Tag: Aryo Meidianto

  • Margin Penjualan Berpotensi Mengecil Tertekan Krisis Cip, HP Murah Ditinggalkan?

    Margin Penjualan Berpotensi Mengecil Tertekan Krisis Cip, HP Murah Ditinggalkan?

    Bisnis.com, JAKARTA— Segmen smartphone entry-level diperkirakan menghadapi tekanan paling berat sepanjang 2026, seiring lonjakan harga chip memori global yang didorong tingginya permintaan dari industri server kecerdasan buatan (AI).

    Kenaikan biaya komponen utama ini berpotensi menggerus margin vendor, memicu kenaikan harga jual, hingga mendorong penurunan spesifikasi perangkat di kelas harga rendah.

    Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji, menilai tekanan terbesar saat ini berada pada segmen smartphone kelas bawah.

    “Pasar entry-level menurut saya saat ini berada di bawah tekanan paling berat,” kata Aryo kepada Bisnis pada Kamis (15/1/2026).

    Menurut Aryo, vendor di segmen entry-level beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis, sehingga hampir tidak memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya. 

    Selain itu, kenaikan harga jual dalam skenario terburuk bisa mencapai 6–8% secara global. Menurutnya, hal tersebut berisiko mengikis daya tarik utama produk entry-level, yaitu harga yang terjangkau.

    “Imbasnya, penjualan segmen ini diperkirakan turun,” imbuhnya.

    Untuk bertahan, Aryo mengatakan strategi paling ekstrem yang dapat dilakukan vendor adalah mengombinasikan kenaikan harga dengan pemangkasan spesifikasi. Langkah ini bisa dilakukan dengan menurunkan kualitas modul kamera, menghilangkan solusi periskop, menurunkan kualitas panel layar, hingga mengurangi konfigurasi memori. 

    Misalnya, RAM 12GB di kelas menengah berpotensi dipangkas menjadi 6–8GB. 

    Selain itu, Aryo mengatakan vendor juga dimungkinkan menggunakan kembali komponen generasi sebelumnya, seperti prosesor lama. 

    Dia menyebut pemangkasan jumlah model untuk efisiensi produksi dan persediaan juga sangat dimungkinkan, atau bahkan mulai mengarahkan konsumen ke model dengan margin lebih tinggi.

    Aryo menilai vendor tidak sepenuhnya akan beralih ke produk mahal, tetapi terjadi pergeseran prioritas untuk mempertahankan profitabilitas. 

    Misalnya, tetap menjaga eksistensi di segmen murah dengan berbagai strategi reduksi biaya. Bukan hanya fokus ke perangkat mahal, tetapi vendor akan bergerak ke arah produk ‘yang lebih menguntungkan’.

    “Mereka akan mendorong konsumen dalam portofolio mereka sendiri untuk naik ke varian ‘Pro’ atau kelas menengah atas yang memiliki margin lebih baik,” katanya.

    Di sisi lain, Aryo menyebut perangkat yang tergolong mahal sudah memiliki pasar tersendiri. Strategi di segmen ini adalah melindungi dominasi dan margin dengan menjaga kualitas serta pengalaman pengguna, meski disertai penyesuaian kecil pada spesifikasi. Meski demikian, Aryo menekankan bahwa segmen entry-level masih menjadi tulang punggung volume penjualan, terutama di pasar Indonesia.

    “Pertimbangan vendor sangat kompleks untuk hal ini, mereka akan berupaya mempertahankan pangsa pasar dan volume penjualan, meski dengan margin yang semakin tipis atau bahkan rugi,” ungkapnya.

    Dilema di Indonesia, lanjut Aryo, konsumen entry-level kini mengharapkan performa chipset yang lebih lancar, kamera lebih baik, dan dukungan software lebih panjang dengan harga Rp1,5–2,5 juta. Dia menyebut vendor harus memenuhi ekspektasi ini di tengah biaya produksi yang melonjak.

    “Loyalitas merek pun saya rasa sudah menurun. Konsumen akan lebih mudah berpindah merek untuk mendapatkan nilai terbaik [best value],” ungkapnya.

    Dalam jangka panjang, Aryo mengatakan situasi ini akan mendorong perubahan struktur pasar yang lebih dalam. Smartphone konvensional entry-level kemungkinan akan menawarkan spesifikasi yang stagnan atau bahkan menurun dibanding generasi sebelumnya.

    “Tren memperpanjang siklus ganti smartphone pun akan menguat karena konsumen merasa nilai beli [value for money] menurun,” katanya.

  • Harga Smartphone Diramal Makin Mahal Imbas Pasokan Cip Seret

    Harga Smartphone Diramal Makin Mahal Imbas Pasokan Cip Seret

    Bisnis.com, JAKARTA — Kekurangan pasokan cip dan memori, terutama dynamic random-access memory (DRAM) di pasar global, diprediksi berdampak terhadap penjualan smartphone pada 2026. Paling nyata adalah adanya kenaikan harga terhadap sejumlah ponsel pintar.

    Analis Pasar Gawai dari Reasense Aryo Meidianto Aji menilai dampak kenaikan harga komponen tidak akan merata di seluruh segmen, dengan tekanan paling besar dirasakan pada ponsel entry level dan menengah.

    Menurutnya, lonjakan harga chipset dan memori sulit sepenuhnya diserap produsen di segmen bawah karena margin keuntungan yang tipis. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual sekitar 5%–15%. 

    “Di segmen premium, dampaknya relatif lebih kecil karena margin yang tinggi. Namun, mereka mungkin menggunakan momentum ini untuk menaikkan harga dengan alasan peningkatan teknologi, bukan hanya kenaikan komponen,” tuturnya kepada Bisnis, baru-baru ini.

    Kendati demikian, terdapat faktor penyeimbang dari sisi manufaktur. Kematangan teknologi chipset 4 nanometer (nm) dan 3 nm berpeluang menurunkan biaya per unit. Namun, harga diperkirakan tetap berada di level tinggi apabila permintaan global terhadap cip masih kuat.

    Di tengah tekanan harga, Aryo melihat ruang ekspansi di pasar negara berkembang seperti Indonesia masih terbuka. Tingkat penetrasi smartphone dinilai belum jenuh, terutama di wilayah tier dua dan tiga serta kelompok usia yang lebih tua. 

    Akan tetapi, pola pertumbuhan akan bergeser dari pembeli pertama (first time buyer) ke konsumen yang melakukan peningkatan perangkat (upgrader). Banyak konsumen ingin naik kelas dari entry level ke mid range untuk mendapatkan pengalaman yang lebih baik. 

    Pangsa pasar feature phone juga masih ada dan konversi pengguna ini ke smartphone entry level akan menjadi faktor pendorong peningkatan volume penjualan.

    “Kuncinya adalah value for money. Ponsel dengan spesifikasi memadai di harga terjangkau akan tetap laku, sekalipun harganya naik sedikit dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Aryo.

    Tekanan daya beli diperkirakan berjalan beriringan dengan pergeseran segmen. Sebagian konsumen akan menunda pembelian atau melakukan riset lebih mendalam sebelum membeli. Di sisi lain, segmen menengah diproyeksikan menjadi ‘sweet spot’, karena menawarkan fitur mendekati flagship dengan harga jauh lebih terjangkau.

    Selain itu, pasar ponsel refurbished dan pre-owned diperkirakan tumbuh seiring semakin terstrukturnya ekosistem, termasuk kehadiran garansi resmi. Segmen ini menarik bagi konsumen yang ingin perangkat kelas atas dengan harga lebih rendah sekaligus mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan. 

    Pada segmen entry level, konsumen cenderung lebih realistis dengan fokus pada kualitas kamera utama, daya tahan baterai, dan performa harian.

    Untuk 2026, Aryo memproyeksikan pertumbuhan paling kuat justru terjadi di dua segmen yang tampak berlawanan. Segmen premium dengan harga di atas US$600 atau Rp10 jutaan tetap didorong oleh konsumen loyal yang memandang smartphone sebagai simbol gaya hidup dan investasi teknologi. 

    Inovasi seperti layar lipat dan kecerdasan buatan (AI) di perangkat menjadi pembenaran harga tinggi. Di sisi lain, segmen entry level high di kisaran US$150 atau Rp2 jutaan diperkirakan menjadi arena persaingan paling ketat karena menawarkan keseimbangan fitur dan harga.

    Sementara itu, Aryo mengatakan, kenaikan harga juga diperkirakan memperpanjang siklus penggantian perangkat. Dari rata-rata 18–24 bulan, periode tersebut bisa meluas menjadi 24–36 bulan. Dampaknya, volume penjualan unit berpotensi stagnan atau sedikit menurun, meski nilai pasar masih bisa tumbuh seiring kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP).

    Dalam situasi ini, inovasi dinilai menjadi pembenaran utama bagi konsumen. Aryo menyebut, fitur AI on device, efisiensi energi, serta konektivitas 5G diperkirakan menjadi daya tarik utama. AI generatif untuk fotografi dan produktivitas, janji baterai tahan seharian untuk pengguna berat, serta manfaat 5G yang bergeser ke latensi rendah dan stabilitas koneksi menjadi nilai tambah yang signifikan.

    “Kunci bagi semua pemain adalah memahami dengan sangat dalam segmen konsumen yang mereka targetkan dan memberikan nilai yang tidak sekadar pada spesifikasi di atas kertas saja,” tegasnya.

    Lebih lanjut, Aryo berpandangan bahwa kenaikan harga komponen juga membuka peluang sekaligus tantangan bagi merek baru dan pemain lokal. Daya tawar yang lebih lemah dalam pengadaan komponen menjadi hambatan, namun masih terdapat celah melalui strategi hiper-lokalisasi, penggarapan ceruk spesifik, serta kolaborasi dengan operator seluler.

    Di tengah harga yang meningkat, skema pembiayaan, bundling, dan program tukar tambah diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan pasar. Skema cicilan, bundel paket data jangka panjang, serta trade-in dinilai mampu menurunkan beban harga di muka sekaligus menjaga loyalitas konsumen.

    Adapun, analisis Counterpoint sebelumnya mencatat kemungkinan naiknya rata-rata harga jual smartphone (ASP) sekitar 6,9% secara tahunan akibat kelangkaan komponen. Direktur riset di Counterpoint MS Hwang mengatakan, untuk ponsel pintar entry level yang harganya di bawah US$200 (Rp3 jutaan), biaya produksi (bill of materials) telah meningkat 20% hingga 30% sejak awal tahun. Biaya produksi adalah biaya untuk memproduksi satu unit ponsel pintar.

    Sementara itu, segmen smartphone kelas menengah dan atas mengalami kenaikan biaya material sebesar 10% hingga 15%. “Harga memori bisa naik lagi sebesar 40% hingga kuartal kedua tahun 2026, yang mengakibatkan biaya BoM (bill of materials) meningkat antara 8% hingga lebih dari 15% di atas level tinggi saat ini,” ujarnya, dikutip Bisnis.

    Peningkatan biaya komponen ini diperkirakan tidak hanya memicu harga jual yang lebih tinggi, tetapi juga menekan permintaan global. Counterpoint memperkirakan pengiriman smartphone secara global bisa turun sekitar 2,1% pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya akibat tekanan harga tersebut. 

  • Persaingan Smartphone Premium, Comeback Merek Lama & Dominasi AI

    Persaingan Smartphone Premium, Comeback Merek Lama & Dominasi AI

    Bisnis.com, JAKARTA — Sepanjang 2025, pasar smartphone Indonesia diramaikan oleh gelombang perangkat premium dari berbagai produsen global. Persaingan kian ketat seiring vendor tidak lagi hanya mengandalkan spesifikasi teknis, melainkan juga diferensiasi pengalaman pengguna, desain, serta penguatan ekosistem perangkat.

    Di sisi lain, kecerdasan buatan (AI) muncul sebagai benang merah yang menyatukan strategi para vendor sepanjang tahun. Ketika adopsi jaringan 5G masih belum merata dan belum sepenuhnya menjadi kebutuhan utama konsumen, AI justru tampil sebagai fitur yang paling agresif dikembangkan dan dipromosikan untuk memberikan nilai tambah yang lebih nyata.

    Dalam kaleidoskop gadget 2025, terdapat empat catatan utama yang mewarnai perjalanan pasar smartphone nasional yang dirangkum Bisnis.

    Deretan Flagship Premium Meramaikan Pasar

    Tahun 2025 menjadi panggung utama bagi vendor global untuk memamerkan teknologi terbaiknya di segmen flagship. Samsung membuka awal tahun dengan merilis Galaxy S25 Series pada Januari 2025. 

    Seri ini hadir dengan Snapdragon 8 Elite for Galaxy yang dikustomisasi, memungkinkan pemrosesan AI lebih banyak dilakukan langsung di perangkat. Samsung menekankan penguatan Galaxy AI, performa gaming berbasis ray tracing, serta peningkatan signifikan di sektor kamera, termasuk sensor ultrawide 50 MP. Di Indonesia, Galaxy S25 Series dipasarkan mulai di kisaran Rp15 juta.

    Xiaomi menyusul pada Maret 2025 dengan menghadirkan Xiaomi 15 Series. Produsen asal China tersebut membawa pendekatan desain yang lebih solid dengan bingkai aluminium melengkung mikro dan layar berbezel sangat tipis. 

    Kolaborasi dengan Leica tetap menjadi fondasi utama, dengan sistem kamera tiga lensa 50 MP yang dirancang untuk fleksibilitas fotografi dan videografi profesional. Xiaomi juga menekankan optimalisasi performa melalui Snapdragon 8 Elite, baterai berkapasitas besar dengan pengisian cepat, serta fitur AI fotografi yang dirancang untuk menangkap momen cahaya alami secara lebih presisi. Xiaomi 15 dipasarkan mulai kisaran Rp11,9 juta, sedangkan Xiaomi 15 Ultra yang mengusung sensor kamera 1 inci dan kemampuan zoom ekstrem menembus harga hampir Rp20 juta.

    Realme turut meramaikan segmen flagship dengan meluncurkan realme GT 7 Series sebagai “flagship killer” pada pertengahan 2025. Mengandalkan chipset MediaTek kelas atas, sistem pendingin berbasis graphene, baterai jumbo 7.000 mAh, serta pengisian super cepat, realme menargetkan pengguna yang menginginkan performa tinggi tanpa harga flagship konvensional. Kehadiran realme GT 7 Dream Edition hasil kolaborasi dengan Aston Martin Formula One™ Team juga menjadi penegasan strategi realme dalam membangun citra premium melalui edisi terbatas.

    Apple memperkenalkan iPhone 17 Series secara global pada September 2025 dan membuka pre-order di Indonesia pada Oktober. Empat model iPhone 17, 17 Air, 17 Pro, dan 17 Pro Max mengusung chip A19 dan A19 Pro, peningkatan kamera berbasis komputasi AI, serta optimalisasi pemrosesan langsung di perangkat. Seri Pro tetap menjadi andalan Apple di segmen premium dengan dukungan perekaman video resolusi tinggi dan konektivitas USB-C berkecepatan lebih tinggi.

    Huawei juga memperkuat eksistensinya lewat peluncuran Pura 80 Series pada September 2025. Fokus utama diarahkan pada inovasi kamera, termasuk sensor 1 inci, teknologi Ultra Chroma, serta sistem lensa telefoto ganda yang dapat berpindah focal length. Huawei memosisikan Pura 80 Pro dan Ultra sebagai perangkat imaging-centric yang menyasar pengguna profesional dan kreator.

    Merek Lama Kembali Bangkit

    Selain deretan flagship baru, 2025 juga ditandai dengan kembalinya sejumlah merek yang sempat absen dari pasar Indonesia. Motorola resmi kembali setelah hengkang sejak 2017, membawa lini Moto G dan Moto Edge dengan strategi Android murni dan harga kompetitif di segmen menengah.

    Nubia, sub-merek ZTE, kembali menguatkan eksistensi di ceruk gaming smartphone dengan desain agresif dan sistem pendingin canggih. Sementara itu, Honor menandai comeback besar pada awal 2025 dengan membawa beragam perangkat, mulai dari ponsel lipat Honor Magic V3, seri Honor X dan Honor 200, hingga tablet, laptop, dan wearable.

    Pada paruh kedua tahun, Honor kembali memperluas portofolionya melalui peluncuran lini tablet Honor Pad yang menyasar segmen entry-level hingga premium. Strategi ini memperlihatkan upaya Honor membangun ekosistem perangkat yang lebih luas, dengan AI sebagai benang merah di seluruh lini produknya.

    Adopsi Smartphone 5G Masih Lambat 

    Di tengah agresivitas peluncuran perangkat, adopsi smartphone 5G di Indonesia masih menunjukkan stagnasi. Data Counterpoint Research mencatat, pada kuartal III/2025, perangkat 5G hanya menyumbang sekitar 35% dari total pengapalan tidak berubah dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tahunan pun terbatas, hanya naik tipis sekitar 4%.

    Meski pasar smartphone nasional secara keseluruhan tumbuh dua digit, pertumbuhan justru ditopang oleh segmen entry-level. Pengapalan ponsel di bawah US$150 melonjak signifikan dan mendominasi lebih dari separuh pasar. Sebaliknya, segmen menengah hingga premium mengalami koreksi.

    Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji, menilai stagnasi 5G bukan disebabkan oleh keterbatasan perangkat, melainkan kualitas dan pemerataan jaringan. Menurutnya, cakupan 5G yang belum konsisten membuat fitur tersebut belum memberikan nilai tambah nyata bagi konsumen. Dalam keseharian, aplikasi populer masih berjalan lancar di jaringan 4G, sehingga konsumen lebih memprioritaskan harga, daya tahan baterai, dan durabilitas perangkat.

    Pandangan tersebut sejalan dengan temuan GfK yang menunjukkan konsumen semakin rasional dan berorientasi pada manfaat nyata dibanding spesifikasi futuristik.

    Fitur AI Jadi Senjata Utama

    Jika 5G belum menjadi magnet utama, kecerdasan buatan justru menjelma sebagai senjata paling agresif sepanjang 2025. Hampir seluruh vendor menjadikan AI sebagai diferensiasi utama, bukan sekadar pelengkap.

    Samsung memperluas Galaxy AI untuk fotografi, penerjemahan real-time, hingga produktivitas. Apple meningkatkan pemrosesan AI on-device untuk personalisasi sistem dan pengolahan gambar. Xiaomi, Honor, dan Huawei memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan kamera, efisiensi baterai, hingga performa keseluruhan perangkat. 

  • Honor Incar Segmen Entry hingga Premium di Indonesia Tahun Depan

    Honor Incar Segmen Entry hingga Premium di Indonesia Tahun Depan

    Bisnis.com, JAKARTA — Honor, produsen smartphone, menegaskan komitmennya untuk memperluas pilihan produk di pasar Indonesia, mulai dari segmen entry-level hingga mid dan premium. 

    Langkah ini diambil meskipun kategori harga terjangkau diproyeksikan tetap menjadi penopang utama penjualan smartphone pada 2026. 

    President of HONOR South Pacific Justin Li menyampaikan segmen entry-level masih memiliki peran strategis, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Menurutnya, kategori tersebut akan terus menjadi salah satu motor pertumbuhan industri smartphone.

    “Terkait segmen entry-level, HONOR melihat kategori ini masih akan menjadi salah satu pendorong penting, terutama di pasar berkembang,” kata Justin kepada Bisnis pada Minggu (14/12/2025). 

    Namun demikian, Honor menegaskan tidak akan membatasi strategi bisnisnya pada satu rentang harga tertentu. Perusahaan memilih memperluas portofolio agar dapat menjangkau lebih banyak konsumen dengan kebutuhan yang beragam. 

    “Kami akan memperluas pilihan produk di Indonesia, dari entry hingga mid dan premium, agar lebih banyak konsumen dapat menikmati teknologi dan ekosistem AI HONOR,” katanya.

    Setelah sempat hengkang pada 2019, Honor resmi kembali meramaikan pasar Indonesia pada awal 2025 dengan membawa berbagai perangkat terbaru. 

    Sejumlah produk yang diperkenalkan antara lain smartphone lipat Honor Magic V3, Honor X9c 5G, Honor 200 Pro, tablet Honor Pad 9 dan Honor Pad X8a, laptop Honor MagicBook Art 14, serta perangkat wearable seperti Honor Watch 5 dan Honor Earbuds X7 Lite.

    Ekspansi tersebut berlanjut pada 18 September 2025, ketika Honor kembali memperluas portofolionya melalui peluncuran tiga tablet anyar, yakni Honor Pad 10, Honor Pad X9a, dan Honor Pad X7. 

    Ketiga perangkat tersebut dirancang untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas, mulai dari entry-level hingga premium. 

    Honor Pad 10 diposisikan di kelas premium, Honor Pad X9a di segmen menengah, sementara Honor Pad X7 menyasar pengguna entry-level. Seluruh tablet tersebut telah dibekali fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menunjang produktivitas dan hiburan.

    Di sisi lain, pasar smartphone Indonesia mencatat dinamika signifikan sepanjang kuartal III/2025. Segmen harga terjangkau tetap menjadi motor utama pertumbuhan industri. 

    Berdasarkan laporan Counterpoint, pengapalan perangkat dengan harga di bawah US$150 atau sekitar Rp2,49 juta melonjak 42% secara tahunan dan menguasai 55% pangsa pasar.

    Sebaliknya, segmen menengah dan premium justru mengalami tekanan. Pengiriman perangkat di rentang harga US$150–349 turun 10%, segmen US$350–699 merosot 11%, sementara kategori premium di atas US$700 anjlok 14%. Meski demikian, secara keseluruhan pasar smartphone nasional tetap menunjukkan pemulihan kuat dengan pertumbuhan pengiriman 12% secara tahunan pada kuartal III/2025, ditopang stabilitas ekonomi, peningkatan ekspor, dan menguatnya permintaan domestik.

    Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji, menilai segmen entry-level masih akan menjadi pendorong utama pasar menuju 2026. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi struktur demografi Indonesia serta distribusi kemampuan ekonomi masyarakat.

    “Kurang lebih 60% populasi masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 5 juta/bulan, gelombang kedua digitalisasi masuk ke kota di tier 2–3 dengan adanya aplikasi yang dikembangkan pemerintah daerah. Tapi untuk ‘entry-level’ ini terjadi perubahan karakter di konsumen,” kata Aryo.

    Aryo menjelaskan definisi entry-level kini bergeser ke rentang harga Rp1,5 juta–Rp2,5 juta, tidak lagi di bawah Rp1 juta seperti sebelumnya. 

    Perubahan tersebut menuntut vendor untuk menyesuaikan spesifikasi produk, mulai dari performa chipset, kualitas kamera, hingga dukungan pembaruan software yang lebih panjang. Ia juga menilai loyalitas merek akan semakin menurun seiring konsumen yang semakin rasional dan mudah berpindah merek demi mendapatkan nilai terbaik.

    “Mereka akan lebih rasional, mudah berpindah merk demi value yang lebih baik,” ujarnya.

    Untuk menghadapi persaingan ke depan, Aryo menekankan pentingnya kehadiran di kanal penjualan offline, terutama di luar Jawa, serta penyediaan pembaruan software berkala dan ekosistem trade-in yang lebih solid. Menurutnya, persaingan ke depan tidak semata ditentukan oleh harga termurah, melainkan kemampuan vendor memberikan pengalaman yang menyeluruh.

    “Vendor yang survive bukan yang jual termurah, tapi yang berhasil memberikan pengalaman lengkap dengan harga kompetitif. Entry-level tetap penting, tetapi dengan ekspektasi yang jauh lebih tinggi dari konsumen,” katanya.

  • Proyeksi Tren Smartphone 2026 Didominasi AI, Siapkan Robot Phone

    Proyeksi Tren Smartphone 2026 Didominasi AI, Siapkan Robot Phone

    Bisnis.com, JAKARTA— Honor Indonesia mengungkap proyeksi tren smartphone pada tahun depan.

    President of Honor South Pacific Justin Li mengatakan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) diperkirakan akan memainkan peran yang makin mendominasi dalam perkembangan smartphone pada 2026. 

    Sejalan dengan tren tersebut, Justin menyebut bahwa fokus perusahaan adalah mempertahankan dan meningkatkan kapabilitas AI Imaging dan AI Productivity, sekaligus memperluas integrasi ekosistem agar perangkat Honor dapat digunakan secara lebih mulus di lintas perangkat.

    “Inovasi yang dihadirkan akan tetap berangkat dari insight pengguna dan kebutuhan real life mereka,” kata Justin kepada Bisnis, Minggu (14/12/2025).

    Justin menambahkan, salah satu perangkat AI revolusioner yang akan diungkap lebih detail dalam ajang Mobile World Congress (MWC) 2026 adalah Robot Phone. Menurut dia, perangkat ini akan mengintegrasikan kecerdasan multi-modal berbasis AI, fungsi robotik, serta kemampuan handheld imaging yang canggih.

    Tren kecerdasan buatan yang diproyeksikan untuk tahun depan tersebut dinilai sebagai kelanjutan dari arah perkembangan sepanjang tahun ini. Menurut Justin, tren smartphone pada tahun ini telah bergerak kuat menuju pengalaman berbasis AI.

    Konsumen, kata dia, kini tidak hanya mempertimbangkan spesifikasi perangkat, tetapi juga kecerdasan yang mampu membantu aktivitas harian, mulai dari fotografi yang lebih intuitif hingga peningkatan produktivitas.

    “Karena itu, Honor terus memperkuat inovasi AI yang benar-benar dipakai dan dirasakan manfaatnya oleh pengguna,” tuturnya.

    Sementara itu, Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji, menilai tren smartphone pada tahun depan tidak lagi bertumpu pada kekuatan hardware semata, melainkan pada kapabilitas software dan AI yang makin matang.

    “Dari yang saya amati, 2026 akan menjadi tahun di mana perangkat smartphone akan hadir karena faktor pembeda dari perangkat lunak,” kata Aryo kepada Bisnis, Sabtu (6/12/2025).

    Menurut Aryo, personalisasi AI akan menjadi sorotan utama. Teknologi tersebut akan mampu mempelajari kebiasaan pengguna dan secara otomatis menyesuaikan dengan performa perangkat.

    Namun, dia menilai perkembangan ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, produsen akan berlomba mengembangkan AI mereka masing-masing, tetapi di sisi lain biaya pengembangan teknologi tersebut jga tidak murah.

    Aryo juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa harga perangkat berpotensi meningkat di masa depan, terutama dengan kemungkinan kelangkaan memori yang dibutuhkan untuk menjalankan fitur AI.

    Selain itu, tren AI dinilai akan mendorong terbentuknya standar baru kapasitas baterai smartphone.

    “Berkaitan dengan AI, ke depan memang tren standar smartphone akan membawa baterai besar yang dioptimasi oleh AI, tidak heran jika ke depan baterai 6000 mAh, 7000 mAh bahkan lebih akan hadir di setiap lini produk,” tuturnya.

    Integrasi ekosistem juga diperkirakan menjadi strategi kunci bagi berbagai vendor. Aryo menyebut produsen akan semakin mendorong konektivitas antarpiranti, mulai dari smartwatch hingga perangkat smart home.

    Di sisi lain, industri juga akan menghadapi tekanan untuk memproduksi perangkat yang lebih ramah lingkungan, termasuk melalui pemanfaatan material daur ulang. Aryo menambahkan, smartphone ke depan juga berpotensi dilengkapi sensor kesehatan yang lebih canggih dan terintegrasi dengan layanan kesehatan digital.

    Dinamika Pasar Smartphone Sepanjang 2025

    Aryo turut menyoroti dinamika pasar smartphone sepanjang 2025 sebagai pijakan menuju tren 2026. Menurut dia, pada tahun ini harga smartphone semakin terjangkau dengan spesifikasi yang lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

    Fitur AI yang sebelumnya hanya hadir di ponsel flagship kini mulai merambah segmen menengah.

    “Kelas mid-range kini sudah mulai integrasi AI untuk kamera, battery management, dan produktivitas,” kata Aryo.

    Selain itu, kesadaran konsumen terhadap kapasitas baterai dinilai meningkat signifikan. Baterai berkapasitas 5000 mAh kini dipandang sebagai standar baru, bahkan di kelas entry-level, sementara kapasitas 7000 mAh mulai menjadi pencapaian di perangkat mid-level hingga flagship.

    Dari sisi jaringan, adopsi 5G di Indonesia dinilai masih terbatas pada kawasan tertentu. “Di Indonesia, 5G masih lebih banyak sebagai ‘marketing feature’ daripada kebutuhan praktis, kecuali di kota besar tertentu dan di wilayah perkotaan tertentu [mal, pusat pemerintahan],” tuturnya.

    Sementara itu, tekanan ekonomi turut mendorong pertumbuhan pasar ponsel bekas. “Kondisi ekonomi membuat pasar secondhand tumbuh dan bahkan bisa menggerus penjualan unit baru entry-level,” katanya.

  • Definisi HP Entry Level Bergeser, Pengamat: Harga Rp1,5 Juta

    Definisi HP Entry Level Bergeser, Pengamat: Harga Rp1,5 Juta

    Bisnis.com, JAKARTA — Smartphone entry level tidak lagi murah. Untuk mendapat spesifikasi dasar ponsel pintar, pengguna harus merogoh kocek Rp1,5 juta ke atas. 

    Sekadar informasi, smartphone entry level adalah kategori ponsel pintar dengan spesifikasi dasar dan harga terjangkau, biasanya ditujukan untuk pengguna pemula atau mereka yang memiliki anggaran terbatas. 

    Kategori ini menawarkan fitur standar seperti prosesor sederhana, RAM kecil (mulai 2GB), dan kamera dasar, yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari seperti chatting, browsing, dan media sosial . 

    Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji, melihat segmen entry-level masih akan menjadi pendorong utama pasar menuju 2026. Hal ini dipengaruhi struktur demografi Indonesia serta distribusi kemampuan ekonomi masyarakat.

    “Kurang lebih 60% populasi masyarakat berpenghasilan di bawah Rp 5 juta/bulan, gelombang kedua digitalisasi masuk ke kota di tier 2–3 dengan adanya aplikasi yang dikembangkan pemerintah daerah. Tapi untuk ‘entry-level’ ini terjadi perubahan karakter di konsumen,” kata Aryo kepada Bisnis pada Sabtu (6/12/2025). 

    Aryo menjelaskan definisi perangkat entry-level saat ini telah bergeser. Menurut dia, kategori tersebut kini berada di rentang Rp1,5 juta–Rp2,5 juta, bukan lagi di bawah Rp1 juta seperti sebelumnya. 

    Dengan perubahan itu, vendor perlu menyesuaikan produk agar memenuhi ekspektasi konsumen, mulai dari performa chipset yang lebih lancar, kualitas kamera lebih baik, hingga dukungan pembaruan software yang lebih panjang. 

    Aryo menilai loyalitas merek juga akan semakin menurun karena konsumen menjadi lebih rasional dan mudah berpindah merek demi mendapatkan value yang lebih baik.

    “Mereka akan lebih rasional, mudah berpindah merk demi value yang lebih baik,” katanya. 

    Untuk menghadapi persaingan di tahun depan, Aryo menekankan beberapa strategi kunci yang harus diperhatikan produsen. Dia merekomendasikan agar para vendor tidak mengabaikan kanal penjualan offline yang masih mendominasi, terutama di luar Jawa. 

    Dia menekankan pentingnya menyediakan pembaruan software secara berkala karena konsumen kini semakin peduli pada aspek keamanan. Selain itu, menurut dia, produsen juga perlu membangun ekosistem trade-in yang lebih solid dengan proses yang sederhana dan menawarkan nilai tukar yang wajar.

    Dia menegaskan persaingan pada akan sangat ditentukan kemampuan vendor memberikan nilai terbaik bagi konsumen.

    “Vendor yang survive bukan yang jual termurah, tapi yang berhasil memberikan pengalaman lengkap dengan harga kompetitif. Entry-level tetap penting, tetapi dengan ekspektasi yang jauh lebih tinggi dari konsumen,” katanya. 

    Diketahui, pasar smartphone Indonesia mencatat dinamika signifikan sepanjang kuartal III/2025, dengan segmen harga terjangkau tetap menjadi motor utama pertumbuhan industri. 

    Berdasarkan laporan Counterpoint, pengapalan perangkat dengan harga di bawah US$150 atau sekitar di bawah Rp2,49 juta melonjak 42% secara tahunan dan kini menguasai 55% pangsa pasar.

    Sementara itu, segmen menengah dan premium justru mengalami tekanan. Pengiriman perangkat di rentang harga US$150–349 atau sekitar Rp2,49 juta–Rp5,79 juta turun 10%, segmen US$350–699 atau sekitar Rp5,81 juta–Rp11,60 juta merosot 11%, dan kategori premium di atas US$700 atau mulai dari sekitar Rp11,62 juta anjlok 14%.

    Namun secara keseluruhan, pasar smartphone nasional menunjukkan pemulihan kuat. Pengiriman smartphone tumbuh 12% secara tahunan pada kuartal III/2025, didorong oleh stabilitas ekonomi, peningkatan ekspor, serta menguatnya permintaan domestik.

    Dari sisi merek, Samsung masih memimpin pasar dengan pangsa 20%, diikuti Xiaomi 17%, OPPO 16%, vivo 14%, serta Infinix 12%. Infinix menjadi pemain dengan pertumbuhan tertinggi, mencatat lonjakan 45% secara tahunan.

  • Begini Ramalan Soal Tren Smartphone pada 2026

    Begini Ramalan Soal Tren Smartphone pada 2026

    Bisnis.com, JAKARTA— Seiring meningkatnya persaingan dan meluasnya adopsi kecerdasan buatan (AI) dalam industri ponsel, tahun 2026 diperkirakan akan menjadi momentum pergeseran besar dalam diferensiasi produk smartphone.

    Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji menilai perangkat pada tahun depan tidak lagi bertumpu pada kekuatan hardware semata, melainkan pada kapabilitas software dan AI yang semakin matang.

    “Dari yang saya amati, 2026 akan menjadi tahun dimana perangkat smartphone akan hadir karena faktor pembeda dari perangkat lunak,” kata Aryo kepada Bisnis pada Sabtu (6/12/2025).

    Menurut dia, personalisasi AI akan menjadi sorotan utama. Teknologi tersebut akan mampu mempelajari kebiasaan pengguna dan menyesuaikan performa perangkat secara otomatis.

    Dia menilai kondisi ini memiliki dua sisi: para produsen akan berlomba mengembangkan AI mereka, tetapi biaya pengembangannya tidak murah. Aryo juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa harga perangkat bisa meningkat di masa depan, terutama dengan potensi kelangkaan memori yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi AI.

    Selain itu, tren tersebut dinilai akan mendorong standar baru untuk kapasitas baterai smartphone.

    “Berkaitan dengan AI, ke depan memang tren standar smartphone akan membawa baterai besar yang dioptimasi oleh AI, tidak heran jika ke depan baterai 6000 mAh, 7000 mAh bahkan lebih akan hadir di setiap lini produk,” tuturnya.

    Integrasi ekosistem juga diperkirakan menjadi strategi kunci berbagai vendor. Aryo menyebut produsen akan semakin mendorong konektivitas antarperangkat, mulai dari smartwatch hingga perangkat smart home. 

    Industri pun akan menghadapi tekanan untuk memproduksi perangkat yang lebih ramah lingkungan dan memanfaatkan material daur ulang. Aryo menambahkan smartphone ke depan juga kemungkinan akan dilengkapi sensor kesehatan yang lebih canggih dan terintegrasi dengan layanan kesehatan digital.

    Aryo turut menyoroti dinamika pasar smartphone sepanjang 2025 sebagai pijakan menuju tren 2026. Menurut dia, tahun ini harga smartphone semakin terjangkau dengan spesifikasi lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

    Fitur AI yang sebelumnya hanya hadir di ponsel flagship kini mulai merambah kelas menengah.

    “Kelas mid-range kini sudah mulai integrasi AI untuk kamera, battery management, dan produktivitas,” kata Aryo.

    Dia juga menilai kesadaran konsumen terhadap kapasitas baterai meningkat signifikan.

    Konsumen kini memandang baterai 5000 mAh sebagai standar baru, bahkan di kelas entry-level, sementara kapasitas 7000 mAh telah menjadi pencapaian untuk perangkat mid-level hingga flagship.

    Dari sisi jaringan, adopsi 5G di Indonesia dinilai masih terbatas pada kawasan tertentu.

    “Di Indonesia, 5G masih lebih banyak sebagai ‘marketing feature’ daripada kebutuhan praktis, kecuali di kota besar tertentu dan di wilayah perkotaan tertentu [mall, pusat pemerintahan],” kata Aryo.

    Sementara itu, tekanan ekonomi turut mendorong pertumbuhan pasar ponsel bekas.

    “Kondisi ekonomi membuat pasar secondhand tumbuh dan bahkan bisa menggerus penjualan unit baru entry-level,” katanya.

  • Jaringan Terbatas Bikin Adopsi HP 5G di Indonesia Jadi ‘Lemas’

    Jaringan Terbatas Bikin Adopsi HP 5G di Indonesia Jadi ‘Lemas’

    Bisnis.com, JAKARTA — Analis mengungkap jaringan yang belum siap menjadi penyebab masih adopsi smartphone 5G di Indonesia yang masih stagnan.

    Berdasarkan laporan Counterpoint Research, adopsi smartphone 5G di Indonesia pada kuartal III/2025 tercatat stagnan di level 35% dari total pengiriman, sama dengan capaian kuartal sebelumnya. Meski begitu, angka tersebut meningkat tipis, yakni 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications Aryo Meidianto Aji mengatakan permasalahan utama stagnansi adopsi 5G adalah jaringan yang belum siap. 

    “Cakupan jaringan 5G masih sangat terbatas dan kurang konsisten, bahkan di kota besar,” kata Aryo kepada Bisnis pada Rabu (26/11/2025).

    Dia mengatakan bagi konsumen di luar kota besar, keberadaan fitur 5G pada perangkat belum memberikan manfaat nyata karena jaringan belum tersedia merata. Aryo juga menegaskan infrastruktur 5G hingga saat ini masih belum siap.

    Tidak hanya soal jaringan, dari sisi kegunaan, 5G dinilai belum memberikan solusi baru yang benar-benar dibutuhkan pengguna. Menurutnya kecepatan tinggi hanya jadi angka-angka dalam pemasaran. 

    “Pada kenyataannya, aplikasi sehari-hari yang digunakan pengguna [medsos, streaming] sudah cukup lancar dengan 4G. Tidak ada ‘pain point’ yang dipecahkan 5G bagi rata-rata pengguna,” kata Aryo.

    Selain itu, preferensi konsumen pada kelas harga terjangkau turut menahan penetrasi perangkat 5G. Dia menjelaskan konsumen cenderung lebih mempertimbangkan selisih harga sekitar Rp200–300 ribu dan kekhawatiran terkait konsumsi baterai, ketimbang memilih perangkat dengan fitur 5G yang manfaatnya belum benar-benar terasa.

    “Value for money dan daya tahan masih jadi raja,” ujarnya.

    Aryo juga merujuk hasil survei terbaru dari Growth from Knowledge (GfK), lembaga riset pasar global. Survei tersebut menunjukkan konsumen di Indonesia saat ini lebih mengutamakan durabilitas, kualitas, dan manfaat perangkat yang dapat mereka rasakan secara langsung.

    Sebelumnya, Counterpoint menggambarkan pergerakan pangsa pasar 5G yang fluktuatif dalam empat kuartal terakhir. Pada kuartal IV/2024, pangsa perangkat 5G turun ke 25% dari 31% pada kuartal sebelumnya. Pemulihan minim terjadi di kuartal I/2025 dengan kenaikan hanya satu poin persentase ke 26%. 

    Tren positif baru muncul di kuartal II/2025 yang melonjak ke 35% dan bertahan pada kuartal III/2025. Stabilnya angka ini ditopang oleh meningkatnya ketersediaan perangkat 5G berharga terjangkau dan memperluasnya pilihan di segmen menengah.

    Secara keseluruhan, pasar smartphone domestik menunjukkan pemulihan yang lebih kuat. Counterpoint mencatat bahwa pengapalan smartphone tumbuh 12% secara tahunan pada kuartal III/2025, didorong oleh stabilitas ekonomi nasional, pertumbuhan ekspor, serta penguatan permintaan domestik.

    Segmen entry-level menjadi motor utama pasar. Pengiriman smartphone dengan harga di bawah US$150 (sekitar Rp2,49 juta) melonjak 42% dibandingkan tahun sebelumnya dan kini menguasai 55% pangsa pasar. Kondisi ini menggambarkan strategi agresif produsen dalam menawarkan portofolio perangkat terjangkau guna menyesuaikan daya beli masyarakat.

    Sebaliknya, pasar kelas menengah hingga premium tertekan. Pengapalan pada rentang US$150–349 turun 10%, kelas US$350–699 turun 11%, dan segmen premium di atas US$700 merosot 14%.

    Dari sisi merek, Samsung kembali memimpin pasar smartphone Indonesia dengan pangsa 20%, disusul Xiaomi 17%, OPPO 16%, vivo 14%, dan Infinix 12% yang mencatat pertumbuhan paling agresif dengan lonjakan 45% secara tahunan.

  • iPhone 17 Kuat di Integrasi, Huawei Pura 80 Unggul di Inovasi Teknologi

    iPhone 17 Kuat di Integrasi, Huawei Pura 80 Unggul di Inovasi Teknologi

    Bisnis.com, JAKARTA — Huawei Pura 80 Series dan iPhone 17 Series diramal bakal bertarung ketat memperebutkan pasar flagship Indonesia. Keduanya memiliki keunggulan masing-masing. 

    Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji, mengatakan persaingan produk di kelas atas menghadirkan lebih banyak pilihan bagi pengguna.

    “Menurut saya setiap adanya persaingan di produsen smartphone terutama dalam menghadirkan perangkat flagship yang diuntungkan adalah konsumen,” kata Aryo kepada Bisnis pada Kamis (18/9/2025). 

    Aryo mengatakan setiap produsen smartphone flagship memiliki keunggulan masing-masing, mulai dari desain, performa chipset, pengalaman kamera, hingga inovasi teknologi. Namun, pendekatan yang diambil berbeda, terutama dalam hal ekosistem dan harga.

    Aryo menambahkan, iPhone 17 lebih menonjol pada integrasi ekosistem dan kualitas perangkat lunak, sedangkan Huawei Pura 80 Series mengedepankan inovasi teknologi dengan harga yang lebih kompetitif. 

    “Sekarang pilihan dikembalikan ke konsumen, sebaiknya mereka menyesuaikan dengan ekosistem yang memang sudah ada atau sudah mereka miliki, apakah ekosistem Apple, apakah ekosistem Android atau Harmony OS seperti pada Pura 80 Series,” katanya.

    Sebagai informasi, Huawei merilis dua perangkat flagship terbarunya di Indonesia, yakni Huawei Pura 80 Pro dan Huawei Pura 80 Ultra, dengan peningkatan signifikan di sektor fotografi.

    “Hari ini, kami dengan bangga memperkenalkan Huawei Pura 80 Series. Sebuah smartphone flagship dengan inovasi kamera terbaik dan desain terbaik, menunjukkan legacy Huawei dalam menerbitkan pengalaman luar biasa bagi pengguna,” kata Senior Retail Manager Huawei Device Indonesia, Edy Supartono, dalam acara peluncuran di Jakarta pada 17 September. 

    Sementara itu, Apple meluncurkan iPhone 17 Series secara global pada 9 September 2025. Seri ini terdiri atas empat model, yakni iPhone 17, iPhone 17 Air, iPhone 17 Pro, dan iPhone 17 Pro Max. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai jadwal kehadiran resmi perangkat tersebut di Indonesia.

  • Insentif TKDN 25% Dinilai Bisa Pacu Industri Smartphone Lokal

    Insentif TKDN 25% Dinilai Bisa Pacu Industri Smartphone Lokal

    Bisnis.com, JAKARTA— Insentif nilai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 25% yang otomatis diberikan kepada perusahaan yang berinvestasi di dalam negeri dinilai menjadi langkah positif untuk memperkuat industri smartphone di Indonesia.

    Ketentuan itu tertuang dalam  Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 35/2025.

    Senior Consultant dan Analis Pasar Smartphone SEQARA Communications Aryo Meidianto Aji menilai kebijakan ini dapat memotivasi vendor untuk lebih serius membangun fasilitas produksi dan merakit ponsel di dalam negeri.

    “Dengan insentif ini, vendor tentu akan lebih termotivasi untuk membangun fasilitas produksi dan merakit ponsel di Indonesia karena ada keuntungan finansial nyata yang bisa mereka dapatkan,” kata Aryo kepada Bisnis pada Sabtu (13/9/2025).

    Menurut Aryo, kebijakan tersebut juga akan mempermudah vendor memenuhi persyaratan angka persentase TKDN yang selama ini menjadi tantangan. Menurutnya, pendirian pabrik baru di Indonesia berpotensi menghadirkan alih teknologi, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru mulai dari operator hingga insinyur.

    Lebih jauh, Aryo mengatakan, dampaknya juga bisa terasa pada harga smartphone, di mana dengan insentif 25% ini, produksi lokal dapat meningkat, biaya impor bisa berkurang dan berakibat kepada harga jual perangkat di pasar akan menjadi lebih kompetitif.  

    Lebih lanjut, dia menilai insentif ini akan mendorong vendor menggunakan lebih banyak komponen produksi lokal, seperti baterai, casing, packaging, bahkan PCB. Dengan begitu, rantai pasok smartphone akan lebih efisien dan responsif terhadap permintaan pasar.

    Terkait produk flagship, Aryo menyoroti potensi percepatan kehadiran iPhone 17 Series di Indonesia. 

    “Mengenai produk flagship seperti iPhone 17 Series, insentif ini bisa menjadi pendorong atau faktor penarik untuk vendor besar seperti Apple untuk mengakselerasi kehadiran produk tersebut di pasar Indonesia,” katanya.

    Dalam jangka panjang, insentif TKDN ini berpotensi mengubah peta persaingan smartphone di Indonesia. Aryo menekankan, perusahaan yang mampu memanfaatkan peluang untuk investasi fasilitas produksi dan inovasi produk akan memiliki posisi lebih kuat.

    Dia mengatakan brand-brand lokal juga punya peluang untuk memanfaatkan insentif ini untuk berkembang lebih besar, atau bahkan menjadi mitra produksi bagi vendor global. 

    “Sementara, vendor yang hanya mengimpor produk jadi tanpa melakukan investasi di Indonesia akan kesulitan bersaing dari sisi harga dan kecepatan distribusi sehingga pangsa pasarnya bisa tergerus,” katanya.

    Aryo menilai strategi yang perlu ditempuh perusahaan saat ini antara lain mempercepat investasi pabrik, bermitra dengan produsen komponen lokal, hingga membangun tim riset kecil yang fokus pada adaptasi produk untuk pasar domestik. 

    “Tidak lupa pentingnya untuk mengomunikasikan ke konsumen bahwa produk mereka ‘Made in Indonesia’ dan telah mendukung penciptaan lapangan kerja, yang bisa menjadi nilai jual dan pembeda positif,” tandasnya. 

    Kebijakan deregulasi TKDN ditetapkan melalui Permenperin No. 35/2025 yang menggantikan Permenperin No. 6/2011 tentang Ketentuan dan Tata Cara Sertifikasi TKDN serta Bobot Manfaat Perusahaan (BMP).

    Dalam aturan terbaru tersebut, perusahaan yang berinvestasi di dalam negeri secara otomatis memperoleh insentif nilai TKDN minimal 25%. Pada aturan sebelumnya, insentif nilai TKDN ini tidak tersedia.

    Selain itu, pelaku usaha yang melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) berhak atas tambahan nilai TKDN hingga maksimal 20%. 

    Mereka juga lebih mudah mendapatkan nilai BMP hingga 15% lantaran kini tersedia 15 komponen pembentuk BMP yang dapat dipilih. Kemudahan juga diberikan dalam perhitungan TKDN dari aspek kemampuan intelektual melalui aktivitas litbang.

    Sementara itu, bagi industri kecil dan menengah (IKM), sebelumnya nilai TKDN hanya dapat mencapai maksimal 40% dengan masa berlaku sertifikat 3 tahun. Namun, dengan metode baru, IKM berpeluang memperoleh nilai lebih dari 40% dengan masa berlaku sertifikat hingga 5 tahun.