Tag: Airlangga Hartarto

  • Ratas di Hambalang, Prabowo Ingin RI ke Depan Garap Industri Chip

    Ratas di Hambalang, Prabowo Ingin RI ke Depan Garap Industri Chip

    Jakarta

    Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas (Ratas) bersama sejumlah menteri di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat (Jabar). Prabowo membahas sejumlah hal mulai dari penguatan industri garmen hingga investasi.

    Informasi Ratas diunggah Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di akun Instagram Sekretariat Kabinet. Ratas berlangsung Minggu (11/1/2026) dan dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala Danantara Rosan Roeslani, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

    Dalam unggahan itu, Teddy menjelaskan Prabowo membahas sejumlah hal. Pertama hal yang dibahas yakni mengenai industri tekstil.

    “Bapak Presiden meminta untuk dilakukannya penguatan dalam industri tekstil/garmen, salah satunya adalah dengan melakukan revitalisasi rangkaian supply chain,” kata Tedy.

    Kemudian Teddy mengatakan Prabowo juga membahas investasi di sektor otomotif. Prabowo juga membahas proyek hilirisasi di 6 titik baru.

    “Penguatan dalam sektor otomotif/elektronik melalui investasi dalam pengembangan teknologi semikonduktor. Hal ini ditujukan untuk membangun industri chip masa depan Indonesia yang akan dimanfaatkan untuk industri otomotif, digital, dan elektronik,” ujarnya.

    “Perkembangan rencana groundbreaking 6 titik baru proyek hilirisasi senilai USD6 miliar di awal Februari 2026,” lanjutnya.

    “Rencana peresmian Infrastuktur Energi Terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan pada esok hari, Senin, 12 Januari 2026,” imbuhnya.

    (dek/knv)

  • Defisit APBN 2025 Tembus 2,92%, Airlangga: Gak Apa-apa

    Defisit APBN 2025 Tembus 2,92%, Airlangga: Gak Apa-apa

    Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang tercatat relatif tinggi masih berada dalam batas yang dapat dikelola, selama pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. 

    Airlangga menyampaikan hal tersebut usai menghadiri agenda penyerahan bonus atlet SEA Games ke-33 Thailand 2025 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/1/2026). Menurutnya, pemerintah akan mengantisipasi kondisi fiskal ke depan dengan mendorong peningkatan penerimaan negara.

    “Kita harus dorong penerimaan negara. Dengan penerimaan negara, tentu masalah defisit itu akan menurun,” ujar Airlangga.

    Saat ditanya apakah pemerintah khawatir dengan defisit APBN yang mendekati ambang 3% dari produk domestik bruto (PDB), Airlangga menegaskan hal tersebut tidak menjadi persoalan utama.

    “Tidak apa-apa, yang penting pertumbuhan bisa dicapai,” katanya kepada wartawan.

    Berdasarkan data pemerintah, APBN 2025 mencatat defisit sebesar Rp695,1 triliun atau setara 2,92% dari PDB. Angka tersebut melampaui outlook defisit sebesar 2,78% dari PDB dan target awal dalam APBN yang dipatok 2,53% dari PDB.

    Dari sisi penerimaan, pendapatan negara hingga akhir Desember 2025 mencapai Rp2.755,3 triliun atau 91,7% dari target Rp3.005,1 triliun. Sementara itu, belanja negara terealisasi Rp3.451,4 triliun atau 95,3% dari outlook belanja sebesar Rp3.621,3 triliun. 

    Pemerintah sebelumnya menyatakan tetap berkomitmen menjaga kesinambungan fiskal, sembari memastikan belanja negara mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan program prioritas nasional pada tahun-tahun mendatang.

  • VinFast Perkuat Industri EV Nasional Lewat Pabrik Kendaraan Listrik di Subang

    VinFast Perkuat Industri EV Nasional Lewat Pabrik Kendaraan Listrik di Subang

    Jakarta

    VinFast menandai langkah penting dalam pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia melalui beroperasinya fasilitas produksi kendaraan listrik di Subang, Jawa Barat. Pabrik ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang VinFast dalam memperluas jaringan manufaktur global sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap ekosistem kendaraan listrik nasional.

    Kehadiran pabrik VinFast di Subang diharapkan mendorong peningkatan daya saing industri otomotif berbasis listrik di dalam negeri, mempercepat lokalisasi produksi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional. Fasilitas ini menjadi pabrik pertama VinFast di Indonesia dan Asia Tenggara di luar Vietnam, sekaligus pabrik keempat VinFast secara global.

    Pabrik VinFast Subang diselesaikan dan mulai beroperasi dalam waktu sekitar 17 bulan sejak peletakan batu pertama. Keberhasilan penyelesaian proyek sesuai jadwal mencerminkan kesiapan VinFast dalam mengeksekusi investasi strategis serta komitmen perusahaan dalam mendukung agenda industrialisasi hijau di Indonesia.

    CEO VinFast Asia Pham Sanh Chau menyebut pembangunan pabrik ini sebagai wujud komitmen nyata perusahaan dalam membangun ekosistem kendaraan listrik yang berkelanjutan.

    “Tujuh belas bulan lalu kami memulai pembangunan pabrik ini dengan satu misi yang jelas, membangun ekosistem hijau yang komprehensif,” ujar Pham dalam keterangan tertulis, Rabu (7/12/2026).

    Ia menegaskan bahwa kecepatan penyelesaian pabrik menjadi bukti kemampuan eksekusi VinFast dalam merealisasikan komitmen tersebut.

    “Kami tidak hanya berbicara, tetapi juga mewujudkannya. Ini adalah bukti kecepatan dan kemampuan eksekusi VinFast,” ucapnya.

    Dalam pengembangannya, VinFast menargetkan tingkat lokalisasi yang progresif sejalan dengan kebijakan pemerintah. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ditargetkan melampaui 40 persen pada 2026, meningkat menjadi 60 persen pada 2029, dan mencapai 80 persen mulai 2030. Upaya ini didukung dengan pembangunan ekosistem industri pendukung di kawasan Subang, termasuk pengembangan kawasan pemasok atau supplier park.

    Dari sisi pemerintah, proyek ini dipandang sejalan dengan agenda penguatan industri hijau dan percepatan transisi energi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kehadiran pabrik VinFast dapat menjadi penggerak baru bagi industri kendaraan listrik nasional.

    “Sesuai namanya, VinFast, pembangunan pabrik ini memang sangat cepat. Tidak semua manufaktur mampu melakukannya,” kata Airlangga.

    Ia juga berharap VinFast terus meningkatkan tingkat komponen dalam negeri dengan menggandeng pelaku industri lokal agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan industri dalam negeri.

    Manajemen VinFast Indonesia menilai pabrik Subang sebagai fondasi utama keberlanjutan bisnis perusahaan di Tanah Air. CEO VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto menyampaikan bahwa sejak tahap awal operasional, pabrik ini telah menyerap sekitar 900 tenaga kerja.

    “Subang memang menjadi prioritas kami untuk tenaga kerja. Tenaga kerja terdidik dan terlatih tentunya harus memenuhi standar VinFast,” ujarnya.

    Menurut Kariyanto, apabila seluruh fase pembangunan pabrik telah terselesaikan, fasilitas ini berpotensi menyerap hingga 15 ribu tenaga kerja.

    “Ke depannya, tidak hanya kendaraan roda empat yang akan dirakit di pabrik ini, tetapi juga kendaraan roda dua, dengan total produksi yang ditargetkan mencapai sekitar 300 ribu unit per tahun,” ucapnya.

    Pabrik VinFast Subang berdiri di atas lahan seluas 171 hektare dan dikembangkan secara bertahap dengan total investasi lebih dari USD 1 miliar. Pada kapasitas penuh, fasilitas ini diproyeksikan mampu memproduksi hingga 350.000 unit kendaraan per tahun untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor.

    Pada fase awal, VinFast mengalokasikan investasi lebih dari USD 300 juta dengan kapasitas produksi sekitar 50.000 unit per tahun. Fasilitas ini dilengkapi lini produksi terintegrasi berstandar internasional dengan tingkat otomasi tinggi, mencakup proses pengelasan bodi, pengecatan, perakitan, inspeksi kualitas, hingga logistik.

    Seiring peningkatan kapasitas, pabrik ini diperkirakan mampu menciptakan sekitar 5.000 hingga 15.000 lapangan kerja langsung, serta ribuan lapangan kerja tidak langsung di sektor rantai pasok dan layanan pendukung. Dampak ini diharapkan memperkuat posisi Subang sebagai salah satu pusat industri kendaraan listrik baru di Indonesia.

    Pada tahap awal operasional, pabrik Subang memproduksi sejumlah model kendaraan listrik strategis VinFast untuk pasar Indonesia, yakni VF 3, VF 5, VF 6, dan VF 7 dengan setir kanan yang dirancang untuk kebutuhan mobilitas perkotaan. Ke depan, fasilitas ini juga dipersiapkan untuk merakit model baru, termasuk sepeda motor listrik dan MPV listrik yang disesuaikan dengan kebutuhan komersial dan layanan.

    Selain menyasar pasar domestik, pabrik VinFast Subang juga diproyeksikan menjadi hub ekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan kawasan sekitarnya. Dengan beroperasinya fasilitas ini, VinFast semakin menegaskan perannya dalam membangun rantai nilai kendaraan listrik yang terintegrasi di Indonesia sekaligus memperkuat posisi kawasan Asia Tenggara dalam peta industri kendaraan listrik global.

    (akn/ega)

  • Pabrik Mobil Listrik VinFast di Subang Beroperasi, Serap 900 Tenaga Kerja

    Pabrik Mobil Listrik VinFast di Subang Beroperasi, Serap 900 Tenaga Kerja

    Jakarta

    Produsen kendaraan listrik asal Vietnam, VinFast, resmi mengoperasikan fasilitas manufaktur terbarunya di Desa Padaasih, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Adapun pabrik tersebut mampu menyerap 900 tenaga kerja.

    Peresmian yang dilakukan, Senin (15/12/2025) menjadi tonggak penting bagi ekspansi global VinFast. Sebab kehadiran pabrik itu sebagai wujud keseriusan perusahaan dalam membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

    Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 170 hektare tersebut menjadi fasilitas produksi pertama VinFast di Asia Tenggara dan yang kedua di luar Vietnam. Dengan beroperasinya pabrik di Subang, VinFast kini memiliki empat fasilitas manufaktur aktif secara global.

    CEO VinFast Asia, Pham Sanh Chau, menyebut pembangunan pabrik ini sebagai wujud komitmen nyata perusahaan terhadap pengembangan industri hijau.

    “Tujuh belas bulan lalu kami memulai pembangunan pabrik ini dengan satu misi yang jelas, membangun ekosistem hijau yang komprehensif,” ujar Pham dalam keterangan tertulis, Rabu (7/1/2026).

    Foto: Foto: Dian Firmansyah

    Dia menegaskan kehadiran pabrik Subang mencerminkan semangat VinFast dalam mewujudkan janji dengan eksekusi cepat dan terukur sebagai perusahaan otomotif global.

    “Kami tidak hanya berbicara, tetapi juga mewujudkannya. Ini adalah bukti kecepatan dan kemampuan eksekusi VinFast,” ujarnya.

    Sementara itu, CEO VinFast Indonesia Kariyanto Hardjosoemarto menyebutkan bahwa pabrik VinFast yang berada di Subang ini telah menyerap hingga 900 tenaga kerja.

    “Subang memang menjadi tugas kami untuk prioritas tenaga kerja. Tenaga kerja terdidik dan terlatih tentunya harus memenuhi standar VinFast,” tuturnya.

    Dia menyebutkan jika seluruh fase pembangunan pabrik VinFast dk Subang telah terselesaikan keseluruhannya, maka bisa menyerap hingga 15 ribu tenaga kerja.

    “Kedepannya tak hanya kendaraan roda empat yang akan dirakit di pabrik ini, tapi juga akan merakit kendaraan roda dua, dengan total ditargetkan 300 ribu kendaraan tiap tahunnya,” ujarnya.

    Peresmian pabrik ini turut dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto. Menurut Airlangga, investasi VinFast selaras dengan agenda pemerintah dalam mempercepat transisi energi dan membangun industri kendaraan listrik nasional.

    Dia berharap VinFast dapat terus meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dengan menggandeng pelaku industri lokal, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

    “Sesuai namanya, VinFast, pembangunan pabrik ini memang sangat cepat. Tidak semua manufaktur mampu melakukannya,” tutup Airlangga.

    Sebagai informasi tambahan, Pabrik VinFast Subang dirancang untuk memproduksi kendaraan listrik berbasis baterai dengan teknologi efisiensi tinggi dan standar ramah lingkungan. Selain menyasar pasar domestik, fasilitas ini juga diproyeksikan menjadi hub ekspor ke negara-negara Asia Tenggara dan kawasan sekitarnya.

    (akd/ega)

  • Bahlil soal Pertemuan dengan Dasco, Cak Imin, dan Zulhas: Diskusi Kebangsaan

    Bahlil soal Pertemuan dengan Dasco, Cak Imin, dan Zulhas: Diskusi Kebangsaan

    Bahlil soal Pertemuan dengan Dasco, Cak Imin, dan Zulhas: Diskusi Kebangsaan
    Tim Redaksi
    BOGOR, KOMPAS.com
    – Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia mengungkap bocoran pembahasan saat bertemu tiga ketua partai politik, pada Minggu (28/12/2025) lalu.
    Menurut Bahlil, pertemuannya dengan Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar, Ketum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, dan Ketua Harian
    Partai Gerindra
    Sufmi Dasco Ahmad, itu dalam rangka silaturahmi.
    “Silaturahmi,” ungkap Bahlil, singkat di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).
    Saat ditanya soal adanya pembahasan terkait wacana Pilkada tidak langsung atau via DPRD, Bahlil enggan menegaskan secara jelas.
    Namun, ia memastikan isi pertemuan itu sekaligus membahas sejumlah
    agenda kebangsaan
    .
    “Ya silaturahmi salah satu di antaranya kami melakukan diskusi-diskusi untuk kebangsaan, agendanya agenda kebangsaan,” paparnya singkat.
    Diketahui, Bahlil, Dasco, Cak Imin, dan Zulhas berlangsung, pada Minggu (28/12/2025) lalu.
    Foto pertemuan itu sempat disebarkan oleh politikus
    Golkar
    Arief Rosyid Hasan ke awak media pada keesokan harinya.
    Dari foto yang dibagikan tampak Dasco, Bahlil, Zulhas, Cak Imin duduk bersama di sebuah ruang tamu.
    Foto selanjutnya menampilkan hanya Zulhas, Cak Imin, dan Bahlil yang berfoto bersama sambil berpegangan tangan.
    Arief menyebut, mereka bertemu di rumah Bahlil, di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan.
    “Silaturahim elite partai politik di kediaman Ketum Golkar,” ujar Arief, kepada Kompas.com, Senin (29/12/2025).
    Menurut Arief, keempat sosok tersebut bertemu dalam rangka memperkuat koalisi.
    “Silaturahmi dan diskusi untuk memperkuat koalisi dan membahas beberapa agenda politik ke depan,” imbuh dia.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Muncul Lagi Wacana Pilkada Lewat DPRD, Dasco: Kita Fokus Bencana Dulu

    Muncul Lagi Wacana Pilkada Lewat DPRD, Dasco: Kita Fokus Bencana Dulu

    JAKARTA – Ketua Harian DPP Partai Gerindra sekaligus Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menanggapi munculnya kembali wacana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) melalui DPRD. Ia menegaskan saat ini semua pihak, khususnya pemerintah tengah fokus menangani bencana di Sumatra.

    “Kalau kita bicara partai-partai politik tentunya kan semua sudah menyuarakan bagaimana keinginan ke depan, ya kan. Nah tapi, kalau ditanya pada saat sekarang ini, marilah kita sama-sama semua fokus pada penanganan bencana dulu di Sumatera,” ujar Dasco di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa, 6 Januari.

    Apalagi, kata Dasco, saat ini ada beberapa gunung di Indonesia yang mulai ‘bangun dari tidur’, sehingga pemerintah perlu fokus melakukan mitigasi bencana.

    “Dan juga, kita tidak berharap, tapi ada potensi gunung yang kemudian mungkin nantinya harus juga dampaknya ditangani dengan baik,” sambungnya.

    Dasco mengatakan, sejumlah partai politik telah menyatakan sikap mengenai usulan yang disampaikan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia itu. Hanya saja, kata Dasco, lebih baik energi bangsa salah ini difokuskan kepada pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

    “Oleh karena itu, masalah-masalah yang sudah kemarin menjadi polemik dan kemudian sudah ada beberapa sikap, ya kita juga akan minta supaya kita fokus pada bencana dulu,” katanya.

    Selain itu, Dasco menegaskan saat ini DPR belum membahas mengenai usulan tersebut, apakah diakomodir tahun ini atau tahun berikutnya. Terlebih, saat ini DPR masih menjalani masa reses.

    “Nah justru pembahasan atau tidak pembahasan, itu juga belum diputuskan kapan dibahasnya, karena kita masih reses. Jadi saya belum bisa jawab,” kata Dasco.

  • Idrus Marham: Pemilihan tidak Langsung bukan Langkah Mundur, tapi Ikhtiar Ideologis untuk Tegakkan Demokrasi Pancasila

    Idrus Marham: Pemilihan tidak Langsung bukan Langkah Mundur, tapi Ikhtiar Ideologis untuk Tegakkan Demokrasi Pancasila

    Fajar.co.id, Jakarta — Wakil Ketua Umum Bidang Politik Partai Golkar, Idrus Marham, menegaskan bahwa wacana sistem pemilihan kepala daerah harus dibaca dalam kerangka besar ideologi dan falsafah Bangsa, sebagaimana ditekankan Presiden terpilih Prabowo Subianto dalam pidato kemenangannya, serta Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dalam pidato awal kepemimpinannya.

    “Sejak awal, Presiden terpilih Prabowo Subianto telah menggugah kesadaran kita dalam hidup berbangsa dan telah menegaskan bahwa bangsa ini adalah rumah kita bersama—rumah besar yang harus dirawat, dibangun dan dikelola bersama dengan penuh rasa tanggung jawab, kekitaan, kekeluargaan dan kegotong royongan. Demokrasi dalam konteks ini bukan sekadar prosedur elektoral, melainkan instrumen ideologis untuk menjaga persatuan dan keberlanjutan bangsa,” ujar Idrus.

    Ia melanjutkan, semangat yang sama juga ditegaskan oleh Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, yang menekankan pentingnya konsolidasi ideologi dan penguatan wawasan kebangsaan sebagai fondasi dalam setiap kebijakan politik nasional.

    “Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa ke depan bangsa ini harus berbicara tentang konsolidasi ideologis dan wawasan kebangsaan. Artinya, setiap kebijakan politik—termasuk sistem pemilihan kepala daerah—harus diuji terlebih dahulu kesesuaiannya dengan ideologi dan falsfah bangsa kita, bukan sekadar dilihat dari aspek teknis atau pragmatis,” tegas Idrus.

    Dalam kerangka tersebut, Idrus menilai bahwa penyebutan Pilkada berbiaya tinggi oleh Presiden Prabowo maupun oleh Ketua Umum GOLKAR Bahlil Lahadalia dan pimpinan partai politik bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk untuk membahas persoalan yang lebih mendasar tentang arah demokrasi Indonesia, Demokrasi PANCASILA, yang tentu berbeda dengan demokrasi negara-negara lain.

    “Pernyataan soal biaya Pilkada yang tinggi itu jangan dipahami secara sempit. Itu hanyalah pintu masuk untuk mengajak kita semua bertanya lebih jauh: sistem pemilihan kepala daerah seperti apa yang paling sesuai dengan karakter, ideologi, falsafah dan kepribadian bangsa Indonesia?” kata Idrus.

    Menurutnya, perdebatan publik selama ini kurang pas dan tidak mendasar, karena terlalu cepat terjebak pada dikotomi langsung dan tidak langsung, tanpa terlebih dahulu meletakkan fondasi ideologisnya. Padahal, demokrasi Indonesia sejak awal tidak dirancang sebagai demokrasi liberal elektoral, melainkan demokrasi Pancasila yang bertumpu pada permusyawaratan, perwakilan, dan kebijaksanaan.

    “UUD 1945 dengan sadar tidak mengunci satu model teknis. Pasal 18 ayat (4) hanya menyebut ‘dipilih secara demokratis’. Ini menunjukkan bahwa konstitusi memberi ruang bagi bangsa ini untuk menentukan mekanisme yang paling sesuai dengan karakter dan ideologinya sendiri,” jelas Idrus.

    Idrus mengingatkan bahwa UUD 1945 tidak pernah mengunci demokrasi pada satu model teknis tertentu. Pasal 18 ayat (4) menyebutkan kepala daerah “dipilih secara demokratis”, sebuah frasa yang dengan sadar dirumuskan terbuka agar selaras dengan karakter demokrasi Pancasila, bukan sekadar meniru model demokrasi liberal elektoral.

  • Airlangga sebut eskalasi AS-Venezuela belum pengaruhi harga minyak

    Airlangga sebut eskalasi AS-Venezuela belum pengaruhi harga minyak

    Jakarta (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekon) Airlangga Hartarto menyatakan hingga saat ini eskalasi politik antara Amerika Serikat dan Venezuela belum berdampak terhadap harga minyak impor Indonesia.

    Sebelum melakukan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, Ia menyebut pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Venezuela.

    Menurutnya, sebagai salah satu sumber minyak dunia, Venezuela sedikit banyak akan mempengaruhi pergerakan harga minyak global.

    “Harga minyak kita monitor, kalau satu-dua hari ini pun tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi,” ujar Airlangga.

    Airlangga menyebut saat ini harga minyak dunia masih relatif rendah atau sekitar 63 dolar AS per barel.

    Dengan adanya eskalasi politik antara kedua negara, maka diprediksi harga minyak dunia akan melambung.

    Namun demikian, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan selalu memonitor dan berkoordinasi terhadap perubahan harga, serta mempersiapkan langkah antisipasi.

    Diketahui, ekspor minyak Venezuela lumpuh di tengah operasi militer AS di negara tersebut, menurut laporan Reuters mengutip empat sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya.

    Ekspor minyak Venezuela, yang anjlok hingga jumlah minimum di tengah blokade Presiden AS Donald Trump terhadap semua kapal tanker yang dikenai sanksi, kini lumpuh karena para kapten pelabuhan belum menerima permintaan izin keberangkatan bagi kapal-kapal bermuatan, menurut beberapa sumber tersebut kepada kantor berita itu.

    Sejumlah kapal pengangkut minyak mentah di Venezuela, yang dijadwalkan akan dikirim ke Amerika Serikat dan Asia, belum berlayar, menurut laporan kantor berita tersebut, mengutip data dari layanan pelacakan kapal TankerTrackers.

    PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) menegaskan bahwa aset minyak milik mereka di Venezuela tidak terdampak menyusul serangan Amerika Serikat ke negara tersebut.

    PIEP menguasai 71,09 persen saham perusahaan minyak dan gas asal Prancis, Maurel & Prom (M&P), yang memiliki aset di Venezuela.

    “Sehubungan dengan perkembangan situasi terkini, berdasarkan pemantauan yang dilakukan, hingga saat ini tidak terdapat dampak terhadap aset dan staf M&P di Venezuela,” kata Manager Relations PIEP Dhaneswari Retnowardhani dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

    Sebagai langkah antisipasi, Dhaneswari menyatakan PIEP terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas.

    Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
    Editor: Biqwanto Situmorang
    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Riuh Wacana Pilkada Dipilih DPRD: Gerindra-Golkar Cs Setuju, PDIP Tolak

    Riuh Wacana Pilkada Dipilih DPRD: Gerindra-Golkar Cs Setuju, PDIP Tolak

    Bisnis.com, JAKARTA – Riuh itu datang kembali, pelan tapi pasti. Di ruang-ruang diskusi elite politik, di sela konferensi pers bencana, hingga podium musyawarah wilayah partai, wacana lama yang pernah memicu sentimen publik kembali diangkat: pemilihan kepala daerah oleh DPRD.

    Bagi sebagian elite, ini sekadar evaluasi sistem. Namun bagi yang lain, dia adalah tanda bahaya—lonceng peringatan bahwa demokrasi Indonesia sedang diuji arah jalannya. 

    Lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998 dan hampir 20 tahun sejak pilkada langsung digelar pertama kali pada 2005, gagasan mengembalikan pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota ke tangan wakil rakyat di parlemen daerah kembali menguat.

    Alasannya terdengar klasik: biaya politik yang mahal, maraknya politik uang, konflik sosial, hingga efektivitas pemerintahan. Namun, di balik dalih efisiensi itu, terselip pertanyaan mendasar: apakah Indonesia sedang memperbaiki demokrasi, atau justru menariknya mundur ke ruang-ruang tertutup kekuasaan? 

    Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia membuka peluang formulasi baru pilkada, termasuk melalui DPRD, dengan catatan tetap menghargai hak-hak demokrasi rakyat. Golkar bahkan menawarkan konsep setengah konvensi yakni survei publik dilakukan terlebih dahulu, lalu partai menawarkan kandidat kepada publik sebelum diputuskan melalui mekanisme perwakilan. 

    Bagi Golkar, pilkada langsung bukan satu-satunya jalan demokrasi. Rakyat, dalam pandangan ini, tidak harus selalu hadir di bilik suara; cukup diwakili melalui proses yang diklaim lebih terstruktur. 

    “Survei dilakukan dulu. Kemudian partai-partai itu menawarkan kepada publik. Jadi semacam ada proses, ya setengah konvensi lah, semacam begitu. Ini contoh ya, contoh. Dan Golkar kan partai yang berpengalaman kalau disuruh buat konvensi dan dieksekusi hasilnya,” ucap Bahlil. 

    Di sela Diskusi Media di kompleks Senayan akhir Desember 2025, Wakil Ketua Umum PAN Eddy Soeparno. dengan tenang menyebut usulan pilkada melalui DPRD sebagai sesuatu yang layak dipertimbangkan.

    Bagi Eddy, pengalaman satu dekade terakhir menunjukkan pilkada langsung tidak steril dari problem identitas politik, politik dinasti, dan terutama politik uang.

    “Kami melihatnya itu adalah sebuah usulan yang memang layak dipertimbangkan,” ujar Eddy di sela Diskusi Media di kompleks Senayan, Jakarta, Senin (29/12/2025).

    Menurut Eddy, biaya besar yang harus ditanggung calon kepala daerah kerap berujung pada beban moral ketika mereka terpilih. Janji kepada sponsor kampanye, donor, dan cukong politik menjadi bayang-bayang yang mengiringi awal masa jabatan. Dalam skema pemilihan oleh DPRD, kata Eddy, beban itu diharapkan berkurang.

     “Kita bisa mendapatkan kepala daerah yang kemudian tidak perlu memiliki beban dari sejak awal dia memerintah, apakah itu beban keuangan, beban janji kepada sponsor, donor, dan lain-lain,” imbuhnya.

    Eddy bahkan menarik argumen ideologis: mekanisme perwakilan melalui DPRD disebutnya sejalan dengan sila keempat Pancasila—musyawarah untuk mufakat. Dalam bingkai itu, pilkada tak langsung bukan pengkhianatan demokrasi, melainkan upaya memperbaiki kualitasnya.

    Narasi serupa digaungkan Partai Kebangkitan Bangsa. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar secara terang menyebut pilkada langsung tidak produktif. Di hadapan kader PKB Jawa Timur, Cak Imin menilai sistem pemilihan kepala daerah selama ini tidak efektif dan perlu dievaluasi sebagai bagian dari pembenahan demokrasi.

    “Ya Alhamdulillah semua partai menyadari banyak sistem pemilihan umum, dalam paket-paket pemilihan umum yang tidak produktif, pilkada langsung tidak produktif,” tegasnya. 

    Dukungan itu semakin nyata ketika Partai Gerindra secara terbuka menyatakan kehendaknya. Ketua Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) DPP Partai Gerindra Prasetyo Hadi menyatakan terbuka terhadap berbagai aspirasi dan pandangan terkait wacana perubahan sistem pemilihan kepala daerah, termasuk gagasan mengembalikan mekanisme Pilkada melalui DPRD.

    Wacana tersebut dinilai perlu dikaji dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan sistem demokrasi yang selama ini berjalan.

    Apalagi, Gerindra, kata Prasetyo, telah melakukan kajian internal dan menemukan banyak sisi negatif dari pilkada langsung, terutama soal ongkos politik yang sangat besar. Bukan hanya bagi kandidat, tetapi juga bagi negara.

    “Ongkos politik untuk menjadi bupati, wali kota, maupun gubernur itu sangat besar,” ujarnya.

    Di sisi lain, Prasetyo sebagai pengurus partai memberi sinyal jelas wacana ini bukan sekadar diskursus akademik, melainkan rencana politik yang sudah lama disiapkan. Apalagi, dia menyebut pembahasan revisi UU Pilkada sudah berlangsung sejak era pemerintahan sebelumnya.

    “Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo juga sudah banyak kita bahas mengenai kemungkinan revisi undang-undang pemilihan,” kata Prasetyo.

    Dengan PAN, PKB, Golkar, dan Gerindra berada di jalur yang relatif searah, peta politik soal pilkada tampak mulai mengeras. Pertanyaannya: siapa yang menahan laju?

    PDIP Tolak Kepala Daerah Dipilih DPRD

    PDI Perjuangan menolak usul tersebut dengan nada waspada. Ketua DPP PDIP Said Abdullah menyebut wacana mengembalikan pilkada ke DPRD sebagai langkah gegabah. Demokrasi Indonesia, katanya, sudah berjalan maju. Menariknya kembali justru berisiko merusak proses pendewasaan politik yang telah dibangun sejak Reformasi. 

    “Hati-hati. Kita sudah begitu maju, begitu maju. Tiba-tiba ditarik mundur lagi ke belakang, atret,” tegas Said.

    Bagi Said, pilkada langsung bukan sekadar prosedur, melainkan bagian dari demokrasi substantif. Dia mempertanyakan logika bahwa pilkada lewat DPRD otomatis lebih murah dan bersih. Menurutnya, ongkos tinggi bukan monopoli pemilihan langsung. 

    “Saya minta hati-hati, kaji secara mendalam. Plus minusnya. Jangan ada istilah bahwa kalau demokrasi yang sudah kita jalankan dalam pilkada langsung itu high cost. Apakah lewat DPRD juga tidak high cost pertanyaannya? Jangan-jangan lewat DPRD sama saja,” jelasnya.

    Said menegaskan akar masalah demokrasi Indonesia bukan terletak pada sistem pemilihan, melainkan pada kualitas pendidikan politik yang dijalankan partai. Politik uang, kata dia, tidak akan hilang hanya dengan memindahkan arena kontestasi dari publik ke parlemen.

    Namun di balik pernyataan keras itu, para pengamat melihat posisi PDIP tidak sepenuhnya kokoh. Sebagai partai besar di luar kabinet pemerintahan Prabowo, PDIP dinilai berada dalam posisi ambigu—antara menjaga jarak kritis dan tetap berada dalam orbit kekuasaan.

    Partai Besar Untung, Partai Kecil Buntung 

    Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki, melihat wacana pilkada lewat DPRD bukan sekadar soal efektivitas demokrasi, melainkan penataan ulang peta kekuasaan.

    “Ini menguntungkan partai besar yang memiliki kursi dan jaringan fraksi kuat,” ujarnya.

    Dalam pilkada langsung, partai kecil masih memiliki ruang lewat figur populer atau koalisi cair. Tetapi jika pemilihan dipindahkan ke DPRD, ruang itu menyempit drastis. Kompetisi berpindah dari arena publik ke ruang tertutup parlemen, tempat lobi, barter politik, dan kesepakatan elite menjadi penentu. 

    Menurut Arifki, konfigurasi ini berpotensi melahirkan politik yang makin elitis. Penentuan kepala daerah selesai di tingkat pimpinan pusat partai, dengan skema tukar-menukar daerah sebagai bagian dari konsensus nasional. Dalam situasi seperti itu, partai kecil, calon independen, dan figur non-elite akan menjadi korban pertama.

    Situasi ini juga menekan PDIP dan Demokrat. Tanpa poros baru, keduanya berisiko berhadapan dengan blok besar yang sudah lebih dulu mengunci arah pembahasan RUU Pemilu 2026. Namun hingga kini, resistensi PDIP dan Demokrat dinilai masih “angin-anginan”.

    Di tengah tarik-menarik elite itu, kritik keras juga datang dari Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti yang secara terbuka menolak argumen penolakan pilkada langsung yang selama ini digaungkan.

    Menurut Ray, setidaknya ada lima alasan yang sering dipakai untuk menolak pilkada langsung: politik uang, biaya mahal, konflik sosial, ketidaksinkronan pusat-daerah, dan ketergantungan pada popularitas. Namun, semua alasan itu ia bantah satu per satu.

    Soal politik uang, Ray menilai masalahnya bukan pada sistem pemilihan, melainkan budaya politik. Jika politik uang terjadi di pilpres, pileg, dan pilkada, mengapa hanya pilkada yang ingin diubah?

    “Kalau politik uang marak di semua pemilihan, maka masalahnya bukan lagi pada sistem tapi sudah pada budaya politik Indonesia,” tegasnya.

    Ray bahkan mengutip data Bawaslu bahwa dari ratusan pilkada, hanya sekitar 130 laporan dugaan politik uang yang masuk, dan hanya segelintir yang berujung pidana atau diskualifikasi. Data itu, menurutnya, tidak sebanding dengan narasi bahwa politik uang begitu merajalela.

    Lebih jauh, Ray menuding partai politik abai menjalankan kewajibannya. Parpol, katanya, justru sering menjadikan pilkada sebagai objek penarikan dana dari kandidat. Alih-alih menegakkan zero tolerance terhadap politik uang, partai malah menjadi tempat berlindung bagi pelakunya.

    Dalam pandangan Ray, mengubah sistem pilkada bukan solusi, melainkan pengalihan tanggung jawab. Yang dirampas justru hak politik rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri.

    “Pilkada adalah petanda akhir dari reformasi. Jika ini dirampas, itu petanda bahwa reformasi habis,” ujarnya.

    Di titik inilah pertanyaan besar mengemuka: apakah wacana pilkada oleh DPRD benar-benar ditujukan untuk memperbaiki demokrasi, atau justru untuk menertibkan demokrasi agar lebih mudah dikendalikan.  

    Bagi elite partai, pilkada langsung memang mahal, bising, dan penuh ketidakpastian. Bagi rakyat, pilkada langsung adalah satu dari sedikit ruang di mana suara mereka benar-benar menentukan. Memindahkan keputusan itu ke DPRD berarti mengubah relasi kekuasaan—dari kedaulatan rakyat ke kedaulatan elite.

    Riuh pilkada oleh DPRD hari ini bukan sekadar perdebatan teknis. Dia adalah cermin kegelisahan elite menghadapi demokrasi yang terlalu bebas, terlalu mahal, dan terlalu sulit diprediksi. Di hadapan riuh itu, publik dihadapkan pada pilihan menerima demokrasi yang lebih rapi namun tertutup, atau mempertahankan demokrasi yang berisik tetapi memberi ruang pada suara rakyat. 

    Pertanyaannya kini bukan lagi apakah pilkada langsung sempurna—jelas tidak. Pertanyaannya: apakah kita siap menukar hak memilih dengan janji efisiensi yang belum tentu bersih?

  • Dasco, Bahlil, Cak Imin, dan Zulhas Bertemu Gagas Koalisi Permanen, Demokrat Tak Nampak

    Dasco, Bahlil, Cak Imin, dan Zulhas Bertemu Gagas Koalisi Permanen, Demokrat Tak Nampak

    FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) melakukan pertemuan pada Minggu (28/12/2025).

    Berdasarkan foto yang dikirim politikus Golkar Arief Rosyid Hasan, tampak Dasco, Bahlil, Cak Imin, dan Zulhas duduk bersama di sebuah ruang tamu.

    Foto selanjutnya menampilkan hanya Zulhas, Cak Imin, dan Bahlil yang berfoto bersama sambil berpegangan tangan. Arief menyebut mereka bertemu di rumah dinas Bahlil di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan.

    “Silaturahim elite partai politik di kediaman Ketum Golkar,” kata Arief kepada wartawan, Senin (29/12/2025).

    Menurut Arief, keempat sosok tersebut bertemu dalam rangka memperkuat koalisi.

    Kendati demikian, saat ditanya lebih jauh perihal isi pertemuan, Arief belum berkomentar. “Silaturahmi dan diskusi untuk memperkuat koalisi dan membahas beberapa agenda politik ke depan,” jelas Arief.

    Diketahui, salah satu hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Golkar Tahun 2025 adalah pembentukan Koalisi Permanen yang diusulkan Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia.

    Sebelumnya Politisi Golkar, Ilham Permana mengatakan stabilitas politik menjadi kunci agar kebijakan strategis pemerintah tidak terus terganggu oleh fragmentasi kepentingan elektoral.

    “Koalisi permanen adalah jawaban atas politik yang terlalu transaksional. Dengan dukungan politik yang stabil di parlemen, pemerintah bisa bekerja lebih cepat dan konsisten,” ujarnya.