Tag: Badai

  • Detik-detik Mobil BYD Tersambar Petir di Rest Area

    Detik-detik Mobil BYD Tersambar Petir di Rest Area

    Jakarta

    Mobil BYD tiba-tiba tersambar petir saat berjalan di sebuah rest area kawasan Beihai, Guangxi. Beruntung tak ada korban dari kejadian tersebut.

    Mobil listrik BYD Song Plus tersambar petir sebanyak tiga kali secara berturut-turut saat melintasi rest area Tieshan di kawasan Beihai, Guangxi. Dalam rekaman video dashcam, tampak detik-detik dramatis BYD Song Plus EV disambar petir di bagian atap mobil. Kilatan cahaya diiringi sambaran listrik secara cepat menyambar. Mobil yang tengah jalan itu pun seketika berhenti sejenak dengan kondisi wiper masih menyala.

    Diberitakan Car News China, meski disambar listrik cukup intens, pengemudi tetap aman di dalam mobil. Saat keluar mobil tak ada luka di tubuhnya. Selanjutnya sistem motor listrik berupa baterai, kontrol listrik, dan motor listrik juga dilaporkan tetap utuh.

    Kondisi atap mobil BYD usai tersambar petir. Foto: Dok.Sanyan Tech

    Insiden itu jadi sorotan. Mobil pun kabarnya langsung dicek kondisinya. Menurut laporan dari teknisi dealer profesional yang dikutip media China Sanyan Tech, usai memeriksa secara menyeluruh, tidak ada tanda-tanda korsleting pada paket baterai daya kendaraan, unit control listrik, ataupun motor listriknya. Ketiga komponen inti pada mobil listrik itu sepenuhnya aman.

    Pemeriksaan tersebut memang menyasar pada dua titik berbeda yang terkena sambaran petir. Namun kedua titik atap mobil yang tersambar itu tak mengalami kerusakan parah. Dalam foto hanya terlihat di bagian eksterior hanya sedikit terkelupas. Para ahli menjelaskan bahwa di bagian dalam mobil berbodi logam yang tertutup rapat adalah tempat relatif aman sekalipun tersambar petir akibat adanya efek ‘Faraday Cage’.

    Ketika petir menyambar, arus listrik mengalir melalui bodi logam ke tanah. Dengan begitu, penumpang di dalam tetap aman karena mereka berada pada potensial listrik yang sama dengan bodi kendaraan, sehingga tercegah dari sengatan listrik. Bila mengalami kejadian serupa, penumpang disarankan trak buru-buru turun dan sebaiknya meminta bantuan ahli. Bagi pengemudi, bila terjebak dalam badai petir atau terburuknya tersambar petir, maka direkomendasikan untuk segera mematikan semua perangkat elektronik, termasuk mobil, sistem audio, dan radio. Pastikan kendaraan seluruhnya dalam kondisi tertutup. Penumpang diminta untuk tetap berada di dalam mobil selama 30 menit setelah petir terakhir, sebelum keluar dari mobil.

    (dry/lth)

  • Golkar 100 Persen Dukung Prabowo Ketimbang Geng Solo, Kader: Sami’na Wa Athona pada Kekuasaan

    Golkar 100 Persen Dukung Prabowo Ketimbang Geng Solo, Kader: Sami’na Wa Athona pada Kekuasaan

    FAJAR.CO.ID, KAKARTA — Kader Partai Golkar Maman Abdulrahman menyatakan partainya 100 persen mendukung Presiden Prabowo Subianto. Ketimbang Geng Solo.

    Itu diungkapkan Menteri Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) itu di sebuah siniar di YouTube Akbar Faizal Uncensored.

    Mulanya, pembawa acara program itu, Akbar Faizal menanyakan, apakah bersama Prabowo atau Geng Solo.

    Akbar Faizal sendiri tak menyebut siapa yang dimaksud Geng Solo. Meski begitu, julukan itu kerap disematkan kepada Presiden ke-7 Joko Widodo dan kerabatnya.

    “Pokoknya bersama dengan Pak Prabowo dan tidak bersama Solo?” ujar Akbar.

    Maman pun menimpali. Bahwa pihaknya tegas bersama Prabowo.

    “Tegas. 100 persen kita dukung Pak Prabowo (2029),” ujarnya.

    Di sisi lain, ia mengatakan partainya akan tetap bersama Prabowo. Apapun keputusannya.

    “Apapun keputusan yang diambil Pak Prabowo, apapun ceritanya akan kita amankan,” ujar Maman.

    Di Golkar, kata dia, para kader diajarkan untuk tegak lurus dengan kekuasaan.

    “Mau ada angin topan badai kayak bagaimanapun. Mau enak tak enak. Kita itu doktrinnya kekaryaan. Kita itu samikna waathona kepada kekuasaan,” jelasnya.

    “Kemerdekaan atau kemerdekaan bandul politik negara ini, harus betul-betul ada di istana negara,” sambung Maman.
    (Arya/Fajar)

  • Dunia Lagi Cari Pabrik Baru, Indonesia Tinggal Duduk Manis!

    Dunia Lagi Cari Pabrik Baru, Indonesia Tinggal Duduk Manis!

    Jakarta

    Tari impor yang dikenakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke lebih dari 90 negara mulai berlaku. Menurut Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari, Indonesia bisa mengambil peluang di tengah situasi tersebut.

    Pranjul menilai tarif tersebut memang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia, meskipun persentasenya hanya 0,3%. Namun, dampak itu akan dirasakan dalam kurun waktu singkat apabila Indonesia dapat memanfaatkan peluang.

    Pranjul menjelaskan saat ini rantai pasok global tengah disusun ulang, terutama sektor manufaktur, barang-barang konsumen, furniture hingga tekstil. Produsen-produsen multinasional banyak mencari tujuan baru sebagai tempat memproduksi dan menjual barang.

    “Perusahaan multinasional mencari tujuan baru di mana mereka dapat berproduksi dan menjual. Dan menurut saya adalah, setelah badai tarif mereda, Indonesia sebenarnya dapat diuntungkan,” kata Pranjul dalam acara Media Briefing yang disiarkan secara daring, Jumat (8/8/2025).

    Pranjul menerangkan, saat ini ekspor Indonesia ke China hampir 100% berupa komoditas. Sedangkan, jika menilik ekspor Indonesia ke beberapa negara maju, seperti di Uni Eropa dan AS, lebih banyak ekspor produk konsumsi, seperti tekstil, furnitur, hingga alas kaki.

    Namun, persentase ekspor produk tersebut masih kecil. Misalnya, kontribusi ekspor pakaian jadi Indonesia hanya 25%. Angka ini masih kalah dibandingkan dengan ekspor pakaian jadi Vietnam.

    “Dunia di mana produsen akan mencari tujuan baru, Indonesia dapat mengangkat tangannya dan berkata, ‘Lihat, kita sudah memproduksi barang-barang ini’. Kita dapat meningkatkannya dan melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan investasi dan pertumbuhan perusahaan,” jelas Pranjul.

    Namun, hal tersebut dapat direalisasikan jika pemerintah Indonesia melakukan peningkatan dalam beberapa hal, seperti infrastruktur, perjanjian perdagangan, pengembangan sumber daya manusia, dan mempermudah perizinan.

    “Jika Indonesia dapat melakukan semua ini dengan benar, saya pikir dalam jangka waktu dua hingga tiga tahun, ini bisa menjadi peluang bagi arus masuk FDI (Foreign Direct Investment) dan pertumbuhan,” terang dia.

    Simak juga Video: Pupuk Indonesia akan Bangun Pabrik Metanol, Antisipasi Impor Besar-besaran

    (rea/fdl)

  • 9 Agustus Ada Sturgeon Moon, Ini Julukan Purnama Setiap Bulannya

    9 Agustus Ada Sturgeon Moon, Ini Julukan Purnama Setiap Bulannya

    Jakarta

    Pada Sabtu, 9 Agustus 2025, langit menampilkan fenomena purnama yang punya julukan Sturgeon Moon (Bulan Sturgeon). Di dunia Barat, setiap purnama memiliki julukannya masing-masing.

    Purnama terjadi saat Bumi tepat berada di antara Matahari dan Bulan. Hal ini menyebabkan permukaan Bulan akan sepenuhnya diterangi cahaya Matahari.

    Nama Sturgeon Moon sendiri menjadi julukan khusus yang diberikan pada fenomena purnama yang terjadi di bulan Agustus. Penamaan ini biasanya didasarkan pada musim tanam atau panen dan musim berlayar berdasarkan kalender para petani dan nelayan suku asli Amerika dan Eropa.

    Berikut adalah nama-nama purnama dalam setahun setiap bulannya, dikutip dari Royal Museum Greenwich.

    Nama-nama Purnama Setiap Bulan

    Januari: Wolf Moon (Bulan Serigala)

    Purnama Januari dinamai Wolf Moon karena bertepatan dengan banyaknya serigala yang melolong lapar karena kelangkaan makanan di tengah musim dingin. Nama lain untuk purnama termasuk Old Moon (Bulan Tua) dan Ice Moon (Bulan Es).

    Februari: Snow Moon (Bulan Salju)

    Cuaca Februari yang biasanya dingin dan bersalju di Amerika Utara membuat purnama ini disebut Snow Moon (Bulan Salju). Storm Moon (Bulan Badai) dan Hunger Moon (Bulan Kelaparan) adalah nama-nama lain dari purnama ini.

    Maret: Worm Moon (Bulan Cacing)

    Suku Indian Amerika menyebut purnama terakhir musim dingin Worm Moon. Penamaan ini diambil dari jejak cacing yang muncul di tanah yang baru mencair. Nama-nama lainnya termasuk Chaste Moon (Bulan Suci), Death Moon (Bulan Kematian), Crust Moon (Bulan Kerak), dan Sap Moon (Bulan Getah) yang diambil dari suara ketukan pohon maple.

    April: Pink Moon (Bulan Merah Muda)

    Penduduk asli Amerika Utara menyebut purnama April sebagai Pink Moon, diambil dari nama spesies bunga liar yang mekar lebih awal. Dalam budaya lain, bulan ini disebut Sprouting Grass Moon (Bulan Rumput yang Tumbuh), Egg Moon (Bulan Telur), dan Fish Moon (Bulan Ikan).

    Mei: Flower Moon (Bulan Bunga)

    Banyak budaya menyebut purnama Mei sebagai Flower Moon karena bertepatan dengan waktu mekarnya bunga-bunga yang melimpah saat musim semi tiba. Nama-nama lainnya termasuk Hare Moon (Bulan Kelinci, Corn Planting Moon (Bulan Penanaman Jagung), dan Milk Moon (Bulan Susu).

    Juni: Strawberry Moon (Bulan Stroberi)

    Di Amerika Utara, panen stroberi setiap Juni menjadi asal muasal penyebutan purnama tersebut. Orang Eropa menyebutnya Rose Moon (Bulan Mawar), sementara budaya lain menyebutnya Hot Moon (Bulan Panas) untuk menandai dimulainya musim panas.

    Juli: Buck Moon (Bulan Tanduk Rusa)

    Rusa jantan, yang melepaskan tanduknya setiap tahun, mulai menumbuhkannya kembali di bulan Juli. Oleh karena itu, penduduk asli Amerika menamai purnama Juli sebagai Buck Moon. Beberapa budaya ada juga yang menyebutnya Thunder Moon (Bulan Guntur), karena badai musim panas di bulan ini. Nama lainnya termasuk Hay Moon (Bulan Jerami), yang diambil dari musim panen jerami di bulan Juli.

    Agustus: Sturgeon Moon (Bulan Ikan Sturgeon)

    Suku nelayan Amerika Utara menyebut purnama Agustus sebagai Sturgeon Moon karena spesies tersebut muncul dalam jumlah banyak selama bulan ini. Bulan ini juga disebut Green Corn Moon (Bulan Jagung Hijau), Grain Moon (Bulan Gandum) dan Red Moon (Bulan Merah) karena warna kemerahan yang sering muncul saat kabut musim panas.

    September: Corn Moon (Bulan Jagung)

    Purnama September Corn Moon karena pada saat itulah jagung dipanen di akhir musim panas. Pada saat ini, Bulan tampak sangat terang dan terbit lebih awal, sehingga petani dapat terus memanen hingga malam. Bulan ini juga terkadang disebut Barley Moon (Bulan Barley), dan sering kali merupakan purnama terdekat dengan ekuinoks musim gugur, sehingga mendapat julukan Harvest Moon (Bulan Panen).

    Oktober: Hunter’s Moon (Bulan Pemburu)

    Setelah bulan panen, tibalah bulannya para pemburu. Oktober adalah bulan yang disukai untuk berburu rusa dan rubah yang digemukkan di musim panas dan tidak dapat bersembunyi di ladang kosong. Seperti purnama di musim panen, Hunter’s Moon sangat terang dan panjang di langit, memberi kesempatan kepada pemburu untuk mengintai mangsa di malam hari. Nama lain dari purnama ini termasuk Travel Moon (Bulan Pengembaraan) dan Dying Grass Moon (Bulan Rumput yang Sekarat).

    November: Beaver Moon (Bulan Berang-berang)

    Ada perbedaan pendapat mengenai asal usul nama Beaver Moon untuk purnama November. Sebagian mengatakan nama itu berasal dari penduduk asli Amerika yang memasang perangkap berang-berang selama bulan ini, sementara yang lain mengatakan nama itu berasal dari aktivitas berang-berang yang membangun bendungan musim dingin mereka. Nama lain purnama November adalah Frost Moon (Bulan Es).

    Desember: Cold Moon (Bulan Dingin)

    Datangnya musim dingin membuat purnama Desember disebut Cold Moon. Nama lain purnama Desember termasuk Long Night Moon (Bulan Malam Panjang) dan Oak Moon (Bulan Pohon Ek).

    (rns/fyk)

  • Malapetaka di China Menggila, Kota Lumpuh-Bandara Tumbang

    Malapetaka di China Menggila, Kota Lumpuh-Bandara Tumbang

    Jakarta, CNBC Indonesia – Hujan ekstrem yang mengguyur kawasan selatan China selama beberapa hari terakhir telah melumpuhkan sebagian wilayah dan memicu kekhawatiran serius akan penyebaran penyakit, kerugian ekonomi, dan bencana alam susulan.

    Pada Rabu (6/8/2025), pemerintah dan tim penyelamat kini berlomba melawan waktu untuk mengatasi kerusakan, memulihkan infrastruktur, dan mencegah wabah semakin luas.

    Guangzhou, ibu kota provinsi Guangdong, menjadi salah satu kota yang paling parah terdampak dengan curah hujan terberat kedua abad ini pada bulan Agustus. Bandara Baiyun, yang termasuk salah satu bandara tersibuk di dunia, terpaksa membatalkan 363 penerbangan dan menunda 311 lainnya akibat badai yang menggila.

    Kondisi serupa juga terjadi di Hong Kong dan kota-kota teknologi tinggi di kawasan Delta Sungai Mutiara. Pada hari sebelumnya, hujan tercatat sebagai yang terlebat untuk Agustus sejak 1884.

    Langit berwarna kelam mengguyur kota-kota besar dengan derasnya air, menyebabkan tanah longsor, tumbangnya pepohonan, dan jalan-jalan berubah menjadi sungai berlumpur.

    Tim penyelamat di Guangdong berupaya membuka saluran air dan memompa genangan dari wilayah-wilayah perkotaan. Media pemerintah menyebutkan, kerusakan parah juga terlihat pada jalan-jalan raya yang terkikis hingga memperlihatkan kabel dan infrastruktur bawah tanah.

    Wabah Chikungunya

    Salah satu ancaman terbesar yang kini menghantui adalah potensi penyebaran wabah chikungunya. Hujan deras yang menyebabkan genangan air di berbagai wilayah menciptakan lingkungan ideal bagi nyamuk penyebar virus.

    Foshan, kota yang terletak di sebelah barat Guangzhou, menjadi pusat penyebaran utama, dengan lebih dari 7.000 kasus telah dilaporkan sebelumnya di seluruh Guangdong.

    Gambar dan video dari lapangan menunjukkan betapa parahnya situasi di mana jalanan tergenang lumpur, sementara warga dan petugas berusaha mengevakuasi dan menyelamatkan warga yang terjebak.

    “Upaya pencarian dan penyelamatan masih berlangsung, dengan seluruh sumber daya yang tersedia dikerahkan untuk menemukan dan mengevakuasi warga yang terjebak,” kata juru bicara militer Suneel Bartwal, dilansir Reuters.

    Pemerintah provinsi mengakui bahwa beberapa minggu ke depan akan menjadi masa yang sangat menantang dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit.

    “Musim banjir yang diperparah oleh topan dan hujan lebat meningkatkan aktivitas nyamuk secara drastis,” ungkap otoritas setempat.

    Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah PBB, fenomena banjir dan kekeringan yang lebih intens merupakan sinyal bahaya dari krisis iklim yang sedang memperburuk siklus air global.

    Adapun sebanyak 16 sungai di provinsi Guangdong berada dalam status siaga tinggi karena berpotensi meluap. Di dua lokasi, tinggi muka air telah melampaui rekor sejak 2017 dan 2018.

     

    (luc/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • NASA Bergegas Tempatkan Reaktor Nuklir di Bulan dan Mars

    NASA Bergegas Tempatkan Reaktor Nuklir di Bulan dan Mars

    Washington DC

    Amerika Serikat (AS) bergegas untuk menempatkan reaktor nuklir di permukaan Bulan dan Mars. Badan antariksa AS, NASA, berharap dapat meluncurkan sistem pertama pada akhir dekade ini.

    Arahan baru NASA, seperti dilansir AFP, Rabu (6/8/2025), menyerukan penunjukan seorang tsar nuklir, semacam petinggi nuklir, untuk memilih dua proposal komersial dalam waktu enam bulan, yang membingkai dorongan tersebut sebagai hal yang krusial untuk melampaui upaya gabungan China dan Rusia.

    Arahan terbaru NASA ini pertama kali dilaporkan oleh media Politico, dan dilihat oleh AFP pada Selasa (5/8).

    Ditandatangani oleh pelaksana tugas (Plt) kepala NASA, Sean Duffy, yang juga menjabat Menteri Transportasi AS, memo tertanggal 31 Juli itu merupakan pertanda terbaru dari pergeseran NASA ke arah memprioritaskan eksplorasi luar angkasa daripada penelitian ilmiah di bawah masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.

    “Sejak Maret 2024, China dan Rusia telah mengumumkan setidaknya tiga kali upaya bersama untuk menempatkan reaktor di Bulan pada pertengahan tahun 2030-an,” demikian memo NASA tersebut.

    “Negara pertama yang melakukannya berpotensi mendeklarasikan zona larangan yang secara signifikan akan menghambat Amerika Serikat untuk membangun kehadiran Artemis yang direncanakan jika tidak berada di sana terlebih dahulu,” jelas NASA dalam memonya. Artemis merupakan misi NASA untuk kembali ke Bulan.

    Gagasan menggunakan energi nuklir di luar planet Bumi bukanlah hal baru. Sejak tahun 2000, NASA telah menginvestasikan sebesar US$ 200 juta untuk mengembangkan sistem tenaga fisi kecil dan ringan, meskipun menurut arahan terbaru NASA, belum ada yang mencapai kesiapan terbang.

    Upaya terbaru dilakukan pada tahun 2023 dengan penyelesaian tiga kontrak studi industri senilai US$ 5 juta yang berfokus pada membangkitkan daya 40 kilowatt, yang cukup untuk secara terus-menerus mengoperasikan 30 rumah tangga selama 10 tahun.

    Tidak seperti tenaga surya, sistem fisi ini dapat beroperasi sepanjang waktu — sangat berharga saat malam yang berlangsung selama berminggu-minggu di Bulan atau saat badai debu melanda Mars. Kemajuan teknologi telah membuat sistem semacam itu semakin ringkas dan ringan.

    NASA secara resmi memutuskan berkomitmen untuk menggunakan tenaga nuklir di Mars pada Desember 2024 lalu, yang merupakan pertama dari tujuh keputusan penting yang diperlukan untuk eksplorasi oleh manusia di Planet Merah tersebut.

    Berdasarkan masukan dari industri, kebutuhan daya permukaan harus setidaknya 100 kilowatt untuk mendukung “operasi manusia jangka panjang termasuk pemanfaatan sumber daya in-situ (di lokasi)” — merujuk pada penunjang kehidupan, komunikasi, dan peralatan pertambangan untuk mengumpulkan es permukaan.

    Proyek ini mengasumsikan penggunaan “pendarat kelas berat” yang dapat membawa beban hingga 15 metrik ton, dan menargetkan “kesiapan peluncuran pada kuartal pertama tahun fiskal FY30” — yang berarti pada akhir tahun 2029.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Ngeri! Tubuh Pasien Dipenuhi Larva Cacing Pita gegara Makan Daging Babi Mentah

    Ngeri! Tubuh Pasien Dipenuhi Larva Cacing Pita gegara Makan Daging Babi Mentah

    Jakarta

    Sebuah foto rontgen yang mengerikan, memperlihatkan parasit yang mengapur di jaringan lunak tubuh manusia, menjadi viral setelah diunggah oleh Dr Sam Ghali, seorang dokter IGD, di media sosial X.

    Ia menyebutnya sebagai salah satu foto X-ray paling “gila” yang pernah ia lihat. Foto itu menunjukkan seluruh bagian tubuh pasien dipenuhi bintik-bintik lonjong yang tak terhitung jumlahnya, seperti badai es di dalam tubuh.

    Dipicu makan daging babi mentah

    Menurut Dr Ghali, kondisi ini dikenal sebagai cysticercosis. Ini adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh kista larva dari cacing pita, atau Taenia solium. Pasien yang tidak disebutkan namanya ini terinfeksi setelah mengonsumsi daging babi yang mentah atau kurang matang.

    “Ini adalah kondisi yang dikenal sebagai cysticercosis. Intinya, ini adalah kista larva dari Taenia solium-juga dikenal sebagai cacing pita babi,” jelasnya.

    Cysticercosis berkembang ketika telur cacing pita, yang berasal dari feses orang yang terinfeksi, tertelan oleh orang lain. Penularan bisa terjadi saat seseorang tidak mencuci tangan dengan benar setelah dari toilet, atau melalui air yang terkontaminasi.

    Dalam kasus pasien ini, kista parasit telah menyusup ke otot dan jaringan lunak di pinggul serta kakinya. Dr. Ghali menjelaskan, di area ini kista tidak menimbulkan ancaman langsung. Ironisnya, foto X-ray tersebut diambil hanya karena pasien terjatuh dan mengalami patah tulang.

    Namun, masalah serius muncul saat kista-kista ini berjalan menuju otak dan mengapur. Kondisi ini disebut neurocysticercosis, yang dapat menyebabkan masalah neurologis seperti kebingungan, sakit kepala, kejang, bahkan kematian.

    Dr Ghali juga mengimbau untuk selalu menjaga kebersihan, mencuci tangan, dan “jangan pernah makan daging babi yang mentah atau kurang matang.”

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Menko Pratikno Temukan Masalah Gula Darah pada CKG Anak SMP di Bojonegorosm”
    [Gambas:Video 20detik]
    (kna/kna)

  • Langka, Beberapa Kota di Australia Diselimuti Salju Tebal

    Langka, Beberapa Kota di Australia Diselimuti Salju Tebal

    New South Wales

    Beberapa kota di Australia bagian timur diselimuti hamparan salju langka, yang tercatat sebagai yang paling tebal dalam beberapa dekade terakhir. Situasi ini terjadi saat cuaca ekstrem melanda wilayah itu pada akhir pekan, yang memicu banjir, membuat kendaraan terjebak dan memutus aliran listrik ke ribuan rumah.

    Dituturkan seorang pakar meteorologi dari biro cuaca Australia, Miriam Bradbury, seperti dilansir Reuters, Senin (4/8/2025), bahwa front udara dingin telah menurunkan salju setebal 40 cm di sebagian wilayah utara negara bagian New South Wales pada Sabtu (2/8) waktu setempat.

    Bradbury menyebutkan sebagai salju tertebal yang menyelimuti Australia sejak pertengahan tahun 1980-an silam.

    Salju, sebut Bradbury, juga turun di wilayah negara bagian Queensland untuk pertama kalinya dalam 10 tahun.

    Dikatakan oleh Bradbury bahwa perubahan iklim telah membuat cuaca Australia lebih fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Namun peristiwa semacam ini, menurut Bradbury, telah terjadi beberapa kali dalam catatan sejarah.

    “Yang membuat peristiwa ini tidak biasa adalah banyaknya salju yang turun, tetapi juga luasnya (hamparan salju), yang menutupi sebagian besar dataran tinggi sebelah utara,” ucapnya.

    Dengan hujan lebat yang mengguyur beberapa wilayah lainnya, Layanan Darurat Negara Bagian New South Wales mengatakan pihaknya telah merespons lebih dari 1.455 insiden. Lebih dari 100 kendaraan dilaporkan terjebak di tengah salju tebal, badai yang merusak bangunan, dan beberapa peringatan banjir besar dirilis.

    Puluhan ribu rumah warga, menurut laporan televisi Australian Broadcasting Corp, mengalami pemadaman listrik semalaman saat cuaca ekstrem melanda.

    Kepolisian di New South Wales — negara bagian paling padat di Australia — mengatakan bahwa sebuah moil terjebak banjir pada Sabtu (2/8) malam, dan seorang penumpang wanita berusia 20-an tahun tersapu arus banjir. Kondisi wanita belum diketahui, dengan upaya pencarian berlanjut pada Minggu (3/8) waktu setempat.

    Tonton juga Video: Salju Abadi di Puncak Jayawijaya Diprediksi Punah pada 2026

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/zap)

  • Ahli Prediksi Turbulensi Pesawat Bakal Lebih Ngeri dan Sering

    Ahli Prediksi Turbulensi Pesawat Bakal Lebih Ngeri dan Sering

    Jakarta, CNBC Indonesia – Turbulensi kian sering mengganggu aktivitas penerbangan, bahkan hingga membuat sebuah pesawat mengalami kecelakaan. Salah satunya seperti yang dialami pesawat milik Delta Air Lines Inc nomor penerbangan 56 rute Salt Lake City menuju Amsterdam pada akhir Juli 2025. Kecelakaan itu membuat 25 orang dilarikan ke rumah sakit, meski belum ada catatan korban jiwa dari total 275 penumpang dan 13 awak kabin.

    Turbulensi memang sebetulnya jarang membuat pesawat mengalami kecelakaan hingga merenggut korban jiwa. Namun, berdasarkan catatan BBC setidaknya ada empat kematian sejak 1981 akibat turbulensi di Amerika Serikat (AS) saja. Adapun jumlah korban cedera parah akibat turbulensi mencapai 207 orang dengan catatan perawatan lebih dari 48 jam.

    Perubahan iklim yang mengubah kondisi atmosfer diperkirakan para ahli dapat membuat turbulensi pesawat makin sering terjadi. Perjalanan udara mereka sebut bisa menjadi lebih bergelombang akibat perubahan suhu dan pergeseran pola angin di atmosfer atas.

    “Kita dapat memperkirakan jumlah turbulensi parah di seluruh dunia akan meningkat dua atau tiga kali lipat dalam beberapa dekade mendatang,” kata Profesor Paul Williams, ilmuwan atmosfer di Universitas Reading, dilansir BBC, seperti dikutip Minggu (3/8/2025).

    “Untuk setiap 10 menit turbulensi parah yang terjadi sekarang, durasinya bisa meningkat menjadi 20 atau 30 menit,” tegasnya.

    Ada sekitar 5.000 insiden turbulensi parah atau lebih besar setiap tahun, dari total lebih dari 35 juta penerbangan yang sekarang lepas landas secara global. Turbulensi parah didefinisikan sebagai kondisi gerakan naik turun pesawat dalam lintasan udara yang memberikan gaya lebih dari 1,5 gram pada tubuh, hingga bisa mengangkat tubuh seseorang bila tak mengenakan sabuk pengaman.

    Dari cedera parah yang dialami penumpang yang terbang sepanjang tahun 2023 – hampir 40% disebabkan oleh turbulensi, menurut laporan keselamatan tahunan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional.

    Rute antara Inggris dan AS, Kanada, dan Karibia termasuk di antara wilayah yang diketahui terdampak pemburukan turbulensi akibat perubahan iklim.

    Selama 40 tahun terakhir, sejak satelit mulai mengamati atmosfer, telah terjadi peningkatan turbulensi parah sebesar 55% di Atlantik Utara.

    Namun, frekuensi turbulensi diproyeksikan meningkat di wilayah lain, di antaranya wilayah Asia Timur, Afrika Utara, Pasifik Utara, Amerika Utara, dan Timur Tengah.

    Penyebab turbulensi

    Foto: Dalam sebuah video terekam kondisi di dalam kabin pesawat Air Europa rute Madrid-Montevideo dengan keadaan rusak usai mengalami turbulensi parah dan terpaksa mendarat darurat di Bandara Internasional Natal, Brasil. (Tangkapan Layar Video Reuters/@PICHIPASTOSO VIA X)

    Ada tiga penyebab utama turbulensi: konvektif (awan atau badai petir), orografis (aliran udara di sekitar daerah pegunungan), dan udara jernih atau bersih (perubahan arah atau kecepatan angin).

    Setiap jenis turbulensi dapat menyebabkan turbulensi yang parah. Turbulensi konvektif dan orografis seringkali lebih dapat dihindari, sedangkan turbulensi udara jernih yang, sesuai namanya, tidak terlihat. Terkadang, turbulensi tersebut seolah muncul tiba-tiba.

    Perubahan iklim merupakan faktor utama yang mendorong terjadinya turbulensi konvektif dan udara bersih.

    Meskipun hubungan antara perubahan iklim dan badai petir rumit, atmosfer yang lebih hangat dapat menahan lebih banyak uap air, dan panas serta uap air ekstra itu bergabung untuk menciptakan badai petir yang lebih dahsyat.

    Menghubungkan masalah ini dengan turbulensi – turbulensi konvektif diciptakan oleh proses fisik naik turunnya udara di atmosfer, khususnya di dalam awan, Anda tidak akan menemukan aliran udara naik dan turun yang lebih dahsyat daripada di awan kumulonimbus, atau awan badai petir.

    Inilah penyebab turbulensi hebat dalam perjalanan udara.

    Sebuah laporan oleh Biro Investigasi Keselamatan Transportasi Singapura menemukan bahwa pesawat Singapore Airlines pada 2024 silam “kemungkinan terbang di atas area aktivitas konvektif yang berkembang” di Myanmar selatan, yang menyebabkan “turbulensi ekstrem selama 19 detik yang mencakup penurunan setinggi 178 kaki dalam waktu kurang dari lima detik”.

    Turbulensi udara bersih juga bisa segera meningkat. Hal ini disebabkan oleh udara yang terganggu di dalam dan di sekitar aliran jet (angin yang bergerak cepat pada ketinggian sekitar enam mil di atmosfer, yang sama tingginya dengan ketinggian pesawat terbang).

    Kecepatan angin dalam aliran jet yang bergerak dari barat ke timur melintasi Atlantik dapat bervariasi dari 160mph hingga 250mph.

    Udara di utara lebih dingin dan udara di selatan lebih hangat: perbedaan suhu dan perubahan angin ini bermanfaat bagi pesawat sebagai penarik untuk menghemat waktu dan bahan bakar. Namun, hal ini juga menciptakan turbulensi udara.

    “Perubahan iklim memanaskan udara di selatan aliran jet lebih banyak daripada udara di utara, sehingga perbedaan suhu menjadi lebih kuat,” ucap Profesor Paul Williams, ilmuwan atmosfer di Universitas Reading. “Yang pada gilirannya mendorong aliran jet yang lebih kuat.”

    Kian memburuknya kondisi turbulensi membuat beberapa orang semakin takut untuk bepergian dengan pesawat. Lebih dari seperlima orang dewasa Inggris mengatakan mereka takut terbang, menurut survei YouGov terkini, dan turbulensi yang semakin parah dapat membuat perjalanan menjadi mimpi buruk bagi orang-orang ini.

    Meski demikian, penting dicatat bahwa sayap pesawat dirancang untuk terbang di udara yang bergejolak. Seperti yang dikatakan Chris Keane, mantan pilot, “Anda tidak akan percaya betapa fleksibelnya sayap. Pada pesawat penumpang 747, dalam uji coba ‘destruktif’, sayap ditekuk ke atas sekitar 25 derajat sebelum patah, yang sungguh ekstrem dan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi, bahkan dalam turbulensi paling parah sekalipun.”

    Namun, bagi maskapai penerbangan, ada kekhawatiran tersembunyi: yakni bertambahnya biaya ekonomi akibat lebih banyak turbulensi.

    AVTECH, sebuah perusahaan teknologi yang memantau perubahan iklim dan suhu – dan bekerja sama dengan Met Office untuk membantu memperingatkan pilot akan turbulensi – memperkirakan efek turbulensi hebat bisa memakan biaya berkisar antara £180.000 hingga £1,5 juta per maskapai setiap tahunnya.

    Ini termasuk biaya untuk memeriksa dan memelihara pesawat setelah turbulensi parah, biaya kompensasi jika penerbangan harus dialihkan atau ditunda, dan biaya yang terkait dengan berada di lokasi yang salah.

    Foto: Interior pesawat Singapore Airlines penerbangan SG321 setelah pendaratan darurat di Bandara Internasional Suvarnabhumi Bangkok, Thailand, 21 Mei 2024. (REUTERS/Stringer)

    Eurocontrol, organisasi sipil-militer yang memantau aktivitas penerbangan Eropa mengakui risiko perubahan iklim terhadap aktivitas penerbangan akibat turbulensi. Mereka mengatakan bahwa pengalihan penerbangan di sekitar badai yang menghasilkan turbulensi dapat berdampak lebih luas – misalnya, jika banyak pesawat harus mengubah jalur penerbangan, wilayah udara dapat menjadi lebih padat di area tertentu.

    “[Hal ini] meningkatkan beban kerja pilot dan pengontrol lalu lintas udara secara signifikan,” kata juru bicara Eurocontrol.

    Harus terbang mengelilingi badai juga berarti bahan bakar dan waktu tambahan. Misalnya, pada 2019, Eurocontrol mengatakan cuaca buruk “memaksa maskapai penerbangan terbang satu juta kilometer ekstra, menghasilkan 19.000 ton CO2 tambahan.”

    Dengan cuaca ekstrem yang diprediksi meningkat, mereka memperkirakan penerbangan harus dialihkan lebih banyak lagi akibat cuaca buruk seperti badai dan turbulensi pada tahun 2050.

    “Selanjutnya meningkatkan biaya bagi maskapai penerbangan, penumpang, dan [meningkatkan] jejak karbon mereka.”

    Dalam merespons turbulensi, pesawat memiliki radar cuaca yang akan mendeteksi badai di depan.

    Sebelum penerbangan, sebagian besar maskapai akan membuat rencana penerbangan yang merinci area turbulensi yang mungkin terjadi di sepanjang rute, berdasarkan pemodelan komputer

    Ini tidak 100% akurat, tetapi memberikan gambaran yang sangat bagus jika dikombinasikan dengan laporan pesawat lain dan Pengendali Lalu Lintas Udara saat dalam perjalanan.

    Southwest Airlines di AS baru-baru ini memutuskan untuk mengakhiri layanan kabin lebih awal, pada ketinggian 18.000 kaki, bukan 10.000 kaki seperti sebelumnya. Dengan menempatkan awak dan penumpang dalam posisi siap mendarat dengan sabuk pengaman, Southwest Airlines mengklaim dapat mengurangi cedera akibat turbulensi hingga 20%.

    Foto: Sebuah pesawat jatuh dan tersangkut di atas atap sebuah hanggar dalam sebuah insiden mengejutkan yang terjadi di Bandara New Century, AS Senin (16/6/2025). (Tangkapan Layar Video Reuters/ABC AFFILIATE KMBC)

    Tahun lalu, Korean Airlines memutuskan untuk berhenti menyajikan mi kepada penumpang ekonominya karena telah melaporkan turbulensi dua kali lipat sejak 2019, yang meningkatkan risiko penumpang terbakar.

    Beberapa penelitian telah membawa upaya penanggulangan turbulensi lebih jauh lagi, dan mencari cara alternatif untuk membangun sayap.

    Dokter hewan dan insinyur telah mempelajari bagaimana burung hantu terbang dengan lancar saat angin bertiup kencang, dan menemukan bahwa sayap bertindak seperti suspensi dan menstabilkan kepala dan badan saat terbang melalui udara yang terganggu.

    Studi yang diterbitkan dalam prosiding Royal Society pada 2020 menyimpulkan bahwa “desain sayap berengsel yang disetel dengan tepat juga dapat berguna pada pesawat skala kecil…membantu menolak hembusan angin dan turbulensi”.

    Secara terpisah, perusahaan rintisan di Austria bernama Turbulence Solutions mengklaim telah menciptakan teknologi peredam turbulensi untuk pesawat ringan, di mana sensor mendeteksi udara yang bergejolak dan mengirimkan sinyal ke sayap yang menangkal turbulensi tersebut.

    Hal ini dapat mengurangi turbulensi sedang hingga 80% pada pesawat ringan, menurut CEO perusahaan tersebut.

    Lalu ada yang berpendapat bahwa AI bisa menjadi solusi. Fourier Adaptive Learning and Control (FALCON) adalah jenis teknologi yang sedang diteliti di California Institute of Technology yang mempelajari bagaimana udara turbulen mengalir melintasi sayap secara real-time. Teknologi ini juga mengantisipasi turbulensi, memberikan perintah ke flap pada sayap yang kemudian menyesuaikan diri untuk menangkalnya.

    Namun Finlay Asher, seorang insinyur kedirgantaraan dan anggota Safe Landing, sebuah komunitas pekerja penerbangan yang menyerukan masa depan yang lebih berkelanjutan dalam penerbangan, menjelaskan bahwa jenis teknologi ini masih jauh dari kenyataan.

    “[Mereka] tidak mungkin muncul di pesawat komersial besar dalam beberapa dekade mendatang.”

    Meskipun turbulensi menjadi lebih sering dan lebih parah, para ahli berpendapat hal ini tidak perlu dikhawatirkan. Karena hanya berarti lebih banyak waktu untuk duduk, dengan sabuk pengaman terpasang.

    (hsy/hsy)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Dunia Terbalik! Negara Dingin Nordik Meleleh, Rusa Kutub Sekarat

    Dunia Terbalik! Negara Dingin Nordik Meleleh, Rusa Kutub Sekarat

    Jakarta, CNBC Indonesia – Negara-negara Nordik yang identik dengan salju dan udara dingin kini dilanda gelombang panas brutal. Suhu mencapai di atas 30°C selama berhari-hari, memecahkan rekor tertinggi dalam lebih dari 60 tahun terakhir. Para ilmuwan menyebutnya sebagai gelombang panas yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya.

    Mengutip Guardian, Minggu (3/7/2025), rusa kutub hampir mati kepanasan. Rumah sakit di Finlandia penuh sesak, hingga arena es harus dibuka darurat untuk mengungsi. Sementara itu, turis asing yang mencari liburan dingin malah disambut peringatan panas ekstrem.

    Stasiun cuaca di Arktik Norwegia mencatat suhu lebih dari 30°C selama 13 hari di bulan Juli, dan Finlandia mencatat tiga minggu berturut-turut dengan panas menyengat. Ini bukan hanya rekor, tetapi peringatan keras dari alam.

    Di Swedia, stasiun cuaca di wilayah utara seperti Haparanda dan Jokkmokk mencatat rekor suhu tinggi terpanjang dalam lebih dari satu abad. Suhu musim panas naik 8 hingga 10 derajat di atas normal, memicu badai, petir, dan kebakaran hutan di wilayah kutub.

    “Yang terjadi ini bukan anomali musiman. Ini pertanda zaman,” ujar Heikki Tuomenvirta, ilmuwan dari Institut Meteorologi Finlandia.

    Ia memperingatkan bahwa gelombang panas ekstrem kini terjadi lebih sering, lebih intens, dan lebih lama – buah dari perubahan iklim akibat emisi karbon yang terus membumbung tinggi.

    Permasalahannya infrastruktur Skandinavia tidak siap. Negara-negara seperti Norwegia, Inggris, dan Swiss disebut sebagai yang paling rentan terhadap peningkatan hari-hari panas tak nyaman. Kota-kota yang biasanya dingin kini justru menghadapi risiko cuaca ekstrem tanpa kesiapan fasilitas pendingin, sistem medis, hingga pasokan energi.

    Adapun kondisi ini menambah panjang daftar bencana iklim global tahun ini. Dari banjir bandang di Asia Selatan, kebakaran hutan di Yunani, hingga suhu 50°C di Timur Tengah.

    (mkh/mkh)

    [Gambas:Video CNBC]