Tag: Badai

  • Sepucuk Urea, Sepotong Harapan: Digitalisasi Pupuk dan Kedaulatan Pangan dari Argopuro

    Sepucuk Urea, Sepotong Harapan: Digitalisasi Pupuk dan Kedaulatan Pangan dari Argopuro

    Situbondo (beritajatim.com) – Kios Dua Putra, toko yang menyediakan kebutuhan pertanian di lereng Gunung Argopuro, tepatnya di Desa Tlogosari, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo tengah lengang. Datang seorang petani mengendarai motor khas yang dia pakai setiap kali bekerja di ladang. Usai memarkir motor, petani itu mendekati etalase toko berbahan kayu sederhana yang pada bagian depan ditutup dengan anggitan kawat. Di dalamnya terpajang segala macam obat untuk tanaman.

    Melihat petani tersebut, Umi Kulsum (52), pemilik toko yang akrab disapa Bu Da, segera menghampiri. Dia lalu bertanya apa keperluan petani tersebut. Lebih tepatnya, barang apa yang sedang dibutuhkan.

    Si petani pun segera menanggapi bahwa dia sedang butuh pupuk. Setelah mengetahui maksud petani itu, Bu Da langsung mengambil ponsel, membuka aplikasi i-Pubers, dan menempatkan pada posisi kamera belakang menghadap ke petani. Lalu, Bu Da meminta si petani memandang ke arah kamera ponselnya.

    Setelah menekan tombol capture, wajah petani itu sudah terekam di layar ponsel Bu Da. Proses pemindaian berjalan cepat. Lalu muncullah data si petani. Bu Da lalu meminta petani menunjukkan KTP asli. Difotonya KTP si petani untuk verifikasi data.

    Di sudut lain, suaminya, Pak Fauzan, dengan cekatan membantu mengangkat dua karung pupuk subsidi jenis Urea seberat 50 Kilogram ke atas motor modif khas petani yang bisa menerjang curamnya jalur ke Tamankursi. Setelah semua proses selesai, si petani bisa pulang dengan senyum. Akhirnya, pupuk Urea yang petani butuhkan itu sudah didapat.

    Potret di atas menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana terjaminnya ketersediaan pupuk saat ini, yang cakupannya hingga daerah pelosok. Digitalisasi telah menghadirkan rasa lega bagi para petani lantaran mereka tak perlu lagi merasakan kecemasan akan ada tidaknya penyubur bagi komoditas yang mereka tanam.

    Sementara di penjual, tidak ada lagi tumpukan buku manual yang rumit. Pelayanan kini sepenuhnya menggunakan sistem digitalisasi melalui aplikasi i-Pubers (Integrasi Pupuk Bersubsidi). Rasa lega pun terselip di benak para penjual pupuk.

    Memutus Rantai Birokrasi Berbelit

    Sistem pelayanan di Kios atau yang sekarang disebut sebagai Penerima Pada Titik Serah (PPTS) tidak lagi berjalan diselimuti ketidakpastian. Keandalan stok di gudang Bu Da dikawal secara berlapis dengan dua digitalisasi, yaitu i-Pubers di sisi pelayanan petani, dan aplikasi Rekan Kios untuk memastikan manajemen stok.

    Aplikasi Rekan Kios memungkinkan PT Pupuk Indonesia memantau pergerakan stok secara real-time hingga ke level pengecer. Sebelum petani datang, sistem ini memastikan kuota pupuk tersedia di gudang.

    Hal ini didukung oleh fakta bahwa stok di Kios Dua Putra pada tahun 2025 mencapai ratusan ton. Bahkan di Desember ini, Kios Dua Putra memiliki stok sebanyak 3,9 ton Urea N 46 persen dan 6,8 ton NPK Phonska. Angka itu mencerminkan kepercayaan besar pemerintah pada kapasitas kios sebagai garda terdepan.

    Bagi Bu Da, aplikasi Rekan Kios menjadi “asisten” digital yang membuat manajemen gudangnya menjadi sangat rapi. Jika dulu ia harus membongkar tumpukan nota dan menghitung karung secara manual setiap malam, kini segalanya ada dalam genggaman ponsel.

    “Lewat Rekan Kios, saya tidak perlu bingung lagi soal sisa stok. Setiap ada pupuk masuk dari distributor, langsung tercatat. Begitu ada petani menebus lewat i-Pubers, stok di aplikasi Rekan Kios otomatis berkurang. Saya bisa pantau kapan saja, bahkan saat stok menipis, sistem sudah memberi tanda. Ini sangat membantu kami yang sudah sepuh (lansia) supaya tidak ada kesalahan hitung,” jelas Bu Da.

    Umi Kulsum (Bu Da) dan Pak Fauzan merasakan perbedaan drastis jika dibandingkan dengan dua dekade lalu. Dulu, pencatatan manual di buku tulis usang seringkali berbelit, melelahkan, dan rentan terjadi kesalahan.

    “Tahun-tahun awal itu adalah ujian kesabaran. Sekarang, sistem i-Pubers jauh lebih memudahkan. Meski awalnya kami yang generasi tua ini harus beradaptasi dengan teknologi, manfaatnya nyata. Tidak ada lagi laporan manual yang melelahkan,” kenang Pak Fauzan yang mengaku untuk adaptasi teknologi dibantu oleh sang putri.

    Kelebihan utama i-Pubers yang dirasakan oleh kios adalah sinkronisasi otomatis dengan data e-RDKK. Digitalisasi menuntut presisi tinggi, setiap penebusan wajib menggunakan KTP asli, foto wajah petani secara real-time, dan pelacakan posisi GPS. Hal ini memastikan setiap butir pupuk yang keluar dari kios memiliki jejak digital yang tidak bisa dimanipulasi.

    “Bagi saya, sistem ini adalah pelindung. i-Pubers memastikan jatah petani aman, tidak ada lagi oknum yang bisa mencuri hak mereka. Dulu petani datang dengan wajah cemas karena takut pupuk habis atau jatahnya hilang, sekarang mereka pulang dengan senyum karena kepastian stok itu ada,” terang pria yang kini berusia 60 tahun itu.

    Tahun 2025 menjadi angin segar bagi pemilik kios pupuk seperti Bu Da maupun petani. Kini wajah pertanian Indonesia lebih maju. Di tangan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan koordinasi ketat PT Pupuk Indonesia (Persero), sistem distribusi lama yang penuh celah kecurangan resmi ditinggalkan.

    Aplikasi i-Pubers untuk penyediaan pupuk subsidi bagi petani. (Foto: Dani Alifian/beritajatim.com)

    Senada dengan sang suami, bagi Bu Da, i-Pubers awalnya terasa seperti gunung yang lebih tinggi dari Argopuro, apalagi ia generasi yang sama sekali tak akrab dengan teknologi.

    “Saya awalnya kesulitan, begitu juga petani di sini. Masalah terbesar di pelosok adalah kebiasaan. Banyak petani sepuh yang lupa membawa KTP, atau datanya belum sinkron di e-RDKK. Karena jalannya jauh dan susah, saya sering merasa iba kalau harus menyuruh mereka pulang lagi mengambil kartu,” cerita Bu Da.

    Namun, ia sadar bahwa ketegasan adalah bentuk kasih sayang yang lebih besar. Ia mulai berperan sebagai edukator. Di sela melayani pembeli, ia menjelaskan bahwa sistem ini adalah pelindung petani. i-Pubers memastikan bahwa tidak ada lagi oknum yang bisa mencuri jatah pupuk mereka.

    Transformasi digital ini memangkas jarak antara kebijakan di Jakarta dengan realitas di area lahan tanam. Tak ada lagi laporan manual yang melelahkan atau risiko manipulasi data. Segalanya menjadi transparan, adil, dan tepat sasaran.

    Suara dari Ladang Tamankursi: Jaminan Pupuk untuk Masa Depan Anak

    Kemudahan sistem i-Pubers dirasakan paling nyata oleh para petani di Desa Tamankursi, desa yang menjadi tanggungjawab kios Dua Putra dengan lokasi yang jauh lebih terpencil. Untuk mencapai desa ini, diperlukan waktu 30 menit berkendara ke arah selatan menyusuri jalanan curam dan berliku yang hanya bisa dilalui kendaraan pick-up.

    Bagi petani di sini, pupuk bukan sekadar input pertanian, melainkan penentu apakah dapur tetap mengepul dan anak-anak bisa lanjut sekolah.

    Mohammad Sutep, Ketua Kelompok Tani Melati, menceritakan betapa kontrasnya kondisi sekarang dibandingkan masa lalu.

    “Dulu itu susah sekali, kami sering was-was. Apakah musim tanam kali ini ada pupuk? Kalau pupuk terlambat atau langka, seluruh rencana hidup kami berantakan. Sekarang dengan i-Pubers, ketersediaan jauh lebih terjamin. Kami merasa lebih aman karena setiap transaksi ada fotonya, ada buktinya, jadi tidak bisa dimainkan oknum,” ujar Sutep.

    Bagi Sutep dan rekan-rekannya di Kelompok Tani Mawar dan Edelweis, kepastian stok juga penurunan harga sebesar 20 persen di tahun 2025 adalah anugerah besar. Mereka menggarap lahan miring di lereng Argopuro dengan komoditas utama padi untuk makan sehari-hari, serta jagung, kopi, dan tembakau untuk penghasilan.

    “Padi kami makan sendiri untuk bertahan hidup. Tapi jagung, kopi, dan tembakau itu untuk masa depan anak. Kalau pupuk mahal atau langka, impian anak-anak kami untuk kuliah bisa kandas,” kata Sutep dengan yang lirih sekaligus haru.

    Sutep mengapresiasi peran Kios Dua Putra yang tidak hanya sekadar melayani transaksi digital, tapi juga memberi pendampingan bagi petani sepuh yang kesulitan birokrasi.

    “Kios Dua Putra sangat kasihan pada petani. Kalau ada KTP yang bermasalah atau data e-RDKK belum sinkron, putrinya Bu Da yang paling sibuk membantu mengurus ke dinas. Mator ksoon se rajeh (terima kasih yang sebesar-besarnya), ketersediaan pupuk sekarang benar mengawal produktivitas kami,” tutup Sutep.

    Foto petani penerima pupuk subsidi usai proses pemindaian di aplikasi i-Pubers. (Foto: Dani Alifian/beritajatim.com)

    Hal serupa disampaikan Yayan, Ketua Kelompok Tani Mawar, dan Ripin, Ketua Kelompok Tani Edelweis. Keduanya telah menjadi saksi hidup perubahan besar. Ia mengenang betapa peliknya mendapatkan pupuk di masa lalu, di mana akses jalan yang sulit seringkali diperparah dengan ketidakpastian stok.

    “Dulu itu sangat susah, kami sering was-was setiap masuk musim tanam. Pertanyaannya selalu sama: Apakah pupuknya ada? Kalau pupuk langka, rencana kami untuk panen jagung, kopi, dan tembakau bisa berantakan. Padahal hasil itulah yang kami pakai untuk menyekolahkan anak,” ungkap Yayan dengan nada serius.

    Kini, melalui i-Pubers, kekhawatiran itu sirna. Yayan menilai sistem baru ini memberikan jaminan ketersediaan yang jauh lebih kuat karena setiap transaksi terpantau langsung oleh pusat. Dampaknya sangat nyata bagi petani, mereka tidak lagi takut jatah pupuknya diselewengkan karena setiap penebusan harus melalui verifikasi foto dan KTP asli.

    “Sekarang kami lebih tenang. Dengan i-Pubers, ketersediaan pupuk lebih terjamin dan transparan. Kami merasa aman karena setiap transaksi ada fotonya, ada buktinya. Tidak ada lagi jatah yang dimainkan oknum,” tambahnya.

    Sentimen serupa juga datang dari Ripin. Ia merasa sistem digital ini adalah bentuk perlindungan pemerintah agar petani di pelosok gunung tetap bisa berproduksi secara maksimal.

    “Intinya sekarang pelayanan lebih kuat. Kalau pupuk datang tepat waktu dan jumlahnya pas sesuai jatah di aplikasi, kami bisa fokus bekerja di ladang. Produktivitas terjaga, dan masa depan anak-anak kami lebih terjamin,” jelas Ripin.

    Kios Sebagai Instrumen Kedaulatan Pangan

    Transformasi digital di lereng Argopuro ini tidak luput dari perhatian akademisi. Dr. Sujarwo, S.P., M.P., Pakar Ketahanan Pangan dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB), menilai bahwa peran kios saat ini telah bergeser menjadi instrumen strategis negara. Menurutnya, kios bukan lagi sekadar tempat transaksi dagang biasa, melainkan buffer (penyangga) ekonomi desa yang vital.

    “Kios seperti milik Bu Da adalah ujung tombak penguatan supply chain distribusi pupuk di sisi hilir yang bersentuhan langsung dengan petani,” urai Sujarwo.

    Ia menekankan bahwa integrasi sistem Rekan Kios dan i-Pubers memberikan tiga dampak fundamental bagi ketahanan pangan nasional. Pertama, transparansi informasi, menghilangkan faktor ketidakpastian bagi petani mengenai ketersediaan dan harga.

    Kedua, kepercayaan sosial, interaksi ekonomi yang transparan mencegah rasa dicurangi dan membangun ketenangan sosial di pedesaan. Ketiga, transfer teknologi, kios berfungsi sebagai pusat transfer pengetahuan digital bagi masyarakat desa yang selama ini tidak akrab dengan teknologi.

    Sujarwo menjelaskan bahwa dengan data yang tersentral hingga ke pemerintah pusat, prinsip 6T (Tepat Jenis, Mutu, Jumlah, Waktu, Harga, dan Sasaran) dapat tercapai.

    “Jika fungsi ini berjalan baik, kendala pupuk teratasi dan petani lebih baik dalam memitigasi perubahan iklim hingga serangan hama. Dengan majunya pertanian, secara tidak langsung kemiskinan ekstrem di perdesaan akan terreduksi,” tambah pakar yang memiliki konsen pada dunia pertanian itu.

    Salah satu lahan yang digarap oleh petani Tamankursi di lereng gunung Argopuro (Foto: Dani Alifian/beritajatim.com)

    Meski demikian, Sujarwo memberi catatan strategis bahwa sistem i-Pubers harus tetap fleksibel dan didukung oleh peran penyuluh lapangan serta kelompok tani. Tujuannya agar transformasi digital ini tidak sekadar menjadi alat kontrol birokrasi, tetapi menjadi lembaga lokal yang memberdayakan petani secara berkelanjutan.

    Sinergi dari Balik Layar

    Kelancaran distribusi yang dirasakan petani di Desa Tamankursi merupakan hasil sinkronisasi tanpa henti dalam jalinan sinergitas. Di Situbondo, sinergi ini dipimpin oleh kolaborasi antara PT Pupuk Indonesia (Persero) dan Pemerintah Kabupaten melalui Dinas Pertanian.

    Bayu pengawas lapangan pupuk Indonesia di Situbondo, menjadi sosok di balik layar yang memastikan pasokan tidak terputus meski secara geografis wilayah Sumbermalang sangat menantang.

    “Kami menyadari tantangan geografis lereng Argopuro sangat ekstrem. Maka, strategi kami adalah penguatan pelayanan melalui pendistribusian stok lebih awal. Kami pastikan stok di kios selalu tersedia sebelum puncak musim tanam tiba agar tidak ada kekosongan saat petani sangat membutuhkan,” jelas Bayu kepada beritajatim.com.

    Sinkronisasi ini melibatkan manajemen logistik yang ketat. Koordinasi dilakukan mulai dari asisten distributor untuk mengatur jadwal truk pengangkut pupuk hingga mitigasi cuaca.

    “Jika ada kendala jalan longsor atau hujan badai yang sering terjadi di wilayah Kecamatan Sumbermalang, tim segera mencari jalan keluar agar distribusi tetap berjalan,” kata Rian, perwakilan pihak distributor pupuk Indonesia yang beroperasi di wilayah kecamatan Sumbermalang.

    Pemerintah Kabupaten Situbondo turut memastikan bahwa kelancaran distribusi ini dibarengi dengan kepatuhan harga. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Situbondo, Dadang Aries Bintoro, mengungkapkan bahwa serapan pupuk di wilayahnya merupakan salah satu yang terbaik di Jawa Timur.

    “Hingga pertengahan 2025, serapan Urea sudah mencapai 14.331 ton dari alokasi 29.950 ton. Ini bukti bahwa sistem distribusi di tingkat kios berjalan efektif dan petani kita sangat produktif,” papar Dadang.

    Senada dengan kebijakan pusat, Muhammad Zaini, Kabid Penyuluhan, menegaskan bahwa melalui Kepmentan Nomor 117 Tahun 2025, harga pupuk subsidi telah dipangkas sebesar 20 persen. Dinas Pertanian melakukan pengawasan ketat agar Harga Eceran Tertinggi (HET) terbaru Rp1.800/kg untuk Urea dan Rp 1.840/kg untuk NPK dipatuhi tanpa pengecualian.

    “Kami melakukan pengawasan hingga ke pelosok. Jika ada kios yang berani bermain harga di atas HET, sanksinya tegas berupa pencabutan izin usaha. Namun, kami juga memahami kondisi geografis, jika ada kesepakatan jasa angkut dari kios ke puncak gunung karena medan yang sulit, itu adalah hal lumrah untuk logistik, bukan kenaikan harga pupuknya,” jelas Zaini.

    Menutup Celah Kecurangan dengan Digitalisasi

    Sistem i-Pubers dan Rekan Kios sengaja dibangun untuk menutup rapat celah kecurangan. Dengan fitur verifikasi wajah secara real-time dan pelacakan posisi GPS, praktik penyimpangan seperti pupuk palsu atau penjualan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) kini mustahil dilakukan tanpa meninggalkan jejak digital.

    ​Langkah ini sejalan dengan komitmen tegas Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Baginya, melindungi 160 juta petani Indonesia adalah harga mati. Melalui kanal pengaduan WhatsApp Lapor Pak Amran, pemerintah memberikan perlindungan langsung bagi petani dan pengecer jujur.

    ​”Identitas pelapor kami jaga. Bila ada penyimpangan, kami akan tindak tegas. Kita harus lindungi petani kita. Yang melapor adalah pahlawan pangan,” tegas Mentan Amran. Komitmen ini bukan gertakan sambal, terbukti dengan pencabutan izin 190 kios dan distributor yang secara terang benderang melanggar di seluruh Indonesia.

    ​Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, menambahkan bahwa inovasi digital yang dilakukan Pupuk Indonesia ini tidak hanya menghadirkan transparansi, tetapi juga efisiensi finansial yang signifikan bagi negara. Mencapai ratusan miliar rupiah. Namun, poin utamanya tetap pada kesejahteraan petani.

    ​”Inovasi ini memastikan petani tidak lagi mengeluh soal ketersediaan pupuk. Digitalisasi yang dimulai dari pinggiran, dari lereng gunung seperti Argopuro, adalah langkah nyata kita menuju kedaulatan pangan nasional,” pungkas pria yang akrab disapa Mas Dar tersebut.

    ​Dengan stok nasional yang melimpah dan sistem pengawasan yang presisi, perjalanan sebutir pupuk dari pabrik hingga ke lereng Argopuro adalah narasi panjang tentang pengabdian, teknologi, dan wujud nyata cinta pada Tanah Air. Di tangan orang seperti Umi Kulsum, kedaulatan pangan bukan lagi sekadar jargon politik di layar televisi, melainkan sebuah kerja nyata yang dilakukan dengan hati, di setiap butir urea dan NPK yang ditebar di atas tanah Pertiwi.

    Tahun 2025 ini penuh dengan lembaran baru. Dengan target serapan yang diprediksi mencapai 100 persen, ia yakin panen tahun depan akan melimpah.

    “Harapan saya cuma satu,” tutup Bu Da dari Kios Dua Putra, sembari tersenyum tulus. “Semoga sistem yang sudah baik ini terus dipertahankan. Biarlah kami di garda depan ini yang bekerja keras, asalkan petani tidak lagi merasa susah. Karena kalau petani sejahtera, bangsa ini pun akan kuat.” [dan/beq]

  • Nadiem Tulis Surat saat Hari Ibu, Minta Ibunda Tegar Anaknya Dituding Korupsi

    Nadiem Tulis Surat saat Hari Ibu, Minta Ibunda Tegar Anaknya Dituding Korupsi

    Bisnis.com, JAKARTA — Mantan Menteri Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim telah menulis surat untuk ibundanya, Atika Algadri.

    Surat itu ditulis Nadiem untuk merayakan momen Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember. Tulisan tangan Nadiem itu kemudian dibaca langsung oleh Atika. Momen pembacaan ini pun diunggah di Instagram @nadiemmakarim yang dikelola oleh tim penasihat hukum.

    Dalam surat itu, Nadiem bercerita soal pengalamannya saat dididik Atika untuk menjadi pejuang anti-korupsi sejak kecil. Namun, kata Nadiem, kini ibunya harus menghadapi kenyataan pahit ketika anaknya dituding melakukan korupsi.

    Meskipun demikian, Founder Go-Jek itu menegaskan bahwa apa yang diajarkan ibunya soal melawan korupsi itu akan terus ditanamkan ke anak-anaknya. Dia juga meminta kepada ibunya agar tetap tegar dalam menghadapi masalah ini.

    “Sedih aku. Sampai jumpa,” ujar Atika usai membaca surat dari anaknya itu.

    Nah, berikut ini surat lengkap Nadiem untuk ibundanya Atika

    To my Ibu, Bu, hari ini hari Ibu. Memang hari ini penuh dengan perasaan yang membingungkan. Aku sedih melihat Ibu kehilangan anaknya, kesulitan tidur, terus dalam kekhawatiran.

    Dan tidak menyangka Ibu sudah 81 tahun. Semangatnya masih seperti aktivis mahasiswa yang nekat turun ke jalanan. Sejak aku kecil, Ibu sudah menjadi pendekar antikorupsi.

    Aku ingat duduk di meja makan saat aktivis-aktivis antikorupsi seliweran masuk keluar rumah berdebat panas mengenai bagaimana membangun negara yang bersih. Ibu selalu memaksa aku ikut dalam diskusi. Dari Ibu aku belajar yang benar dari yang salah.

    Aku tahu betapa sulitnya situasi ini untuk Ibu. Perjuangan seumur hidup melawan korupsi dan sekarang anaknya sendiri dituduh korupsi di panggung nasional. Aku mau Ibu tahu, Ibu gak usah menahan tangis saat jenguk aku.

    Ibu gak perlu menjadi pendekar 24 jam sehari. Ibu juga boleh menjadi Ibu biasa yang sedih dan kangen sama anaknya. Kadang air mata dibutuhkan untuk mengademkan hati.

    Jangan lupa ya, Bu. Aku anak Ibu, kekuatan yang ada di dalam Ibu juga ada di dalam aku. Perjuangan Ibu hidup dalam diri aku dan api itu tidak akan pernah padam.

    Aku janji sama Ibu akan aku oper obor perjuangan itu ke anak-anak aku seperti yang Ibu lakukan pada aku. Badai ini akan berlalu, Bu. Tuhan tidak mungkin diam saja.

    Kebenaran selalu diberikan jalan. I love you, Ibu. I love you for who you are. Little boy you raise in to the man, i am today. Selamat Hari, Ibu. Nadiem.

  • 3
                    
                        Biarkan Dunia Membantu Sumatera
                        Nasional

    3 Biarkan Dunia Membantu Sumatera Nasional

    Biarkan Dunia Membantu Sumatera
    Pengamat dan praktisi hubungan internasional
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    POLEMIK 
    mengenai boleh-tidaknya pemerintah daerah di tiga provinsi Sumatera terdampak bencana menerima bantuan internasional menjadi semakin liar.
    Kritikan kepada pemerintahan Prabowo Subianto datang bertubi-tubi. Warga lokal (netizen Indonesia) dan komunitas internasional seolah berkolaborasi erat melancarkan serangan kritis, baik di dunia maya maupun melalui kanal-kanal media arus utama.
    Warga Malaysia menjadi salah satu yang paling vokal, khususnya saat bantuan mereka dianggap kecil oleh Mendagri Tito Karnavian.
    Sekalipun Tito kemudian meminta maaf, nasi sudah menjadi bubur. Rakyat Malaysia terlanjur marah. Bahkan mantan Menlu Tan Sri Rais Yatim turut bersuara keras, meminta Tito belajar adab sebelum bicara.
    Penolakan bantuan 30 ton beras Uni Emirat Arab (UEA) juga menjadi coreng dalam hubungan antarbangsa Indonesia. Beruntung ormas Muhammadiyah bergerak cepat, menyatakan kesiapan menjadi penerima. Api masalah bilateral dapat dipadamkan.
    Sikap resmi penolakan Pemerintah Indonesia terhadap
    bantuan asing
    terkuak jelas dari pernyataan Presiden Prabowo.
    Dalam Sidang Kabinet pada 15 Desember 2025, ia menyatakan bahwa Indonesia adalah negara  kuat. Karenanya Pemerintah mampu mengatasi bencana di Sumatera.
    Itu juga yang mungkin menjadi alasan mengapa sampai hampir satu bulan sejak banjir bandang terjadi, Prabowo tak kunjung menetapkan status ‘Bencana Nasional’. Karena jika ditetapkan, Pemerintah dianggap tidak mampu mengatasi.
    Lebih rumit lagi, Prabowo juga menyatakan bahwa ada pihak-pihak asing yang tidak menginginkan Indonesia menjadi negara kuat.
    Bagaimana saran yang dapat kita rekomendasikan kepada Presiden Prabowo?
    Pertama, jika hal-hal yang disampaikan Pemerintah sudah atau sedang terealisasi, misalnya pengerahan lebih dari 50.000 personel TNI-Polri, mobilisasi masif bantuan kemanusiaan, dan rehabilitasi cepat infrastruktur vital, semuanya layak dihormati.
    Namun, perlu menjadi catatan. Hal-hal di atas adalah kewajiban negara, bukan indikator suatu negara kuat atau tidak.
    Tidak perlu mengutip norma internasional seperti Konvensi PBB mengenai hak-hak sipil dan politik (International Covenant on Civil and Political Rights).
    Pasal 28 UUD 1945 sudah jelas menyuratkan bahwa negara harus melindungi hak hidup, pendidikan, dan kebutuhan mendasar lainnya.
    Permasalahannya, apa yang disampaikan sejumlah aparat negara tidak terlihat oleh publik. Potret yang digambarkan media arus utama dan media sosial tidak seperti yang disampaikan Pemerintah.
    Justru yang viral adalah sejumlah daerah – seperti di Aceh Tamiang dan Bener Meriah – yang berminggu-minggu usai banjir menerjang belum tersentuh bantuan Pemerintah Pusat.
    Tidak jelas apakah ini disebabkan karena lemahnya ‘public relations’ Pemerintah, atau realita sebenarnya. Namun yang pasti, masih banyak saudara kita di Sumatera terus bertarung untuk sekedar bertahan hidup pascabencana.
    Kedua, kita sangat mengharapkan Pemerintah Indonesia dapat segera membuka diri menerima bantuan internasional, apapun skalanya.
    Negara besar seperti Amerika Serikat (AS) saja tetap menerima bantuan kemanusiaan internasional, seperti saat mereka terkena badai Katrina pada Agustus 2005 lampau.
    Dalam norma antarbangsa (international norms), pengiriman bantuan kemanusiaan dari sejumlah negara ke negara yang terdampak bencana adalah hal wajar, bahkan keniscayaan.
    Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Desember tahun lalu, mengeluarkan Resolusi A/RES/79/139 berjudul “International cooperation on humanitarian assistance in the field of natural disasters, from relief to development”.
    Singkatnya, bantuan kemanusiaan akibat bencana alam yang disalurkan melalui kerja sama internasional adalah hal yang wajar.
    Indonesia bahkan menjadi salah satu negara pengusung resolusi di atas, karena diusulkan oleh Kelompok 77 dan China dimana Indonesia adalah anggotanya.
    Dengan kata lain, sikap Pemerintah Aceh yang menyurati PBB, khususnya UNDP dan UNICEF, tidak seyogianya diartikan sebagai penyimpangan dalam hubungan luar negeri.
    Dalam konteks kondisi normal, hal itu bisa saja dianggap tidak berkesesuaian dengan perundang-undangan. Bahwa hanya Pemerintah Pusat yang berhak melakukan hubungan luar negeri secara formal.
    Namun, dalam kondisi darurat, terlebih konteks
    bencana Sumatera
    yang berskala amat dahsyat, sudah sewajarnya ada pengecualian.
    Sekiranya Pemerintah Pusat menyalahkan sikap Pemerintah Aceh atas inisiatif hubungan luar negerinya, besar kemungkinan akan mendapatkan perlawanan dari rakyat Aceh. Tentu kita tidak menginginkan dampak buruk politis dari penanganan bencana Sumatera ini.
    Media arus utama, media sosial, bahkan handai-taulan di daerah terdampak seolah tak henti menyuarakan beratnya keadaan yang dihadapi warga di lokasi bencana Sumatera.
    Anak-anak yang memelas meminta makanan, orang-orang tua sakit yang berteduh di tempat tinggal tidak layak, dan tumpukan ribuan gelondongan kayu yang mengepung sejumlah daerah, adalah hal-hal menyedihkan yang terus kita saksikan saat ini.
    Ketidakinginan Presiden Prabowo untuk menetapkan status Bencana Nasional justru memunculkan isu-isu liar.
    Lihatlah di media sosial, di mana kritikan pedas-keras para netizen justru mengarah kepada hal-hal terkait kepentingan bisnis pribadi, para pejabat, oligarki penyokong kekuasaan, dan bahkan pembalakan-deforestasi yang difasilitasi negara.
    Semakin keras Presiden Prabowo menolak tuntutan penetapan status Bencana Nasional, semakin keras pula rakyat melakukan perlawanan.
    Sampai saat ini saja ratusan masyarakat sipil, termasuk LBH Muhammadiyah, sudah atau akan melayangkan somasi ‘class action’ kepada Pemerintah Pusat.
    Terakhir, terkait sinyalemen Presiden Prabowo bahwa ada pihak asing yang tidak suka Indonesia menjadi negara kuat, sebaiknya disampaikan dengan fakta dan data.
    Karena jika hal ini dibiarkan dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan bahkan ketegangan Indonesia dengan negara lain.
    Namun, untuk saat ini, sebaiknya negara mengerahkan mayoritas sumber daya untuk penanganan pascabencana.
    Termasuk dengan rendah hati menetapkan bencana Sumatera sebagai Bencana Nasional dan kemudian mempersilahkan dunia internasional memberikan bantuan.
    Mari membuka pintu, membiarkan dunia membantu Sumatera. Tidak ada kata terlambat atas nilai-nilai kemanusiaan.
    Bisa jadi, berdasarkan kerendahatian itulah Indonesia akan menjadi negara besar, melampaui status ‘kuat’ sebagaimana impian Prabowo.
    Wallahu a’lam.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Tentang Tabuk yang Tertutup Salju di Saudi, Dulu Lokasi Perang Terakhir Nabi

    Tentang Tabuk yang Tertutup Salju di Saudi, Dulu Lokasi Perang Terakhir Nabi

    Tabuk

    Salju menyelimuti sejumlah dataran tinggi di Arab Saudi, termasuk Jabal atau Gunung Al-Lawz, di Provinsi Tabuk. Dulu, Tabuk dikenal karena menjadi lokasi perang terakhir antara umat Muslim yang dipimpin langsung Nabi Muhammad SAW dengan pasukan Romawi.

    Dilihat dari ‘Strategi dan Diplomasi Perang Rasulullah’ yang diunduh dari situs Jurnal Lektur Keagamaan Kementerian Agama, Minggu (21/12/2025), perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah atau bulan Oktober 630 masehi. Perang ini menjadi yang terakhir diikuti Nabi dan dikenal dengan perang al-Usrah.

    Dilansir detikHikmah, sejarah perang Tabuk juga terdapat dalam Sirah Nabawiyah yang disusun Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri. Perang Tabuk ini dilatarbelakangi keinginan Rasulullah untuk memperluas ajaran Islam ke daerah kekuasaan Romawi yang merupakan kekuatan militer terbesar di muka bumi pada masa itu.

    Keinginan Rasul muncul setelah dibunuhnya Al-Harits bin Umair di tangan Syuhrabil bin Amr Al-Ghasaani ketika Al-Harits membawa surat yang ditujukan kepada pemimpin Bushra. Nabi Muhammad SAW saat itu mengirimkan satuan pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah yang kemudian bertempur dengan pasukan Romawi dalam peperangan besar dan meninggalkan pengaruh bagi bangsa Arab.

    Buku Perang Hunain dan Perang Tabuk yang diterjemahkan oleh Muhammad Ridha dan H Anshori Umar Sitanggal Abu Farhan mencatat Perang Tabuk terjadi saat cuaca sangat panas dan musim paceklik. Begitu panasnya udara saat peristiwa Perang Tabuk disebut membuat orang-orang sampai menyembelih unta lalu meminum air dari dalam kantong di perut kecilnya.

    Itulah sebabnya perang ini disebut juga Ghazwah Al-Usrah, yakni perang yang dilakukan dalam masa kesulitan dan kesempitan. Kisah perang Tabuk juga dijelaskan dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 117.

    Perang antara 30 ribu pasukan kaum Muslim dan sekitar 40 ribu pasukan bangsa Romawi tersebut dimenangkan oleh kaum Muslim. Pihak Romawi yang telah berada di kawasan Tabuk kemudian mengajak berdamai dengan membayar upeti sehingga pertempuran fisik tidak pecah. Sejak peristiwa itu, pasukan Muslim semakin memperluas pengaruhnya.

    Tabuk Tertutup Salju Saat Musim Dingin

    Pada Rabu (17/12/2025) dan Kamis (18/12/2025), hujan salju turun di Tabuk. Hamparan salju tipis mengubah area pegunungan yang dikelilingi gurun menjadi negeri ajaib musim dingin. Dilansir Arab News, salah satu lokasi yang ditutupi salju itu ialah Trojena yang merupakan destinasi pegunungan untuk mendaki dan bermain ski di Jabal Al-Lawz, Tabuk.

    Lokasinya berada di ketinggian 2.600 meter. Rekaman video yang ditayangkan media terkemuka Qatar, Al Jazeera, pada 17 Desember menunjukkan area pegunungan di Tabuk, Saudi, diselimuti hamparan salju tipis.

    “Salju menyelimuti wilayah utara Arab Saudi di tengah penurunan suhu yang drastis,” tulis Al Jazeera dalam keterangan video tersebut.

    Ini bukan pertama kalinya salju menyelimuti daerah Tabuk. Pada 2023, salju juga menutupi Jabal Al-Lawz.

    Video lainnya yang direkam di area kota Hail, Saudi bagian barat laut, menunjukkan hujan salju turun di wilayah pegunungan tersebut. Sebagian wilayah Hail dilanda hujan salju pada Rabu (17/12) malam. Hujan ringan hingga sedang dilaporkan mengguyur seluruh wilayah Hail.

    Pusat Meteorologi Nasional, seperti dilansir Saudi Press Agency (SPA), melaporkan area Provinsi Al-Majmaah dan Al-Ghat yang terletak di utara Riyadh dilanda hujan salju pada Kamis (18/12) pagi waktu setempat. Hal itu menyebabkan penumpukan salju di dataran tinggi dan di area-area terbuka.

    Juru bicara Pusat Meteorologi Nasional, Hussein Al-Qahtani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca yang melanda area sebelah utara Riyadh merupakan akibat dari massa udara dingin yang bergerak ke area tersebut, disertai awan pembawa hujan. Al-Qahtani mengimbau warga untuk berhati-hati, terutama saat berkendara di jalanan terbuka karena potensi terbentuknya es.

    Lihat juga Video: Dihantam Badai Salju, Ratusan Pendaki Terjebak di Gunung Everest

    Halaman 2 dari 2

    (haf/imk)

  • ​Sedia Payung! DKI Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan Merata Sepanjang Sabtu Ini

    ​Sedia Payung! DKI Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan Merata Sepanjang Sabtu Ini

    Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prakiraan cuaca untuk wilayah DKI Jakarta, Sabtu 20 Desember 2025. 

    DKI Jakarta sepanjang Sabtu akan diguyur hujan intensitas ringan dengan rentang suhu udara 25 hingga 30 derajat Celsius.

    Pada wilayah Jakarta Pusat memungkinkan cuaca sepanjang hari akan cenderung lembap berkisar antara 65 hingga 90 persen. 

    Wilayah Jakarta Selatan pun akan mengalami kondisi serupa dengan suhu udara sama, namun dengan tingkat kelembaban sedikit berbeda yakni antara 64 hingga 90 persen. 

    Kondisi ini menunjukkan bahwa meski hujan tidak turun dengan deras, udara di wilayah selatan akan tetap terasa sangat basah dan dingin.

    Pada wilayah Jakarta Timur, BMKG memprediksi hujan ringan akan mengguyur dengan suhu udara di angka 25 sampai 30 derajat Celsius. Kelembaban udaranya diperkirakan mencapai angka 64 hingga 89 persen. 

    Sementara itu, warga di wilayah Jakarta Barat diimbau untuk bersiap menghadapi suhu yang sedikit lebih sejuk, yakni mulai dari 24 hingga 30 derajat Celsius. 

    Jakarta Barat akan diguyur kelembaban di beberapa titik pemungkiman. Tercatat potensi kelembaban tertinggi mencapai 92 persen dan memungkinkan adanya kabut tipis.

    Di sisi utara Jakarta, diprediksi akan mengalami hujan ringan dengan rentang suhu yang lebih rendah dari wilayah lainnya, yaitu 25 hingga 29 derajat Celsius, serta tingkat kelembaban yang konsisten di angka 71 hingga 89 persen. 

    Untuk wilayah Kepulauan Seribu, BMKG melaporkan bahwa secara umum kondisi cuaca akan didominasi oleh langit berawan dengan suhu udara antara 27 hingga 28 derajat Celsius. 
     

    Namun, pada beberapa pulau seperti Pulau Kelapa di bagian utara kepulauan tetap diprediksi akan diguyur hujan ringan dengan kelembaban hingga 84 persen. 

    Hal yang sama juga berlaku bagi Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu Selatan yang diperkirakan hujan ringan dengan suhu 26 sampai 28 derajat Celsius.

    DKI Jakarta termasuk dalam daerah yang berpotensi terdampak oleh munculnya bibit siklon tropis atau badai bertekanan rendah yang tengah berkembang di sekitar perairan Nusantara. 

    Hal inilah yang menjadi pemicu meningkatnya pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah. 

    Selain Jakarta, daerah lain yang patut waspada adalah Bengkulu, Sumatera bagian selatan, di selatan Pulau Jawa, kemudian Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua Tengah dan Papua Selatan.

    (Syarifah Komalasari)

    Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prakiraan cuaca untuk wilayah DKI Jakarta, Sabtu 20 Desember 2025. 
     
    DKI Jakarta sepanjang Sabtu akan diguyur hujan intensitas ringan dengan rentang suhu udara 25 hingga 30 derajat Celsius.
     
    Pada wilayah Jakarta Pusat memungkinkan cuaca sepanjang hari akan cenderung lembap berkisar antara 65 hingga 90 persen. 

    Wilayah Jakarta Selatan pun akan mengalami kondisi serupa dengan suhu udara sama, namun dengan tingkat kelembaban sedikit berbeda yakni antara 64 hingga 90 persen. 
     
    Kondisi ini menunjukkan bahwa meski hujan tidak turun dengan deras, udara di wilayah selatan akan tetap terasa sangat basah dan dingin.
     
    Pada wilayah Jakarta Timur, BMKG memprediksi hujan ringan akan mengguyur dengan suhu udara di angka 25 sampai 30 derajat Celsius. Kelembaban udaranya diperkirakan mencapai angka 64 hingga 89 persen. 
     
    Sementara itu, warga di wilayah Jakarta Barat diimbau untuk bersiap menghadapi suhu yang sedikit lebih sejuk, yakni mulai dari 24 hingga 30 derajat Celsius. 
     
    Jakarta Barat akan diguyur kelembaban di beberapa titik pemungkiman. Tercatat potensi kelembaban tertinggi mencapai 92 persen dan memungkinkan adanya kabut tipis.
     
    Di sisi utara Jakarta, diprediksi akan mengalami hujan ringan dengan rentang suhu yang lebih rendah dari wilayah lainnya, yaitu 25 hingga 29 derajat Celsius, serta tingkat kelembaban yang konsisten di angka 71 hingga 89 persen. 
     
    Untuk wilayah Kepulauan Seribu, BMKG melaporkan bahwa secara umum kondisi cuaca akan didominasi oleh langit berawan dengan suhu udara antara 27 hingga 28 derajat Celsius. 
     

     
    Namun, pada beberapa pulau seperti Pulau Kelapa di bagian utara kepulauan tetap diprediksi akan diguyur hujan ringan dengan kelembaban hingga 84 persen. 
     
    Hal yang sama juga berlaku bagi Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu Selatan yang diperkirakan hujan ringan dengan suhu 26 sampai 28 derajat Celsius.
     
    DKI Jakarta termasuk dalam daerah yang berpotensi terdampak oleh munculnya bibit siklon tropis atau badai bertekanan rendah yang tengah berkembang di sekitar perairan Nusantara. 
     
    Hal inilah yang menjadi pemicu meningkatnya pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah. 
     
    Selain Jakarta, daerah lain yang patut waspada adalah Bengkulu, Sumatera bagian selatan, di selatan Pulau Jawa, kemudian Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua Tengah dan Papua Selatan.
     
    (Syarifah Komalasari)

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di

    Google News

    (RUL)

  • Sedia Payung! BMKG Prediksi Seluruh Wilayah Jakarta Diguyur Hujan Sabtu Ini
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        20 Desember 2025

    Sedia Payung! BMKG Prediksi Seluruh Wilayah Jakarta Diguyur Hujan Sabtu Ini Megapolitan 20 Desember 2025

    Sedia Payung! BMKG Prediksi Seluruh Wilayah Jakarta Diguyur Hujan Sabtu Ini
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com-
    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Jakarta akan diguyur hujan ringan pada Sabtu (20/12/2025).
    Dilansir dari situs resmi BMKG, hujan diperkirakan tersebar merata di wilayah administrasi Jakarta dengan intensitas ringan di suhu 25 sampai dengan 30 derajat celsius.
    Wilayah Jakarta Pusat diprediksi hujan ringan dengan suhu 25 sampai 30 derajat celsius dengan kelembaban 65 sampai dengan 90 persen.
    Wilayah Jakarta Selatan diprediksi hujan ringan dengan suhu sama, dengan kelembaban 64 sampai dengan 90 persen.
    Kemudian wilayah Jakarta Timur diprediksi hujan ringan dengan suhu 25 sampai dengan 30 derajat Celsius, kelembaban 64 sampai dengan 89 persen.
    Hujan ringan juga diprediksi mengguyur Jakarta Barat dengan suhu 24 sampai dengan 30 derajat Celsius, kelembaban 66 sampai dengan 92 persen.
    Wilayah Jakarta Utara diprediksi hujan ringan dengan suhu 25 sampai dengan 29 derajat Celsius, kelembaban 71 sampai dengan 89 persen.
    Sementara itu, Kepulauan Seribu secara umum diprediksi berawan dengan suhu 27 sampai 28 derajat Celsius.
    Lebih lanjut, Pulau Kelapa di Pulau Seribu Utara tetap diprediksi mengalami hujan ringan dengan suhu 27 sampai dengan 28 derajat Celsius, dan kelembaban 80 sampai dengan 84 persen.
    Begitu pula dengan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu Selatan, yang diprediksi hujan ringan dengan suhu 26 sampai dengan 28 derajat Celsius dan kelembaban 78 sampai dengan 88 persen.
    Adapun DKI Jakarta termasuk ke dalam wilayah yang berpotensi terdampak bibit siklon tropis atau badai bertekanan rendah yang tengah berkembang dan dapat memicu hujan.
    Wilayah yang berpotensi terdampak di antaranya Bengkulu, Sumatera bagian selatan, di selatan Pulau Jawa, kemudian Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua Tengah dan Papua Selatan
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Hujan dan Badai Landa Dubai, Jalanan Banjir-Penerbangan Dibatalkan

    Hujan dan Badai Landa Dubai, Jalanan Banjir-Penerbangan Dibatalkan

    Dubai

    Jalanan di Dubai, Uni Emirat Arab, tergenang banjir usai badai dan hujan lebat melanda negara gurun tersebut. Otoritas bandara UEA membatalkan dan menunda puluhan penerbangan.

    Dilansir AFP, Jumat (19/12/2025), maskapai Emirates Dubai membatalkan 13 penerbangan pada hari Jumat. Juga terjadi penundaan dan pembatalan di bandara Sharjah setelah hujan deras semalaman, yang membangunkan warga dengan kilat dan suara guntur yang keras.

    Jalan utama Sharjah tergenang banjir pada Jumat pagi. Warga terlihat berjalan kaki tanpa alas kaki. Seorang pria mengendarai sepedanya melewati air, yang mencapai bagian atas rodanya.

    Pemandangan tersebut membangkitkan kenangan April 2024, ketika hujan lebat yang memecahkan rekor menyebabkan banjir meluas dan memaksa pembatalan lebih dari 2.000 penerbangan di pusat penerbangan internasional utama Dubai.

    Pada hari Kamis kemarin, polisi Dubai telah mendesak warga untuk tetap berada di dalam rumah kecuali “benar-benar diperlukan” karena badai hujan mendekat.

    Situs web Bandara Dubai menunjukkan puluhan penerbangan tertunda pada hari Jumat. Beberapa penerbangan dibatalkan.

    “Beberapa penerbangan… dibatalkan atau ditunda karena cuaca buruk,” kata juru bicara Bandara Dubai.

    Negara-negara Teluk lainnya juga mengalami hujan lebat, termasuk Qatar di mana pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Arab antara Arab Saudi dan UEA dibatalkan pada hari Kamis.

    Hujan deras tahun lalu di UEA, yang terberat sejak pencatatan dimulai 76 tahun lalu, menewaskan sedikitnya empat orang dan melumpuhkan Dubai selama beberapa hari.

    Sebuah studi yang diterbitkan oleh kelompok World Weather Attribution menemukan bahwa pemanasan global yang disebabkan oleh emisi bahan bakar fosil “kemungkinan besar” memperburuk hujan lebat yang melanda UEA dan Oman tahun lalu.

    (lir/lir)

  • PBB Peringatkan Keterlambatan Masuknya Bantuan Kemanusiaan di Gaza

    PBB Peringatkan Keterlambatan Masuknya Bantuan Kemanusiaan di Gaza

    JAKARTA – Kantor koordinasi bantuan kemanusiaan PBB (OCHA) memperingatkan pekan ini, bantuan kemanusiaan di Gaza tertunda karena kargo bantuan secara rutin diprioritaskan lebih rendah daripada barang-barang komersial, karena badai musim dingin terus memperburuk kondisi kehidupan yang sudah mengerikan bagi keluarga pengungsi.

    “Meskipun upaya berkelanjutan oleh PBB dan para mitranya. Kami terus memberikan respons, tetapi kebutuhan melebihi kecepatan respons yang dapat kami berikan,” kata Olga Cherevko, juru bicara OCHA, menurut situs web UN News, seperti dikutip dari WAFA (18/12).

    Lebih jauh dijelaskannya, volume pasokan yang masuk ke Jalur Gaza masih terbatas, dan daftar barang yang terus diblokir oleh otoritas Israel semakin bertambah, termasuk mesin berat, peralatan, dan suku cadang yang dibutuhkan untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak.

    Cherevko mengungkapkan, kendala besar masih berlanjut.

    “Di dalam Gaza, jumlah rute yang tersedia untuk mengangkut bantuan masih terbatas, begitu pula dengan jalur penyeberangan yang dapat dilalui pasokan untuk masuk,” ungkapnya.

    “Semua hambatan ini harus dihilangkan,” tegasnya.

    “Kita memiliki kapasitas untuk merespons, tetapi kita terkendala pada saat kebutuhan masyarakat meningkat lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memenuhinya,” tandas Cherevko.

  • Tepuk Tangan Pemerintah Berani Cabut Izin Tambang, tapi Tunggu Dulu!

    Tepuk Tangan Pemerintah Berani Cabut Izin Tambang, tapi Tunggu Dulu!

    0leh:Rosadi Jamani

       

    PAPUA mau disawitkan juga ya? Ups, salah. Nanti kita bahas itu. Saya mau bahas soal izin tambang atau konsesi. 

    Banyak tepuk tangan ketika pemerintahan Prabowo Subianto mencabut izin perusahaan tambang yang merusak lingkungan. But, wait the minute! 

    Jangan senang dulu kalau dengar pemerintah mencabut izin. Jangan cepat mengira hutan menang dan ekskavator kalah. 

    Di rimba tropis Indonesia, yang sering dicabut itu bukan izinnya, tapi namanya. Papan perusahaan diturunkan, papan baru dipasang. Pohonnya tetap sama. Lahannya tetap sama. Nasibnya pun sama, dikeruk sampai hancur lebur, sampai tanah kehilangan ingatan.

    Sejak 2022, negara rajin sekali memainkan jurus pencabutan. Ada 2.078 IUP minerba dicabut, 192 izin kehutanan seluas lebih dari 3 juta hektare ditarik, ditambah puluhan HGU perkebunan. Dari jauh terlihat seperti badai besar yang menyapu hutan hujan tropis. 

    Tapi anehnya, setelah badai berlalu, hutan kapital tetap berdiri. Yang tumbang hanya daun administrasi.

    Masuk ke 2025, narasinya makin canggih. Empat IUP nikel di Raja Ampat dicabut, yakni PT Anugerah Surya Pratama, PT Nurham, PT Mulia Raymond Perkasa, dan PT Kawei Sejahtera Mining, karena melanggar lingkungan dan status geopark. 

    Sebelumnya, 18 PBPH termasuk HTI juga dicabut, ratusan ribu hektare tersebar dari Sumatera sampai Papua. Publik kembali bersorak. Media kembali menulis “negara hadir”.

    Namun di bawah kanopi lebat, di antara akar bakau dan rawa gambut, transaksi sunyi berlangsung. Izin yang dicabut tidak benar-benar mati. 

    Ia berpindah tubuh. Seperti roh lama yang masuk ke jasad baru. Inilah fase berikutnya, redistribusi konsesi, bukan penyelamatan ekologi.

    Hingga akhir 2025, pemerintah telah menawarkan sedikitnya 27 Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) kepada organisasi kemasyarakatan keagamaan. 

    Dasarnya sah, legal, dan rapi: PP No. 25 Tahun 2024, perubahan atas PP No. 96/2021. Dalam aturan ini, ormas keagamaan disetarakan dengan BUMN dan BUMD sebagai penerima prioritas WIUPK. Alasannya terdengar luhur, pemberdayaan ekonomi, agar ormas tidak bergantung pada donasi.

    Di atas kertas, ini terlihat seperti keadilan distributif. Di lapangan, ini terasa seperti pergantian penjaga altar, sementara korban yang disembelih tetap sama: hutan tropis.

    Dari 27 WIUPK yang ditawarkan hingga pertengahan 2025, pemerintah belum membuka secara terang berapa yang sudah resmi menjadi izin. Transparansi menguap seperti kabut pagi di hutan dataran rendah. 

    Beberapa ormas besar merespons berbeda. Ada yang menerima seperti durian runtuh sampai akhirnya ormas terpecah belah. Ada yang waras, menolak. 

    “Maaf kami tak ikutan, ngurus ummat aja susah.” Ada juga budek, di hutan itu seolah ada tumpukan emas yang harus dikeruk sebanyak-banyak. 

    Penolakan ini bukan tanpa alasan. JATAM dan WALHI sejak awal mengecam kebijakan ini sebagai obral konsesi dan politik balas budi. Mereka mencium aroma konflik lahan, kerusakan lingkungan, dan politisasi agama. 

    Pertanyaannya tajam, ketika tambang dikelola ormas, siapa yang mengawasi? Kepada siapa publik bisa menuntut pertanggungjawaban ketika sungai tercemar dan tanah adat retak?

    Di titik inilah konspirasi itu terasa utuh. Pencabutan izin lama membuka jalan bagi izin baru. Dari korporasi ke korporasi, dari perusahaan ke ormas, dari satu badan hukum ke badan hukum lain. 

    Secara formal, negara tampak tegas. Secara substantif, tak ada izin yang benar-benar dicabut. Yang ada hanya ganti kepemilikan. Hutan tetap diposisikan sebagai objek ekonomi yang sah untuk dilubangi.

    Padahal undang-undang menyediakan jalan lain: pidana. 10-15 tahun penjara bagi pengurus korporasi dengan prinsip corporate liability dalam UU Minerba dan UU PPLH. 

    Tapi senjata ini jarang ditembakkan. Kasus Raja Ampat 2025 membuka peluang pidana, namun hingga akhir tahun, pemilik tetap aman di balik badan usaha dan jejaring kuasa. Yang dihukum hanya entitas abstrak, bukan manusia yang mengambil keputusan.

    Maka, pencabutan izin, penawaran WIUPK ke ormas, dan narasi pemberdayaan ekonomi itu semua menyatu dalam satu siklus. Seperti aliran sungai hutan hujan, berkelok, tertutup kanopi, tapi ujungnya sama, ke laut eksploitasi. 

    Selama objeknya tetap lahan hutan yang harus dikeruk, selama tambang hanya berpindah tangan tanpa perubahan paradigma, semua ini hanyalah drama pergantian pemain, bukan perubahan cerita.

    Sampai akhir 2025, pertanyaan besarnya belum dijawab, apakah negara sedang mendistribusikan keadilan, atau sekadar mendistribusikan izin kehancuran dengan wajah baru, kadang korporasi, kadang ormas, kadang dibungkus moral, kadang dibungkus hukum.

    Hutan tropis kita tahu jawabannya. Ia tak peduli siapa pemilik izinnya. Baginya, setiap izin yang sah untuk mengeruk adalah vonis. Vonis itu, sejauh ini, selalu sama.

    (Ketua Satupena Kalbar)

  • Jepang Perbaiki Sistem Peringatan Cuaca Demi Percepat Evakuasi Bencana

    Jepang Perbaiki Sistem Peringatan Cuaca Demi Percepat Evakuasi Bencana

    JAKRTA – Jepang akan mulai mengoperasikan sistem peringatan cuaca yang diperbarui pada akhir Mei guna membantu mempercepat pengambilan keputusan evakuasi berdasarkan tingkat keparahan bencana alam.

    Badan Meteorologi dan Kementerian Pertanahan Jepang menerangkan sistem baru tersebut akan mengklasifikasikan empat jenis bencana cuaca yakni hujan lebat, banjir, tanah longsor, dan gelombang badai, ke dalam lima tingkat peringatan agar lebih selaras dengan sistem informasi evakuasi lima tingkat yang saat ini dikeluarkan oleh pemerintah daerah.

    Peringatan dan imbauan cuaca dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Jepang untuk membantu masyarakat memutuskan apakah perlu melakukan evakuasi, bahkan sebelum perintah evakuasi resmi diterbitkan. Namun, sejumlah kata dan struktur dalam sistem sebelumnya dinilai rumit.

    Dilansir ANTARA dari Kyodo-OANA, Selasa, 16 Desember, dalam sistem baru, akan ditegaskan “peringatan darurat” merupakan tingkat peringatan cuaca tertinggi, yaitu Level 5, yang menandakan situasi berpotensi mengancam jiwa di mana evakuasi seharusnya sudah selesai dilakukan.

    Istilah “peringatan mendesak” akan digunakan untuk Level 4, yang menunjukkan kondisi di mana pemerintah daerah diharapkan mengeluarkan perintah evakuasi. Level 3, atau “peringatan”, menunjukkan situasi yang mendorong evakuasi untuk kelompok lanjut usia, sementara imbauan cuaca akan dikategorikan sebagai Level 2.

    Seberapa luas dan cepat peringatan serta imbauan baru ini dapat disampaikan kepada warga masih menjadi tantangan utama saat terjadi bencana.

    Adapun pembaruan sistem peringatan cuaca ini disusun setelah lebih dari dua tahun diskusi di antara para ahli serta melalui revisi peraturan perundang-undangan.

    Menyebutnya sebagai perombakan besar, seorang pejabat badan meteorologi berjanji akan bekerja sama dengan lembaga terkait lainnya untuk memastikan sistem ini terintegrasi dalam masyarakat yang mengarah pada evakuasi yang lebih cepat.

    Dalam sistem baru tersebut, peringatan darurat Level 5 untuk banjir akan diterapkan pada sekitar 400 sungai yang telah ditetapkan ketika meluap atau menghadapi risiko luapan yang sangat tinggi. Sementara itu, sungai lainnya untuk sementara akan ditangani dalam kategori hujan lebat.

    Kriteria untuk mengeluarkan peringatan cuaca juga akan direvisi. Sebagai contoh, peringatan tanah longsor Level 3 akan dikeluarkan ketika kondisi diperkirakan mencapai Level 4 dalam beberapa jam ke depan, sehingga berpotensi mengurangi frekuensi penerbitan peringatan Level 3.