Tag: Badai

  • Bayi Usia 7 Hari Meninggal Akibat Cuaca Dingin Ekstrem di Gaza

    Bayi Usia 7 Hari Meninggal Akibat Cuaca Dingin Ekstrem di Gaza

    JAKARTA – Seorang bayi berusia tujuh hari meninggal dunia akibat suhu dingin ekstrem dan penurunan suhu yang drastis di Deir al-Balah, Jalur Gaza bagian tengah, Sabtu 10 Januari pagi.

    Mengutip WAFA via Antara, kejadian bayi meninggal itu membuat total korban meninggal akibat cuaca buruk dan dingin ekstrem yang melanda Jalur Gaza kini telah melampaui 15 orang.

    Angka tersebut mencerminkan kondisi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan di wilayah Jalur Gaza, terutama bagi anak-anak dan warga yang mengungsi serta tinggal di tenda-tenda darurat yang rapuh dan tidak mampu melindungi mereka dari terpaan kerasnya musim dingin.

    Warga Jalur Gaza terus menghadapi kekurangan tempat tinggal dan layanan kesehatan, serta keterbatasan bahan bakar untuk pemanas, di tengah cuaca badai, hujan, dan suhu dingin yang berkepanjangan.

  • Saat Rakernas PDI-P Jadi Panggung Megawati Mengingatkan Bahaya Krisis Ekologis…

    Saat Rakernas PDI-P Jadi Panggung Megawati Mengingatkan Bahaya Krisis Ekologis…

    Saat Rakernas PDI-P Jadi Panggung Megawati Mengingatkan Bahaya Krisis Ekologis…
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa generasi muda menjadi kelompok yang paling merasakan kecemasan akibat krisis iklim dan kerusakan lingkungan.
    Hal itu disampaikan Megawati saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI Perjuangan di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
    Megawati mengawali pidatonya dengan menggambarkan situasi
    krisis iklim
    global.
    Untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban, kata dia, bumi mengalami suhu terpanas dalam lebih dari 100.000 tahun terakhir.
    “Yang paling merasakan kecemasan ini adalah
    generasi muda
    . Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan,” kata Megawati.
    Ia menjelaskan, perubahan iklim telah memicu rangkaian bencana hidrometeorologi, mulai dari badai, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan.
    Bencana-bencana tersebut terjadi beruntun di berbagai belahan dunia tanpa mengenal batas negara maupun kelas sosial.
    Megawati menambahkan, berbagai temuan ilmiah menunjukkan umat manusia tengah mendekati titik-titik kritis yang sulit dipulihkan, seperti meningkatnya suhu laut, mencairnya es di kutub ke titik terendah, serta merosotnya keanekaragaman hayati secara tajam.
    “Sebagian ilmuwan bahkan menyebut fase ini sebagai awal keteruraian besar peradaban manusia,” imbuh Presiden ke-5 RI itu.
    Dalam konteks nasional, Megawati menyinggung bencana ekologis dan kemanusiaan akibat hujan ekstrem yang terjadi pada 23 November 2025.

    Bencana tersebut, menurut dia, melumpuhkan puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menewaskan ribuan orang, serta memaksa ratusan ribu warga mengungsi.
    Megawati menegaskan bahwa peristiwa itu tidak bisa semata-mata dianggap sebagai bencana alam.
    Ia menilai,
    kerusakan lingkungan
    merupakan konsekuensi langsung dari
    kebijakan pembangunan
    yang mengabaikan daya dukung ekologi.
    “Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan,” ujarnya.
    “Atas nama pembangunan, kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air, telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” tutur Megawati.
    Ia menambahkan, kebijakan dan regulasi yang memberi ruang besar bagi konsesi skala besar turut mendorong deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem.
    “Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban,” kata Megawati.
    Akibat kerusakan tersebut, lanjut dia, kawasan hulu kehilangan fungsinya sebagai penyangga kehidupan.
    “Ketika hujan turun, air tidak lagi terserap. Air kehilangan fungsinya sebagai sumber kehidupan, lalu berubah menjadi kekuatan penghancur,” ujarnya.
    Megawati juga menyoroti krisis iklim global yang kian mengkhawatirkan. Ia menyebut ambang batas kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius telah terlampaui.
    “Tahun 2023 mencatatkan diri sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah umat manusia, diperparah oleh fenomena El Nino yang mengguncang sendi-sendi kehidupan global,” ungkapnya.
    “Memasuki tahun 2024, suhu global bahkan telah melampaui ambang satu setengah derajat Celsius dibandingkan masa pra-industri, sebuah batas kritis yang selama ini diperingatkan oleh ilmu pengetahuan,” sambung Megawati.
    Selain isu lingkungan, Megawati turut menyinggung dinamika geopolitik global.
    Ia mengkritik tindakan militer Amerika Serikat (AS) yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya.
    “Tindakan tersebut merupakan wujud neokolonialisme dan imperialisme modern, yang mengingkari Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hubungan antarbangsa,” tegasnya.

    Megawati menilai intervensi militer semacam itu sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional.
    “Bangsa Indonesia menolak tatanan internasional yang membenarkan dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain,” katanya.
    Menurut dia, demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa.
    Megawati lalu mengaitkan sikap tersebut dengan politik luar negeri Indonesia sejak era Presiden pertama RI Soekarno.
    “Sejak Konferensi Asia Afrika digagas Bung Karno, Indonesia konsisten menentang imperialisme dalam segala bentuknya,” ujar dia.
    Karena itu, Megawati menyatakan PDI Perjuangan menyerukan penyelesaian konflik internasional melalui dialog, diplomasi, dan mekanisme hukum internasional.
    “PDI Perjuangan menyerukan penyelesaian konflik internasional melalui dialog, diplomasi, dan hukum internasional, bukan melalui kekerasan yang hanya memperpanjang penderitaan rakyat sipil,” pungkasnya.
    Sementara itu, pengamat politik Rocky Gerung mengaku menikmati pidato Megawati. Menurut dia, pidato tersebut berbeda dari ekspektasi banyak pihak yang menunggu pernyataan politik praktis.
    “Ada hal yang unik tadi, bahwa Anda pasti menunggu Ibu Megawati ucapkan pidato politik atau isu politik, tapi beliau menganggap ada yang lebih penting itu soal kemanusiaan, soal lingkungan, soal persahabatan,” kata Rocky saat ditemui di lokasi Rakernas.
    Ia menilai Megawati menunjukkan pemahaman yang kuat terhadap politik global, perubahan iklim, dan solidaritas kemanusiaan.
    “Yang kedua, ada isu yang betul-betul tajam sekali itu soal
    climate change
    , soal
    climate strike
    , soal keinginan negeri ini untuk menjadi pelopor perlindungan-perlindungan hidup. Dan itu sangat relevan,” ujar Rocky.
    “Dan yang terakhir, yang paling penting adalah pentingnya
    human solidarity
    . Persahabatan antara manusia. Dan itu dibenamkan sebagai tugas dari kader-kader PDI-P,” tutupnya.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Saat Rakernas PDI-P Jadi Panggung Megawati Mengingatkan Bahaya Krisis Ekologis…

    Megawati: Krisis Iklim Paling Mencemaskan Generasi Muda

    Megawati: Krisis Iklim Paling Mencemaskan Generasi Muda
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri menyebut pihak yang paling cemas terhadap krisis iklim dan kerusakan lingkungan adalah generasi muda.
    Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PDI Perjuangan di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1/2026).
    Mulanya, Megawati menyatakan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban, bumi mengalami suhu terpanas dalam lebih dari 100.000 tahun terakhir.
    “Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan,” kata Megawati, Sabtu.
    Megawati melanjutkan, dampak dari
    perubahan iklim
    itu antara lain,
    bencana hidrometeorologi
    seperti badai, banjir, kekeringan sampai kebakaran hutan.
    Bencana itu terjadi secara beruntun di berbagai belahan dunia tanpa mengenal batas negara dan kelas sosial.
    “Tahun 2023 mencatatkan diri sebagai salah satu tahun terpanas dalam sejarah umat manusia, diperparah oleh fenomena El Nino yang mengguncang sendi-sendi kehidupan global,” ungkap Megawati.
    Menurut Megawati, kondisi tersebut menimbulkan kecemasan mendalam, terutama di kalangan generasi muda yang harus menghadapi masa depan dalam ketidakpastian.
    Ia menambahkan, berbagai temuan ilmiah menunjukkan umat manusia tengah mendekati titik-titik kritis yang sulit dipulihkan, seperti meningkatnya suhu laut, mencairnya es di kutub ke titik terendah, serta merosotnya keanekaragaman hayati secara tajam.
    “Sebagian ilmuwan bahkan menyebut fase ini sebagai awal keteruraian besar peradaban manusia,” imbuhnya.
    Megawati juga menyinggung bencana ekologis dan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia akibat hujan ekstrem pada 23 November 2025.
    Bencana tersebut melumpuhkan puluhan kabupaten dan kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menewaskan ribuan orang, serta memaksa ratusan ribu warga mengungsi.
    Ia menegaskan, bencana tersebut bukan semata-mata peristiwa alam, melainkan akibat dari ulah manusia yang gagal memperlakukan alam secara adil dan berkelanjutan.
    “Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” tutur Presiden ke-5 RI ini.
    Megawati menilai kerusakan lingkungan juga dilembagakan melalui kebijakan dan regulasi yang memberi ruang besar bagi konsesi skala besar, sehingga mendorong deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem.
    “Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban,” terang Megawati.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Jarang Tersorot, Ini Profil Eny Retno Istri Yaqut yang Setia Mendampingi 21 Tahun

    Jarang Tersorot, Ini Profil Eny Retno Istri Yaqut yang Setia Mendampingi 21 Tahun

    GELORA.CO –  Ketika nama Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut kembali menjadi pusat perhatian publik usai ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi kuota haji 2024 oleh KPK.

    Satu sosok yang tiba-tiba ikut masuk radar pencarian publik adalah istrinya, Eny Retno Yaqut.

    Selama lebih dari dua dekade, Eny dikenal sebagai istri pejabat yang jarang tersorot media.

    Namun badai hukum yang menimpa suaminya membuat publik bertanya-tanya

    siapa sebenarnya perempuan yang telah mendampingi Gus Yaqut selama 21 tahun ini?

    Nama Eny Retno memang tidak sering muncul dalam pemberitaan politik nasional.

    Namun catatan media kredibel menyebut bahwa ia berasal dari lingkungan pendidikan yang kuat.

    Eny merupakan alumnus SMA Negeri 2 Rembang, sebelum melanjutkan pendidikan ke Institut Pertanian Bogor (IPB) salah satu kampus terbaik di Indonesia.

    Latar pendidikan ini menjadi fakta menarik, sebab selama ini publik hanya mengenal Gus Yaqut sebagai tokoh NU dari keluarga pesantren.

    Sementara Eny justru datang dari jalur akademik yang berbeda.

    Keduanya menikah pada 29 Juli 2003, dan pada tahun 2024 lalu, pasangan ini merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-21.

    Perayaan itu sempat diunggah akun resmi Kanwil Kemenag Sulawesi Utara, memperlihatkan bahwa Eny selalu hadir di sisi suaminya dalam berbagai fase kehidupan, meski tanpa banyak sorotan kamera.

    Dalam perjalanan politik Gus Yaqut, nama Eny hampir tidak pernah muncul ke permukaan.

    Saat sang suami aktif di PMII, memimpin GP Ansor, maju sebagai anggota DPR, hingga akhirnya ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Agama pada 2020, Eny tetap berada di belakang layar.

    Ia bukan tipe istri pejabat yang tampil di podium, bukan pula figur yang mengekspos kehidupan pribadinya di media sosial.

    Selama ini ia lebih dikenal sebagai pendamping setia yang menjaga ruang keluarga tetap stabil.

    Pasangan ini juga diketahui memiliki empat anak, sebuah informasi yang dikonfirmasi melalui profil tokoh di media nasional.

    Kehidupan keluarga mereka selama ini relatif tenang dan jauh dari kontroversi.

    Bahkan di akun Instagram resmi @gusyaqut, kemunculan Eny hanya sesekali, biasanya pada momen pribadi atau kegiatan keluarga.

    Namun keadaan berubah ketika kasus kuota haji mencuat. Sejak KPK menetapkan Gus Yaqut sebagai tersangka bersama mantan stafsusnya.

    Publik mulai menelusuri informasi mengenai sosok Eny Retno.

    Pencarian profilnya meningkat tajam, terutama karena ia jarang tampil sehingga memunculkan rasa ingin tahu yang besar.

    Fenomena ini biasanya terjadi pada pasangan publik figur yang terseret dalam kasus besar: masyarakat berusaha memahami kehidupan pribadi tokoh yang sedang diperbincangkan.

    Eny sendiri tidak memiliki rekam jejak kontroversial. Sebagian besar pemberitaan tentang dirinya berhubungan dengan perjalanan keluarga, pendidikan, dan statusnya sebagai istri pendamping pejabat.

    Fakta bahwa ia mendampingi sosok sebesar Gus Yaqut selama lebih dari dua dekade tanpa sorotan berlebihan justru menjadi daya tarik tersendiri.

    Ia muncul sebagai figur tenang yang tiba-tiba harus berada di tengah pusaran perhatian nasional.

    Kini, ketika proses hukum terhadap Gus Yaqut berjalan, publik akan terus menyoroti bagaimana perjalanan keluarga ini.

    Eny Retno, yang dulu berjalan dalam jejak sunyi di belakang suaminya, kini berada di garis depan perhatian masyarakat.

    Profilnya menjadi bagian penting dari narasi besar tentang kehidupan pribadi tokoh publik yang tengah menghadapi badai politik dan hukum.***

  • Cuaca Buruk di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Penyeberangan Sempat Buka Tutup Dua Kali

    Cuaca Buruk di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Penyeberangan Sempat Buka Tutup Dua Kali

    Banyuwangi (beritajatim.com) – Cuaca buruk yang melanda Selat Bali mengakibatkan penyeberangan Ketapang dua kali mengalami penutupan sementara, Kamis (8/1/2026)

    Koordinator Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) satuan wilayah kerja Pelabuhan Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho mengatakan penutupan terjadi dua kali pada pukul 14.28 WIB dan 16.00 WIB.
    Pukul 14.28 WIB pelayanan ditunda sementara dikarenakan hujan lebat dan jarak pandang terbatas.

    Usai pelayanan pertama ditunda, rentan waktu setengah jam kemudian atau pukul 15.00 WIB, penyeberangan Ketapang-Gilimanuk kembali dibuka karena cuaca telah membaik dan jarak pandang terlihat jelas.

    Namun tak berlangsung lama, penyeberangan kembali ditunda sementara pelayanannya pada pukul 16.05 WIB. “Pelayanan ditunda sementara karena hujan lebat, badai dan jarak pandang terbatas kurang lebih 500 meter,” kata Bayu.

    Saat itu, cuaca di sekitar Pelabuhan Ketapang turun hujan sangat lebat, dengan arah angin dari Barat Daya dengan kecepatan maksimum 14.0 knots, arus bergerak menuju utara dengan kecepatan 0.57 – 2.02 m/s dan ketinggian gelombang antara 0.1 – 0.5 meter.

    Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga mengeluarkan peringatan dini dan status waspada karena potensi terjadinya angin kencang dengan kecepatan 10-15 knots dari arah barat daya.

    Dengan arus kuat adanya kecepatan lebih dari 1.2 m/s yang diprediksi akan terjadi selama satu jam. Usai berlangsung selama satu jam, penyeberangan Ketapang menuju Gilimanuk kembali dibuka pada pukul 17.00 WIB bersamaan dengan membaiknya cuaca dan jarak pandang.

    Sementara itu, seiring dibukanya penyeberangan, kepadatan kendaraan akibat tertahan di kantong parkir perlahan terurai.

    Pihaknya mengimbau masyarakat untuk dapat bersabar antre menunggu waktu masuk kapal.
    “Mohon bersabar demi kenyamanan dan keamanan bersama. Karena cuaca diluar prediksi,” pungkas Bayu. [alr/suf]

  • Badai Salju Terjang Eropa, Kemlu Minta WNI Tingkatkan Kewaspadaan

    Badai Salju Terjang Eropa, Kemlu Minta WNI Tingkatkan Kewaspadaan

    Jakarta

    Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus berkoordinasi dengan KBRI setempat terkait badai salju yang terjadi di Eropa. Hingga saat ini, tidak ada laporan WNI menjadi korban.

    “Hingga saat ini KBRI Den Haag dan KBRI Paris kita belum menerima laporan adanya WNI yang terkena dampak (badai salju),” kata Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang di gedung Kemlu, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

    Yvonne menegaskan Kemlu terus memonitor perkembangan situasi cuaca di Eropa. Menurutnya, Belanda dan Prancis merupakan negara yang paling terdampak badai salju.

    “Kami sudah koordinasi juga kemarin in close contact dengan KBRI Den Haag dan KBRI Paris, memang kita terus monitor perkembangan situasi negara-negara yang paling terdampak situasi cuaca dingin bersalju seperti di Belanda dan di Prancis,” ujarnya.

    Yvonne mengungkap adanya transportasi yang terganggu di Eropa. Ia mengimbau seluruh WNI di Eropa tetap waspada.

    “Memang pelayanan transportasi publik, penerbangan semua, kereta, itu kan mengalami gangguan. Untuk itu memang KBRI Den Haag dan KBRI Paris telah meng-invoke kepada seluruh WNI untuk tetap waspada dan terus memantau perkembangan informasi cuaca,” katanya.

    (eva/eva)

  • Askab PSSI Tulungagung Kecam ‘Tendangan Kungfu’ Pemain Putra Jaya Pasuruan, Dukung Jalur Hukum

    Askab PSSI Tulungagung Kecam ‘Tendangan Kungfu’ Pemain Putra Jaya Pasuruan, Dukung Jalur Hukum

    Tulungagung (beritajatim.com) -Pengurus Askab PSSI Tulungagung mengecam keras aksi kekerasan “tendangan kungfu” yang menimpa gelandang Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha, dalam laga Babak 32 Besar Grup CC Liga 4 Jawa Timur. Insiden yang terjadi di Stadion Gelora Bangkalan tersebut mengakibatkan Firman mengalami cedera serius berupa retak tulang rusuk kiri bagian bawah.

    Ketua Askab PSSI Tulungagung, Ahmad Baharudin, menilai tindakan pemain Putra Jaya Pasuruan, M. Hilmi Gimnastiar, sangat brutal dan dilakukan secara sengaja. Menurutnya, pelanggaran tersebut telah melampaui batas sportivitas dan membahayakan keselamatan nyawa pemain di lapangan hijau.

    “Kalau melihat kejadiannya itu sangat brutal dan sengaja,” ujar Ahmad Baharudin, Rabu (7/01/2026).

    Baharudin menegaskan bahwa sanksi kartu merah dari wasit tidak cukup untuk menebus tindakan yang mencederai nilai-nilai sepak bola tersebut. Ia menganggap insiden ini sebagai pelanggaran berat yang tidak bisa ditoleransi dalam standar kompetisi profesional maupun amatir.

    Firman Nugraha sendiri merupakan pemain baru yang direkrut Perseta 1970 Tulungagung khusus untuk mengarungi Babak 32 Besar. Pemain asal Kediri tersebut sebelumnya memperkuat tim lain di ajang Liga 4, namun dipinang oleh manajemen Laskar Badai Selatan setelah tim lamanya gagal melaju ke fase gugur.

    Terkait kondisi terkini sang pemain, Baharudin menyebut Firman mulai menunjukkan progres pemulihan. Meski sang pemain memiliki keinginan kuat untuk kembali merumput, pihak Askab dan manajemen melarang keras guna memastikan observasi medis berjalan maksimal.

    “Anaknya sempat ngotot ingin bermain lagi, tapi kita larang karena masih dalam masa observasi juga,” tuturnya.

    Mengenai langkah hukum, Askab PSSI Tulungagung memberikan dukungan penuh kepada manajemen Perseta 1970 Tulungagung jika ingin membawa kasus ini ke pihak berwajib. Meskipun Komdis Asprov PSSI Jawa Timur telah menjatuhkan sanksi, Baharudin menilai laporan polisi merupakan wewenang penuh manajemen untuk memberikan keadilan bagi pemain.

    “Kita mendukung rencana tersebut, sepenuhnya keputusan manajemen seperti apa kita mendukungnya,” pungkas Baharudin.. [nm/ian]

  • Apa yang Terjadi Jika Tidak Ada Tumbuhan di Muka Bumi? Ini Dampak Mengerikan bagi Kehidupan

    Apa yang Terjadi Jika Tidak Ada Tumbuhan di Muka Bumi? Ini Dampak Mengerikan bagi Kehidupan

    YOGYAKARTA – Tumbuhan merupakan fondasi utama kehidupan di muka Bumi. Hampir semua makhluk hidup, termasuk manusia, bergantung secara langsung maupun tidak langsung pada keberadaan tumbuhan. Sayangnya, peran vital tumbuhan sering kali dianggap sepele dalam kehidupan sehari-hari.

    Tanpa disadari, tumbuhan tidak hanya menyediakan makanan dan oksigen, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem. Dari hutan hujan hingga tanaman kecil di pekarangan rumah, semuanya memiliki fungsi ekologis yang saling terhubung. Jika satu elemen ini hilang, dampaknya akan merembet ke seluruh sistem kehidupan.

    Lantas, apa yang terjadi jika tidak ada tumbuhan di muka Bumi? Dilansir dari berbagai sumber, berikut pembahasannya.

    Yang Terjadi Jika Tidak Ada Tumbuhan di Muka Bumi

    Hilangnya Sumber Oksigen di Bumi

    Jika tidak ada tumbuhan di muka Bumi, produksi oksigen akan berhenti sepenuhnya. Tumbuhan menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis yang sangat penting bagi pernapasan manusia dan hewan. Tanpa oksigen yang cukup, kehidupan tidak akan dapat bertahan lama.

    Manusia dan hewan membutuhkan oksigen untuk menjalankan fungsi tubuhnya. Tanpa pasokan oksigen baru, kadar oksigen di atmosfer akan terus menurun. Pada akhirnya, kondisi ini akan menyebabkan kematian massal makhluk hidup.

    Laut memang memiliki fitoplankton sebagai penghasil oksigen, tetapi jumlahnya tidak akan cukup tanpa dukungan ekosistem darat. Ketidakseimbangan ini akan mempercepat kehancuran sistem pernapasan global. Bumi akan berubah menjadi planet yang tidak layak huni.

    Runtuhnya Rantai Makanan

    Tumbuhan merupakan produsen utama dalam rantai makanan. Tanpa tumbuhan, hewan herbivora tidak akan memiliki sumber makanan. Akibatnya, populasi hewan pemakan tumbuhan akan punah terlebih dahulu.

    Kepunahan hewan herbivora akan berdampak langsung pada hewan karnivora. Predator tidak lagi memiliki mangsa untuk bertahan hidup. Rantai makanan pun runtuh secara total.

    Manusia sebagai bagian dari rantai makanan juga akan terdampak. Tanpa tumbuhan, sumber pangan utama seperti padi, gandum, buah, dan sayuran akan hilang. Kelaparan global tidak dapat dihindari.

    Dampak Besar terhadap Iklim Global

    Jika tidak ada tumbuhan di muka Bumi, kadar karbon dioksida di atmosfer akan meningkat drastis. Tumbuhan berperan sebagai penyerap karbon alami yang menahan laju pemanasan global. Tanpa mereka, gas rumah kaca akan terus menumpuk.

    Peningkatan karbon dioksida akan mempercepat perubahan iklim ekstrem. Suhu global akan naik lebih cepat dan tidak terkendali. Gelombang panas, badai besar, dan kekeringan akan semakin sering terjadi.

    Kondisi iklim yang tidak stabil akan menyulitkan kehidupan manusia. Sumber air bersih akan terganggu dan banyak wilayah menjadi tidak layak huni. Migrasi besar-besaran akibat iklim pun tidak terhindarkan.

    Kerusakan Tanah dan Siklus Air

    Tumbuhan memiliki peran penting dalam menjaga struktur tanah. Akar tanaman membantu menahan tanah agar tidak mudah tererosi oleh air dan angin. Tanpa tumbuhan, tanah akan menjadi tandus dan mudah rusak.

    Selain itu, tumbuhan berperan dalam siklus air melalui proses transpirasi. Proses ini membantu pembentukan awan dan hujan. Jika tumbuhan hilang, pola hujan akan berubah secara drastis.

    Akibatnya, beberapa wilayah akan mengalami kekeringan ekstrem, sementara wilayah lain rawan banjir. Ketidakseimbangan siklus air ini akan memperparah krisis lingkungan. Kehidupan manusia pun semakin terancam.

    Dampak Langsung bagi Kehidupan Manusia

    Kehidupan manusia sangat bergantung pada tumbuhan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tanpa tumbuhan, manusia akan kehilangan sumber pangan, oksigen, dan bahan baku industri. Kehidupan tidak akan dapat berjalan.

    Sektor pertanian akan runtuh sepenuhnya. Industri makanan, obat-obatan, dan tekstil juga akan terdampak besar. Perekonomian global akan mengalami kehancuran.

    Pada akhirnya, manusia tidak akan mampu bertahan hidup dalam jangka panjang. Tanpa tumbuhan, Bumi bukan lagi rumah yang aman. Kehidupan seperti yang kita kenal saat ini akan berakhir.

    Karena itu, menjaga dan melestarikan tumbuhan adalah tanggung jawab bersama. Perlindungan hutan dan lingkungan bukan hanya demi alam, tetapi demi masa depan manusia. Tanpa tumbuhan, tidak akan ada kehidupan di muka Bumi.

    Selain pembahasan di atas, ikuti artikel-artikel menarik lainnya di VOI.ID. Agar tidak ketinggalan kabar terupdate follow dan pantau terus akun sosial media kami!

  • Suhu Beku Landa Eropa, Kacaukan Perjalanan Antar Negara

    Suhu Beku Landa Eropa, Kacaukan Perjalanan Antar Negara

    Jakarta

    Suhu beku melanda sejumlah wilayah Eropa pada Selasa (06/01), memicu kekacauan perjalanan yang berlanjut dan mengakibatkan korban jiwa. Di Prancis saja, sedikitnya lima orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas yang dipicu black ice (es hitam atau lapisan tipis es yang terbentuk di permukaan jalan) dan menyebabkan kondisi jalan licin sejak Senin (05/01).

    Salah seorang korban merupakan sopir taksi yang tewas setelah mobilnya tergelincir dan tercebur di Sungai Marne, Prancis. Sementara penumpang taksi dirawat akibat hipotermia. Satu korban lainnya meninggal di wilayah timur Paris setelah kendaraannya bertabrakan dengan truk.

    Bandara dan kereta berhenti beroperasi

    Cuaca ekstrem juga melumpuhkan transportasi di negara lain. Di Inggris, suhu turun hingga minus 12,5 derajat Celsius di Norfolk, dan ini menjadi malam terdingin saat musim dingin sejauh ini.

    Meski bandara Liverpool dan Aberdeen kembali beroperasi setelah sempat ditutup, gangguan perjalanan masih meluas. Lebih dari 300 sekolah di Skotlandia ditutup, dan layanan kereta terganggu parah. Pemerintah setempat mengimbau warga merencanakan perjalanan dengan cermat atau bekerja dari rumah.

    Di Belanda, suhu di bawah minus 10 derajat Celsius membuat jaringan kereta sempat terhenti. Gangguan diperparah oleh masalah sistem, terutama di sekitar Amsterdam. Bandara Schiphol yang menjadi salah satu penghubung utama Eropa, mencatat hari kedua pembatalan perjalanan massal, dengan lebih dari 400 penerbangan terhentu.

    Layanan kereta nasional mulai berjalan kembali setelah pukul 10.00 waktu setempat, meski masih terbatas. Eurostar dari Amsterdam ke Paris banyak yang dibatalkan atau terlambat berangkat. Maskapai KLM menyatakan kewalahan menangani lonjakan permintaan penjadwalan ulang akibat cuaca terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

    Peringatan perjalanan akibat badai pembawa salju

    Kondisi serupa terjadi di Jerman, Prancis, dan Hungaria. Suhu di Jerman bagian selatan dan timur merosot jauh di bawah nol, sementara salju menutup banyak wilayah. Hungaria bersiap menghadapi hari kedua salju lebat, dengan sejumlah jalan dan rel, terutama di timur laut, tidak bisa dilalui. Otoritas setempat meminta warga bepergian hanya jika benar-benar perlu.

    Inggris, Prancis, dan Jerman diperkirakan akan kembali diterjang badai pembawa salju pada akhir pekan. Di kawasan Balkan Barat, hujan dan salju lebat menutup jalan, memutus listrik, dan memicu banjir. Di Sarajevo, seorang perempuan tewas tertimpa pohon yang roboh akibat beban salju basah.

    Otoritas transportasi di berbagai negara mengimbau warga membatasi perjalanan, mengutamakan keselamatan, dan memantau pembaruan cuaca seiring berlanjutnya gelombang dingin di Eropa.

    Editor: Rizki Nugraha

    Lihat juga Video: Badai Claudia Hantam Eropa, Banjir Bandang Terjang Inggris-Portugal

    (ita/ita)

  • Dugaan Pemicu Dentuman Keras dan Kilatan Cahaya Merah di Utara Cianjur Menurut PVMBG

    Dugaan Pemicu Dentuman Keras dan Kilatan Cahaya Merah di Utara Cianjur Menurut PVMBG

    GELORA.CO –  Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat dentuman keras dan kilatan cahaya kemerahan yang terjadi di wilayah utara Cianjur, Jawa Barat, berkaitan dengan fenomena atmosfer dan geofisika meski belum menemukan pemicu pastinya. Penyelidik Bumi Utama PVMBG Supartoyo saat dihubungi Selasa (6/1/2026), mengatakan dentuman dan cahaya kemerahan yang sempat dilihat dan dirasakan masyarakat di sejumlah kecamatan di wilayah utara Cianjur diduga dipicu fenomena energi elektromagnetik.

    “Kami masih mendalami penyebab terjadinya fenomena energi tersebut termasuk pemicu-nya karena tidak ada aktivitas kegempaan yang biasanya menjadi pemicu terjadinya fenomena alam tersebut,” katanya.

    Sedangkan berdasarkan keterangan Bandan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) menduga suara dentuman dan kilatan cahaya yang sempat terlihat warga di sejumlah kecamatan bagian utara Cianjur seperti Pacet, Cipanas, dan Sukaresmi akibat aktivitas manusia. Pasalnya ungkap Kepala BMKG Jabar Teguh Rahayu, saat peristiwa tersebut terjadi tidak ada aktivitas kegempaan dan petir di wilayah Cianjur yang terdata di BMKG Bandung, sehingga pihaknya menduga hal tersebut buatan manusia.

    “Petugas dan alat yang terpasang di BMKG Bandung tidak menunjukkan adanya aktivitas kegempaan dan badai petir di wilayah Cianjur, sehingga kami menduga aktifitas tersebut buatan manusia,” katanya

    Sementara Kepala BPBD Cianjur Iwan Karyadi, meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik dengan kejadian pada Senin malam itu, karena pihaknya masih menelusuri informasi pasti penyebab dentuman dan kilatan cahaya yang sempat meresahkan warga.

    “Kami masih mencari informasi pastinya sehingga warga jangan panik namun tetap waspada, kami sudah melakukan koordinasi dengan PVMBG dan BMKG apa penyebab suara dentuman dan kilatan cahaya yang terjadi malam itu,” katanya.

    Seperti diberitakan, warga di sejumlah kecamatan di utara Cianjur tepatnya di Kecamatan Pacet, Cipanas dan Sukaresmi, sempat mendengar suara dentuman pada Senin malam sekitar pukul 22:15 WIB, sehingga berhamburan keluar rumah. Tidak lama berselang warga melihat kilatan cahaya kemerahan di langit, sehingga mereka memilih bertahan di luar rumah cukup lama karena takut hal yang tidak diinginkan terjadi, hingga menjelang tengah malam sebagian besar warga kembali masuk ke dalam.

    “Suaranya bergemuruh disertai dentuman cukup kencang, sehingga kami berlarian keluar rumah, dalam hitungan detik diikuti kilatan cahaya kemerahan di langit, selang setengah jam kami baru masuk ke dalam,” kata warga Kecamatan Cipanas Dede Sandi.