Mengapa Kebebasan Pers Penting bagi Pembangunan?
Ketua Komite Eksekutif Indonesian Consortium for Cooperatives Innovation (ICCI), Sekretaris Umum Asosiasi Neo Koperasi Indonesia (ANKI) dan Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED)
INSIDEN
pencabutan ID Pers Istana jurnalis
CNN Indonesia,
Diana Valencia (28/9) perlu diwaspadai. Setelah diprotes oleh Dewan Pers, AJI, IJTI dan organisasi masyarakat sipil lain, Biro Pers, Media, dan Informasi (BPMI) Setpres, selang sehari mengembalikan kartu itu (29/9).
BPMI Setpres berdalih karena pertanyaan Diana kepada Presiden Prabowo Subianto, soal keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG), di luar konteks liputan.
Peristiwa itu bukan sekadar kesalahpahaman kecil. Namun, peluang tergelincirnya kembali Indonesia ke masa pembatasan kebebasan pers.
Tanpa pers bebas,
blind spots
bisa terjadi. Kasus seperti keracunan massal MBG bisa tak tersampaikan kepada pemimpin negara.
Di tengah budaya Asal Bapak Senang (ABS), pers yang bebas bisa beri informasi lapangan yang berharga bagi Presiden.
Dengan cara itu, Presiden dapat ambil langkah perbaikan cepat. Pembangunan, semisal program MBG, bisa secepatnya dievaluasi. Alhasil program pembangunan Pemerintah menjadi lebih baik.
Bayangkan rumah tanpa jendela. Gelap, tak tahu apa di luar. Pemerintah menjadi buta, krisis tak terdeteksi.
“The J Curve, A New Way to Understand Why Nations Rise and Fall” (2006) karya Ian Bremmer masih relevan dibaca. Dalam bukunya itu, ia gambarkan hubungan antara tingkat keterbukaan sebuah negara, termasuk kebebasan pers dan akses informasi, dengan stabilitas politiknya.
Mari bayangkan kurva berbentuk huruf J miring pada sumbu X dan Y. Keterbukaan negara di sumbu X dan stabilitas politik di sumbu Y.
Di sisi kiri kurva, ada negara tertutup seperti Korea Utara, di mana stabilitas tampak tinggi karena kontrol ketat.
Lalu naik ke sisi kanan, ada negara seperti Amerika dan Jepang, di mana keterbukaan justru jadi “lem” yang menahan guncangan.
Di antara sisi kiri dan kanan, ada lembah di huruf J, itulah negara-negara dalam masa transisi. Ketika mereka melewati “lembah”, ketidakstabilan seperti konflik, protes, dan kekacauan muncul karena institusi belum matang.
Namun, jika berhasil, maka mereka akan berada di sisi kanan seperti negara demokratis lainnya. China masih berada di situ.
Dalam bukunya, Bremmer tegaskan pers dan informasi bebas akan dorong akuntabilitas. Laporan suatu krisis akan picu evaluasi dan perbaikan. Pemerintah menjadi responsif dan program pembangunan yang sempat tergelincir, bisa secepatnya dikembalikan ke rel.
Ada dua kasus menarik yang dibedah Bremmer, Korea Utara dan China. Korea Utara adalah contoh paling ekstrem, sangat tertutup, dengan kontrol ketat atas informasi, media, dan interaksi dengan dunia luar.
Bremmer jelaskan rezim Kim, dari Kim Il-sung hingga Kim Jong-il, pertahankan stabilitas melalui isolasi total. Namun, itu justru membuat negara rapuh terhadap krisis internal.
Dalam bukunya, ia gambarkan bagaimana pembatasan pers dan informasi sebabkan malapetaka kelaparan, yang tewaskan antara 240.000 hingga 3,5 juta orang atau 15,9 persen dari total populasi 22 juta jiwa saat itu.
Mereka meninggal karena kelaparan atau penyakit yang berkaitan dengan kelaparan. Itu terjadi pada 1994-1998 yang dikenal sebagai
Arduous March.
Penyebab utamanya adalah pertanian gagal karena banjir, kekeringan, dan kebijakan ekonomi yang buruk.
Rezim Kim sembunyikan peristiwa kelaparan massal itu dari dunia internasional dan bahkan dari rakyatnya sendiri.
Rezim menolak bantuan luar karena takut kontaminasi ide asing, yang ancam kontrol mereka. Saat akhirnya menerima bantuan dari PBB, kondisinya sudah terlambat.
Tanpa pers bebas dan informasi dibatasi, Pemerintah terlambat menyadari kegentingan dan eskalasi suatu masalah. Di Korea Utara isolasi total untuk pertahankan stabilitas rezim, dibayar dengan jutaan korban jiwa.
Kasus kedua, China. Bremmer menilainya sebagai negara yang sedang bergeser dari sisi kiri kurva J menuju tengah, tapi tetap dengan kontrol politik ketat.
Dulu di bawah Mao Zedong, China adalah negara tertutup. Mao luncurkan kebijakan industrialisasi paksa dan gagal total. Dampaknya kelaparan terburuk dalam sejarah manusia yang sebabkan 15 juta-55 juta kematian.
Bencana itu dikenal sebagai
Great Leap Forward Famine
yang terjadi pada 1959-1961. Bremmer menyoroti bagaimana pembatasan pers memperburuk keadaan.
Laporan resmi dipalsukan untuk menyenangkan partai. Kritik dilarang, dan wartawan atau pejabat yang melaporkan kegagalan dihukum dan dicap sebagai “kontra-revolusioner”.
Padahal, tanpa informasi yang bebas, Pemerintah tidak tahu skala masalah di daerah pedesaan. Di bawah bayangan gelap ABS, mereka merasa kondisi baik-baik saja. Mereka tak sempat mobilisasi bantuan dunia internasional untuk tangani masalah itu.
Meski China modern lebih terbuka secara ekonomi, sensor pers dan internet masih berlangsung. Bremmer melihat hal itu bisa sebabkan instabilitas jika “lembah” kurva J tidak dikelola dengan baik.
Sebab suara masyarakat dikontrol oleh rezim panopticon yang memungkinkan benih krisis tersembunyi dan terlambat ditangani.
Bagaimana dengan kita? Indonesia pasca-Reformasi sudah berada di puncak sisi kanan kurva ini.
Dari rezim otoriter Orde Baru yang sensor pers dan lakukan pembatasan informasi, bergeser ke demokrasi terbuka. Media bebas, informasi terbuka dan pemilu multipartai adalah penanda.
Meski kita punya PR. Satu dekade terakhir demokrasi kita tak baik-baik saja. Peneliti ANU seperti Jaffrey dan Warburton dalam “The Jokowi Presidency” (2025), nyatakan sebagai “Indonesia’s Decade of Authoritarian Revival”. Pilar-pilar kelembagaan demokrasi dirusak dengan berbagai manuver otokratis legalisme.
Patut bagi Presiden Prabowo Subianto lebih berhati-hati dan tidak menambah kerusakan dengan pembatasan pers.
Sebaliknya, perlu baginya sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, merestorasi bangunan demokrasi kita yang cacat ini (
flawed democracy
). Penguatan peran pers salah satunya.
Dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2025, Indonesia di peringkat 127, turun 16 peringkat dari tahun sebelumnya.
Lalu The Economist Intelligence Unit (EIU) 2025 mencatat skor demokrasi Indonesia tahun 2024 pada 6,44 dari skala tertinggi 10.
Padahal satu dekade lalu, skor kita pernah mencapai 7,03 (2015). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, meski berlatar belakang militer, nampaknya justru mafhum ihwal demokrasi dan supremasi sipil.
Kasus Korea Utara dan China perlu jadi
lesson learned
bagi kita. Insiden Diana Valencia juga perlu Presiden perhatikan. Jangan sampai orang-orang di sekelilingnya batasi informasi.
Di ekonomi, informasi yang asimetris bisa ciptakan inefisiensi, biaya tinggi dan pemasok atau konsumen potensial rugi.
Sedang di pemerintahan, yang kelola anggaran ribuan triliun rupiah, informasi asimetris bisa lebih jauh fatal. Terjadi jarak pemahaman antara Pemerintah dengan masyarakat yang pada ujungnya rugikan masyarakat.
Masyarakat kehilangan peluang terhadap dampak suatu program pembangunan. Atau Pemerintah kehilangan
sense of crisis.
Gejala informasi asimetris atau bahkan misinformasi terlihat ketika Presiden menyatakan keracunan massal yang terjadi hanya 0,00017 persen saja (
Kompas.com
, 29/9).
Padahal, angkanya mencapai 0,000865 persen atau 8,65 insiden per 1 juta penyajian. Di mana
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat korban keracunan sebanyak 8.649 jiwa (
CNN Indonesia
, 29/9).
Angka yang dinyatakan Presiden lebih kecil lima kali daripada data terkini. Artinya lembaga terkait seperti Badan Gizi Nasional (BGN) telat melakukan pengkinian data.
Klaim 0,00017 persen itu sama dengan 1,7 insiden per 1 juta penyajian atau sebanyak 1.700 korban. Apakah kekeliruan itu disengaja atau tidak, Presiden perlu cek bawahannya.
Contoh informasi timpang di atas hanya mungkin diketahui dan dikoreksi karena informasi yang disediakan media massa.
Makin bebas pers dan informasi, masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan. Umpan balik demi perbaikan dapat Pemerintah lakukan.
Sebaliknya, bagaimana bila pers dan informasi dibatasi? Bayangkan kapal tanpa radar. Ombak besar tak terlihat. Pers bebas adalah radar itu. Tanpa itu, kapal bisa karam di tengah badai. Itulah mengapa kebebasan pers penting bagi pembangunan.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Tag: Badai
-

Matahari Picu Serangan Jantung, Cek Sederet Penelitiannya
Jakarta, CNBC Indonesia – Gangguan geomagnetik akibat aktivitas Matahari terbukti meningkatkan risiko serangan jantung di Bumi. Efek badai Matahari ini terungkap dari penelitian di Brasil.
Penelitian oleh National Institute for Space Research di Brasil berhasil menyatakan hubungan sebab akibat antara gangguan geomagnetik terhadap penyakit jantung sudah banyak didokumentasikan, termasuk dampaknya ke serangan jantung (myocardial infarction/MI).
Serangan jantung adalah penyumbatan aliran darah ke otot jantung yang menyebabkan kerusakan atau kematian jaringan otot jantung akibat kekurangan oksigen.
Para peneliti dari Brasil memfokuskan riset mereka serangan jantung, dengan meneliti catatan RS dari wilayah kota San Jose dos Campos pada periode 1 Januari 1998 hingga 31 Mei 2005.
Periode tersebut adalah salah satu siklus puncak aktivitas Matahari, seperti yang terjadi setahun silam. Pada 2024, menurut NASA, Matahari mencapai titik “solar maximum”, yaitu puncak dari siklus 11 tahun. Aktivitas puncak itu adalah penyebab badai Matahari dan aurora terjadi lebih sering dari biasanya.
Catatan rumah sakit yang diteliti oleh peneliti Brasil berasal dari 1.340 pasien (469 perempuan dan 871 pria). Kemudian, data tersebut dibandingkan dengan aktivitas geomagnetik pada periode yang sama.
Temuan mereka menunjukkan tren yang serupa dengan penelitian sebelumnya, yaitu serangan jantung lebih sering terjadi pada pria daripada perempuan, tetapi tingkat kematiannya setara. Selain itu, perempuan cenderung melaporkan gejala tidak biasa dibandingkan dengan pria, yang tercatat cenderung hanya melaporkan dua gejala yaitu tangan kiri yang mati rasa dan rasa sakit di dada.
Namun, para peneliti di Brasil menemukan perbedaan signifikan saat membandingkan data dengan aktivitas geomagnetik. Ketika ada gangguan geomagnetik, ada kenaikan kasus serangan jantung di rumah sakit, begitu juga kematian. Kenaikan frekuensi ini lebih banyak terjadi pada perempuan.
“Data menunjukkan, meskipun jumlah serangan jantung pada perempuan lebih rendah, pada kondisi gangguan geomagnetik, terjadi proporsi lebih tinggi,” tulis laporan penelitian seperti dikutip oleh IFL Science.
Penelitian serupa pernah diterbitkan pada 2018. Tim peneliti melaporkan bahwa variasi detak jantung (HRV), yaitu perbedaan jeda antara detak jantung berubah merespons gangguan geomagnetik. Tingkat HRV tinggi menandakan kesehatan yang lebih baik, berarti sistem saraf manusia merespons kondisi lingkungan dengan baik.
Penelitian lain yang dilakukan pada 2022 menunjukkan bahwa gangguan geomagnetik yang intensi bisa menurunkan HRV selama 24 jam,
Pada 2023, penelitian yang menggunakan data dari 204 wilayah yang terbagi atas bujur Bumi yang berbeda menunjukkan ada korelasi positif antara intensitas aktivitas geomagnetik dengan penyakit jantung.
Sekelompok peneliti Rusia juga menemukan kaitan antara badai geomagnetik dengan risiko serangan jantung dan stroke. Namun, kesimpulan itu ditarik hanya berdasarkan enam laporan penelitian.
IFL Science menyatakan berbagai penelitian itu menggambarkan bahwa masih butuh banyak data untuk menyimpulkan hubungan antara badai Matahari dan serangan jantung. Namun, riset yang sudah ada menunjukkan keterkaitan sehingga penting ada penelitian lebih lanjut.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
-

Israel Setujui Rencana Trump untuk Perdamaian Gaza
Anda sedang membaca Dunia Hari Ini, yang merangkum berita-berita terkini dalam 24 jam terakhir.
Edisi Selasa, 30 September 2025 kita awali dari situasi terakhir di Gaza.
Rencana perdamaian Gaza Donald Trump
Israel menyetujui proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Gaza, setelah pemimpin dari dua negara menggelar pertemuan.
Presiden Donald Trump merilis 20 poin rencana perdamaian yang akan mendorong warga Palestina untuk tetap tinggal di Gaza, membebaskan sandera dan tahanan dari kedua belah pihak, dan memastikan militer Israel mengakhiri serangannya, yang dicap sebagai genosida oleh PBB.
Hamas diberi waktu 72 jam, sejak Israel menerima kesepakatan, untuk membebaskan sandera Israel yang ditawan di Gaza, yang di antaranya diyakini masih hidup.
Jika disahkan, rencana tersebut akan membentuk badan pemerintahan sementara Palestina, yang diawasi oleh “Dewan Perdamaian” yang dipimpin oleh Trump.
Belasan tewas akibat topan di Vietnam
Setidaknya 13 orang tewas di sebelah utara Vietnam, setelah hujan lebat dan angin kencang yang disebabkan Topan Bualoi.
Tim penyelamat dilaporkan sedang mencari 17 nelayan yang hilang.
Topan Bualoi bergerak di sepanjang garis pantai utara juga sempat menyebabkan gelombang setinggi delapan meter, menurut badan meteorologi nasional.
Badai ini menyebabkan lebih dari 347.000 orang mengalami pemadaman aliran listrik, dengan banjir yang memutus akses warga di dataran tinggi.
Taliban memutuskan komunikasi di Afghanistan
Taliban memberlakukan pemutusan komunikasi di Afghanistan secara nasional, beberapa pekan setelah mereka mulai memutus koneksi kabel optik.
Pada pertengahan September, seorang juru bicara provinsi Balkh mengatakan internet yang menggunakan kabel optik dilarang sepenuhnya sesuai perintah Taliban.
Beberapa menit sebelum pemutusan, seorang pejabat pemerintah mengatakan kepada kantor berita AFP jika pemutusan akan berlangsung “hingga pemberitahuan lebih lanjut”.
“Pemutusan akan dilakukan secara bertahap malam ini, ada delapan hingga sembilan ribu pilar telekomunikasi yang akan ditutup,” katanya kepada AFP tanpa menyebut identitasnya.
Taliban memulai mengambil keputusan tegas soal akses komunikasi awal bulan ini, yang memutus internet berkecepatan tinggi.
YouTube bayar Presiden Trump
YouTube setuju untuk membayar $22 juta kepada Presiden AS Donald Trump, sebagai bagian dari penyelesaian gugatan pemblokiran yang dilakukan YouTube setelah kerusuhan 6 Januari 2021 di Capitol.
Menurut laporan CNN, Presiden Trump akan menyumbangkan pembayaran tersebut ke Trust for the National Mall untuk mendukung pembangunan White House State Ballroom.
Presiden Trump menggugat perusahaan induk YouTube, Google, dan perusahaan media sosial lainnya setelah mereka menangguhkan akunnya pada tahun 2021.
Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, pada bulan Januari menyelesaikan gugatan yang diajukan oleh Presiden Trump dengan menyetujui pembayaran sebesar $25 juta.
Bulan Februari lalu, X setuju untuk membayar sekitar $10 juta untuk menyelesaikan penangguhan akun Presiden Trump.
Tonton juga video “Netanyahu: Saya Dukung Rencana untuk Akhiri Perang di Gaza” di sini:
-

AS Siap Kirim Rudal Canggih Tomahawk ke Ukraina, Rusia: Percuma
Jakarta –
Amerika Serikat sedang mempertimbangkan permintaan Ukraina atas rudal jarak jauh Tomahawk. Tomahawk adalah salah satu rudal canggih dan legendaris andalan militer aS.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa Presiden Donald Trump akan membuat keputusan akhir terkait hal ini. Ukraina telah lama meminta mitra Baratnya untuk menyediakan senjata yang dapat menghantam kota-kota besar Rusia yang jauh. Hal itu akan membantu Ukraina melemahkan industri militer Rusia dan mengakhiri perang.
“Jika biaya melanjutkan perang bagi Moskow terlalu tinggi, Moskow akan terpaksa memulai perundingan damai,” kata Wakil Menteri Pertahanan Ukraina Ivan Havryliuk yang dikutip detikINET dari BBC.
Menanggapi kemungkinan hadirnya Tomahawk, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut bahwa tidak ada obat mujarab yang dapat mengubah situasi di garis depan bagi rezim Kyiv. “Baik itu Tomahawk atau rudal lainnya, mereka tidak akan mampu mengubah dinamika,” cetusnya.
Rudal Tomahawk memiliki jangkauan sekitar 2.500 km, yang akan menempatkan Moskow dalam jangkauan Ukraina. Utusan khusus AS untuk Ukraina, Keith Kellogg, tampaknya mengisyaratkan bahwa Trump telah mengizinkan serangan jauh ke wilayah Rusia.
Ketika ditanya di Fox News apakah Washington telah mengizinkan Kyiv untuk melakukan serangan jarak jauh di wilayah Rusia dalam kasus-kasus tertentu, Kellogg berkata: “Jawabannya adalah ya, gunakan kemampuan untuk menyerang jauh,” cetusnya.
Komentar Vance dan Kellogg sejalan dengan perubahan nada pemerintah AS baru-baru ini terkait perang tersebut, di mana sekarang pemerintahan Trump tampaknya akan sepenuhnya membantu Ukraina. Terlebih, belakangan ini terjadi pemboman terus-menerus yang dilakukan Moskow terhadap kota-kota Ukraina.
Spek Tomahawk
Tomahawk, peluru kendali strategis terbang rendah buatan perusahaan Raytheon, dapat diluncurkan dari kapal angkatan laut atau kapal selam untuk menyerang sasaran di darat.
Rudal ini terbang di ketinggian rendah untuk menyerang sasaran tetap, seperti lokasi komunikasi dan pertahanan udara, di lingkungan berisiko tinggi di mana pesawat berawak mungkin rentan terhadap rudal permukaan ke udara.
Tomahawk adalah senjata jarak jauh tanpa awak sepanjang 5,6 meter dan memiliki jangkauan hingga sekitar 2.500 km. Ia dapat melaju secepat 885 km per jam.
Tomahawk diluncurkan secara vertikal dari kapal, dapat pula diluncurkan secara horizontal dari tabung torpedo pada kapal selam penyerang atau dari peluncur eksternal yang terpasang pada lambung kapal selam.
Rudal ini ditenagai oleh propelan padat selama fase peluncurannya. Setelah itu ditenagai oleh mesin turbofan yang tidak mengeluarkan banyak panas sehingga menyulitkan pendeteksian infra merah. Ia juga dapat menghindari deteksi radar karena beroperasi pada ketinggian rendah.
Setelah mencapai daratan, Tomahawk menggunakan panduan radar inersia dan pencocokan kontur medan (TERCOM), di mana peta yang disimpan di komputer rudal terus dibandingkan dengan medan sebenarnya untuk menemukan target. Saat TERCOM memindai lanskap, rudal Tomahawk mampu berputar seperti pesawat tempur yang menghindari radar, melintasi lanskap pada ketinggian hanya 30-90 meter.
Rudal Tomahawk pertama kali digunakan pada tahun 1991 selama Perang Teluk Persia sebagai bagian dari Operasi Badai Gurun. Saat itu, rudal ini menghancurkan sasaran seperti lokasi rudal permukaan ke udara, pusat komando dan kendali, istana kepresidenan Irak di Bagdad, dan pembangkit listrik.
(fyk/fyk)
-
/data/photo/2023/11/17/6557752e7ae86.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
"Epinaratic Leadership": Menjawab Tantangan Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian Nasional 30 September 2025
“Epinaratic Leadership”: Menjawab Tantangan Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian
Pengamat dan praktisi kepemudaan, komunikasi, kepemimpinan & komunitas. Saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Rektor 3 IKB LSPR, Head of LSPR Leadership Centre, Chairman Millennial Berdaya Nusantara Foundation (Rumah Millennials), Pengurus Pusat Indonesia Forum & Konsultan SSS Communications.
KITA
hidup di zaman yang tidak pernah sepenuhnya tenang. Bukan karena perang fisik, tapi karena pertempuran narasi, opini, dan persepsi.
Di layar kecil gawai kita, derasnya arus informasi setiap detik membanjiri, tanpa pernah menunggu kita siap untuk menyaringnya.
Di sinilah lahir fenomena yang kian mendominasi: era DFK (Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian). Tiga kata yang sederhana, tetapi telah mengubah wajah demokrasi, dinamika sosial, bahkan masa depan kepemimpinan.
Belum lama ini, beredar video
deepfake
hasil rekayasa AI yang seolah-olah menampilkan Menteri Keuangan saat itu, Sri Mulyani yang mengatakan “guru adalah beban negara”.
Video Sri Mulyani hanyalah satu dari ribuan hoaks yang beredar di jagad digital. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menemukan 1.020 hoaks sepanjang Januari – Agustus 2025.
Hoaks mungkin api yang kecil. Namun apabila dibiarkan, mereka dapat membakar habis kepercayaan dan persaudaraan dalam masyarakat.
Hariqo Wibawa Satria dari Kantor Komunikasi Kepresidenan bahkan mengingatkan bahwa “satu video DFK (disinformasi, fitnah, kebencian) bisa melahirkan sejuta kebencian” terhadap figur publik atau pemimpin.
Benarlah pepatah lama: “sebuah kebohongan bisa berkeliling setengah dunia saat kebenaran masih memakai sepatunya”. Di era media sosial, pepatah ini kian terasa nyata.
Di era digital, informasi tidak hanya mengalir deras, tetapi juga sering kali disusupi oleh disinformasi, fitnah, dan kebencian. Disinformasi bukanlah sekadar kesalahan informasi, melainkan konten yang sengaja diproduksi untuk menyesatkan.
Fallis (2015) menjelaskan bahwa disinformasi berbahaya karena sumbernya bermaksud menipu dan memperoleh keuntungan dari kesesatan yang ditimbulkan.
Kini, praktiknya semakin canggih karena digerakkan oleh bot, buzzer, hingga algoritma platform digital.
Aïmeur et al. (2023) bahkan menunjukkan bagaimana teknik
machine learning
dan
deep learning
membuat konten palsu kian sulit dideteksi, bahkan oleh sistem pendeteksi otomatis berbasis AI.
Dampak dari disinformasi tidak main-main. Keputusan publik kerap salah arah karena mendasarkan diri pada “fakta palsu”.
Selain itu, debat publik berubah menjadi gaduh, sebab data yang seharusnya menjadi pijakan bersama dipelintir sesuai agenda tertentu.
Bahkan, kebijakan negara pun bisa terdistorsi, karena pemimpin didesak merespons opini publik yang telah lebih dulu dibentuk oleh arus disinformasi.
World Economic Forum dalam Laporan Risiko Global 2025 menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai ancaman terbesar ke-4 di dunia, dengan proyeksi naik menjadi ancaman nomor satu pada 2027.
Laporan Geopolitical Outlook 2025 dari Rud Pedersen Public Affairs juga menegaskan bahwa kurangnya tata kelola kecerdasan buatan memperbesar risiko penyalahgunaan teknologi untuk menyebarkan informasi palsu.
Selain disinformasi, fitnah juga semakin berbahaya di era digital. Jika dahulu fitnah hanya menyebar lewat bisik-bisik, kini ia dapat viral dalam hitungan menit dan sulit dihapus dari jejak digital.
Satu narasi palsu yang diproduksi dengan cerdas mampu meruntuhkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun, sekaligus menggerogoti kepercayaan publik terhadap institusi.
Ketika pemimpin terus-menerus dihantam fitnah, energi yang seharusnya dipakai untuk memimpin dan melayani publik, justru habis untuk klarifikasi tanpa akhir.
Sementara itu, kebencian memperparah situasi dengan menggerogoti emosi kolektif. Aktor politik kerap memanfaatkannya karena ia sederhana, emosional, dan efektif menggerakkan massa.
Algoritma media sosial memperkuat polarisasi ini, sebab konten penuh amarah terbukti lebih cepat menyebar dibanding narasi yang menekankan persatuan, terlebih jika preferensi pengguna media sosial adalah konten-konten yang penuh amarah.
Konten-konten seperti itu membuat masyarakat terbelah, komunitas hancur, dan fondasi bangsa melemah akibat spiral kebencian yang terus dipelihara.
Oleh karena itu, di era ini, kepemimpinan tidak lagi hanya bicara soal visi pembangunan, kecerdasan manajerial, atau kebijakan publik yang rasional.
Kepemimpinan menjadi soal bagaimana pemimpin bisa menjaga kepercayaan publik di tengah badai manipulasi informasi. Ia menjadi seni mengikat kebersamaan di tengah masyarakat yang makin mudah terbelah.
Ia juga menjadi ujian apakah pemimpin mampu menyalakan harapan di tengah atmosfer kebencian yang terus dipupuk oleh algoritma.
Saya menyebutnya ‘Epinaratic Leadership’, gaya kepemimpinan yang memadukan kekuatan pengetahuan yang benar (epistemik) dengan kekuatan narasi yang menggerakkan (naratik).
Dalam konteks era penuh disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK), kepemimpinan ini menempatkan kebenaran bukan sekadar sebagai data, melainkan sebagai cerita kolektif yang hidup, dipercaya, dan mampu menyentuh hati publik.
Kepemimpinan ini menggabungkan dimensi epistemik (berakar pada kebenaran, pengetahuan, dan validitas) dengan dimensi naratik (mengarahkan narasi, identitas, dan makna kolektif).
Artinya, ‘epinaratic leadership’ tidak berhenti pada sekadar mengetahui yang benar, melainkan juga mampu meramu kebenaran itu menjadi narasi yang hidup, mengakar, dan tahan terhadap distorsi.
Dengan kata lain, menurut Foroughi et al. (2019), kepemimpinan adalah tindakan yang melakukan sesuatu yang fundamental bagi situasi saat ini, sesuatu yang mengubah realitas faktual, dan yang memberikan arahan untuk masa depan yang ‘lebih baik’.
Seorang pemimpin dengan gaya ‘epinaratic leadership’ tidak cukup hanya “menyampaikan fakta”, karena fakta saja sering kalah oleh opini dan emosi.
Ia harus mampu mengubah fakta menjadi narasi kuat, yang bukan hanya meyakinkan secara logis, tetapi juga menginspirasi secara emosional dan bermakna secara sosial.
Di tengah era
post-truth
(ketika kebenaran kehilangan pijakannya), mengubah fakta menjadi narasi yang kuat dan emosional menjadi tuntutan.
Orang kini mempercayai narasi yang mengggugah emosi dan mencari validasi dari apa yang mereka percayai.
Algoritma media sosial mengakselerasi hal tersebut dengan menciptakan filter buble yang menyaring konten (yang bahkan bisa diedit sesuai keinginan) berdasarkan preferensi user. Akibatnya, orang pun terjebak dalam
echo chamber
-nya sendiri.
Kondisi tersebut memungkinkan munculnya fenomena DFK (disinformasi, fitnah, kebencian). Fenomena tersebut menjelma sebagai praktik
character assassination
digital yang merajalela.
Reputasi tokoh publik mudah diserang fitnah, legitimasi dan otoritas terkikis, dan penegakan hukum dibingkai ulang sebagai penindasan atau keberpihakan politik.
Ironisnya, situasi ini memberi ruang bagi kelompok tertentu untuk bermain api, yang tujuannya mendiskreditkan figur kepemimpinan.
Lebih ironis lagi, meski klarifikasi resmi telah disampaikan dengan bukti dan data, publik yang terlanjur terbelah sering menolak mendengarnya.
Menurut studi MIT 2018 lalu terhadap
fake news
di Twitter, berita benar membutuhkan waktu sekitar enam kali lebih lama untuk menjangkau 1.500 orang dibandingkan berita palsu untuk menjangkau jumlah orang yang sama. Karena persebarannya yang sangat cepat, orang sudah terlanjur percaya dengan berita bohong.
Oleh karena itu,
Epinaratic Leadership
adalah praktik kepemimpinan yang bertujuan menjaga identitas naratif pemimpin, menghadirkan narasi tandingan terhadap fitnah dan kebencian, sekaligus mengarahkan masyarakat pada cerita besar tentang harapan, kolaborasi, dan masa depan bersama.
Kepemimpinan ini dijalankan oleh generasi baru pemimpin yang hidup sepenuhnya dalam ekosistem digital dituntut untuk tidak hanya adaptif, melainkan juga transformatif.
Kepemimpinan epinaratik tidak bisa memimpin dengan kacamata lama. Mereka harus mengakui realitas bahwa politik dan kepemimpinan kini sama pentingnya di layar ponsel seperti halnya di meja rapat kabinet.
Kepemimpinan epinaratik menjadi kebutuhan mendesak. Pemimpin dituntut memiliki
information literacy
untuk memverifikasi fakta, menjaga integritas di tengah gempuran fitnah, dan mengembangkan narasi ketangguhan sebagai jawaban atas kebencian.
Lebih jauh, mereka harus berani membangun ekosistem komunikasi yang sehat, di mana kebenaran dilindungi, reputasi dijaga, dan persatuan ditempatkan di atas polarisasi.
Dengan demikian, disinformasi tidak lagi menyesatkan arah, fitnah tidak lagi menghancurkan kepercayaan, dan kebencian tidak lagi merobek masyarakat, melainkan justru menjadi ujian yang memperlihatkan kualitas kepemimpinan sejati.
Istilah ‘epinaratic leadership’ bukan lagi sekadar label generasi. Ia mencerminkan lahirnya gaya kepemimpinan baru, yaitu pemimpin yang sejak awal kariernya sudah berinteraksi dengan dunia digital, terbiasa dengan
multichannel communication
, dan sadar bahwa opini publik dibentuk dalam ekosistem media yang kompleks.
Kepemimpinan epinaratik tidak bisa hanya mengandalkan model tradisional, rapat tertutup, konferensi pers, atau sekadar pidato formal.
Mereka harus piawai mengelola ruang digital, aktif berdialog dengan publik, dan mampu menjaga konsistensi identitas di berbagai platform.
Tipikal pemimpin seperti ini disebut Pemimpin Opini Termediatisasi, di mana menurut Schäfer and Taddicken (2015), mereka menggunakan berbagai media secara signifikan lebih sering untuk pertukaran informasi dan komunikasi dan juga untuk interaksi interpersonal mereka.
Namun demikian, kepemimpinan ini juga menghadapi risiko: terlalu sibuk di permukaan digital, hingga lupa pada substansi kepemimpinan.
Di sinilah keseimbangan harus dijaga. Pemimpin epinaratik ideal adalah mereka yang bisa menjembatani dunia digital dengan realitas lapangan, antara
hashtags
dengan
hard works
, antara
likes
dengan
legacies.
Untuk menjawab tantangan DFK, ada sejumlah strategi implementatif yang bisa diterapkan pemimpin epinaratik.
Pertama, perlunya membangun literasi digital internal. Pemimpin tidak bisa berjalan sendiri. Ia butuh tim yang juga cerdas digital, mampu mendeteksi hoaks, membaca tren percakapan, dan memberikan masukan berbasis data.
Literasi digital bukan hanya tanggung jawab masyarakat, tetapi juga kewajiban internal organisasi kepemimpinan.
Saat ini, literasi digital Indonesia tahun 2025 berada di angka 3,65 dari skala 5. Indeks Masyarakat Digital Indonesia juga mengalami peningkatan dari 37.80 (2022) menjadi 43.34 (2024).
Artinya, ada harapan besar bahwa pemimpin epinaratik beserta timnya nanti mampu beradaptasi dengan baik di dunia digital seiring meningkatkanya indeks literasi digital.
Kedua, mengadopsi model komunikasi transparan. Transparansi adalah senjata ampuh melawan disinformasi. Pemimpin epinaratik perlu rutin membuka data, menjelaskan proses, dan menghadirkan ruang partisipasi publik.
Menurut Hadziahmetovic and Salihovic (2022), komunikasi yang transparan mendorong keterlibatan dengan mempromosikan kepercayaan dan keyakinan.
Dengan kata lain, apabila kita transparan dalam komunikasi dan data, narasi palsu tidak punya ruang subur untuk berkembang.
Ketiga, mengelola krisis dengan narasi positif. Ketika fitnah menyerang, jangan hanya reaktif dengan klarifikasi.
Erickson (2021) menegaskan bahwa komunikasi yang jelas, tenang, dan teratur diperlukan untuk meyakinkan staf bahwa perahu akan tetap mengapung di tengah badai.
Oleh karena itu, gunakan krisis sebagai momentum untuk mempertegas nilai kepemimpinan, sehingga kita mampu mengubah krisis reputasi menjadi panggung integritas.
Keempat, mengaktifkan kolaborasi multi-pihak. Tantangan DFK terlalu besar untuk dihadapi sendiri. Pemimpin epinaratik perlu membangun aliansi dengan akademisi, media,
civil society
, dan platform digital.
Misalnya, seperti yang disarankan oleh Hartono et al. (2021), pemimpin epinaratik dapat berkolaborasi dengan Dewan Pers Nasional untuk meningkatkan profesionalisme media dan mengurangi berita yang tendensius.
Selain itu, pemimpin epinaratik juga dapat menjalin kolaborasi dengan Meta dan Bytedance dalam mencegah penyebaran disinformasi.
Terakhir, menghidupkan empati dalam setiap narasi. Di era kebencian, empati adalah kekuatan. Pemimpin epinaratik perlu berani menunjukkan sisi manusiawi: mendengarkan, merasakan, dan merespons dengan hati.
Selain itu, empati juga dapat kita tunjukkan dalam praktik kepemimpinan. Dalam penelitian Jian (2021), pemimpin yang empatik ditandai dengan sikap terbuka terhadap orang lain yang melampaui ego sendiri, sikap peduli untuk memotivasi seseorang untuk berempati, serta tanggung jawab terhadap orang lain.
Publik mungkin lupa detail kebijakan, tetapi mereka tidak pernah lupa rasa dan kenangan yang mereka dapatkan saat berinteraksi.
Mari kita bayangkan skenario nyata. Seorang pemimpin daerah diserang fitnah bahwa programnya hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Alih-alih marah dan membalas, ia justru mengundang pihak-pihak kritis untuk berdialog terbuka, menyiarkan langsung pertemuan tersebut, dan membuktikan dengan data.
Publik yang menyaksikan tidak hanya melihat klarifikasi, tetapi juga menyaksikan gaya kepemimpinan yang berani, terbuka, dan empatik.
Contoh lain, seorang CEO perusahaan besar menghadapi disinformasi bahwa perusahaannya merusak lingkungan. Ia tidak berhenti pada rilis pers, melainkan membuat program
open factory
di mana masyarakat, media, dan akademisi bisa langsung melihat proses produksi yang ramah lingkungan. Narasi palsu pun kalah oleh bukti nyata.
Praktik-praktik inilah yang menunjukkan bagaimana kepemimpinan epinaratik bisa menjawab tantangan DFK dengan cara yang implementatif sekaligus inspiratif.
Era DFK mungkin terlihat menakutkan, tetapi ia juga menghadirkan peluang. Pemimpin yang mampu melewati badai ini dengan integritas dan inovasi akan muncul sebagai pemimpin yang jauh lebih kuat.
Mereka akan dikenal bukan karena tidak pernah diserang, tetapi karena selalu mampu bangkit dan menyalakan harapan.
Sejarah selalu mencatat bahwa setiap era memiliki tantangannya sendiri. Jika dulu tantangan terbesar adalah kolonialisme, perang, atau krisis ekonomi, maka tantangan hari ini adalah DFK.
Namun sama seperti generasi-generasi sebelumnya, generasi ini pun bisa melewatinya dengan kepemimpinan yang tepat.
Pemimpin epinaratik harus berani menjadikan dirinya
guardian of truth
, penjaga integritas, dan penyalur harapan.
Mereka harus menyadari bahwa di era digital, setiap kata, setiap gestur, setiap keputusan bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga soal bagaimana ia diterjemahkan di ruang publik yang tak pernah tidur.
Pada akhirnya, kepemimpinan di era DFK adalah tentang keberanian untuk tetap berpegang pada nilai, meski arus kebencian begitu deras.
Ia adalah tentang kesanggupan untuk terus merangkul, meski tangan terus diserang. Ia adalah tentang kemampuan menyalakan cahaya, ketika kegelapan disinformasi mencoba menutupi segalanya.
Dan itulah panggilan ‘epinaratic leadership’ hari ini, memimpin dengan akal sehat, dengan hati yang luas, dan dengan tekad bahwa bangsa ini terlalu berharga untuk dibiarkan hancur oleh disinformasi, fitnah, dan kebencian.
Kini, bola ada di tangan kita bersama. Masing-masing dari kita bisa ikut menentukan arah dengan cara memilih, mendukung, dan menjadi pemimpin yang berpegang pada kebenaran di atas kepentingan sempit.
Apakah kita akan mengizinkan era DFK terus mencabik-cabik tenun kebangsaan, atau kita bangkit memupuk kepemimpinan pascakebenaran yang memulihkan kepercayaan dan persatuan? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan wajah masa depan Indonesia kita.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -

Atlantik Utara Gonjang Ganjing, Ilmuwan Beri Peringatan Waspada
Jakarta –
Wilayah Atlantik Utara menjadi perhatian ilmuwan dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menyoroti aktivitas Atlantic Meridional Overturning Circulation (AMOC) yang kian mengkhawatirkan, dan menjadi alarm bahaya bagi Bumi.
Apa itu AMOC?
Atlantic Meridional Overturning Circulation atau disingkat AMOC adalah jaringan arus laut raksasa yang bergerak melalui Samudra Atlantik. AMOC sering diibaratkan seperti ban berjalan raksasa. Ia membawa air hangat dan kaya nutrisi ke utara dari dekat khatulistiwa, dan air dingin ke selatan dari dekat kutub.
Namun, ini bukan jenis arus yang akan kita alami saat berada di pantai. Mengutip National Ocean and Atmospheric Administration (NOAA), arus pasang surut terjadi di dekat pantai dan dipengaruhi oleh Matahari dan Bulan, sedangkan arus permukaan seperti AMOC dipengaruhi oleh angin.
“Namun, arus lain yang jauh lebih lambat yang terjadi dari permukaan ke dasar laut didorong oleh perubahan kadar garam dan suhu laut, sebuah proses yang disebut sirkulasi termohalin,” catat NOAA.
Arus-arus terakhir inilah yang membentuk AMOC, dan bertanggung jawab atas beberapa keanehan di Samudra Atlantik dan iklim. Itulah sebabnya, misalnya, suhu di Tromsø, di Arktik Norwegia, bisa mencapai rata-rata -3°C bahkan di bulan Januari. Sementara, Pulau Southampton di Kanada misalnya, sekitar 591 kilometer lebih dekat ke khatulistiwa, mengalami suhu rata-rata -29°C.
“Dan inilah alasan utama mengapa iklim Eropa telah stabil selama ribuan tahun,” tulis Robert Marsh, Profesor Oseanografi dan Iklim di Southampton University, dalam sebuah artikel di 2023 yang diterbitkan di The Conversation.
Paradoksnya, inilah pula alasan mengapa cuaca di Eropa begitu tidak stabil. “Cuaca dan iklim Eropa, khususnya Eropa utara, sangat bervariasi dari hari ke hari, minggu ke minggu, dan tahun ke tahun. Dengan massa udara yang bersaing (hangat dan lembap, dingin dan kering, dan sebagainya) yang berpengaruh, seringkali dipengaruhi oleh jet stream di ketinggian,” Marsh menjelaskan.
Secara keseluruhan, ini cukup penting dan berpengaruh. Jadi, kita perlu khawatir karena tampaknya sistem ini mulai rusak dan menuju keruntuhan.
Proses yang Lambat dan Goyah
AMOC bergerak dengan kecepatan yang secara bebas digambarkan ‘santai’. Artinya, dibutuhkan sekitar 1.000 tahun bagi setiap bidang air untuk menyelesaikan perjalanannya mengelilingi sabuk. Namun, ada beberapa bukti bahwa kecepatannya semakin melambat. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin sedikit panas yang datang ke Eropa, dengan aliran AMOC saat ini lebih lemah daripada titik mana pun dalam milenium terakhir.
Apakah ini akan berakhir total? Tidak dalam waktu dekat. Tapi bukan itu masalahnya. Ketakutan yang sesungguhnya di kalangan ilmuwan iklim adalah, ia terombang-ambing antara stabilitas dan ketidakstabilan. Jika manusia tidak segera bertindak, ia mungkin akan runtuh total.
“Kekhawatiran umum akan risiko keruntuhan AMOC sudah ada sejak lebih dari setengah abad,” jelas Stefan Rahmstorf, seorang ahli oseanografi yang memimpin departemen analisis sistem Bumi di Potsdam Institute for Climate Impact Research di Jerman, pada 2024.
“Fakta bahwa AMOC memiliki titik kritis pertama kali dijelaskan dalam sebuah studi terkenal oleh ahli oseanografi Amerika Henry Stommel pada 1961, ia menunjukkan bahwa sistem tersebut tidak stabil karena adanya sistem umpan balik yang memperkuat dirinya sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, hal ini sudah diketahui sejak lama, namun baru sekarang dianggap memiliki probabilitas rendah berdampak tinggi. Ini seperti memberi tahu seseorang yang naik pesawat bahwa kemungkinannya jatuh adalah 5%.
“Namun sekarang, mengingat bukti baru, saya rasa banyak rekan saya, termasuk saya sendiri, tidak lagi menganggapnya sebagai kemungkinan kecil,” kata Rahmstorf.
Jika AMOC Runtuh
Jika AMOC runtuh, manusia akan mengantisipasi suhu yang lebih ekstrem di Eropa, lebih banyak banjir dan kekeringan terjadi, serta iklim yang lebih dingin dan kering di tempat-tempat seperti Irlandia dan Skandinavia, yang sejauh ini telah menjadi subur oleh arus Atlantik.
Perbedaan suhu yang lebih besar di seluruh Eropa, pada gilirannya, akan mendorong lebih banyak peristiwa cuaca ekstrem, lebih banyak badai, badai yang lebih kuat, dan badai tropis muncul di tempat yang seharusnya tidak mereka datangi.
Ini juga menjadi berita buruk bagi lautan di Bumi secara keseluruhan. Permukaan laut akan naik jauh lebih tinggi daripada yang sudah terjadi, dan ekosistem laut maupun darat akan menderita.
“AMOC mengangkut oksigen ke laut dalam. Ini juga berita buruk, jika proses ini berhenti, karena jika terjadi kekurangan oksigen di lautan, seluruh jaringan kehidupan di Atlantik utara akan terganggu,” tegas Rahmstorf.
Oksigen tersebut membawa banyak sekali CO2, hingga 25% dari jumlah yang kita hasilkan, ke dasar lautan. Oksigen telah menjadi penyelamat kita sejak lama, dan jika AMOC berhenti beraktivitas, banyak sekali gas rumah kaca tersebut yang akan tetap berada di atmosfer, yang semakin berkontribusi terhadap pemanasan global.
Apa yang Bisa Manusia Lakukan?
Apakah ada harapan bagi AMOC? Ilmuwan menjawab, mungkin. Tetapi itu membutuhkan kekuatan dan tekad politik yang sangat besar. Rahmstorf menyebutkan, hal utama adalah memprioritaskan kepatuhan terhadap apa yang disepakati dalam Perjanjian Paris.
“Yaitu, membatasi pemanasan global hingga 1,5°C jika memungkinkan, tetapi tentu saja jauh di bawah 2 °C. Artinya 1,7 °C atau mungkin 1,8 °C,” ujarnya.
Menurutnya, jika kita berhasil melakukannya, dan semua negara telah berkomitmen untuk melakukannya, maka kita benar-benar dapat meminimalkan risiko melewati titik kritis.
“Tidak ada jaminan, tetapi saya pikir sangat mungkin kita akan terhindar dari titik kritis tersebut jika kita tetap berpegang pada Perjanjian Paris,” tutupnya.
(rns/rns)
-

Stasiun Luar Angkasa Internasional Bakal Dihancurkan di 2030
Jakarta –
Dalam sejarah penerbangan antariksa, Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) mungkin merupakan salah satu pencapaian umat manusia yang paling menakjubkan, sebuah contoh gemilang kerja sama antariksa antara Amerika Serikat (AS), Eropa, Kanada, Jepang, dan Rusia. Namun, semua hal baik pasti akan berakhir.
Pada 2030, ISS akan dideorbit, didorong ke wilayah terpencil di Samudra Pasifik. Bagi orang-orang yang menyukai dunia keantariksaan, apalagi yang terlibat langsung di dalamnya, dihancurkannya ISS akan jadi momen perpisahan penting yang menyedihkan.
“Saya seorang insinyur kedirgantaraan yang telah membantu membangun berbagai perangkat keras dan eksperimen untuk ISS. Sebagai anggota komunitas antariksa selama lebih dari 30 tahun dan anggota komunitas NASA selama 17 tahun, akan sulit bagi saya untuk melihat ISS berakhir,” kata John M. Horack, Profesor bidang Mechanical and Aerospace Engineering dari Ohio State University, dikutip dari Science Alert.
Ia menyebutkan, sejak bagian pertama ISS diluncurkan pada 1998, stasiun ini telah menjadi rumah bagi berbagai pencapaian penelitian penting di berbagai domain, termasuk ilmu material, bioteknologi, astronomi dan astrofisika, ilmu bumi, pembakaran, dan masih banyak lagi.
Para astronaut yang melakukan penelitian di dalam stasiun ruang angkasa dan eksperimen muatan yang melekat pada bagian luar stasiun telah menghasilkan banyak publikasi di jurnal sains yang ditinjau sejawat.
Beberapa di antaranya telah memajukan pemahaman kita tentang badai petir, menghasilkan perbaikan dalam proses kristalisasi obat-obatan utama melawan kanker, merinci cara menumbuhkan retina buatan di luar angkasa, mengeksplorasi pemrosesan serat optik ultramurni, dan menjelaskan cara mengurutkan DNA di orbit.
Secara total, lebih dari 4.000 percobaan telah dilakukan di ISS, menghasilkan lebih dari 4.400 publikasi penelitian yang didedikasikan untuk memajukan dan meningkatkan kehidupan di Bumi dan membantu membuka jalan bagi aktivitas eksplorasi ruang angkasa di masa depan.
“ISS telah membuktikan nilai pelaksanaan penelitian di lingkungan penerbangan antariksa yang unik, yang memiliki gravitasi sangat rendah, ruang hampa, siklus suhu ekstrem, dan radiasi, untuk memajukan pemahaman ilmuwan tentang berbagai proses fisika, kimia, dan biologi yang penting,” kata Horack.
Menjaga Kehadiran di Orbit
Keberadaan ISS sama dengan menjaga kehadiran di orbit Bumi. Namun, setelah stasiun tersebut pensiun, NASA dan mitra internasionalnya tidak meninggalkan pos terdepan mereka di orbit rendah Bumi. Sebaliknya, mereka mencari alternatif untuk terus memanfaatkan potensi orbit rendah Bumi sebagai laboratorium penelitian yang unik dan memperpanjang keberadaan manusia selama 25 tahun, sekitar 402 kilometer di atas permukaan Bumi.
Pada Desember 2021, NASA mengumumkan tiga penghargaan untuk membantu mengembangkan stasiun luar angkasa milik swasta yang dioperasikan secara komersial di orbit rendah Bumi. Selama bertahun-tahun, NASA telah berhasil mengirim pasokan ke ISS menggunakan mitra komersial, dan badan tersebut baru-baru ini memulai pengaturan bisnis serupa dengan SpaceX dan Boeing untuk mengangkut awak di pesawat ruang angkasa Dragon dan Starliner.
Berdasarkan keberhasilan program ini, NASA menginvestasikan lebih dari USD 400 juta untuk merangsang pengembangan stasiun ruang angkasa komersial dan diharapkan dapat meluncurkan dan mengaktifkannya sebelum ISS dinonaktifkan.
Stasiun Luar Angkasa Komersial
Pada September 2025, NASA menerbitkan draf pengumuman untuk proposal kemitraan Fase 2 bagi stasiun luar angkasa komersial. Perusahaan yang terpilih akan menerima pendanaan untuk mendukung tinjauan desain kritis dan mendemonstrasikan stasiun dengan empat orang di orbit selama minimal 30 hari.
NASA kemudian akan melanjutkan proses penerimaan dan sertifikasi desain formal untuk memastikan stasiun-stasiun ini memenuhi persyaratan keselamatan NASA yang ketat. Hasilnya akan memungkinkan NASA untuk membeli misi dan layanan lain di atas stasiun-stasiun ini secara komersial, serupa dengan cara NASA mengirimkan kargo dan awak ke ISS saat ini.
Tim mana yang akan berhasil, dan dalam jangka waktu berapa, masih harus dilihat. Sementara stasiun-stasiun ini dibangun, para astronaut China akan tetap tinggal dan bekerja di stasiun luar angkasa Tiangong, sebuah fasilitas berawak permanen yang menampung tiga orang dan mengorbit sekitar 402 km di atas permukaan Bumi.
Akibatnya, jika masa pendudukan ISS berakhir, China dan Tiangong akan mengambil alih orbit Bumi sebagai stasiun luar angkasa berpenghuni terlama yang masih beroperasi. Stasiun ini telah dihuni selama kurang lebih empat tahun dan masih terus berlanjut.
Diperlukan waktu beberapa tahun sebelum stasiun ruang angkasa komersial baru ini mengitari Bumi dengan kecepatan sekitar 28 ribu kilometer per jam dan beberapa tahun sebelum ISS dideorbit pada 2030.
“Jadi, selagi ada kesempatan, lihatlah ke atas dan nikmati pemandangannya. Hampir setiap malam ketika ISS terbang di atasnya, pemandangannya sungguh luar biasa: titik cahaya biru-putih yang cemerlang, biasanya objek paling terang di langit, yang diam-diam membentuk lengkungan anggun di langit,” kata Horack.
“Nenek moyang kita hampir tidak dapat membayangkan bahwa suatu hari, salah satu objek paling terang di langit malam akan diciptakan oleh pikiran manusia dan dibangun oleh tangan manusia,” tutupnya.
(rns/rns)
-

Topan Bualoi Hantam Filipina, 3 Orang Tewas
JAKARTA – Dilaporkan tiga orang tewas di Filipina setelah badai tropis yang menguat menjadi topan melanda pulau-pulau di Filipina tengah dan Luzon selatan, beberapa hari setelah topan super menghantam wilayah utara.
Kegiatan belajar mengajar dan kegiatan pemerintahan di banyak wilayah negara itu, termasuk di Metro Manila, dihentikan sementara menjelang Badai Tropis Bualoi.
Badai ini melanda hanya beberapa hari setelah Topan Super Ragasa meninggalkan jejak kerusakan di Filipina utara, menewaskan 14 orang sebelum menimbulkan malapetaka di Taiwan, dengan 15 orang tewas.
Badai terbaru menerjang Samar Timur di Filipina tengah sebelum melintasi Masbate dan menyapu wilayah Bicol di Luzon selatan.
Para pejabat bencana mengatakan tiga korban tewas berada di Provinsi Masbate.
Satu orang tertimpa pohon tumbang, satu lagi tenggelam, sementara yang ketiga tewas tertimpa tembok runtuh.
Gubernur Masbate, Antonio Kho, dalam jumpa pers, meminta bantuan segera dari pemerintah pusat, dengan alasan kebutuhan mendesak untuk membersihkan puing-puing, memulihkan listrik, dan membuka kembali pelabuhan agar bantuan dapat disalurkan.
Di wilayah lain di Luzon Selatan, pejabat setempat melaporkan hujan lebat dan angin kencang, pemadaman listrik, serta kerusakan tanaman dan infrastruktur.
Menjelang Bualoi yang disebut Opong oleh penduduk setempat, ratusan ribu orang dievakuasi terlebih dahulu, termasuk warga Manila, JC Borromeo, yang tinggal di pusat evakuasi bersama ketiga anaknya.
“Kami tinggal di dekat sungai dan akan sulit jika airnya naik,” ujarnya sambil menggendong bayinya dilansir Reuters, Jumat, 26 September.
Bualoi, dengan kecepatan angin maksimum 110 km/jam dan hembusan angin yang mencapai 135 km/jam, diperkirakan akan kembali menguat menjadi topan saat bergerak menuju Vietnam.
Pemerintah Vietnam mengatakan badai yang bergerak cepat itu akan menghantam pantai utara dan tengah negara itu pada hari Senin, memicu hujan deras dari 28 September hingga 30 September.
“Hujan deras dapat menyebabkan banjir parah di daerah dataran rendah, serta kawasan perkotaan dan industri,” kata badan meteorologi nasional pada Jumat.
-

Badai Bualoi Terjang Filipina, 3 Orang Tewas-400 Ribu Ngungsi
Manila –
Otoritas Filipina melaporkan sedikitnya tiga orang tewas dalam insiden yang terjadi saat badai tropis Bualoi menerjang negara tersebut pada Jumat (26/9) waktu setempat. Ratusan ribu orang terpaksa mengungsi dari rumah-rumah mereka.
Sejumlah pejabat pertahanan sipil di wilayah Bicol, Luzon bagian selatan, seperti dilansir AFP, Jumat (26/9/2025), mengatakan bahwa tiga orang tewas akibat tertimpa dinding yang roboh dan pepohonan yang tumbang akibat badai tropis Bualoi.
Badai tropis Bualoi, yang menerjang setelah topan super Ragasa yang menghancurkan ini, menyapu wilayah barat hingga barat laut Filipina dengan kecepatan berkelanjutan mencapai 110 kilometer per jam.
Salah satu warga yang mengungsi menuturkan mereka harus berlindung di bawah bangku-bangku gereja saat atap gedung gereja tempat mereka mengungsi terkoyak oleh badai.
“Sekitar pukul 04.00 waktu setempat, angin menghancurkan pintu, jendela, dan langit-langit gereja,” tutur seorang insinyur kota, Jerome Martinez, yang tinggal di Provinsi Masbate, bagian selatan Pulau Luzon, saat berbicara kepada AFP.
“Itu merupakan salah satu angin paling kencang yang pernah saya rasakan,” ucapnya, menambahkan bahwa beberapa anak yang mengalami luka ringan membutuhkan jahitan pada luka mereka.
“Saya pikir masih banyak orang yang harus mengungsi karena banyak rumah yang hancur dan banyak atap yang diterbangkan angin. Mereka sekarang memblokir jalanan,” sebut Martinez.
Seorang pejabat pertahanan sipil setempat, Bernardo Alejandro, mengatakan pada Jumat (26/9) bahwa sekitar 400.000 orang telah dievakuasi.
“Kami sedang membersihkan banyak pohon besar dan tiang listrik yang tumbang karena banyak jalan yang tidak dapat dilalui,” kata Frandell Anthony Abellera, seorang petugas penyelamat di Masbate City, Biscol, berbicara via telepon dengan AFP.
“Hujannya deras, tetapi anginnya lebih kencang,” sebutnya.
Sejumlah video yang dibagikan ke media sosial, dan telah diverifikasi keasliannya oleh AFP, menunjukkan orang-orang menggunakan perahu atau berjalan perlahan menerjang banjir setinggi pinggang untuk melewati jalanan yang terendam di bagian selatan Kepulauan Visayas, Filipina bagian tengah.
Filipina kerap dilanda badai dan topan, dengan rata-rata 20 badan dan topan menerjang setiap tahunnya yang membuat jutaan orang di area rawan bencana terus-menerus berada dalam kemiskinan.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa badai akan semakin kuat seiring dengan pemanasan global akibat dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Topan super Ragasa yang menerjang sebelumnya telah merenggut sedikitnya sembilan nyawa dan memaksa ribuan orang mengungsi.
Lihat Video ‘Topan Ragasa Hantam Filipina, Sekolah Hingga Bandara Terganggu’:
Halaman 2 dari 2
(nvc/idh)
-

Petaka Maut Hantam 3 Tetangga RI, Jutaan Dievakuasi-Kota Hancur Lumpuh
Daftar Isi
Jakarta,CNBC Indonesia – Petaka menghantam tiga tetangga RI. Topan Super Ragasa membuat evakuasi massal serta kota-kota lumpuh dan hancur.
Di China, hampir 2 juta orang di China Selatan dievakuasi massal, Rabu. Topan Super Ragasa juga melumpuhkan pusat keuangan China, Hong Kong.
Di Taiwan, banjir menghancurkan jembatan, menewaskan 14 orang dan membuat 33 orang hilang. Topan juga menerjang pulau-pulau terpencil di Filipina, membuat delapan orang tewas.
Lalu bagaimana buruknya petaka ini di masing-masing negara? Berikut rangkuman CNBC Indonesia, Kamis (25/9/2025).
China
Dua wilayah China, yakni China bagian selatan dan Hong Kong lumpuh akibat Topan Super Ragasa. Namun saat ini, topan mulai melemah.
Mengutip AFP, ratusan ribu orang di China selatan membersihkan wilayah di Provinsi Guangdong. Di sana, Topan Super Ragasa merobohkan pohon, menghancurkan pagar, dan menghancurkan rambu-rambu bangunan.
Ragasa melanda Guangdong, rumah bagi puluhan juta orang, dengan kecepatan angin hingga 145 kilometer (90 mil) per jam, hari Rabu. Di titik terdampak di sekitar kota Yangjiang pada hari Kamis, foto-foto memperlihatkan bagaimana pohon-pohon tumbang sementara rambu-rambu jalan dan puing-puing berserakan di jalan-jalan.
Hujan ringan dan angin sepoi-sepoi masih terasa sementara warga bekerja membersihkan kerusakan. Namun pihak berwenang belum melaporkan adanya korban jiwa terkait badai
Di Hailing, sebuah pulau yang dikelola oleh Yangjiang, petugas bantuan berusaha membersihkan pohon besar yang tumbang di jalan lebar. Mobil-mobil melaju di jalan berlumpur untuk menghindari reruntuhan sementara tim bekerja memotong dahan-dahan.
Sebuah restoran makanan laut mengalami kerusakan parah. Atap belakangnya runtuh total atau sebagian terkikis seluruhnya.
“Anginnya sangat kencang, Anda bisa melihatnya menghancurkan semuanya,” kata pekerja restoran Lin Xiaobing, (50).
“Tidak ada listrik (di rumah),” katanya sambil membantu membersihkan kekacauan di dalam restoran, yang lantainya tertutup air, lumpur, dan puing-puing.
“Saat ini, beberapa rumah masih memiliki listrik dan yang lainnya tidak.”
Pulau ini merupakan tempat liburan yang populer. Banyak penduduk setempat bergantung pada industri pariwisata untuk mencari nafkah.
“Saya ada di dalam (ketika topan datang), saya tidak berani keluar,” kata Zeng Jitan.
“Badai itu sangat kuat. Saya takut semuanya akan hancur.”
Foto: Orang-orang menantang angin kencang saat Topan Super Ragasa mendekat, di Hong Kong, Cina, 24 September 2025. (REUTERS/Tyrone Siu)
Orang-orang menantang angin kencang saat Topan Super Ragasa mendekat, di Hong Kong, Cina, 24 September 2025. (REUTERS/Tyrone Siu)Sementara itu di Hong Kong, otoritas mengatakan 101 orang dirawat di rumah sakit umum akibat luka-luka yang diderita selama topan tersebut hingga Rabu malam. Lebih dari 900 orang mengungsi di 50 tempat penampungan sementara di seluruh kota.
Pusat keuangan China tersebut mencatat ratusan pohon tumbang dan banjir di beberapa permukiman. Banyak gedung tinggi di kota tersebut bergoyang dan berderak tertiup angin kencang.
“Sekitar 1.000 penerbangan terdampak oleh Ragasa,” kata otoritas bandara pada Rabu malam, seraya menambahkan bahwa mereka berharap dapat kembali beroperasi normal dalam dua hari ke depan.
Peringatan topan tertinggi diturunkan di Hong Kong pada Rabu sore setelah berlaku selama 10 jam 40 menit, waktu terlama kedua dalam catatan kota tersebut. Badan Meteorologi Hong Kong menempatkan badai ini sebagai yang terkuat di Pasifik barat laut tahun ini.
Foto: Topan Super Ragasa, siklon tropis terkuat di dunia tahun ini, menerjang Hong Kong, Rabu (24/9/2025). (via REUTERS/Video obtained by Reuters)
Topan Super Ragasa, siklon tropis terkuat di dunia tahun ini, menerjang Hong Kong, Rabu (24/9/2025). (via REUTERS/Video obtained by Reuters)Taiwan
Topan Super Ragasa di Taiwan menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai puluhan lainnya ketika danau jebol di wilayah timur Hualien. Para pejabat yang pada Rabu malam merevisi jumlah korban tewas dari 17 setelah mengeliminasi kasus duplikasi.
“Dua puluh dua orang masih hilang pada Kamis sore,” kata pihak berwenang.
Diketahui, danau jebol pada hari Selasa dan menyebabkan banjir bah. Banjir menghanyutkan sebuah jembatan dan menyapu kota Guangfu, meninggalkan jejak lumpur tebal.
Mobil-mobil dan skuter yang rusak tergeletak di pinggir jalan atau saling menumpuk akibat banjir, sementara perabotan berserakan di sepanjang jalan.
Warga mengatakan lumpur terlalu berat untuk dibersihkan sendiri, dengan bantuan tambahan untuk pembersihan yang diperkirakan akan dilakukan pada hari Kamis.
“Hampir semuanya hancur… tiga unit pendingin, dua kios, mesin, oven, bahkan kulkas rumah tangga,” kata Chuan Kun-jui, seorang tukang daging setempat, sambil menyekop lumpur lengket di dekat kios tokonya yang runtuh.
Sekitar 1.200 orang mengungsi di tempat penampungan. Bahkan hampir 3.300 orang telah dievakuasi dari daerah sekitar danau.
Di sebuah tempat penampungan gereja, warga mengantre untuk mendapatkan kotak makan siang di pintu masuk. Di dalam, para penatua beristirahat di bangku kayu sementara anak-anak bermain.
“Ini malam kedua kami di sini. Nyaman atau tidak… aman saja sudah cukup, tidak masalah di mana kami tidur,” kata Kaniw ‧ Looh, seorang penatua gereja berusia 64 tahun.
“Masyarakat tangguh. Ketika (bencana) datang, kami saling menjaga dan membantu,” ujarnya.
Di wilayah sekitar danau penghalang, 3.285 orang dievakuasi dan sekitar 1.200 orang tinggal di tempat penampungan.
“Ketinggian air di danau telah turun drastis setelah kehilangan sekitar tiga perempat airnya akibat luapan air,” kata Badan Pemadam Kebakaran Nasional, menyebabkan lebih dari 4.000 orang di wilayah tersebut kehilangan pasokan air.
“Seluruh kota masih kekurangan air, kami bertahan hidup dengan air hujan dan air minum kemasan,” ujar Shih Hui-mei, 54, seorang relawan bantuan.
Maggie Huang, yang mengelola bisnis pariwisata lokal, mengatakan keran-keran air di kota itu kering dan tangki air gereja pun habis. Menurutnya tidak ada yang bisa mandi.
“Tidak ada air sama sekali,” katanya.
Ia mengatakan ia akan tidur semalaman bersama suami dan anak remajanya di gereja, sebelum memeriksa rumahnya dan menemukan ke mana mobilnya hanyut. Menurutnya semua orang ingin pulang.
“Ini rumah kami. Ke mana lagi kami bisa pergi?,” ujarnya.
Foto: Mobil-mobil yang rusak tergeletak, menyusul banjir yang dibawa oleh Topan Super Ragasa di Hualien, Taiwan, 24 September 2025. (REUTERS/Ann Wang)
Mobil-mobil yang rusak tergeletak, menyusul banjir yang dibawa oleh Topan Super Ragasa di Hualien, Taiwan, 24 September 2025. (REUTERS/Ann Wang)Filipina
Filipina sebenarnya sudah merasakan Topan Super Ragasa pada hari Senin. Angin kencang maksimum mencapai 205 kilometer per jam di pusat badai pada pukul 23.00 Minggu, dengan hembusan mencapai 250 kilometer per jam saat bergerak menuju negara kepulauan tersebut.
Pemerintah Filipina menutup kantor dan sekolah pada hari Senin di Metro Manila. Langkah ini diikuti 29 provinsi lain.
“Para pejabat setempat tidak boleh membuang waktu untuk mengevakuasi keluarga dari zona bahaya”, ujar Menteri Dalam Negeri Jonvic Remulla dalam sebuah pernyataan.
Di Taiwan, pihak berwenang mengatakan hampir 300 orang akan dievakuasi dari Kabupaten Hualien di wilayah timur. Ia menambahkan bahwa angka tersebut dapat berubah tergantung pada pergerakan topan.
“Kami memperkirakan peringatan topan darat akan dikeluarkan malam ini… dan besok pagi pukul 6 pagi topan akan mendekati lepas pantai Taiwan,” kata Badan Meteorologi Pusat.
Filipina adalah daratan besar pertama yang menghadapi sabuk siklon Pasifik, dan negara kepulauan ini dilanda rata-rata 20 badai dan topan setiap tahun, yang membuat jutaan orang di daerah rawan bencana berada dalam kondisi kemiskinan yang terus-menerus. Para ilmuwan memperingatkan bahwa badai menjadi lebih kuat seiring dengan pemanasan global yang sebagian disebabkan oleh dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Foto: Hujan lebat imbas Topan Super Ragasa, di Apalit, Provinsi Pampanga, Filipina, Selasa (23/9/2025). (REUTERS/Lisa Marie David)
Hujan lebat imbas Topan Super Ragasa, di Apalit, Provinsi Pampanga, Filipina, Selasa (23/9/2025). (REUTERS/Lisa Marie David)(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]
/data/photo/2025/09/29/68d9ae1300906.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)