Tag: Agus Dwi Susanto

  • Heboh Netizen Keluhkan Kena ‘Super Flu’, Ini Kata Dokter Paru soal Gejalanya

    Heboh Netizen Keluhkan Kena ‘Super Flu’, Ini Kata Dokter Paru soal Gejalanya

    Jakarta

    Belakangan warganet banyak mengeluhkan mengalami gejala yang diduga terkait ‘super flu’. Keluhan itu berseliweran di media sosial X, dengan banyak pengguna menyebut gejalanya tidak kunjung membaik meski sudah lebih dari beberapa hari.

    Gejala yang paling sering dikeluhkan antara lain sakit tenggorokan, demam, hingga batuk yang terus-menerus.

    “Kayaknya aku kena super flu. Demamnya tinggi banget batuknya terus ngga beres beres. Pencari sudah mendingan sih ini,” kata pengguna X @cistem_ap****

    “Gw udh kena super flu cuy asli lama ini penyakit gk kek flu biasa emg. Pertama demam. Demam turun pala sakit (bkn pusing). Abis itu batuk. Dan sempet pilek sehari. Ini udh jalan 6 hari sisa batuknya aja. Awalnya gw kena pas di toko buku & wktu itu telat mkn + capek. Jd imun drop,” ucap pengguna X lainnya @insane_b***

    ‘Super Flu’ atau varian influenza A (H3N2) subclade K sendiri belakangan juga ramai disorot setelah Kementerian Kesehatan RI mendeteksi 62 kasus di Indonesia.

    Gejala Super Flu

    Meski termasuk bagian dari flu musiman, spesialis paru dari RS Paru Persahabatan Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) mengingatkan influenza A (H3N2) subclade K ini memiliki karakter pengobatan yang berbeda dan cenderung lebih agresif saat menginfeksi tubuh.

    Dia menjelaskan ‘Super Flu’ memiliki sifat lebih agresif yang dipicu beberapa faktor. Laju replikasi varian ini lebih cepat dalam saluran napas sehingga meningkatkan jumlah virus yang diproduksi.

    Di sisi lain, ‘Super Flu’ memiliki inkubasi lebih cepat sehingga gejala lebih cepat muncul. Secara klinis, pasien Subclade K sering kali mengalami gejala yang cukup berat dibandingkan flu biasa dan COVID-19.

    “Untuk subclade K memiliki gejala-gejala yang lebih parah seperti demam tinggi 39-41 derajat celcius, nyeri otot berat, kelelahan atau lemas ekstrem, batuk kering, sakit kepala dan tenggorokan berat, kata dr Agus saat dihubungi, Selasa (30/12/2025).

    “Sedangkan flu biasa dan COVID yang saat ini gejalanya ringan sampai sedang,” sambungnya.

    Penularannya disebut lebih cepat, satu pasien menulari bisa dua hingga tiga orang. dr Agus tetap mengimbau untuk melakukan tindakan preventif, antara lain:

    – Menjaga stamina tubuh dengan makan minum yang cukup dan bergizi, istirahat yang cukup, olahraga
    – Jaga kebersihan lingkungan
    – Cuci tangan teratur
    – Pakai masker bila kontak dengan penderita atau di keramaian
    – Vaksinasi influenza
    – Bila sakit flu, jangan batuk, bersin sembarangan. Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin

    Halaman 2 dari 2

    (suc/kna)

  • Semeru Erupsi Luncurkan Awan Panas hingga 5 Km, Ini Wanti-wanti Dokter Paru

    Semeru Erupsi Luncurkan Awan Panas hingga 5 Km, Ini Wanti-wanti Dokter Paru

    Jakarta

    Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali erupsi. Awan panas guguran meluncur hingga 5 km jauhnya.

    “Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 22.25 WIB. Erupsi berupa Awan Panas Guguran dengan jarak luncur sekitar 5 km,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dilansir Antara, Senin (12/1/2026).

    Semeru erupsi pada Minggu (11/1) pada pukul 22.25 WIB. Menurutnya tinggi kolom letusan Semeru teramati sekitar 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 meter di atas permukaan laut (mdpl).

    Erupsi Gunung Semeru terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 27 mm dan durasi 696 detik. Saat ini Gunung Semeru berada pada status level III (Siaga).

    Bahaya Abu Vulkanik Jika Terhirup

    Salah satu material padat yang dikeluarkan saat gunung erupsi adalah abu vulkanik. Material ini bisa berbahaya jika terhirup manusia.

    Berikut, beberapa masalah kesehatan pernapasan yang bisa muncul saat menghirup abu vulkanik menurut spesialis paru, dr Agus Dwi Susanto SpP.

    Iritasi pada mukosa seperti kulit, gatal-gatal kulit.Iritasi mata, yakni mata merah dan berair.Iritasi mukosa hidung, yakni hidung berair.Iritasi tenggorokan, sehingga sakit tenggorokan, batuk kering atau berdahak.Iritasi pada saluran napas dan paru menimbulkan batuk, dahak berlebih, sesak napas.Meningkatkan risiko serangan penyakit paru yang sudah ada seperti serangan asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).Peningkatan risiko ISPA dan bronkitis.

    Mengapa Bisa Begitu?

    dr Agus menambahkan bahwa abu vulkanik mengandung silika dalam jumlah tinggi yang dapat menyebabkan iritasi pernapasan jangka pendek dan panjang.

    “Selain itu juga ada gas seperti hidrogen sulfida, karbonmonoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida. Untuk debu/abu ini sangat halus dapat terbawa angin sampai ratusan km,” kata dr Agus saat dihubungi detikcom.

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/kna)

  • Infeksi ‘Super Flu’ Bisa Menulari Tiga Orang, Gejala Lebih Parah dari COVID-19

    Infeksi ‘Super Flu’ Bisa Menulari Tiga Orang, Gejala Lebih Parah dari COVID-19

    Jakarta

    Kasus infeksi influenza H3N2 varian subclade K atau orang awam menyebutnya ‘superflu’ belakangan menjadi buah bibir. Pasalnya, superflu dianggap lebih ‘ganas’ daripada influenza biasa.

    Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Nastiti Kaswandani, SpA(K) mengatakan penularan subclade K ini terbilang cepat, tak ayal menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

    “Masalahnya mungkin salah satu jadi penyebab istilah ‘superflu’ ini karena penularannya cepat, jadi satu orang itu bisa menulari 2-3 orang sekitarnya, diperkirakan varian ini mungkin bisa menulari lebih tapi belum ada penelitiannya,” kata dr Nastiti dalam konferensi pers IDAI secara daring, Senin (29/12/2025).

    Influenza bisa dideteksi dengan rapid test, dengan pemeriksaan swab, namun untuk mendeteksi H3N2 dengan variannya subclade K harus dilakukan genome sequencing di laboratorium yang canggih seperti masa COVID-19.

    “Kalau kita dalami lebih lanjut mengenai subclade K ini dia bagian atau varian dari flu A H3N2 dia tidak bisa dideteksi secara klinis, artinya dokter kalau melihat saja bahkan tidak bisa membedakan ini influenza atau bukan influenza, hanya mungkin bisa menduga ini secara klinis mirip influenza,” kata dr Nastiti.

    Gejala Lebih Parah dari COVID-19

    Senada, dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan, Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) mengatakan ada perbedaan mencolok terkait gejala antara subclade K, flu biasa dan COVID-19.

    “Untuk subclade K memiliki gejala-gejala yang lebih parah seperti demam tinggi 39-41 derajat celsius, nyeri otot berat, kelelahan atau lemas ekstrem, batuk kering, sakit kepala dan tenggorokan berat,” kata dr Agus saat dihubungi, Selasa (30/12/2025).

    “Sedangkan flu biasa dan COVID yang saat ini gejalanya ringan sampai sedang,” sambungnya.

    Kementerian Kesehatan RI sendiri belum merilis laporan terkait temuan varian subclade K di Indonesia. Namun, dr Agus tetap mengimbau masyarakat untuk melakukan tindakan preventif, di antaranya:

    Menjaga stamina tubuh dengan makan minum cukup dan bergizi, istirahat cukup, olahragaJaga kebersihan lingkunganCuci tangan teraturPakai masker bila kontak dengan penderita atau di keramaianVaksinasi influenzaBila sakit flu, jangan batuk, bersin sembarangan.Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/kna)

  • Badan Lemas Kena ‘Super Flu’ atau COVID-19? Ini Bedanya Menurut Dokter Paru

    Badan Lemas Kena ‘Super Flu’ atau COVID-19? Ini Bedanya Menurut Dokter Paru

    Jakarta

    Memasuki musim liburan dengan cuaca yang berubah-ubah, risiko terkena infeksi flu atau penyakit pernapasan lainnya meningkat. Kewaspadaan pun ditingkatkan terlebih saat ini ada kekhawatiran mengenai infeksi ‘Superflu’ yang lebih mudah menular.

    Hanya saja bagaimana membedakan gejala penyakit tersebut dengan flu biasa atau COVID-19?

    Spesialis paru dari RS Paru Persahabatan Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menjelaskan mutasi pada Subclade K membuatnya berbeda dari flu musiman biasa maupun varian COVID-19 yang ada saat ini. Beberapa gejala yang bisa muncul antara lain:

    Demam tinggi, suhu tubuh melonjak drastis antara 39 hingga 41 derajat Celsius.Nyeri otot beratKelelahan/lemas ekstremBatuk keringSakit kepala dan tenggorokan

    “Sedangkan flu biasa dan COVID yang beredar saat ini gejalanya ringan sampai sedang,” tutur Prof Agus.

    Kondisi badan lemas atau kelelahan ekstrem pada Subclade K sering kali membuat pasien tidak bisa melakukan aktivitas, sementara pada varian COVID-19 terbaru, banyak pasien yang masih bisa beraktivitas karena gejalanya yang lebih moderat.

    Meskipun laporan mengenai lonjakan kasus Subclade K sudah meledak di Amerika Serikat dan Inggris, Prof Agus mengatakan kasusnya belum ditemukan di Indonesia.

    “Saat ini belum ada laporan influenza subclade K di Indonesia. Laporan dari Kementerian Kesehatan RI juga belum ada tentang varian ini,” ungkapnya.

    Namun, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah, terutama saat menghadapi transisi cuaca atau musim hujan yang biasanya menjadi momen favorit virus influenza untuk menyebar. Sebagai langkah proteksi, Prof. Agus memberikan saran praktis bagi masyarakat untuk menjaga kesehatan paru-paru.

    “Menjaga stamina dengan makan dan minum yang cukup serta bergizi, istirahat yang cukup, dan olahraga teratur, pakai masker jika kontak dengan penderita atau di keramaian,” tandasnya.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Dokter Paru Sebut ‘Super Flu’ Subclade K Lebih Mudah Menular, Ini Penyebabnya

    Dokter Paru Sebut ‘Super Flu’ Subclade K Lebih Mudah Menular, Ini Penyebabnya

    Jakarta

    Istilah ‘Superflu’ atau influenza H3N2 varian Subclade K tengah menjadi sorotan setelah dilaporkan meledak di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Banyak yang bertanya-tanya mengapa varian ini seolah begitu agresif dan cepat menulari banyak orang dalam waktu singkat.

    Menanggapi fenomena tersebut, dokter spesialis paru dari RS Paru Persahabatan, Prof dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa Subclade K sebenarnya merupakan mutasi dari virus yang sudah ada sebelumnya. Namun, mutasi ini memberikan karakteristik yang berbeda dari flu pada umumnya.

    “Pada dasarnya influenza Subclade K ini masih jenis influenza musiman yaitu jenis Influenza A (H3N2), hanya mengalami mutasi sehingga memiliki bbrp sifat yg berbeda dengan influenza musiman pada umumnya,” ujar Prof Agus.

    Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa kemampuan varian ini dalam menyebar secara luas dipengaruhi oleh faktor biologis virus yang jauh lebih agresif saat menginfeksi manusia. Varian influenza ini memiliki laju replikasi yang lebih cepat dalam saluran napas sehingga meningkatkan jumlah virus yang diproduksi.

    Selain itu subclade K memiliki viral load yang lebih tinggi di saluran napas atas sehingga meningkatkan potensi penularannya.

    “Mutasi subclade K membuatnya lebih resisten terhadap vaksin flu,” tutur Prof Agus.

    Di sisi lain, mengenai sebutan yang beredar di publik, ia menegaskan bahwa ‘super flu’ hanyalah istilah bahasa awam untuk menggambarkan tingkat keparahan gejala yang ditimbulkan.

    “Istilah superflu sebenarnya bukan istilah medis, ini lebih ke arah istilah umum yang dipakai untuk flu yang agresif, mudah menyebar dan gejala yang lebih parah,” tambahnya.

    Halaman 2 dari 2

    (kna/kna)

  • Gunung Semeru Erupsi, Ini yang Terjadi pada Paru Jika Menghirup Abu Vulkanik

    Gunung Semeru Erupsi, Ini yang Terjadi pada Paru Jika Menghirup Abu Vulkanik

    Jakarta

    Hujan abu vulkanik akibat awan panas guguran (APG) Gunung Semeru berjatuhan di sejumlah yang ada di 2 wilayah di Kecamatan Pronojiwo maupun Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur.

    Sebanyak 240 personel kepolisian direkahkan untuk membersihkan material debu vulkanik di jalanan yang mengganggu mobilitas warga.

    Tak hanya itu, partikel sangat halus yang berukuran kurang dari 10 mikron tersebut juga dapat membahayakan kesehatan tubuh, khususnya paru saat terhirup dalam jumlah berlebih.

    Berikut, beberapa masalah kesehatan pernapasan yang bisa muncul saat menghirup abu vulkanik menurut spesialis paru, dr Agus Dwi Susanto SpP.

    Iritasi pada mukosa seperti kulit, gatal-gatal kulit.Iritasi mata, yakni mata merah dan berair.Iritasi mukosa hidung, yakni hidung berair.Iritasi tenggorokan, sehingga sakit tenggorokan, batuk kering atau berdahak.Iritasi pada saluran napas dan paru menimbulkan batuk, dahak berlebih, sesak napas.Meningkatkan risiko serangan penyakit paru yang sudah ada seperti serangan asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).Peningkatan risiko ISPA dan bronkitis.

    Mengapa Bisa Begitu?

    dr Agus menambahkan bahwa abu vulkanik mengandung silika dalam jumlah tinggi yang dapat menyebabkan iritasi pernapasan jangka pendek dan panjang.

    “Selain itu juga ada gas seperti hidrogen sulfida, karbonmonoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida. Untuk Debu/abu ini sangat halus dapat terbawa angin sampai ratusan km,” kata dr Agus saat dihubungi detikcom, Kamis (20/11/2025).

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Mengenal Penyakit PPOK dan Penyebabnya”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/kna)

  • Gunung Semeru Erupsi, Dokter Beberkan Cara Lindungi Paru-paru dari Efeknya

    Gunung Semeru Erupsi, Dokter Beberkan Cara Lindungi Paru-paru dari Efeknya

    Jakarta

    Gunung Semeru di Jawa Timur (Jatim) meletus dahsyat dan meluncurkan awan panas hingga 5,5 km. Imbas kondisi tersebut, abu vulkanik imbas erupsi harus menjadi perhatian warga sekitar.

    Spesialis paru dr Agus Dwi Susanto SpP mengatakan debu atau abu vulkanik ini dapat menyebabkan masalah pada pernapasan dan paru-paru. Hal ini karena abu vulkani mengandung beberapa jenis gas dan material yang membahayakan jika dihirup dalam jumlah banyak.

    “Debu/abu letusan gunung merupakan material letusan gunung yang sangat halus (kurang dari 10 mikron) yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan,” kata dr Agus kepada detikcom saat dihubungi, Kamis (20/11/2025).

    “Dalam debu vulkanik ini mengandung silika yang sangat halus. Selain itu juga ada gas seperti hidrogen sulfida, karbonmonoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida. Untuk Debu/abu ini sangat halus dapat terbawa angin sampai ratusan km,” lanjutnya.

    Bahaya Abu Vulkanik

    Dikutip dari detikJatim, saat ini ada sekitar 956 jiwa mengungsi setelah Gunung Semeru erupsi. Para pengungsi ini tersebar di sejumlah titik di Kecamatan Pronojiwo, Lumajang.

    Menurut dr Agus, berikut beberapa penyakit yang bisa muncul akibat erupsi dari gunung dengan tinggi 3.676 mdpl tersebut.

    Iritasi pada mukosa seperti kulit, gatal-gatal kulit.Iritasi mata, yakni mata merah dan berair.Iritasi mukosa hidung, yakni hidung berair.Iritasi tenggorokan, sehingga sakit tenggorokan, batuk kering atau berdahak.Iritasi pada saluran napas dan paru menimbulkan batuk, dahak berlebih, sesak napas.Meningkatkan risiko serangan penyakit paru yang sudah ada seperti serangan asma atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis).Peningkatan risiko ISPA dan bronkitis.

    Bagaimana Mencegahnya?

    dr Agus mengatakan pencegahan utama yang bisa dilakukan adalah menggunakan masker tertentu, sehingga abu tersebut dapat dicegah untuk masuk ke tubuh.

    “Kalau ada masker yang dapat memfiltrasi partikel dibawah 2,5 mikron, untuk mencegah partikel halus masuk ke paru. Kalau tidak ada masker seperti itu di daerah tersebut boleh masker apa saja. Masker dipakai saat aktivitas luar ruangan,” katanya.

    “Contoh masker yang dapat memfiltrasi partikel PM 2,5 adalah N95. Ada juga masker lain. Tapi, bila tidak tersedia, pakai masker biasa sebagai alternatif,” tutupnya.

    Selain masker, dr Agus juga menyarankan beberapa langkah yang bisa dilakukan.

    Menutup jendela, pintu, tungku kayu. Meminimalkan penggunaan pemanas udara dan AC untuk mencegah abu dan gas di dalam rumah.Memakai kacamata saat di luar ruanganMenjaga kulit dari iritasi dengan pakaian tertutupHindari minum air yang ada debu vulkanikHindari dulu mengemudiBasahi beri percikan air sebelum bersih-bersih untuk menghindari partikulat berterbanganIkuti perintah otoritas lokal terkait waktu aman pergi ke luar, aturan mengemudi, penggunaan air minum.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Hasil Studi Dampak Lingkungan dan Kesehatan di Sekitar Kawasan Tambang”
    [Gambas:Video 20detik]
    (dpy/kna)

  • Kasus Kematian Pneumonia Naik 3 Kali Lipat di RI, Waspadai Jika Mengalami Gejala Ini

    Kasus Kematian Pneumonia Naik 3 Kali Lipat di RI, Waspadai Jika Mengalami Gejala Ini

    Jakarta

    Pneumonia kerap dilaporkan seiring dengan tren flu musiman yang terjadi setiap tahun. Indonesia kerap mencatat puncak kenaikan kasus di penghujung tahun Desember hingga awal Januari.

    Di periode 2024, peningkatan kasus pneumonia relatif signifikan hingga melampaui 3 kali lipat, begitu juga dengan laporan kematian. Pada 2023 tercatat ada 330 kasus dengan 52 pasien di antaranya meninggal dunia.

    Sementara pada 2024, total pasien pneumonia mencapai 1.278 dengan insiden kasus kematian di angka 188. Berikut detailnya:

    2023

    330 kasus
    52 kematian

    2024

    1.278 kasus
    188 kematian

    Januari 2025

    105 kasus
    12 kematian

    Spesialis paru dr Agus Dwi Susanto, SpP, beberapa waktu lalu menjelaskan virus influenza bisa menyebabkan komplikasi seperti pneumonia, khususnya pada kelompok rentan, seperti anak-anak, usia lanjut, wanita hamil, dan orang yang memiliki penyakit kronik.

    Pneumonia adalah peradangan jaringan parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur, hingga virus, seperti influenza. Infeksi ini bisa terjadi tergantung derajatnya, baik ringan, sedang, hingga berat.

    Pada derajat berat, infeksi ini menyebabkan gangguan pertukaran oksigen di daerah alveoli paru. Akibatnya oksigen terganggu masuk ke darah, dan CO2 juga sulit keluar dari darah. Kondisi tersebut bisa menyebabkan gagal pernapasan yang berisiko kematian.

    “Kondisi pneumonia yang berat juga berpotensi mikroorganisme menyebar ke seluruh tubuh yang dikenal sebagai sepsis. Ini juga kalau tidak teratasi berpotensi menimbulkan kematian,” lanjutnya saat dihubungi detikcom, Senin (3/2/2025).

    Meski begitu, orang yang terkena virus, seperti influenza tak semuanya akan mengalami pneumonia. Menurut dr Agus, hal ini tergantung juga dari kondisi pasien, seperti imunitas, komorbid, dan lainnya.

    dr Agus mengatakan terdapat beberapa gejala berat yang perlu diwaspadai jika terkena influenza. Di antaranya:

    sesak napasdemam yang tak kunjung turunkesadaran menuruntanda-tanda pneumonia seperti dahak kental, sulit napas, pada anak-anak ada tanda retraksi otot napas, napas cuping hidungtanda-tanda gagal jantung seperti napas berat, kulit biru (sianosis)tanda-tanda gagal ginjal seperti sulit buang air kecil, perubahan warna urine, sulit bernapastanda-tanda syok sepsis seperti tekanan darah menurun, kulit birutanda-tanda infeksi di kepala (meningitis, ensapalitis), seperti sulit bicara, lemah, sulit berjalan, kesadaran turun.

    (suc/suc)

  • Komplikasi Mematikan di Balik Kematian ‘Shancai’ Barbie Hsu, Flu Berujung Pneumonia    
        Komplikasi Mematikan di Balik Kematian ‘Shancai’ Barbie Hsu, Flu Berujung Pneumonia

    Komplikasi Mematikan di Balik Kematian ‘Shancai’ Barbie Hsu, Flu Berujung Pneumonia Komplikasi Mematikan di Balik Kematian ‘Shancai’ Barbie Hsu, Flu Berujung Pneumonia

    Jakarta

    Kabar duka datang dari aktris Taiwan, Barbie Hsu, pemeran Shancai dalam serial Meteor Garden. Ia meninggal dunia, Senin (3/2/2025) akibat infeksi influenza yang berujung pneumonia mematikan.

    Kabar kematiannya dilaporkan oleh keluarganya melalui manajer adik perempuannya, pembawa acara TV terkenal Taiwan Dee Hsu. Pemeran Shancai itu meninggal akibat pneumonia setelah tertular virus influenza saat liburan di Jepang.

    “Terima kasih atas semua perhatiannya. Selama periode Tahun Baru Imlek, seluruh keluarga kami pergi ke Jepang untuk liburan, dan kakak perempuan saya yang paling saya sayangi dan baik hati Barbie terkena pneumonia terkait influenza dan sayangnya telah meninggalkan kami,” katanya.

    Pernyataan tersebut tidak menjelaskan kapan dan di mana Barbie Hsu meninggal. Menurut laporan berita Taiwan, beberapa sumber mengatakan keluarga Hsu saat ini masih berada di Jepang, dan Barbie Hsu kemungkinan akan dikremasi di negara itu sebelum jenazahnya dibawa kembali ke Taiwan. Berikut fakta-fakta pneumonia yang perlu diketahui.

    Alasan Virus Influenza Bisa Picu Pneumonia

    Spesialis paru-paru dr Agus Dwi Susanto, SpP menjelaskan virus influenza bisa menyebabkan komplikasi seperti pneumonia, khususnya pada kelompok rentan, seperti anak-anak, usia lanjut, wanita hamil, dan orang yang memiliki penyakit kronik.

    Pneumonia adalah peradangan jaringan parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, virus, hingga jamur. Infeksi ini bisa terjadi tergantung derajatnya, baik ringan, sedang, hingga berat.

    “Pada derajat berat, infeksi ini menyebabkan gangguan pertukaran oksigen di daerah alveoli paru. Sehingga oksigen terganggu masuk ke darah, dan CO2 juga sulit keluar dari darah. Kondisi tersebut bisa menyebabkan gagal pernapasan yang berisiko kematian,” katanya saat dihubungi detikcom, Senin (3/2/2025).

    “Kondisi pneumonia yang berat juga berpotensi mikroorganisme menyebar ke seluruh tubuh yang dikenal sebagai sepsis. Ini juga kalau tidak teratasi berpotensi menimbulkan kematian,” lanjutnya.

    Meski begitu, orang yang terkena virus seperti influenza tak semuanya akan mengalami pneumonia. Menurut dr Agus, hal ini tergantung juga dari kondisi pasien, seperti imunitas, komorbid, dan lainnya.

    “Tergantung imunitas, komorbid, dll. Bisa memperberat. Kalau pneumonia ringan, bisa rawat jalan,” katanya lagi.

    “Tapi ada beberapa jenis virus dan bakteri yang sifatnya memang ganas, kalau kena ya potensi menjadi berat. Masih ingat virus COVID? Varian delta kan kalau jadi pneumonia umumnya berat dan mengancam jiwa,” sambungnya.

    Senada, spesialis paru dr Erlina Burhan, SpP, mengatakan virus influenza biasanya tergolong menyebabkan infeksi ringan dan bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, pada orang-orang tertentu, seperti imunitas rendah atau kelompok rentan, infeksi tersebut bisa memicu komplikasi seperti pneumonia.

    Apabila radang atau infeksi yang disebabkan virus tersebut meluas ke area lainnya, hal ini bisa menyebabkan kematian.

    dr Erlina menjelaskan paru-paru memiliki fungsi mengambil oksigen dari udara yang kemudian menyebarkannya ke dalam tubuh. Apabila jaringan dalam paru mengalami kerusakan akibat radang atau pneumonia tersebut, maka oksigen yang diedarkan ke seluruh tubuh dapat terganggu.

    “Nah ini kalau jaringan ini rusak, apalagi meluas, oksigen tidak bisa diambil dengan cukup, akhirnya menimbulkan kerusakan pada organ lain, sehingga menimbulkan kematian,” lanjutnya.

    NEXT: Gejala yang perlu diwaspadai

    Gejala yang Perlu Diwaspadai

    dr Agus mengatakan terdapat beberapa gejala berat yang perlu diwaspadai jika terkena influenza. Di antaranya:

    sesak napasdemam yang tak kunjung turunkesadaran menuruntanda-tanda pneumonia seperti dahak kental, sulit napas, pada anak-anak ada tanda retraksi otot napas, napas cuping hidungtanda-tanda gagal jantung seperti napas berat, kulit biru (sianosis)tanda-tanda gagal ginjal seperti sulit buang air kecil, perubahan warna urine, sulit bernapastanda-tanda syok sepsis seperti tekanan darah menurun, kulit birutanda-tanda infeksi di kepala (meningitis, ensapalitis), seperti sulit bicara, lemah, sulit berjalan, kesadaran turun.

  • Olahraga saat Polusi Udara Boleh Saja Dilakukan, Tapi Ingat Pesan Dokter soal Ini

    Olahraga saat Polusi Udara Boleh Saja Dilakukan, Tapi Ingat Pesan Dokter soal Ini

    Jakarta

    Kualitas udara di beberapa wilayah RI, termasuk DKI Jakarta terpantau buruk beberapa waktu terakhir. Hal ini membuat banyak masyarakat yang mulai berpikir dua kali untuk olahraga di luar ruangan.

    Spesialis paru-paru dr Agus Dwi Susanto SpP mengatakan melakukan aktivitas fisik di luar ruangan, terlebih dengan intensitas berat di tengah kualitas udara yang buruk memang dapat memicu munculnya masalah kesehatan seperti bersin-bersin, sakit tenggorokan, batuk-batuk, dan hidung berair.

    Mereka yang terus menerus terpapar polutan saat berolahraga dengan kualitas udara buruk menurut dr Agus dapat meningkatkan risiko terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

    dr Agus menambahkan meskipun hidup di kota dengan kualitas udara yang kurang baik, masyarakat masih bisa melakukan olahraga. Namun, harus dilihat dulu seberapa buruk polusi yang sedang terjadi.

    “Kadar polutan di atas batas aman ada beberapa level, yakni tidak sehat pada kelompok sensitif, tidak sehat, sangat tidak sehat, lalu berbahaya (beracun),” kata dr Agus saat dihubungi detikcom, Selasa (19/11/2024).

    “Pada level tidak sehat, olahraga outdoor ringan sampai sedang (bisa dilakukan), jika memungkinkan dilakukan dalam 30 sampai 45 menit. Lebih dari itu tidak disarankan lagi,” lanjut dia.

    Namun, dr Agus menekankan jika kualitas udara berada di level tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya lebih baik memang tidak melakukan olahraga outdoor dan beralih melakukan aktivitas fisik indoor.

    dr Agus memberikan tips untuk mereka yang ingin tetap berolahraga di tengah kualitas udara yang berada di atas batas aman.

    Monitor kualitas udara. Pantau kualitas udara saat ingin olahraga luar ruangan atau outdoor. Jika kualitas tidak sehat sampai dengan berbahaya hindari olahraga di luar.Pilih olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang. Olahraga dengan intensitas tinggi seperti lari sprint atau lari jarak jauh memerlukan napas yang lebih banyak sehingga jumlah udara yang tidak sehat terhirup menjadi lebih banyak juga.Pilih daerah kurang polusi bila olahraga luar ruangan. Misalnya daerah taman-taman.Gunakan masker khusus olahraga saat polusi untuk mengurangi polutan terhirup. Tapi ini membatasi dan terasa tidak nyaman.Lakukan olahraga secara singkat. Jika terpaksa olahraga luar ruangan dengan kualitas udara tidak baik, maka lakukan secara singkat (30 sampai 45 menit) dan jangan lama-lama.

    (dpy/suc)