Tag: Badai

  • Hujan Lebat Menggulung Tokyo, Mulai Makan Korban Jiwa

    Hujan Lebat Menggulung Tokyo, Mulai Makan Korban Jiwa

    Jakarta, CNBC Indonesia – Hujan lebat disertai angin kencang memicu banjir dan gangguan transportasi di Tokyo pada Kamis (11/9/2025). Bencana ini menewaskan satu orang, melukai satu lainnya, dan menyebabkan lebih dari 7.000 rumah kehilangan aliran listrik.

    Polisi Tokyo melaporkan insiden fatal terjadi di pelabuhan Distrik Ota ketika tumpukan peti kemas runtuh.

    “Seorang pria berusia 40-an yang sedang mengoperasikan alat berat meninggal di lokasi, sementara rekannya berusia 60-an dilarikan ke rumah sakit dengan luka yang tidak mengancam jiwa,” ujar juru bicara kepolisian, dikutip dari NHK, Jumat (12/9/2025).

    Transportasi publik ikut lumpuh. JR Tokai menghentikan layanan shinkansen antara Tokyo dan Prefektur Kanagawa, berdampak pada sekitar 100.000 penumpang. JR East juga melaporkan penundaan beberapa kereta di ibu kota. Sementara itu, Bandara Haneda mengalami penundaan dan pembatalan sejumlah penerbangan akibat badai petir.

    Badan Meteorologi Jepang (JMA) mencatat curah hujan ekstrem, dengan Distrik Setagaya menerima 92 mm dan Distrik Ota 88,5 mm hanya dalam satu jam.

    “Ini adalah rekor tertinggi yang pernah tercatat di wilayah tersebut. Analisis radar kami menunjukkan beberapa area di pusat Tokyo menerima lebih dari 100 mm hujan,” kata pernyataan resmi JMA, seperti dikutip Kyodo News.

    Hujan deras juga membuat Sungai Yazawa di Setagaya dan Sungai Tachiai di Shinagawa meluap. Pemerintah distrik sempat meminta lebih dari 1.200 rumah tangga mengungsi.

    JMA memperingatkan cuaca buruk masih akan berlanjut pada Jumat (12/9/2025). Curah hujan diperkirakan mencapai 200 mm di wilayah Tokai dan 100 mm di Kanto-Koshin, termasuk Tokyo, dalam 24 jam ke depan.

     

    (luc/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Saraswati Cerdas tapi Jadi Korban Badai Politik DPR

    Saraswati Cerdas tapi Jadi Korban Badai Politik DPR

    GELORA.CO -Keputusan tak terduga datang dari Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Politisi Partai Gerindra itu resmi menyatakan mundur dari jabatannya sebagai anggota legislatif, setelah pernyataannya soal lowongan kerja memicu badai kritik publik.

    Langkah tersebut sontak memantik reaksi. Mantan Menko Polhukam Mahfud MD angkat bicara, menilai Saras sejatinya adalah sosok berkualitas.

    “Sebenarnya Saraswati itu berkualitas dan profesional sebagai anggota DPR. Saya pernah bertemu dgnnya di Malang. Saras cerdas, tahu tupoksi, dan correct,” kata Mahfud lewat akun X miliknya, seperti dikutip redaksi di Jakarta, Jumat, 12 September 2025.

    Mantan Hakim Mahkamah Konstitusi itu menggarisbawahi, pengunduran diri Saraswati sekaligus menandai babak baru dalam kiprahnya. 

    “Tetapi karena terjadi badai politik yang menerjang DPR maka Saraswati ikut menjadi korban,” ujar Mahfud.

    Semuanya bermula dari sebuah podcast yang ditayangkan salah satu media nasional. Dalam tayangan itu, Saraswati sempat melontarkan kalimat yang dinilai kurang berempati terhadap para pencari kerja. “Kalau punya kreativitas, jadilah pengusaha. Jadilah entrepreneur daripada ngomel nggak ada kerjaan,” ucapnya.

    Potongan kalimat terakhir itulah yang menyulut kemarahan netizen, dianggap meremehkan realitas sulitnya mencari pekerjaan di tanah air. Jagat media sosial pun ramai, dan tekanan terhadap Saras kian deras.

    Menyadari ucapannya menimbulkan kekecewaan, Saraswati akhirnya mengambil langkah mundur. Ia menegaskan keputusan itu dilakukan demi menjaga kepercayaan publik. Bagi Saras, lebih baik menanggalkan jabatan ketimbang melukai hati rakyat yang diwakilinya.

  • Jabar Media Summit 2025: Tantangan dan Peluang Media di Era Disrupsi

    Jabar Media Summit 2025: Tantangan dan Peluang Media di Era Disrupsi

    Bandung (beritajatim.com) – Industri media tengah berada di titik kritis menghadapi era digital yang serba cepat dan disruptif. Tahun 2025 menjadi penentu apakah media mampu bertahan di tengah badai perubahan teknologi, pergeseran perilaku audiens, dan dominasi platform digital global, atau justru tenggelam.

    CEO Suara.com, Suwarjono, menegaskan bahwa keberlangsungan hidup menjadi isu paling mendesak. “Isu kekinian yang paling berat soal keberlangsungan hidup media. Jurnalisme sekarang ini tidak mampu dan kesulitan membiayai biaya produksi media. Belakangan ini banyak media yang tidak bisa menangani gelombang badai tersebut,” ujarnya dalam Jabar Media Summit 2025 di Pasteur Conventions Center, Holiday Inn Hotel, Kota Bandung, Kamis (11/9/2025).

    Menurutnya, dua tahun terakhir menjadi masa serius bagi media. Ia menekankan pentingnya diversifikasi bisnis sebagai strategi bertahan. “Caranya biar usia media panjang, yakni media tersebut harus bisa menemukan bisnis lain di luar bisnis pemberitaan,” tambahnya.

    Model bisnis media yang disokong lini usaha lain disebutnya lebih tahan banting. “Model bisnis media ketika dibantu oleh yuridis lini bisnis yang lain, itu rata-rata bisa bertahan. Jadi salah satu model bisnis media karena menarik kalau kita memiliki model bisnis yang lain,” jelasnya.

    Inovasi menjadi kunci lain. Suwarjono menyebut pengalaman Suara.com selama satu dekade menunjukkan trial and error dalam mencari model bisnis baru adalah keniscayaan. “Hal ini yang bisa membuat kami bisa survive hingga sampai saat ini kami belum pernah melakukan layoff,” ungkapnya.

    Ia memaparkan sepuluh tantangan besar yang dihadapi media, mulai dari penurunan trafik berita, efisiensi anggaran iklan pemerintah, disrupsi AI, perubahan perilaku audiens, hingga dominasi platform digital dalam periklanan. “Saya kira ini menjadi PR bagi kita, dan ini akan mengubah kondisi media saat ini,” tegasnya.

    Meski demikian, peluang juga terbuka lebar. Menurutnya, media kecil justru lebih berpeluang untuk sustain. “Di antaranya konsolidasi dan optimasi aset digital, media sebagai jembatan, ekosistem/showcase, hingga karakter channel dan monetisasi,” katanya.

    Ia juga menekankan pentingnya memahami posisi media dalam rantai industri. “Salah satu peluang yang cukup besar di luar media, adalah anatomi komposisi kita, apakah posisi kita di industri hulu atau di industri hilir yang masuk langsung ke konsumen,” jelasnya.

    CEO Tempo, Wahyu Dhyatmika, menambahkan bahwa media tidak hanya bicara soal bisnis, tetapi juga demokrasi. “Apa manfaat berita kita untuk publik untuk menjunjung demokrasi, apa manfaat yang diberikan kepada pasar,” ujarnya.

    Namun, ia mengakui adanya kesenjangan signifikan antara value creation dan value capture. “Problemnya adalah adanya kesenjangan antara jumlah yang dihasilkan model bisnis ini, dan itu cukup signifikan berdampak pada trafik atau pageview media,” kata Wahyu.

    Ia menyebut pendapatan dari langganan Tempo hanya mampu menutup 15 persen biaya produksi. “Artinya dengan perubahan media dengan mengandalkan adsense, pageview tidak bisa untuk membiaya biaya produksi redaksi,” jelasnya.

    Wahyu menekankan perlunya intervensi negara. “Bisa dengan dimulai dengan pemerintah untuk memberikan keringanan pajak penghasilan untuk karyawan di perusahaan media,” sarannya.

    Dari sisi regulasi, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Dewan Pers, Muhammad Jazuli, menyoroti ketimpangan aturan antara media arus utama dan media sosial. “Media arus utama apapun platform bentuknya, itu jelas ada aturannya. Sementara social media dari segi konten maupun dari segi bisnis tidak ada yang mengatur,” ujarnya.

    Ia mendorong pemerintah lebih peduli pada media sebagai pilar demokrasi. “Media untuk bisa bertahan, pemerintah bisa membuat kebijakan yang memberikan keringanan kepada media arus utama,” tegasnya.

    Jazuli juga menyinggung tingginya jumlah aduan ke Dewan Pers yang mencapai 867 kasus sepanjang 2025, mayoritas dimenangkan oleh pengadu. Hal ini mencerminkan perlunya media berbenah agar kepercayaan publik tidak terkikis.

    Dari perspektif lain, Eva Danayanti dari International Media Support (IMS) menekankan pentingnya relevansi media lokal. “Kuncinya kalau ngomongin konten, kalau kita memperhatikan di sekitar dan di sebelah kita, itu bisa lebih relevan untuk konten media lokal bahkan hiperlokal,” katanya.

    Menurutnya, media lokal perlu membangun interaksi yang lebih dekat dengan audiens. “Jadi bagaimana audiens tidak hanya diberlakukan sebagai pembaca tapi juga bagaimana mereka bisa terlibat,” jelasnya.

    Eva berharap media lokal fokus pada relevansi, bukan ambisi menjadi besar. “Ke depan media lokal bukan bagaimana menjadi media besar, tapi bagaimana menjadi relevan dengan konteks lokalnya,” pungkasnya.

    Jabar Media Summit 2025 menghadirkan ratusan peserta dari perwakilan media se-Jawa Barat, akademisi, pemerintahan, hingga pelaku usaha. Tahun ini, forum tersebut mengusung tema Pendalaman Model Bisnis dan Konten Berdampak, dengan empat sesi utama: masa depan media lokal di era digital, penggunaan AI untuk mendukung kerja media, membangun konten berdampak, serta kolaborasi media dengan stakeholder.

    Acara terselenggara berkat kolaborasi AyoBandung.id, Suara.com, dan Radar Cirebon dengan dukungan sejumlah mitra, termasuk bank bjb, Bank BNI, Harita Nikel, Bio Farma, JNE, Eiger Adventure, PLN UID Jabar, Bank Indonesia Jawa Barat, bjb Syariah, Pos Indonesia, Cirebon Power, Modena, Diskominfo Kota Cirebon, dan Yamaha. [beq]

  • Kisah Dokter Bedah Lakukan Operasi Usus Buntu ke Dirinya Sendiri

    Kisah Dokter Bedah Lakukan Operasi Usus Buntu ke Dirinya Sendiri

    Jakarta

    Kondisi darurat memaksa ahli bedah Rusia Leonid Rogozov untuk melakukan operasi usus buntu pada dirinya sendiri. Hal ini terjadi pasca dirinya mengalami sakit parah dalam perjalanan ke Antartika.

    Sebagai satu-satunya dokter di tim perjalanan tersebut, ia tidak bisa meminta bantuan orang lain.

    Leonid Rogozov yang kala itu masih berusia 27 tahun mulai merasa lelah, lemah, dan mual, hingga nyeri hebat muncul di sisi kanan perutnya.

    “Sebagai seorang ahli bedah, ia tidak kesulitan mengetahui keluhan tersebut mengarah ke radang usus buntu akut,” cerita putranya, Vladislav, menceritakan momen-momen tegang, dikutip dari BBC.

    “Itu adalah kondisi yang telah ia lakukan berkali-kali.”

    Rogozov adalah bagian dari ekspedisi Antartika Soviet keenam, sebuah tim yang terdiri dari 12 orang telah dikirim untuk membangun pangkalan baru di Oasis Schirmacher.

    Stasiun Novolazarevskaya beroperasi pada pertengahan Februari 1961, dan setelah misi mereka selesai, kelompok itu bersiap untuk menghadapi bulan-bulan musim dingin yang keras.

    Namun, pada akhir April, nyawa Rogozov terancam dan ia tidak memiliki harapan bantuan dari luar. Perjalanan dari Rusia ke Antartika telah memakan waktu 36 hari melalui laut, dan kapal baru akan kembali setahun kemudian. Penerbangan mustahil dilakukan karena adanya badai salju.

    “Ia dihadapkan pada situasi hidup dan mati yang sangat sulit,” kata Vladislav.

    “Pilihannya hanya dua, ia terus menunggu bantuan yang tidak kunjung datang tau mencoba mengoperasi dirinya sendiri.”

    Itu bukan pilihan yang mudah. Rogozov tahu usus buntunya bisa pecah dan jika itu terjadi, hampir pasti nyawanya tidak selamat. Berulang kali Rogozov berpikir, tetapi gejalanya semakin memburuk.

    “Ia harus membuka perutnya sendiri untuk mengeluarkan ususnya,” kata Vladislav.

    “Ia tidak tahu apakah itu mungkin dilakukan manusia.”

    Selain itu, saat itu adalah Perang Dingin, dengan Timur dan Barat bersaing dalam perlombaan nuklir, antariksa, dan kutub, yang bebannya berada di pundak kedua negara dan individu.

    Dengan segala pertimbangan, Rogozov melakukan auto-apendektomi daripada mati tanpa melakukan apa pun.

    “Saya tidak tidur sama sekali tadi malam. Rasanya sakit sekali! Badai salju menerjang jiwa saya, meratap seperti 100 serigala,” tulis Rogozov, dalam buku hariannya.

    “Masih belum ada gejala yang jelas bahwa perforasi akan segera terjadi, tetapi firasat buruk yang mencekam menyelimuti saya. Inilah saatnya. Saya harus memikirkan satu-satunya jalan keluar yang mungkin, mengoperasi diri saya sendiri, meski tampaknya hampir mustahil, tetapi saya tidak bisa menyerah begitu saja.”

    Detik-detik Operasi

    Rogozov menyusun rencana terperinci tentang bagaimana operasi akan berlangsung dan menugaskan peran serta tugas spesifik kepada rekan-rekannya.

    Ia menunjuk dua asisten utama untuk menyerahkan instrumen, mengatur posisi lampu, dan memegang cermin, ia berencana menggunakan pantulan cermin untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Direktur stasiun juga ada di ruangan itu, untuk berjaga-jaga jika salah satu asisten lainnya pingsan.

    “Dia sangat sistematis, bahkan menginstruksikan mereka apa yang harus dilakukan jika ia kehilangan kesadaran,” kata Vladislav.

    Anestesi umum tidak mungkin dilakukan. Ia dapat memberikan anestesi lokal pada dinding perutnya, tetapi setelah ia mengiris usus buntu, pengangkatan usus buntu harus dilakukan tanpa penghilang rasa sakit lebih lanjut, agar kepalanya tetap jernih.

    “Kasihan asisten-asistenku! Di menit-menit terakhir, saya melihat ke arah mereka. Mereka berdiri di sana dengan pakaian operasi putih mereka, bahkan lebih putih dari putihnya,” tulis Rogozov kemudian.

    “Saya juga takut. Tapi ketika saya mengambil jarum suntik berisi novocaine dan menyuntikkan sendiri suntikan pertama, entah bagaimana saya langsung masuk ke mode operasi, dan sejak saat itu saya tidak merasakan apa-apa lagi.”

    Rogozov berniat menggunakan cermin untuk membantunya mengoperasi, tetapi ia merasa pandangan terbalik cermin itu terlalu mengganggu sehingga ia akhirnya bekerja dengan sentuhan, tanpa sarung tangan.

    Sempat Perdarahan Hebat

    Saat mencapai bagian terakhir dan tersulit dari operasi, ia hampir pingsan. Ia mulai takut akan gagal di rintangan terakhir.

    “Pendarahannya cukup deras, tapi saya melakukannya dengan perlahan. Setelah membuka peritoneum, saya melukai usus buntu dan harus menjahitnya,” tulis Rogozov.

    “Saya semakin lemah, kepala saya mulai berputar. Setiap empat hingga lima menit saya beristirahat selama 20-25 detik.

    “Akhirnya, ini dia, usus buntu terkutuk itu! Dengan ngeri saya melihat noda gelap di dasarnya. Itu berarti tinggal sehari lagi dan usus buntu itu akan pecah. Jantung saya berdebar kencang dan terasa melambat, tangan saya terasa seperti karet. Yah, pikirku, semuanya akan berakhir buruk, dan yang tersisa hanyalah pengangkatan usus buntu.”

    Tapi dia tidak gagal. Setelah hampir dua jam, dia menyelesaikan operasinya, hingga jahitan terakhir.

    Lalu, sebelum beristirahat, dia memberi tahu asistennya cara mencuci instrumen bedah, dengan tenang dan rapi, Rogozov meminum beberapa antibiotik dan obat tidur.

    Itu adalah pencapaian yang luar biasa.

    “Yang terpenting, dia merasa lega karena memiliki kesempatan lain untuk hidup,” kata Vladislav.

    Rogozov kembali ke tugas normalnya hanya dua minggu kemudian pasca operasi tersebut.

    Halaman 2 dari 3

    (naf/kna)

  • Apa Itu Scrub, Istilah Roket Batal Meluncur Seperti Satelit Nusantara Lima

    Apa Itu Scrub, Istilah Roket Batal Meluncur Seperti Satelit Nusantara Lima

    Jakarta

    Peluncuran Satelit Nusantara Lima (SNL) milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) mengalami scrub atau penundaan yang kedua kalinya. Kondisi cuaca kembali menghambat misi peluncuran.

    SpaceX sempat hendak menerbangkan roket Falcon 9 tepat pukul 21.30 waktu setempat, bahkan hitung mundur tinggal 30 detik saja. Kemudian, ruang kontrol menyampaikan informasi bahwa peluncuran Satelit Nusantara Lima ditunda esok di waktu yang sama.

    Scrub adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peluncuran yang tidak tepat waktu. Penundaan terjadi ketika tanggal peluncuran yang direncanakan diundur ke tanggal yang lebih lambat.

    Scrub terjadi ketika misi dibatalkan pada hari peluncuran dan dijadwalkan ulang di kemudian hari. Biasanya, scrub merupakan pilihan mendadak yang disebabkan oleh cuaca buruk atau kerusakan mekanis yang bisa menimbulkan masalah keselamatan.

    Dalam peluncuran roket, ada ‘launch windows’ atau waktu-waktu tertentu yang tersedia. Roket hanya diperbolehkan untuk diluncurkan dalam rentang waktu tertentu. Rentang waktu ini dapat berlangsung mulai dari setengah jam hingga beberapa jam per hari.

    Namun, rentang waktu tersebut pun tidak tersedia setiap hari. Terdapat juga launch periode yang merupakan hari-hari ketika kesejajaran planet (atau benda langit) dengan planet kita sedemikian rupa sehingga menguntungkan misi.

    Sambil menunggu cuaca membaik atau petugas pemeliharaan menangani masalah teknis, roket atau pesawat antariksa sering kali ditinggalkan di landasan peluncuran. Namun, pesawat antariksa terkadang harus dikembalikan Vehicle Assembly Building (VAB) atau gedung perakitan kendaraan. Hal ini disebut sebagai rollback.

    Mengutip laman Kennedy Space Center, penundaan, pembatalan, dan keterlambatan peluncuran, cenderung terjadi karena salah satu alasan di bawah ini.

    Cuaca

    Alasan paling umum scrub adalah cuaca buruk. Bayangkan, penerbangan komersial biasa saja bisa tertunda akibat cuaca buruk. Maka wajar jika cuaca menjadi alasan scrub karena bisa menggagalkan misi yang bernilai ratusan juta dolar.

    Demi keselamatan peluncuran, ahli meteorologi penerbangan akan menganalisis 14 titik data meteorologi. Angin sedang dianalisis secara khusus, mengingat peluncuran tidak dapat dilakukan jika kecepatan angin berkelanjutan di ketinggian 48 meter, landasan peluncuran melebihi 48 km/jam. Angin atmosfer bagian atas biasanya bertiup dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi, sehingga meningkatkan geseran angin vertikal.

    Petir dan badai petir merupakan fenomena terpenting yang perlu dipantau terkait peluncuran antariksa. NASA tidak akan mengisi bahan bakar roket jika terdapat peluang sambaran petir lebih dari 20% dalam radius 8 km dari lokasi peluncuran. Jika petir terlihat dalam radius 16 km laut dari lokasi peluncuran atau rute penerbangan, peluncuran akan ditunda selama 30 menit hingga kondisi yang dipersyaratkan terpenuhi.

    Kondisi lain yang harus diukur adalah kelistrikan langit yang terkait dengan badai petir. Jika tepi badai petir yang telah menghasilkan petir dalam 30 menit terakhir berada dalam radius 16 km dari lokasi peluncuran, maka peluncuran akan dibatalkan.

    Awan juga menimbulkan risiko keamanan bagi roket. Jika lapisan awan lebih tebal dari 1.371 meter, mencapai suhu di bawah titik beku, dan berada dalam jarak 16 km laut dari awan kumulus, peluncuran akan dibatalkan. Roket tidak dapat diluncurkan jika terjadi presipitasi (hujan atau gerimis).

    Dalam cuaca panas, peluncuran roket biasanya berjalan lancar. Di sisi lain, suhu di bawah 8,88 derajat Celcius dapat mengakibatkan pembentukan es yang berbahaya.

    Alasan umum lainnya untuk pembatalan peluncuran roket adalah keberadaan sejumlah besar partikel berenergi tinggi di ruang angkasa dekat orbit.

    Hal Teknis

    Roket itu sendiri merupakan keajaiban teknis, dengan kompleksitas yang sebanding namun sangat rumit. Satu kegagalan mekanis saja dapat membahayakan keselamatan seluruh roket dan mencegah misi mencapai orbit.

    Ribuan sensor mengumpulkan data hingga detik-detik terakhir peluncuran untuk memeriksa apakah ada yang salah di dalam roket. Jika mendeteksi sesuatu yang tidak biasa atau menimbulkan kekhawatiran, mereka dapat segera memulai pembersihan, memastikan keselamatan roket dan muatannya. Belum lagi perlunya melakukan pengujian integritas dan perawatan semua komponen roket sebelumnya.

    Faktor Lain

    Peluncuran luar angkasa berpotensi terhambat oleh faktor-faktor yang jauh lebih ganjil. Misalnya, misi pasokan ulang Stasiun Luar Angkasa Internasional yang dijadwalkan diluncurkan dari Wallops Flight Facility NASA pada 2014 dibatalkan karena sebuah perahu layer secara tidak sengaja melintasi jalur penerbangan roket sekitar 64 kilometer dari lokasi peluncuran.

    Jika roket lepas landas dan mengalami kegagalan fatal, penumpang di dalamnya akan berada dalam bahaya. Risiko tersebut mendorong NASA untuk menunda peluncuran hingga hari lain. Selain itu, SpaceX juga pernah menunda peluncuran satelit Starlink karena optimalisasi konstelasi.

    Bagaimanapun, biaya akibat penundaan tidak signifikan jika dibandingkan dengan kerugian yang disebabkan akibat ledakan roket seperti yang dialami SpaceX atau bahkan sampai hilangnya nyawa. Industri luar angkasa benar-benar menerapkan pepatah ‘lebih baik mencegah daripada menyesal bahkan celaka’, dan itu hal yang baik.

    (rns/fay)

  • Penundaan Satelit Nusantara Lima Dibahas TV Lokal Orlando

    Penundaan Satelit Nusantara Lima Dibahas TV Lokal Orlando

    Orlando

    Peluncuran Satelit Nusantara Lima (SNL) milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) yang awalnya dijadwalkan pada 8 September 2025 pukul 20.02 waktu setempat (9 September 2025 pukul 08.02 WIB) di Cape Canaveral, Florida, terpaksa ditunda akibat cuaca buruk.

    Penundaan ini menjadi pembahasan di sejumlah stasiun televisi lokal Orlando, termasuk Fox 35, yang melaporkan hujan badai dan potensi petir sebagai penyebab utama.

    Dalam acara Good Morning Orlando, Fox 35 melaporkan pada malam 8 September 2025, beberapa wilayah di Florida dilanda hujan badai ekstrem, bahkan memicu potensi banjir di beberapa area. Cuaca yang tidak bersahabat ini membuat SpaceX menunda peluncuran Satelit Nusantara Lima demi menjaga keamanan.

    Disebutkan SpaceX akan mencoba kembali meluncurkan Satelit Nusantara Lima pada 9 September 2025 malam.

    Selain TV lokal, situs-situs yang membahas penerbangan luar angkasa turut menyoroti penundaan peluncuran SNL. Salah satunya Spaceflight Now yang mengabarkan ” Cuaca buruk memaksa SpaceX membatalkan peluncuran satelit komunikasi Indonesia dari Cape Canaveral”.

    Menurut laporan tersebut, SpaceX membatalkan upaya peluncuran pada Senin malam karena cuaca buruk di landasan peluncuran. Kini, perusahaan milik Elon Musk itu menargetkan peluncuran Satelit Nusantara Lima dari landasan 40 di Cape Canaveral Space Force Station pukul 20.01 EDT (07.01 WIB 10 September). Ini merupakan pembukaan dari jendela waktu 116 menit.

    Menurut prakiraan dari 45th Weather Squadron, peluang cuaca yang mendukung peluncuran pada awal jendela waktu adalah 30 persen, meningkat menjadi 45 persen seiring berjalannya waktu. Prakiraan ini berlaku untuk upaya peluncuran baik pada Senin maupun Selasa.

    Meteorolog memperkirakan “kemungkinan besar terjadi hujan dan badai” yang mencakup malam hingga pagi hari. “Kelembapan atmosfer yang tinggi akan tetap bertahan di Florida hingga awal minggu depan,” tulis petugas cuaca dikutip dari Spaceflight Now.

    “Di permukaan, batas lemah akan bergerak melintasi Florida Tengah sebelum digantikan oleh front yang lebih kuat pada pertengahan minggu depan. Pola cuaca yang tidak menentu juga dipengaruhi oleh palung di wilayah Great Lakes yang membentang ke selatan hingga Teluk Meksiko.”

    Satelit Nusantara Lima siap meluncur di Cape Canaveral, Florida, Senin (8/9/2025) waktu Amerika Serikat Foto: dok PT PSN

    SpaceX akan meluncurkan Satelit Nusantara Lima menggunakan roket Falcon 9 dengan booster tahap pertama yang telah teruji, B1078. Ini akan menjadi penerbangan ke-23 bagi booster tersebut, yang sebelumnya telah mendukung misi seperti NASA Crew-6, USSF-124, dan satelit BlueBird 1-5 milik ASTSpaceMobile.

    Setelah mendorong roket keluar dari atmosfer bawah, B1078 akan mendarat di kapal drone A Shortfall of Gravitas di Samudra Atlantik. Keberhasilan pendaratan ini akan menandai pemulihan ke-124 untuk kapal tersebut dan pendaratan booster ke-502 bagi SpaceX.

    Satelit Nusantara Lima, yang dibangun oleh Boeing dengan platform 702MP, merupakan satelit komunikasi berteknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) dengan kapasitas lebih dari 160 Gbps. Satelit ini diharapkan dapat memperkuat konektivitas internet di Indonesia, khususnya di daerah terpencil, serta mendukung pasar Asia Tenggara seperti Malaysia dan Filipina.

    Sebelumnya diberitakan Peluncuran Satelit Nusantara Lima milik PSN yang sedianya berlangsung Senin malam (8/9/2025) di Cape Canaveral, Florida, resmi ditunda. Penyebabnya bukan karena hujan, melainkan kondisi cuaca ekstrem berupa petir dan awan badai cumulonimbus yang membahayakan proses peluncuran roket.

    CEO PT PSN, Adi Rahman Adiwoso, mengonfirmasi penundaan tersebut. “Kami sudah menunggu dua jam. Cuaca diharapkan membaik, tapi malah memburuk. Kita bisa lihat hujan turun dan ada kilat,” ujarnya di area pemantau peluncuran The Gantary, Senin malam waktu setempat.

    Peluncuran dijadwalkan ulang pada Selasa, 9 September 2025, dengan jendela peluncuran sama yakni pukul 20.02-22.02 waktu Orlando (10 September. 2025 jam 07.02-09.02 WIB).

    “Insyaallah besok cuacanya lebih baik. Lebih baik kita menjaga safety daripada memaksa,” tambah Adi dengan nada optimistis.

    (afr/afr)

  • Kenapa Petir dan Awan Badai Tunda Peluncuran Satelit Nusantara Lima

    Kenapa Petir dan Awan Badai Tunda Peluncuran Satelit Nusantara Lima

    Orlando

    Peluncuran Satelit Nusantara Lima milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) yang sedianya berlangsung Senin malam (8/9/2025) di Cape Canaveral, Florida, resmi ditunda. Penyebabnya bukan karena hujan, melainkan kondisi cuaca ekstrem berupa petir dan awan badai cumulonimbus yang membahayakan proses peluncuran roket.

    CEO PT PSN, Adi Rahman Adiwoso, mengonfirmasi penundaan tersebut. “Kami sudah menunggu dua jam. Cuaca diharapkan membaik, tapi malah memburuk. Kita bisa lihat hujan turun dan ada kilat,” ujarnya di area pemantau peluncuran The Gantry, Senin malam waktu setempat.

    Jendela peluncuran yang berakhir pada pukul 22.02 waktu lokal (10.02 WIB) pun terlewat. Peluncuran dijadwalkan ulang pada Selasa, 9 September 2025, dengan jendela peluncuran sama yakni pukul 20.02-22.02 waktu Orlando (07.02-09.02 WIB).

    “Insyaallah besok cuacanya lebih baik. Lebih baik kita menjaga safety daripada memaksa,” tambah Adi dengan nada optimistis.

    Mengapa Petir dan Awan Badai Jadi Penyebab Utama Penundaan

    Penundaan peluncuran roket umumnya bukan karena hujan, melainkan keberadaan petir dan awan cumulonimbus. Kondisi tersebut sangat berbahaya bagi roket pada tahap awal penerbangan. Berikut alasannya:

    Satelit Nusantara Lima ditunda meluncur karena cuaca, pada Senin (8/9) malam waktu Amerika atau Selasa (9/9/2025) pagi WIB. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

    Risiko Petir

    Petir dapat mengenai roket yang sebagian besar terbuat dari logam, memicu kerusakan sistem elektronik hingga ledakan. Roket juga bisa memicu petir buatan saat melintasi awan bermuatan listrik (triggered lightning).

    Gangguan Sistem Navigasi dan Komunikasi

    Petir menghasilkan gangguan elektromagnetik yang bisa mengacaukan sinyal navigasi dan komunikasi roket, padahal keduanya krusial untuk misi presisi tinggi.

    Turbulensi dari Awan Cumulonimbus

    Awan badai sering disertai angin kencang dan turbulensi, yang berpotensi mengganggu stabilitas roket di fase atmosfer rendah.

    “Awan jenis ini dikenal sebagai awan badai yang sering menghasilkan petir, angin kencang, dan turbulensi ekstrem,” kata Adi.

    Standar Keselamatan Internasional

    Penyedia layanan peluncuran seperti SpaceX dan badan antariksa dunia menerapkan SOP ketat. Peluncuran wajib ditunda jika terdeteksi petir dalam radius tertentu atau awan cumulonimbus berada di jalur penerbangan roket.

    “Sesuai standard operating procedure (SOP), kalau ada petir dan awan cumulonimbus peluncuran harus dijadwal ulang,” jelas Adi.

    (afr/afr)

  • Awal Mula Balita Idap Sembelit Parah hingga Tubuhnya Dipenuhi 2 Kg Tinja

    Awal Mula Balita Idap Sembelit Parah hingga Tubuhnya Dipenuhi 2 Kg Tinja

    Jakarta

    Seorang ibu bernama Elissa Novak (35) membagikan kisah pilu tentang putranya, Ivan, yang mengalami sembelit parah namun terlambat mendapatkan penanganan medis. Kondisi itu membuat Ivan terus-menerus kesakitan dan bahkan hampir merenggut nyawanya.

    Elissa, yang berasal dari Nuneaton, Inggris, mengatakan pada masa terburuknya, Ivan mengalami muntah berulang, kehilangan berat badan, dan merasakan nyeri hebat. Seorang dokter bahkan memperkirakan sekitar 2 kg dari total bobot tubuh Ivan yang hanya 10 kg berisi tinja.

    Kini Ivan berusia lima tahun, namun Elissa mengungkapkan masa balitanya telah ‘dirampas’ oleh masalah kesehatan akibat sembelit. Pada tahun 2022, di puncak penderitaannya, Ivan harus menjalani rawat inap darurat hingga 25 kali hanya dalam enam bulan.

    “Itu benar-benar mengerikan. Dia sangat lemah sampai-sampai tidak bisa bangun sendiri atau melakukan apa pun,” tutur Elissa.

    “Ia merasakan sakit sepanjang waktu, entah berteriak kesakitan atau hanya terbaring karena tubuhnya terlalu lemah.”

    Elissa menceritakan bahwa ia harus terus-menerus membawa Ivan ke dokter anak di rumah sakit demi mencari jawaban. Saat itu, di Warwickshire belum tersedia layanan khusus untuk masalah usus maupun kandung kemih anak, sehingga ia terpaksa bolak-balik ke UGD hingga empat kali dalam seminggu.

    Baru ketika kondisi Ivan mencapai titik kritis, dokter akhirnya mengungkapkan bahwa penyebab utama rasa sakitnya adalah sembelit. Elissa meyakini, bila penanganan terlambat sedikit saja, nyawa putranya bisa melayang.

    Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh usus besar Ivan terdampak, bahkan sampai menekan rongga paru-parunya dan mengancam fungsi organ vital tersebut.

    Elissa menggambarkan kondisi putranya yang kritis akibat kondisi tersebut. Ia mengatakan perut kecil Ivan seperti remuk, semua organ di dalamnya terdorong keluar akibat sembelit parah. Situasi itu membuat mereka harus berkali-kali menghabiskan waktu hingga 12 jam di ruang gawat darurat, hanya untuk menunggu tindakan enema.

    “Itu adalah masa yang sangat mengerikan. Sangat traumatis bagi semua orang.” lanjutnya.

    Ivan diketahui memiliki dua sindrom genetik yang memengaruhi fungsi kognitifnya. Menurut Elissa, kondisi inilah yang membuat tanda-tanda penyakitnya sering terabaikan sehingga sembelit tidak terdiagnosis lebih awal.

    “Itu dianggap ‘memang begitulah anak-anak disabilitas’. Kami bahkan punya konsultan yang bilang ‘anak-anak disabilitas cuma teriak-teriak’,” kata Elissa.

    “Hal itu tidak ditangani dengan benar, tidak ditanggapi dengan serius sampai ia benar-benar berada di titik kritis. Tanda-tanda rasa sakitnya tidak dikenali. Itu benar-benar seperti badai yang sempurna.”

    Ivan sekarang memiliki paket perawatan sehingga sembelitnya dapat diatasi di rumah dengan obat pencahar dan pembersihan usus setiap hari.

    “Itu bagian besar dari hidupnya dan bagian besar dari harinya. Dia masih merasakan sakit, tapi sudah jauh lebih baik,” kata ibunya.

    Elissa berkampanye untuk layanan perawatan kandung kemih dan usus yang lebih baik di seluruh negeri.

    “Banyak orang terabaikan,” katanya.

    Menurut data National Health Service, jumlah anak berusia hingga 16 tahun yang dirawat di rumah sakit di Inggris karena sembelit dan gejala terkait kini mencapai titik tertinggi dalam 10 tahun terakhir, dengan lebih dari 44.000 kasus rawat inap pada periode 2023-2024.

    Seorang pakar menilai, anak-anak dirugikan karena tidak adanya layanan khusus kandung kemih dan usus di beberapa wilayah negara itu. Menurut badan amal Bladder and Bowel UK, sekitar 1,5 juta anak di Inggris menderita sembelit.

    “Ini masalah besar, namun banyak tenaga kesehatan yang tidak menganggapnya sebagai isu serius pada anak-anak,” kata Davina Richardson, perawat spesialis anak dari badan amal tersebut.

    “Membicarakan soal pipis dan pup sangat tidak khas orang Inggris. Itu bukan sesuatu yang biasa dilakukan dalam budaya kami.”

    Simak Video “Video: IDAI Sebut Anak Gemuk Bukan Berarti Sehat”
    [Gambas:Video 20detik]
    (suc/suc)

  • Pembenahan BUMN, Ibarat Revitalisasi Kapal Besar

    Pembenahan BUMN, Ibarat Revitalisasi Kapal Besar

    Bisnis.com, JAKARTA – Belum lama ini, Dony Oskaria, COO Danantara, mengungkapkan fakta bahwa 53% BUMN merugi, sementara 97% dividen negara hanya berasal dari 8 perusahaan. Kerugian, baik langsung maupun tidak langsung, ditaksir mencapai Rp50 triliun per tahun.

    Ini belum memperhitungkan dividen yang tergerus Penambahan Modal Negara (PMN) untuk menyuntik perusahaan-perusahaan sakit. Untuk mengatasinya, Danantara menggagas kajian menyeluruh atas seluruh BUMN, termasuk wacana penggabungan lebih dari 1.000 anak, cucu, hingga cicit perusahaan. Harapannya, melalui redesain model bisnis, BUMN lebih efisien dan kompetitif.

    Langkah ini penting, tetapi pertanyaannya: apakah masalah BUMN hanya sebatas desain bisnis? Mengapa dengan dukungan dana yang besar dan dukungan politik yang kuat BUMN gagal berfungsi sebagai pilar ekonomi yang andal? BUMN ibarat kapal besar yang berlayar membawa kepercayaan rakyat dan ekonomi negara. Kapal dibangun dengan dana besar dan teknologi modern, tetapi masa depannya ditentukan oleh nakhoda, awak, pengawasan, visi pemilik, aturan, dan perawatan.

    Direksi adalah nakhoda, menentukan arah dan menjaga pelayaran. Dewan Komisaris ibarat pengawas pelayaran, memastikan kapal tidak salah arah. Pemegang Saham (negara/Danatara) adalah pemilik kapal, menetapkan tujuan dan memilih nakhoda. Good Corporate Governance (GCG) adalah aturan pelayaran internasional. Perawatan kapal melambangkan pemeliharaan sistem dan budaya organisasi. Tanpa nakhoda kompeten, awak terlatih, dan pemilik bijak, ketaatan pada aturan, kapal sebesar apa pun bisa karam.

    REDESAIN BISNIS

    Redesain bisnis BUMN dapat dianalogikan sebagai mengubah strategi pelayaran. Perubahan ini tidak hanya soal rute, tetapi juga muatan, tujuan, dan keseimbangan kapal. Pertama, rute pelayaran. Kapal diarahkan ke jalur per dagangan internasional yang menguntungkan, tetapi pelayaran antar-pulau tetap penting sebagai kewajiban publik. Rute ini sering tidak menghasilkan laba, tetapi vital bagi persatuan ekonomi nasional. Di sinilah crosssubsidy berlaku di mana keuntungan dari rute-rute utama yang gemuk digunakan untuk menopang rute-rute kecil. Jika dikelola dengan tepat, bukan hanya efisiensi yang dicapai, tetapi juga pemerataan pembangunan dan keadilan sosial.

    Kedua, jenis muatan. Kapal yang cerdas mengangkut muatan sesuai kebutuhan pasar seperti pangan ke daerah kekurangan atau energi ke wilayah terpencil. Begitu pula BUMN, muatannya harus berupa muatan pilihan yang relevan dengan kebutuhan bangsa. Misalnya, energi baru terbarukan, ketika dunia bergerak meninggalkan batu bara. Pangan dan kesehatan, yang terbukti kru sial dalam menjaga ketahanan nasional. Jaringan logistik terpadu, sebagai tulang punggung distribusi barang dari Sabang hingga Merauke.

    Layanan publik esensial, yang meski berbiaya tinggi tetap harus dijalankan dengan dukungan skema cross-subsidy. Dengan demikian, muatan BUMN tidak hanya sekadar penuh, tetapi relevan, bernilai strategis, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat. Ketiga, pelabuhan tujuan. Rute harus diarahkan ke pelabuhan yang direncanakan. Demikian juga BUMN harus memiliki strategi pasar jangka panjang, bukan sekadar memenuhi permintaan sesaat atau mengikuti arus.

    Keempat, kapasitas dan keseimbangan. Kapal terlalu besar untuk muatan kecil akan boros biaya, sedangkan kapal terlalu kecil bisa tenggelam karena kelebihan beban. Hal ini sama dengan mismatch antara modal BUMN dengan skala bisnisnya. Konsolidasi dan restrukturisasi diperlukan agar ukuran kapal sesuai dengan muatannya.Kelima, armada pendukung. Kapal besar sering diiringi kapal-kapal pendukung yang lebih kecil. Bila selaras, armada ini bisa memperluas jangkauan dan memperkuat daya saing. Namun bila dibiarkan, anak dan cucu perusahaan justru menjadi beban. Sinergi mutlak diperlukan agar mereka menjadi supporting fleet, bukan kapal kecil tanpa arah. Keenam, navigasi dan inovasi.

    Dunia pelayaran berubah cepat dengan teknologi navigasi modern. Begitu pula BUMN yang dituntut mengadopsi digitalisasi, big data, dan kecerdasan buatan dan lainnya sebagai instrumen yang membuat pelayaran lebih cepat, efisien, dan aman da lam persaingan global.

    AKAR MASALAH

    Masalah terbesar BUMN bu kan hanya tumpang tindih bisnis, melainkan manusia yang mengemudikannya. Pertama, direksi sebagai nakhoda. Banyak direksi dipilih bukan karena merit, melainkan politik. Akibatnya keputusan strategis tidak kon sisten dan sering jangka pendek. Kedua, dewan komisaris sebagai pengawas. Idealnya independen, tetapi sering dianggap jabatan politik atau balas jasa. Fungsi pengawasan pun melemah. Ketiga, pemegang saham sebagai pemilik.

    Seharusnya menetapkan visi dan menyerahkan kendali kepada profesional. Namun, sering kali ikut masuk ke ruang kendali, memberi instruksi kontradiktif, dan membuat navigasi kehilangan konsistensi. Keempat, aturan pelayaran. Banyak BUMN masih abai pada prinsip GCG: laporan tidak transparan, konflik kepentingan, atau procurement yang tidak akuntabel. Dalam analogi kapal, ini sama dengan melanggar aturan keselamatan yang berakibat fatal. BUMN Indonesia bukan satu-satunya kapal besar di lautan global. Banyak contoh negara lain yang berhasil mengarungi badai. Temasek (Singapura) fokus mutlak pada meritokrasi. Nakhoda dan awak dipilih dari profesional terbaik, bukan kompromi politik. Hasilnya, Temasek tidak hanya selamat, tetapi juga menjelma menjadi investor global kelas dunia. Khazanah (Malaysia) yang meski menghadapi tantangan, tetap menekankan tata kelola ketat dan konsistensi pemilik dalam menyerahkan kendali pada profesional. Disiplin inilah yang menjaga kapal tidak kehilangan arah. Norges Bank Investment Management (Norwegia) yang mengelola dana minyak dengan ketaatan penuh pada aturan. Transparansi dan akuntabilitas dijadikan standar mutlak, menjadikannya sovereign wealth fund terbesar di dunia. Pelajarannya jelas bahwa kapal besar hanya bisa selamat bila nakhoda, awak, aturan, dan pemilik bekerja selaras. Agar kapal BUMN benar-benar sampai ke pelabuhan tujuan, ada lima langkah penting. Pertama, seleksi direksi dan komisaris berbasis kompetensi dan integritas. Kedua, dewan komisaris harus independen dan berani memberi peringatan. Ketiga, pemegang saham menetapkan tujuan jelas, menyediakan bekal, lalu konsisten menyerahkan kemudi kepada profesional. Keempat, tata kelola dijadikan syarat mutlak, bukan formalitas. Terakhir, perawatan kapal melalui digitalisasi, pelatihan, dan pembaruan sistem agar mesin organisasi tidak aus dimakan waktu. BUMN ibarat kapal besar yang membawa harapan bangsa. Redesain bisnis, merger, dan efisiensi penting, tetapi semua itu tak berarti tanpa nakhoda kompeten, awak profesional, pengawas inde-penden, dan pemilik yang konsisten. Sejarah membuktikan, kapal besar yang dikelola dengan benar akan sampai ke pelabuhan dengan selamat, bahkan menaklukkan samudera. Sebaliknya, kapal megah tanpa tata kelola hanya akan menjadi bangkai di dasar laut. Demikian pula BUMN.

    Keberhasilan tidak semata ditentukan oleh rute baru atau muatan pilihan, melainkan oleh manusia dan tata kelola. Peran pajak dalam APBN seharusnya dapat dilengkapi, bahkan suatu saat digantikan sebagian, oleh dividen BUMN yang sehat. Inilah tantangan terbesar sekaligus peluang emas untuk menjadikan BUMN pilar sejati pembangunan bangsa.

  • Israel Siap Lancarkan Serangan, Netanyahu Ultimatum Warga Gaza: Pergi Sekarang

    Israel Siap Lancarkan Serangan, Netanyahu Ultimatum Warga Gaza: Pergi Sekarang

    Jakarta

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan ultimatum terbaru kepada warga Gaza. Netanyahu meminta warga meninggalkan Gaza sesegera mungkin.

    Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam sebuah video pada Senin (8/9). Dia mengatakan pasukan Israel tengah bersiap melancarkan serangan terbaru di Gaza dan menduduki kota tersebut.

    “Dalam dua hari kami telah merobohkan 50 menara teror, dan ini hanyalah tahap awal dari manuver darat yang intensif di Kota Gaza. Saya katakan kepada penduduk: kalian telah diperingatkan, pergi sekarang!” kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan video dilansir AFP, Selasa (9/9/2025).

    Dia menambahkan, saat ini militer Israel telah bersiap melancarkan manuver terbaru di wilayah Gaza.

    “Semua ini hanyalah awal, hanya pembukaan, untuk operasi intensif utama — manuver darat pasukan kami, yang sekarang sedang mengorganisir dan berkumpul untuk memasuki Kota Gaza,” tambahnya.

    Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, sebelumnya juga telah melontarkan peringatan terbaru untuk kelompok Hamas agar meletakkan senjata atau menghadapi kehancuran Jalur Gaza dan pemusnahan mereka sendiri.

    Peringatan ini disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan apa yang disebutnya sebagai “peringatan terakhir” untuk Hamas agar membebaskan para sandera yang masih ditahan di Jalur Gaza.

    Katz dalam pernyataan terpisah via media sosial X, seperti dilansir AFP dan Hindustan Times, Senin (8/9), juga melontarkan peringatan terakhir untuk kelompok yang berperang melawan militer Israel di Jalur Gaza selama nyaris dua tahun terakhir ini.

    “Ini adalah peringatan terakhir bagi para pembunuh dan pemerkosa Hamas di Gaza dan di hotel-hotel mewah di luar negeri: Bebaskan para sandera dan letakkan senjata kalian — atau Gaza akan dihancurkan dan kalian akan dimusnahkan,” kata Katz dalam peringatan untuk Hamas.

    Dalam pernyataannya, Katz juga mengatakan bahwa “badai dahsyat akan menghantam langit Kota Gaza dan atap-atap menara teror” jika Hamas tidak menyerah, tidak membebaskan sandera dan tidak meletakkan senjata mereka.

    “IDF (Angkatan Bersenjata Israel-red) melanjutkan operasi sesuai rencana — dan sedang bersiap untuk memperluas manuver guna mengalahkan Gaza secara telak,” tegas sang Menhan Israel.

    (ygs/ygs)