Strategi menghindari jebakan impor beras pada 2026

Strategi menghindari jebakan impor beras pada 2026

Jakarta (ANTARA) – Tahun 2025 oleh banyak kalangan disebut sebagai Tahun Perberasan Nasional. Penyebutan ini tentu bukan tanpa alasan.

Sedikitnya ada tiga indikator kuat yang membuat bangsa ini pantas menyebut 2025 sebagai tahun penting dalam sejarah beras Indonesia.

Pertama, dari sisi produksi, Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi produksi beras nasional mampu menembus 34,77 juta ton.

Angka ini menunjukkan capaian signifikan di tengah berbagai tantangan sektor pertanian. Kedua, konsekuensi dari meningkatnya produksi tersebut membuat cadangan beras pemerintah menguat.

Pemerintah mencatat stok beras yang dikelola Bulog telah mencapai 3,7 juta ton. Ini adalah salah satu angka tertinggi sepanjang sejarah cadangan beras nasional dan jarang sekali Indonesia memiliki stok yang mendekati 4 juta ton. Ketiga, pemerintah secara resmi menghentikan impor beras medium pada tahun 2025.

Keputusan ini menyita perhatian publik, sebab belum pernah ada pemerintahan yang berani mengambil langkah tegas penyetopan impor beras, seperti yang terjadi di masa Presiden Prabowo Subianto.

Karena itulah, wajar jika pemerintah kemudian memproklamasikan kembali capaian swasembada beras, yang bukan hanya simbol kemandirian pangan, tetapi juga menunjukkan kepercayaan diri bangsa dalam mengelola industri perberasan.

Di balik keberhasilan ini, ada kenyataan lain yang perlu kita sadari. Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi pemain penting dalam industri perberasan global, namun kondisinya masih belum sepenuhnya stabil.

Produksi memang meningkat, tetapi sektor perberasan masih berhadapan dengan penurunan luas panen, infrastruktur yang belum merata, serta jejak ketergantungan pada impor pangan yang masih terasa.

Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso pernah menyampaikan bahwa Indonesia masih mengimpor sekitar 4 juta ton beras pada tahun 2024.

Ini menjadi cermin bahwa kebutuhan dalam negeri belum sepenuhnya terpenuhi dari produksi lokal. Barulah pada 2025 impor dapat dihentikan, setelah produksi meningkat signifikan.

Keberhasilan ini tentu tidak hadir begitu saja. Ada sejumlah ikhtiar yang dilakukan pemerintah bersama berbagai pihak, antara lain pengembangan teknologi pertanian, peningkatan subsidi pupuk, serta perbaikan infrastruktur irigasi.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga terus mendorong sistem perberasan berkelanjutan sebagai fondasi ketahanan pangan nasional. Dengan modal ini, masih terbuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam industri beras dunia.

Peluang tersebut hanya dapat diwujudkan jika produksi terus ditingkatkan, infrastruktur pertanian makin andal, dan teknologi pertanian semakin terintegrasi dalam aktivitas petani sehari-hari.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.