Jakarta, CNN Indonesia —
Badai salju tak menghalangi para pendukung setia Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol untuk melakukan unjuk rasa membela sang presiden.
Bagikan:
url telah tercopy

Jakarta, CNN Indonesia —
Badai salju tak menghalangi para pendukung setia Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol untuk melakukan unjuk rasa membela sang presiden.
Bagikan:
url telah tercopy

Jakarta, CNN Indonesia —
Sekitar 60 juta warga Amerika Serikat dihantui badai salju dan musim dingin terparah di awal 2025.
Bagikan:
url telah tercopy

Jakarta, CNN Indonesia —
Puluhan lumba-lumba dan Cetacea ditemukan mati di Rusia imbas tumpahan kapal minyak.
Tumpahan minyak ini diketahui terjadi sejak 15 Desember 2024, ketika dua kapal tanker Rusia yang sudah tua terjebak dalam badai di Selat Kerch yang menghubungkan Krimea dan Rusia selatan.
Salah satunya tenggelam dan yang lainnya kandas, menumpahkan sekitar 2.400 ton bahan bakar minyak berat yang disebut mazut ke perairan di sekitarnya.
Pusat Delfa Rusia, yang menyelamatkan dan merehabilitasi lumba-lumba, mengatakan bahwa mereka mencatat 61 ekor Cetacea yang mati sejak kejadian tersebut, 32 di antaranya “kemungkinan besar” mati karena tumpahan minyak.
Cetacea sendiri adalah jenis mamalia air yang meliputi paus, lumba-lumba, dan lumba-lumba.
“Dilihat dari kondisi mayatnya, kemungkinan besar sebagian besar cetacea ini mati dalam 10 hari pertama setelah bencana,” tulis Pusat Delfa Rusia, dikutip dari AFP.
Mereka menyebut sebagian besar cetacea yang terbunuh adalah lumba-lumba Azov. Azov lumba-lumba adalah porpoise yang mirip lumba-lumba, namun lebih dekat kekerabatannya dengan beluga dan paus.
Pada Minggu (5/1), Kementerian Darurat Rusia mengatakan bahwa pihaknya sedang bekerja untuk membersihkan perairan tersebut setelah insiden terjadi, tetapi angin kencang dan ombak mendorong minyak ke beberapa pantai.
“Lebih dari 68 kilometer (42 mil) garis pantai telah dibersihkan,” katanya.
Dalam sebuah pernyataan lanjutan pada hari yang sama, kementerian tersebut mengatakan bahwa dua ceceran minyak baru telah ditemukan. Salah satunya berada di lepas pantai resor Anapa dan yang lainnya di teluk Kapsel.
Kantor berita TASS mengatakan ceceran minyak yang kedua terbentang sepanjang dua kilometer. Ratusan sukarelawan telah dikerahkan untuk mengambil tanah yang terkontaminasi dari pantai-pantai di Krimea dan di sepanjang pantai selatan Rusia.
Lebih lanjut, otoritas Rusia mengatakan jenis bahan bakar minyak yang terlibat dalam insiden ini sangat sulit untuk dibersihkan karena padat dan berat serta tidak mengapung di permukaan.
(lom/mik)
[Gambas:Video CNN]

TRIBUNNEWS.COM – Berikut update perang Rusia vs Ukraina hari ke-1048.
Presiden Ukraina, Voldymyr Zelensky meminta AS untuk memberikan jaminan keamanan terhadap Ukraina.
Terjadi 42 bentrokan tempur di wilayah Kursk, Rusia pada hari Minggu (5/1/2025).
Ledakan keras terdengar di dekat PLTN Zaporizhzhya Ukraina pada hari Minggu.
Selengkapnya, berikut update perang Rusia vs Ukraina hari ke-1048 dikutip dari TheGuardian:
Zelensky berharap dapat bertemu dengan Donald Trump setelah ia resmi dilantik sebagai presiden AS.
Dengan pertemuan tersebut, Zelensky ingin meminta jaminan kemanan bagi Kyiv dari AS.
Ia juga berharap bahwa Trump dapat membantu mengakhiri serangan Rusia di Ukraina.
Dalam wawancara dengan podcaster AS Lex Fridman yang diterbitkan pada hari Minggu, presiden Ukraina juga memperbarui seruannya agar Ukraina menjadi anggota NATO.
Pertempuran semakin memanas di Kursk pada hari Minggu (5/1/2025).
Rusia mengklaim bahwa Ukraina telah melancarkan serangan baru di wilayah Kursk, yang terletak di Rusia barat.
Serangan ini terjadi setelah lima bulan pertempuran intens yang melibatkan pasukan Rusia berusaha mengusir pasukan Ukraina dari wilayah tersebut.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim pada hari Minggu bahwa pasukan mereka berhasil memukul mundur serangan Ukraina.
Akan tetapi, para blogger militer Rusia melaporkan bahwa pertempuran sedang berlangsung sengit dan beberapa mengatakan bahwa pasukan Rusia berada di bawah tekanan berat.
Menurut staf umum Ukraina, pada hari Minggu tercatat sebanyak 42 bentrokan tempur di wilayah Kursk.
Dari jumlah tersebut, 12 bentrokan masih terjadi pada saat laporan tersebut dibuat.
Kepala Kantor Presiden Ukraina Andriy Yermak, memposting di Telegram mengenai “kabar baik” dari Kursk.
Ia mengatakan bahwa “Rusia mendapatkan apa yang pantas diterimanya.”
Meski begitu, kementerian pertahanan Rusia menyebutkan bahwa serangan tersebut telah berhasil dikalahkan.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) melaporkan sebuah ledakan keras terdengar di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhya, Ukraina pada hari Minggu (5/1/2025).
Laporan ledakan ini bertepatan dengan laporan serangan pesawat drone yang menghancurkan pusat pelatihan PLTN tersebut.
Namun kepala pengawas nuklir, Rafael Mariano Grossi mengatakan bahwa ledakan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa dan hingga saat ini dampaknya belum bisa dipastikan.
Kekerasan di Ukraina berlanjut dengan insiden penembakan di kota Nikopol, wilayah Dnipropetrovsk, di mana satu orang tewas dan satu lainnya terluka dalam serangan Rusia pada hari Minggu.
Di hilir Sungai Dnipro, serangan Rusia juga melanda kota Kherson, ibu kota wilayah Kherson, yang menyebabkan sedikitnya enam orang terluka.
Pejabat Ukraina mengklaim bahwa Moskow telah mengirimkan total 103 drone ke arah kota tersebut.
Namun dari jumlah tersebut, angkatan udara Ukraina mengklaim telah menghancurkan 61 drone dan 42 lainnya hilang.
Perang ini juga membawa dampak lingkungan yang menakutkan.
Puluhan mamalia laut ditemukan mati sejak terjadinya tumpahan minyak oleh dua kapal tanker Rusia di Laut Hitam pada 15 Desember lalu.
Kapal-kapal tanker tersebut terjebak dalam badai di Selat Kerch, yang menghubungkan Krimea dengan Rusia selatan.
Ini menyebabkan tumpahan sekitar 2.400 ton bahan bakar minyak berat ke perairan Laut Hitam.
Pusat Delfa, yang fokus pada penyelamatan dan rehabilitasi lumba-lumba, melaporkan bahwa 61 cetacea, sejenis mamalia laut yang meliputi paus, lumba-lumba, dan pesut, telah ditemukan mati akibat kejadian ini.
(Tribunnews.com/Farrah Putri)
Artikel Lain Terkait Perang Rusia vs Ukraina

TRIBUNNEWS.COM – Badai musim dengan dengan salju dan suhu beku telah menerjang sebagian besar wilayah AS pada hari Minggu (5/1/2025).
Lebih dari 60 juta orang terdampak akibat badai salju ini.
Hal ini disebabkan karena badai diperkirakan akan membawa hujan salju terberat dan suhu terdingin dalam lebih dari satu dekade.
National Weather Service (NWS) melaporkan bahwa sebagian besar wilayah Kanada dan 30 negara bagian AS dari Kansas hingga Pantai Timur berada dalam peringatan cuaca, dikutip dari BBC.
Keadaan darurat telah diumumkan di Kentucky, Virginia, West Virginia, Kansas, Arkansas, dan Missouri.
NWS juga menjelaskan bahwa terdapat 2 negara bagian yang memiliki cuaca paling parah.
“Di dua negara bagian tempat peringatan badai salju diberlakukan, perjalanan bisa jadi sangat sulit bahkan mustahil, dengan salju yang bertiup kencang dan mengurangi jarak pandang,” kata NWS, dikutip dari The Guardian.
Mereka juga memperingatkan kepada warga di beberapa negara bagian untuk tidak keluar rumah.
“Jangan bepergian kecuali jika diperlukan!” kata NWS.
Cuaca ekstrem ini disebabkan oleh pusaran kutub, area udara dingin yang bersirkulasi di sekitar Kutub Utara.
Badai tersebut, yang diperkirakan membawa salju setebal 15 inci ke sebagian Central Plains, juga menimbulkan badai salju dan kondisi es serta angin kencang yang berbahaya saat bergerak ke tengah Atlantik, dikutip dari NBC News.
Beberapa bagian di utara New York telah mengalami hujan salju setinggi sedikitnya 3 kaki.
Washington DC bersiap menghadapi hujan salju.
Akibat badai ini, Washington DC telah mengumumkan keadaan darurat.
Sebagian besar pekerja federal nondarurat di Washington, DC, malam ini diminta untuk tinggal di rumah besok karena badai musim dingin yang berbahaya bergerak dari titik barat daya.
Peringatan badai salju telah dikeluarkan di Kansas, Missouri, dan Nebraska.
Beberapa bagian di Missouri utara telah mengalami hujan es dan salju setebal 14 inci.
Pada Sabtu malam, salju lebat yang meluas kemungkinan terjadi antara Kansas bagian tengah dan Indiana, khususnya di sepanjang dan utara Interstate 70.
Sebagian jalan tol ditutup di Kansas bagian tengah pada sore hari.
Total salju dan hujan es yang terkumpul di beberapa bagian Kansas dan Missouri bagian utara diperkirakan setinggi 14 inci (35,6 cm), dikutip dari Reuters.
Total salju turun antara enam dan 12 inci (15 hingga 30 cm) diperkirakan turun dari Ohio selatan hingga Washington.
Di Kentucky utara dan Virginia Barat selatan, hujan es dan hujan es akan menghasilkan akumulasi es yang berbahaya.
Sementara itu, badai di bagian belakang sistem badai menghasilkan badai petir hebat yang dapat memicu tornado di Arkansas, Louisiana, Mississippi, dan Alabama.
(Tribunnews.com/Farrah)

Jakarta –
Badai dahsyat musim dingin melanda wilayah Amerika Serikat (AS). Badai dahsyat itu bergerak menuju wilayah Atlantik tengah, saat Washington DC tengah bersiap mengesahkan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.
Dilansir Reuters, Senin (6/1/2025), badai musim dingin membawa salju, es, dan suhu beku ke sebagian besar wilayah AS pada hari Minggu (5/1). Setidaknya ada 60 juta orang yang berada di belasan negara bagian terancam.
Kini, Washington D.C. bersiap menghadapi salju lebat yang menusuk usai badai tersebut dilaporkan bergerak menuju Atlantik tengah. Di hari yang sama, Kongres AS akan menggelar pertemuan untuk mengesahkan pemilihan Donald Trump dari Partai Republik sebagai presiden.
Ketua DPR dari Partai Republik Mike Johnson mengatakan kepada Fox News bahwa cuaca tidak akan menghalangi anggota parlemen untuk melaksanakan tugas mereka. Namun, diinformasikan kantor manajemen personalia, kantor-kantor federal di ibu kota negara akan ditutup.
Kansas dan beberapa bagian Missouri barat laut mengalami kondisi badai salju hingga Minggu sore. Merujuk laporan otoritas setempat, jalan raya diselimuti salju dan es, dan pejabat mewanti-wanti penduduk untuk menghindari perjalanan.
Total salju setinggi antara enam dan 12 inci (15 hingga 30 cm) diperkirakan turun dari Ohio selatan hingga Washington.
Di Kentucky utara dan Virginia Barat selatan, hujan es dan hujan es akan menghasilkan “akumulasi es yang berbahaya,” kata laporan dari National Weather Service (NWS).
Foto: Badai Musim Dingin Bikin Jalanan AS Memutih Tertutup Salju . Foto: Getty Images via AFP/CHASE CASTOR
Badai tersebut menyebabkan ratusan penerbangan, termasuk lebih dari 275 penerbangan di Kansas City dan St. Louis, menurut situs web pelacakan penerbangan FlightAware.
Pemerintah di beberapa negara bagian, termasuk Kansas, Kentucky, Arkansas, Virginia Barat, dan Virginia, mengumumkan keadaan darurat.
Badai akan bergerak ke lepas pantai pada Senin malam, tetapi udara Arktik yang sangat dingin akan bergerak di belakangnya, dengan suhu siang hari pada Senin dan Selasa diperkirakan 10 hingga 20 derajat F di bawah rata-rata dari Great Plains hingga Pantai Timur, kata NWS.
(taa/yld)

Jakarta, CNN Indonesia —
Para ilmuwan dari Badan Antariksa Eropa (ESA) tengah bersiap untuk menciptakan gerhana Matahari buatan melalui misi luar angkasa revolusioner yang disebut Proba-3.
Misi ini melibatkan dua satelit yang akan terbang dalam formasi presisi untuk menciptakan bayangan di ruang angkasa, mirip dengan efek gerhana Matahari, namun berlangsung lebih lama dan dapat diprediksi dengan tepat.
Proba-3 adalah proyek pertama ESA yang menggunakan teknik formation flying di orbit. Dua satelit akan berputar mengelilingi Bumi dengan posisi yang diklaim tidak akan pernah menyimpang meskipun hanya beberapa milimeter.
Teknologi ini memungkinkan satelit-satelit tersebut bekerja sama untuk menghasilkan fenomena unik berupa gerhana Matahari buatan.
Satelit pretama membawa cakram penutup (occulter disc) berdiameter 1,4 meter yang dirancang untuk menghalangi cahaya Matahari. Sementara itu, satelit kedua yang berada di belakangnya dilengkapi instrumen untuk mengamati korona Matahari, yaitu lapisan luar atmosfer Matahari. Gabungan kedua satelit ini menciptakan instrumen raksasa sepanjang 150 meter yang disebut koronagraf.
Jika semuanya berjalan lancar, peluncuran akan dilakukan dari Satish Dhawan Space Centre di India pada Rabu sore waktu setempat 4.08 pm atau 18.38 WIB. Setelah menempuh perjalanan selama empat bulan, kedua satelit akan mencapai orbit elips yang memungkinkan mereka mendekati Bumi sejauh 595 km hingga sejauh lebih dari 59.545 km.
Selama dua tahun, sejoli satelit ini akan melakukan manuver formasi selama enam jam setiap orbitnya, yang memakan waktu total 19,7 jam. Dengan kemampuan ini, Proba-3 diproyeksikan menciptakan hingga 50 gerhana buatan per tahun, masing-masing berlangsung hingga enam jam.
Manfaat ilmiah misi Proba-3
Pengamatan korona matahari selama gerhana buatan ini diharapkan memberikan wawasan baru tentang salah satu misteri terbesar dalam fisika Matahari: mengapa suhu korona jauh lebih panas daripada permukaan matahari itu sendiri.
Permukaan Matahari berada pada suhu sekitar 5.500 derajat Celsius, sementara korona dapat mencapai lebih dari 1 juta derajat Celsius.
Selain itu, data dari Proba-3 akan membantu ilmuwan memahami cuaca Matahari, seperti pelepasan massa koronal (coronal mass ejections) dan badai Matahari, yang dapat berdampak pada satelit, jaringan listrik, dan komunikasi di Bumi.
Proba-3 juga berfungsi sebagai ujian untuk teknologi masa depan. ESA akan menggunakan misi ini untuk menguji manuver yang dapat berguna dalam misi penyelamatan satelit rusak atau pembersihan puing-puing di orbit.
“Ini adalah eksperimen di luar angkasa untuk menunjukkan konsep baru, teknologi baru,” kata Damien Galano, manajer proyek Proba di ESA, mengutip The Guardian, Sabtu (30/11).
Teknik formation flying ini membuka peluang baru untuk membangun teleskop dan instrumen luar angkasa yang lebih besar dengan menggabungkan beberapa satelit dalam formasi presisi. Misalnya, instrumen berbasis multi-satelit ini dapat digunakan untuk mempelajari krisis iklim, mempelajari objek di tata surya, hingga mendeteksi planet di luar angkasa sistem bintang kita.
“Jika kita mampu menempatkan beberapa satelit berdekatan satu sama lain dalam formasi yang mutlak, akurat, dan presisi, kita akan mampu merakit instrumen yang lebih besar yang tersusun dari beberapa satelit,” tutur Dietmar Pilz, direktur teknologi di ESA.
Misi senilai €200 juta atau sekitar Rp3,3 triliun ini diharapkan menghasilkan data pertama pada Maret 2025.
(wnu/dmi)
[Gambas:Video CNN]

TRIBUNNEWS.COM – Sejak akhir pekan kemarin, ribuan warga Korea Selatan berkumpul di dekat kediaman Presiden Yoon Suk Yeol, protes digelar sehari sebelum surat perintah penangkapan Yoon berakhir.
Aksi ini dilakukan para pendukung Yoon untuk menghalangi Badan Antikorupsi Korea Selatan atau The Corruption Investigation Office for High-ranking Officials (CIO) yang akan menjemput paksa Presiden Yoon yang dimakzulkan.
Di bawah guyuran hujan salju, ribuan demonstran membentangkan plakat bertuliskan “Kami akan berjuang untuk Presiden Yoon Suk Yeol”.
Tak hanya itu pendukung Yoon juga turut melontarkan kalimat “Hentikan Pencurian”, sebuah ungkapan yang dipopulerkan oleh para pendukung Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump setelah ia kalah dalam pemilihan presiden 2016.
“Salju tidak ada apa-apanya bagi saya. Mereka bisa membawa semua salju dan kami akan tetap di sini,” kata pengunjuk rasa anti-Yoon Lee Jin-ah (28) mengutip dari Channel News Asia.
“Saya berhenti dari pekerjaan saya untuk melindungi negara dan demokrasi kita,” katanya, seraya menambahkan bahwa dia berkemah di luar kediamannya semalaman.
Dukungan serupa juga dilontarkan Park Young-chul (70) ia mengatakan badai salju tidak akan menghalanginya untuk mendukung Yoon sebelum surat perintah penggeledahan berakhir pada tengah malam pada hari Senin.
Unjuk rasa mulai pecah setelah Yoon mengatakan dia menonton protes untuk mendukung pemerintahannya di siaran langsung YouTube dan berjanji untuk ‘melawan’ mereka yang mencoba mempertanyakan perebutan kekuasaannya yang berumur pendek.
Kronologi Konflik Politik Korsel
Konflik politik Korsel memanas setelah para anggota parlemen Korea Selatan memutuskan untuk mencopot Presiden Yoon Suk Yeol dari jabatannya sebagai presiden Korsel pada Sabtu (14/12/2024).
Pemakzulan sah dilakukan usai 204 dari 300 anggota parlemen anggota memilih untuk memakzulkan presiden atas tuduhan pemberontakan.
Sementara 85 anggota parlemen memilih menolak dan tiga anggota memilih abstain, dengan delapan suara dibatalkan.
Atas putusan parlemen ini, Yoon kini resmi dimakzulkan dan diberhentikan sementara dari jabatannya,
Langkah ini dilakukan dengan dalih untuk meringankan “penderitaan rakyat” setelah dekrit darurat militernya yang berlaku singkat.
Tak lama surat perintah penangkapan Yoon diajukan tim investigasi ke Pengadilan Distrik Barat Seoul, atas tuduhan pemberontakan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Adapun pengajuan surat penangkapan Yoon Suk Yeol dilakukan setelah presiden Korea Selatan itu mengabaikan tiga panggilan untuk hadir dalam proses interogasi.
Pengadilan Tolak Permohonan Penangguhan
Merespon surat yang diajukan dari tim investigasi Badan Antikorupsi Korea Selatan (CIO) Pengadilan Distrik Barat Seoul secara mengejutkan menolak permohonan penahanan dan penggeledahan presiden Yoon.
Pengadilan belum mengungkapkan rincian terkait alasan penolakan tersebut, dikutip Yonhap.
Namun keputusan ini diambil hanya beberapa hari setelah tim hukum Yoon mengajukan keberatan dan menyebut surat perintah tersebut sebagai tindakan “ilegal.”
Dengan penolakan tersebut maka CIO berhak menahan Presiden Yoon guna diinterogasi terkait dugaan keterlibatannya dalam upaya darurat militer yang gagal pada 3 Desember lalu.
Selain itu, surat perintah juga mencakup penggeledahan kompleks kediaman presiden yang terletak di pusat kota Seoul.
Akan tetapi pada 3 Januari kemarin CIO gagal menjemput paksa Presiden Yoon lantaran para penyidik dihadang oleh pendukung Yoon saat hendak masuk ke kediaman rumah sang eks presiden itu.
CIO akhirnya membatalkan upaya penangkapan Yoon karena kekhawatiran atas keselamatan personilnya akibat penghalangan.
Kendati demikian, CIO berjanji akan menjemput paksa Presiden Korsel yang dimakzulkan Yoon Suk Yeol pada hari ini, Senin (6/1/2025).
(Tribunnews.com / Namira Yunia)