Tag: Ayatollah Ali Khamenei

  • Peringatan Keras Iran untuk AS

    Peringatan Keras Iran untuk AS

    Jakarta

    Parlemen Iran merespons keras Amerika Serikat (AS) di tengah gejolak kerusuhan yang memakan korban jiwa hingga ratusan orang. Parlemen Iran memberi peringatan ke AS dan Israel jika mereka menyerang duluan.

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump sendiri sebelumnya memperingatkan Iran untuk tidak menembak para demonstran di tengah aksi protes besar-besaran anti pemerintah. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan militer AS dan Israel akan menjadi “sasaran yang sah” jika Amerika menyerang Republik Islam, seperti yang diancam oleh Presiden Donald Trump.

    “Matilah Amerika!” kata Qalibaf di depan para anggota parlemen Iran, dilansir AP News, Minggu (11/1/2026).

    Mereka yang berada di luar negeri khawatir pemadaman informasi akan mendorong kelompok garis keras di dalam Dinas Keamanan Iran untuk melancarkan penindakan ‘berdarah’, meskipun ada peringatan dari Trump bahwa ia bersedia menyerang Republik Islam untuk melindungi para demonstran damai.

    Trump sebelumnya menawarkan dukungan kepada para demonstran.

    “Iran sedang mengincar kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!” kata Trump dikutip oleh The New York Times dan Wall Street Journal.

    Pejabat AS secara anonim, mengatakan Trump telah diberi opsi militer untuk menyerang Iran, tetapi belum membuat keputusan akhir.

    Departemen Luar Negeri secara terpisah memperingatkan: “Jangan bermain-main dengan Presiden Trump. Ketika dia mengatakan akan melakukan sesuatu, dia bersungguh-sungguh.”

    Trump Diberi Opsi Serang Iran

    Presiden AS Donald Trump telah diberi pengarahan terkait opsi baru untuk serangan militer di Iran. Di saat yang sama, ia mempertimbangkan menindaklanjuti ancamannya menyerang Iran karena menindak keras para demonstran.

    Hal itu disampaikan beberapa pejabat AS yang mengetahui masalah tersebut, dilansir New York Times, Minggu (11/1/2026). Trump disebut belum membuat keputusan akhir, tetapi para pejabat mengatakan ia serius mempertimbangkan untuk mengizinkan serangan sebagai tanggapan atas upaya rezim Iran untuk menekan demonstrasi yang dipicu oleh keluhan ekonomi yang meluas.

    Trump disebut telah diberi berbagai opsi, termasuk serangan terhadap situs non-militer di Teheran, kata pejabat AS tersebut secara anonim.

    Saat ditanya tentang perencanaan serangan potensial, Gedung Putih merujuk pada pernyataan Trump di akun media sosialnya. Trump menyebut akan membantu.

    “Iran sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis Trump di media sosial pada hari Sabtu.

    “AS siap membantu!!!”

    Diketahui demonstrasi di Iran mulai terjadi pada akhir Desember sebagai respons terhadap krisis mata uang, tetapi sejak itu demonstrasi tersebut menyebar dan bertambah besar karena banyak warga Iran menyerukan perubahan besar-besaran terhadap pemerintahan otoriter negara itu. Pejabat Iran telah mengancam akan menindak demonstrasi tersebut, dan puluhan demonstran telah tewas, berdasarkan laporan kelompok hak asasi manusia.

    Sementara itu, Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan pemerintah “tidak akan mundur” dalam menghadapi protes skala besar.

    Trump telah berulang kali mengancam akan menggunakan kekuatan mematikan terhadap pemerintah Iran atas upaya mereka untuk menekan demonstrasi. Trump mengatakan bahwa Iran “sedang dalam masalah besar.”

    “Saya telah menyatakan dengan sangat tegas bahwa jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, kami akan ikut campur,” kata Trump kepada wartawan pada hari Jumat, saat bertemu dengan para eksekutif perusahaan minyak.

    “Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka. Dan itu tidak berarti mengerahkan pasukan darat, tetapi itu berarti menyerang mereka dengan sangat, sangat keras di titik lemah mereka. Jadi kami tidak ingin itu terjadi,” imbuhnya.

    Halaman 2 dari 2

    (wnv/wnv)

  • Jejak Panjang Aksi Protes Massal di Iran Sejak 1999

    Jejak Panjang Aksi Protes Massal di Iran Sejak 1999

    Jakarta

    Iran kembali menyaksikan gelombang baru aksi protes massal di berbagai wilayah dalam beberapa pekan terakhir. Meski demonstrasi dipicu oleh meningkatnya kemarahan publik atas melambungnya harga kebutuhan pokok, aksi-aksi tersebut juga mencerminkan kekecewaan yang kian mendalam di kalangan kelompok masyarakat yang semakin luas terhadap sistem politik Republik Islam Iran.

    Para aktivis menyebut lebih dari 2.000 orang telah ditangkap sejak rangkaian protes berlangsung. Setidaknya 34 demonstran dilaporkan tewas, menurut jaringan hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat (AS), HRANA.

    Banyak pihak khawatir rezim teokratis Iran akan mengerahkan kepolisian dan Basij, kelompok paramiliter relawan yang berada di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), untuk menindak para pengunjuk rasa secara paksa.

    IRGC, salah satu organisasi paling kuat di Iran, merupakan cabang angkatan bersenjata Iran yang bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Didirikan setelah Revolusi 1979, tugas utamanya adalah mempertahankan rezim Islam.

    IRGC dan kepolisian Iran memiliki pengalaman panjang dalam menumpas demonstrasi besar-besaran anti-pemerintah secara brutal, termasuk dalam satu dekade terakhir.

    Protes mahasiswa Juli 1999

    Pada musim panas 1999, pemerintah Iran menutup surat kabar berhaluan reformis, Salam. Langkah tersebut memicu aksi protes damai mahasiswa di ibu kota Teheran. Namun, pada malam 8 Juli, aparat keamanan menyerbu asrama mahasiswa dan menewaskan setidaknya satu orang mahasiswa.

    Operasi ini memicu gelombang protes nasional yang berlangsung selama beberapa hari.

    Gerakan Hijau 2009

    Sepuluh tahun kemudian, pada 2009, Iran kembali dilanda protes massal.

    Kerusuhan dipicu oleh pemilihan presiden yang kontroversial. Para pengkritik rezim menolak kemenangan presiden saat itu, Mahmoud Ahmadinejad, dan menuding adanya kecurangan pemilu secara luas.

    Jutaan warga Iran turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Media sosial memainkan peran besar dalam memobilisasi massa sehingga gerakan ini kerap dijuluki sebagai “revolusi Twitter.”

    Namun, rezim menolak pemilu ulang, memperketat sensor, dan menindak para demonstran.

    Puluhan orang tewas dan ribuan lainnya ditangkap. Gerakan yang berlangsung selama berbulan-bulan itu akhirnya berakhir tanpa hasil.

    Protes “November Berdarah” 2019

    Sepuluh tahun berikutnya, pada November 2019, protes mendadak pecah di berbagai wilayah Iran menyusul kenaikan harga bahan bakar secara tiba-tiba. Aksi yang dengan cepat menyebar ke lebih dari 20 kota ini awalnya berlangsung damai, dengan tuntutan ekonomi sebagai fokus utama.

    Namun, suara-suara anti-rezim semakin menguat, disertai seruan terbuka untuk menggulingkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

    Pemerintah merespons dengan memutus akses internet dan melakukan penindakan keras. Peristiwa ini kemudian dikenal dalam sejarah terbaru Iran sebagai “November Berdarah.”

    Gerakan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” 2022

    Pada September 2022, Jina Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun, meninggal dunia saat berada dalam tahanan polisi setelah ditangkap oleh “polisi moral” karena diduga tidak mengenakan hijab dengan benar. Di Iran, perempuan diwajibkan memakai penutup kepala di ruang publik.

    Kematian Amini memicu protes massal dengan slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan.” Para demonstran, yang sebagian besar anak muda, menuntut hak yang lebih luas bagi perempuan.

    Pemerintah merespons dengan gelombang represi baru, termasuk penggunaan peluru tajam oleh aparat keamanan terhadap demonstran. Ribuan orang ditangkap dan banyak di antaranya tewas.

    Puluhan demonstran muda dijatuhi hukuman mati melalui proses pengadilan singkat. Meski demikian, aksi protes terus berlangsung selama berbulan-bulan dan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Republik Islam Iran dalam beberapa dekade terakhir.

    Ketidakpuasan terhadap rezim Iran menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh gelombang protes ini.

    Alih-alih menyelesaikan persoalan politik, ekonomi, dan sosial yang mendasar, pemerintah kerap mengandalkan aparat keamanan untuk membungkam perbedaan pendapat.

    Meski rezim sejauh ini masih mampu mempertahankan kekuasaan, gelombang protes terbaru menunjukkan bahwa persoalan-persoalan mendalam tersebut dapat muncul kembali kapan saja dan memicu perlawanan baru di Iran.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

    Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara

    Editor: Hani Anggraini

    (ita/ita)

  • Penangkapan Maduro, Alarm dari Caracas Menggema ke Teheran

    Penangkapan Maduro, Alarm dari Caracas Menggema ke Teheran

    Jakarta

    Sirene bahaya berdering di Teheran setelah Amerika Serikat secara mengejutkan melancarkan operasi militer di Venezuela. Nicols Maduro — penguasa yang tetap bercokol lewat pemilu sarat manipulasi pada 2024 — ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan ke AS. Senin (5/1) kemarin, pengadilan atas tuduhan narkoterorisme resmi dimulai di New York.

    Bagi Iran, penangkapan paksa Maduro bukan sekadar kabar dari Amerika Latin. Maduro adalah sekutu dekat, sekaligus seteru bagi Barat yang tidak mengakui legitimasinya sebagai presiden. Kini, sekutu itu jatuh — dengan cara yang jarang disaksikan dalam sejarah.

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump, lewat operasi ini, memperagakan tekad betapa Washington siap menggulingkan rezim yang dimusuhinya, meski harus menginjak Piagam PBB dan hukum internasional. Sebuah peringatan keras bagi negara-negara otoriter lain — termasuk Iran.

    Dari sudut pandang Teheran, Trump telah melampaui batas. “Presiden sebuah negara dan istrinya diculik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Senin, 5 Januari 2026. “Ini tindakan ilegal. Tak ada yang bisa dibanggakan.”

    Disatukan oleh musuh yang sama

    Iran dan Venezuela terpaut terlalu jauh bila dibaca dengan kacamata geopolitik konvensional. Venezuela berada di Karibia, dengan mayoritas Katolik. Sementara Iran di Teluk Persia, berlandaskan Islam Syiah. Perdagangan antara kedua negara juga minim. Bahkan penerbangan langsung pun tak ada.

    Yang menyatukan keduanya adalah sikap permusuhan terhadap Amerika Serikat.

    Analis menilai, embargo Barat dan seni bertahan hidup dalam tatanan dunia yang didominasi Washington mempererat kedua negara. Dalam tiga dekade terakhir, simpati politik dan retorika anti-Amerika menjelma menjadi jejaring kerja sama minyak, keuangan, industri, hingga keamanan.

    Ketakutan di tengah tekanan

    Kejatuhan Maduro datang di saat paling sensitif bagi Iran. Protes besar meletus dalam dua pekan terakhir akibat lonjakan harga dan kepanikan terhadap hiperinflasi yang bisa meluapkan tabungan warga. Tuntutan ekonomi akhirnya menjelma politik. Tekanan pada elite Teheran mengeras, seiring bertambahnya korban yang berjatuhan di jalanan.

    Usai Venezuela, Trump tak bermanis kata. Dari Air Force One, dia memperingatkan Iran agar tak tidak melakukan tidak kekerasan terhadap demonstran. “Kami mengawasi dengan sangat ketat,” katanya. Apa langkah berikutnya, tetap samar.

    Padahal, presedennya sudah ada. Pada bulan Juni 2025, di tengah perang Israel–Iran, jet tempur AS ikut membombardir fasilitas nuklir Iran. Serangan AS-Israel bukan cuma diniatkan merusak infrastruktur nuklir, tapi juga menjadi pesan politik.

    Omid Nouripour, Wakil Ketua Bundestag kelahiran Teheran, menyebut reaksi di Iran terbelah. “Banyak yang menginginkan pergantian rezim,” katanya. “Tapi intervensi di Venezuela menunjukkan Trump tak punya rencana untuk hari setelahnya. Itu berbahaya.”

    Pesan yang tak terbantahkan

    Menurut Damon Golriz, analis geopolitik di Den Haag, pesan Washington telah diterima jelas di Teheran, bahwa elite Iran juga bisa menjadi target militer. Dia melihat perubahan pada sikap Trump—yang pada pertengahan 2025 masih mencegah Israel melaksanakan rencana membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

    Retorika balasan pun mengeras. Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, memperingatkan AS kini harus fokus “menjaga tentaranya”. Hingga 45 ribu serdadu Amerika tersebar di Timur Tengah. Juni lalu, Iran membalas serangan nuklir dengan menghantam pangkalan AS di Qatar—tanpa korban, setelah peringatan terlebih dahulu.

    Efek psikologis

    Penangkapan Maduro, kata Golriz, ikut mengguncang kalkulasi internal Iran — termasuk soal suksesi Khamenei. Berbeda dengan Venezuela, Iran tak punya oposisi kuat dalam struktur kekuasaan yang sangat terpusat.

    Bagi Reza Talebi, jurnalis Iran di pengasingan Turki, dampak terbesar justru psikologis. “Jika AS bisa menggulingkan rezim di belahan barat, mengapa tidak di tempat lain?” katanya.

    Ancaman eksternal ini, ironisnya, bisa menjadi alasan sempurna bagi pemerintah Iran untuk menekan protes lebih keras. Harapan pada “penyelamat dari luar” justru berisiko melemahkan gerakan sipil dari dalam. “Mengira tekanan Trump bertujuan membela rakyat Iran adalah hal naif,” ujar Talebi.

    Caracas telah jatuh. Di Teheran, jam berdetak lebih kencang.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
    Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
    Editor: Yuniman Farid

    Lihat juga Video Trump: Banyak Warga Kuba Tewas Saat Lindungi Nicolas Maduro

    (ita/ita)

  • Presiden Iran Minta Pemerintah Dengarkan Tuntutan Demonstran

    Presiden Iran Minta Pemerintah Dengarkan Tuntutan Demonstran

    Teheran

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan pemerintah untuk mendengarkan “tuntutan sah” para demonstran, ketika unjuk rasa yang digelar oleh para pemilik toko untuk memprotes kesulitan ekonomi berlangsung selama beberapa hari terakhir di ibu kota Teheran.

    Para pemilik toko di ibu kota Iran, seperti dilansir AFP, Selasa (30/12/2025), menutup toko-toko mereka untuk hari kedua berturut-turut pada Senin (29/12) waktu setempat, setelah mata uang negara tersebut, Rial Iran, yang sedang terpuruk mencapai titik terendah baru di pasar tidak resmi.

    Mata uang dolar Amerika diperdagangkan sekitar 1,42 juta Rial Iran pada Minggu (28/12) waktu setempat, dibandingkan dengan 820.000 Rial Iran setahun lalu.

    Foto-foto dari kantor berita Fars menunjukkan gas air mata digunakan oleh aparat penegak hukum Iran untuk membubarkan para demonstran. Laporan Fars menyebut “bentrokan kecil” sempat terjadi antara demonstran dan pasukan keamanan.

    Para personel kepolisian antihuru-hara berjaga di sekitar alun-alun utama di Teheran pada Selasa (30/12), dengan sebagian toko dan kafe telah buka kembali.

    Dalam situasi tersebut, Pezeshkian yang memiliki otoritas lebih kecil di bawah sistem pemerintahan Iran dibandingkan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, merilis pernyataan via media sosial.

    “Saya telah meminta Menteri Dalam Negeri untuk mendengarkan tuntutan sah para demonstran dengan melakukan dialog dengan perwakilan mereka, sehingga pemerintah dapat melakukan segala daya upaya untuk menyelesaikan masalah dan bertindak secara bertanggung jawab,” ujar Pezeshkian.

    Para pemilik toko dan pedagang berunjuk rasa memprotes kesulitan ekonomi di Teheran, ibu kota Iran Foto: AFP

    Selain Pezehskian, ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga menyerukan dilakukannya “langkah-langkah yang diperlukan yang berfokus pada peningkatan daya beli masyarakat”.

    “Kekhawatiran dan protes masyarakat mengenai masalah mata pencaharian harus ditanggapi dengan penuh tanggung jawab dan dialog,” cetusnya, seperti dilaporkan televisi pemerintah Iran .

    Para demonstran, menurut laporan kantor berita pro-buruh ILNA, menuntut “intervensi pemerintah segera untuk mengendalikan fluktuasi nilai tukar dan menetapkan strategi ekonomi yang jelas”.

    Fluktuasi harga melumpuhkan penjualan beberapa barang impor, dengan para penjual dan pembeli lebih memilih untuk menunda transaksi hingga prospek menjadi lebih jelas.

    “Terus melanjutkan bisnis dalam kondisi ini telah menjadi tidak mungkin,” kata salah satu demonstran, seperti dikutip ILNA.

    Penuturan seorang pedagang lokal, yang tidak ingin disebut namanya, menyebut para pejabat Iran tidak memberikan dukungan kepada para pemilik toko yang berjuang melawan kenaikan biaya impor yang melonjak.

    “Kami terpaksa melakukan aksi protes. Dengan nilai tukar dolar seperti ini, kami bahkan tidak bisa menjual casing ponsel, dan para pejabat sama sekali tidak peduli bahwa kehidupan kami bergantung pada penjualan ponsel dan aksesorisnya,” ucap salah satu pedagang lokal, seperti dikutip surat kabar Etemad.

    Kepala otoritas kehakiman Iran Gholamhossein Mohseni Ejei telah menyerukan “hukuman cepat bagi mereka yang bertanggung jawab atas fluktuasi mata uang”. Pemerintah Iran juga mengumumkan penggantian Gubernur Bank Sentral, dengan Abdolnasser Hemmati, seorang mantan Menteri Ekonomi dan Menteri Keuangan, diangkat menempati jabatan tersebut.

    Perekonomian Iran, yang sudah terpuruk akibat sanksi Barat selama beberapa dekade, semakin tertekan setelah PBB memberlakukan kembali sanksi internasional terkait program nuklir negara itu pada akhir September. Negara Barat dan Israel menuduh Teheran berupaya memperoleh senjata nuklir. Tuduhan itu dibantah Iran.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/dhn)

  • Pernyataan Mengejutkan Presiden Iran

    Pernyataan Mengejutkan Presiden Iran

    Jakarta

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian membuat pernyataan mengejutkan soal kondisi negaranya yang disebut dalam kondisi perang. Tak tanggung-tanggung, Masoud menyatakan negaranya sedang berada dalam perang total melawan Amerika Serikat (AS), Israel dan Eropa.

    Dilansir AP News, Minggu (8/12/2025), pernyataan itu disampaikan Pezeshkian menjelang pertemuan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan bakal digelar pada Senin (29/12). Pezeshkian menuduh negara-negara tersebut terus berupaya membuat Iran tidak stabil.

    Dalam situs Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Masoud menyebut perang saat ini lebih buruk dibandingkan perang Iran dengan Irak pada 1980-an.

    “Kami berada dalam perang skala penuh dengan Amerika Serikat, Israel, dan Eropa, mereka tidak menginginkan negara kami tetap stabil,” kata Pezeshkian.

    Masoud menilai perang yang dilancarkan Barat melawan Iran ‘lebih rumit dan sulit’. Dia membandingkannya dengan perang Iran-Irak pada 1980-an yang menewaskan lebih dari 1 juta orang di kedua pihak.

    Pernyataan tersebut disampaikan dua hari sebelum rencana pertemuan antara Trump dan Netanyahu dalam kunjungan Netanyahu ke AS. Iran diperkirakan akan menjadi salah satu topik utama dalam pembicaraan tersebut.

    Serangan Israel dan negeri Paman Sam terhadap Iran yang terjadi selama perang udara selama 12 hari pada Juni lalu menewaskan hampir 1.100 warga Iran, termasuk para komandan militer senior dan ilmuwan nuklir. Sebagai balasan, rentetan serangan rudal Iran menewaskan 28 orang di Israel.

    Apakah Iran Akan Dibahas Trump dan Netanyahu?

    Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu dengan Donald Trump di Florida pada Senin (29/12). Kunjungan itu salah satunya membahas langkah selanjutnya dari rencana gencatan senjata Gaza yang rapuh.

    Dilansir AFP, Minggu (28/12), pertemuan ini akan menjadi kunjungan kelima Netanyahu dengan sekutu utamanya, Trump, di Amerika Serikat tahun ini. Perjalanannya dilakukan ketika pemerintahan Trump dan mediator regional mendorong untuk melanjutkan ke tahap kedua gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza.

    Seorang pejabat Israel mengatakan Netanyahu akan berangkat ke AS pada 28 Desember dan bertemu dengan Trump sehari kemudian di Florida, tanpa memberikan lokasi spesifik.

    Pada pertengahan Desember, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Netanyahu kemungkinan akan mengunjunginya di Florida selama liburan Natal. “Dia ingin bertemu saya. Kami belum mengaturnya secara resmi, tetapi dia ingin bertemu saya,” kata Trump sebelum berangkat ke resor Mar-a-Lago, miliknya.

    Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan pada Rabu (24/12), bahwa berbagai isu regional diperkirakan akan dibahas, termasuk Iran, pembicaraan tentang perjanjian keamanan Israel-Suriah, gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon, dan tahap selanjutnya dari kesepakatan Gaza.

    Halaman 2 dari 2

    (rfs/fas)

  • Kami dalam Perang Total Lawan AS, Israel dan Eropa

    Kami dalam Perang Total Lawan AS, Israel dan Eropa

    Jakarta

    Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya sedang berada dalam perang total atau skala penuh melawan Amerika Serikat (AS), Israel dan Eropa. Pezeshkian menuduh negara-negara tersebut terus berupaya membuat Iran tidak stabil.

    Dikutip dari AP News, Minggu (8/12/2025), pernyataan itu disampaikan Pezeshkian menjelang pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump yang dijadwalkan bakal digelar pada Senin. Dalam situs Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Pezeshkian menyebut perang saat ini lebih buruk dibandingkan perang Iran dengan Irak pada 1980-an.

    “Kami berada dalam perang skala penuh dengan Amerika Serikat, Israel, dan Eropa, mereka tidak menginginkan negara kami tetap stabil,” kata Pezeshkian.

    Pezeshkian menyebut perang yang dilancarkan Barat melawan Iran ‘lebih rumit dan sulit’. Dia membandingkannya dengan perang Iran-Irak pada 1980-an yang menewaskan lebih dari 1 juta orang di kedua pihak.

    Pernyataan tersebut disampaikan dua hari sebelum rencana pertemuan antara Trump dan Netanyahu dalam kunjungan Netanyahu ke Amerika Serikat. Iran diperkirakan akan menjadi salah satu topik utama dalam pembicaraan tersebut.

    Serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran yang terjadi selama perang udara selama 12 hari pada Juni lalu menewaskan hampir 1.100 warga Iran, termasuk para komandan militer senior dan ilmuwan nuklir. Sebagai balasan, rentetan serangan rudal Iran menewaskan 28 orang di Israel.

    (knv/gbr)

  • Penasihat Khamenei Bikin Marah Lebanon Gegara Komentar Begini

    Penasihat Khamenei Bikin Marah Lebanon Gegara Komentar Begini

    Beirut

    Seorang pejabat Iran memancing kemarahan Lebanon dengan komentarnya yang menyebut keberadaan Hizbullah, yang didukung Teheran, jauh lebih penting daripada roti dan air bagi Lebanon. Otoritas Beirut mengecam komentar itu dan memperingatkan Iran untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri mereka.

    Komentar yang memicu reaksi keras Lebanon itu, seperti dilansir Al Arabiya, Kamis (27/11/2025), dilontarkan oleh Ali Akbar Velayati yang merupakan penasihat senior untuk pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

    Dalam wawancara dengan kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, Velayati mengatakan bahwa mengingat keinginan Israel “untuk membunuh dan menjarah wilayah-wilayah lainnya saat ini, keberadaan Hizbullah lebih penting daripada roti dan air bagi Lebanon”.

    Velayati, dalam wawancara yang diterbitkan pada Rabu (26/11), mengatakan bahwa “pelanggaran berulang-ulang terhadap gencatan senjata dan serangan-serangan terhadap Lebanon” oleh Israel telah menunjukkan “apa konsekuensi perlucutan senjata Hizbullah” bagi Lebanon.

    Iran menentang keras rencana pemerintah Lebanon untuk melucuti persenjataan Hizbullah. Otoritas Beirut mengecam Teheran melakukan “campur tangan secara terangan-terangan dan tidak dapat diterima”.

    Pada Agustus lalu, Velayati menyebut usulan perlucutan senjata Hizbullah sebagai bentuk penyerahan diri kepada “kehendak Amerika Serikat dan Israel”.

    Reaksi keras diberikan oleh Lebanon terhadap komentar terbaru Velayati tersebut. Menteri Luar Negeri (Menlu) Lebanon, Youssef Raggi, memperingatkan Teheran untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Beirut.

    “Saya sungguh ingin mempercayai pernyataan Anda bahwa Iran tidak mencampuri urusan dalam negeri Lebanon, sampai penasihat pemimpin tertinggi Anda muncul untuk memberitahu kami tentang apa yang penting di Lebanon dan memperingatkan kami tentang konsekuensi perlucutan senjata Hizbullah,” kata Raggi dalam pernyataan yang ditujukan untuk Menlu Iran Abbas Araghchi.

    “Izinkan saya mengklarifikasi hal berikut: yang lebih penting bagi kami daripada air dan roti adalah kedaulatan kami, kebebasan kami, dan independensi pengambilan keputusan internal kami, bebas dari slogan-slogan ideologis dan agenda regional transnasional yang telah menghancurkan negara kami dan terus menyeret kami ke dalam kehancuran,” tegasnya.

    Dalam pernyataan terpisah, politisi Kristen terkemuka di Lebanon, Samir Geagea, mengatakan Iran tidak berhak mencampuri urusan Lebanon.

    “Tuan Khamenei dan penasihatnya yang terhormat, jika Anda berdua peduli dengan urusan rakyat Iran dan penderitaan mereka, itu akan lebih baik bagi kita semuanya,” ucapnya.

    “Lebanon adalah negara merdeka dengan konstitusinya sendiri, diperintah oleh otoritas Lebanon yang dipilih secara demokratis dan populer, dan Anda tidak berjak mencampuri urusannya,” tegas Geagea dalam pernyataan via media sosial X.

    Kelompok Hizbullah telah melemah secara signifikan akibat konfrontasi terbarunya dengan Israel dan jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah, sekutu utama Iran dan Hizbullah. Dengan pengaruhnya yang semakin terkikis, pemerintah baru Lebanon bergerak untuk semakin membatasi kelompok tersebut.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Pria di Iran Ditemukan Tewas Usai Unggah Bakar Foto Khamenei, Ada Luka Tembak

    Pria di Iran Ditemukan Tewas Usai Unggah Bakar Foto Khamenei, Ada Luka Tembak

    Jakarta

    Seorang pria Iran bernama Omid Sarlak ditemukan tewas setelah mengunggah gambar tengah membakar foto pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ada luka tembak ditemukan di tubuh pria tersebut.

    Dilansir kantor berita AFP, Selasa (4/11/2025), menurut media oposisi yang berbasis di luar Iran, Omid Sarlak, dari provinsi Lorestan di Iran barat, telah mengunggah di Instagram sebuah gambar dirinya sedang membakar gambar Ayatollah Ali Khamenei di kawasan hutan pada hari Jumat pekan kemarin, beberapa jam sebelum ditemukan tewas pada akhir pekan.

    Kantor berita resmi Iran, IRNA, memuat laporan yang mengutip Ali Asadollahi, kepala polisi di kotanya, Aligudarz, yang mengatakan seorang pria itu ditemukan tewas di dalam mobilnya setelah bunuh diri dengan pistol yang ditemukan di sisinya.

    Namun pada pemakaman Sarlak pada hari Senin (3/11), puluhan pelayat meneriakkan slogan-slogan termasuk “mereka membunuhnya!” dan “matilah Khamenei”, menurut rekaman media sosial yang disiarkan oleh media oposisi yang berbasis di luar Iran, termasuk Iran International dan Radio Farda.

    Dalam videonya, Sarlak, yang berusia 20-an, menyertakan rekaman suara Shah Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan, yang menunjukkan simpatinya terhadap monarki Iran yang digulingkan oleh revolusi Islam tahun 1979.

    Putra Shah yang digulingkan yang tinggal di AS, Reza Pahlavi, menulis di X bahwa Sarlak telah “menentang penindasan Republik Islam dan mengorbankan nyawanya demi kebebasan Iran”.

    Ayah Sarlak terlihat dalam sebuah video yang diunggah di media sosial oleh media oposisi Iran tengah menangis dan berkata “mereka membunuh anakku”. Saat diwawancara kepada televisi pemerintah setempat, dia mendesak orang-orang untuk tidak mempercayai apa yang mereka lihat di media sosial.

    Para aktivis mengatakan pihak berwenang sedang menekan dengan tindakan keras yang lebih intensif tiga tahun setelah protes nasional mengguncang pihak berwenang dan beberapa bulan setelah perang 12 hari antara Israel dan Iran pada bulan Juni.

    “Agresi eksternal telah memicu penindasan internal yang lebih dalam,” ujar pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Iran, Mai Sato, pekan lalu, seraya mencatat lonjakan “yang mengkhawatirkan” dalam eksekusi dan “penangkapan massal” para aktivis.

    (whn/ygs)

  • Kerja Sama dengan AS Mustahil Selama Masih Dukung Israel

    Kerja Sama dengan AS Mustahil Selama Masih Dukung Israel

    Teheran

    Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan Teheran hanya akan mempertimbangkan kerja sama dengan Amerika Serikat, jika negara itu mengubah kebijakannya di kawasan Timur Tengah, termasuk soal dukungan terhadap Israel.

    “Jika mereka (AS-red) sepenuhnya meninggalkan dukungan untuk rezim Zionis, menarik pangkalan militer mereka dari sini (Timur Tengah-red), dan menahan diri untuk tidak ikut campur di kawasan ini, maka (kerja sama) itu dapat dipertimbangkan,” kata Khamenei dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir AFP, Selasa (4/11/2025).

    Pernyataan terbaru Khamenei itu disampaikan dalam pertemuan dengan para mahasiswa di Teheran pada Senin (3/11) waktu setempat, saat peringatan pengambilalihan Kedutaan Besar AS pada tahun 1979 silam setelah Revolusi Islam menggulingkan Shah yang didukung Barat.

    “Sifat arogan Amerika Serikat tidak menerima apa pun selain kepatuhan,” cetusnya.

    “Jika negara menjadi kuat dan musuh menyadari bahwa menghadapi negara kuat ini tidak akan menghasilkan keuntungan tetapi akan membawa kerugian, negara itu pasti akan mendapatkan kekebalan,” imbuh Khamenei dalam pernyataannya.

    Pertengahan Juni lalu, Israel melancarkan gelombang pengeboman yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Iran, memicu perang selama 12 hari yang menargetkan fasilitas nuklir dan militer Teheran, serta area permukiman, yang memakan banyak korban jiwa.

    Iran membalas dengan melancarkan rentetan serangan rudal balistik dan drone yang ditargetkan ke kota-kota Israel.

    Perang 12 hari itu menggagalkan perundingan nuklir yang saat itu sedang berlangsung antara Teheran dan Washington, sejak April lalu. Pertempuran kedua negara diakhiri dengan gencatan senjata, yang dimediasi AS, yang berlaku sejak 24 Juni lalu.

    Pada Minggu (2/11), Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, mengatakan dalam wawancara dengan Al Jazeera bahwa Iran “siap untuk berunding” dengan AS, tetapi hanya mengenai program nuklirnya, dan mengesampingkan pembicaraan apa pun mengenai kemampuan rudalnya.

    Araghchi menambahkan bahwa perundingan dapat dilanjutkan “kapan pun Amerika siap untuk bernegosiasi dengan pijakan yang setara dan berdasarkan kepentingan bersama”.

    “Tampaknya mereka (AS-red) tidak terburu-buru. Kami juga tidak terburu-buru,” ucapnya.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Iran Bantah Kembangkan Bom Atom, Barat Layangkan Ultimatum Terakhir

    Iran Bantah Kembangkan Bom Atom, Barat Layangkan Ultimatum Terakhir

    Jakarta

    Ketegangan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat menunjukkan tanda-tanda mereda, hanya beberapa jam menjelang tenggat sanksi internasional yang berlaku secara otomatis.

    Di Sidang Majelis Umum PBB, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali, negaranya tidak pernah dan tidak akan berambisi mengembangkan bom nuklir. Seakan gayung bersambut, utusan Amerika Serikat mengaku siap melanjutkan perundingan, meski peluang kesepakatan tetap tipis.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, pada Rabu (24/9), mencoba menyisipkan harapan. Tapi keduanya mensyaratkan langkah konkret dari Iran, termasuk membuka kembali akses penuh bagi inspektur nuklir PBB dan kembali ke meja perundingan.

    “Kami sedang berbicara dengan mereka. Dan kenapa tidak? Kami bicara dengan semua pihak, memang itulah tugas kami. Tugas kami adalah menyelesaikan masalah,” ujar Witkoff dalam forum Concordia di sela Sidang Umum PBB di New York. “Jika tidak berhasil, maka snapback akan diberlakukan. Itu adalah obat yang tepat.”

    Celah diplomasi dibayangi sanksi

    Sebelum serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklirnya pada Juni lalu, Teheran dan Washington sempat menggelar lima putaran perundingan nuklir. Namun, pembicaraan tersandung sejumlah isu sensitif, seperti tuntutan Barat agar Iran tidak lagi memperkaya uranium di dalam negeri.

    Kini, di tengah tekanan sanksi yang makin dekat, beberapa diplomat Eropa menyatakan bahwa Inggris, Prancis, dan Jerman, yang disebut kelompok E3, bersedia menunda pemulihan sanksi hingga enam bulan ke depan. Syaratnya, Iran bersedia mengakomodasi tuntutan utama, yakni mengizinkan pengawasan penuh oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), melaporkan cadangan uranium yang sudah diperkaya, serta kembali berdialog dengan Amerika Serikat.

    “Kesepakatan masih mungkin. Hanya tersisa beberapa jam. Kini tergantung pada Iran untuk memenuhi syarat sah yang telah kami tetapkan,” tulis Macron di platform X usai bertemu Pezeshkian.

    Retorika moral Pezeshkian

    Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Presiden Pezeshkian tidak hanya menegaskan komitmen anti-bom nuklir, tetapi juga mengecam Israel dan Amerika Serikat atas serangan udara pada Juni lalu yang, menurut Teheran, menewaskan lebih dari 1.000 warga sipil.

    “Deklarasi saya kepada majelis ini jelas: Iran tidak pernah dan tidak akan pernah membangun bom nuklir,” tegas Pezeshkian. “Yang mengganggu perdamaian dan stabilitas di kawasan adalah Israel, namun Iran yang dihukum.”

    Dia menyebut serangan udara oleh “rezim Zionis” dan Amerika Serikat terhadap kota-kota dan fasilitas nuklir Iran sebagai “pengkhianatan besar terhadap diplomasi,” yang terjadi di saat Iran tengah menapaki jalur negosiasi.

    Iran tetap berpegang pada argumen bahwa program nuklirnya sepenuhnya untuk tujuan damai. Mereka menunjuk pada fatwa Ayatollah Ali Khamenei yang secara eksplisit melarang senjata nuklir. Meski demikian, Barat—termasuk Israel dan AS—tetap mencurigai niat Teheran, terutama mengingat kapasitas teknologi nuklir Iran yang dianggap bisa dengan cepat dialihkan untuk membuat senjata.

    Titik nadir diplomasi

    Ketegangan teranyar berpangkal pada keputusan Presiden Trump pada 2018 yang menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015, atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), serta memberlakukan kembali sanksi sepihak terhadap Iran. Teheran membalas dengan meningkatkan aktivitas nuklirnya.

    Pezeshkian turut menyalahkan Eropa karena tidak berdaya melawan tekanan AS, dan bahkan menyebut UE sebagai pihak yang turut meruntuhkan JCPOA.

    “Mereka menyamar sebagai pihak yang beritikad baik dalam perjanjian, tapi mencemooh upaya tulus Iran sebagai tidak memadai,” ujar Pezeshkian. “Semua ini bertujuan untuk menghancurkan JCPOA yang dulunya mereka anggap sebagai pencapaian tertinggi diplomasi.”

    Dalam pidatonya, Pezeshkian ikut memamerkan foto-foto warga yang tewas dalam serangan Israel Juni lalu. “Ini bukan hanya serangan fisik. Ini adalah pembunuhan terhadap diplomasi itu sendiri,” katanya.

    Hari penentuan

    Tenggat 30 hari yang diluncurkan oleh E3 sejak 28 Agustus akan berakhir pada Sabtu, 27 September. Jika tidak ada kesepakatan, maka mekanisme snapback akan mulai berlaku: sanksi ekonomi dan militer PBB terhadap Iran akan dipulihkan.

    Sanksi mencakup embargo senjata, larangan pengolahan dan pengayaan uranium, pembekuan aset global, serta larangan perjalanan bagi entitas dan individu asal Iran.

    Dikhawatirkan, sanksi akan membuat kondisi ekonomi Iran yang sudah terpuruk semakin terjepit. Namun sumber Reuters di Iran mengatakan, beberapa pesan telah dikirimkan ke Washington lewat jalur mediasi selama beberapa minggu terakhir. Hingga kini, belum ada balasan.

    Ayatollah Khamenei pada Selasa (23/9) menegaskan, Iran tidak akan melakukan negosiasi di bawah ancaman. Posisi itu mengindikasikan jurang kepercayaan yang masih lebar, meskipun retorika AS kini sedikit melunak.

    “Kami tidak berniat menyakiti mereka,” ujar Witkoff. “Namun jika tak ada jalan keluar, maka snapback adalah konsekuensi yang tak terelakkan.”

    Editor: Agus Setiawan

    Lihat juga Video: Bom Atom Penghancur Dunia

    (ita/ita)