Liputan6.com, Jakarta – Senyum keceriaan tetap terpancar dari wajah para siswa Sekolah Dasar (SD) Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara (Sumut).
Meski gedung sekolah mereka kini rata dengan tanah, semangat untuk menuntut ilmu tidak surut di hari pertama masuk sekolah, Senin (5/1/2026).
Pantauan di lokasi, sebanyak 111 siswa terpaksa mengikuti proses belajar mengajar di dalam tenda darurat yang didirikan di Desa Batu Hula.
Kondisi ini merupakan dampak dari bencana banjir bandang dahsyat yang menerjang wilayah tersebut pada 25 November 2025 lalu, yang menghanguskan bangunan SD 100714 tanpa sisa.
Karena keterbatasan ruang di tenda darurat, pihak sekolah harus memutar otak agar seluruh siswa tetap mendapatkan pelajaran. Herlina Sari, salah seorang guru, mengungkapkan bahwa mereka menerapkan sistem pembagian waktu (shift).
“Kami menerapkan sistem belajar bergantian. Siswa kelas 1 dan 2 masuk pada pagi hari, sementara untuk kelas 3, 4, 5, dan 6 masuk pada siang hari. Ini dilakukan agar proses pembelajaran tetap optimal meski dalam kondisi serba terbatas,” ujar Herlina di sela-sela membimbing murid-muridnya.
Meski beralaskan seadanya dan cuaca yang terkadang tidak menentu di dalam tenda, para generasi penerus bangsa ini tampak tekun menyimak setiap materi yang diberikan guru.
Tidak ada raut kesedihan, yang ada hanyalah kegembiraan bisa kembali bertemu teman-teman dan belajar bersama.
Hari pertama masuk sekolah setelah libur satu bulan pascabanjir bandang dan longsor di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, diwarnai perjuangan berat. Seorang guru SDN 14 Labuah terpaksa menyeberangi sungai berarus deras dan penuh bebatuan tajam d…
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5463550/original/086214000_1767659984-IMG_0692.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)