Tag: Badai

  • Bertahan Tanpa PHK, Ini Strategi MHI Hadapi Krisis di Bisnis Ritel Elektronik

    Bertahan Tanpa PHK, Ini Strategi MHI Hadapi Krisis di Bisnis Ritel Elektronik

    Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah badai krisis global yang melanda berbagai sektor ekonomi sejak pandemi COVID-19 hingga fluktuasi nilai tukar dolar, Mitra Hub Indonesia (MHI) mampu bertahan di industri ritel elektronik.

    CEO MHI Choi Taesung mengklaim perusahaannya tetap stabil dan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, bahkan saat tekanan ekonomi sedang tinggi-tingginya.

    “Saat banyak pelaku ritel terdampak oleh penurunan daya beli dan gangguan rantai pasok selama pandemi, MHI memilih untuk tidak mengambil jalan pintas berupa efisiensi tenaga kerja,” kata Choi dalam keterangan tertulis, Kamis (17/7/2025).

    Sebaliknya, perusahaan melakukan adaptasi strategis seperti memperkuat kanal penjualan digital, mendiversifikasi fungsi tim lapangan, dan memaksimalkan kemitraan dengan brand utama seperti Samsung.

    Tidak hanya bertahan, MHI bahkan mencatat pertumbuhan signifikan di masa pandemi. Dalam periode 2020 hingga 2022, perusahaan berhasil membuka lebih dari 20 toko baru di berbagai wilayah strategis, sebuah langkah ekspansi yang kontras dengan tren penyusutan yang dialami banyak pelaku ritel lain.

    “Karyawan bukan sekadar aset, mereka adalah wajah dan denyut bisnis kami di mata konsumen. Keputusan untuk tidak melakukan PHK adalah bagian dari komitmen jangka panjang terhadap keberlanjutan,” tambah Choi.

    Strategi ini terbukti efektif. Setelah pandemi mereda, MHI mampu melakukan pemulihan operasional dengan cepat tanpa harus membangun ulang tim dari nol. Dengan sistem manajemen yang fleksibel dan kontrol operasional yang disiplin, MHI justru tumbuh stabil di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

    “Ketahanan bukan dibangun saat krisis datang. Itu dibentuk jauh sebelum badai muncul, lewat keputusan-keputusan kecil yang konsisten dan penuh tanggung jawab.”

    Keberhasilan MHI menjaga stabilitas bukan hanya menjadi contoh manajemen krisis yang efektif, tetapi juga menunjukkan bahwa ritel elektronik masih bisa dijalankan secara beretika dan berkelanjutan, bahkan dalam masa-masa paling sulit.

    MHI yang didirikan oleh Choi Taesung pada tahun 2014 merupakan mitra resmi Samsung di Indonesia. Mengelola lebih dari 77 cabang di Pulau Jawa, MHI membawahi berbagai format toko seperti Samsung Experience Store, Samsung Store, dan Samsung by MHI.

    “Sejak awal, kami membangun MHI dengan prinsip bahwa bisnis bukan hanya soal untung, tapi juga soal menjaga ekosistem manusia yang ada di dalamnya,” pungkas Choi.

  • Pengamat harap pemerintah buka kembali ruang negosiasi soal tarif AS

    Pengamat harap pemerintah buka kembali ruang negosiasi soal tarif AS

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    Pengamat harap pemerintah buka kembali ruang negosiasi soal tarif AS
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Kamis, 17 Juli 2025 – 16:44 WIB

    Elshinta.com – Pengamat hubungan internasional dan investasi Zenzia Sianica Ihza mengharapkan Pemerintah Indonesia membuka kembali ruang negosiasi soal tarif impor sebesar 19 persen terhadap produk Indonesia yang masuk ke Amerika Serikat (AS) agar bisa diturunkan lagi.

    “Kita memberi terlalu banyak. Sementara, tarif 19 persen masih tergolong tinggi dan membebani pelaku ekspor kita. Harusnya negosiasi ulang. Jangan puas dengan angka 19 persen, karena itu belum mengembalikan posisi kita seperti sebelum badai tarif diberlakukan,” ujar Zenzia dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

    Menurut dia, jika dihitung secara keseluruhan, maka produk Indonesia tetap dikenai beban tarif hampir 29 persen, karena tarif dasar 10 persen yang berlaku otomatis.

    “Jadi, sebenarnya bukan hanya 19 persen, tetapi 19 ditambah 10. Itu tetap tinggi dan tidak fair,” katanya.

    Ia menyebut Indonesia berada dalam posisi yang sebenarnya punya pengaruh kuat.

    Permintaan Trump agar Indonesia membeli 50 jet Boeing dan investasi energi senilai 15 miliar dolar AS menunjukkan bahwa Washington juga membutuhkan Jakarta dalam konteks ekonomi dan geopolitik.

    “Kalau kita setuju membeli pesawat dan investasi energi, kenapa tidak meminta tarif turun ke angka yang lebih wajar, misalnya di bawah 10 persen? Negosiasi itu harus dua arah, bukan hanya menerima dikte,” ujarnya.

    Zenzia menyebut dalam merespons tekanan tarif dari Trump, beberapa negara justru mampu menunjukkan posisi tawar yang lebih kokoh. China, misalnya, secara terbuka melakukan perlawanan dengan tarif balasan.

    Sementara, Vietnam memilih jalan diplomasi yang akomodatif, tetapi tetap menjaga kepentingan domestiknya.

    “Vietnam bisa menurunkan tensi sambil menjaga keuntungan, bahkan justru mereka mampu menarik relokasi industri dari China. Kita seharusnya belajar dari itu,” ucapnya.

    Kebijakan tarif Trump merupakan lanjutan dari pendekatan ekonomi America First yang diluncurkan sejak masa kampanye 2016.

    Di bawah semangat proteksionisme, Trump melihat tarif sebagai alat tawar utama untuk meraih kesepakatan dagang yang lebih menguntungkan bagi AS.

    Tarif menjadi bentuk tekanan atau dalam istilah hubungan internasional, credible threat, yang secara rasional dirancang untuk menghasilkan respons kompromistis dari negara mitra.

    “Sayangnya, Indonesia terlalu cepat menunjukkan sikap akomodatif tanpa memperjuangkan pengimbangan yang setara,” tutur Zenzia.

    Respons ideal, menurut Zenzia, bukanlah menolak keras atau bersikap pasrah, yang dibutuhkan Indonesia adalah diplomasi rasional dan strategi negosiasi berimbang.

    Dengan pendekatan tersebut, kompromi masih bisa dicapai tanpa mengorbankan kepentingan nasional.

    “Kita harus cermat. Tidak perlu frontal seperti China, tetapi juga jangan lunak. Negosiasi perlu berpegang pada prinsip saling menguntungkan,” katanya.

    Menurut dia, penurunan tarif Trump dari 32 menjadi 19 persen memang terlihat sebagai kabar baik, namun jika dibaca dalam konteks keseluruhan, terutama dengan komitmen besar pembelian Boeing dan investasi energi di AS, justru menunjukkan bahwa Indonesia memberikan terlalu banyak untuk hasil yang belum sepadan.

    Ia juga mengatakan jika tarif bea masuk naik seperti ini, selain akan menurunkan daya saing produk negara yang terdampak, sekaligus punya efek bagi konsumen akhir, yaitu warga AS sendiri. Akibat kebijakan tarif itu, harga barang impor dari Indonesia yang masuk ke AS mengalami kenaikan 19 sampai 29 persen.

    “Dalam jangka panjang ini akan menjadi bumerang bagi AS karena dunia usaha akan membebankan kenaikan tarif ini ke konsumen dalam negeri AS. Ini jelas akan punya dampak bagi mereka,” kata Zenzia.

    Sumber : Antara

  • Istana Belum Bisa Jelaskan Soal Klaim Trump Miliki Akses Penuh ke Indonesia

    Istana Belum Bisa Jelaskan Soal Klaim Trump Miliki Akses Penuh ke Indonesia

    GELORA.CO – Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) Juri Ardiantoro angkat bicara soal Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang mengklaim mendapatkan akses penuh atas kesepakatan tarif impor dengan RI. Diketahui, RI mendapatkan tarif impor sebesar 19 persen.

    Namun, dia belum menjelaskan rinci maksud dari pernyataan Trump. Alasannya, Presiden baru saja tiba di tanah air usai menjalankan rangkaian kunjungan kerja ke sejumlah negara di Kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, dan Eropa.

    “Ya, kan Pak Presiden baru saja tiba di Tanah Air ya dan tentu kita tahu semua sudah membaca banyak sekali hasil yang diperoleh dari lawatan ke beberapa negara di luar negeri oleh Pak Presiden. Pak Presiden juga sudah menyampaikan keberhasilan di dalam negosiasi dengan Amerika Serikat terkait dengan penerapan tarif,” ujar Juri kepada wartawan, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (17/7/2025).

    Lebih lanjut, terkait tarif dagang, Presiden Prabowo juga melakukan komunikasi langsung dengan Presiden Trump pada Selasa (15/7) malam. Meski belum membeberkan secara rinci isi obrolan tersebut, dia meminta untuk menunggu detail maksud dari pernyataan Trump.

    “Itu kita tunggu saja nanti detailnya ya. Apa yang dimaksud dengan full access dan kira-kira apa yang menjadi kebijakan kita setelah ini,” kata dia.

    Lebih lanjut, terkait kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Indonesia dia menyebut kementerian dan lembaga akan menindaklanjuti hal-hal yang sudah menjadi kesepakatan dua negara.

    “Dan secara teknis tentu nanti pemerintah, terutama Kementerian/Lembaga yang terkait akan menindaklanjuti apa yang sudah menjadi kesepakatan-kesepakatan tarif dagang. Jadi kita tunggu saja,” jelasnya.

    Sebelumnya, badai tarif impor Amerika Serikat (AS) yang sempat menghantui produk Indonesia akhirnya mereda. Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan penurunan tarif impor bagi barang dari Indonesia menjadi 19 persen, lebih rendah dari angka sebelumnya yang dipatok 32 persen.

    Keputusan ini disampaikan Trump sebagai bagian dari kesepakatan dagang bilateral.

    “Mereka akan membayar 19 persen dan kami tidak akan membayar apapun… kami akan memiliki akses penuh ke Indonesia, dan kami memiliki beberapa kesepakatan yang akan diumumkan,” tegas Trump, Selasa (15/7/2025) waktu setempat, seperti dikutip dari Reuters.

    Tak hanya itu, Trump juga blak-blakan soal komitmen Indonesia dalam perjanjian ini. Jakarta sepakat membeli 50 jet Boeing, ditambah dengan energi AS senilai US$15 miliar dan produk pertanian Amerika senilai US$4,5 miliar.

    “Banyak di antaranya adalah Boeing 777,” imbuh Trump.

  • Penjelasan Ilmiah Soal Banjir Dahsyat Mematikan di Texas

    Penjelasan Ilmiah Soal Banjir Dahsyat Mematikan di Texas

    Jakarta

    Banjir dahsyat yang melanda Texas, Amerika Serikat (AS) pada 4 Juli 2025 menjadi banjir paling mematikan dalam sejarah AS modern, menewaskan lebih dari 100 orang.

    Sebanyak 27 korban tewas di antaranya adalah anak perempuan dan konselor di sebuah perkemahan musim panas di Kerr County. Mereka terendam banjir ketika Sungai Guadalupe di dekatnya meluap setinggi 7,6 meter hanya dalam 45 menit.

    “Ini skenario terburuk untuk gelombang air yang sangat ekstrem, tiba-tiba, dan nyata. Saya rasa itu bukan berlebihan dalam kasus ini, berdasarkan keterangan saksi mata dan ilmu pengetahuan yang terlibat,” kata Daniel Swain, ilmuwan iklim di University of California, Los Angeles, dikutip dari Climate Connections, Rabu (16/7/2025).

    Para ilmuwan akan membutuhkan waktu untuk melakukan studi ‘atribusi’ yang tepat, misalnya untuk menentukan berapa banyak hujan tambahan yang dapat mereka ‘salahkan’ sebagai penyebab perubahan iklim. Namun secara umum, bencana ini memiliki jejak perubahan iklim di mana-mana, badai fenomena konspirasi yang sempurna, baik di atmosfer maupun di darat.

    “Bagi mereka yang masih skeptis bahwa krisis iklim itu nyata, ada sinyal dan jejak perubahan iklim yang begitu jelas dalam peristiwa semacam ini,” kata Jennifer Francis, ilmuwan senior di Woodwell Climate Research Center.

    Menghangatnya Teluk Meksiko

    Tragedi ini sebenarnya dimulai ratusan kilometer di tenggara, di tengah laut. Seiring menghangatnya planet ini, suhu Teluk Meksiko meningkat beberapa derajat Celcius. Hal ini menjadikannya sumber bahan bakar raksasa bagi badai yang bergerak menuju Pantai Teluk, karena badai tersebut memakan air laut yang hangat.

    Bahkan ketika badai tidak sedang terjadi, Teluk Meksiko mengirimkan lebih banyak uap air ke atmosfer. Kondisi ini sama seperti ketika cermin kamar mandi akan berembun ketika kita mandi air panas. Demikian juga halnya dengan yang terjadi di Teluk Meksiko, hal ini mendorong udara basah dan tidak stabil semakin tinggi ke atmosfer, mengembun menjadi awan.

    Saat sistem ini melepaskan panas, mereka menjadi semakin tidak stabil, menciptakan awan badai yang menjulang tinggi yang dapat menurunkan curah hujan ekstrem. Bahkan, sebelum banjir, jumlah uap air di atas Texas berada pada atau di atas rekor tertinggi sepanjang masa untuk bulan Juli, menurut Swain.

    “Itu cukup luar biasa, mengingat tempat ini mengalami udara yang sangat lembab saat ini,” kata Swain.

    Artinya, sistem tersebut memiliki kelembaban yang dibutuhkan untuk hujan deras, ditambah ketidakstabilan yang menciptakan badai petir yang membuat hujan turun dengan sangat cepat. Badai ini menurunkan curah hujan 2 hingga 4 inci per jam, dan bergerak sangat lambat, sehingga pada dasarnya terhenti di atas lanskap. Ilmuwan menggambarkannya seperti selang pemadam kebakaran atmosfer raksasa yang membasahi Texas Tengah.

    Kondisi Tanah Texas

    Keadaan diperburuk dengan kondisi tanah di bagian Texas yang didominasi batu kapur, yang tidak mudah menyerap air hujan dibandingkan dengan tempat-tempat dengan lapisan tanah tebal di permukaannya. Air hujan mengalir deras menuruni bukit dan lembah, lalu berkumpul di sungai, itulah sebabnya Sungai Guadalupe naik begitu cepat.

    “Artinya, tidak banyak air hujan yang akan meresap ke dalam tanah, sebagian karena tanahnya dangkal dan sebagian lagi karena lerengnya curam, sehingga air dapat mengalir cukup cepat,” kata John Nielsen-Gammon, ahli iklim negara bagian Texas dan direktur Southern Regional Climate Center di Texas A&M University.

    Inilah jenis presipitasi yang meningkat paling cepat dalam iklim yang memanas, tambah Swain. Di California, misalnya, periode kondisi ekstrem basah dan ekstrem kering yang bergantian menciptakan ‘gejolak cuaca’. Seiring memanasnya perairan dunia, lebih banyak uap air yang dapat menguap ke atmosfer.

    Berdasarkan beberapa hukum fisika dasar, semakin hangat suhu, semakin banyak uap air yang dapat ditampung atmosfer, sehingga potensi curah hujan yang lebih deras pun lebih besar.

    “Teluk Meksiko baru-baru ini mengalami beberapa gelombang panas laut, sehingga menambah panas ke atmosfer, sehingga memicu hujan ekstrem,” kata Brett Anderson, ahli meteorologi senior di AccuWeather.

    “Di banyak tempat ini, banjir dengan frekuensi 1 banding 100 tahun mungkin akan menjadi 1 banding 50, bahkan 1 banding 10,” imbuhnya.

    Terdampak Efisiensi

    Estimasi awal AccuWeather memperkirakan kerugian ekonomi akibat banjir antara USD18 miliar hingga USD22 miliar. Pemerintahan Donald Trump memang melakukan efisiensi dengan pemangkasan staf secara signifikan di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) awal tahun ini, tetapi masih terlalu dini untuk menyimpulkan mengapa beberapa warga setempat tidak menerima peringatan dini bahaya banjir.

    National Weather Service memang telah memberikan beberapa peringatan banjir, dan beberapa orang melaporkan bahwa mereka menerima peringatan di ponsel mereka, yang mendorong mereka untuk mengungsi. Namun, dengan begitu banyak orang yang meninggal atau hilang, mereka tidak menerima peringatan atau tidak cukup memahami bahaya yang mereka hadapi.

    Para pejabat di Kerr County sebelumnya mempertimbangkan sistem peringatan dini yang lebih kuat untuk banjir Sungai Guadalupe, tetapi akhirnya tidak jadi menerapkannya karena dianggap terlalu mahal. Bagi para gadis dan staf di perkemahan musim panas, banjir bandang datang di waktu yang paling buruk, dini hari saat mereka sedang tidur.

    “Menurut saya, dan ini tampaknya menjadi pandangan umum para ahli meteorologi, ini sebenarnya bukan kegagalan meteorologi. Menurut saya, prediksi Badan Meteorologi memang tidak sempurna, tetapi sudah sebaik yang diharapkan mengingat kondisi sains saat ini,” kata Swain.

    Swain memperingatkan bahwa jika pemerintah AS benar akan melakukan pemangkasan lebih lanjut anggaran NOAA, prakiraan banjir bisa jadi lebih buruk. “Itu benar-benar bisa menjadi bencana besar, 100% akan menyebabkan hilangnya nyawa,” tegasnya.

    (rns/fay)

  • Video: Prabowo Nego Tarif Trump – 10 Jurusan Kuliah Paling Disesali

    Video: Prabowo Nego Tarif Trump – 10 Jurusan Kuliah Paling Disesali

    Jakarta, CNBC Indonesia – Prabowo Subianto mengaku telah melakukan negosiasi langsung dengan Donald Trump.Sementara itu, Badai phk masih terus berlanjut di tahun 2025. Para lulusan kuliah juga kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan standar masing-masing.

    Selengkapnya saksikan di Program Evening Up CNBC Indonesia, Rabu (16/07/2025).

  • Sekolah Rakyat, Revolusi Duafa Pasukan Thariq bin Ziyad

    Sekolah Rakyat, Revolusi Duafa Pasukan Thariq bin Ziyad

    Jakarta – Tanggal 14 Juli 2025, sebuah gerakan senyap merayap di 63 titik di sejumlah daerah di Tanah Air. Laksana titik api membara yang membakar barisan bukit jerami. Asap putih pembakaran muncul tipis-tipis. Isyarat genderang revolusi jiwa tengah bergolak dari kedalaman nurani yang meronta. Dari gejolak jiwa yang datang menyambut tantangan masa depan. Bagaikan gelegak jiwa Panglima Perang Thariq Bin Ziyad saat pertama menjejak semenanjung Iberia.

    Gejolak jiwa setelah ia memerintahkan segenap pasukannya membakar kapal-kapal perang yang membawa mereka dari Maroko menuju Isbania. “Wahai pasukanku! Ke manakah kalian hendak melarikan diri? Musuh di depanmu dan lautan ganas di belakang siap menelan? Demi Allah! Tak ada keselamatan bagi kalian kecuali dalam keberanian dan keteguhan hati. Timbanglah situasi kalian saat ini; berdiri di sini bagai anak-anak yatim yang terlontar ke dunia!”

    “Di depan sana, kalian akan segera bertemu musuh yang kuat. Mengepung kalian dari segala penjuru bagaikan gelombang samudera yang bergejolak. Maka buanglah segala ketakutan dari hati kalian. Percayalah, kemenangan akan menjadi milik kita dan percayalah musuh-musuh tak akan mampu bertahan menghadapi serangan kita. Jika aku terbunuh sebelum mendekati (Roderick, Raja Isbania), maka jangan kalian bersusah hati karena diriku!”

    “Tetaplah bertempur seolah aku masih hidup di tengah kalian. Sebab, musuh-musuh kita akan langsung kehilangan daya dan perlawanan saat melihat raja mereka jatuh. Mereka pastilah akan lari kocar-kacir. Namun jika aku terbunuh setelah kita berhasil menewaskan raja mereka itu, (maka) tunjuklah seseorang di antara kalian, yang di dalam dirinya terdapat jiwa keberanian dan kecakapan pengalaman, mampu memimpin kalian dalam situasi genting ini,” seru Thariq.

    Pasukan Duafa

    Barisan muda kaum duafa itu jumlahnya ribuan. Menyebar di seluruh Indonesia. Bergerak dengan kaki penuh energi. Pergi dengan tangan tergenggam. Pergi dengan dada mengembang. Berteriak dengan lantang, suaranya bertenaga. Dilepas bersama gelombang doa. Diharap kembali penuh kemenangan. Kembali dengan semangat baru, jiwa baru, dan penuh percaya diri. Kembali lewat peta jalan hidup baru. Peta yang mampu menaklukkan badai kehidupan.

    Laskar duafa muda yang lahir dari keluasan hati orang tua yang tiada memiliki tanah selain tanah Tuhan. Orang tua yang keringatnya asin akibat tiada hari tanpa berenang di lautan kehidupan nan garang. Orang tua yang tulang dan otot-ototnya mengeras akibat melawan terjangan angin malam nan kejam. Orang tua yang ujian hidupnya tak pernah ada dalam pelajaran di sekolah manapun. Orang tua yang lupa cara menanyakan nasib kepada Mikail.

    Tanggal 14 Juli 2025, semangat juang Thariq Bin Ziyad seperti muncul kembali di langit Nusantara. Seorang jenderal dari Dinasti Umayyah, yang memimpin penaklukan Andalusia pada tahun 711 M. Ia dikenal karena keberanian, strategi militer, dan pidatonya yang membakar semangat juang pasukan sebelum pertempuran. Penaklukan ini menandai awal dari periode kekuasaan Islam yang berlangsung selama berabad-abad di Semenanjung Iberia. Kini Thariq di sini.

    Suaranya menggelegar, bak membakar kesadaran kita. Menggugah anak-anak Indonesia yang sekian tahun hidup dalam batin terkungkung. Terkungkung akibat jalan hidup yang terlalu terjal untuk batas kemampuan mereka. Kini, melalui gagasan Presiden Prabowo Subianto, suara Thariq Bin Ziyad, datang lagi menyemangati pasukan yang tak punya pilihan selain maju. Menoleh ke belakang, hanya akan melihat masa lalu yang mengintai dan siap menerkam.

    Wong Cilik

    Dengan menyitir pernyataan mantan gubernur Jawa Timur, Mohammad Noer soal kaum duafa, Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, sering mengutipnya bak sebuah mantra. “Agawe Wong Cilik Melu Gemuyu.” (membuat rakyat kecil ikut tertawa). Ungkapan ini disampaikan di SU Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Maret 1973, sebagai Ketua Fraksi Utusan Daerah. Sejak itu ia sering disebut dengan “gubernurnya rakyat kecil”. Ia akrab disapa dengan Cak Noer.

    Dengan redaksi yang lebih sederhana, Presiden Prabowo Subianto mengutip pernyataan itu saat pelantikan dirinya, 20 Oktober 2024 lalu. “Wong cilik iso gemuyu.” Dan empat kata ini juga yang selalu menjadi pengantar setiap kali Mensos menjelaskan bisnis proses serta tugas dan fungsi Kemensos lewat konsep “12 PAS”. Kelompok sasaran utama kesejahteraan sosial. Kelompok ini meliputi semua lapisan masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

    “Kefakiran itu mendekatkan kepada kekufuran,” begitu sering disitir para guru. Namun begitu, semua orang paham bahwa kefakiran adalah perantara yang dikirim Tuhan agar bisa menjadikannya ladang beramal saleh. Ke mana pun pergi, semua perangkat dan aparatur negara, dan terutama Kementerian Sosial, membawa misi perlindungan, jaminan, rehabilitasi, dan pemberdayaan sosial. “Jangan pernah abai terhadap tugas dan fungsi ini.”

    Sejak 14 Juli 2025 lalu, misi dipertajam pendekatannya. Didekatkan langsung ke jantung permasalahan. Permasalahan kemiskinan yang akut. Laksana gelegar suara Thariq Bin Ziyab, kini teriakan para Kepala Sekolah yang telah menjalani masa retreat, para guru yang sudah menerima materi pelajaran khas, para tenaga kependidikan yang telah dilatih khusus, para siswa yang terpilih karena tekad ingin mendobrak kebekuan nasib, berbaiat tak kan mundur walau selangkah.

    Doa dalam Diam

    Hari itu, Senin 14 Juli 2025, Pelan tapi pasti. Derap langkah kaki dan batin ribuan duafa muda. Atas dasar niat yang kuat, tekad yang menjulang, semangat yang bergelora, memancangkan tiang nasib di masa depan. Mereka bersiap menyeberangi sungai kehidupan yang curam. Menuju Sekolah Rakyat. Sungai yang belum ditaklukkan. Satu yang pasti, diam-diam dari pelosok negeri, ada doa bersama yang mengalir deras, sederas gelombang elektromagnetik.

    Doa para orang tua, doa para handai taulan, doa para tetangga, doa para guru, doa seluruh anak bangsa, turut serta melepas laskar duafa bak Thariq melepas pasukannya ke medan tempur. Hari itu, bangsa Indonesia bersatu dalam doa demi Sekolah Rakyat. “Duhai Tuhan! Menyayangi fakir miskin adalah titah-Mu. Kuatkan kami untuk membersamai mereka. Kuatkan anak-anak kami. Kuatkan kami dalam segala keadaan. Kuatkan bangsa kami di saat belajar patuh dan taat pada firman-Mu.”

    Ishaq Zubaedi Raqib, Staf Khusus Menteri Sosial RI

    (anl/ega)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Mitigasi Hujan Ekstrem Akibat Perubahan Iklim, Jepang Perluas Gorong-gorong Raksasa

    Mitigasi Hujan Ekstrem Akibat Perubahan Iklim, Jepang Perluas Gorong-gorong Raksasa

    Jakarta – Jepang rentan terhadap berbagai bencana alam, mulai dari gempa, letusan gunung berapi, tsunami, hingga topan, dan tanah longsor. Seperti sebagian besar dunia, negara ini menghadapi cuaca ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat perubahan iklim dan pemanasan global.

    Jaringan gorong-gorong di Prefektur Saitama adalah salah satu mitigasi negara ini dalam menghadapi hujan ekstrem. Sejak beroperasi pada 2006, kompleks terowongan raksasa ini sangat diandalkan mengalirkan air banjir dan mencegah kerusakan senilai lebih dari 150 miliar yen, menurut perkiraan Kementerian Pertanahan Jepang.

    Gorong-gorong ini menjalankan tugasnya dengan baik, yakni mencegah banjir di aliran sungai yang rentan di wilayah tersebut. Namun, karena pemanasan global menyebabkan cuaca lebih ekstrem, pihak berwenang melakukan perbaikan besar-besaran pada sistem tersebut, bahkan memperluasnya.

    “Sering meningkatnya suhu, jumlah uap air di atmosfer meningkat, sehingga menghasilkan curah hujan yang relatif lebih besar,” kata professor Seita Emori dari Universitas Tokyo, pada Oktober 2024, dikutip dari Japan Times.

    Foto: Getty Images

    “Kami memperkirakan bahwa curah hujan yang sebelumnya tidak terlihat akan turun seiring dengan meningkatnya suhu di masa mendatang,” tambah profesor anggota kelompok ilmu iklim yang memenangkan Hadiah Nobel pada 2007 ini.

    Jaringan gorong-gorong yang juga disebut kompleks katedral ini (karena pilar-pilarnya membuatnya menyerupai bangunan katedral), secara resmi disebut Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC) atau Saluran Pembuangan Bawah Tanah Wilayah Luar Metropolitan. Dibangun selama 13 tahun, kompleks MAOUDC menelan biaya 230 miliar yen.

    Selain kecanggihan tekniknya, kompleks ini juga menjadi tempat wisata dan lokasi syuting popular. Hamparan luasnya mampu menampung air dengan kapasitas setara 100 kolam renang ukuran Olimpiade.

    Di dalamnya terdapat 59 pilar raksasa, masing-masing berbobot 500 metrik ton dan tinggi 18 meter. Ketika sungai-sungai di dekatnya meluap, luapan air mengalir melalui terowongan bawah tanah raksasa sepanjang 6,3 km sebelum terkumpul di waduk.

    Saat Topan Shanshan melanda, sistem ini menangkap air yang cukup untuk mengisi hampir empat kali stadion bisbol Tokyo Dome, sebelum memompanya dengan aman ke Sungai Edogawa dan mengalirkannya ke laut.

    “Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ada kecenderungan hujan lebat turun sekaligus dalam apa yang kami sebut hujan gerilya,” kata Yoshio Miyazaki, pejabat Kementerian Pertanahan yang bertanggung jawab atas kompleks tersebut.

    “Jika fasilitas ini tidak ada, permukaan air Sungai Nakagawa utama dan anak-anak sungainya bisa naik jauh lebih tinggi, yang dapat mengakibatkan banjir, bahkan kematian,” ujarnya.

    Meski begitu, sistem tersebut tidak mampu menghentikan banjir yang melanda lebih dari 4.000 rumah di daerah aliran sungai tersebut akibat hujan topan lebat pada Juni 2023. Banjir tersebut mendorong pemerintah untuk memulai proyek yang berlangsung selama tujuh tahun senilai 37,3 miliar yen untuk memperkuat tanggul dan drainase air di wilayah tersebut.

    Foto: Getty Images

    Lebih dekat ke pusat kota Tokyo, proyek besar lainnya sedang berjalan untuk menghubungkan kanal-kanal yang menampung luapan Sungai Shirako dan Sungai Kanda. Setelah selesai pada 2027, kanal ini akan mengalirkan air banjir sekitar 13 km di bawah tanah ke Teluk Tokyo.

    Jaringan pembuangan Tokyo dirancang untuk menangani curah hujan hingga 75 milimeter per jam. Namun, semakin banyak badai lokal yang membawa curah hujan hingga 100 mm, sehingga membebani sistem secara berlebihan, kata Shun Otomo, manajer lokasi konstruksi untuk proyek tersebut.

    “Misalnya, jika terjadi hujan deras sementara di daerah aliran Sungai Kanda, kita bisa memanfaatkan kapasitas daerah aliran sungai di wilayah yang tidak hujan. Kami yakin itu akan efektif melawan hujan gerilya ini,” kata Otomo.

    (rns/rns)

  • Kapal Terbalik di Perairan Mentawai, 11 Orang Hilang
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        14 Juli 2025

    Kapal Terbalik di Perairan Mentawai, 11 Orang Hilang Regional 14 Juli 2025

    Kapal Terbalik di Perairan Mentawai, 11 Orang Hilang
    Tim Redaksi
    PADANG, KOMPAS.com –
    Sebuah
    speed boat
    atau kapal cepat yang membawa 18 orang terbalik di perairan Pagai, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Senin (14/7/2025).
    Speed boat itu terbalik diduga akibat badai yang terjadi saat melintas dari Sikakap menuju Tua Pejat.
    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mentawai, Lahmudin, mengatakan, 11 penumpang dilaporkan hilang dan 7 orang selamat setelah berenang ke pulau terdekat.
    “Mereka selamat dengan berenang ke pulau terdekat di Mapinang,” jelas Lahmudin saat dihubungi Kompas.com, Senin (14/7/2025) malam.
    Lahmudin mengatakan, saat ini pihaknya bersama tim SAR, TNI, Polri, serta tim Pemkab Mentawai turun ke lokasi untuk melakukan pencarian.
    “Tim SAR datang dengan dua kapal besar untuk pencarian,” kata Lahmudin.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Perubahan Iklim Nyata! Banjir dan Hujan Ekstrem Serentak di Banyak Negara

    Perubahan Iklim Nyata! Banjir dan Hujan Ekstrem Serentak di Banyak Negara

    Jakarta

    Tak hanya di Indonesia, hujan ekstrem dan banjir melanda banyak negara saat ini, dengan berbagai dampak serius terhadap kehidupan manusia dan infrastruktur. Perubahan iklim pun memperburuk peristiwa ini, menyebabkan curah hujan lebih sering dan intens, naiknya permukaan air laut, dan meningkatnya gelombang badai.

    Ilmuwan iklim Daniel Swain dari California Institute for Water Resources within University of California Agriculture and Natural Resources menyebutkan, meskipun tidak mungkin mengatakan bahwa peristiwa cuaca tertentu disebabkan oleh perubahan iklim, kemungkinan besar curah hujan ekstrem dan banjir telah diperparah perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

    “Ada banyak bukti bahwa ini adalah salah satu jenis peristiwa cuaca ekstrem yang telah meningkat secara signifikan di seluruh dunia akibat pemanasan yang telah terjadi,” ujarnya seperti dikutip dari ABC News, Senin (14/7/2025).

    “Yang saya maksud secara spesifik adalah peristiwa hujan yang sangat ekstrem, baik yang berada di batas atas atau melampaui apa yang pernah kita lihat sebelumnya. Ada bukti kuat bahwa peristiwa-peristiwa tersebut akan, dan memang sudah, meningkat akibat pemanasan,” lanjutnya.

    Swain mengatakan ramalan dari National Weather Services akurat, tetapi bahkan proyeksi terbaik pun tidak dapat memprediksi intensitas spesifik atau lokasi pasti di mana banjir akan terjadi beberapa hari atau minggu terburuk sebelumnya.

    Andrew Dessler, seorang profesor ilmu atmosfer dan direktur Texas Center for Extreme Weather di Texas A&M University, mengatakan salah satu prediksi tertua ilmu iklim adalah bahwa peristiwa hujan lebat akan menjadi lebih intens.

    “Alasan utamanya adalah udara yang lebih hangat menyimpan lebih banyak air. Jadi, saat udara hangat dan lembap ini mengalir ke dalam badai dan mulai naik dalam badai petir, semua air akan terkuras habis,” ujarnya.

    Mengambil contoh banjir parah yang terjadi di Texas baru-baru ini, Dessler menyebut ini ada kaitannya dengan teluk, yang berbatasan dengan Texas, yang saat ini menjadi jauh lebih hangat karena perubahan iklim.

    Hal ini mengakibatkan perairan menjadi sangat hangat yang menghasilkan banyak penguapan, melepaskan lebih banyak uap air tropis ke udara daripada yang pernah terlihat sebelumnya.

    “Tergantung di mana Anda berada, udara lembap itu dipaksa naik saat mendaki topografi. Oleh karena itu, udara tersebut mendingin dan mengembun menjadi awan ketika atmosfer mendukung terjadinya badai petir,” jelasnya.

    Jennifer Marlon, ilmuwan peneliti senior di Yale School of the Environment mengatakan banjir bandang selalu terjadi, tetapi pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil memperburuknya.

    Untuk mengurangi dampak perubahan iklim, Dessler mengatakan AS dan negara-negara lain di dunia perlu mengambil tindakan dengan meningkatkan sistem peringatan, meningkatkan infrastruktur untuk menangani banjir dengan lebih baik, dan beralih ke tenaga surya dan angin.

    Ia mengatakan tenaga surya dan angin tidak hanya lebih baik bagi lingkungan, tetapi juga lebih murah dibandingkan bahan bakar fosil.

    “Selama kita terus membakar bahan bakar fosil, ini tidak akan membaik. Kita berada di dunia dengan peristiwa yang lebih intens, dan kita seharusnya melihat ke depan dan bertanya, ‘Bagaimana kita mencegahnya menjadi lebih buruk?,” kata Dessler.

    Marlon setuju, dan mengatakan perubahan seperti itu perlu datang dari kepemimpinan dan bahwa para pemimpin harus menanggapi perubahan iklim dengan serius.

    “Para pemimpin juga dapat menyampaikan kepada negara dan masyarakat tentang rencana mereka untuk mengatasi masalah jangka panjang perubahan iklim. Warga dapat bertanya kepada para pemimpin bagaimana mereka membantu negara kita bertransisi ke energi terbarukan, yang merupakan satu-satunya cara untuk mengatasi akar permasalahan ini,” tutupnya.

    (rns/rns)

  • Video Badai Efisiensi Trump Mulai Hantam NASA?

    Video Badai Efisiensi Trump Mulai Hantam NASA?

    Video Badai Efisiensi Trump Mulai Hantam NASA?