Tag: Agus Santoso

  • Heboh Grup ‘Gay Surakarta dan Sekitarnya’, Adminnya di Bawah Umur

    Heboh Grup ‘Gay Surakarta dan Sekitarnya’, Adminnya di Bawah Umur

    Yang lebih memprihatinkan, lanjut Respati, ada beberapa admin grup penyuka sesama jenis tersebut diketahui masih di bawah umur. Pemblokiran tersebut juga dimaksudkan untuk mempersempit ruang gerak mereka.

    “Tentunya arahnya ke sana (prostitusi), karena kita lihat transmitternya kita cukup khawatir ada beberapa admin gitu yang masih di bawah usia itu yang mengkhawatirkan. Nah ini kita mitigasinya kita takedown dan kita data admin-admin kita lacak tapi yang jelas itu tadi memperkecil ruang gerak juga di penyimpangan,” ujar dia.

    Selain pemblokiran, menurut dia, upaya lain yang dilakukan adalah menggencarkan pengecekan tempat indekos yang rawan dijadikan tempat penyimpangan seksual.

    “Kita mewajibkan pemilik kos untuk melaporkan penghuninya ke pemangku wilayah setempat. Satpol PP akan berkeliling untuk melakukan pengecekan. Bagi para pengusaha kos-kosan wajib melaporkan yang menyewa atau penghuni kos-kosan kepada RT, RW dan lurah jadi kita akan keliling mengajarkan ke kos-kosan,” pungkasnya.

    Sementara rapat dihadiri Kepala Satpol PP Didik Anggono, Kepala Kesbangpol Agus Santoso, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Dwi Ariyatno, dan Kepala DP3AP2KB Kristiana Hariyanti.

    Sumber: Merdeka.com

  • 9
                    
                        Ayam Goreng Legendaris Widuran Solo Tidak Halal, Warga: Kami Sudah Konsumsi sejak Kecil
                        Regional

    9 Ayam Goreng Legendaris Widuran Solo Tidak Halal, Warga: Kami Sudah Konsumsi sejak Kecil Regional

    Ayam Goreng Legendaris Widuran Solo Tidak Halal, Warga: Kami Sudah Konsumsi sejak Kecil
    Tim Redaksi
    SOLO, KOMPAS.com
    – Rumah makan legendaris
    ayam goreng Widuran
    berlokasi di Jalan Sutan Syahrir Kelurahan Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah, ternyata tidak halal.
    Hal ini diketahui setelah pemilik rumah makan mengklarifikasi menggunakan bahan non-halal dalam penyajiannya di akun Instagram resmi miliknya @ayamgorengwiduransolo.

    Kepada seluruh pelanggan Ayam Goreng Widuran, Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan yang beredar di media sosial belakangan ini. Kami memahami bahwa hal ini menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Sebagai langkah awal, kami telah mencantumkan keterangan NON-HALAL secara jelas di seluruh outlet dan media sosial resmi kami. Kami berharap masyarakat dapat memberi kami ruang untuk memperbaiki dan membenahi semuanya dengan itikad baik
    ,” tulis manajemen ayam goreng Widuran dalam akunnya dikutip
    Kompas.com
    , Senin (26/5/2025).
    Pengumuman klarifikasi non-halal tersebut diunggah di akun resminya empat hari lalu.
    Berikut sejumlah hal terkait ayam goreng Widuran:
    Seorang karyawan, Nanang, mengungkapkan bahwa kremesan ayam goreng dibuat dari bahan non-halal.
    “(Bahan nonhalal) kremesnya aja. (Kremesan) dibuat dari bahan nonhalal. Dari minyaknya (nonhalal),” ucapnya di Solo, Jawa Tengah, Senin (26/5/2025).
    Meski demikian, dirinya menegaskan ayamnya digoreng dengan menggunakan minyak kelapa.

    Nak
    (kalau) minyak (menggoreng ayam) asli Barco,” tambahnya.
    Nanang mengatakan, tidak bisa menjelaskan secara pasti alasan keterlambatan penyematan label non-halal. Padahal, rumah makan sudah berdiri sejak 1973 atau 52 tahun.
    “Dari pihak karyawan tidak bisa menjelaskan. (Setelah ramai) dari pihak sini di Instagram langsung membuat klarifikasi (label non-halal),” kata dia.
    Label non-halal di ayam goreng Widuran baru dipasang dalam beberapa hari terakhir.
    (TribunSolo.com / Ahmad Syarifudin) AYAM GORENG WIDURAN – Suasana di Ayam Goreng Widuran Jalan Sutan Syahrir, Kepatihan Kulon, Jebres, Solo, Sabtu (24/5/2025). Heboh di media sosial Ayam Goreng Widuran di Kota Solo ternyata dimasak dengan bahan yang tidak halal.
    Sebelumnya, restoran ini tidak mencantumkan secara eksplisit bahwa beberapa menunya, seperti ayam goreng kremes, menggunakan bahan non-halal.
    Hal ini memicu kekecewaan banyak pelanggan, terutama yang beragama Islam.
    Nanang menyebutkan bahwa restoran yang sudah berdiri puluhan tahun itu memiliki pelanggan loyal dari berbagai daerah.
    “Pelanggannya ada dari Surabaya, Jakarta, luar kota, luar pulau,” ungkap Nanang yang sudah bekerja selama 10 tahun.
    Ia juga menegaskan bahwa mayoritas pelanggan mereka merupakan nonmuslim.
    “Mayoritas sini bukan muslim. Nonmuslim (pelanggan),” ucapnya.
    Pencantuman label non-halal membuat masyarakat khususnya para pelanggan ayam goreng Widuran terkejut.
    Sebab mereka sudah puluhan tahun menjadi pelanggan rumah makan.
    Seorang pelanggan ayam goreng Widuran yang enggan disebut namanya, mengatakan sudah sejak kecil menjadi pelanggan ayam goreng Widuran.
    “Saya pelanggan lama dari kecil. Tidak tahu kalau non-halal,” kata dia.
    Setelah tahu menggunakan bahan non-halal, warga Solo ini tidak lagi membeli ayam goreng Widuran.
    “Sebagai muslim sudah tahu lama dikasih tahu teman-teman. Saya sudah berhenti (tidak membeli ayam goreng Widuran),” ujar dia.
    Ia tidak punya keinginan untuk menuntut pemilik rumah makan ayam goreng Widuran ke pihak berwajib karena tidak jujur.
    Justru sebaliknya, dengan mencantumkan label tersebut masyarakat tahu bahwa ayam goreng Widuran non-halal.
    “Untuk berusaha kita dukung ya. Kasihan juga. Sudah dikasih tahu nonhalal ya sudah orang Islam tidak usah masuk,” ucap dia.
    Pelanggan lainnya, Pita, mengaku dari sejak sekolah dasar (SD) atau sekitar tahun 1990 menjadi pelanggan ayam goreng Widuran.
    Dia dikenalkan oleh orangtuanya yang juga pelanggan ayam goreng Widuran.
    “Sejak SD saya langganan ayam goreng Widuran. Saya tahunya dari orangtua.
    Ayam goreng Widuran
    rasanya gurih,” ungkap dia.
    Pita mengaku paling suka membeli ayam goreng original plus kremesan.
    Menurut dia, ayamnya gorengnya rasanya gurih dan enak karena asli ayam kampung.
    Meskipun demikian, dirinya menyayangkan pemilik rumah makan yang baru saja mengumumkan bahan yang digunakan non-halal.
    “Suka original sama kremes. Kalau dibanding ayam goreng lain memang ayam goreng Widuran lebih gurih enak menggunakan ayam kampung,” kata dia.
    Kegaduhan terkait label non-halal tersebut membuat Wali Kota Solo, Respati Ardi turun melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke rumah makan ayam goreng Widuran bersama OPD terkait.
    Respati didampingi sejumlah pejabat dan aparat daerah, antara lain Kepala Dinas Perdagangan Agus Santoso, Kepala Satpol PP Didik Anggono, Kepala Kemenag Solo Ahmad Ulin Nur Hafsun, serta perwakilan kepolisian dan TNI.
    Namun, saat sidak berlangsung, pemilik ayam goreng Widuran tidak berada di tempat.
    Respati ditemui langsung oleh para karyawan dan sempat menghubungi pemilik melalui sambungan telepon. Pemilik rumah makan sedang berada di luar kota.
    Respati menyampaikan bahwa rumah makan diminta tutup sementara untuk menjalani asesmen kehalalan oleh OPD dan instansi terkait.
    “Saya mengimbau untuk ditutup dulu dilakukan asesmen ulang oleh OPD-OPD terkait kehalalan dan ketidakhalalan,” tegas Respati di Solo, Senin.
    Ia juga mendorong agar pemilik mengajukan sertifikasi halal atau nonhalal secara resmi.
    “Saya tawarkan apabila mau menyatakan halal, silakan ajukan. Kalau tidak, ya silakan ajukan tidak (halal). Hari ini bisa ditutup terlebih dahulu dilakukan assessment ulang,” jelasnya.
    Soal durasi penutupan, Respati mengatakan akan menunggu hasil asesmen terlebih dahulu.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Belanja Cashless ala Digitalisasi, Kisah Inspiratif UMKM Lintang Kejora – Halaman all

    Belanja Cashless ala Digitalisasi, Kisah Inspiratif UMKM Lintang Kejora – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

    TRIBUNNEWS.COM, SOLO – Pada pagi yang cerah di Solo, Putri, seorang perempuan berusia 30 tahun asal Magetan, memutuskan untuk menyelesaikan liburan singkatnya dengan berkunjung ke salah satu toko oleh-oleh yang terkenal di kota ini.

    Setelah beberapa hari menikmati pesona Solo, ia menyadari ada satu hal yang masih kurang, oleh-oleh khas yang bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.

    Setelah mendapat rekomendasi dari seorang teman, Putri melangkah ke sebuah toko kecil bernama Lintang Kejora, yang terletak di kampung yang tenang, tidak jauh dari pusat kota.

    Toko ini terkenal dengan berbagai produk berbahan kain jumputan khas Solo yang dibuat menjadi tas, dompet, hingga aksesoris lainnya.

    Setiba di sana, Putri langsung disambut oleh warna-warna cerah dari berbagai produk yang dipajang di teras.

    Tas-tas beraneka model, mulai dari sling bag hingga ransel, semua memikat hati. Salah satu produk langsung menarik perhatian Putri, sebuah sling bag berwarna biru muda dengan aksen goni di bagian sampingnya.

    “Wah, ini lucu banget,” gumam Putri sambil menyentuh permukaan kain yang terasa lembut namun kuat di tangannya, pada Sabtu (19/4/2025). 

    Tas itu tidak hanya menarik, tetapi juga terkesan unik dengan sentuhan tradisional yang berpadu dengan desain modern.

    Awalnya, Putri hanya berniat melihat-lihat.

    Namun, tas itu cukup membuatnya ragu untuk pergi tanpa membelinya. Ia lalu berinteraksi dengan penjaga toko, yang menjelaskan berbagai pilihan produk dan memberikan penawaran.

    Proses tawar-menawar berjalan dengan akrab, tidak ada tekanan, hanya percakapan ringan antara pembeli dan penjual.

    Setelah harga disepakati, Putri mencoba membayar dengan uang tunai, namun ia menyadari bahwa dompetnya hampir kosong.

    Sejenak ia bingung, tetapi penjaga toko dengan ramah menawarkan solusi.

    “Mbak bisa bayar pakai QRIS aja,” kata penjaga toko sambil menunjukkan kode QR yang terpasang di meja kasir.

    Putri tersenyum lega.

    Tanpa perlu ragu, ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi BRImo, dan memindai kode QR yang ada.

    Dalam hitungan detik, transaksi berhasil, dan Putri pun dapat melanjutkan liburannya tanpa kendala.

    “Wah, simpel banget. Nggak perlu repot cari uang tunai lagi,” ujarnya sambil tersenyum lebar, melihat layar ponselnya yang menunjukkan konfirmasi pembayaran berhasil.

    Bagi Putri, pengalaman ini bukan hanya soal membeli sebuah tas.

    Ini adalah bukti nyata bahwa digitalisasi semakin memudahkan kehidupan sehari-hari, bahkan dalam transaksi kecil sekalipun.

    Termasuk untuk Rina, pemilik UMKM Lintang Kejora, penerapan teknologi seperti QRIS dan aplikasi BRImo telah menjadi bagian penting dari perjalanan usahanya.

    Rina Sulistyaningsih, yang kini berusia 50 tahun, memulai usaha Lintang Kejora pada tahun 2015 dengan modal keterampilan menjahit dan hobi mengoleksi pernak-pernik.

    Awalnya, ia hanya menjual dompet kecil dari kain perca yang diperoleh dari penjahit setempat.

    Namun, seiring waktu, permintaan mulai meningkat, dan Rina pun memperluas produknya dengan menambah berbagai jenis tas dan aksesoris lain.

    Harga produk di Lintang Kejora bervariasi, mulai dari Rp 50.000 untuk dompet kecil hingga Rp 500.000 untuk tas ransel dan sling bag yang lebih besar.

    Omzet bulanan Rina kini mencapai sekitar Rp 10-12 juta.

    Piala dan piagam penghargaan yang diraih UMKM Lintang Kejora Solo (Tribunnews.com/Chrysnha)

    Namun, perjalanan Rina menuju kesuksesan tidaklah mudah.

    “Awalnya, saya merasa kesulitan sekali. Modal terbatas, pemasaran juga masih sangat konvensional. Tapi saya terus mencoba, berusaha, dan akhirnya perlahan bisa berkembang,” ungkap Rina dengan senyum haru saat mengenang masa-masa awal usahanya.

    Rina menyadari bahwa untuk terus bertahan dan berkembang, ia harus mengikuti perkembangan zaman.

    Saat pandemi Covid-19 melanda, banyak pelaku UMKM yang terhambat, namun Rina justru melihat ini sebagai kesempatan.

    Ia mulai merambah dunia digital, memanfaatkan platform media sosial dan e-commerce untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas.

    “Dulu saya tidak tahu apa-apa tentang digital, bahkan untuk mengunggah foto di Instagram saja saya bingung. Tapi setelah mengikuti beberapa pelatihan, saya mulai paham dan bisa mengelola semuanya dengan lebih baik,” katanya.

    Peran BRI melalui Rumah BUMN Solo dalam mendukung digitalisasi bagi UMKM sangat terasa bagi Rina.

    Melalui pelatihan dan pembinaan yang diberikan, Rina belajar tentang cara mengelola keuangan, membuat katalog produk, serta memasarkan produk secara online.

    Bahkan, dalam beberapa kesempatan, ia mengikuti kompetisi dan pameran virtual yang diselenggarakan oleh berbagai instansi dan kementerian.

    Sebagai hasil dari usahanya, Lintang Kejora meraih beberapa penghargaan, termasuk Juara 1 dalam kompetisi Startup4Industry yang diadakan oleh Kementerian Perindustrian pada tahun 2021.

    Selain itu, Lintang Kejora juga berhasil mengembangkan pasar hingga ke luar negeri, dengan produk-produknya mulai menembus pasar Singapura.

    “Sekarang saya sudah punya website, dan media sosial seperti Instagram serta Facebook jadi alat utama untuk pemasaran. Produk kami juga sudah sampai ke berbagai daerah di Indonesia, bahkan Singapura,” jelas Rina dengan bangga.

    Penerapan teknologi digital membuat Lintang Kejora semakin efisien dalam beroperasi, dari pemasaran hingga pembayaran.

    Bagi Rina, semua ini merupakan bagian dari upayanya untuk terus berinovasi agar tetap relevan di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

    “Digitalisasi itu bukan hanya tentang kemudahan, tapi tentang keberlanjutan. Jika kita tidak mengikuti perubahan, kita akan tertinggal,” tegasnya.

    Kini, Lintang Kejora telah menjadi contoh sukses dari sebuah UMKM yang beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan zaman.

    Tidak hanya dari segi produk dan pemasaran, tetapi juga dalam hal pembayaran. 

    QRIS dan aplikasi BRImo telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan operasional sehari-hari, membuat transaksi lebih cepat dan aman, baik untuk pembeli maupun penjual.

    Digitalisasi BRI di Solo

    Lapak-lapak Shelter Manahan di kawasan barat kompleks Stadion Manahan Solo (Tribunnews.com/Chrysnha)

    Pimpinan Cabang BRI Solo Slamet Riyadi, Eko Hary Wijayanto, mengungkapkan tren positif pertumbuhan layanan digital BRI di wilayah Solo dan sekitarnya.

    “Jumlah merchant QRIS BRI kini telah mencapai 3,7 juta merchant, dengan kenaikan sebesar 18 persen pada tahun 2024,” jelasnya pada Senin (14/4/2025).

    Selain itu, volume transaksi QRIS BRI juga mengalami pertumbuhan year on year (YoY) yang signifikan sepanjang tahun 2024.

    Untuk perkembangan penggunaan BRImo, Eko menyampaikan bahwa pada Desember 2023 jumlah pengguna BRImo mencapai 31,6 juta, meningkat 32,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Tren ini berlanjut hingga Desember 2024, dengan jumlah pengguna BRImo yang tumbuh menjadi 38,61 juta, atau naik 22,12 persen secara tahunan.

    Inovasi terus dilakukan BRI untuk memperkaya fitur di BRImo.

    Beberapa inovasi terbaru yang telah diluncurkan antara lain fitur pembelian voucher streaming, layanan investasi emas yang bekerja sama dengan Pegadaian, serta fitur pengiriman barang bekerja sama dengan PosAja.

    Dalam kinerja triwulan II tahun 2024, Direktur BRI Sunarso menyebutkan bahwa hingga akhir Juni 2024, BRImo digunakan oleh 35,2 juta pengguna aktif.

    BRImo mencatatkan sebanyak 2,01 miliar transaksi finansial dengan total volume transaksi mencapai Rp2.574 triliun, tumbuh 35,81 persen secara tahunan.

    Sementara itu, nilai transaksi QRIS di Solo juga menunjukkan angka yang menggembirakan.

    Pada bulan Januari 2025 saja, nilai transaksi QRIS di Solo telah menembus Rp695 miliar, mencerminkan tingginya adopsi pembayaran digital di kalangan pelaku UMKM di wilayah tersebut.

    Founder Creative Space Solo, Joko Purwono menyoroti perkembangan digital di bidang UMKM kota Solo.

    Menurutnya, kesadaran para pedagang juga pelaku UMKM semakin hari semakin meningkat.

    Namun, ia menggaris bawahi tindak lanjut perbankan dan dinas terkait agar melakukan pendampingan kepada pedagang terkait pemberlakuan transaksi digital.

    “Di shelter, di pasar-pasar memang sudah banyak pakai QRIS, tapi masih ditemukan yang belum bahkan enggan pakai QRIS. Kan ada juga (pedagang) yang sepuh lalu sudah lanjut usia tak tahu caranya, jadi kita harap ada pendampingan lanjut,” pesannya diwawancarai pada Selasa (4/3/2025).

    Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Agus Santoso dihubungi terpisah mengaku telah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menyukseskan digitalisasi UMKM dan pedagang.

    Begitu juga bekerja sama dengan pengelola pasar dan perbankan.

    Dirinya mengakui, pendampingan terhadap pedagang untuk mengantisipasi halangan digitalisasi sangat penting dilakukan.

    Hal ini untuk menyelaraskan slogan Go Digital di bidang perdagangan dan usaha di Solo.

    “Saya tentu sudah menjalin komunikasi juga dengan pengelola masing-masing pasar untuk mengawasi dan mendampingi pedagang yang mungkin kesulitan untuk menerapkan digitalisasi seperti soal transaksi QRIS hingga e-Retribusi,” terangnya.

    ” Jadi bersama juga dengan perbankan tak hanya sosialisasi dan pendaftaran, pendampingan juga perlu karena banyak yang pedagang sepuh,” imbuh Agus.

    Terkait dengan digitalisasi, Dinas Perdagangan Kota Solo juga sudah menerapkan penarikan pajak dengan e-Retribusi.

    Tak hanya dengan satu bank pelat merah, e-Retribusi diterapkan juga dengan kolaborasi beberapa bank BUMN di pasar-pasar di Kota Bengawan.

    “Ini berkat kolaborasi dan sinergi Pemkot Surakarta, perbankan dan masyarakat. Sudah melek digital dan mau untuk maju mengikuti perkembangan teknologi,” urai dia.

    Sebagai upaya pengembangan ekonomi berbasis digital, perbankan kini mendorong penggunaan transaksi QRIS.

    Transaksi ini mengalami pertumbuhan pesat, yaitu mencapai 209,61 persen (yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 53,3 juta dan jumlah merchant 34,23 juta.

    Penerapan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS 0 persen untuk transaksi sampai dengan Rp500.000 pada merchant Usaha Mikro (UMI), yang berlaku efektif mulai 1 Desember 2024 guna menopang daya beli masyarakat kelas menengah bawah.

    BRI pun berkomitmen penuh dalam mendukung pengembangan ekonomi berbasis digital, khususnya bagi para pelaku usaha mikro.

    Dengan memberikan MDR 0 persen atau bebas biaya MDR, BRI tidak hanya meringankan beban operasional merchant, tetapi juga mendorong inklusi keuangan yang lebih luas.

    Program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro di era digital, sekaligus memperluas adopsi QRIS sebagai solusi pembayaran nontunai yang efisien.

    (*)

  • Majikan Tewas Diduga Diserang 10 Anjing, Kakak Yakin Korban Dimangsa, Pecinta Anjing Dibuat Syok – Halaman all

    Majikan Tewas Diduga Diserang 10 Anjing, Kakak Yakin Korban Dimangsa, Pecinta Anjing Dibuat Syok – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Kasus majikan tewas diduga diserang 10 anjing peliharaannya dilaporkan terjadi di Surabaya, Jawa Timur.

    Korban diketahui bernama Yohanes Alexander Stefanus de Fretes (52), warga Jalan Rungkut Harapan.

    Jasad korban pertama kali ditemukan oleh sang kakak, Henry de Fretes, pada Jumat (11/4/2025).

    Henry yakin adiknya tewas dimangsa oleh anjing-anjingnya hingga membuat dirinya ikut trauma.

    “Trauma, karena anjing ini memakan jenazah. Kalau saya sih bukan diduga, tapi pasti. Keyakinan saya pasti (dimangsa),” katanya, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Senin (14/4/2025).

    Henry dalam kesempatannya mengungkap kronologi detik-detik adiknya ditemukan tewas.

    Semua bermula ketika ia pergi ke rumah korban hendak mengirim makan.

    Sampai di tempat kejadian perkara (TKP), Henry merasa curiga dengan perilaku anjing milik korban.

    Para anjing menggonggong tak biasa.

    Henry yang penasaran langsung mendobrak pintu dan menemukan adiknya dalam kondisi mengenaskan wajah penuh luka.

    Henry menambahkan bahwa adiknya memang menderita penyakit TBC dan sangat menyayangi anjing-anjing peliharaannya.

    “Dia sering tidur ditemani anjing-anjingnya,” ungkap dia, dikutip dari TribunJatim.com.

    Henry kemudian melaporkan kejadian ini ke polisi.

    Petugas mengevakuasi jasad korban untuk dilakukan autopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim.

    Kapolsek Rungkut, AKP Agus Santoso mengaku belum bisa menyimpulkan penyebab tewasnya korban.

    “Kami masih menunggu hasil autopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim untuk memastikan penyebab kematian korban,” terangnya.

    Informasi tambahan, korban menderita sakit tuberkulosis.

    Sehari setelah kejadian, kesepuluh anjing dievakuasi oleh sejumlah pihak yang melibatkan para komunitas anjing.

    Djati Purnamawati yang ikut membantu mengaku syok dengan kejadian tersebut.

    “Itu kan ceritanya katanya mayatnya digigit dimakan. Itu kan perilaku yang menyimpang,” katanya, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews.

    “Saya sendiri sebenarnya syok ada anjing yang bisa memakan tuannya,” tambah dia.

    Djati mengaku, selama 45 tahun berkecimpung dalam program penyelamatan anjing, dirinya baru pertama kali mendapati kasus ini.

    Ia bercerita, pernah menemukan pemilik anjing yang sudah meninggal dan baru ditemukan 5 hari setelahnya.

    “Anjingnya masih nungguin di situ dengan tidak ada tragedi seperti itu (mayat dimakan, red),” tandasnya.

    ANJING MEMANGSA MAJIKAN – Perwakilan Komunitas Dog Lover Indonesia Siane Koo saat bersama anjing-anjing yang diduga telah memangsa majikannya di Surabaya, Jawa Timur. (Tangkap layar kanal YouTube tvOnenews)

    Perwakilan Komunitas Dog Lover Indonesia Siane Koo mengatakan, kini 10 anjing milik korban sudah berada di tempatnya untuk dirawat. 

    Ia membantah berita yang menyebut anjing-anjing tersebut berperilaku beringas.

    “Mereka tidak agresif seperti yang diberitakan kemarin. Mereka tidak agresif, tapi hanya ketakutan,” ujarnya, dikutip kanal YouTube tvOneNews.

    Siane menegaskan, kasus anjing memangsa majikan merupakan perilaku yang tidak normal dan tidak mungkin.

    Selain itu, tim Dog Lover Indonesia menduga lokasi kejadian adalah tempat penjagalan anjing untuk dikonsumsi.

    Indikasi ini berasal dari ditemukannya alat pembakar bulu anjing.

    “Sepertinya anjing pedaging. Mereka diternakkan untuk dikonsumsi,” tegas Siane.

    Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Heboh Pria Surabaya Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Bersama 10 Anjingnya, Wajah Penuh Luka

    (Tribunnews.com/Endra)(TribunJatim.com/Tony Hermawan)

  • Pria di Surabaya Tewas dengan Wajah Penuh Luka, Diduga Diserang 10 Anjing Peliharaan – Halaman all

    Pria di Surabaya Tewas dengan Wajah Penuh Luka, Diduga Diserang 10 Anjing Peliharaan – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Kejadian tragis terjadi di Jalan Rungkut Harapan, Surabaya, Jawa Timur, di mana seorang pria bernama Yohanes Alexander Stefanus de Fretes (52) ditemukan tewas dengan wajah penuh luka.

    Dugaan sementara menyebutkan, korban tewas akibat serangan sepuluh anjing peliharaannya.

    Yohanes ditemukan tidak bernyawa pada Jumat (11/4/2025), oleh kakaknya, Henry de Fretes, setelah pulang dari bekerja.

    Henry mengaku mendengar suara gonggongan anjing yang tidak biasa dari kamar adiknya.

    “Tapi pas pulang, cuma dengar anjing-anjingnya gonggong terus dari dalam kamar. Pas saya dobrak pintu, saya lihat adik saya sudah dalam kondisi seperti itu, bersama anjing-anjingnya,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM.

    Henry menjelaskan, adiknya menderita penyakit TBC dan sangat menyayangi anjing-anjing peliharaannya.

    “Dia sering tidur ditemani anjing-anjingnya,” tambahnya.

    Melihat kondisi mengenaskan adiknya, Henry segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.

    Kapolsek Rungkut, AKP Agus Santoso, membenarkan kejadian ini dan menyatakan pihaknya masih menunggu hasil autopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim untuk memastikan penyebab kematian korban.

    “Kami masih menunggu hasil autopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim untuk memastikan penyebab kematian korban,” jelas AKP Agus.

    Sebagai langkah lanjutan, sepuluh anjing peliharaan korban telah dievakuasi oleh petugas BPBD Surabaya dan diserahkan ke Dinas Peternakan untuk menjalani karantina.

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

  • Pria Surabaya Ditemukan Tewas di Dalam Kamar, Bagian Jasadnya Diduga Dimangsa 10 Anjing

    Pria Surabaya Ditemukan Tewas di Dalam Kamar, Bagian Jasadnya Diduga Dimangsa 10 Anjing

    Terpisah, Kapolsek Rungkut, AKP Agus Santoso membenarkan kejadian tersebut. “Kami masih menunggu hasil autopsi dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim untuk memastikan penyebab kematian korban,” ucap AKP Agus.

    “Apakah murni karena sakit, atau ada faktor lain yang menyebabkan kematian korban, termasuk kemungkinan dimangsa anjing peliharaannya, masih dalam penyelidikan,” imbuh AKBP Agus.

    Polisi masih menyelidiki kasus ini secara menyeluruh. Sementara itu, sepuluh anjing peliharaan korban telah dievakuasi oleh petugas BPBD Surabaya dan diserahkan ke Dinas Peternakan untuk menjalani karantina.

  • Geger Pria di Surabaya Tewas Mengenaskan: Kepala Sisa Tengkorak-Jari Hilang

    Geger Pria di Surabaya Tewas Mengenaskan: Kepala Sisa Tengkorak-Jari Hilang

    Jakarta

    Seorang pria bernama Yohanes Alexander (53) ditemukan tewas di kamar rumahnya di Jalan Rungkut Harapan, Surabaya. Korban ditemukan dengan kondisi mengenaskan.

    Kapolsek Rungkut AKP Agus Santoso mengatakan korban ditemukan dengan kondisi kepalanya tinggal tengkorak. Sedangkan pergelangan tangan kanan hingga jari-jarinya hilang.

    “Penyebabnya masih didalami. Dari visum nanti menunjukkan,” kata Agus, dilansir detikJatim (11/4/2025).

    Agus mengatakan, selama ini korban tinggal bersama anjing-anjing peliharaannya. Total di rumahnya ditemukan 10 ekor anjing saat korban ditemukan tewas dalam kamar rumahnya.

    Jenazah korban pertama kali ditemukan oleh kakak korban saat berkunjung ke lokasi. Kakak korban menaruh curiga saat anjing peliharaan di sana terus menggonggong.

    “Kakak korban sempat keluar (rumah), lalu saat kembali, anjing itu menggonggong. Terus dipanggil adiknya nggak ada suara, kan dikunci dari dalam kamarnya, mangkannya didobrak sama tetangga juga tadi, lalu kelihatan korban meninggal itu,” jelas Agus.

    (wnv/wnv)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Lansia Surabaya Diduga Dimangsa Anjing, Tewas Mengenaskan

    Lansia Surabaya Diduga Dimangsa Anjing, Tewas Mengenaskan

    Surabaya (beritajatim.com) – Seorang lansia di Surabaya Alexander Stefanus De Fretes (53) ditemukan tewas dalam kondisi yang mengenaskan, Jumat (11/04/2025). Ia tewas dalam kondisi kepala hanya menyisakan tulang tengkorak, telapak tangan kanan hilang. Dugaan sementara, bagian tubuh yang hilang karena dimakan anjing peliharaan Stefanus sendiri.

    Henry De Fretes kakak Stefanus yang pertama kali menemukan mengatakan bahwa selama ini mereka tinggal berdua. Henry berada di bagian depan rumah, Stefanus berada di belakang rumah dengan 10 anjing peliharaan.

    “Kamis malam itu saya sempat negur adik saya karena anjingnya menggonggong terus. Tapi saat itu sudah tidak ada jawaban,” kata Henry.

    Henry menjelaskan bahwa adiknya memang dalam kondisi sakit. Stefanus sempat meminta nasi pecel untuk makan sore. Ketika hendak memberikan pesanan, Henry menghubungi Stefanus lewat panggilan telepon. Namun, tidak ada jawaban sehingga ia mengintip ke kamar Stefanus dan memaksa membuka pintu.

    “Pas masuk saya kaget adik saya sudah terbujur kaku di kasur dan dikerubuti anjing,” tutur Henry.

    Henry mengatakan, saat ia masuk bersama dengan sejumlah orang untuk melihat jenazah Stefanus, anjing-anjing peliharaan bertindak agresif. Mereka harus sampai membawa balok kayu untuk mengusir anjing-anjing yang agresif.

    “Ada sekitar empat ekor di kamar waktu itu, dan akses yang dari jendela jebol langsung kami tutup dengan berbagai barang,” terangnya.

    Dirinya pun mengaku terkejut lantaran anjing tersebut terkenal jinak dan tak ada riwayat menyerang terhadap Yohanes. Namun, memang galak terhadap orang-orang lain. Posisi jasad korban ditemukan di atas kasur dengan tubuh menyamping.

    “Perkiraan saya meninggal dulu, anjing ga diberi makan dari Kamis, kelaparan. Biasanya dikasih makan saat pagi dan siang,” papar dia.

    Sementara itu, Kapolsek Rungkut AKP Agus Santoso menyampaikan, pihaknya menuju lokasi kejadian usai salat jumat dan langsung dievakuasi. Jenazah kini dibawa menuju ke RS Bhayangkara untuk dilakukan visum. Pihaknya masih menunggu hasil visum untuk memastikan waktu dan penyebab kematian pasti.

    “Apakah dia meninggal duluan lalu digigit anjing atau digigit anjing hingga meninggal dunia masih dalam penyelidikan. Namun, berdasarkan informasi keluarga, korban memang sedang sakit,” tutur Agus.

    Agus menjelaskan jika dari hasil olah TKP, pihak kepolisian tidak menemukan telapak tangan dan jari tangan kanan korban. Saat ini, pihaknya masih melakukan penyelidikan.

    “Untuk anjing-anjingnya tadi dibawa BPBD dan karantina Dinas Peternakan untuk dikarantina,” pungkas Agus. (ang/but)

  • Pasar Tradisional Rasa Modern, Pedagang Sudah Melek Digital – Halaman all

    Pasar Tradisional Rasa Modern, Pedagang Sudah Melek Digital – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

    TRIBUNNEWS.COM, SOLO – Siang itu terik belum begitu terang menyinari jalanan di sekitar Pasar Gede Hardjonagoro, Solo. 

    Masuk menyusuri jalanan sempit  di antara lapak dagangan, tersenyum semringah seorang pedagang bawang bernama Dalinem.

    “Bisa bayar pakai QRIS kok,” celotehnya kepada seorang perempuan yang tengah memilih beberapa bawang untuk dimasukkan dalam wadah timbangan.

    Momen tersebut menyita perhatian Tribunnews untuk mendekati lapak dan bercengkerama dengan sosok yang akrab disapa Mbah Dal itu.

    Tak lama Mbah Dal lalu menyodorkan sebuah papan kecil bergambar kode yang disebut Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

    Sembari menunjukkan papan plastik kode batang atau barcode, Mbah Dal mengaku penggunaan QRIS terbilang mudah.

    Hanya pada awal penggunaan dan pendaftaran QRIS, dirinya harus beradaptasi tentang kebiasaan baru sebagai upaya digitalisasi pasar.

    Setelahnya, transaksi nontunai dibebankan kepada pembeli dengan memindai kode QRIS melalui telepon genggamnya.

    “Ya intinya kita pedagang tinggal menunjukkan kode QRIS, pembeli tinggal memindai dan membayar lewat mobile banking sesuai biaya belanja,” katanya pada Sabtu (29/3/2025).

    Selain kemudahan cara mengoperasikan, Mbah Dal menyebutkan kelebihan dan manfaat QRIS digunakan pedagang.

    Yang pertama, lanjutnya, QRIS tak membebankan biaya tambahan kepada pedagang dengan transaksi di bawah Rp 100 ribu. 

    Kemudian informasi transaksi juga bisa diakses setiap saat kendati hari Sabtu dan Minggu saat bank tutup.

    “Yang paling penting lagi adalah saya sudah jarang bawa uang banyak, paling bawa sedikit untuk jaga-jaga uang kembalian kalau ada pembeli bayar tunai,” terang warga Boyolali yang mencoba peruntungan di Solo ini.

    Seorang pembeli bernama Putri asal Jakarta juga berbagi tentang kepuasan menggunakan QRIS untuk bertransaksi.

    Sebagai generasi milenial, Putri mengakui, QRIS memudahkan urusannya perihal berbelanja.

    “Apalagi kita yang sekarang ini sebagai turis, dengan transaksi cashless begini kan tidak perlu cari ATM untuk menarik uang. Bersyukur ya pedagang di sini sudah pakai QRIS, kita jadi mudah (belanja),” ungkapnya.

    Adapun, aktivitas transaksi nontunai termasuk menggunakan QRIS sudah menjadi hal biasa di Pasar Gede beberapa tahun belakangan.

    Hal ini berkat dorongan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta hingga BRI sebagai perbankan yang konsen di bidang Usaha Mikro, Kecil dan Menangah (UMKM).

    Masif Berdigital

    Founder Creative Space Solo, Joko Purwono menyoroti perkembangan digital di bidang UMKM kota Solo.

    Menurutnya, kesadaran para pedagang juga pelaku UMKM semakin hari semakin meningkat.

    Namun, ia menggaris bawahi tindak lanjut perbankan dan dinas terkait agar melakukan pendampingan kepada pedagang terkait pemberlakuan transaksi digital.

    “Di shelter, di pasar-pasar memang sudah banyak pakai QRIS, tapi masih ditemukan yang belum bahkan enggan pakai QRIS. Kan ada juga (pedagang) yang sepuh lalu sudah lanjut usia tak tahu caranya, jadi kita harap ada pendampingan lanjut,” pesannya diwawancarai pada Selasa (4/3/2025).

    Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Agus Santoso dihubungi terpisah mengaku telah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menyukseskan digitalisasi UMKM dan pedagang.

    Begitu juga bekerja sama dengan pengelola pasar dan perbankan.

    Dirinya mengakui, pendampingan terhadap pedagang untuk mengantisipasi halangan digitalisasi sangat penting dilakukan.

    Hal ini untuk menyelaraskan slogan Go Digital di bidang perdagangan dan usaha di Solo.

    “Saya tentu sudah menjalin komunikasi juga dengan pengelola masing-masing pasar untuk mengawasi dan mendampingi pedagang yang mungkin kesulitan untuk menerapkan digitalisasi seperti soal transaksi QRIS hingga e-Retribusi,” terangnya.

    ” Jadi bersama juga dengan perbankan tak hanya sosialisasi dan pendaftaran, pendampingan juga perlu karena banyak yang pedagang sepuh,” imbuh Agus.

    Terkait dengan digitalisasi, Dinas Perdagangan Kota Solo juga sudah menerapkan penarikan pajak dengan e-Retribusi.

    Tak hanya dengan satu bank pelat merah, e-Retribusi diterapkan juga dengan kolaborasi beberapa bank BUMN di pasar-pasar di Kota Bengawan.

    “Ini berkat kolaborasi dan sinergi Pemkot Surakarta, perbankan dan masyarakat. Sudah melek digital dan mau untuk maju mengikuti perkembangan teknologi,” urai dia.

    Sebagai upaya pengembangan ekonomi berbasis digital, perbankan kini mendorong penggunaan transaksi QRIS.

    Transaksi ini mengalami pertumbuhan pesat, yaitu mencapai 209,61 persen (yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 53,3 juta dan jumlah merchant 34,23 juta.

    Penerapan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS 0 persen untuk transaksi sampai dengan Rp500.000 pada merchant Usaha Mikro (UMI), yang berlaku efektif mulai 1 Desember 2024 guna menopang daya beli masyarakat kelas menengah bawah.

    BRI pun berkomitmen penuh dalam mendukung pengembangan ekonomi berbasis digital, khususnya bagi para pelaku usaha mikro.

    Dengan memberikan MDR 0 persen atau bebas biaya MDR, BRI tidak hanya meringankan beban operasional merchant, tetapi juga mendorong inklusi keuangan yang lebih luas.

    Program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro di era digital, sekaligus memperluas adopsi QRIS sebagai solusi pembayaran nontunai yang efisien.

    (*)

  • Sejarah, Kenangan, dan Kesegaran dalam Semangkuk Es Dawet Bu Dermi – Halaman all

    Sejarah, Kenangan, dan Kesegaran dalam Semangkuk Es Dawet Bu Dermi – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha

    TRIBUNNEWS.COM – Di tengah riuh Pasar Gede Hardjonagoro Solo, ada satu sudut yang tak pernah sepi dari antrean. 

    Orang-orang berjejer rapi, wajah mereka berbinar menanti semangkuk kesegaran yang sudah melegenda bernama Es Dawet Bu Dermi.

    Pasar Gede sendiri adalah salah satu ikon Solo, sebuah pasar tradisional yang tidak hanya menjadi pusat jual beli kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang kuat.

    Bangunannya yang masih mempertahankan gaya kolonial dengan pilar-pilar kokoh dan atap tinggi menjadi saksi bisu perjalanan waktu.

    Aroma rempah, wangi bunga dagangan, dan sahut menyahut suara pedagang berpadu menjadi harmoni khas pasar tradisional.

    Hiruk-pikuk pembeli, suara celoteh ibu-ibu yang menawar harga, serta derai tawa anak-anak kecil yang menemani orang tuanya, menjadikan suasana pasar ini begitu hidup.

    Dari suasana yang tergambar, lapak Es Dawet Bu Dermi menjadi oasis bagi para pengunjung.

    Saat matahari mulai naik dan panas mulai menyengat, banyak orang yang memilih berhenti sejenak untuk menyeruput kesegaran es dawet yang sudah dikenal turun-temurun ini.

    Antrean pelanggan mengular, menunggu giliran untuk menikmati semangkuk es dawet yang konon memiliki cita rasa yang tak tergantikan.

    Bagi warga Solo, es dawet Bu Dermi bukan sekadar kuliner, tapi nostalgia. Seperti yang dirasakan Evi Nuryanti (60), yang sejak kecil hingga kini tetap setia menikmati kelezatannya.

    “Sejak kecil saya sudah terbiasa datang ke sini. Rasa es dawetnya tak pernah berubah, tetap otentik seperti dulu. Bahkan sekarang ada tambahan durian, makin nikmat!” ujar Evi ketika berbincang pada Sabtu (29/3/2025).

    Tak hanya Evi, banyak pelanggan yang datang dari berbagai kota, hanya untuk merasakan kembali manisnya cendol hijau yang berpadu dengan gurihnya jenang sumsum, serta kesegaran selasih dan ketan hitam.

    Kini, dengan tambahan tape ketan dan durian, es dawet Bu Dermi semakin menggoda selera.

    Adapun setiap harinya, tak kurang dari 250 mangkuk es dawet terjual.

    Dengan harga Rp 12.000 per porsi, serta tambahan Rp 8.000 jika ingin menambahkan durian, siapa pun bisa menikmati segarnya es dawet legendaris ini.

    Resep Warisan yang Tetap Dijaga

    Seporsi Es Dawet Bu Dermi di Pasar Gede Solo (Tribunnews.com/Chrysnha)

    Ruth Tulus Subekti, karib disapa Uti, generasi ketiga penerus resep es dawet Bu Dermi, tak hanya menjaga resep asli sang nenek, tetapi juga berinovasi. 

    “Dulu isinya hanya cendol, selasih, ketan hitam, dan jenang sumsum. Sekarang kami tambahkan tape ketan dan durian kalau sedang musim,” ungkapnya.

    Inovasi ini terbukti sukses. Tak hanya pelanggan lama yang kembali, anak-anak muda pun mulai jatuh hati pada kelezatan es dawet Bu Dermi.

    Es dawet ini bahkan pernah menjadi langganan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi saat masih menjabat Wali Kota Solo.

    Meski kini ia lebih jarang datang langsung, tetap saja, ada kalanya es dawet Bu Dermi dibawa ke istana melalui ajudan presiden.

    Di tengah perkembangan zaman yang semakin maju, Es Dawet Bu Dermi juga mengikuti arus modernisasi dengan menyediakan metode pembayaran digital melalui QRIS. 

    Pelanggan tak perlu lagi repot membawa uang tunai, cukup dengan satu kali pindai, pembayaran langsung terselesaikan.

    Penggunaan QRIS ini semakin diminati oleh pelanggan, terutama generasi muda dan wisatawan dari luar kota.

    Menurut Uti, sistem pembayaran digital ini memberikan kemudahan bagi semua pihak, baik pembeli maupun penjual.

    “Awalnya kami ragu apakah pelanggan mau beralih ke pembayaran digital. Tapi ternyata banyak yang justru lebih nyaman pakai QRIS,” tuturnya.

    Tak hanya memberikan kemudahan bagi pelanggan, sistem QRIS juga membantu pedagang  dalam mengelola keuangan usaha.

    “Dengan QRIS, semua transaksi tercatat dengan rapi. Kami jadi lebih mudah menghitung pemasukan harian tanpa harus repot menghitung uang tunai,” tambahnya.

    Banyak pelanggan yang mengapresiasi inovasi ini.

    Salah satunya adalah Dimas Brian Setio (27), seorang wisatawan dari Jakarta yang berkunjung ke Solo. 

    “Saya jarang bawa uang tunai kalau bepergian. Pas tahu di sini bisa bayar pakai QRIS, rasanya lebih praktis dan cepat,” ujarnya.

    Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan transaksi digital, jumlah pelanggan yang menggunakan QRIS untuk pembayaran semakin bertambah.

    Hampir setengah dari total transaksi harian es dawet Bu Dermi dilakukan secara cashless.

    Ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional pun bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

    Tantangan  Berdigital

    Keberadaan becak di depan Pasar Gede Hardjonagoro atau Pasar Gede Solo. (Ist)

    Sementara itu Founder Creative Space Solo, Joko Purwono menyoroti perkembangan digital di bidang UMKM kota Solo.

    Menurutnya, kesadaran para pedagang juga pelaku UMKM semakin hari semakin meningkat.

    Namun, ia menggaris bawahi tindak lanjut perbankan dan dinas terkait agar melakukan pendampingan kepada pedagang terkait pemberlakuan transaksi digital.

    “Di shelter, di pasar-pasar memang sudah banyak pakai QRIS, tapi masih ditemukan yang belum bahkan enggan pakai QRIS. Kan ada juga (pedagang) yang sepuh lalu sudah lanjut usia tak tahu caranya, jadi kita harap ada pendampingan lanjut,” pesannya diwawancarai pada Selasa (4/3/2025).

    Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo, Agus Santoso dihubungi terpisah mengaku telah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menyukseskan digitalisasi UMKM dan pedagang.

    Begitu juga bekerja sama dengan pengelola pasar dan perbankan.

    Dirinya mengatakan, pendampingan terhadap pedagang untuk mengantisipasi halangan digitalisasi sangat penting dilakukan.

    Hal ini untuk menyelaraskan slogan Go Digital di bidang perdagangan dan usaha di Solo.

    “Saya tentu sudah menjalin komunikasi juga dengan pengelola masing-masing pasar untuk mengawasi dan mendampingi pedagang yang mungkin kesulitan untuk menerapkan digitalisasi seperti soal transaksi QRIS hingga e-Retribusi,” terangnya.

    ” Jadi bersama juga dengan perbankan tak hanya sosialisasi dan pendaftaran, pendampingan juga perlu karena banyak yang pedagang sepuh,” imbuh Agus.

    Terkait dengan digitalisasi, Dinas Perdagangan Kota Solo juga sudah menerapkan penarikan pajak dengan e-Retribusi.

    Tak hanya dengan satu bank pelat merah, e-Retribusi diterapkan juga dengan kolaborasi beberapa bank BUMN di pasar-pasar di Kota Bengawan.

    “Ini berkat kolaborasi dan sinergi Pemkot Surakarta, perbankan dan masyarakat. Sudah melek digital dan mau untuk maju mengikuti perkembangan teknologi,” urai dia.

    Sebagai upaya pengembangan ekonomi berbasis digital, perbankan kini mendorong penggunaan transaksi QRIS.

    Transaksi ini mengalami pertumbuhan pesat, yaitu mencapai 209,61 persen (yoy), dengan jumlah pengguna mencapai 53,3 juta dan jumlah merchant 34,23 juta.

    Penerapan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS 0 persen untuk transaksi sampai dengan Rp500.000 pada merchant Usaha Mikro (UMI), yang berlaku efektif mulai 1 Desember 2024 guna menopang daya beli masyarakat kelas menengah bawah.

    BRI pun berkomitmen penuh dalam mendukung pengembangan ekonomi berbasis digital, khususnya bagi para pelaku usaha mikro.

    Dengan memberikan MDR 0 persen atau bebas biaya MDR, BRI tidak hanya meringankan beban operasional merchant, tetapi juga mendorong inklusi keuangan yang lebih luas.

    Program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha mikro di era digital, sekaligus memperluas adopsi QRIS sebagai solusi pembayaran nontunai yang efisien.

    (*)