulau Arktik yang luas ini, bagian dari Kerajaan Denmark, terletak sekitar 3.200 kilometer di timur laut AS.

    Greenland juga menempati lokasi strategis utama di Atlantik Utara, memberikan akses ke lingkaran Arktik yang semakin penting.

    Seiring mencairnya es kutub dalam beberapa tahun mendatang, rute pelayaran baru diperkirakan akan terbuka.

    Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen, menanggapi Trump dengan menggambarkan gagasan kendali AS atas pulau itu sebagai “fantasi”.

    “Tidak ada lagi tekanan. Tidak ada lagi sindiran. Tidak ada lagi fantasi aneksasi. Kami terbuka untuk dialog. Kami terbuka untuk diskusi. Tetapi ini harus terjadi melalui saluran yang tepat dan dengan menghormati hukum internasional,” katanya.

    Upaya AS untuk merebut Greenland akan menimbulkan konflik dengan anggota NATO lainnya, yang kemungkinan besar akan membahayakan aliansi tersebut.

    Kolombia

    Hanya beberapa jam setelah operasi di Venezuela, Trump memperingatkan Presiden Kolombia Gustavo Petro untuk “hati-hati”.

    Kolombia, tetangga Venezuela di sebelah barat, memiliki cadangan minyak yang besar dan merupakan produsen utama emas, perak, zamrud, platinum, dan batu bara.

    Negara ini dituduh sebagai pusat utama perdagangan narkoba di kawasan tersebut, terutama kokain.

    Sejak AS mulai menyerang kapal-kapal di Karibia dan Pasifik timur pada bulan September, dengan mengatakan, tanpa bukti, bahwa mereka membawa narkoba, Trump telah terlibat dalam perselisihan yang semakin memanas dengan presiden beraliran sayap kiri negara tersebut.

    AS menjatuhkan sanksi kepada Petro pada bulan Oktober, dengan mengatakan bahwa ia membiarkan kartel “berkembang”.

    Berbicara di atas pesawat Air Force One pada hari Minggu, Trump mengatakan Kolombia “dijalankan oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat”.

    “Dia tidak akan melakukannya untuk waktu yang lama,” katanya. Ketika ditanya apakah AS akan melakukan operasi yang menargetkan Kolombia, Trump menjawab, “Kedengarannya bagus bagi saya.”

    Secara historis, Kolombia telah menjadi sekutu dekat dalam perang Washington melawan narkoba, menerima ratusan juta dolar setiap tahunnya dalam bentuk bantuan militer untuk melawan kartel.

    Iran

    Iran saat ini menghadapi protes antipemerintah massal, dan Trump memperingatkan semalam bahwa pihak berwenang di sana akan “dihantam sangat keras” jika lebih banyak demonstran tewas.

    “Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” katanya kepada wartawan di Air Force One.

    Iran secara teoritis berada di luar cakupan yang didefinisikan dalam “Doktrin Donroe”, tetapi Trump tetap saja sebelumnya mengancam rezim Iran dengan tindakan lebih lanjut, setelah menyerang fasilitas nuklirnya tahun lalu.

    Serangan-serangan itu terjadi setelah Israel melancarkan operasi skala besar yang bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir, yang berujung pada konflik Israel-Iran selama 12 hari.

    Dalam pertemuan di Mar-a-Lago antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu, Iran disebut-sebut menjadi agenda utama. Media AS melaporkan bahwa Netanyahu mengangkat potensi serangan baru terhadap Iran pada tahun 2026.

    Meksiko

    Kebangkitan Trump ke tampuk kekuasaan pada tahun 2016 ditandai dengan seruannya untuk “Membangun Tembok” di sepanjang perbatasan selatan dengan Meksiko.

    Pada hari pertamanya kembali menjabat pada tahun 2025, ia menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi “Teluk Amerika”.

    Ia sering mengklaim bahwa otoritas Meksiko tidak melakukan cukup banyak untuk menghentikan aliran narkoba atau imigran ilegal ke AS.

    Berbicara pada hari Minggu, ia mengatakan bahwa narkoba “mengalir deras” melalui Meksiko dan “kita harus melakukan sesuatu”, menambahkan bahwa kartel di sana “sangat kuat.”

    Trump mengatakan dia telah menawarkan untuk mengirim pasukan AS ke Meksiko untuk memerangi kartel, tetapi Presiden Claudia Sheinbaum secara terbuka menolak tindakan militer AS apa pun di wilayah Meksiko.

    Kuba

    Negara kepulauan ini, yang terletak hanya 45 kilometer di selatan Florida, telah berada di bawah sanksi AS sejak awal tahun 1960-an.

    Negara ini memiliki hubungan dekat dengan Venezuela di bawah kepemimpinan Nicols Maduro, yang dilaporkan memasok sekitar 30% minyak Kuba sebagai imbalan atas dokter dan tenaga medis yang melakukan perjalanan ke arah sebaliknya.

    Dengan kepergian Maduro, Havana bisa terekspos jika pasokan minyak runtuh.

    Trump menyatakan pada hari Minggu bahwa intervensi militer AS di sana tidak diperlukan, karena Kuba “siap untuk jatuh.”

    “Saya rasa kita tidak perlu tindakan apa pun,” katanya. “Sepertinya negara itu akan jatuh.”

    “Saya tidak tahu apakah mereka akan bertahan, tetapi Kuba sekarang tidak memiliki pendapatan,” tambahnya. “Mereka mendapatkan semua pendapatan mereka dari Venezuela, dari minyak Venezuela.”

    Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio – yang merupakan putra imigran Kuba – telah lama menyerukan perubahan rezim di Kuba, dan mengatakan kepada wartawan pada hari Sabtu: “Jika saya tinggal di Havana, dan saya berada di pemerintahan, saya akan khawatir – setidaknya sedikit”.

    “Ketika presiden berbicara, Anda harus menganggapnya serius,” katanya.

    (ita/ita)

  • Menlu Israel Kunjungi Somaliland, Presiden Somalia Mengecam

    Menlu Israel Kunjungi Somaliland, Presiden Somalia Mengecam

    Jakarta

    Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar, mengunjungi Somaliland usai mengakui kemerdekaannya, yang memicu kontroversial. Gideon Saar bertekad meningkatkan hubungannya dengan Somaliland.

    Dilansir BBC, Rabu (7/1/2026), Israel bertekad untuk memajukan hubungan dengan Somaliland. Sementara Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdullahi memuji kunjungan Saar sebagai ‘hari besar’.

    Diketahui, Israel menjadi negara pertama di dunia yang mengakui Somaliland, yang mendeklarasikan kemerdekaan dari Somalia lebih dari 30 tahun yang lalu.

    Sementara itu, Somalia menganggap Somaliland sebagai bagian dari wilayahnya. Somalia mengutuk kunjungan Saar ke Somaliland sebagai “campur tangan yang tidak dapat diterima”.

    Lebih lanjut, Gideon Saar melalui akun X resminya mengatakan pertemuannya dengan Abdullahi berfokus membahas tentang hubungan Israel dan Somaliland.

    “Keseluruhan hubungan kita,” kata Saar.

    “Hanya Israel yang akan menentukan sendiri siapa yang diakuinya,” ujar Saar.

    Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantornya, Presiden Somaliland Abdullahi mengatakan Israel telah mengambil keputusan yang berani. Somaliland akan menegaskan pihaknya akan bekerja sama dengannya demi kepentingan strategis.

    Lebih lanjut, Saar mengatakan Abdullahi telah menerima undangan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengunjungi Israel. Akan, tetapi kantor pemimpin Somaliland tidak mengkonfirmasi hal ini.

    Sebelumnya, pengakuan Israel terhadap Somaliland pada bulan lalu mengejutkan sejumlah pihak. PM Israel Benjamin Netanyahu menilai Somaliland sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

    Langkah ini memicu kecaman internasional dan mendorong pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. China, Turki, dan Uni Afrika termasuk di antara mereka yang mengkritik langkah Israel, sementara Uni Eropa mengatakan kedaulatan Somalia harus dihormati.

    (yld/lir)

  • Netanyahu Tak Akan Biarkan Iran Pulihkan Program Rudal-Nuklir

    Netanyahu Tak Akan Biarkan Iran Pulihkan Program Rudal-Nuklir

    Tel Aviv

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan tidak akan membiarkan musuh bebuyutannya, Iran, memulihkan program rudal balistik. Perang yang berkecamuk antara Israel dan Iran tahun lalu telah memicu kerusakan pada fasilitas nuklir dan militer negara Syiah tersebut.

    Penegasan Netanyahu itu, seperti dilansir AFP, Selasa (6/1/2026), disampaikan beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan ancaman serupa terhadap Teheran.

    “Kita tidak akan mengizinkan Iran untuk memulihkan industri rudal balistik, dan tentu saja, kami tidak akan mengizinkannya untuk memperbarui program nuklir yang telah kami rusak secara signifikan,” tegas Netanyahu saat berbicara kepada para anggota parlemen Israel pada Senin (5/1) waktu setempat.

    “Jika kita diserang, konsekuensinya bagi Iran akan sangat berat,” ujarnya.

    Ancaman Netanyahu tersebut disampaikan beberapa hari setelah Trump mengancam untuk “memusnahkan” program nuklir dan rudal balistik Iran, setelah kedua pemimpin melakukan pertemuan terbaru di Washington DC pekan lalu.

    Para pejabat Israel dan media-media lokal negara Yahudi itu telah menyatakan kekhawatiran dalam beberapa bulan terakhir, soal Iran sedang membangun kembali persenjataan rudal balistiknya yang mengalami kerusakan dalam perang selama 12 hari dengan Israel pada Juni tahun lalu.

    Trump, dalam pernyataannya, menyebut Iran “mungkin berperilaku buruk” dan sedang mempertimbangkan situs nuklir baru untuk menggantikan situs lama yang menjadi target serangan AS yang bergabung bersama Israel dalam perang tahun lalu.

    Trump juga menyebut Teheran sedang memulihkan persediaan rudalnya.

    “Saya berharap mereka tidak mencoba membangun kembali, karena jika mereka melakukannya, kita tidak akan memiliki pilihan selain segera memusnahkan pembangunan tersebut,” tegas Trump, sembari menambahkan bahwa respons AS “mungkin lebih dahsyat daripada sebelumnya”.

    Namun demikian, Trump juga mengatakan dirinya mempercayai Iran masih tertarik pada kesepakatan dengan AS tentang program nuklir dan rudalnya. Teheran telah membantah tuduhan yang menyebut pihaknya sedang mengupayakan senjata nuklir.

    Sementara itu, Netanyahu mengatakan bahwa unjuk rasa yang sedang marak di Iran, untuk memprotes kesulitan ekonomi, telah “meluas secara signifikan”. Dia juga menegaskan bahwa Israel berdiri dalam solidaritas dengan rakyat Iran selama unjuk rasa berlangsung.

    “Kami berdiri dalam solidaritas dengan perjuangan rakyat Iran dan dengan aspirasi mereka untuk kebebasan, kemerdekaan, dan keadilan,” ucapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Korban Protes di Iran Bertambah, Trump Ultimatum Teheran

    Korban Protes di Iran Bertambah, Trump Ultimatum Teheran

    Jakarta

    Sedikitnya 16 orang dilaporkan tewas dalam gelombang protes yang berlangsung lebih dari sepekan di Iran, menurut laporan sejumlah kelompok hak asasi manusia yang dikutip Reuters. Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat jumlah korban serupa sejak aksi demonstrasi dimulai, adapun kelompok hak asasi Hengaw melaporkan angka kematian akibat bentrokan mencapai 17 orang.

    Selain korban tewas, aparat keamanan juga dilaporkan menangkap lebih dari 580 orang dalam operasi penertiban yang dilakukan di berbagai wilayah negara tersebut.

    Gelombang protes ini bermula dari kemarahan publik terhadap tingginya inflasi, melemahnya nilai tukar mata uang rial, serta memburuknya kondisi ekonomi yang meluapkan daya beli masyarakat. Dalam perkembangannya, aksi unjuk rasa yang awalnya bersifat lokal kemudian meluas dan menyebar ke berbagai kota besar, termasuk ibu kota Teheran, sejumlah wilayah di Iran barat, serta provinsi Baluchistan Selatan.

    Aksi ini pada awalnya digerakkan oleh para pedagang di kawasan bazar, sektor yang selama ini dikenal sebagai salah satu penopang ekonomi tradisional Iran. Protes bermula ketika pemerintah memutuskan penutupan lembaga publik demi menghemat bahan bakar. Protes pedagang kemudian diikuti oleh mahasiswa, pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya.

    Menurut data HRANA, demonstrasi telah terjadi di lebih dari 170 lokasi di 25 dari total 31 provinsi di Iran, menunjukkan luasnya penyebaran aksi protes tersebut.

    Para pengamat menilai skala geografis unjuk rasa ini mencerminkan tingkat ketidakpuasan publik yang meluas, meskipun intensitas dan jumlah massa di tiap daerah bervariasi. Gelombang protes kali ini disebut sebagai yang terbesar sejak 2022, ketika kematian Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun yang meninggal dunia dalam tahanan polisi moral, memicu demonstrasi nasional selama berbulan-bulan.

    Meski demikian, para aktivis dan analis menilai bahwa aksi protes saat ini belum mencapai tingkat mobilisasi dan eskalasi seperti pada 2022. Namun, meluasnya demonstrasi ke berbagai provinsi serta meningkatnya jumlah korban jiwa dan penangkapan menandakan potensi ketegangan yang masih dapat berkembang, terutama di tengah kondisi ekonomi Iran yang terus memburuk dan ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat yang dinilai semakin terbatas.

    Khamenei angkat bicara untuk pertama kalinya soal protes di Iran

    “Kami berbicara dengan para demonstran, para pejabat juga harus berbicara dengan mereka,” kata Khamenei. “Namun tidak ada manfaatnya berbicara dengan para perusuh. Para perusuh harus diberi pelajaran.”

    Khamenei juga kembali menuding keterlibatan pihak asing tanpa bukti. “Sekelompok orang yang diprovokasi atau dibayar oleh musuh berada di belakang para pedagang dan pemilik toko, meneriakkan slogan-slogan melawan Islam, Iran, dan Republik Islam,” ujarnya.

    Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal persetujuan bagi aparat keamanan, termasuk Garda Revolusi Iran dan kelompok paramiliter Basij, untuk menindak tegas aksi protes.

    Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta pendekatan yang lebih persuasif. Ia menyerukan agar aparat menanggapi demonstran secara “ramah dan bertanggung jawab”, seraya menegaskan bahwa, “masyarakat tidak dapat diyakinkan atau ditenangkan dengan pendekatan yang memaksa.”

    Bentrokan dan korban jiwa terus bertambah

    Kekerasan terus dilaporkan di sejumlah daerah. Di kota Qom, pusat konservatif dan pendidikan Syiah, dua orang tewas, termasuk satu korban akibat ledakan granat rakitan yang menurut otoritas keamanan sedang dibawa untuk menyerang warga. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kebakaran di sejumlah ruas jalan.

    Di kota Harsin, Provinsi Kermanshah, seorang anggota Basij, sayap sukarelawan Garda Revolusi Iran, dilaporkan tewas akibat serangan senjata api dan pisau. Media pemerintah juga melaporkan insiden kekerasan di Kabupaten Malekshahi, Provinsi Ilam, meski tanpa rincian lengkap.

    Kelompok Hengaw dan Iran Human Rights menuduh aparat keamanan Iran menembaki para demonstran. Tuduhan tersebut dibantah media semiresmi Fars yang mengklaim, tanpa menyertakan bukti, bahwa sebagian demonstran membawa senjata api dan granat.

    Trump ancam Iran terkait protes

    Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran damai. Trump menegaskan bahwa jika Teheran “membunuh demonstran damai secara brutal”, maka Amerika Serikat “akan datang untuk menyelamatkan mereka”.

    Meski tidak merinci bentuk intervensi yang dimaksud, pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Sejumlah pejabat Iran menanggapi ancaman itu dengan peringatan balasan, termasuk ancaman untuk menargetkan pasukan AS yang berada di kawasan Timur Tengah.

    Di tengah meningkatnya ketegangan politik dan keamanan, Iran juga menyatakan telah menghentikan pengayaan uranium di seluruh fasilitas nuklirnya sebagai sinyal keterbukaan terhadap kemungkinan negosiasi dengan negara-negara Barat.

    Namun hingga kini, pembicaraan tersebut belum terwujud. Sebaliknya, Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali memperingatkan Teheran agar tidak menghidupkan kembali program nuklirnya.

    Sementara itu, lembaga konsultan risiko politik Eurasia Group menilai bahwa gelombang protes yang terjadi di Iran tidak digerakkan oleh kekuatan oposisi yang terorganisir.

    “Iran tidak memiliki oposisi domestik yang terorganisir; para demonstran kemungkinan besar bergerak secara spontan,”

    meskipun demikian, kelompok tersebut menilai rezim Iran masih memiliki aparat keamanan yang besar dan solid, yang memungkinkan pemerintah menekan aksi protes tanpa kehilangan kendali atas negara.

    Editor: Rizki Nugraha

    (ita/ita)

  • Mossad Beri Pesan Khusus ke Demonstran Iran yang Protes Kondisi Ekonomi

    Mossad Beri Pesan Khusus ke Demonstran Iran yang Protes Kondisi Ekonomi

    Teheran

    Badan intelijen Israel, Mossad, memberikan seruan langsung untuk para demonstran Iran, yang menggelar aksi memprotes kondisi ekonomi yang sulit di negara tersebut. Mossad mendesak para demonstran Iran untuk melanjutkan protes mereka.

    Disebutkan juga oleh Mossad dalam seruannya, seperti dilansir AFP, Rabu (31/12/2025), bahwa mereka mendukung unjuk rasa itu “di lapangan”, ketika aksi protes meluas di ibu kota Teheran dan kota-kota Iran lainnya.

    “Turunlah ke jalan bersama-sama. Waktunya telah tiba. Kami bersama Anda,” tulis Mossad dalam postingan media sosial X, menggunakan bahasa Farsi, seperti dilaporkan radio militer Israel.

    “Bukan hanya dari jauh atau melalui kata-kata. Kami juga bersama Anda di lapangan,” imbuh postingan Mossad tersebut.

    Unjuk rasa ini dimulai sejak Minggu (28/12) waktu setempat oleh para pemilik toko dan pedagang di ibu kota Teheran, yang memprotes memburuknya kondisi ekonomi Iran. Aksi protes serupa telah menyebar ke kota-kota lainnya di wilayah Iran.

    Bahkan yang terbaru, unjuk rasa ini melibatkan para mahasiswa yang kini ikut berpartisipasi dalam protes tersebut.

    Nilai tukar mata uang Rial Iran telah jatuh terhadap dolar Amerika dan mata uang dunia lainnya, yang memaksa kenaikan harga impor dan merugikan para pedagang ritel.

    Seruan Mossad itu disampaikan setelah pembicaraan pekan ini yang berlangsung antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Usai pembicaraan itu, Trump memperingatkan Iran akan serangan baru jika negara itu melanjutkan pengembangan program nuklir atau rudal balistiknya.

    Israel dan Iran yang merupakan musuh bebuyutan, terlibat perang selama 12 hari pada pertengahan Juni lalu.

    Tel Aviv melancarkan gelombang serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Teheran, serta area-area permukiman di negara tersebut. Pada saat itu, Israel mengklaim serangannya bertujuan untuk melumpuhkan penelitian nuklir dan kemampuan rudal balistik Iran.

    Teheran membalas serangan rentetan serangan drone dan rudal terhadap target-target di Israel. AS, sekutu Israel, bergabung dalam perang itu dengan mengebom situs-situs nuklir Iran sebelum akhirnya gencatan senjata diumumkan.

    Iran, yang tidak mengakui Israel, telah sejak lama menuduh Tel Aviv melakukan operasi sabotase terhadap fasilitas nuklirnya dan membunuh para ilmuwan nuklir di negara tersebut.

    Teheran juga mendukung kelompok-kelompok militan di kawasan, sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai “poros perlawanan”. Poros itu mencakup Hizbullah dan Hamas, yang keduanya telah terlibat perang besar melawan Israel dalam dua tahun terakhir.

    Mantan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, dibunuh di Teheran pada Juli 2024 lalu dalam serangan yang dikaitkan dengan Israel.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Trump Ancam Serangan ke Iran Jika Terus Kembangkan Nuklir-Rudal

    Trump Ancam Serangan ke Iran Jika Terus Kembangkan Nuklir-Rudal

    Florida

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa negaranya dapat mendukung serangan besar lainnya, terutama oleh Israel, terhadap Iran jika negara itu terus melanjutkan pengembangan program rudal balistik atau senjata nuklirnya.

    Pernyataan bernada ancaman itu, seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Selasa (30/12/2025), disampaikan Trump setelah melakukan pertemuan tatap muka dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, pada Senin (29/12) waktu setempat.

    Komentar terbaru Trump ini mengisyaratkan bahwa Teheran mungkin sedang berupaya memulihkan program senjatanya setelah serangan besar-besaran Israel, yang didukung AS, pada Juni lalu.

    “Saya mendengar Iran berusaha membangun kembali, dan jika mereka melakukannya, kita harus menghancurkannya,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di Mar-a-Lago.

    “Kita akan melumpuhkan mereka,” tegasnya.

    Iran yang berperang selama 12 hari melawan Israel pada pertengahan Juni lalu, mengatakan pekan lalu bahwa mereka menggelar latihan rudal untuk kedua kalinya pada bulan ini. Netanyahu mengatakan pekan lalu bahwa Israel tidak mencari konfrontasi dengan Iran, tetapi menyadari laporan tersebut.

    Trump, dalam pernyataan kepada wartawan setelah pertemuan dengan Netanyahu, membahas soal upaya Iran membangun kembali persenjataan di lokasi-lokasi berbeda, setelah pengeboman Tel Aviv dan Washington pada Juni lalu memicu kerusakan pada fasilitas-fasilitas nuklir Teheran.

    “Saya telah membaca bahwa mereka sedang membangun persenjataan dan hal-hal lainnya, dan jika memang demikian, mereka tidak menggunakan situs-situs yang telah kita hancurkan, tetapi mungkin situs yang berbeda,” ucap Trump.

    “Kita mengetahui persis ke mana mereka bergerak, apa yang mereka lakukan, dan saya berharap mereka tidak melakukannya karena tidak ingin membuang bahan bakar untuk B-2,” kata Trump merujuk pada pesawat pengebom AS yang digunakan dalam serangan sebelumnya.

    Trump kemudian menambahkan bahwa dirinya tetap terbuka untuk menegosiasikan “kesepakatan”, yang disebutnya sebagai cara yang “jauh lebih cerdas”.

    Trump, yang membahas potensi kesepakatan nuklir dengan Iran dalam beberapa bulan terakhir, mengatakan bahwa pembicaraan dengan Netanyahu fokus membahas upaya mengatasi kekhawatiran Israel atas Iran dan Hizbullah, serta upaya memajukan kesepakatan perdamaian Gaza.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Trump Bilang Hamas Bakal Tanggung Akibatnya Jika Tolak Lucuti Senjata

    Trump Bilang Hamas Bakal Tanggung Akibatnya Jika Tolak Lucuti Senjata

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Hamas untuk segera melucuti senjata. Kata Trump, Hamas bakal menanggung akibatnya jika menolak itu.

    “Jika mereka tidak melucuti senjata seperti yang telah mereka sepakati, maka mereka akan menanggung akibatnya,” kata Trump dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida, dilansir kantor berita AFP, Selasa (30/12/2025).

    Trump mengatakan Hamas harus segera melucuti senjata. Dia menyebut hal itu harus dilakukan dalam waktu dekat.

    “Mereka harus melucuti senjata dalam waktu yang cukup singkat,” kata Trump.

    Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Netanyahu, yang telah mengambil sikap dalam melangkah ke tahap selanjutnya dari rencana gencatan senjata Gaza.

    “Saya tidak khawatir dengan apa pun yang dilakukan Israel,” kata Trump.

    Trump diketahui bertemu Netanyahu di Florida. Pertemuan membahas langkah selanjutnya dalam rencana gencatan senjata Gaza.

    Keduanya juga membahas Iran. Trump mengatakan bahwa jika Teheran membangun kembali fasilitas nuklirnya, Amerika Serikat akan “menghancurkannya.”

    Trump mengecilkan laporan tentang ketegangan dengan Netanyahu, dengan mengatakan bahwa “dia bisa sangat sulit” tetapi Israel “mungkin tidak akan ada” tanpa kepemimpinannya setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

    “Kami membahas sekitar lima topik utama, dan Gaza akan menjadi salah satunya,” kata Trump kepada wartawan di resor Mar-a-Lago miliknya menjelang pertemuan bilateral tersebut.

    (whn/whn)

  • Trump Bertemu Netanyahu di Florida AS, Bahas Gaza dan Iran

    Trump Bertemu Netanyahu di Florida AS, Bahas Gaza dan Iran

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida. Pertemuan membahas langkah selanjutnya dalam rencana gencatan senjata Gaza.

    Dilansir kantor berita AFP, Selasa (30/12/2025), keduanya juga membahas Iran. Trump mengatakan bahwa jika Teheran membangun kembali fasilitas nuklirnya, Amerika Serikat akan “menghancurkannya.”

    Trump mengecilkan laporan tentang ketegangan dengan Netanyahu, dengan mengatakan bahwa “dia bisa sangat sulit” tetapi Israel “mungkin tidak akan ada” tanpa kepemimpinannya setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

    “Kami membahas sekitar lima topik utama, dan Gaza akan menjadi salah satunya,” kata Trump kepada wartawan di resor Mar-a-Lago miliknya menjelang pertemuan bilateral tersebut.

    Trump kembali menyerukan Hamas untuk melucuti senjata sebagai bagian dari fase selanjutnya dari gencatan senjata Gaza bulan Oktober, setelah sayap bersenjata kelompok Palestina itu bersumpah untuk tetap mempertahankan senjatanya.

    “Harus ada pelucutan senjata terhadap Hamas,” kata Trump.

    (whn/whn)