Sempat Dinasihati Jokowi dan Disorot Prabowo, Konflik Perebutan Kursi Ketum Kadin Akhirnya Usai
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Kamar Dagang dan Industri (
Kadin
) Indonesia kembali bersatu usai sempat muncul kubu yang mendukung
Arsjad Rasjid
dan
Anindya Bakrie
menjadi ketua umum (ketum).
Persatuan itu muncul seiring dengan damainya dua sosok tersebut. Diketahui, Anindya Bakrie dan Arsjad sempat memperebutkan kursi ketua umum organisasi para pengusaha tersebut beberapa waktu belakangan.
Adapun persatuan itu tecermin dari digelarnya Musyawarah Nasional (Munas) Konsolidasi Persatuan Kadin Indonesia, di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, yang ditutup pada Kamis (16/1/2025).
Dalam Munas, baik Arsjad maupun Anindya sudah berbincang, bahkan berfoto bersama.
Awal mula perseteruan terjadi karena Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Kadin yang memilih Anindya Bakrie sebagai ketua umum, padahal Arsjad Rasjid masih menjabat kala itu.
Keputusan yang mengangkat Anindya Bakrie disampaikan dalam Munaslub Kadin di Hotel St Regis, Jakarta Selatan pada Sabtu, 14 September 2024.
Usai terpilh menjadi ketua umum, Anindya Bakrie mengaku siap menjadi mitra pemerintah. Dia akan bekerja dengan Presiden Joko Widodo (
Jokowi
) sebelum lengser maupun pemerintahan
Prabowo
Subianto.
“Kadin itu adalah mitra strategis pemerintah. Jadi mudah-mudahan apa yang diputuskan teman-teman tadi bisa membuat hubungan dengan pemerintah semakin lebih baik. Jadi sebagai mitra strategis,” kata Anindya.
Pimpinan Munaslub Kadin, Nurdin Halid mengeklaim bahwa Munaslub itu dihadiri perwakilan 21 pengurus Kadin Provinsi dan 25 anggota luar biasa (ALB) Kadin. Menteri Investasi sekaligus eks Ketum Kadin Indonesia Rosan Roeslani juga hadir.
Nurdin juga mengungkapkan, Anindya terpilih sebagai Ketum Kadin Indonesia secara aklamasi karena mendapat mayoritas suara dari Kadin Daerah.
Sebelum Anindya ditunjuk memimpin Kadin, pihaknya telah membuka pendaftaran calon ketua umum. Namun, hingga akhir pendaftaran, hanya Anindya yang mendaftar sehingga dia otomatis terpilih.
Sementara itu, Arsjad Rasjid merupakan Ketum Kadin Indonesia masa bakti 2021-2026. Dia terpilih secara aklamasi berdasarkan keputusan dalam Munas VIII Kadin Indonesia pada 30 Juni 2021 di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Keputusan mengangkat Anindya Bakrie sebagai ketua umum terjadi lantaran Arsjad dinilai menyalahi Anggaran Dasar Kadin Indonesia karena pernah menjadi Ketua Umum Tim Pemenangan Nasional Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Nurdin mengatakan, organisasi Kadin merupakan organisasi independen sehingga hal itu tidak dibenarkan.
“Organisasi Kadin adalah organisasi independen, bukan organisasi pemerintah, dan bukan organisasi politik,” kata Nurdin saat itu.
Di sisi lain, Arsjad membantah telah melanggar aturan. Berdasarkan pengakuannya, dia sudah mengambil cuti dan berkoordinasi dengan para wakil ketua umum serta ketua umum daerah Kadin Indonesia sebelum menjadi Ketua Tim Pemenangan Nasional Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Tanpa mengambil cuti, keputusan untuk menjadi ketua tim pemenangan sebenarnya disebut tidak melanggar Aturan Dasar atau Aturan Rumah Tangga (AD/ART) Kadin Indonesia.
Namun, dia tetap memutuskan mengambil cuti demi memperlihatkan manajemen yang baik.
“Saya memutuskan menjadi salah satu ketua dalam tim pemenangan yang lalu. Itu pun saya ajak bicara teman-teman,” kata Arsjad dalam konferensi pers di Hotel JS Luwansa pada 15 September 2024.
Terpilihnya Anindya menjadi ketua umum Kadin menggantikan Arsjad Rasyid mendapatkan banyak protes dari anggota Kadin. Setidaknya, ada 21 Dewan Pengurus Kadin Provinsi yang menolak Munaslub itu.
Dewan Pengurus Kadin Provinsi yang menolak antara lain Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Kemudian, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua, Papua Barat, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, dan Papua Barat Daya.
Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Kadin Indonesia, Eka Sastra menuturkan, seluruh anggota Kadin berkewajiban melaksanakan amanah Undang-Undang dan menegakkan AD/ART dalam aktivitas organisasi.
Menurut Eka, AD/ART Kadin Indonesia mengatur Munaslub hanya bisa diadakan jika ada pelanggaran prinsip yang terjadi. Namun, tidak ada peringatan tertulis yang disampaikan ke pihak terkait.
“Sampai saat ini, kami selaku Dewan Pengurus belum pernah menerima surat peringatan terkait adanya pelanggaran yang dilakukan baik oleh Dewan Pengurus maupun Ketua Umum,” jelasnya.
Permintaan mengadakan Munaslub, menurut dia, harus diajukan oleh minimal setengah dari jumlah Kadin Provinsi dan setengah dari jumlah Anggota Luar Biasa.
Karena ketentuan itu belum dipenuhi, Kadin Provinsi, Kadin Kabupaten/Kota, serta Anggota Luar Biasa tidak mendukung hasil Munaslub yang digelar Sabtu kemarin karena dianggap menyalahi AD/ART.
Dalam kisruh ini, Arsjad Rasjid sebelumnya juga berencana menemui Presiden Jokowi.
Namun Jokowi berpesan, masalah internal Kadin harus diselesaikan di internal organisasi pengusaha tersebut. Kepala Negara tidak ingin bola panas polemik itu diarahkan kepadanya.
“Ini bukan organisasi politik, ini adalah organisasi pengusaha, sehingga saya minta diselesaikan secara baik-baik, di internal Kadin. Jangan nanti bola panasnya disorong ke saya. Hehehe,” kata Jokowi sembari terkekeh di Menara Danareksa, Jakarta Pusat pada 17 September 2024.
Namun, dia mengaku terbuka dengan siapa pun yang ingin menemuinya, termasuk dengan Arsjad Rasjid dan Anindya Bakrie.
Kendati begitu, dia kembali meminta masalah ini harus tetap diselesaikan di internal Kadin.
“Siapa pun bertemu dengan saya, saya terbuka, enggak ada masalah. Tapi sekali lagi, selesaikan masalah Kadin ini di internal Kadin. Jangan menyorong bola panasnya ke Presiden, gitu saja,” tuturnya.
Kisruh berkepanjangan ini kemudian dimediasi oleh sejumlah pihak. Belakangan beredar kabar, bahwa Sufmi Dasco Ahmad dan Rosan Roeslani termasuk pihak yang berperan melakukan mediasi.
Dasco merupakan Ketua Harian Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPR RI.
Sementara Rosan adalah Ketua Dewan Kehormatan Kadin yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Foto pertemuan Dasco, Rosan, Arsjad dan Anindya Bakrie kemudian ramai beredar di publik sejak awal pekan ini.
Foto itu menjadi viral karena diunggah oleh Raffi Ahmad, selebritas yang kini aktif di dunia politik dan dipercaya sebagai Utusan Khusus Presiden di bidang pembinaan generasi muda dan pekerja seni.
Menindaklanjuti pertemuan islah itu, Rosan lalu mengirimkan surat undangan Munas Konsolidasi ke seluruh pengurus Kadin, yang akhirnya terselenggara pada Kamis (16/1/2025) kemarin.
Agenda Munas adalah pengukuhan
kepengurusan Kadin
. Anindya Bakrie dikukuhkan sebagai Ketua Umum Kadin masa bakti 2024-2029. Sementara Arsjad Rasjid sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia Periode 2024-2029.
Dalam sambutannya di Munas konsolidasi, Prabowo turut menasehati keduanya usai konflik perebutan kursi selesai.
Kepala Negara mengatakan, pemimpin harus kompak termasuk ketika berganti kursi kepemimpinan.
“Pemimpin harus kompak, siapa nomor satu, dua, tiga, enggak masalah. Nanti gantian saja, iya kan? Gantian saja, jangan semuanya,” kata Prabowo dalam sambutannya.
Dia lantas berseloroh bahwa menjadi pemimpin tidak selalu enak. Sebagai Presiden RI pun, dirinya tidak boleh sakit.
Prabowo diketahui sempat diberitakan sakit usai Perdana Menteri (PM) Anwar Ibrahim bercuit di X.
Anwar menyebut bahwa pertemuan dengan
Presiden Prabowo
di Langkawi, Malaysia, pada akhir Desember 2024, mendadak batal karena Prabowo demam. Teranyar, pertemuan itu sudah kembali diadakan pada Januari 2024.
“Semua kira mau jadi presiden enak, ya kan? Jadi presiden itu enggak boleh flu, tahu enggak?” seloroh Prabowo.
Menurut Prabowo, pergantian kursi kepemimpinan adalah hal yang biasa. Kelompok persaingan dan perbedaan pun adalah hal yang biasa.
Namun, dia menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan persatuan dan kesatuan. Prabowo pun mengucapkan terima kasih kepada Anindya Bakrie dan Arsjad Rasjid, dua sosok yang sempat berebut kursi ketua umum.
Begitu pula dengan Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani sebagai pihak yang sempat memediasi kedua belah pihak.
“Terima kasih saudara Rosan, terima kasih saudara Arsjad, terima kasih Anindya. Dan dalam sebuah kelompok bersaing itu bagus, perbedaan itu biasa. Tapi pada saatnya negara sekarang butuh persatuan dan kesatuan,” ujarnya.
Lebih lanjut, usai kepemimpinan baru dikukuhkan, Prabowo mengucapkan selamat bekerja kepada Kadin.
Indonesia, menurut dia, membutuhkan Kadin yang dinamis, serta para pengusaha yang berani, inovatif, dan bersaing dengan bagus.
“Persaingan bagus, tidak bersaing secara mematikan. Bersaing, ayo sama-sama menuju kemakmuran bersama. Kita harus makmur, rakyat butuh kemakmuran, kemakmuran dipimpin oleh para pengusaha saudara-saudara sekalian,” katanya.
Tak hanya itu, Munas konsolidasi kemarin rupanya menjadi ajang Arsjad dan Anindya menunjukkan kedekatan. Mereka terlihat mengobrol sembari duduk di kursi. Tak jarang, obrolan itu bahkan diselingi tawa keras.
Di momen lain, keduanya terlihat bernyanyi bersama Presiden Prabowo. Mereka bersama-sama berjalan ke depan panggung saat lagu “O Ulate” perlahan menggema sesaat sebelum acara selesai.
Rosan dan Menteri Luar Negeri Sugiono juga terlihat maju ke depan panggung.
Penyanyi berbaju merah kemudian dengan tanggap memberikan mikrofon yang dipegangnya kepada Prabowo.
”
Di sini gunung, di sana gunung. Di tengah-tengah bunga melati. Di sini bingung, di sana bingung, memikirkan si jantung hati
,” nyanyi Prabowo.
”
O Ulate Tanjung O Ulate
,” kata Prabowo melanjutkan syair lagunya.
Para menteri yang hadir lantas memeriahkan acara dengan bertepuk tangan dari bangku penonton. Sebagian lainnya tampak tersenyum melihat Prabowo dan pimpinan Kadin bernyanyi bersama.
Setelahnya, mikrofon diserahkan Prabowo kepada Menteri Luar Negeri Sugiono yang juga ikut bergabung. Sementara itu, posisi berdiri Arsjad dan Anindya berada di antara Prabowo.
Tak beberapa lama, Prabowo mulai meninggalkan panggung meski lagu belum selesai. Dia memilih keluar ruangan, dengan menyalami para menteri yang duduk berderet di barisan paling depan.
Arsjad dan Anindya pun ikut mendampingi Prabowo keluar ruangan. Potret-potret kedekatan itu semakin menambah keyakinan bahwa perseteruan akhirnya usai.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Tag: Anindya Novyan Bakrie
-

Sebut Tak Boleh Sakit, Prabowo Subianto: Memang Jadi Presiden Enak
Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Prabowo Subianto mengutarakan curahan hatinya (curhat) setelah tiga bulan menjabat sebagai kepala negara. Prabowo menyebut, presiden tidak boleh terkena penyakit dan harus selalu fit untuk memimpin negara Indonesia.
Pada awalnya, Prabowo Subianto memberikan pesan kepada seluruh anggota Kadin Indonesia bahwa persatuan merupakan hal yang sangat penting dalam organisasi. Kepala negara juga menyinggung nama Anindya Novyan Bakrie dan Arsjad Rasjid dalam pernyataannya itu.
Hal ini seolah menjadi sinyal, Prabowo turut menyoroti permasalahan dualisme kepemimpinan yang sempat terjadi antara ketua umum Kadin Indonesia atas hasil musyawarah nasional (Munas) 2021 Arsjad Rasjid, dan ketua umum Kadin Indonesia hasil Munas luar biasa (Munaslub) Anindya Novyan Bakrie.
“Terima kasih saudara Arsjad, terima kasih Anindya. Dalam sebuah kelompok bersaing itu bagus, perbedaan itu biasa, tetapi pada saatnya negara sekarang butuh persatuan dan kesatuan,” kata Presiden Prabowo Subianto, Kamis (16/1/2025).
Prabowo Subianto mengatakan, setiap orang dapat silih berganti menjabat sebagai pemimpin. Setelah itu, Prabowo bergurau bahwa selama menjadi presiden dirinya tidak boleh terkena penyakit.
“Pemimpin harus kompak, siapa nomor satu, dua, tiga, enggak masalah. Nanti gantian saja iya kan? Gantian saja, jangan semuanya. Kamu kira jadi presiden enak? Jadi presiden tuh enggak boleh flu tahu enggak,” ungkapnya lagi.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menjelaskan, sejak Kabinet Merah Putih dibentuk, seluruh program pemerintah saat ini berjalan dengan baik. Prabowo menekankan, tidak ada kepentingan lain dari seluruh program yang dicanangkan pemerintah.
Menurutnya, program-program Kabinet Merah Putih semata-mata ditujukkan untuk kepentingan rakyat Indonesia. Kepala negara menyebut, kebijakan yang dicanangkan pemerintah dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Ini baru tiga bulan, tolong tunggu sabar sedikit. Mungkin bulan kelima, keenam saudara merasakan. Bahwa, kita mau bukan jalan as usual, kita there is no business as usual. Kita sekarang mau lari, kita akan cepat, kita akan bergerak secepat-cepatnya,” tegas Prabowo Subianto.
-

Anindya Novyan Bakrie, B.Sc., M.B.A. – Halaman all
TRIBUNNEWS.COM – Anindya Novyan Bakrie, B.Sc., M.B.A. seorang pengusaha yang baru saja dilantik sebagai Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia periode 2024-2029.
Anindya Bakrie menggantikan posisi Arsjad Rasjid.
Sebelum terpilih menjadi Ketua Kadin Indonesia, Anindya Bakrie pernah berkecimpung di dunia media.
Ia pun tercatat sebagai pemilik salah satu klub bola asal Inggris, yakni Oxford United bersama Menteri BUMN, Erick Thohir.
Berikut profil Anindya Bakrie.
Kehidupan Pribadi
Berdasarkan penelusuran Tribunnews, Anindya Bakrie lahir di Jakarta pada 10 November 1974.
Saat ini, ia telah berusia 50 tahun.
Anindya Bakrie merupakan putra dari pengusaha Aburizal Bakrie dan Tatty Murnitriati.
Ia telah memiliki istri yang bernama Firdani Saugi.
Selain itu, ia juga telah dikaruniai tiga anak.
Pendidikan
Rembuk Pemuda dipimpin foundernya, Aidil Afdan Pananrang, melakukan audiensi dengan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Anindya Bakrie, mengangkat isu-isu penting seperti akses kewirausahaan, pendampingan UMKM, dan kolaborasi lintas sektor sebagai langkah konkret menuju Indonesia Emas 2045. (Istimewa)
Anindya Bakrie diketahui pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Triguna, lulus pada tahun 1986 sebelum melanjutkan Pendidikan menengah di sekolah Katolik khusus pria, Pangudi Luhur, yang keduanya berlokasi di Jakarta.
Ia kemudian belajar di Phillips Academy di Andover, Massachusetts, sebuah sekolah menengah atas di United States.
Dilatarbelakangi oleh ketertarikan di bidang keuangan dan teknologi, serta keinginan mengikuti jejak bisnis Ayah serta Kakeknya, Anindya pada awalnya hendak mengambil ekonomi sebagai jurusan utama di bangku perkuliahan.
Namun kemudian, Anindya meraih gelar sarjana di bidang Teknik Industri dari Northwestern University, Illinois, pada tahun 1996.
Pria kelahiran Jakarta itu kemudian mendapatkan gelar Master dari Global Management Immersion Experience (GMIX) program di Stanford Graduate School of Business pada tahun 2001.
Karier
Anindya Bakrie memulai karier sebagai banker investasi di Salomon Brothers, Wallstreet, Amerika Serikat, 1996. Pasca-kerusuhan 1998, Aburizal memanggil anaknya itu untuk kembali ke Indonesia.
Saat itu, ia langsung menjabat Deputy to Chief Operating Officer dan Managing Director di PT Bakrie & Brothers Tbk.
Anin pertama kali terjun ke industri media massa dengan Cakrawala Andalas Televisi (ANTV). Pada 2002, ia mengirim proposal restrukturisasi ke lebih dari 200 kreditor dan membujuk mereka untuk merestrukturisasi utang mereka menjadi ekuitas.
Ia juga melebarkan sayap di industri media massa dengan membeli Lativi Media Karya dari pebisnis sekaligus Mantan Menteri Ketenagakerjaan, Abdul Latief. Stasiun televisi ini sekarang bernama tvOne dan direkonstruksi untuk fokus pada berita untuk pemirsa kelas menengah.
Anin juga membuat portal berita online Vivanews. Bersama Erick Thohir, ia memimpin grup bisnis media massa VIVA Group.
Ia pun tercatat juga menjabat sebagai Direktur Utama Bakrie Group.
Puncak kariernya didapat saat ia terpilih sebagai Ketua Umum Kadin melalui Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) di Hotel St Regis, Jakarta, Sabtu 14 September 2024.
Anin terpilih dalam Munaslub yang dihadiri 28 dari 34 Kadin provinsi dan 25 asosiasi.
(Tribunnews.com/David Adi)
/data/photo/2025/01/16/6788b61046ec2.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)






