Tag: Ayatollah Ali Khamenei

  • Ulama Iran Tawarkan Hadiah Rp 18,5 M untuk Kepala Trump

    Ulama Iran Tawarkan Hadiah Rp 18,5 M untuk Kepala Trump

    Teheran

    Seorang ulama Iran menawarkan hadiah uang sebesar 100 miliar Tomans atau setara Rp 18,5 miliar kepada siapa saja yang membunuh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan membawakan kepalanya.

    Dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Azeri, seperti dilansir media Iran International, Jumat (11/7/2025), seorang ulama Iran bernama Mansour Emami mengumumkan imbalan yang besar tersebut bagi siapa pun yang mampu membunuh Trump.

    “Kami akan memberikan 100 miliar Tomans (setara US$ 1,14 juta atau Rp 18,5 miliar) kepada siapa pun yang membawa kepala Trump,” ucap Emami yang ditunjuk negara untuk menjabat sebagai Direktur Organisasi Dakwah Islam resmi wilayah Provinsi Azerbaijan Barat.

    Tidak hanya tawaran itu, sebuah fatwa juga dikeluarkan oleh dua ulama senior Iran lainnya yang menyerukan pembunuhan Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Bahkan dilaporkan bahwa fatwa itu mendapatkan dukungan dari sekitar 10 ulama Iran lainnya dan memicu penggalangan dana secara online.

    Sebanyak 10 ulama yang ditunjuk negara itu merilis surat terbuka pada Senin (7/7) yang isinya menyebut Trump dan Netanyahu sebagai “pejuang kafir”.

    Kemudian sebuah situs web Iran, thaar.ir, melakukan kampanye publik untuk penggalangan dana secara online bagi pembunuhan Trump. Situs tersebut baru-baru ini menampilkan bahwa dana sebesar lebih dari US$ 20 juta (Rp 324,4 miliar) telah terkumpul.

    Sejauh ini belum ada konfirmasi langsung mengenai kebenaran angka tersebut.

    Saksikan juga edisi perdana Shout Out, Rae Lil Black Jawab Tudingan Masuk Islam untuk Cari Sensasi

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam wawancara dengan tokoh media AS Tucker Carlson, yang disiarkan pada Senin (7/7) berusaha menjauhkan pemerintah Teheran dari fatwa dan seruan pembunuhan tersebut.

    “Sepengetahuan saya, mereka tidak mengeluarkan dekrit atau fatwa terhadap individu mana pun atau terhadap Donald Trump. Ini tidak ada hubungannya dengan pemerintah Iran atau pemimpin tertinggi Iran (Ayatollah Ali Khamenei),” tegas Pezeshkian.

    Bulan lalu, seorang ulama garis keras Iran yang bernama Alireza Panahian, yang dekat dengan Khamenei, menyerukan umat Muslim untuk membunuh Trump dan Netanyahu sebagai pembalasan atas ancaman kedua pemimpin itu terhadap Khamenei selama perang 12 hari pada Juni lalu.

    Panahian mengutip fatwa yang melabeli orang-orang yang melontarkan ancaman semacam itu sebagai “mohareb” atau musuh Tuhan.

    Ayatollah Naser Makarem Shirazi dan Ayatollah Hossein Nouri Hamedani sebelumnya mengeluarkan fatwa terpisah terhadap Trump dan Netanyahu.

    “Setiap rezim atau individu yang mengancam para pemimpin Umat Islam dan bertindak berdasarkan ancaman tersebut memenuhi syarat sebagai seorang mohareb,” kata Shirazi.

    Belum ada tanggapan langsung dari pemerintah AS dan Israel terkait seruan pembunuhan tersebut.

    Saksikan juga edisi perdana Shout Out, Rae Lil Black Jawab Tudingan Masuk Islam untuk Cari Sensasi

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Presiden Iran Bilang Israel Coba Bunuh Dirinya Saat Perang, Tapi Gagal

    Presiden Iran Bilang Israel Coba Bunuh Dirinya Saat Perang, Tapi Gagal

    Teheran

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengungkapkan bahwa Israel, yang bulan lalu terlibat perang selama 12 hari dengan Teheran, telah melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya. Pezeshkian menyebut upaya Tel Aviv itu berujung kegagalan.

    Pernyataan ini, seperti dilansir AFP, Selasa (8/7/2025), disampaikan Pezeshkian dalam wawancara dengan tokoh media Amerika Serikat (AS), Tucker Carlson, yang dirilis pada Senin (7/7) waktu setempat.

    Hal ini diungkapkan Pezeshkian sekitar kurang dari sebulan setelah Israel melancarkan rentetan pengeboman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran, yang menewaskan sejumlah komandan militer dan ilmuwan nuklir negara tersebut.

    Serangan-serangan mematikan Tel Aviv dilancarkan dua hari sebelum Teheran dan Washington dijadwalkan bertemu untuk putaran terbaru perundingan nuklir antara kedua negara. Serangan itu menghambat negosiasi yang bertujuan mencapai kesepakatan atas program nuklir Iran.

    Saat ditanya soal apakah dirinya meyakini Israel telah mencoba untuk membunuhnya, Pezeshkian mengatakan: “Iya, mereka memang mencoba. Mereka bertindak seperti itu, tetapi gagal.”

    “Bukan Amerika Serikat yang berada di balik upaya pembunuhan terhadap saya. Melainkan Israel. Saya sedang dalam sebuah pertemuan… mereka mencoba membombardir area yang menjadi tempat kami mengadakan pertemuan itu,” ucap Pezeshkian, merujuk pada upaya pembunuhan selama perang baru-baru ini.

    Menurut otoritas kehakiman Iran, lebih dari 900 orang tewas selama perang 12 hari berlangsung. Sementara laporan otoritas Tel Aviv menyebut sedikitnya 28 orang tewas di Israel akibat rentetan serangan balasan Iran yang melibatkan rudal dan drone.

    Perang 12 hari antara Iran dan Israel juga menyeret AS, yang melancarkan pengeboman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap tiga fasilitas nuklir Teheran, yakni Fordow, Isfahan, dan Natanz. Pertempuran udara sengit itu diakhiri dengan gencatan senjata yang berlangsung sejak 24 Juni lalu.

    Lihat juga Video ‘Pentagon Klaim Fasilitas Nuklir Iran Hancur Total: Mundur 2 Tahun’:

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, pada 16 Juni lalu, tidak mengesampingkan rencana untuk membunuh pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang disebutnya akan “mengakhiri konflik”, setelah muncul laporan yang menyebut Presiden AS Donald Trump memveto tindakan tersebut.

    Pezeshkian, dalam wawancara dengan Carlson, menuduh Netanyahu mengejar “agendanya sendiri” untuk “perang selamanya” di Timur Tengah, dan mendesak AS untuk tidak terseret ke dalamnya.

    “Pemerintah AS harus menahan diri untuk tidak terlibat dalam perang yang bukan perangnya Amerika, melainkan perangnya Netanyahu,” cetusnya.

    Pezeshkian menambahkan bahwa Iran “tidak memiliki masalah” untuk memulai kembali perundingan nuklir dengan AS, asalkan rasa saling percaya dapat dibangun kembali antara kedua negara. Dia memperingatkan bahwa AS memiliki dua cara untuk menghadapi Iran: perdamaian atau perang.

    Lihat juga Video ‘Pentagon Klaim Fasilitas Nuklir Iran Hancur Total: Mundur 2 Tahun’:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • 2 Personel Garda Revolusi Iran Tewas Saat Jinakkan Bom Sisa Perang Israel

    2 Personel Garda Revolusi Iran Tewas Saat Jinakkan Bom Sisa Perang Israel

    Teheran

    Dua personel Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) tewas pada Minggu (6/7) saat berupaya menjinakkan peledak sisa perang dengan Israel di wilayah barat negara tersebut. Wilayah tersebut dilanda rentetan serangan udara Israel saat perang berkecamuk bulan lalu.

    Iran dan Israel terlibat perang selama 12 hari yang dipicu oleh operasi pengeboman oleh Tel Aviv pada 13 Juni lalu. Rentetan serangannya, menurut Israel pada saat itu, bertujuan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir — sebuah ambisi yang terus-menerus dibantah oleh Teheran.

    Laporan kantor berita Tasnim yang mengutip pernyataan IRGC, seperti dilansir AFP, Senin (7/7/2025), menyebut dua personel IRGC tewas dalam insiden saat membersihkan bom sisa perang di area Khorramabad.

    “Dua anggota Garda (Revolusi Iran) tewas pada Minggu (6/7) di Khorramabad saat membersihkan area tersebut dari peledak yang ditinggalkan oleh agresi rezim Zionis,” sebut IRGC dalam pernyataannya, menggunakan sebutan khas Iran untuk Israel.

    Serangan-serangan Israel selama perang berlangsung pada pertengahan Juni lalu menewaskan sejumlah komandan Angkatan Bersenjata Iran, termasuk para anggota IRGC, serta para ilmuwan nuklir terkemuka negara tersebut.

    Secara terpisah, kantor berita Fars melaporkan pada Minggu (6/7) mengenai kematian seorang tentara Iran di wilayah Yazd, Iran bagian tengah, akibat luka-luka yang dideritanya selama salah satu serangan Israel.

    Serangan-serangan Tel Aviv, menurut otoritas peradilan Teheran, telah menewaskan lebih dari 900 orang di seluruh wilayah Iran. Sementara serangan rudal balasan Iran, menurut angka resmi Tel Aviv, menewaskan sedikitnya 28 orang di wilayah Israel.

    Lihat juga Video Kondisi TKP Ledakan Bom Ikan di Bulukumba: Rumah Hancur-1 IRT Tewas

    Simak berita selengkapnya di halaman selanjutnya.

    Pertempuran udara yang sengit antara kedua negara diakhiri dengan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 24 Juni.

    Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (5/7) waktu setempat, muncul untuk pertama kalinya di depan publik sejak perang meletus. Laporan media pemerintah menyebut Khamenei menghadiri sebuah seremoni keagamaan di Teheran.

    Otoritas Iran mengumumkan pembukaan kembali wilayah udaranya pada Kamis (3/7) waktu setempat, termasuk di Teheran, yang ditutup sejak hari pertama perang.

    Lihat juga Video Kondisi TKP Ledakan Bom Ikan di Bulukumba: Rumah Hancur-1 IRT Tewas

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Korban Banjir Texas Terus Bertambah, Pencarian Masih Berjalan

    Korban Banjir Texas Terus Bertambah, Pencarian Masih Berjalan

    Anda sedang membaca rangkuman berita-berita utama yang terjadi dalam 24 jam terakhir dalam Dunia Hari Ini.

    Edisi Senin, 7 Juli 2025, kita awali dengan situasi terakhir banjir bandang di Texas.

    Korban banjir bandang Texas meningkat

    Jumlah korban tewas akibat banjir bandang di Texas bertambah menjadi 78 orang, sementara tim penyelamat di Texas terus berupaya menemukan puluhan orang lain yang masih hilang.

    Mereka yang masih hilang termasuk 11 orang peserta perkemahan musim panas Kristen yang tinggal bersama 750 orang lainnya di Camp Mystic yang ada di bantaran sungai.

    Minggu kemarin, setelah mengunjungi Camp Mystic, Gubernur Texas Greg Abbott mengatakan, “sungguh mengerikan melihat apa yang dialami anak-anak muda itu.”

    Presiden AS Donald Trump mengumumkan banjir bandang sebagai bencana besar dan akan mengerahkan seluruh upaya untuk membantu mengatasi banjir.

    Israel serang target Houthi di Yaman

    Pada hari Senin, militer Israel mengatakan menyerang pelabuhan Hodeidah, Ras Isa dan Salif, dan pembangkit listrik Ras Qantib dengan menargetkan kelompok Houthi, yang memihak Iran.

    Israel juga menyerang kapal Galaxy Leader di pelabuhan Ras Isa, yang direbut oleh kelompok Houthi pada akhir tahun 2023.

    “Pasukan rezim teroris Houthi memasang sistem radar di kapal tersebut, dan menggunakannya untuk melacak kapal di ruang maritim internasional, untuk mendukung aktivitas rezim teroris Houthi,” kata militer Israel.

    Sementara TV Al-Masirah yang dikelola Houthi melaporkan Israel melancarkan serangkaian serangan di Hodeidah, beberapa jam setelah sebuah kapal diserang dan awak kapal meninggalkannya saat kapal tersebut kemasukan air.

    Penampilan pertama Ayatollah Ali Khamenei

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei muncul di hadapan publik untuk pertama kalinya sejak perang 12 hari antara Israel dan Iran dimulai, menurut media pemerintah setempat.

    Ia terlihat melambaikan tangan kepada kerumunan yang bersorak dan berdiri saat masuk dan duduk di sebuah masjid di sebelah kediamannya dalam siaran TV Sabtu lalu, namun tak ada laporan jika ia mengeluarkan pernyataan publik.

    Puluhan orang yang hadir di sana untuk memperingati Asyura, hari paling suci dalam kalender Muslim Syiah, yang memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, Hussein.

    Karena alasan keamanan, Ayatollah menghindari tampil di publik dan mengeluarkan pesan yang direkam sebelumnya selama perang dengan Israel, yang dimulai pada tanggal 13 Juni.

    Dalai Lama merayakan ulang tahun ke-90

    Dalai Lama yang ke-14 merayakan ulang tahunnya dengan pengumuman yang telah lama ditunggu-tunggu, yakni Dalai Lama akan terus berlanjut setelah kematiannya.

    Pernyataan ini sekaligus menepis spekulasi jika ia mungkin menjadi yang terakhir dari garis keturunannya.

    Pekan ini, warga Tibet dan Buddha berkumpul di seluruh dunia untuk menandai tonggak sejarah dan mengungkapkan kekaguman mereka terhadap sosok pembela orang-orang Tibet.

    Dalai Lama diangkat sebagai pemimpin spiritual tertinggi di Tibet pada usia dua tahun dan menghabiskan hampir satu abad mengarungi medan politik yang menegangkan antara Tibet dan China, meski hidup dalam pengasingan selama 66 tahun.

  • Khamenei Muncul Usai Perang, Bawa Pesan Pantang Menyerah

    Khamenei Muncul Usai Perang, Bawa Pesan Pantang Menyerah

    Teheran

    Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, kembali muncul di hadapan publik usai perang Iran dengan Israel. Dia membawa pesan pantang menyerah pada kemunculan perdana Khamenei usai perang.

    Dilansir Reuters, Minggu (6/7/2025), kemunculan Khamenei itu diketahui dari video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran. Dia sempat dilaporkan berada di ‘lokasi yang aman’ saat perang udara selama 12 hari antara Iran dengan Israel terjadi.

    Perang itu menewaskan komandan tinggi Iran dan ilmuwan nuklir Iran. Dalam video yang disiarkan oleh media pemerintah Iran, tampak puluhan orang menghadiri upacara peringatan hari Ashura.

    Mereka tampak berdiri sambil melantunkan doa saat Khamenei memasuki aula tempat banyak acara pemerintahan diadakan. Khamenei pun melambaikan tangan kepada para peserta upacara itu.

    Pada upacara tersebut, Khamenei meminta pembawa pidato penghormatan yang hadir untuk membacakan lagu kebangsaan tentang Iran dan kemakmuran serta perlindungan terhadap berbagai ancaman. Selama perang antara Iran dengan Israel, Khamenei hanya mengeluarkan pesan yang direkam dan menghindari penampilan publik sejak 13 Juni.

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengunggah foto Ayatollah Khamenei yang sedang duduk di pusat keagamaan Imam Khomeini. Pezeshkian menulis ulang beberapa bagian lagu kebangsaan, yang menggemakan kesetiaan abadi kepada Iran.

    Iran sebelumnya mengumumkan gencatan senjata usai perang 12 hari dengan Israel pada Rabu (25/6). Iran juga menyatakan siap berunding lagi di Amerika Serikat (AS) sambil menegaskan mereka berhak menggunakan tenaga atom untuk tujuan damai.

    Khamenei Puji Kemenangan Iran dalam Perang dengan Israel

    Foto: Khamenei saat perdana muncul di Iran (AFP/-)

    Pada 26 Juni lalu, Khamenei memuji apa yang disebutnya sebagai kemenangan Iran atas Israel. Dilansir AFP dan CNN, Dia menyebut Israel nyaris kolaps dan hancur saat menghadapi serangan balasan Iran.

    “Saya ingin mengucapkan selamat kepada bangsa Iran yang hebat atas kemenangannya atas rezim Zionis yang sesat,” kata Khamenei.

    Dalam pernyataan yang dilaporkan kantor berita IRNA dan disiarkan televisi pemerintah Iran, Khamenei mengklaim Iran nyaris menghancurkan Israel. Dia menyebut rezim Zionis Israel hampir runtuh.

    “Terlepas dari semua kegaduhan, dan dengan semua klaim tersebut, rezim Zionis hampir runtuh dan hancur di bawah serangan-serangan Republik Islam (Iran),” sebut Khamenei.

    Perang antara Iran dan Israel meletus pada 13 Juni ketika Tel Aviv melancarkan serangan udara besar-besaran yang menargetkan fasilitas nuklir dan militer Iran. Israel mengklaim serangan itu bertujuan mencegah musuh bebuyutannya mengembangkan senjata nuklir.

    Iran telah berulang kali membantah tuduhan pengembangan senjata nuklir itu. Pertempuran diakhiri dengan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Selasa (24/6), yang menghentikan pertempuran udara yang sengit selama 12 hari.

    Halaman 2 dari 2

    (haf/dhn)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Khamenei Muncul Perdana di Hadapan Publik sejak Perang Iran-Israel

    Khamenei Muncul Perdana di Hadapan Publik sejak Perang Iran-Israel

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei akhirnya muncul di hadapan publik pada Sabtu (5/7/2025) waktu setempat. Kemunculannya ini menjadi penampilan publik perdananya sejak perang 12 hari antara Israel dan Iran dimulai.

    Selama masa peperangan itu, Khamenei mendapatkan pengamanan ketat di dalam bunker karena besarnya ancaman terhadap keselamatannya. Pengamanan terhadap pria berusia 86 tahun itu menjadi penting karena ia merupakan pemimpin tertinggi di Iran yang memegang keputusan akhir atas semua masalah negara.

    Adapun kemunculannya kembali di hadapan publik terjadi saat Khamenei menghadiri upacara berkabung pada malam Asyura.

    Televisi pemerintah Iran menyiarkan gambar-gambar dirinya melambaikan tangan kepada kerumunan yang bersorak di ibu kota Iran, Teheran. Belum ada laporan langsung mengenai pernyataan publik yang dibuatnya saat itu, berdasarkan laporan Euro News.

    Sebagaimana diketahui, selama perang Iran-Israel berlangsung, Presiden AS Donald Trump telah mengirimkan peringatan melalui media sosial kepada Khamenei. Ia juga telah menarik AS ke dalam pusaran konflik setelah membantu Israel mengebom tiga lokasi nuklir milik Iran.

    Trump mengatakan bahwa AS mengetahui keberadaan Khamenei, namun tidak mempunyai rencana untuk membunuhnya “setidaknya untuk saat ini.”

    Terakhir kali Khamenei membuat pernyataan publik pada 26 Juni, sesaat sebelum gencatan senjata dimulai. Ia mengatakan bahwa Teheran telah memberikan “tamparan di wajah Amerika” dengan menyerang pangkalan udara AS di Qatar dan memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut ke AS atau Israel.

    Trump menjawab pernyataan Khamenei melalui akun media sosialnya, dengan mengatakan: “Lihat, Anda seorang pria besar yang beriman. Seorang pria yang sangat dihormati di negaranya. Anda harus mengatakan yang sebenarnya. Anda telah dihajar habis-habisan.”

    Iran mengatakan lebih dari 900 orang tewas selama konflik dengan Israel, dan ribuan lainnya terluka. Iran juga mengonfirmasi kerusakan serius pada fasilitas nuklirnya dan kemudian menolak akses pengawas nuklir PBB ke fasilitas tersebut.

    Masih belum jelas seberapa parah kerusakan yang terjadi di lokasi tersebut dan apakah Teheran memiliki rencana untuk melanjutkan negosiasi dengan AS mengenai program nuklirnya.

    (hsy/hsy)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Iran Siap Serang Israel Lagi, Perang Berlanjut?

    Iran Siap Serang Israel Lagi, Perang Berlanjut?

    Jakarta, CNBC Indonesia – Meski gencatan senjata sementara telah tercapai pascaserangan terhadap fasilitas militer dan nuklirnya, Iran memperingatkan bahwa pihaknya siap merespons setiap serangan baru dari Israel dengan “pembalasan yang menghancurkan dan dahsyat.”

    Peringatan ini datang langsung dari militer Iran yang menandakan meningkatnya risiko konflik militer terbuka di kawasan Timur Tengah.

    “Kekuatan bersenjata kami kini lebih siap dibandingkan sebelumnya. Jika ada agresi ulang dari rezim Zionis, maka mereka akan menghadapi respons yang menghancurkan dan mematikan,” ujar Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran, Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, sebagaimana dikutip dari kantor berita Mehr, Rabu (2/7/2025).

    Pernyataan Shekarchi mempertegas sikap garis keras Iran terhadap Israel, yang disebutnya “tidak pernah bisa dipercaya, baik oleh dunia maupun oleh Iran.” Ia juga menegaskan bahwa Republik Islam Iran “tidak pernah menganggap penghentian konflik sebagai pilihan.”

    Pernyataan ini muncul setelah serangkaian serangan Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran pada pertengahan Juni, yang kemudian diikuti serangan tambahan oleh militer Amerika Serikat.

    Meski konflik berlangsung selama 12 hari dan diakhiri oleh gencatan senjata yang dimediasi AS dan Qatar, belum ada tanda-tanda bahwa perjanjian jangka panjang dapat tercapai.

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa serangan AS telah “menghancurkan total” fasilitas nuklir Iran.

    “Mereka tidak mengira itu benar-benar bisa dilakukan, tapi yang kami lakukan luar biasa… Israel memang memberikan kerusakan, tapi kami yang memberikan pukulan akhir,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.

    Namun, meski AS menyatakan kemenangan, status persediaan uranium Iran yang diperkaya tinggi hingga kini belum jelas. Iran terus bersikeras bahwa program nuklirnya tidak ditujukan untuk kepentingan militer, meski telah mempercepat produksi uranium tingkat tinggi mendekati kualitas senjata.

    Sikap Iran terhadap pengawasan internasional juga mengeras. Alih-alih kembali ke meja perundingan dengan pemerintahan Trump, Teheran justru mengumumkan akan menangguhkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), badan pengawas nuklir di bawah PBB.

    Ali Shamkhani, tokoh senior keamanan nasional Iran, menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir tidak serta merta mengakhiri kekuatan Iran.

    “Bahkan jika kita berasumsi bahwa fasilitas tersebut sepenuhnya hancur, permainannya belum selesai. Bahan yang telah diperkaya, pengetahuan lokal, dan tekad politik tetap ada,” ujarnya kepada kantor berita IRNA.

    “Kini inisiatif politik dan operasional – dengan hak pembelaan sah – berada di tangan pihak yang tahu cara bermain cerdas dan menghindari tembakan serampangan. Akan ada lebih banyak kejutan,” tambahnya.

    Pernyataan-pernyataan tersebut makin menambah ketegangan di kawasan, yang sejak awal tahun telah diwarnai konfrontasi antara Israel, Iran, dan sekutunya. Konflik ini juga menciptakan ketidakpastian diplomatik, karena tidak ada proses negosiasi formal yang berlangsung sejak konflik terakhir.

    Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, juga turut melontarkan kecaman tajam terhadap Presiden Trump, yang ia sebut sebagai “musuh Tuhan.” Kecaman ini memperkuat penilaian bahwa Teheran tidak akan membuka jalur dialog selama Trump masih menjabat.

     

    (luc/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Israel-Iran Gencatan Senjata, Khamenei-Trump Sibuk Buka ‘Perang’ Baru

    Israel-Iran Gencatan Senjata, Khamenei-Trump Sibuk Buka ‘Perang’ Baru

    Jakarta, CNBC Indonesia – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam setelah perang kata-kata pecah antara Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden AS Donald Trump. Perselisihan ini mencuat pascaserangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran selama konflik 12 hari antara Iran dan Israel yang berakhir dalam gencatan senjata rapuh.

    Dalam sebuah unggahan di akun resmi X-nya, Khamenei menuduh Trump “berlebihan dalam membuat klaim untuk menutupi dan menyembunyikan kebenaran,” merespons langsung pernyataan Trump yang menyebut AS telah “menghancurkan” fasilitas nuklir Iran. Khamenei juga membantah klaim Trump yang menyatakan telah “menyelamatkan nyawanya” selama konflik.

    “Siapapun yang mendengar pernyataan itu akan memahami bahwa di balik permukaan kata-kata itu, ada kenyataan lain,” tulis Khamenei dalam bahasa Farsi, sebagaimana dikutip Newsweek, Senin (30/6/2025). “Mereka gagal mencapai apapun.”

    Trump membalas lewat Truth Social dengan nada yang tidak kalah keras. Ia menyatakan bahwa dirinya “tidak menawarkan apapun kepada Iran” dan bahkan “tidak berbicara dengan pejabat Iran.”

    Komentar ini memperlihatkan sikap AS yang semakin keras terhadap Teheran di tengah jeda konflik yang belum stabil.

    Trump juga membual bahwa ia tahu lokasi Khamenei saat itu dan sengaja menghentikan serangan yang bisa saja “mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat buruk dan memalukan.” Ia menyindir, “Dia tidak perlu mengucapkan ‘Terima kasih, Presiden Trump!’”

    Pertukaran sindiran ini terjadi setelah gencatan senjata antara Iran dan Israel yang dimediasi AS, usai konflik militer selama hampir dua pekan. Dalam periode itu, AS meluncurkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran, yang menjadi eskalasi paling serius dalam sejarah terbaru konflik regional.

    Hingga kini, efektivitas serangan tersebut masih diperdebatkan di kedua kubu. Beberapa pejabat AS mengeklaim program nuklir Iran mengalami kerusakan signifikan, sementara lainnya meragukan dampaknya.

    Iran sendiri secara terbuka mengecilkan kerusakan, namun pernyataan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengisyaratkan bahwa serangan AS dan Israel memang menimbulkan kerusakan serius.

    Sebelumnya, dalam pernyataan video pada Kamis lalu, Khamenei menyatakan bahwa Iran telah memberikan “tamparan keras” kepada AS, dan menegaskan bahwa Israel akan “hancur total” jika bukan karena intervensi Amerika.

    Pernyataan itu memicu respons cepat dari Trump yang menegaskan bahwa dialah yang mencegah serangan lebih besar dari Israel ke Iran dan bahkan melindungi Khamenei dari serangan langsung.

     

    (luc/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Iran Enggan Negosiasi dengan AS Jika Ada Tekanan dan Keinginan Mendikte

    Iran Enggan Negosiasi dengan AS Jika Ada Tekanan dan Keinginan Mendikte

    JAKARTA – Perwakilan Tetap Iran untuk PBB Duta Besar Sa’eed Iravani mengatakan, tidak ada negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat jika ada tekanan dari Washington dan keinginan mendikte kebijakannya terhadap Teheran.

    “Negosiasi memiliki prinsipnya sendiri, dan ini adalah proses memberi dan menerima. Jadi, kita harus terlibat dalam negosiasi dan berdiskusi satu sama lain, mungkin kita mencapai kesimpulan atau tidak, tetapi penyerahan tanpa syarat bukanlah negosiasi,” kata Duta Besar Iravani dalam wawancara dengan CBS News, melansir IRNA 30 Juni.

    Dubes Iravani mengatakan, jika Negeri Paman Sam ingin berbicara dengan Negeri Para Mullah, “mereka akan mendapati kita siap untuk itu, tetapi jika mereka ingin mendikte kita, tidak mungkin ada negosiasi dengan mereka.”

    Lebih jauh, Dubes Iravani mengecam ancaman Presiden AS Donald Trump untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai “pelanggaran berat hukum internasional,” dengan berdasarkan hukum internasional, kepala negara memiliki kekebalan dari serangan apa pun.

    Pekan lalu, Presiden Trump rencananya untuk mencabut sanksi terhadap Iran, mengkritik Ayatollah Khamenei dan mempertimbangkan akan mengebom kembali Iran jika melanjutkan pengayaan uraniumnya, dikutip dari Reuters.

    Itu reaksi setelah sebelumnya Khamenei mengatakan Iran “menampar muka Amerika Serikat” seiring serangan terhadap pangkalan utama AS di Qatar, mengatakan Iran tidak akan pernah menyerah.

    Presiden Trump mengatakan Ia telah menyelamatkan nyawa Khamanei. Pejabat AS mengatakan kepada Reuters pada tanggal 15 Juni, Presiden Trump telah memveto rencana Israel untuk membunuh pemimpin tertinggi tersebut.

    “Negaranya hancur, tiga Situs Nuklirnya yang jahat DIHANCURKAN, dan saya tahu PERSIS di mana dia berlindung, dan tidak akan membiarkan Israel, atau Angkatan Bersenjata AS, yang sejauh ini Terhebat dan Terkuat di Dunia, mengakhiri hidupnya,” tulis Presiden Trump dalam unggahan media sosial.

    “SAYA MENYELAMATKANNYA DARI KEMATIAN YANG SANGAT BURUK DAN MEMALUKAN,” katanya.

    Dubes Iravani sendiri menegaskan kembali hak Iran untuk memperkaya uranium berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), dengan mengatakan program pengayaan negaranya tidak akan berhenti setelah tindakan agresi AS terhadap situs nuklir Iran.

    AS diketahui mengebom tiga fasilitas nuklir utama di Iran, yaitu Fordow, Natanz dan Isfahan pada 21 Juni, sehingga terlibat langsung dalam perang agresi Israel yang pecah pada 13 Juni, sebelum kemudian disepakati gencatan senjata pada 24 Juni.

  • Trump Sindir Khamenei yang Klaim Iran Menang dalam Perang

    Trump Sindir Khamenei yang Klaim Iran Menang dalam Perang

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengakui bahwa negaranya kalah dalam perang. Trump pun menyoroti Khamenei yang menjadi panutan di Iran.

    Di sisi lain, Trump juga menyindir kentalnya kebencian antara Iran dan Israel. Menurut Trump, baik Iran maupun Israel telah babak belur akibat konflik.

    Simak berita lainnya terkait Donald Trump di sini.