Tag: Anggun

  • 3.000 Peserta Hadiri Upacara HUT RI di IKN, Basuki Tampil dengan Adat Dayak – Page 3

    3.000 Peserta Hadiri Upacara HUT RI di IKN, Basuki Tampil dengan Adat Dayak – Page 3

    Upacara di Plaza Seremoni IKN juga melibatkan 38 putra-putri daerah Kabupaten Penajam Paser Utara sebagai Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). Mereka adalah purna paskibra yang tahun lalu bertugas pada HUT ke-79 Kemerdekaan RI di daerah tersebut.

    Salah satunya, Aulia Novita Anggun, yang dipercaya kembali sebagai pembawa baki bendera pusaka. Ia mengaku bangga bisa menjalankan tugas tersebut. “Ini sebuah kehormatan besar. Kami berlatih sejak 10 hari sebelum upacara, dimulai di Kabupaten Penajam Paser Utara lalu dilanjutkan di kawasan IKN,” ungkapnya.

    Dengan keterlibatan masyarakat lokal, penggunaan pakaian adat dari berbagai daerah, hingga semangat para paskibra, upacara HUT ke-80 di IKN menjadi simbol nyata keberagaman budaya yang menyatu dalam semangat persatuan Indonesia.

  • Tari Dayak Salako dan Lagu Patriotik Warnai HUT ke-80 RI di Perbatasan Aruk
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        17 Agustus 2025

    Tari Dayak Salako dan Lagu Patriotik Warnai HUT ke-80 RI di Perbatasan Aruk Megapolitan 17 Agustus 2025

    Tari Dayak Salako dan Lagu Patriotik Warnai HUT ke-80 RI di Perbatasan Aruk
    Tim Redaksi
    KALIMANTAN BARAT, KOMPAS.com –
    Setelah upacara pengibaran bendera Merah Putih selesai, peringatan HUT ke-80 RI di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Minggu (17/8/2025), berlanjut dengan penampilan seni budaya.
    Tujuh pelajar dari SD Negeri 3, SMP Negeri 1, SMA Negeri 1, dan SMK Negeri 1 Sajingan Besar membawakan Tari Kreasi Dayak Salako berjudul Menganyam Tanggui.
    Tarian khas Sajingan Besar itu ditampilkan dengan gerakan anggun yang berpadu dengan irama musik tradisional.
    Tarian ini berasal dari Sanggar Bujakng Bapamang Sajingan, yang selama ini aktif melestarikan seni budaya Dayak Salako di kawasan perbatasan.
    Para penari menampilkan gerakan luwes sambil membawa properti khas anyaman masyarakat setempat.
    Suasana semakin semarak saat Maria Marselina Watu, siswi SMP Negeri 1 Sajingan Besar, membawakan dua lagu patriotik, Indonesia Pusaka dan Berkibarlah Bendera Negeriku.
    Warga sekitar PLBN terlihat antusias menyaksikan rangkaian upacara dan hiburan. Beberapa dari mereka membawa bendera kecil Merah Putih dan merekam penampilan lewat ponsel.
    “Saya bisa lihat langsung upacara di perbatasan, bahkan ada tari adat dan nyanyian anak-anak. Rasanya bangga sekali,” ujar Iban (38), warga Sajingan Besar.
    Senada, Danum (45), warga lainnya, menyebut acara ini menjadi momen kebersamaan.
    “Saya lihat anak-anak tampil percaya diri. Ini bagus sekali untuk tunjukkan identitas kita sebagai orang perbatasan,” katanya.
    Sejumlah pelajar dan guru yang tidak terlibat langsung juga menonton dari kejauhan. Suryati (41), salah satu guru di Sajingan Besar, menilai penampilan ini menunjukkan kekuatan pendidikan di daerah perbatasan.
    “Anak-anak berlatih dengan penuh semangat. Saya melihat ini bukan hanya hiburan, tapi juga pembelajaran tentang cinta tanah air,” ujarnya.
    Dengan penampilan seni tari dan lagu patriotik tersebut, perayaan HUT ke-80 RI di PLBN Aruk ditutup dengan penuh sukacita.
    Di tapal batas, suara Merah Putih bukan hanya berkibar di tiang bendera, tetapi juga hidup dalam nyanyian, tarian, dan semangat masyarakatnya.
    Ekspedisi wilayah perbatasan ini merupakan kerja sama redaksi
    Kompas.com
    dengan Badan Nasional Pembangunan Perbatasan (BNPP). Selain di PLBN Aruk, ekspedisi serupa juga dilaksanakan di PLBN Motaain dan PLBN Motamasin.
    Liputan lengkap perayaan HUT ke-80 RI bisa diikuti melalui topik pilihan
    HUT ke-80 RI 2025.
     
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Penumpang berkebaya encim warnai KRL saat HUT Ke-80 RI

    Penumpang berkebaya encim warnai KRL saat HUT Ke-80 RI

    Penumpang KRL mengenakan kebaya encim dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 RI di Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, Minggu (17/8/2025). ANTARA/Siti Nurhaliza.

    Penumpang berkebaya encim warnai KRL saat HUT Ke-80 RI
    Dalam Negeri   
    Editor: Novelia Tri Ananda   
    Minggu, 17 Agustus 2025 – 07:35 WIB

    Elshinta.com – Suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-80 Republik Indonesia (RI) terasa meriah di dalam rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL), Minggu pagi. Sejumlah penumpang tampak mengenakan busana khas kebaya encim, sehingga menambah nuansa semarak kemerdekaan di transportasi massal tersebut.

    Pantauan di Stasiun Tambun hingga Stasiun Juanda, deretan ibu-ibu dan remaja putri tampil anggun dengan kebaya encim berwarna cerah, dipadukan dengan kain batik maupun jarik. Tak sedikit pula yang mengenakan selendang dan aksesori rambut untuk melengkapi penampilan mereka.

    Kehadiran penumpang berkebaya encim itu menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa warga yang menggunakan KRL bahkan terlihat antusias berfoto bersama.

    “Kebetulan ada upacara dan acara-acara lain di kantor, jadinya kita kompakan pakai busana khas Betawi ya, kebaya encim,” kata salah satu warga Tambun, Ratna (39) di Stasiun Bekasi, Minggu.

    Ratna merasa bangga dan lebih istimewa masih berkesempatan merayakan kemerdekaan dengan pakaian tradisional.

    “Bangga pastinya, ini kan menjadi salah satu kontribusi kita melestarikan budaya, kita juga bisa ikut memeriahkan suasana,” ujar Ratna.

    Selain kebaya encim, penumpang pria pun tak ketinggalan ikut mengenakan pakaian bernuansa merah putih, mulai dari batik hingga kaos bertuliskan slogan kemerdekaan. Kehadiran atribut bendera kecil hingga pita merah putih di tangan maupun kepala juga turut mempercantik suasana.

    “Pasti dong semangat pagi-pagi, kan mau upacara, terus ada lomba sama banyak acara juga di kantor. Di tas saya malah banyak bendera kecil sama selempang buat nanti heboh di kantor,” kata warga Jatinegara bernama Tommy (44).

    Semarak penumpang berkebaya encim di KRL ini sekaligus menjadi simbol kebhinekaan dan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya Nusantara, yang tetap hidup di tengah modernisasi dan kemajuan transportasi publik. Peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2025 bertema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Tema tersebut mencerminkan semangat kebangsaan yang terus dijaga sebagai fondasi untuk melangkah ke masa depan.

    Presiden Prabowo Subianto akan memimpin langsung upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi dalam rangka HUT Ke-80 Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta. Ada beberapa kegiatan yang digelar untuk menyemarakan peringatan HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Jumat yakni Kirab Bendera Sang Merah Putih dan Teks Proklamasi, Pesta Rakyat dan Karnaval Bersatu Kemerdekaan.

    Sumber : Elshinta.Com

  • Cerita dari Banaran tentang kebun kopi yang menghidupi

    Cerita dari Banaran tentang kebun kopi yang menghidupi

    Kopi Banaran tumbuh menjadi kebanggaan dan bagian dari kehidupan warga di Pabelan, Jambu, Semarang, Jawa Tengah dan wilayah sejuk lainnya. (ANTARA/HO-PTPN I)

    Cerita dari Banaran tentang kebun kopi yang menghidupi
    Dalam Negeri   
    Editor: Calista Aziza   
    Sabtu, 16 Agustus 2025 – 10:59 WIB

    Elshinta.com – Sore di Desa Kauman Lor, Kecamatan Pabelan, Semarang, Jawa Tengah, datang dengan cahaya yang lembut. Langit merona jingga, berpadu dengan deretan bendera merah putih yang berkibar anggun di tepi jalan.

    Umbul-umbul berwarna cerah memandu mata ke sebuah lorong yang ditembus nyala lampu LED merah-putih, menciptakan suasana yang hangat dan penuh semangat.

    Agustus di sini selalu menjadi perayaan, bukan sekadar mengenang, tetapi merayakan hidup yang diwariskan dari perjuangan.

    Di teras sebuah warung sederhana, Sugeng, lelaki sepuh berusia delapan puluh lima tahun, duduk sambil menyeruput kopi Banaran yang harum.

    Ia melayani pembeli bersama keponakannya, Abdul, yang kini menjadi tangan dan kaki dalam menjalankan usaha kecil itu.

    Bagi Sugeng, warung ini bukan sekadar tempat berdagang. Ini adalah ruang pertemuan, tempat warga bertukar cerita sambil menikmati gorengan dan kopi hangat.

    Kopi yang ia hidangkan bukan sembarang kopi. Ia membawa kisah panjang sejak masa Belanda membuka kebun kopi di Banaran, mengajarkan penduduk menanam dan mengolahnya, lalu berdirilah pabrik yang kini dikenal sebagai Pabrik Kopi Banaran PTPN I Regional 3.

    Dari sana, kopi Banaran tumbuh menjadi kebanggaan, tak lagi dimonopoli perusahaan, melainkan menjadi bagian dari kehidupan warga di Pabelan, Jambu, dan wilayah sejuk lainnya.

    Meski tidak ada kelas resmi untuk budidaya kopi, pengetahuan itu mengalir begitu saja. Pekerja-pekerja kebun, dari pengambil kebijakan hingga pekerja lapangan, membawa pulang ilmu yang kemudian mereka bagikan kepada kerabat dan tetangga.

    Tanpa pamrih, mereka menjadi guru bagi sesama, mengajarkan teknik menanam dan mengolah, memastikan kualitas biji kopi rakyat setara dengan yang dihasilkan perusahaan.

    Seperti Sugeng yang menuturkan sejarah kopi Banaran kepada Abdul, pengetahuan diwariskan tidak hanya lewat buku, tetapi lewat obrolan, pengalaman, dan kebersamaan.

    Denyut ekonomi

    Cerita ini hanyalah sepotong dari mozaik besar tentang bagaimana perkebunan ikut menghidupkan denyut ekonomi di berbagai daerah.

    Di Lampung, misalnya, masyarakat pada awalnya belum mengenal karet sebagai komoditas bernilai.

    Kehadiran perkebunan menjadi pintu pengenalan, hingga perlahan tumbuh gelombang penanaman yang kini mencakup lebih dari 130 ribu hektare.

    Pola serupa terlihat di banyak daerah dengan komoditas berbeda, setiap kali kebun baru dibuka, pengetahuan dan keterampilan juga mengalir ke masyarakat.

    Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, menyebut peran ini sebagai bukti nyata bahwa perusahaan perkebunan mampu menjadi agen perubahan.

    Di tempat-tempat terpencil, kehadiran kebun membuka lapangan kerja, menumbuhkan pusat-pusat ekonomi, dan menggerakkan peredaran uang.

    Pasar pun terbentuk secara alami, mengikuti hukum penawaran dan permintaan. Hubungan yang terjalin antara perusahaan dan masyarakat bukan semata hubungan kerja, tetapi juga kemitraan yang saling menguatkan.

    Keberadaan unit kerja perkebunan, menurut Teddy, langsung menyerap ribuan tenaga kerja lokal, baik sebagai karyawan tetap maupun pekerja harian. Dampaknya terasa dalam penurunan pengangguran dan peningkatan pendapatan keluarga.

    Namun, yang lebih penting adalah ekosistem ekonomi yang tercipta, dari warung kopi di Kauman Lor hingga pasar karet di Lampung, dari pedagang kecil hingga pelaku usaha kreatif yang memanfaatkan bahan lokal.

    Pertumbuhan ekonomi

    Umumnya komitmen perusahaan perkebunan juga tidak berhenti pada produksi perkebunan. Melalui kemitraan dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan pelaku usaha lokal, perusahaan berupaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan merata.

    Ini selaras dengan visi membangun dari desa, memperluas lapangan kerja, mendorong kewirausahaan, dan mengembangkan industri kreatif. Keberhasilan juga disadari bukan sekadar diukur dari laba, tetapi dari sejauh mana kehadiran perusahaan membuat masyarakat sekitarnya lebih berdaya.

    Kisah di Desa Kauman Lor adalah potret kecil dari perubahan yang dibawa kehadiran industri perkebunan. Tidak ada yang serba instan melainkan semuanya butuh waktu, interaksi, dan kesediaan berbagi.

    Namun, ketika modal pengetahuan berpadu dengan kerja keras masyarakat, lahirlah kemandirian yang mampu bertahan melewati perubahan zaman.

    Warung Sugeng mungkin sederhana, tapi di dalamnya tersimpan nilai ekonomi, sejarah, dan kebanggaan lokal. Kopi yang disajikan Abdul kepada pelanggan adalah hasil dari rantai panjang kerja sama antara perusahaan, petani, dan komunitas.

    Ekonomi yang mengalir dari keberadaan sebuah perkebunan di suatu daerah bukan hanya tentang uang. Melainkan tentang keterampilan yang diwariskan, jaringan sosial yang terbentuk, dan identitas lokal yang diperkuat.

    Setiap kebun yang dibuka, setiap pabrik yang beroperasi, adalah titik mula bagi lahirnya peluang baru yang memungkinkan pedagang yang mendapatkan lebih banyak pembeli, perajin yang menemukan pasar, anak-anak yang melihat bahwa masa depan bisa dibangun di kampung halaman sendiri.

    Seperti senja di Kauman Lor yang perlahan meredup, kehidupan desa juga memiliki irama yang teratur dari masa tanam, panen, pesta rakyat, hingga waktu istirahat.

    Dalam ritme itu, kehadiran perkebunan menjadi bagian dari denyut yang membuat desa tetap hidup.

    Tidak ada satu pihak yang memegang peran tunggal termasuk perusahaan, masyarakat, dan pemerintah yang saling melengkapi. Inilah yang menjadikan ekonomi wilayah bukan sekadar bertahan, tetapi terus berkembang.

    Di banyak tempat, cerita seperti ini mungkin akan terlupakan, terkubur oleh deru pembangunan modern yang kadang mengabaikan akar. Namun di Kauman Lor, cerita itu masih hidup, mengalir dari satu cangkir kopi ke cangkir berikutnya.

    Seakan menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati adalah yang tumbuh dari tanah sendiri, memberi manfaat kepada mereka yang mengolahnya, dan mengundang dunia untuk merasakan hasilnya.

    Sugeng, dengan secangkir kopi di tangan, tahu betul bahwa warungnya adalah bagian kecil dari kisah besar itu. Abdul, yang kini belajar darinya, akan menjadi penerus cerita dan rasa yang menyertainya.

    Dan di luar sana, ribuan kisah serupa tengah berlangsung, di mana kehadiran perkebunan yang dikelola dengan baik bisa menjadi pemantik yang membuat ekonomi wilayah benar-benar cair, bergerak, dan menghidupi banyak jiwa.

    Sumber : Antara

  • Prabowo Tak Pakai Baju Adat saat Sampaikan Pidato Kenegaraan di Sidang Tahunan MPR

    Prabowo Tak Pakai Baju Adat saat Sampaikan Pidato Kenegaraan di Sidang Tahunan MPR

    Bisnis.com, JAKARTA— Ada suasana berbeda di ruang utama Gedung Parlemen Senayan, Jumat (15/8/2025) pagi. Tak tampak baju adat dikenakan oleh Presiden Prabowo Subianto yang dilakukan oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) selama satu serta menjadi simbol kuat keberagaman Indonesia dalam Sidang Tahunan MPR-DPR RI.

    Seperti halnya sidang tahunan tahun-tahun sebelumnya, tamu perempuan yang hadir dalam sidang tahunan MPR RI tetap mengenakan kebaya, sebagai simbol pakaian tradisional Indonesia.

    Pertama, Puan Maharani mengenakan kebaya berwarna hijau bermotif bunga dengan dikombinasikan selendang merah. Penampilannya dilengkapi dengan kain batik berwarna cokelat.

    Sedangkan Titiek Soeharto mengenakan kebaya berwarna biru langit senada dengan warna dasi Prabowo. Penampilannya dilengkapi dengan selendang dengan corak bermotif biru lebih tua.

    Alih-alih mengenakan baju adat daerah seperti Jokowi, Presiden Prabowo Subianto memakai setelan jas abu-abu gelap dengan dasi berwarna biru muda. Penampilan Prabowo yang formal, tegas, dan sederhana. Berbeda dengan tampilan Jokowi yang berganti-ganti mengenakan baju adat dari berbagai wilayah di Nusantara selama 10 tahun terakhir. 

    Tiba pada pukul 08.33 WIB dengan mengenakan setelan jas berwarna abu-abu dan mengenakan dasi berwarna biru muda. Kehadirannya pun didampingi oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.

    Ini adalah pidato kenegaraan pertama Prabowo sebagai kepala negara. Dan sejak langkah pertamanya memasuki ruang sidang, sebuah pergeseran tradisi langsung terasa, tidak ada lagi parade busana adat yang selama ini menyemarakkan hari-hari menjelang peringatan kemerdekaan RI.

    Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pun tampil serasi dalam jas formal yang sempat berganti dasi dari merah ke biru muda, sementara istrinya, Selvi Ananda, tetap anggun dengan kebaya krem.

    Ketika ditanya soal hilangnya pakaian adat di acara tahun ini, Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid hanya menjawab singkat bahwa pakaian tersebut adalah simbol patriotisme.

    “Pak Prabowo patriot, jadi pakai (baju) nasional [setelan jas],” katanya singkat kepada wartawan, Jumat (15/8/2025)

    Tentu, ini kontras dengan suasana satu dekade terakhir. Sebab, era Presiden Ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) identik dengan ragam budaya yang diwujudkan lewat busana adat. Dari Suku Badui di Banten, Sasak dari NTB, sampai Tanimbar dari Maluku, Jokowi tak hanya mengenakan baju, tapi juga menyisipkan pesan filosofis tentang persatuan, identitas, dan penghargaan terhadap keberagaman.

    Setiap tahun, kehadiran Jokowi selalu ditunggu, bukan hanya karena isi pidatonya, tapi juga karena rasa penasaran akan pakaian adat apa yang akan dia kenakan. Tahun lalu, sebagai penutup masa jabatannya, Jokowi memilih baju Ujung Serong khas Betawi yang merupakan simbol perpisahan yang dalam kepada Jakarta sebagai ibu kota lama negara.

  • Mattel Hadirkan Barbie Edisi Khusus Indonesia, Bergaun Merah Motif Batik Sawunggaling

    Mattel Hadirkan Barbie Edisi Khusus Indonesia, Bergaun Merah Motif Batik Sawunggaling

    Jakarta: PT Mattel Indonesia meluncurkan boneka Barbie edisi khusus one-of-a-kind bertema Indonesia dalam rangka perayaan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus ulang tahun ke-80 Mattel.
     
    Boneka ini tampil memukau dalam balutan gaun merah berhias motif batik legendaris Sawunggaling, yang memiliki sejarah panjang. Motif ini menggambarkan seekor ayam jantan perkasa, yang merepresentasikan keberanian, keindahan, serta ketangguhan budaya Indonesia.
     
    “Boneka Barbie one-of-a-kind hadir dengan balutan gaun berwarna merah, dengan desain terinspirasi dari motif Sawunggaling—motif yang dipesan langsung oleh Presiden Soekarno dan diciptakan maestro batik Go Tik Swan,” jelas Roy Tendean, Vice President and General Manager PT Mattel Indonesia, dalam peluncuran Barbie one-of-a-kind di Museum Nasional, Kamis, 14 Agustus 2025.
     

     
    Tak hanya Sawunggaling, gaun Barbie edisi khusus one-of-a-kind juga memadukan motif parang. Salah satu motif batik klasik ini melambangkan kekuatan, tekad, dan ketekunan. Terdapat pula ornamen bunga yang memberi kesan anggun dan mewakili karakter perempuan Indonesia.
     
    “Lalu warna merah menggambarkan semangat bendera Indonesia sekaligus identitas kita,” ujar Roy Tendean.
     
    Roy menegaskan, peluncuran ini bukan sekadar merayakan hari jadi, melainkan juga menandai perjalanan panjang kerja sama antara Mattel dan Indonesia. Sejak 1992, Mattel telah mengoperasikan fasilitas produksi utama di Tanah Air. Kini, melalui PT Mattel Indonesia, lebih dari dua juta boneka diproduksi setiap minggunya.
     

     
    “Kita merayakan pencapaian luar biasa bagi Indonesia dan Mattel. Hari ini kita merayakan kisah kemajuan, dampak positif, serta nilai-nilai pemberdayaan, ketangguhan, warisan, dan aset budaya,” kata Roy.
     
    Boneka Barbie edisi khusus ini diproduksi secara eksklusif di fasilitas PT Mattel Indonesia dan akan mulai dirilis ke publik menjelang 17 Agustus 2025. Lebih dari sekadar koleksi, Barbie ini menjadi simbol sejarah, warisan, dan harapan bagi generasi mendatang.

    Jakarta: PT Mattel Indonesia meluncurkan boneka Barbie edisi khusus one-of-a-kind bertema Indonesia dalam rangka perayaan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus ulang tahun ke-80 Mattel.
     
    Boneka ini tampil memukau dalam balutan gaun merah berhias motif batik legendaris Sawunggaling, yang memiliki sejarah panjang. Motif ini menggambarkan seekor ayam jantan perkasa, yang merepresentasikan keberanian, keindahan, serta ketangguhan budaya Indonesia.
     
    “Boneka Barbie one-of-a-kind hadir dengan balutan gaun berwarna merah, dengan desain terinspirasi dari motif Sawunggaling—motif yang dipesan langsung oleh Presiden Soekarno dan diciptakan maestro batik Go Tik Swan,” jelas Roy Tendean, Vice President and General Manager PT Mattel Indonesia, dalam peluncuran Barbie one-of-a-kind di Museum Nasional, Kamis, 14 Agustus 2025.
     

     
    Tak hanya Sawunggaling, gaun Barbie edisi khusus one-of-a-kind juga memadukan motif parang. Salah satu motif batik klasik ini melambangkan kekuatan, tekad, dan ketekunan. Terdapat pula ornamen bunga yang memberi kesan anggun dan mewakili karakter perempuan Indonesia.
     
    “Lalu warna merah menggambarkan semangat bendera Indonesia sekaligus identitas kita,” ujar Roy Tendean.
     
    Roy menegaskan, peluncuran ini bukan sekadar merayakan hari jadi, melainkan juga menandai perjalanan panjang kerja sama antara Mattel dan Indonesia. Sejak 1992, Mattel telah mengoperasikan fasilitas produksi utama di Tanah Air. Kini, melalui PT Mattel Indonesia, lebih dari dua juta boneka diproduksi setiap minggunya.
     

     
    “Kita merayakan pencapaian luar biasa bagi Indonesia dan Mattel. Hari ini kita merayakan kisah kemajuan, dampak positif, serta nilai-nilai pemberdayaan, ketangguhan, warisan, dan aset budaya,” kata Roy.
     
    Boneka Barbie edisi khusus ini diproduksi secara eksklusif di fasilitas PT Mattel Indonesia dan akan mulai dirilis ke publik menjelang 17 Agustus 2025. Lebih dari sekadar koleksi, Barbie ini menjadi simbol sejarah, warisan, dan harapan bagi generasi mendatang.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

    (PRI)

  • Pesona Pantai Kolbano dan Tantangan Jalan Rusak Menuju PLBN Motamasin
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        13 Agustus 2025

    Pesona Pantai Kolbano dan Tantangan Jalan Rusak Menuju PLBN Motamasin Megapolitan 13 Agustus 2025

    Pesona Pantai Kolbano dan Tantangan Jalan Rusak Menuju PLBN Motamasin
    Tim Redaksi
    NUSA TENGGARA TIMUR, KOMPAS.com
    – Perjalanan menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motamasin, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), langsung disambut decak kagum.
    Udara segar bercampur hangatnya sinar matahari pagi menyapa begitu saya, Ahmad Zilky, jurnalis Kompas.com, mendarat di Bandara El Tari, Kota Kupang, Rabu (13/8/2025) pagi.
    Langit biru bersih seakan menjadi karpet pembuka untuk menyusuri wilayah Indonesia Timur.
    Bersama tim dari Badan Nasional Pembangunan Perbatasan (BNPP), kami melanjutkan perjalanan darat menuju PLBN Motamasin dengan menumpang minibus.
    Tepat pukul 07.00 WITA, rombongan berangkat, meninggalkan hiruk pikuk Kota Kupang menuju jalur lintas selatan.
    Belum genap lima menit, pemandangan hijau mulai menguasai pandangan. Deretan pohon rindang di tepi jalan beraspal mulus mengiringi perjalanan.
    Dari kejauhan, Gunung Fatuleu menjulang gagah setinggi 1.108 meter di atas permukaan laut, menambah pesona rute ini.
    Saat masih larut menikmati panorama, Diah, salah satu anggota tim BNPP, mengusulkan singgah ke Pantai Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
    “Kita ke Pantai Kolbano dulu, ya,” katanya singkat.
    Tanpa pikir panjang, mobil langsung diarahkan menuju jalur Toineke. Setelah sekitar 3 jam 30 menit perjalanan, pukul 10.38 WITA, kami tiba di Pantai Kolbano.
    Begitu melangkah keluar mobil, semua lelah sirna. Di hadapan saya terbentang hamparan kerikil warna-warni berpadu pasir, dengan batu karang raksasa berdiri anggun di bibir pantai.
    Air laut bergradasi putih, pirus, hingga biru tua berkilau di bawah sinar matahari. Bukit-bukit di kejauhan melengkapi lanskap nan elok itu.
    “Kalau hari libur, ada biaya masuk Rp10.000,” ujar Beni, sopir kami, sambil menunjuk deretan gubuk sederhana tempat pengunjung biasa duduk menatap ombak kecil yang menari di tepi pantai.
    Tiga puluh menit berlalu, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Betun, ibu kota Kabupaten Malaka. Namun, keindahan berganti kejutan begitu memasuki wilayah Oetuke.
    Jalan mulus mendadak terputus oleh jalur yang rusak akibat longsor dua bulan lalu. Aspal yang terbelah membuat permukaan tidak rata dan dipenuhi lubang.
    “Dua bulan lalu rusak, itu terputus,” kata Beni sambil menunjuk bagian jalan yang bergelombang.
    Kami berempat saling berpandangan, tak menyangka jalur utama ini belum juga diperbaiki meski dilalui truk dan mobil setiap hari.
    Beni yang sudah hafal medan, dengan perlahan mengarahkan mobil melewati sisi yang masih bisa dilintasi.
    Guncangan keras membuat tubuh tergoyang, bahkan sempat memaksa kami memejamkan mata untuk meredam rasa mual.
    Begitu jalan kembali rata, rombongan kembali menikmati pemandangan pepohonan yang berbaris di kiri-kanan jalan hingga akhirnya tiba di penginapan di Betun menjelang sore.
    Ekspedisi wilayah perbatasan ini merupakan kerja sama redaksi Kompas.com dengan BNPP. Selain PLBN Motamasin, perjalanan serupa juga dilakukan ke PLBN Motaain dan PLBN Aruk.
    Kisah lengkap perjalanan dan liputan perayaan HUT ke-80 RI 2025 dapat diikuti di kanal khusus
    HUT ke-80 RI
    .
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Tak Hanya Motor Mahasiswa KKN, Ekskavator Juga Dicuri di Lumajang
                
                    
                        
                            Surabaya
                        
                        11 Agustus 2025

    Tak Hanya Motor Mahasiswa KKN, Ekskavator Juga Dicuri di Lumajang Surabaya 11 Agustus 2025

    Tak Hanya Motor Mahasiswa KKN, Ekskavator Juga Dicuri di Lumajang
    Tim Redaksi
    LUMAJANG, KOMPAS.com
    – Pencurian di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ternyata tidak hanya menyasar kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat.
    Namun, alat berat jenis ekskavator yang berbobot 15 ton juga tak luput jadi incaran para pelaku kriminal di Lumajang.
    Insiden pencurian ekskavator ini terjadi pada 7 Juli 2025 di tempat penimbunan kayu (TPK) hasil penebangan Perhutani di Desa Sarikemuning, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
    Pemilik ekskavator diketahui bernama Alan Anggun Febrianto, seorang pekerja lepas yang membantu proses muat kayu dari Perhutani.
    Alan mengatakan, pencurian ekskavator ini menyebabkan dirinya merasakan kerugian mencapai Rp 1,5 miliar.
    Menurutnya, kasus pencurian ekskavator ini sudah dilaporkan ke polisi.
    “Saat ini kasusnya sudah kita laporkan ke polisi dan kami terus tindak lanjuti progresnya agar segera tertangani, kerugian perkiraan sekitar Rp 1,5 miliar,” kata Alan di Lumajang, Senin (11/8/2025).
    Mandor operasional TPK, Arifin, mengatakan, saat ekskavator ini dicuri, sebenarnya ada beberapa warga yang melihat.
    Namun, warga saat itu tidak curiga karena menganggap yang sedang membongkar ekskavator adalah mekanik yang biasanya bekerja di sana.
    Saat itu, ekskavator dicuri dengan cara dibongkar dan diangkut menggunakan truk tronton.
    “Kejadiannya jam 9 malam sampai jam 2 malam itu informasi dari warga. Alat berat ini diangkut dengan menggunakan tronton. Awalnya warga tidak tahu kalau itu pencurian, dikiranya saya. Makanya saya cek ternyata bukan saya,” kata Arifin.
    Sementara itu, Kapolres Lumajang, AKBP Alex Sandy Siregar mengatakan, pihaknya masih melakukan proses penyelidikan terhadap hilangnya satu unit ekskavator di Lumajang.
    “Kasus ini masih dalam proses penyelidikan, segera akan kita tuntaskan. Sejauh ini belum (ada kendala) dan prosesnya masih dilakukan bertahap,” kata Alex.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Prabowo Sambut Kunjungan Presiden Peru dengan Upacara Militer

    Prabowo Sambut Kunjungan Presiden Peru dengan Upacara Militer

    Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi menerima kunjungan kenegaraan Presiden Republik Peru Dina Boluarte, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (11/8/2025).

    Menurut pantauan Bisnis, upacara penyambutan kenegaraan digelar dengan penuh kehormatan, termasuk 21 dentuman meriam yang mengiringi kedatangan Presiden Boluarte.

    Presiden Peru tiba di ruang Kredensial pukul 10.18 WIB dan menandatangani buku tamu kenegaraan. Dalam momen tersebut, Presiden Boluarte tampil anggun mengenakan gaun berwarna hijau terang.

    Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Peru, khususnya dalam bidang perdagangan, pertanian, dan kerja sama ekonomi.

    Terlihat sejumlah delegasi Peru yang mendampingi Presiden Boluarte terdiri dari Menteri Luar Negeri Peru Elmer Schialer Salcedo, Menteri Ekonomi dan Keuangan Raúl Pérez – Reyes Espejo, Menteri Pembangunan Agraria dan Irigasi Angel Amnero Campo, Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pariwisata Úrsula Desilú León Chempén, Sekretaris Jenderal Kantor Kepresidenan Enrique Vilchez Vilchez.

    Lalu ada Duta Besar Peru untuk Indonesia Luis Tsuboyama, Direktur Jenderal Asia dan Oseania, Kementerian Luar Negeri Peru Fernando Quiros Campos

    Sementara itu, delegasi Indonesia yang hadir dalam penyambutan terdiri dari Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Budi Santosa

    Setelah upacara penyambutan, kedua kepala negara dijadwalkan melakukan pertemuan bilateral dan menyaksikan penandatanganan sejumlah nota kesepahaman kerja sama di berbagai sektor strategis.

  • Festival Budaya Dayak Kayan Menjaga Warisan dan Persatuan

    Festival Budaya Dayak Kayan Menjaga Warisan dan Persatuan

    Kutai Timur, Beritasatu.com – Desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kutai Timur, seakan berubah menjadi panggung megah bagi kebudayaan Dayak Kayan. Festival budaya Dayak Kayan UFAH 2025 dibuka dengan gemerlap sembilan tarian otentik Umaq Lekan yang sarat filosofi, estetika, dan makna kehidupan.

    Sejak denting musik tradisional pertama menggema, sorak kagum dan tepuk tangan penonton tak henti mengiringi setiap gerak anggun para penari. Bukan sekadar hiburan, kesembilan tarian ini menjadi refleksi siklus kehidupan masyarakat Kayan, mulai dari rasa syukur atas panen, penghormatan kepada Dewi Padi, hingga doa untuk kemakmuran dan perlindungan tanaman dari hama.

    Tarian Hudoq Aruq atau Bateang Bueang membuka rangkaian, melambangkan rasa syukur atas kelimpahan hasil panen. Disusul Hudoq Kitaq yang menghadirkan simbol Dewi Padi, lalu Hifan Sau dan Hifan Seang, tarian pria dan wanita untuk merayakan kemenangan adat.

    Tarian Jat Alat menandai awal kehidupan baru pasca panen, sementara Hudoq Kap/Kusap Nga-eang menampilkan kesakralan topeng kulit kayu. Hudoq Kuhau hadir sebagai pengusir hama dan penyakit, sedangkan Tingeang Urip (Enggang) serta Manuk Inuq membawa pesan kebesaran, perdamaian, dan kemakmuran.

    Keindahan busana tradisional yang penuh warna, irama musik khas, dan gerak tari yang memikat menjadikan pertunjukan ini jauh melampaui definisi hiburan biasa. “Budaya ini adalah identitas kita. Tugas kita menjaganya, melestarikan, dan mewariskannya kepada generasi muda agar tidak hilang dimakan zaman,” ujar H Bahcok Riandi, anggota DPRD Kutim dari Fraksi Partai Demokrat dalam keterangan tertulisnya, Minggu (10/8/2025).

    Bahcok menegaskan pentingnya dukungan terhadap kegiatan seperti ini. “Festival UFAH bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga modal sosial dan ekonomi. Dengan promosi yang tepat, acara ini bisa menjadi magnet wisata budaya sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat,” ucapnya.

    Penyelenggaraan festival budaya Dayak Kayan UFAH 2025 diharapkan mampu mempererat persatuan di kalangan masyarakat Kayan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya mereka kepada publik yang lebih luas.

    Bagi Kutai Timur, UFAH adalah perayaan warisan leluhur dan langkah strategis untuk menjaga identitas, memupuk kebersamaan, dan menggerakkan roda perekonomian daerah.