Tag: Badai

  • Pedagang HP di Mal Tak Punya Pilihan, Harga Smartphone Dikatrol Pembeli Sepi

    Pedagang HP di Mal Tak Punya Pilihan, Harga Smartphone Dikatrol Pembeli Sepi

    Bisnis.com, JAKARTA — Pasar smartphone Indonesia memasuki 2026 dengan harga perangkat yang makin mahal imbas kelangkaan cip. Para pedagang HP ritel di pusat-pusat perbelanjaan elektronik melaporkan adanya penurunan penjualan sepanjang tahun lalu. 

    Berdasarkan pengakuan pedagang di lapangan, penjualan ponsel secara keseluruhan pada 2025 tercatat menurun jika dibandingkan dengan capaian penjualan pada 2024.

    Penurunan ini dirasakan cukup tajam, di mana tahun 2025 dianggap lebih berat bagi pelaku usaha dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini berdampak pada pendapatan yang makin ramping.

    Tekanan terhadap pasar ritel ini tidak datang secara tiba-tiba di awal tahun baru. Para pedagang mengungkapkan bahwa harga ponsel sebenarnya sudah mulai merangkak naik sejak akhir tahun lalu. 

    “Dari sebelum pergantian tahun sebetulnya harga HP sudah mulai naik,” kata Lili pedagang HP di Supermall Karawaci Tangerang ke Bisnis Senin (05/01/2026).

    Dia mengungkapkan fenomena ini terlihat pada berbagai merek besar seperti Oppo dan Vivo yang telah menaikkan harga jual produk mereka sebelum Desember.

    Pedagang ponsel juga mengakui tidak memiliki pilihan selain mengikuti arus kenaikan harga tersebut. 

    “Mau tidak mau harus ngikut (harga). Kalau dia naik ya naik,” tambahnya.

    Kenaikan harga di tingkat ritel lokal ini merupakan dampak langsung dari gejolak rantai pasok dunia. Melansir dari Bisnis, International Data Corporation (IDC) memperkirakan lonjakan harga smartphone tahun ini akibat kekurangan Random Access Memory (RAM) karena fokusnya pabrikan besar terhadap kecerdasan artifisial (AI). 

    Pasokan RAM yang biasanya dialokasikan untuk perangkat konsumen seperti ponsel, kini bergeser secara besar untuk mendukung pusat data AI yang membutuhkan daya pemrosesan tinggi.

    Lili menilai penyebab lesunya penjualan di pasar juga terpengaruh karena kondisi ekonomi Indonesia yang sedang melemah. 

    Hal ini secara langsung menggerus daya beli masyarakat terhadap barang mewah seperti smartphone. Menurutnya, pembelian kini lebih didasarkan pada kebutuhan mendesak, bukan lagi gaya hidup.

    Selain itu, dalam keterbatasan anggaran dan harga HP yang kian mahal, preferensi konsumen terbagi menjadi dua segmen yang jelas berdasarkan tingkat pemahaman teknologi mereka.

    Bagi masyarakat awam atau mereka yang membutuhkan ponsel untuk berdagang, spesifikasi utama yang dicari adalah kualitas kamera dan kapasitas RAM. 

    “Kebanyakan sih orang-orang intinya kamera sama RAM yang dibutuhkan mereka,”

    Kelompok itu cenderung mengabaikan detail teknis lainnya seperti chipset, asalkan kapasitas memori besar dan hasil foto yang bagus untuk disebarkan di sosial media.

    Sebaliknya, konsumen yang lebih mengerti teknologi, seperti pelajar atau gamers, memiliki prioritas yang berbeda. Mereka lebih fokus mencari prosesor yang mumpuni untuk mendukung kinerja berat dan bermain game, di samping kapasitas RAM yang memadai. 

    Namun, bagi pasar low entry, loyalitas terhadap merek atau brand masih mendominasi keputusan pembelian. Merek-merek ternama masih menjadi pilihan utama meskipun spesifikasinya standar.

    Menghadapi tahun 2026, industri smartphone dunia diprediksi akan mengalami penurunan pengiriman sebesar 2,1%. Bagi pasar Indonesia, kombinasi antara harga komponen yang meroket akibat AI dan daya beli yang belum pulih sepenuhnya.  Tentunya hal ini menuntut ketahanan ekstra dari para pelaku ritel untuk tetap bertahan di tengah badai ekonomi teknologi ini. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Puluhan Produsen Mobil Listrik China Terancam Tumbang di 2026 karena Ini

    Puluhan Produsen Mobil Listrik China Terancam Tumbang di 2026 karena Ini

    JAKARTA – Kendaraan listrik buatan China melaju kencang di pasar global, ditopang lonjakan permintaan dan kebijakan pemerintah. Pada November lalu saja, ekspor mobil listrik China tercatat melonjak 87 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Namun, di balik laju impresif tersebut, ada gejolak yang mulai terlihat di fondasi industri tersebut. Tahun 2026 diproyeksikan menjadi titik balik krusial bagi sektor kendaraan listrik China, seperti dilansir dari Carscoops, Rabu, 31 Desember.

    Perombakan besar diperkirakan tak terelakkan, dengan puluhan produsen yang selama ini terseok-seok menghadapi risiko mengecilkan skala bisnis hingga menutup operasi. Pengiriman kendaraan baru di China diperkirakan menyusut hingga 5 persen pada tahun depan, guncangan terbesar sejak 2020.

    Tekanan ini dipicu berkurangnya dukungan pemerintah serta masalah klasik kelebihan kapasitas yang membayangi industri otomotif negeri tersebut. Laporan South China Morning Post (SCMP), menyebut sekitar 50 produsen EV di China yang masih merugi berpotensi dipaksa merampingkan usaha atau bahkan menghentikan operasinya pada 2026.

    Pada Januari mendatang, pemerintah diperkirakan memutuskan apakah subsidi tukar tambah EV senilai 20.000 yuan diperpanjang atau tidak. Sementara itu, pembebasan pajak pembelian 10 persen akan berakhir akhir tahun ini.

    Tarif lebih rendah, 5 persen akan berlaku mulai Januari dan bertahan hingga pengembalian pajak penuh pada 2028. Perang harga yang membuat EV semakin terjangkau memang memperluas basis konsumen, tetapi sekaligus menggerus margin.

    Beban investasi riset dan pengembangan yang besar, ditambah ambisi merek membangun portofolio model yang gemuk, membuat hanya segelintir produsen mampu mencetak laba.

    “Euforia pendanaan untuk produsen EV dan pemasok komponen utama di China sudah berakhir. Kini, menjadi permainan bertahan hidup, yang menguntungkan akan bertahan, sementara yang merugi kehabisan amunisi,” ujar salah satu investor Yin Ran.

    Di tengah badai tersebut, beberapa pemain besar tetap berdiri kokoh. BYD, Seres, dan Li Auto menonjol sebagai pengecualian langka yang sudah mencatatkan profit dan diperkirakan kian agresif berekspansi ke luar negeri untuk mengejar pertumbuhan baru.

    Riset AlixPartners bahkan memprediksi hanya sekitar 10 persen merek EV China yang akan menguntungkan dalam beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, ada juga produsen mobil yang mendapat suntikan modal.

    Leapmotor yang didukung Stellantis baru saja mengantongi investasi besar. Grup milik negara FAW Group mengumumkan akuisisi 5 persen saham Leapmotor senilai 3,74 miliar yuan, menjadikannya produsen mobil pertama di China yang menerima investasi langsung dari grup BUMN otomotif.

    Leapmotor menargetkan pengiriman 1 juta kendaraan pada 2026. Jika tercapai, posisinya akan menjadi produsen EV terbesar ketiga di China, atau di belakang BYD dan Geely. Selama 11 bulan pertama 2025, Leapmotor telah mengirimkan 536.132 unit.

    “Leapmotor menargetkan pengiriman tahunan 4 juta unit dalam 10 tahun. Kami akan memperkuat nilai lewat penyempurnaan produksi, sembari menghadirkan pengalaman berkendara terbaik bagi pelanggan,” kata pendiri sekaligus CEO Leapmotor Zhu Jiangming.

  • Apes! Emak-emak Didenda Rp 1,7 M Gegara Parkir Mobil di Rumput

    Apes! Emak-emak Didenda Rp 1,7 M Gegara Parkir Mobil di Rumput

    Jakarta

    Sial betul nasib Sandy Martinez. Emak-emak asal Florida, Amerika Serikat itu harus membayar denda US$ 101.750 atau Rp 1,7 miliar usai mobilnya ‘menginjak’ rerumputan saat diparkir di halaman rumahnya sendiri. Kok bisa, ya?

    Disitat dari Institute of Justice, Martinez tinggal bersama lima anggota keluarga lain. Total ada empat mobil di rumah tersebut. Saat semua kendaraan terparkir di driveway, satu mobil terpaksa lebih ke samping hingga kedua bannya menyentuh rumput.

    Meski terdengar sepele, namun pelanggaran itu dianggap serius pemerintah setempat. Imbasnya, Martinez dikenakan denda hingga US$ 250 atau Rp 4,1 jutaan per hari. Dia menunda pembayar selama berbulan-bulan hingga berakhir lupa.

    Emak-emak didenda karena parkir mobil di rumput. Foto: Doc. Institute for Justice.

    Namun, denda tersebut rupanya tak hanya berlaku sehari, melainkan terus berjalan hingga 400 hari. Tanpa disadari Martinez, dendanya menumpuk hingga US$ 101.750 atau Rp 1,7 miliar.

    Martinez mengaku tak bisa parkir di jalan karena kondisi jalan sempit dan tanpa trotoar. Ia juga sempat meminta inspeksi ulang, namun kesulitan menghubungi petugas. Denda pun terus mengalir tanpa disadari.

    Masalah ini baru terungkap saat Sandy hendak melakukan refinancing rumah. Saat itu, pihak kota memberi tahu bahwa denda parkir masih terus berjalan dan total utangnya, ketika itu, sudah nyaris US$ 100 ribu.

    “Kami tidak ada pilihan selain memarkirkan mobil di driveway dengan permukaan berumput. Saya pikir ini benar-benar mengherankan, karena saya dedenda ratusan ribu dollar karena menginjak rumput yang sebenarnya saya urus sendiri,” kata Martinez, dikutip Selasa (30/12).

    Denda Lain

    Masalah Martinez dengan pemerintah kota tak berhenti di parkir. Ia juga didenda US$ 75 per hari selama 215 hari karena retakan kecil di driveway-yang disebut hanya kosmetik. Totalnya mencapai US$ 16.125, jauh lebih mahal dari biaya perbaikan.

    Belum selesai, badai besar merobohkan pagar rumahnya. Saat menunggu klaim asuransi cair, denda US$ 125 per hari tetap berjalan selama 379 hari, menghasilkan tagihan US$ 47.375.

    Emak-emak didenda karena parkir mobil di rumput. Foto: Doc. Institute for Justice.

    Maka, dengan demikian, total denda yang harus dibayar Martinez ke pemerintah setempat mencapai US$ 165.250 atau Rp 2,7 miliaran. Padahal, dia sehari-hari ‘hanya’ bekerja di fasilitas kesehatan dengan upah US$ 20,6 atau Rp 300 ribuan per jam.

    Lembaga nirlaba Institute for Justice yang mendampinginya menilai, hukuman itu melanggar prinsip excessive fines. Namun, putusan Mahkamah Agung Florida membuat Martinez harus menerima kenyataan pahit tersebut.

    Meski rumahnya tak bisa disita karena dilindungi aturan homestead Florida, denda itu tetap menjadi beban berat. Nilai rumah tergerus, dan peluang menjualnya pun nyaris tertutup.

    (sfn/dry)

  • Buruh Menjerit Minta Gaji Rp6 Juta

    Buruh Menjerit Minta Gaji Rp6 Juta

    Oleh:Rosadi Jamani

    APA artinya pengusaha atau oligarki tanpa buruh. Semua industri tidak akan jalan. Namun, pemerintah lebih senang mendengarkan pengusaha ketimbang buruh, orang kecil. Untuk minta naik gaji, mereka harus teriak-teriak di jalan, demo. 

    Senin 29 Desember 2025, Jakarta dan Bandung mendadak jadi panggung teater realisme magis. Ada 20 ribu buruh turun ke jalan. Bukan membawa senjata, tapi membawa angka Rp6 juta. 

    Angka yang oleh sebagian elite dianggap mimpi siang bolong. Padahal, oleh buruh cuma tiket supaya hidup tidak selalu kejar-kejaran dengan tanggal tua.

    Pemprov DKI Jakarta menetapkan UMP 2026 sebesar Rp5,7 juta. Naik 6,17 persen. Kenaikan ini diumumkan dengan penuh kebanggaan. Seolah-olah buruh baru saja memenangkan undian. 

    Padahal di lapangan, harga beras, sewa kontrakan, listrik, transportasi, dan biaya sekolah anak sudah lebih dulu naik tanpa pidato pers. 

    Kenaikan upah itu terasa seperti hujan gerimis di tengah banjir, secara teknis basah, secara praktis tenggelam.

    Buruh minta UMP Rp6 juta, 100 persen sesuai Kebutuhan Hidup Layak. Bukan 200 persen, bukan gaji menteri, bukan fasilitas dinas. 

    Hanya ingin definisi “layak” tidak dipotong faktor alpha 0,75, seolah-olah hidup buruh boleh disunat seperempatnya demi estetika regulasi. Dalam logika kebijakan, layak itu fleksibel. Dalam logika perut, layak itu mutlak.

    Aksi dipusatkan di Patung Kuda, Monas, hingga Istana Merdeka, juga di Gedung Sate Bandung. Dua hari berturut-turut. 

    Aparat menurunkan 1.392 personel dengan slogan pengamanan humanis. Humanis versi terbaru ini inovatif, tanpa senjata api, tapi dengan derek. 

    Mobil komando buruh, mikrofon demokrasi jalanan, ditarik aparat di Jalan Medan Merdeka Selatan. Orasi terhenti. Suara buruh mendadak sunyi, bukan karena capek, tapi karena alat bicaranya disita. Demokrasi pun ikut kehilangan speaker.

    Said Iqbal, Presiden KSPI, menyebut buruh diperlakukan seperti musuh. Sulit menyalahkannya. 

    Akses ke Istana diblokade, aksi dialihkan. Pesannya jelas, silakan bicara, asal jangan terlalu dekat dengan kekuasaan. Demokrasi boleh hidup, tapi jangan parkir sembarangan.

    Pemprov DKI Jakarta lewat Gubernur Pramono Anung menegaskan UMP Rp5.729.876 adalah yang tertinggi di Indonesia. 

    Ini benar. Tapi mengatakan itu di Jakarta sama seperti bilang “kapal ini paling mewah” sambil mengabaikan fakta, lautnya sedang dihantam badai. Biaya hidup Jakarta juga tertinggi. 

    Subsidi transportasi dan pangan disiapkan sebagai bantalan sosial. Bantalan ini empuk di kalimat, keras di kenyataan. Ia menahan benturan sesaat, tapi tidak menghentikan jatuhnya daya beli.

    Pemerintah pusat menyebut aksi buruh sebagai aspirasi sah, UMP sudah sesuai regulasi, daya saing ekonomi harus dijaga. 

    Buruh diminta damai, kondusif, tidak anarkis. Buruh pun patuh. Mereka tidak membakar, tidak merusak. Mereka hanya meminta hidup layak. Ironisnya, permintaan paling sopan itu justru dianggap paling merepotkan.

    Buruh selalu diminta memahami negara, tapi negara jarang mau memahami buruh. Buruh dipaksa akrab dengan istilah makroekonomi, sementara pembuat kebijakan alergi pada daftar belanja bulanan buruh. 

    Padahal tanpa buruh, tidak ada grafik pertumbuhan, tidak ada daya saing, tidak ada “tertinggi di Indonesia”.

    Memahami jeritan buruh yang minta gaji Rp6 juta seharusnya tidak butuh gelar ekonomi. Cukup logika waras. 

    Jika seseorang bekerja penuh di kota dengan biaya hidup paling mahal, lalu masih harus berhemat untuk sekadar hidup, maka yang bermasalah bukan teriakannya, tapi sistemnya. 

    Membela buruh di titik ini bukan sikap politis, melainkan refleks kemanusiaan. Di negeri ini, refleks itu justru sering dianggap berlebihan.

    “Abangkan buruh juga, kenapa tidak demo.”

    “Bukan, saya pengangguran profesional, tak bisa demo karena tak ada organisasinya.” Ups

    (Ketua Satupena Kalbar)

  • Tanaman Pelindung Alam: Solusi Kurangi Resiko Bencana

    Tanaman Pelindung Alam: Solusi Kurangi Resiko Bencana

    Surabaya (beritajatim.com)- Di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam, keberadaan tanaman di lingkungan sekitar kini menjadi semakin penting. Pohon dan pepohonan bukan hanya berfungsi sebagai elemen penghias atau penyedia udara segar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam menjaga keselamatan dan keseimbangan ekosistem.

    Saat hujan deras mengguyur, misalnya, akar tanaman mampu menahan tanah agar tidak mudah longsor, sementara kanopi pohon dapat meredam dampak angin kencang yang menerpa permukiman. Selain itu, pohon-pohon tertentu juga membantu menyerap air berlebih, mencegah banjir di area rawan.

    Kesadaran akan peran strategis tanaman ini membuat masyarakat dan pemerintah semakin giat melakukan penghijauan di lokasi-lokasi yang rawan bencana. Upaya ini tidak hanya dilakukan di area perkotaan, tetapi juga di pedesaan dan kawasan hutan yang menjadi tangkapan air penting. Dengan pengelolaan yang tepat, pohon dapat menjadi benteng alami yang melindungi kehidupan manusia serta keberlanjutan lingkungan, sekaligus mendukung ketahanan ekologi jangka panjang.

    Bambu: pencegah tanah longsor

    Salah satu tanaman yang dikenal efektif dalam mencegah tanah longsor adalah bambu. Struktur akar bambu yang rapat dan menjalar ke dalam tanah mampu menahan pergerakan tanah, sehingga meminimalkan risiko longsor di area lereng atau perbukitan. Selain itu, bambu juga tumbuh relatif cepat dan mudah diperbanyak, membuatnya menjadi solusi alami yang praktis untuk penghijauan di daerah rawan longsor. Dengan menanam bambu di lokasi strategis, air hujan dapat terserap lebih baik dan erosi tanah dapat dikurangi, sehingga lingkungan sekitar menjadi lebih aman dari bencana.

    Trembesi: pencegah banjir

    Pohon Trembesi dikenal dengan kanopinya yang lebar dan akar yang kuat. Kanopi yang luas mampu menahan intensitas hujan langsung ke tanah, sementara akar yang kuat menyerap dan menahan air hujan, sehingga mengurangi aliran permukaan yang bisa memicu banjir. Trembesi juga dapat menahan erosi di tepian sungai atau area rawan genangan, menjadikannya pilihan utama dalam program penghijauan kota maupun pedesaan.

    Mahoni: pencegah banjir
    Pohon mahoni memiliki akar kuat dan batang besar yang mampu menahan tanah serta menyerap air dalam jumlah signifikan. Penanaman Mahoni di area yang rawan genangan atau dekat aliran sungai dapat membantu memperlambat aliran air dan menekan risiko banjir. Selain manfaat ekologis, pohon ini juga memberikan nilai ekonomis, karena kayunya dapat dimanfaatkan untuk konstruksi atau kerajinan.

    Mangrove: penahan abrasi
    Di wilayah pesisir, mangrove menjadi garis pertahanan alami yang efektif melawan abrasi dan erosi pantai. Akar mangrove yang menjalar dan padat berfungsi menahan gelombang laut serta menstabilkan garis pantai, sehingga tanah di pesisir tidak mudah terkikis. Selain itu, mangrove juga mampu menyerap energi gelombang pasang dan badai, sehingga permukiman di dekat pantai lebih terlindungi dari kerusakan akibat ombak besar.

    Keberadaan pohon dan tanaman strategis seperti bambu, Trembesi, Mahoni, maupun mangrove membuktikan bahwa alam memiliki cara sendiri untuk melindungi manusia dari bencana. Penanaman dan perawatan tanaman ini bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem. Dengan kesadaran dan tindakan nyata, setiap langkah penghijauan dapat menjadi benteng alami yang kuat, menjaga kehidupan kita dari risiko bencana yang semakin meningkat. [Erlina Damayanti]

  • 2
                    
                        Bendera GAM dan Romantisme Luka Lama di Tengah Bencana
                        Nasional

    2 Bendera GAM dan Romantisme Luka Lama di Tengah Bencana Nasional

    Bendera GAM dan Romantisme Luka Lama di Tengah Bencana
    Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    DARI
    kejauhan, di antara deretan bangunan tua dan sengatan musim dingin yang mulai menggigit di desa pegunungan di Eropa, pandangan saya tetap tak bisa jauh dari Tanah Air.
    Secara fisik saya memang sedang berada di jantung Eropa, tapi radar akademik dan batin saya sebagai seorang pengamat sosiologi politik nyatanya tidak bisa berpaling dari kabar-kabar yang datang dari Tanah Air. Dan kali ini, kabar tersebut datang dari Serambi Mekkah.
    Kabar tersebut bukan sekadar tentang air yang merendam pemukiman di Aceh Tamiang atau korban-korbannya yang sebagian tidak terlalu tersentuh oleh bantuan Jakarta, tapi tentang kemunculan kembali simbol yang seharusnya sudah masuk ke dalam kotak sejarah, yakni bendera Bulan Bintang atau bendera
    GAM
    .
    Munculnya bendera ini di tengah situasi bencana banjir Aceh baru-baru ini, bukan hanya menarik perhatian saya sebagai peneliti, tetapi juga memicu kegelisahan mendalam saya sebagai warga negara Indonesia mengenai masa depan integrasi nasional.
    Hari ini, Aceh bukan sekadar sedang dirundung duka akibat terjangan banjir besar, tapi juga sedang dibalut badai kekecewaan yang sangat dalam.
    Di balik laporan-laporan birokrasi yang mencoba menenangkan suasana, realitas di lapangan menunjukkan pemandangan yang kurang mengenakkan.
    Ribuan warga masih bertahan di pengungsian dengan logistik yang kian menipis, anak-anak ada yang terserang penyakit kulit dan pernapasan, serta infrastruktur sebagian besar masih lumpuh.
    Namun hari ini, kekhawatiran tersebut menjadi berlipat karena kembalinya simbol-simbol perlawanan masa lalu di tengah keputusasaan warga korban bencana dan saudara-saudara sedaerahnya yang merasa miris melihat situasi di Aceh.
    Sangat jelas bahwa fenomena ini bukanlah sekadar gangguan ketertiban umum yang bisa diselesaikan dengan tindakan represif ala aparat, melainkan sinyal sosio-politik yang sangat serius, merepresentasikan potensi kembalinya keretakan relasi antara Jakarta dan Aceh pasca-perjanjian Helsinki.
    Penanganan bencana banjir di Aceh ternyata ikut membuka kotak pandora yang selama dua dekade terakhir terus diperjuangankan sekuat tenaga untuk tetap tertutup.
    Sejatinya, ketika air mulai menenggelamkan, bahkan memorakmorandakan pemukiman, yang dinantikan oleh rakyat Aceh adalah uluran tangan negara yang responsif dan super-sigap.
    Namun, yang mereka dapatkan justru retorika ketangguhan dan kemandirian yang kurang “pas” disampaikan di saat perut mereka sedang lapar.
    Diakui atau tidak, berbagai masalah dalam penanganan bencana juga berakar pada keengganan pemerintah pusat untuk menetapkan bencana Sumatera sebagai Bencana Nasional. Padahal, skala kerusakan sudah melampaui kemampuan fiskal dan logistik daerah.
    Walhasil, narasi bahwa “pemerintah masih mampu” yang terkesan terlalu pede justru menjadi tembok penghalang bagi bantuan kemanusiaan global yang dikabarkan sudah mengantre untuk masuk, tapi terhalang oleh gengsi politik berlebihan.
    Sehingga hal tersebut mau tak mau melahirkan ironi tersendiri berupa penolakan terhadap skema bantuan
    Government to Government.
    Lihat saja bagaimana niat baik dari negara tetangga seperti Malaysia yang ingin mengirimkan tim medis terganjal ego birokrasi yang menganggap bantuan tersebut sebagai ancaman terhadap kedaulatan Nasional.
    Padahal, bagi warga yang kehilangan tempat tinggal di pedalaman Aceh Utara, harga diri bangsa bukanlah pada penolakan bantuan, melainkan pada kemampuan negara di dalam memastikan keselamatan warganya.
    Ketika bantuan dari Uni Emirat Arab atau pasokan medis dari organisasi internasional harus masuk melalui jalur non-pemerintah, bahkan boleh jadi secara sembunyi-sembunyi, yang kita saksikan kemudian dari sisi lain adalah kesan negara yang lebih mencintai citra nasionalisme ketimbang nyawa rakyatnya sendiri.
    Situasi ini juga semakin pelik jika kita melihat realitas Otonomi Khusus (Otsus), misalnya. Jakarta boleh saja merasa telah memberikan “segalanya” melalui dana Otsus berjumlah triliunan rupiah. Namun secara sosiologis, kebijakan tersebut masih jauh dari adil dan memuaskan.
    Secara ekonomi, Aceh masih tertinggal jauh dibandingkan provinsi-provinsi lain di Sumatera, seperti Sumatera Utara atau Riau.
    Angka kemiskinan yang tetap tinggi di Aceh, meskipun Dana Otsus mengalir deras, menunjukkan adanya distorsi dalam distribusi kesejahteraan.
    Tak pelak, ketimpangan seperti ini akan terus menciptakan api dalam sekam di Aceh.
    Ketika bencana datang dan bantuan negara dirasa tidak cepat, ketimpangan itu akan menjelma menjadi kemarahan politik yang kemudian mencari saluran melalui simbol-simbol lama seperti arak-arakan bendera GAM itu.
    Secara sosiologis, pengibaran bendera GAM yang kembali muncul, bahkan dilakukan oleh warga dari kalangan menengah ke bawah, dalam hemat saya, adalah komunikasi politik “putus asa” terhadap Jakarta.
    Tentunya bendera tersebut tidak berkibar dalam ruang hampa, tapi lahir dari memori kolektif luka yang telah tersimpan lama di alam bawah sadar rakyat Aceh.
    Ketika rakyat Aceh merasa diabaikan oleh Jakarta, yang terlihat cukup jelas di saat bencana kali ini, naluri publik di Aceh tak pelak akan kembali ke pelukan identitas lama yang dianggap jauh lebih menjanjikan penghormatan atas harga diri rakyat Aceh sendiri.
    Dengan kata lain, tindakan TNI membubarkan massa yang mengarak bendera GAM boleh jadi berhasil secara fisik untuk menjaga simbol kedaulatan Indonesia.
    Namun secara psikopolitik, pembubaran tersebut justru mempertegas narasi bahwa Jakarta masih menggunakan pendekatan keamanan (
    security approach
    ), alih-alih pendekatan kemanusiaan yang lebih empatik.
    Memang, kita sebagai negara bangsa juga tidak boleh menutup mata atas potensi keterlibatan aktor-aktor asing yang mungkin memanfaatkan situasi bencana kali ini.
    Dalam perspektif sosiologi politik internasional, misalnya, wilayah atau daerah yang sedang bergejolak akibat bencana dan ketidakpuasan domestik, memang sering kali menjadi sasaran empuk kepentingan luar yang ingin mendorong disintegrasi demi melemahkan posisi tawar Indonesia di kawasan.
    Namun, menyalahkan pihak asing sepenuhnya juga kurang tepat, justru terlihat sebagai sikap yang naif. Karena pada dasarnya, pihak asing hanya bisa masuk jika ada celah kekecewaan yang dibuka terlebih dahulu oleh pemerintah kita sendiri.
    Artinya, jika Jakarta hadir secara nyata dan adil, didasari ketulusan dan rasa persaudaraan, maka sekuat apapun provokasi asing tidak akan mempan di hadapan rakyat yang merasa dicintai oleh negaranya.
    Bagaimanapun, harus diakui bahwa kekecewaan ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Aceh bukan “anak baru” dalam peta perlawanan terhadap Jakarta.
    Sejarah mencatat bagaimana eksploitasi sumber daya alam, terutama gas alam dan minyak selama puluhan tahun, hanya menyisakan kemiskinan bagi rakyat lokal, sementara keuntungannya mengalir ke pusat.
    Ketidakadilan ini kemudian diperparah oleh kebijakan Daerah Operasi Militer (DOM) di masa lalu, yang menyisakan trauma mendalam atas berbagai bentuk kekerasan militer.
    Bagi orang Aceh, peristiwa hari ini, seperti pengulangan pola lama: Aceh hanya diingat saat sumber dayanya dibutuhkan, tapi dilupakan di saat air mata rakyatnya menetes menuntut keadilan.
    Munculnya narasi pengabaian penderitaan rakyat Aceh oleh Jakarta kali ini, seolah mengonfirmasi kekhawatiran lama kita bahwa integrasi kembali ke pangkuan Indonesia setelah tsunami 2004, hanyalah janji yang manis di atas kertas.
    Oleh karena itu, jika penanganan bencana tidak dipercepat, maka romantisme perlawanan dikhawatirkan akan kembali tumbuh subur.
    Dengan kata lain, bendera GAM yang berkibar bukan sekadar kain, melainkan simbol bahwa kontrak sosial antara rakyat Aceh dan Republik Indonesia sedang mengalami krisis kepercayaan yang hebat.
    Saya sangat yakin, bahkan super-yakin, rakyat Aceh tidak sedang berhasrat untuk berperang kembali. Mereka hanya ingin negara hadir tanpa banyak alasan birokratis bertele-tele. Sesederhana itu saja.
    Pernyataan ini akan semakin krusial jika melihat situasi Aceh bukan dalam kacamata tunggal. Gejala serupa sebenarnya juga terus berdenyut di Papua Barat dan Sulawesi, misalnya.
    Di Papua, isu sumber daya alam dan identitas lokal terus berseteru. Bahkan di daerah seperti Riau yang selama ini tenang, potensi kekecewaan akibat ketimpangan distribusi kekayaan alam masih sangat mungkin meledak jika pemerintah terus memelihara sikap sentralistik.
    Mengapa? Karena dalam pandangan rakyat di daerah, Indonesia adalah imajinasi kolektif yang akan tetap bersatu selama semua anggotanya merasa dilindungi di satu sisi dan merasakan kenikmatan yang relatif seimbang di sisi lain.
    Jika rasa memiliki itu hilang akibat pengabaian bencana, misalnya, maka fondasi kebangsaan sejatinya sedang dipertaruhkan.
    Dalam hemat saya, Jakarta seharusnya arif dan bijak untuk mulai belajar bahwa stabilitas nasional tidak bisa dipaksakan dengan moncong senjata.
    Stabilitas yang hakiki lahir dari keadilan distributif dan empati yang tulus. Saat bencana melanda, negara harus siap menanggalkan egonya, membuka pintu bagi bantuan internasional, dan hadir secara fisik bukan untuk menertibkan, melainkan melayani.
    Penolakan bantuan luar negeri atas nama gengsi politik di saat rakyat korban bencana harus meminum air banjir, adalah kegagalan etika yang cukup fundamental.
    Bagaimana mungkin negara besar merasa terancam hanya karena menerima obat-obatan dari pihak lain saat rakyatnya justru menangis, bahkan sedang meregang nyawa di pengungsian?
    Pesannya sangat jelas kali ini. Jangan biarkan rakyat Aceh merasa bahwa pemisahan diri adalah satu-satunya jalan keluar. Jangan biarkan memori tentang perdamaian tertutup oleh lumpur pasca-banjir yang tidak kunjung dibersihkan.
    Dan mari mulailah membangun relasi Jakarta-Aceh di atas landasan keadilan dan rasa saling menghargai.
    Jika tuntutan penetapan Bencana Nasional saja terus diabaikan hanya karena alasan administratif, maka jangan salahkan jika di masa depan, narasi perlawanan kembali menjadi pembicaraan utama di kedai-kedai kupi dari Banda Aceh hingga Meulaboh. Keadilan bukan hanya soal uang, tapi soal kehadiran dan pengakuan.
    Masa depan keutuhan bangsa bergantung pada sejauh mana pusat mampu mendengarkan detak jantung daerah yang sedang kesakitan.
    Tak ada yang bisa membantah bahwa Aceh telah memberikan segalanya untuk republik ini, mulai dari emas untuk pesawat pertama Indonesia sampai kesabaran dalam merawat perdamaian selama 20 tahun terakhir.
    Kini, saat mereka sedang tenggelam, negara tidak boleh hanya berdiri di pinggir. Jika Jakarta terus bersikap kurang responsif, maka setiap jengkal air yang merendam Aceh akan menjadi pupuk bagi kembalinya bibit-bibit separatisme lama.
    Jika gagal menangani bencana di Aceh, bagaimana pun, maka akan memberikan preseden buruk bagi daerah lain.
    Daerah-daerah kaya sumber daya akan mulai bertanya, “Untuk apa kami menyerahkan kekayaan kami kepada Jakarta jika saat bencana kami dibiarkan sendiri?”
    Bunyi pertanyaannya boleh jadi terdengar sederhana, tapi substansinya sebenarnya adalah ancaman nyata bagi NKRI.
    Karena itu, kita sebagai negara bangsa harus memahami dengan arif bahwa nasionalisme tumbuh dari rasa aman dan sejahtera. 
    Pendeknya, peristiwa pengibaran bendera GAM ini harus dibaca sebagai “peringatan dini”. Karena itu, Indonesia sebaiknya tidak terjebak pada pedebatan tentang kain dan bendera, sementara akarnya adalah perut yang lapar dan hati tersakiti.
    Mari belajar dari sejarah. Sejarah adalah guru terbaik, kendati sering kali memberikan ujian berat. Aceh adalah ujian bagi kematangan demokrasi Indonesia. Jika pemerintah lalai di Aceh, maka pemerintah sejatinya sedang mempertaruhkan seluruh masa depan Indonesia.
    Dari desa di Eropa ini, saya hanya bisa berharap agar kearifan segera kembali ke kursi-kursi kekuasaan di Jakarta sebelum luka Aceh kembali membusuk dan merusak seluruh tubuh bangsa Indonesia.
    Mulai hari ini dan selanjutnya, mari kita membayangkan Indonesia di mana setiap daerahnya merasa dihargai bukan karena apa yang bisa mereka berikan kepada Jakarta, tapi karena apa yang bisa diberikan oleh Jakarta di saat mereka jatuh dan lumpuh. Semoga!
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • 5
                    
                        Selain ke Kapolri, Prabowo Juga Kunjungi Luhut di Hari Natal 2025
                        Nasional

    5 Selain ke Kapolri, Prabowo Juga Kunjungi Luhut di Hari Natal 2025 Nasional

    Selain ke Kapolri, Prabowo Juga Kunjungi Luhut di Hari Natal 2025
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Presiden Prabowo Subianto menemui Kepala Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan di kediaman Luhut pada Kamis (25/12/2025) sore.
    Momen itu diunggah Luhut melalui akun Instagram pribadinya.
    Luhut menyebut, Prabowo ditemani anak semata wayangnya, Didit Hediprasetyo.
    “Senang sekali sore ini Presiden @prabowo dan putra semata wayangnya, Mas Didit menyempatkan hadir ke kediaman kami untuk berbagi kebahagiaan di hari Natal,” kata Luhut, Kamis.
    Luhut mengungkapkan, pertemuan itu digunakan untuk berdiskusi selama 45 menit.
    Ada banyak isu yang diperbincangkan, mulai dari pekerjaan hingga terkait pentingnya menjaga kekompakan dan persatuan sebagai sesama anak bangsa.
    Luhut juga menyebut, Prabowo tampak gembira mendengar negosiasi tarif Indonesia dengan Amerika Serikat (AS).
    “Saat berbincang tadi, saya lihat Presiden tampak sangat gembira mendengar kabar bahwa negosiasi tarif dengan Amerika Serikat akan segera rampung. Beliau juga berpesan untuk menjaga hubungan bilateral yang baik dengan negara mitra dan sahabat,” ucap Luhut.
    Lebih lanjut Luhut menyampaikan, dirinya juga melaporkan kesiapan peluncuran GovTech untuk Bansos Digital pada bulan Oktober 2026.
    Seturut rencana, peluncurannya akan dihadiri oleh Prabowo.
    “Rencananya akan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo bersama Presiden World Bank, sebuah langkah besar untuk transparansi dan efisiensi layanan publik Indonesia,” jelasnya.
    Di sisi lain, keduanya juga memperbincangkan atensi Presiden Prabowo terkait industri benih atau 
    seed industry
    .
    Ia menyebut Prabowo memberikan atensi positif terhadap pengembangan
    seed industry
    melalui riset yang sedang dijalankan di TSTH2.
    Sebab, Kepala Negara sangat menekankan kemandirian benih adalah kunci masa depan industri pangan kita.
    Presiden Prabowo, kata Luhut, juga memberikan apresiasi terhadap gerak cepat TNI dalam menangani bencana di Sumatera melalui pembangunan sekitar 150 jembatan Bailey di beberapa titik, dalam rangka pemulihan kondisi pascabencana di beberapa wilayah terdampak bencana di Sumatera.
    Sebelum berpamitan, Prabowo turut menyisipkan sebuah pesan yang relevan dengan spirit Natal.
    Pesan tersebut tentang kekompakan dan menjaga persatuan di tengah badai ujian yang menerpa bangsa.
    Tidak terkecuali, dalam mempercepat warga terdampak bencana di Aceh dan Sumatera.
    “Bagi saya, kunjungan beliau sore ini menjadi pengingat bahwa tidak ada beban yang terasa berat jika dipikul bersama; karena kemanusiaan serta persatuan adalah jembatan sesungguhnya untuk membawa bangsa ini bangkit dan terus melangkah maju,” tandas Luhut.
    Prabowo juga hadir dalam gelar griya (open house) Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada momen Natal kali ini.
    Sama seperti saat ke kediaman Luhut, Prabowo datang bersama Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo atau Didit Prabowo.
    Sejumlah penggawa Kabinet Merah Putih juga hadir.
    Sekitar pukul 16.40 WIB, Prabowo terlihat keluar dari kediaman Kapolri diantar oleh tuan rumah, Jenderal Sigit dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Mengenal Apa itu Siklon Tropis Grant yang Berpotensi Memicu Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia

    Mengenal Apa itu Siklon Tropis Grant yang Berpotensi Memicu Gelombang Tinggi di Perairan Indonesia

    YOGYAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau terbentuknya Siklon Tropis Grant di Samudra Hindia barat daya Lampung. Fenomena ini bisa memicu terbentuknya gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia. Lantas, apa itu Siklon Tropis Grant?

    Menyadur laman resmi BMKG, Siklon Tropis Grant pada 23 Desember 2025 terpantau berada pada kategori 1 dengan kecepatan angin maksimum 35 knots (65 km/jam) dan tekanan 996 hPa dengan pergerakan menjauhi wilayah Indonesia sehingga tidak berpengaruh terhadap cuaca.

    Mengenal Apa itu Siklon Tropis Grant

    Siklon Tropis Grant adalah badai tropis yang terbentuk di atas perairan hangat Samudra Hindia. Sistem ini berkembang dari Bibit Siklon 93S yang tumbuh sejak 11 Desember 2025 pukul 07.00 WIB di Samudra Hindia selatan Jawa Timur dan mencapai intensitas siklon tropis pada 23 Desember 2025 pukul 07.00 WIB.

    Pada Selasa, 23 Desember, Siklon Tropis Grant terpantau berada di sekitar Samudra Hindia barat daya Bengkulu 12.2oLS, 98.2oBT (sekitar 1030 kilometer sebelah barat daya Bengkulu).

    Arah Gerak Siklon Tropis Grant diprediksi menuju Barat dengan kecepatan 6 knots (11 km/jam) bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

    Dalam 24 jam ke depan (hingga tanggal 25 Desember 2025 pukul 07.00 WIB), Siklon Tropis Grant diprediksi akan bergerak sebagaimana berikut:

    Posisi: Samudra Hindia barat Daya Bengkulu 12.0oLS, 96.3oBT (sekitar 1120 kilometer sebelah barat daya Bengkulu)Arah Gerak: Barat, dengan kecepatan 4 knots (7 km/jam) bergerak menjauhi wilayah Indonesia.Kekuatan: 50 knots (95 kilometer/jam)Tekanan: 987 hPaKategori: 2 (dua)

    Dampak Siklon Tropis Grant di Perairan Indonesia

    Siklon Tropis Grant masih memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi gelombang laut di pesisir selatan Indonesia. Badai tropis ini memicu potensi peningkatan tinggi gelombang dalam kategori sedang (1,25 hingga 2,5 meter) di sejumlah perairan Indonesia, seperti:

    Perairan barat LampungSelat Sunda bagian selatanPerairan selatan Pulau JawaSamudra Hindia barat Bengkulu hingga selatan Jawa.

    Menurut pantauan BMKG, Siklon Tropis Grant bergerak ke arah barat-barat laut menjauhi kepulauan Indonesia.

    Imbauan BMKG Terkait Aktivitas Siklon Tropis Grant

    Dengan lahirnya Siklon Tropis Grant, BMKG meminta masyarakat di wilayah terdampak, khususnya pelaku operasional pelayaran, untuk waspada terhadap perubahan kondisi laut sejak dini.

    Bagi masyarakat di wilayah pesisir, diharapkan terus memantau informasi BMKG dan arahan mitigasi BPBD setempat.

    Demikian penjelasan tentang apa itu Siklon Tropis Grant. Dapatkan update berita pilihan lainnya hanya di VOI.id.

  • Calon Potensial Pesaing Gibran di Pemilu 2029 Mulai Bermunculan, Sosok Ini Patut Diperhitungkan

    Calon Potensial Pesaing Gibran di Pemilu 2029 Mulai Bermunculan, Sosok Ini Patut Diperhitungkan

    “Elektabilitasnya tiba-tiba menyodok ke peringkat keenam,” jelas Burhanuddin.

    Tokoh lain termasuk Letkol Teddy Indra Wijaya, Anies Baswedan, dan sejumlah elite partai yang sedang memetakan kekuatan politik menuju pemilihan lima tahun mendatang.

    Isu mengenai Pemilu 2029 mulai relevan sejak kini karena kalender politik Indonesia bergerak cepat. Tahapan pemilu akan dimulai tahun depan, sehingga para elite partai, menteri, dan aktor politik mulai menghitung posisi kekuatan masing-masing.

    “Mulai tahun depan sudah mulai gerilya menjelang Pemilu energi politisi pasti berkurang,” tegasnya.

    Prof. Burhanuddin mengangkat isu 2029 bukan sekadar untuk memprediksi kontestasi politik, tetapi sebagai peringatan analitis agar pemerintah lebih responsif terhadap data ekonomi dan politik yang sedang bergerak.

    Ia menyoroti bahwa kondisi ekonomi yang belum pulih, daya beli masyarakat yang tertekan, serta kebijakan-kebijakan yang masih bersifat populis dapat mempengaruhi peta kekuasaan di masa depan.

    “Harus segera direspons kalau tidak angin positif bisa berbalik menjadi angin badai,” katanya.

    Dengan kata lain, pembahasan tokoh-tokoh 2029 tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat dengan kebutuhan melakukan koreksi kebijakan. Pemerintah perlu menyadari bahwa dinamika sosial-ekonomi akan memengaruhi komposisi dukungan politik, dan tokoh-tokoh baru dapat tiba-tiba muncul sebagai alternatif jika situasi tidak ditangani secara strategis.

    Ia juga mengangkat isu ini karena melihat pola besar: pergeseran loyalitas pemilih, kemunculan figur-figur baru yang naik eksponensial, serta hubungan elite politik yang juga berubah. Semua faktor tersebut membuat isu 2029 menjadi penting dibahas sedini mungkin.

  • Walhi Ramal Papua Akan Seperti Sumatra Apabila Ditanam Sawit​

    Walhi Ramal Papua Akan Seperti Sumatra Apabila Ditanam Sawit​

    GELORA.CO – Wahana Lingkungan (Walhi) meramal masa depan Papua apabila pemerintah pusat tetap ngotot membuka lahan sawit di wilayah tersebut. 

    Walhi menilai, ke depannya, tidak menutup kemungkinan bencana banjir besar Sumatra akan terjadi di Papua apabila deforestasi dilakukan pemerintah di bumi cenderawasih tersebut. 

    Hal ini diungkapkan Kepala Divisi Kampanye Eksekutif Nasional WALHI Uli Arta Siagian usai mendengar wacana Presiden RI Prabowo Subianto yang mau memperluas perkebunan sawit Indonesia hingga Papua.

    Diketahui Presiden Prabowo Subianto ingin Papua ditanami sawit agar menghasilkan bahan bakar minyak (BBM).

    Hal itu dia sampaikan dalam rapat percepatan pembangunan Papua di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (16/12/2025).

    Selain itu, Prabowo ingin Papua juga ditanami tebu hingga singkong agar bisa memproduksi bioetanol.

    Dalam pernyataannya, Prabowo menargetkan semua daerah bisa swasembada pangan dan swasembada energi dalam lima tahun ke depan.

    Walhi menolak keras ide Prabowo tersebut lantaran bisa mengundang bencana ekologis di Papua. 

    Uli mengatakan keinginan untuk membuka sawit dan kebun tebu skala besar di Papua hanya akan memperparah krisis ekologis. 

    Terlebih selama ini rakyat Papua juga telah mengalami perampasan wilayah adat akibat izin-izin yang diterbitkan pengurus negara. 

    Bahkan, pembukaan lahan 2 juta hektar untuk pangan dan energi yang sekarang berjalan dampaknya telah dirasakan oleh rakyat di Merauke.

    Mereka merasakan perampasan wilayah adat, hilangnya sumber pangan lokal, banjir, kekerasan bahkan kriminalisasi. 

    Bahkan kini, setiap tahun banjir selalu terjadi di Merauke, Papua.

    Maka kata Uli, bisa bayangkan kedepan banjir ini akan semakin sering terjadi dan meluas. 

    Bahkan, Uli meramalkan, rakyat Papua bisa senasib dengan warga Sumatra yakni mengalami bencana banjir besar apabila hutan hujan diubah menjadi sawit.

    “Pembukaan hutan untuk sawit dalam skala besar di Sumatera diulang Kembali di Papua. Papua dimasa depan akan mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh rakyat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat saat ini,” jelasnya.

    WALHI Papua mencatat bahwa Papua telah kehilangan tutupan hutan primer ± 688 ribu hectare hingga saat ini. 

    Bahkan mengejutkannya lagi, deforestasi 2022-2023 seluas 552 ribu hektar hutan alam Papua terdeforestasi. 

    Tanpa membuka lahan sawit saja, saat ini Papua menyumbang 70 persen dari total deforestasi nasional. 

    “Jika rencana ekspansi sawit, tebu dan lainnya atas nama swasembada pangan dan energi tetap dijalankan, sama artinya pengurus negara akan mengulang bencana ekologis Sumatera di Papua,” terangnya.

    Bukan hanya bencana bagi Papua, deforestasi wilayah tersebut juga akan menjadi bencana untuk dunia.

    Di mana dunia akan mengalami krisis iklim seperti bencana-bencana badai yang mulai terjadi di wilayah khatulistiwa.

    Maka jangan heran, Indonesia ke depannya akan terus dibayang-bayangi bencana badai dan banjir apabila hutan di Papua ikut dirusak.

    “Lebih jauh lagi, emisi yang akan dilepaskan dari perubahan hutan menjadi konsesi sawit, tebu dan aktivitas ekstraktif lainnya akan semakin memperparah krisis iklim. Anomali iklim, cuaca ekstrem adalah bahaya yang akan dihadapi oleh jutaan rakyat Indonesia,” tambahnya.

    Menurut Uli, rencana membuka hutan untuk menanam tanaman yang menghasilkan bio energi bukanlah solusi baru, tetapi bagian dari pendekatan pembangunan berbasis ekspansi lahan yang telah dikritik selama ini. 

    Pembukaan hutan untuk sawit, tambang, dan proyek ekstraktif lainnya merupakan salah satu penyebab struktural terjadinya krisis lingkungan, termasuk mengurangi kemampuan lanskap untuk menyerap curah hujan ekstrim, memperparah banjir, dan merusak sumber penghidupan masyarakat adat serta masyarakat lokal.

    Oleh karena itu WALHI mengingatkan bahwa kedaulatan energetika harus menjadi prioritas negara, tidak cukup hanya swasembada pangan dan energi. 

    “Energetika harus diletakkan dalam kerangka hak, sebab akses terhadap energi yang mendasari keberlanjutan dan martabat hidup manusia,”

    “Energi memungkinkan produksi pangan, tempat tinggal layak di berbagai iklim, layanan esensisal seperti Kesehatan dan Pendidikan serta konektivitas. Sistem energi harus diletakkan pada pemenuhan kebutuhan hak dasar warga negara bukan pada akumulasi kapital,” tutup Uli.

    Uli menjelaskan, energi seringkali hanya dipandang sebagai upaya penyediaan daya dari pemanfaatan sumber-sumber fisik atau kimia (utamanya bahan bakar fosil) untuk menghasilkan listrik dan atau untuk menggerakkan mesin. 

    Pandangan ini menjauhkan keseluruhan urusan energetika bagi regenerasi sosial-ekologis, dan berakhir hanya pada urusan kecukupan sumber tenaga untuk kesinambungan industrialisasi.