Tag: Anggun

  • Masih Mualaf, Ruben Onsu Jadi Imam Salat untuk Desy Ratnasari, Sahkah?

    Masih Mualaf, Ruben Onsu Jadi Imam Salat untuk Desy Ratnasari, Sahkah?

    Jakarta, Beritasatu.com – Selebritas Ruben Onsu jadi imam salat untuk Desy Ratnasari dan putrinya, Nasywa, menjadi perbincangan hangat warganet, Selasa (8/4/2024). Momen tersebut terekam dalam sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @by_abank dan langsung menyita perhatian publik.

    Dalam video itu, terlihat Ruben mengenakan kaus polo biru muda dan celana jin, berdiri di barisan paling depan memimpin salat berjamaah. Sementara Desy Ratnasari tampil anggun dengan mukena ungu bermotif putih, dan Nasywa mengenakan mukena serbaputih.

    “Dan, Alhamdulillah-nya untuk pertama kalinya @ruben_onsu menjadi imam salatnya. Masyaallah,” tulis sang pengunggah, mengungkapkan rasa harunya melihat perkembangan spiritual Ruben yang belum lama ini memutuskan menjadi mualaf.

    Ruben Onsu jadi imam salat memang menimbulkan pertanyaan bagi sebagian orang. Apakah seorang mualaf yang baru memeluk Islam sudah sah menjadi imam salat?

    Ruben Onsu jadi imam salat untuk Desy Ratnasari dan putrinya. – (Beritasatu.com/Instagram)

    KH Agung Cahyadi, Lc, MA dari Dompet Al-Qur’an Indonesia yang dikutip dari kanal YouTube Dompet Al-Qur’an Indonesia menjelaskan bahwa sah tidaknya seseorang menjadi imam salat ditentukan oleh beberapa kriteria. Yang utama, kata dia, adalah bacaan salatnya. Imam sebaiknya adalah orang yang paling baik bacaannya, termasuk tajwidnya, hafalannya, dan pemahaman tentang aturan salat.

    “Kalau bacaannya baik, tajwidnya benar, dan tidak keliru dalam rukun salat, maka sah saja,” jelas KH Agung.

    Ia menambahkan, mualaf boleh menjadi imam, asalkan sudah memahami aturan dasar salat dan mampu melafalkan bacaan salat dengan baik. “Jangan sampai karena tidak tahu tajwid atau salah baca, justru maknanya berubah. Itu yang harus dihindari,” katanya.

    Menurutnya kemampuan memahami aturan dasar salat dan melafalkan Al-Qur’an dan bacaan salat adalah mutlak dimiliki imam salat. “Orang fasik asal memenuhi kriteria itu bisa menjadi imam salat, meski jemaahnya tidak suka,” jelasnya. 

    Momen Ruben Onsu jadi imam salat memang menyentuh banyak hati, tetapi juga mengingatkan pentingnya ilmu dasar sebelum memimpin ibadah. Keputusan Ruben untuk memeluk Islam dan langsung tampil memimpin salat tentu menjadi perjalanan spiritual yang tak biasa, namun tetap harus diiringi dengan pemahaman yang benar tentang ibadah itu sendiri.

  • Fakta Unik Baju Adat Padang Magek dari Minangkabau

    Fakta Unik Baju Adat Padang Magek dari Minangkabau

    Liputan6.com, Jakarta – Baju adat Padang Magek yang berasal dari Minangkabau merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi bentuk, warna, maupun makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Setiap elemen yang terdapat dalam busana adat ini mencerminkan nilai-nilai budaya Minangkabau yang sarat akan makna simbolis serta estetika yang tinggi.

    Pakaian adat Minangkabau ini umumnya dikenakan oleh kaum perempuan dalam berbagai upacara adat dan kegiatan penting seperti pernikahan, batagak panghulu, dan acara kebesaran lainnya.

    Kombinasi antara kain beludru hitam yang mewah, sulaman benang emas atau perak, serta hiasan kepala khas menjadikan pakaian ini begitu anggun dan sarat makna.Salah satu komponen utama dari baju adat Padang Magek adalah Lambak atau Kodek, yaitu kain beludru hitam yang dihiasi dengan minsie dan sulaman benang emas atau perak berbentuk pucuak rabuang (tunas bambu).

    Motif pucuak rabuang ini bukan sekadar hiasan semata, tetapi melambangkan pertumbuhan dan harapan, karena bambu yang masih muda memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi pohon yang kuat dan bermanfaat bagi kehidupan.

    Sulaman emas dan perak yang menghiasi kain lambak ini menambah kesan mewah dan berkelas, sekaligus menunjukkan status sosial pemakainya dalam masyarakat adat Minangkabau.

    Selain Pambak, bagian atas busana ini terdiri dari Baju Kurung Basiba, yang merupakan atasan pendek berbahan kain beludru hitam dengan lengan lebar. Sama seperti Lambak, baju ini juga dihiasi dengan minsie dan sulaman benang emas atau perak yang menampilkan motif pucuak rabuang.

    Model baju kurung yang longgar mencerminkan nilai-nilai kesopanan dan kelembutan seorang perempuan Minangkabau. Dalam budaya Minangkabau, perempuan dihormati sebagai bundo kanduang, sosok yang memiliki peran penting dalam keluarga dan masyarakat, sehingga pakaian yang dikenakan pun harus mencerminkan karakter dan martabat yang tinggi.

    Sebagai pelengkap, busana ini juga dilengkapi dengan Selanggan atau Sandak, yakni kain panjang berbahan sutera merah yang diselempangkan di bahu. Kain ini biasanya dihiasi dengan sulaman benang emas atau perak yang menambah kesan megah dan elegan.

  • Fakta Unik Baju Adat Padang Magek dari Minangkabau

    Fakta Unik Baju Adat Padang Magek dari Minangkabau

    Liputan6.com, Jakarta – Baju adat Padang Magek yang berasal dari Minangkabau merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki keunikan tersendiri, baik dari segi bentuk, warna, maupun makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Setiap elemen yang terdapat dalam busana adat ini mencerminkan nilai-nilai budaya Minangkabau yang sarat akan makna simbolis serta estetika yang tinggi.

    Pakaian adat Minangkabau ini umumnya dikenakan oleh kaum perempuan dalam berbagai upacara adat dan kegiatan penting seperti pernikahan, batagak panghulu, dan acara kebesaran lainnya.

    Kombinasi antara kain beludru hitam yang mewah, sulaman benang emas atau perak, serta hiasan kepala khas menjadikan pakaian ini begitu anggun dan sarat makna.Salah satu komponen utama dari baju adat Padang Magek adalah Lambak atau Kodek, yaitu kain beludru hitam yang dihiasi dengan minsie dan sulaman benang emas atau perak berbentuk pucuak rabuang (tunas bambu).

    Motif pucuak rabuang ini bukan sekadar hiasan semata, tetapi melambangkan pertumbuhan dan harapan, karena bambu yang masih muda memiliki potensi besar untuk tumbuh menjadi pohon yang kuat dan bermanfaat bagi kehidupan.

    Sulaman emas dan perak yang menghiasi kain lambak ini menambah kesan mewah dan berkelas, sekaligus menunjukkan status sosial pemakainya dalam masyarakat adat Minangkabau.

    Selain Pambak, bagian atas busana ini terdiri dari Baju Kurung Basiba, yang merupakan atasan pendek berbahan kain beludru hitam dengan lengan lebar. Sama seperti Lambak, baju ini juga dihiasi dengan minsie dan sulaman benang emas atau perak yang menampilkan motif pucuak rabuang.

    Model baju kurung yang longgar mencerminkan nilai-nilai kesopanan dan kelembutan seorang perempuan Minangkabau. Dalam budaya Minangkabau, perempuan dihormati sebagai bundo kanduang, sosok yang memiliki peran penting dalam keluarga dan masyarakat, sehingga pakaian yang dikenakan pun harus mencerminkan karakter dan martabat yang tinggi.

    Sebagai pelengkap, busana ini juga dilengkapi dengan Selanggan atau Sandak, yakni kain panjang berbahan sutera merah yang diselempangkan di bahu. Kain ini biasanya dihiasi dengan sulaman benang emas atau perak yang menambah kesan megah dan elegan.

  • Apa Yang Palsu: Giginya atau Ijazahnya?

    Apa Yang Palsu: Giginya atau Ijazahnya?

    Oleh: Ali SyariefKonon, gigi adalah jendela kepribadian. Maka tak heran bila di negara ini, kita bisa membaca banyak hal hanya dari deretan enamel di balik senyuman seorang pemimpin.

    Mari kita bicara soal hal serius: gigi.

    Dalam foto ijazah sarjana yang disebut-sebut sebagai milik Presiden Jokowi—yang belakangan ramai dibicarakan karena diduga palsu—terpampang wajah muda seorang pria dengan senyum manis dan gigi yang begitu rapi, layaknya hasil kerja ortodontis kelas dunia. Sungguh, sebaris gigi yang bisa membuat model pasta gigi iri hati.

    Tapi kemudian, mari kita tatap senyum Pak Jokowi hari ini, dalam balutan jas kepresidenan. Apa yang kita lihat? Gingsul. Gigi menyelip ke depan dengan anggun, khas dan menawan, hingga bisa membuat Soimah minder. Bedanya, Soimah rela membayar ratusan juta untuk menghilangkan gingsulnya. Jokowi? Entah bagaimana, dari gigi super rapi di usia muda, kini tampil dengan gingsul yang menyembul penuh percaya diri.

    Pertanyaannya sederhana, kenapa?

    Apakah ini semacam proses “reverse aesthetic dentistry”? Atau mungkin Jokowi ingin menekankan ke-rakyat-an dengan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal dalam giginya? Atau mungkin, gigi rapi adalah tanda kemapanan terlalu dini yang tak sesuai narasi “anak tukang kayu,” dan karena itu harus dikoreksi?

    Atau… barangkali justru kita semua yang terlalu jahat, terlalu curiga, terlalu sinis. Mungkin ini hanya keajaiban evolusi: gigi bisa berubah arah sesuai kebutuhan politik. Sebuah proses adaptasi biologis yang belum pernah dikaji dalam jurnal ilmiah, tapi sangat nyata di hadapan kita.

    Ya, tentu saja kita harus adil. Banyak hal bisa berubah seiring waktu—rambut memutih, kulit berkerut, bahkan prinsip bisa fleksibel. Tapi gigi? Yang dulu rapi lalu jadi gingsul? Itu bukan penuaan biasa, kawan. Itu seni.

    Maka mari kita akhiri dengan sebuah refleksi mendalam: siapa yang sebenarnya palsu, ijazahnya atau senyumnya? Dan mana yang lebih penting—keaslian gigi, atau keaslian kepemimpinan?

  • Putri Ridwan Kamil Putuskan Berlebaran di Inggris, Sampaikan Pesan Idul Fitri di Instagram Story – Halaman all

    Putri Ridwan Kamil Putuskan Berlebaran di Inggris, Sampaikan Pesan Idul Fitri di Instagram Story – Halaman all

    Camillia Laetitia Azzahra, putri Ridwan Kamil memutuskan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah di Inggris dan tidak mudik ke Bandung.

    Tayang: Rabu, 2 April 2025 06:59 WIB

    Instagram

    BERLEBARAN DI INGGRIS – Pose Camillia Laetitia Azzahra di Instagram Story di hari pertama Idul Fitri 1446 Hijriah, Senin, 31 Maret 2023 

    TRIBUNNEWS.COM, LONDON – Camillia Laetitia Azzahra, putri mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, memutuskan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah di Inggris dan tidak mudik ke Bandung.

    Keputusan ini dia ambil di tengah kontroversi publik tentang hubungan personal ayahnya dengan seorang model syur yang belakangan jadi perbincangan netizen di media sosil.

    Perempuan yang akrab disapa Zara ini membagikan foto dirinya mengenakan busana putih dan pesan Lebaran melalui Instagram Story pada hari pertama Idul Fitri, Senin, 31 Maret 2025.

    “Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat hari raya Idulfitri,” tulisnya dalam unggahan tersebut.

    Dalam foto yang ia bagikan, Zara tampil sederhana namun tetap anggun dengan balutan gamis warna putih sederhana.

    Putri hasil pernikahan Ridwan Kamil dan Atalia Praratya ini berada di Inggris untuk menjalani studi arsitektur di Newcastle University, sejak 2023.

    Keputusan Zara tidak merayakan Lebaran di Indonesia menimbulkan berbagai reaksi di kalangan netizen. 

    Sebagian mempertanyakan alasannya, sementara yang lain mendukung pilihannya untuk tetap fokus pada pendidikan.

    Sumber: Warta Kota

     

    “);
    $(“#latestul”).append(“”);
    $(“.loading”).show();
    var newlast = getLast;
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest_section/?callback=?”, {start: newlast,section:’1′,img:’thumb2′}, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast + 1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;
    if(val.c_url) cat = “”+val.c_title+””;
    else cat=””;

    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }
    else{
    $(“#latestul”).append(‘Tampilkan lainnya’);
    $(“#test3”).val(“Done”);
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    else if (getLast > 150) {
    if ($(“#ltldmr”).length == 0){
    $(“#latestul”).append(‘Tampilkan lainnya’);
    }
    }
    }
    });
    });

    function loadmore(){
    if ($(“#ltldmr”).length > 0) $(“#ltldmr”).remove();
    var getLast = parseInt($(“#latestul > li:last-child”).attr(“data-sort”));
    $(“#latestul”).append(“”);
    $(“.loading”).show();
    var newlast = getLast ;
    if($(“#test3”).val() == ‘Done’){
    newlast=0;
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest”, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast + 1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;
    if(val.c_url) cat = “”+val.c_title+””;
    else cat=””;
    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }else{
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    else{
    $.getJSON(“https://api.tribunnews.com/ajax/latest_section/?callback=?”, {start: newlast,section:sectionid,img:’thumb2′,total:’40’}, function(data) {
    $.each(data.posts, function(key, val) {
    if(val.title){
    newlast = newlast+1;
    if(val.video) {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = ” “;
    }
    else
    {
    var vthumb = “”;
    var vtitle = “”;
    }
    if(val.thumb) {
    var img = “”+vthumb+””;
    var milatest = “mr140”;
    }
    else {
    var img = “”;
    var milatest = “”;
    }
    if(val.subtitle) subtitle = “”+val.subtitle+””;
    else subtitle=””;

    $(“#latestul”).append(“”+img+””);
    }else{
    return false;
    }
    });
    $(“.loading”).remove();
    });
    }
    }

    Berita Terkini

  • RK dan Atalia Tak Jalan Bareng untuk Salat Id, Rumah Tangga Goyah?

    RK dan Atalia Tak Jalan Bareng untuk Salat Id, Rumah Tangga Goyah?

    Jakarta, Beritasatu.com – Ridwan Kamil atau RK mengambil keputusan untuk berpisah jalan dengan istrinya, Atalia Praratya, saat melaksanakan salat Idulfitri. Keputusan ini menarik perhatian publik setelah adanya pengakuan dari selebgram Lisa Mariana yang mengklaim memiliki anak dari Ridwan Kamil. Rumah tangga keduanya goyah?

    Ridwan Kamil dan Atalia Praratya memilih untuk melaksanakan salat Idulfitri di lingkungan rumah mereka yang terletak di Jalan Gunung Kencana, Ciumbuleuit, Bandung, Jawa Barat. Momen tersebut diunggah ulang oleh akun Instagram @pembasmi.kehaluan.reall.

    Dalam video yang dibagikan, terlihat Ridwan Kamil mengenakan baju koko putih lengan panjang dan celana panjang hitam. Sementara itu, Atalia Praratya tampil anggun dengan busana serba putih yang serasi dengan kakak dan ibunya.

    Namun, yang lebih menarik perhatian adalah saat pulang menuju rumah, Ridwan Kamil memilih untuk pulang lebih dulu tanpa menunggu istrinya, Atalia Praratya. Keputusan ini semakin menambah spekulasi terkait hubungan mereka.

    “Saya sudah menunjuk tim hukum untuk menangani hal ini, jadi silakan hubungi tim hukum saya. Terima kasih,” ujar Ridwan Kamil, Selasa (1/4/2025).

    Di sisi lain, Atalia Praratya menjelaskan bahwa memilih melaksanakan salat Idul Fitri di Ciumbuleuit adalah tradisi keluarga yang sudah berlangsung setiap tahunnya.

    “Kami selalu merayakan Idulfitri bersama warga sekitar. Rumah kami berada di sini dan kami sudah lama tinggal di sini, jadi berinteraksi dengan warga sudah menjadi kebiasaan,” ujar Atalia Praratya yang tampak melaksanakan salat Idulfitri dan pulang tidak bareng Ridwan Kamil atau RK.

  • 1
                    
                        Didit Hediprasetyo, Anak Prabowo yang Luwes Rajut Komunikasi Politik 
                        Nasional

    1 Didit Hediprasetyo, Anak Prabowo yang Luwes Rajut Komunikasi Politik Nasional

    Didit Hediprasetyo, Anak Prabowo yang Luwes Rajut Komunikasi Politik
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Putra tunggal Presiden
    Prabowo Subianto
    ,
    Didit Hediprasetyo
    , menjadi sorotan usai mengunjungi sejumlah tokoh nasional pada hari pertama Idul Fitri 1446 Hijriah, Senin (31/3/2025).
    Pada hari pertama Lebaran ini, Didit terlihat mengunjungi kediaman Presiden ke-5 RI
    Megawati Soekarnoputri
    di Menteng, Jakarta Pusat.
    Didit hanya tersenyum setelah satu jam berada di dalam kediaman Ketua Umum PDI Perjuangan itu.
    Berselang beberapa jam, Didit sudah terlihat berada di Solo, Jawa Tengah untuk berlebaran ke rumah Presiden ke-7 RI
    Joko Widodo
    (Jokowi).
    Sebelum ayahnya naik ke kursi nomor satu di Indonesia, Didit diketahui fokus di dunia tata busana atau fashion.
    Nama Didit lebih dikenal sebagai desainer papan atas berkat karya-karyanya. Terlebih, rancangannya rutin mengisi panggung peragaan Paris Fashion Week.
    Gaun rancangan Didit juga pernah dikenakan sejumlah tokoh publik, baik mancanegara maupun nasional. Misalnya, Anggun C Sasmi dan Carly Rae Jepsen.
    Beberapa waktu yang lalu, tepatnya, Minggu (23/3/2025), postingan di Instagram milik Annisa Pohan, istri dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menarik perhatian publik.
    Dalam foto itu, terlihat semua anak presiden hingga cucu dan mantu mereka berkumpul untuk merayakan ulang tahun Didit yang ke-41.
    Mereka yang terlihat hadir antara lain, Wakil Presiden Gibran Rakabuming dan Selvi Ananda, Kaesang Pangarep, dan Erina Gudono.
    Kemudian, ada Puan Maharani, Guruh Soekarnoputra, Pinka Hapsari, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Annisa Pohan, serta Siti Rubi Aliya Rajasa. Hadir juga Yenny Wahid dan Ilham Habibie.
    Kedatangan Didit berlebaran ke Megawati disebut menjadi pertanda kalau hubungan Prabowo Subianto dengan pendahulunya itu baik dan akrab.
    Juru Bicara PDI Perjuangan Ahmad Basarah kembali menekankan soal hubungan antara Prabowo dan Megawati yang selama ini baik-baik saja.
    “Karena Ibu Mega berulang-ulang mengatakan bahwa hubungan pribadi antara Ibu Mega dan Pak Prabowo itu sangat baik sejak dulu hingga sekarang,” ujar Basarah saat ditemui di depan rumah Megawati di Menteng, Jakarta Pusat, pada hari Idul Fitri 1446 Hijriah, Senin (31/3/2025).
    Didit sendiri terkenal dekat dengan keluarga Megawati. Hal ini terlihat dari pertemanan Didit dengan cucu Megawati, Pinka Haprani yang merupakan anak dari Puan Maharani.
    “Mas Didit juga sahabat baik dengan Mbak Pinka, cucu Ibu Mega, putri Mbak Puan Maharani,” kata Basarah lagi.
    Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani yang juga bersilaturahmi ke rumah Megawati di hari pertama Lebaran.
    Muzani mengatakan putra Presiden Prabowo Subianto, Didit Hediprasetyo, saat akrab dengan keluarga Ketua DPR RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani.
    “Didit sangat akrab dengan Ibu Puan dan keluarga Bu Puan di sini,” ujar Muzani saat ditemui awak media di depan rumah Megawati.
    Bahkan, Didit disebutkan sangat menikmati suasana Lebaran di rumah Megawati.
    “Jadi, beliau menikmati suasana Lebaran ini,” lanjut Muzani.
    Muzani mengatakan, dirinya dan Didit sangat akrab dengan keluarga Megawati.
    “Ya kita semua akrab karena Lebaran,” kata dia.
    Kedatangan Didit ke Menteng dan Solo disebut merupakan upaya Prabowo untuk menjaga keseimbangan politik antara Megawati dan Jokowi.
    “Didit adalah replika politik Prabowo. Safari ke Jokowi dan Mega tentu sebagai upaya menjaga keseimbangan politik antara Teuku Umar dan Solo,” ujar Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, saat dihubungi Kompas.com.
    Adi menilai, melalui Didit, Prabowo ingin menunjukkan kalau dirinya adalah presiden yang bersahabat dengan para presiden terdahulu.
    “Prabowo melalui Didit ingin tunjukkan ke publik bahwa ia adalah presiden yang bersahabat dengan mantan-mantan presiden terdahulu,” lanjut dia.
    Terlebih, keseimbangan politik antara Solo dan Menteng ini tidak mudah dijalin mengingat posisi keduanya saat ini.
    “Apapun judulnya, tentu tak mudah menjaga keseimbangan politik antara Jokowi dan Mega mengingat kedua sosok ini sedang berkonflik serius,” kata Adi.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Gaya Elegan Selvi Ananda Pakai Baju Kurung saat Hadiri Open House di Istana

    Gaya Elegan Selvi Ananda Pakai Baju Kurung saat Hadiri Open House di Istana

    JAKARTA – Penampilan Selvi Ananda, istri Wapres Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri open house atau Gelar Griya Hari Raya Idulfitri 1446 H di Istana Negara, Jakarta, mendapat sorotan publik.

    Di tengah dominasi busana serba putih yang biasanya identik dengan perayaan Lebaran, menantu Joko Widodo ini memilih untuk tampil berbeda dengan sentuhan warna pink.

    Ia mendampingi Gibran Rakabuming dalam acara open house yang digelar oleh Presiden Prabowo Subianto.

    Sebagai istri seorang pejabat tinggi negara, Selvi tetap mempertahankan gaya elegan dan sederhana yang menjadi ciri khasnya. Kali ini, ia memilih atasan bersiluet baju kurung nuansa pink dengan kain senada.

    Busana tersebut dihiasi dengan detail embellishment yang mempercantik tampilannya. Sebuah aksen pita asimetris di bagian kerah sebelah kanan memberikan sentuhan feminin yang anggun dan berkelas.

    Sementara itu, kain lilit bernuansa pink dengan motif floral menjadi pemanis yang membuat gayanya semakin serasi.

    Sebagai pelengkap gaya, Selvi terlihat menenteng tas Lady Dior keluaran rumah mode Christian Dior. Tas ini semakin menambah kesan mewah, namun tetap elegan pada penampilannya.

    Untuk tatanan rambut, Selvi memilih gaya sanggul modern yang simpel namun tetap memperlihatkan sisi anggun. Gaya ini semakin mempertegas aura kelembutan sekaligus kewibawaannya sebagai pendamping Wakil Presiden.

    Tak hanya Selvi, putri bungsunya, La Lembah Manah juga tampil dalam busana serupa yang senada dengan sang ibu. Penampilan kompak ini menambah kesan manis dalam perayaan Lebaran keluarga kecil mereka.

    Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka dan putra sulungnya, Jan Ethes memilih tampilan yang lebih klasik dengan mengenakan baju koko berwarna putih gading dipadukan dengan celana bahan hitam. Sebagai pelengkap, Gibran juga mengenakan peci hitam yang memberikan nuansa formal dan khas dalam tradisi Lebaran.

    Lebaran tahun ini menjadi momen spesial bagi Selvi Ananda, karena untuk pertama kalinya ia menghadiri perayaan Idulfitri sebagai istri Wakil Presiden. Pilihan busananya yang memadukan unsur tradisional dengan sentuhan modern mencerminkan gaya khasnya yang anggun dan elegan.

  • Heboh, Danilla Riyadi Unggah Foto Bersama Pria, Terungkap Fakta di Bulan November 2024 Lalu

    Heboh, Danilla Riyadi Unggah Foto Bersama Pria, Terungkap Fakta di Bulan November 2024 Lalu

    Heboh, Danilla Riyadi Unggah Foto Bersama Pria, Terungkap Fakta di Bulan November 2024 Lalu

    TRIBUNJATENG.COM- Danilla Riyadi, penyanyi solo yang baru-baru ini menghebohkan publik karena unggahan terbarunya.

    Melalui akun sosial media Instagram miliknya yakni @danillariyadi tampak mengunggah sejumlah foto pada Senin (31/3/2025).

    Dalam foto terbarunya, Danilla Riyadi tampak menuliskan keterangan bertuliskan:

    “Suatu hari di November,” tulis Danilla dalam unggahannya.

    Terungkap fakta terbaru, rupanya pelantun Senja di Ambang Pilu tersebut telah menikah sejak bulan November tahun 2024 lalu.

    Diketahui jika Danilla Riyadi telah menikah dengan seorang pria bernama Satryo Rizqi Ramadhan.

    Dalam foto unggahannya, ia tampak anggun mengenakan kebaya berwarna putih dengan rambut terikat.

    Sementara itu, Satryo Rizqi Ramadhan tampak mengenakan baju dengan warna putih seada dan mengenakan kacamata.

    Keduanya tampak kompak memamerkan cincin di jari manis masing-masing.

    Keduanya terlihat kompak tersenyum ke arah kamera, tampak bahagia.

    Danilla dan Satryo diketahui telah melangsungkan pernikahannya di Kantor Urusan Agama (KUA).

    Dalam unggahan yang sama, pada foto yang berbeda tampak Danilla mengunggah kehadiran sejumlah rekan terdekat mereka yang sama-sama bahagia merayakan momen penting Danilla dan sang suami.

    Tentu saja unggahan Danilla Riyadi menghebohkan warganet, khususnya bagi para pria penggemar Danilla.

    (*)

  • Idul Fitri, Saba, dan Solidaritas Kebangsaan
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        31 Maret 2025

    Idul Fitri, Saba, dan Solidaritas Kebangsaan Nasional 31 Maret 2025

    Idul Fitri, Saba, dan Solidaritas Kebangsaan
    Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI), Penulis Buku Politik Untuk Kemanusiaan
    LAKSANA
    musafir yang meniti gurun dengan kesabaran, kita baru saja melewati bulan penuh ujian, menahan diri dari hawa nafsu, dan membersihkan jiwa.
    Dalam suasana hari kemenangan, kita tidak sekadar merayakan pencapaian, tetapi juga menata rencana kemana akan melangkah setelah menjalani festival spiritual sepanjang bulan puasa.
    Idul Fitri
    adalah momen kembali suci. Kita telah melalui etape purifikasi. Pemurnian yang ditempuh sebulan penuh.
    Asabiyyah
    atau
    solidaritas
    sosial, adalah energi kolektif yang menjadi khazanah nilai Ramadhan.
    Kita menahan diri dari lapar dan dahaga bukan sekadar sebagai ritual fisik, tetapi untuk melatih kesabaran, mengekang ego, dan mengasah kepekaan. Kita berpuasa bukan semata untuk memetik benefit kesehatan, tetapi juga agar bisa merasakan keterbatasan orang lain.
    Kita menahan diri bukan hanya untuk mengendalikan hawa nafsu, tetapi agar memahami bahwa kita bukan pusat semesta. Dunia ini tidak selalu harus ditaklukkan dengan kekuatan, tetapi sering kali dengan kesabaran dan ketulusan.
    Sejarah menunjukkan bahwa kebangkitan dan kehancuran suatu peradaban selalu memiliki pola yang sama.
    Menyitir Ibnu Khaldun, kejayaan bangsa lahir dari
    asabiyyah
    atau solidaritas kolektif yang mengikat dan menggerakkan. Dengan semangat ini, peradaban besar lahir, membangun fondasi sosial yang kokoh, dan menorehkan namanya di panggung sejarah.
    Namun sejarah juga mencatat, kejayaan seringkali menjadi awal dari benih kejatuhan. Ibnu Khaldun memperingatkan bahwa kemakmuran, jika tidak dikelola dengan kebijaksanaan dan kesadaran kolektif, justru bisa menjadi awal kehancuran.
    Ketika suatu generasi terlena dengan kenyamanan, asabiyyah pun melemah. Rasa kebersamaan yang dahulu menjadi fondasi peradaban perlahan luntur, digantikan oleh individualisme, ketamakan, dan kemalasan.
    Tanpa disadari, peradaban mulai keropos sebelum akhirnya runtuh dari dalam.
    Ramadhan mengajarkan kita untuk kembali menguatkan solidaritas ini, agar kita tidak mengulang kesalahan sejarah.
    Kita diajak untuk menata kembali diri, memperbarui kebersamaan, dan menanamkan kembali semangat perjuangan. Sebab kejayaan sejati bukanlah sekadar soal kemakmuran, tetapi bagaimana kemakmuran itu dikelola dengan nilai-nilai yang menjaga peradaban tetap hidup.
    Lihatlah bagaimana negeri Saba’, yang digambarkan Al-Qur’an sebagai negeri yang makmur, kaya raya dan berlimpah sumber daya, akhirnya hancur karena kesombongan dan kehilangan solidaritas.
    Saba’ diberkahi dengan tanah subur, kebun-kebun anggur dengan hasil panen melimpah, dan kehidupan aman dan tenteram. Namun, penduduk negeri Saba’ kehilangan dimensi spiritual.
    Situasi kehidupan yang bergelimang kemewahan sumber daya alam membuat mereka lupa diri. Penduduk Saba’ mengabaikan nubuat. Mereka terlena. Lalu mulai berbuat melampaui batas.
    Perilaku itu diilustrasikan dalam Al-Qur’an pada Surah Saba’ ayat 15-17. Mereka dikaruniai dua kebun yang subur di kanan dan kiri, tetapi ketika mereka enggan bersyukur dan menjaga harmoni sosial, Allah menimpakan banjir besar (
    sail al-arim
    ), yang menghancurkan infrastruktur pertanian mereka dan mengubah tanah yang dahulu subur menjadi wilayah gersang.
    Kita teringat dengan apa yang disebut oleh Richard Auty sebagai kutukan sumber daya alam (
    resource curse
    ). Yaitu situasi keberlimpahan yang menjelma menjadi bencana.
    Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah mengidentifikasi ini sebagai fase kemunduran. Ketika kemewahan melahirkan sikap malas, rakus, dan kehilangan daya juang.
    Inilah yang terjadi pada Saba’. Kesejahteraan tak lagi dipandang sebagai tanggung jawab, tetapi sebagai hak yang
    taken for granted
    , penduduknya mulai berfoya-foya, korupsi merajalela, penyimpangan moral dinormalisasi, dan semangat gotong royong terkikis oleh individualisme.
    Sejarawan Arnold J. Toynbee yang telah meneliti 26 peradaban sepanjang sejarah umat manusia, dalam karyanya
    A Study of History
    juga menyoroti pola serupa.
    Menurutnya, deklinasi suatu peradaban tidak semata disebabkan ancaman eksternal, tetapi lebih sering berakar pada dekadensi internal. Etos kerja yang hilang, penyimpangan moral, dan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan tantangan zaman.
    Saba’ adalah contoh nyata dari apa yang Toynbee sebut sebagai
    suicidal state
    . Yaitu situasi di mana peradaban secara perlahan menghancurkan dirinya sendiri.
    Self destruction
    , karena kehilangan daya rekat solidaritas sosial serta nilai-nilai kebersamaan.
    Maka, sejarah Saba’ bukan sekadar kisah masa lalu, melainkan peringatan bagi kita semua. Sebuah negeri yang makmur bisa saja jatuh dalam kehancuran yang perih jika rakyat dan pemimpinnya gagal menjaga keseimbangan antara kesejahteraan dan moralitas.
    Jika asabiyyah melemah, jika rasa syukur tergantikan oleh kesombongan, dan jika kemewahan melahirkan ketamakan, maka kehancuran hanyalah soal waktu.
    Lihatlah pula bagaimana kekaisaran besar seperti Romawi, Abbasiyah, dan Utsmaniyah meredup. Mereka tidak runtuh dalam semalam, tetapi melemah perlahan.
    Bukan karena serangan musuh, tapi lagi-lagi terjadi dari dalam. Dipicu oleh demoralisasi yang meruntuhkan spirit solidaritas.
    Bangsa yang dulu tangguh karena persatuan, akhirnya tercerai-berai oleh pertikaian. Mereka yang dulu memimpin dunia dengan ilmu dan kekuatan, pada akhirnya menjadi catatan kaki dalam sejarah. Tertinggal sebagai kenangan.
    Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa kejayaan tanpa penguatan solidaritas hanya akan menjadi ilusi.
    Hari ini, kita harus bertanya, di manakah asabiyyah kita sebagai bangsa? Apakah kita akan menjaga persatuan agar kekayaan anugerah sumber daya alam tetap lestari?
    Kita adalah bangsa yang dihadiahi anugerah melimpah. Jika Al Qur’an mengisahkan Saba’ dengan begitu indah sebagai negeri kaya raya, maka bangsa kita tidak perlu berimajinasi untuk membayangkan bagaimana wujud negeri Saba’. Karena Indonesia, lebih dari Saba’.
    Indonesia bukan hanya sekadar wilayah geografis, tetapi ekosistem raksasa yang menyimpan kekayaan alam tiada tara.
    Salah satu karunia terbesar yang dimiliki negeri ini adalah hutan tropisnya, hutan dengan biodiversitas terbesar di dunia, yang menjadi paru-paru planet biru ini. Menjadi rumah bagi kehidupan yang tak terhitung jumlahnya.
    Bayangkanlah, di jantung negeri ini, terbentang lebih dari 126 juta hektare hutan tropis yang menyimpan sekitar 15 persen seluruh spesies yang ada di dunia. Luas hutan tropis itu, setara dengan 59 persen luas daratan Indonesia.
    Setiap helai daun di hutan tropis itu, laboratorium alami yang menyimpan perbendaharaan misteri kehidupan. Setiap pohonnya adalah penjaga keseimbangan ekosistem global yang menyerap karbon dan menghasilkan oksigen. Dihirup manusia di seluruh dunia.
    Zamrud khatulistiwa ini adalah rumah yang ramah bagi lebih dari 300.000 spesies fauna dan flora. Dari orangutan yang lembut di Kalimantan, harimau Sumatera yang gagah, hingga burung cendrawasih yang anggun di Papua.
    Namun, lebih dari sekadar keanekaragaman hayati, hutan kita juga menjadi sumber kehidupan bagi jutaan penduduk yang bergantung pada hasil hutan. Mulai dari rotan, kayu, rempah-rempah, hingga obat-obatan herbal yang belum terungkap seluruh potensinya.
    Gunung-gunungnya tegak perkasa, menjulang laksana pilar raksasa yang menopang langit, menyimpan kekayaan yang tak terhitung nilainya. Emas, nikel, gas bumi, dan aneka mineral berharga terpendam di perut bumi Indonesia, menunggu untuk dikelola dengan kearifan.
    Namun, sebagaimana peradaban besar yang pernah ada, kekayaan ini juga membawa tantangan tersendiri.
    Seperti negeri Saba’ yang runtuh karena ketamakan dan hilangnya solidaritas, hutan tropis kita pun berada di bawah bayang-bayang ancaman.
    Pembalakan liar, kebakaran hutan, alih fungsi lahan, dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali mengancam kelangsungan ekosistem ini. Sinyal tentang kerusakan ekosistem semakin intens berdenting. Banjir, longsor dan gejala perubahan iklim makin sering terjadi.
    Indonesia saat ini berada di puncak kemakmuran ekologis. Kita tidak boleh melewatkan momentum tersebut. Namun, jika kita tidak bijak mengelolanya, maka berkah ekologis bisa berubah menjadi kutukan.
    Ibnu Khaldun mengingatkan, peradaban yang tidak mampu menjaga keseimbangan antara kemakmuran dan keberlanjutan akan menghadapi kehancuran.
    Di sinilah peran kepemimpinan menjadi kunci. Visi besar diperlukan untuk memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia benar-benar digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 UUD 1945.
    Visi ini harus diwujudkan melalui strategi nyata, bukan sekadar retorika. Sejarah mengajarkan bahwa pemimpin bijak bukan hanya yang mampu mengelola kekayaan, tetapi juga yang mampu menjaga harmoni sosial dan solidaritas rakyatnya.
    Nabi Sulaiman, misalnya, tidak hanya dikenal karena kekuasaannya, tetapi juga karena kemampuannya mengintegrasikan teknologi, kesejahteraan, dan kebijaksanaan dalam satu kesatuan.
    Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, dalam semangat menjaga keberlanjutan peradaban, telah menginisiasi jihad konstitusional melalui Rancangan Undang-Undang Pengelolaan Perubahan Iklim dan RUU Masyarakat Hukum Adat.
    Dua regulasi yang akan menjadi benteng bagi sumber daya alam Indonesia agar benar-benar dikelola untuk kepentingan bersama.
    Presiden menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi luar biasa, bahkan melebihi negeri Saba’. Jika dikelola dengan baik dan berlandaskan prinsip keadilan, kesejahteraan rakyat bukan sekadar impian, melainkan keniscayaan.
    Dengan kekayaan alam melimpah, Indonesia seharusnya menjadi negeri yang mampu menjamin kebutuhan dasar seluruh warganya. Tidak ada lagi kelaparan, tidak ada lagi rakyat yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.
    Gagasan itu merefleksikan visi besar Presiden Prabowo, menjadikan Indonesia sebagai negeri yang
    Baldatun Thayyibatun Warobbun Ghofur
    . Sebuah negara yang makmur dan diberkahi.
    Visi itu lantang dikumandangkan saat Presiden menyampaikan pidato perdana dalam momen pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, 20 Oktober 2024.
    Visi ini tidak hanya sekadar slogan, tetapi diterjemahkan dalam kebijakan konkret yang bertujuan mengentaskan kemiskinan, mempersempit jurang ketimpangan ekonomi, dan memastikan bahwa kesejahteraan bukan hanya dinikmati oleh segelintir kelompok elite, tetapi oleh seluruh rakyat Indonesia.
    Kita harus jujur mengakui, realitas yang terjadi selama bertahun-tahun menunjukkan jika kekayaan alam Indonesia justru seringkali menjadi sumber ketimpangan.
    Sebagian kecil kelompok menikmati keuntungan luar biasa dari eksploitasi sumber daya alam, sementara sebagian besar rakyat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
    Pemerintahan Prabowo telah menabuh strategi kemakmuran yang berkeadilan, yaitu membangun Indonesia berdaulat secara ekonomi, sejahtera secara sosial, dan kokoh dalam solidaritas kebangsaan.
    Kesadaran akan pentingnya distribusi kekayaan yang lebih adil mendorong lahirnya kebijakan strategis yang menitikberatkan pada reformasi fiskal dan redistribusi sumber daya.
    Kedua langkah ini tidak hanya merupakan solusi teknokratis dalam pengelolaan ekonomi, tetapi juga merupakan manifestasi dari gagasan besar tentang keadilan sosial yang menjadi pondasi utama dalam membangun bangsa yang kuat dan mandiri.
    Reformasi kebijakan fiskal yang dijalankan oleh Presiden Prabowo bertumpu pada efisiensi anggaran sebagai pilar utama pembangunan inklusif.
    Selama ini, belanja negara kerap tersedot ke dalam birokrasi yang gemuk, program-program tumpang tindih, serta pengeluaran yang tidak selalu berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.
    Oleh karena itu, setiap rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kini diarahkan dengan strategi lebih tepat guna agar menghasilkan manfaat maksimal bagi masyarakat luas.
    Salah satu wujud konkret dari kebijakan ini adalah program makan bergizi gratis, langkah revolusioner yang bertujuan memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan akses gizi memadai.
    MBG bukan sekadar bentuk intervensi sosial jangka pendek, tetapi investasi besar bagi masa depan bangsa, karena kualitas gizi pada anak-anak terbukti berpengaruh langsung terhadap kecerdasan, produktivitas, dan daya saing mereka di masa depan.
    Efisiensi anggaran untuk menopang program ini dilakukan dengan memotong belanja yang tidak produktif, mengoptimalkan penerimaan negara melalui perbaikan sistem perpajakan, serta meningkatkan akuntabilitas penggunaan dana publik.
    Dengan pendekatan ini, setiap pengeluaran diarahkan untuk bermanfaat bagi rakyat, bukan sekadar menggerakkan roda birokrasi.
    Prinsip pembangunan berbasis keadilan ditekankan, di mana negara hadir sebagai pihak yang menjamin bahwa setiap anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dengan sehat dan cerdas.
    Namun efisiensi anggaran saja tidak cukup jika struktur ekonomi masih tetap dikuasai oleh segelintir elite yang menikmati keuntungan besar dari kekayaan alam bangsa.
    Maka Presiden Prabowo mendorong kebijakan redistribusi sumber daya dengan cara yang lebih progresif.
    Salah satunya melalui pendistribusian izin usaha pertambangan kepada organisasi kemasyarakatan dan entitas sosial yang berkontribusi bagi pembangunan nasional.
    Demikian juga program terbaru Koperasi Merah Putih, diarahkan untuk menopang pilar distribusi ekonomi.
    Langkah ini merupakan koreksi terhadap ketimpangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, di mana sektor pertambangan dan ekonomi lebih banyak dikuasai oleh korporasi besar, sementara masyarakat sekitar hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri.
    Dengan mengalihkan izin pengelolaan sumber daya alam kepada koperasi dan organisasi berbasis komunitas, pemerintah memastikan bahwa hasil kekayaan negara benar-benar kembali kepada rakyat.
    Kebijakan redistribusi ini tidak hanya sebatas mengeser kepemilikan, tetapi juga mencerminkan tekad untuk memberdayakan masyarakat lokal agar memiliki kendali yang lebih besar terhadap sumber daya di wilayah mereka.
    Dengan demikian, sumber daya alam tidak lagi menjadi alat eksploitasi segelintir kelompok, melainkan menjadi instrumen pemerataan kesejahteraan.
    Kombinasi antara reformasi fiskal dan redistribusi sumber daya menopang arsitektur kebijakan strategis yang saling melengkapi dalam agenda pembangunan Prabowo Subianto.
    Ketika anggaran negara dikelola dengan lebih efisien dan kekayaan alam didistribusikan secara lebih merata, hasilnya adalah perekonomian yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Kepercayaan rakyat terhadap pemerintah akan meningkat.
    Pada akhirnya, kebijakan ini bukan hanya soal angka dan statistik, tetapi juga tentang membangun kembali solidaritas kebangsaan.
    Ketika rakyat merasakan bahwa negara benar-benar berpihak kepada mereka, rasa cinta terhadap bangsa ini akan semakin kuat, dan asabiyyah yang menjadi pilar utama dalam teori peradaban Ibnu Khaldun, akan semakin kokoh.
    Dengan fondasi ekonomi yang lebih adil dan sistem sosial lebih solid, Indonesia dapat melangkah menuju masa depan sebagai negeri yang benar-benar makmur dan berkeadaban.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.