Tag: Amran Sulaiman

  • Panen di Sumatra Tetap Aman meski 11.000 Hektare Sawah Rusak, Amran: Sangat Kecil

    Panen di Sumatra Tetap Aman meski 11.000 Hektare Sawah Rusak, Amran: Sangat Kecil

    Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa sekitar 11.000 hektare lahan sawah rusak total imbas bencana yang melanda kawasan Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Meski demikian dia memastikan panen di wilayah Aceh tak terganggu.

    Dia menyebut bahwa pemerintah akan berupaya menata kembali lahan sawah yang terdampak. Saat ini, tim Kementan disebutnya masih bertahan di lokasi bencana untuk menyalurkan bantuan.

    “Sekarang saya minta juga seluruh tim di lapangan mengecek kerusakan sawah. Ada 11.000 [hektare] yang rusak total. Kita akan bangun kembali,” kata Amran usai rapat koordinasi penetapan cadangan pangan pemerintah 2026 di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2025).

    Menurutnya, sebanyak 11.000 hektare lahan sawah itu merupakan kerusakan total dari tiga provinsi terdampak bencana. 

    Amran pun memperkirakan bahwa musim panen di ketiga wilayah tersebut tidak akan terdampak besar, mengingat perbandingannya dengan sawah yang masih berfungsi terbilang kecil.

    “Ini 11.000 yang harus dibangun kembali, kan ada 80.000 semua. Ada yang kena banjir, tetapi sawahnya masih ada. Kalau 11.000 dibagi 7 juta hektare, itu sangat kecil,” ujarnya.

    Amran pun memastikan bahwa stok beras di wilayah bencana tersebut masih aman. Hal ini mengingat cadangan beras pemerintah di Perum Bulog yang mencapai 3,39 juta ton.

    Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan stok beras di Aceh berada dalam kondisi sangat aman di tengah upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan dan pemulihan pascabencana.

    Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy mengatakan bahwa stok cadangan beras pemerintah (CBP) untuk wilayah Aceh sangat mencukupi sebanyak 85.100 ton di sejumlah gudang Perum Bulog.

    “Masyarakat tidak perlu khawatir, stok kita ada dan kualitasnya terjaga. Ini adalah bentuk komitmen negara untuk hadir dalam menjaga ketahanan pangan di seluruh pelosok negeri, termasuk untuk Aceh,” ujar Sarwo melalui keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (26/12/2025).

  • RI Swasembada Gula Tahun Depan

    RI Swasembada Gula Tahun Depan

    Jakarta

    Menteri Pertanian Amran Sulaiman menargetkan Indonesia akan swasembada gula kristal putih (GKP) atau untuk konsumsi pada 2026. Ia meyakini saat ini saja produksi telah meningkat tajam.

    Menurut Amran seiring produksi tebu meningkat, maka terjadi peningkatan produksi gula. Dengan begitu cita-cita swasembada gula konsumsi akan tercapai di 2026. Sementara gula industri ditargetkan bisa tercapai 3 tahun lagi.

    “Kalau produksi tebu meningkat, itu sudah otomatis produksi gula meningkat. Sekarang rendermen berapa? Kalau 7 sudah bagus. Jadi, tahun depan mudah-mudahan sudah bisa swasembada gula putih. Kemudian industri merupakan 3 tahun. Kita kerja keras,” kata dia ditemui di Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (29/12/2025).

    Amran mengatakan untuk langkah-langkah mencapai swasembada gula konsumsi akan dilakukan bongkar ratun, di mana kegiatan membongkar tunas-tunas tebu lama yang sudah tidak produktif atau menurun kualitasnya, lalu diganti dengan penanaman bibit tebu baru, terutama varietas unggul.

    Selain itu, menurut Amran, 300 ribu hektare lahan tebu saat ini harus dilakukan bongkar ratun.

    “Langkah-langkahnya adalah pertama, ratun ini sudah 86% itu harus dibongkar. Sekarang kita akan bongkar berturut-turut 3 tahun 2025, 2026, 2027. Itu kurang lebih 300an ribu hektare. Nggak, seluruh,” ujar dia.

    Amran mengatakan saat ini terdapat 500 ribu hektare lahan tebu. Jika 300 ribu ha dilakukan peremajaan atau penanaman ulang, ia meyakini produksi gula untuk mencapai swasembada akan tercapai.

    “Sekarang ada 500 ribu ha. Kita mudah-mudahan bongkar 300 ribu ha lebih. Kalau itu jadi kenyataan, insyaAllah, gula putih swasembada,” jelasnya.

    (ada/hns)

  • Cadangan Beras Pemerintah 2026 Dipatok Minimal 4 Juta Ton

    Cadangan Beras Pemerintah 2026 Dipatok Minimal 4 Juta Ton

    Liputan6.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan telah menetapkan cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 4 juta ton untuk tahun 2026. Zulkifli memutuskan hal tersebut setelah menggelar rapat koordinasi terbatas (Rakortas) bersama sejumlah menteri. Di antaranya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Budi Santoso, hingga Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana.

    “Kami putuskan cadangan beras pemerintah kita dari 3 juta kita naikkan jadi 4 juta (ton),” ungkap Zulkifli di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (29/12/2025).

    Peningkatan CBP itu disebut untuk memudahkan penyaluran sejumlah program, mulai dari Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga bantuan pangan beras. Peningkatan itu juga sejalan dengan proyeksi penambahan jumlah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Selain beras, pada konteks Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), Menko Zulkifli juga menetapkan cadangan jagung pemerintah. Jumlahnya naik drastis dari 300 ribu ton tahun ini menjadi 1 juta ton pada 2026.

    “Jagung, karena perlu juga itu. Kalau telur perlu banyak, ayam perlu banyak, perlu pakan banyak. Kemarin kita cadangkan 300 ribu ya, ya Pak ya? Nah, ini kita naikkan jadi 1 juta,” jelas Zulkifli Hasan.

     

  • Kaleidoskop 2025: Deretan Manuver Prabowo Wujudkan Swasembada Pangan

    Kaleidoskop 2025: Deretan Manuver Prabowo Wujudkan Swasembada Pangan

    Bisnis.com, JAKARTA — swasembada pangan menjadi ambisi besar Presiden Prabowo Subianto pada tahun pertama pemerintahannya bertugas.

    Produksi digenjot untuk sejumlah komoditas utama seperti beras, komoditas kaya protein baik darat maupun laut, dan komoditas lainnya di tahun-tahun mendatang.

    Prabowo sempat menyampaikan bahwa sektor pangan menjadi fokus utama pada tahun pertama pemerintahannya, lantas dilanjutkan pada target berikutnya seperti swasembada energi.

    “Perhitungan saya 4-5 tahun lagi kita bisa swasembada pangan, sesudah itu tentunya kita harus amankan semua kekayaan kita,” kata Prabowo di Jakarta, Selasa (4/11/2025

    Capaian pertama yang diklaim pemerintahan Prabowo tahun ini adalah swasembada beras, seiring dengan kebijakan untuk menyetop impor komoditas tersebut pada tahun ini.

    Kendati demikian, pekerjaan rumah pemerintah masih berderet untuk mencapai swasembada pangan secara keseluruhan maupun mempertahankan swasembada komoditas yang ada.

    Swasembada Beras

    Pada awal tahun, Prabowo menerbitkan Inpres No.6/2025 yang mempertegas ketahanan pangan nasional dan pencapaian swasembada beras dengan memastikan penyerapan gabah dan beras petani lokal secara optimal.

    Dalam perjalanannya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia akan mencapai swasembada beras pada 1 Januari 2026, lebih cepat dari target awal selama empat tahun. Dia menyebut bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras dalam negeri akan naik hingga 4,17 juta ton pada akhir tahun ini.

    “Insyaallah, dua minggu kemudian kita bisa umumkan Indonesia swasembada pangan dan tercepat mencapai swasembada pangan di tanggal 1 Januari [2026],” kata Amran dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Senin (15/12/2025).

    Menurutnya, hal ini selaras dengan besarnya cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog dengan stok 3,7 juta ton pada akhir tahun ini. Jumlah ini disebut menjadi yang tertinggi sejak era Orde Baru, tepatnya 3 juta ton CBP pada 1984.

    Pangkas Harga Pupuk Subsidi

    Dalam upaya mewujudkan swasembada pangan, pemerintahan Prabowo memutuskan untuk merombak distribusi pupuk subsidi dan menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk hingga 20% yang berlaku mulai 22 Oktober 2025.

    Langkah ini dilakukan tanpa menambah anggaran subsidi dari APBN, melainkan melalui efisiensi industri dan perbaikan tata kelola distribusi pupuk nasional.

    Penurunan harga ini sesuai Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025 tanggal 22 Oktober 2025 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pertanian Nomor 800/KPTS./SR.310/M/09/2025 tentang Jenis , Harga Eceran Tertinggi dan Alokasi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2025.

    Penurunan ini meliputi seluruh jenis pupuk bersubsidi yang digunakan petani, yaitu urea dari Rp2.250 per kilogram menjadi Rp1.800 per kilogram, NPK dari Rp2.300 per kilogram menjadi Rp1.840 per kilogram, NPK kakao dari Rp3.300 per kilogram menjadi Rp2.640 per kilogram, ZA khusus tebu dari Rp1.700 per kilogram menjadi Rp1.360 per kilogram, dan pupuk organik dari Rp800 per kilogram menjadi Rp640 per kilogram.

    Perbaikan Irigasi

    Selain reformasi distribusi pupuk, pemerintah juga melaksanakan program perbaikan irigasi pertanian secara besar-besaran melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, Serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan.

    Perbaikan irigasi seluas 2 juta hektare akan dilakukan secara terintegrasi tanpa sekat administratif antarprovinsi maupun kabupaten.

    Lahan Pertanian Menyusut

    Program swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo turut dihadapkan pada sejumlah tantangan di 2025. Salah satunya ialah terkait dengan ketersediaan lahan pertanian produktif yang semakin terbatas.

    Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkap lahan pertanian di Pulau Jawa terus mengalami penyusutan. Hal itu disampaikan Zulhas dalam acara 40 BIG Conference 2025 bertajuk Arah Bisnis 2026: Menuju Kedaulatan Ekonomi di Raffles Hotel, Jakarta, Senin (8/12/2025). “Penduduk nambah terus, lahan pertanian di Pulau Jawa susut terus. Oleh karena itu, kita mesti ada lahan baru,” kata Zulhas.

    Meski demikian, Zulhas menyampaikan pemerintah akan memperluas lumbung pangan agar swasembada dapat menjadi permanen. Salah satunya di kawasan Merauke, Papua.

    Di samping itu, pemerintah juga akan memacu varietas dan bibit baru. “Varietas mulai zaman Pak Harto nggak ada yang baru, mulai dari bibit kelapa, cengkih, kopi, lada, padi, zaman dulu tidak ada yang baru,” pungkasnya.

    Di sisi lain, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (Menteri ATR/Kepala BPN) Nusron Wahid melakukan moratorium terbatas alih fungsi lahan sawah menjadi area non-persawahan.

    Dia menjelaskan upaya tersebut dilakukan guna menjaga produksi pangan nasional mendukung target swasembada pangan yang telah dibidik oleh Presiden Prabowo Subianto.

    Pada tahap awal, Kementerian ATR/BPN akan menerapkan moratorium terbatas terhadap layanan rekomendasi perubahan penggunaan tanah di wilayah yang datanya belum sinkron antara kondisi fisik dan dokumen tata ruang. Proses ini akan disertai dengan cleansing data sawah, untuk mengatasi ketidaksesuaian yang selama ini kerap ditemukan.

    Kementerian ATR/BPN juga melakukan penyusunan rencana aksi pengendalian alih fungsi lahan sawah untuk mengintegrasikan data Lahan Sawah Dilindungi (LSD) ke dalam Rencana Tata Ruang sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Pasalnya, Nusron menilai saat ini data mengenai area lahan persawahan dinikai masih rancu dan belum konkret.

    Untuk itu, pihaknya berencana merampungkan hal tersebut untuk meningkatkan upaya pengendalian alih fungsi lahan persawahan.

    “Banyak kasus lahan fisik bukan sawah, tetapi dicatat sawah, atau sebaliknya. Pekerjaan kita dalam waktu dekat, yaitu memperbaiki data. Kalau datanya sudah benar, maka proses perizinan atau layanan tidak perlu lagi bergantung pada LSD,” tegas Menteri Nusron.

    Swasembada Protein

    Setelah menggencarkan swasembada beras, pemerintah menjelang akhir 2025 juga mencetuskan program swasembada komoditas pangan kaya protein seperti telur dan daging ayam hingga produk perikanan. Rencananya swasembada protein ini ditargetkan bisa terwujud pada 2026.

    Menko Pangan Zulhas menjelaskan bahwa pemerintah membidik swasembada beras dapat berlangsung permanen bersamaan dengan swasembada komoditas lainnya.

    Sebagai langkah awal, pemerintah disebutnya akan membangun pabrik pakan untuk menyuntik produksi telur dan daging ayam, sehingga masyarakat desa dapat membeli bibit ayam dan pakan dengan harga murah.

    “Karena kita sekarang baru karbohidrat, tahun depan kita akan habis-habisan [menambah produksi komoditas] protein. Perintah presiden,” ujarnya pada Senin (8/12/2025).

    Lebih lanjut, pemerintah akan membangun 20.000 hektar tambak di Pulau Jawa, dengan perhitungan minimal satu tambak di sekitar 500 kabupaten.

    Zulhas menyebut bahwa 2.000 Kampung Nelayan Merah Putih (KMNP) akan dibangun untuk menambah daya tawar ekosistem perikanan dan nelayan.

    Swasembada Gula dan Garam

    Komoditas gula dan garam menjadi target swasembada berikutnya di tahun-tahun mendatang. Khusus gula putih atau white sugar, langkah ini akan dimulai dengan ekspansi lahan tebu hingga seluas 100.000 hektare pada 2026.

    Mentan Amran menyebut bahwa impor gula putih akan disetop dengan optimalisasi lahan tebu di sejumlah daerah utama. Dia menyebut 70% lahan tebu akan berada di Jawa Timur.

    “Insyaallah tahun depan tidak akan impor white sugar, gula putih karena 70% kebun tebu ada di Jawa Timur,” kata Amran di Surabaya, Selasa (23/12/2025).

    Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengaku optimistis bahwa Indonesia dapat mencapai swasembada garam pada 2027. Wakil Menteri KKP Didit Herdiawan menyampaikan bahwa pemerintah bakal menyetop impor garam secara berangsur, dimulai dari tahun depan.

    “Program kami tahun 2027 tidak impor garam, tetapi untuk tahun ini dan tahun depan masih ada beberapa yang diimpor,” kata Didit dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (16/9/2025).

    Kontribusi Pertanian ke Pertumbuhan Ekonomi

    Adapun, BPS mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi 14,35% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada kuartal III/2025. Angka ini meningkat dari 13,83% pada kuartal sebelumnya, dan berada satu setrip di bawah sektor pengolahan sebagai kontributor terbesar.

    BPS memaparkan nilai PDB sektor pertanian pada hingga kuartal ketiga tahun ini mencapai Rp869,4 triliun harga berlaku, naik dari Rp822,6 triliun pada kuartal II-2025.

    Lebih lanjut, sektor pertanian tumbuh 3,32% (quarter-to-quarter) dan 4,93% (year-on-year). Secara kumulatif atau (c-to-c), pertumbuhan sektor pertanian mencapai 5,37%.

  • Cabai Rawit Makin Pedas, Minyakita Belum Turun

    Cabai Rawit Makin Pedas, Minyakita Belum Turun

    Liputan6.com, Jakarta – Sejumlah harga pangan masih terpantau naik di sejumlah daerah di Jabodetabek. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mencatat komoditas pangan masih mahal pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

    Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan mengungkapkan masih tingginya harga pangan di Jabodetabek. Bawang merah, telur ayam, daging sapi, hingga minyak goreng dilaporkan naik.

    “Laporan dari beberapa teman-teman di Jabodetabek ada kenaikan, hampir semua komoditas,” kata Reynaldi dalam keterangan kepada Liputan6.com, Minggu (28/12/2025).

    Bawang merah kini sekitar Rp 40.000 per kilogram (kg), naik dari sebelumnya Rp 35.000. Bawang putih jadi Rp 50.000 per kg, naik Rp 10.000. Beras premium dijual Rp 17.000-18.000 per kg, beras medium Rp 11.000-12.000 per kg.

    “Telur dari Rp 29.000 ke Rp 32.000 per kilo, Gula dari Rp 17.000 ke Rp 19.000, Minyak goreng Minyakita dari Rp 16.000 sekarang bahkan Rp18.000 bahkan ada yang jual Rp 19.000 (per liter),” ucapnya.

    Harga cabai rawit dilaporkan sempat naik-turun. Saat ini cabai rawit dijual sekitar Rp 80.000 per kg. Kenaikan juga diamini Reynaldi, terjadi di cabai jenis lain. “Ayam dari Rp 35.000 ke Rp 45.000, ayam kampung dari Rp 45.000 ke Rp 57.000, Daging (sapi) dari Rp 110.000 ke Rp 125.000 perkilo,” jelasnya.

    Harga Pangan Diklaim Terkendali

    Sebelumnya, pasokan dan harga pangan nasional dipastikan tetap aman di tengah banjir dan tanah longsor di Sumatera. Hal tersebut melalui penguatan distribusi, bantuan pangan dan pengawasan ketat stabilitas harga.

    Hal itu disampaikan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa setelah meninjau harga pangan di Pasar Rawamangun, Rabu, 24 Desember 2025, dikutip dari Antara.

    Ia menuturkan, kondisi harga pangan saat ini relatif stabil menyusul arahan tegas Menteri Pertanian dan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman supaya tidak ada pihak bermain harga.

    “Kemarin di beberapa pertemuan, Bapak Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional sangat tegas. Jangan mainkan harga, apalagi kondisi bencana. Itu beliau tegas sekali,” kata Ketut.

     

     

  • Bendera Putih KPK Kasus Izin Tambang Konawe Utara

    Bendera Putih KPK Kasus Izin Tambang Konawe Utara

    Bendera Putih KPK Kasus Izin Tambang Konawe Utara
    Penyuluh Antikorupsi Sertifikasi | edukasi dan advokasi antikorupsi. Berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya integritas dan transparansi di berbagai sektor
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    PENGHENTIAN
    penyidikan kasus dugaan korupsi izin tambang nikel di Konawe Utara dengan potensi kerugian negara Rp 2,7 triliun menimbulkan tanda tanya besar.
    Bukan semata karena nilai kerugiannya yang fantastis, melainkan karena perkara ini telah berstatus tersangka sejak 2017 dan kini justru dihentikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan alasan tidak cukup bukti.
    Keputusan tersebut patut dibaca lebih dari sekadar prosedur hukum, sebab menyangkut konsistensi, akuntabilitas, dan arah pemberantasan korupsi di Indonesia.
    Penghentian ini adalah alarm keras tentang rapuhnya komitmen pemberantasan korupsi di Indonesia, terutama di sektor ekstraktif yang selama ini dikenal sebagai ladang korupsi sistemik.
    Bagaimana mungkin perkara dengan potensi kerugian negara mencapai Rp 2,7 triliun berakhir tanpa satu pun pertanggungjawaban pidana?
    Lebih janggal lagi, tersangka dalam kasus ini, mantan Bupati
    Konawe Utara

    Aswad Sulaiman
    , yang telah ditetapkan sebagai tersangka sejak 2017. Delapan tahun berselang, KPK justru menyatakan “tidak ditemukan kecukupan bukti”.
    Jujur saja, sebagai Penyuluh Antikorupsi yang disertifikasi oleh Lembaga Resmi KPK, saya merasa sangat janggal dengan keputusan penghentian ini.
    Keputusan ini tampaknya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip transparansi dan keadilan yang seharusnya menjadi pijakan utama dalam penanganan kasus-kasus korupsi.
    KPK tanpa sadar angkat tangan dan mengibarkan bendera putih, seolah memperlihatkan ketidakberdayaannya dalam memberantas korupsi kelas kakap.
    Sulit memang untuk menerima logika di balik keputusan ini, terutama ketika mempertimbangkan dampak negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi.
    Pada Oktober 2017, KPK dengan tegas menetapkan Aswad Sulaiman seorang mantan Penjabat Bupati Konawe Utara (2007–2009) sekaligus Bupati definitif (2011–2016) sebagai tersangka.
    Tuduhannya berat: menyalahgunakan wewenang dalam pemberian izin kuasa pertambangan eksplorasi, eksploitasi, hingga Izin Usaha Pertambangan (IUP) operasi produksi kepada puluhan perusahaan antara 2007–2014.
    KPK menduga, perizinan yang melawan hukum itu menyebabkan kerugian negara fantastis, minimal Rp 2,7 triliun, berasal dari penjualan nikel yang seharusnya tidak boleh dieksploitasi secara bebas.
    Tak hanya itu, Aswad juga diduga menerima suap hingga Rp 13 miliar dari perusahaan-perusahaan haus izin selama masa jabatannya sebagai penjabat bupati.
    Kasus ini sempat memanas. Pada 18 November 2021, KPK sempat memeriksa Andi Amran Sulaiman (sekarang Menteri Pertanian) selaku Direktur PT Tiran Indonesia sebagai saksi di kasus tersebut. Amran diperiksa KPK mengenai kepemilikan
    tambang nikel
    di Konawe Utara.
    Puncak dramanya terjadi pada 14 September 2023. KPK berencana menahan Aswad untuk mempercepat proses.
    Namun, seperti adegan film klise, rencana itu batal. Aswad tiba-tiba sakit usai diperiksa dan dilarikan ke rumah sakit. Penahanan pun akhirnya ditunda, dan kasus kembali menguap dalam ketidakpastian.
    Kemudian ironisnya, pada 26 Desember 2025, KPK mengumumkan penghentian penyidikan melalui Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).
    Alasan resminya setelah pendalaman bertahun-tahun, bukti dianggap tidak cukup kuat untuk melanjutkan ke persidangan. Kasus yang bergulir delapan tahun, dengan potensi kerugian triliunan, berakhir begitu saja.
    Dalam sistem peradilan pidana modern, lamanya proses penyidikan seharusnya berbanding lurus dengan penguatan bukti, bukan justru berujung pada pembatalan perkara.
    Fakta bahwa KPK membutuhkan waktu delapan tahun untuk akhirnya menyatakan tidak cukup bukti menunjukkan dua kemungkinan yang sama-sama problematik: inefisiensi kelembagaan yang ekstrem, atau adanya faktor eksternal yang menghambat penyidikan.
    Pada 2017, KPK secara terbuka menyampaikan bahwa kasus ini melibatkan dugaan penerbitan izin tambang secara melawan hukum, indikasi penerimaan suap sekitar Rp 13 miliar, serta kerugian negara akibat penjualan nikel ilegal.
    Pernyataan tersebut disampaikan ke publik dengan keyakinan bahwa bukti permulaan telah cukup, sebagaimana yang dipersyaratkan undang-undang.
    Pertanyaannya sederhana, tapi mendasar: apa yang berubah secara substansial sejak 2017 hingga 2025? Apakah bukti-bukti itu menghilang? Apakah saksi mencabut keterangan? Ataukah sejak awal penyidikan memang tidak dikelola secara serius dan profesional?
    Kasus Konawe Utara tak bisa dilepaskan dari konteks besar revisi UU KPK tahun 2019. Revisi tersebut secara fundamental mengubah karakter KPK dari lembaga
    superbody
    yang independen menjadi bagian dari rumpun eksekutif, sekaligus memperkenalkan kewenangan SP3 yang sebelumnya tidak dimiliki KPK.
    Dalih pemberian kewenangan SP3 adalah untuk menjamin kepastian hukum. Namun, dalam praktiknya, kewenangan ini justru menjadi pintu keluar paling mudah untuk “mematikan” perkara besar yang rumit, berbiaya politik tinggi, dan menyentuh kepentingan oligarki.
    Data Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan bahwa pasca-revisi UU, tren penindakan KPK terhadap kasus besar, terutama di sektor sumber daya alam mengalami penurunan signifikan.
    Sementara itu, sektor pertambangan tetap menjadi salah satu sektor dengan potensi kerugian negara terbesar akibat korupsi, sebagaimana berulang kali ditegaskan oleh KPK sendiri dalam kajian dan laporan tahunan sebelumnya.
    Ironisnya, ketika Kejaksaan Agung mampu membongkar mega-skandal korupsi timah dengan estimasi kerugian negara mencapai Rp 300 triliun, KPK justru menghentikan kasus nikel Konawe Utara yang nilainya “hanya” Rp 2,7 triliun.
    Perbandingan ini semakin mempertegas kesan bahwa KPK sudah kehilangan daya gigitnya, terutama terhadap korupsi kelas kakap.
    Mungkin sebaiknya kasus ini diambil alih saja oleh Kejaksaan Agung. Kita bisa anggap bahwa KPK kurang efektif dan kompeten dalam menangani kasus korupsi besar. KPK telah kehilangan wibawa dalam pemberantasan korupsi.
    Sektor tambang bukan sekadar urusan izin dan eksploitasi sumber daya. Ia adalah simpul kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan.
    Banyak kepala daerah, elite partai, dan pengusaha besar terhubung melalui rantai perizinan tambang. Dalam konteks ini, penghentian kasus Konawe Utara memperkuat persepsi lama bahwa mafia tambang memiliki kekebalan hukum de facto.
    Masyarakat pun sulit menghindari kecurigaan, dan tentu saja banyak pertanyaan menyeruak. Apakah kasus ini sengaja “dipelihara” hingga waktu melemahkan bukti dan perhatian publik?
    Pola semacam ini bukan hal baru dalam sejarah penegakan hukum Indonesia, kasus dibiarkan berlarut, saksi lupa, dokumen hilang, lalu perkara dinyatakan tidak layak lanjut.
    Jika benar demikian, maka SP3 ini bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap mandat konstitusional pemberantasan korupsi.
    Kepercayaan publik adalah modal utama lembaga antikorupsi. Tanpa kepercayaan, setiap penindakan akan dipandang selektif, dan setiap penghentian perkara akan dicurigai. SP3 kasus Konawe Utara berpotensi menjadi titik balik negatif dalam relasi KPK dan masyarakat.
    Masyarakat melihat kontras yang menyakitkan. Korupsi bernilai kecil cepat sekali diproses, sementara korupsi triliunan rupiah menguap tanpa kejelasan.
    Keadilan terasa tajam ke bawah, tumpul ke atas. Apa yang bisa diharapkan lagi dari KPK yang sudah angkat tangan dan kibarkan bendera putih?
    KPK tidak cukup hanya berlindung di balik frasa normatif demi “kepastian hukum”. Kepastian bagi siapa? Bagi tersangka, mungkin.
    Namun, bagi negara dan rakyat yang dirugikan, kepastian itu justru berarti kehilangan harapan atas pemulihan kerugian dan keadilan.
    Jika KPK masih ingin mempertahankan legitimasi moralnya, tidak ada jalan lain selain membuka secara transparan seluruh proses penyidikan kasus ini.
    Mulai dari kronologi, hambatan, evaluasi internal, hingga alasan konkret mengapa bukti yang dulu dianggap cukup kini dinilai tidak memadai.
    Tanpa transparansi, SP3 ini akan tercatat sebagai preseden buruk dan simbol kemunduran pemberantasan korupsi di sektor strategis. Sebagai negara yang berkomitmen memberantas korupsi, kita tidak boleh diam terhadap keputusan yang menciptakan kesan ketidakadilan.
    Penghentian penyidikan kasus dugaan korupsi izin tambang nikel di Konawe Utara tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum.
    KPK harus menyadari bahwa legitimasi mereka bergantung pada kepercayaan masyarakat, di mana transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci.
    Rakyat berhak tahu mengapa bukti yang sebelumnya dianggap kuat kini dinyatakan tidak memadai. Tanpa langkah transparan, bukan hanya KPK yang akan kehilangan wibawa, tetapi juga masa depan pemberantasan korupsi di Indonesia.
    Keberanian untuk menghadapi tantangan ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam siklus ketidakadilan dan impunitas yang semakin memperburuk masalah korupsi.
    Kasus dugaan korupsi senilai Rp 2,7 triliun bukan sekadar angka; ia merampas hak rakyat atas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Menghentikan kasus sebesar ini tanpa pertanggungjawaban jelas adalah aib bagi sistem hukum dan tamparan bagi keadilan.
    Jika KPK tidak bisa menjelaskan keputusan ini secara terbuka, maka tuntutan akuntabilitas publik terhadap pimpinan KPK saat ini adalah sah dan perlu dilakukan.
    Dengan demikian, penting untuk mengevaluasi kembali keputusan yang diambil serta memahami implikasinya agar kepercayaan masyarakat dapat pulih.
    Hanya dengan tindakan berani dan transparan kita bisa terus berjuang melawan korupsi dan menjaga keadilan di negeri ini.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kementan-Bapanas Kembali Kirim Bantuan Sembako ke Aceh

    Kementan-Bapanas Kembali Kirim Bantuan Sembako ke Aceh

    Jakarta

    Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) kembali menyalurkan 220 ton bantuan kemanusiaan program Kementan Peduli untuk masyarakat terdampak bencana banjir. Bantuan masuk tahap tiga itu untuk masyarakat terdampak bencana di Aceh.

    Bantuan tersebut dikirim menggunakan KRI Makasar dan tiba sekira pukul 19.30 WIB di Pelabuhan Krueng Geukueh, Kota Lhoksumawe, Aceh, pada Rabu (24/12/2025)

    Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian Letnan Jenderal TNI (Purn) Irham Waroihan mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari penyaluran tahap ketiga, setelah sebelumnya sekitar 100 ton bantuan diturunkan di Padang, Sumatera Barat.

    “Bantuan Kementan dan Bapanas peduli tahap tiga dengan total muatan sekitar 220 ton yang akan dibagi untuk Aceh dan Medan,” kata Irham dalam keterangannya, dikutip Kamis (25/12/2025).

    Irham menjelaskan, secara keseluruhan nilai bantuan Kementan-Bapanas sejak tahap pertama hingga tahap ketiga ini mencapai sekitar Rp 44-45 miliar. Adapun bantuan kali ini terdiri atas bahan makanan, sembako, serta pakaian baru untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana.

    Dia menegaskan mekanisme distribusi bantuan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah provinsi, agar penyaluran dapat dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan.

    “Untuk sistem penyaluran, kami serahkan ke provinsi,” ujarnya.

    Tekait dengan kemungkinan bantuan lanjutan, Irham menyebut pemerintah masih melakukan evaluasi kebutuhan di lapangan. Penyaluran tahap berikutnya akan mempertimbangkan kondisi infrastruktur serta jalur distribusi yang paling memungkinkan, baik melalui laut maupun darat, seiring mulai pulihnya akses jalan nasional.

    Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional telah menyalurkan bantuan melalui program Kementan Peduli melalui tiga tahap dengan menggunkan KRI Banda Aceh 593 (tahap pertama), KRI Surabaya 936 (tahap kedua), dan KRI Makassar 590 (tahap ketiga).

    Seluruh bantuan mencakup kebutuhan pokok dan perlengkapan darurat yang telah disesuaikan dengan hasil koordinasi bersama BNPB dan pemerintah daerah setempat.

    Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman telah menegaskan bahwa pengawalan bantuan dilakukan secara ketat sejak proses pemuatan di dermaga hingga bantuan diterima di daerah tujuan. Setiap pengiriman disertai mekanisme serah terima resmi kepada pihak berwenang sebelum disalurkan ke titik-titik terdampak.

    “Semua bantuan kami kawal, dari dermaga hingga diterima di daerah dan disalurkan ke masyarakat. Ini tanggung jawab moral kami, karena bantuan ini berasal dari pegawai Kementerian Pertanian dan mitra strategis yang menitipkan amanahnya,” ujar Amran.

    (acd/acd)

  • Bapanas Pastikan Pasokan dan Harga Pangan Aman selama Nataru

    Bapanas Pastikan Pasokan dan Harga Pangan Aman selama Nataru

    Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan dan stabilitas harga pangan pokok pada momentum Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) dalam kondisi aman dan terkendali.

    Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan stok beras mencukupi dan tersedia di berbagai lini distribusi, termasuk ritel modern.

    “Dari hasil pengecekan langsung, kami melihat pasokan pangan, khususnya beras, dalam kondisi cukup dan tidak ada gangguan berarti di tingkat distribusi. Harga juga masih dalam rentang yang terkendali,” ujar Ketut dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (25/12/2025).

    Menurutnya, hal ini sejalan dengan kalkulasi Bapanas yang memastikan ketersediaan beras secara nasional tetap baik sampai akhir tahun.

    Bapanas memperkirakan stok beras hingga akhir 2025 mencapai 12,5 juta ton, termasuk stok Perum Bulog. Dengan kebutuhan konsumsi bulanan sekitar 2,5 juta ton, stok ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir lima bulan ke depan.

    Selain beras, Ketut menyampaikan komoditas pangan pokok lain juga relatif aman. Dia juga menegaskan tidak terdapat kendala distribusi yang signifikan, meski ada tantangan cuaca di beberapa wilayah.

    Di samping itu, Bapanas terus memantau pasokan hingga ke tingkat konsumen. Untuk itu, Ketut mengimbau pelaku usaha pangan menjaga etika bisnis dan tidak melakukan praktik permainan harga, terutama saat hari besar atau situasi bencana.

    “Pesan Bapak Kepala Badan [Andi Amran Sulaiman] sangat jelas. Tidak boleh ada pihak yang mengambil keuntungan berlebih di saat masyarakat membutuhkan ketenangan dan kepastian. Pemerintah tidak akan ragu menindak jika ditemukan pelanggaran,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Ketut menambahkan, jajaran Bapanas bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan telah diperintahkan untuk menjaga pasokan, merespons kebutuhan daerah, dan memperkuat pengawasan di lapangan.

    Dalam hal ini, Satgas Pangan, baik pusat maupun daerah, diarahkan turun langsung untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan harga, termasuk Harga Eceran Tertinggi (HET) beras.

    Bapanas juga meminta pemerintah daerah melalui dinas pangan dan perdagangan provinsi serta kabupaten/kota mengintensifkan pengawasan harga dan pembinaan pedagang.

    “Koordinasi dengan pemerintah daerah terus kami perkuat, terutama dalam penyampaian kebutuhan beras, pengamanan distribusi, serta penyaluran bantuan pangan ke wilayah yang terdampak bencana,” pungkasnya.

  • Momentum Nataru, Bos Bulog Pastikan Harga Beras di Bawah HET

    Momentum Nataru, Bos Bulog Pastikan Harga Beras di Bawah HET

    Bisnis.com, JAKARTA — Perum Bulog memastikan harga dan ketersediaan bahan pangan pokok, khususnya beras, tetap terjaga menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

    Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani bersama jajaran melakukan pemantauan langsung harga dan pasokan pangan di sejumlah titik, mulai dari Pasar Rawamangun, Pasar Induk Beras Cipinang, hingga ritel modern di kawasan Cempaka Putih. Sejumlah komoditas yang dipantau, antara lain beras, minyak goreng, dan telur ayam ras.

    Rizal mengatakan, pemantauan dilakukan untuk memastikan masyarakat memperoleh pangan dengan harga wajar dan sesuai ketentuan pemerintah, terutama menjelang momentum hari besar keagamaan.

    “Di beberapa pasar tadi, khususnya untuk komoditas beras, kami melihat harga relatif stabil dan bahkan berada di bawah harga eceran tertinggi [HET],” kata Rizal dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (25/12/2025).

    Dia memerinci, HET beras medium ditetapkan sebesar Rp13.500 per kilogram, sementara beras premium Rp14.900 per kilogram. Namun, di lapangan harga rata-rata beras medium ditemukan di bawah Rp13.000 per kilogram, sedangkan beras premium dijual di bawah Rp14.000 per kilogram.

    Selain itu, sambung Rizal, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang disalurkan oleh Perum Bulog juga ditemukan dijual sesuai ketentuan Badan Pangan Nasional (Bapanas), yakni Rp12.500 per kilogram. Rizal menilai keberadaan beras SPHP berperan penting dalam menjaga keterjangkauan harga sekaligus menekan potensi kenaikan harga di pasar.

    Meski demikian, Bulog mengungkap terdapat sejumlah komoditas yang harganya sedikit melampaui HET, seperti minyak goreng rakyat Minyakita dan telur ayam ras. Menurutnya, Satuan Tugas (Satgas) Pangan perlu melakukan penindakan tegas dan terukur apabila ditemukan permainan harga di tingkat pengecer.

    Rizal menegaskan Bulog akan menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan melalui pengawasan langsung di lapangan. Dengan sinergi antarinstansi, pemerintah optimistis masyarakat dapat menyambut Natal 2025 tanpa kekhawatiran lonjakan harga maupun kelangkaan bahan pangan pokok.

    Selain beras, pemerintah juga mencermati perkembangan harga komoditas pangan lainnya, termasuk cabai yang sempat mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

    Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan, pasokan cabai sebenarnya melimpah, namun hujan mengganggu kelancaran panen dan distribusi ke pasar.

    “Produksi cabai sangat banyak, tetapi kondisi hujan memang mengganggu. Kemarin Pak Mentan [Amran Sulaiman] sudah mendorong hampir 40 ton cabai dari Bener Meriah, Aceh, ke Jakarta. Dampaknya sudah terlihat, harga cabai mulai turun,” tutup Ketut.

  • Mendagri-Menko PMK Koordinasikan Kebutuhan Aceh Tamiang dan Aceh Timur Pascabencana

    Mendagri-Menko PMK Koordinasikan Kebutuhan Aceh Tamiang dan Aceh Timur Pascabencana

    Mendagri-Menko PMK Koordinasikan Kebutuhan Aceh Tamiang dan Aceh Timur Pascabencana
    Tim Redaksi
    KOMPAS.com
    – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian berkoordinasi dengan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno di Kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) PMK, Jakarta, Selasa (23/12/2025).
    Koordinasi tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti hasil kunjungan kerja
    Mendagri
    ke Kabupaten
    Aceh Tamiang
    dan Aceh Timur pada Senin (22/12/2025).
    Dalam pertemuan itu, Tito menyampaikan perkembangan kondisi di lapangan sekaligus membahas kebutuhan masyarakat
    pascabencana
    banjir dan tanah longsor.
    Untuk diketahui, Kabupaten Aceh Tamiang merupakan daerah dengan
    dampak bencana
    cukup parah dibandingkan wilayah lain di Sumatera.
    Oleh karena itu, wilayah tersebut membutuhkan perhatian serta langkah penanganan lintas kementerian agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat.
    “Aceh Tamiang memang saya lihat agak beda, dari udara masih (terlihat) banyak lumpur-lumpur, agak beda ketika saya datang ke tempat-tempat lain,” ujar Tito dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa.
    Lebih lanjut, ia melaporkan sejumlah kebutuhan utama masyarakat Aceh Tamiang, antara lain tambahan pangan, penguatan aliran listrik, dan bahan bakar minyak (BBM).
    Selain itu, Tito juga menyinggung dukungan bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), serta penambahan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan peralatan berat.
    Setelah mendengar paparan Tito,
    Menko PMK
    Pratikno segera melakukan panggilan video dengan para menteri dan pihak terkait.
    Panggilan tersebut diawali dengan Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman serta Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Ahmad Rizal Ramdhani.
    Hasil komunikasi itu menyepakati penyiapan bantuan pangan berupa 1.000 ton beras untuk masyarakat terdampak bencana di Aceh Tamiang.
    Agar bantuan dapat segera direalisasikan, Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi diminta mengirimkan surat permohonan resmi secara digital kepada Mentan/Kepala Bapanas, dengan tembusan kepada Mendagri dan Dirut Perum Bulog.
    Selain perihal pangan, Menko PMK Pratikno juga berkoordinasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk memastikan dukungan aliran listrik dan ketersediaan BBM.
    Saat ini, aliran listrik dan pasokan BBM di Aceh Tamiang dan Aceh Timur telah tersedia, namun masih belum sepenuhnya mencukupi. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan tambahan, termasuk dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.
    Selanjutnya, Pratikno berkoordinasi dengan Menteri UMKM Maman Abdurrahman untuk memberikan dukungan dan stimulus bagi pelaku UMKM agar dapat kembali bangkit dan menjalankan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
    Selain itu, ia juga akan berkoordinasi dengan Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) untuk meminta tambahan personel, serta menghubungi Menteri Pekerjaan Umum (PU) guna memperoleh dukungan alat berat demi mempercepat pembersihan wilayah terdampak banjir di Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.